YourSite - Slogan Here!

Konsep Pendidikan di Inggris, Jepang dan Negara Kita Indonesia, Bagaimanakah perbedaannya???

SILABUS

Mata Pelajaran                     : Sosiologi Pendidikan Islam

Kelas                                      : XI

Semester                               : 1 (satu)

Standar Kompetensi           : Membandingkan Konsepsi Sosiologi Pendidikan Indonesiadengan Inggris dan Jepang

Kompetensi dasar Materi pembelajaran Kegiatan pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi waktu Sumber/ bahan/alat
Mendiskripsikan Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang. 1.  Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang

2.  Perbedaan Konsep Pendidikan Indonesia, inggris dan Jepang.

3.  Film Tentang Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang.

a.  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang pengertian Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang. Siswa membuat catatan singkat berdasarkan penjelasan guru.

b.  Siswa mendengar penjelasan guru tentang perbedaan konsep pendidikan Indosesia dengan Inggris dan Jepang.

c.   Siswa membentuk kelompok kemudian membaca artikel dalam buku  halaman 28-30, kemudian mendiskusikan bersama teman-temannya.

d.  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas dan guru menjadi pemandu diskusi kelas.

e.  Siswa dan guru membuat kesimpulan atas hasil diskusi kelompok.

f.    Siswa mengumpulkan hasil diskusinya untuk dinilai.

1.  Siswa mampu Menjelaskan hakikat konsep pendidikan indonesia, inggris dan jepang.

2.    Siswa mampu Mengidentifikasi perbedaan konsep pendidikan Indosesia dengan Inggris dan Jepang.

3.    Siswa mampu Mendeskrispsikan berbagai pengaruh Perbedaan konsep Pendidikan Indonesia dengan Inggris dan Jepang.

- Hasil pekerjaan siswa

“Uji Penguasaan Materi”

- Hasil laporan siswa tentang Hasil Diskusi di kelas.

- Hasil Mapping yang dibuat masing-masing siswa.

2 x 45 menit 1.    Papan tulis

2.    Alat-alat tulis

3.    Lembar soal

4.    Power Point

5.    OHP

6.    Laptop

7.    LCD

8.    Film


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama sekolah             : SMA Negeri 18 Malang

Mata Pelajaran         : Sosiologi Pendidikan

Kelas/semester         :  X I / 1

Alokasi Waktu          :  2 x 45 menit

Standar Kompetensi   :Membandingkan Konsepsi Sosiologi Pendidikan Indonesiadengan Inggris dan Jepang.

Kompetensi Dasar   :

Mendeskripsikan Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang.

Indikator                     :

  1. Menjelaskan hakikat konsep pendidikan indonesia, inggris dan jepang.
  2. Mengidentifikasi perbedaan konsep pendidikan Indosesia dengan Inggris dan Jepang.
  3. Mendeskrispsikan berbagai pengaruh Perbedaan konsep Pendidikan Indonesia dengan Inggris dan Jepang.

A.   Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

1.    Mendeskrispsikan Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang.

2.    Mengidentifikasi perbedaan konsep pendidikan Indosesia dengan Inggris dan Jepang.

3.    Membedakan berbagaipengaruh Perbedaan konsep Pendidikan Indonesia dengan Inggris dan Jepang.

B.   Materi Pembelajaran

1.    Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang

2.    Perbedaan Konsep Pendidikan Indonesia, inggris dan Jepang.

3.    Film Tentang Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang.

C.   Metode Pembelajaran

  1. Informasi
  2. Kerja mandiri
  3. Eksplorasi
  4. Diskusi
  5. Ceramah

D.   Langkah-Langkah Pembelajaran

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu
1.
Pendahuluan
a. Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan sosiologi pendidikan Islam yang telah dipelajari di kelas X

b. Memotivasi

Siswa mendengarkan tujuan pembelajaran tentang Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang dan perbedaannya.

c. Rambu-rambu belajar

Siswa mendapat gambaran tentang Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang dan perbedaannya dalam bentuk skema.

15 menit
2. Kegiatan Inti

g.    Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang pengertian Konsep Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang. Siswa membuat catatan singkat berdasarkan penjelasan guru.

h.    Siswa mendengar penjelasan guru tentang perbedaan konsep pendidikan Indosesia dengan Inggris dan Jepang.

i.      Siswa membentuk kelompok kemudian membaca artikel dalam buku  halaman 28-30, kemudian mendiskusikan bersama teman-temannya.

j.      Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas dan guru menjadi pemandu diskusi kelas.

k.    Siswa dan guru membuat kesimpulan atas hasil diskusi kelompok.

l.      Siswa mengumpulkan hasil diskusinya untuk dinilai.

65 menit
3. Kegiatan Akhir

  1. Siswa mengerjakan evaluasi  dengan menjawab yang diberikan guru.
  2. Siswa diberi tugas untuk mengamati konsep pendidikan Indonesia, Inggris dan jepang serta perbedaannya. Kemudian siswa diberi tugas untuk membuat Mapping.
10  enit

E.   Sumber pembelajaran:

  1. Buku Bahan AjarSosiologi Pendidikan Islam.
  2. Film tentang Pendidikan Indonesia, Inggris dan Jepang.
  3. Media massa seperti majalah, koran, artikel dan buku-buku tambahan.
  1. Media
  1. Papan tulis
  2. Alat-alat tulis
  3. Lembar soal
  4. Power Point
  5. OHP
  6. Laptop
  7. LCD
  8. Film
  1. Penilaian

1. Hasil pekerjaan siswa “Uji Penguasaan Materi”

2. Hasil laporan siswa tentang Hasil Diskusi di kelas.

3. Hasil Mapping yang dibuat masing-masing siswa.

  1. Aspek Yang Dinilai Dalam Diskusi
  1. Kemampuan menyampaikan pendapat.
  2. Kemampuan memberikan argumentasi.
  3. Kemampuan memberikan kritik.
  4. Kemampuan mengajukan pertanyaan.
  5. Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.
  6. Kelancaran berbicara.

Mengetahui:                               Malang, _____________

_____________________

Kepala Sekolah SMA                                             Guru Kelas/Bidang studi

Konsep Pendidikan

1. Konsepsi Sosiologi Pendidikan Inggris Raya (Great Brittain)

Inggris adalah salah satu kerajaan yang tergolong tertua di benua eropa.Dalam sejarah perkembangannya inggris telah berhasil membina bangsanya menjadi salah satu bangsa yang dapat menguasai tujuh samudra dengan semboyannya”Rule the Waves” (kuasai gelombang samudera).Inggris adalah bangsa bahari yang mampu menguasai tujuh samudera itu dengan armada kapal- kapal dagangannya, juga kapal perangnya di masa silam.

