Author Archive

Filosofi

Filosofi Tarbiyah Ulul Albab

Sosok manusia ulul albab adalah orang yang mengedepankan dzikr, fikr dan amal shaleh. Ia memiliki ilmu yang luas, pandangan mata yang tajam, otak yang cerdas, hati yang lembut dan semangat serta jiwa pejuang (jihad di jalan Allah) dengan sebenar-benarnya perjuangan. Ia bukan manusia sembarangan, kehadirannya di muka bumi sebagai pemimpin menegakkan yang hak dan menjauhkan kebatilan.

UIul albab adalah manusia yang bertauhid. Kalimah syahadah sebagai pegangan pokoknya, “Asyhadu an la ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasul Allah.” Sebagai penyandang tauhid, ia berpandangan bahwa tidak terdapat kekuatan di muka bumi ini selain Allah. Semua makhluk manusia berposisi sama. Jika terdapat seseorang atau sekelompok/sejumlah orang dipandang lebih mulia, adalah oleh karena ia atau mereka telah menyandang ilmu, iman dan amal shaleh (taqwa). Penyandang derajat ulul albab tidak akan takut dan merasa rendah di hadapan siapapun sesama manusia. Kelebihan seseorang berupa kekuasaan, kekayaan, keturunan/nasab dan keindahan/ kekuatan tubuh tidak menjadikannya ia lebih mulia dari pada yang lain.

Komunitas UIN Malang berjiwa dan berwatak ulul albab. Orientasi hidup ulul albab hanya pada ridha Allah Swt. Kegiatan mendidik dan belajar yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa semata-mata hanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Mencari ilmu bukan sebatas untuk memperoleh ijazah dan kemudahan dalam mencari pekerjaan dan rizki. Ulul Albab selalu yakin pada janji Allah bahwa rizki seseorang selalu berada di bawah keputusan Tuhan. Tidak selayaknya seseorang merisaukan terhadap rizki dan jenis pekerjaan yang akan diperoleh. Kebahagiaan bukan semata-mata terletak pada keberhasilan mengumpulkan rizki.tetapi pada kedekatan dengan Yang Maha Kuasa, Allah Swt. Mahasiswa mencari ilmu pengetahuan lewat observasi, eksperimen dan membaca berbagai literatur bukan semata-mata untuk memperoleh indeks prestasi (1P) dan/atau sertifikat/ijazah, apalagi dikaitkan untuk mendapatkan pekerjaan dan rizki, tetapi adalah kewajiban agar menyandang derajad ulul Albab.

Identitas ulul albab diyakini dapat dibentuk lewat proses pendidikan yang dipola sedemikian rupa. Pola pendidikan yang dimaksudkan itu ialah pendidikan yang mampu membangun iklim yang dimungkinkan tumbuh dan berkembangnya dzikr, fikr dan amal shaleh. Menyesuaikan dengan konteks ke-Indonesia-an, bentuk rill pendidikan UIN Malang diformat sebagai penggabung­an antara tradisi pesantren (ma`had) dan tradisi perguruan tinggi. Pesantren telah lama dikenal sebagai wahana yang berhasil melahirkan manusia-manusia yang mengedepankan dzikr, sedangkan perguruan tinggi dikenal mampu melahirkan manusia fikr dan selanjutnya atas dasar kedua kekuatan itu melahirkan manusia yang berakhlak mulia dengan selalu berkeinginan untuk beramal shaleh.

Ukuran Keberhasilan Tarbiyah Ulul Albab

Keberhasilan hidup bagi penyandang ulul albab bukan terletak pada jumlah kekayaan, kekuasaan, sahabat, dan sanjungan yang diperoleh, melainkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Di dunia ini tak sedikit orang kaya, berkuasa dan disanjung orang banyak, tetapi ternyata tidak selamat dan juga tidak bahagia. Ulul albab diberikan oleh Allah swt rizki yang halal, mungkin juga pengaruh yang luas tetapi tetap selamat dan bahagia.

Penyandang ulul albab selalu memilih jenis dan cara kerja yang shaleh, artinya yang benar, lurus, tepat atau profesional. Oleh karena itu, amal shaleh yang dilakukan oleh ulul albab selalu disenangi oleh manusia dan bahkan oleh Allah Swt.

Ulul albab meyakini adanya kehidupan jasmani dan ruhani, dunia dan akhirat. Kedua dimensi kehidupan itu harus memperoleh perhatian secara seimbang dan tidak dibenarkan hanya memprioritaskan salah satunya. Keberuntungan di dunia harus berdampak positif pada kehidupan akhirat dan tidak justru sebaliknya. Demikian pula kesehatan jasmani harus memberi dampak positif pula pada kesehatan ruhani. Keuntungan material bisa jadi berdampak positif pada kesehatan jasmani, akan tetapi jika diperoleh dengan cara yang tidak halal akan berdampak pada kesehatan ruhani. Bagi ulul albab hal tersebut harus dihindari.

Lewat dzikr, fikr dan amal shaleh, pendidikan ulul albab mengantarkan seseorang menjadikan manusia terbaik, sehat jasmani dan ruhani. Sebagai manusia terbaik, ia selalu melakukan kegiatan dan pelayanan terbaik kepada sesama,”khair an-nas anfa’uhum li an-nas. Sebagai orang yang sehat harus berusaha menghindar dari segala penyakit baik penyakit jasmani maupun penyakit ruhani. Penyakit jasmani mudah dikenali dan dirasakan, sementara penyakit ruhani tak mudah dikenali dan bahkan juga tidak disadari. Beberapa jenis penyakit ruhani itu antara lain: sifat dengki, iri hati, suka menyombongkan diri (takabbur), kufur nikmat, pendendam, keras kepala, individualistik, tidak toleran dan lain-lain.

Pendidikan di UIN Malang diarahkan untuk menjadikan seluruh mahasiswanya: (1) berilmu pengetahuan yang luas, (2) mampu melihat/membaca fenomena alam dan sosial secara tepat, (3) memiliki otak yang cerdas, (4) berhati lembut dan (5) bersemangat juang tinggi karena Allah sebagai pengejawantahan amal shaleh. Jika kelima kekuatan ini berhasil dimiliki oleh siapa saja yang belajar di kampus ini, artinya pendidikan ulul albab dipandang berhasil. Sebab, dengan ciri-ciri itu seseorang diiharapkan akan memiliki kekokohan akidah dan kedalaman spiri­tual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan kematangan profesional.

Orientasi Tarbiyah Ulul Albab

Arah Pendidikan ulul albab dirumuskan dalam bentuk perintah sebagai berikut: kunuu ulul `ilmi, kunuu ulun nuha, kunuu ulul abshar, kunuu ulul albab, wa jahidu fillahi haqqa jihadihi. Pendidik­an ulul albab memberikan piranti yang dipandang kukuh dan strategis agar seseorang dapat menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi sebagaimana yang diisyaratkan Allah Swt. melalui kitab suci Al Quran.

Pendidikan ulul albab berkeyakinan bahwa mengembangkan ilmu pengetahuan bagi komunitas kampus semata-mata dimaksud­kan sebagai upaya mendekatkan diri dan memperoleh ridha Al­lah Swt.Akan tetapi, pendidikan ulul albab juga tidak menafikan arti pentingnya pekerjaan sebagai sumber rizki. Ulul albab ber­pandangan bahwa jika seseorang telah menguasai ilmu pengetahu­an, cerdas, berpandangan luas dan berhati lembut serta mau berjuang di jalan Allah, insya Allah akan mampu melakukan amal shaleh. Konsep amal shaleh diartikan sebagai bekerja secara lurus, tepat, benar atau profesional. Amal shaleh bagi ulul albab adalah merupakan keharusan bagi komunitas kampus dan alumni­nya. Sebab, amal shaleh adalah jalan menuju ridha Allah Swt.

Pendekatan Tarbiyah Ulul Albab

Dzikr, fikr, dan amal shaleh dipandang sebagai satu kesatuan utuh yang dikembangkan oleh tarbiyah ulul albab. Dzikr dilakukan secara pribadi maupun (diutamakan) berjama’ah, langsung di bawah bimbingan dosen/guru. Bentuk kegiatannya berupa shalat berjama’ah, khatmul Qur’an, puasa wajib maupun sunnah, memperbanyak membaca kalimah thayyibah, tasbih, takbir, tahmid dan sholawat. Kegiatan semacam itu dilakukan di masjid atau ma’had, pada setiap waktu. Pendidikan fikr dilakukan untuk mempertajam nalar atau pikiran. Pendekatan yang dikembangkan lebih berupa pemberian tanggung jawab kepada mahasiswa untuk mengembangkan keilmuannya secara mandiri —proses mencari sendiri lebih diutamakan. Prestasi atau kemajuan belajar diukur dari seberapa banyak dan kualitas temuan yang dihasilkan oleh mahasiswa selama belajar. Pendidikan ulul albab lebih merupakan kegiatan riset terbimbing oleh dosen daripada berbentuk kuliah sebagaimana lazimnya dilakukan di perguruan tinggi. Dasar pikiran yang dijadikan acuan pengembangan pendekatan adalah formula dan juga kisah-kisah dalam al-Qur’an

Ayat-ayat al-Qur’an banyak sekali menggunakan formula kalimat bertanya dan perintah untuk mencari sendiri, seperti: Apakah tidak kau pikirkan? Apakah tidak kau perhatikan? Apakah tidak kau lihat? dan sebagainya. Formula kalimat bertanya semacam itu melahirkan inspirasi dan pemahaman bahwa memikirkan, memperhatikan dan melihat sendiri, seharusnya dijadikan kata kunci dalam pilihan pendekatan belajar untuk memperluas ilmu pengetahuan. Selain itu, masih bersumberkan al-Qur’an, diambil dari kisah nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan dilakukan dengan cara membangun hipotesis dan mengujinya sendiri dengan logika dan data empirik yang ditemukan. Melalui proses panjang, akhirnya Tuhan memberikan petunjuk dengan bersabda: aslim (ber-Islam­lah) maka Ibrahim-pun mengatakan aslamtu (saya ber-Islam dan berserah diri). Kisah ini pula memberikan inspirasi bahwa jika mencari Tuhan saja Ibrahim diberi peluang untuk mencari sendiri, maka selayaknyalah manusia seperti halnya mahasiswa seyogyanya diberi kebebasan seluas-luasnya mencari sendiri dan bukan dituntun dan selalu diberi petunjuk. Dosen dalam tarbiyah ulul albab berperan sebagai pemberi petunjuk atau kata putus terakhir setelah mahasiswa sebelumnya melakukan pencarian sendiri. Dasar pertimbangan yang lain ialah bahwa.ternyata pendekatan kuliah selama ini tidak memberi peluang mahasiswa mengasah kekuatan nalarnya lewat tantangan yang harus dihadapi. Itu semua dapat diduga sebagai sumber kelemahan pendekatan pendidikan yang selama ini dikembangkan.

Amal shaleh sedikitnya merangkum tiga dimensi. Pertama, profesionalitas; kedua, transendensi berupa pengabdian dan keikhlasan; dan ketiga, kemaslahatan bagi kehidupan pada umumnya. Pekerjaan yang dilakukan oleh peserta didik ulul albab harus didasarkan pada keahlian dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Apalagi, amal shaleh selalu terkait dengan dimensi keumatan dan transendensi, maka harus dilakukan dengan kualitas setinggi-tingginya. Tarbiyah ulul albab menanamkan nilai, sikap dan pandangan bahwa dalam memberikan layanan kepada umat manusia di mana, kapan dan dalam suasana apapun harus dilaku­kan yang terbaik (amal shaleh).

Selain itu, dalam mengembangkan budaya aural shaleh harus dilakukan dengan cara ibdo’bi nafsika: mulai dari diri sendiri. Sebaliknya, hal yang menyangkut pengembangan pemikiran dilakukan dengan pendekatan kebebasan, keterbukaan clan mengedepankan keberanian yang bertanggung jawab. Bebas artinya siapa saja dengan tidak melihat oleh dan dari mana pikiran itu berasal, dihargai asal pikiran itu kukuh, baik dari nalar maupun data yang diajukan. Prinsip terbuka berarti memberikan peluang kepada siapa saja untuk mengajukan nalar dan daya kritisnya. Kebenaran bagi tarbiyah ulul albab, tidak mengenal final, artinya masih diberi ruang untuk dikritisi, kecuali menyangkut akidah atau tauhid. Sedangkan keberanian ditumbuh-kembangkan, oleh karena sifat ini dipandang sebagai modal dan bahkan pintu masuk lahirnya keterbukaan dan kebebasan sebagai pilar penyangga tumbuhnya iklim akademik.

