Telephoning (3)

Useful vocabulary for making telephone calls in English.

Spelling

If you need to spell your name, or take the name of your caller, the biggest problem is often saying vowel sounds:

‘a’ is pronounced as in ‘may’

‘e’ is pronounced as in ‘email’ or ‘he’

‘i’ is pronounced as in ‘I’ or ‘eye’

‘o’ is pronounced as in ‘no’

‘u’ is pronounced as ‘you’

Saying consonants

‘g’ is pronounced like the ‘j’ in ‘jeans’

‘j’ is pronounced as in ‘DJ’ or ‘Jane’

‘w’ is pronounced ‘double you’

‘x’ is pronounced ‘ex’

‘y’ is pronounced ‘why’

‘z’ is pronounced ‘zed’ (rhymes with ‘bed’ in British English), or ‘zee’ (rhymes with ‘sea’ in American English).

Tip: Keep a note of how you say these letters by your telephone.

Giving numbers

Here’s a phone number: 0171 222 3344

And here’s how to say it:

“Oh-one-seven-one, triple two, double three, double four.”

OR

“Zero-one-seven-one, triple two, double three, double four.”

Pausing

When you say a seven digit number, separate the number into two blocks of three and four, pausing after each block.

Each digit is spoken separately, unless it’s a double or triple. If the second part of the number was ’5555′, you’ll probably find it easier to say ‘double five – double five’.

Saying email addresses

@ is pronounced ‘at’. For instance, caimin@clara.net is “caimin, at, clara, dot, net”.

/ is “forward slash”.

- is called a “hyphen” or a “dash”.

_ is an “underscore”.

Example telephone dialogues

Here are examples of typical telephoning language:

Getting through

You: “Can I speak to (Mr Smith), please?” or “Is (Mr Smith) there, please?”

Receptionist: “May I ask who’s calling?” or “Could I have your name, please?”

You: “Yes, this is Tom McIvor speaking.”

Many British people don’t identify themselves when they make or receive a phone call. Even at home, they normally pick up the phone and say “Hello”. But they won’t be offended if you ask for their name.

Leaving or taking a message

Receptionist:

“I’m afraid Mr Smith is…

… out of the office today.”

… off sick today.”

… in a meeting.”

… on holiday.”

or “I’m afraid his line is engaged.”

“…Would you like to leave a message?”

You: “Could you ask him to call me back?” or “Could you ask him to return my call?”

Receptionist: “Does he have your number?” or “What’s your number, please?”

The receptionist uses “I’m afraid” or “I’m sorry” if he or she can’t connect you.

If the receptionist doesn’t offer to take a message, you can ask to leave one.

You: “Could I leave a message, please?”

Receptionist: “Yes, certainly.” or “Yes, of course.”

Telephoning (2)

Telephoning

The telephone is an important tool for personal, school, and business use because of the rapid communication it permits. Therefore, there is need to reinforce personal speaking and listening abilities regarding telephone use.

Before Telephoning

Students could brainstorm ideas about basic telephone etiquette and generate a list such as the following:

* answer the telephone as quickly as possible

* identify yourself immediately when receiving or placing a call

* keep the call brief and the talk relevant

* show respect for the listener’s time and give full attention to the conversation

* offer to take a message if the call is for another person and record the message in writing

* treat every caller politely and professionally

* be helpful and co-operative

* prepare for receiving and placing calls by planning what you might say and anticipating what you might hear (e.g., list dates, write down important questions, keep standard message pads as well as important reference material near the telephone)

* follow up telephone conversations with notes or letters, when appropriate.

While Telephoning

Students must have authentic reasons for telephoning when they are practising their skills in the English language arts classroom. Reasons can include the following:

* to inquire about suitable times and dates for a trip to the museum, as a follow up to a unit in historical fiction

* to plan a visit to a senior citizens’ home for an “adopt a grandparent” reading program

* to order materials for a research report or other project

* to order class tickets to a theatre performance

* to inquire about details concerning a class trip

* to invite or arrange for a community speaker, author, or storyteller to come to the class.

While telephoning, the student should practise the techniques previously established by the class.

After Telephoning

As soon as possible after telephoning, students should complete a self-assessment form based upon criteria established prior to their placing the call. A sample checklist follows.

Sample Telephone Self-assessment Checklist

Student’s Name:

Date:

Person Spoken To:

Reason for Call:

1. Was I polite and professional?

2. Did I identify myself immediately?

3. Was I prepared with notes and a note pad?

4. Did I attend to the listener?

5. Did I show respect for my listener?

6. Did I keep the call brief and on topic?

7. Did I double check my facts?

8. Did I follow up on the conversation with a note or letter?

Telephoning

Telephone language and phrases in English

How to answer and speak on the phone

Answering the phone

* Good morning/afternoon/evening, York Enterprises, Elizabeth Jones speaking.

* Who’s calling, please?

Introducing yourself

* This is Paul Smith speaking.

* Hello, this is Paul Smith from Speakspeak International.

Asking for someone

* Could I speak to John Martin, please?

* I’d like to speak to John Martin, please.

* Could you put me through to John Martin, please?

* Could I speak to someone who …

Explaining

* I’m afraid Mr Martin isn’t in at the moment.

* I’m sorry, he’s in a meeting at the moment.

* I’m afraid he’s on another line at the moment.

Putting someone on hold

* Just a moment, please.

* Could you hold the line, please?

* Hold the line, please.

Problems

* I’m sorry, I don’t understand. Could you repeat that, please?

* I’m sorry, I can’t hear you very well. Could you speak up a little, please?

* I’m afraid you’ve got the wrong number.

