GEORGE KELLY

Profil
Friedrich Nietzsche dilahirkan di kota Röcken, di wilayah Sachsen. Orang tuanya adalah pendeta Lutheran Carl Ludwig Nietzsche (1813-1849) dan istrinya Franziska, nama lajang Oehler (1826-1897). Ia diberi nama untuk menghormati kaisar Prusia Friedrich Wilhelm IV yang memiliki tanggal lahir yang sama. Adik perempuannya Elisabeth dilahirkan pada 1846. Setelah kematian ayahnya pada 1849 dan adik laki-lakinya Ludwig Joseph (1848-1850) keluarga ini pindah ke Naumburg dekat Saale.

Karya-karya Nietszche yang terpenting adalah:
• 1872 – Die Geburt der Tragödie (Kelahiran tragedi)
• 1873-1876 – Unzeitgemässe Betrachtungen (Pandangan non-kontemporer)
• 1878-1880 – Menschliches, Allzumenschliches (Manusiawi, terlalu manusiawi)
• 1881 – Morgenröthe (Merahnya pagi)
• 1882 – Die fröhliche Wissenschaft (Ilmu yang gembira)
• 1883-1885 – Also sprach Zarathustra (Maka berbicaralah Zarathustra)
• 1886 – Jenseits von Gut und Böse (Melampaui kebajikan dan kejahatan)
• 1887 – Zur Genealogie der Moral (Mengenai silsilah moral)
• 1888 – Der Fall Wagner (Hal perihal Wagner)
• 1889 – Götzen-Dämmerung (Menutupi berhala)
• 1889 – Der Antichrist (Sang Antikristus)
• 1889 – Ecce Homo (Lihat sang Manusia)
• 1889 – Dionysos-Dithyramben
• 1889 – Nietzsche contra Wagner

Friedrich Nietzsche adalah salah seorang filosof Jerman pada abad ke-19. Beberapa pokok pemikirannya menimbulkan kontroversi dalam discourse (wacana) filsafat. Terutama sekali tentang pernyataan Nietzsche dalam salah satu karyanya, Thus Spoke Zarathustra, bahwa? Tuhan telah mati? dan konsep ܢermensch. Pokok pikiran yang kedua tersebut, diklaim Hitler (pemimpin fasis Jerman pada periode 1933-1945) bahwa dirinya adalah sosok ܢermensch-nya Nietzsche.

Dari hasil pengkajian penulis, dapat digambarkan sebagai berikut, bahwa pikiran-pikiran Nietzsche memberi pengaruh terhadap perkembangan fasisme Jerman (1933-1945). Proses mempengaruhi ini, ditandai oleh beberapa hal, diantaranya: a) konsep ܢermensch-nya Nietzsche dipraktekkan oleh Hitler, bahwa dirinya adalah sosok manusia unggul tersebut, b) filsafat ?kehendak untuk berkuasa?-nya Nietzsche, diinspirasikan Hitler terhadap pasukan Nazi, c) Hitler mewajibkan pasukan Nazi-nya untuk membaca salah satu karya Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, dan d) pada masa Hitler dibangun monumen untuk mengenang Nietzsche. Dari keempat hal tersebut, Nietzsche mendapat posisi yang sangat dihargai, dan dapat dikatakan sebagai salah satu patron intelektual fasisme Jerman.

Teori
Friedrich Nietzsche adalah salah seorang filosof Jerman pada abad ke-19. Beberapa pokok pemikirannya menimbulkan kontroversi dalam discourse (wacana) filsafat. Terutama sekali tentang pernyataan Nietzsche dalam salah satu karyanya, Thus Spoke Zarathustra, bahwa Tuhan telah mati dan konsep Übermensch. Pokok pikiran yang kedua tersebut, diklaim Hitler (pemimpin fasis Jerman pada periode 1933-1945) bahwa dirinya adalah sosok Übermensch-nya Nietzsche. Skripsi ini berusaha untuk membahas hal yang terakhir, maka diangkatlah judul Pengaruh Pemikiran Friedrich Nietzsche terhadap Perkembangan Fasisme di Jerman (1933-1945). Dalam rumusan masalahnya, skripsi ini dibatasi oleh beberapa pertanyaan. Pertama, bagaimana latar belakang kehidupan Nietzsche ? Kedua, bagaimana pemikiran Nietzsche dalam bidang filsafat ? Ketiga, bagaimana perkembangan fasisme Jerman pada periode 1933-1945 ? Keempat, bagaimana pikiran-pikiran Nietzsche mempengaruhi perkembangan fasisme Jerman (1933-1945) ? Dalam melakukan penelitian skripsi ini, penulis menggunakan metode historis. Metode historis ini terdiri dari beberapa tahap kerja, yaitu: heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber, interpretasi, dan historiografi (penulisan). Sementara, teknik penelitian yang digunakan adalah studi literatur, yaitu dengan mengumpulkan data dan fakta yang bersumber dari berbagai literatur yang berkaitan dan relevan dengan permasalahan.