Budaya Pendidikan

Budaya sebuah komunitas, tak terkecuali komunitas pendidikan, dapat dilihat dari dimensi lahir maupun batinnya. Budaya lahiriah meliputi hasil karya atau penampilan yang tampak atau yang dapat dilihat, misalnya penampilan fisik seperti gedung, penataan lingkungan sekolah, sarana pendidikan dan sejenisnya. Sedangkan yang bersifat batiniah adalah hasil karya yang tidak tampak, tetapi dapat dirasakan. Hal itu misalnya menyangkut pola hubungan antarsesama, cara menghargai prestasi seseorang, sifat-sifat pribadi yang dimiliki baik kekurangan maupun kelebihannya, dan sebagainya. Budaya adalah sesuatu yang dianggap bernilai tinggi, yang dihargai, dihormati dan didukung bersama. Budaya juga berstrata, oleh karena itu di tengah masyarakat terdapat anggapan budaya rendah, sedang dan tinggi. Dilihat dari perspektif organisasi, budaya juga berfungsi sebagai instrumen penggerak dinamika masyarakat.

Tingkat perkembangan budaya sebuah komunitas masyarakat, dapat dilihat dari sisi yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Lembaga pendidikan disebut berbudaya tinggi, dari sisi lahiriahnya, ketika ia berhasil membangun penampilan wajahnya sesuai dengan tuntutan zaman. Misalnya, lembaga pendidikan itu: memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, berhasil membangun gedung sebagai sarana pendidikan yang mencukupi —baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya, mampu menyediakan prasarana pendidikan yang memadai, menciptakan lingkungan bersih, rapi dan indah, memiliki jaringan atau network yang luas dan kuat, dan sebagainya. Sedangkan tingkat budaya batiniah dapat dilihat melalui cita-cita, pandangan tentang dunia kehidupan: menyangkut diri, keluarga dan orang lain atau sesama, apresiasi terhadap kehidupan spiritual dan seni, kemampuan mengembangkan ilmu dan hikmah. Masih dalam lingkup budaya batin dapat dilihat pula dari bagaimana mereka membangun interaksi dan interrelasi di antara komunitasnya, mendudukkan dan menghargai orang lain dalam berbagai aktivitasnya, dan bagaimana mensyukuri nikmat serta karunia yang diperoleh.

Suasana yang dinamis, penuh kekeluargaan, kerjasama serta saling menghargai senantiasa menjadi sumber inspirasi dan kekuatan penggerak menuju ke arah kemajuan, baik dari sisi spiritual, intelektual dan profesional. Sebaliknya, komunitas yang diwarnai oleh suasana kehidupan yang saling tidak percaya, tidak saling menghargai di antara sesama, kufur, akan memperlemah semangat kerja dan melahirkan suasana stagnan. Pola hubungan sebagaimana disebutkan terakhir itu akan melahirkan atmosfir konflik yang tak produktif serta jiwa materialistik dan hubungan-­hubungan transaksional yang akan berakibat memperlemah kehidupan organisasi kampus itu sendiri. Tarbiyah ulul albab harus dijauhkan dari budaya seperti itu. Sebab, sebaik-baik fasilitas yang disediakan berupa kemegahan gedung serta setinggi apapun kualitas tenaga pengajar, jika lembaga pendidikan tersebut tak mampu mengembangkan budaya tinggi, maka pendidikan tak akan menghasilkan produk yang berkualitas sebagaimana yang diharapkan. Bahkan sebaliknya, sekalipun budaya lahiriah tak berkategori tinggi, tetapi jika budaya batiniah dapat dikembangkan setinggi mungkin, produk pendidikan masih dapat diharapkan lebih baik hasilnya. Tarbiyah ulul albab dalam menggapai tujuan pendidikan secara maksimal, mengembangan budaya lahiriah dan batiniah secara padu, simultan dan maksimal sesuai dengan potensi dan kekuatan yang ada.

Struktur Keilmuan

Ilmu yang dikembangkan di UIN Malang bersumber dari al-Qur’an dan hadis Nabi Saw. Petunjuk al-Qur’an dan hadis yang masih bersifat konseptual selanjutnya dikembangkan lewat kegiatan eksperimen, observasi dan pendekatan ilmiah lainnya. Ilmu pengetahuan yang berbasis pada al-Qur’an dan al-Sunnah itulah yang dikembangkan oleh UIN Malang. Jika menggunakan bahasa kontemporer UIN Malang berusaha menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum dalam satu kesatuan. UIN Malang sesungguhnya tidak sepaham dengan siapa saja yang mengkategorisasikan ilmu agama dan ilmu umum. Sebab kategorisasi itu terasa janggal dan atau rancu. Istilah umum adalah lawan kata dari khusus. Sedangkan agama, khususnya Islam tidak tepat dikategorikan sebagai ajaran yang bersifat khusus. Sebab, lingkup ajarannya begitu luas dan bersifat universal, menyangkut berbagai aspek kehidupan. Jika keduanya dipandang sebagai ilmu, maka agama adalah ilmu yang bersumber dari wahyu, sedang ilmu umum berasal dari manusia.

Kedua jenis ilmu yang berasal dari sumber yang berbeda itu harus dikaji secara bersama-sama dan simultan. Perbedaan di antara keduanya, ialah bahwa mendalami ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis hukumnya wajib ain bagi mahasiswa UIN Malang. Sedaingkan, mendalami ilmu yang bersumber dari manusia hukumnya wajib kifayah. Artinya, terhadap jenis ilmu yang disebutkan terakhir ini, mahasiswa diperkenankan memilih salah satu cabang disiplin ilmu yang diminati. Penguasaan salah satu cabang ilmu dianggap telah gugur atas kewajiban mengembangkan disiplin ilmu lainnya.

Dalam perspektif bangunan kurikulum, struktur keilmuan yang dikembangkan UIN Malang menggunakan metafora sebuah pohon yang kukuh dan rindang. Sebagaimana layaknya sebuah pohon menjadi kukuh, berdiri tegak dan tak mudah roboh dihem­pas angin jika memiliki akar yang kukuh dan menghunjam ke bumi. Pohon yang berakar kuat itu akan melahirkan batang yang kukuh pula. Batang yang kukuh akan melahirkan cabang dan ranting yang kuat serta dahan dan buah yang sehat dan segar. Pohon dengan ciri-ciri seperti itulah yang dijadikan perumpamaan ilmu yang dikembangkan di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

Akar yang kukuh menghunjam ke bumi itu digunakan untuk menggambarkan kemampuan berbahasa asing (Arab dan Inggris), logika dan filsafat, ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Bahasa Asing –Arab dan Inggris, harus dikuasai oleh setiap mahasiswa. Bahasa Arab digunakan sebagai piranti mendalami ilmu-ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis Nabi serta kitab-kitab berbahasa Arab lainnya. Sudah menjadi keyakinan bagi UIN Malang bahwa mengkaji Islam pada level perguruan tinggi harus menggunakan sumber asli. Mempelajari Islam hanya menggunakan buku terjemah dipandang tidak mencukupi. Penggunaan Bahasa Inggris dipandang penting sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi dan bahasa pergaulan internasional. Selanjutnya, pendalaman terhadap Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, kemampuan logika/filsafat, ilmu alam dan ilmu sosial perlu dikuasai oleh setiap mahasiswa agar dijadikan bekal dan instrumen dalam menganalisis dan memahami isi al-Qur’an, hadis maupun fenomena alam dan sosial yang dijadikan obyek Studi-Studi selanjutnya. Jika hal-hal tersebut dikuasai secara baik, maka mahasiswa akan dapat mengikuti Studi keilmuan selanjutnya secara mudah. Sebaliknya, jika mahasiswa gagal mendalami ilmu alat tersebut dipastikan akan mengalami kesulitan dan bisa jadi akan mengalami kegagalan dalam studinya.

Batang yang kukuh digunakan untuk menggambarkan ilmu­-ilmu yang terkait dan bersumber langsung dari al-Qur’an dan hadis Nabi. Yaitu, studi al-Qur’an, studi hadis, pemikiran Islam dan sirah Nabawiyah. Ilmu semacam ini hanya dapat dikaji dan dipahami secara baik oleh mereka yang telah memiliki kemahiran Bahasa Arab, logika, ilmu alam dan ilmu Sosial.

Dahan dan ranting dari pohon yang kukuh dan rindang tersebut digunakan untuk menggambarkan disiplin ilmu modern yang dipilih oleh setiap mahasiswa. Disipilin ilmu ini bertujuan untuk mengembangkan aspek keahlian dan profesionalismenya. Disiplin ilmu modern itu misalnya: ilmu kedokteran, filsafat, psikologi, ekonomi, sosiologi, teknik serta cabang-cabang ilmu lainnya. Lebih lanjut, jika metafora berupa pohon dikembangkan, dan harus menyebut buah pohon tersebut, maka buah itu adalah ilmu, iman, amal shaleh, dan akhlaq al-karimah. Keempat kata: ilmu, iman, amal shaleh, dan akhlaq al-karimah sengaja ditulis dengan huruf tebal untuk menunjukkan betapa pentingnya hal itu dalam kehidupan di alam ini. Ridha Allah swt., tergantung pada kadar iman, amal shaleh, dan akhlaq at-karimah seseorang. Iman, amal shaleh,dan akhlaq al-karimah lahir dari hidayah dan kekayaan ilmu pengetahuan. Seseorang yang memiliki ilmu, iman, amal shaleh, dan akhlaq al-karimah yang dihasilkan oleh kampus ini disebut: ulama’ yang intelek dan profesional dan/atau intelek profesional yang ulama. UIN Malang hadir bertujuan melahirkan manusia yang berilmu, beriman, beramal shaleh, dan ber-akhlaq al-karimah itu.

Terakhir Diupdate (Kamis, 07 Mei 2009 11:34)

Visi & Misi

Kamis, 07 Mei 2009 09:33 | Author: Moh. Suef |

Visi dan misi Pusat Studi Tarbiyah Ulul Albab sepenuhnya integral dengan visi misi Universitas Islam Negeri Malang. Pusat Studi Tarbiyah Ulul Albab menjadi salah satu pilar dalam mengantarkan UIN Malang menjadi universitas Islam terkemuka dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekokohan aqidah, kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional, dan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang bercirikan Islam serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Dan misi Pusat Studi Tarbiyah Ulul Albab adalah untuk memberikan pemantapan dan arah dalam pencapaian pendidikan di Universitas Islam Negeri Malang. Yaitu melalui pengembangan, pengStudi dan penelitian filosofi, identitas, arah yang ingin dicapai, budaya, dan pendekatan yang ingin dikembangkan. Selain itu melakukan peningkatan kualitas pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekarang, maupun yang akan datang.

Terakhir Diupdate (Kamis, 07 Mei 2009 11:26)

PENGANTAR KULIAH TARBIYAH ULUL ALBAB

Kamis, 07 Mei 2009 11:08 | Author: Moh. Suef |

A. Dasar Ajaran Islam

Sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an bahwa Allah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk (al-Tin; 3), karenanya Allah memerintahkan untuk menyeru manusia kepada jalan Tuhan dengan hikmah dan pelajaran yang baik (al-Nahl; 125), dan hendaknya diantara umat manusia yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar (Ali Imran; 104), karenanya manusia diperintahkan meluruskan dirinya pada agama Allah yang lurus yaitu fitrah Allah yang telah ditetapkan Allah kepada manusia (al-Rum; 30)

Selain itu Rasulullah saw juga memerintahkan kita untuk menyampaikan ajaran kepada orang lain walaupun hanya sedikit (satu ayat), karena semua manusia itu akan celaka kecuali mereka yang memiliki ilmu pengetahuan. Orang yang memiliki pengetahuanpun akan celaka kecuali orang yang mengamalkannya. Orang yang mengamalkanpun akan celaka kecuali mereka yang ikhlas dalam ilmu pengetahuan dan amal yang dilakukannya (al-Hadis). Rasulullah saw juga bersabda bahwa “Setiap manusia diciptakan sesuai dengan fitrah, maka orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”(al-Hadis)

Atas dasar inilah, maka secara tidak langsung kita diperintahkan untuk menjalankan pendidikan (Tarbiyah) dengan sebaik-baiknya agar semua potensi manusia  (fitrah) tumbuh dan berkembang dengan baik.

B. Dasar Yuridis

Sebagaimana dinyatakan dalam pasal 36 Undang-undang 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa:

Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada Standar Nasional pendidikan untuk mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.

Selanjutnya, dalam pasal 38 Undang-undang 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ditegaskan bahwa:

1)   Kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk setiap program studi.

2)   Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk setiap program studi.

Sejalan dengan prinsip diversifikasi dan kewenangan satuan pendidikan tinggi untuk mengembangkan kerangka dasar dan struktur kurikulumnya, maka selain mengacu pada Standar Nasional Pendidikan, pengembangan kurikulum Universitas Islam Negeri (UIN) Malang juga didasarkan pada filosofi, visi dan misi universitas. Filosofi, visi dan misi ini yang menjadi dasar bagi pembentukan jati-diri peserta didik yang tercermin dalam kurikulum institusional pada kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Secara ringkas, keseluruhan muatan kurikulum institusional universitas dimaksudkan untuk mewujudkan cita-cita menghasilkan sosok pribadi insan Uli al-Albab.

