IMPLEMENTASI STRATEGI INVESTIGASI KELOMPOK (DIKEMBANGKAN OLEH SHLOMO SHARAN) GUNA MENCIPTAKAN PEMAHAMAN YANG MERATA PADA SETIAP PESERTA DIDIK


A. Merasakan Permasalahan

Selama ini kita mengetahui banyak sekali masalah yang terjadi pada  pendidikan di Indonesia. Kalau kita amati lebih lanjut, masalah yang muncul itu sangat complex dan berantai. Hal ini tidak disebabkan oleh satu faktor saja, akan tetapi banyak faktor yang mempengaruhi masalah dalam pendidikan ini muncul. Di antara faktor-faktor tersebut yaitu:

  1. Sumber Daya Manusia yang kurang mengerti tentang mendidik siswa.
  2. Sistem pendidikan yang selalu tarik ulur terhadap kebijakan pendidikan.
  3. Fasilitas yang ada di setiap sekolah yang kurang mendukung.
  4. Tingginya biaya pendidikan, sehingga hanya orang tertentu yang bisa mengenyam pendidikan sekolah.
  5. DLL

Faktor di atas merupakan segelintir aspek yang mempengaruhi pendidikan di Indonesia. Akan tetapi dalam makalah saya kali ini akan mengangkat masalah faktor nomor satu yaitu kurangnya sumber daya manusia yang kurang mengerti dan memahami akan pentingnya metode atau cara dalam memahamkan siswa, karena memahamkan siswa merupakan tujuan utama pendidikan di Indonesia yang mana telah tertera dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu “…mencerdaskan kehidupan bangsa…”. Yang saya maksud sebagai sumber daya manusia di sini ialah guru yang bersangkutan.

Guru mengemban tugas yang mulia dan juga berat, karena disamping harus memberikan pemahaman kepada peserta didik, guru juga dituntut untuk mendidik perilaku peserta didik. Dalam mengajar dan mendidik siswa tidak semudah seperti membalik telapak tangan. Untuk itu guru juga haruslah mempunyai kesabaran ekstra dalam menjalankan tugas mulianya.

Pada realita yang ada dapat kita lihat guru hanya mengajar saja, sedangkan dalam perilaku siswa diserahkan pada keluarga. Hal ini salah karena meskipun keluarga juga mempunyai kewajiban yang sama dalam mengajar dan mendidik anak. Dari segi pemahaman siswa yang ingin saya soroti ini, dapat kita lihat cara atau metode dari kebanyakan guru yang cenderung hanya ceramah dan melihat buku pegangan dalam mengajar. Padahal metode ini dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Hartley and Dawies (1978) menyatakan “Dengan ceramah siswa perhatiannya hanya 10 menit petama dan akan menurun setelah itu”. Dari sini sangat jelas bahwa tidak ada kelebihan yang menonjol dari ceramah, akan tetapi justru membuat siswa menjadi pasif dalam mengkonstruksi pemahamannya. Hal ini karena siswa hanya menunggu gurunya mengajar saja untuk dapat mendalami dan memahami pelajaran.

Guru yang seperti ini juga cenderung hanya membahas apa yang ada pada buku pegangan. Hal ini sebagaimana pengalaman saya waktu duduk dikelas IX SMP saya dulu. Guru-guru saya cenderung hanya membaca buku yang dipegang, padahal semua muridnya juga memegang buku yang sama. Sama halnya kita hanya didongengi oleh guru saya. Dari sini hampir semua siswa hanya menjadi pendengar setia guru dan menjadikan kita malas untuk membaca sendiri.

B. Eksplorasi atau Analisis

Masalah yang seperti telah saya jabarkan di atas merupakan masalah yang perlu di renovasi untuk menuju pada pemahaman peserta didik yang lebih luas.

Guru yang semacam masalah di atas biasanya guru yang belum professional dalam bidangnya bahkan mungkin bukan bidangnya akan tetapi tetap mengajar lintas bidangnya. Karena banyak kasus belakangan ini sekolah yang kekurangan guru bidang studi tertentu dan menyerahkan kepada guru yang bukan ahlinya. Hal ini mengakibatkan adanya kasus seperti yang telah saya paparkan diatas. Kemudian kasus seperti ini sangat mempengaruhi terhambatnya mencapai tujuan pendidikan.

