Judul Buku      : Metode Penetapan Hukum Islam :

Membongkar Konsep al istiqra’ al-Man’nawi­

Asy-Syatibi

Penulis             : Duski Ibrahim

Editor              : Abdul Qodir Shaleh, Ilyya Muhsin

Penerbit           : AR-Ruzz Media, Jogjakarta

Tebal               : 288 hlm, 14 X 21

Cetakan           : Juli 2008

Peresensi         : Chairul Lutfi

Dalam penetapan hukum islam secara umum dapat di kelompokkan kepada dua macam: yaitu pertama, metode verbal (at-turuq al-lafzdiyah) yaitu metode penetapan hukum yang bertumpu kepada analisis kebahasaan. semisal, lafaz-lafaz‘ amm, khas, muthlaq, muqayyad, amar, nahi. Kedua, metode substansial (at-turuq al-ma’nawiyah), yaitu metode penetapan hukum yang bertumpu kepada pengertian implisit nash dengan menggali substansi-substansi hukum islam (al-iltifatila al-ma’aniwa al-maqasid).

Secara garis besar, ditemukan dua aliran usul al-fiqh, usul al-fiqh, yang berbeda delam perumusan kaidah-kaidah usul. Pertama, aliran Mutakallimun atau Syafi’iyah. Mereka membangun kaidah-kaidah usul al-fiqh secara teoretis, logis dan rasional, dengan di dukung oleh alasan kuat baik naqli maupun ‘aqli. Kedua, aliran Hanafiyah atau Fuqoha. Mereka membangun dan merumuskan kaidah-kaidah usul dengan beranjak dari masalah-masalah cabang dalam mazhab,  setelah meneliti dan manganalisis masalah-masalah cabang tersebut.

Untuk memadukan dan menyatukan kedua aliran dalam hukum islam di atas maka lahirlah aliran konvergensi, yaitu yang  dipelopori oleh Asy-Syatibi dengan metode Istiqra’i. dan dalam bukunya Duski Ibrahim yang berjudul “Metode Penetapan Hukum Islam : Membongkar Konsep al-istiqra’ al-Man’nawi ­Asy-Syatibi” sangat menarik untuk dibaca. Pada buku ini dijelaskan berbagai konsep tentang al-istiqra’ al-Man’nawi oleh Asy-Syatibi. Dengan kerangka teoretis perumusan kaidah-kaidah usul dan metode dan konsep penetapan hukum yang ditawarkan oleh Asy-Syatibi.

Asy-Syatibi dengan nama lengkap Abu ishaq Ibrahim ibn Musa ibn Muhammad Al-Lakhmi Al Garnati yang dilahirkan di Granada (belum jelas tahun kelahirannya), merumuskan konsep al_istiqra’ adalah penelitian terhadap partikular-partikular makna nash, hukum-hukum spesifik (far’iyah), dan realitas sejarah (tradisi) untuk di tetapkan suatu hukum umum, baik sifatnya pasti (qot’i) maupun dugaan kuat (zhanni). Al_istiqra’ al-Man’nawi yang merupakan suatu metode penetapan hukum tidak saja menggunakan satu dalil tertentu, melainkan dengan sejumlah dalil yang digabungkan antara satu dengan yang lain yang mengandung aspek dan tujuan berbeda, sehingga terbentuklah suatu perkara hukum berdasarkan gabungan dalil-dalil tersebut.

al_istiqra’ al-Man’nawi yang merupakan metode penetapan hukum asy-Syatibi dalam prosedurnya memanfaatkan kolektivitas dalil dalam berbagai bentuknya, mempertimbangkan qara’in ahwal (indikasi-indikasi keadaan tertentu) baik yang berkaitan dengan nash tersebut secara langsung (manqulah) maupun tidak berkaitan secara langsung (ghairu manqulah), termasuk mempertimbangkan kondisi sosial dan memerankan akal dalam merespon perkembangan atau perubahan yang terjadi dalam dinamika masyarakat.

Mengingat tujuan asy-syar’i dalam penetapan hukum adalah untuk merealisasi kemaslahatan umat manusia dari berbagai segi yang tersimpul dalam prinsip dharururiyah, hajjiyah, dan tahsiniyah. Jadi dengan metode yang dipaparkan dalam buku ini mengulas banyak tentanga l_istiqra’ al-Man’nawi yang dikonsepkan oleh Asy-Syatibi, bertujuan memberikan alternatif yang signifikan untuk menetapkan hukum atau kaidah hukum dan memverifikasikannya dibanding dengan metode-metode yang lain yang dilakukan secara parsial, yakni menggunakan dalil secara terpisah-pisah,  sehingga terkadang mengabaikan dalil-dalil yang lain yang sebenarnya relevan diterapkan dalam menyelesaikan berbagai problem hukumtertentu.

Menyongsong Kebebasan :

“Membongkar Stagnasi Pemikiran, Menyebarkan Virus Kritis-Dinamis Transformatif”

Oleh : Chairul Lutfi*

Melihat realita yang ada disekeliling kita penuh dengan kejumudan dan pembekuan pemikiran. Betapa tidak dengan hanya mengikuti alur kehidupan dan mengikuti irama peraturan, manusia hidup dengan kungkungan yang membelenggu. Sehingga tidak ada kebebasan untuk bisa mengaktualisasikan diri secara lebih kopmprehensif dan universal. Banyak juga manusia yang rela hidup dengan dogma dan doktrinasi dari pihak-pihak yang menginginkan untuk di eksploitasi demi kepentingan belaka.