Mata kuliah ini, selain dimaksudkan sebagai bahan belajar pengembangan jati-diri calon akademisi dan profesional muslim, juga dimaksudkan sebagai perekat antar berbagai mata kuliah agar mahasiswa tidak kehilangan arah (disoriented) dalam menapaki jalan menuju Uli al-Albab sebagaimana dicita-citakan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

Sebagai kebijakan universitas, pelembagaan tarbiyah Uli al-Albab berlaku untuk seluruh jurusan dan jenjang pendidikan yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Penyelenggaraan tarbiyah Uli al-Albab untuk jenjang pasca-sarjana (S2 dan S3) diatur tersendiri. Matakuliah ini merupakan matakuliah wajib non sks yang harus ditempuh hingga lulus oleh semua mahasiswa. Sertifikat kelulusan tarbiyah Uli al-Albab diberikan dan menjadi prasyarat kelulusan program studi bagi setiap mahasiswa.

TARBIYAH ULI AL-ALBAB

Nama Mata Kuliah : Tarbiyah Uli al-Albab
Kode Mata Kuliah :
Bobot : Sertifikasi Non-Sks (2 js)
Intensitas : 16 pertemuan
Semester : Pertama
Prasyarat : Skripsi

C. Dasar Pemikiran

Perubahan masa yang terus berkembang menjadikan proses pendidikan mulai mencari bentukannya yang terbaru. Selama ini proses pendidikan kita hanya menciptakan dikotomi antara ilmu dengan agama, sehingga terciptalah produk pendidikan yang “timpang”. Padahal Pendidikan adalah proses rekayasa yang terencana untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri manusia agar terjadi keseimbangan pada diri manusia. Potensi yang ada dalam diri manusia itu ada 4 potensi yang harus ditumbuhkembangkan melalui proses pendidikan yaitu potensi akal, jasmani, ruhani (spiritual) dan kepribadian yang luhur (al-Akhlak al-Karimah). Keempat potensi ini akan membentuk pribadi yang seimbang dan terarah.

Sebagai upaya terencana, pendidikan tinggi niscaya diorientasikan kepada pembentukan “insan kamil harapan”. Tidak terkecuali upaya pendidikan yang diselenggarakan Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Citra dan jati-diri “insan kamil harapanyang diupayakan universitas ini adalah insan Uli al-Albab. Sosok Uli al-Albab adalah sosok yang mempunyai ketajaman hati dan pandangan yang luas yang tercermin dari berkembangnya empat potensi Uli al-Albab yaitu potensi kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan kematangan profesional. Semua potensi tersebut akan berhasil dikembangkan dengan baik jika dilakukan rencana yang tepat yaitu melalui Tarbiyah Uli al-Albab.

D. Posisi Mata Kuliah

Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas bahwa mata kuliah Tarbiyah Uli al-Albab diposisikan sebagai bagian dari kurikulum institusional kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK). Sebagai kebijakan universitas, pelembagaan tarbiyah Uli al-Albab berlaku untuk seluruh jurusan dan jenjang pendidikan yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Penyelenggaraan tarbiyah Uli al-Albab untuk jenjang pasca-sarjana (S2 dan S3) diatur tersendiri. Matakuliah ini merupakan matakuliah wajib non sks yang harus ditempuh hingga lulus oleh semua mahasiswa. Sertifikat kelulusan tarbiyah Uli al-Albab diberikan dan menjadi prasyarat kelulusan program studi bagi setiap mahasiswa. Mata kuliah ini adalah mata kuliah yang merepresentasikan produk Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, karenanya posisi ini dirasa sangat penting dan keberhasilan dari produk mata kuliah ini adalah keberhasilan pencapaian visi dan misi Universitas. Materi yang dikembangkan dalam mata kuliah ini tidak hanya pada tataran kognitif yaitu dengan pendalaman materi saja, akan tetapi juga dikembangkan dalam bentuk internalisasi sikap akademik yang akan dikembangkan oleh masing-masing fakultas dan perilaku spiritual serta perilaku yang luhur yang dikembangkan oleh ma’had dengan kurikulumnya.

E. Tujuan Perkuliahan

Perkuliahan yang disajikan untuk mahasiswa semester pertama ini bertujuan :

1.   Membantu mahasiswa memahami sejarah, filosofi, visi, dan misi universitas Islam.

2.   Membantu mahasiswa memahami paradigma integrasi keilmuan, teknologi dan kesenian Islam.

3.   Membantu mahasiswa mengembangkan kepribadian akademisi dan profesional muslim. Membantu mahasiswa menghayati peran dan tanggung-jawab sebagai Uli al-Albab.

5.   Membantu mahasiswa menghayati etika akademik, profesi dan sosial Islam.

6.   Membantu mahasiswa menginternalisasikan nilai-nilai Uli al-Albab kedalam perilaku sehari-hari.

F. Ruang Lingkup Materi

Lingkup materi perkuliahan ini terbagi ke dalam lima kelompok tema, yaitu: (1) Sejarah dan profil Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, (2) Konsep Ulul Albab yang dikembangkan UIN Malang, (3) Pendekatan-pendekatan yang digunakan UIN Malang untuk mencapai target Ulul Albab, (4) Pola integrasi keilmuan yang dikembangkan UIN Malang, dan (5) aplikasi konsep ulul albab dalam keseharian civitas akademik UIN Malang.

G. Strategi Penyajian

Penyajian matakuliah ini dirancang agar mahasiswa berkesempatan berinteraksi secara lintas disiplin akademik dan profesi. Setiap jurusan membuka kesempatan perkuliahan bagi mahasiswa dari jurusan lain. Perkuliahan diselenggarakan dalam bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia, dengan strategi ceramah, diskusi kelas dan penugasan kelompok dan perseorangan. Penyajian mata kuliah ini juga dirancang dalam bentuk yang lebih komprehensif, karena melibatkan semua komponen universitas, karenanya strategi penyajian mata kuliah ini juga diselenggarakan dengan model memberikan suri tauladan (uswah hasanah) oleh para pengajar bagi semua mahasiswa yang menempuh mata kuliah ini. Dengan model suri tauladan (uswah hasanah) ini diharapkan terbentuk kepribadian yang memantul dari para pengajar kepada seluruh mahasiswa yang menempuh mata kuliah ini.

H. Tugas Mahasiswa

Tugas mahasiswa dalam perkuliahan ini ada dua macam yaitu tugas yang bersifat pengembangan keilmuwan (kognitif) yang terdiri dari pendalaman materi dan tugas yang bersifat pengembangan kepribadian (afeksi)

Tugas yang bersifat pengembangan keilmuwan (kognitif) adalah mahasiswa berkewajiban: (1) melengkapi diri dengan bahan pustaka wajib dan buku catatan, (2) mengikuti sekurang-kurangnya 80% acara tatap muka, (3) menulis dan menyajikan makalah kelompok, dan (4) menulis dan mengumpulkan tugas perseorangan. Sedangkan tugas yang bersifat pengembangan kepribadian adalah mahasiswa wajib mendalami pola pengembangan kurikulum yang diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari di ma’had sehingga diharapkan potensi kedalaman spiritual dan keluhuran akhlak akan tumbuh dan berkembang dengan baik serta mendalami sikap akademik yang dikembangkan fakultas sehingga potensi aqliyah dan profesional akan berkembang dengan baik pula.

I. Sistem Penilaian

Teknik penilaian yang digunakan dalam perkuliahan ini ada dua yaitu penilaian terhadap pengembangan pengetahuan (kognitif) mahasiswa yang mengacu pada patokan (Criterion Reference Evaluation), yang didasarkan pada tingkat peran-serta dalam kegiatan kelas (5%), tugas perseorangan (10%), hasil ujian tengah semester (20%), dan hasil ujian akhir semester (65%). Penilaian yang kedua adalah penilaian terhadap pengembangan kepribadian mahasiswa (afektif), penilaian ini akan dilakukan melalui model Pengukuran Perilaku dari masing-masing mahasiswa yang sudah dijadikan standar pengukuran juga. Penilaian ini akan mengukur apakah pribadi Uli al-Albab akan terinternalisasi dalam bentuk perilaku oleh mahasiswa. Penilaian kepribadian yang terdiri dari kedalaman spiritual dan keluhuran akhlak akan dilakukan oleh para musyrif dan musyrifah yang mendampingi mahasiswa dengan membuat raport perilaku sehari-hari mahasiswa dan akan dilakukan pengecekan dengan skala pengukuran kepribadian oleh Kantor Jaminan Mutu (KJM) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Bentuk penilaian selanjutnya adalah bentuk penilaian terhadap Potensi Akademik Uli al-Albab. Bentuk penilaian ini digunakan apakah potensi akademik Uli al-Albab sudah betul-betul berkembang dengan baik. Penilaian dan pengukuran sikap akademik Uli al-Albab ini akan dilakukan oleh fakultas psikologi.

J. Rincian Topik.

Materi Tarbiyah Ulul Albab diberikan sebanyak 16 pertemuan dengan rincian topik sebagi berikut.

1)     Pengantar,

2)     Dinamika Perkembangan Institusi

3)     Arkanul Jami’ah

4)     Konsep Ulul Albab

5)     Islamisasi Ilmu

6)     Pola Integrasi Keilmuan UIN Malang

7)     Implementasi Integrasi Ilmu di Fakultas

8)    Etika Kesarjanaan Ulul Albab

K. Tata Tertib

Perkuliahan diselenggarakan secara teratur selama satu semester penuh sebagaimana berlaku bagi matakuliah lain. Selama perkuliahan, mahasiswa mengenakan seragam jas almamater Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, dan tidak diperkenankan sandal, busana atau perilaku tidak pantas lainnya. Untuk mengikuti ujian akhir semester, kehadiran mahasiswa sekurang-kurangnya 80% dari acara tatap-muka. Mahasiswa juga diwajibkan berperilaku yang baik di dalam kelas. Selain itu mahasiswa juga diwajibkan mengikuti kegiatan spiritual yang dikembangkan oleh ma’had

L. Bahan Rujukan

1)     Rencana Strategik Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

2)     Tarbiyah Uli al-Albab: Dzikr, Fikr, dan Amal Shaleh.

3)     Konsep dan Paradigma Keilmuan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Malang: Konsepsi, Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi.

4)     Pustaka pendukung lain.

ISLAMISASI ILMU: SEJARAH, DASAR, POLA, DAN STRATEGI

Kamis, 07 Mei 2009 10:26 | Author: Moh. Suef |

A. Sejarah Perkembangan Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Kata “islamisasi” dinisbatkan kepada agama Islam yaitu agama yang telah diletakkan manhajnya oleh Allah melalui wahyu. Ilmu ialah persepsi, konsep, bentuk sesuatu perkara atau benda. Ia juga suatu proses penjelasan, penyataan dan keputusan dalam pembentukan mental. Islamisasi ilmu berarti hubungan antara Islam dengan ilmu pengetahuan yaitu hubungan antara “Kitab Wahyu” al-Quran dan al-Sunnah dengan “kitab Wujud” dan ilmu kemanusiaan. Oleh karena itu, islamisasi ilmu ialah aliran yang mengatakan adanya hubungan antara Islam dengan ilmu kemanusiaan dan menolak golongan yang menjadikan realitas dan alam semesta sebagai satu-satunya sumber bagi ilmu pengetahuan manusia.

Dalam bahasa Arab, istilah Islamisasi ilmu dikenal dengan “Islamiyyat al-Ma’rifat” dan dalam bahasa Inggris disebut dengan “Islamization of Knowledge”. Islamisasi ilmu merupakan istilah yang mendeskripsikan berbagai usaha dan pendekatan untuk mensitesakan antara etika Islam dengan berbagai bidang pemikiran modern. Produk akhirnya akan menjadi ijma’ (kesepakatan) baru bagi umat Islam dalam bidang keilmuan yang sesuai dan metode ilmiah tidak bertentangan dengan norma-norma (etika) Islam. Di samping itu, islamisasi ilmu juga bertujuan untuk meluruskan pandangan hidup modern Barat sekular, yang memisahkan antara urusan dunia dan akhirat, termasuk dalam masalah keilmuan.

Sesungguhnya, secara substansial proses islamisasi ilmu telah terjadi sejak masa Rasulullah saw. Hal ini dapat kita lihat dari proses pengislaman yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw terhadap masyarakat Arab pada saat itu. Melalui ajaran-ajaran al-Quran, sebagai sumber hukum Islam pertama, beliau merubah seluruh tatanan Arab Jahiliyah kepada tatanan masyarakat Islam hanya dalam kurun waktu 23 tahun. Dengan al-Qur’an, Muhammad saw. merubah pandangan hidup mereka tentang manusia, alam semesta dan kehidupan dunia. Pengislaman ilmu ini diteruskan oleh para sahabat, tabi’in dan ulama-ulama sehingga umat Islam mencapai kegemilangan dalam ilmu. Pada “zaman pertengahan,” Islamisasi juga telah dilakukan khususnya oleh para teolog Muslim seperti al-Ghazali, Fakhruddin al-Razi, Sayfuddin al-Amidi dan lain-lain. Dengan pengetahuan Islam yang mendalam, mereka menyaring filsafat Yunani kuno untuk disesuaikan dengan pemikiran Islam. Sebagai hasilnya, ada hal-hal dari filsafat Yunani kuno yang diterima dan ada juga yang ditolak. Oleh karena itu, islamisasi dalam arti kata yang sebenarnya bukanlah perkara baru bila ditinjau dari aspek yang luas ini. Hanya saja, secara oprasional, istilah islamisasi ilmu baru dipopulerkan sebagai kerangka epistimologi baru oleh para pembaharu muslim pada tahun 70-an.

