Sejarah Perkembangan Ilmu Gizi

1. Di Luar Negeri

a. Zaman purba

1.      Makan untuk mempertahankan hidup.

2.      Dalam perkembangan ilmu gizi (dipelopori Tod Hunter) makanan dijadikan bahan           sebagai upaya penyembuhan dan pemulihan yang dikenal dengan “Terapi Diet”.

b. Zaman Yunani

1.      Hipocrates : Peranan makanan terhadap penyembuhan penyakit (dasar dalam Ilmu Dietetika)

2.      Tahun 1747, dr. Lind menemukan jeruk manis untuk menanggulangi diet vitamin C (sariawan/scorbut)

3.      Tahun 1687, ditetapkan standart makanan (untuk buah dan sayuran belum ditetapkan)

4.      Tahun 1854, suster Florence Nightinget : pemberian makanan kepada pasien harus sesuai dengan kebutuhan pasien.

c. Abad XVI

1.      Adanya doktrin tentang hubungan antara makanan dengan panjang usia.

2.      Doktrin dikemukakan oleh :

Camaro (1366 – 1464)

Francis Bacon (1561 – 1626) : makanan yang diatur dapat memperpanjang usia.

d. Abad XVI – XIX

Terjadi perkembangan penemuan di bidang kimia, faal, dan biokimia.

Tokoh-tokohnya :

1.      Lavoiser (1743 – 1794) à Bapak Ilmu Gizi

2.      Liebig (1803 – 1973), analisis protein, lemak, dan karbohidrat.

3.      Vait (1831 – 1908), Rubner (1854 – 1982)

Atwater (1844 – 1907), Lusk (1866 – 1932)

Ke-4 ahli tersebut pakar dalam pengukuran energi dengan kalorimeter.

4.      Hopkin (1861 – 1947), Eijkman (1851-1930)

Kedua pakar ini perintis penemu vitamin

5.      Mendel (1872 – 1935), Osborn ( 1859 – 1929)

Penemu vitamin dan analisis kualitas protein

e.  Abad XX

Mc. Collum, Charles G. King, melanjutkan penelitian vitamin, kemudian terus berkembang sehingga muncul “Science of nutrition”.

2. Perkembangan Di Indonesia

  1. Belanda mendirikan “Laboratorium Kesehatan “ pada tanggal 15 Januari 1888 di Jakarta , tujuannya  menanggulangi penyakit beri-beri di Indonesia dan Asia
  2. Tahun 1938, nama “Laboratorium Kesehatan” diganti dengan “Lembaga Eijkman”
  3. Tahun 1934, IVV (Het Institud dan Voor Volk Suceding) atau Lembaga Makanan Rakyat dan setelah merdeka ( kira-kira tahun 1964) mulai melakukan penelitian.
  4. Tahun 1937 – 1942, diadakan survei gizi  yaitu 7 tempat di Jawa , 1 tempat di Lampung, dan 1 tempat di Seram..
  5. Scooltema, Ochese, Terra, Jansen, Donath, Postmus, Van Veen mengamati pola makanan, keadaan gizi, pertanian, dan perekonomian.
  6. Tahun 1919, Jansen, Donanth (dari Lembaga Eijkman) meneliti masalah Gondok di Wonosobo
  7. Tahun 1930, Vanveen Postmus, De Hass  menemukan defisiensi Vitamin A di Indonesia.
  8. Tahun 1935, De Haas meneliti tentang KEP di Indonesia
  9. Sejak Tahun 1919, Panne Kock, Van Veen, Koe Ford, Postmus menganalisis nilai gizi berbagai makanan di Indonesia yang dikenal dengan DKBM
  10. Tahun 1950, IVV diganti  namanya menjadi Kementerian Kesehatan RI atau LMR (Lembaga Makanan Rakyat) diketuai oleh Prof dr. Poerwo Soedarmo (sebagai Direktur I) à Bapak Persagi dan Bapak Gizi Indonesia. Kemudian LMR membentuk kader / tenaga gizi dan pengalaman ilmu gizi kepada masyarakat.
  11. Tahun 1960, Prof. Poerwo Soedarmo mencetak tenaga ahli gizi (AKZI dan FKUI) antara lain :

1.      Poerwo Soedarmo, Drajat Prawira Negara

2.      Djaeni S. Sedia Utama, Soemila Sastromijoyo, Ied Goan Gong, Oei Kam Nio

3.      Soekartijah Martaatmaja, Darwin Kariyadi

4.      Ig. Tarwotjo, Djoemadias Abu Naim

5.      Sunita Almatsir à Perintis terapi diet dan institusi gizi.

Penelitian terus dikembangkan di Indonesia terutama oleh konsultan asing (WHO, FAO) yaitu :

1. Damen (1952-1955)            : Kwashiorkor dan Xerophtalmia

2. Klerk (1956)                        : Tinggi badan dan berat badan anak sekolah

3. Bailey (1957 – 1958)          : Kelaparan di gunung Kidul

« »