YourSite - Slogan Here!

Konsep Pendidikan di Inggris, Jepang dan Negara Kita Indonesia, Bagaimanakah perbedaannya???

SILABUS

Mata Pelajaran                     : Sosiologi Pendidikan Islam

Kelas                                      : XI

Semester                               : 1 (satu)

Standar Kompetensi           : Membandingkan Konsepsi Sosiologi Pendidikan Indonesiadengan Inggris dan Jepang

Kompetensi dasar Materi pembelajaran Kegiatan pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi waktu Sumber/ bahan/alat
Mendiskripsikan Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang. 1.  Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang

2.  Perbedaan Konsep Pendidikan Indonesia, inggris dan Jepang.

3.  Film Tentang Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang.

a.  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang pengertian Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang. Siswa membuat catatan singkat berdasarkan penjelasan guru.

b.  Siswa mendengar penjelasan guru tentang perbedaan konsep pendidikan Indosesia dengan Inggris dan Jepang.

c.   Siswa membentuk kelompok kemudian membaca artikel dalam buku  halaman 28-30, kemudian mendiskusikan bersama teman-temannya.

d.  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas dan guru menjadi pemandu diskusi kelas.

e.  Siswa dan guru membuat kesimpulan atas hasil diskusi kelompok.

f.    Siswa mengumpulkan hasil diskusinya untuk dinilai.

1.  Siswa mampu Menjelaskan hakikat konsep pendidikan indonesia, inggris dan jepang.

2.    Siswa mampu Mengidentifikasi perbedaan konsep pendidikan Indosesia dengan Inggris dan Jepang.

3.    Siswa mampu Mendeskrispsikan berbagai pengaruh Perbedaan konsep Pendidikan Indonesia dengan Inggris dan Jepang.

- Hasil pekerjaan siswa

“Uji Penguasaan Materi”

- Hasil laporan siswa tentang Hasil Diskusi di kelas.

- Hasil Mapping yang dibuat masing-masing siswa.

2 x 45 menit 1.    Papan tulis

2.    Alat-alat tulis

3.    Lembar soal

4.    Power Point

5.    OHP

6.    Laptop

7.    LCD

8.    Film


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama sekolah             : SMA Negeri 18 Malang

Mata Pelajaran         : Sosiologi Pendidikan

Kelas/semester         :  X I / 1

Alokasi Waktu          :  2 x 45 menit

Standar Kompetensi   :Membandingkan Konsepsi Sosiologi Pendidikan Indonesiadengan Inggris dan Jepang.

Kompetensi Dasar   :

Mendeskripsikan Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang.

Indikator                     :

  1. Menjelaskan hakikat konsep pendidikan indonesia, inggris dan jepang.
  2. Mengidentifikasi perbedaan konsep pendidikan Indosesia dengan Inggris dan Jepang.
  3. Mendeskrispsikan berbagai pengaruh Perbedaan konsep Pendidikan Indonesia dengan Inggris dan Jepang.

A.   Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

1.    Mendeskrispsikan Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang.

2.    Mengidentifikasi perbedaan konsep pendidikan Indosesia dengan Inggris dan Jepang.

3.    Membedakan berbagaipengaruh Perbedaan konsep Pendidikan Indonesia dengan Inggris dan Jepang.

B.   Materi Pembelajaran

1.    Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang

2.    Perbedaan Konsep Pendidikan Indonesia, inggris dan Jepang.

3.    Film Tentang Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang.

C.   Metode Pembelajaran

  1. Informasi
  2. Kerja mandiri
  3. Eksplorasi
  4. Diskusi
  5. Ceramah

D.   Langkah-Langkah Pembelajaran

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu
1.
Pendahuluan
a. Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan sosiologi pendidikan Islam yang telah dipelajari di kelas X

b. Memotivasi

Siswa mendengarkan tujuan pembelajaran tentang Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang dan perbedaannya.

c. Rambu-rambu belajar

Siswa mendapat gambaran tentang Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang dan perbedaannya dalam bentuk skema.

15 menit
2. Kegiatan Inti

g.    Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang pengertian Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang. Siswa membuat catatan singkat berdasarkan penjelasan guru.

h.    Siswa mendengar penjelasan guru tentang perbedaan konsep pendidikan Indosesia dengan Inggris dan Jepang.

i.      Siswa membentuk kelompok kemudian membaca artikel dalam buku  halaman 28-30, kemudian mendiskusikan bersama teman-temannya.

j.      Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas dan guru menjadi pemandu diskusi kelas.

k.    Siswa dan guru membuat kesimpulan atas hasil diskusi kelompok.

l.      Siswa mengumpulkan hasil diskusinya untuk dinilai.

65 menit
3. Kegiatan Akhir

  1. Siswa mengerjakan evaluasi  dengan menjawab yang diberikan guru.
  2. Siswa diberi tugas untuk mengamati konsep pendidikan Indonesia, Inggris dan jepang serta perbedaannya. Kemudian siswa diberi tugas untuk membuat Mapping.
10  enit

E.   Sumber pembelajaran:

  1. Buku Bahan AjarSosiologi Pendidikan Islam.
  2. Film tentang Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang.
  3. Media massa seperti majalah, koran, artikel dan buku-buku tambahan.
  1. Media
  1. Papan tulis
  2. Alat-alat tulis
  3. Lembar soal
  4. Power Point
  5. OHP
  6. Laptop
  7. LCD
  8. Film
  1. Penilaian

1. Hasil pekerjaan siswa “Uji Penguasaan Materi”

2. Hasil laporan siswa tentang Hasil Diskusi di kelas.

3. Hasil Mapping yang dibuat masing-masing siswa.

  1. Aspek Yang Dinilai Dalam Diskusi
  1. Kemampuan menyampaikan pendapat.
  2. Kemampuan memberikan argumentasi.
  3. Kemampuan memberikan kritik.
  4. Kemampuan mengajukan pertanyaan.
  5. Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.
  6. Kelancaran berbicara.

Mengetahui:                               Malang, _____________

_____________________

Kepala Sekolah SMA                                             Guru Kelas/Bidang studi

Konsep Pendidikan

1. Konsepsi Sosiologi Pendidikan Inggris Raya (Great Brittain)

Inggris adalah salah satu kerajaan yang tergolong tertua di benua eropa.Dalam sejarah perkembangannya inggris telah berhasil membina bangsanya menjadi salah satu bangsa yang dapat menguasai tujuh samudra dengan semboyannya”Rule the Waves” (kuasai gelombang samudera).Inggris adalah bangsa bahari yang mampu menguasai tujuh samudera itu dengan armada kapal- kapal dagangannya, juga kapal perangnya di masa silam.

Inggris adalah Negara bagian terbesar dan terpadat penduduknya dari Negara-negara bagian lain yang membentuk menjadi satu dalam persatuan kerajaan britania raya (United Kingdom of Great Britain). Selain Inggris dalam britania raya tersebut terdapat pula Negara lain yaitu: Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara, sehingga sering kali nama Inggris disamakan dengan keseluruhan Negara tegrsebut atau disamakan dengan United Kingdom. Secara geografis, wilayah inggris meliputi dua pertiga dari Britania yang berbatasan dengan skotlandia disebelah utara dan berbatasan dengan wales disebelah barat, serta dengan Prancis disebelah selatan yang dipisahkan  oleh selat Inggris. Letak astronomis Negara inggris berada pada posisi 50 derajat samapi 60 derajatlintang utara dan 11 derajat-15 derajat bujur barat dengan luas wilayahnya 130.395 km. Negara ini pernah beberapa kali dikuasai oleh bangsa lain dan orang mempersatukan bangsa inggris sejak abad ke-9 adalah Egbert dari Wessex.

Wilayah inggris terbagi atas 9 (sembilan) bagian wilayah yang disebut propinsi, yaitu: greater London, North East England, Nort West England, East of England, Yorksire and the humber, West Midlans, South West England and terakhir adalah South East England. Sedangkan kota-kota besar di Inggris ada 8 yaitu: London, Birmingham, Manchester, Bristol, Liverpool, Leeds, Newcastle upon Tyne, dan Sheffield.[1]

1

Bangsa yang berjiwa bahari dan memiliki sifat- sifat kesombongan (arogansi) itu ditempa melalui pendidikan yang menitik beratkan pada pembentukan kepribadian yang khas kepada generasi mudanya. Di setiap jenis sekolah, selalu nampak ciri- ciri pendidikan pribadi siswa- siswanya antara lain dengan memberikan “kedaulatan sendiri” (self- goverment) untuk bertanggung jawab mengatur sekolahnya sendiri yang berlangsung secara kolektif dari sejak tingkat dasar sampai tingkat tinggi, hal ini benar- benar merupakan metoda pendidikan yang dapat memberikan corak khas kepribadian mandiri pada masa dewasanya.

Mereka dididik untuk mampu mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui berbagai penelitian (discovery) dalam lingkungan hidupnya tanpa adanya rasa takut atau pun rasa malas.Akan tetapi sebaliknya, mereka dididik untuk berani meneliti dan menemukan hal- hal baru.

Penjurusan dalam pendidikan keahlian dan keterampilan merupakan suatu cara yang dapat menjadikan siswa lebih memperdalam ilmu yang menjadi jurusannya. Sikap pendalaman kekhususan ilmu pengetahuan mereka dilandasi dengan pendidikan agama Kristen untuk memperkuat kepribadiannya.

Dalam system kependidikan Inggris sebagaimana yang tercermin dalam berbagai jenis dan jenjang sekolah yang dikembangkan adalah menunjukkan bahwa pendidikan di Inggris lebih mementingkan spesialisasi keahlian dan keterampilan dalam berbagai lapangan hidup sesuai dengan bakat dan kemampuan murid- muridnya pada pendidikan tingkat menengah.

Pengembangan bidang teknologi praktis di tingkat menengah dan teknologi akademis di tingkat akademi dan perguruan tinggi benar- benar telah di mulai secara terarah pada tingkat sekolah dasar dan menengah. Pengarahan demikian akan mempermudah siswa- siswa untuk memilih langsung terjun ke dunia kerja atau meneruskan ke tingkat pendidikan tinggi. Demikian pula pengembangan bidang- bidang disiplin ilmu social dan humaniora serta arts (seni budaya) atau bahasa.

Pemerintah di Inggris mula-mula enggan terlibat dalam pengelolaan pendidikan.Pemerintah inggris pertama kali ikut mengelola bidang pendidikan baru terjadi pada tahun 1833. Permulaan mengelola bidang pendidikan tersebut dilakukan pemerintah dengan memberikan sejumlah kecil dana bantuan pada dua peerkumpulan sekolah amal. Sebelumnya pemerintah telah mengijinkan berdirinya yayasan pendidikan swasta dan sekali-kakli memberikan bantuan dana kepada mereka. Wewenang untuk menilai dan memberikan lisence melalui proses sertifikasi kepada guru-guru dan mengawasi pelaksanaan pembelajaran disekolah-sekolah diserahkan kepada gereja inggris. Perhatian pemerintah terhadap penyelenggaraan pendidikan ini selanjutnya membawa kepada upaya penetapan aneka peraturan yang menjamin keberadaan kepercayaan ortodoks dan kesetiaan kepada golongan yang berkuasa. (IN. Tud and Don Adams, 2005)

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pemberian dana public untuk tujuan pendidikan dapat mempercepat perubahan kebijakan pemerintah. Sejak awal sumbangan hanya diberikan kepada sekolah-sekolah yang direkomendasikan secara khusus oleh the national society dan disetujui oleh institusi yang mendistribusikan dana tersebut. Ketika jumlah sumbangan tahunan ditingkatkan, maka dibentuklah Select Committee of The Privy Council.

Dalam pelaksanaan demokratis dalam kependidikan, Inggris memberikan kebebasan kepada organisasi keagamaan untuk mendirikan sekolah dengan ciri- ciri khasnya khasnya masing- masing secara otonom (mengatur dirinya sendiri).Namun pada akhirnya pemerintah berhak mengawasi dan mencampurinya bilamana perlu, yaitu terbatas pada tingkat dasar atau menengah.Pada pendidikan universitas, baik negeri maupun swasta, masing- masing berdiri sendiri, bebas dari campur tangan pemerintah pusat maupun dewan pendidikan daerah atau kementrian pendidikan dan urusan pendidikan daerah.Universitas bukanlah termasuk wilayah pemerintah.oleh karena universitas di Inggris langsung didirikan oleh raja dengan keputusan raja (Royal Charter), yang merupakan lembaga yang otonom.

Sistem sekolahan di Inggris banyak terpengaruh oleh sistem pendidikan di daratan Eropa, terutama Jerman banyak bermunculan ahli- ahli kependidikan terkenal seperti Frobel, Pestalozzi, Herbart, dan sebagainya.

1. Sistem Pendidikan di Inggris

a. Kalender Pendidikan

Di Negara tempat David Becham berasal ini tahun ajaran berlangsung dari akhir September sampai akhir Juli dengan 2 bulan libur selama musim panas.[2]

b. Pendidikan Wajib

Pendidikan wajib di Inggris meliputi sekolah dasar dan sekolah menengah. Sekolah dasar di mulai dari usia 5 sampai 11 tahun dalam kurun waktu 6 tahun. Tahun pertama dan kedua disebut infantsdan tahun ketiga sampai ke enam disebut Junior[3]. Pada level sekolah dasar ini tidak di adakan ujian bagi siswa mulai dari kelas satu sampai dengan kelas enam, kecuali ujian kemampuan yang dilaksanakan ketika anak berusia tujuh tahun. Penekanan ada pada belajar secara praktikal dibandingkan menghafal.Siswa belajar mata pelajaran inti seperti Bahasa Inggris, matematika dan sains, juga pelajaran dasar seperti sejarah, geografi, musik, seni dan olahraga.

3

Sekolah menengah dimulai dari umur 11 sampai 16 tahun dalam kurun waktu normal 5 tahun.Di setiap jenjang siswa memperdalam pelajaran mereka pada mata pelajaran inti dan ditambah setidaknya satu pelajaran bahasa asing.Pada tahun ke-4 barulah mereka mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian-ujian yang disebut General Certificate of Secondary Education atau GCSE. Setelah menyelesaikan ujian GCSE, siswa sekolah menengah dapat meninggalkan sekolah untuk bekerja, mengikuti program training di sekolah kejuruan atau teknik, atau melanjutkan 2 tahun lagi untuk menyiapkan diri bagi ujian masuk universitas, yang dikenal dengan “A-Levels.”[4]

c. Pendidikan Pilihan

1) A levels

A Levels adalah lanjutan dari sekolah menengah atas jika mereka ingin masuk ke bangku universitas.Ditempuh selama 2 tahun. Dalam jenjang ini siswa akan belajar 3 sampai 4 subjek untuk ujian A Levels[5]

2) Program Sarjana

Ditingkat sarjana, siswa di Inggris dapat memilih jurusan art dan sciences.Program ini biasanya berlangsung selama tiga tahun dimana selama itu siswa dapat menyelesaikan pelajaran dan tutorial di bidang masing-masing. Siswa yang akan lulus biasanya harus mengikuti ujian akhir.

3) Pasca Sarjana dan Doktoral

Jenjang ini dilaksanakan 1 sampai 2 tahun.Gelar yang mereka peroleh adalah master arts (MA) atau master science (MSc) dan Master in Business Administration (MBA) setelah mereka menyelesaikan studinya. Seperti di Indonesia, di jenjang ini siswa harus menyelesaikan semua studinya, membuat tesis dan mengikuti ujian akhir. Siswa pasca sarjana juga dapat meneruskan program doktoral atau PhD.[6]

Meskipun Inggris tergolong Negara maju dalam industry dan teknologi, namun dalam masalah kependidikan juga masih dirasakan adanya problema- problema yang tidak mudah dipecahkan.

4

2. Problem-problem Pendidikan di Inggris

Problema- problema kependidikan di Inggris itu pernah dilaporkan oleh Persatuan Nasional Guru Inggris dan Wales (The National Unions of England and Wales) yang pokok- pokoknya dikemukakan dalam Kongres ke 27 di Jakarta sebagai berikut:

1)    The relationship between education and employment and preparation for the transition from school to work. (bagaimana hubungan antara pendidikan dan pekerjaan sebagaimana menyiapkan peralihan dari sekolah ke dunia kerja).

Orang Inggris masih belum merasa puas tentang keharusan adanya hubungan antara sekolah dengan kebutuhan praktis bagi siswa- siswanya dalam memasuki dunia kerja. Oleh karena itu diusahakan agar hubungan antara sekolah dengan dunia kerja dipererat, misalnya dengan perusahaan- perusahaan, holding company, dan sebagainya, meskipun tugas pokok sekolah (menurut pandangan mereka) bukanlah memberikan pendidikan kekaryaan yang berkaitan dengan lapangan kerja di perusahaan- perusahaan semata- mata. Sekolah hanya membantu siswa- siswanya bagaimana cara memecahkan masa peralihan yang sering menyulitkan itu.

2)    A commitment to life-longeducation (rasa keterikatan dengan pendidikan sepanjang hayat).

Sehubungan dengan strategi ini, yang perlu dipecahkan ialah bagaimana agar pendidikan sepanjang hayat tersebut benar- benar dapat dilaksanakan secara merata sampai kepada orang- orang berusia lanjut atau dewasa yang pada masa kanak- kanaknya tidak mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan.

3)    The expansion of educational facilities (pengembangan sarana pendidikan).

Pengembangan fasilitas atau sarana kependidikan ini akan memakan banyak biaya, terutama bila di sejajarkan dengan pesatnya kemajuan ilmu dan teknologi tersebut di satu pihak akan mengurangi tenaga guru itu sendiri, yakni banyak guru yang menganggur, dan dilain pihak bila fasilitas itu dikurangi, maka akan menimbulkan hambatan belajar dari siswa, juga akan membatasi pertumbuhan ekonomi di masa datang.

4)    Teacher education for tomorrow.(pendidikan guru untuk hari esok).

5

Sehubungan dengan masalah ini, pendidikan guru harus ditingkatkan lagi mutunya.Hal ini menyangkut system dan metodanya, sehingga harapan masyarakat luas untuk mendapatkan hasil kependidikan anaknya semakin dapat terpenuhi.Profesi keguruan harus dipersiapkan secara matang melalui system pendidikan tinggi yang lamanya 4 tahun. Guru untuk hari esok harus mampu menjabarkan pengertian bagi siswanya tentang adanya kenyataan yang ada di dalam masyarakat bahwa di sana terdapat berbagai kepentingan yang terlatar belakang multirasial dan multicultural. Siswa harus menjadi orang dewasa yang benar- benar matang pandangan berfikirnya tentang masalah hak asasi manusia dan sebagainya.

3. Perbandingan Sistem Pendidikan di Inggris dengan Negara Lain

a.    Biaya pendidikan di Indonesia sudah gratis tapi bayar sampai saat ini sedangkan di Inggris biaya sekolah sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah.[7]

b.    Kalau di Indonesia siswa SD baru diperkenalkan dengan komputer itupun belum semuanya, di Negeri Putri Diana ini anak SD sudah diharuskan belajar jejaring sosial seperti twitter dan ensiklopedia online wikipedia.

c.    Biaya pendidikan di Inggris lebih terjangkau bahkan sampai jenjang pascasarjana di banding negara eropa lainnya seperti jerman dan prancis.[8]

d.    Di negara Eropa khususnya negara sepak bola ‘kata changcuthers’ bukan Italia atau Argentina tetapi London (Inggris), sistem pendidikan menganut pola press shcematic (maksudnya tidak terlalu banyak yang dipelajari tetapi terfokus dan lebih terspesialisasi, sehingga kepakaran ilmunya sangat dalam). Sedangkan di Indonesia salah satunya menganut pola breadth schematic sehingga tidak mengakar karena otak otak siswa sudah overloading, kebanyakan pelajaran.[9]

6

2.  JEPANG

Jepang adalah termasuk industrial kelima di dunia.Meskipun telah maju masyarakatnya berkat ilmu dan teknologi, namun banyak pula permasalahan kependidikan yang perlu dipecahkan oleh Negara tersebut. Namun perlu diperhatikan, kemajuan yang telah diraih Jepang setelah Perang Dunia ke II itu merupaka produk (hasil) dari proses kependidikan yang di kelola secara konsisten dan terarah.

Seandainya Negara ini tidak lagi dikendalikan oleh politik Amerika Serikat niscaya negeri ini telah dapat mencapai puncak ilmu dan teknologi industri yang mengungguli Negara industrial Barat. Kemajuan Jepang di bidang ilmu dan teknologi tinggi masih dikhawatirkan oleh Negara- Negara Barat (Amerika Serikat) akan menjadi boomerang (bahaya yang mengancam) terhadap negara- negara tetangga khususnya di kawasan Asia Tenggara. Watak dan sifat- sifat fasisme Jepang sampai kini tetap masih melekat pada pribadi bangsa ini.

1. Sistem Pendidikan Jepang

Rupanya, bukan hanya Indonesia yang gemar mereformasi (atau sekadar mengganti) kurikulum pendidikan. Negara maju seperti Jepang yang pendidikannya terbukti mampu mencetak kader-kader bangsa yang qualified, ternyata mengalami hal yang sama.Reformasi sistem pendidikan tertuang dalam program “Yutori Kyoiku” yang dicanangkan Kementrian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Ilmu Pengetahuan, serta Teknologi (MEXT). Meskipun sistem pendidikan Jepang tergolong sangat baik, terbukti dengan performa siswanya dalam bidang Matematika dan ilmu alam, ternyata pemerintah Jepang merasa belum puas, terutama rentang antara 1980-1990.

Pendidikan di Jepang memang memiliki serangkaian keunggulan, misalnya:

  • kurikulum dasar yang kuat pada bidang studi Matematika dan ilmu pasti,
  • komitmen masyarakat yang kuat pada keunggulan akademik,
  • keselarasan hubungan pengajar dan peserta didik,
  • perencanaan pendidikan yang matang visioner,
  • implementasi yang baik dalam ilmu terapan.
7

Namun, muncul perdebatan publik dan studi komparasi yang mengetengahkan fakta bahwa sistem pendidikan di Jepang terlalu kaku mengaplikasikan ujian masuk calon siswa baru serta lebih menekankan kemampuan ingatan terhadap fakta-fakta.

Yutori Kyoiku diformulasikan untuk meredam kecenderungan tersebut. Seiring, upaya meningkatkan standar akademik dalam program “Super Science” untuk siswa-siswi SMAdengan kemampuan di atas rata-rata.

1. Kalender Akademik

Sebagai gambaran, ada baiknya kita melongok kalender akademik SMA Nakamura, sebuah sekolah level menengah ke atas yang menganut sistem full time course dengan hari belajar Senin-Jumat.

Umumnya SMA di Jepang, kegiatan belajar-mengajar berlangsung pukul 08:45 -15.15, tersusun atas enam jam pelajaran. Satu jam berdurasi 50 menit. Dengan pengecualian hari Rabu yang tersusun atas tujuh jam, dalam seminggu terdapat 31 jam pelajaran.

Ada Sembilan mata pelajaran yang diajarkan, yaitu:

  1. Bahasa Jepang
  2. Geografi/Sejarah
  3. Pendidikan Kewarganegaraan
  4. Matematika
  5. Pendidikan Jasmani dan Olahraga
  6. Pendidikan Seni
  7. Bahasa Asing (Inggris)
  8. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dan IT
  9. Keterampilan

Tahun akademik dimulai April, terbagi menjadi dua semester, dan melangsungkan lima kali ujian pada Mei, Juli, Oktober, Desember,dan Februari. Jadwal kegiatan akademik secara global adalah sebagai berikut.

Semester Ganjil:

  1. April: Penerimaan siswa baru, Tes Akademik, Tes Kesehatan, dan Orientasi Karir kelas 3.
  2. Mei: Ujian tengah semester, Orientasi Karir kelas 2, Sports Day.
  3. Juni: Kegiatan belajar-mengajar untuk kelas 1, Ujian kelas 3.
  4. Juli: Ujian akhir semester, Tambahan Pelajaran, Camping.
  5. Agustus: Open Day, School Day, Camping, Festival Sekolah dan masa liburan musim panas.

Semester Genap:

  1. September: Opening Ceremony, Tes Akademik, Festival Sekolah.
  2. Oktober: Ujian tengah semester, Kuliah dari Universitas kelas 2.
  3. 8

    November: Tes Akademik, Tes Kemampuan Akademik kelas 3, Reading session untuk 1.

