Makalah

  1. A. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Alhamdulillah, puji syukur atas kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan taufik hidayahNya sehingga mampu melaksanakan dan menyelesaikan tugas ini. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang penuh dengan ilmu seperti sekarang ini. Makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah “Bimbingan Konseling” yang dalam hal ini membahas masalah ‘Pola Penyesuaian Normal’. Yang dibimbing oleh dosen Dr.Mulyono,M.A

Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan para mahasiswa dapat memahami secara mendalam tentang hal-hal yang berkaitan dengan materi  Bimbingan Konseling khususnya” Pola-Pola Penyesuaian”, antara lain agar mahasiswa memiliki kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa kita disamping memiliki ilmu pengetahuan yang memadai,Pola-pola Penyesuaian Normal disini penting sekali untuk dibahas yakni agar bisa memberikan wawasan tentang Pola-pola penyesuaian Normal bimbingan Konseling. Sehingga diharapkan  mahasiswa dapat memahami masalah-masalah Bimbingan Konseling secara interdisipliner serta mampu memahami anak didik.

Isi global ( pembahasan secara umum ) adalah Penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan. Klasifikasi penyesuaian antara lain: Klasifikasi Berdasarkan Gejala dan Sebab, Klasifikasi Berdasarkan Jenis Respon,Klasifikasi berdasarkan masalah. Cara penyesuaian normal antara lain: Penyesuaian dengan serangan frontal atau langsung, Penyesuaian dengan Eksplorasi, Penyesuaian dengan Trial and Error, Penyesuaian oleh substitusi ,  Penyesuaian dengan Eksploitasi Kemampuan Pribadi/Personal, Penyesuaian dengan belajar,  Penyesuaian dengan hambatan dan pengendalian diri, Penyesuaian dengan Perencanaan yang inteligen.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian Penyesuain diri?
  2. Bagaimana Proses penyesuaian Normal?
  3. Bagaimana Klasifikasi Penyesuaian?
    1. Bagaimana Cara untuk Penyesuaian Normal?

1.3.Tujuan

  1. Ingin memahami pengertian penyesuaian diri
  2. Ingin memahami proses penyesuaian normal.
  3. Ingin memehami klasifikasi penyesuaian normal.
  4. Ingin memahami cara penyesuaian normal.

  1. A. Pembahasan

2.1. Pengertian Penyesuaian Diri

Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjusment atau personal adjusment, menurut schneider (1984) dapat deitinjau dari tiga sudut pandanag yaitu:

  1. Penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation)
  2. Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (Conformity) dan
  3. Penyesuaian diri sebagai penguasaan (mastery)

Adapun penjelasannya yaitu sebagai berikut:

  1. Penyesuaian sebagai adaptasi (adaptation)

Dilihat dari perkembangannya pada mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation). Padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis misalnya seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin, harus beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin tersebut.

  1. Penyesuain diri sebagai konformitas (Conformity)

Ada  juga penyesuaian diri diaratikan sama dengan  penyesuain yang mencangkup konformitas terhadap suatu norma. Pemakain penyesuaian diri seperti ini pun terlalau banyak membawa akibat lain. Denagn memaknai penyesuain diri sebagai konformitas, menyiratkan bahwa disana individu seakan-akan mendapat tekanan kuat terhadap untuk harus selalu mampu menghindari diri dari penyimpanagn perilak, baik secara moral, sosial maupun emosional.

  1. Penyesuaian diri sebagai penguasaan (mastery)

Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimakanai sebagai usaha penguasaan (mastery) yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respon dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan-kesulitan dan frustasi tidak terjadi.[1]

2.2. Proses Penyesuaian Normal

Kalau digunakan pandangan bahwa semua proses penyesuaian, tanpa memperhatikan karakteristik individual, menggambarkan upaya organisme untuk memperoleh pemuas kebutuhan dasar dan mereduksi konflik, frutasi dan ketegangan-ketegangan yang berkaitan dengan atau berasal dari motivasi-motivasi ini, dapat kan bahwa semuanya sama. Perbedaan antara sesuai dan salah suai terletak pada perbedaan tingkatan yang dapat ditentukan denga menggunakan beberapa kriterium. Dengan kata lain, makin banyak respon yang memenuhi kriterium semakain tinggi tingkat penyesuaian. Respon-respon yang tidak terintegrasi sama sekali akan menggambarkan salah suai yang ekstrim. [2]

Banyak cara yang ditempuh individu untuk memenuhi kebutuhannya, baik cara-cara yang wajar maupun yang tidak wajar, cara yang disadari maupun yang tidak disadari. Untuk memenuhi kebutuhan, individu harus dapat menyesuaikan antar kebutuhan dengan segala kemungkinan yang ada dalam lingkungan, disebut sebagai proses penyesuaian diri. Individu harus menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan sekolah, rumah maupun masyarakat.

Proses penyesuaian diri ini menimbulkan berbagai masalah terutama bagi individu sendiri. Jika individu dapat berhasil memenuhi ke butuhannya sesuai dengan lingkungannya, hal itu disebut “well adjusted” atau penyesuaian dengan baik. Dan sebaliknya jika individu gagal dalam proses penyesuaian diri tersebut disebut “maladjusted” atau salah suai.

Schneiders (1964: 51) berpendapat bahwa penyesuaian adalah proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan, dan mengatasi ketegangan, frustasi dan konflik secara sukses, serta menghasilkan hubungan yang harmonis antara kebutuhan dirinya dengan norma atau tuntutan lingkungan dimana dia hidup.

Selanjutnya dia menjelaskan ciri-ciri orang yang well adjusted, yaitu “yang mampu merespon (kebutuhan, dan masalah) secara matang, efisien, puas, dan sehat (wholesome). “yang dimaksud efisien adalah hasil yang diperolehnya tidak banyak membuang energi, waktu, dan kekeliruan. Sementara wholesome adalah respon individu itu sesuai dengan hakikat kemanusiaannya, hubungan dengan yang lain, dan hubungannya dengan Tuhan.[3]

Orang tersebut memiliki kemampuan yang mereaksi kebutuhan dirinya atau tuntutan lingkungannya secara matang, sehat, dan efisien, sehingga dapat memecahkan konflik-konflik mental, frustasi, dan kesulitan-kesulitan pribadi dan sosialnya tanpa mengembangkan tingkah laku simtomatik (seperti rasa cemas, takut, khawatir, obsesi, pobia, atau psikosomatik). Dia respon yang “unwholesome” (tidak sehat), sedangkan sikap persahabatan, toleransi, dan member adalah orang yang berupaya menciptakan hubungan interpersonal dan suasana yang saling menyenangkan yang berkontribusi kepada perkembangan kepribadian yang sehat. Orang yang memiliki sikap iri hati, hasud, cemburu, atau permusuhan merupakan pertolongan merupakan respon yang “wholesome”.

Berdasarkan pengertian diatas, maka seorang itu dapat dikatakan memiliki penyesuaian diri yang normal, yang baik (well adjusment) apabila dia mampu memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalahnya secara wajar, tidak merugikan diri sendiri dan lingkungannya, serta sesuai dengan norma agama.[4]

Penyesuaian diri merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan manusia hampir selalu berkaitan dengan penyesuaian diri, namun tidak semua tingkah laku manusia dapat dikatakan sebagai proses penyesuaian diri. Schneiders (1964) mengatakan bahwa konsep penyesuaian diri tidak dikenakan pada aktivitas manusia yang bersifat netral, misalnya seseorang yang berjalan-jalan, mendengarkan musik, atau menulis surat. Menurut Schneiders (1964) penyesuaian diri timbul apabila terdapat kebutuhan, dorongan, dan keinginan yang harus dipenuhi oleh seseorang, termasuk juga saat seseorang menghadapi suatu masalah atau konflik yang harus diselesaikan. Individu pada kondisi ini, akan mengalami proses belajar, belajar memahami, mengerti, dan berusaha untuk melakukan apa yang diinginkan oleh dirinya, maupun lingkungannya. Artinya, individu perlu mempertimbangkan adanya norma-norma yang berlaku di lingkungan dalam memenuhi kebutuhannya (Affiatin, 1993). Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menyelaraskan pemuasan kebutuhan diri dengan situasi lingkungan sehingga tercapai suatu integrasi dan keseimbangan.

Penyesuaian diri dapat dikatakan sebagai usaha beradaptasi, konform terhadap hati nurani maupun norma sosial, serta perencanaan dan pengorganisasian respon dalam menghadapi konflik dan masalah. Penyesuaian diri didukung oleh adanya kematangan emosi yang menyebabkan individu mampu untuk memberikan respon secara tepat dalam segala situasi.