Inggris adalah Negara bagian terbesar dan terpadat penduduknya dari Negara-negara bagian lain yang membentuk menjadi satu dalam persatuan kerajaan britania raya (United Kingdom of Great Britain). Selain Inggris dalam britania raya tersebut terdapat pula Negara lain yaitu: Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara, sehingga sering kali nama Inggris disamakan dengan keseluruhan Negara tegrsebut atau disamakan dengan United Kingdom. Secara geografis, wilayah inggris meliputi dua pertiga dari Britania yang berbatasan dengan skotlandia disebelah utara dan berbatasan dengan wales disebelah barat, serta dengan Prancis disebelah selatan yang dipisahkan  oleh selat Inggris. Letak astronomis Negara inggris berada pada posisi 50 derajat samapi 60 derajatlintang utara dan 11 derajat-15 derajat bujur barat dengan luas wilayahnya 130.395 km. Negara ini pernah beberapa kali dikuasai oleh bangsa lain dan orang mempersatukan bangsa inggris sejak abad ke-9 adalah Egbert dari Wessex.

Wilayah inggris terbagi atas 9 (sembilan) bagian wilayah yang disebut propinsi, yaitu: greater London, North East England, Nort West England, East of England, Yorksire and the humber, West Midlans, South West England and terakhir adalah South East England. Sedangkan kota-kota besar di Inggris ada 8 yaitu: London, Birmingham, Manchester, Bristol, Liverpool, Leeds, Newcastle upon Tyne, dan Sheffield.[1]

1

Bangsa yang berjiwa bahari dan memiliki sifat- sifat kesombongan (arogansi) itu ditempa melalui pendidikan yang menitik beratkan pada pembentukan kepribadian yang khas kepada generasi mudanya. Di setiap jenis sekolah, selalu nampak ciri- ciri pendidikan pribadi siswa- siswanya antara lain dengan memberikan “kedaulatan sendiri” (self- goverment) untuk bertanggung jawab mengatur sekolahnya sendiri yang berlangsung secara kolektif dari sejak tingkat dasar sampai tingkat tinggi, hal ini benar- benar merupakan metoda pendidikan yang dapat memberikan corak khas kepribadian mandiri pada masa dewasanya.

Mereka dididik untuk mampu mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui berbagai penelitian (discovery) dalam lingkungan hidupnya tanpa adanya rasa takut atau pun rasa malas.Akan tetapi sebaliknya, mereka dididik untuk berani meneliti dan menemukan hal- hal baru.

Penjurusan dalam pendidikan keahlian dan keterampilan merupakan suatu cara yang dapat menjadikan siswa lebih memperdalam ilmu yang menjadi jurusannya. Sikap pendalaman kekhususan ilmu pengetahuan mereka dilandasi dengan pendidikan agama Kristen untuk memperkuat kepribadiannya.

Dalam system kependidikan Inggris sebagaimana yang tercermin dalam berbagai jenis dan jenjang sekolah yang dikembangkan adalah menunjukkan bahwa pendidikan di Inggris lebih mementingkan spesialisasi keahlian dan keterampilan dalam berbagai lapangan hidup sesuai dengan bakat dan kemampuan murid- muridnya pada pendidikan tingkat menengah.

Pengembangan bidang teknologi praktis di tingkat menengah dan teknologi akademis di tingkat akademi dan perguruan tinggi benar- benar telah di mulai secara terarah pada tingkat sekolah dasar dan menengah. Pengarahan demikian akan mempermudah siswa- siswa untuk memilih langsung terjun ke dunia kerja atau meneruskan ke tingkat pendidikan tinggi. Demikian pula pengembangan bidang- bidang disiplin ilmu social dan humaniora serta arts (seni budaya) atau bahasa.

Pemerintah di Inggris mula-mula enggan terlibat dalam pengelolaan pendidikan.Pemerintah inggris pertama kali ikut mengelola bidang pendidikan baru terjadi pada tahun 1833. Permulaan mengelola bidang pendidikan tersebut dilakukan pemerintah dengan memberikan sejumlah kecil dana bantuan pada dua peerkumpulan sekolah amal. Sebelumnya pemerintah telah mengijinkan berdirinya yayasan pendidikan swasta dan sekali-kakli memberikan bantuan dana kepada mereka. Wewenang untuk menilai dan memberikan lisence melalui proses sertifikasi kepada guru-guru dan mengawasi pelaksanaan pembelajaran disekolah-sekolah diserahkan kepada gereja inggris. Perhatian pemerintah terhadap penyelenggaraan pendidikan ini selanjutnya membawa kepada upaya penetapan aneka peraturan yang menjamin keberadaan kepercayaan ortodoks dan kesetiaan kepada golongan yang berkuasa. (IN. Tud and Don Adams, 2005)

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pemberian dana public untuk tujuan pendidikan dapat mempercepat perubahan kebijakan pemerintah. Sejak awal sumbangan hanya diberikan kepada sekolah-sekolah yang direkomendasikan secara khusus oleh the national society dan disetujui oleh institusi yang mendistribusikan dana tersebut. Ketika jumlah sumbangan tahunan ditingkatkan, maka dibentuklah Select Committee of The Privy Council.

Dalam pelaksanaan demokratis dalam kependidikan, Inggris memberikan kebebasan kepada organisasi keagamaan untuk mendirikan sekolah dengan ciri- ciri khasnya khasnya masing- masing secara otonom (mengatur dirinya sendiri).Namun pada akhirnya pemerintah berhak mengawasi dan mencampurinya bilamana perlu, yaitu terbatas pada tingkat dasar atau menengah.Pada pendidikan universitas, baik negeri maupun swasta, masing- masing berdiri sendiri, bebas dari campur tangan pemerintah pusat maupun dewan pendidikan daerah atau kementrian pendidikan dan urusan pendidikan daerah.Universitas bukanlah termasuk wilayah pemerintah.oleh karena universitas di Inggris langsung didirikan oleh raja dengan keputusan raja (Royal Charter), yang merupakan lembaga yang otonom.

Sistem sekolahan di Inggris banyak terpengaruh oleh sistem pendidikan di daratan Eropa, terutama Jerman banyak bermunculan ahli- ahli kependidikan terkenal seperti Frobel, Pestalozzi, Herbart, dan sebagainya.

1. Sistem Pendidikan di Inggris

a. Kalender Pendidikan

Di Negara tempat David Becham berasal ini tahun ajaran berlangsung dari akhir September sampai akhir Juli dengan 2 bulan libur selama musim panas.[2]

b. Pendidikan Wajib

Pendidikan wajib di Inggris meliputi sekolah dasar dan sekolah menengah. Sekolah dasar di mulai dari usia 5 sampai 11 tahun dalam kurun waktu 6 tahun. Tahun pertama dan kedua disebut infantsdan tahun ketiga sampai ke enam disebut Junior[3]. Pada level sekolah dasar ini tidak di adakan ujian bagi siswa mulai dari kelas satu sampai dengan kelas enam, kecuali ujian kemampuan yang dilaksanakan ketika anak berusia tujuh tahun. Penekanan ada pada belajar secara praktikal dibandingkan menghafal.Siswa belajar mata pelajaran inti seperti Bahasa Inggris, matematika dan sains, juga pelajaran dasar seperti sejarah, geografi, musik, seni dan olahraga.