  4. Desember: Tes Akademik, tambahan pelajaran, berbarengan dengan masa liburan musim dingin.
  5. Januari: Tes Kemampuan Akademik, Ujian Akhir kelas 3, Reading Session kelas 2.
  6. Februari: Ujian akhir kelas 1 dan 2.
  7. Maret: Wisuda, Ujian susulan.

2. Reformasi

Jadi, reformasi yang dicanangkan dalam Yutori Kyoiku adalah sebagai berikut:

  1. Mengembangkan model pembelajaran yang lebih fleksibel untuk meningkatkan kemampuan dasar scholastic siswa.
  2. Perbaikan mutu pembelajaran yang menekankan pada karakter kepribadian siswa secara intrapersonal dan interpersonal.
  3. Mengurangi tekanan dan mengembangkan aspek lingkungan belajar yang menyenangkan.
  4. Evaluasi sekolah secara mandiri dan transparan oleh orangtua siswa dan masyarakat.
  5. Meningkatkan profesionalitas guru, etos kerja, dan upgrading. Dilengkapi dengan penerapan evaluasi, dan penghargaan bagi guru berprestasi.
  6. Mendorong pengembangan universitas dengan taraf internasional.
  7. Reformasi konstitusi dan pembentukan filosofi pendidikan untuk menyongsong abad baru.

Reformasi yang dilakukan bukan terletak pada materi pelajaran atau metode pengajaran di kelas, tetapi pada sistem pendidikan di sekolah.Konsep ini sesuai dengan problematika yang ada.Selain itu, negara ini tampak tidak membangun kelas-kelas baru dan justru menggabungkan beberapa sekolah yang ada.

Dengan kata lain, sistem pendidikan di Jepang bertujuan menciptakan kader bangsa yang sehat jasmani dan rohani, serta penuh estetika. Sistem semacam ini diharapkan mampu menghasilkan murid yang ideal, tekun melatih diri sendiri, mengikuti aturan, dan memiliki wawasan berpikir internasional.

3. Problem-problem Pendidikan di Jepang

Permasalahan kependidikan yang dianggap mendesak oleh Jepang antara lain:

1)

9

Bagimana agar hubungan antara program kependidikan di lembaga- lembaga kependidikan dengan dunia kerja dapat diserasikan.

Para lulusan dari kalangan perguruan tinggi di Jepang saat ini semakin cenderung untuk mendapatkan pekerjaan pada lembaga pemerintahan, sedangkan pemerintahan sendiri melakukan pengurangan pegawai negeri.Untuk tamatan sekolah menengah tidak banyak menemui permasalahan karena lapangan kerja bagi mereka cukup tersedia.

Pengangguran intelektual dari lulusan universitas semakin membengkak. Kondisi demikian membuat para pencari kerja usia muda terlanda rasa cemas. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi yang melaju harus dapat diserasikan dengan pertumbuhan tenaga kerja intelektual yang terampil dan professional di bidang usaha swasta.Pendidikan yang kurang menitik beratkan pada faktor kemanusiaan karena pendidikan saat ini menitik beratkan pada faktor ahli teknologi tinggi demi memenuhi kebutuhan masyarakat modern, tanpa memperhatikan tuntutan dari luapan pencari kerja baru.Dehumanisasi harus diubah menjadi humanisasi kependidikan.Demikian pula halnya di dalam modernisasi industri.

2)    Berkaitan dengan pemasalahan di atas maka perlu dipecahkan bagaimana melakukan persiapan menghadapi masa peralihan dari masa sekolah ke masa kerja serta masa hidup bermasyarakat.

Massa peralihan ini terjadi pada akhir pendidikan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi.Bagi lulusan sekolah- sekolah menengah kejuruan yang telah diarahkan ke dunia kerja tidak banyak menimbulkan permasalahan serius, sehingga mereka dengan mudah dapat diterima di dunia kerja yang memerlukan tenaga kejuruan yang terampil.

3)    Pendidikan seumur hidup, yang tidak hanya berlangsung di lembaga- lembaga pendidikan formal dipandang perlu penyediaan kesempatan memperoleh pendidikan pada lembaga- lembaga non formal. Sekolah di Jepang dalam kaitan dengan tugas adalah mengarahkan kepada pengembangan kemampuan dan kecakapan serta kapasitas berfikir bebas. Akan tetapi sekolah masih belum dapat meningkatkan inisiatif dan kesabaran, karena masih Nampak di sana- sini timbul kekerasan dan kejahatan di kalangan remaja. Untuk itu dipandang perlu menciptakan system kependidikan yang luas dalam waktu dan ruang lingkupnya sehingga dapat mengikut sertakan orang tua, guru dan murid dalam proses kependidikan.

10

4)    Perluasan fasilitas dan pelayanan kependidikan dalam menghadapi bertambahnya hambatan ekonomi.

Pertambahan jumlah usia anak sekolah dan pemusatan pemukiman penduduk pada kota- kota bsar(karena urbanisasi), serta meningkatkan jumlah lulusan sekolah menengah atas pada tahun akhir- akhir ini telah menimbulkan permasalahan kependidikan yang menyangkut penyediaan sarana jumlah pergedungan sekolah, karyawan di bidang administratif kependidikan serta penanganan siswa yang tidak tertampung di sekolah. Kenyataan demikian membutuhkan pembiayaan yang cukup besar. Faktor pembiayaan pendidikan ini ditangani oleh tiga instansi yakni Pemerintah Pusat (23%), Pemerintah Daerah (69%), dan badan- badan lain (7,7%). Tanggung jawab pemerintah daerah semakin berat.Oleh karena itu pemerintah pusat diharapkan menambah volume anggarannya untuk pendidikan. Hal ini berbeda dengan di Indonesia dimana pemerintah pusat membiayai hamper seluruh biaya pendidikan di daerah- daerah dengan berbagai cara, di samping sumbangan dari orang- orang tua murid (masyarakat).

5)    Masalah lainnya ialah penyediaan tenaga guru yang lebih bermutu untuk mempersiapkan anak didik menghadapi masyarakat masa depan yang semakin kompleks.

Pendidikan karakter bagi generasi muda Jepang masih dirasa belum berhasil setelah Perang Dunia II usai.Untuk itu pendidikan guru masih perlu di prioritaskan kea rah strategi pendidikan karakter tersebut.

Perlu diusahakan agar siswa yang cerdas dan pandai tertarik kepada profesi guru.Lembaga pendidikan guru perlu ditingkatkan mutu dan diarahkan kepada pendidikan karakter tersebut.

6)    Pemerataan dan efektivitas pendidikan masih harus ditangani secara serius, sehingga diskriminasi masuk sekolah yang dahulu hanya dibatasi pada anak- anak orang yang berpangkat, orang kaya dan anak laki- laki saja, dapat di hapus.

Penerimaan untuk bersekolah harus didasarkan hanya pada faktor kemampuan individual anak, bukannya pada status social orang tuanya. Yang berkemampuan rendah pun harus diberi pendidikan sama dengan berkemampuan tinggi, agar tidak terjadi jurang pemisah yang semakin melebar dalam masyarakat masa depan.

11

Ada 11 permasalahan di bidang kependidikan di Jepang, yang sebagian telah diuraikan diatas. Keseluruhan permasalahan tersebut ialah:

1)    Bagaimana memperbaiki pendidikan.

2)    Bagaimana mengamankan keseluruhan perkembangan tiap murid.

3)    Bagaimana menjamin perkembangan anak cacat.

4)    Bagaimana menjamin mutu sekolah lanjutan atas bagi generasi muda beserta daya tampungnya.

5)    Bagaimana memajukan aktifitas belajar dan kebudayaan dalam masyarakat dan lingkungan kerja.

6)    Bagaimana memajukan aktifitas belajar dan kebudayaan dalam masyarakat dan lingkungan kerja.

7)    Bagaimana mendemokrasikan administrasi kependidikan.

8)    Bagaimana mendiriksn perguruan tinggi yang di biayai oleh masyarakat sendiri.

9)    Bagaimana membuat perencanaan fasilitas dan lingkungan kependidikan yang cukup memadai kebutuhan.

10) Bagaimana memperkuat solidaritas internasional dalam pendidikan.

11) Bagaimana hak dan kewajiban para guru dapat dipenuhi.

Permasalahan- permasalahan diatas juga menjadi problema kependidikan di Negara- Negara lain yang sedang berkembang seperti di Indonesia yang saat ini sedang mengalahkan kewajiban belajar untuk anak usia 7 tahun, serta daya tamping anak didik di berbagai jenjang kependidikan sejalan dengan lajunya pertumbuhan penduduk, dan sebagainya.

4. Perbandingan Sistem Pendidikan Jepang dan Indonesia

Setelah Hirosima dan Nagasaki dibombardir habis-habisan oleh sekutu, pemerintah Jepang tentunya membangun negara tersebut dari nol. Nyatanya, bak macan tutul yang sigap, Jepang mampu berlari kencang dan menjadi juara. Hal tersebut tak lepas dari sistem pendidikan Jepang yang bagus.

Di Jepang, pendidikan adalah hal yang sangat diperhatikan. Seperti yang sudah dituliskan di atas, bahwa pendidikan menjadi ujung tombak sebuah kemajuan suatu negara. Dan terbukti, hal tersebut sangat dipahami oleh pemerintah Jepang.

12

Berbagai macam fasilitas diberikan untuk menunjang pendidikan yang berkualitas. Dan hal tersebut diberikan secara gratis. Bagi anak yang tidak mampu, akan ada bantuan khusus. Sehingga tak ada alasan bagi para pemuda-pemudi di Jepang untuk tidak belajar. Mereka semua bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.

Bagaimana di Indonesia? Rupanya pendidikan belum menjadi prioritas penting di Indonesia. Sepertinya, hanya kelompok minoritas saja yang peduli. Selebihnya, cenderung kapitalis. Bukan bermaksud menghina bangsa sendiri, namun kenyataan di lapangan memang seperti itu.

Coba saja lihat pendidikan di kota besar dan di desa. Terdapat jurang pemisah yang begitu dalam. Di kota, pendidikan bisa dinikmati dengan mudah dengan beragam fasilitas, namun di desa apalagi pelosok, betapa seringnya kita melihat banyak sekali sekolah hancur dan buku-buku yang tidak lengkap. Sungguh ironi.

Di Indonesia memang ada sekolah gratis, namun coba tengok. Bagaimana kualitasnya? Apakah sama dengan sekolah yang SPP-nya mahal? Bisa kita bandingkan, semakin mahal SPP di suatu sekolah maka kualitasnya semakin bagus, begitu pula sebaliknya.

Sehingga terciptalah sebuah opini bahwa yang berhak dan bisa menikmati pendidikan bagus hanyalah orang-orang kaya semata. Itulah bukti konkret bahwa di Indonesia pendidikan masih belum diperhatikan.

Oleh sebab itu, bila Indonesia ingin maju seperti negara Jepang, sistem pendidikannya juga harus meniru sistem pendidikan Jepang, dalam hal kualitas dan ketidakberpihakan pendidikan terhadap kaum kaya semata.

3.  INDONESIA

Indonesia yang saat ini sedang meningkatkan pembangunan di segala bidang pembangunan dalam rangka menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, bidang pendidikan menjadi titik pusat perhatian masyarakat dan pemerintah.Oleh karena masalah pendidikan didasari sebagai sarana pembinaan generasi penerus perjuangan bangsa.

Alokasi anggaran belanja Negara yang mencapai Rp 1,3 triliun pada tahap 1 dan 2 Pelita IV, sungguh merupakan volume anggaran yang paling besar diantara volume anggaran pembangunan di bidang- bidang lainnya.

Indonesia mendasari pendidikan dengan falsafah Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan, kecerdasan, keterampilan dan budi luhur, rasa cinta tanah air (patriotisme), memupuk sikap membangun diri sendiri serta bersama- sama bertanggung jawab membangun masyarakatnya. (menurut TAP II/ MPR/ 1983 tentang Garis- garis Besar Haluan Negara).

13

1. Sistem Pendidikan Di Indonesia

Dunia pendidikan saat ini sering dikritik oleh masyarakat yang disebabkan karena adanya sejumlah pelajar dan lulusan pendidikan tersebut yang menunjukkan sikap kurang terpuji.Banyak pelajar yang terlibat tawuran, melakukan tindakan kriminal, pencurian penodongan, penyimpangan seksual, menyalah-gunakan obat-obatan terlarang dan sebagainya.Perbuatan tidak terpuji yang dilakukan para pelajar tersebut benar-benar telah meresahkan masyarakat dan merepotkan pihak aparat keamanan.Hal tersebut masih ditambah lagi dengan adanya peningkatan jumlah pengangguran yang pada umumnya adalah tamatan pendidikan.

Keadaan ini semakin menambah potret pendidikan kita makin tak menarik dan tak sedap dipandang makin menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap wibawa dunia pendidikan kita. Jika keadaan yang demikian tidak segera dicari solusinya, maka akan sulit mencari alternatif yang lain yang paling efektif untuk membina moralitas masyarakat.Berbagai solusi untuk memperbaiki dunia pendidikan dan mencari sebab-sebabnya merupakan hal yang tidak dapat ditunda lagi.

Sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia pada saat ini adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik.Sistem pendidikan semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan menghasilkan dikotomi pendidikan yang sudah berjalan puluhan tahun, yakni antara pendidikan agama di satu sisi dengan pendidikan umum di sisi lain. Pendidikan agama melalui madrasah, institut agama, dan pesantren dikelola oleh Departemen Agama, sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, dan kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Sistem pendidikan yang material-sekuleristik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekuler.Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan.Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja.Maka, di tengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama.Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik, serta paradigma pendidikan yang materialistik.

14

2. Problem-problem pendidikan Indonesia

Permasalahan yang masih belum dapat dipecahkan, antara lain:

1)    Daya tamping sekolah bagi peningkatan jumlah anak usia anak sekolah dasar, dan daya tampung lulusan SLTP dan SLTA serta Perguruan Tinggi, merupakan permasalahan nasional yang setiap tahun muncul. Pemecahan dengan INPRES Sekolah Dasar untuk menampung ledakan anak masuk sekolah dasar berbarengkan dengan telah di berlakukannya undang- undang wajib belajar, belum dapat menyelesaikan permasalahan. Juga daya tampung untuk siswa SLTP dan SLTA yang diatasi dengan antara lain membuka sekolah menengah terbuka dan sebagainya juga belum dapat menyelesaikan masalah ledakan murid masuk sekolah ini. Sedangkan daya tampung universitas terhadap calon mahasiswa juga belum dapat sepenuhnya tertanggulangi, meskipun telah di pecahkan antara lain dengan membuka universitas terbuka yang menampung 70.000 mahasiswa pada tahun ajaran 1985, di samping daya tampung universitas- universitas swasta yang menuntut pembiayaan tinggi.

2)    Pembaruan sistem kependidikan perlu dilakukan, mengingat tuntutan masyarakat semakin besar terhadap kebutuhan pendidikan yang efektif dan efisien.

Untuk tujuan itu, maka pada tahun 1978 telah dibentuk Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional untuk merumuskan system pendidikan nasional yang baru.Konsep komisis tersebut di titik beratkan pada pemikiran tentang administrasi dan organisasi sekolah, materi pelajaran, struktur, dan mobilisasi.

Pada prinsipnya administrasi kependidikan berada di bawah satu tangan yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, namun secara operasional, menteri- menteri lainnya (seperti HANKAM, AGAMA, DALAM NEGERI)  diberi pendelegasian wewenang untuk mengelola jenis- jenis sekolah khusus.

Penanggung jawab umum pendidikan secara nasional adalah Presiden/ Mandataris MPR, yang dibantu oleh Dewan Pendidikan Nasional Indonesia yang di ketuai oleh Presiden, dan anggota- anggotanya terdiri Menteri Dikbud dan para menteri yang mengelola jenis- jenis sekolah khusus dan dari tokoh- tokoh pendidikan dalam masyarakat.

15

Kesamaan mutu pendidikan secara nasional harus diwujudkan melalui standard minimal kurikulum yang berlakukan di semua jenis dan tingkat sekolah. Dengan demikian mobilitas (perpindahan) anak sekolah dari satu jenis ke jenis sekolah yang lain akan di mungkinkan.

Adapun system dan strukutr pendidikan nasional itu terdiri dari pendidikan umum, pendidikan kemasyarakatan dan pendidikan khusus (pendidikan kedinasan, pendidikan khusus teknis, dan pendidikan khusus keagamaan).

3)    Pemerataan pendidikan bagu seluruh rakyat masih dalam perjuangan melalui program pembangunan nasional. Agar sekolah dapat menjangkau rakyat banyak, maka titik berat pembangunan bidang pendidikan diletakkan pada memperluas pendidikan tingkat dasar.

Salah satu program pemerataan melalui 8 jalur adalah pemerataan memperoleh pendidikan.Permasalahan pokok dari program tersebut kecuali menyangkut anggaran belanja, juga penambahan tenaga guru, lokasi pembangunan gedung sekolah dasar di daerah perkotaan dan pedesaan menemui kesulitan areal tanah yang tepat dan murah, atau tanpa membeli.

Pertambahan penduduk yang dalam Pelita IV tahun ke II mencapai 2,3 persen dari jumlah penduduk tiap tahun, menyebabkan jumlah anak usia sekolah juga bertambah. Untuk mensukseskan wajib belajar, maka daya tampung sekolah- sekolah dasar pada khususnya harus di tingkatkan dengan pembangunan gedung- gedung baru.Di samping itu peranan perguruan swasta pun harus di tingkatkan.

Dalam tahun 1985 anak usia sekolah baru dapat tertampung sekitar 48 persennya dari jumlah keseluruhan 27 juta orang. Oleh karena penduduk Indonesia kurang lebih 85 persennya tinggal di daerah pedesaan, maka anak usia sekolah sebagian besar berada di daerah pedesaan karena itu masalah pembangunan daerah pedesaan menjadi sangat penting.

4)    Relevansi (berkaitan erat) antara pendidikan sekolah dengan kebutuhan membangun nasional belum terwujud sepenuhnya. Banyak lulusan dari sekolah menengah atas atau perguruan tinggi yang tidak siap pakai dalam dunia lapangan kerja. Penyelenggaraan kependidikan masih lebih menitik beratkan kwantitas dari pada kwalitasnya. Oleh karena itu timbul masa pengangguran dengan rata- rata setiap tahun di perkirakan mencapai sekitar 300.000 orang yang makin lama semakin membengkak.

5)

16

Selera pemuda pemudi dan orang tua masih lebih banyak tertarik kepada sekolah umum dari pada kejuruan, karena mengejar gelar kesarjanaan lebih diutamakan. Sedangkan kemampuan akademis dan biaya pendidikan tinggi kurang diperhitungkan (terutama pada perguruan tinggi swasta), maka terjadilah gap antara keinginan dan kenyataan. Akibatnya terjadi drop-out (putus sekolah) yang menambah angka pengangguran.

6)    Sama halnya yang dialami oleh negara- negara yang sedang berkembang lainnya, profesi guru kurang menarik minat para pemuda pemudi kita, karena satu dan lain hal gajinya relative rebih rendah daripada bekerja di bidang non guru misalnya di bank, atau di perusahaan swasta nasional maupun asing. Di samping itu, status social guru kurang dipandang tinggi dibandingkan misalnya status social kepala kantor atau direktur suatu perusahaan, dan sebagainya. Padahal sejak tahun kedua Pelita IV, gaji guru beserta tunjangannya telah dinaikkan secara mencolok. Namun menjadi guru masih merupakan pekerjaan alternative pilihan terakhir kalau tidak dikatakan terpaksa.

7)    Berkaitan dengan watak bangsa yang beridentitas Pncasila, masalah metoda pendidikan dan materinya masih belum efektif. Bidang studi yang berkaitan dengan pembinaan watak bangsa ialah Agama, Pendidikan, Moral, Pancasila, Pendidikan P-4, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, belum Nampak adanya keterpaduan kurikulum, sehingga masing- masing guru yang memegang bidang studi tersebut belum berjalan serempak.

Oleh karena permasalahan kependidikan bagi masyarakat modern merupakan akibat dari proses kehidupan yang semakin meningkat, maka permasalahannya tetap berkembang sejalan dengan proses kehidupan masyarakat itu sendiri, pemecahannya harus didasarkan pada skala prioritas permasalahan mana yang harus dipecahkan lebih dahulu dan mana yang masih dapat ditunda.

Pendidikan perbandingan, sebagai ilmu pengetahuan yang telah di tetapkan menjadi sebuah disiplin ilmu sedang mengalami perkembangan terus- menerus sejalan dengan tuntutan perkembangan pendidikan yang bersifat mondial (sedunia).Pendidikan yang mempunyai cirri universal adalah menyangkut kebutuhan hidup masyarakat bangsa- bangsa (internasional), baik masyarakat yang telah maju maupun yang belum maju.

Bila suatu bangsa mengalami kemajuan bidang kependidikan berarti pun telah mendapat modal utama untuk mengembangkan kesejahteraannya sendiri. Namun kesejahteraan suatu bangsa dimanapun berada di bumi kita akan berperan pula dalam penciptaan kesejahteraan bersama sebagai umat yang mendambakan hidup hari esok yang lebih baik.

17

Oleh karena berkat kemajuan ilmu dan teknologi sebagai hasil pendidikan itu, hubungan antara bangsa dan Negara di dunia menjadi semakin berdekatan. Antara satu bangsa dengan bangsa lainnya terjadi proses saling pengaruh mempengaruhi dalam segala bidang kehidupan, misalnya yang Nampak menonjol adalah dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya (ilmu pengetahuan, teknologi), pertahanan, keamanan, dan lain lain.

Dampak dari kemajuan atau kemunduran dalam bidang- bidang tersebut cepat atau lambat mempengaruhi kehidupan bangsa- bangsa di negara- negara di atas bumi ini.

Menyadari dampak positif atau negatifnya dunia kependidikan terpanggil untuk selalu siap dan tanggap dalam memahami dan kemidian menjawabnya dalam bentuk program- program kependidikan di lembaga- lembaganya sepanjang waktu. Dengan demikian pengetahuan tentang apa yang terjadi di Negara lain, khususnya mengenai permasalahan kependidikan sangat kita perlukan. Apalagi bila kita berpendirian bahwa dunia kependidikan tidak semestinya menutup diri terhadap kemajuan di Negara lain, maka saling tukar- menukar pengetahuan dan pengalaman di bidang ini merupakan faktor utama bagi penggalangan sikap saling pengertian dan saling meningkatkan mutu pendidikan itu.

Banyak problem telah di kemukakan dalam studi kependidikan di semua Negara dari mana studi perbandingan pendidikan akan dapat menarik pengalaman tentang cara- cra pemecahannya. Dalam studi itu juga akan diketahui sejauh mana Negara yang bersangkutan telah berusaha melakukan inovasi (pembaruan). Atas prinsip saling memajukan, hasil studi perbandingan pendidikan itu sungguh dapat memberikan kepada kita gambaran jelas tentang pola pemecahan terhadap permasalahan pendidikan yang di hadapi oleh Negara lain. Pola pemecahan problema di Negara lain mengandung unsur- unsur yang dapat dijadikan bahan perbandingan bagi pemecahan masalah kependidikan yang timbul di Negara kita masing- masing. Namun cirri dan corak problema kependidikan bagi suatu Negara memiliki kekhususan dilihat dari berbagai segi yang peerlu tetap dipertahankan.

Di Indonesia problema yang berat kecuali corak cultural dengan cirri Bhineka Tunggal Ika, adalah masalah kualitas hasil pendidikan dan kuantitas serta kapasitas dari daya tampung prasarana pendidikan yang belum dapat memenuhi tuntutan masyarakat yang sedang membangun.Di samping anggaran belanja untuk membiayai program- program yang dilaksanakan di lembaga- lembaga kependidikan juga merupakan problema besar bagi semua Negara.Timbulnya kecenderungan baru di kalangan tenaga kerja muda kita kurang tertarik untuk memasuki lapangan kerja sebagai guru juga merupakan problema baru.Kaum pencari kerja itu lebih tertarik kepada lapangan teknik dan ekonomi perdagangan yang menawarkan lebih banyak penghasilah dari pada menjadi guru.

