Abdul Aziz, M.Si

Mathematics, Statistics, and Econometrics

Pengembangan Jurusan Matematika Berparadigma Keislaman


Pengembangan Kurikulum Matematika UIN Malang

Dari beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas lulusan suatu lembaga pendidikan, barangkali kurikulumlah yang bisa dianggap menjadi prioritas utama untuk diperhatikan. Hal ini tidak lain karena kurikulum merupakan rencana pendidikan yang akan diberikan kepada mahasiswa. Bahkan dalam pengertian lebih luas, keberadaan kurikulum tidak saja terbatas pada materi yang akan diberikan di dalam ruang kuliah, melainkan juga meliputi apa saja yang sengaja diadakan atau ditiadakan untuk dialami mahasiswa di dalam kampus. Oleh karena itu, posisi kurikulum menjadi mata rantai yang urgen dan tidak dapat begitu saja dinafikan dalam konteks peningkatan kualitas perguruan tinggi. 

Karena ibarat orang membangun, kurikulum adalah ‘blue print’ (gambar cetak biru) nya. Blue print ini harus jelas bagi semua fihak yang terkait, meliputi; arsitek yang menggambar, pemilik rumah yang akan membiayai proyek pembangunan rumah tersebut, dan pemborong serta para tukang yang akan membangun rumah. Tidak boleh ada perbedaan persepsi di antara fihak-fihak terkait mengenai bagaimana bentuk akhir rumah tersebut berdasarkan blue print itu. Apabila terjadi perbedaan persepsi di antara fihak fihak tersebut, pastilah akan terjadi kesalahfahaman dan kekecewaan, terutama di fihak pemilik rumah yang telah mengeluarkan uang untuk proyek tersebut.

Dari sudut pandang ekonomi, lembaga pendidikan yang memungut biaya (berupa SPP atau lainnya) dapat dianggap sebagai lembaga penjual jasa, yaitu jasa layanan pendidikan. Dalam hal ini, kurikulum itulah yang ditawarkan untuk ‘dijual’ kepada masyarakat. Apabila pengelola lembaga pendidikan tersebut menginginkan agar lembaga pendidikannya diminati masyarakat, maka mereka harus membuat kurikulum yang menarik dan dianggap dapat memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat. Tentu saja, kurikulum bukanlah satu-satunya daya tarik. Karena apalah artinya kurikulum yang baik, par exellence kalau dosennya (tukangnya) kurang mampu mewujudkan kurikulum tersebut dalam lapangan empiric (kenyataan). Begitupula kurikulum akan tidak banyak mempunyai arti (meaningless) kalau sarana pendidikannya (alat pertukangannya) juga kurang memadai. Namun, tanpa kurikulum yang baik dan jelas, dosen dan sarana sebaik apapun tidak akan menghasilkan lulusan yang bagus.

Seperti diuraikan di atas, kurikulum harus disusun dengan baik dan harus jelas bagi semua fihak yang berkepentingan, dalam kasus perguruan tinggi adalah Tri Civitas akademika dan masyarakat. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kurikulum kebanyakan perguruan tinggi di Indonesia masih tidak demikian. Banyak di antara perguruan tinggi yang kurikulumnya “meniru” perguruan tinggi lain yang sejenis tanpa mengerti landasan filosofis yang ada di balik kurikulum tersebut. Celakanya lagi kurikulum dan silabus buatan orang lain ini dianggap sakral (untouchables) dan tak dapat diubah lagi. Padahal sebagai lembaga pendidikan tinggi seharusnya mereka menyadari sifat otonomi keilmuan yang mereka miliki.

