4. Pengenalan Operator Dasar

1. Tampilkan data mahasiswa dengan nama dari kolomnya berupa nomor identitas, nama depan

2. menampilkan data data dari malang dan nama depan edi / dari malang atau nama depan edi

Full Tugas klik DiSini

3. Perintah Dasar Sql

Data mahasiswa :
Nim : 12
Nama : edi
Alamat : malang
No.telp : 0856453428
Nim : 13
Nama : sinta
Alamat : jogja
No.telp : 0813347565675
Nim : 14
Nama : luki
Alamat : ponorogo
No.telp : 082576568798

Insert into value:

Hapus data nim  13:

Select data  mahasiswa nim 14 dengan data mahasiswa nim 13 :

Full Tugas Klik diSini

2. Manajemen tabel

1. Create Table

2. Menghapus kolom

3. Menambah Kolom

4. Rename table

5. Rename Kolom

6.  Add Primary Key

7. Membuat temporary table,

Full tugas klik diSini

1. Membuat User dan Database di PostgreSQL

1. membuat User dan Database

2. mengkoneksikan dengan PgAdmin

3. setelah terkoneksi

Pseudocode

Pseudocode is a compact and informal high-level description of a computer programming algorithm that uses the structural conventions of a programming language, but is intended for human reading rather than machine reading. Pseudocode typically omits details that are not essential for human understanding of the algorithm, such as variable declarations, system-specific code and subroutines.

The programming language is augmented with natural language descriptions of the details, where convenient, or with compact mathematical notation. The purpose of using pseudocode is that it is easier for humans to understand than conventional programming language code, and that it is a compact and environment-independent description of the key principles of an algorithm. It is commonly used in textbooks and scientific publications that are documenting various algorithms, and also in planning of computer program development, for sketching out the structure of the program before the actual coding takes place.

No standard for pseudocode syntax exists, as a program in pseudocode is not an executable program. Pseudocode resembles, but should not be confused with, skeleton programs including dummy code, which can be compiled without errors. Flowcharts can be thought of as a graphical alternative to pseudocode.

(http://en.wikipedia.org/wiki/Pseudocode)

Pseudocode adalah cara untuk menuliskan sebuah algoritma secara high-level (level tingkat tinggi).

Biasanya Pseudocode dituliskan dengan kombinasi Bahasa Inggris dan notasi matematika. Biasanya sebuah Pseudocode tidak terlalu detail dibandingkan dengan program. Isu-isu detail dalam program yang sifatnya teknis tidak dibahas di dalam Pseudocode.

Komponen-komponenPseudocode, antara lain:

1. Variabel.
-> Merupakan tempat penyimpanan sebuah nilai.
2. Perulangan (Loop).
->Teknik for-do
->Teknik repeat-until
->Teknik while-do
3. Percabangan (branch).
->Teknik if-then
->Teknik select-case
4. Modul.
->Procedure/Sub
->Function.
->Teknik Rekursif

Contoh Pseudocode, sederhana:

1. Algoritma untuk menampilkan 7 buah simbol #.
1 for i=1 to 7 do
2 display ”#”
3 end for

2. Algoritma untuk menghitung faktorial dari N.
1 iTampung=1
2 for i=1 to N do
3 iTampung=iTampung*i
4 end for
5 display ”Faktorial dari ”,N,” adalah ”,iTampung,NL

3. Algoritma untuk menampilkan bilangan Fibonacci.
1 f1=0
2 f2=1
3 for i=1 to 8 do
4 iFibo=f1+f2
5 display ”Angka ke-”,i,” adalah ”,iFibo,NL
6 f1=f2
7 f2=iFibo
8 end for

tugas II:

alogaritma menghitung berat :

1. mulai
2. Input -> m = masa, Kg
g = grafitasi (9,8), m/s
3. proses ->   W<– m x g
4. print -> W = berat, Kgm/s
5. selesai

flowchart 1 >menghitung berat<

Alogaritma Pemrograman

PROGRAM KOMPUTER
Program komputer adalah rangkaian kata perintah yang telah dimengerti oleh komputer untuk dikerjakannya. Kata-kata perintah tersebut membentuk suatu bahasa yang disebut dengan bahasa pemrograman. Sebagaimana bahasa pada manusia, bahasa pemrograman juga terdiri atas banyak macam bahasa, dan memiliki aturannya masing-masing.