* I’ve tried to get through several times but it’s always engaged.

* Could you spell that, please?

Putting someone through

* One moment, please. I’ll see if Mr Jones is available.

* I’ll put you through.

* I’ll connect you.

* I’m connecting you now.

Taking a message

* Can I take a message?

* Would you like to leave a message?

* Can I give him/her a message?

* I’ll tell Mr Jones that you called

* I’ll ask him/her to call you as soon as possible.

Lady Escort

Mengapa artis disebut sebagai lady escort jadi marah-marah? Apa sebenarnya lady escort itu? Kadang arti sebuah ungkapan seperti lady escort itu menjadi berubah2 sesuai zaman dan sesuai kebutuhan. Dulu lady escort sering dipakai untuk menghormati tamu terutama tamu agung seperti presiden, pejabat, duta besar dari negara lain dan lain2. Kalau seandainya arti lady escort sudah berubah, itu lain perkara. Tapi kemudian buktinya juga sama dari zaman ke zaman. Lady escort sengaja “dipasang” untuk menarik perhatian khusus bagi tamu atau pendatang yang baru hadir. Presiden Soekarno banyak berpengalaman dalam hal ini. Beberapa wanita yang “disuguhkan” memang sengaja dipasang berupa gadis yang cantik dan menarik, kemudian berambut panjang (karena presiden Soekarno menyukai gadis berambut panjang), beralis tebal sehingga muncul aura kecantikan di wajahnya. Dan tidak sedikit gadis2 escort ini kemudian menjalin hubungan yang cukup dekat dengan sang presiden.

Untuk kepentingan bisnis, tidak jarang perusahaan2 berlevel nasional internasional sengaja memasang wanita-wanita cantik untuk memperlancar bisnis mereka. Perkara nanti wanita-wanita tersebut akan melanjutkan hubungan yang lebih serius dengan mitra bisnis atau tidak itu bukan lagi menjadi urusan perusahaan. Betapa nahasnya!

Syahrini beberapa kali menyambut kedatangan artis2 internasional yang cukup terkenal yang menjadikan polemik2 di media2. Dan apakah kemudian ada hubungan selanjutnya setelah pertemuan antara mereka, wallahu a’lamu bisshawab.

Category: Artikel  Tags:  Leave a Comment

Pesan

Seorang dokter terlihat bergegas menuju ruang operasi. Tanpa ada sebaris senyum pada mukanya. Di depan pintu ruang operasi, ayah dari anak yg akan dioperasi menghampirinya “Kenapa lama sekali Anda sampai ke sini? Apakah Anda tidak tahu,nyawa anak saya terancam jika tidak segera dioperasi?”, labrak si ayah.

Dokter itu tersenyum tipis, “Maaf, saya sedang tidak di rumah sakit tadi, saya secepatnya ke sini setelah ditelpon pihak rumah sakit.”

Kemudian ia meninggalkan sang ayah dari pasiennya, juga dengan senyum yg tipis.

Setelah beberapa jam, ia keluar dan juga dengan bergegas menghampiri si ayah pasien seraya berkata, “Syukurlah keadaan anak anda kini stabil.” Tanpa menunggu jawaban sang ayah, dokter pun melanjutkan, “Suster akan membantu Anda jika ada yg ingin Anda tanyakan.” Tanpa menunggu jawaban apa pun dari si ayah pasiennya, dokter tersebut pun berlalu.

Sang ayah pun kecewa dan bertanya kepada suster, “Kenapa dokter itu angkuh sekali? Dia kan sepatutnya memberikan penjelasan mengenai keadaan anak saya! Apakah seperti ini dokter di rumah sakit ini? Saya sangat kecewa!”.

Sambil meneteskan air mata suster pun menjawab, “Anak dokter tersebut meninggal dalam kecelakaan. Beliau sedang memandikan jenazah anaknya saat kami meneleponnya untuk melakukan operasi pada anak Anda. Sekarang anak Anda telah selamat, ia bergegas kembali untuk menguburkan jenazah anaknya.”
Sang ayah pun terdiam. Hening.

PESAN:
Sahabat saya yg hati dan dirinya selalu berlimpah kebaikan..

Kita bukanlah satu-satunya manusia dengan segudang masalah. Jangan pernah terburu-buru menilai seseorang.

Maklumilah, setiap jiwa di sekeliling kita selalu menyimpan cerita kehidupan yg mungkin tak terbayang oleh benak kita.
Semoga kita menjadi pribadi dengan prasangka baik yang semakin luas dan bersyukur dengan apa yg telah dianugerahkan oleh-Nya dalam hidup ini.
Amin..

Haw to make a call (Materi Business English)

How to make a call

Mohon simak percakapan telepon berikut ini :

Penelepon : Selamat siang, bisa bicara dengan Pak Andreas?

Resepsionis : Maaf, Pak Andreas sedang on-line. Dengan siapa saya bicara?

Penelepon : Vincent, dari CV Terang Jaya.

Sekilas tak ada yang salah dari percakapan telephony tersebut. Tetapi bila diamat dengan lebih jeli, penggunaan bahasa Ingris on-line tidaklah tepat. Dalam kalimat bahasa Inggris I’m sorry but Mr Andreas is on-line tidak memberikan isyarat bahwa Pak Andreas sedang berbicara di saluran telepon lain.

On-line memiliki makna ‘terhubung satu sama lain melalui suatu sistem jaringan’. Frasa on-line tepat digunakan untuk menjelaskan jaringan data perbankan atau jaringan-jaringan lain yang terpadu dan bisa diakses oleh anggota-anggota jaringan.