Dari hasil pengkajian penulis, dapat digambarkan sebagai berikut, bahwa pikiran-pikiran Nietzsche memberi pengaruh terhadap perkembangan fasisme Jerman (1933-1945). Proses mempengaruhi ini, ditandai oleh beberapa hal, diantaranya: a) konsep Übermensch-nya Nietzsche dipraktekkan oleh Hitler, bahwa dirinya adalah sosok manusia unggul tersebut, b) filsafat kehendak untuk berkuasa-nya Nietzsche, diinspirasikan Hitler terhadap pasukan Nazi, c) Hitler mewajibkan pasukan Nazi-nya untuk membaca salah satu karya Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, dan d) pada masa Hitler dibangun monumen untuk mengenang Nietzsche. Dari keempat hal tersebut, Nietzsche mendapat posisi yang sangat dihargai, dan dapat dikatakan sebagai salah satu patron intelektual fasisme Jerman.

Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang ‘kebenaran’ atau dikenal dengan istilah filsafat perspektivisme. Nietzsche juga dikenal sebagai “sang pembunuh Tuhan” (dalam Also sprach Zarathustra). Ia memprovokasi dan mengkritik kebudayaan Barat di zaman-nya (dengan peninjauan ulang semua nilai dan tradisi atau Umwertung aller Werten) yang sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan (keduanya mengacu kepada paradigma kehidupan setelah kematian, sehingga menurutnya anti dan pesimis terhadap kehidupan). Walaupun demikian dengan kematian Tuhan berikut paradigma kehidupan setelah kematian tersebut, filosofi Nietzsche tidak menjadi sebuah filosofi nihilisme. Justru sebaliknya yaitu sebuah filosofi untuk menaklukan nihilisme [1] (Überwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung), dan memposisikan manusia sebagai manusia purna Übermensch dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht).

Selain itu Nietzsche dikenal sebagai filsuf seniman (Künstlerphilosoph) dan banyak mengilhami pelukis moderen Eropa di awal abad ke-20, seperti Franz Marc, Francis Bacon,dan Giorgio de Chirico, juga para penulis seperti Robert Musil, dan Thomas Mann. Menurut Nietzsche kegiatan seni adalah kegiatan metafisik yang memiliki kemampuan untuk me-transformasi-kan tragedi hidup.

Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang ‘kebenaran’ atau dikenal dengan istilah filsafat perspektivisme. Nietzsche juga dikenal sebagai “sang pembunuh Tuhan” (dalam Also sprach Zarathustra). Ia memprovokasi dan mengkritik kebudayaan Barat di zaman-nya (dengan peninjauan ulang semua nilai dan tradisi atau Umwertung aller Werten) yang sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan (keduanya mengacu kepada paradigma kehidupan setelah kematian, sehingga menurutnya anti dan pesimis terhadap kehidupan). Walaupun demikian dengan kematian Tuhan berikut paradigma kehidupan setelah kematian tersebut, filosofi Nietzsche tidak menjadi sebuah filosofi nihilisme. Justru sebaliknya yaitu sebuah filosofi untuk menaklukan nihilisme [1] (Überwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung), dan memposisikan manusia sebagai manusia purna Übermensch dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht).

Selain itu Nietzsche dikenal sebagai filsuf seniman (Künstlerphilosoph) dan banyak mengilhami pelukis moderen Eropa di awal abad ke-20, seperti Franz Marc, Francis Bacon,dan Giorgio de Chirico, juga para penulis seperti Robert Musil, dan Thomas Mann. Menurut Nietzsche kegiatan seni adalah kegiatan metafisik yang memiliki kemampuan untuk me-transformasi-kan tragedi hidup.

Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” (Hakim-Hakim 21:25)

Tidak ada otoritas, tidak ada standard kebenaran untuk membedakan apa yang salah dan benar. Setiap orang melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Inilah kondisi Israel menjelang akhir zaman hakim-hakim. Dan sebenarnya kondisi seperti inilah apa yang kita lihat, saksikan dan hadapi di era postmodern ini.

Postmodernisme merupakan suatu pemberontakan pada janji modernisme yang menjanjikan keadilan dan kemakmuran manusia yang dinilai gagal memenuhi janjinya oleh karena dunia semakin menuju kepada kegelisahan, ketakutan dan kehancuran. Namun apakah benar postmodern merupakan refleksi baru dalam filsafat hari ini. Dr. R.L.Hymers, Jr dalam khotbahnya yang bertemakan Salvation From Post-Modern di Calvary Road Baptist Church pada tanggal 27 Agustus 2004 menegaskan, “Tidak ada sesuatu yang baru dalam filsafat. Semua sistem filsafat pada dasarnya merupakan pengulangan kembali dari apa yang telah ada di masa lalu… Jika kita melihat kembali sejarah lebih jauh, kita akan melihat bahwa pikiran post-modern pada kenyataannya bukanlah “modern”. Manusia abad ini berkata, “Tetaplah hidup di masa lalu dan kamu akan kehilangan satu matamu”, namun Alexander Solzhenitsyn, seorang penulis dan filsuf Kristen memberikan jawab, “Lupakan masa lalu dan kamu akan kehilangan kedua matamu.” Bahkan Confusius juga berkata, “Ceritakanlah masa silam kepadaku, dan aku pun akan menceritakan masa depan.”

Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900) dikenal sebagai nabi dari postmedernisme. Dia adalah suara pionir yang menentang rasionalitas, moralitas tradisional, objectivitas, dan pemikiran-pemikiran Kristen pada umumnya. Nietzsche berkata, “Ada banyak macam mata. Bahkan Sphinx juga memiliki mata; dan oleh sebab itu ada banyak macam kebenaran, dan oleh sebab itu tidak ada kebenaran.” Pandangan Nietzsche ini diperjelas oleh C.S. Lewis ketika ia berkata, “My good is my good, and your good is your good” (kebaikanku adalah kebaikanku, dan kebaikanmu adalah kebaikanmu), atau kalau orang Jakarta bilang, “gue ya gue, lo ya lo”. Jadi di sini tidak ada standar absolut tentang benar atau salah dalam post-modern. Mungkin Anda juga pernah mendengar orang berkata “Mungkin itu benar bagimu, tetapi tidak bagiku” atau “Itu adalah apa yang kamu rasa benar.” Kebenaran, bagi generasi postmodern adalah relatif, tidak absolut. Dan ini bukanlah karakteristik ‘modern’ semata-mata, karena kondisi demikian juga telah mengkarakteristik Israel pada zaman Hakim-hakim, yaitu lebih dari 1000 tahun sebelum Masehi, ketika Israel telah meninggalkan Tuhan, Sang Pencipta, Penyelamat dan Pemeliharanya.

Sehingga dengan lahirnya era postmodern saat ini merupakan sinyal yang harus ditangkap oleh orang Kristen, terlebih para sarjana dan teolog Kristen, bahwa kecenderungan zaman kita saat ini telah mundur atau kembali ke zaman Hakim-Hakim, ketika bangsa Israel menolak Tuhan dan hidup serta berbuat menurut kebenaran masing-masing. Dr. Raymond Saxe, seorang gembala Fellowship Bible Church, Michigan – USA menjelaskan bahwa postmodernisme adalah: 1) keinginan manusia untuk bebas dari otoritas mutlak dan final; 2) keinginan manusia untuk bebas dari tanggung jawab; dan 3) keinginan untuk bebas dari tanggung jawab masa depan (accountability in the future).

Bagaimana agar kita tetap bertahan pada iman kita? Oleh sebab itu, malam ini saya mengajak Anda sekalin untuk “berjuang membela iman tradisional (murni) di era postmodernisme (To Contend for the Traditional Faith in Postmodern Era). Apa yang kita maksudkan dengan iman tradisional yang harus kita perjuangkan di sini? Yang saya maksudkan dengan the traditional faith di sini adalah sbb:

(1) The total, inerrant inspiration of Scripture by the Holy Spirit
(2) The virgin birth of Jesus Christ
(3) The absolute deity of Jesus Christ
(4) The salvation of the soul by the blood atonement of Jesus Christ
(5) The second coming of Jesus Christ

Pada malam ini kita akan membahas beberapa topik yang berhubungan dengan the traditional faith di atas, yaitu:

I. Mempertahankan Iman bahwa Alkitab adalah Kebenaran Mutlak
Alkitab adalah kebenaran mutlak dan otoritas final terkandung dalam doa Yesus untuk murid-muridNya, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran-Mu; Firman-Mu adalah kebenaran.” (Yohanes 17:17).

