Dalil Qath’i dan Dzanni


  1. A. Definisi Dilalah Al-Qur’an dan Dalil yang Qath’i serta Zhanni

Dalil menurut arti etimologi bahasa Arab ialah pedoman bagi apa saja yang khissi (material) yang ma’nawi (spiritual), yang baik ataupun yang jelek.

Adapun menurut istilah ahli ushul (termenilogi)  ialah sesuatu yang dijadikan dalil, menurut perundangan yang benar, atas hukum syara’ mengenai perbuatan manusia, secara pasti (qath’i) atau dugaan (zhanni).

Sedangkan istilah dali-dalil hukum, pokok-pokok hukum, sumber-sumber hukum syari’at Islam adalah lafadz-lafadz mutarodifat (kata-kata sinonim), yang artinya adalah satu atau sama (equivalent).

Dalalah berarti pemahaman atau tanda penunjukkannya untuk sampai kepada madlul, prosesnya berawal dari petunjuk yang mendasarinya (dalil) kemudian dipahami (dalalah) yang akhirnya mengacu kepada pemahaman (madlul).

Contohnya :

Aqimu al-Sholah perintah shalat           wajib shalat

Asap           ada yang terbakar             api

Sebagian ulama’ ushul memberikan definisi dalil dengan sesuatu yang diambil dari padanya, hukum syara’ mengenai perbuatan manusia dengan jalan pasti (qath’i). sedangkan sesuatu yang diambil daripadanya hukum syara’ dengan jalan dugaan (zhanni) adalah amarah (sign = tanda), bukan dalil. Tetapi yang termasyhur dalam istilah ulama’ ushul mengenai definisi dalil itu ialah sesuatu, yang diambil daripadanya, hukum syara’ secara amali, mutlak, baik dengan jalan qath’i maupun zhanni. Karena itu mereka membagi dalil kepada 2 macam yaitu :

  1. 1. Dalil atau Nash Qath’i

Dalil atau nash yang qath’i ialah nash yang menunjukkan kepada makna yang bisa difahami secara tertentu, tidak ada kemungkinan menerima ta’wil, tidak ada tempat bagi pemahaman arti selain itu, sebagaimana firman Allah SWT :

öNà6s9ur ß#óÁÏR $tB x8ts? öNà6ã_ºurø—r& bÎ) óO©9 `ä3tƒ £`ßg©9 Ó$s!ur 4 bÎ*sù tb$Ÿ2  Æßgs9 Ó$s!ur

Artinya : “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak.” (QS. An-Nisa’ : 12).

Ayat ini adalah pasti, artinya bahwa bagian suami dalam keadaaan seperti ini adalah seperdua, tidak yang lain (yakni yang lain dari seperdua). Dan seperti firman Allah juga yaitu :

èpu‹ÏR#¨“9$# ’ÎT#¨“9$#ur (#rà$Î#ô_$$sù ¨@ä. 7‰Ïnºur $yJåk÷]ÏiB sps($ÏB ;ot$ù#y_ (

Atinya : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera”. (QS. an-Nur : 2)

Ayat ini pasti juga, artinya bahwa had zina itu seratus kali dera, tidak lebih dan kurang. Begitu juga setiap nash yang menunjukkan arti mengenai bagian dalam soal harta pusaka, atau ati had dalam hukuman dan atau tentang arti nishab. Semua itu telah dipastikan atau ditentukan dan atau dibatasi.

Dalil qath’i ini ada dua macam, yaitu :

  1. a. Dalil al-Wurud yaitu dalil yang meyakinkan bahwa datangnya dari Allah (al-Qur’an) atau dari Rasulullah (hadits mutawatir). Al-qur’an seluruhnya qath’i dilihat dari segi wurudnya. Akan tetapi tidak semua hadits qath’i wurudnya.
  2. b. Qath’i Dalalah, dalil yang kata-katanya atu ungkapan kata-katanya menunjukkan arti dan maksud tertentu dengan tegas dan jelas sehingga tidak mungkin dipahamkan lain. Seperti firman Allah SWT yaitu dalam surat an-Nisa’ ayat 12 di atas.