Lalu bagaimana cara menyampaikan bahwa Pak Andreas sedang sibuk dengan saluran telepon lain seperti yang dimaksudkan oleh resepsionis dalam percakapan telephony di atas? Cukup katakan, “I am sorry, but Mr Andreas in on the other line”.

Frasa on-line memang sudah menjadi bagian kaprah dari kesalahan percakapan telephony atau hal-hal yang berbau telepon bernuansa Inggris di Indonesia. Itu sama dengan penggunakan kata hand-phone yang menggunakan kata-kata berbahasa Inggris, tapi tak dikenal oleh komunitas berbahasa Inggris di luar Indonesia. Hand-phone frasa Inggris khas Indonesia untuk alat komunikasi yang di komunitas lain dikenal dengan sebutan mobile phone (atau cukup mobile saja), atau cellular phone. Oh ya, dalam bahasa Inggris British, mobile dilafalkan ‘maubail’, dan dalam American English, dilafalkan ‘maubel’ (seperti ‘maubeli’, tanpa ‘i’).

SMS adalah juga singkatan dalam bahasa Inggris (short message service). Dalam bahasa Indonesia, SMS sudah menjadi kata benda, kata kerja dan kata sifat. Dalam bahasa Inggris, SMS tetap kata benda. Sebagai kata kerja, dalam bahasa Inggris, SMS adalah ‘to text’. Jadi Kalau ada orang hendak berkata, “Saya akan meng-sms kamu”, ia bilang I will text you. Jika kemarin ia menerima sms dari Shirley, maka ia bilang Shirley texted my yesterday, bukan Shirley sms-ed me yesterday, dan bukan pula Shirley sent me an sms yesterday.

Orang-orang Indonesia yang sedang berada di Singapura, Malaysia, Filipina atau Thailand juga kadang bingung kalau harus isi pulsa untuk HP mereka. Kita rata-rata tahu, ‘pulsa’ itu berasal dari bahasa Inggris pulse. Tapi kita tidak bisa mengatakan excuse me, I want to fill my pulse kepada pedagang pulsa sambil menyodorkan HP dan nomor telepon.

Lalu, apakah ‘isi pulsa’ dalam bahasa Inggris? Katakan saja, “top up, please!”, atau “ I want a top up”. Kata top up dipakai berangkat dari logika bahwa ‘volume pulsa’ anda sedang rendah dan perlu dinaikkan (up).

Izinkan saya berbagi bahasa-bahasa telephony lain yang mungkin ada faedahnya di kemudian hari.

Inilah dia :

Bisakah saya berbicara dengan Ibu Mila? = Can I talk to Miss Mila, Please?

Saya sendiri (Mila) = Mila speaking atau speaking.

Dengan siapa saya berbicara? = Who is speaking, please?

Ini Eddy, dari English Plus, Surabaya = This is Eddy of English Plus.

Maaf, Bu Mila tidak ada di tempat = I m sorry but Miss Mila is not here at the moment atau I am sorry but Miss Mila is not available.

Maaf, Bu Mila sedang sibuk = I am sorry but Miss Mila is busy at the moment.

Maaf, Bu Mila tidak bisa menjawab telepon Anda = I am sorry but Miss Mila cannot answer your call atau I am sorry but Miss Milla cannot take your call.

Bisakah Anda telepon lagi nanti? = Can you call back later?

Bisakah saya telepon lagi nanti? = Can I call back later?

Bisakah Anda telepon lagi sepuluh menit lagi? = Can you call back in ten minutes?

Bisakah saya meninggalkan pesan? = Can I leave a message?

Bisakah Anda mencatat pesan? = Could you take a message, please?

Apakah Anda mau meninggalkan pesan ? = Would you like to leave a message?

Jangan tutup teleponnya = Don’t hang up, please!

Tunggu sebentar, akan saya sambungkan : A moment please, I’ll put you through.

Maaf, salah sambung : I am sorry, I am afraid you’ve got the wrong number atau Sorry, wrong number.

Tolong jawab teleponnya : Can you answer the phone? Atau Can you pick up the phone?

Bisakah saya menelepon Anda nanti malam? : Can I call you tonight? Atau Can I ring you tonight?

Tolong telepon saya ya = Give me a call please, atau call me please, atau call me up, please!, atau give me a ring, please!

Nanti saya telepon = I’ll give you a call.

Saya mau beli pulsa = I want a top up please!

Pulsa berapa ? = Which denomination?

60 baht, 10 dollar  = Sixty baht, 10 dollars

Saya tak punya pulsa/pulsa saya kosong = I have no charge

Pulsa saya tinggal sedikit = I have low charge

Oh ya, sedikit tambahan kecil; agar kita terbiasa dengan bahasa Inggris, atur setelan bahasa pada HP Anda ke bahasa Inggris. Saya lebih suka kata setting daripada pengaturan atau png’tran yang biasa ada pada setelan HP berbahasa Indonesia.

Balancing dan Spooring

Saya yakin di kota mana pun Anda berada, pasti pernah mendengar atau membaca tulisan reklame yang sering terpampang di toko ban mobil yaitu ‘Spooring & Balancing’. Dua kata yang selalu berdampingan ini merujuk kepada jasa (service) untuk ‘meluruskan’ posisi ke empat ban mobil, sehingga si pengemudi akan merasakan mulusnya menyetir kendaraannya, tanpa diusik oleh getaran atau miringnya laju mobil di jalanan. Saking lumrahnya istilah spooring & balancing ini, orang nampaknya tidak memedulikan apakah istilah ini sudah tepat dan cermat.