Bagi pikiran postmodern atau mari kita terjemahkan kembali kata-kata Friedrich Nietzsche “Ada banyak macam mata. Bahkan Sphinx juga memiliki mata; dan oleh sebab itu ada banyak macam kebenaran, dan oleh sebab itu tidak ada kebenaran.” Nietzsche bermaksud mengatakan bahwa setiap orang berhak berkata apa yang dipercayai dan dikatakannya sebagai kebenaran, dan orang lain juga berhak untuk mengatakan apa yang dipercayai dan dikatakannya adalah kebenaran, walaupun apa yang mereka katakan itu saling bertentangan tetapi masing-masing berhak mengklaim dirinya benar. Oleh sebab itu, kesimpulan akhir Nietzsche adalah tidak ada kebenaran. Inilah karakteristik esensial dari postmodernisme. Pikiran postmodern mengumandangkan dengan keras bahwa tidak ada kebenaran mutlak dalam alam semesta ini. Tidak ada kemutlakan, tidak ada kebenaran absolut.

Sir Herbert Spencer adalah seorang profossor yang dalam sebuah konferensi ilmiah di London pernah berdiri dan melontarkan pemikirannya dengan berkata, “Saya percaya bahwa tidak ada sesuatu yang absolut atau mutlak di dunia ini.” Mendengar pernyataan itu hati seorang pemuda Kristen yang juga hadir dalam koferensi itu terusik dan kemudan bertanya, “Tuan, benarkah tadi Anda mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang mutlak di dunia ini?” Spencer menjawab, “Ya, saya telah mengatakan itu.” Lalu pemuda itu bertanya, “Oh, jadi Anda tidak percaya bahwa ada sesuatu yang mutlak di dunia ini?” Spencer menjawab, “Ya, saya percaya itu.” Dengan berani pemuda itu berkata dengan lantang, “Tuan, apakah Anda percaya teori Anda itu mutlak?” Herbert Spencer terdiam dan tidak dapat menjawabnya. Karena jika Spencer benar, bahwa tidak ada sesuatu yang mutlak di dunia ini, maka teorinya ini juga tidak mutlak, jadi kalau teori ini tidak mutlak, maka tidak dapat dipertahankan dan kalau demikian memang ada sesuatu yang mutlak di dunia ini dan kebenaran yang mutlak adalah Alkitab, seperti yang Yesus Kristus Tuhan kita katakana “Firman-Mu adalah kebenaran.”

Ketika Gereja Katholik Roma abad pertengahan berada dalam masa kegelapan (the dark ages) dan iman bahwa Alkitab sebagai otoritas final ditinggalkan dan digantikan dengan berbagai tradisi dan keputusan-keputusan Paus, banyak pejuang-pejuang iman yang ingin tetap mempertahankan Alkitab sebagai otoritas kebenaran mutlak dan final harus berhadapan dengan pemerintah dan bahkan rela mati untuk kebenaran itu. “The Three Morning Star Reformation”, yaitu John Huss, John Wycliffe dan Savonarola adalah para pejuang di awal fajar reformasi Protestan.

Oleh karena imannya yang kuat terhadap Alkitab sebagai otoritas tertinggi, mutlak dan final bagi doktrin dan praktek kehidupan orang Kristen, Wycliffe ingin Alkitab bukan hanya dibaca dalam bahasa Latin (Vulgate), namun ia rindu setiap orang yang berbahasa Inggris dapat membaca dalam bahasa mereka sendiri dan hal ini mendorongnya untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris (Wycliffe’s Translation) walaupun ia harus berhadapan dengan hukuman GRK. Begitu juga William Tyndale (1494-1536) yang mengikuti jejak perjuangan Wycliffe, walaupun akhirnya ia harus menghadapi hukuman dengan diikat di sebuah tiang dan kemudian dibakar hidup-hidup. John Huss oleh karena pendirian imannya pada Alkitab berani menerima hukuman mati dengan dibakar hidup-hidup seperti Tyndale dan begitu juga Savonarola. Sola Scriptura merupakan semangat reformasi Protestan untuk kembali menjadikan Alkitab sebagai otoritas mutlak dan final bagi iman dan praktek iman Kristen.