Sedikit diskripsi bahwa interaksi sosial yang sudah tak sehat lagi dan sarat akan kepentingan. Membawa pada stagnasi pemikiran global dan menjadi virus akut pada pola perkembangan dinamika masyarakat. Manusia hidup atas kepentingan-kepentingan yang melatarbelakangi tiap individu. Bahkan ekspansi kepentingan itu mewabah luas sehingga menghasilkan produk-produk yang kontroversial. Kajian yang sudah ada mengatakan bahwa prinsip dasar kepentingan dan golongan dibangun secara ekslusif untuk mempertahankan ideologi kepentingan. Terbukti atas bangunan imprealis dan secara ideologis berdampak pada kelesuan untuk memberikan konstribusi konsep nilai yang sudah ada.

Dari berbagai fenomena yang ada dan dinamika sosial yang berlaku sekarang ini sudah banyak mengandung nilai-nilai doktrinasi kepentingan. Pengkultusan dan legitimasi akan kebebasan hanya milik golongan dan memarginalkan golongan yang lain. Sehingga dampak sosio-kultural pada dinamika masyarakat tidak sebanding dengan aspek kebebasan yang disediakan. Berkaca pada konstitisi negara yang melegalkan kebebasan untuk berpendapat, berbuat, dan berinteraksi secara lebih luas ternyata tidak ada implikasi yang signifikan. Kebebasan itu harus terguras dan tersingkirkan karena tak ada kesadaran untuk memberikan ruang lebih kepada mereka yang bermain-main di atas kebobrokan pemikiran.

Ketika kebebasan sudah tak menempati prioritas di tengah-tengah kehidupan, yang terjadi malah pengkultusan diri atas kepentingan yang dibangun atas dasar pemerkosaan hak-hak manusia. Masalah yang lebih urgen lagi adalah dunia pendidikan sudah terkontaminasi dengan kejumudan kebebasan yang menitik tekankan pada aspek kurikulum yang berupa bahan komoditas pendidik. Para murid dipaksakan untuk mengikuti sistem setan dan berujung pada ujian nasional yang terkesan sebagai permainan pemerintah yang tak berguna bahkan membuat stress peserta didik terlebih bagi mereka yang dinyatakan gagal dalam berproses di dunia pendidikan selama 3 tahun hanya gara-gara ujian yang tak jelas penetapan orientasi kelulusannya.

Hampir seluruh aspek stagnasi terjadi pada ranah-ranah politis-struktural. Dimana setiap kepemimpinan mencoba menerapkan sistem feodalism untuk memperkokoh kekuasaan. Dalam persoalan agama semisalnya, banyak terdapat praktik-praktik pembodohan. Doktrinasi agama bukan menciptakan insan yang intelektualis dan agamis, malah menciptakan teroris dan radikalis-anarkis. Kecondongan mereka untuk mengajarkan materi ajar hanya berupa dogma dan pemaksaan pemikiran untuk menerima apa yang mereka ajarkan secara parsial. Sehingga berujung pada mandeg-nya pemikiran kritis transformatif dalam merespon realita yang ada.

Bagi kalangan akademis yang pro-aktif akan adanya paradigma kritis transformatif berupaya merubah mindset yang dimiliki oleh banyak orang yang terkukung dalam paradigma konservatif. Dan kejumudan yang selama ini mewarnai setidaknya dapat direnovasi kembali untuk mengadakan kajian kritis yang dinamis menurut pola perkembangan yang ada. Bukan masalah pada acuan pedoman yang terkadang mutlak dibutuhkan dan dipaksakan melainkan terlebih pada responsifitas pada dinamika kehidupan yang sebenarnya.

Mengasah daya pikir imajinatif, inovatif dan partisipatif adalah modal utama untuk melakukan implementasi nilai-nilai kemajuan paradigma tranformatif. Mengingat stagnasi pemikiran yang masih mengakar pada kebanyakan insan akademis terutama mahasiswa. Sebagai agen of analisis seyogyanya tidak terkurung dalam pola pikir statis yang mengakibatkan minimnya daya kritis. Sehingga kajian dan pemikiran bebas untuk aktualisasi akan eksistensi diri akan terbakar untuk mencoba mengeluarkan ide dan pendapat yang brilian dari proses pemikiran.

*Mahasiswa Semester II Jurusan Hukum Bisnis Syariah UIN Maliki Malang

PENCUCIAN UANG NASABAH PREMIUM

PERSPEKTIF HUKUM POSITIF DAN HUKUM SYARIAH

Oleh : Chairul Lutfi

Tindakan bank indonsesia (BI) untuk membekukan (suspense) layanan premium Citigold setahun terhadap 23 bank yang menerima layanan nasabah prima selama sebulan masih menyisakan banyak problem internal bank. Tujuan bank Indonesia untuk memberikan kesempatan pada pihak perbankan yang ada adalah untuk memperbaiki sitem pelayanan private banking dari penerapan wealth management atau pengelolaan kekayaan di Indonesia masih sangat terbuka kepada para nasabah untuk mengembangkan asset yang dimilikinya dalam jangka panjang.

Sehingga proses sanksi yang diterpakan oleh bank Indonesia yang disebabkan kasus pencucian yang terjadi pada Citibank dengan pelaku Melinda Dee, berdampak keseluruhan pada bank yang ada. Kasus pencucian uang (money laundering) yang banyak dilakukan oleh para pelaku di tujukan pada nasabah yang memiliki dan yang besar. Untuk menerima pelayanan private banking dari program bisnis wealth management di Indonesia minimal nasabah memiliki uang Rp.500 juta. Dan dari jumlah bank yang menerapkan system tersebut masih belum ada standart pelayan dan pengawan yang maksimal dan berakibat pada maraknya kasus pencucian uang (money laundering).