Dengan sedikit merenung, kita akan segera menyadari bahwa istilah ini sudah salah kaprah, baik dari sudut tatabahasanya (pengejaannya) maupun semantiknya. Pertama-tama yang akan dipertanyakan adalah apakah istilah ini dari bahasa Inggris atau bahasa Belanda? Dengan menilik kata spoor, kita bisa menduga bahwa ini adalah kata Belanda, yang dalam bahasa Inggris dinamakan track (jalur). Dari kata spoor ini, kemudian diserap ke dalam khazanah bahasa Indonesia kata sepur yang bermakna kereta api. Ini memang ‘konsekuensi logis’ dari istilah ‘spoorbaan’ bermakna ‘jalur kereta api’ yang digunakan di zaman kolonial dulu, sehingga akhirnya ‘spoor’ dimaknai sebagai kereta api itu sendiri.

Namun berbeda dengan bahasa Inggris yang mempunyai bentuk gerund (memberi akhiran –ing pada kata kerjanya sehingga menjadi kata benda), bahasa Belanda sangat jarang menggunakan akhiran –ing ini. Termasuk juga istilah ‘spooring’ yang tidak bakalan tersua pada kamus bahasa Belanda. Jadi kesimpulan saya, di sini telah terjadi kawin campur antara bahasa Belanda dan Inggris di wacana bahasa kita, spoor yang Belanda dan –ing yang Inggris. Di negara-negara yang berbahasa Inggris istilah ini dinamakan dengan tracking and balancing. Di negeri Belanda sendiri istilah yang dipakai adalah uitlijnen en balanceren. Jadi karena kita menggunakan bahasa gado-gado ‘spooring & balancing’ ini, baik penutur bahasa Inggris maupun bahasa Belanda akan terlongo-longo bila mendengar istilah yang ‘aneh’ di telinga mereka itu.

Ada perbedaan antara uitlijnen dan balanceren ini. Kita melakukan uitlijnen (padanan Inggrisnya aligning) agar keempat ban mobil ini bisa berjalan lurus seiring seperjalanan. Kalau aligning ini terganggu, maka akan nampak bagian tepi luar atau tepi dalam ban mobil tersebut aus tergerus (‘termakan’), menyetir terasa berat dan tak nyaman dan pemakaian bahan bakar lebih boros. Sedangkan balanceren kita lakukan agar mobil tidak bergetar bilamana dijalankan dalam kecepatan tinggi. Kita tak dapat melakukan tracking and balancing ini sendiri, dan harus dikerjakan oleh tenaga profesional dengan peranti khusus.

Lantas bagaimana dengan istilah ’spooring & balancing’ yang sudah salah kaprah ini? Tentu tidak mudah untuk ’diluruskan’ kembali. Sama halnya seperti penggunaan istilah deponering yang sudah ’bengkok’ di dua tempat. Yang pertama, tak pernah ada istilah ’deponering’ dalam kamus Belanda dan seharusnya deponeren. Yang kedua, secara semantik istilah deponeren yang ramai digunakan pada kasus Bibit-Chandra adalah keliru, karena dia bermakna ’penyimpanan arsip perkara’. Kata yang tepat untuk ’penghentian tuntutan perkara’ ini adalah seponeren. Beberapa media massa ada yang berusaha mengoreksi dengan memakai istilah ’seponering’, namun (mohon maaf) ini masih belum betul, karena sekali lagi akhiran –ing di sini tidak berlaku untuk seponeren. Bilamana Anda memiliki kamus bahasa Belanda, sampai beruban mencarinya Anda tak akan menyua kata seponering (dan juga deponering). Jadi sebagai imbauan saja, saya serahkan kepada khalayak ramai untuk memberi kata putus, ingin tetap bertahan pada istilah yang salah kaprah atau ’banting setir’ memakai istilah yang benar di kemudian hari.

Suka Duka Menjadi Dosen Wali

SUKA DUKA MENJADI DOSEN WALI

Oleh Ika Farihah Hentihu

‘Ibu, saya mahasiswa baru angkatan 2011. Saya ingin bertemu dengan ibu untuk mengkonsultasikan rencana studi saya’.

Itulah sms yang saya terima pagi itu. Dan segera kujawab bahwa saya akan berada di kantor Fakultas Humaniora di ruang dosen di lantai2. Akupun tidak curiga dari mana mahasiswaku ini mendapatkan nomor HP.  Paling mereka dapatin nomorku dari mbak Irma, asisten ketua jurusan yang berkantor di BSI. Dan setelah jam kedua yaitu 8.10 selesai, jam 10.00 akupun duduk di ruang tersebut. Tak lama kemudian sang mahasiswi itu datang dan bersalam.

Dan selanjutnya seperti biasa dilaksanakan konsultasi akademik mulai dari rencana mata kuliah sampai trik2 belajar di kampus UIN itu seperti apa.

Dan siklus itu terjadi berulang tiap semester. Bahkan fakultas juga sudah menyerahkan berkas konsultasi lengkap dengan daftar nama2 mahasiswa dibawah perwalian. Materi konsultasipun ada didalamnya.

Tetapi sebenarnya tak semudah itu. Rutinitas hanyalah rutinitas. Tugas menjadi dosen wali bukan lagi semudah yang dibayangkan.

Adalah seorang mahasiswa bernama Yeni dari angkatan 2006. Dia cerdas dan cekatan. Kemampuan dia patut diacungi jempol. Tiap semester dia rutin mendatangi meja konsultasi dan menyerahkan KHS nya yang selalu hampir bernilai 4.00. Sayapun sebagai wali dia bangga dan lumayan tidak sulit untuk mengarahkan karirnya sebagai mahasiswa. Walhasil Yeni yang cantik berasal dari Lampung bisa menembus mahasiswa terbaik se universitas saat wisuda beberapa waktu lalu.