Dengan membaca kurikulum di jurusan Matematika UIN Malang yang tertulis dalam buku pedoman pendidikan, kita masih belum dapat memperoleh gambaran tentang hal-hal penting. Gambaran tersebut antara lain berisi apakah yang akan dibentuk oleh Jurusan Matematika melalui kurikulum itu? Kalaupun ada ungkapan seperti ‘ulama yang intelek dan intelektual yang ulama’ di kalangan civitas akademika, hal itu juga masih belum kongkrit dan terukur. Bagaimanakah profil lulusan matematika yang diidamkan itu: bagaimana sikap hidup mereka, pengetahuan dan ketrampilan apa yang akan mereka peroleh sebagai hasil belajar mereka di Jurusan Matematika UIN Malang? Bagaimana cara UIN Malang untuk mewujudkan lulusan seperti itu? Aspek-aspek apakah yang akan dikembangkan melalui kurikulum itu? Bagaiman cara UIN Malang untuk mengembangkan aspek-aspek tersebut? Bagaimana UIN Malang akan mengevaluasi apakah mahasiswa telah menguasai aspek-aspek tersebut? Bagaimana cara UIN Malang memastikan bahwa tujuan kurikulum yang telah mereka nyatakan itu telah tercapai atau belum? Apa standar kelulusan (standar kualitas) yang dipedomani oleh UIN Malang?

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah bahwa kurikulum tersebut bukan saja tidak jelas bagi masyarakat yang ingin mengetahui apa isi kurikulum di jurusan Matematika UIN Malang, melainkan juga tidak jelas (setidaknya tidak ada jaminan bahwa hal itu sudah jelas) bagi sebagian (mungkin sebagian besar) dosen yang secara langsung mendidik mahasiswa di ruang kuliah. Kalau diibaratkan UIN Malang sebagai developer yang berusaha menjual rumah kepada masyarakat, maka dalam hal ini masih terdapat ketidak samaan visi antara arsitek (pembuat kurikulum) dengan pemborong (pimpinan UIN) dengan para tukangnya (dosen) mengenai bagaimana gambar akhir dari rumah (lulusan) yang akan dihasilkan oleh proyek pembangunan rumah (pendidikan mahasiswa) itu. Masing-masing fihak memiliki visi masing-masing mengenai kualitas lulusan dan apa yang seharusnya dilakukan untuk menghasilkan lulusan seperti itu.

Mengingat kurikulum adalah program layanan pendidikan yang ditawarkan atau ‘dijual’ kepada masyarakat, maka seharusnya kurikulum dipandang sebagai jati diri jurusan yang bersangkutan dan perguruan tinggi secara umum. Kurikulum di jurusan matematika di perguruan tinggi Islam harus mencerminkan identitas lembaga tersebut sebagai perguruan tinggi Islam yang bermutu (melakukan pendidikan, pengembangan ilmu/penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat). Di samping itu ia harus mencerminkan misi dan visi perguruan tinggi tersebut sebagai lembaga Islam. Kurikulum juga harus memberikan gambaran yang jelas tentang lulusan yang ingin dihasilkan dan bagaimana lembaga pendidikan tersebut akan mewujudkan lulusan yang diharapkan itu melalui berbagai program studi (jurusan) yang ada di perguruan tinggi tersebut. Ia juga harus menunjukkan keistimewaan perguruan tinggi tersebut jika dibandingkan dengan perguruan tinggi umunya.

Mengingat kurikulum inilah yang sebenarnya ‘dibeli’ atau yang menarik minat masyarakat, maka kurikulum harus dikemas sedemikian rupa hingga dapat meyakinkan masyarakat bahwa mereka tidak akan rugi kalau belajar di lembaga pendidikan yang bersangkutan. Di sampping penampilan, bahasa dalam kurikulum itu harus menarik dan meyakinkan pembaca. Pembaca harus diyakinkan bahwa program pendidikan di perguruan tinggi tersebut telah dirancang dengan cermat dan rapi sehingga tidak akan membuang waktu, tenaga, dan dana mahasiswa yang belajar di tempat itu.