Dalam konteks modern, istilah “islamisasi ilmu” pertama kali digunakan dan diperkenalkan oleh seorang sarjana malaysia bernama Muhammad Naquib Al-Attas dalam bukunya yang berjudul “Islam and Secularism” (1978). Syed Muhammad Naquib al-Attas menyadari bahwa “virus” yang terkandung dalam Ilmu Pengetahuan Barat modern-sekuler merupakan tantangan yang paling besar bagi kaum Muslimin saat ini. Dalam pandangannya, peradaban Barat modern telah membuat ilmu menjadi problematis. Selain telah salah-memahami makna ilmu, peradaban Barat juga telah menghilangkan maksud dan tujuan ilmu. Sekalipun peradaban Barat modern juga menghasilkan ilmu yang bermanfaat, namun peradaban tersebut juga telah menyebabkan kerusakan dalam kehidupan manusia. Dalam pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas, Westernisasi ilmu adalah hasil dari kebingungan dan skeptisisme. Westernisasi ilmu telah mengangkat keraguan dan dugaan ke tahap metodologi ‘ilmiah.’ Bukan hanya itu, Westernisasi ilmu juga telah menjadikan keraguan sebagai alat epistemologi yang sah dalam keilmuan. Menurutnya lagi, Westernisasi ilmu tidak dibangun di atas Wahyu dan kepercayaan agama, namun dibangun di atas tradisi budaya yang diperkuat dengan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional. Akibatnya, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika dan moral yang diatur oleh rasio manusia terus menerus berubah. Naquib Al-Atas bercita-cita ingin menjadikan peradaban Islam kembali hidup dan memiliki pengaruh yang mewarnai peradaban global umat manusia. Karena itu, seluruh hidupnya ia persembahkan bagi upaya-upaya revitalisasi peradaban Islam, agar nilai-nilai yang di masa lalu dapat membumi dan menjadi ‘ikon’ kebanggaan umat Islam, dapat menjelma dalam setiap lini kehidupan kaum Muslim sekarang ini.

Menurut Naquib Al-Attas, Islamisasi ilmu adalah “ the liberation of man first from magical, mythological, animistic, national-cultural tradition, and then from secular control over his reason and his language.” (Islamisasi adalah pembebasan manusia, pertama dari tradisi tahyul, mitos, animisme, kebangsaan dan kebudayaan dan setelah itu pembebasan akal dan bahasa dari pengaruh sekularisme).
Gagasan Al-Atas ini disambut baik oleh seorang filosof Palestina bernama Ismail Al-Faruqi pada tahun 1982 dengan bukunya yang berjudul “Islamization of Knowledge”, dalam rangka merespon gerakan di Malaysia yang bernama “Malaise of the ummah”. Dia mengatakan bahwa jika kita menggunakan alat, kategori, konsep, dan model analisis yang diambil murni dari Barat sekuler, seperti Marxisme, maka semua itu tidak relevan dengan ekologi dan realitas sosial negara Islam, sehingga tidak mampu beradaptasi dengan nilai-nilai Islam, bahkan akan berbenturan dengan etika Islam itu sendiri. Karena itu, dalam pandangannya, pertentangan antara ulama tradisional dan para tokoh reformasi dalam membangun masyarakat muslim dengan ilmu modern dan kategori profesional tidak akan terlaksana tanpa dibarengi dengan usaha keras menerapkan etika Islam dalam metodologi para filosof muslim awal. Karena itu, dia menganjurkan agar melakukan revisi terhadap metode-metode itu dengan menghadirkan kembali dan mengintegrasikan antara metode ilmiah dengan nilai-nilai Islam.

Pada akhir abad 20-an, konsep Islamisasi ilmu juga mendapatkan kritikan dari kalangan pemikir Muslim sendiri, terutama para pemikir Muslim kontemporer seperti Fazlur Rahman, Muhsin Mahdi, Abdus Salam Soroush, Bassam Tibbi dan sebagainya. Menurut Fazlur Rahman, ilmu pengetahuan tidak bisa diislamkan karena tidak ada yang salah di dalam ilmu pengetahuan. Permasalahannya hanya dalam hal penggunaannya. Menurut Fazlur Rahman, ilmu pengetahuan memiliki dua fungsi ganda, seperti “senjata bermata dua” yang harus digunakan dengan hati-hati dan bertanggung-jawab, sekaligus sangat penting menggunakannya secara benar ketika memperolehnya. Menurutnya, ilmu pengetahuan sangat tergantung kepada cara menggunakannya. Jika orang yang menggunakannya baik, maka ilmu itu akan berguna dan bermanfaat bagi orang banyak, tetapi jika orang yang memakainya tidak baik, maka ilmu itu akan membawa kerusakan.

Tampaknya Fazlur Rahman menolak konsep dasar bahwa ilmu pengetahuan itu sendiri telah dibangun di atas pandangan-hidup tertentu. Dia juga tidak percaya bahwa konsep mengenai Tuhan, manusia, hubungan antara Tuhan dan manusia, alam, agama, sumber ilmu akan menentukan cara pandang seseorang terhadap ilmu pengetahuan. Selain itu, pemikiran sekular juga telah hinggap dalam pemikiran Fazlur Rahman.

Pada umumnya, para pengkritik Islamisasi ilmu berpendapat sains adalah mengkaji fakta-fakta, objektif dan independen dari manusia, budaya atau agama, dan harus dipisahkan dari nilai-nilai. Abdus Salam misalnya, menyatakan: “Hanya ada satu sains universal, problem-problemnya dan bentuk-bentuknya adalah internasional dan tidak ada sesuatu seperti sains Islam sebagaimana tidak ada sains Hindu, sains Yahudi atau sains Kristen.”

Dilihat dari pernyataan Abdus Salam di atas menunjukkan, bahwa tidak ada istilah sains Islam. Abdus Salam, sebagaimana para pemikir Islam sekular lainnya, tidak sepakat jika pandangan-hidup Islam menjadi dasar metafisis dalam pengembangan sains. Padahal, menurut Prof. Alparslan Açikgenç, pemikiran dan aktifitas ilmiah dibuat di dalam pandangan-hidup saintis yang menyediakan baginya struktur konsep keilmuan tertentu sebagaimana juga panduan etis. Seorang saintis akan bekerja sesuai dengan perspektifnya yang terkait dengan framework dan pandangan-hidup yang dimilikinya.

Abdul Karim Sorush juga mengajukan kritik terhadap konsep islamisasi ilmu. Ia menyimpulkan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan adalah tidak logis atau tidak mungkin (the impossibility or illogicality of Islamization of knowledge). Alasannya, realitas bukan Islami atau tidak Islami. Kebenaran yang ada di dalamnya juga bukan ditentukan apakah ini Islami atau tidak Islami. Oleh sebab itu, sains sebagai proposisi yang benar, bukan Islami atau tidak Islami. Para filosof Muslim terdahulu tidak pernah menggunakan istilah filsafat Islam. Istilah tersebut adalah label yang diberikan oleh Barat (a western coinage). Ringkasnya, dalam mengkritik konsep islamisasi ilmu pengetahuan ini, Abdul Karim Sorush menyatakan; (1) metode metafisis, empiris atau logis adalah independen dari Islam atau agama apa pun. Metode tidak bisa diislamkan; (2) Jawaban-jawaban yang benar tidak bisa diislamkan. Kebenaran adalah kebenaran itu sendiri dan tidak bisa diislamkan; (3) Pertanyaan dan masalah yang diajukan dalam sains adalah untuk mencari kebenaran, meskipun diajukan oleh Non-Muslim; (4) Metode yang digunakan dalam sains juga tidak bisa diislamkan.

Dari pandangan Abdussalam di atas, seakan-akan dia memandang bahwa realitas adalah perubahan. Ilmu pengetahuan dibatasi hanya kajian terhadap fenomena yang berubah. Padahal, realitas adalah tetap dan berubah. Seperti yang dikatakan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas, “reality is at once both permanence and change, not in the sense that change is permanent, but in thes sense that there is something permanent whereby change occurs.”

Berbeda dengan Abdussalam Soroush di atas, Bassam Tibi mengatakan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan berarti akan melakukan pribumisasi (indigenization) ilmu. Tibi memahami Islamisasi ilmu sebagai tanggapan dunia ketiga kepada klaim universalitas ilmu pengetahuan Barat. Islamisasi adalah menegaskan kembali (nilai-nilai) lokal untuk menentang ilmu pengetahuan global yang menginvasi.

Namun, sependapat dengan Wan Mohd Nor Wan Daud yang menyatakan bahwa pemahaman Bassam Tibi tentang Islamisasi sebagai pribumisasi yang terkait dengan lokal tidaklah tepat. Islamisasi bukanlah memisahkan antara lokal menentang universal ilmu pengetahuan Barat. Pandangan Bassam Tibi terhadap Islamisasi ilmu muatannya lebih politis dan sosiologis. Hanya karena ummat Islam berada di dalam dunia berkembang dan Barat adalah dunia maju, maka gagasan Islamisasi ilmu merupakan gagasan lokal yang menentang gagasan global. Padahal, munculnya Islamisasi ilmu pengetahuan disebabkan perbedaan pandangan-alam antara Islam dan agama atau budaya lain yang berbeda. Islamisasi bukan saja mengkritik budaya dan peradaban global Barat. Ia juga mentransformasi bentuk-bentuk lokal, etnik supaya sesuai dengan pandangan-alam Islam. Islamisasi adalah menjadikan bentuk-bentuk budaya, adat, tradisi dan lokalitas universal agar sesuai dengan agama Islam yang universal.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa, secara historis, proses islamisasi ilmu telah berlangsung sejak kemunculan Islam itu sendiri, yaitu sejak masa Rasulullah saw. hingga sekarang, dengan bentuk, metode dan ruang lingkupnya sendiri-sendiri, meskipun juga mendapatkan kritik di sana-sini. Akan tetapi, gagasan islamisasi ilmu suatu “revolusi epistemologis” yang merupakan jawaban terhadap krisis epistemologis yang melanda bukan hanya dunia Islam tapi juga budaya dan peradaban Barat sekular.

B. Kerangka Filosofis : Kritik atas Epistemologi Barat

Rifa Fauziyah dalam tulisannya yang berjudul “Islamisasi Ilmu Kontemporer”, menegaskan bahwa gagasan Islamisasi ilmu di kalangan pemikir Muslim merupakan program epistemologi dalam rangka membangun (kembali) peradaban Islam. Hal ini disebabkan adanya perbedaan yang fundamental antara pandangan keilmuan dalam Islam dengan peradaban Barat pada tataran ontologi dan epistemologi.

Pada sisi ontologi, Barat modern hanya menjadikan alam nyata sebagai objek kajian dalam sains, sehingga pada gilirannya mereka hanya membatasi akal dan panca indra (empiris) sebagai epistemologinya. Hal itu tidaklah ganjil mengingat perkembangan ilmu dan dinamisasi peradaban di Barat bergeser dari satu titik ekstrim ke titik ekstrim lainnya.

Sejarah pertentangan antara gerejawan dengan ilmuan; pergumulan yang tak harmonis melibatkan pemuka agama Kristen dengan para saintis di Eropa pada Abad Pertengahan (Dark Age) telah melahirkan desakan pencerahan pemikiran yang dikenal dengan Renaissance/Enlightenment/Aufklarung, masing-masing di Italia, Prancis, Inggris dan Jerman. Keterkungkungan kaum gerejawan yang dianggap menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dengan mengimani Bible yang telah banyak diselewengkan, hingga inkuisisi Galileo Galilea yang berpandangan Heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya) dan bukan sebagaimana diyakini pemuka gereja yang Geosentris (bumi yang menjadi pusat tata surya), justru dijawab para ilmuwan Barat di masa pencerahan dengan “sekularisasi”.

Mereka menanggalkan agama karena agama dianggap telah menghadang perkembangan sains dan pengetahuan. Inilah yang dimaksud dengan perpindahan dari satu titik ekstrim ke titik ekstrim lainnya tadi. Akibatnya epistemologi Barat modern-sekuler melahirkan faham-faham semisal eksistensialisme, materialisme, ateisme, empirisme, rasionalisme, kapitalisme, liberalisme, sosialisme, humanisme, relativisme, agnostisme, dan sebagainya.

Hal itu bermula ketika Bapak filsafat modern–René Descartes (m. 1650)– memformulasi sebuah prinsip “aku berfikir maka aku ada” (cogito ergo sum). Dengan prinsip ini, Descartes telah menjadikan rasio sebagai satu-satunya kriteria untuk mengukur kebenaran. Penekanan terhadap rasio dan panca indera sebagai sumber ilmu juga dilakukan oleh para filosof lain seperti Thomas Hobbes (m. 1679), Benedict Spinoza (m. 1677), John Locke (m. 1704), George Berkeley (m. 1753), Francois-Marie Voltaire (m. 1778), Jean-Jacques Rousseau (m. 1778), David Hume (m. 1776), Immanuel Kant (m. 1804), Georg Friedrick Hegel (m. 1831), Arthur Schopenhauer (m. 1860), Soren Kierkegaard (m. 1855), Edmund Husserl (m. 1938), Henri Bergson (m. 1941), Alfred North Whitehead (m. 1947), Bertrand Russell (m. 1970), Martin Heidegger (m. 1976), Emilio Betti (m. 1968), Hans-Georg Gadamer, Jurgen Habermas, dan lain-lain.