Perspektif Hukum Positif

Kasus pencucian uang (money laundering) yaitu proses untuk menyembunyikan atau menyamarkan harta kekayaan yang diperoleh dari hasil kejahatan untuk menghindari penuntutan dan penyitaan. Dikaburkan asal usulnya oleh si pelaku, sehingga kemudian seolah-olah muncul uang yang sah atau yang halal. Pencucian uang merupakan salah satu kejahatan yang sering dibicarakan dewasa ini, sangat merugikan masyarakat, juga negara, karena dapat mempengaruhi atau merusak stabilitas perekonomian nasional khususnya keuangan negara.

Pencucian uang (money laundering) melanggar undang-undang No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, kemudian diubah dengan Undang-undang No.25 Tahun 2003. Dalam UU tersebut pada pasal 3, ancaman pidana penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun dan denda minimal 5 milyar dan maksimal 15 milyar rupiah.

Perspektif Hukum Syariah

Praktik money laundering merupakan perbuatan yang nyata sekali unsur mafasid dan dlarar-nya, sebab tindakan tersebut bersumber dan beroreintasi pada upaya melegalkan serta mengembangkan berbagai macam kejahatan yang tentu bersifat destruktif secara sosial baik fisik maupun non-fisik. Oleh karena itu, pandangan Islam tentang kebijakan pelarangan terhadap perbuatan pencucian money laundering sangat bertentangan dengan hukum Islam.

Hukum pidana Islam secara eksplisit tidak pernah menyebutkan pelarangan perbuatan pencucian uang. Secara umum, ajaran Islam mengharamkan mencari rejeki dengan cara-cara yang bathil dan penguasaan yang bukan hak miliknya, seperti perampokan, pencurian, atau pembunuhan yang ada korbannya dan menimbulkan kerugian bagi orang lain atau korban itu sendiri. Namun, berangkat dari kenyataan yang meresahkan, membahayakan, dan merusak, maka hukum pidana Islam perlu membahasnya, bahwa kejahatan ini bisa diklasifikasikan sebagai jarimah ta’zier.

Jarimah ta’zir adalah perbuatan maksiat yakni meninggalkan perintah yang diwajibkan dan melakukan perbuatan yang diharamkan, di mana perbuatan itu dikenakan hukuman had maupun kifarat. Maka, tindak pidana pencucian uang masuk dalam kategori jarimah ta’zir. Kejahatan model ini merupakan suatu penyalahgunaan kewenangan (publik) untuk kepentingan pribadi yang merugikan kepentingan umum. Sebab uang adalah benda, dan benda tidak dapat disifati/dihukumi dengan halal atau haram, yang dapat disifati/dihukumi halal atau haram adalah perbuatan (perilaku) manusia.

Pencucian uang merupakan perbuatan yang tercela dan dapat merusak, membahayakan, dan merugikan kepentingan umum. Hal ini jelas bertentangan dengan tujuan hukum Islam. Para pelaku kejahatan pencucian uang membawa luka dan mengganggu ketertiban, kedamaian serta ketentraman hajat hidup orang banyak, hal inilah yang dikatakan sebagai jarimah ta’zir.  Di samping itu, money laundering juga mengakibatkan hilangnya kendali pemerintah terhadap kebijakan ekonomi, timbulnya distorsi dan ketidakstabilan ekonomi, hilangnya pendapatan negara, menimbulkan rusaknya reputasi negara, dan menimbulkan biaya sosial yang tinggi. Akibat yang ditimbulkannya pun sangat besar terhadap kehidupan manusia.

Dalam kajian sumber penggalian hukum pada al qur’an dan as sunnah sudah jelas bahwa pencucian uang melanggar syariat islam dan mengandung kedholiman. Dengan demikian, pemidanaan terhadap perbuatan pencucian uang  yang terkandung di dalam Undang-undang No. 25 di atas dapat dikatakan telah memenuhi kriteria penalisasi jarimah ta’zir dalam syariat hukum islam.

RESPON TERHADAP PENCUCIAN UANG NASABAH PREMIUM

Oleh : Chairul Lutfi

Bank Indonesia (BI) mengaku menemukan kelemahan dalam Standard Operational Procedure (SOP) di 23 bank yang memiliki layanan wealth management, sehingga bank-bank tersebut perlu memperbaiki dan menyelesaikan SOP Terutama yang berkaitan dengan internal control. Dan BI telah meminta 23 bank menghentikan sementara kegiatan wealth management dalam menambah nasabah baru selama sebulan mendatang. Hal ini diakibatkan oleh imbas dari kasus Citibank Indonesia,  Inong Malinda yang telah melakukan pencucian uang terhadap para nasabah premium yaitu nasabah kaya yang memiliki asset kekayaan minimal Rp. 500 juta atau lebih yang dikelola oleh pihak bank.

Pasar bisnis wealth management atau pengelolaan kekayaan di Indonesia masih sangat terbuka. Lembaga keuangan khususnya perbankan berlomba menawarkan berbagai produk wealth management dengan berbagai macam konsep dan strategi yang dipromosikan. Nasabah dengan  Modal mulai Rp. 500 juta sudah bisa menikmati layanan tersebut. Berpeluang kepada penyalahgunaan asset para nasabah yang dilakukan dari pelayanan tersebut.

Akan tetapi timbul permasalahan dan resiko dari modus jasa pelayanan private banking kepada para nasabah premium. Pelayanan   private banking beriko pada penyalah gunaan kepada tindak pidana pencucian uang (money laundering). Dengan private banking nasabah premium mendapatkan hak istimewa dari pelayan bank, bahkan dari disediakan ruangan khusus bertransaksi, slip storan dituliskan, serta tidak perlu repot mengantri. Banyak kasus pencucian uang yang terjadi akibat adanya private banking.