Kurikulum ini harus jelas terutama bagi civitas akademika perguruan tinggi itu sendiri (pimpinan, dosen, karyawn, dan mahasiswa). Hal ini diperlukan agar terjadi persamaan persepsi mengenai arah yang harus dituju oleh proses pendidikan di lembaga itu dan bagaimana cara menuju ke arah tersebut. Kegagalan dalam menyamakan persepsi mengenai kurikulum ini akan mengakibatkan sulitnya pencapaian tujuan kurikulum yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, setelah kurikulum itu disusun dengan baik dan jelas, ia harus disosialisasikan kepada seluruh civitas akademika. Kualitas lulusan yang tidak seperti yang diharapkan merupakan indikator adanya hal yang perlu diperbaiki dalam proses belajar mengajar yang ada di perguruan tinggi bersangkutan. Perlu segera dikaji apakah problemnya ada di kurikulum yang kurang jelas dan terarah, pada sosialisainya, pada kemampuan dosen untuk merealisasikan kurikulum tersebut, kurangnya sarana pembantu, ataukah pada evaluasinya.

H. Arief Furqan, MA, PhD. dalam artikelnya tentang Anatomi Kurikulum di PTAI menjelaskan bahwa kurikulum suatu perguruan tinggi seharusnya memuat informasi yang jelas tentang hal-hal sebagai berikut:

  1. Misi perguruan tinggi tersebut. Misi dapat dianggap sebagai alasan mengapa atau untuk apa perguruan tinggi tersebut diadakan. Misalnya, untuk PTAI, misi tersebut mungkin adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan ahli agama yang mampu menerjemahkan ajaran agama dalam kehidupan modern ini. Misi ini harus juga mencerminkan ciri khas perguruan tinggi yaitu tri dharma: pendidikan, penelitian (pengembangan ilmu), dan pengabdian kepada masyarakat (pengamalan ilmu).
  2. Visi ke depan perguruan tinggi itu. Visi ini merupakan gambaran masa depan yang diinginkan terjadi pada perguruan tinggi tersebut sebagai antisipasi terjadinya perubahan zaman di masa depan. Misalnya, ada perguruan tinggi yang mempunyai visi (cita-cita) untuk menjadi perguruan tinggi yang bertaraf internasional. Visi ini berguna sebagai pendorong semangat juang civitas akademikanya untuk meningkatkan mutu mereka sehingga menjadi seperti yang mereka cita-citakan.
  3. Tujuan kurikuler. Bagian ini hanya mencakup satu aspek saja dari misi perguruan tinggi, yaitu bidang pendidikan. Mengingat kurikulum adalah rencana pendidikan yang akan diberikan kepada mahasiswa untuk menghasilkan lulusan (sarjana) sesuai dengan yang dicita-citakan, maka tujuan kurikuler ini harus secara eksplisit menyebutkan lulusan yang bagaimana yang diharapkan akan dihasilkan oleh perguruan tinggi itu. Tentunya ada ciri-ciri dasar yang sama bagi setiap lulusan perguruan tinggi tersebut di samping ciri-ciri khusus yang merupakan kekhasan jurusan atau program studi tertentu.
  4. Profil lulusan. Karena tujuan kurikuler biasanya bersifat umum, maka diperlukan suatu gambaran atau profil lulusan yang lebih kongkrit dan terukur. Profil ini harus menggambarkan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan apa yang akan dapat dimiliki atau dilakukan oleh lulusan setelah mereka mengikuti program pendidikan di perguruan tinggi tersebut. Misalnya, lulusan akan sudah mampu mengoperasikan komputer, berbahasa Inggris secara lancar, memahami isi kitab berbahasa Arab, memiliki akhlaq mulia, mampu menyebutkan perbedaan dan persamaan para mufasir dalam menafsirkan Al-Qur’an, dsb.
  5. Pendekatan yang diambil dalam proses pendidikan. Ini adalah filsafat pendidikan yang dianut oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Misalnya, ada perguruan tinggi yang menggunakan pendekatan Sokrates (dosen mengajukan pertanyaan untuk merangsang mahasiswa berfikir), ada pula yang menggunakan pendekatan library-based teaching atau pendidikan yang berpusat atau berbasis pada perpustakaan, dsb.
  6. Aspek kepribadian mahasiswa yang dikembangkan. Misalnya aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik serta bagaimana cara mengembangkannya. Semakin rinci penjelasan tentang hal ini akan semakin jelas bagi semua fihak yang terlibat dan akan semakin mudah Perguruan Tinggi tersebut mewujudkan cita-cita pendidikannya (menghasilkan lulusan yang bermutu dan berguna bagi masyarakat).
  7. Program studi yang dikembangkan di perguruan tinggi tersebut. Program studi inilah sebenarnya yang diambil oleh setiap mahasiswa. Dalam hal ini harus diberikan deskripsi singkat tentang tiap-tiap program studi yang ada. Untuk setiap program studi perlu diberikan tujuan kurikuler serta profil lulusannya. Tujuan kurikuler dan profil lulusan jurusan/program studi ini harus selaras dengan tujuan kurikuler dan profil lulusan perguruan tinggi yang bersangkutan yang telah ditetapkan di muka.
  8. Daftar mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa untuk mewujudkan profil lulusan seperti itu. Dalam daftar matakuliah ini perlu ditunjukkan fungsi tiap-tiap mata kuliah dalam upaya mewujudkan profil lulusan sehingga tampak keterkaitan satu mata kuliah dengan mata kuliah lainnya. Perlu diingat bahwa materi matakuliah hanyalah sarana sedang yang dikembangkan adalah pengetahuan, sikap, nilai-nilai, dan ketrampilan mahasiswa agar dapat menjadi sosok lulusan seperti yang diidam-idamkan dalam profil lulusan. Keberhasilan suatu matakuliah diukur berdasarkan keberhasilan mahasiswa mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai-nilai, serta ketrampilan yang diniatkan dikembangkan melalui matakuliah itu pada diri mereka sendiri.
  9. Deskripsi mata kuliah yang akan diberikan. Deskripsi ini diperlukan guna membantu mahasiswa mengetahui apa yang akan mereka peroleh dan tujuan apa yang akan mereka capai kalau mengikuti mata kuliah tersebut. Deskripsi ini juga akan membantu dosen yang akan mengampu mata kuliah tersebut.
  10. Sistem evaluasi yang diterapkan di perguruan tinggi tersebut yang menjelaskan bagaimana mereka akan mengukur keberhasilan mahasiswa dalam mencapai tujuan kurikuler maupun tujuan matakuliah.
  11. Sistem perkuliahan yang diterapkan di perguruan tinggi tersebut. Misalnya apakah menganut sistem sks ataukah tidak, apakah mahasiswa diperbolehkan mengambil matakuliah sejenis lintas jurusan ataukah tidak, apakah ada program remedial bagi mahasiswa yang memerlukan, apakah ada program perbaikan nilai bagi mahasiswa yang menginginkannya, dsb.