Telah banyak pejuang iman Kristen gugur karena membela Alkitab. Mereka konsisten dalam perjuangannya oleh karena mereka tahu dan yakin bahwa apa yang mereka percaya adalah kebenaran mutlak. Socrates pun dalam sidang pengadilan terhadap dirinya sendiri, dengan santai bersedia meminum racun oleh karena membela bahwa apa yang ia percaya adalah kebenaran, walaupun puncak filsafat Socrates adalah “hanya satu yang ku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa.” Saya tidak bermaksud mengatakan apa yang dibela Socrates adalah kebenaran, namun saya mau tegaskan jika Socrates berani membela “apa yang dianggapnya kebenaran”, mengapa kita tidak berani membela bukan sekedar apa yang “kita anggap sebagai kebenaran”, tetapi itu adalah kebenaran mutlak, yaitu Alkitab.

Kondisi kosmopolitan, pluralitas masyarakat maupun kepercayaan menjadi lingkungan yang subur bagi tumbuhnya postmodernisme. Orang tidak lagi berani berkata bahwa apa yang dipercaya dan dilakukannya sebagai kebenaran mutlak dan yang lain bukan kebenaran. Oleh sebab itu, banyak gereja mulai bersikap lunak dan menyerahkan dirinya dalam pelacuran pikiran postmodern. Mereka tidak lagi berani mengatakan bahwa Alkitab sebagai kebenaran mutlak seperti yang ditegaskan oleh Yesus sendiri. Dengan berbagai alasan “sok rohani” mereka berusaha untuk hidup tenang di tengah zaman postmodern. Bahkan mereka sering berkata, “Kita harus menyesuaikan diri dengan zaman ini.” Bukankah saya tegaskan di atas bahwa sejak zaman dulu kekristenan hidup di tengah pluralitas dan bukan hanya di zaman postmodern ini. Bahkan apa yang disebut dengan postmodern merupakan bentuk baru dari kondisi zaman Hakim-Hakim.

Toleransi tidak berarti “saya setuju bahwa apa yang Anda percaya benar, begitu juga dengan apa yang saya percaya.” Toleransi adalah “saya percaya apa yang saya percaya adalah kebenaran dan saya menghormati pendirian Anda.”

II. Mempertahankan Iman bahwa Kristus adalah Satu-Satunya Jalan dan Kebenaran

Ketika Yesus Kristus bersaksi dalam persidangan DiriNya, Ia berkata “Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” Mendengar kesaksian Yesus Kristus ini Pilatus langsung bertanya, “Apakah kebenaran itu?” (Yohanes 18:37-38). Pilatus berdiri di depan Kebenaran, namun ia tidak mengenal kebenaran. Bahkan ia seakan telah memiliki kebenaran sehingga menjadi hakim bagi kebenaran. Kebenaran adalah Yesus sendiri. Suatu kali Yesus menjawab pertanyaan Tomas dan berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang dating kepada Bapa (Sorga), kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)

Di era post-modern yang diwarnai dengan pluralitas masyarakat dan agama atau kepercayaan ini kita sering mendengar pernyataan bahwa tidaklah berhikmat jika seseorang mengatakan bahwa apa yang dipercayanya adalah kebenaran mutlak dan kepercayaan lain bukanlah kebenaran. Oleh sebab itu, bahkan para teolog Kristen pun akhirnya mulai membuka diri untuk berbagai dialog agama yang intinya untuk menemukan persamaan dengan mengabaikan perbedaan untuk menyatukan persepsi. Teolog-teolog seperti George Lindbeck, Ronald Thieman, Harvey Cook, Thomas Altizer dan Mark C. Taylor adalah para teolog postmodern yang mengumandangkan pemikiran-pemikiran pluralisme. Di Asia kita mengenal teolog Pluralis Asia seperti Raimundo Panikkar, Stanley Samartha, dan Choan Seng Song yang juga menyebarkan pikiran-pikiran postmodernisme.

Mereka berpikir bahwa di zaman post-medern atau dalam masyarakat pluralis ini kita tidak lagi boleh untuk mengklaim bahwa Kristen adalah satu-satunya Jalan Keselamatan. Memang benar Kristen bukan jalan keselamatan, tetapi Kristuslah jalan keselamatan dan Kristus yang adalah satu-satunya jalan keselamatan ini hanya dapat ditemukan dan dikenal dalam Alkitab orang Kristen.