  1. 2. Dalil atau Nash Zhanni

Dalil atau nash yang zhanni ialah nash yang menunjukkan atas makna yang memungkinkan untuk ditakwilkan atau dipalingkan dari makna asalanya (lughawi) kepada makna yang lain, seperti firman Allah SWT yaitu :

àM»s)¯=sÜßJø9$#ur šÆóÁ­/uŽtItƒ £`ÎgÅ¡àÿRr’Î/ spsW»n=rO &äÿrãè%

Artinya : “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’[1].” (QS. al-Baqarah : 228)

Padahal lafal quru’ itu dalam bahasa Arab mempunyai dua arti yaitu suci dan haid. Sedangkan nash menunjukkan (memberi arti) bahwa wanita-wanita yang ditalak itu menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Maka ada kemungkinan bahwa yang dimaksudkan, adalah tiga kali suci atau tiga kali haid. Jadi ini berarti tidak pasti dalalahnya atas satu makna dari dua makna tersebut. Oleh karena itu para mujtahidin berselisih pendapat bahwa ‘iddah wanita yang ditalak itu Quru’ dapat diartikan suci atau haid. Dan sebagaimana firman allah, yaitu

ôMtBÌhãm ãNä3ø‹n=tæ èptGøŠyJø9$#

Arinya : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah.[2]

Padahal lafal maitah (bangkai) itu umum. Jadi ini mempunyai kemungkinan arti mengharamkan setiap bangkai, atau keharaman itu (ditaksis) dengan selain bangkai lautan, maka oelh karena itu nash yang mempunyai makna yang serupa (makna ganda) atau lafal umum, atau mutlak dan atau seperti maitah ini, semua adalah zhanni dalalahnya (indikator), karena ia mempunyai kecenderungan kepada satu arti lebih.

Dalil zhanni ada dua macam, yaitu :

  1. a. Zhanni al-Wurud yaitu dalil yang hanya memberi kesan yang kuat (sangkaan yang kuat) bahwa datangnya dari Nabi saw. Tidak ada ayat al-Qur’an yang zhanni wurudnya, adapun hadits ada yang zhanni wurudnya, seperti hadits ahad.
  2. b. Zhanni al-Dalalah yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya memberikan kemungkinan-kemungkinan arti dan maksud. Tidak menunjukkan kepada satu arti dan maksud tertentu. Seperti firman allah dalam surat al-baqarah ayat 228.
  1. B. Definisi dan Kehujjahan Sunnah serta Dilalah dan Kedudukan Sunnah

As-Sunnah dalam bahasa Arab berarti tradisi, kebiasaan, adat istiadat. Dalam terminology Islam, berarti perbuatan, perkataan, dan keizinan Nabi Muhammad saw (af’alu, aqwalu, dan taqriru). Menurut rumusan ulama ushul fiqh, As-Sunnah dalam pengertian istilah ialah segala yang dipindahakan dari Nabi Muhammad saw berupa perkataan, perbuatan, ataupun tqrir yang mempunyai kaitan dengan hukum. Pengertian inil;ah yang dimaksudkan untuk kata As-Sunnah dalam hadist Nabi : sungguh telah kutinggalkan untukmu dua perkara, yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Al-Hadist)