Masalah penyesuaian timbul apabila ada suatu tuntutan dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh seseorang, atau apabila seseorang dihadapkan pada kesulitan yang harus diselesaikan, atau seseorang menghadapi konflik batin yang harus dipecahkan, dan kalau seseorang berada dalam keadaan frustasi dan mencoba mengatasinya (Schneider, 1964). Tuntutan semacam ini sering dijumpai pada setiap orang, baik dalam kehidupan bermasyarakat, di perkejaan, ataupun di dalam menghadapi tanggung jawab disegala bidang. Seseorang dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan, apabila dihadapkan pada persyaratan yang harus dipenuhi akan melibatkan kepribadian dan perilaku untuk terciptanya usaha penyesuaian. Proses penyesuaian berbentuk respon, sedangkan respon tersebut mewujudkan ekspresi langsung dari kepribadian.

Schneider (1964) berpendapat bahwa penyesuaian mengandung banyak arti, antara lain misalnya seseorang berusaha mengurangi tekanan dari dorongan kebutuhan atau seseorang yang mencoba mengurangi frustasi, dapat mengembangkan mekanisme psikologis, membentuk simptom, menggunakan pola perilaku yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai situasi, dapat juga bersikap tenang, efisien dalam memecahkan konflik dan belajar sebaik-baiknya menempatkan diri di tengah-tengah orang lain. Semua usaha tersebut tergolong usaha penyesuaian diri.

Menurut Tallent (Setiowati, 2000) di dalam setiap tahap kehidupan, individu akan berusaha untuk mencapai keselarasan antara tuntutan personal, biologis, sosial dan psikologis, serta tuntutan lingkungan sekitarnya. Ada sebagian individu yang berhasil dalam melakukan penyesuaian diri tetapi ada juga yang terhambat. Penyesuian diri yang baik akan memberikan kepuasan yang lebih besar bagi kehidupan seseorang. Hanya individu yang mempunyai kepribadian yang kuat yang mampu menyesuaikan diri secara baik.

Menurut Satmoko (2004) penyesuaian diri dipahami sebagai interaksi seseorang yang kontinu dengan dirinya sendiri, orang lain, dan dunianya. Seseorang dikatakan mempunyai penyesuaian diri yang berhasil apabila ia dapat mencapai kepuasan dalam usahanya memenuhi kebutuhan, mengatasi ketegangan, bebas dari berbagai simptom (gejala) yang mengganggu seperti, kecemasan, kemurungan, depresi, obsesi, atau gangguan psikosomatis yang dapat menghambat tugas seseorang. Sebaliknya, gangguan penyesuaian diri terjadi apabila seseorang tidak mampu mengatasi masalah yang dihadapi dan menimbulkan respons dan reaksi yang tidak efektif, situasi emosional yang tidak terkendali, dan keadaan yang tidak memuaskan.

Schneider (1964) mengatakan bahwa penyesuaian diri mempunyai empat unsur. Pertama, adaptation yaitu penyesuaian diri dipandang sebagai kemampuan individu dalam beradaptasi. Orang yang penyesuaian dirinya baik berarti ia mempunyai hubungan yang memuaskan dengan lingkungan. Misalnya, menghindari ketidaknyamanan akibat cuaca yang tidak diharapkan, maka orang membuat sesuatu untuk dapat berlindung. Kedua, conformity yaitu seseorang dikatakan mempunyai penyesuaian diri baik apabila memenuhi kriteria sosial dan hati nuraninya. Ketiga, mastery yaitu orang yang mempunyai penyesuaian diri yang baik mempunyai kemampuan dalam merencanakan da mengorganisasikan sesuatu respons yang muncul dari dalam dirinya sehingga dapat menyusun dan menanggapi segala masalah dengan efisien. Keempat, individual variation yaitu ada perbedaan individual pada perilaku dan respons yang muncul dari masing-masing individu dalam menanggapi masalah.

Menurut Gunarsa dan Gunarsa (Karanina & Suyasa, 2005) ada orang yang cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan, namun ada juga yang perlu waktu lama untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan dalam dirinya dengan usaha penyesuaian diri seseorang mengadakan perubahan-perubahan tingkah laku dan sikap supaya mencapai kepuasan dan sukses dalam aktivitasnya, sedangkan menurut Fernald penyesuaian diri adalah “a continous process and in a general sense, it exust on a continuum”. Artinya bahwa penyesuaian diri adalah proses yang terus menerus dan bukan tahapan statis atau berhenti. Lebih khusus proses konstan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individu sebagaimana selalu timbul sepanjang kehidupan individu tersebut.[5]

Dasar penting bagi terbentuknya suatu pola penyesuaian diri adalah kepribadian. Perkembangan kepribadian pada dasarnya dipengaruhi oleh interaksi fakta internal dan eksternal individu. Menurut Hurlock (1990), penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk memperlihatkan sikap serta tingkah laku yang menyenangkan, sehingga ia diterima oleh kelompok atau lingkungannya. Kondisi yang diperlukan untuk mencapai penyesuaian diri yang baik yaitu bimbingan untuk membantu anak belajar menjadi realistis tentang diri dan kemampuannya, dan bimbingan untuk belajar bersikap bagaimana cara yang akan membantu penerimaan sosial dan kasih sayang dari orang lain. Dalam interaksi individu akan menyeleksi segala sesuatu dari lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan, apabila interaksi harmonis maka dapat diharapkan terjadi perkembangan kepribadian yang sehat, sebaliknya jika tidak maka akan muncul masalah perilaku.[6]

Penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan. Seperti kita ketahui bahwa penyesuaian yang sempurna tidak pernah tercapai. Penyesuaian yang terjadi jika manusia/individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirnya dengan lingkungannya dimana tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan dimana semua fungsi organisme/individu berjalan normal. Sekali lagi, bahwa penyesuaian yang sempurna itu tidak pernah dapat dicapai. Karena itu penyesuaian diri lebih bersifat sutau proses sepanjang hayat (lifelong process), dan tantangan hidup guna mencapai pribadi yang sehat.

Respons penyesuaian, baik atau buruk, secara sederhana dapat dipandang sebagai sutau upaya individu untuk mereduksi atau menjauhi ketegangan dan untuk memelihara kondisi-kondisi keseimbangan sutau proses kearah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal dan tuntutan eksternal. Dalam proses penyesuaian diri dapat saja muncul konflik, tekanan, dan frustasi dan individu didorong meneliti berbagai kemungkinan perilaku untuk membebaskan diri dari tegangan. Individu dikatakan berhasil dalam melakukan penyesuaian diri apabila ia dapat memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara yang wajar atau apabila dapat diterima oleh lingkungan tanpa merugikan atau mengganggu lingkungannya.[7]

Jika kita gunakan pandangan bahwa semua proses penyesuaian tanpa memperhatikan karakteristik individual, menggambarkan upaya organisme untuk memperoleh pemuasan kebutuhan dasar dan mereduksi konflik, frustasi dan ketegangan-ketegangan yang berkaitan dengan atau berasal dari motivasi-motivasi ini, dapat dikatakan bahwa semuanya sama. Perbedaan antara yang benar dan salah suai terletak pada perbedaan tingkatan yang dapat ditentukan dengan menggunakan beberapa kriterium. Dengan kata lain, makin banyak respon yang memenuhi kriterium semakin tinggi tingkat penyesuaian. Respon-respon yang tidak terintegrasi sama sekali, akan menggambarkan salah suai yang ekstrim. Dengan menggunakan contoh sebelumnya, dapat dikatakan bahwa penerimaan perubahan posisi sang ayah dengan cara yang realitas dan matang merupakan salah satu contoh penyesuaian yang baik. Perkembangan gejala gangguan atau kebencian, permusuhan, dan tekanan perasaan sebagai contoh-contoh salah suai terhadap situasi itu. Beberapa contoh berada pada garis  antara kedua ekstrimitas itu, yaitu memohon dengan sangat agar sang ayah tidak menerima posisi itu dan reaksi menolak sepenuhnya perpindahan itu. Gambar di bawah ini secara sederhana menunjukkan kesinambungan penyesuaian manusia, yang bergerak dari penyesuaian yang sangat baik sampai ke salah penyesuaian yang bisa dikatakan sangat berat. Pada umunya respon manusia cenderung mengelompokkan dalam pertengahan rentang tersebut.

Respon-respon salah suai dapat dikatakan berbeda secara fundamental dari respon-respon yang sesuai. Antara rasional manusia normal yang menerima realitas dengan baik, dan penolakan penyimpangan realitas oleh penderita psikofisis, terdapat jurang yang tidak dapat dijembatangi oleh konsep variasi kuantitatif. Dengan kata lain, terdapat suatu perbedaan kualitatif antara respon-respon yang normal dan yang abnormal. Pandangan ini tidak dapat didasarkan pada sejumlah atau tingkat penyesuaian yang memadai respon-respon individual, melainkan didasarkan pada karakter atau kualitas respon itu sendiri. Sebagai contoh, terdapat suatu perbedaan kualitatif antara penerimaan realitas atau penyimpangan atau penolakannya. Dari sudut kualitatif, salah suai yang lengkap berarti penyimpangan patologis reaksi seseorang terhadap terhadap diri dan realitas. Secara lebih konkrit dapat dikatakan bahwa penderita paranoid mengalami salah suai yang berat karena kualitas patologis delusinya yang mengganggu relasinya tehadap realitas. Sebaliknya, orang yang secara konsisten gagal memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, dalam bidang akademis, social, vokasional, atau situasi perkawinan, juga termasuk sangat kurang sesuai sekalipun tidak memperlihatkan gejala patologis.