Sekali lagi saya tegaskan bahwa toleransi tidak berarti “saya setuju bahwa apa yang Anda percaya benar, begitu juga dengan apa yang saya percaya.” Toleransi adalah “saya percaya apa yang saya percaya adalah kebenaran dan saya menghormati pendirian Anda.” Jika Kristus yang saya percaya mengatakan bahwa Dia adalah Jalan dan Kebenaran, maka atas nama toleransi harus menghormati pendirian saya, karena pendirian saya lahir dari apa yang dikatakan oleh Tuhan saya.

Sebenarnya sejak kapankah kekristenan berada dalam masyarakat yang bersifat plural? Bukankah sejak lahirnya kekristenan sudah berada di tengah-tengah masyarakat plural? Ketika Yesus datang ke dunia, Ia dilahirkan di tengah masyarakat plural dengan berbagai macam kepercayaan, namun Ia selalu mengkhotbahkan ‘keunikan’ atau ‘superiority’ dari ajaranNya. Ketika Paulus menjadi pemberita Injil bagi bangsa Yunani, ia juga menghadapi pluralisme masyarakat dan agama, dan ia tetap memberitakan ‘keunikan” Injil bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan dan kebenaran (mutlak). Polycarpus ketika terikat di atas kayu perapian di suruh menyangkal Yesus, namun ia berkata, “Selama 86 tahun aku mengikut Yesus, dan Ia tidak pernah mengecewakan aku. Mana mungkin sekarang aku harus menyangkal dia.” Akhirnya Polycarpus menerima hukuman dengan dibakar hidup-hidup. John Bunyan, penulis novel Kristen terkenal, Pilgrim Progress atau ‘Perjalanan Seorang Musafir’ hidup di tengah pluralistas dan ia tetap mengkhotbahkan bahwa setiap orang harus bertobat kepada Injil dan menerima Kristus sebagi Tuhan dan Juruselamat, walaupun akhirnya ia menghabiskan sepanjang hidupnya di penjara. Martin Luther mengumandangkan pemberontakannya terhadap Gereja Roma Katolik dengan memakukan 95 dalilnya di pintu gereja Wettenberg pada 31 Oktober 1517, setelah ia menemukan kebenaran dalam Injil (Roma 1:16-17), bahwa keselamatan hanya oleh anugerah (sola gratia) dan hanya oleh iman (sola fide) di dalam Kristus.

Postmodern bukanlah lebih ‘modern’ dalam realitanya, namun pengulangan kembali kondisi zaman-zaman sebelumnya. “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.”(Hakim-Hakim 21:25) Sebagai sarjana dan teolog Kristen kita harus sadar bahwa kekristenan hari ini sudah masuk kembali ke zaman ketidakpastian iman seperti pada zaman Hakim-hakim. Masing-masing melakukan apa yang menurut mereka ‘benar’. Dalam research yang dilakukan oleh Dr. Jim Barna, ia memberikan klaim-klaim para pemimpin Kristen di antaranya, Billy Graham memprediksi bahwa dari jumlah orang Kristen yang mengklaim dirinya sudah diselamatkan hanya 15 % yang benar-benar sudah bertobat dan A.W. Tozer memperkirakan hanya 10 % saja. Fakta ini menunjukkan bahwa iman Kristen mulai memudar. Dan kelihatannya kondisi kekristenan di era postmodern inilah yang mendorong Dr. Douglas Groothuis seorang rekanan professor filsafat di Denver Univesity mengumandangkan pemikirannya dalam karyanya Pudarnya Kebenaran [terjemahan Momentum]. Dr. Groothius berkata, “Di dalam konteks kita yang pluralistis dan postmodern, kita perlu merumuskan klaim-klaim kebenaran Kristen dalam perbandingan dengan pandangan-pandangan yang berlawanan – bukan untuk berselisih meainkan untuk menjelaskan apa yang tengah dikemukakan dan apa yang tidak. Logika antitesisnya sepertpi berikut:

Pertama, Jika kita percaya bahwa Yesus adalah Allah yang berinkarnasi, maka Ia bukan sekedar (1) nabi dari Allah (Islam), (2) reformator yang salah arah (Yudaisme), (3) satu avatar dari Brahman (Hinduise), (4) satu manifestasi dari Allah (Iman Baha’I), (5) guru yang sadar akan Allah (Zaman Baru), (6) nabi social yang terinspirasi tetapi bukan ilahi (teologi liberal/pembebasan), dan seterusnya.