3

Sekolah menengah dimulai dari umur 11 sampai 16 tahun dalam kurun waktu normal 5 tahun.Di setiap jenjang siswa memperdalam pelajaran mereka pada mata pelajaran inti dan ditambah setidaknya satu pelajaran bahasa asing.Pada tahun ke-4 barulah mereka mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian-ujian yang disebut General Certificate of Secondary Education atau GCSE. Setelah menyelesaikan ujian GCSE, siswa sekolah menengah dapat meninggalkan sekolah untuk bekerja, mengikuti program training di sekolah kejuruan atau teknik, atau melanjutkan 2 tahun lagi untuk menyiapkan diri bagi ujian masuk universitas, yang dikenal dengan “A-Levels.”[4]

c. Pendidikan Pilihan

1) A levels

A Levels adalah lanjutan dari sekolah menengah atas jika mereka ingin masuk ke bangku universitas.Ditempuh selama 2 tahun. Dalam jenjang ini siswa akan belajar 3 sampai 4 subjek untuk ujian A Levels[5]

2) Program Sarjana

Ditingkat sarjana, siswa di Inggris dapat memilih jurusan art dan sciences.Program ini biasanya berlangsung selama tiga tahun dimana selama itu siswa dapat menyelesaikan pelajaran dan tutorial di bidang masing-masing. Siswa yang akan lulus biasanya harus mengikuti ujian akhir.

3) Pasca Sarjana dan Doktoral

Jenjang ini dilaksanakan 1 sampai 2 tahun.Gelar yang mereka peroleh adalah master arts (MA) atau master science (MSc) dan Master in Business Administration (MBA) setelah mereka menyelesaikan studinya. Seperti di Indonesia, di jenjang ini siswa harus menyelesaikan semua studinya, membuat tesis dan mengikuti ujian akhir. Siswa pasca sarjana juga dapat meneruskan program doktoral atau PhD.[6]

Meskipun Inggris tergolong Negara maju dalam industry dan teknologi, namun dalam masalah kependidikan juga masih dirasakan adanya problema- problema yang tidak mudah dipecahkan.

4

2. Problem-problem Pendidikan di Inggris

Problema- problema kependidikan di Inggris itu pernah dilaporkan oleh Persatuan Nasional Guru Inggris dan Wales (The National Unions of England and Wales) yang pokok- pokoknya dikemukakan dalam Kongres ke 27 di Jakarta sebagai berikut:

1)    The relationship between education and employment and preparation for the transition from school to work. (bagaimana hubungan antara pendidikan dan pekerjaan sebagaimana menyiapkan peralihan dari sekolah ke dunia kerja).

Orang Inggris masih belum merasa puas tentang keharusan adanya hubungan antara sekolah dengan kebutuhan praktis bagi siswa- siswanya dalam memasuki dunia kerja. Oleh karena itu diusahakan agar hubungan antara sekolah dengan dunia kerja dipererat, misalnya dengan perusahaan- perusahaan, holding company, dan sebagainya, meskipun tugas pokok sekolah (menurut pandangan mereka) bukanlah memberikan pendidikan kekaryaan yang berkaitan dengan lapangan kerja di perusahaan- perusahaan semata- mata. Sekolah hanya membantu siswa- siswanya bagaimana cara memecahkan masa peralihan yang sering menyulitkan itu.

2)    A commitment to life-longeducation (rasa keterikatan dengan pendidikan sepanjang hayat).

Sehubungan dengan strategi ini, yang perlu dipecahkan ialah bagaimana agar pendidikan sepanjang hayat tersebut benar- benar dapat dilaksanakan secara merata sampai kepada orang- orang berusia lanjut atau dewasa yang pada masa kanak- kanaknya tidak mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan.

3)    The expansion of educational facilities (pengembangan sarana pendidikan).

Pengembangan fasilitas atau sarana kependidikan ini akan memakan banyak biaya, terutama bila di sejajarkan dengan pesatnya kemajuan ilmu dan teknologi tersebut di satu pihak akan mengurangi tenaga guru itu sendiri, yakni banyak guru yang menganggur, dan dilain pihak bila fasilitas itu dikurangi, maka akan menimbulkan hambatan belajar dari siswa, juga akan membatasi pertumbuhan ekonomi di masa datang.

4)    Teacher education for tomorrow.(pendidikan guru untuk hari esok).

5

Sehubungan dengan masalah ini, pendidikan guru harus ditingkatkan lagi mutunya.Hal ini menyangkut system dan metodanya, sehingga harapan masyarakat luas untuk mendapatkan hasil kependidikan anaknya semakin dapat terpenuhi.Profesi keguruan harus dipersiapkan secara matang melalui system pendidikan tinggi yang lamanya 4 tahun. Guru untuk hari esok harus mampu menjabarkan pengertian bagi siswanya tentang adanya kenyataan yang ada di dalam masyarakat bahwa di sana terdapat berbagai kepentingan yang terlatar belakang multirasial dan multicultural. Siswa harus menjadi orang dewasa yang benar- benar matang pandangan berfikirnya tentang masalah hak asasi manusia dan sebagainya.

3. Perbandingan Sistem Pendidikan di Inggris dengan Negara Lain

a.    Biaya pendidikan di Indonesia sudah gratis tapi bayar sampai saat ini sedangkan di Inggris biaya sekolah sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah.[7]

b.    Kalau di Indonesia siswa SD baru diperkenalkan dengan komputer itupun belum semuanya, di Negeri Putri Diana ini anak SD sudah diharuskan belajar jejaring sosial seperti twitter dan ensiklopedia online wikipedia.

c.    Biaya pendidikan di Inggris lebih terjangkau bahkan sampai jenjang pascasarjana di banding negara eropa lainnya seperti jerman dan prancis.[8]

d.    Di negara Eropa khususnya negara sepak bola ‘kata changcuthers’ bukan Italia atau Argentina tetapi London (Inggris), sistem pendidikan menganut pola press shcematic (maksudnya tidak terlalu banyak yang dipelajari tetapi terfokus dan lebih terspesialisasi, sehingga kepakaran ilmunya sangat dalam). Sedangkan di Indonesia salah satunya menganut pola breadth schematic sehingga tidak mengakar karena otak otak siswa sudah overloading, kebanyakan pelajaran.[9]

6

2.  JEPANG

Jepang adalah termasuk industrial kelima di dunia.Meskipun telah maju masyarakatnya berkat ilmu dan teknologi, namun banyak pula permasalahan kependidikan yang perlu dipecahkan oleh Negara tersebut. Namun perlu diperhatikan, kemajuan yang telah diraih Jepang setelah Perang Dunia ke II itu merupaka produk (hasil) dari proses kependidikan yang di kelola secara konsisten dan terarah.

Seandainya Negara ini tidak lagi dikendalikan oleh politik Amerika Serikat niscaya negeri ini telah dapat mencapai puncak ilmu dan teknologi industri yang mengungguli Negara industrial Barat. Kemajuan Jepang di bidang ilmu dan teknologi tinggi masih dikhawatirkan oleh Negara- Negara Barat (Amerika Serikat) akan menjadi boomerang (bahaya yang mengancam) terhadap negara- negara tetangga khususnya di kawasan Asia Tenggara. Watak dan sifat- sifat fasisme Jepang sampai kini tetap masih melekat pada pribadi bangsa ini.