Di Indonesia sendiri sudah banyak tindak pidana akibat private banking, yang terakhir terungkap adalah kasus Citibank yang dilakukan oleh karyawan seniornya Inong Melinda. Dari pelayan private banking tersebut menimbulkan nasabah premium dengan account officer (AO) atau customer relationship  manager (CRM) terjalin hubungan tidak saja personal melainkan emosional. Nasabah yang terlanjur percaya akan dengan mudah dimanfaatkan asset nya untuk pencucian uang oleh oknum atau pelayan bank.

Sehingga pengawasan internal perbankan sangat dibutuhkan dalam pengelolaan asset nasabah premium dalam menggunakan Pelayanan   private banking. Dari itulah juga banyak diketemukan para birokrat yang mengamankan asset kekayaan baik yang diperoleh dari hasil korupsi maupun pendanaan gelap lainnya menyembunyikan pada Pelayanan   private banking.

Selain pemerintah menerapkan pengawasan yang dilakukan oleh pihak perbankan dan pembekuan layanan prima di seluruh bank di Indonesia juga perlu menerapkan peraturan konstitusi yang ada. Sebab tindak pidana yang dilakukan oleh para oknum pencuci uang yang ada tidak akan mendapat efek jera selain di terapkannya sanksi dan hukuman yang maksimal. Sesuai dengan undang-undang No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, kemudian diubah dengan Undang-undang No.25 Tahun 2003. Karena tindakan pidana tersebut selain merugikan nasabah juga merugikan Negara selaku pengendali perekonomian dan perbankan pusat yaitu bank Indonesia (BI).

Akhir-akhir ini banyak para mahasiswa geregetan untuk bisa menjadi seorang penulis. Mereka berlomba mengikuti training dan pelatihan-pelatihan kepenulisan, trik serta cara-cara menjadi penulis yang handal. Acap kali di adakan event organizer tentang bagaimana menulis di media dan pelatihan jurnalistik hampir dipastikan kursi penuh dengan mereka yang berkeinginan menjadi penulis di media baik lokal maupun nasional ataupun yang bercita-cita menjadi penulis buku best seller.

Setelah termotivasi oleh para penyaji materi kepenulisan dan bertekad menjadi penulis dari  training dan diklat-diklat yang telah diikuti, mereka memulai untuk mempratikkan itu. Akan tetapi setelah mencoba untuk menuliskan beberapa kata saja, sudah dijamin fikiran mandek tak ada satupun ide yang akan dituliskan hanya sekedar untuk mencoret kertas putih di depan mata, atau untuk menyentuh tuts keyboard lap top. Bahkan tak jarang karena hanya untuk memaksakan diri menjadi seorang penulis mereka berlama-lama mencari ilham dengan melamun dan mengkhayal, yang ujung-ujungnya terpulas di atas ranjang terbuai dengan khayalan mereka.

Itulah sedikit gambaran dari para mahasiswa yang kering akan budaya menulis. Mereka berharap dari beberapa event pelatihan yang diikuti akan langsung secara instan bisa menulis. Dengan modal membayar tiket atau biaya pendaftaran yang juga terkadang gratisan gairah untuk menulis tumbuh. Secara seksama menyimak materi yang disampaikan dan berangan-angan pasca peltihan untuk menulis dan menulis. Tetapi, tak ada yang instan dan secepat kilat sebagaimana yang di inginkan.

Semuanya membutuhkan proses dan dinamika tahapan yang harus dilalui untuk menjadi seorang penulis. Sebagaimana alam mengajari kita untuk selalu berproses dengan baik. Kesadaran itu yang minim dimiliki oleh kebanyakan mahasiswa. Sehingga tak jarang bagi mereka yang telah mencoba melewati tangga proses gagal dan menjadi pecundang. Hanya gara-gara tak mampu untuk bangkit melawan cobaan dan kemalasan.

Tak ada satupun manusia yang terlahir tanpa memiliki sebuah idea tau gagasan di dunia ini. Melainkan yang ada adalah mereka yang tak mencoba mengeluarkan ide dan gagasan melalui lisan ataupun tulisan. Sehingga bisa di tarik kesimpulan tergantung sejauh mana mengasah kecerdasan akal yang telah Tuhan berikan pada kita. Dengan terus berlatih dan tak bosan untuk mencoba adalah kunci dari kesuksesan sebagai seorang penulis. Dimanapun kesuksesan lahir disanalah kesungguhan, kesabaran, keuletan, dankerja keras berada.

Mahasiswa di tuntut untuk bisa menguasai segala disiplin keilmuan. Mereka harus bisa menyelaraskan dengan kebutuhan zaman yang ada. Siap pakai, siap kerja, dan siap untuk terjun ke medan perjuangan sebenarnya di tengah-tengah masyarakat. Selain harus pandai untuk beretorika mengolah kata-kata untuk disampaikan melalui lisan kepada publik juga bisa menyampaikan aspirasi, gagasan, dan pandangan melaui media tulisan.

Dan hal terakhir inilah yang terkadang menjadi momok dan kendala bagi mahasiswa bahkan mereka yang telah menyelesaikan pendidikan kuliyah. Sehingga tak banyak para alumni perguruan tinggi yang memiliki kapasitas keilmuan dan kecakapan untuk mengisi media-media publik semisal media massa untuk menyampaikan opini, gagasan, atau mampu untuk menerbitkan karya-karyanya berupa buku.

Budaya  membaca dan menulis memang sangat memprihatinkan di Negara kita. Dari jumlah penduduk terbesar di dunia yang menunjukkan kuantitas kebesaran tidak berdampak pada kebesaran kualitas yang dimiliki. Sehingga tak heran masih banyak ditemukan mereka yang sudah mengenyam dunia pendidikan pada perguruan tinggi sekalipun masih pontang panting untuk mencari pekerjaan. Hal ini di karenakan kualitas sumber daya manusia yang belum mencukupi dan sangat minim. Dan negara belum bisa untuk menyelenggarakan pendidikan yang maksimal dan memadai bagi seluruh masyarakat dari seluruh kalangan.