Pada zaman modern, filsafat Immanuel Kant sangat berpengaruh dalam membangun kerangka keilmuan Barat. Kant menjawab keraguan terhadap ilmu pengetahuan yang dimunculkan oleh David Hume yang skeptik. Menurut Kant, pengetahuan adalah mungkin, namun metafisika adalah tidak mungkin karena tidak bersandarkan kepada panca indera. Dalam pandangan Kant, di dalam metafisika tidak terdapat pernyataan-pernyataan sintetik-a priori seperti yang ada di dalam matematika, fisika dan ilmu-ilmu yang berdasar kepada fakta empiris. Kant menamakan metafisika sebagai ilusi transendent (a transcendental illusion). Menurut Kant, pernyataan-pernyataan metafisis tidak memiliki nilai epistemologis (metaphysicial assertions are without epistemological value).

Pandangan Kant ini semakin mendapat tempat dalam epistemologi Barat modern-sekular setelah didukung oleh filsafat dialektika Hegel (m. 1831), yang terpengaruh dengan pemikiran Kant. Bagi Hegel, pengetahuan adalah on-going process, di mana apa yang diketahui dan aku yang mengetahui terus berkembang: tahap yang sudah tercapai dalam ilmu pengetahuan akan “disangkal” atau dinegasi” oleh tahap baru. Bukan dalam arti bahwa tahap lama itu tak berlaku lagi, tetapi tahap lama itu dalam cahaya pengetahuan kemudian kelihatan terbatas. Jadi, tahap lama itu tidak benar karena terbatas dan dengan demikian jangan dianggap kebenaran. Tetapi yang benar dalam penyangkalan tetap dipertahankan. Pada babak selanjutnya, epistemologi Barat modern-sekular melahirkan faham ateisme. Bahkan, faham ateisme, menjadi fenomena umum dalam berbagai disiplin keilmuan, seperti filsafat, teologi Yahudi-Kristen, sains, sosiologi, psikologi, politik, ekonomi, dan lain-lain.

Adalah Ludwig Feurbach (1804-1872), murid Hegel dan seorang teolog, merupakan salah seorang pelopor faham ateisme di abad modern. Feurbach, seorang teolog, menegaskan prinsip filsafat yang paling tinggi adalah manusia. Sekalipun agama atau teologi menyangkal, namun pada hakikatnya agamalah yang menyembah manusia (religion that worships man). Agama Kristen sendiri yang menyatakan Tuhan adalah manusia dan manusia adalah Tuhan (God is man, man is God). Jadi, agama akan menafikan Tuhan yang bukan manusia. Makna sebenarnya dari teologi adalah antropologi (The true sense of Theology is Anthropology). Agama adalah mimpi akal manusia (Religion is the dream of human mind).

Terpengaruh dengan karya Feurbach, Karl Marx (m. 1883) berpendapat agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah suatu roh zaman yang tanpa roh. Agama adalah candu rakyat. Dalam pandangan Marx, agama adalah faktor sekunder, sedangkan faktor primernya adalah ekonomi.

Selain itu, Marx memuji karya Charles Robert Darwin (m. 1882) dalam bidang sains, yang menyimpulkan Tuhan tidak berperan dalam penciptaan. Bagi Darwin, asal-mula spesis (origin of species) bukan berasal dari Tuhan, tetapi dari “adaptasi kepada lingkungan” (adaptation to the environment). Menurutnya lagi, Tuhan tidak menciptakan makhluk hidup. Semua spesis yang berbeda sebenarnya berasal dari satu nenek moyang yang sama. Spesis menjadi berbeda antara satu dan yang lain disebabkan kondisi-kondisi alam (natural conditions).

Faham ateisme juga berkembang dalam disiplin ilmu sosiologi. Auguste Comte, penemu istilah sosiologi, memandang kepercayaan kepada agama merupakan bentuk keterbelakangan masyarakat. Dalam pandangan Comte, masyarakat berkembang melalui tiga fase teoritis; pertama, fase teologis, bisa juga disebut sebagai fase fiktif. Kedua, fase metafisik, bisa juga disebut sebagai fase abstrak. Ketiga, fase saintifik, bisa juga disebut sebagai fase positif. Karasteristik dari setiap fase itu bertentangan antara satu dengan yang lain. Dalam fase teologis, akal manusia menganggap fenomena dihasilkan oleh kekuatan ghaib. Dalam fase metafisik, akal manusia menganggap fenomena dihasilkan oleh kekuatan-kekuatan abstrak atau entitas–entitas yang nyata yang menggantikan kekuatan ghaib. Dalam fase positif, akal manusia menyadari bahwa tidak mungkin mencapai kebenaran yang mutlak. Pendapat Comte, yang menolak agama, diikuti oleh para sosiolog yang lain seperti Emile Durkheim (m. 1917) dan Herbert Spencer. Agama, tegas Spencer, bermula dari mimpi manusia tentang adanya spirit di dunia lain.

Pemikiran ateistik ikut bergema dalam disiplin psikologi. Sigmund Freud (m. 1939), seorang psikolog terkemuka menegaskan doktrin-doktrin agama adalah ilusi. Agama sangat tidak sesuai realitas dunia. Bukan agama, tetapi hanya karya ilmiah, satu-satunya jalan untuk membimbing ke arah ilmu pengetahuan.
Kritik terhadap eksistensi Tuhan juga bergema di dalam filsafat. Di dalam karyanya Thus spoke Zarathustra, Friedrich Nietzsche (1844-1900) menulis: “God died; now we want the overman to live.” Dalam pandangan Nietzsche, agama adalah “membuat lebih baik sesaat dan membiuskan” (momentary amelioration and narcoticizing). Bagi Nietzsche, agama tidak bisa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan. Nietzsche menyatakan: “seseorang tidak dapat memercayai dogma-dogma agama dan metafisika ini jika seseorang memiliki metode-metode yang ketat untuk meraih kebenaran di dalam hati dan kepada seseorang.” Menegaskan perbedaan ruang lingkup antara agama dan imu pengetahuan, Nietzsche menyatakan: “Antara agama dan sains yang betul, tidak terdapat keterkaitan, persahabatan, bahkan permusuhan: keduanya menetap di bintang yang berbeda.” Ketika Nietzsche mengkritik agama, ia merujuk secara lebih khusus kepada agama Kristen.

Para filosof pasca modernis seperti Jacques Derrida, Michel Foucault, Richard Rorty sering menjadikan pemikiran Neitzsche sebagai rujukan. Jika Nietzsche mengumandangkan God is death, maka Jacques Derrida pada pertengahan abad ke-20 M mendeklarasikan the author is death.

Selain melahirkan ateisme, epistemologi Barat modern-sekular telah menyebabkan teologi Kristen menjadi sekular. Pandangan-hidup Kristiani telah mengalami pergeseran paradigma (paradigm shift). Selain itu, jika pada zaman pertengahan (medieval times), agama Kristen adalah sentral dalam peradaban Barat, maka agama tersebut berubah menjadi pinggiran pada zaman modern. Jika pada zaman pertengahan, para teolog Kristen seperti Santo Augustinus (m. 430), Boethius (m. 524), Johannes Scotus Erigena (m. 877), Santo Anselm (m. 1109), Santo Bonavantura (m. 1274) dan Santo Thomas Aquinas (m. 1274) memodifikasi filsafat Yunani kuno supaya sesuai dengan teologi Kristen, maka kini pada abad ke-20, para teolog Kristen seperti Karl Barth (1886-1968), Dietrich Bonhoeffer (1906-1945), Friedrich Gogarten (1887-1967), Paul van Buren (m. 1998), Thomas Altizer, Gabriel Vahanian, William Hamilton, Woolwich, Werner and Lotte Pelz, Harvey Cox[17] dan lain-lain memodifikasi teologi Kristen supaya sesuai dengan peradaban Barat modern-sekular. Mereka menegaskan, ajaran Kristiani harus disesuaikan dengan pandangan-hidup sains modern yang sekular. Mereka membuat penafsiran baru terhadap Bible dan menolak penafsiran lama yang menyatakan ada alam lain yang lebih hebat dan lebih agamis dari alam ini. Mereka membantah peran dan sikap Gerejawan yang mengklaim bahwa Gereja memiliki keistimewaan sosial, kekuatan, dan properti khusus. Mereka harus menafsirkan kembali ajaran agama Kristen supaya tetap relevan dengan perkembangan kehidupan masyarakat modern yang sekular.

Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa epistemologi Barat bersandar penuh pada logika positivisme (al-Wadh’iyyah al-Manthiqiyyah) bahwa sumber pengetahuan hanya terdiri dari panca indra (empiris) dan akal, sehingga menurut mereka sesuatu dianggap “ilmu” dan “mengandung kebenaran” manakala bisa dibuktikan dengan menggunakan verifikasi logis dan verifikasi empiris. Dengan demikian, logika positivisme hanya mementingkan wujud alam ini sebagai materi (physic) serta menepikan makna di balik materi (metaphysic).

Dalam pandangan pemikir Muslim, untuk mengetahui hakekat realitas tidaklah cukup dengan menggunakan panca indra dan akal saja, tetapi ada dua unsur lain yang telah diketepikan Barat dalam membangun peradabannya, yaitu: wahyu (revelation) serta ilham (intuisi). Akan halnya wahyu, terang merupakan hal yang ditolak oleh Barat seiring munculnya zaman pencerahan. Sedangkan intuisi, meskipun tak dianggap sebagai sumber pengetahuan di Barat, namun beberapa istilah di kalangan saintis semisal kilatan pemikiran (flash of mind) bolehlah dikata “pengakuan tak langsung” akan ilham, yang pada dasarnya juga merupakan sumber pengetahuan.

Perbedaan perspektif keilmuan antara Islam dengan Barat ini bermula dari perbedaan ontologis seperti disinggung tadi. Barat hanya membatasi fahamnya tentang wujud alam ini sebagai materi (physic), yang pada gilirannya mencukupkan akal dan panca indra saja sebagai landasan epistemologinya. Sedangkan perspektif keilmuan dalam Islam mementingkan kedua alam: ‘alam ghayb (metaphysic) dan ‘alam syahadah (physic), serta menerima wahyu sebagai sumber ilmu tentang kedua alam itu. Perbedaan tersebut pada akhirnya muncul karena keimanan dan pandangan-hidup (worldview) yang berbeda mengenai realitas akhir.

Berangkat dari sini, teranglah bahwa gagasan Islamisasi Ilmu -sebagaimana diistilahkan Al-Attas- merupakan jawaban sekaligus kritik terhadap krisis epistemologi yang melanda tak hanya Dunia Islam, tapi juga budaya dan peradaban Barat.

C. Pola Islamiasi Ilmu

Bangunan intelektual yang muncul pada peradaban tertentu, biasanya memiliki spektrum yang luas dan tidak bisa dibaca sebagai sesuatu yang tunggal dan serba seragam. Demikian halnya dengan gagasan islamisasi ilmu pengetahuan yang mulai ramai diperbincangkan pada tahun 1970-an. Pada tahap perekembangan mutakhirnya, model islamisasi ilmu pengetahuan yang diajukan oleh berbagai sarjana Muslim dari berbagai disiplin ilmu, bisa dibedakan baik dari sisi pendekatan dan konsepsi dasarnya. Terlebih pula jika melihat konstruk ilmu pengetahuan yang merupakan output dari pendekatan dan konsepsi dasar tersebut. Namun ada beberapa konsep dasar yang menjadi titik persamaan gagasan islamisasi ilmu pengetahuan yang diajukan berbagai sarjana Muslim. Misalnya, jika kita melihat pada dua nama yang cukup berpengaruh di dunia Islam dan dipandang sebagai pelopor gerakan islamisasi ilmu pengetahuan: Syed Muhamamd Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi.

Bagi Al-Atas misalnya, islamisasi ilmu pengetahuan mengacu kepada upaya mengeliminir unsur-unsur serta konsep-konsep pokok yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, khususnya dalam ilmu-ilmu kemanusiaan. Tercakup dalam unsur-unsur dan konsep ini adalah cara pandang terhadap realitas yang dualistik, doktrin humanisme, serta tekanan kepada drama dan tragedi dalam kehidupan rohani sekaligus penguasaan terhadapnya. Setelah proses ini dilampaui, langkah berikutnya adalah menanamkan unsur-unsur dan konsep pokok keislaman, sehingga dengan demikian akan terbentuk ilmu pengetahuan yang benar; ilmu pengetahuan yang selaras dengan fitrah. Dalam bahasa lain, islamisasi ilmu pengetahuan menurut Al-Atas dapat ditangkap sebagai upaya pembebasan ilmu pengetahuan dari pemahaman berasaskan ideologi, makna serta ungkapan sekuler. Singkatnya, menurut Al-Attas, sukses tidaknya pengembangan islamisasi ilmu tergantung pada posisi manusia itu sendiri (subjek ilmu dan teknologi).