Itu yang rutin dan sederhana. Sebenarnya perjalanan konsultasi perwalian sebagai dosen wali si Yeni saat awal dia masuk menjadi mahasiswa UIN sangat tidak sederhana. Terutama sejak dia memeprkenalkan aku dengan pacar dia yang sedang menempuh studi Bahasa Arab di UM. Akupun harus bermanis2 ria berperan sebagai orang tua-orang tua-an. Si Hafid yang juga lumayan pandai dan sangat berwibawa (kata si Yeni) juga sering berkomunikasi denganku. Kadang saling sindir lucu2an, kadang ngadu persoalan macam2. Persoalan muncul saat sang kiai dimana si Yeni mondok di pesantren itu mengatakan bahwa pacar Yeni yaitu si Hafid itu adalah bukan seorang pendamping yang baik untuknya. Itu didapat dari sholat istikhoroh sang kiai. Jadinya si Hafid jadi bingung dan berkali2 menghubungiku mencari dukungan. Hmm aku jadi salah tingkah dengan kejadian ini. Aku hanya bisa bilang bahwa jodoh itu di tangan Allah SWT. Kalau memang pak kiai sudah berkata begitu mau bilang apa dan kutenangkan hati dia bahwa itu adalah pernyataan dari manusia. Kamu belum tau apa yang akan terjadi. Dan si Hafid pun menjadi tenang. Tapi yang unik, si pak kiai malah sibuk mencarikan jodoh buat si Yeni ini. Yang dosen Brawijaya lah, yang pilot pesawat garuda lah. Aku lama2 heran apa sebenarnya yang terjadi. Tapi aku biarkan begitu tidak ingin mencampuri urusan mahasiswa terlalu dalam meskipun kedua nya masih menghubungiku lewat sms atau email. Aku hanya yakin saja bahwa keduanya baik dan Allah lah yang menentukan mereka berjodoh atau tidak, bukannya manusia.

Dan untuk sementara kemudian Yeni datang kembali untuk yang kesekian kalinya kerumah. Dia bilang mendapat panggilan di kantor pengiriman mahasiswa studi di Australia.

‘Saya takut bu kesana sendiri’, itu yang dia bilang saat dirumah. Maklumlah dia baru saja dapatkan gelar sarjananya. Dia belum pernah datang wawancara. Dan meskipun tidak berat, aku hanya berpikir..sampai kapan aku harus mendampingi mahasiswa. Sudah lulus pun dia masih datang berharap untuk mendampingi dia saat wawancara. Hmm..karena tidak ada jadwal akhirnya kuantar dia ke kantor tersebut. Nah kemudian masalah baru muncul, dia ternyata tidak punya baju yang sesuai untuk datang wawancara di kantor tersebut.

Walhasil kuobrak-abrik almari baju adikku yang sekarang sudah bekerja 7 tahun di Ambon. Bajunya sudah banyak yang tidak dipakai lagi. Akhirnya kutemukan sebuah dan kusuruh si Yeni ini memakai baju tersebut. Maklum sehari2 dia hanya pakai rok dan blus. Dia tidak pernah memakai baju setelan celana panjang.

Sesampai di kantor tersebut, akupun duduk disamping dia sebelum bertemu langsung dengan direktur lembaga ini. Sesaat kemudian seorang pria parlente berperut besar muncul dan menemui kami.

‘Mbak Yeni ya?’ Dia bertanya dengan nada serius. Yeni pun mengangguk mengiyakan. Lalu kemudian si bapak tersebut menunjuk aku dan menanyakan ini siapa, si yeni dengan spontan menjawab ibu saya. Hahaha aku ketawa nggak habis2 ingat peristiwa itu. Aku dibilang sebagai ibunya. Meringis kumengingat saat itu. Yeni bilang, aneh bu nanti kalau saya bilang saya diantar oleh dosen saya. Kalau kupikir2 betul juga yah. Namun demikian ternyata direktur lembaga berperut buncit tersebut mengajak Yeni ke lantai 2 di ruangan lain. Sepertinya dia tidak ingin pembicaraannya didengar olehku. Jadi kumenunggu Yeni dengan sabar di lantai 1.

Hmm kupikir2 biarlah keterima tantangan ini. Siapa tau hal ini bisa dijadikan masukan bagi mahasiswa yang lain

Saat ramai2nya facebook pun, kuikut beramai2 pula. Tak kusadari akupun masuk dalam lingkaran persoalan2 mahasiswa dari mulai konflik2 ringan, pacaran, hingga putus hubungan. Huuft..berat dirasa memang, tapi menjadi menarik saat mereka mulai menyangkut-pautkan diriku sebagai wali mereka.

Itu terjadi saat si Yeni tidak lagi memperpanjang hubungannya dengan Hafid karena tidak mendapatkan restu dari kiai Yeni di pesantren dimana Yeni tinggal. Dan itu menyebabkan Hafid pun kebingungan. Akulah sasaran dia untuk curhat dan mengadu. Dan itu dia tulis di facebook. Owala..benar2 di luar dugaan. Tapi mau bagaimana lagi, akupun merespon apa yang dia ungkapkan.