Diantara ekstrimitas penyesuaian yang baik dan tipe salah penyesuaian, terdapat jenis respon yang tidak sesuai (nonadjustive) yang secara kualitatif berbeda dari keduanya. Pada umumnya respon, apakah baik atau buruk secara psikologis, bersifat penyesuaian kalau mereduksi ketegangan dan tekanan atau mengatasi frustasi dan konflik; tetapi masih terdapat beberapa respon yang tidak bermakna penyesuaian (nonadjustive). Dalam kelompok terakhir ini termasuk beberapa gerak atau sikap individualistic yang aneh-aneh, eksentritas, keanehan perbuatan dan yang aneh, berbicara dengan tekanan yang dibuat-buat, terlalu sering mengedipkan mata, atau mengerutkan bibir.

Dari lahir sampai meninggal dunia seorang individu adalah suatu organisme yang aktif. Ia menginginkan diri dengan suatu harapan dan aktifitasnya berlangsung secara terus menerus. Ia berusaha untuk memperoleh kepuasaan tidak saja dalam hal kebutuhan jasmaniayah, tetapi juga menyangkut seluruh nafsu-nafsu dan dorongan-dorongan lainnya yang akan memungkinkan dia berfungsi sebagai seorang anggota yang aktif dalam kelompok-kelompok sosial masing-masing. Dorongan ini mengikuti pola-pola tingkahn laku tertentu.[8]

2.3 Klasifikasi Penyesuaian Normal

Karena luasnya rentangan dan rumitnya respon-respon penyesuaian, tidak mudah mengembangkan suatu sistem klasifikasi yang koheren dan memuaskan guna mencapai maksud kita secara efektif. Terbuka beberapa kemungkinan, dan kita harus memutuskan yang mana yang paling sesuai untuk interpretasi kita, klasifikasi tersebut antara lain:

  1. Klasifikasi Berdasarkan Gejala dan Sebab

Pertama penyesuaian dapat diklasifikasikan menurut gejala (symptom), atau tipe orang yang terlibat. Kategori-kategori yang terkenal dalam klasifikasi ini adalah neurotik, psikotik, psikopat, menyimpang, eksentrik, dan epilepsy.  Klasifikasi tersebut pada umumnya lebih cocok untuk tujuan psikologi abnormal dan psikiatri daripada orang-orang psikologi penyesuaian, karena tujuan utama kita adalah untuk menguji proses penyesuaian daripada gejala atau tipe kepribadian. Dengan alasan yang sama, klasifikasi penyesuaian menurut  penyebabnya, seperti penyesuaian organism dan psikologis, tidak akan sesuai dengan tujuan kita.

  1. Klasifikasi Berdasarkan Jenis Respon

Penyesuaian juga dapat dikelompokkan berdasarkan jenis respon, atau kualitas reaksi yang terlibat dalam menghadapi tuntutan, masalah, konflik, dan frustrasi. Klasifikasi ini khususnya bermanfaat  untuk mengkaji penyesuaian karena penyesuaian memusatkan perhatian pada proses mental dan perilaku yang terjadi dalam situasi penyesuaian. Klasifikasi ini dapat dibedakan:  (1) penyesuaian normal, (2) penyesuaian dengan menggunakan reaksi pertahanan, (3) penyesuaian dengan menarik diri, atau menjauhkan diri, (4) penyesuaian dengan penyakit, dan (5) penyesuaian dengan agresi. Maka dari itu berbagai bentuk penyesuaian, telah diadopsi dari istilah umum “pola penyesuaian” dan inilah pola yang merupakan subyek Bagian investigasi (bab ketiga).

  1. Klasifikasi Berdasarkan Masalah

Terakhir, penyesuaian dapat diklasifikasikan menurut masalah, atau situasi, yang terlibat dalam pemenuhan tuntutan diri dan lingkungan. Dengan demikian, penyesuaian dapat dikelompokkan sebagai penyesuaian: (1) pribadi (personal), (2) social, (3) rumah dan keluarga, (4) akademik, (5) kejuruan/vocasional, dan (6) perkawinan. Pengelompokan ini juga, adalah sejalan dengan tujuan psikologi penyesuaian, yaitu untuk menggambarkan proses penyesuaian dalam semua tahapnya. Kita dapat menemukan banyak saling kaitan antara kedua klasifikasi yang terakhir disebutkan. Kita akan menemukan bahwa pola yang berbeda melintasi dan menjadi kondisi sebagai penyesuaian dalam cara yang rumit. Pertahanan, menarik diri, pelarian, penyakit, dan semacamnya, adalah pola-pola respon yang berbeda untuk penyesuaian personal/pribadi, sosial, perkawinan dan kejuruan/vokasional yang kadang-kadang efektif. Dengan mengkaji kaitan-kaitan yang demikian, kita akan dapat menjembatangi jurang antara kajian abstrak proses penyesuaian dan penggunaannya dalam situasi konkrit kehidupan sehari-hari.[9]

2.4 Cara Penyesuaian Normal

  1. Penyesuaian dengan serangan frontal atau langsung.

Penyesuaian normal mencakup respon-respon yang melibatkan suatu pendekatan tegas dan langsung terhadap masalah dan tuntutan setiap hari. Sebagai contoh, karena kesulitan transportasi anda akan terlambat pada suatu perjanjian penting. Situasi tersebut tidak akan terpecahkan jika kita menanggapi dengan kemarahan yaitu dengan memaki system transportasi, mengambil taksi dan tiba secepat mungkin, kemudian menjelaskan kepada siapa saja yang terlibat tentang sebab keterlambatan anda, atau  menelpon orang penting tersebut dan memberiktahukan bahwa anda akan tiba dengan terlambat merupakan salah satu pola penyesuaian yang normal. Peristiwa ini merupakan serangan frontal atau langsung pada suatu situasi tertekan.

  1. Penyesuaian dengan Eksplorasi

Tidak adanya pengalaman, proses belajar yang tidak cukup, pengembangan tidak cukup dan semacamnya, bisa menghalangi pendekatan yang langsung terhadap beberapa permasalahan penyesuaian. Contoh dari cara penyesuaian ini adalah seorang anak yang tidak mendapatkan perhatian dan kasih-sayang dari sang nenek, anak tersebut kemudian melakukan eksplorasi pada perilakunya agar Dia mendapatkan perhatian dan kasih-sayang yang Dia inginkan. Penyesuaian eksplorasi tersebut meliputi perilaku-perilaku yang dapat menyenangkan hati sang nenek.

  1. Penyesuaian dengan Trial and Error

Explorasi erat hubungannya dengan trial and error, yang sering digunakan di dalam situasi penyesuaian normal. Satu-satunya perbedaan antara dua pendekatan ini adalah explorasi itu lebih acak. sedangkan trial and error memiliki banyak pilihan. Seorang siswa boleh menemukan bahwa kurikulum yang ia pilih tidak cocok dengan minatnya, dan oleh karena itu pilihannya adalah suatu kesalahan. Jika pengenalan tentang kekeliruan ini diikuti dengan cepat oleh pilihan suatu kurikulum yang lebih pantas, kita mempunyai situasi trial-error percobaan baru, dan siswa telah melakukan suatu penyesuaian yang baik.

  1. Penyesuaian oleh substitusi

Sama halnya dengan eksplorasi, substitusi sebagai suatu contoh khusus dari berbagai respon. Sekalipun demikian, dalam substitusi terdapat upaya sengaja untuk mereduksi frustasi yaitu dengan bijaksana mengubah arah penyesuaian. Contohnya, seorang remaja mengalami gangguan penglihatan yang ekstrim tidak mungkin mendaftar di angkatan udara dan harus melepaskan ambisinya dalam hal tersebut. Sama halnya dengan orang yang gagal menawan hati seorang teman; orang yang tidak dapat mempunyai anak; dan orang-orang yang mengalami hambatan karena cacat secara fisikbahkan orang yang kekurangan dana untuk biaya sehari-hari , orang-orang yang demikian kadang-kadang mencapai penyesuaian yang baik dengan mensubstitusi tujuan atau ambisi yang selalu tertahan.