Pengertian As-Sunnah tersebut sama dengan pengertian Al-Hadist. Al-Hadist dalam bahasa Arab berarti berita atau kabar. Namun demikian, ada yang membedakan pengertian As-Sunnah dan Al-Hadits. Perbedaan dimaksud, As-Sunnah adalah sesuatu perbuatan yang beberapa kali dilakukan oleh Nabi Muhammad saw yangb kemudian terus menerus diikuti oleh sahabat dan dinukilkan (dipindahkan) kepada kita dari zaman ke zaman dengan jalan mutawatir. Nabi Muhammah saw melakukan perbuatan ini beserta para sahabat, kemudian hal itu diteruskan oleh para sahabat lain dan tabiin, bahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga sampai kepada kita saat ini. Adapun Al-Hadits adalah segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi saw walaupun hanya sekali saja beliau mengerjakannya sepanjang hidupnya dan walaupun hanya seorang saja yang meriwayatkannya. Perbedaan makna secara etimologi seperti ini, tidak mengurangi pentingnya arti As-Sunnah atau Al-Hadits dimaksud. Sebab, mayoritas ahli hadits, berdasarkan penelitian mereka menyamakan hadits dan sunnah (Nasaruddin Razak, 1977: 102). Akan tetapi, tidak semua hadits mesti menjadi sumber hukum. Sebab ada hadits yang maqbul (diterima) da nada yang mardud (tidak dapat diterima). Oleh karena itu perlu juga diungkapkan pembagian Sunnah dan Hadits.

Sunnah atau Hadits dapat dibagi berdasarkan kriteria dan klasifikasi sebagai berikut :

  1. Ditinjau dari segi bentuknya terbagi menjadi :
    1. Fi’il, yaitu perbuatan Nabi.
    2. Qauli, yaitu perkataan Nabi.
    3. Taqriri, yaitu perizinan Nabi, yang artinya perilaku sahabat yang disaksikan oleh Nabi, tetapi Nabi tidak menegurnya atau melarangnya.
  2. Ditinjau dari segi jumlah orang yang menyampaikannya menjadi :
    1. Mutawatir, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak yang menurut akal tidak mungkin mereka bersepakatan dusta serta disampaikan melalui jalan indra.
    2. Masyhur, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak tetapi tidak sampai kepada derajat mutawatir, baik karena jumlahnya maupun karena tidak jalan indera.
    3. Ahad, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorannnggg atau lebih yang tidak sampai kepada tingkat masyhur dan mutawatir.
  3. Ditinjau dari segi kualitas hadits, terbagi menjadi :
    1. Shahih, yaitu hadits yang sehat, yang diriwayatkan oleh orang-orang yang terpercaya dan kuat hafalannya, materinya baik dan persambungan sanadnya dapat dipertanggungjawabkannya.
    2. Hasan, yaitu hadits yang memenuhi persyaratan hadits shahih kecuali di segi hafalan pembawanya yang kurang baik.
    3. Dha’if, yaitu hadits lemah, baik karena terputus salah satu sanadnya atau karena salah seorang pembawanya kurang baik dan lain-lain.
    4. Maudhu’, yaitu hadits palsu, hadits yang dibikin oleh seseorang dan dikatakan sebagai sabda atau perbuatan Rasul saw.
  4. Ditinjau dari segi diterima atau tidaknya, terbagi menjadi :
    1. Maqbul, yaitu hadits yang mesti diterima.
    2. Mardud, yaitu hadits yang mesti ditolak.
  1. Ditinjau dari segi orang yang berbuat atau berkata-kata, hadits terbagi menjadi :
    1. Marfu’, yaitu betul-betul Nabi saw yang pernah bersabda, berbuat dan memberi izin.
    2. Mauquf, yaitu sahabat Nabi yang berbuat dan Nabi tidak menyaksikan perbuatan sahabat.
    3. Maqtu’, yaitu tabi’in yang berbuat. Artinya perkataan tabi’in yang berhubungan dengan soal-soal keagamaan.
  2. Pembagian lain yang disesuaikan jenis, sifat, redaksi, teknis penyampaiaan dan lain-lain. Hal dimaksud, dapat diungkapkan sebagai contoh : hadits yang banyak menggunakan kata an (dari) menjadi hadits mu’an’an. Hadits yang benyak menggunakan kata anna (sesungguhnya) menjadi hadits muanan. Hadits yang menyangkut perintah disebut hadits awamir. Hadits yang menyangkut larangan disebut hadits nawahi. Hadits yang sanad (sanadnya) terputusnya disebut hadits munqath’i.

Bukti-bukti kehujjahan as-Sunnah banyak sekali, yaitu :

  1. Nash-nash al-Qur’an

Karena allah SWT dalam beberapa ayat kitab al-Qur’an telah memerintahkan mentaati Rasul-Nya. Menurut-Nya taat kepada Rasul-Nya berarti taat kepada-Nya.