1. Sistem Pendidikan Jepang

Rupanya, bukan hanya Indonesia yang gemar mereformasi (atau sekadar mengganti) kurikulum pendidikan. Negara maju seperti Jepang yang pendidikannya terbukti mampu mencetak kader-kader bangsa yang qualified, ternyata mengalami hal yang sama.Reformasi sistem pendidikan tertuang dalam program “Yutori Kyoiku” yang dicanangkan Kementrian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Ilmu Pengetahuan, serta Teknologi (MEXT). Meskipun sistem pendidikan Jepang tergolong sangat baik, terbukti dengan performa siswanya dalam bidang Matematika dan ilmu alam, ternyata pemerintah Jepang merasa belum puas, terutama rentang antara 1980-1990.

Pendidikan di Jepang memang memiliki serangkaian keunggulan, misalnya:

  • kurikulum dasar yang kuat pada bidang studi Matematika dan ilmu pasti,
  • komitmen masyarakat yang kuat pada keunggulan akademik,
  • keselarasan hubungan pengajar dan peserta didik,
  • perencanaan pendidikan yang matang visioner,
  • implementasi yang baik dalam ilmu terapan.
7

Namun, muncul perdebatan publik dan studi komparasi yang mengetengahkan fakta bahwa sistem pendidikan di Jepang terlalu kaku mengaplikasikan ujian masuk calon siswa baru serta lebih menekankan kemampuan ingatan terhadap fakta-fakta.

Yutori Kyoiku diformulasikan untuk meredam kecenderungan tersebut. Seiring, upaya meningkatkan standar akademik dalam program “Super Science” untuk siswa-siswi SMAdengan kemampuan di atas rata-rata.

1. Kalender Akademik

Sebagai gambaran, ada baiknya kita melongok kalender akademik SMA Nakamura, sebuah sekolah level menengah ke atas yang menganut sistem full time course dengan hari belajar Senin-Jumat.

Umumnya SMA di Jepang, kegiatan belajar-mengajar berlangsung pukul 08:45 -15.15, tersusun atas enam jam pelajaran. Satu jam berdurasi 50 menit. Dengan pengecualian hari Rabu yang tersusun atas tujuh jam, dalam seminggu terdapat 31 jam pelajaran.

Ada Sembilan mata pelajaran yang diajarkan, yaitu:

  1. Bahasa Jepang
  2. Geografi/Sejarah
  3. Pendidikan Kewarganegaraan
  4. Matematika
  5. Pendidikan Jasmani dan Olahraga
  6. Pendidikan Seni
  7. Bahasa Asing (Inggris)
  8. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dan IT
  9. Keterampilan

Tahun akademik dimulai April, terbagi menjadi dua semester, dan melangsungkan lima kali ujian pada Mei, Juli, Oktober, Desember,dan Februari. Jadwal kegiatan akademik secara global adalah sebagai berikut.

Semester Ganjil:

  1. April: Penerimaan siswa baru, Tes Akademik, Tes Kesehatan, dan Orientasi Karir kelas 3.
  2. Mei: Ujian tengah semester, Orientasi Karir kelas 2, Sports Day.
  3. Juni: Kegiatan belajar-mengajar untuk kelas 1, Ujian kelas 3.
  4. Juli: Ujian akhir semester, Tambahan Pelajaran, Camping.
  5. Agustus: Open Day, School Day, Camping, Festival Sekolah dan masa liburan musim panas.

Semester Genap:

  1. September: Opening Ceremony, Tes Akademik, Festival Sekolah.
  2. Oktober: Ujian tengah semester, Kuliah dari Universitas kelas 2.
  3. 8

    November: Tes Akademik, Tes Kemampuan Akademik kelas 3, Reading session untuk 1.

  4. Desember: Tes Akademik, tambahan pelajaran, berbarengan dengan masa liburan musim dingin.
  5. Januari: Tes Kemampuan Akademik, Ujian Akhir kelas 3, Reading Session kelas 2.
  6. Februari: Ujian akhir kelas 1 dan 2.
  7. Maret: Wisuda, Ujian susulan.

2. Reformasi

Jadi, reformasi yang dicanangkan dalam Yutori Kyoiku adalah sebagai berikut:

  1. Mengembangkan model pembelajaran yang lebih fleksibel untuk meningkatkan kemampuan dasar scholastic siswa.
  2. Perbaikan mutu pembelajaran yang menekankan pada karakter kepribadian siswa secara intrapersonal dan interpersonal.
  3. Mengurangi tekanan dan mengembangkan aspek lingkungan belajar yang menyenangkan.
  4. Evaluasi sekolah secara mandiri dan transparan oleh orangtua siswa dan masyarakat.
  5. Meningkatkan profesionalitas guru, etos kerja, dan upgrading. Dilengkapi dengan penerapan evaluasi, dan penghargaan bagi guru berprestasi.
  6. Mendorong pengembangan universitas dengan taraf internasional.
  7. Reformasi konstitusi dan pembentukan filosofi pendidikan untuk menyongsong abad baru.

Reformasi yang dilakukan bukan terletak pada materi pelajaran atau metode pengajaran di kelas, tetapi pada sistem pendidikan di sekolah.Konsep ini sesuai dengan problematika yang ada.Selain itu, negara ini tampak tidak membangun kelas-kelas baru dan justru menggabungkan beberapa sekolah yang ada.

Dengan kata lain, sistem pendidikan di Jepang bertujuan menciptakan kader bangsa yang sehat jasmani dan rohani, serta penuh estetika. Sistem semacam ini diharapkan mampu menghasilkan murid yang ideal, tekun melatih diri sendiri, mengikuti aturan, dan memiliki wawasan berpikir internasional.

3. Problem-problem Pendidikan di Jepang

Permasalahan kependidikan yang dianggap mendesak oleh Jepang antara lain:

1)

9

Bagimana agar hubungan antara program kependidikan di lembaga- lembaga kependidikan dengan dunia kerja dapat diserasikan.

Para lulusan dari kalangan perguruan tinggi di Jepang saat ini semakin cenderung untuk mendapatkan pekerjaan pada lembaga pemerintahan, sedangkan pemerintahan sendiri melakukan pengurangan pegawai negeri.Untuk tamatan sekolah menengah tidak banyak menemui permasalahan karena lapangan kerja bagi mereka cukup tersedia.

Pengangguran intelektual dari lulusan universitas semakin membengkak. Kondisi demikian membuat para pencari kerja usia muda terlanda rasa cemas. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi yang melaju harus dapat diserasikan dengan pertumbuhan tenaga kerja intelektual yang terampil dan professional di bidang usaha swasta.Pendidikan yang kurang menitik beratkan pada faktor kemanusiaan karena pendidikan saat ini menitik beratkan pada faktor ahli teknologi tinggi demi memenuhi kebutuhan masyarakat modern, tanpa memperhatikan tuntutan dari luapan pencari kerja baru.Dehumanisasi harus diubah menjadi humanisasi kependidikan.Demikian pula halnya di dalam modernisasi industri.