18

Saat ini masyarakat di negara- negara di dunia sedang bergeser kea rah system nilai- nilai materialisme dari pada idealisme, bergerak kea rah nilai- nilai pragmatisme dari pada absolutisme, lebih cenderung kea rah nilai- nilai sekularisme daripada moralisme dan agama.Segala sesuatu yang dikerjakan didasarkan pada perhitungan untung rugi secara teknologis atau ekonomis.Termasuk pula dunia kependidikan telah dilanda oleh pandangan yang lebih menguntungkan atas keuntungan ekonomis dari pada nuralitas selaku hamba Tuhan yang taat beragama.Gejala- gejala demikian oleh ilmu perbandingan pendidikan perlu distudi pula, karena dapat meramalkan bagaimana fungsi dan posisi lembaga kependidikan di masa dating dalam masyarakat yang mengalami perubahan sikap terhadap nilai- nilai hidupnya.

Untuk melakukan studi tersebut, seperangkat metoda masih perlu dicari dan dikembangkan lebih lanjut oleh para ahlinya sehingga metoda- metoda yang berhasil di temukan itu benar- benar dapat mengungkapkan latar belakang dair semua problema yang Nampak di permukaan.

Di dalam pola dan system pendidikan nasional kita masing- masing terletak pusat terjadinya problema operasional kependidikan oleh karena pola dan system itulah yang merupakan ruang lingkup dari mekanisme gerak lembaga- lembaga kependidikan yanga ada beserta perangkatnya selengkapnya.

Mengenal dan memahami tentang pola- pola dan system kependidikan nasional bangsa- bangsa yang hendak di studi merupakan bekal pokok bagi para penstudi perbandingan pendidikan, disamping permasalahan operasional lainnya.Seperti faktor cukup tidaknya tenaga guru, pembiayaan, keterampilan tenaga administrasi, dan sebagainya.

Bagi proses kependidikan suatu pola kependidikan adalah menjadi pembatas dan p[embentuk dari wujud akhir proses itu, sehingga dapat diketahui bahwa didalam pola itu tercermin cita dasar dan bentuk serta corak yang diharapkan dapat diwujudkan melalui pelaksanaan program- program yang ditetapkan.

Faktor- faktor lainnya yang juga berpengaruh terhadap proses kependidikan itu ialah apa yang kita sebut sebagai “faktor non kependidikan”, berupa pengaruh lingkungan kebudayaan, social politik, ekonomi, ideology, dan sebagainya. Faktor- faktor tersebut bukannya tidak berpengaruh terhadap jalannya proses kependidikan dalam suatu system, melainkan dalam situasi dan kondisi tertentu, sangat mempengaruhi proses tersebut. Justru oleh karena pendidikan adalah cermin dari cita- cita masyarakat itu sendiri, bila situasi dan kondisi masyarakat tidak stabil dalam bidang- bidang social politik, kebudayaan, ekonomi, dan ideology, maka proses kependidikan sudah pasti terbias oleh ketidak stabilan masyarakat itu sendiri.

19

Untuk mengungkap dan menemukan secara tepat problema- problema non- kependidikan itu, diperlukan metoda yang didasarkan atas pendekatan berbagai disiplin ilmu, seperti sosiologi, psikologi, antropologi budaya, ekonomi dan politik.

Sedangkan system adalah mengandung pengertian bahwa penyelenggaraan kependidikan di suatu Negara merupakan suatu keseluruhan (totalitas) yang terdiri dari bagian- bagian atau sub- sub system yang mempunyai tugas dan fungsi masing- masing bekerja dan bergerak dengan saling berhubungan antara satu dengan yang lain, yang secara serempak sebagai suatu keseluruhan menuju kea rah tujuannya yang harus di capai.

Seperti kita lihat bahwa berbagai jenis dan jenjang sekolah telah dibuat, untuk dijadikan wahana (wadah) berprosesnya penyelenggaraan kependidikan dalam satu kebulatan system yang bergerak kearah pencapaian tujuan pendidikan nasional masing- masing Negara.

Faktor- faktor internal yaitu faktor- faktor kependidikan yang bersifat memperlancar/ menunjang proses kependidikan adalah suatu variabel yang dari padanya muncul berbagai problema yang brsifat operasional.

Dalam perspektif islam bahwasanya berbicara ruanglingkup pendidikan banyak ayat-ayat yang menyebutkan tentang pendidikan dan juga metode dalam islam, Allah berfirman dalam surat Al-Imron:191, yang berbunyi:

žcÎ)’ÎûÈ,ù=yzÏNºuq»yJ¡¡9$#ÇÚö‘F{$#urÉ#»n=ÏF÷z$#urÈ@øŠ©9$#͑$pk¨]9$#ur;M»tƒUy’Í<’rT[{É=»t6ø9F{$#ÇÊÒÉÈtûïÏ%©!$#tbrãä.õ‹tƒ©!$#$VJ»uŠÏ%#YŠqãèè%ur4’n?tãuröNÎgÎ/qãZã_tbr㍤6xÿtGtƒur’ÎûÈ,ù=yzÏNºuq»uK¡¡9$#ÇÚö‘F{$#ur$uZ­/u‘$tB|Mø)n=yz#x‹»ydWxÏÜ»t/y7oY»ysö6ߙ$oYÉ)sùz>#x‹tã͑$¨Z9$#ÇÊÒÊÈ

190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

20

Dalam ayat diatas dijelaskan bahwasanya pendidikan dianggap hal yang paling urgen, karena semua umat manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu, oleh karena itu pendidikan sangatlah penting.

Dalam hal metode islam juga membahas tentang bagaimana ilmu itu disampaikan dengan berbagai cara yang tepat agar manusia dapat mengerti dan memahami apa saja yang menjadi landasan dalam mencari ilmu yang manfaat.

Dalam surat An-Nahl: 125 yang berbunyi:

äí÷Š$#4’n<Î)È@‹Î6y™y7În/u‘ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ÏpsàÏãöqyJø9$#urÏpuZ|¡ptø:$#(Oßgø9ω»y_urÓÉL©9$$Î/}‘Ïdß`|¡ômr&4¨bÎ)y7­/u‘uqèdÞOn=ôãr&`yJÎ/¨@|Ê`tã¾Ï&Î#‹Î6y™(uqèdurÞOn=ôãr&tûïωtGôgßJø9$$Î/ÇÊËÎÈ

125. serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

21
24

[1]Arief Rahman, Pendidikan Komperatif: Menuju Ke Arah Metode Perbandingan Pendidikan Antar Bangsa, (Yogyakarta: Laksbang Grafika, 2010), 161

[2]Brittin college//Education First

[3]Ibid 1

[4]http://Kartunet.com/ kartunet groups indonesia 2009

[5]UK Education System

[6]http://www.ef.co.id

[7]Ibid 3 page 2

[8]http://www.Britishcouncil.or.id

[9]Yahoo answers-http://uk.answers.yahoo.com

ZAKAT PERTANIAN, PERDAGANGAN, PETERNAKAN, GAJI, DAN SAHAM

  1. A. Pengertian dan Dasar Hukum Zakat Pertanian, Perdagangan, Peternakan, Gaji, Dan Saham

Zakat adalah isim masdar dari kata zaka-yazku-zakah. Oleh karena itu kata dasar zakat adalah zaka yang berarti berkah, tumbuh, baik, dan bertambah. Dengan makna tersebut, orang yang telah mengeluarkan zakat diharapkan hati dan jiwanya akan bersih, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Taubah ayat 103, sebagai berikut:

õ‹è{ ô`ÏB öNÏlÎ;ºuqøBr& Zps%y‰|¹ öNèdãÎdgsÜè? NÍkŽÏj.t“è?ur $pkÍ5 Èe@|¹ur öNÎgø‹n=tæ ( ¨bÎ) y7s?4qn=|¹ Ö`s3y™ öNçl°; 3 ª!$#ur ìì‹ÏJy™ íOŠÎ=tæ ÇÊÉÌÈ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Maksud dari membersihkan yang tertera dalam ayat di atas adalah zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda. Sedangkan mensucikan adalah zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.

  1. 1. Pengertian dan Dasar Hukum Zakat Pertanian

Pertanian yang dimaksudkan di sini adalah bahan-bahan yang digunakan sebagai makanan pokok dan tidak busuk jika disimpan, misalnya dari tumbuh-tumbuhan, yaitu jagung, beras, dan gandum. Sedang dari jenis buah-buahan misalnya, kurma, dan anggur.

Hasil pertanian, baik tanam-tanaman maupun buah-buahan, wajib dikeluarkan zakatnya apabila sudah memenuhi persyaratan. Hal ini berdasarkan al-Qur’an, hadits, ijma’ para ulama’ dan rasional (ma’qul). Dalam surat al-An’am ayat 141 dijelaskan sebagai berikut:

* uqèdur ü“Ï%©!$# r’t±Sr& ;M»¨Yy_ ;M»x©rá÷è¨B uŽöxîur ;M»x©râ÷êtB Ÿ@÷‚¨Z9$#ur tíö‘¨“9$#ur $¸ÿÎ=tFøƒèC ¼ã&é#à2é& šcqçG÷ƒ¨“9$#ur šc$¨B”9$#ur $\kÈ:»t±tFãB uŽöxîur 7mÎ7»t±tFãB 4 (#qè=à2 `ÏB ÿ¾Ín̍yJrO !#sŒÎ) tyJøOr& (#qè?#uäur ¼çm¤)ym uQöqtƒ ¾Ínϊ$|Áym ( Ÿwur (#þqèùΎô£è@ 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä† šúüÏùΎô£ßJø9$# ÇÊÍÊÈ

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila Dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.(QS. Al-An’am:141)

Dalam ayat tersebut di atas ada kalimat “dan tunaikanlah haknya” oleh para mufassir ditafsirkan dengan zakat.

Dalam surat al-Baqarah ayat 267 dijelaskan sebagai berikut:

$yg•ƒr’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä (#qà)ÏÿRr& `ÏB ÏM»t6ÍhŠsÛ $tB óOçFö;|¡Ÿ2 !$£JÏBur $oYô_t÷zr& Nä3s9 z`ÏiB ÇÚö‘F{$# ( Ÿwur (#qßJ£Ju‹s? y]ŠÎ7y‚ø9$# çm÷ZÏB tbqà)ÏÿYè? NçGó¡s9ur ÏmƒÉ‹Ï{$t«Î/ HwÎ) br& (#qàÒÏJøóè? Ïm‹Ïù 4 (#þqßJn=ôã$#ur ¨br& ©!$# ;ÓÍ_xî ÏJym ÇËÏÐÈ

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.(Q.S. al-Baqarah: 267)

Jadi, dari penjelasan ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa mengeluarkan zakat dari hasil bumi adalah wajib. Dalam ayat tersebut juga ditegaskan bahwa yang akan dikeluarkan untuk zakat itu adalah yang terbaik, bukan yang jelek apalagi yang paling baik.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Daud dari Jabir bahwa beliau mendengar Nabi SAW bersabda:

فيما سقت السماء والعيون وكان غثريا العشر, وفيما سقي بالنصف العشر

Pada yang disiram hujan dan ,mata air dan tumbuh-tumbuhan itu hanya minum air hujan, dikenakan al-‘usyr (sepersepuluh, dan pada yang disirami dengan mengangkut air nishfu a;-‘usyr (setengah spersepuluh/seperlima.)”

فيما سقت الأنهار واالغيم العشور, وفيما سقي بالساقية نصف العشور

Pada apa-apa yang disiram dengan air sungai dan hujan sepersepuluh. Dan apa-apa yang disiram dengan pengairan (irigasi), maka zakatnya seperlima.”(H.R. Ahmad, Muslim, Nasa’I dan Abu Daud)

Kemudian yang menjadi dasar hukum zakat pertanian selanjutnya adalah: Ijma’ Ulama’ dan secara rasional (ma’qul). Ijma’ Ulama’, para ulama’ telah sepakat atas kefardhuan zakat tanaman dan buah-buahan sepersepuluh (10%) atau seperlima (5%). Secara rasional (ma’qul), bahwa zakat dikeluarkan untuk mensyukuri nikmat Allah SWT yang berupa harta benda untuk menolong orang yang lemah sehingga pada akhirnya bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban agamanya dengan sebaik-baiknya.

Dari penjelasan 4 dasar hukum tersebut di atas, maka para ulama’ sepakat tentang wajibnya zakat pada tanam-tanaman dan buah-buahan.

  1. 2. Pengertian dan Dasar Hukum Zakat Perdagangan

Yang dimaksud dengan barang dagangan adalah barang-barang yang disiapkan untuk diniagakan demi mendapatkan keuntungan. Barang dagangan dalam bahasa Arab disebut dengan  al-‘uruudhu atau ‘uruu-dhut-tijaarah. Dinamakan demikian karena barang-barang tersebut ditawarkan untuk dijual dan dibeli atau karena ia ditawarkan dan kemudian akan lenyap.[1]

Dalil kewajiban zakat barang dagangan dalam firman Allah surat at-Taubah ayat 103, sebagai berikut:

õ‹è{ ô`ÏB öNÏlÎ;ºuqøBr& Zps%y‰|¹ öNèdãÎdgsÜè? NÍkŽÏj.t“è?ur $pkÍ5 Èe@|¹ur öNÎgø‹n=tæ ( ¨bÎ) y7s?4qn=|¹ Ö`s3y™ öNçl°; 3 ª!$#ur ìì‹ÏJy™ íOŠÎ=tæ ÇÊÉÌÈ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Maksud dari  kata membersihkan tersebut adalah zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda, sedangkan maksud dari kata mensucikan tersebut adalah zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.

Barang dagangan merupakan harta yang paling umum dimiliki oleh orang-orang. Dengan demikian, ia sangat layak untuk masuk ke dalam keumuman ayat  di atas.

Abu Dawud meriwayatkan dari Samurah r.a. bahwa ia berkata,”Rasulullah memerintahkan kami untuk mengeluarkan zakat dari sesuatu yang kami siapkan untuk dijual.” Hal ini karena harta tersebut adalah harta yang berkembang. Dengan demikian, ia wajib dizakati seperti ternak yang diberi makan dari padang rumput.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Keempat Imam Mazhab dan seluruh kaum muslim, kecuali yang menyimpang, telah sepakat akan kewajiban zakat atas barang-barang dagangan ini. kewajiban ini wajib dilaksanakan oleh sang penjual baik ia berada di dalam negerinya sendiri maupun sedang dalam perjalanan, baik ia membeli barang tersebut ketika harganya murah dan menjulanya ketika barang tersebut ketika harganya murah dan menjualnya ketika harganya mahal, maupun jika ia seorang pemilki sebuah toko.

Zakat ini juga wajib dilaksanakan jika barang yang dijual adalah pakaian, makanan (seperti makanan pokok, buah-buahan, lauk pauk atau yang lainnya), wadah-wadah (baik dari keramik atau yang lain), binatang ternak (seperti kuda, bighal, keledai, kambing yang di gemukkan dan sebagainnya) atau budak. Harta dari perdagangan merupakan harta yang tidak tampak yang umum dimilki oleh penduduk negeri, sedangkan binatang ternak adalah harta yang tampak yang mereka milki.” Demikian kata Taimiyyah.

Terdapat beberapa syarat dalam kewajiban zakat atas barang-barang dagangan:

  1. Harta tersebut dimilki dengan usaha sendiri, seperti jual-beli, pemberian wasiat, penyewaan, dan bentuk-bentuk perolehan yang lain.
  2. Harta tersebut dimilki dengan niat diniagakan, yaitu untuk memperoleh keuntungan darinya. Karena perbuatan adalah tergatung niatnya, dan perniagaan adalah termasuk perbuatan, maka wajib diikuti oleh  niat sebagaimans perbuatan-perbuatan yang lain.
  3. Nilainya mencapai nisab emas atau perak.
  4. Kepemilikan terhadapnya mencapai satu tahun. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah: “Tidak ada zakat atas suatu harta hingga mencapai satu tahun”

Akan tetapi, apabila seseorang membeli barang dagangan dengan uang atau barang dagangan yang nilainya mencapai nisab, maka hitungan haul bagi barang dagangan yang baru ia beli adalah berdasarkan sesuatu yang digunakan untuk membelinya.

Harta dagangan adalah harta yang dimilki dengan akad tukar dengan tujuan untuk memperoleh laba, dan harta yang dimilikinya harus merupakan hasil usahanya sendiri. (Mughniyah, 2010: 187)

Hampir semua ulama’ sepakat bahwa perdagangan itu setelah memenuhi syarat tertentu harus dikeluarkan zakat-zakatnya. Yang dimaksud harta perdagangan adalah semua harta yang bisa dipindah untuk diperjualbelikan dan bisa mendatangkan keuntungan.[2]

  1. 3. Pengertian dan Dasar Hukum Zakat Peternakan

Dunia binatang amat luas dan banyak, tetapi yang berguna bagi manusia sedikit sekali. Yang paling berguna adalah binatang-binatang yang oleh orang arab disebut “ an-am” yaitu” unta, sapi termasuk kerbau, kambing dan biri-biri.

Binatang-binatang ternak itu semuanya diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia, diantara lain untuk ditungganginya sebagai kendaraan, dimakan dagingnya, diminum susunya da diambil bulu dan kulitnya. Oleh karena itu pantaslah Allah meminta para pemilik binatang itu bersyukur atas nikmat yang telah dianugerahkanNya kepada mereka.

Realisasi konkrit dari syukur tersebut sesuai dengan tuntunan qur’an dan hadis nabi adalah “zakat” beserta batasan tentang nisab dan besar yang wajib dikeluarkan dan pengiriman para petugas pemungut zakat setiap tahun kepada mereka yang wajib berzakat serta ancaman siksaan di dunia dan azab di akhirat bagi orang-orang yang tidak mau berzakat.

Binatang ternak, khususnya unta merupakan harta yang paling berharga dan paling banyak digunakan bagi orang arab. Oleh karena itulah ditentuka berapa nisab dan besar zakat yang harus dikeluarkan. Dan banyak Negara di dunia yang sumber pendapatannya yang utama adalah ternak dengan jumlah ternak mencapai jutaan ekor. Diantara Negara-negara itu misalnya: sudan, Somali, Ethiopia dan lain-lain.

Hewan ternak termasuk bagian dari harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Namun demikian tidak semua hewan ternak dizakati. Para ulama’ sepakat bahwa hewan ternak yang termasuk bagian dari sumber zakat dan wajib dikeluarkan zakatnya ada tiga jenis, yaitu unta, sapi, dan domba. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Dzar yang artinya “Tiada seorang laki-laki yang mempunyai unta, lembu atau kambing yang tidak diberikan zakatnya, melainkan datanglah binatang-binatang itu pada hari kiamat dalam keadaan lebih gemuk dan lebih besar dari masa di dunia, lalu ia menginjak-injaknya dengan telapak-telapaknya dan menanduknya dengan tandukan-tandukannya. Setiap selesai binatang-binatang itu melakukan hal itu, ia kembali lagi melakukannya dan demikian terus menerus hingga Allah selesai menghukum para manusia”.

  1. 4. Pengertian dan Dasar Hukum Zakat Gaji

Istilah gaji sama dengan profesi, yakni zakat atas penghasilan. Hasil profesi (pegawai negeri/swasta, konsultan, dokter, notaris, dll) merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di masa salaf (generasi terdahulu), oleh karenanya bentuk kasab ini tidak banyak dibahas, khusunya yang berkaitan dengan “zakat”. Lain halnya dengan bentuk kasab yang lebih populer saat itu, seperti pertanian, peternakan dan perniagaan, mendapatkan porsi pembahasan yang sangat memadai dan detail. Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapatkan dari hasil profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada hakekatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin diantra mereka (sesuai dengan ketentuan syara’).

Dengan demikian apabila seseorang dengan hasil profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu zakat, akan tetapi jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup (dan keluarganya), maka ia menjadi mustahiq (penerima zakat). Sedang jika hasilnya hanya sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya, atau lebih sedikit maka baginya tidak wajib zakat. Kebutuhan hidup yang dimaksud adalah kebutuhan pokok, yakni, papan, sandang, pangan dan biaya yang diperlukan untuk menjalankan profesinya.

Zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dapat dikategorikan ke dalam zakat harta (simpanan/kekayaan). Dengan demikian hasil profesi seseorang apabila telah memenuhi ketentuan wajib zakat maka wajib baginya untuk menunaikan zakat.

Semua penghasilan melalui kegiatan professional, apabila telah mencapai nishab maka wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini berdasarkan nash-nash yang bersifat umum, misalnya firman Allah SWT dalam surat al-Dzariyat ayat 19, sebagai berikut:[3]

þ’Îûur öNÎgÏ9ºuqøBr& A,ym È@ͬ!$¡¡=Ïj9 ÏQrãóspRùQ$#ur ÇÊÒÈ

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (QS. Al-Dzariyat;19)

  1. 5. Pengertian dan Dasar Hukum Zakat Saham

Saham merupakan sebagian modal dari sebuah perusahaan yang akan mengalami keuntungan dan kerugian sesuai dengan keuntungan dan kerugian perusahaan tersebut. Pemilik saham merupakan salah seorang rekan kongsi di dalam sebuah perusahaan aau dengan kata lain dia merupakan pemilik sebagian dari harta perusahaan mengikuti ukuran nisbah saham-sahamnya berbanding dengan jumlah keseluruhan saham perusahaan dan pemilik saham berhak menjual sahamnya bila dia kehendaki.[4]

Saham bukan fakta yang berdiri sendiri, namun terkait dengan pasar modal sebagai tempat perdagangannya dan juga terkait dengan perusahaan publik (perseroan terbatas/PT) sebagai pihak yang menerbitkannya.

Yusuf al-Qardhawi mengemukakan dua pendapat yang berkaitan dengan kewajiban zakat pada saham tersebut, yaitu sebagai berikut:

  1. Jika perusahaan itu merupakan perusahaan industri murni artinya tidak melakukan kegiatan perdagangan, maka sahamnya tidak wajib dizakati.
  2. Jika perusahaan tersebut merupakan perusahaan dagang murni yang membeli dan menjual barang-barang tanpa melakukan kegiatan pengelolaan, seperti perusahaan yang menjual hasil-hasil industri dan perusahaan dagang internasional, maka saham-saham atas perusahaan itu wajib dikeluarkan zakatnya.[5]

Sebagaimana landasan hukum bagi harta-harta dalam perekonomian lainnya, landasan kewajiban zakat saham pun diambil dari keumuman ayat tentang harta-harta yang wajib dizakati. Nabi SAW bersabda, “Saidina Ali telah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW telah bersabda: “Apabila kamu mempunyai 200 dirham dan telah cukup haul (genap setahun) diwajibkan zakatnya 5 dirham dan tidak diwajibkan mengeluarkan zakat (emas) kecuali kamu mempunyai 20 dinar. Apabila kamu mempunyai 20 dinar dan telah cukup haulnya, diwajibkan zakatnya setengah dinar. Demikian juga ukurannya jika nilainya bertambah dan tidak diwajibkan zakat bagi sesuatu harta kecuali genap setahun.”

  1. B. Nishab, Waktu, Ukuran, dan Cara Mengeluarkan Zakat Pertanian, Perdagangan, Peternakan, Gaji, dan Saham
  2. 1. Nishab, Ukuran, dan Cara Mengeluarkan Zakat Pertanian

Adapun nishabnya ialah 5 wasaq, berdasarkan Sabda Rasulullah SAW: “Tidak ada zakat di bawah lima wasaq”. Wasaq adalah merupakan salah satu ukuran. Satu wasaq sama dengan 60 sha’ pada masa Rasulullah SAW. Satu sha’ sama dengan 4 muad, yakni takaran dua telapak tangan orang dewasa. Satu sha’ oleh Dairatul Maarif Islamiyah sama dengan 3 liter, maka satu wasaq 180 liter, sedangkan nishab pertanian 5 wasaq sama dengan 900 liter, atau dengan ukuran kilogram, yaitu kira-kira 653 kg.

Adapun ukuran yang dikeluarkan, bila pertanian itu didapatkan dengan cara pengairan (menggunakan alat penyiram tanaman), maka zakatnya sebanyak 1/20 (5%). Dan jika pertanian itu di aliri dengan hujan, maka zakatnya sebanyak 1/10 (10%).