Dia memerinatah umat Islam ketika mereka bertentangan dalam urusan sesuatu, untuk mengembalikannya keepada Allah dan Rasul-Nya. Dia tidak membuat untuk orang mu’min suatu pilihan ketika Dia dan Rasul-Nya telah memutuskan sesuatu. Dia meniadakan iman bagi seseorang yang tidak tenang hatinya menerima keputusan Rasul, atau tidak menyerah kepadanya. Semuanya ini adalah bukti dari Allah bahwa sesungguhnya pembentukan hukum syari’at oleh Rasulullah saw adalah pembentukan hukum syari’at oleh Tuhan yang harus diikuti.

Allah SWT telah berfirman dalam beberapa ayat berikut :

ö@è% (#qãè‹ÏÛr& ©!$# š^qߙ§9$#ur ( bÎ*sù (#öq©9uqs? ¨bÎ*sù ©!$# Ÿw =Ïtä† tûï͍Ïÿ»s3ø9$# ÇÌËÈ

Artinya : “Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS. Ali Imron : 32).

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãè‹ÏÛr& ©!$# (#qãè‹ÏÛr&ur tAqߙ§9$# ’Í<’ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt“»uZs? ’Îû &äóÓx« çnr–Šãsù ’n<Î) «!$# ÉAqߙ§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù’s? ÇÎÒÈ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa’ : 59)

Ÿxsù y7În/u‘ur Ÿw šcqãYÏB÷sム4Ó®Lym x8qßJÅj3ysム$yJŠÏù tyfx© óOßgoY÷t/ §NèO Ÿw (#r߉Ågs† þ’Îû öNÎhÅ¡àÿRr& %[`tym $£JÏiB |MøŠŸÒs% (#qßJÏk=|¡ç„ur $VJŠÎ=ó¡n@ ÇÏÎÈ

Artinya : “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisa’ : 65).

`¨B ÆìÏÜムtAqߙ§9$# ô‰s)sù tí$sÛr& ©!$# ( `tBur 4’¯<uqs? !$yJsù y7»oYù=y™ö‘r& öNÎgøŠn=tæ $ZàŠÏÿym ÇÑÉÈ

Artinya : “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.[3] (QS. an-Nisa’ :80).

$tBur tb%x. 9`ÏB÷sßJÏ9 Ÿwur >puZÏB÷sãB #sŒÎ) Ó|Ós% ª!$# ÿ¼ã&è!qߙu‘ur #·øBr& br& tbqä3tƒ ãNßgs9 äouŽzÏƒø:$# ô`ÏB öNÏd̍øBr& 3 `tBur ÄÈ÷ètƒ ©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur ô‰s)sù ¨@|Ê Wx»n=|Ê $YZÎ7•B ÇÌÏÈ

Artinya : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. al-Ahzab : 36).

!$¨B uä!$sùr& ª!$# 4’n?tã ¾Ï&Î!qߙu‘ ô`ÏB È@÷dr& 3“tà)ø9$# ¬Tsù ÉAqߙ§=Ï9ur “Ï%Î!ur 4’n1öà)ø9$# 4’yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# ö’s1 Ÿw tbqä3tƒ P’s!rߊ tû÷üt/ Ïä!$uŠÏYøîF{$# öNä3ZÏB 4 !$tBur ãNä39s?#uä ãAqߙ§9$# çnrä‹ã‚sù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$# ÇÐÈ

Artinya : “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (QS. al-Hasyar : 7).

Ayat-ayat tersebut di atas saling bersatu dan bersandaran, dan dengan itu mendatangkan arti secara pasti, bahwasannya Allah mengharuskan mengikuti Rasul-Nya terhadap apa yang disyari’atkannya.