Sementara menurut Ismail al Faruqi, islamisasi ilmu pengetahuan dimaknai sebagai upaya pengintegrasian disiplin-disiplin ilmu modern dengan khazanah warisan Islam. Langkah pertama dari upaya ini adalah dengan menguasai seluruh disiplin ilmu modern, memahaminya secara menyeluruh, dan mencapai tingkatan tertinggi yang ditawarkannya. Setelah prasyarat ini dipenuhi, tahap berikutnya adalah melakukan eliminasi, mengubah, menginterpretasikan ulang dan mengadaptasikan komponen-komponennya dengan pandangan dunia Islam dan nilai-nilai yang tercakup di dalamnya.

Dalam deskripsi yang lebih jelas, islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi adalah “upaya mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologinya, strateginya, dan dalam apa yang dikatakan sebagai data-data, problemnya, tujuan-tujuannya dan aspirasi-aspirasinya.” Terkait dengan ini, maka setiap disiplin ilmu mesti dirumuskan sejak awal dengan mengkaitkan Islam sebagai kesatuan yang membentuk tauhid, yaitu kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan dan kesatuan sejarah. Ia harus didefinisikan dengan cara baru, data-datanya diatur, kesimpulan-kesimpulan dan tujuan-tujuannya dinilai dan dipikir ulang dalam bentuk yang dikehendaki Islam.

Di samping beberapa kesamaan pola dasar islamisasi ilmu pengetahuan sebagaimana dapat dilihat dari paparan di atas, agaknya ada segaris perbedaan di antara Alatas dan al-Faruqi. Al-Faruqi tampaknya lebih bisa menerima konstruk ilmu pengetahuan modern – yang penting baginya adalah penguasaan terhadap prinsip-prinsip Islam yang dengannya sarjana Muslim bisa membaca dan menafsirkan konstruk ilmu pengetahuan modern tersebut dengan cara yang berbeda. Sementara Alatas – disamping pengaruh sufisme yang cukup kuat, antara lain dengan gagasan digunakannya takwil dalam kerangka islamisasi ilmu pengetahuannya– lebih menekankan pada dikedepankannya keaslian (originality) yang digali dari tradisi lokal. Dalam pandangan Alatas, peradaban Islam klasik telah cukup lama berinteraksi dengan peradaban lain, sehingga umat Islam sudah memiliki kapasitas untuk mengembangkan bangunan ilmu pengetahuan sendiri. Tanpa bantuan ilmu pengetahuan barat modern, diyakini dengan merujuk pada khazanahnya sendiri umat Islam akan mampu menciptakan kebangkitan peradaban.

Agaknya, perbedaan semacam ini, di samping faktor-faktor personal, yang membuat keduanya memilih mengembangkan gagasannya di lembaga yang berbeda. Jika al-Attas kemudian berkutat di International Institute of Islamic Thoughts and Civilization (ISTAC) yang berbasis di Malaysia, Sementara itu al-Faruqi menyebarkan gagasannya lewat International Institute of Islamic Thoughts (IIIT) yang berbasis di Washington DC, Amerika Serikat. Al-Attas memformulasi dua tujuan pertama dari ISTAC, yaitu:

1.      Untuk mengonseptualisasi, menjelaskan dan mendefinisikan konsep-konsep penting yang relevan dalam masalah-masalah budaya, pendidikan, keilmuan dan epistimologi yang dihadapi muslim pada zaman sekarang ini.

2.      Untuk memberikan jawaban Islam terhadap tantangan-tantangan intelektual dan kultural dari dunia modern dan berbagai kelompok aliran-aliran pemikiran, agama, dan ideologi.

Sedangkan, IIIT mendefinisikan dirinya sebagai sebuah “yayasan intelektual dan kultural” yang tujuannya mencakup:

1.      Menyediakan wawasan Islam yang komprehensif melalui penjelasan prinsip-prinsip Islam dan menghubungkannya dengan isu-isu yang relevan dari pemikiran kontemporer.

2.      Meraih kembali identitas intelektual, kultural dan peradaban umat, lewat Islamisasi humanitas dan ilmu-ilmu sosial.

3.      Memperbaiki metodologi pemikiran Islam agar mampu memulihkan sumbangannya kepada kemajuan peradaban manusia dan memberikan makna dan arahan, sejalan dengan nilai-nilai dan tujuan Islam.

D. Srategi dan Kerangka Kerja Dasar Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Terdapat beberapa model skematis dalam upaya islamisasi ilmu pengetahuan. Al Faruqi misalnya menggagaskan sebuah rencana kerja dengan dua belas langkah:

1.      Penguasaan dan kemahiran disiplin ilmu modern: penguraian kategori.

2.      Tinjauan disiplin ilmu.

3.      Penguasaan warisan ilmu Islam: sebuah ontologi.

4.      Penguasaan warisan ilmu Islam: sebuah analisis.

5.      Penentuan penyusunan Islam yang khusus terhadap disiplin ilmu.

6.      Penilaian kritikal terhadap disiplin ilmu modern: hakikat kedudukan pada masa kini.

7.      Penilaian kritikal terhadap warisan Islam: tahap perkembangan pada masa kini.

8.      Kajian masalah utama umat Islam.

9.      Kajian tentang masalah yang dihadapi oleh umat manusia.

10.  Analisis kreatif dan sintesis.

11.  Membentuk semua disiplin ilmu modern ke dalam rangka kerja Islam: buku teks universitas.

12.  Penagihan ilmu yang telah diislamkan.

Kemudian gagasan tersebut dijadikan lima landasan objek rencana kerja Islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu  :

1.      Penguasaan disiplin-disiplin ilmu pengetahuan modern.

2.      Penguasaan terhadap khazanah atau warisan keilmuan Islam.

3.      Penerapan ajaran-ajaran tertentu dalam Islam yang relevan ke setiap wilayah ilmu pengetahuan modern.

4.      Mencari sintesa kreatif antara khazanah atau tradisi Islam dengan ilmu pengetahuan modern.

5.      Memberikan arah bagi pemikiran Islam pada jalur yang memandu pemikiran tersebut ke arah pemenuhan kehendak Ilahiyah. Dan juga dapat digunakan alat bantu lain guna mempercepat islamisasi ilmu pengetahuan adalah dengan mengadakan konferensi dan seminar-seminar serta melalui lokakarya untuk pembinaan intelektual.

Sementara Al-Attas menguraikan bahwa semua ilmu pengetahuan masa kini, secara keseluruhan dibangun, ditafsirkan dan diproyeksikan melalui pandangan dunia, visi inteletual dan persepsi psikologi dari kebudayaan dan peradaban Barat yang saling berkaitan (inter-related characteristics). Kelima prinsip itu adalah :

1.      Mengandalkan kekuatan akal semata untuk membimbing manusia mengarungi kehidupan.

2.      Mengikuti dengan setia validitas pandangan dualistis mengenai realitas dan kebenaran.

3.      Membenarkan aspek temporal untuk yang memproyeksi sesuatu pandangan dunia sekuler.

4.      Pembelaan terhadap doktrin humanisme.

5.      Peniruan terhadap drama dan tragedi yang dianggap sebagai realitas universal dalam kehidupan spritual, atau transedental, atau kehiudpan batin manusia, yaitu dengan menjadikan drama atau tragedi sebagai elemen yang riil dan dominan dalam jati diri dan eksistensi manusia.

Kelima hal di atas, merupakan prinsip-prinsip utama dalam pengembangan keilmuan di Barat, yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Supaya umat Islam terhindar dari prinsip-prinsip yang menjebak di atas, maka ada empat poin yang harus diperhatikan seorang muslim dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, yaitu :

1.      Prinsip-prinsip utama Islam sebagai intisari peradaban Islam,

2.      Pencapain sejarah kebudayaan Islam sebagai manifestasi ruang dan waktu dari prinsip-prinsip utama Islam,

3.      Bagaimaan kebudayaan Islam dibandingkan dan dibedakan dengan kebudayaan lain dari sudut manifestasi dan intisari,

4.      Bagaimaan kebudayaan Islam menjadi pilihan yang paling bermanfaat berkaitan dengan masalah-masalah pokok Islam dan non Islam di dunia saat ini.

5.      Renungan ini sangat penting, karena apabila kita memperhatikan secara cermat, pengalaman masa lampau serta rencana masa depan menuju satu arah perubahan yang diinginkan, maka harus dimulai dari rumusan sistem pendidikan yang paripurna. Apa yang telah Al-Attas dan Al-Faruqi paparkan, itu merupakan langkah “dasar” untuk bertahannya peradaban Islam.

E. Penutup

Demikianlah sekilas pembahasan tentang Islamisasi ilmu pengetahuan dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Pada intinya bahwa islamisasi ilmu pengetahuan bertujuan untuk memperoleh kesepakatan baru bagi umat Islam dalam bidang keilmuan yang sesuai dan metode ilmiah tidak bertentangan dengan norma-norma (etika) Islam. Di samping itu, islamisasi ilmu juga bertujuan untuk meluruskan pandangan hidup modern Barat secular, yang memisahkan antara urusan dunia dan akhirat, terutama dalam masalah keilmuan. Islamisasi ilmu merupakan mega proyek yang belum usai dan perlu diteruskan oleh umat Islam kontemporer dari generasi ke generasi, guna menjawab krisis epistimologis yang melanda bukan hanya dunia Islam tetapi juga budaya dan peradaban Barat. UIN Malang merupakan salah satu universitas yang bertanggung jawab dalam mensukseskan mega proyek ini, agar cita-cita Islam sebagai rahmatan lil’alamin dapat benar-benar tercapai.

PENDEKATAN DAN BUDAYA AKADEMIK ULUL ALBAB 2

Kamis, 07 Mei 2009 11:16 | Author: Moh. Suef |

A. ARKANUL JAMI’AH

Berdasarkan pertimbangan di atas dan pendekatan serta budaya akademik yang dikembangkan, maka di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang disusunlah Rukun Universitas (arkân al-jâmiah) yang terdiri atas 9 hal; yaitu (1) SDM yang handal, (2) masjid, (3) ma’had, (4) perpustakaan, (5) laboratorium (6) ruang kuliah (7) perkantoran, (8) sarana olah raga dan seni budaya, (9) sumber pendanaan yang luas dan kuat.

1. Sumber Daya Manusia yang Handal

Sumber Daya Manusia (SDM) adalah faktor sentral dalam suatu organisasi seperti yang terwujud dalam bentuk perguruan tinggi. Apapun bentuk serta tujuannya, organisasi dibuat berdasarkan berbagai visi untuk kepentingan manusia dan dalam pelaksanaan misinya dikelola dan diurus oleh manusia. Jadi, manusia merupakan faktor strategis dalam semua kegiatan institusi/organisasi. Tidak heran jika sekarang untuk SDM yang handal digunakan terminologi human capital yang semakin sering terdengar. Tantangan perguruan tinggi masa kini adalah merespons perubahan-perubahan eksternal agar faktor-faktor lingkungan internal institusi menjadi kuat dan kompetitif. Perguruan tinggi harus mengaitkan pelaksanaan manajeman SDM dengan strategi organisasi untuk meningkatkan kinerja, mengembangkan budaya korporasi yang mendukung penerapan inovasi dan fleksibilitas.

Peran strategis SDM dalam organisasi seperti perguruan tinggi dapat dielaborasi dari segi teori sumber daya, yaitu mengerahkan seluruh sumber daya atau kemampuan internal untuk menghadapi kepentingan pasar sebagai faktor eksternal utama. Sumber daya sebagaimana disebutkan di atas, adalah SDM strategis dan handal yang memberikan nilai tambah (added value) sebagai tolok ukur keberhasilan. Value added adalah SDM strategis dan handal yang menjadi bagian dari human capital perguruan tinggi.

Apa yang dimaksud dengan SDM strategis dan handal menurut Universitas Islam Negeri (UIN) Malang adalah tenaga pengajar atau dosen yang memiliki karakter sebagai berikut:

1.      Menampakkan diri sebagai seorang mukmin dan muslim dimana saja ia berada;

2.      Memiliki wawasan keilmuan yang luas dan profesionalisme yang tinggi;

3.      Kreatif, dinamis dan inovatif dalam mengembangkan ilmu;

4.      Bersikap dan berperilaku jujur, amanah dan berakhlak mulia serta dapat menjadi contoh bagi anggota sivitas akademika lainnya;

5.      Berdisiplin tinggi dan selalu mematuhi kode etik profesi;

6.      Memiliki

Category: Filsafat  Comments off

Abstrak:

Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Allah memberikan manusia akal agar manusia berpikir dan senantiasa melakukan perbaikan-perbaikan untuk kehidupannya di masa yang akan datang. Untuk itulah manusia harus senantiasa belajar dan bertindak untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Ketika manusia ingin berubah menjadi lebih baik maka hal yang terlebih dahulu harus dilakukan adalah ia harus memiliki konsep diri yang positif. Jika ia memiliki konsep diri yang positif, maka ia akan memiliki persepsi yang positif atas dirinya. Konsep diri positif ini akan berdampak pada tingginya percaya diri. Jika seseorang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, maka ia akan mampu untuk melakukan optimalisasi pada potensi diri yang dimilikinya.