Kedua, Jika kita percaya bahwa Allah adalah Keberadaan yang berpribadi yang bereksistensi secara kekal sebagai tiga pribadi (Bapa, Anak, dan Roh Kudus), maka realitas ilahi bukan (1) esa dalam pengertian Unitarian (Islam, Yudaisme, atau Unitarianisme), (2) kesadaran yang impersonal-imoral (beberapa aliran pemikiran Hinduisme, Budhisme, dan Zaman Baru), (3) non-eksisten (Budhisme Theraveda, Jainisme, dan bentuk-bentuk sekuler ateisme), (4) banyak allah (Mormonisme, Shinto, dan bentuk-bentuk Politheisme dan animisme lainnya) dan seterusnya.

Beranikah Anda tetap tinggal dalam perjuangan dalam membela klaim Yesus yang adalah Kebenaran mutlak atau Kebenaran sejati seperti para pendahulu kita?Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup”. Dia mengklaim diriNya sendiri adalah kebenaran, jalan satu-satunya kepada Bapa (Sorga) dan sumber kehidupan kekal. Ini adalah traditional faith yang harus diperjuangkan

Demokrasi tak selalu berarti jawaban atas persoalan; demokrasi bisa juga bermakna masalah disebabkan oleh ironi di dalam dirinya. Itulah yang terjadi ketika Adolf Hitler dan Benito Mussolini naik ke panggung kekuasaan: menang mutlak melalui pemilu dan kemudian menegakkan sistem pemerintahan fasis.

Sejarah yang berulang, itulah yang dicemaskan oleh warga masyarakat Eropa (Barat) saat ini. Jika Jean-Marie Le Pen menang dalam pemilu hari ini di Prancis, ia niscaya akan mengembangkan sayapnya ke seluruh Eropa (Barat), memperkuat semangat kaum ekstrem-kanan dan menegakkan pemerintahan fasis. Maka, apakah Hitler dan Mussolini akan lahir kembali di Prancis?

Kecemasan itu tak terlupakan oleh karena Hitler (terutama) meninggalkan jejak sejarah yang traumatis. Begitu pula pada Mussolini, yang terkenal dengan kata-katanya yang amat memaksa: “Apa pun untuk negara, tak ada yang di luar negara, tak ada yang di atas negara.” Begitu menakutkan, lantaran kata-kata itu mencerminkan kehendak untuk menguasai setiap sendi kehidupan (kata fasis berasal dari bahasa Latin, fasces, tumpukan batang besi yang menopang kepala kapak–simbol otoritas negara Roma yang tak tertantang).

Lagi pula, dalam berbagai derajat, ciri-ciri fasisme telah muncul dalam sejarah: gerakan Rexis di Belgia, kaum Falangis di Spanyol, Pengawal Besi di Rumania, kaum fasis Prancis di sekeliling Jacques Doriot, lalu Mussolini, Hitler, dan Jenderal Franco. Toh, fasisme sebagai paham tetap saja membingungkan–apa sesungguhnya inti keyakinan ini?

Tidak seperti gerakan Marxis yang menebarkan pengaruhnya terutama di Eropa Timur, fasisme memenangkan kekuasaan justru di jantung Eropa. Mereka berhasil memaksa setiap warga negara dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh kaum Marxis. Apakah daya tariknya begitu hebat, apa pula daya tarik itu?

Sejarawan George L. Mosse, yang meninggal Januari 1999, menulis tentang fasisme secara ekstensif di sepanjang karirnya, antara lain The Fascist Revolution: Toward a General Theory of Fascism dan yang terpenting ialah dalam buku The Crisis of German Ideology: Intellectual Origins of the Third Reich and Toward the Final Solution. Buku ini memuat koleksi sepuluh esai Mosse mengenai subyek ini, yang diterbitkan sejak 1961. Mosse mencoba masuk ke dalam pikiran kaum fasis, untuk mengetahui bagaimana kaum fasis memandang diri mereka sendiri–sejenis fenomenologi politik.