  1. 2. Nishab, Ukuran, dan Cara Mengeluarkan Zakat Perdagangan

Adapun nishab harta hasil perdagangan ini dihitung sesuai dengan nishab sesuai dengan nisab emas dan perak. Setelah diambil modalnya, lalu dihitung dan jika telah memenuhi 1 nishab, maka dikeluarkan zakatnya. (Muslih dan Ihsan, 2007: 60)

Menurut empat madzhab, mengeluarkan zakat harta dagangan hukumnya wajib. Syaratnya harus mencapai 1 tahun. Untuk menghitungkannya pertama harta tersebut diniatkan untuk berdagang. Apabila telah mencapai 1 tahun dan memperoleh untung, maka wajib dizakati. (Mughniyah, 2010: 187)

Menurut Syafi’I dan Hambali: perkiraan untuk dinamakan akhir tahun itu bukan dari awal, pertengahan dan akhir tahun itu bukan dari awal, pertengahan dan akhir tahun. Maka kalau ia (seseorang) tidak memiliki modal yang mencapai nishab pada awal tahun, sampai pada pertengahannya, tetapi pada akhir tahun sudah mencapai nishab, maka ia wajib menzakati. (Mughniyah, 2010: 187)

Hanafi: yang dianggap atau yang dihitung dalam 1 tahun, bukan hanya dipertengahan saja. Maka barangsiapa memiliki harta dagangan yang telah mencapai nishab pada awal tahun, kemudian pada pertengahan tahun berkurang, tapi pada akhir tahun sempurna atau mencapai nishab, maka ia wajib dizakati. Tetapi kalau pada awal ataupun akhir tahun berkurang, maka ia tidak wajib dizakati. (Mughniyah, 2010: 187)

Disyaratkan juga bahwa harga atau nilai barang- barang dagangan tersebut harus mencapai nishab. Maka nilai harga yang menjadi standar adalah nilai harga nilai emas dan perak. Kalau salah satunya sama atau lebih, maka wajib dizakati. Tapi kalau kurang walaupun sedikit, maka tidak wajib dizakati.  (Mughniyah, 2010: 188)

  1. 3. Nishab, Waktu, Ukuran, dan Cara Mengeluarkan Zakat Peternakan

Adapun nishabnya misalkan Jumlah minimal, dalam hal unta misalnya, 5 ekor menurut ijma’ ulama’ pada setiap masa. Dibawah ini jumlah 5 ekor tidaklah wajib zakat, kecuali si pemilik unta ingin juga mengeluarkan zakatnya. Mengenai kambing misalnya, munurut ijma’ pula tidaklah wajib zakat bila di bawah 40 ekor. Hal itu berdasarkan banyak hadist dan praktek rasulullah dan para kholifah yang empat.

Mengenai nisab minimal untuk sapi terdapat perbedaan pendapat yang berkisar antara 5 sampai dengan 30 bahkan 50 ekor.

ZAKAT UNTA

Nisab Unta Banyak zakat yang wajib dikeluarkan
Dari – sampai
5-9 Seekor kambing
10-14 2 ekor kambing
15-19 3 ekor kambing
20-24 4 ekor kambing
25-35 Seekor anak unta betina (berumur 1 tahun lebih)
36-45 Seekor anak unta betina (berumur 2 tahun lebih)
46-60 Seekor anak unta betina (berumur 3 tahun lebih)
61-75 Seekor anak unta betina (berumur 4 tahun lebih)
76-90 2 ekor anak unta betina (berumur 2 tahun lebih)
91-120 2 ekor anak unta betina (berumur 3 tahun lebih)

Adapun lebih dari 120 ekor, maka pendapat yang terpakai menurut kebanyakan para ulama’ adalah sebagaimana daftar berikut, yang isinya setiap 50 ekor unta zakatnya seekor anak unta betina (umur 3 tahun lebih) dan setiap 40 ekor, zakatnya seekor anak unta betina (umur 2 tahun lebih)

Nisab Unta Banyak Zakat yang wajib dikeluarkan
121-129 3 ekor anak unta betina (umur 2 tahun lebih)
130-139 seekor anak unta betina (umur 3 tahun lebih) ditambah 2 ekor anak unta betina (umur 2 tahun lebih)
140-149 2 ekor anak unta betina (umur 3 tahun lebih ditambah  seekor anak unta betina (umur 2 tahun lebih)
150-159 3 ekor anak unta betina (umur 3 tahun lebih)
160-169 4 ekor anak unta betina (umur 2 tahun lebih)
170-179 3 ekor anak unta betina (umur 2 tahun lebih ditambah seekor anak unta betina (umur 3 tahun lebih)
180-189 2 ekor anak unta betina (umur 2 tahun lebih) ditambah 2 ekor anak unta betina (umur 3 tahun lebih)
190-199 3 ekor anak unta betina (umur 3 tahun lebih) ditambah seekor anak unta betina (umur 2 tahun lebih)
200-209 4 ekor anak unta betina (umur 3 tahun lebih) atau 5 ekor anak unta betina (umur 2 tahun lebih)

Dari kedua daftar tadi jelaslah, bahwa batas jumlah minimal wajib zakat unta adalah 5 ekor. Barang siapa yang memiliki 4 ekor, maka tidaklah wajib zakat atasnya, kecuali sacara sukarela.

  1. 4. Nishab, Waktu, Ukuran, dan Cara Mengeluarkan Zakat Gaji

Nisab zakat pendapatan / profesi setara dengan nisab zakat tanaman dan buah-buahan sebesar 5 wasaq atau 652,8 kg gabah setara dengan 520 kg beras, kadar zakatnya sebesar 2,5 %. Waktu untuk mengeluarkan zakat profesi pada setiap kali menerima diqiyaskan dengan waktu pengeluaran zakat tanaman yaitu setiap kali panen.

  1. 5. Nishab, Waktu, Ukuran, dan Cara Mengeluarkan Zakat Saham

Saham dianalogikan pada zakat perdagangan, baik nishab maupun ukurannya, yaitu senilai 85 gram emas dan zakatnya sebesar 2,5%. Sementara itu muktamar internasional pertama tentang zakat (Kuwait, 29 Rajab 1404 H) menyatakan bahwa jika perusahaan telah mengeluarkan zakatnya sebelum dividen dibagikan kepada pemegang saham, maka pemegang saham tidak perlu lagi mengeluarkan zakatnya. Jika belum mengeluarkan, maka tentu pemegang sahamlah yang berkewajiban mengeluarkan zakatnya.

BAB III

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Zakat Pertanian yang dimaksudkan di sini adalah bahan-bahan yang digunakan sebagai makanan pokok dan tidak busuk jika disimpan, misalnya dari tumbuh-tumbuhan, yaitu jagung, beras, dan gandum. Sedang dari jenis buah-buahan misalnya, kurma, dan anggur. Dasar hukumnya terdapat dalam surat al-An’am ayat 141 dan surat al-Baqarah ayat 267 serta hadits dan ijma’, nishab untuk pertanian adalah 5 wasaq sama dengan 900 liter, atau dengan ukuran kilogram, yaitu kira-kira 653 kg.

Barang dagangan adalah barang-barang yang disiapkan untuk diniagakan demi mendapatkan keuntungan. Hampir semua ulama’ sepakat bahwa perdagangan itu setelah memenuhi syarat tertentu harus dikeluarkan zakat-zakatnya. Yang dimaksud harta perdagangan adalah semua harta yang bisa dipindah untuk diperjualbelikan dan bisa mendatangkan keuntungan. Adapun nishab harta hasil perdagangan ini dihitung sesuai dengan nishab sesuai dengan nisab emas dan perak. Setelah diambil modalnya, lalu dihitung dan jika telah memenuhi 1 nishab, maka dikeluarkan zakatnya.

Hewan ternak termasuk bagian dari harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Namun demikian tidak semua hewan ternak dizakati. Para ulama’ sepakat bahwa hewan ternak yang termasuk bagian dari sumber zakat dan wajib dikeluarkan zakatnya ada tiga jenis, yaitu unta, sapi, dan domba. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Dzar. Adapun nishabnya misalkan Jumlah minimal, dalam hal unta misalnya, 5 ekor menurut ijma’ ulama’ pada setiap masa. Dibawah ini jumlah 5 ekor tidaklah wajib zakat, kecuali si pemilik unta ingin juga mengeluarkan zakatnya. Mengenai kambing misalnya, munurut ijma’ pula tidaklah wajib zakat bila di bawah 40 ekor. Hal itu berdasarkan banyak hadist dan praktek rasulullah dan para kholifah yang empat.

Zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dapat dikategorikan ke dalam zakat harta (simpanan/kekayaan). Dengan demikian hasil profesi seseorang apabila telah memenuhi ketentuan wajib zakat maka wajib baginya untuk menunaikan zakat. Semua penghasilan melalui kegiatan professional, apabila telah mencapai nishab maka wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini berdasarkan nash-nash yang bersifat umum, misalnya firman Allah SWT dalam surat al-Dzariyat ayat 19. Nisab zakat pendapatan / profesi setara dengan nisab zakat tanaman dan buah-buahan sebesar 5 wasaq atau 652,8 kg gabah setara dengan 520 kg beras, kadar zakatnya sebesar 2,5 %.

Saham merupakan sebagian modal dari sebuah perusahaan yang akan mengalami keuntungan dan kerugian sesuai dengan keuntungan dan kerugian perusahaan tersebut. Saham bukan fakta yang berdiri sendiri, namun terkait dengan pasar modal sebagai tempat perdagangannya dan juga terkait dengan perusahaan publik (perseroan terbatas/PT) sebagai pihak yang menerbitkannya. landasan kewajiban zakat saham pun diambil dari keumuman ayat tentang harta-harta yang wajib dizakati. Saham dianalogikan pada zakat perdagangan, baik nishab maupun ukurannya, yaitu senilai 85 gram emas dan zakatnya sebesar 2,5%.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Fauzan, Saleh. 2005.  Fiqih sehari-hari, Jakarta: Gema Insani

Fakhruddin. 2008.  Fiqih & Manajemen Zakat di Indonesia, Malang: UIN Malang Press

Mughniyah. 2010.  Fiqih lima Madzab, Jakarta: Penerbit Lentera.

http://www.semuabisnis.com/articles/169611/1/Pengertian-Zakat-Infaq-Shadaqah-dan-Perbedaannya/Page1.html

Rasjid, Sulaiman. 2010. Fiqih Islam, Bandung: Sinar Baru Algensido.


[1] Saleh Al-Fauzan, Fiqih sehari-hari, Jakarta: Gema Insani. 2005, hal:268

[2] Fakhruddin, Fiqih & Manajemen Zakat di Indonesia, Malang: UIN Malang Press, 2008. hal. 109

[3] Fakhruddin, Fiqih & Manajemen Zakat di Indonesia, Malang: UIN Malang Press, 2008. hal. 138

[4] Ibid,….. hal. 153

[5] Ibid,….. hal. 156

Asmaul Husna

Allah الله Allah
1 Ar Rahman الرحمن Yang Maha Pengasih
2 Ar Rahiim الرحيم Yang Maha Penyayang
3 Al Malik الملك Yang Maha Merajai/Memerintah
4 Al Quddus القدوس Yang Maha Suci
5 As Salaam السلام Yang Maha Memberi Kesejahteraan
6 Al Mu`min المؤمن Yang Maha Memberi Keamanan
7 Al Muhaimin المهيمن Yang Maha Pemelihara
8 Al `Aziiz العزيز Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
9 Al Jabbar الجبار Yang Maha Perkasa
10 Al Mutakabbir المتكبر Yang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11 Al Khaliq الخالق Yang Maha Pencipta
12 Al Baari` البارئ Yang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
13 Al Mushawwir المصور Yang Maha Membentuk Rupa (makhluknya)
14 Al Ghaffaar الغفار Yang Maha Pengampun
15 Al Qahhaar القهار Yang Maha Memaksa
16 Al Wahhaab الوهاب Yang Maha Pemberi Karunia
17 Ar Razzaaq الرزاق Yang Maha Pemberi Rejeki
18 Al Fattaah الفتاح Yang Maha Pembuka Rahmat
19 Al `Aliim العليم Yang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20 Al Qaabidh القابض Yang Maha Menyempitkan (makhluknya)
21 Al Baasith الباسط Yang Maha Melapangkan (makhluknya)
22 Al Khaafidh الخافض Yang Maha Merendahkan (makhluknya)
23 Ar Raafi` الرافع Yang Maha Meninggikan (makhluknya)
24 Al Mu`izz المعز Yang Maha Memuliakan (makhluknya)
25 Al Mudzil المذل Yang Maha Menghinakan (makhluknya)
26 Al Samii` السميع Yang Maha Mendengar
27 Al Bashiir البصير Yang Maha Melihat
28 Al Hakam الحكم Yang Maha Menetapkan
29 Al `Adl العدل Yang Maha Adil
30 Al Lathiif اللطيف Yang Maha Lembut
31 Al Khabiir الخبير Yang Maha Mengenal
32 Al Haliim الحليم Yang Maha Penyantun
33 Al `Azhiim العظيم Yang Maha Agung
34 Al Ghafuur الغفور Yang Maha Pengampun
35 As Syakuur الشكور Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36 Al `Aliy العلى Yang Maha Tinggi
37 Al Kabiir الكبير Yang Maha Besar
38 Al Hafizh الحفيظ Yang Maha Memelihara
39 Al Muqiit المقيت Yang Maha Pemberi Kecukupan
40 Al Hasiib الحسيب Yang Maha Membuat Perhitungan
41 Al Jaliil الجليل Yang Maha Mulia
42 Al Kariim الكريم Yang Maha Mulia
43 Ar Raqiib الرقيب Yang Maha Mengawasi
44 Al Mujiib المجيب Yang Maha Mengabulkan
45 Al Waasi` الواسع Yang Maha Luas
46 Al Hakiim الحكيم Yang Maha Maka Bijaksana
47 Al Waduud الودود Yang Maha Mengasihi
48 Al Majiid المجيد Yang Maha Mulia
49 Al Baa`its الباعث Yang Maha Membangkitkan
50 As Syahiid الشهيد Yang Maha Menyaksikan
51 Al Haqq الحق Yang Maha Benar
52 Al Wakiil الوكيل Yang Maha Memelihara
53 Al Qawiyyu القوى Yang Maha Kuat
54 Al Matiin المتين Yang Maha Kokoh
55 Al Waliyy الولى Yang Maha Melindungi
56 Al Hamiid الحميد Yang Maha Terpuji
57 Al Muhshii المحصى Yang Maha Mengkalkulasi
58 Al Mubdi` المبدئ Yang Maha Memulai
59 Al Mu`iid المعيد Yang Maha Mengembalikan Kehidupan
60 Al Muhyii المحيى Yang Maha Menghidupkan
61 Al Mumiitu المميت Yang Maha Mematikan
62 Al Hayyu الحي Yang Maha Hidup
63 Al Qayyuum القيوم Yang Maha Mandiri
64 Al Waajid الواجد Yang Maha Penemu
65 Al Maajid الماجد Yang Maha Mulia
66 Al Wahiid الواحد Yang Maha Tunggal
67 Al Ahad الاحد Yang Maha Esa
68 As Shamad الصمد Yang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
69 Al Qaadir القادر Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70 Al Muqtadir المقتدر Yang Maha Berkuasa
71 Al Muqaddim المقدم Yang Maha Mendahulukan
72 Al Mu`akkhir المؤخر Yang Maha Mengakhirkan
73 Al Awwal الأول Yang Maha Awal
74 Al Aakhir الأخر Yang Maha Akhir
75 Az Zhaahir الظاهر Yang Maha Nyata
76 Al Baathin الباطن Yang Maha Ghaib
77 Al Waali الوالي Yang Maha Memerintah
78 Al Muta`aalii المتعالي Yang Maha Tinggi
79 Al Barri البر Yang Maha Penderma
80 At Tawwaab التواب Yang Maha Penerima Tobat
81 Al Muntaqim المنتقم Yang Maha Pemberi Balasan
82 Al Afuww العفو Yang Maha Pemaaf
83 Ar Ra`uuf الرؤوف Yang Maha Pengasuh
84 Malikul Mulk مالك الملك Yang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
85 Dzul Jalaali Wal Ikraam ذو الجلال و الإكرام Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86 Al Muqsith المقسط Yang Maha Pemberi Keadilan
87 Al Jamii` الجامع Yang Maha Mengumpulkan
88 Al Ghaniyy الغنى Yang Maha Kaya
89 Al Mughnii المغنى Yang Maha Pemberi Kekayaan
90 Al Maani المانع Yang Maha Mencegah
91 Ad Dhaar الضار Yang Maha Penimpa Kemudharatan
92 An Nafii` النافع Yang Maha Memberi Manfaat
93 An Nuur النور Yang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94 Al Haadii الهادئ Yang Maha Pemberi Petunjuk
95 Al Baadii البديع Yang Indah Tidak Mempunyai Banding
96 Al Baaqii الباقي Yang Maha Kekal
97 Al Waarits الوارث Yang Maha Pewaris
98 Ar Rasyiid الرشيد Yang Maha Pandai
99 As Shabuur الصبور Yang Maha Sabar



fiqh islami harus dikuasai….!!!!

A. WAKALAH

1.      Pengertian Wakalah

Secara bahasa, wakalah bermakna menjaga atau juga bermakna mendelegasikan mandat, menyerahkan sesuatu, seperti halnya firman Allah dalam QS. Yusuf: 55.

tA$s% ÓÍ_ù=yèô_$# 4’n?tã ÈûÉî!#t“yz ÇÚö‘F{$# ( ’ÎoTÎ) îáŠÏÿym ÒOŠÎ=tæ ÇÎÎÈ

“Berkata Yusuf: “Jadikanlah Aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya Aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”.”

Menurut Hanafiyah, wakalah adalah memosisikan orang lain sebagai pengganti dirinya untuk menyelesaikan suatu persoalan yang diperbolehkan secara syar’I dan jelas jenis pekerjaannya. Atau mendelegasikan suatu persoalan kepada orang lain (wakil). Menurut Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hambaliah, wakalah adalah prosesi pendelegasian sebuah pekerjaan yang harus dikerjakan, kepada orang lain sebagai penggantinya, guna menyelesaikan pekerjaan tersebut dalam masa hidupnya (Zuhaili: 1989, IV, hal. 150).[1]

Berwakil ialah menyerahkan pekerjaan yang dikerjakan kepada yang lain, agar dikerjakannya (wakil) semasa hidupnya (yang berwakil). Hukum berwakil sunat, kadang-kadang menjadi wajib kalau terpaksa, dan haram kalau pekerjaan yang diwakilkan itu pekerjaan yang haram, dan makruh kalau pekerjaan itu makruh.

“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini.” (QS Al-Kahfi 18: 19)

Terdapat pula hadits nabi:

Berkata Abu Hurairah: “Telah berwakil Nabi saw. Kepada saya untuk memelihara zakat fitrah, dan beliau telah memberi “Uqbah seekor kambing agar dibagikan kepada sahabat-sahabat beliau.”[2]

Perwakilan adalah al-wakalah atau al-Wikalah. Menurut bahasa artinya adalah al-hifdz, al-kifayah, al-dhaman dan al-tafwidh (penyerahan, pendelegasian dan pemberian mandat). Al-wakalah atau al-wikalah menurut istilah para ulama berbeda-beda antara lain sebagai berikut.

1.      Malikiyah berpendapat bahwa al-wakalah ialah:

“Seseorang menggantikan (menempati) tempat yang lain dalam hak (kewajiban), dia yang mengelola pada posisi itu.”

2.      Hanafiyah berpendapat bahwa al-wakalah ialah:

“Seseorang menempati diri orang lain dalam tasharruf (pengelolaan).”

3.      Ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa al-wakalah ialah:

“Suatu ibarah seorang menyerahkan sesuatu kepada yang lain untuk dikerjakan ketika hidupnya.”

4.      Al-Hanabillah berpendapat bahwa al-wakalah ialah permintaan “ganti seseorang yang membolehkan tasharruf yang seimbang pada pihak yang lain, yang di dalamnya terdapat penggantian dari hak-hak Allah dan hak-hak manusia.

5.      Menurut Syayyid al-Bakri Ibnu al-‘Arif billah al-Sayyid Muhammad Syatha al-Dhimyati al-wakalah ialah:

“Seseorang menyerahkan urusannya kepada yang lain yang di dalamnya terdapat penggantian.”

6.      Menurut Imam Taqy al-Din Abi Bakr Ibn Muhammad al-Husaini bahwa al-wakalah ialah:

“Seseorang yang menyerahkan hartanya untuk dikelolanya yang ada penggantiannya kepada yang lain supaya menjaganya ketika hidupnya.”

7.      Menurut Hasbi Ash-Shiddiqie bahwa al-wakalah ialah:

“Akad penyerahan kekuasaan, pada akad itu seseorang menunjuk orang lain sebagai gantinya dalam bertindak.”

8.      Menurut Idris Ahmad al-wakalah ialah seseorang yang menyerahkan suatu urusannya kepada orang lain yang dibolehkan oleh syara’ supaya yang diwakilkan dapat mengerjakan apa yang harus dilakukan dan berlaku selama yang mewakilkan masih hidup.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, kiranya dapat diambil kesimpuolan bahwa yang dimaksud dengan al-wakalah ialah penyerahan dari seseorang kepada orang lain untuk mengerjakan sesuatu , perwakilan berlaku selama yang mewakilkan masih hidup[3]

Secara bahasa Wakaalah adalah penyerahan (perlimpahan). Sebagaimana jika Anda mengatakan,”Saya mewakilkan urusan saya kepada Allah.” Artinya Anda menyerahkannya kepada Allah.

Secara istilah, Wakaalah adalah penyerahan yang dilakukan oleh orang yang boleh ber-tasharruf kepada orang lain yang juga boleh ber-tasharruf dalam sesuatu yang boleh digantikan.

Wakaalah dibolehkan berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma’. Allah berfirman:

“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini.” (QS Al-Kahfi 18: 19)

Allah berfirman:

“Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”” (QS Yusuf 12: 55)

Dan Allah berfirman:

“pengurus-pengurus zakat.” (QS At-Taubah 9: 60)

Rasulullah mewakilkan kepada Urwah ibnul-Ja’d untuk membelikan kambing. Beliau juga mewakilkan pernikahan beliau dengan Maimunah kepada Abu Rafi’. Dan beliau juga mengutus orang-orang untuk mengumpulkan zakat[4]

2.  Dasar Hukumnya

Dasar hukum al-wakalah adalah firman Allah Swt.

“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini.” (QS Al-Kahfi 18: 19)

“Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.” (QS An-Nisaa 4: 35)

Rasulullah saw bersabda:

“Dari Jabir r.a. ia berkata: Aku keluar pergi ke Khaibar, lalu aku datang kepada Rasulullah Saw. Maka beliau bersabda,”Bila engkau datang pada wakilku di Khaibar, maka ambillah darinya 15 wasaq.” (Riwayat Abu Dawud)

“Dari Jabir r.a. bahwa nabi Saw. Menyembelih kurban sebanyak 63 ekor hewan dan Ali r.a. disuruh menyembelih binatang kurban yang belum disembelih.” (Riwayat Muslim)

“Sesungguhnya Nabi Saw. Mewakilkan kepada Abu Rafi’ dan seorang lagi dari kaum Anshar, lalu kedua orang itu menikahkan Nabi dengan Maimunah r.a.”[5]

3. Rukun dan Syarat Wakalah

Rukun-rukun al-wakalah adalah sebagai berikut:

1.      Orang yang mewakilkan, syarat-syarat bagi orang yang mewakilkan ialah dia pemilik barang atau di bawah kekuasaannya dan dapat bertindak pada harta tersebut. Jika yang mewakilkan bukan pemilik atau pengampu, al-wakalah tersebut batal. Anak kecil yang dapat membedakan baik dan buruk dapat (boleh) mewakilkan tindakan-tindakan yang bermanfaat mahdhah, seperti perwakilan untuk menerima hibah, sedekah, dan wasiat. Jika tindakan itu termasuk tindakan dharar mahdhah (berbahaya), seperti thalak, memberikan sedekah, menghibahkan, dan mewasiatkan, tindakan tersebut batal.

2.      Wakil (yang mewakili), syarat-syarat bagi yang mewakili ialah bahwa yng mewakili adalah orang yang berakal. Bila seorang wakil itu idiot, gila, atau belum dewasa, maka perwakilan batal. Menurut Hanafiyah anak kecil yang sudah dapat membedakan yang baik dan buruk sah untuk menjadi wakil, alasannya ialah bahwa Amar bin Sayyidah Ummuh Salah mengawinkan ibunya kepada Rasulullah Saw, saat itu Amar merupakan anak kecil yang masih belum baligh.