Untuk memulai dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya budaya baca-tulis di kalangan mahasiswa harus senantiasa di tingkatkan. Mengingat pemimpin kampus kita yang di kenal sebagai ulul albab ini memiliki rektor yang sudah tak disanksikan lagi kapasitas dalam soal kepenulisan. Terbukti sudah tiga kali berturut-turut rekor muri didapat dari karya-karya yang dihasilkan. Bahkan sudah dipastikan setiap hari beliau senantiasa istiqomah untuk tetap menulis dikala fajar menyingsing ba’da sholat shubuh. Dan tak  pernah sekalipun alpa dan meninggalkan kebiasaan menulisnya.

Sekarang bagaimana para mahasiswanya bisa meniru dan meneladani pimpinannya. Dan melahirkan karya-karya tulisan yang akan mewarnai kampus kita tercinta ini. Baik yang di ekpos di media lokal, nasional, internasional atau dibukukan untuk diterbitkan pada penerbit ataupun hanya sebagai catatan di jejaring sosial dan blog yang dimiliki. Sehingga lahirlah budaya menulis yang diharapkan dari generasi mahasiswa pengemban amanat bangsa .


Orang yang memiliki pikiran yang kotor dalam benaknya maka tidak akan mampu untuk menjadi penulis. Orang akan mampu menjadi penulis, dirinya mampu untuk mengeluarkan ide dan pikiran secara langsung dan tanpa ada keraguan. Sampaikan yang baik dan ambil yang baik, serta lupakan yang buruk. Menulis adalah menuliskan apa yang kita fikirkan dari ide yang merupakan konsep pemikiran kita.

Syarat untuk menjadi seorang penulis adalah melalui membaca terlebih dahulu. Sebagaimana firman pertama Allah SWT dalam surah al-Alaq yaitu Iqraa’ yang artinya “Bacalah”. Selanjutnya adalah penulisan dari firman-firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril. Tidak ada alasan untuk tidak membaca dan menulis. Perbanyak membaca yang tersurat dan tersirat. Manusia telah diberikan piranti akal dan otak untuk bisa mencerna dari berbagai bacaan melalui indera manusia.

Konstruk otak yang salah sudah tertanam pada kebanyakan manusia, semisal contoh ungkapan pulang-pergi yang ungkapan sebenarnya adalah pergi-pulang. Jadi, konsep untuk menulis adalah bagaimana bisa tersusun rapi dan terkonstruksi dengan baik. Karya yang baik adalah berawal dari konsep yang baik yang dilanjutkan pada penulisan yang apik dan menarik.

Untuk mengawali penulisan adalah konsep yang baik dan melahirkan tulisan yang baik. Kalau masih bisa merancang dan menuliskan pemikiran dari konsep-konsep secara mandiri dan mengemas dalam satu buku, mengapa harus susah-susah untuk mengirimkan ke media?.  Jadi bagaimana penulis mampu untuk membaca kebutuhan para pembaca dan menulis sesuai dengan minat dan kemampuan individu penulis. Memfokuskan ide dan menuliskan dengan cermat dan tak menyimpang dari ide awal. Menulislah maka akan menjadi sebuah tulisan dan kemas dan perbaiki untuk langkah-langkah selanjutnya.

Malas adalah sebuah pilihan bukan keturunan. Tak ada kata malas untuk bisa mewujudkan sebuah tekad untuk menulis. Berjuang untuk menggambarkan pemikiran dan menuliskan. Jangan pernah membatasi diri untuk tidak bisa mengirimkan tulisan ke media massa dan tidak dimuat. Serta ada pemikiran negatif bahwa penerbit tidak menerbitkan tulisan-tulisan kita. Anjuran bapak Ersis selaku penulis dan sastrawan Nasional mengatakan bahwa jangan menggantungkan diri dari tulisan kita pada orang lain (baca:media massa) selanjutnya belajarlah mandiri dengan cara menulis dan kemudian membukukannya sendiri. Tulisan yang telah kita tulis dapat juga dipublikasikan secara pribadi melalui media elektronik (Facebook, Twitter,Blog,Dll) atau juga bisa diajukan kepada penerbit untuk selanjutnya diterbitkan.

Dalam menumbuhkan gairah menulis adalah mengusahakan serta memaksakan diri. Dengan terus menulis dan menulis. Dari testimoni beberapa penulis mengatakan bahwa rata-rata para penulis berawal dari ide yang selanjutnya membeku dan berakhir dengan kebuntuan pikiran. Dari permasalan yang dialami oleh calon penulis (pemula) yaitu terlalu banyak memikirkan apa yang akan ditulis, melainkan tulislah segera apa yang kita fikirkan. Menulis dimana saja dan kapan saja untuk eksis menulis, meskipun tidak diterbitkan dan dimuat tulisan kita.

Menulis tulisan ilmiyah menjadi renyah seperti tulisan fiksi yang ada pada novel. Sehingga tulisan mengalir dan terkonstruksi apik dan menarik. Tulisan yang menarik dari tulisan ilmiyah adalah kebiasaan penulis untuk menuliskan pola pikir dan konsep yang dimiliki. Dari pemikiran yang akan kita tulis harus dipahami dan kemudian dituliskan sesuai dengan koteks pembaca yang bisa mudah dipahami oleh mereka.