2)    Berkaitan dengan pemasalahan di atas maka perlu dipecahkan bagaimana melakukan persiapan menghadapi masa peralihan dari masa sekolah ke masa kerja serta masa hidup bermasyarakat.

Massa peralihan ini terjadi pada akhir pendidikan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi.Bagi lulusan sekolah- sekolah menengah kejuruan yang telah diarahkan ke dunia kerja tidak banyak menimbulkan permasalahan serius, sehingga mereka dengan mudah dapat diterima di dunia kerja yang memerlukan tenaga kejuruan yang terampil.

3)    Pendidikan seumur hidup, yang tidak hanya berlangsung di lembaga- lembaga pendidikan formal dipandang perlu penyediaan kesempatan memperoleh pendidikan pada lembaga- lembaga non formal. Sekolah di Jepang dalam kaitan dengan tugas adalah mengarahkan kepada pengembangan kemampuan dan kecakapan serta kapasitas berfikir bebas. Akan tetapi sekolah masih belum dapat meningkatkan inisiatif dan kesabaran, karena masih Nampak di sana- sini timbul kekerasan dan kejahatan di kalangan remaja. Untuk itu dipandang perlu menciptakan system kependidikan yang luas dalam waktu dan ruang lingkupnya sehingga dapat mengikut sertakan orang tua, guru dan murid dalam proses kependidikan.

10

4)    Perluasan fasilitas dan pelayanan kependidikan dalam menghadapi bertambahnya hambatan ekonomi.

Pertambahan jumlah usia anak sekolah dan pemusatan pemukiman penduduk pada kota- kota bsar(karena urbanisasi), serta meningkatkan jumlah lulusan sekolah menengah atas pada tahun akhir- akhir ini telah menimbulkan permasalahan kependidikan yang menyangkut penyediaan sarana jumlah pergedungan sekolah, karyawan di bidang administratif kependidikan serta penanganan siswa yang tidak tertampung di sekolah. Kenyataan demikian membutuhkan pembiayaan yang cukup besar. Faktor pembiayaan pendidikan ini ditangani oleh tiga instansi yakni Pemerintah Pusat (23%), Pemerintah Daerah (69%), dan badan- badan lain (7,7%). Tanggung jawab pemerintah daerah semakin berat.Oleh karena itu pemerintah pusat diharapkan menambah volume anggarannya untuk pendidikan. Hal ini berbeda dengan di Indonesia dimana pemerintah pusat membiayai hamper seluruh biaya pendidikan di daerah- daerah dengan berbagai cara, di samping sumbangan dari orang- orang tua murid (masyarakat).

5)    Masalah lainnya ialah penyediaan tenaga guru yang lebih bermutu untuk mempersiapkan anak didik menghadapi masyarakat masa depan yang semakin kompleks.

Pendidikan karakter bagi generasi muda Jepang masih dirasa belum berhasil setelah Perang Dunia II usai.Untuk itu pendidikan guru masih perlu di prioritaskan kea rah strategi pendidikan karakter tersebut.

Perlu diusahakan agar siswa yang cerdas dan pandai tertarik kepada profesi guru.Lembaga pendidikan guru perlu ditingkatkan mutu dan diarahkan kepada pendidikan karakter tersebut.

6)    Pemerataan dan efektivitas pendidikan masih harus ditangani secara serius, sehingga diskriminasi masuk sekolah yang dahulu hanya dibatasi pada anak- anak orang yang berpangkat, orang kaya dan anak laki- laki saja, dapat di hapus.

Penerimaan untuk bersekolah harus didasarkan hanya pada faktor kemampuan individual anak, bukannya pada status social orang tuanya. Yang berkemampuan rendah pun harus diberi pendidikan sama dengan berkemampuan tinggi, agar tidak terjadi jurang pemisah yang semakin melebar dalam masyarakat masa depan.

11

Ada 11 permasalahan di bidang kependidikan di Jepang, yang sebagian telah diuraikan diatas. Keseluruhan permasalahan tersebut ialah:

1)    Bagaimana memperbaiki pendidikan.

2)    Bagaimana mengamankan keseluruhan perkembangan tiap murid.

3)    Bagaimana menjamin perkembangan anak cacat.

4)    Bagaimana menjamin mutu sekolah lanjutan atas bagi generasi muda beserta daya tampungnya.

5)    Bagaimana memajukan aktifitas belajar dan kebudayaan dalam masyarakat dan lingkungan kerja.

6)    Bagaimana memajukan aktifitas belajar dan kebudayaan dalam masyarakat dan lingkungan kerja.

7)    Bagaimana mendemokrasikan administrasi kependidikan.

8)    Bagaimana mendiriksn perguruan tinggi yang di biayai oleh masyarakat sendiri.

9)    Bagaimana membuat perencanaan fasilitas dan lingkungan kependidikan yang cukup memadai kebutuhan.

10) Bagaimana memperkuat solidaritas internasional dalam pendidikan.

11) Bagaimana hak dan kewajiban para guru dapat dipenuhi.

Permasalahan- permasalahan diatas juga menjadi problema kependidikan di Negara- Negara lain yang sedang berkembang seperti di Indonesia yang saat ini sedang mengalahkan kewajiban belajar untuk anak usia 7 tahun, serta daya tamping anak didik di berbagai jenjang kependidikan sejalan dengan lajunya pertumbuhan penduduk, dan sebagainya.

4. Perbandingan Sistem Pendidikan Jepang dan Indonesia

Setelah Hirosima dan Nagasaki dibombardir habis-habisan oleh sekutu, pemerintah Jepang tentunya membangun negara tersebut dari nol. Nyatanya, bak macan tutul yang sigap, Jepang mampu berlari kencang dan menjadi juara. Hal tersebut tak lepas dari sistem pendidikan Jepang yang bagus.

Di Jepang, pendidikan adalah hal yang sangat diperhatikan. Seperti yang sudah dituliskan di atas, bahwa pendidikan menjadi ujung tombak sebuah kemajuan suatu negara. Dan terbukti, hal tersebut sangat dipahami oleh pemerintah Jepang.

12

Berbagai macam fasilitas diberikan untuk menunjang pendidikan yang berkualitas. Dan hal tersebut diberikan secara gratis. Bagi anak yang tidak mampu, akan ada bantuan khusus. Sehingga tak ada alasan bagi para pemuda-pemudi di Jepang untuk tidak belajar. Mereka semua bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.

Bagaimana di Indonesia? Rupanya pendidikan belum menjadi prioritas penting di Indonesia. Sepertinya, hanya kelompok minoritas saja yang peduli. Selebihnya, cenderung kapitalis. Bukan bermaksud menghina bangsa sendiri, namun kenyataan di lapangan memang seperti itu.

Coba saja lihat pendidikan di kota besar dan di desa. Terdapat jurang pemisah yang begitu dalam. Di kota, pendidikan bisa dinikmati dengan mudah dengan beragam fasilitas, namun di desa apalagi pelosok, betapa seringnya kita melihat banyak sekali sekolah hancur dan buku-buku yang tidak lengkap. Sungguh ironi.