Lagi seorang mahasiswi, berasal dari kota Bondowoso. Lagi2 kumenerima daftar nama mahasiswa cemerlang. Dan yang pasti dia tidak sulit diarahkan dalam karir mahasiswanya. Shinta namanya. Saat ini beberapa universitas di luar negeri memanggilnya untuk berkuliah disana, dia memang benar2 smart. Tapi tidak di urusan romantisme. Rupanya urusan ini benar2 membuat dia pusing tujuh keliling. Berapa kali kucatat dia sudah berganti nmer hp, ini sudah yang ke 7 kalinya. Dalam sms dia bercerita kalau dia menjalin hubungan dengan kakak kelasnya yang sedang berkuliah di Amerika. Beberapa waktu sebelum si Hamim ini berangkat ke Amerika mereka benar2 serius menjalani hubungan. Sampai2 tawaran lamaran dari putra petinggi kampus UIN pun dia tolak. Dia hanya mau dengan kakak kelas dia yang akan berangkat menuju Amerika itu.

Namun kenangan hanya tinggal kenangan. Diapun sms menghubungi aku curhat dan mengatakan kalau kekasihnya yang akan berangkat ke Amerika itu tiba-tiba memutuskan begitu saja hubungan yang telah mereka tempuh selama ini. Entah alasan apa yang dilontarkan Hamim itu. Aku sendiri sampai saat ini belum mendapatkan kabar yang jelas dari keduanya. Akhirnya perang melalui facebook pun dimulai. Aku yang juga berteman dengan Hamim pun jadi ikut2an menengahi. Owalah..

Karena Shinta juga sudah tidak tahan didiamkan seperti itu, diapun memutuskan untuk meremove nama si Hamim dari facebook dia. Tapi aku belum lakukan itu, aku anggap aku hanya ingin tetap menjalin kerjasama dengan mahasiswa2ku terutama yang berkuliah di luar negeri. Ini juga yang membuat aku masih tetap update kegiatan dia di Amerika karena itu Shinta sering menanyakan.

Tak lama kemudian Shinta menjalin hubungan dengan teman dekatnya yang kedua, seorang dosen muda kolega saya di kampus. Awalnya Shinta bercerita, hubungannya sangat romantis. Mereka sangat cocok dalam segala hal. Namun kisah itu ternyata hanya sementara. Terutama setelah mengetahui Shinta diterima S2 di Brunai. Gong perang status pun mulai dipukul. Aku jadi merasa semakin ruwet karena harus selalu mendinginkan keduanya. Tak ayal facebook kubuka berkali2 gara2 karena konflik berkepanjangan itu. Hampir setiap malam Shinta sms aku nanya apa yang akan ditulis di status dia di facebook. Dan setiap malam itu pula dia bertanya komen apa yang harus dia tulis disana.

Huhh benar2 berat..seorang mahasiswa yang sudah lulus, aku sudah bukan lagi wali mereka, masih saja sibuk curhat dan konsultasi seolah tidak ada lagi teman untuk berbagi.

Dan kemudian seorang lagi, mahasiswa asal Balikpapan bernama Udin. Tadinya kukira cowok itu tidak terlalu ribet dengan masalah pribadi maupun akademis. Mereka jauh lebih kebal dan kuat hati dalam menjalankan studi. Tapi tidak dengan si Udin. Dia yang datang jauh2 dari Kalimantan, pagi2 sudah menghubungi aku lewat sms. Saat masih semester 2, Udin ini belum hapal ruang2 kantor di UIN, hingga lama sekali dia menemukan ruangan kantor dosen wali. Dia datang dengan terengah2, akhirnya kuambilkan segelas air.

Mom, I need your help. Itu kalimat pertama yang dia katakan saat kupersilahkan duduk. Kemudian dia mengkonsultasikan rencana studinya. Begitu pula pada semester selanjutnya. Menjelang semester 7, Udin kembali  bertemu untuk berkonsultasi. Dia sms padaku dan mengatakan dia tidak bisa hadir untuk konsultasi rencana studi. Dia menitipkan semua berkas2 rencana studi dia pada orang lain. Nah masalah mulai muncul. Ada seorang cewek muncul di facebookku dan kuterima dia untuk berteman denganku. Awalnya aku nggak curiga. Tapi lama2 kuperhatikan baru aku tahu bahwa dia ternyata adalah istri si Udin ini. Kupandangi dalam2 apa benar Udin ini sudah nikah dengan Evi, seorang mahasiswi jurusan Psikologi asal Kediri. Dan sms dia pun kurespon dengan pertanyaan, kamu sudah nikah Udin? Kutanya dia dengan nada penuh penasaran. Karena selama ini yang kutahu dia pendiam dan tekun dengan studinya. Kalau kemudian dia nikah sudah pasti orang tuanya akan datang menemuiku. Orang tua Udin sudah mengetahui bahwa aku adalah dosen wali dia di kampus. Beliau sempat ngobrol dan menitipkan putranya padaku untuk dibimbing. Mungkin karena Udin belum bisa memanage uang, beliau mengirimkan uang melalui nomor rekeningku. Baru kemudian aku menyerahkan uangnya sebagian2 kepada Udin. Hufthh..sampai segitunya!

Tapi apapun alasannya aku masih belum habis pikir kalau si Udin ini sudah menikah. Hingga akhirnya kutanya dia melalui sms, setelah si Udin ini mengatakan bahwa berkas2 rencana studinya dititipkan ke temannya. Dia bilang ‘belum mom’ dengan pasti. Saya masih ingin melanjutkan karir dulu katanya. Tapi kemudian aku masih penasaran, lalu si Evi itu siapa, istrimu? Kuberondong dengan pertanyaan lagi. Dia jawab ah engga mom, itu hanya main2 saja, si Evi yang pasang status nikah itu.

Owala, lagi2 aku masuk dalam lingkaran permasalahan pribadi mahasiswa. Dan si Evi itu pula yang datang membawa berkas2 rencana studi Udin.