Jika para penulis dengan mudah memahami dan menuliskan pemikirannya, maka akan mudah juga dipahami oleh para pembaca tulisan tersebut. Kunci sukses penulis adalah ”Tulis apa yang anda fikirkan!” dan senantiasa membiasakan diri untuk tetap menulis dan menulis. Jangan pernah berhenti untuk menulis, karena jika mencoba untuk berhenti menulis maka akan mendapatkan kesulitan untuk melanjutkan penulisan selanjutnya.

Tipsnya adalah menuliskan pemikiran, tidak ada pemikiran untuk berhenti menulis sampai mengalir semua ide-ide diri kita. Apa pun dapat menjadi bahan tulisan kita. Konsep tulisan yang baik adalah memberi (transformasi) yang kemudian dapat diterima oleh  para pembaca. Menulis sesuai dengan ide dan pemikiran diri sendiri, percaya kepada potensi pemikiran diri sendiri yang selanjutnya dituliskan. Tak ada kesulitan apabila kita yang akan menuliskan pemikiran tidak terbelenggu dengan ketakutan melakukan kesalahan dari tulisan kita.

Orientalisme didefiniskan sebagai pemahaman masalah-masalah ketimuran. Istilah ini berasal dari bahasa Perancis, orient yang berarti timur atau bersifat timur. Isme berarti paham, ajaran, sikap atau cita-cita. Orang yang mempelajari masalah-masalah ketimuran (termasuk keislaman) disebut orientalis yaitu ilmuwan Barat yang mendalami bahasa-bahasa, kesustraan, agama, sejarah, adat istiadat dan ilmu-ilmu dunia Timur. Dunia Timur yang dimaksud di sini adalah wilayah yang terbentang dari Timur dekat sampai ke Timur jauh dan negara-negara yang berada di Afrika Utara.

Para orientalis berpandangan semisal Antonius Walaeus, ”al Qur’an adalah kitab suci yang disimpangkan dan penuh dengan pemikiran yang saling bertentangan”. Jesuit J.J. Ten Berge, “Al-Qur’an adalah konfirmasi dan interpretasi terhadap sejarah Bibel, -suatu hasil yang sangat buruk- serta mereduksinya dan berisikan koleksi dongeng-dongeng, cerita buatan, dan cerita-cerita yang disalahpahami”. John Wansbrough, “al-Qur’an adalah karya sastra Nabi SAW yang cenderung mengadaptasi kitab-kitab sebelumnya”.

George Sale, DR. Henry Stubbe,  DR. John Naish, dan F. F. Arbuthnot senada berpandangan bahwa surah dan ayat-ayat dalam Alquran berbahasa Arab mempunyai keindahan deduktif, murni, dan memiliki gaya tarik, expressif dan enersi yang eksflossif, yang terlalu sukar diterjemahkan kata demi kata”. Goldziher, “ perubahan uslub (metode) surah dan ayat Alquran dipengaruhi oleh perubahan tabiat pribadi Muhammad”.

Washington Irving “al-Qur’an terdapat banyak penyimpangan serta ketimpangan, campur aduk (heterogeneous fragments) tidak tersistem antara penyusunan surah dan ayat-ayat dalam al-Qur’an (thrown together without selection, without chronological order, and without system of any kind)”. Abraham Geiger “Surah dan ayat-ayat dalam al-Qur’an di ambil dari kisah dan doktrin-doktrin orang yahudi”. Sedangkan S. Fraenkel dan Hartwig Hirschfeld berpandangan tentang pemfokuskan pentingnya melacak berbagai kosa-kata asing yang banyak di adopsi dalam surah dan ayat dalam Al-Qur’an.

Thedore Noldeke dalam bukunya menjelaskan tentang sejarah surah-surah dengan menggunakan metode lurus yang kadang-kadang mengandung kebenaran. Serta  mengutip susunan surah-surah dari kitab Abil Qasim Umar bin Muhammad bin Abdul-Kaafi dalam penyusunan surah makkiyah dan madaniyah. Dan pandangan Noldeke banyak mewarnai dan menjadi rujukan dari para orientalis setelahnya. Christoph Luxenberg bepandangan serta berspekulasi dalam surah dan ayat-ayat al-Qur’an banyak diketemukan kesalahan penulisan dan bacaan dan bahkan  Luxenberg mengutak-atik surah dan ayat dalam teks al-Qur’an. Dalam hal ini Christoph Luxenberg banyak mendapatkan kritikan dan penolakan dari asumsi-asumsinya oleh kalangan ulama-ulama islam.

Dari semua pandangan para orientalis di atas sudah pasti banyak pandangan yang mendiskritkan serta mereduksi surah dan ayat al-Qur’an dengan hal-hal negatif disebabkan kebencian mereka kepada islam dan faktor untuk mengintervensi kajian islam dengan sekulerisasi ilmu dari al-Qur’an. Serta ada pula pandangan dari para orientalis yang positif terhadap surah dan ayat al-Qur’an dikarenakan mengakui atas keindahan uslub dan keistimewaan mukjizat terbesar nabi Muhammad SAW tersebut.

Category: Ke-Islam-an  4 Comments

Begitu banyak fenomena pada seorang wanita dan begitu banyak keindahan tersimpan padanya. Tak sedikit laki-laki yang tergoda, dan bahkan “menghamba” pada seorang wanita. Begitulah realita yang terjadi semenjak diciptakannya wanita pertama kali yaitu Siti Hawa, sampai kepada era sekarang ini. Sang Adam tergoda, akhirnya melupakan larangan tuhan untuk tidak mendekati serta memakan buah khuldi. Dan apa yang terjadi, Allah pun mengusir mereka berdua (adam dan hawa) dari singgasana Surga pada dunia yang kita tempati saat ini. Sekelumit kisah dimana makhluk hawa (wanita) diposisikan sebagai sumber bencana dan bahagia. Mengapa sampai dikatakan sumber bencana?, yaitu apabila diri kita sebagai seorang laki-laki tidak bisa mengendalikan diri termakan bujuk rayu dan kelembutan wanita pada akhirnya menyatu pada kehendak syaitan tanpa adanya ikatan, melupakan kewajiban dan tujuan utama. Juga dikatakan sebagai sumber bahagia tatkala pengendalian diri dalam berekspresikan kepada wanita terakomodir dan menjaga pada jalan yang dikendaki syaitan menuju kehendak tuhan yang suci.