3.      Muwakkal fih (sesuatu yang diwakilkan), syarat-syarat sesuatu yang diwakilkan ialah:

a.       Menerima penggantian, maksudnya boleh diwakilkan pada orang lain untuk mengerjakannya, maka tidaklah sah mewakilkan untuk mengerjakan shalat, puasa, dan membaca Al-Quran, karena hal ini tidak bisa diwakilkan.

b.      Dimiliki oleh yang berwakil ketika ia berwakil itu, maka batal mewakilkan sesuatu yang akan dibeli.

c.       Diketahui dengan jelas, maka batal mewakilkan sesuatu yang masih samar, seperti seseorang berkata,”Aku jadikan engkau sebagai wakilku untuk mengawinkan salah seorang anakku.”

4.      Shigat, yaitu lafaz mewakilkan, shigat diucapkan dari yang berwakil sebagai simbol keridhaannya untuk mewakilkan, dan wakil menerimanya.[6]

Seorang muwakkil, disyariatkan harus memiliki otoritas penuh atas suatu pekerjaan yang akan didelegasikan kepada orang lain. Dengan alasan, orang yang tidak memiliki otaritas sebuah transaksi, tidak bisa memindahkan otoritas tersebut kepada orang lain. Akad wakalah tidak bisa dijalankan oleh orang yang tidak memiliki ahliyyah, seperti orang gila, anak kecilyang belum tamyiz. Ulama fiqh selain madzhab Hanafiyah menyatakan, akad wakalah tidak bisa dilaksanakan oleh anak kecil secara mutlak.

Seorang wakil, disyaratkan haruslah orang yang berakal dan tamyiz. Anak kecil, orang gila, anak belum tamyiz, tidak boleh menjadi wakil, ini menurut pendapat ulama Hanafiyah. Ulama selain Hanafitah juga menyatakan hal yang sama. Anak kecil tidak boleh menjadi wakil, karena mereka belum bisa terbebani dengan hukum- hukum syar’i. Segala tindakan yang dilakukan, belum bisa diakui.

Objek yang diwakilkan (mahal al wakalah, muwakkal fiih) harus memenuhi beberapa syarat. Objek tersebut harus diketahui oleh wakil, wakil mengetahui secara jelas apa yang harus dikerjakan dengan spesifikasi yang diinginkan. Sesuatu yang diwakilkan itu, harus diperbolehkan secara syar’i. Tidak diperbolehkan mewakilkan sesuatu yang diharamkan syar’I, seperti mencuri, merampok, dan lain- lain. Objek tersebut memang bisa diwakilkan dengan didelegasikan (diwakilkan) kepada orang lain, seperti akad jual beli, ijarah, dan lain- lain.[7]

Yang menjadi wakil tidak boleh berwakil pula kepada orang lain, kecuali dengan izin dari yang berwakil atau karena terpaksa, umpamanya pekerjaan yang diwakilkan amat banyak sehingga tak dapat dikerjakan sendiri oleh wakil, maka dia boleh berwakil untuk mengerjakan yang tidak dapat dia mengerjakannya.

Izin dari yang berwakil seperti dia berkata: Carilah wakil dirimu sendiri, maka wakil yang kedua berarti wakil dari wakil yang pertama, berhenti ia dengan berhentinya wakil yang pertama. Kalau yang berwakil berkata: berwakillah dari saya, atau tidak diterangkan dari siapa, maka yang kedua adalah wakil dari yang berwakil, jadi dia tidak berhenti dengan sebab berhentinya wakil yang pertama. Sewaktu wakil boleh berwakil sebagai tersebut di atas, dia wajib mencari wakil yang dipercayainya agar kemaslahatan yang berwakil terjaga dengan baik, kecuali apabila ditentukan oleh yang berwakil, maka ia harus turut sebagai ketentuannya.

Berwakil akad yang tidak mesti terus, berarti yang berwakil dan wakil boleh memperhatikan perwakilan antara keduanya bila saja dihendaki (sembarang waktu). Wakil adalah seorang yang dipercayai dari pihak yang berwakil. Oleh karenanya, apabila rusak atau hilang suatu yang diwakilkan, wakil tidak mengganti, kecuali karena lalainya. Wakil tidak boleh menjual atau membeli, kecuali dengan uang dan harga biasa di waktu itu, juga dia tidak boleh menjual dengan rugi yang banyak. Juga dia tidak sah menjual barang yang diwakilkan kepadanya, untuk dirinya sendiri.

4. Hal-Hal Yang Berkaitan Dengan Wakalah

Mewakilkan untuk Berjual Beli

Seseorang mewakilkan orang lain untuk menjual sesuatu tanpa adanya ikatan harga tertentu, pembayarannya tunai (kontan) atau berangsur, di kampung atau di kota, maka wakil (yang mewakili) tidak boleh menjualnya dengan seenaknya saja. Dia harus menjual sesuai dengan harga pada umumnya dewasa itu sehingga dapat dihindari ghubun (kecurangan), kecuali bila penjualan tersebut diridhai oleh yang mewakilkan.

Pengertian mewakilkan secara mutlak bukan berarti seorang wakil dapat bertindak semena-mena, tetapi maknanya dia berbuat untuk melakukan jual beli yang dikenal di kalangan para pedagang dan untuk hal yang lebih berguna bagi yang mewakilkan.

Abu Hanifah berpendapat bahwa wakil tersebut boleh menjual sebagaimana kehendak wakil itu sendiri. Kontan atau berangsur-angsur, seimbang dengan harga kebiasaan maupun tidak, baik kemungkinan adanya kecurangan maupun tidak, baik dengan uang negara yang bersangkutan maupun dengan uang negara lain, inilah pengertian mutlak menurut Imam Abu Hanifah.

Jika perwakilan bersifat terikat, wakil berkewajiban mengikuti apa saja yang telah ditentukan oleh orang yang mewakilkan.ia tidak boleh menyalahinya, kecuali kepada yang lebih buat orang yang mewakilkan. Bila dalam persyaratan ditentukan bahwa benda itu harus dijual dengan harga Rp.10.000,00 kemudian dijual dengan harga yang lebih tinggi, misalnya Rp.12.000,00 atau dalam akad ditentukan bahwa barang itu boleh dijual dengan angsuran, kemudian barang tersebut dijual secara tunai, maka penjualan ini sah menurut pandangan Abu Hanifah.

Bila yang mewakili menyalahi aturan-aturan yang telah disepakati ketika akad, penyimpangan tersebut dapat merugikan pihak yang mewakilkan, maka tindakan tersebut bathil menurut pandangan Mazhab Syafi’i. Menurut Hanafi tindakan itu tergantung pada kerelaan orang yang mewakilkan. Jika yang mewakilkan membolehkannya, maka menjadi sah, bila tidak meridhainya, maka menjadi batal.

Imam malik berpendapat bahwa wakil mempunyai hak (boleh) membeli benda-benda yang diwakilkan kepadanya, umpamanya tuan Amir mewakilkan tuan Ahmad untuk menjual seekor kerbau, maka tuan Amir boleh membeli kerbau tersebut meskipun dia telah menjadi wakil dari penjual. Sementara itu, menurut Abu Hanifah, al-Syafi’i, dan Ahmad dalam salah satu riwayatnya yang paling jelas, wakil itu tidak boleh menjadi pembeli sebab menjadi tabi’at manusia, bahwa wakil tersebut ingin membeli sesuatu untuk kepentingannya dengan harga yang lebih murah, sedangkan tujuan orang yang memberikan kuasa (mewakilkan) bersungguh untuk mendapatkan tambahan[8].

Orang yang Boleh Mewakilkan dan Menjadi Wakil

Orang yang mempunyai wewenang untuk melakukan sesuatu terhadap suatu hal atau benda, boleh mewakilkannya kepada orang lain dan boleh menjadi wakil. Sedangkan, orang yang tidak boleh melakukannya sendiri, maka wakilnya lebih tidak boleh melakukannya. Orang yang diwakilkan untuk membeli suatu barang, tidak boleh membelinya dari miliknya sendiri. Begitu juga jika ia menjadi wakil untuk menjualkan sesuatu, maka ia tidak boleh menjualnya kepada dirinya sendiri. Karena dalam kebiasaan, seseorang menjual sesuatu kepada orang lain. Dan, karena hal itu bisa menimbulkan tuduhan terhadap dirinya (seperti untuk mencari keuntungan).

Demikian juga seseorang yang menjadi wakil untuk menjual atau membeli sesuatu, tidak boleh menjual dan membelinya dari anak, orang tua dan isterinya, serta semua orang yang tidak diterima kesaksian mereka atasnya. Karena hal itu bisa menimbulkan tuduhan terhadapnya untuk menguntungkan mereka, sebagaimana ia juga tertuduh jika membeli atau menjual untuk dirinya sendiri.

Hak Orang yang Mewakilkan dan Wakil

Orang yang mewakilkan memiliki hak-hak akad, seperti menyerahkan uang bayaran, menerima barang dagangan, mengembalikan barang karena ada cacat, dan menjamin ganti jika ada cacat. Dan, dalam menjual wakil berhak menyerahkan barang dagangan, namun tidak berhak menerima uang bayaran tanpa seizin orang yang mewakilkan (muwakkil) atau dengan adanya indikasi yang menunjukkan izinnya. Seperti jika wakil menjualnya di sebuah tempat, di mana uang pembayarannya akan hilang jika tidak ia terima. Namun dalam membeli, wakil boleh menyerahkan uang pembayaran, karena pembayaran termasuk dalam kesempurnaan pembelian.

Wakil dalam persengketaan tidak boleh menerima barang, sedangkan wakil dalam penerimaan barang boleh bersengketa. Karena, ia tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan persengketaan tersebut.

Hal-hal yang Harus Dijamin dan yang Tidak Harus Dijamin Oleh Wakil

Wakil adalah orang yang dipercaya yang tidak wajib mengganti sesuatu yang rusak di tangannya, jika kerusakan tersebut bukan karena perbuatannya. Namun jika kerusakan tersebut karena perbuatannya, atau ketika diminta oleh pemiliknya ia tidak menyerahkannya bukan karena ada sebab, maka ia wajib menjaminnya. Dalam jual beli dan sewa-menyewa, perkataan atau pengakuan wakil tentang hilangnya uang pembayaran, rusaknya benda yang diwakilkan kepadanya atau jumlah harga dari benda yang ia belikan atau ia sewakan untuk muwakkil adalah diterima. Wallahu a’lam[9]

5.  Berakhirnya Walakah

Akad wakaalah batal atau terhenti dengan adanya pembatalan, kematian, atau karena gila yang terus-menerus, baik dari salah satu pihak atau dari keduanya.

Wakaalah juga batal jika muwakkil memecat wakilnya, serta karena terjadi al-hajr (pembatasan) terhadap salah satu pihak karena hilangnya kelayakan untuk melakukan pekerjaan, seperti kurang akal, berikut sebab-sebabnya:

1.      Matinya salah seorang dari yang berakad karena salah satu syarat sah akad adalah orang yang berakad masih hidup.

2.      Bila salah seorang yang berakad gila, karena syarat sah akad salah satunya orang yang berakad mempunyai akal.

3.      Dihentikannya pekerjaan yang dimaksud, karena jika telah berhenti, dalam keadaan seperti ini al-wakalah tidak berfungsi lagi.

4.      Pemutusan oleh orang yang mewakilkan terhadap wakil meskipun wakil belum mengetahui (pendapat Syafi’i dan Hambali). Menurut Mazhab Hanafi wakil wajib mengetahui putusan yang mewakilkan. Sebelum ia mengetahui hal itu, tindakannya itu tak ubah seperti sebelum diputuskan, untuk segala hukumnya.

5.      Wakil memutuskan sendiri, menurut Mazhab Hanafi tidak perlu orang yang mewakilkan mengetahui pemutusan dirinya atau tidak perlu kehadirannya, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

6.      Keluarnya orang yang mewakilkan dari status pemilikan.

B.  IQRAR (Pengakuan)

1. Pengertian Iqrar

Ikrar berasal dari kata qarra asy-syaia, yaqirru. Ikrar menurut bahasa berarti itsbaat (menetapkan). Dalam istilah syara’ ikrar berarti pengakuan terhadap apa yang didakwakan. Ikrar merupakan dalil yang terkuat untuk menetapkan dakwaan pendakwa. Oleh sebab itu, mereka berkata ikrar adalah raja dari pembuktian atau dinamakan pula kesaksian diri.[10]

Iqrar ialah mengakui akan kebenaran sesuatu yang bersangkutan dengan dirinya untuk orang lain; umpamanya seorang berkata: Saya mengaku bahwa saya telah minum arak, atau saya mengaku bahwa saya berutang kepada orang ini.

Firman Allah Swt:

“Jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri.” (QS An-Nisaa 4: 135)

Rasulullah bersabda:

واغد ياانيس على امراة هذا فان اعترفت فارجمها

“Pergilah, wahai Unais, kepada isteri orang ini. Bila dia mengakui (bahwa dia telah berzina), maka rajamlah dia.”

Kata ahli tafsir, saksi atas diri sendiri itulah yang dimaksud dengan iqrar

Rahasianya ialah guna membuktikan (mentahkikkan) kebenaran, melahirkan budi pekerti yang baik, dan menjauhkan diri dari sesuatu yang bathil[11]

2.  Rukun Dan Syarat Sahnya Iqrar

1.      Yang mengaku: disyaratkan keadaannya ahli tasharruf dan sekehendaknya (dengan kemauan sendiri).

2.      Yang diakui olehnya (muqar lah); hendaklah keadaannya berhak memiliki sesuatu yang dimilikinya.

3.      Hak yang diakui: disyaratkan keadaan hak, bukan kepunyaan yang mengakui ketika ia iqrar.

4.      Lafaz: syarat lafaz hendaklah menunjukkan ketentuan hak yang diakui.

Hak yang diakui tadi, kalau hanya hak yang bersangkutan dengan Alllah semata-mata, minum arak umpamanya, yang mengaku boleh rujuk (membatalkan pengakuan yang sudah diakuinya); umpamanya dia berkata sesudah dia mengaku: saya sebenarnya tidak minum arak. Apabila dia sudah rujuk, siksaan minum tidak dilakukan kepadanya. Sabda Nabi Muhammad SAW:[12]

ادراوا الحدود بالشبهات

“Hindarkanlah hudud dengan masalah syubhat.”

Adapun bila hak yang diakui tadi adalah hak manusia, tidak sah dibatalkan. Kalau hak yang diakui itu kurang jelas hendaklah diminta penjelasan, dan penjelasan itu hendaklah diterima. [13]

Disyaratkan untuk sahnya ikrar hal-hal berikut ini: Berakal, baligh, ridha, boleh bertasharruf (bertindak); dan agar orang yang berikrar itu tidak main-main dan tidak mengikrarkan apa yang menurut akal dan adat kebiasaan mustahil.

Maka tidak sah ikrar orang gila, anak kecil, orang yang dipaksa, orang yang dibatasi tindakannya, orang yang main-main dan orang yang berikrar dengan apa yang mustahil menurut akal dan adat kebiasaan karena kedustaannya dalam hal yang demikian ini jelas; sedang hukum tidak halal ditetapkan berdasarkan kedustaan

3.  Hal-hal Yang Berkaitan Dengan Iqrar

Ikrar Mengenai Hutang

Apabila seorang manusia berikrar terhadap salah seorang dari ahli warisnya mengenai hutang, maka jika dia dalam keadaannya sakit yang menyebabkan kematian tidak sah ikrarnya itu sehingga dibenarkan oleh semua ahli waris. Hal itu disebabkan keadaannya yang sakit memungkinkan ikrarnya ini menjadikan ahli waris lain tidak mendapatkan bagian, disebabkan keadaannya di waktu sakit. Adapun bila ikrarnya itu dalam keadaan sehat maka ikrar itu dibolehkan. Dan kemungkinan keinginan untuk menjauhkan ahli waris yang lain dari warisan itu hanyalah semata-mata kemungkinan dan dugaan yang tidak menghalangi kehujjahan ikrarnya itu.

Bagi madzhab Syafii, ikrar dari orang yang sehat itu sah, sebab tidak ada halangan bagi terwujudnya syarat-syarat kesehatan. Sedang ikrar dari orang sakit yang menyebabkan kematian, maka bila dia berikrar kepada seorang asing, maka ikrarnya sah. Baik yang diikrarkan itu hutang ataupun barang. Dikatakan pula bahwa ikrar itu tidak lebih dari sepertiga.

Apabila ikrarnya itu terhadap ahli waris maka menurut pendapat yang kuat diantara mereka ikrar itu sah; sebab orang yang berikrar itu dalam keadaan di mana orang yang pendusta berbicara benar dan orang yang berdosa bertaubat. Pada kenyataannya, dalam keadaan yang sepereti ini orang itu tidak berikrar kecuali untuk terwujudnya warisan dan bukannya untuk menjauhkannya. Dalam hal ini pula, mereka mempunyai pendapat lain, yaitu tidak sahnya ikrar sebab ikrar itu mungkin untuk menjauhkan sebagian ahli waris dari warisan.

Bagi mereka, apabila seseorang berikrar tentang hutang pada waktu dia sehat kemudian dia mengikrarkan yang lainnya di waktu sakit; maka ikrarnya itu terbagi dua, dan ikrar yang pertama tidak diutamakan atas ikrar yang kedua. Ahmad berkata: orang yang sakit itu tidak boleh ikrar kepada ahli warisnya secara mutlak. Dia beralasan bahwa tidak dapat dijamin sesudah diharamkannya wasiat terhadap ahli waris, kalau wasiat itu dijadikan sebagai ikrar.

Akan tetapi, Al-Auza’i dan sekumpulan para ulama membolehkan orang yang sakit untuk mengikrarkan sebagian dari hartanya bagi ahli waris, sebab orang yang hampir mati itu dijauhkan dari tuduhan dan bahwa perputaran hukum adalah menurut zhahirnya; sehingga dia tidak akan membiarkan ikrarnya menjadi dugaan yang diperkirakan, dan bahwa urusannya itu kembali kepada Allah[14]

C.  SHULHU (Perdamaian)

1.  Pengertian Shulhu

Shulhu ialah akad perjanjian untuk menghilangkan perdendaman, permusuhan , atau perbantahan.Mengadakan perdamaian adalah suatu perkara yang amat terpuji, dan disuruh dalam agama Islam.

Firman Allah Swt:

“perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS An-Nisaa 4:128)

Sabda Rasulullah Saw: “Perdamaian harus (boleh) antara muslimin, kecuali perdamaian yang menghalalkan barang yang haram atau mengharamkan yang halal.” (HR Ibnu Hibban dan Tirmidzi)[15] Al-Shulh menurut al-Sayyid Muhammad Syatha al-Dimyathi secara etimologi adalah: “memutuskan pertengkaran”.

Sedangkan menurut istilah (terminologi) didefinisikan oleh para ulama sebagai berikut.

1.      Menurut Imam Taqiy al-Din Abi Bakr Ibnu Muhammad al-Husaini dalam kitab Kifayatu al-Akhyar yang dimaksud al-Shulh adalah: “akad yang memutuskan perselisihan dua pihak yang berselisih”.

2.      Menurut Syaikh Ibrahim al-Bajuri bahwa yang dimaksud dengan al-Shulh adalah: “akad yang berhasil memutuskannya (perselisihan)”.

3.      Hasbi Ash-Shiddiqie dalam bukunya Pengantar iqh Muamalah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-Shulh adalah: “ akad yang disepakati dua orang yang bertengkar dalam hak untuk melaksanakan sesuatu, dengan akad itu dapat hilang perselisihan”.

4.      Idris Ahmad dalam bukunya Fiqh Syafi’i berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-Shulh adalah semacam akad yang dengan akad itu habislah (terputuslah) perselisihan yang sedang terjadi.

5.      Sulaiman Rasyid berpendapat bahwa yang dimaksud al-Shulh adalah akad perjanjian untuk menghilangkan dendam, permusuhan, dan perbantahan.

6.      Sayyid Sabiq berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-Shulh adalah suatu jenis akad untuk mengakhiri perlawanan antara dua orang yang berlawanan.

Dari ta’rif-ta’rif di atas, kiranya dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan al-Shulh adalah suatu akad yang bertujuan untuk mengakhiri perselisihan atau persengketaan[16]

2.  Dasar Hukum al-Shulh

Perdamaian (al-Shulh) disyari’atkan oleh Allah Swt. Sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur’an:

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya”. (QS Al-Hujuraat 49: 9)

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia”. (QS An-Nisaa 4: 114)

“perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS An-Nisaa 4:128)

Di samping firman-firman Allah, Rasulullah Saw juga menganjurkan untuk melaksanakan perdamaian. Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Tirmizi dari Umar bin Auf Al-Muzanni Rasulullah Saw bersabda:

“Perdamaian dibolehkan di kalangan kaum Muslimin, selain perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Dan orang-orang Islam (yang mengadakan perdamaian itu) bergantung pada syarat-syarat mereka (yang telah disepakati), selain syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram”.[17]

3.  Rukun dan Syarat al-Shulh

Rukun-rukun al-Shulh adalah sebagai berikut.

1.      Mushalih, yaitu masing-masing pihak yang melakukan akad perdamaian untuk menghilangkan permusuhan atau sengketa.

2.      Mushalih’anhu, yaitu persoalan-persoalan yang diperselisihkan atau disengketakan.

3.      Mushalih ‘alaih, ialah hal-hal yang dilakukan oleh salah satu pihak terhadap lawannya untuk memutuskan perselisihan. Hal ini disebut juga dengan istilah badal al-Shulh.

4.      Shigat ijab dan kabul di antara dua pihak yang melakukan akad perdamaian.

Ijab kabul dapat dilakukan dengan lafadz atau dengan apa saja yang menunjukkan adanya ijab kabul yang menimbulkan perdamaian, seperti perkataan: “Aku berdamai denganmu, kubayar utangku padamu yang lima puluh dengan seratus” dan pihak lain menjawab “Telah aku terima”.

Dengan adanya perdamaian (al-Shulh), penggugat berpegang kepada sesuatu yang disebut badal al-shulh dan tergugat tidak berhak meminta kembali dan menggugurkan gugatan, suaranya tidak didengar lagi.

Mushalih disyaratkan orang yang tindakannya dinyatakan sah menurut hukum karena al-shulh adalah tindakan tabarru’ (sumbangan). Seperti seorang menagih utang kepada orang lain tetapi tidak ada bukti utang-piutang, maka keduanya berdamai agar utang itu dibayar sekalipun tidak ada tanda buktinya.

Syarat-syarat Mushalih bih adalah sebagai berikut:

  1. Mushalih bih adalah berbentuk harta yang dapat dinilai, dapat diserahterimakan dan berguna.
  2. Mushalih bih dapat diketahui secara jelas sehingga tidak ada kesamaran yang dapat menimbulkan perselisihan.

Menurut Mazhab Hanafi, apabila Mushalih bih tidak perlu diserahterimakan, maka tidak diperlukan syarat mengetahui dengan jelas.

Imam al-Syaukani berpendapat bahwa shulh boleh tidak diketahui dengan jelas. Dari Ummu Salamah r.a. berkata;”Dua orang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. Dua laki-laki itu berselisih mengenai warisan yang sudah sedemikian lama sehingga tidak jelas sumber dan duduk perkara yang sebenarnya dan di antara mereka belum ada penyelesaian, kemudian Rasulullah bersabda:

“Aku hanya dapat memutuskan di antara kamu dengan pendapatku sendiri, yang tidak turun wahyu kepadaku tentang hal itu”. (Riwayat Abu Dawud)

Menurut al-Syaukani hadis di atas menunjukkan bahwa pemutusan masalah adalah sah meskipun tidak diketahui, tetapi harus dengan penyelesaian. Menurut suatu riwayat dalam kitab al-Bahr yang diriwayatkan oleh al-Syafi’i dan Nashir, al-shulh adalah batal bila hanya dengan informasi tanpa diketahui dengan jelas.