NARASI

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk pembelajar. Manusia sering merasa tidak puas dengan apa yang diperolehnya pada saat ini. Untuk itulah manusia selalu berusaha untuk memperbaiki kualitas hidupnya agar senantiasa mendapatkan kenyamanan dalam kehidupannya.

Sebagai makhluk pembelajar, pada dasarnya, manusia tidak mengalami kesulitan jika ia menghendaki dirinya berubah ke arah yang lebih baik. Hanya saja persoalannya, sering kali seseorang merasa sulit atau enggan berubah atau berpindah dari zona nyaman untuk mencapai kesuksesan yang lebih baik. Padahal saat anda menghendaki suatu perbaikan di masa yang akan datang, pastilah anda harus melakukan adaptasi dan akan mengalami ketidaknyamanan- ketidaknyamanan pada awalnya.

Bagi orang-orang yang berpikiran positif, kesulitan dalam melakukan adaptasi bukanlah sebuah masalah karena mereka yakin hal itu akan membawa kepada kebaikan di masa datang. Bukankan Allah tidak akan merubah keadaan kita sampai kita merubahnya sendiri?

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (Ar-Ra’d/1 3: 11 )

Manusia diberikan akal oleh Allah yang fungsinya untuk memilih. Allah juga memberikan hati yang fungsinya untuk memutuskan. Dan Allah juga memberikan fisik yang fungsinya untuk melakukan suatu tindakan. Apa yang ada dalam diri manusia tersebut merupakan modal bagi manusia untuk senantiasa melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan demikian pengembangan diri seseorang harus dilakukan pada ke tiga aspek tersebut, yaitu akal, hati dan fisik.

Kesuksesan seseorang dalam kehidupan dapat dicapai jika ada proses internal yang rutin. Maksudnya, kesuksesan itu dapat anda peroleh  jika anda mau merubah persepsi, sikap, dan mulai melakukan langkah-langkah, rutin dan mulai secepatnya tanpa menunda-nunda waktu lagi.

KONSEP DIRI

Dr. Eli Ginzberg beserta timnya melakukan penelitian yang melibatkan 342 subyek penelitian, yaitu mahasiswa yang berhasil mendapatkan bea siswa dari Colombia University dalam berbagai disiplin ilmu.  Dr. Ginzberg dan timnya meneliti seberapa sukses 342 mahasiswa itu dalam hidup mereka, lima belas tahun setelah mereka menyelesaikan studi mereka di Colombia University.

Penelitian itu menemukan satu hasil yang mencengangkan. Mereka yang lulus dengan mendapat penghargaan atas prestasi akademiknya (cum laude) atau summa cum laude) dan berhasil masuk dalam Phi Beta kappa, ternyata lebih cenderung berprestasi biasa-biasa dalam kehidupan mereka. Sebaliknya ada banyak orang yang prestasi akademiknya biasa-biasa saja, namun prestasi hidupnya sukses luar biasa.

hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa tidak ada hubungan langsung antara prestasi akademik dan kesuksesan hidup. Jadi, sebenarnya prestasi akademik bukan merupakan jaminan kesuksesan hidup. lalu faktor apa yang menjadi kunci kesuksesan hidup manusia?

Paka pakar menyatakan bahwa kunci kesuksesan hidup adalah konsep diri positif. konsep diri memainkan peran sangat besar dalam membentuk kesuksesan hidup seseorang.

Berdasarkan pendapat dari para ahli dapat disimpulkan bahwa konsep diri  dalah persepsi seseorang tentang dirinya, pengakuan akan kemampuan, keyakinan, peran dan statusnya dalam kehidupan, serta penilaian atas dirinya. Konsep diri akan mempengaruhi prilaku seseorang. Jika seseorang memiliki konsep diri positif, maka ia akan memiliki persepsi yang positif tentang dirinya dan kemudian akan menghasilkantindakan yang positif.

Seberapapun besarnya potensi yang dimiliki seseorang, jika ia tidak menyadari dan meyakini potensi yang dimilikinya, maka potensi tersebut tidak akan meledak menjadi sebuah karya besar.

Manusia belum mampu menyingkap semua tabir pertanyaan tentang kebesaran Allah yang ada pada diri manusia. Tetapi yang diperlukan ialah bagaimana ia mampu menggali dan memunculkan potensi dirinya yang positif yang seringkali tertutup oleh konsep dirinya yang ia sendiri tidak ketahui dan sadari

Untuk mendapatkan potensi diri, seseorang harus menjabarkan konsep diri secara luas. Konsep diri dibagi dalam 3 katagori, yaitu: aku diri, aku sosial dan aku ideal.

1. AKU DIRI : Aku seperti yang aku pahami.

Merupakan pemahaman subjekif kita tentang kondisi obyektif diri kita. Ada pemahaman yang terbentuk secara tidak sadar, tetapi setiap kita mengetahui bahwa kita itu seperti yang kita pahami.

2. AKU SOSIAL : Aku seperti yang dipahami oleh orang lain yang ada di sekitar  aku.

Anda dapat lihat bahwa anak-anak yang tumbuh dalam dunia yang sering menyanjungnya memiliki konsep diri yang berbeda dengan anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang selalu mengkritiknya.

3. AKU IDEAL: Aku yang aku inginkan/kondisi akhir yang

diinginkan bagi diri

Pertemuan antara ketiga unsur tersebut akan membangun suatu susunan kesadaran internal yang kuat tentang diri, lingkungan, dan misi hidup kita. Ketiga unsur ini harus dipandang secara proporsional dan obyektif. Sebab, jika salah satu unsur tersebut mendominasi unsur yang lain, maka akan terbangun sebuah konsep diri yang split, atau tidak utuh.

Misalnya, jika ‘Aku Diri” seseorang mendominasi “aku” lainnya, maka ia akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi yang cenderung kepada keangkuhan, sikap realistis yang cenderung pragmatis, sikap tertutup terhadap orang lain, narsisme, dan mungkin sangat mandiri, tetapi tidak mampu bekerja sama. Jika yang dominan adalah “Aku Sosial”, maka seseorang akan kehilangan jati dirinya yang asli, sangat tergantung kepada dukungan lingkungan, tidak bisa mandiri, biasanya minder, dikendalikan secara eksternal oleh lingkungannya, dan bisa bekerja sama, tetapi tidak bisa berpengaruh. Adapun jika yang dominan adalah “Aku ideal”, maka seseorang akan cenderung menjadi Pemimpi, tidak realistis, biasanya bersemangat, tetapi juga tidak berdaya, retoris, tetapi tidak punya rencana aksi yang riil. Optimis, tetapi tidak produktif, dan bisa bekerja sama, tetapi tidak punya bidang kontribusi yang jelas. Oleh karena itulah, ketiga unsur tersebut harus berkembang secara seimbang.

KONSEP DIRI NEGATIF DAN KONSEP DIRI POSITIF

Meskipun seseorang lahir tanpa konsep diri, sebenarnya konsep diri mulai berkembang sejak lahir. Informasi yang membentuk konsep diri terutama berasal dari interaksi dengan orang lain selanjutnya akan menjadi petunjuk dan mempengaruhi tingkah laku. Jadi konsep diri diperoleh dari hasil belajar dan interaksi seseorang dengan orang lain. belajar tersebut berlangsung terus menerus tanpa disadari.

Pembentukan konsep diri tersebut akan melahirkan kesadaran internal atas diri sendiri, diri lingkungan dan yang terpenting ialah kesadaran internal atas misi hidup.

Dalam perjalanannya konsep diri yang terbentuk bisa negatif atau positif. Konsep diri negatif adalah pengetahuan yang tidak tepat tentang diri sendiri, pengharapan yang tidak realistis dan harga diri yang rendah. Sedangkan ciri konsep diri yang positif adalah pengetahuan yang luas dan bermacam-macam tentang diri, pengharapan yang realistis dan harga diri yang tinggi.

Konsep Diri dan Tujuan Hidup

Konsep diri manusia muslim adalah kesadaran yang mempertemukan antara kehendak-kehendak Allah dengan kehendak-kehendaknya sebagai manusia; antara model manusia muslim yang ideal dan universal dengan kapasitas dirinya yang nyata dan unik; antara nilai-nilai Islam yang komprehensif dan integral dengan keunikan-keunikan pribadinya sebagai individu; antara ruang aksi dan kreasi yang disediakan Islam dengan kemampuan pribadinya untuk beraksi dan berkreasi; dan antara idealisme Islam dengan realitas kemampuan pribadinya.

Sebagai manusia beragama, sebenarnya visi, misi, dan jalan hidup serta prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang membentuknya merupakan sesuatu yang telah ditetapkan Allah SWT dan karenanya bersifat Given. Tujuan hidup kita adalah beribadah kepada Allah SWI dalam artinya yang seluas-luasnya adalah: mendapatkan ridho dan surga-Nya.

Ketika seorang muslim telah memahami tujuan hidupnya, maka ia akan melakukan internalisasi dalam pembentukan konsep dirinya dengan menyesuaikannya dengan tujuan hidupnya.

PERCAYA DIRI

Untuk menjadi pribadi yang percaya diri anda membutuhkan konsep diri positif. Oleh karena itu, upaya untuk melakukan pengembangan diri adalah dengan konsep diri positif yang akan berdampak pada kuatnya rasa percaya diri. Percaya diri merupakan modal dasar untuk pengembangan dalam aktualisasi diri (eksplorasi segala kemampuan dalam diri).

Dengan percaya diri seseorang dapat mengenali dan memahami diri sendiri. Sementara itu, kurang percaya diri dapat menghambat. pengembangan potensi diri. Jadi orang yang kurang percaya akan menjadi orang yang pesimis dalam menghadapi kehidupan, ragu-ragu dalam mengeluarkan pendapat atau bertindak, bimbang dalam mengambil keputusan, dan sering membandingkan dirinya dengan orang lain.

Tidak PD (Percaya Diri) adalah hal yang sangat manusiawi. Akan tetapi, penyakit ini amat berbahaya jika dibiarkan karena bisa saja seseorang mengakhiri  idupnya hanya gara-gara tidak percaya diri. Walau demikian, jangan khawatir, krisis percaya diri bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan atau dilenyapkan dari diri anda.

Ciri orang percaya diri Ciri orang tidak percaya diri
Bertanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat sendiri Apabila gagal cenderung untuk menyalahkan orang lain
Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru Rendah diri bahkan takut dan merasa tidak aman
Pegangan hidup cukup kuat, mampu mengembangkan motivasi Suka mencari pengakuan dari orang lain
Mau bekerja keras untuk mencapai kemajuan Lebih suka menunda-nunda sesuatu
Yakin atas peran yang dihadapinya Membuang-buang waktu dalam mengambil keputusan
Berani bertindak dan mengambil setiap kesempatan yang dihadapinya Cenderung hanya melihat dan menunggu kesempatan
Menerima diri secara realisitik Tidak berani mengungkapkan ide-ide
Menghargai diri secara positif Malu-malu, canggung
Yakin atas kemampuannya sendiri dan tidak terpengaruh orang lain Kurang berprestasi dalam studi
Optimis, tenang dan tidak mudah cemas Tidak bisa menunjukkan kemampuan diri
Mengerti akan kekurangan orang lain Kecemasan yang berlebihan
Memiliki kepribadian yang menyenangkan. Cenderung menghindari masalah

Persepsi negarif terhadap diri, pekerjaan atau interaksi sosial akan menurunkan rasa pcrcaya diri. oleh karena itu bebaskanlah diri anda dari berbagai pola pikir dan perasaan negatif.

Jika anda memprogram alam bawah sadar anda dengan citra diri negatif, maka anda akan gagal. Sebaliknya, jika anda memprogram alam bawah sadar anda dengan citra diri positif, maka akan akan sukses. Satu hal yang perlu anda ingat, jangan pernah membandingkan diri anda dengan orang lain karena setiap pribadi adalah unik dan memiliki kelebihan masing-masing.

Tips meningkatkan rasa percaya diri :

1.  Jujur dan obyektif terhadap diri

Kenalilah diri anda, kenali segala kelebihan dan kelemahannya.

2.  Jujur terhadap prestasi diri

Prestasi apapun yang anda capai baik kecil maupun besar, hargailah. Semua yang anda capai adalah hasil dari belajar, itu merupakan protret kemajuan yang anda dapatkan.

3.  Siapkan strategi perang

Untuk mencapai tujuan, menyiapkan strategi adalah suatu keharusan. Strategi yang disiapkan bukan untuk memerangi musuh, akan tetapi untuk menghadapi segala rintangan untuk meraih tujuan.

4. Kontrol pikiran anda

Jangan langsung merasa tidak mampu atau tidak bisa jika anda mengalami kegagalan. Kontrol pikiran anda untuk selalu optimis, dan jangan terlalu menyalahkan diri sendiri ketika mengalami kegagalan. Penuhilah pikiran anda dengan pikiran-pikiran positif.