  1. Penyesuaian dengan Eksploitasi Kemampuan Pribadi/Personal

Pemakaian prinsip substitusi akan tergantung pada tingkatan potensi seseorang. Maka dari itu disajikan pula cara penyesuaian dengan eksploitasi kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mencapai penyesuaian yang baik dan normal. Contohnya, seorang siswa yang mendapatkan nilai hasil evaluasi belajar yang rendah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam hal belajar agar mampu memperbaiki hasil evaluasi yang akan diberikan selanjutnya oleh sang guru.

  1. Penyesuaian dengan belajar

penyesuaian normal dapat secara efektif dicapai dan dipertahankan melalui media pembelajaran. Sebenarnya, eksplorasi dan mencoba-coba (trial and error) hanyalah teknik khusus yang digunakan oleh organisme mempelajari respons yang bermanfaat bagi penyesuaian yang memadai. Tentu saja belajar terletak jauh dari kedua pendekatan tersebut dan merupakan suatu cara yang paling efektif untuk mengahadapi tuntutan kehidupan sehari-hari. Tentara yang gagal memperoleh pengetahuan, teknik dan skill yang dituntut oleh  peranannya tidak akan mencapai penyesuaian dalam kehidupan militer. Pekerja sosial yang menaruh prasangka terhadap kelompok minoritas tidak dapat berharap untuk memenuhi keperluan posisinya. Remaja yang gagal mempelajari tanggung jawab dari kehidupan orang dewasa tidak dapat diharapkan untuk menyesuaikan dirinya secara normal ke situasi dewasa nantinya. Pada setiap contoh, penyesuaian normal diperoleh melalui pencapaian dan perkembangan respon-respon yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan diberbagai situasi.  Belajar tidak diperlukan, hanya ketika seseorang telah memiliki peralatan yang cukup untuk berbagai situasi.

  1. Penyesuaian dengan hambatan dan pengendalian diri.

Pada saat tertentu penyesuaian normal akan lebih baik dengan menghambat respon-respon daripada mengembangkan respon-respon baru. Sebagaimana kita ketahui bahwa jumklah hambatan yang baik dan efektif, serta penyesuaian diri yang sehat bersifat fundamental dalam penyesuaian normal. Sebagai contoh, pada masalah penyesuaian seksual sebelum nikah khususnya, explorasi, mencoba-coba (trial and error) dan belajar pada umunya dihalangi oleh batas sosial dan moral. Dengan demikian, penyesuaian yang efektif hanya dapat dicapai dengan mengontrol secara inteligen respon-respon yang berperan dalam perilaku seksual. Di sini Nampak hubungan antara hambatan dan pengendalian diri,  pertama menghalangi ekspresi dari drive atau motive, dan yang lain adalah memungkinkan pengarahan proses mental dan perilaku ke dalam ekspresi yang dapat diterima. Meskipun demikian, bukan hanya penyesuaian seksual yang memerluakan hambatan dan pengendalian diri. Penyesuaian normal perlu untuk mengontrol semua nafsu pada waktu tertentu, seperti pada kontrol terhadap pikiran,imaginasi, emosi dan perilaku.

Orang yang penyesuaiannya normal membatasi kebutuhannya, seperti lapar, haus dan istirahat, mengarahkan pikiran ke arah logis, menghilangkan mimpi siang yang berlebihan, dan menghindari ekspresi perasaan dan emosi kasar. Dengan demikian, kapan saja pengendalian ini dinyatakan dalam respon seseorang pada suatu situasi, kita dapat mengatakan bahwa dia menyesuaikan dirinya secara normal.

  1. Penyesuaian dengan Perencanaan yang inteligen

Penyesuaian normal juga tercermin dalam aplikasi intelegensi secara konsisten pada situasi masalah. Tidak ada yang lebih jelas dari pada proses perencanaan  yang inteligen, apakah perencanaan ini diarahkan  kepada kesejahteraan ekonomi, kesehatan, pendidikan, kebahagiaan perkawinan atau tanggung jawab dari sebuah pekerjaan. Orang yang secara kronologis mengalami kesulitan penyesuaian kurang mampu mengorganisasikan pemikiran dan perilakunya secara sistematis guna merealisasi beberapa rencana kegiatannya. Sebagai contoh, banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar karena mereka gagal merencanakan program studinya secara cermat (inteligen), mengatur waktu secara efisien, atau mengorganisasi kebiasaan-kebiasaan belajarnya. Banyak guru-guru yang kurang mampu beradaptasi karena gagal mengorganisasi kegiatanya sehari-hari ditinjau dari penggunaan rencana yang cermat sehingga pekerjaannya mungkin diselsesaikan dengan kelelahan dan frustasi. Perencanaan yang cermat (inteligen), mengarah pada pemenuhan tuntutan sekarang dan antisipasi terhadap masalah yang mungkin terjadi di masa depan, sebagai contoh yang jelas tentang penyesuaian normal. Penyesuaian ini sangat penting karena diorientasikan kepada masa depan, sehingga membantu menjamin kesinambungan  penyesuaian dengan memperkirakan kesulitan-kesulitan yang mungkin  terjadi. Perkiraan ini memberi kesempatan individu untuk mengorganisasi sumber-sumbernya guna memenuhi tuntutan dan masalah yang harus dihadapi dan untuk mendorong perubahan-perubahan atau proses belajar yang mungkin diperlukan.

Karakteristik ini digambarkan secara mencolok dalam keterampilan dan efisiensi pemimpin-pemimpin dalam perindustrian, pemerintahan, dan pendidikan guna memenuhi tuntutan yang kompleks yang muncul dari hari ke hari dalam pekerjaan mereka yang berbeda. Kalau perencanaan inteligen tidak digunakan dalam situasi-situasi ini, frustasi dan salah suai akan banyak menimpa baik laki-laki maupun perempuan.

  1. B. KESIMPULAN

  1. Penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan, Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjusment atau personal adjusment, menurut schneider (1984) dapat deitinjau dari tiga sudut pandanag yaitu: Penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (Conformity) dan Penyesuaian diri sebagai penguasaan (mastery).
  2. Klasifikasi penyesuaian antara lain: Klasifikasi Berdasarkan Gejala dan Sebab, Klasifikasi Berdasarkan Jenis Respon,Klasifikasi berdasarkan masalah.
  3. Cara penyesuaian normal antara lain: Penyesuaian dengan serangan frontal atau langsung, Penyesuaian dengan Eksplorasi, Penyesuaian dengan Trial and Error, Penyesuaian oleh substitusi ,  Penyesuaian dengan Eksploitasi Kemampuan Pribadi/Personal, Penyesuaian dengan belajar,  Penyesuaian dengan hambatan dan pengendalian diri, Penyesuaian dengan Perencanaan yang inteligen.
  4. Banyak cara yang ditempuh individu untuk memenuhi kebutuhannya, baik cara-cara yang wajar maupun yang tidak wajar, cara yang disadari maupun yang tidak disadari. Untuk memenuhi kebutuhan, individu harus dapat menyesuaikan antar kebutuhan dengan segala kemungkinan yang ada dalam lingkungan, disebut sebagai proses penyesuaian diri.

  1. C. DAFTAR PUSTAKA

  1. Ali Mohammad, Mohammad. 2005.Psikologi Remaja  Perkembangan Peserta Didik.Jakarta: PT. Bumi Aksara.
  2. Crow Alice, Lester D. Crow.1987. Psikologi Pendidikan 2. Surabaya:PT. Bina Ilmu.
  3. Hasyim Farid & Mulyono. 2011. Bimbingan Konseling Religius. Jogjakarta:Ar-Ruzz Media.
  4. Yusuf Syamsu, A.juntika Nurihsan. 2005.Landasan Bimbingan & Konseling.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
  5. http://masimamgun.blogspot.com/2010/04/konsep-penyesuaian-diri.html 10 April 2010 18:52  [Online] Senin, 10 Oktober 2011

5.       http://psikologymedia.blogspot.com/2011/04/psikologi-kesehatan-mental.html 07 April 2011 07:01  [Online] Senin, 10 Oktober 2011


[1] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori,psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik.2005.Hal 173-174.

[2] Farid Hasyim dan Mulyono,Bilmbingan Konseling Religius,Ar-Ruzz Media,2011.hal.167-168.

[3] Syamsu yusuf dan A.Juntika Nurihsan:Landasan Bimbingan dan Konseling,PT.Remaja Rosdakarya,Bandung,2005,hal.210.