Mushalih ‘anhu, disyaratkan termasuk hak manusia yang boleh diiwadhkan (digantikan) sekalipun tidak berupa harta. Adapun sesuatu yang ada kaitannya dengan hak Allah, maka tidak boleh dilakukan perdamaian. Bila seseorang berbuat zina, mencuri atau minum khamar berdamai dengan orang yang menangkapnya atau dibawa kepada hakim dengan memberi uang (harta) agar dia dilepaskan, dalam keadaan seperti ini al-shulh dilarang karena untuk hal itu tidak boleh diganti dengan iwadh (penggantian). Pengambilan iwadh dalam masalah tersebut dianggap al-Risywah (sogok).[18]

4.  Macam-macam Shulh (Perdamaian)

Dijelaskan dalam buku fiqh, Syafi’iyah oleh Idris Ahmad bahwa al-shulh (perdamaian) dibagi menjadi empat bagian berikut ini.

  1. Perdamaian antara muslimin dengan kafir, yaitu membuat perjanjian untuk meletakkan senjata dalam masa tertentu (dewasa ini dikenal dengan istilah gencatan senjata), secara bebas atau dengan jalan mengganti kerugian yang diatur dalam undang-undang yang disepakati dua belah pihak.
  2. Perdamaian antara kepala negara (Imam/Khalifah) dengan pemberontak, yakni membuat perjanjian-perjanjian atau pengaturan-pengaturan mengenai keamanan dalam negara yang harus ditaati, lengkapnya dapat dilihat dalam pembahasan khusus tentang bughati.
  3. Perdamaian antara suami-istri, yaitu membuat perjanjian dan aturan-aturan pembagian nafkah, masalah durhaka, serta dalam masalah menyerahkan haknya kepada suaminya manakala terjadi perselisihan.
  4. Perdamaian dalam mu’amalat, yaitu membentuk perdamaian dalam masalah yang ada kaitannya dengan perselisihan-perselisihan yang terjadi dalam masalah mu’amalat.

Dijelaskan oleh Sayyid Sabiq bahwa al-shulh (perdamaian) dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

a.       Perdamaian tentang iqrar;

b.      Perdamaain tentang inkar;

c.       Perdamaian tentang sukut.

a.  Perdamaian tentang Iqrar

Perdamaian tentang Iqrar adalah seseorang mendakwa orang lain yang mempunyai utang, kemudian tergugat mengakui kegagalan tersebut, kemudian mereka berdua melakukan perdamaian. Ahmad r.a. berpendapat bila ada penolong tidaklah berdosa karena Nabi Saw mengajak berbincang para penagih utang Jabir r.a. kemudian mereka meletakkan sebagian piutangnya. Lebih jauh Imam Ahmad mengisyaratkan oleh Imam Nasai dari Ka’ab Ibn Malik, bahwa ia menagih Ibnu Abi Hadrad utangnya yang wajib dibayar di masjid. Suara mereka sedemikian kerasnya, sehingga Rasulullah saw mendengarnya, padahal ketika itu Rasulullah saw berada di rumahnya. Rasulullah saw lalu keluar dan menghampiri mereka, kemudian berseru:

“Hai Ka’ab! Ka’ab menjawab,”Aku menghadapmu ya Rasulullah”, Rasul lanjut berseru,”Letakkanlah dari piutangmu itu.” Kemudian Rasulullah Saw mengisyaratkan untuk meletakkan separuhnya, Ka’ab menjawab “Sudah aku lakukan ya Rasulullah” Rasul berseru lagi,”Bangunlah dan tentukanlah!”

Kemudian jika tergugat mengaku memiliki utang berupa uang dan dia berjanji akan membayarnya dengan uang juga, maka ini dianggap pertukaran dan syarat-syaratnya harus dituruti. Jika ia mengaku bahwa dia berutang uang dan berdamai akan membayarnya dengan benda-benda atau sebaliknya, maka ini dianggap sebagai jual beli yang hukum-hukumnya harus ditaati.

Jika seseorang mengaku berutang, kemudian dia berdamai untuk membayarnya dengan manfaat, seperti penempatan rumah dan pelayanannya, maka hal seperti ini disebut ijarah yang telah ada ketentuannya. Apabila mushalih ‘anhu meminta hak sesuatu yang diperselisihkan, maka hak tergugat adalah meminta dikembalikan badal al-shulh karena dia tidak dapat menyerahkan sesuatu, kecuali apa yang ada di tangannya. Apabila badal menjadi hak tergugat kembali, penggugat kembali meminta lagi kepada tergugat karena penggugat tidak akan membiarkan tergugat, kecuali setelah dapat menyerahkan gantinya lagi.

b.  Damai tentang Inkar dan Sukut

Damai tentang inkar adalah bahwa seseorang menggugat orang lain tentang suatu materi, utang, atau manfaat. Tergugat menolak gugatan atau mengingkari apa yang digugatkan kepadanya, kemudian mereka berdamai. Damai tentang sukut adalah seseorang menggugat orang lain, kemudian tergugat berdian diri, dia tidak mengakui dan tidak pula mengingkari.

c.  Hukum Damai Inkar dan Sukut

Para ulama membolehkan dilakukannya perdamaian tentang gugatan yang diingkari dan didiamkan. Ibn Hazm dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa sesuatu yang diingkari dan didiamkan tidak boleh didamaikan. Damai dilakukan untuk sesuatu yang diakui karena al-shulh adalah mengenai hak yang ada, sedangkan dalam inkar dan sukut tidak ada.

Pemberian yang dilakukan oleh orang yang inkar dan sukut akan harta untuk menolak menyelesaikan perselisihan dengan lawan tidaklah benar. Dengan demikian, pemberian berarti penyogokan yang sangat dilarang oleh agama Islam. Hal ini berdalil pada firma Allah:

“dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim”. (QS Al-Baqarah 2:188)

Ayat tersebut tidak berarti urusan tidak boleh diselesaikan melalui pengadilan (hakim), tetapi janganlah melakukan penyogokan kepada hakim untuk memperoleh kemenangan dalam suatu persengketaan.[19]

Rasulullah sendiri juga pernah mendamaikan antara orang-orang yang berselisih:

1.         Perdamaian yang dibolehkan adalah yang adil (fair), yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu perdamaian yang mengharapkan ridha Allah, kemudian keridhaan antara dua pihak yang berselisih

2.         Orang yang mendamaikan antara orang yang berselisih haruslah mengetahui kronologi perselisihan tersebut dan mengerti apa yang wajib ia lakukan. Derajat orang yang mendamaikan antara orang-orang yang berselisih lebih utama dari orang yang berpuasa dan shalat malam. Sedangkan, jika ia tidak adil dalam mendamaikan dua belah pihak yang berselisih, maka hal itu merupakan kezaliman dan perampasan hak. Misalnya, mendamaikan antara orang mampu yang zalim dengan orang lemah yang terzalimi, namun dengan keputusan yang menguntungkan orang mampu tersebut dan memberi kesempatan kepadanya untuk berbuat zalim serta menganiaya hak orang lemah. Sedangkan, orang yang lemah tersebut tidak mampu mengambil haknya. Akad sulhu ini hanya boleh dilakukan dalam hak-hak manusia yang bisa digugurkan atau bisa ditebus. Adapun hak-hak Allah, seperti hukuman had dan zakat, maka tidak bisa dimasuki oleh akad sulhu ini, karena sulhu di dalamnya adalah dengan menunaikannya secara utuh.

3.         Mendamaikan orang-orang yang berselisih ada lima macam:

a.    Mendamaikan antara orang-orang muslim dengan para musuh yang memerangi

b.    Mendamaikan antara orang-orang muslim yang adil dan orang-orang muslim yang lazim

c.    Mendamaikan antara pasangan suami istri jika khawatir terjadi perceraian di antara keduanya

d.   Mendamaikan orang yang berselisih dalam selain harta

e.    Mendamaikan antara orang yang berselisih dalam masalah harta

Yang terakhir (jenis kelima) ini terbagi menjadi dua macam:

1.         Kesepakatan damai atas pengakuan

Kesepakatan damai atas pengakuan ini terbagi menjadi dua, yakni:

a.    Kesepakatan damai dengan sesuatu yang sejenis dengan hak yang dituntut

b.    Kesepakatan damai dengan sesuatu selain jenis hak yang dituntut. Jenis kedua dari kesepakatan damai berdasarkan persetujuan adalah berdamai atas hak dengan yang bukan jenisnya

2.      Kesepakatan damai atas penolakan/pengingkaran

Maksudnya ada seseorang yang mengaku bahwa orang lain meminjam barang tertentu darinya atau berutang kepadanya. Namun orang lain tersebut diam saja, dan ia tidak tahu tentang tuntutan yang ditujukan kepadanya. Kemudian si penuntut menawarkan kepadanya untuk menggantinya dengan harta, baik dibayar segera maupun setelah jangka waktu tertentu. Maka, dalam kondisi ini kesepakatan damai dibolehkan oleh kebanyakan ulama. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah

الصلح جائز بين المسلمين الا صلحا احل حراما او حرم حلا لا

“Kesepakatan damai di antara orang-orang mukmin adalah dibolehkan, kecuali kesepakatan yang menghalalkan sesuatu yang haram, atau mengharamkan yang halal.” (Hr. Abu Daud dan Tirmidzi)[20]

BAB III

PENUTUP

A.  Kesimpulan

Secara bahasa, wakalah bermakna menjaga atau juga bermakna mendelegasikan mandat, menyerahkan sesuatu, Berwakil ialah menyerahkan pekerjaan yang dikerjakan kepada yang lain, agar dikerjakannya (wakil) semasa hidupnya (yang berwakil). Perwakilan adalah al-wakalah atau al-Wikalah. Menurut bahasa artinya adalah al-hifdz, al-kifayah, al-dhaman dan al-tafwidh (penyerahan, pendelegasian dan pemberian mandat). Hukum berwakil sunat, kadang-kadang menjadi wajib kalau terpaksa, dan haram kalau pekerjaan yang diwakilkan itu pekerjaan yang haram, dan makruh kalau pekerjaan itu makruh. Rukun wakalah adalah adanya orang yang mewakilkan, wakil, Muwakkal fih (sesuatu yang diwakilkan) dan shigat.

Ikrar berasal dari kata qarra asy-syaia, yaqirru. Ikrar menurut bahasa berarti itsbaat (menetapkan). Dalam istilah syara’ ikrar berarti pengakuan terhadap apa yang didakwakan. Iqrar ialah mengakui akan kebenaran sesuatu yang bersangkutan dengan dirinya untuk orang lain; umpamanya seorang berkata: Saya mengaku bahwa saya telah minum arak, atau saya mengaku bahwa saya berutang kepada orang ini. Rukunya yang mengaku, yang diakui olehnya (muqar lah), hak yang diakui dan lafaz.

Shulhu ialah akad perjanjian untuk menghilangkan perdendaman, permusuhan , atau perbantahan.Mengadakan perdamaian adalah suatu perkara yang amat terpuji, dan disuruh dalam agama Islam.

Firman Allah Swt:

“perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS An-Nisaa 4:128)

Rukun Shulhu yaitu Mushalih, Mushalih’anhu, Mushalih ‘alaih dan Shigat. Dasar hukumnya adalah wajib. Sebagai

bÎ)ur Èb$tGxÿͬ!$sÛ z`ÏB tûüÏZÏB÷sßJø9$# (#qè=tGtGø%$# (#qßsÎ=ô¹r’sù $yJåks]÷t/ (

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya”. (QS Al-Hujuraat 49: 9).

DAFTAR PUSTAKA

Al-Fauzan, Saleh. 2006. FIQIH SEHARI-HARI. Jakarta: Gema Insani

Dimyauddin, Djuani. 2008.  Pengantar Fiqh Muamalah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rasjid, H. Sulaiman. 1989. FIQH ISLAM. Bandung: Sinar Baru

Suhendi, Hendi. 2007. Fiqh Muamalah. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA

Sayyid Sabiq. Fikih Sunnah.


[1] Dimyauddin, Djuani. Pengantar Fiqh Muamalah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2008. hal. 239

[2] Rasjid, H. Sulaiman. 1989. FIQH ISLAM. Bandung: Sinar Baru. Hal 300

[3] Suhendi, Hendi. 2007. Fiqh Muamalah. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA. Hal 231-233

[4] Al-Fauzan, Saleh. 2006. FIQIH SEHARI-HARI. Jakarta: Gema Insani. Hal 428-429

[5] Suhendi, Hendi. 2007. Fiqh Muamalah. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA. Hal 234

[6] Suhendi, Hendi. 2007. Fiqh Muamalah. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA. Hal 235

[7] Dimyauddin, Djuani. Pengantar Fiqh Muamalah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2008. hal. 242

[8] Suhendi, Hendi. 2007. Fiqh Muamalah. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA. Hal 237

[9] Al-Fauzan, Saleh. 2006. FIQIH SEHARI-HARI. Jakarta: Gema Insani. hal 432

[10] Sayyid Sabiq. Fikih Sunnah. Hal 50

[11] Rasjid, H. Sulaiman. 1989. FIQH ISLAM. Bandung: Sinar Baru.hal 299

[12] Sayyid Sabiq. Fikih Sunnah. Hal 52

[13] Rasjid, H. Sulaiman. 1989. FIQH ISLAM. Bandung: Sinar Baru.hal 300

[14] Sayyid Sabiq. Fikih Sunnah. Halaman 53

[15] Rasjid, H. Sulaiman. 1989. FIQH ISLAM. Bandung: Sinar Baru. Hal 299

[16] Suhendi, Hendi. 2007. Fiqh Muamalah. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA. Hal 170

[17] Suhendi, Hendi. 2007. Fiqh Muamalah. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA. Hal 171

[18] Suhendi, Hendi. 2007. Fiqh Muamalah. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA. Hal 173

[19] Suhendi, Hendi. 2007. Fiqh Muamalah. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA. Hal 174-177

[20] Al-Fauzan, Saleh. 2006. FIQIH SEHARI-HARI. Jakarta: Gema Insani.hal 150-152

observasi BK

LAPORAN OBSERVASI

BIMBINGAN DAN KONSELING

DI MTS HASYIM ASY’ARI KOTA BATU

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bimbingan Dan Konseling yang dibimbing Esa Nur Wahyuni, M. Psi

Oleh:

Burhanuddin (08110099)

Miftahul Arief Rahman (08110217)

Syamsul Arifin (08110117)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

Maret, 2011

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Pelayanan bimbingan dan konseling semakin populer dikenal oleh masyarakat, khususnya di sekolah. Banyak sekali keuntungan yang diperoleh dari program bimbingan dan konseling di sekolah. Para siswa yang berbakat memerlukan bimbingan untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya sehingga akan menjadi pribadi yang unggul, secara akademis dan akhlak.

Ada juga sebagian siswa yang membutuhkan konseling karena banyak menghadapi problema yang dapat mengganggu eksistensi dan proses dalam belajar. Pelanggaran terhadap peraturan sekolah juga memerlukan konseling agar sikap pelanggaran terhadap peraturan dapat dikurangi, sehingga akan terbentuknya kedisiplinan siswa yang tinggi. Tawuran antar pelajar, pemakaian obat-obatan terlarang, video porno, seharusnya juga menjadi perhatian yang besar dari tenaga BK di sekolahan. Ada banyak sekali fungsi bimbingan dan konseling di sekolah, fungsi satu berkaitan erat dengan fungsi yang lainnya.

Seseorang yang sudah bekerjapun membutuhkan fungsi BK untuk lebih mengembangkan segala potensinya dalam bekerja, dan pengembangan karirnya sesuai dengan harapan yang diinginkan. Dengan melalui proses konseling, klien akan dapat menghadapi dan menyelesaikan segala macam masalah yang dapat menghancurkan karir/pekerjaan.

Mendengar istilah bimbingan dan konseling (BK) tersirat kesan bahwa individu yang berurusan dengan tersebut sedang bermasalah. Anggapan seperti ini tentu ada benarnya. Namun, persoalannya menjadi lain tatkala individu yang bermasalah ditujukan kepada orang tertentu.

Kenyataan ini dengan mudah dapat dilihat di sekolah-sekolah, Umumnya, siswa siswa yang berhubungan dengan guru BK adalah mereka yang dikategorikan nakal. Istilah nakal biasanya diidentifikasikan  dengan  perilaku siswa yang sering bolos, terlibat tawuran, perkelahian, terlambat dan lain-lain.

Singkatnya, siswa yang berhubungan dengan guru BK adalah,mereka yang sudah tercatat dalam “buku hitam” sekolah. Jarang sekali (untuk tidak menyebut tidak ada), siswa yang pintar, rajin, dan berkelakuan baik berhubungan dengan guru BK.

Dengan kata lain, guru BK hanya melirik siswa-siswi yang terhitung bandel. Karenanya, sangat beralasan bila kemudian guru BK diidentifikasikan sebgai “polisi sekolah”. Pendapat dan atau pelaksanaan BK di sekolah yang hanya untuk masuk kategori nakal, jelas tidak dapat dibenarkan. Karena, pada hakikatnya BK ditujukan untuk semua siswa. Bukan siswa-siswi tertentu. Hanya saja, model BK yang mereka perlukan dapat saja berbeda.

BK untuk siswa pintar tentu beda dengan model BK untuk siswa yang berkemampuan akademik rat-rata, dan dibawah rata-rata. Siswa yang sering terlibat tawuran, tentu butuh model BK yang lain dengan BK yang diperlukan untuk siswa pintar, begitu pula seterusnya semua siswa membutuhkan BK.

Dalam pelaksanaanya, guru BK yang bertindak sebagai polisi sekolah, jelas tidak menguntungkan bagi pelaksaan BK itu sendiri. Karena BK akan berjalan efektif dan dapat mencapi tujuan, bila guru BK sudah menjadi pengayom atau tempat curhat para siswa. Bukan untuk membentak-bentak siswa atau menakut-nakuti siswa. Bila guru BK memposisikan diri sebagai polisi sekolah, masalah yang dihadapi siswa akan sulit dipahami. Apalagi mencarikan solusi atau bisa jadi solusi yang diberikan tidak tepat dan menjadi masalah baru. Karenanya tidak semua guru bisa menjadi guru BK.

1.2.Rumusan Masalah

1.      Bagaimana kontribusi BK terhadap perkembangan siswa?

2.      Bagaimana peran siswa dalam memfungsikan BK dalam menangani masalah yang dihadapi siswa?

BAB II

PEMBAHASAN (HASIL OBSERVASI)

2.1. Profil Sekolah

1.         Identitas Madrasah

Nama Sekolah : MTS HASYIM ASY’ARI
Alamat
Jalan : Semeru 22
Desa / Kecamatan : Sisir  / Batu
Kota : Batu
No. Tlp./HP : (0341)592393
1. Nama Yayasan : LP. Ma’arif
Alamat yayasan & No. Telp. : Jl. Semeru 22   (0341) 599770
2. NSS/NSM : 212357901093
NPSN :
3 Tipe Akreditasi : Terkareditasi ” A “
4. Tahun didirikan : 1956
5. Tahun beroperasi : 1956
6. Kepemilikan Tanah : Yayasan
a. Status tanah : Hibah
b. Luas Tanah : 3500  m 2
7 Status Bangunan : Yayasan
a. Surat Ijin Bangunan : 233/11,957/429.120/Tahun 1992
b. Luas Tanah : 3500 m 2

2.    Keadaan Siswa

Rencana

\Penerimaan

Pendaftar Asal Sekolah
SD MI Jumlah
L P L + P L P L P L P
200 90 90 180 45 42 43 39 88 81
No. Tingkat VII Tingkat II Tingkat III Jumlah
Rbl Siswa Rbl Siswa Rbl Siswa Rbl Siswa
L P L P L P L P
JML 5 88 81 6 95 103 5 86 82 16 269 266 535

3.    Tenaga Pendidik dan kependidikan

No Jumlah Guru / Staf JUMLAH KETERANGAN
1 Guru Tetap Yys 10
2 Guru Tidak Tetap Yys 23
3 Guru Honorer Daerah 5
4 Guru PNS Dipekerjakan (DPK) 8
5 Tata Usaha 11
Jumlah 57

4.    Latar Belakang  Historis

Pendidikan agama merupakan pendidikan yang fundamental bagi setiap manusia sesuai dengan fitrah insani yang wajib ditumbuh kembangkan dalam rangka kelestarian iman dan taqwa, pendidikan agama juga sebagai kebutuhan mutlak bagi setiap warga negara dan bangsa Indonesia yang mayoritas menganut agama Islam dan falsafah pancasila, sehubungan dengan hal itu pengurus Majelis Wakil Cabang  Nahdlatul Ulama Batu segera memproses dengan mengadakan musyawarah pengurus NU dan tokoh – tokohnya untuk membahas tentang perlunya didirikan sebuah sekolah yang bernuansa Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Hasil dari musyawarah tersebut dapat melahirkan keputusan yang antara lain; maka pada tahun 1956 didirikan sekolah Pendidikan Agama Islam pertama nahdlatul ‘Ulama ( PGAP NU ).

Pada tahun 1956 tanggal 17 Agustus 1956 Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama kecamatan Batu mengeluarkan Surat Keputusan Nomor : 09/PMWC-NU/VIII/1956 yang isinya bahwa pengurus MWC NU Batu membuka sekolah baru, tingkat lanjutan pertama dengan nama Pendidikan Guru Agama Pertama Nahdlatul Ulama’ (PGAP NU)

Tujuan didirikannya PGAP NU pada waktu itu adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Islam, khususnya warga NU di Batu, sehubungan dengan hal itu pengurus MWC NU Batu segera memproses dengan mengadakan musyawarah pengurus NU dan tokoh-tokoh untuk membahas tentang perlunya didirikan sebuah sekolah yang bernuansa Islam ala Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Hasil musyawarah tersebut melahirkan suatu keputusan yang antara lain : Warga NU perlu mempunyai sekolah lanjutan setelah berdirinya Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Ulum di Sisir Batu. Dan sebagai realisasi kongkrit hasil keputusan dari musyawarah tersebut maka pada tahun 1956 didirikan sekolah Pendidikan Agama Islam Pertama Nahdlatul ‘Ulama (PGAP NU)

Setelah PGAP NU berdiri pada tanggal 17 Agustus 1956 dengan perjalanan yang sangat lamban dari tahun ke tahun yang memakan waktu selama hampir 20 tahun, kondisi yang demikian itu membawa keprihatinan bagi segenap lapisan masyarakat dan yang sangat prihatin lagi adalah para pengelola sekolah. Keprihatinan tersebut meliputi berbagai macam aspek pendukung pendidikan diantaranya; sarana prasarana, ketenagaan, dan kesiswaan.

Mengatasi keprihatinan dan memacu perkembangan PGA agar lebih maju, maka segenap dewan guru dan karyawan serta pengurus sekolah berusaha mengadakan reuni antara lain : alumni, dewan guru, karyawan dan sisiwa yang diadakan pada tahun 1976. hasil yang dicapai dalam reuni tersebut antara lain kesepakatan para alumni untuk mendukung perkembangan sekolah. Dengan kesepakatan tersebut sedikit membawa angina segar bagi segenap pengurus madrasah.

Selanjutnya pada tahun 1973 berubah nama manjadi Madrasah Tsanawiyah Agama Islam Hasyim Asy’ ari (MTsAI Hasyim Asy’ari) dengan menggunakan kurikulum MTsAIN tahun 1973 berdasarkan keputusan Menteri Agama No. 31 tahun 1972 tentang perubahan nama, struktur dan kurikulum Sekolah Dinas dan Madrasah Negeri

1.         Letak Geografis

Gedung MTs HASYIM ASY’ARI, tepat letaknya di jalan Semeru No. 22, Desa Sisir Kecamatan Batu Kota Batu, lokasi gedung termasuk ditengah pusat kota karena ± 300m dari alun-alun Batu.

2.         Perkembangan Status Madrasah Tsanawiyah Hasyim Asy’ari

Madrasah Tsanawiyah mengalami perubahan status yang lambat, hal itu disebabkan karena belum adanya peraturan dari pemerintah untuk akreditasi madrasah. Sebelum mendapatkan status dari pemerintah , madrasah tsanawiyah telah mendapatkan surat piagam dari Lembaga Pendidikan Ma’arif Wilayah Jawa Timur. Sejak itu Madrasah Tsanawiyah berstatus terdaftar dengan nomor : PW / 300/ B-7/ IV/ 81.Setelah 14 tahun status terdaftar, kemudian menyusul dikeluarkan peraturan akreditasi dari Departemen Agama.

Berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam No. : 29/E/1990 tentang : Pedoman Akreditasi Madrasah. Dengan keluarnya peraturan tersebut, Madrasah Tsanawiyah dipersiapkan untuk mengikuti akreditasi dua tahun setelah keluarnya peraturan, maka pada tahun 1993 madrasah ini mengikuti akreditasi untuk meningkatkan status  ” terdaftar “ ke status “diakui”. Pada tahun 1993 telah berhasil mengikuti akreditasi dengan peringkat sangat baik, keberhasilan itu ditandai dengan penerimaan sertifikat diakui dari Kepala Kantor Wilayah Depag Jawa Timur.

Berdasarkan peraturan akreditasi bahwa setiap 5 tahun bagi madrasah yang telah mengikuti akreditasi harus mengikuti akreditasi ulang, untuk penilaian lebih lanjut apakah status tersebut akan turun, bertahan atau naik.

Dalam perjalanan 4 tahun status “ diakui “ madrasah ini berusaha mengikuti akreditasi untuk meningkatkan status. Pada tahun 1996 mengikuti akreditasi kenaikan tingkat ” disamakan “, kesempatan ini tidak disia – siakan oleh segenap warga Madrasah Tsanawiyah, baik pengelola maupun penyelenggara semua berusaha untuk mensukseskan. Pada akhirnya Status disamakan “ dapat diperoleh oleh madrasah ini. Hal ini sesuai dengan pedoman akreditasi Bab V, pasal 7 ayat (1) bahwa madrasah swasta adalah berstatus terdaftar, diakui dan disamakan.

Dengan status “ disamakan” ini  maka Madrasah Tsanawiyah Asy’ari memperoleh “ civil effect ”, yaitu berhak menjadi Madrasah Pembina dan sebagai madrasah Penyelenggara EBTANAS / Sub Rayon. Kewenangan tersebut berlaku sejak menerima sertifikat disamakan pada tahun 1997 s.d 2002, pada tahun 2002 s/d 2007 status Disamakan dapat dipertahankan hingga pada Tahun 2008 melaksanakan Akreditasi oleh BAS Kota Batu dengan hasil Terakreditasi “ A “. Berdasarkan Surat Akreditasi

5.      Visi, Misi dan Tujuan

Visi

Terwujudnya insan yang beriman dan bertaqwa berlandaskan Ahlussunnah Wal Jama’ah, menguasai ilmu pengetahuan dan tehnologi serta berakhlaqul mulia

Indikator:

1.        Unggul dalam pengembangan isi (kurikulum)

2.        Unggul dalam pengembangan standar pendidikan dan tenaga kependidikan

3.        Unggul dalam pengembangan standar proses

4.        Unggul dalam pengembangan fasilitas pendidikan

5.        Unggul dalam pengembangan standar kelulusan

6.        Unggul dalam mutu kelembagaan dan manajemen

7.        Unggul dalam penggalangan pembiayaan pendidikan

8.        Unggul dalam standar penilaian prestasi akademik dan non akademik

Misi

1.        Melaksanakan Standar dalam pengembangan kurikulum

2.        Melaksanakan peningkatan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan

3.        Melaksanakan berbagai inovasi proses pendidikan

4.        Melaksanakan pengembangan fasilitas pendidikan

5.        Melaksanakan upaya peningkatan standar kelulusan

6.        Melaksanakan pengembangan mutu kelembagaan dan manajemen

7.        Melaksanakan pengembangan dalam penggalangan biaya pendidikan

8.        Melaksanakan pengembangan dalam penilaian prestasi akademik dan non akademik

Tujuan

1.        Sekolah dapat mengembangkan standar isi (kurikulum ) kelas VII – IX untuk semua mata pelajaran, yang meliputi : pengembangan silabus dan sisnil, pemetaan KD dan pengembangan RPP.

2.        Sekolah dapat meningkatkan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan sesuai SNP

3.        Sekolah dapat melaksanakan berbagai inovasi proses pendidikan yang mengedepankan prinsip MBS dan CTL

4.        Sekolah dapat melengkapi fasilitas pendidikan sesuai dengan kebutuhan

5.        Sekolah dapat meningkatkan standar kelulusan setiap tahunnya

6.        Sekolah dapat meningkatkan mutu kelembagaan dan manajemen

7.        Sekolah dapat mengoptimalkan penggalangan biaya pendidikan

8.        Sekolah dapat mencapai standar penilaian sesuai SNP yang meliputi : pengembangan perangkat dan instrumen untuk berbagai model penilaian, pengimplementasian model evaluasi dan pengembangan program tindak lanjut  (remidial dan pengayaan)

2.3 Layanan Konseling yang Diberikan

Sebelum guru BK memberikan paparan tentang layanan konseling terlebih dahulu harus dapat dipahami secara teoritis  berdasarkan uji penelitian yakni tentang Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah :

  1. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konselir agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
  2. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
  3. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex).
  4. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.
  5. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
  6. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
  7. Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
  8. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
  9. Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
  10. Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
  11. Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli

Dari beberapa fungsi BK diatas, maka Ibu Ilfitriana NA, S.Psy memberikan pelayanan terhadap siswa di MTS Hasyim Asy’ari dengan sesungguhnya sesuai dengan tingkat permasalhan yang dialami oleh siswa dalam rangka belajar, adapun bentuk pelayanannya adalah sebagai berikut:

a.       Layanan bersifat pribadi

Banyak permasalahan yang dialami oleh siswa terkait tentang permasalahannya dalam belajar, kebanyakan siswa mengalami permasalahn dalam belajar, guru BK harus pandai-pandai menganalisis berbagai permasalahn seperti yang pernah terjadi ketika siswa yang berprestasi dalam hal akademik ternyata mengalami permasalahan dengan nilainya ang terus merosot bahkan kondisi psikologisnya terganggu, ternyata siswa tersebut mengalami permasalhan keluarga yang mana kondisi keluarga mengakibatkan prestasi belajarnya menurun. Dan dalam hal ini guru BK mencoba dengan memberikan pemahaman dan tindakan preventif dalam menangani masalah tersebut.

Guru BK tidak hanya menangani permasalahan individu yang dialami siswa akan tetapi juga bagaimana guru BK tersebut dapat dijadikan tempat konsultasi yang tepat dan dekat terhadap siswa yang mengalami permasalahn terkait tentang pencapaiannya dalam belajar,dan guru BK tidak hanya sebagai tempat keluh kesah akan tetapi harus mampu mendorong motivasi siswa yang nantinya akan berguna dalam belajar dan semangat meraih prestasi.

b.      Layanan Sosial Pergaulan Siswa

Dalam hal pergaulan siswa, memang merupakan tugas berat dari seorang guru BK menangani permasalahan sosial, baik itu terkait teman sebaya ataupun kondisi lingkungan yang menyebabkan siswa tersebut mempunyai masalah dalam belajar.

Guru sebagai pendidik wajib bagi seorang murid untuk menghormatinya baik dalam proses balajar mengajar maupun diluar proses tersebut, sedangkan teman dan lingkungan merupakan dua komponen yang saling berksinambungan yang mana siswa bergaul dalam lingkungan yang baik maka siswa itu akan menjadi baik. Sedangkan apabila dalam lingkungan yang kurang baik maupun kurang mendidik maka lambat laun anak tersebut akan mengikuti kebudayaan yang kurang baik tersebut. Maka dari itu, tugas dari BK memberikan solusi arahan dan nasehat kepada siswanya. Selain itu perang guru BK harus lebih akrab terhadap kondisi siwa dalam menghadapi permasalahan yang dialami.

c.         Layanan Karir

Guru BK harus mampu memberikan pelayanan dalam mengatasi problem minat, bakat siswa dan juga kondisi keluarga baik itu terkait tentang masalah ekonomi dan sebagainya.

Disinilah peran guru BK harus lebih difungsikan diantaranya dengan upaya Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. Dan juga Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli.

Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. Adapun Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

2.4 Posisi Konselor di Sekolah

2.5 Tata Ruang Konselor

Penataan ruangan BK memang kurang memadai akan tetapi ruangan yang kurang representative tidak menghalangi guru BK dalam memberikan layanannya terhadap siswa dalam menangani semua permasalahan belajar atau lainya, guru BK mencoba dengan memanfaatkan fasilitas yang ada untuk senantiasa memberikan layanan konseling dan dalam hal ini kondisi ruangan bukan faktor utama akan tetapi bagaimana peran guru BK dalam melayani permasalahan yang ada dan senantiasa memberikan motivasi terhadap siswanya.

2.6 Persepsi Siswa tentang Layanan dan Konseling

Dalam memberikan pelayanan terhadap siswa di MTS Hasyim Asy’ari Kota Batu, guru BK memberikan pendekatan yang lebih akrab dengan mengadakan pendekatan secara personal bahkan pada saat dalam suasana istirahat sekolah pun guru BK mencoba mendekati siswa yang dianggap mempunyai permasalaha psikologis, karena terlihat antara orang yang tidak punya masalah dengan orang yang punya masalah.

Peneliti mencari keterangan terhadap siswa tentang persepsi terhadap guru BK, dan ternyata banyak dari siswa merasa puas terhadap kinerja guru BK, tidak hanya wali kelas saja yang mempunyai peran lebih tapi juga guru BK harus punya peranan lebih terhadap segala permasalahan yang terjadi pada diri siswa.

Umumnya siswa merasa lebih dekat, walau ada salah seorang siswa yang bernama susanto yang mengatakan merasa tidak cocok terhadap guru BK karena baginya guru BK tidak dapat menyelesaikan permasalahanya, hanya sebatas menasehati saja, mungkin karena permasalahan yang dialami terlalu berat sehingga kondisi psikis siswanya.

Dalam hal ini merupakan pr besar bagi seorang guru BK dalam mengatasi permasalahan semua siswanya agar dapat lebih baik dan merasa bergairah dalam belajar, dan guru BK harus memberikan pendekatan yang lebih.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Banyak sekali keuntungan yang diperoleh dari program bimbingan dan konseling di sekolah. Para siswa yang berbakat memerlukan bimbingan untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya sehingga akan menjadi pribadi yang unggul, secara akademis dan akhlak.

Ada juga sebagian siswa yang membutuhkan konseling karena banyak menghadapi problema yang dapat mengganggu eksistensi dan proses dalam belajar. Pelanggaran terhadap peraturan sekolah juga memerlukan konseling agar sikap pelanggaran terhadap peraturan dapat dikurangi, sehingga akan terbentuknya kedisiplinan siswa yang tinggi. Tawuran antar pelajar, pemakaian obat-obatan terlarang, video porno, seharusnya juga menjadi perhatian yang besar dari tenaga BK di sekolahan. Ada banyak sekali fungsi bimbingan dan konseling di sekolah, fungsi satu berkaitan erat dengan fungsi yang lainnya.

Guru BK harus lebih jeli terhadap fenomena yang ada dalam diri siswa dan bagaimana guru BK harus lebih dekat dan memberikan kontribusi yang lebih terhadap permasalahan dalam pendidiakn sehingga tujuan dari pendidikan dapat tercapai.



Peran BK di MTS Hasyim Asy’ari Batu

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Pelayanan bimbingan dan konseling semakin populer dikenal oleh masyarakat, khususnya di sekolah. Banyak sekali keuntungan yang diperoleh dari program bimbingan dan konseling di sekolah. Para siswa yang berbakat memerlukan bimbingan untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya sehingga akan menjadi pribadi yang unggul, secara akademis dan akhlak.

Ada juga sebagian siswa yang membutuhkan konseling karena banyak menghadapi problema yang dapat mengganggu eksistensi dan proses dalam belajar. Pelanggaran terhadap peraturan sekolah juga memerlukan konseling agar sikap pelanggaran terhadap peraturan dapat dikurangi, sehingga akan terbentuknya kedisiplinan siswa yang tinggi. Tawuran antar pelajar, pemakaian obat-obatan terlarang, video porno, seharusnya juga menjadi perhatian yang besar dari tenaga BK di sekolahan. Ada banyak sekali fungsi bimbingan dan konseling di sekolah, fungsi satu berkaitan erat dengan fungsi yang lainnya.

Seseorang yang sudah bekerjapun membutuhkan fungsi BK untuk lebih mengembangkan segala potensinya dalam bekerja, dan pengembangan karirnya sesuai dengan harapan yang diinginkan. Dengan melalui proses konseling, klien akan dapat menghadapi dan menyelesaikan segala macam masalah yang dapat menghancurkan karir/pekerjaan.

Mendengar istilah bimbingan dan konseling (BK) tersirat kesan bahwa individu yang berurusan dengan petugas tersebut sedang bermasalah. Anggapan seperti ini tentu ada benarnya.Namun, persoalannya menjadi lain, tatkala individu yang bermasalah ditujukan kepada orang-orang tertentu.

Kenyataan ini dengan mudah dapat dilihat di sekolah-sekolah, Umumnya, siswa yang berhubungan dengan guru BK adalah mereka yang dikategorikan nakal. Istilah nakal biasanya  diidentifikasikan  dengan  perilaku  siswa  yang  sering  bolos,  terlibat  tawuran,perkelahian, terlambat, dan lain-lain.

Singkatnya, siswa yang berhubungan dengan guru BK adalah, mereka yang sudah tercatat dalam “buku hitam” sekolah. Jarang sekali (untuk tidak menyebut tidak ada), siswa yang pintar, rajin, dan berkelakuan baik berhubungan dengan guruBK.

Dengan kata lain, guru BK hanya melirik siswa-siswa yang terhitung bandel.Karenanya,sangat beralasan bila kemudian guru BK diidentikkan sebagai “polisinya sekolah”. Pendapat dan atau pelaksanaan BK di sekolah-sekolah yang hanya untuk siswa yang masuk kategori nakal, jelas tidak dapat dibenarkan. Karena, pada hakikatnya, BK ditujukan untuk semua siswa. Bukan siswa-siswa tertentu. Hanya saja, model BK yang mereka perlukan dapat saja berbeda.

BK untuk siswa pintar,tentu beda dengan model BK untuk siswa yang berkemampuan akademik rata-rata, dan di bawah rata-rata. Seswa yang sering terlibat tawuran,tentu butuh model BK yang lain dengan BK yang diperlukan tuk siswa yang pintar. Begitu pulaseterusnya, semua siswa membutuhkan BK.

Dalam pelaksanaannya, guru BK yang bertindak sebagai polisi sekolah, jelas tidak menguntungkan bagi pelaksanaan BK itu sendiri. Karena, BK akan berjalan efektif dan dapat mencapai tujuan, bila Guru BK sudah menjadi pengayom atau tempat curhat para siswa. Bukan untuk membentak-bentak siswa atau menakut-nakuti siswa. Bila guru BK memposisikan diri sebagai polisi sekolah, masalah yang dihadapi siswa akan sulitdipahami. Apalagi mencarikan solusinya, atau bisa jadi solusi yang diberikan tidak tepat danmenjadi masalah baru. Karenanya, tidak semua guru bisa menjadi guru BK.

1.2.Rumusan Masalah

  1. Bagaimana kontribusi BP terhadap perkembangan siswa?
  2. Bagaimana peran siswa dalam memfungsikan BP dalam menangani masalah yang dihadapi siswa?

BAB II

PEMBAHASAN (HASIL OBSERVASI)

2.1. Profil Sekolah

1.         Identitas Madrasah

Nama Sekolah : MTS HASYIM ASY’ARI
Alamat
Jalan : Semeru 22
Desa / Kecamatan : Sisir  / Batu
Kota : Batu
No. Tlp./HP : (0341)592393
1. Nama Yayasan : LP. Ma’arif
Alamat yayasan & No. Telp. : Jl. Semeru 22   (0341) 599770
2. NSS/NSM : 212357901093
NPSN :
3 Tipe Akreditasi : Terkareditasi ” A “
4. Tahun didirikan : 1956
5. Tahun beroperasi : 1956
6. Kepemilikan Tanah : Yayasan
a. Status tanah : Hibah
b. Luas Tanah : 3500  m 2
7 Status Bangunan : Yayasan
a. Surat Ijin Bangunan : 233/11,957/429.120/Tahun 1992
b. Luas Tanah : 3500 m 2

2.    Keadaan Siswa

Rencana

\Penerimaan

Pendaftar Asal Sekolah
SD MI Jumlah
L P L + P L P L P L P
200 90 90 180 45 42 43 39 88 81
No. Tingkat VII Tingkat II Tingkat III Jumlah
Rbl Siswa Rbl Siswa Rbl Siswa Rbl Siswa
L P L P L P L P
JML 5 88 81 6 95 103 5 86 82 16 269 266 535

3.    Tenaga Pendidik dan kependidikan

No Jumlah Guru / Staf JUMLAH KETERANGAN
1 Guru Tetap Yys 10
2 Guru Tidak Tetap Yys 23
3 Guru Honorer Daerah 5
4 Guru PNS Dipekerjakan (DPK) 8
5 Tata Usaha 11
Jumlah 57

4.    Latar Belakang  Historis

Pendidikan agama merupakan pendidikan yang fundamental bagi setiap manusia sesuai dengan fitrah insani yang wajib ditumbuh kembangkan dalam rangka kelestarian iman dan taqwa, pendidikan agama juga sebagai kebutuhan mutlak bagi setiap warga negara dan bangsa Indonesia yang mayoritas menganut agama Islam dan falsafah pancasila, sehubungan dengan hal itu pengurus Majelis Wakil Cabang  Nahdlatul Ulama Batu segera memproses dengan mengadakan musyawarah pengurus NU dan tokoh – tokohnya untuk membahas tentang perlunya didirikan sebuah sekolah yang bernuansa Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Hasil dari musyawarah tersebut dapat melahirkan keputusan yang antara lain; maka pada tahun 1956 didirikan sekolah Pendidikan Agama Islam pertama nahdlatul ‘Ulama ( PGAP NU ).

Pada tahun 1956 tanggal 17 Agustus 1956 Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama kecamatan Batu mengeluarkan Surat Keputusan Nomor : 09/PMWC-NU/VIII/1956 yang isinya bahwa pengurus MWC NU Batu membuka sekolah baru, tingkat lanjutan pertama dengan nama Pendidikan Guru Agama Pertama Nahdlatul Ulama’ (PGAP NU)

Tujuan didirikannya PGAP NU pada waktu itu adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Islam, khususnya warga NU di Batu, sehubungan dengan hal itu pengurus MWC NU Batu segera memproses dengan mengadakan musyawarah pengurus NU dan tokoh-tokoh untuk membahas tentang perlunya didirikan sebuah sekolah yang bernuansa Islam ala Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Hasil musyawarah tersebut melahirkan suatu keputusan yang antara lain : Warga NU perlu mempunyai sekolah lanjutan setelah berdirinya Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Ulum di Sisir Batu. Dan sebagai realisasi kongkrit hasil keputusan dari musyawarah tersebut maka pada tahun 1956 didirikan sekolah Pendidikan Agama Islam Pertama Nahdlatul ‘Ulama (PGAP NU)

Setelah PGAP NU berdiri pada tanggal 17 Agustus 1956 dengan perjalanan yang sangat lamban dari tahun ke tahun yang memakan waktu selama hampir 20 tahun, kondisi yang demikian itu membawa keprihatinan bagi segenap lapisan masyarakat dan yang sangat prihatin lagi adalah para pengelola sekolah. Keprihatinan tersebut meliputi berbagai macam aspek pendukung pendidikan diantaranya; sarana prasarana, ketenagaan, dan kesiswaan.

Mengatasi keprihatinan dan memacu perkembangan PGA agar lebih maju, maka segenap dewan guru dan karyawan serta pengurus sekolah berusaha mengadakan reuni antara lain : alumni, dewan guru, karyawan dan sisiwa yang diadakan pada tahun 1976. hasil yang dicapai dalam reuni tersebut antara lain kesepakatan para alumni untuk mendukung perkembangan sekolah. Dengan kesepakatan tersebut sedikit membawa angina segar bagi segenap pengurus madrasah.

Selanjutnya pada tahun 1973 berubah nama manjadi Madrasah Tsanawiyah Agama Islam Hasyim Asy’ ari (MTsAI Hasyim Asy’ari) dengan menggunakan kurikulum MTsAIN tahun 1973 berdasarkan keputusan Menteri Agama No. 31 tahun 1972 tentang perubahan nama, struktur dan kurikulum Sekolah Dinas dan Madrasah Negeri

1.         Letak Geografis

Gedung MTs HASYIM ASY’ARI, tepat letaknya di jalan Semeru No. 22, Desa Sisir Kecamatan Batu Kota Batu, lokasi gedung termasuk ditengah pusat kota karena ± 300m dari alun-alun Batu.

2.         Perkembangan Status Madrasah Tsanawiyah Hasyim Asy’ari

Madrasah Tsanawiyah mengalami perubahan status yang lambat, hal itu disebabkan karena belum adanya peraturan dari pemerintah untuk akreditasi madrasah. Sebelum mendapatkan status dari pemerintah , madrasah tsanawiyah telah mendapatkan surat piagam dari Lembaga Pendidikan Ma’arif Wilayah Jawa Timur. Sejak itu Madrasah Tsanawiyah berstatus terdaftar dengan nomor : PW / 300/ B-7/ IV/ 81.Setelah 14 tahun status terdaftar, kemudian menyusul dikeluarkan peraturan akreditasi dari Departemen Agama.

Berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam No. : 29/E/1990 tentang : Pedoman Akreditasi Madrasah. Dengan keluarnya peraturan tersebut, Madrasah Tsanawiyah dipersiapkan untuk mengikuti akreditasi dua tahun setelah keluarnya peraturan, maka pada tahun 1993 madrasah ini mengikuti akreditasi untuk meningkatkan status  ” terdaftar “ ke status “diakui”. Pada tahun 1993 telah berhasil mengikuti akreditasi dengan peringkat sangat baik, keberhasilan itu ditandai dengan penerimaan sertifikat diakui dari Kepala Kantor Wilayah Depag Jawa Timur.

Berdasarkan peraturan akreditasi bahwa setiap 5 tahun bagi madrasah yang telah mengikuti akreditasi harus mengikuti akreditasi ulang, untuk penilaian lebih lanjut apakah status tersebut akan turun, bertahan atau naik.

Dalam perjalanan 4 tahun status “ diakui “ madrasah ini berusaha mengikuti akreditasi untuk meningkatkan status. Pada tahun 1996 mengikuti akreditasi kenaikan tingkat ” disamakan “, kesempatan ini tidak disia – siakan oleh segenap warga Madrasah Tsanawiyah, baik pengelola maupun penyelenggara semua berusaha untuk mensukseskan. Pada akhirnya Status disamakan “ dapat diperoleh oleh madrasah ini. Hal ini sesuai dengan pedoman akreditasi Bab V, pasal 7 ayat (1) bahwa madrasah swasta adalah berstatus terdaftar, diakui dan disamakan.

Dengan status “ disamakan” ini  maka Madrasah Tsanawiyah Asy’ari memperoleh “ civil effect ”, yaitu berhak menjadi Madrasah Pembina dan sebagai madrasah Penyelenggara EBTANAS / Sub Rayon. Kewenangan tersebut berlaku sejak menerima sertifikat disamakan pada tahun 1997 s.d 2002, pada tahun 2002 s/d 2007 status Disamakan dapat dipertahankan hingga pada Tahun 2008 melaksanakan Akreditasi oleh BAS Kota Batu dengan hasil Terakreditasi “ A “. Berdasarkan Surat Akreditasi

5.      Visi, Misi dan Tujuan

Visi

Terwujudnya insan yang beriman dan bertaqwa berlandaskan Ahlussunnah Wal Jama’ah, menguasai ilmu pengetahuan dan tehnologi serta berakhlaqul mulia

Indikator:

1.        Unggul dalam pengembangan isi (kurikulum)

2.        Unggul dalam pengembangan standar pendidikan dan tenaga kependidikan

3.        Unggul dalam pengembangan standar proses

4.        Unggul dalam pengembangan fasilitas pendidikan

5.        Unggul dalam pengembangan standar kelulusan

6.        Unggul dalam mutu kelembagaan dan manajemen

7.        Unggul dalam penggalangan pembiayaan pendidikan

8.        Unggul dalam standar penilaian prestasi akademik dan non akademik

Misi

1.        Melaksanakan Standar dalam pengembangan kurikulum

2.        Melaksanakan peningkatan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan

3.        Melaksanakan berbagai inovasi proses pendidikan

4.        Melaksanakan pengembangan fasilitas pendidikan

5.        Melaksanakan upaya peningkatan standar kelulusan

6.        Melaksanakan pengembangan mutu kelembagaan dan manajemen

7.        Melaksanakan pengembangan dalam penggalangan biaya pendidikan

8.        Melaksanakan pengembangan dalam penilaian prestasi akademik dan non akademik

Tujuan

1.        Sekolah dapat mengembangkan standar isi (kurikulum ) kelas VII – IX untuk semua mata pelajaran, yang meliputi : pengembangan silabus dan sisnil, pemetaan KD dan pengembangan RPP.