Pengembangan Jurusan Matematika Berparadigma Keislaman

Dalam Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. Sedangkan Peraturan Pemerintah No. 30 tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi menjelaskan tujuan pendidikan tinggi untuk:

  1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian.
  2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Jika kita perhatikan, tujuan pendidikan nasional dalam UU No. 2 tahun 1989 di atas menekankan pada faktor intelektual, akademik, profesional, iman dan takwa, serta etika yang meliputi kepribadian dan tanggungjawab. Iman, takwa, etika, dan kecerdasan bisa sangat lekat dengan misi PTAI. Sementara itu, kemajuan sains dan teknologi, keterbukaan budaya sebagai wujud globalisasi, serta liberalisasi yang merupakan langkah awal demokratisasi, sering memunculkan dampak negatif bagi dunia pendidikan. Di sini PTAI semestinya mampu menghadapi dan sekaligus memecahkan segala bentuk problem yang muncul. Untuk itu, Jurusan Matematika UIN Malang sudah sewajarnya untuk dievaluasi dan sekaligus reorientasi tentang realisasi programnya, sehingga mampu mengemban amanat untuk menghadapi kondisi yang bebas dan kompetitif tersebut. Sedangkan faktor akademik dan profesional bagi UIN Malang perlu penjelasan yang kongkrit agar spesifikasi UIN Malang dapat tergambar lebih jelas jika dihadapkan dengan Perguruan Tinggi lainnya. Penjelasan dimaksud meliputi perencanaan dan realisasi program internal Jurusan matematika UIN Malang.