Saat mahasiswa antri menunggu untuk mengkonsultasikan rencana studinya, kulihat si Evipun duduk dengan malu2 disana hingga sampai giliran dia datang di hadapanku. Tangannya begitu bergetar dan dingin saat menyalamiku. Hmm baru kutahu dia benar2 takut menghadapiku. Beberapa teman Udin mengatakan rasa tidak simpatinya kepada Evi. Perempuan ini seolah2 menjadi tertuduh saat semua memandang dirinya. Teman2 Udin memandang sinis pada Evi, hmm entah kenapa. Tapi hal itu juga akhirnya mempengaruhiku, lagi-lagi aku tidak mau terlalu jauh mencampuri urusan romantisme mahasiswa.

Di facebook nama si Evi ini sudah keremove, bukan karena apa. Yang ku heran nggak habis2, status dia selalu menggambarkan adanya hubungan antara suami dan istri. Geli sekali baca status gadis itu. Saat ketemu di parkiranpun aku jadi agak terpengaruh dengan semua yang telah berlalu, risih banget untuk menyapa mereka. Apa mereka sudah menikah, atau belum? Itulah pertanyaannya. Tapi mereka berdua berusaha untuk menghormati aku, kukira begitu saja. Si Evi pun berusaha mendekatiku, mungkin karena dia tahu nama dia di facebookku sudah kuremove. Hampir setiap saat dia bertemu denganku, dia mendekat dan bersalam. Dahikupun mengernyit tanda penasaran. Dan dengan sangat terpaksa kubilang, kamu jangan kecewakan Udin, dia anakku. Kalau kamu kecewakan dia, berarti kamu kecewakan aku juga. Nah puas sudah ku berkata begitu. Seketika itu pula dia jadi terperanjat penuh keraguan. Akupun sudah tenang dan kutinggalkan dia terpaku di dekat tanda P coret dekat parkiran.

Hmmm..baru kuingat, dia bukan mahasiswaku. Dia mahasiswa jurusan lain, dan bahkan bukan pula dibawah bimbingan perwalianku. Cape juga ternyata..cape fisik cape fikiran.

Seharusnya tugasku hanyalah mengarahkan studi mereka secara maksimal melalui konsultasi perwalian. Berapa sks yang mereka harus ambil, trik2 studi yang efektif dan urusan akademis yang lain. Tapi lalu kemudian banyak masalah2 pribadi yang dikonsultasikan oleh mahasiswa yang menempatkanku pada posisi menjadi orang tua mereka. Bahkan saat mereka sudah luluspun masih saja menghubungiku untuk curhat.

OMIGOD

Berat tapi asyik.

Malang, 15 November 2011

Saat Pagi di Yogyakarta

 

Saat pagi di Yogyakarta

Cuaca sedang mendung menjadikan pagi di Yogyakarta sedikit lebih segar dibanding saat-saat biasa. Pagi itu di pinggir jalan Masjid seorang ibu dan bapak sudah siap dengan dagangan nasi gudeg dan jajan pasar. Beberapa orang dengan sabar antri menunggu sang ibu mencuwil2 dan menatanya ke dalam pincuk daun pisang. Seorang pembeli rupanya ingin membawa makanan khas Yogyakarta itu ke kantor, iapun menyodorkan kotak plastik tempat nasi itu kepada sang ibu penjual gudeg.

“Nasi sama gudeg saja yu” si pembeli itu mulai memesan. Kemudian ibu penjual gudegpun menata nasinya dengan rapi di kotak plastik tersebut dan menutupnya dengan selembar daun pisang. Ya, di Yogyakarta daun pisang masih efektif dipergunakan untuk membungkus nasi. Bisa jadi nasi gudeg ini menjadi mahal karena pembungkusnya. Bukan karena isinya. Saat ini musim hujan masih belum sepenuhnya datang, menjadikan pohon2 pisang tidak menghasilkan daun yang cukup seperti bisanya.

Sayapun ingin mencoba seperti apa ya rasa nasi gudeg tersebut. Dan kemudian giliran saya memesan nasi gudeg dengan lauk telur pindang. Dengan cekatan sang ibu penjual nasi gudeg ini menata dalam daun pincuk dan membungkusnya kembali untukku.

Hmm nasi sudah di tangan, mau kembali ke hotel rasanya sayang. Hari masih pagi. Kulihat ibu2 berseragam baju olah raga berjalan di depan penjual nasi gudeg. Kurasa sebaiknya kubuntuti mereka, mau kemana pagi2 begini dengan seragam olahraga. Sepertinya mereka akan melakukan senam khusus lansia. Ternyata benar. Di depan Puro Pakualaman sudah berkumpul belasan ibu2 yang akan melakukan senam lansia tepat di depan istana Puro Pakualaman.

Di depan istana ini ada dua lapangan di sebelah kiri dan kanan yg dibelah dengan sebuah jalan menuju keluar yaitu jalan yang cukup besar, Jalan Sultan Agung. Tapi sebelum melangkah keluar dari kompleks Puro Pakualaman kulihat sebuah masjid dengan tembok yang cukup tebal, mirip dengan tembok istana. Kubayangkan sudah pasti masjid ini adalah bagian dari kompleks Puro Pakualaman karena bentuk arsitekturnya yang Jawa dan sangat klasik. Biasanya masjid selalu menggambarkan arsitek timur tengah dan kubah. Namun masjid besar Pakualaman ini tidak begitu. Tembok2 tebal itu benar2 tidak bisa menutupi ciri khas bangunan2 kuno di Yogyakarta. Bangunannya tidak besar namun tembok yang membentengi bangunan tersebut sangat tebal dan berlapis. Tiap ujung terhenti dengan ukiran ataupun tekstur2 sederhana. Tak bisa dipungkiri meskipun jauh lebih sederhana dibandingkan dengan tembok2 bali yang sangat artistik, tembok2 kebanyakan di Yogyakarta ini cukup terlihat klasik dan walaupun minimalis.