[4] Ibid

[5] http://psychologyaddict.wordpress.com/2011/01/23/penyesuaian-diri-remaja-di-sekolah/

[7] http://masimamgun.blogspot.com/2010/04/konsep-penyesuaian-diri.html

  1. A. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Alhamdulillah, puji syukur atas kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan taufik hidayahNya sehingga mampu melaksanakan dan menyelesaikan tugas ini. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang penuh dengan ilmu seperti sekarang ini. Makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah “Bimbingan Konseling” yang dalam hal ini membahas masalah ‘Pola Penyesuaian Normal’. Yang dibimbing oleh dosen Dr.Mulyono,M.A

Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan para mahasiswa dapat memahami secara mendalam tentang hal-hal yang berkaitan dengan materi  Bimbingan Konseling khususnya” Pola-Pola Penyesuaian”, antara lain agar mahasiswa memiliki kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa kita disamping memiliki ilmu pengetahuan yang memadai,Pola-pola Penyesuaian Normal disini penting sekali untuk dibahas yakni agar bisa memberikan wawasan tentang Pola-pola penyesuaian Normal bimbingan Konseling. Sehingga diharapkan  mahasiswa dapat memahami masalah-masalah Bimbingan Konseling secara interdisipliner serta mampu memahami anak didik.

Isi global ( pembahasan secara umum ) adalah Penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan. Klasifikasi penyesuaian antara lain: Klasifikasi Berdasarkan Gejala dan Sebab, Klasifikasi Berdasarkan Jenis Respon,Klasifikasi berdasarkan masalah. Cara penyesuaian normal antara lain: Penyesuaian dengan serangan frontal atau langsung, Penyesuaian dengan Eksplorasi, Penyesuaian dengan Trial and Error, Penyesuaian oleh substitusi ,  Penyesuaian dengan Eksploitasi Kemampuan Pribadi/Personal, Penyesuaian dengan belajar,  Penyesuaian dengan hambatan dan pengendalian diri, Penyesuaian dengan Perencanaan yang inteligen.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian Penyesuain diri?
  2. Bagaimana Proses penyesuaian Normal?
  3. Bagaimana Klasifikasi Penyesuaian?
    1. Bagaimana Cara untuk Penyesuaian Normal?

1.3.Tujuan

  1. Ingin memahami pengertian penyesuaian diri
  2. Ingin memahami proses penyesuaian normal.
  3. Ingin memehami klasifikasi penyesuaian normal.
  4. Ingin memahami cara penyesuaian normal.

  1. A. Pembahasan

2.1. Pengertian Penyesuaian Diri

Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjusment atau personal adjusment, menurut schneider (1984) dapat deitinjau dari tiga sudut pandanag yaitu:

  1. Penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation)
  2. Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (Conformity) dan
  3. Penyesuaian diri sebagai penguasaan (mastery)

Adapun penjelasannya yaitu sebagai berikut:

  1. Penyesuaian sebagai adaptasi (adaptation)

Dilihat dari perkembangannya pada mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation). Padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis misalnya seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin, harus beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin tersebut.

  1. Penyesuain diri sebagai konformitas (Conformity)

Ada  juga penyesuaian diri diaratikan sama dengan  penyesuain yang mencangkup konformitas terhadap suatu norma. Pemakain penyesuaian diri seperti ini pun terlalau banyak membawa akibat lain. Denagn memaknai penyesuain diri sebagai konformitas, menyiratkan bahwa disana individu seakan-akan mendapat tekanan kuat terhadap untuk harus selalu mampu menghindari diri dari penyimpanagn perilak, baik secara moral, sosial maupun emosional.

  1. Penyesuaian diri sebagai penguasaan (mastery)

Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimakanai sebagai usaha penguasaan (mastery) yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respon dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan-kesulitan dan frustasi tidak terjadi.[1]

2.2. Proses Penyesuaian Normal

Kalau digunakan pandangan bahwa semua proses penyesuaian, tanpa memperhatikan karakteristik individual, menggambarkan upaya organisme untuk memperoleh pemuas kebutuhan dasar dan mereduksi konflik, frutasi dan ketegangan-ketegangan yang berkaitan dengan atau berasal dari motivasi-motivasi ini, dapat kan bahwa semuanya sama. Perbedaan antara sesuai dan salah suai terletak pada perbedaan tingkatan yang dapat ditentukan denga menggunakan beberapa kriterium. Dengan kata lain, makin banyak respon yang memenuhi kriterium semakain tinggi tingkat penyesuaian. Respon-respon yang tidak terintegrasi sama sekali akan menggambarkan salah suai yang ekstrim. [2]

Banyak cara yang ditempuh individu untuk memenuhi kebutuhannya, baik cara-cara yang wajar maupun yang tidak wajar, cara yang disadari maupun yang tidak disadari. Untuk memenuhi kebutuhan, individu harus dapat menyesuaikan antar kebutuhan dengan segala kemungkinan yang ada dalam lingkungan, disebut sebagai proses penyesuaian diri. Individu harus menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan sekolah, rumah maupun masyarakat.

Proses penyesuaian diri ini menimbulkan berbagai masalah terutama bagi individu sendiri. Jika individu dapat berhasil memenuhi ke butuhannya sesuai dengan lingkungannya, hal itu disebut “well adjusted” atau penyesuaian dengan baik. Dan sebaliknya jika individu gagal dalam proses penyesuaian diri tersebut disebut “maladjusted” atau salah suai.

Schneiders (1964: 51) berpendapat bahwa penyesuaian adalah proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan, dan mengatasi ketegangan, frustasi dan konflik secara sukses, serta menghasilkan hubungan yang harmonis antara kebutuhan dirinya dengan norma atau tuntutan lingkungan dimana dia hidup.

Selanjutnya dia menjelaskan ciri-ciri orang yang well adjusted, yaitu “yang mampu merespon (kebutuhan, dan masalah) secara matang, efisien, puas, dan sehat (wholesome). “yang dimaksud efisien adalah hasil yang diperolehnya tidak banyak membuang energi, waktu, dan kekeliruan. Sementara wholesome adalah respon individu itu sesuai dengan hakikat kemanusiaannya, hubungan dengan yang lain, dan hubungannya dengan Tuhan.[3]

Orang tersebut memiliki kemampuan yang mereaksi kebutuhan dirinya atau tuntutan lingkungannya secara matang, sehat, dan efisien, sehingga dapat memecahkan konflik-konflik mental, frustasi, dan kesulitan-kesulitan pribadi dan sosialnya tanpa mengembangkan tingkah laku simtomatik (seperti rasa cemas, takut, khawatir, obsesi, pobia, atau psikosomatik). Dia respon yang “unwholesome” (tidak sehat), sedangkan sikap persahabatan, toleransi, dan member adalah orang yang berupaya menciptakan hubungan interpersonal dan suasana yang saling menyenangkan yang berkontribusi kepada perkembangan kepribadian yang sehat. Orang yang memiliki sikap iri hati, hasud, cemburu, atau permusuhan merupakan pertolongan merupakan respon yang “wholesome”.

Berdasarkan pengertian diatas, maka seorang itu dapat dikatakan memiliki penyesuaian diri yang normal, yang baik (well adjusment) apabila dia mampu memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalahnya secara wajar, tidak merugikan diri sendiri dan lingkungannya, serta sesuai dengan norma agama.[4]

Penyesuaian diri merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan manusia hampir selalu berkaitan dengan penyesuaian diri, namun tidak semua tingkah laku manusia dapat dikatakan sebagai proses penyesuaian diri. Schneiders (1964) mengatakan bahwa konsep penyesuaian diri tidak dikenakan pada aktivitas manusia yang bersifat netral, misalnya seseorang yang berjalan-jalan, mendengarkan musik, atau menulis surat. Menurut Schneiders (1964) penyesuaian diri timbul apabila terdapat kebutuhan, dorongan, dan keinginan yang harus dipenuhi oleh seseorang, termasuk juga saat seseorang menghadapi suatu masalah atau konflik yang harus diselesaikan. Individu pada kondisi ini, akan mengalami proses belajar, belajar memahami, mengerti, dan berusaha untuk melakukan apa yang diinginkan oleh dirinya, maupun lingkungannya. Artinya, individu perlu mempertimbangkan adanya norma-norma yang berlaku di lingkungan dalam memenuhi kebutuhannya (Affiatin, 1993). Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menyelaraskan pemuasan kebutuhan diri dengan situasi lingkungan sehingga tercapai suatu integrasi dan keseimbangan.

Penyesuaian diri dapat dikatakan sebagai usaha beradaptasi, konform terhadap hati nurani maupun norma sosial, serta perencanaan dan pengorganisasian respon dalam menghadapi konflik dan masalah. Penyesuaian diri didukung oleh adanya kematangan emosi yang menyebabkan individu mampu untuk memberikan respon secara tepat dalam segala situasi.

Masalah penyesuaian timbul apabila ada suatu tuntutan dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh seseorang, atau apabila seseorang dihadapkan pada kesulitan yang harus diselesaikan, atau seseorang menghadapi konflik batin yang harus dipecahkan, dan kalau seseorang berada dalam keadaan frustasi dan mencoba mengatasinya (Schneider, 1964). Tuntutan semacam ini sering dijumpai pada setiap orang, baik dalam kehidupan bermasyarakat, di perkejaan, ataupun di dalam menghadapi tanggung jawab disegala bidang. Seseorang dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan, apabila dihadapkan pada persyaratan yang harus dipenuhi akan melibatkan kepribadian dan perilaku untuk terciptanya usaha penyesuaian. Proses penyesuaian berbentuk respon, sedangkan respon tersebut mewujudkan ekspresi langsung dari kepribadian.