Di Indonesia memang ada sekolah gratis, namun coba tengok. Bagaimana kualitasnya? Apakah sama dengan sekolah yang SPP-nya mahal? Bisa kita bandingkan, semakin mahal SPP di suatu sekolah maka kualitasnya semakin bagus, begitu pula sebaliknya.

Sehingga terciptalah sebuah opini bahwa yang berhak dan bisa menikmati pendidikan bagus hanyalah orang-orang kaya semata. Itulah bukti konkret bahwa di Indonesia pendidikan masih belum diperhatikan.

Oleh sebab itu, bila Indonesia ingin maju seperti negara Jepang, sistem pendidikannya juga harus meniru sistem pendidikan Jepang, dalam hal kualitas dan ketidakberpihakan pendidikan terhadap kaum kaya semata.

3.  INDONESIA

Indonesia yang saat ini sedang meningkatkan pembangunan di segala bidang pembangunan dalam rangka menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, bidang pendidikan menjadi titik pusat perhatian masyarakat dan pemerintah.Oleh karena masalah pendidikan didasari sebagai sarana pembinaan generasi penerus perjuangan bangsa.

Alokasi anggaran belanja Negara yang mencapai Rp 1,3 triliun pada tahap 1 dan 2 Pelita IV, sungguh merupakan volume anggaran yang paling besar diantara volume anggaran pembangunan di bidang- bidang lainnya.

Indonesia mendasari pendidikan dengan falsafah Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan, kecerdasan, keterampilan dan budi luhur, rasa cinta tanah air (patriotisme), memupuk sikap membangun diri sendiri serta bersama- sama bertanggung jawab membangun masyarakatnya. (menurut TAP II/ MPR/ 1983 tentang Garis- garis Besar Haluan Negara).

13

1. Sistem Pendidikan Di Indonesia

Dunia pendidikan saat ini sering dikritik oleh masyarakat yang disebabkan karena adanya sejumlah pelajar dan lulusan pendidikan tersebut yang menunjukkan sikap kurang terpuji.Banyak pelajar yang terlibat tawuran, melakukan tindakan kriminal, pencurian penodongan, penyimpangan seksual, menyalah-gunakan obat-obatan terlarang dan sebagainya.Perbuatan tidak terpuji yang dilakukan para pelajar tersebut benar-benar telah meresahkan masyarakat dan merepotkan pihak aparat keamanan.Hal tersebut masih ditambah lagi dengan adanya peningkatan jumlah pengangguran yang pada umumnya adalah tamatan pendidikan.

Keadaan ini semakin menambah potret pendidikan kita makin tak menarik dan tak sedap dipandang makin menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap wibawa dunia pendidikan kita. Jika keadaan yang demikian tidak segera dicari solusinya, maka akan sulit mencari alternatif yang lain yang paling efektif untuk membina moralitas masyarakat.Berbagai solusi untuk memperbaiki dunia pendidikan dan mencari sebab-sebabnya merupakan hal yang tidak dapat ditunda lagi.

Sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia pada saat ini adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik.Sistem pendidikan semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan menghasilkan dikotomi pendidikan yang sudah berjalan puluhan tahun, yakni antara pendidikan agama di satu sisi dengan pendidikan umum di sisi lain. Pendidikan agama melalui madrasah, institut agama, dan pesantren dikelola oleh Departemen Agama, sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, dan kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Sistem pendidikan yang material-sekuleristik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekuler.Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan.Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja.Maka, di tengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama.Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik, serta paradigma pendidikan yang materialistik.

14

2. Problem-problem pendidikan Indonesia

Permasalahan yang masih belum dapat dipecahkan, antara lain:

1)    Daya tamping sekolah bagi peningkatan jumlah anak usia anak sekolah dasar, dan daya tampung lulusan SLTP dan SLTA serta Perguruan Tinggi, merupakan permasalahan nasional yang setiap tahun muncul. Pemecahan dengan INPRES Sekolah Dasar untuk menampung ledakan anak masuk sekolah dasar berbarengkan dengan telah di berlakukannya undang- undang wajib belajar, belum dapat menyelesaikan permasalahan. Juga daya tampung untuk siswa SLTP dan SLTA yang diatasi dengan antara lain membuka sekolah menengah terbuka dan sebagainya juga belum dapat menyelesaikan masalah ledakan murid masuk sekolah ini. Sedangkan daya tampung universitas terhadap calon mahasiswa juga belum dapat sepenuhnya tertanggulangi, meskipun telah di pecahkan antara lain dengan membuka universitas terbuka yang menampung 70.000 mahasiswa pada tahun ajaran 1985, di samping daya tampung universitas- universitas swasta yang menuntut pembiayaan tinggi.

2)    Pembaruan sistem kependidikan perlu dilakukan, mengingat tuntutan masyarakat semakin besar terhadap kebutuhan pendidikan yang efektif dan efisien.

Untuk tujuan itu, maka pada tahun 1978 telah dibentuk Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional untuk merumuskan system pendidikan nasional yang baru.Konsep komisis tersebut di titik beratkan pada pemikiran tentang administrasi dan organisasi sekolah, materi pelajaran, struktur, dan mobilisasi.

Pada prinsipnya administrasi kependidikan berada di bawah satu tangan yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, namun secara operasional, menteri- menteri lainnya (seperti HANKAM, AGAMA, DALAM NEGERI)  diberi pendelegasian wewenang untuk mengelola jenis- jenis sekolah khusus.

Penanggung jawab umum pendidikan secara nasional adalah Presiden/ Mandataris MPR, yang dibantu oleh Dewan Pendidikan Nasional Indonesia yang di ketuai oleh Presiden, dan anggota- anggotanya terdiri Menteri Dikbud dan para menteri yang mengelola jenis- jenis sekolah khusus dan dari tokoh- tokoh pendidikan dalam masyarakat.

15

Kesamaan mutu pendidikan secara nasional harus diwujudkan melalui standard minimal kurikulum yang berlakukan di semua jenis dan tingkat sekolah. Dengan demikian mobilitas (perpindahan) anak sekolah dari satu jenis ke jenis sekolah yang lain akan di mungkinkan.

Adapun system dan strukutr pendidikan nasional itu terdiri dari pendidikan umum, pendidikan kemasyarakatan dan pendidikan khusus (pendidikan kedinasan, pendidikan khusus teknis, dan pendidikan khusus keagamaan).

3)    Pemerataan pendidikan bagu seluruh rakyat masih dalam perjuangan melalui program pembangunan nasional. Agar sekolah dapat menjangkau rakyat banyak, maka titik berat pembangunan bidang pendidikan diletakkan pada memperluas pendidikan tingkat dasar.

Salah satu program pemerataan melalui 8 jalur adalah pemerataan memperoleh pendidikan.Permasalahan pokok dari program tersebut kecuali menyangkut anggaran belanja, juga penambahan tenaga guru, lokasi pembangunan gedung sekolah dasar di daerah perkotaan dan pedesaan menemui kesulitan areal tanah yang tepat dan murah, atau tanpa membeli.