Masyarakat akademik sudah menerima kenyataan -terlepas setuju atau tidak setuju- bahwa dalam dunia ilmu pengetahuan ada disiplin ilmu-ilmu sosial dan humanities serta natural sciences. Kita juga sudah disuguhi pelbagai macam teori, metode dan pendekatan dalam penelitian sesuai dengan anggapan bahwa dalam disiplin-disiplin itu terjadi eclecticism, di mana satu disiplin dengan teori atau pendekatan yang lain juga bisa saling mengisi. Oleh karena itu, bukan saja teori dan metodologi penelitiannya sudah banyak kita ketahui, kita dengar atau kita terima, tetapi juga semuanya itu bisa berkembang dan selalu dituntut untuk berkembang.

Selain masalah internal Jurusan Matematika, ada pula masalah-masalah lain yang harus dibenahi berkaitan dengan hubungan dengan lembaga-lembaga luar. Persoalan initinya adalah pola kerjasama antara Jurusan dengan lembaga pengguna lulusan Matematika dan pemasok mahasiswa Matematika. Pengguna lulusan di sini adalah lembaga atau instansi yang menggunakan lulusan Matematika UIN Malang, seperti Departemen Agama (Depag), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Organisasi Masyarakat (Ormas), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Biro Pusat Statistik (BPS) dan sebagainya yang meliputi masyarakat secara keseluruhan. Tidak pernah ada saling evaluasi terhadap fakultas, jurusan, program studi serta disiplin dan kurikulum di UIN Malang. Apakah, misalnya, kurikulum Jurusan Matematika sudah sesuai dengan tuntutan kerja dalam instansi dan lembaga tertentu? Kekurangan apa saja yang perlu dipenuhi? Dan seterusnya. Di masa mendatang komunikasi imbal-balik seperti ini harus dilaksanakan, sehingga dapat tercipta kesinambungan antara program Matematika dan kepentingan masyarakat. Komunikasi timbal balik ini juga belum pernah terwujud antara Jurusan Matematika dengan lembaga pemasok, yakni Sekolah Menengah Umum (SMU), Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan pesantren. Padahal semestinya harus ada dan selalu dilakukan secara berkesinambungan.

Optimalisasi jurusan dan fakultas tidak bisa dilepaskan dari jenis ilmu yang ditawarkan oleh jurusan atau fakultas yang bersangkutan. Oleh karena cakupan ilmu yang dipelajari cukup luas, untuk meningkatkan kualitas keilmuan yang ditawarkan perlu dilibatkan beberapa ilmu bantu bagi ilmu-ilmu yang menjadi kajian utama jurusan atau fakultas. Di antara ilmu-ilmu tersebut adalah ilmu sosial, humaniora, dan kealaman murni. Ini berarti mendalami agama Islam dengan diperkaya oleh disiplin ilmu-ilmu lain: ilmu-ilmu sosial dan humaniora; bahkan kalau perlu teknologinya.

Tuntutan kualitas ini masih dalam kerangka PTAI sebagai lembaga pendidikan sekaligus kajian untuk ilmu agama Islam, untuk mencetak ahli dalam ilmu-ilmu ke-Islaman, baik yang berorientasi pada akademik maupun profesional. Dengan demikian, kalau dalam kajiannya menggunakan pendekatan disiplin ilmu lain, seperti ilmu sosial atau humaniora, hal itu masih dalam kerangka pendekatan; sedangkan spesialisasi atau keahliannya masih tetap ilmu agama Islam.