2.        Sekolah dapat meningkatkan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan sesuai SNP

3.        Sekolah dapat melaksanakan berbagai inovasi proses pendidikan yang mengedepankan prinsip MBS dan CTL

4.        Sekolah dapat melengkapi fasilitas pendidikan sesuai dengan kebutuhan

5.        Sekolah dapat meningkatkan standar kelulusan setiap tahunnya

6.        Sekolah dapat meningkatkan mutu kelembagaan dan manajemen

7.        Sekolah dapat mengoptimalkan penggalangan biaya pendidikan

8.        Sekolah dapat mencapai standar penilaian sesuai SNP yang meliputi : pengembangan perangkat dan instrumen untuk berbagai model penilaian, pengimplementasian model evaluasi dan pengembangan program tindak lanjut  (remidial dan pengayaan)

2.3 Layanan Konseling yang Diberikan

Sebelum guru BK memberikan paparan tentang layanan konseling terlebih dahulu harus dapat dipahami secara teoritis  berdasarkan uji penelitian yakni tentang Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah :

  1. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konselir agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
  2. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
  3. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex).
  4. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.
  5. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
  6. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
  7. Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
  8. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
  9. Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
  10. Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
  11. Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli

Dari beberapa fungsi BK diatas, maka Ibu Ilfitriana NA, S.Psy memberikan pelayanan terhadap siswa di MTS Hasyim Asy’ari dengan sesungguhnya sesuai dengan tingkat permasalhan yang dialami oleh siswa dalam rangka belajar, adapun bentuk pelayanannya adalah sebagai berikut:

a.       Layanan bersifat pribadi

Banyak permasalahan yang dialami oleh siswa terkait tentang permasalahannya dalam belajar, kebanyakan siswa mengalami permasalahn dalam belajar, guru BK harus pandai-pandai menganalisis berbagai permasalahn seperti yang pernah terjadi ketika siswa yang berprestasi dalam hal akademik ternyata mengalami permasalahan dengan nilainya ang terus merosot bahkan kondisi psikologisnya terganggu, ternyata siswa tersebut mengalami permasalhan keluarga yang mana kondisi keluarga mengakibatkan prestasi belajarnya menurun. Dan dalam hal ini guru BK mencoba dengan memberikan pemahaman dan tindakan preventif dalam menangani masalah tersebut.

Guru BK tidak hanya menangani permasalahan individu yang dialami siswa akan tetapi juga bagaimana guru BK tersebut dapat dijadikan tempat konsultasi yang tepat dan dekat terhadap siswa yang mengalami permasalahn terkait tentang pencapaiannya dalam belajar,dan guru BK tidak hanya sebagai tempat keluh kesah akan tetapi harus mampu mendorong motivasi siswa yang nantinya akan berguna dalam belajar dan semangat meraih prestasi.

b.      Layanan Sosial Pergaulan Siswa

Dalam hal pergaulan siswa, memang merupakan tugas berat dari seorang guru BK menangani permasalahan sosial, baik itu terkait teman sebaya ataupun kondisi lingkungan yang menyebabkan siswa tersebut mempunyai masalah dalam belajar.

Guru sebagai pendidik wajib bagi seorang murid untuk menghormatinya baik dalam proses balajar mengajar maupun diluar proses tersebut, sedangkan teman dan lingkungan merupakan dua komponen yang saling berksinambungan yang mana siswa bergaul dalam lingkungan yang baik maka siswa itu akan menjadi baik. Sedangkan apabila dalam lingkungan yang kurang baik maupun kurang mendidik maka lambat laun anak tersebut akan mengikuti kebudayaan yang kurang baik tersebut. Maka dari itu, tugas dari BK memberikan solusi arahan dan nasehat kepada siswanya. Selain itu perang guru BK harus lebih akrab terhadap kondisi siwa dalam menghadapi permasalahan yang dialami.

c.         Layanan Karir

Guru BK harus mampu memberikan pelayanan dalam mengatasi problem minat, bakat siswa dan juga kondisi keluarga baik itu terkait tentang masalah ekonomi dan sebagainya.

Disinilah peran guru BK harus lebih difungsikan diantaranya dengan upaya Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. Dan juga Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli.

Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. Adapun Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

2.4 Posisi Konselor di Sekolah

2.5 Tata Ruang Konselor

Penataan ruangan BK memang kurang memadai akan tetapi ruangan yang kurang representative tidak menghalangi guru BK dalam memberikan layanannya terhadap siswa dalam menangani semua permasalahan belajar atau lainya, guru BK mencoba dengan memanfaatkan fasilitas yang ada untuk senantiasa memberikan layanan konseling dan dalam hal ini kondisi ruangan bukan faktor utama akan tetapi bagaimana peran guru BK dalam melayani permasalahan yang ada dan senantiasa memberikan motivasi terhadap siswanya.

2.6 Persepsi Siswa tentang Layanan dan Konseling

Dalam memberikan pelayanan terhadap siswa di MTS Hasyim Asy’ari Kota Batu, guru BK memberikan pendekatan yang lebih akrab dengan mengadakan pendekatan secara personal bahkan pada saat dalam suasana istirahat sekolah pun guru BK mencoba mendekati siswa yang dianggap mempunyai permasalaha psikologis, karena terlihat antara orang yang tidak punya masalah dengan orang yang punya masalah.

Peneliti mencari keterangan terhadap siswa tentang persepsi terhadap guru BK, dan ternyata banyak dari siswa merasa puas terhadap kinerja guru BK, tidak hanya wali kelas saja yang mempunyai peran lebih tapi juga guru BK harus punya peranan lebih terhadap segala permasalahan yang terjadi pada diri siswa.

Umumnya siswa merasa lebih dekat, walau ada salah seorang siswa yang bernama susanto yang mengatakan merasa tidak cocok terhadap guru BK karena baginya guru BK tidak dapat menyelesaikan permasalahanya, hanya sebatas menasehati saja, mungkin karena permasalahan yang dialami terlalu berat sehingga kondisi psikis siswanya.

Dalam hal ini merupakan pr besar bagi seorang guru BK dalam mengatasi permasalahan semua siswanya agar dapat lebih baik dan merasa bergairah dalam belajar, dan guru BK harus memberikan pendekatan yang lebih.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Banyak sekali keuntungan yang diperoleh dari program bimbingan dan konseling di sekolah. Para siswa yang berbakat memerlukan bimbingan untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya sehingga akan menjadi pribadi yang unggul, secara akademis dan akhlak.

Ada juga sebagian siswa yang membutuhkan konseling karena banyak menghadapi problema yang dapat mengganggu eksistensi dan proses dalam belajar. Pelanggaran terhadap peraturan sekolah juga memerlukan konseling agar sikap pelanggaran terhadap peraturan dapat dikurangi, sehingga akan terbentuknya kedisiplinan siswa yang tinggi. Tawuran antar pelajar, pemakaian obat-obatan terlarang, video porno, seharusnya juga menjadi perhatian yang besar dari tenaga BK di sekolahan. Ada banyak sekali fungsi bimbingan dan konseling di sekolah, fungsi satu berkaitan erat dengan fungsi yang lainnya.

Guru BK harus lebih jeli terhadap fenomena yang ada dalam diri siswa dan bagaimana guru BK harus lebih dekat dan memberikan kontribusi yang lebih terhadap permasalahan dalam pendidiakn sehingga tujuan dari pendidikan dapat tercapai.

KonseloR??????

Right,,, Banyak orang-orang yang akhir-akhir ini memutuskan untuk mempersiapkan karier sebagai seorang konselor. Mungkin dari teman-teman sendiri juga sudah merencanakan, entah apa alasannya, tetapi pengetahuan bidang ini dapat membantu karier anda selanjutnya.

Jadi bertanya-tanya bagaimana sebenarnya warisan dari masa lalu ini telah berkembang sejauh ini. Lets to know the story:

Menurut salah sstu literatur imam tertentu, peristiwa konseling paling awal dalam sejarah manusia yaitu ketika Adam menuai konsekuensi akibat makan buah terlarang di taman Eden. Tentunya ingin sekali mengetahui bukti realnya, namun memang ribuan bukti yang lain menunjukkan kalau dari abad ke abad manusia selalu meminta nasihat, petunjuk, dan bimbingan orang lain yang dianggap memiliki pengetahuan yang superior/ pengalaman unggul.

Salah jika dikatakan seorang konselor adalah kepala suku, tatib, peramal, atau ketua suku-suku kuno dimna masyarakat. Yang masih saya ingat adalah salah satu studi  Aristoteles yang berpengaruh kuat hingga sekarang adalah konsepqnnya mengenai hakikat, pola, dan efek interaksi manusia dengan orang laindan lingkungannya. Sementara para filsuf sekaligus pendidik sepert Luis Vives (1492-1540) contohnya, mengakui adanya kebutuhan untuk membimbing individu berdasarkan perilaku, latar belakang, minat dan bakatnya.

Menginjak Era Perang Dunia I: 1914-1934

Diperempat pertama abad XX, dua perkembangan signifikan lai di dalam psikologi mempengaruhi mendalam  gerakan bimbingan di sekolah ini, yaitu: (a) pengenalan dan pemgembangan tes psikologis standar yang diberikan secara kelompok, dan (b) gerakan kesehatan mental. Psikologi Prancis Alfred Binet dan Theodore Simon memperkenalkan untuk pertama kalinya tes kecerdasan di tahun 1905. Di tahun 1916, sebuah versi terjemahan dan revisinya diperkenalkan di Amerika Serikat oleh Lewis M. Terman dan kolega-koleganya di Universitas Standford, dan tes kecerdasan ini segera menikmti popularitas  luas di sekolah-sekolah. Setelah perang berakhir, tes ini lalu dipadukan dengan jenis-jenis teknik psikometrik lainnya untuk menilai kompetensi para siswa sekolah, menghasilkan ledakan besar perkembangan penciptakan peranti tes dan dorongan mencrai tes paling stndar dibidang pendidikan dari jenjang SD hingga SMA. Selanjutnya program bimbinga yang terorganisasikan mulai muncul dengan frekuensi tinggi dijenjang SMB sejak 1920-an, dan lebih intensif lagi dijenjang SMA dengan pengangkatan guru B         K yang khusus dipisahkan unyuk siswa laki-laki dan siswa perempuan. Titik inilah era dimulainya pemfungsian disiplin, kelengkapan daftar hadir selama 1 tahun ajaran dan tanggung jawab administrasi lainnya.

Konseling sebagai provesi penolong adalah konsep yang melandasi peran dan fungsi konselor di masyaqrakat. Profesi penolong adalah profesi yang anggota-anggotanya dilatih khusus dan memiliki lisensi atau sertifikat untuk melakukan sebuah layanan unik dan dibutuhkan masyarakat. Nah itu tadi se.dikit yang saya tahu bagaimana sejarah BK dari Amerika .           Berbeda dengan Amerika, Sejarah lahirnya Bimbingan dan Konseling di Indonesia diawali dari dimasukkannya Bimbingan dan Konseling (dulunya Bimbingan dan Penyuluhan) pada setting sekolah. Pemikiran ini diawali sejak tahun 1960. Hal ini merupakan salah satu hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) di Malang tanggal 20 – 24 Agustus 1960. Perkembangan berikutnya tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang mendirikan jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Tahun 1971 beridiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Menado. Melalui proyek ini Bimbingan dan Penyuluhan dikembangkan, juga berhasil disusun “Pola Dasar Rencana dan Pengembangan Bimbingan dan Penyuluhan “pada PPSP. Lahirnya Kurikulum 1975 untuk Sekolah Menengah Atas didalamnya memuat Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan. Sampai pada sekarang Bimbingan Konseling sangat banyak yang ingin memilih jurusan ini.

Apa sih Aqidah dan Akhlak itu????

A. PENGERTIAN AQIDAH AKHLAK
a. Pengertian Aqidah
Aqidah adalah bentuk masdar dari kata “ ‘aqoda, ya’qidu, ’aqdan-‘aqidatan ” yang berarti simpulan, ikatan, sangkutan, perjanjian dan kokoh. Sedang secara teknis aqidah berarti iman, kepercayaan dan keyakinan. Dan tumbuhnya kepercayaan tentunya di dalam hati, sehingga yang dimaksud aqidah adalah kepercayaan yang menghujam atau tersimpul di dalam hati.
Sedangkan menurut istilah aqidah adalah hal-hal yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa merasa tentram kepadanya, sehingga menjadi keyakinan kukuh yang tidak tercampur oleh keraguan.
Menurut M Hasbi Ash Shiddiqi mengatakan aqidah menurut ketentuan bahasa (bahasa arab) ialah sesuatu yang dipegang teguh dan terhunjam kuat di dalam lubuk jiwa dan tak dapat beralih dari padanya.
Adapun aqidah menurut Syaikh Mahmoud Syaltout adalah segi teoritis yang dituntut pertama-tama dan terdahulu dari segala sesuatu untuk dipercayai dengan suatu keimanan yang tidak boleh dicampuri oleh syakwasangka dan tidak dipengaruhi oleh keragu-raguan.
Aqidah atau keyakinan adalah suatu nilai yang paling asasi dan prinsipil bagi manusia, sama halnya dengan nilai dirinya sendiri, bahkan melebihinya.
Sedangkan Syekh Hasan Al-Bannah menyatakan aqidah sebagai sesuatu yang seharusnya hati membenarkannya sehingga menjadi ketenangan jiwa, yang menjadikan kepercayaan bersih dari kebimbangan dan keragu-raguan.
b. Pengertian Akhlak
Sedang pengertian akhlak secara etimologi berasal dari kata “Khuluq” dan jama’nya “Akhlaq”, yang berarti budi pekerti, etika, moral. Demikian pula kata “Khuluq” mempunyai kesesuaian dengan “Khilqun”, hanya saja khuluq merupakan perangai manusia dari dalam diri (ruhaniah) sedang khilqun merupakan perangai manusia dari luar (jasmani).
Ibnu Maskawaih dalam bukunya “Tahdzibul Akhlak Wa That-hirul A’raq” mendefinisikan akhlak dengan keadaan gerak jika yang mendorong ke arah melakukan perbuatan dengan tidak memerlukan pikiran.
Akhlak adalah “sikap hati yang mudah mendorong anggota tubuh untuk berbuat sesuatu”.
Menurut Prof. Dr. Ahmad Amin, yang disebut akhlak itu ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itulah yang dinamakan akhlak. Dalam penjelasan beliau, kehendak ialah ketentuan dari beberapa keinginan sesudah bimbang, sedangkan kebiasaan ialah perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah dikerjakan. Jika apa yang bernama kehendak itu dikerjakan berulang-kali sehingga menjadi kebiasaan, maka itulah yang kemudian berproses menjadi akhlak.
Dengan demikian pendidikan aqidah akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengimani Allah SWT dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan Qur’an dan Hadits melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Dibarengi tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dan hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.

B. Prinsip Dasar Akhlak Dalam Islam
Islam adalah agama yang sangat mementingkan Akhlak dari pada masalah-masalah lain. karena misi Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan Akhlak. Hal itu dapat kita lihat pada zaman Jahiliyah kondisi Akhlak yang sangat semrawut tidak karuan mereka melakukan hal-hal yang menyimpang seperti minum khomer dan berjudi. Hal-hal tersebut mereka lakukan dengan biasa bahkan menjadi adat yang diturunkan untuk generasi setelah mereka. Karena kebiasaan itu telah turun temurun maka pada awal pertama nabi mengalami kesulitan.
Prinsip Akhlak dalam Islam terletak pada Moral Force. Moral Force Akhlak Islam adalah terletak pada iman sebagai Internal Power yang dimiliki oleh setiap orang mukmin yang berfungsi sebagai motor penggerak dan motivasi terbentuknya kehendak untuk merefleksikan dalam tata rasa, tata karsa, dan tata karya yang kongkret. Dalam hubungan ini Abu Huroiroh meriwayatkan hadist dari Rosulullah Saw:
“orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya. Dan sebaik-baik diantara kamu ialah yang paling baik kepada istrinya. Al-Qur’an menggambarkan bahwa setiap orang yang beriman itu niscaya memiliki akhlak yang mulia yang diandaikan seperti pohon iman yang indah hal ini dapat dilihat pada surat Ibrahim ayat 24

               
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,

Dari ayat diatas dapat kita ambil contoh bahwa ciri khas orang yang beriman adalah indah perangainya dan santun tutur katanya, tegar dan teguh pendirian (tidak terombang ambing), mengayomi atau melindungi sesama, mengerjakan buah amal yang dapat dinikmati oleh lingkungan
C. Ruang Lingkup Akhlak
Dalam pembinaan akhlak mulia merupakan ajaran dasar dalam Islam dan pernah diamalkan seseorang, nilai-nilai yang harus dimasukkan ke dalam dirinya dari semasa ia kecil.
Ibadah dalam Islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam Al-Qur’an dikaitkan dengan taqwa, dan taqwa berarti pelaksanaan perintah Tuhan dan menjauhi larangannya. Larangan Tuhan berhubungan perbuatan tidak baik, orang bertaqwa adalah orang yang menggunakan akalnya dan pembinaan akhlak adalah ajaran paling dasar dalam Islam.
Dalam persepktif pendidikan Islam, pendidikan akhlak al-karimah adalah faktor penting dalam pembinaan umat manusia, oleh karena itu, pembentukan akhlak al-karimah dijadikan sebagai bagian dari tujuan pendidikan Islam. Pendapat Atiyah al-Abrasyi, bahwa pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam, dan mencapai kesempurnaan akhlak merupakan tujuan pendidikan Islam.
Firman Allah swt. dalam QS. (29): 45
وَأَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Terjemahnya:
“… dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar…”.
Firman Allah swt. dalam QS. (3): 159
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَ نـْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Terjemahnya:
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.
Dari dua ayat di atas sangat jelas menekankan kita untuk menjadikan akhlak sebagai landasan segala tingkah laku yang berasal dari Al-Qur’an.
Secara garis besar, mata pengajaran aqidah akhlak berisi materi pokok sebagai berikut:
1. Hubungan manusia dengan akhlak
Hubungan vertikal antara manusia dengan khaliqnya mencakup dari segi aqidah yang meliputi, iman kepada Allah, iman kepada malaikat-malaikatnya, iman kepada kitab-kitabnya, iman kepada rasul-rasulnya, dan kepada qada’ dan qadarnya.
2. Hubungan manusia dengan hamba
Materi yang dipelajari meliputi akhlak dalam pergaulan hidup sesama manusia, kewajiban membiasakan diri sendiri dan orang lain, serta menjauhi akhlak yang buruk.
3. Hubungan manusia dengan lingkungannya
Materi yang dipelajari meliputi akhlak menusia terhadap lingkungannya, baik lingkungan dalam arti yang luas, maupun akhlak hidup selain manusia, yaitu binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Yunahar Ilyas membagi pembahasan akhlak dengan enam bagian, yaitu:
1. Akhlak terhadap Allah swt.
2. Akhlak terhadap Rasulullah saw.
3. Akhlak pribadi
4. Akhlak dalam keluarga
5. Akhlak bermasyarakat
6. Akhlak bernegara.
Adapun ruang lingkup bidang studi akhlak adalah:
1. Akhlak terhadap diri sendiri meliputi kewajiban terhadap dirinya disertai dengan larangan merusak, membinasakan dan menganiyaya diri baik secara jasmani (memotong dan merusak badan), maupun secara rohani (membirkan larut dalam kesedihan).
2. Akhlak dalam keluarga meliputi segala sikap dan perilaku dalam keluarga, contohnya berbakti pada orang tua, menghormati orang tua dan tidak berkata-kata yang menyakitkan mereka.
3. Akhlak dalam masyarakat meliputi sikap kita dalam menjalani kehidupan soaial, menolong sesama, menciptakan masyarakat yang adil yang berlandaskan Al-Qur’an dan hadist.
4. Akhlak dalam bernegara meliputi kepatuhan terhadap Ulil Amri selama tidak bermaksiat kepada agama, ikut serta dalam membangun Negara dalam bentuk lisan maupun fikiran.
5. Akhlak terhadap agama meliputi berimn kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya, beribadah kepada Allah. Taat kepada Rosul serta meniru segala tingkah lakunya.
Prinsip akhlak dalam Islam yang paling menonjol adalah bahwa manusia dalam melakukan tindakan-tindakannya, ia mempunyai kehendak-kehendak dan tidka melakukan sesuatu. Ia harus bertanggung jawab atas semua dilakukannya dan harus menjaga perintah dan larangan akhlak. Tanggung jawab itu merupakan tanggung jawab pribadi muslim, begitupun dalam kehidupan sehari-hari harus selalu menampakkan sikap perbuatan berakhlak. Akan tetapi akhlak bukalah semata-mata hanya perbuatan akan tetapi lebih kepada gambaran jiwa yang tersembunyi.
D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Aqidah Akhlak
Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan Aqidah Akhlak antara lain adalah:
1. Insting (Naluri)
Aneka corak refleksi sikap, tindakan dan perbuatan manusia dimotivasi oleh kehendak yang dimotori oleh Insting seseorang ( dalam bahasa Arab gharizah). Insting merupakan tabiat yang dibawa manusia sejak lahir. Para Psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku antara lain adalah:
a) Naluri Makan (nutrive instinct). Manusia lahir telah membawa suatu hasrat makan tanpa didorang oleh orang lain.
b) Naluri Berjodoh (seksul instinct). Dalam alquran diterangkan, yang artinya:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak”.
c) Naluri Keibuan (peternal instinct) tabiat kecintaan orang tua kepada anaknya dan sebaliknya kecintaan anak kepada orang tuanya.
d) Naluri Berjuang (combative instinct). Tabiat manusia untuk mempertahnkan diri dari gangguan dan tantangan.
e) Naluri Bertuhan. Tabiat manusia mencari dan merindukan penciptanya.
Naluri manusia itu merupakan paket yang secara fitrah sudah ada dan tanpa perlu dipelajrari terlebih dahulu.
2. Adat atau kebiasaan
Adat atau Kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Abu Bakar Zikir berpendapat: perbutan manusia, apabila dikerjakan secara berulang-ulang sehingga mudah melakukannya, itu dinamakan adat kebiasaan.

3. Wirotsah (keturunan) adapun warisan adalah:
Berpindahnya sifat-sifat tertentu dari pokok (orang tua) kepada cabang (anak keturunan). Sifat-sifat asasi anak merupakan pantulan sifat-sifat asasi orang tuanya. Kadang-kadang anak itu mewarisi sebagian besar dari salah satu sifat orang tuanya.

4. Milieu
Artinya suatu yang melingkupi tubuh yang hidup meliputi tanah dan udara sedangkan lingkungan manusia, ialah apa yang mengelilinginya, seperti negeri, lautan, udara, dan masyarakat. milieu ada 2 macam:
a) Lingkungan Alam
Alam yang melingkupi manusia merupakan faktor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku seseorang. Lingkungan alam mematahkan atau mematangkan pertumbuhn bakat yang dibawa oleh seseorang. Pada zaman Nabi Muhammad pernah terjadi seorang badui yang kencing di serambi masjid, seorang sahabat membentaknya tapi nabi melarangnya. Kejadian diatas dapat menjadi contoh bahwa badui yang menempati lingkungan yang jauh dari masyarakat luas tidak akan tau norma-norma yang berlaku.
b) Lingkungan pergaulan
Manusia hidup selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Itulah sebabnya manusia harus bergaul. Oleh karena itu, dalam pergaulan akan saling mempengaruhi dalam fikiran, sifat, dan tingkah laku. Contohnya Akhlak orang tua dirumah dapat pula mempengaruhi akhlak anaknya, begitu juga akhlak anak sekolah dapat terbina dan terbentuk menurut pendidikan yang diberikan oleh guru-guru disekolah.

Halo dunia!

Selamat datang di Blog UIN MALIKI MALANG. Ini adalah posting pertama Anda. Edit atau hapus tulisan ini, mulailah menjadi UIN blogger!