Dimanapun perjalanan kehidupan sekarang ini tak akan pernah lepas dari seorang wanita. Kita lahir dari rahim seorang wanita mulia, ibu kita tercinta. Bagi yang berumah tangga, sosok wanita adalah pendamping hidup selamanya dalam suka dan duka. Dalam keluarga wanita dan anak-anak perempuan kita adalah tanggung jawab laki-laki untuk senantiasa menjaga dan memberikan kasih sayang pada mereka. Wanita, dalam perspektif sosial sudah banyak mengalami refolusi pada peran dan tugas mereka. bahkan tak lagi hanya bertugas pada wilayah kerja kasur, dapur dan sumur belaka.

Laki-laki manapun dapat dipastikan membutuhkan kehadiran seorang wanita dalam kehidupannya. Tak jarang mereka rela mengorbankan tenaga,waktu,fikiran dan finasial demi seorang wanita yang dicintainya. Bagi lelaki bujang yang mendambakan seorang belaikan wanita, mereka akan mampu bangkit dalam kenistaan menuju kecerahan untuk seorang wanita yang dipujanya. Berusaha menakhlukkan wanita itu dengan segala cara bahkan usaha. Demi seorang wanita yang benar-benar dicintainya.

Seorang wanita yang begitu kita cintai ialah seorang ibu, mampu mendidik kita dan memberikan bimbingan intelektual dan spiritual sejak kita kecil sampai bahkan kita dewasa dan berumah tangga. Seorang wanita idaman, pacar atau soulmate yang bisa mendedikasikan dan mengisi nutrisi inspirasi dan motivasi pada segala hal pada diri laki-laki. Begitu besar mereka membawa perubahan pada diri seorang lelaki. Menggoda bak zulaikha pada yusuf, berjasa dan bijaksana bak khadijah pada Muhammad, dan seorang wanita mulia sufi yang mencapai maqom tertinggi dalam mahabbatullah Rabi’ah yang memberikan himmah kepada penerusnya. Sang kartini sebagai sang pelopor dan masih banyak lagi.

Dari aspek positif dan negatif pasti mewarnai, tergantung bagaimana seorang lelaki mampu membawa dirinya pada kebaikan dirinya dan orang yang dicintainya. Positif thingking untuk bisa menjadikan wanita pada aspek positif yang membangun diri dan potensi melejitkan prestasi. Tidak untuk pada aspek negatid dengan memanfaatkan kesempatan itu pada kemaksiatan melanggar aturan dan norma agama. Na’udzubillahimindzalik….

Al faraby 31-01-2011


DIMANA POSISI POSISI KITA SEBAGAI MAHASISWA ?

Oleh : Chairul Lutfi*

Pendidikan ialah hak dasar setiap warga negara yang dilindungi oleh undang-undang. Tetapi neoliberalisasi ekonomi yang menggurita disegala bidang menjalar pada dunia pendidikan dinegara kita. Sehingga memunculkan asumsi bahwa pendidikan di Indonesia hanya terobsesi oleh pencarian keuntungan (education for profit). Bukan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa, melainkan mengeksploitasi lembaga pendidikan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Begitu mahalnya biaya pendidikan dari yang terkecil yaitu sekolah dasar yang dewasa ini hampir dipastikan membuat sebagian orang tua kewalahan untuk membiayai biaya pendidikan anaknya yang begitu besar. Bahkan disebagian sekolah baik dasar, menengah maupun lanjutan berlomba-lomba menjadi sekolah bertaraf internasional dengan tawaran pendidikan yang menggiurkan yang nyatanya hanya menjadi sekolah bertarif internasional. Seperti halnya demikian, disebagian kampus bahkan bak perusahaan yang menjadikan mahasiswa sebagai sapi perahan untuk memenuhi nafsu dunia dan orientasi uang semata.

Progam pemerintah yang anggarannya lebih banyak disalurkan kepada pendidikan menjelma sebagai lahan produktif untuk melakukan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Sudah begitu akutnya permasalahan di Negara ini, semakin banyak orang pintar yang nyatanya membodohi rakyat dan menjamurnya orang-orang bodoh yang mewarnai angka kemiskinan di Indonesia. Mengingat tugas penting bagi seluruh warga negara agar bersama-sama bisa mencerdaskan anak bangsa. Dan demi membangun kembali idealisme negara dalam martabat ilmu pengetahuan yang ujungnya adalah membawa perubahan kedepan yang lebih baik daripada sebelumnya. Target pokok pendidikan nasional sendiri adalah dalam beberapa aspek penting yaitu: moral, llmu, keterampilan, imtek, imtaq yang semuanya berbasiskan kepada moralitas bangsa mewujudkan peradaban yang lebih signifikan.

Banyaknya problematika yang mewarnai dunia pendidikan di negara kita, sehingga dalam upaya merealisasikan pendidikan pada seluruh warga pun belum bisa menyeluruh dan merata. Rakyat kecil dan para kaum tertindas yang sangat sulit sekali mendapatkan akses pendidikan dikarenakan pembiayaan dari penyelenggaraan pendidikan itu sendiri. Hal ini yang melatar belakangi mereka untuk berbuat tanpa melihat akibat dan bekerja tanpa keahlian karena belum tersentuh pendidikan.