Masalah itu akan timbul karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut:

  1. Guru tidak menguasai materi.
  2. Guru tidak mementingkan pemahaman siswa hanya mementingkan tugasnya menyampaikan materi saja.
  3. Guru terkadang bertempramen buruk kemudian mempengaruhi psikologi siswa.
  4. Kurangnya keprofesionalan dalam pengajaran.

Masih banyak faktor yang mempengaruhi masalah di atas yang belum bisa saya ungkapkan karena kekurangan saya. Intinya siswa akan memiliki pemahaman yang baik apabila dari segi guru memiliki pemahaman dan skill untuk mengarahkan, membimbing, mengajari dan mendidik siswa atau peserta didik untuk belajar, baik secara individu maupun kolaboratif serta mengarahkan siswa untuk mengkonstruksi pemahamannya sendiri.

Menurut Undang-Undang Dasar Sisdiknas nomor 14 tahun 2005 guru haruslah mempunyai 4 kopetensi dasar yaitu kopetensi kopetensi pedagogis, kopetensi professional, kopetensi kepribadian dan kopetensi sosial. Semua kopetensi itu harus dimiliki guru untuk dapat memahamkan siswa. Apabila seorang guru tidak memiliki ke empat kopetensi di atas, maka ada jaminan kegiatan pembelajaran tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan.

C. Penyajian Masalah

Permasalah yang terjadi di atas sangatlah umum yang meski kita jumpai di banyak sekolah. Untuk itu akan saya sajikan dengan sebaik mungkin untuk mempermudah pemahaman terhadap penerapan strategi pada makalah terapakan saya kali ini.

Masalah-masalah akan dapat diselesaikan apabila telah ditelaah dan analisis penyebab terjadinya masalah tersebut. Dan kemudian akan lebih mudah apabila masalah tersebut dibatasi dengan aspek-aspek yang biasa kita sebut dengan rumusan masalah.

Adapun rumusan masalah yaitu sebagai berikut:

  1. Apa definisi dari investigasi kelompok?
  2. Bagaimana penerapan strategi investigasi?
  3. Apa saja kelebihan dan kelemahan strategi ini?

Sebelum menjelaskan tentang bagaimana strategi investigasi kelompok diterapkan terlebih dahulu yang perlu dibahas yaitu pengertian atau definisi dari strategi investigasi kelompok, kemudian setelah itu baru bisa menjelaskan bagaimana penerapan dari strategi itu. Dari pembahasan definisi dan penerapan strategi kemudian akan dicari kelebihan dan kelemahan strategi investigasi kelompok dari perspektif saya sebagai penulis makalah.

D. Pemecahan Masalah

Strategi investigasi kelompok dikembangkan oleh Sholomo Sharan (1990; Sharan & Sharan 1992), pendekatan ini menggunakan kombinasi pembelajaran independen dankerja kelompok dalam tim beranggotakan dua sampai enam dan menggunakan penghargaan kepada kelompok atas prestasi individual. Guru dalam teori ini memilih problem untuk dipelajari di kelas, tetapi murid memutuskan apa yang ingin mereka pelajari dalam mengeksplorasi problem tersebut. Tugas ini dibagi di antara anggota kelompok, yang bekerja secara individual. Kemudian kelompok itu bertemu kembali, lalu mengintegrasikan, meringkas dan menyajikan temuan sebagai proyek kelompok. Peran guru adalah memfasilitasi investigasi dan menjaga usaha kooperatif mereka. Murid bekerja sama dengan guru untuk mengevaluasi usaha mereka. Menurut Sharan, ini adalah cara berbagai problem dunia riil dipecahkan di komunitas di seluruh dunia.[1]