Sulitnya, komputer saat ini belum diberi hak inisiatif, sehingga jika ada sedikit
saja kesalahan penulisan perintah oleh pemrogram, ia tidak mau memakluminya atau berusaha memperbaiki sendiri kesalahan tersebut. Serta merta ia “ngambek” dan tidak mau mengerjakan perintah-perintah lainnya. Komputer diciptakan melalui logika manusia, karenanya, ia bekerja secara logis, tanpa campur-tangan “perasaan.”

ALGORITMA PEMROGRAMAN
Orang yang telah terbiasa “bergaul” dengan komputer menggunakan satu bahasa pemrograman tertentu (tingkat mahir), biasanya tidak lagi memerlukan kertas coret-coretan untuk membuat suatu program komputer. Namun bagi pemula, pembelajar, atau yang belum mahir, diperlukan kertas coret-coretan tersebut.

Kertas coret-coretan itu akan digunakan untuk menyusun algoritma (langkah-langkah penyelesaian masalah), flowcharting (alur logika perintah, yang merupakan aplikasi dari algoritma), maupun menuliskan perintah sesuai dengan kaidah dari bahasa pemrograman yang akan digunakannya.

Sewaktu menyusun algoritma, kita tidak perlu tahu (atau tidak perlu menyesuaikan dengan) bahasa pemrograman yang nanti akan kita gunakan. Hal utama yang kita pikirkan adalah kaidah (hirarki) dari komputer itu sendiri, yaitu input-proses-output. Input adalah data yang harus ada (sudah ada/ sudah tersedia), yang dapat diproses dengan aturan-aturan tertentu untuk menghasilkan output seperti yang dikehendaki. Data yang ada harus logis (masuk akal) bahwa “ia” dapat diproses untuk menghasilkan output.

PERLUNYA PERINTAH BAHASA PEMROGRAMAN DI DALAM ALGORITMA
Meskipun sudah dikatakan, bahwa sewaktu kita menyusun algoritma kita tidak perlu tahu bahasa pemrograman apa yang akan digunakan kelak, namun, untuk penulisan algoritma yang lebih efisien dan efektif, maka penggunaan sebagian perintah yang ada di dalam bahasa pemrograman perlu dilakukan juga.
Adapun perintah bahasa pemrograman yang paling sering digunakan untuk Menyusun algoritma adalah bahasa pemrogrman yang terstrukutur, seperti Pascal, C, SNOBOL, PL/1, dan sebagainya.

Misalkan saja, untuk contoh berikut ini :
Langkah 1 : Beri nilai 10 ke variabel S
Maka, akan lebih mudah jika ditulis sebagai :
Langkah 1 : S := 10;
Belum lagi jika algoritma yang ditulis harus melakukan perulangan langkah
ke langkah-langkah sebelumnya (looping).
10 Mulai I:= 1;
11 Lakukan perbandingan data ke I dengan data ke I+1
12 Jika data ke I+1 lebih kecil, maka tukar tempat keduanya
13 Tambahkan I dengan 1
14 Lakukan langkah 11 hingga langkah 13 selama nilai I A(I+1) then SWAP A(i), A(j)
30 next
40 end
Jadi terlihat, jika algoritma tersebut sederhana, maka penyusunan algoritma akan sama dengan penyusunan sebuah program (karena semua perintahnya sudah sesuai dengan kaidah penulisan di bahasa pemrogramannya). Apakah semuanya akan demikian ?. Tentu saja tidak, misalkan, kita diminta untuk menentukan bilangan terkecil dari seratus buah bilangan yang akan dimasukkan ke komputer, ini masih dapat langsung dibuatkan programnya.