Schneider (1964) berpendapat bahwa penyesuaian mengandung banyak arti, antara lain misalnya seseorang berusaha mengurangi tekanan dari dorongan kebutuhan atau seseorang yang mencoba mengurangi frustasi, dapat mengembangkan mekanisme psikologis, membentuk simptom, menggunakan pola perilaku yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai situasi, dapat juga bersikap tenang, efisien dalam memecahkan konflik dan belajar sebaik-baiknya menempatkan diri di tengah-tengah orang lain. Semua usaha tersebut tergolong usaha penyesuaian diri.

Menurut Tallent (Setiowati, 2000) di dalam setiap tahap kehidupan, individu akan berusaha untuk mencapai keselarasan antara tuntutan personal, biologis, sosial dan psikologis, serta tuntutan lingkungan sekitarnya. Ada sebagian individu yang berhasil dalam melakukan penyesuaian diri tetapi ada juga yang terhambat. Penyesuian diri yang baik akan memberikan kepuasan yang lebih besar bagi kehidupan seseorang. Hanya individu yang mempunyai kepribadian yang kuat yang mampu menyesuaikan diri secara baik.

Menurut Satmoko (2004) penyesuaian diri dipahami sebagai interaksi seseorang yang kontinu dengan dirinya sendiri, orang lain, dan dunianya. Seseorang dikatakan mempunyai penyesuaian diri yang berhasil apabila ia dapat mencapai kepuasan dalam usahanya memenuhi kebutuhan, mengatasi ketegangan, bebas dari berbagai simptom (gejala) yang mengganggu seperti, kecemasan, kemurungan, depresi, obsesi, atau gangguan psikosomatis yang dapat menghambat tugas seseorang. Sebaliknya, gangguan penyesuaian diri terjadi apabila seseorang tidak mampu mengatasi masalah yang dihadapi dan menimbulkan respons dan reaksi yang tidak efektif, situasi emosional yang tidak terkendali, dan keadaan yang tidak memuaskan.

Schneider (1964) mengatakan bahwa penyesuaian diri mempunyai empat unsur. Pertama, adaptation yaitu penyesuaian diri dipandang sebagai kemampuan individu dalam beradaptasi. Orang yang penyesuaian dirinya baik berarti ia mempunyai hubungan yang memuaskan dengan lingkungan. Misalnya, menghindari ketidaknyamanan akibat cuaca yang tidak diharapkan, maka orang membuat sesuatu untuk dapat berlindung. Kedua, conformity yaitu seseorang dikatakan mempunyai penyesuaian diri baik apabila memenuhi kriteria sosial dan hati nuraninya. Ketiga, mastery yaitu orang yang mempunyai penyesuaian diri yang baik mempunyai kemampuan dalam merencanakan da mengorganisasikan sesuatu respons yang muncul dari dalam dirinya sehingga dapat menyusun dan menanggapi segala masalah dengan efisien. Keempat, individual variation yaitu ada perbedaan individual pada perilaku dan respons yang muncul dari masing-masing individu dalam menanggapi masalah.

Menurut Gunarsa dan Gunarsa (Karanina & Suyasa, 2005) ada orang yang cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan, namun ada juga yang perlu waktu lama untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan dalam dirinya dengan usaha penyesuaian diri seseorang mengadakan perubahan-perubahan tingkah laku dan sikap supaya mencapai kepuasan dan sukses dalam aktivitasnya, sedangkan menurut Fernald penyesuaian diri adalah “a continous process and in a general sense, it exust on a continuum”. Artinya bahwa penyesuaian diri adalah proses yang terus menerus dan bukan tahapan statis atau berhenti. Lebih khusus proses konstan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individu sebagaimana selalu timbul sepanjang kehidupan individu tersebut.[5]

Dasar penting bagi terbentuknya suatu pola penyesuaian diri adalah kepribadian. Perkembangan kepribadian pada dasarnya dipengaruhi oleh interaksi fakta internal dan eksternal individu. Menurut Hurlock (1990), penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk memperlihatkan sikap serta tingkah laku yang menyenangkan, sehingga ia diterima oleh kelompok atau lingkungannya. Kondisi yang diperlukan untuk mencapai penyesuaian diri yang baik yaitu bimbingan untuk membantu anak belajar menjadi realistis tentang diri dan kemampuannya, dan bimbingan untuk belajar bersikap bagaimana cara yang akan membantu penerimaan sosial dan kasih sayang dari orang lain. Dalam interaksi individu akan menyeleksi segala sesuatu dari lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan, apabila interaksi harmonis maka dapat diharapkan terjadi perkembangan kepribadian yang sehat, sebaliknya jika tidak maka akan muncul masalah perilaku.[6]

Penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan. Seperti kita ketahui bahwa penyesuaian yang sempurna tidak pernah tercapai. Penyesuaian yang terjadi jika manusia/individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirnya dengan lingkungannya dimana tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan dimana semua fungsi organisme/individu berjalan normal. Sekali lagi, bahwa penyesuaian yang sempurna itu tidak pernah dapat dicapai. Karena itu penyesuaian diri lebih bersifat sutau proses sepanjang hayat (lifelong process), dan tantangan hidup guna mencapai pribadi yang sehat.

Respons penyesuaian, baik atau buruk, secara sederhana dapat dipandang sebagai sutau upaya individu untuk mereduksi atau menjauhi ketegangan dan untuk memelihara kondisi-kondisi keseimbangan sutau proses kearah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal dan tuntutan eksternal. Dalam proses penyesuaian diri dapat saja muncul konflik, tekanan, dan frustasi dan individu didorong meneliti berbagai kemungkinan perilaku untuk membebaskan diri dari tegangan. Individu dikatakan berhasil dalam melakukan penyesuaian diri apabila ia dapat memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara yang wajar atau apabila dapat diterima oleh lingkungan tanpa merugikan atau mengganggu lingkungannya.[7]

Jika kita gunakan pandangan bahwa semua proses penyesuaian tanpa memperhatikan karakteristik individual, menggambarkan upaya organisme untuk memperoleh pemuasan kebutuhan dasar dan mereduksi konflik, frustasi dan ketegangan-ketegangan yang berkaitan dengan atau berasal dari motivasi-motivasi ini, dapat dikatakan bahwa semuanya sama. Perbedaan antara yang benar dan salah suai terletak pada perbedaan tingkatan yang dapat ditentukan dengan menggunakan beberapa kriterium. Dengan kata lain, makin banyak respon yang memenuhi kriterium semakin tinggi tingkat penyesuaian. Respon-respon yang tidak terintegrasi sama sekali, akan menggambarkan salah suai yang ekstrim. Dengan menggunakan contoh sebelumnya, dapat dikatakan bahwa penerimaan perubahan posisi sang ayah dengan cara yang realitas dan matang merupakan salah satu contoh penyesuaian yang baik. Perkembangan gejala gangguan atau kebencian, permusuhan, dan tekanan perasaan sebagai contoh-contoh salah suai terhadap situasi itu. Beberapa contoh berada pada garis  antara kedua ekstrimitas itu, yaitu memohon dengan sangat agar sang ayah tidak menerima posisi itu dan reaksi menolak sepenuhnya perpindahan itu. Gambar di bawah ini secara sederhana menunjukkan kesinambungan penyesuaian manusia, yang bergerak dari penyesuaian yang sangat baik sampai ke salah penyesuaian yang bisa dikatakan sangat berat. Pada umunya respon manusia cenderung mengelompokkan dalam pertengahan rentang tersebut.

Respon-respon salah suai dapat dikatakan berbeda secara fundamental dari respon-respon yang sesuai. Antara rasional manusia normal yang menerima realitas dengan baik, dan penolakan penyimpangan realitas oleh penderita psikofisis, terdapat jurang yang tidak dapat dijembatangi oleh konsep variasi kuantitatif. Dengan kata lain, terdapat suatu perbedaan kualitatif antara respon-respon yang normal dan yang abnormal. Pandangan ini tidak dapat didasarkan pada sejumlah atau tingkat penyesuaian yang memadai respon-respon individual, melainkan didasarkan pada karakter atau kualitas respon itu sendiri. Sebagai contoh, terdapat suatu perbedaan kualitatif antara penerimaan realitas atau penyimpangan atau penolakannya. Dari sudut kualitatif, salah suai yang lengkap berarti penyimpangan patologis reaksi seseorang terhadap terhadap diri dan realitas. Secara lebih konkrit dapat dikatakan bahwa penderita paranoid mengalami salah suai yang berat karena kualitas patologis delusinya yang mengganggu relasinya tehadap realitas. Sebaliknya, orang yang secara konsisten gagal memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, dalam bidang akademis, social, vokasional, atau situasi perkawinan, juga termasuk sangat kurang sesuai sekalipun tidak memperlihatkan gejala patologis.