Korelasi teori di atas dengan permasalahan yang telah saya paparkan pada awal makalah yaitu penerapan pada suatu kelas yang di dalamnya terdapat guru yang kurang bisa memahamkan siswa terhadap materi pelajaran. Sebagai contoh kasus sebagaimana yang telah saya alami pada waktu duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama di kecamatan daerah tempat saya tinggal. Saya melihat bahwasannya kebanyakan guru saya mengajar dengan cara membaca buku LKS (Lembar Kerja Siswa) atau buku pegangan. Guru tidak menguasai materi sepenuhnya dalam mengajar, sehingga siswa yang diajar hanya menjadi pendengar dan hanya menyimak guru yang sedang membaca karena murid dan guru memegang buku yang sama. Walhasil para siswa menjadi malas membaca sendiri karena menunggu guru saja yang membaca serta pemahaman yang diterima siswa hampir tidak ada.

Dalam penerapan strategi investigasi kelompok pada situasi yang seperti itu akan membantu siswa dalam belajar secara mandiri dan kelompok. Karena siswa dituntut untuk aktif dan mengeksplorasi pengetahuaanya.

Satu kelas akan di bentuk menjadi perkelompok yang tiap kelompok beranggotakan dua sampai enam siswa. Kemudian guru yang bersangkutan memilihkan permasalahan untuk dicari jalan keluarnya oleh setiap kelompok. Ketua atau penanggung jawab kelompok akan membagi peran dan tugas kepada setiap anggota kelompoknya dan dikerjakan secara individual. Setelah semua anggota kelompok telah menyelesaikan tugasnya kemudian kelompok tersebut bertemu kembali untuk mempertanggungjawabkan hasil kerjanya yang akan di integrasikan, diringkas dan disajikan sebagai hasil temuan kelompok. Guru dalam penerapan strategi ini hanya cukup memantau, memfasilitasi serta membimbing agar siswa tetap kompak dan semangat dalam menjalankan tugas kelompak agar berjalan dengan baik. Dan tugas guru yang terakhir adalah mengevaluasi hasil tugas bersama murid sehingga, murid dapat mengetahui apa kesalahannya dan apa kelebihannya. Walhasil akan menciptakan pemahaman yang merata pada setiap individu siswa.

Adapun menurut hemat saya kelebihan dari strategi ini yaitu guru menjadi agak santai dalam mengajar, semua siswa berperan aktif dalam pembelajaran dan mengkonstruksi pemahaman, para siswa terlatih untuk bekerja sama dan menghargai serta adanya kedekatan hubungan guru dan siswa sehingga siswa tidak takut untuk bertanya dan berdiskusi dengan guru. Sedangkan kelemahannya yaitu harus mempunyai jumlah murid yang banyak.

E. Refleksi

Strategi investigasi kelompok merupakan salah satu strategi dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Di antara strategi yang lain yaitu STAD (Student Teams Achivement Divisions), kelas jigsaw, belajar bersama dan penulisan kooperatif. Pendekatan pembelajaran kooperatif ini termasuk dalam pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif ini terjadi ketika murid bekerja sama dalam kelompok kecil (kelompok belajar) untuk saling membantu dalam belajar.

Siswa akan mencapai pemahaman yang baik apabila mereka aktif dalam belajar dan mengkonstruksi pemahamannya. Siswa akan aktif apabila guru sebagai tonggak utama dalam kegiatan belajar mampu untuk menciptkan suasana yang sedemikian. Untuk itulah perlu adanya penerapan dalam menciptakan suasana yang aktif yaitu penerapan strategi investigasi kelompok. Karena strategi ini dapat secara efektif menciptakan suasana yang telah dipaparkan dalam penerapan di atas.

Hal yang perlu diperhatikan dalam strategi ini yaitu  pilihlah secara acak siswa yang termasuk kategori pandai, sedang dan kurang pandai. Janganlah membuat kelompok hanya siswa yang kurang pandai saja. Hal ini akan akan mempengaruhi psikis dan pemahaman kelompok yang kurang pandai. Untuk itu perlu membentuk kelompok secara acak.

Daftar Pustaka

Santrock, John W. Psikologi Pendidikan. Edisi kedua,


[1] John W. Santrock, “Psikologi Pendidikan”, cet. II, hlm. 399



Leave a Reply