  1. Ijma’ para sahabat r.a semasa hidup Nabi dan setelah wafatnya mengenai keharusan mengikuti sunnah Nabi.

Pada masa hidup Nabi mereka melaksanakan hukum-hukumnya dan menjalankan segala perintah serta larangannya, hukum halal serta hukum haramnya. Dalam keharusan mengikuti mereka tidak membedakan di antara hukum yang diwahyukan kepadanya dalam al-Qur’an dan hukum yang keluar dari Nabi sendiri. Dan oleh karena itu Mu’adz bin Jabal berkata : “JIka saya tidak mendapati dalam Kitabullah, hukum yang hendak saya jadikan keputusan, maka jatuhkan keputusan dengan sunnah Rasulullah saw.” Mereka (para sahabat) setelah wafatnya Nabi, apabila tidak mendapatkan dalam Kitabullah hukumnya sesuatu yang terjadi pada mereka, maka mereka kembali kepada sunnah Rasulullah saw. Abu Bakar ketika tidak hafal sunnah mengenai suatu kejadian, maka keluarlah beliau dan bertanya kepada umat Islam : “Adakah di antara kamu terdapat orang yang hafal sunnah dari Nabi kita mengenai kejadian ini?” Demikian pula Umar mengerjakan seperti itu dan juga sahabat lainnya yang bertugas untuk memberikan fatwa dan keputusan pun pula para Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in juga menempuh jalan para sahabat sekiranya salah seorang di antara mereka tidak mengetahui seorang yang menyalahinya berbuat melampaui batas mengenai keharusan mengikuti sunnah Rasulullah saw manakala telah shahih penukilannya.

  1. Dalam al-Qur’an

Allah SWT telah mewajibkan kepada manusia beberapa ibadah fardhu secara global tanpa penjelasan (secara rinci) tidak dijelaskan di dalamnya mengenai hukum-hukumnya atau cara memakainya (melaksanakannya). Maka Allah SWT berfirman :

(#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¢•9$#

Artinya : “Dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat”. (QS. an-Nisa’ :77)

$yg•ƒr’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6ø‹n=tæ ãP$u‹Å_Á9$# $yJx. |=ÏGä. ’n?t㠚úïÏ%©!$# `ÏB öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÑÌÈ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. al-Baqarah : 183).

Ϭ!ur ’n?tã Ĩ$¨Z9$# kÏm ÏMøt7ø9$# Ç`tB tí$sÜtGó™$# Ïmø‹s9Î) Wx‹Î6y™

Artinya : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah”. (QS. Ali Imron : 97)

!$uZø9t“Rr&ur y7ø‹s9Î) tò2Ïe%!$# tûÎiüt7çFÏ9 Ĩ$¨Z=Ï9 $tB tAÌh“çR öNÍköŽs9Î) öNßg¯=yès9ur šcr㍩3xÿtGtƒ ÇÍÍÈ

Artinya : “Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[4] dan supaya mereka memikirkan,” (QS. an-Nahl : 44).

Kalau seandainya as-Sunnah yang menjelaskan itu bukan hujjah atas umat Islam dan bukan sebagai undang-undang yang harus diikutinya, maka tidak mungkin melaksanakan fardhu-fardhu al-Qur’an atau mengikuti hukum-hukumnya. As-Sunnah yang menjelaskan itu harus diikuti dari segi dari segi bahwa ia adalah keluar dari Rasul saw diceritakan daripadanya dengan system yang mendatangkan kepastian akan datangnya daripadanya atau mendatangkan dugaan yang kuat akan datangnya daripadanya. Maka setiap sunnah pembentukan hukum syari’at Islam yang shahih keluarnya dari Nabi, dalah hujjah yang harus diikuti baik sunnah itu menjelaskan tentang hukum di dalam al-Qur’an maupun membentuk hukum yang tidak terdapat dalam al-Qur’an. Karena semua as-Sunnah sumbernya adalah Rasulullah saw yang ma’sum yang telah diberi oleh Allah kekuasaan untuk menjelaskan dan untuk membentuk hukum syari’at Islam.


[1] Quru’ dapat diartikan suci atau haidh.

[2] Ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat

[3] Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan.

[4] Yakni: perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran.



Leave a Reply