Labelitas sebagai mahasiswa adalah penengah antara pemerintah dan masyarakat sosial. Mereka yang disebut sebagai pembawa perubahan agent of change sudah seyogyanya memberi konstribusi untuk permasalah-permasalahan bangsa. Bukan hanya aksi demo turun di jalan dan meneriakkan suara-suara ketidakadilan, melainkan terlebih pada aspek pendidikan untuk membangun peradaban dan aplikasi keilmuan kepada masyarakat pinggiran yang terpinggirkan atau bahkan dipinggirkan oleh sebagian besar orang.Tidak ada saling menyalahkan, konsep diri sebagai pemegang kendali dan penanggung jawab atas apa yang telah terjadi dan akan terjadi.

Mahasiswa harus bisa membaca situasi sosial dan politik walaupun realitanya tidak harus menceburkan diri didalamnya. Proses aktualisasi harus mulai dibiasakan sejak dini, agar bisa mengikuti setiap deru perkembangan di ruang lingkup kampus, bahkan Negara. Hal inilah yang semestinya diharapkan oleh bangsa, generasi penerus bangsa yang berbuat untuk pengabdian dan perjuangan Negara Indonesia tercinta.

*Sekretaris Forum Kajian Ilmu Fiqh (FKIF) UIN Maliki Malang


Memahami Peran Seorang Ibu Dalam Pergulatan Keluarga dan Karir

Oleh : Chairul Lutfi*

Seorang ibu yang senantiasa tulus dalam memberikan apresiasi kasih sayang kepada seorang anak, mementingkan kepentingan seorang anak dan bahkan tidak peduli dengan seberapa besar materi, tenaga dan fikiran yang telah dikeluarkan demi untuk masa depan seorang anaknya. Ibaratkan mentari yang menyinari dunia yang tak mengharapkan imbalan apapun atas sinarnya yang terus menyinari dan memberikan kehidupan kepada dunia, begitu juga peranan ibu untuk membimbing anak-anaknya untuk menyongsong hari-hari yang dilaluinya dengan kasih sayang yang benar-benar tulus tanpa tendensi apapun.

Kasih ibu sepanjang zaman, tak pernah bosan untuk memberikan inspirasi kehidupan dan mambangun karakter anak. Tak ada satu pun seorang ibu yang tega menjerumuskan anaknya atau bahkan memberi pemahaman yang keluar daripada norma dan kejelekan. Begitu juga dalam hal pendidikan moral dan pengetahuan yang sejak sedari dini ditanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anaknya. Yang terkadang anak adalah hiburan dan anugrah terbesar yang diberikan Tuhan kepada seorang ibu dari hasil perjuangan melawan kematian pada saat melahirkannya.

Gambaran seorang ibu dalam peran yang telah diamanatkan Tuhan untuk melahirkan seorang anak, menyusui, membesarkan dan membina hubungan keluarga. Juga, tugas-tugas dalam  keluarga untuk mendampingi suami yang menjadi ayah dari anak-anak serta mengupayakan terciptanya hubungan emosional antara anak-anak dan suaminya tercinta. Seorang suami sebagai kepala rumah tangga adalah sebagai pemegang tambuk kepemimpinan yang biasa disebut dengan ”kepala keluarga”. Suami mencari nafkah untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga, sedangkan seorang istri memberikan pelayan terbaik bagi suami dan anak-anaknya.

Tak lepas dari sebagian orang mengatakan ibu hanyalah berperan dalam ruang lingkup sempit kasur,dapur, dan sumur. Hal ini mendiskriminasi dan membatasi peran seorang ibu yang ingin menunjukkan tanggung jawab lebih terhadap keluarga. Bahkan terkadang fenomena yang terjadi banyak ibu-ibu yang menghabiskan waktu bukan untuk anak-anaknya belaka, akan tetapi di perkantoran (wanita karir), di perkuliahan, di pertokoan atau banyak juga diantara mereka mengerjakan pekerjaan yang dilakukan oleh kaum lelaki.  Fakta mengatakan seorang wanita bahkan bisa menjadi pemimpin Negara, menjadi tokoh politik, atau sekarang yang banyak terjadi ialah mereka tak sungkan lagi menjadi seorang satpam,sopir angkot,kondektur dan pekerjaan lain yang banyak menguras tenaga.

Fitrah wanita dari ibu yang membesarkan anak-anaknya, tak cukup hanya menjadi penunggu rumah yang mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka sekarang banyak mewarnai pada perekonomian keluarga. Walaupun berdampak pada berkurangnya kuantitas untuk bisa membimbing anak-anaknya tak menghalangi niatan untuk bisa memberikan pemberian yang terbaik dari pekerjaan yang dilakukan, memvagi waktu untuk anak dan keluarga tercinta. Demi anak dan untuk anak mereka rela untuk berperan aktif selayaknya seorang kepala keluarga yang bekerja dan berjuang memenuhi kebutuhan dan nafkah keluarga.

Maka tak salah pada  tanggal 22 Desember diperingati “Hari Ibu” sebagai penghargaan besar terhadap perjuangan dari ibu-ibu kita. Serta, dalam momentum untuk bisa membalas dan mengingat bahwa manusia lahir dari rahim seorang ibu dan islam pun mengatakan bahwa surga dibawah telapak kaki ibu. Walaupun sebenarnya hari ibu patut untuk diperingati setiap hari dan membaktikan diri kepada kepada ibu tercinta. Terimakasih ibu dan tak terbalaskan jasa-jasamu, semoga Tuhan selalu memberikan kebaikan kepadamu.

*Mahasiswa  Semester 1 Jurusan Hukum Bisnis Syariah

Anggota PMII Rayon “Radikal” Al-Faruq