Akhirnya kulanjutkan perjalanan menuju keluar gerbang istana setelah kupuas memfoto2 di lingkungan sekitar Puro Pakualaman. Ibu2 bersenam ria di lapangan luar Puro Pakualaman pun tak luput untuk kubidik. Namun disitulah kubisa mendengar hiruk pikuk di luar kompleks Puro Pakualaman. Kulirik sana sini, baru kutahu di luar kompleks, di jalan Sultan Agung ini ada sebuah pasar pagi. Dan saat itu pasar masih dipenuhi dengan penjual dan pembeli yang akan mempersiapkan masakan2 keluarga hari ini. Karena antusias akupun berjalan mendekat ke arah pasar Sentul, nama pasar di jalan Sultan Agung ini. Pohon2 beringin berumur lumayan tua kulewati, pohon ini masih sangat kokoh dengan sulur2 yang cukup panjang berdiri di sisi lapangan kiri di luar Pura Pakualaman. Semalam aku sempat kesana beserta kawan2 Makassar, cangkrukan dan berdiskusi disana dengan menyantap roti bakar, tahu bacem dan teh poci. Sungguh hidangan yang cukup unik. Gulanyapun masih utuh dan besar, gula batulah yang dipakai untuk menyantap minuman the poci ini. Cukup hangat dan segar disaat baru saja turun hujan lebat sore itu di Yogyakarta.

Udarapun mulai menghangat saat aku mendekat ke Pasar Sentul. Para pedagang dan pembeli terlihat sibuk dengan dagangan2 yang ditawarkan dan yang akan dibeli. Si mbak yang jualan jajan pasar duduk dikelilingi puluhan keranjang dengan jajan yang berbeda2. Kulihat banyak sekali macam jajanan yang dijual, semua jajanan sepertinya tidak ada yang ketinggalan. Hmm rasanya ingin kubeli satu dua untuk kucicip tapi baru kuingat tadi aku sudah beli nasi gudeg. Mau dikemanakan jajan ini kalau kubeli, siapa yang akan makan jajan2 ini. Hmm..

Di sebelah penjual tahu bacem ada ibu yang duduk dibawah sibuk membungkus seperti bubur. Iseng kutanya, ‘Ini apa bu’? Masih dengan cekatan membungkus pesanan seorang bapak yang membeli 5 bungkus, ibu tersebut menjawab ‘Gempol’ katanya ringan. Gempol ini berbentuk bulat2 sebesar bole bekel dan diberi bubur kental berwarna coklat, sepertinya bubur kanji dan diberi santan kental berwarna cukup putih. Selera jadi tergoda untuk mengicipi gempol ini. Sambil memesan sebungkus kutanya terbuat dari apakah bubur gempol ini, belia menjawab dengan pasti ‘wos’ katanya begitu. Wos adalah beras dalam bahasa Jawa. Saat kugigit gempol ini jadi ingat dawet. Rasanya mirip sekali. Hanya saja gempol ini sedikit kasar, mungkin adonannya adalah beras menir yaitu beras yang ditumbuk kasar tanpa diayak. Beda dengan dawet yang memakai tepung kanji yang cukup halus.

Waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi, mau ke Shoping masih kepagian. Biasanya kawasan penuh buku ini dimulai pukul 9. Kuputuskan untuk menunggu sampai pukul 8.30 sembari menikmati gempol dan nasi gudeg yang kubeli tadi pagi.

Shoping masih terlihat seperti dulu saat kudatang ke Yogyakarta bertahun lalu. Penuh dengan buku2 tren yang dan yang jelas cukup murah dibanding kalau kita ke toko buku resmi. Dan masih seperti saat itu pula ada toko2 yang menjual paper dan skripsi. Tiap tema diikat dengan tali dan diberi subyek, misal sosiologi, biologi dll. Hmm sangat memanjakan mahasiswa kalau begitu. Kalau sudah begini tidak ada kata untuk mundur, harus maju. Semua fasilitas sudah ada. Tinggal kita mau memanfaatkan atau tidak. Kupilih beberapa buku yang sesuai dengan tema yang kucari. Dan sebenarnya ada satu buku yang tidak tersedia. Ya sudah meskipun agak menyesal sudah datang jauh2 ke Yogyakarta, tidak menemukan buku yang kucari.

Yogyakarta di siang hari menggeliat menampakkan kesibukan bisnis, para pengemudi becak dengan sabarnya menunggu termasuk becak yang mengantarku ke Shoping. Si bapak pengemudi becak bahkan menawarkan untuk menunggu sampai ku selesai menemukan apa yang kucari. Dan beliau mengantarkanku kembali ke hotel Pakualaman.

Dan lagu KLA “Yogyakarta” masih mengiang2 di telinga hingga kumeninggalkan kota ini dengan rasa sedih yang cukup dalam. Ingin sekali kembali kesini walau hanya sehari. Yogyakarta cukup berkesan menggalkan memori yang cukup dalam di dalam hati.

Catatan Hati

Kalau boleh kutumpangkan berlabuh biduk kasihku
di kebeningan telaga hatimu
kutitip sekalian dayung dan sauhku
nanti kutulis surat cinta diatas lembaran kertas biru
sebelum prahara merontokkan mahligai hatimu