Pertambahan penduduk yang dalam Pelita IV tahun ke II mencapai 2,3 persen dari jumlah penduduk tiap tahun, menyebabkan jumlah anak usia sekolah juga bertambah. Untuk mensukseskan wajib belajar, maka daya tampung sekolah- sekolah dasar pada khususnya harus di tingkatkan dengan pembangunan gedung- gedung baru.Di samping itu peranan perguruan swasta pun harus di tingkatkan.

Dalam tahun 1985 anak usia sekolah baru dapat tertampung sekitar 48 persennya dari jumlah keseluruhan 27 juta orang. Oleh karena penduduk Indonesia kurang lebih 85 persennya tinggal di daerah pedesaan, maka anak usia sekolah sebagian besar berada di daerah pedesaan karena itu masalah pembangunan daerah pedesaan menjadi sangat penting.

4)    Relevansi (berkaitan erat) antara pendidikan sekolah dengan kebutuhan membangun nasional belum terwujud sepenuhnya. Banyak lulusan dari sekolah menengah atas atau perguruan tinggi yang tidak siap pakai dalam dunia lapangan kerja. Penyelenggaraan kependidikan masih lebih menitik beratkan kwantitas dari pada kwalitasnya. Oleh karena itu timbul masa pengangguran dengan rata- rata setiap tahun di perkirakan mencapai sekitar 300.000 orang yang makin lama semakin membengkak.

5)

16

Selera pemuda pemudi dan orang tua masih lebih banyak tertarik kepada sekolah umum dari pada kejuruan, karena mengejar gelar kesarjanaan lebih diutamakan. Sedangkan kemampuan akademis dan biaya pendidikan tinggi kurang diperhitungkan (terutama pada perguruan tinggi swasta), maka terjadilah gap antara keinginan dan kenyataan. Akibatnya terjadi drop-out (putus sekolah) yang menambah angka pengangguran.

6)    Sama halnya yang dialami oleh negara- negara yang sedang berkembang lainnya, profesi guru kurang menarik minat para pemuda pemudi kita, karena satu dan lain hal gajinya relative rebih rendah daripada bekerja di bidang non guru misalnya di bank, atau di perusahaan swasta nasional maupun asing. Di samping itu, status social guru kurang dipandang tinggi dibandingkan misalnya status social kepala kantor atau direktur suatu perusahaan, dan sebagainya. Padahal sejak tahun kedua Pelita IV, gaji guru beserta tunjangannya telah dinaikkan secara mencolok. Namun menjadi guru masih merupakan pekerjaan alternative pilihan terakhir kalau tidak dikatakan terpaksa.

7)    Berkaitan dengan watak bangsa yang beridentitas Pncasila, masalah metoda pendidikan dan materinya masih belum efektif. Bidang studi yang berkaitan dengan pembinaan watak bangsa ialah Agama, Pendidikan, Moral, Pancasila, Pendidikan P-4, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, belum Nampak adanya keterpaduan kurikulum, sehingga masing- masing guru yang memegang bidang studi tersebut belum berjalan serempak.

Oleh karena permasalahan kependidikan bagi masyarakat modern merupakan akibat dari proses kehidupan yang semakin meningkat, maka permasalahannya tetap berkembang sejalan dengan proses kehidupan masyarakat itu sendiri, pemecahannya harus didasarkan pada skala prioritas permasalahan mana yang harus dipecahkan lebih dahulu dan mana yang masih dapat ditunda.

Pendidikan perbandingan, sebagai ilmu pengetahuan yang telah di tetapkan menjadi sebuah disiplin ilmu sedang mengalami perkembangan terus- menerus sejalan dengan tuntutan perkembangan pendidikan yang bersifat mondial (sedunia).Pendidikan yang mempunyai cirri universal adalah menyangkut kebutuhan hidup masyarakat bangsa- bangsa (internasional), baik masyarakat yang telah maju maupun yang belum maju.

Bila suatu bangsa mengalami kemajuan bidang kependidikan berarti pun telah mendapat modal utama untuk mengembangkan kesejahteraannya sendiri. Namun kesejahteraan suatu bangsa dimanapun berada di bumi kita akan berperan pula dalam penciptaan kesejahteraan bersama sebagai umat yang mendambakan hidup hari esok yang lebih baik.

17

Oleh karena berkat kemajuan ilmu dan teknologi sebagai hasil pendidikan itu, hubungan antara bangsa dan Negara di dunia menjadi semakin berdekatan. Antara satu bangsa dengan bangsa lainnya terjadi proses saling pengaruh mempengaruhi dalam segala bidang kehidupan, misalnya yang Nampak menonjol adalah dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya (ilmu pengetahuan, teknologi), pertahanan, keamanan, dan lain lain.

Dampak dari kemajuan atau kemunduran dalam bidang- bidang tersebut cepat atau lambat mempengaruhi kehidupan bangsa- bangsa di negara- negara di atas bumi ini.

Menyadari dampak positif atau negatifnya dunia kependidikan terpanggil untuk selalu siap dan tanggap dalam memahami dan kemidian menjawabnya dalam bentuk program- program kependidikan di lembaga- lembaganya sepanjang waktu. Dengan demikian pengetahuan tentang apa yang terjadi di Negara lain, khususnya mengenai permasalahan kependidikan sangat kita perlukan. Apalagi bila kita berpendirian bahwa dunia kependidikan tidak semestinya menutup diri terhadap kemajuan di Negara lain, maka saling tukar- menukar pengetahuan dan pengalaman di bidang ini merupakan faktor utama bagi penggalangan sikap saling pengertian dan saling meningkatkan mutu pendidikan itu.

Banyak problem telah di kemukakan dalam studi kependidikan di semua Negara dari mana studi perbandingan pendidikan akan dapat menarik pengalaman tentang cara- cra pemecahannya. Dalam studi itu juga akan diketahui sejauh mana Negara yang bersangkutan telah berusaha melakukan inovasi (pembaruan). Atas prinsip saling memajukan, hasil studi perbandingan pendidikan itu sungguh dapat memberikan kepada kita gambaran jelas tentang pola pemecahan terhadap permasalahan pendidikan yang di hadapi oleh Negara lain. Pola pemecahan problema di Negara lain mengandung unsur- unsur yang dapat dijadikan bahan perbandingan bagi pemecahan masalah kependidikan yang timbul di Negara kita masing- masing. Namun cirri dan corak problema kependidikan bagi suatu Negara memiliki kekhususan dilihat dari berbagai segi yang peerlu tetap dipertahankan.

Di Indonesia problema yang berat kecuali corak cultural dengan cirri Bhineka Tunggal Ika, adalah masalah kualitas hasil pendidikan dan kuantitas serta kapasitas dari daya tampung prasarana pendidikan yang belum dapat memenuhi tuntutan masyarakat yang sedang membangun.Di samping anggaran belanja untuk membiayai program- program yang dilaksanakan di lembaga- lembaga kependidikan juga merupakan problema besar bagi semua Negara.Timbulnya kecenderungan baru di kalangan tenaga kerja muda kita kurang tertarik untuk memasuki lapangan kerja sebagai guru juga merupakan problema baru.Kaum pencari kerja itu lebih tertarik kepada lapangan teknik dan ekonomi perdagangan yang menawarkan lebih banyak penghasilah dari pada menjadi guru.