Apa keyakinan utama fasisme? Kendati Mosse tidak sampai pada “teori umum” mengenai fasisme, ia benar ketika menekankan peran krusial nasionalisme–”batu dasar” yang di atasnya seluruh gerakan fasis membangun dirinya. Fasisme menjanjikan “jalan ketiga” di antara Marxisme dan Kapitalisme, tapi bukan dalam pengertian yang ditawarkan Anthony Giddens. Menjadi Jerman, Italia, atau Prancis, menurut kaum fasis, berarti lebih dari sekadar menguasai suatu wilayah geografi; ia bermakna bahwa sesuatu yang di luar tidak boleh masuk ke dalam.

Mosse secara hati-hati membedakan Sosialisme Nasional Jerman–ideologi rasis yang mematikan, yang bertumpu pada Darwinisme sosial, anti-Semitisme, dan berbagai teori rasialis abad ke-19 yang mendasarkan diri pada nasionalisme–dari bentuk-bentuk lain fasisme yang menjauhkan diri dari rasisme. Di Itali, sebagai contoh, fasisme mula-mula bersifat nonrasis selama lebih dari sepuluh tahun hingga kemudian Mussolini memulai sentimen anti-Semit pada 1938.

Aliansi antara rasisme dan nasionalisme merupakan alasan mengapa Sosialisme Nasional Jerman terbukti lebih destruktif ketimbang fasisme Italia. Moses menggarisbawahi bahwa nasionalisme yang mengarah pada xenophobia agresif dapat tergelincir ke dalam neraka. Ciri utama kedua seluruh gerakan fasis ialah pemujaan terhadap perang dan kekerasan. Kaum fasis menekankan kebesaran kematian seseorang dalam pertempuran, betapa bermartabatnya heroisme gila dan kemauan untuk berjuang melawan apapun.

Karena itu, kaum feminis dari masa sekarang menafsirkan fasisme sebagai bentuk negara kapitalis patriarkis paling ekstrem, yang menekankan pada kepahlawanan maskulin, seperti dicontohkan dalam perang (Maggie Humm, Ensiklopedia Feminisme). Ideologi fasis juga membatasi perempuan terutama melalui keinginan yang kuat terhadap keluarga dan betapa fasisme menekankan perbedaan jenis kelamin sampai pada tingkatan absurd. Mussolini, umpamanya, berusaha keras menggenjot populasi Italia setelah negeri itu kalah dalam Perang Dunia I.

Nasionalisme, cinta kekerasan, dan perang adalah tema-tema paling akrab dalam literatur fasisme. Dari mana akar semua itu? Mosse mencoba menjawab pertanyaan ini dengan menelusuri tulisan-tulisan Julias Langbehn, Alfred Schuler, dan Paul de Lagarde, yang dilukiskan oleh Mosse sebagai potret yang menggelisahkan. Mereka, yang hidup di abad ke-19, menawarkan gagasan yang irasional. Mosse menggambarkan betapa Schuler mencoba mengobati “kegilaan” Friedrich Nietzsche dengan ritus Romawi, pertemuan dengan roh, serta semangat anti-Kristen dan anti-Pencerahan.

Gerhard Rempel, guru besar di Western New England College, Inggris, menyebut tahun 1890-an sebagai periode inkubasi bagi fasisme abad ke-20 dengan guru-gurunya adalah Georges Sorel, Vilfredo Pareto, dan Friedrich Nietzsche. Sorel mengajarkan ilusi tentang kemajuan, perlunya kekerasan, dan manfaat mitos; Pareto menyebarkan ide mengenai hukum besi oligarki serta pengabadian kaum elite. Nietzsche amat dikenal oleh angannya tentang uberman.

Mosse memberi sumbangan penting dalam diskusi tentang fasisme dan revolusi. Lain dengan analis Marxis yang menafsirkan fasisme sebagai kaum reaksioner–sejenis kapitalisme borjuis yang sedang sekarat, Mosse justru menegaskan semangat revoulisoner fasisme. Mussolini, misalnya, menyerukan “revolusi spirit”, Hitler mengumandangkan “Revolusi Jerman”. Dalam kata-kata Mosses, “Fasisme mendorong aktivisme, perjuangan menentang tatanan yang ada”. Seperti gerakan revolusioner lainnya, fasisme maju berkuasa untuk menata ulang ketertiban dan hukum. Tapi, menurut pengertiannya sendiri. dian basuki/berbagai sumber

Note : mata kuliah Filsafat manusia, oleh Bpk. Zainal Habib M.Hum

Category: Tak Berkategori
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>