Diantara ekstrimitas penyesuaian yang baik dan tipe salah penyesuaian, terdapat jenis respon yang tidak sesuai (nonadjustive) yang secara kualitatif berbeda dari keduanya. Pada umumnya respon, apakah baik atau buruk secara psikologis, bersifat penyesuaian kalau mereduksi ketegangan dan tekanan atau mengatasi frustasi dan konflik; tetapi masih terdapat beberapa respon yang tidak bermakna penyesuaian (nonadjustive). Dalam kelompok terakhir ini termasuk beberapa gerak atau sikap individualistic yang aneh-aneh, eksentritas, keanehan perbuatan dan yang aneh, berbicara dengan tekanan yang dibuat-buat, terlalu sering mengedipkan mata, atau mengerutkan bibir.

Dari lahir sampai meninggal dunia seorang individu adalah suatu organisme yang aktif. Ia menginginkan diri dengan suatu harapan dan aktifitasnya berlangsung secara terus menerus. Ia berusaha untuk memperoleh kepuasaan tidak saja dalam hal kebutuhan jasmaniayah, tetapi juga menyangkut seluruh nafsu-nafsu dan dorongan-dorongan lainnya yang akan memungkinkan dia berfungsi sebagai seorang anggota yang aktif dalam kelompok-kelompok sosial masing-masing. Dorongan ini mengikuti pola-pola tingkahn laku tertentu.[8]

2.3 Klasifikasi Penyesuaian Normal

Karena luasnya rentangan dan rumitnya respon-respon penyesuaian, tidak mudah mengembangkan suatu sistem klasifikasi yang koheren dan memuaskan guna mencapai maksud kita secara efektif. Terbuka beberapa kemungkinan, dan kita harus memutuskan yang mana yang paling sesuai untuk interpretasi kita, klasifikasi tersebut antara lain:

  1. Klasifikasi Berdasarkan Gejala dan Sebab

Pertama penyesuaian dapat diklasifikasikan menurut gejala (symptom), atau tipe orang yang terlibat. Kategori-kategori yang terkenal dalam klasifikasi ini adalah neurotik, psikotik, psikopat, menyimpang, eksentrik, dan epilepsy.  Klasifikasi tersebut pada umumnya lebih cocok untuk tujuan psikologi abnormal dan psikiatri daripada orang-orang psikologi penyesuaian, karena tujuan utama kita adalah untuk menguji proses penyesuaian daripada gejala atau tipe kepribadian. Dengan alasan yang sama, klasifikasi penyesuaian menurut  penyebabnya, seperti penyesuaian organism dan psikologis, tidak akan sesuai dengan tujuan kita.

  1. Klasifikasi Berdasarkan Jenis Respon

Penyesuaian juga dapat dikelompokkan berdasarkan jenis respon, atau kualitas reaksi yang terlibat dalam menghadapi tuntutan, masalah, konflik, dan frustrasi. Klasifikasi ini khususnya bermanfaat  untuk mengkaji penyesuaian karena penyesuaian memusatkan perhatian pada proses mental dan perilaku yang terjadi dalam situasi penyesuaian. Klasifikasi ini dapat dibedakan:  (1) penyesuaian normal, (2) penyesuaian dengan menggunakan reaksi pertahanan, (3) penyesuaian dengan menarik diri, atau menjauhkan diri, (4) penyesuaian dengan penyakit, dan (5) penyesuaian dengan agresi. Maka dari itu berbagai bentuk penyesuaian, telah diadopsi dari istilah umum “pola penyesuaian” dan inilah pola yang merupakan subyek Bagian investigasi (bab ketiga).

  1. Klasifikasi Berdasarkan Masalah

Terakhir, penyesuaian dapat diklasifikasikan menurut masalah, atau situasi, yang terlibat dalam pemenuhan tuntutan diri dan lingkungan. Dengan demikian, penyesuaian dapat dikelompokkan sebagai penyesuaian: (1) pribadi (personal), (2) social, (3) rumah dan keluarga, (4) akademik, (5) kejuruan/vocasional, dan (6) perkawinan. Pengelompokan ini juga, adalah sejalan dengan tujuan psikologi penyesuaian, yaitu untuk menggambarkan proses penyesuaian dalam semua tahapnya. Kita dapat menemukan banyak saling kaitan antara kedua klasifikasi yang terakhir disebutkan. Kita akan menemukan bahwa pola yang berbeda melintasi dan menjadi kondisi sebagai penyesuaian dalam cara yang rumit. Pertahanan, menarik diri, pelarian, penyakit, dan semacamnya, adalah pola-pola respon yang berbeda untuk penyesuaian personal/pribadi, sosial, perkawinan dan kejuruan/vokasional yang kadang-kadang efektif. Dengan mengkaji kaitan-kaitan yang demikian, kita akan dapat menjembatangi jurang antara kajian abstrak proses penyesuaian dan penggunaannya dalam situasi konkrit kehidupan sehari-hari.[9]

2.4 Cara Penyesuaian Normal

  1. Penyesuaian dengan serangan frontal atau langsung.

Penyesuaian normal mencakup respon-respon yang melibatkan suatu pendekatan tegas dan langsung terhadap masalah dan tuntutan setiap hari. Sebagai contoh, karena kesulitan transportasi anda akan terlambat pada suatu perjanjian penting. Situasi tersebut tidak akan terpecahkan jika kita menanggapi dengan kemarahan yaitu dengan memaki system transportasi, mengambil taksi dan tiba secepat mungkin, kemudian menjelaskan kepada siapa saja yang terlibat tentang sebab keterlambatan anda, atau  menelpon orang penting tersebut dan memberiktahukan bahwa anda akan tiba dengan terlambat merupakan salah satu pola penyesuaian yang normal. Peristiwa ini merupakan serangan frontal atau langsung pada suatu situasi tertekan.

  1. Penyesuaian dengan Eksplorasi

Tidak adanya pengalaman, proses belajar yang tidak cukup, pengembangan tidak cukup dan semacamnya, bisa menghalangi pendekatan yang langsung terhadap beberapa permasalahan penyesuaian. Contoh dari cara penyesuaian ini adalah seorang anak yang tidak mendapatkan perhatian dan kasih-sayang dari sang nenek, anak tersebut kemudian melakukan eksplorasi pada perilakunya agar Dia mendapatkan perhatian dan kasih-sayang yang Dia inginkan. Penyesuaian eksplorasi tersebut meliputi perilaku-perilaku yang dapat menyenangkan hati sang nenek.

  1. Penyesuaian dengan Trial and Error

Explorasi erat hubungannya dengan trial and error, yang sering digunakan di dalam situasi penyesuaian normal. Satu-satunya perbedaan antara dua pendekatan ini adalah explorasi itu lebih acak. sedangkan trial and error memiliki banyak pilihan. Seorang siswa boleh menemukan bahwa kurikulum yang ia pilih tidak cocok dengan minatnya, dan oleh karena itu pilihannya adalah suatu kesalahan. Jika pengenalan tentang kekeliruan ini diikuti dengan cepat oleh pilihan suatu kurikulum yang lebih pantas, kita mempunyai situasi trial-error percobaan baru, dan siswa telah melakukan suatu penyesuaian yang baik.

  1. Penyesuaian oleh substitusi

Sama halnya dengan eksplorasi, substitusi sebagai suatu contoh khusus dari berbagai respon. Sekalipun demikian, dalam substitusi terdapat upaya sengaja untuk mereduksi frustasi yaitu dengan bijaksana mengubah arah penyesuaian. Contohnya, seorang remaja mengalami gangguan penglihatan yang ekstrim tidak mungkin mendaftar di angkatan udara dan harus melepaskan ambisinya dalam hal tersebut. Sama halnya dengan orang yang gagal menawan hati seorang teman; orang yang tidak dapat mempunyai anak; dan orang-orang yang mengalami hambatan karena cacat secara fisikbahkan orang yang kekurangan dana untuk biaya sehari-hari , orang-orang yang demikian kadang-kadang mencapai penyesuaian yang baik dengan mensubstitusi tujuan atau ambisi yang selalu tertahan.

  1. Penyesuaian dengan Eksploitasi Kemampuan Pribadi/Personal

Pemakaian prinsip substitusi akan tergantung pada tingkatan potensi seseorang. Maka dari itu disajikan pula cara penyesuaian dengan eksploitasi kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mencapai penyesuaian yang baik dan normal. Contohnya, seorang siswa yang mendapatkan nilai hasil evaluasi belajar yang rendah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam hal belajar agar mampu memperbaiki hasil evaluasi yang akan diberikan selanjutnya oleh sang guru.