Uraian tentang tuntutan kualitas erat sekali kaitannya dengan tuntutan pasar di era reformasi yang mau tidak mau akan mengarah pada pasar bebas. Bahkan tuntutan kualitas di atas juga tidak bisa lepas dari tuntutan pasar, selain penyesuaian dengan perkembangan masyarakat. Dengan kata lain, Jurusan Matematika UIN Malang tidak hanya mempersiapkan alumni atau SDM untuk menjadi tenaga akademik dan profesional dalam bidang ilmu-ilmu matematika, tetapi juga harus ikut berkompetensi dalam mempersiapkan SDM dalam bidang ilmu lain yang mempunyai landasan keislaman yang kuat. Oleh karenanya tugas ini merupakan tantangan bagi Jurusan dalam mengembangkan ilmu-ilmu matematika dan keislaman.  Secara keilmuan, di sini ada dua sasaran: pertama, mengembangkan ilmu-ilmu yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan dasar aqidah dan pengamalan Islam; dan kedua, mengembangkan ilmu-ilmu keislaman yang tidak hanya terbatas pada produk abad tengah atau klasik sesuai dengan tuntutan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, akan dikembangkan ilmu falaq, analisis matematika, matematika perbankan syari’ah, matematika asuransi, matematika ekonomi, matematika teknik, statistik, komputer dan seterusnya, yang bukan sekadar menyandang predikat “matematika” dengan tanpa amaliah dan aqidah Islam. Ini tantangan berat bukan saja dalam rangka memenuhi kebutuhan kerja pasar bebas, namun juga sekaligus mengisi kekosongan dan kekurangan ilmu-ilmu terapan.

Pengembangan Jurusan Matematika UIN Malang di Masa Depan

Setelah kita tahu adanya tuntutan dan tantangan sebagai konsekuensi terjadinya reformasi, liberalisasi, dan globalisasi serta konsekuensi desentralisasi dan pemberian otonomisasi, Jurusan Matematika UIN Malang yang akan datang bisa dikembangkan dengan beberapa pola sebagai berikut:

1. Mencetak Ulama’ Abad 21

Pola pertama tetap menjadikan Jurusan Matematika UIN Malang sebagai lembaga pendidikan untuk mencetak tenaga ahli dalam ilmu-ilmu matematika dan keislaman (ilmu Islam) atau ilmuwan dan sekaligus ulama’ atau pemimpin agama. Dengan kata lain, mencetak ulama abad 21. Ini berarti menempatkan Jurusan Matematika sebagai pengembangan atau tingkatan lebih tinggi dari institusi perguruan tinggi secara umum. Di sini amaliah dan kajian akademik menjadi satu kesatuan. Para ulama’ zaman klasik, seperti Ibn Taymiyyah, al-Ghazali, dan lain dapat dijadikan model dengan modifikasi sesuai tuntutan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan. Islam dikaji secara akademik dan ilmiah dengan tetap bertujuan untuk mengamalkan ajaran Islam yang benar dan tepat. Jadi, bukan melakukan kajian Islam semata-mata untuk tujuan keilmuan tanpa ada orientasi pada amaliah agama seperti yang biasa dilakukan di Barat.

Jika pola ini yang dipilih, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, minimal sebagai berikut: (1) pendalaman keilmuan Islam harus lebih ditingkatkan (2) penerimaan mahasiswa baru lebih selektif (3) jumlah mahaiswa tidak menjadi ukuran pendanaan (4) pendidikan, bukan sekedar pengajaran, yang merupakan training sehari-hari harus diperketat (5) targetnya jelas dan konkrit, yaitu untuk mencetak ulama di abad 21, dan (6) lapangan pekerjaan juga jelas. Untuk yang keenam perlu keseriusan perencanaan, di mana alumni Jurusan Matematika UIN Malang pada umumnya akan memperoleh tempat di tengah-tengah masyarakat.