18

Saat ini masyarakat di negara- negara di dunia sedang bergeser kea rah system nilai- nilai materialisme dari pada idealisme, bergerak kea rah nilai- nilai pragmatisme dari pada absolutisme, lebih cenderung kea rah nilai- nilai sekularisme daripada moralisme dan agama.Segala sesuatu yang dikerjakan didasarkan pada perhitungan untung rugi secara teknologis atau ekonomis.Termasuk pula dunia kependidikan telah dilanda oleh pandangan yang lebih menguntungkan atas keuntungan ekonomis dari pada nuralitas selaku hamba Tuhan yang taat beragama.Gejala- gejala demikian oleh ilmu perbandingan pendidikan perlu distudi pula, karena dapat meramalkan bagaimana fungsi dan posisi lembaga kependidikan di masa dating dalam masyarakat yang mengalami perubahan sikap terhadap nilai- nilai hidupnya.

Untuk melakukan studi tersebut, seperangkat metoda masih perlu dicari dan dikembangkan lebih lanjut oleh para ahlinya sehingga metoda- metoda yang berhasil di temukan itu benar- benar dapat mengungkapkan latar belakang dair semua problema yang Nampak di permukaan.

Di dalam pola dan system pendidikan nasional kita masing- masing terletak pusat terjadinya problema operasional kependidikan oleh karena pola dan system itulah yang merupakan ruang lingkup dari mekanisme gerak lembaga- lembaga kependidikan yanga ada beserta perangkatnya selengkapnya.

Mengenal dan memahami tentang pola- pola dan system kependidikan nasional bangsa- bangsa yang hendak di studi merupakan bekal pokok bagi para penstudi perbandingan pendidikan, disamping permasalahan operasional lainnya.Seperti faktor cukup tidaknya tenaga guru, pembiayaan, keterampilan tenaga administrasi, dan sebagainya.

Bagi proses kependidikan suatu pola kependidikan adalah menjadi pembatas dan p[embentuk dari wujud akhir proses itu, sehingga dapat diketahui bahwa didalam pola itu tercermin cita dasar dan bentuk serta corak yang diharapkan dapat diwujudkan melalui pelaksanaan program- program yang ditetapkan.

Faktor- faktor lainnya yang juga berpengaruh terhadap proses kependidikan itu ialah apa yang kita sebut sebagai “faktor non kependidikan”, berupa pengaruh lingkungan kebudayaan, social politik, ekonomi, ideology, dan sebagainya. Faktor- faktor tersebut bukannya tidak berpengaruh terhadap jalannya proses kependidikan dalam suatu system, melainkan dalam situasi dan kondisi tertentu, sangat mempengaruhi proses tersebut. Justru oleh karena pendidikan adalah cermin dari cita- cita masyarakat itu sendiri, bila situasi dan kondisi masyarakat tidak stabil dalam bidang- bidang social politik, kebudayaan, ekonomi, dan ideology, maka proses kependidikan sudah pasti terbias oleh ketidak stabilan masyarakat itu sendiri.

19

Untuk mengungkap dan menemukan secara tepat problema- problema non- kependidikan itu, diperlukan metoda yang didasarkan atas pendekatan berbagai disiplin ilmu, seperti sosiologi, psikologi, antropologi budaya, ekonomi dan politik.

Sedangkan system adalah mengandung pengertian bahwa penyelenggaraan kependidikan di suatu Negara merupakan suatu keseluruhan (totalitas) yang terdiri dari bagian- bagian atau sub- sub system yang mempunyai tugas dan fungsi masing- masing bekerja dan bergerak dengan saling berhubungan antara satu dengan yang lain, yang secara serempak sebagai suatu keseluruhan menuju kea rah tujuannya yang harus di capai.

Seperti kita lihat bahwa berbagai jenis dan jenjang sekolah telah dibuat, untuk dijadikan wahana (wadah) berprosesnya penyelenggaraan kependidikan dalam satu kebulatan system yang bergerak kearah pencapaian tujuan pendidikan nasional masing- masing Negara.

Faktor- faktor internal yaitu faktor- faktor kependidikan yang bersifat memperlancar/ menunjang proses kependidikan adalah suatu variabel yang dari padanya muncul berbagai problema yang brsifat operasional.

Dalam perspektif islam bahwasanya berbicara ruanglingkup pendidikan banyak ayat-ayat yang menyebutkan tentang pendidikan dan juga metode dalam islam, Allah berfirman dalam surat Al-Imron:191, yang berbunyi:

žcÎ)’ÎûÈ,ù=yzÏNºuq»yJ¡¡9$#ÇÚö‘F{$#urÉ#»n=ÏF÷z$#urÈ@øŠ©9$#͑$pk¨]9$#ur;M»tƒUy’Í<’rT[{É=»t6ø9F{$#ÇÊÒÉÈtûïÏ%©!$#tbrãä.õ‹tƒ©!$#$VJ»uŠÏ%#YŠqãèè%ur4’n?tãuröNÎgÎ/qãZã_tbr㍤6xÿtGtƒur’ÎûÈ,ù=yzÏNºuq»uK¡¡9$#ÇÚö‘F{$#ur$uZ­/u‘$tB|Mø)n=yz#x‹»ydWxÏÜ»t/y7oY»ysö6ߙ$oYÉ)sùz>#x‹tã͑$¨Z9$#ÇÊÒÊÈ

190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

20

Dalam ayat diatas dijelaskan bahwasanya pendidikan dianggap hal yang paling urgen, karena semua umat manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu, oleh karena itu pendidikan sangatlah penting.

Dalam hal metode islam juga membahas tentang bagaimana ilmu itu disampaikan dengan berbagai cara yang tepat agar manusia dapat mengerti dan memahami apa saja yang menjadi landasan dalam mencari ilmu yang manfaat.

Dalam surat An-Nahl: 125 yang berbunyi:

äí÷Š$#4’n<Î)È@‹Î6y™y7În/u‘ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ÏpsàÏãöqyJø9$#urÏpuZ|¡ptø:$#(Oßgø9ω»y_urÓÉL©9$$Î/}‘Ïdß`|¡ômr&4¨bÎ)y7­/u‘uqèdÞOn=ôãr&`yJÎ/¨@|Ê`tã¾Ï&Î#‹Î6y™(uqèdurÞOn=ôãr&tûïωtGôgßJø9$$Î/ÇÊËÎÈ

125. serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

21
24

[1]Arief Rahman, Pendidikan Komperatif: Menuju Ke Arah Metode Perbandingan Pendidikan Antar Bangsa, (Yogyakarta: Laksbang Grafika, 2010), 161

[2]Brittin college//Education First

[3]Ibid 1

[4]http://Kartunet.com/ kartunet groups indonesia 2009

[5]UK Education System

[6]http://www.ef.co.id

[7]Ibid 3 page 2

[8]http://www.Britishcouncil.or.id

[9]Yahoo answers-http://uk.answers.yahoo.com

Leave a Comment