Algoritma (program)nya bisa kita susun sebagai berikut :
1 DIM A(100)
2 FOR M = 1 TO 100
3 INPUT A(M) : NEXT : KECIL = A(1)
4 FOR M = 2 TO 100
5 IF KECIL > A(M) THEN X = KECIL: KECIL = A(M) : A(M) = X
6 NEXT : PRINT KECIL : END
Tetapi, misalkan jika kita diminta untuk mengalihkan notasi infix menjadi postfix melalui stack, hal itu sulit untuk dilakukan. Algoritmanya bisa menggunakan gabungan kalimat dengan bahasa pemrograman, berikut contoh penggalannya.

Contoh :
1. Asumsi : deretan notasi infix dimasukkan ke dalam sebuah variabel array
bernilai string, nama variabelnya D
2. S adalah variabel string untuk menyimpan susunan data di dalam stack
3. H adalah variabel string untuk menyimpan hasil
4. P = banyaknya elemen array
5. For I = 1 to p
If top(s) = empty then {top(s) adalah posisi atas stack)
if D(i) = operand then
H = D(i)
Else
S = S + D(i)
Top(s) = D(i)
Endif
Else
If D(i) = operator then
If derajat D(i) > derajat Top(s) then
. . .
. . .
. . .
. . .
Jadi, terdapat beberapa kata yang tidak dapat dijabarkan langsung ke
dalam bahasa pemrograman. Misalkan, kata Top(s), empty, operand, operator,
dan derajat.
PERLUNYA PROSEDUR
Toh akhirnya, kita tidak akan mungkin hanya membuat algoritmanya saja melainkan dilanjutkan ke pembuatan programnya. Karenanya, algoritma sebaiknya dibuat sedemikian rupa agar setiap perintah yang ada di dalamnya dapat diaplikasikan langsung ke dalam bahasa pemrograman. Itulah perlunya prosedur. Misalkan kata “operand” di algoritma di atas yang tidak dapat langsung diaplikasikan di dalam bahasa pemrogramannya, kita buat saja prosedur dari algoritma tersebut yang mendefinisikan apa itu “operand.”

Misalkan :
1 Procedure OPERAND
2 IF ASC(D(I)) > 64 AND ASC(D(I)) < 91 THEN OP = .T. ELSE OP = .F.
3 RETURN

Sehingga, di algoritma utamanya bisa diubah dari :
If top(s) = empty then {top(s) adalah posisi atas stack)
if D(i) = operand then
H = D(i)

menjadi :
If top(s) = empty then {top(s) adalah posisi atas stack)
Do Procedure OPERAND
IF op = .t.
H = D(i)

PERLUNYA STANDAR PENGGUNAAN PERINTAH BAHASA PEMROGRAMAN
Standardisasi penggunaan perintah bahasa pemrograman di sebuah algoritma. Karena ada yang hanya memahami satu bahasa pemrogrman saja sehingga ia tak mau menggunakan perintah di bahasa pemrograman lain.
Namun, itu sebatas cara penulisan saja, misalkan di BASIC A = 10, di Pascal berlaku A := 10, namun untuk perintah looping, umumnya memiliki alur logika yang sama, yaitu dalam penggunaan FOR-NEXT, REPEAT-UNTIL, DO WHILEENDDO, WHILE-WEND, dan sebagainya. Jadi, meskipun tidak ada standar yang pasti, paling-paling hanya berbeda cara penulisannya saja, namun sama dalam alur logikanya. Jadi, ternyata, standardisasi semacam ini tidak diperlukan.

Halo dunia!

Selamat datang di Blog UIN MALIKI MALANG. Ini adalah posting pertama Anda. Edit atau hapus tulisan ini, mulailah menjadi UIN blogger!