Di samping diberi kebebasan untuk menentukan masa depan mereka sendiri, profesi-profesi di bawah ini juga perlu dipertimbangkan sebagai wilayah partisipasi alumni Jurusan Matematika UIN Malang. Di antaranya adalah (a) imam masjid tetap (masjid dengan kualifikasi tertentu harus mempunyai imam tetap), dimana pekerjaan mereka tidak sekadar menjadi imam shalat, namun juga program yang jelas untuk pembinaan jamaah masjid tersebut (b) imam kantor (termasuk imam tentara), yang pekerjaannya memang untuk mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan mental spiritual, tidak dilibatkan dalam pekerjaan administrasi kantor (c) pengajar agama di sekolah (d) tenaga profesional di kantor-kantor di bawah naungan Departemen Agama, termasuk Pengadilan Agama/Pengadilan Tinggi Agama (PA/PTA) (e) tenaga kerja profesional dalam organisasi keagamaan, dan (f) peran lain yang arahnya jelas, termasuk menjadi anggota LSM. Sudah barang tentu Jurusan Matematika UIN Malang tidak akan bisa menghalangi kemauan atau ketertarikan individu alumni untuk memilih profesi lain, seperti menjadi wartawan, politikus, wiraswasta, dll. yang mereka anggap lebih sesuai dengan panggilan hati nuraninya.

Jika memilih pola ini sebaiknya Jurusan Matematika UIN Malang mendapatkan subsidi dana yang memadai, tidak semata-mata bergantung pada hasil SPP yang diperoleh dari mahasiswa. Tersedianya dana akan memperlancar semua program sesuai dengan yang direncanakan, yaitu untuk mencetak ulama abad 21, meskipun tetap pada orientasi akademik dan profesional.

2. Menjadi Jurusan Matematika yang Islami

Jika pola pertama bertujuan mempertahankan Jurusan Matematika UIN Malang sebagai lembaga yang mencetak ulama’ abad 21, maka pola kedua menjadikan Jurusan Matematika UIN Malang sebagai jurusan yang akan menanggapi tuntutan pasar dengan orientasi pada lapangan kerja di pasar bebas. Oleh karena itu tujuan Jurusan Matematika UIN Malang tidak lagi mencetak ulama abad 21, namun lebih pada pemenuhan tuntutan tersedianya lapangan kerja di tengah-tengah pasar bebas. Dengan kata lain, Jurusan Matematika UIN Malang dengan pola kedua ini bertujuan untuk mencetak tenaga ahli dan profesional yang Islami.

3. Ulama’ dan Ilmuwan Pasar Bebas

Pola ketiga untuk pengembangan Jurusan Matematika UIN Malang merupakan penggabungan kedua pola di atas dengan cara bertahap. Langkah awal adalah menciptakan Jurusan Matematika UIN Malang sebagai lembaga pendidikan untuk mencetak ulama abad 21. Setelah mapan dan tampak hasilnya, baru dikembangkan untuk menerapkan pola kedua. Pola kedua belum akan ditempuh jika pola pertama belum mapan. Dengan pengembangan pola ketiga ini, secara profesional Jurusan Matematika UIN Malang akan mampu menyediakan alumni yang siap bersaing di pasar bebas dalam pelbagai jenis lapangan pekerjaan. Secara akademik, Jurusan Matematika UIN Malang akan mampu menghasilkan para pemikir Islam serta pemikir matematika dan sains yang berangkat dari ajaran Islam, atau setidaknya berlandaskan etika Islam. Dengan pola inilah harapan umat Islam bisa ditumpahkan kepada Jurusan Matematika UIN Malang untuk bisa mewujudkan ilmuwan yang mampu menyelesaikan permasalahn dunia, yang selama ini beberapa elemennya dianggap nihil dalam tradisi ilmuwan sekuler. Dengan kata lain, Jurusan Matematika UIN Malang harus mampu mengisi kekosongan yang telah menimpa para ilmuwan sekuler. Namun yang harus diciptakan lebih awal adalah tradisi akademik yang benar-benar kuat, di samping kemauan yang serius dan kuat serta dukungan dana yang memadai. Mampukah Jurusan Matematika UIN Malang untuk berkembang seperti ini? (az)



Leave a Reply