  1. Penyesuaian dengan belajar

penyesuaian normal dapat secara efektif dicapai dan dipertahankan melalui media pembelajaran. Sebenarnya, eksplorasi dan mencoba-coba (trial and error) hanyalah teknik khusus yang digunakan oleh organisme mempelajari respons yang bermanfaat bagi penyesuaian yang memadai. Tentu saja belajar terletak jauh dari kedua pendekatan tersebut dan merupakan suatu cara yang paling efektif untuk mengahadapi tuntutan kehidupan sehari-hari. Tentara yang gagal memperoleh pengetahuan, teknik dan skill yang dituntut oleh  peranannya tidak akan mencapai penyesuaian dalam kehidupan militer. Pekerja sosial yang menaruh prasangka terhadap kelompok minoritas tidak dapat berharap untuk memenuhi keperluan posisinya. Remaja yang gagal mempelajari tanggung jawab dari kehidupan orang dewasa tidak dapat diharapkan untuk menyesuaikan dirinya secara normal ke situasi dewasa nantinya. Pada setiap contoh, penyesuaian normal diperoleh melalui pencapaian dan perkembangan respon-respon yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan diberbagai situasi.  Belajar tidak diperlukan, hanya ketika seseorang telah memiliki peralatan yang cukup untuk berbagai situasi.

  1. Penyesuaian dengan hambatan dan pengendalian diri.

Pada saat tertentu penyesuaian normal akan lebih baik dengan menghambat respon-respon daripada mengembangkan respon-respon baru. Sebagaimana kita ketahui bahwa jumklah hambatan yang baik dan efektif, serta penyesuaian diri yang sehat bersifat fundamental dalam penyesuaian normal. Sebagai contoh, pada masalah penyesuaian seksual sebelum nikah khususnya, explorasi, mencoba-coba (trial and error) dan belajar pada umunya dihalangi oleh batas sosial dan moral. Dengan demikian, penyesuaian yang efektif hanya dapat dicapai dengan mengontrol secara inteligen respon-respon yang berperan dalam perilaku seksual. Di sini Nampak hubungan antara hambatan dan pengendalian diri,  pertama menghalangi ekspresi dari drive atau motive, dan yang lain adalah memungkinkan pengarahan proses mental dan perilaku ke dalam ekspresi yang dapat diterima. Meskipun demikian, bukan hanya penyesuaian seksual yang memerluakan hambatan dan pengendalian diri. Penyesuaian normal perlu untuk mengontrol semua nafsu pada waktu tertentu, seperti pada kontrol terhadap pikiran,imaginasi, emosi dan perilaku.

Orang yang penyesuaiannya normal membatasi kebutuhannya, seperti lapar, haus dan istirahat, mengarahkan pikiran ke arah logis, menghilangkan mimpi siang yang berlebihan, dan menghindari ekspresi perasaan dan emosi kasar. Dengan demikian, kapan saja pengendalian ini dinyatakan dalam respon seseorang pada suatu situasi, kita dapat mengatakan bahwa dia menyesuaikan dirinya secara normal.

  1. Penyesuaian dengan Perencanaan yang inteligen

Penyesuaian normal juga tercermin dalam aplikasi intelegensi secara konsisten pada situasi masalah. Tidak ada yang lebih jelas dari pada proses perencanaan  yang inteligen, apakah perencanaan ini diarahkan  kepada kesejahteraan ekonomi, kesehatan, pendidikan, kebahagiaan perkawinan atau tanggung jawab dari sebuah pekerjaan. Orang yang secara kronologis mengalami kesulitan penyesuaian kurang mampu mengorganisasikan pemikiran dan perilakunya secara sistematis guna merealisasi beberapa rencana kegiatannya. Sebagai contoh, banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar karena mereka gagal merencanakan program studinya secara cermat (inteligen), mengatur waktu secara efisien, atau mengorganisasi kebiasaan-kebiasaan belajarnya. Banyak guru-guru yang kurang mampu beradaptasi karena gagal mengorganisasi kegiatanya sehari-hari ditinjau dari penggunaan rencana yang cermat sehingga pekerjaannya mungkin diselsesaikan dengan kelelahan dan frustasi. Perencanaan yang cermat (inteligen), mengarah pada pemenuhan tuntutan sekarang dan antisipasi terhadap masalah yang mungkin terjadi di masa depan, sebagai contoh yang jelas tentang penyesuaian normal. Penyesuaian ini sangat penting karena diorientasikan kepada masa depan, sehingga membantu menjamin kesinambungan  penyesuaian dengan memperkirakan kesulitan-kesulitan yang mungkin  terjadi. Perkiraan ini memberi kesempatan individu untuk mengorganisasi sumber-sumbernya guna memenuhi tuntutan dan masalah yang harus dihadapi dan untuk mendorong perubahan-perubahan atau proses belajar yang mungkin diperlukan.

Karakteristik ini digambarkan secara mencolok dalam keterampilan dan efisiensi pemimpin-pemimpin dalam perindustrian, pemerintahan, dan pendidikan guna memenuhi tuntutan yang kompleks yang muncul dari hari ke hari dalam pekerjaan mereka yang berbeda. Kalau perencanaan inteligen tidak digunakan dalam situasi-situasi ini, frustasi dan salah suai akan banyak menimpa baik laki-laki maupun perempuan.

  1. B. KESIMPULAN

  1. Penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan, Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjusment atau personal adjusment, menurut schneider (1984) dapat deitinjau dari tiga sudut pandanag yaitu: Penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (Conformity) dan Penyesuaian diri sebagai penguasaan (mastery).
  2. Klasifikasi penyesuaian antara lain: Klasifikasi Berdasarkan Gejala dan Sebab, Klasifikasi Berdasarkan Jenis Respon,Klasifikasi berdasarkan masalah.
  3. Cara penyesuaian normal antara lain: Penyesuaian dengan serangan frontal atau langsung, Penyesuaian dengan Eksplorasi, Penyesuaian dengan Trial and Error, Penyesuaian oleh substitusi ,  Penyesuaian dengan Eksploitasi Kemampuan Pribadi/Personal, Penyesuaian dengan belajar,  Penyesuaian dengan hambatan dan pengendalian diri, Penyesuaian dengan Perencanaan yang inteligen.
  4. Banyak cara yang ditempuh individu untuk memenuhi kebutuhannya, baik cara-cara yang wajar maupun yang tidak wajar, cara yang disadari maupun yang tidak disadari. Untuk memenuhi kebutuhan, individu harus dapat menyesuaikan antar kebutuhan dengan segala kemungkinan yang ada dalam lingkungan, disebut sebagai proses penyesuaian diri.

  1. C. DAFTAR PUSTAKA

  1. Ali Mohammad, Mohammad. 2005.Psikologi Remaja  Perkembangan Peserta Didik.Jakarta: PT. Bumi Aksara.
  2. Crow Alice, Lester D. Crow.1987. Psikologi Pendidikan 2. Surabaya:PT. Bina Ilmu.
  3. Hasyim Farid & Mulyono. 2011. Bimbingan Konseling Religius. Jogjakarta:Ar-Ruzz Media.
  4. Yusuf Syamsu, A.juntika Nurihsan. 2005.Landasan Bimbingan & Konseling.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
  5. http://masimamgun.blogspot.com/2010/04/konsep-penyesuaian-diri.html 10 April 2010 18:52  [Online] Senin, 10 Oktober 2011

5.       http://psikologymedia.blogspot.com/2011/04/psikologi-kesehatan-mental.html 07 April 2011 07:01  [Online] Senin, 10 Oktober 2011


[1] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori,psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik.2005.Hal 173-174.

[2] Farid Hasyim dan Mulyono,Bilmbingan Konseling Religius,Ar-Ruzz Media,2011.hal.167-168.

[3] Syamsu yusuf dan A.Juntika Nurihsan:Landasan Bimbingan dan Konseling,PT.Remaja Rosdakarya,Bandung,2005,hal.210.

[4] Ibid

[5] http://psychologyaddict.wordpress.com/2011/01/23/penyesuaian-diri-remaja-di-sekolah/

[7] http://masimamgun.blogspot.com/2010/04/konsep-penyesuaian-diri.html

[8] Lester D. Crow dan Alice Crow,psikologi pendidikan,Surabaya:PT. Bina Ilmu,1987, Hal 260

[9] http://psikologymedia.blogspot.com/2011/04/psikologi-kesehatan-mental.html

[8] Lester D. Crow dan Alice Crow,psikologi pendidikan,Surabaya:PT. Bina Ilmu,1987, Hal 260

[9] http://psikologymedia.blogspot.com/2011/04/psikologi-kesehatan-mental.html

Leave a Reply