5.  Jangan berprasangka buruk pada Allah

Jangan menyalahkan Allah jika mengalami kegagalan. Jika itu terjadi, itu artinya anda tidak mensyukuri karunia Allah . jadikan  sebagai pengalaman yang berharga. Ambil hikmah dari setiap peristiwa yang terJadi. Pasti anda akan menemukan sesuatu yang berharga.

6.  Miliki Impian

Milikilah impian atau cita-cita. Tapi anda harus ingat impian tersebut jangan terlalu over sehingga akan membawa anda ke alam khayalan. dengan memiliki impian yang hendak anda capai langkah akan akan lebih fokus dan terarah.

7.  Paculah Motivasi anda

paculah motivasi anda agar anda menjadi lebih percaya diri. terkadang ketika kita sedang berjalan menggapai mimpi, ditengah jalan merasa malas atau lelah. Ketika itulah anda harus memacu motivasi anda untuk tetap berjalan meraih tujuan. Perbaharui terus menerus motivasi anda dan jangan sampai padam.

8.  Kadang-kadang cuek malah justru lebih baik

Jangan dengarkan omongan orang yang merendahkan atau melecehkan kemampuan anda. yakinlah jika anda mengerahkan seluruh potensi yang anda miliki, anda pasti bisa

9.  Atasi ketegangan yang anda alami

Hanya ada satu kata ketika anda menghadapi tantangan yaitu “HADAPI”. banyak situasi yang bisa menimbulkan ketegangan. misalnya, saat anda berbicara di depan umum, berada di lingkungan baru, dll. hadapi ketegangan dengan rileks dan tetap bertahan untuk melaluinya. ketegangan-ketegangan yang anda alami anggaplah sebagai sebuah latihan. Atur emosi anda jangan terpancing oleh ketegangan dan lakukan aksi anda selangkah-demi selangkah.

10.  Dare to fail

Biasanya kegagalan terjadi tidak hanya sekali. Tetapi dengan kegagalan demi kegagalan, anda akan semakin tahu kesalahan dan bisa memperbaikinya. jadikan kegagalan sebagai pelajaran.  lebih baik anda gagal daripada tidak pernah mencoba sama sekali. Ketika anda mengalami kegagalan, maka jangan mudah menyerah, susun langkah atau strategi baru, evaluasi diri dan optimislah.

11.  Provokasi diri anda

Provokasi diri anda dengan ungkapan penyemangat. Misalnya, ‘Aku pasti bisa”, ‘Aku hebat”, ‘Aku pasti mampu”, dll

LIMA PRINSIP UNTUK MEMPERKUAT RASA PERCAYA DIRI

1.      Tumbuhkan mental positif yang mampu mengantarkan kepada  kesuksesan.

2.      Bijaksana dalam menetapkan tujuan atau target. Tetapkan target dengan resiko sedang. Jangan menetapkan target yang terlalu rendah karena anda tidak tertantang untuk mengerahkan potensi secara optimal. Jika target terlalu muluk, mungkin anda akan mengalami kesulitan mencapainya.

3.      Belajar bagaimana cara bergaul dengan orang lain.

4.      Perhatikan penampilan fisik dan psikis dengan baik

5.      Bergaulah dengan orang yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi

Buah dari Percaya pada Diri Sendiri

1.      Diri Anda akan memberitahukan kepada Anda bahwa kehidupan setiap orang itu berbeda satu dari yang lain yang mempunyai keistimewaan masing-masing. Dan, kesadaran demikian akan menolong Anda untuk membuka keistimewaan-keistimewaan Anda sendiri

2.      Kepercayaan Anda terhadap potensi diri Anda akan mengenalkan kepada Anda secara lengkap akan kemampuan dan potensi Anda sendiri sambil menjelaskan kepada Anda akan titik-titik lemah dan titik-titik potensial pada diri Anda. Dan, hal itu akan mendorong Anda untuk bangkit dan bergerak.

3.      Kepercayaan terhadap diri sendiri akan memberikan persiapan bagi anda untuk menemukan dan membuat teladan atau figur serta akan membantu Anda untuk memilih teladan yang tepat. Sehingga, dengan demikian Anda akan mengikuti langkah orang tanpa kehilangan kontrol dan seleksi.

4.      Kesadaran Anda terhadap potensi diri Anda akan menjelaskan cita-cita hidup Anda seraya mendorong Anda untuk sampai kepadanya. dan, itulah sumber potensi diri Anda.

OPTIMALISASI POTENSI DIRI UNTUK MENCAPAI DIRI

Sebelum kita melakukan optimalisasi potensi diri, maka terlebih terdahulu anda harus memahami hal-hal yang menjadi kelemahan dan kelebihan yang ada pada diri anda sendiri sehingga dapat mengatasi kelemahannya dan meningkatkan kinerjanya dalam pencapaian hal-hal yang positif (kelebihan). Ada ungkapan yang mengatakan: jangan disibukkan dengan kelemahan tetapi fokuslah dengan kelebihan yang anda miliki. Jika anda terlalu disibukkan untuk mengatasi kelemahan, maka mungkin anda akan menghabiskan sebagian besar waktu yang anda miliki sehingga tidak memiliki kesempatan untuk memunculkan kelebihan yang dimiliki.

Sebenarnya semua manusia memiliki bakat untuk menjadi multi dimensi. untuk menjadi multidimensi seseorang harus memiliki pusat kekuatan. Misalnya, inti kekuatan Umar bin khottab adalah kekuatan berpikir. kekuatan jiwa, kekuatan fisik dan keseimbangan emosional. inti atau pusat kekuatan inilah yang nantinya harus dikembangkan.

Disamping itu, tentu saja ia juga harus dapat mengenali dan mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menghadapi tantangan yang mungkin dapat menghambat pengembangan diri Anda.

Ada 4 hal yang menjadi dasar pijakan dalam mengidentifikasi potensi diri atau kelompok (SWOT):

1.  Strength (Kekuatan)

Merupakan kekuatan atau kelebihan yang dimiliki seseorang (secara pribadi) maupun yang dimiliki oleh sebuah organisasi (secara kelompok).

2.  Weakness (Kelemahan)

Adalah kelemahan yang ada pada diri seseorang, organisasi. Kelemahan sebagaimana halnya juga kelebihan dapat meliputi berbagai hal seperti: kelemahan spritual, ilmu dan wawasan, jasmani dan lain sebagainya.

3.  Opportunity (peluang)

Yaitu kesempatan dan peluang yang ditawarkan dari luar diri maupun organisasi agar potensinya dapat dikembangkan dengan sebaikbaiknya. Terkadang peluang ada di depan kita, tetapi karena kita tidak cepat tanggap, sehingga peluang  tersebut bisa hilang. Atau bahkan kita sendiri tidak menyadari akan adanya peluang yang datang menghampiri kita. padahal peluang tidak akan pernah terjadi dua kali.

4.  Threat (Ancaman)

Ialah hambatan, tantangan dan rintangan yang menghalangi dan menghambat perkembangan yang datang dari luar. Untuk itu, dibutuhkan cara-cara agar dapat mampu mengatasinya tanpa menimbulkan benturan-benturan yang berarti.

Keempat konsideran dalam ANALISA swot ini akan digunakan untuk menganalisa dan mengambil tindakan yang tepat dalam menangani masalah atau kondisi yang mungkin akan timbul dikemudian hari.

Lakukan analisa SWOT atas diri anda. Kenalilah diri anda secara baik, insya Allah anda akan tahu cara untuk mengembangkan diri.

SIKAP MENTAL POSITIF UNTUK OPTIMALISASI POTENSI DIRI

1.      Kerja keras: mau melakukan pekerjaan walaupun harus memeras keringat

2.      Ulet: mau bekerja dengan gigih dalam waktu yang lama.

3.      Disiplin: selalu bekerja dengan konsisten

4.      Produktif: kesediaan untuk terus membuat sesuatu yang diperlukan.

5.      tanggung jawab: bersedia bekerja dan siap menerima resiko atas hasil pekerjaannya.

6.      Motivasi berprestasi: ingin selalu bekerja dengan keinginan mencapai prestasi terbaik

7.      Efektif dan efisien: selalu memanfaatkan sumber daya dengan sebaik-baiknya

8.      Kreatif, inovatif: tidak mudah puas, selalu ingin mencari hal-hal baru untuk kebaikan

9.      Dinamik bekerja dengan variasi, tidak monoton dan mandeg.

10.  Konsistensi: memeliki ketahanan emosi untuk terus bekeria dan kualitas yang standart, relatif stabil.

11.  Konsekuen: memiliki sikap selalu melakukan apa yang telah disepakati bersama.

12.  Integritas: bekerja dengan memiliki sikap yang sama antara ucapan dengan tindakan.

13.  Responsif: bekerja dengan cepat, mengantisipasi berbagai kemungkinan yang timbul.

14.  Mandiri: selalu ingin berusaha bekerja dengan dirinya, tidak gampang menyerah dan menggantungkan pada orang lain.

Empat langkah untuk optimalisasi potensi diri:

1.  Mengenal diri sendiri

Upaya mengenal diri sendiri merupakan pekerjaan pekerjaan yang sangat penting dalam kaitannya dengan upaya untuk membentuk dan mengembangkan diri, carilah titik-titik kekuatan dan kelemahan yang ada pada diri anda dan mengembangkan diri. Berilah penilaian pada diri Anda sendiri, carilah titik-titik kekuatan dan kelemahan yang ada pada diri Anda.

2.  Menentukan standart-standart tertinggi

Setelah Anda mengenal diri dengan baik, buatlah gambaran mengenai apa yang Anda inginkan. Maksudnya, tentukan standar standar tertinggi menurut kemampuan anda. Standar-standar tersebut berfungsi sebagai patokan dalam bertindak.

3.  Membangun prinsip itqan (profesionalisme)

Setelah anda melakukan suatu tindakan, bandingkan antara tindakan yang anda lakukan dengan standar yang telah anda buat. Anda akan menemukan kesenjangan antara standar dengan tindakan yang dilakukan. Langkah ketiga ini dapat membantu Anda dalam menutup kesenjangan. Langkah ini sebagai salah satu langkah dalam berusaha untuk mencapai keunggulan, langkah ini lebih menyerupai aktivitas-aktivitas yang dilakukan secara terus menerus, seperti aktivitas mengerahkan segala kemampuan, bersungguh-sungguh dan bersabar yang merupakan aktivitas-aktivitas yang tidak pernah berhenti.

Yang dimaksud dengan profesionalisme adalah kemampuan mengerjakan dan menyelesaikan hal-hal tersebut secara sempurna dan sesuai dengan standar-standar tertinggi yang telah ditentukan.

4.  Menemukan hal baru (inovasi)

Langkah ini merupakan puncak dari keunggulan. Orang-orang yang telah menemukan hal baru sudah pasti ia telah mencapai suatu keunggulan karena ia telah sampai pada suatu tingkat yang memungkinkannya dapat menggali dan menggunakan semua kemampuan dan potensi yang dimilikinya guna mewujudkan tujuan tujuannya, baik dalam pekerjaan maupun kehiduparn pribadinya.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara etimologis Filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia (dari philein, mencintai, atau phlia, cinta, dan sophia, kearifan) yang melahirkan kata bahasa Inggris “philosophy”, yang biasanya diartikan dengan “cinta kearifan”. Secara terminologis menurut pendapat para ahli filsafat adalah:

1.      Segala yang ada (Plato)

2.      Penjelasan yang rasional dari segala yang ada; penjajagan (upaya) terhadap realitas yang terakhir (James K. Feibleman)

3.      Usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan (Harlod H. Titus)

4.      Sistem kebenaran tentang segala sesuatu yang dipersoalkan secara radikal, sistematik, dan universal (Sidi Gazalba)

5.      Refleksi menyeluruh tentang segala sesuatu yang disusun secara sistematis, diuji kritis, demi hakikat kebenarannya yang terdalam serta demi makna kehidupan manusia ditengah-tengah alam semesta (Darmadji Supadjar).

Dari beberapa pemaparan tokoh tentang filsafat diatas, diperlukan metode untuk proses kelanjutan dari kerangka berfikir. Yang dikenal dengan metode analisis dan metode sintesis. Meskipun masih banyak daripada unsur metode yang lain, namun yang menjadi objek pembahasan disini yaitu kedua metode tersebut “Metode Analisis dan Sintesis”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

1.    Apa Pengertian analisis dan sintesis ?

2.    Apa Metode analisis dan sintesis itu?

3.    Bagaimana Aplikasi metode analisis dan sintesis ?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas dapat dirumuskan beberapa tujuan pembahasan sebagai berikut:

1.    Untuk mengetahui Pengertian analisis dan sintesis.

2.    Untuk mengetahui metode analisis dan metode sintesis secara integral.

3.    Untuk mengetahui aplikasi dari metode analisis dan sintesis.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Analisis dan Sintesis

1.      Pengertian Analisis

Dalam linguistik, analisa atau analisis adalah kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah bahasa guna meneliti struktur bahasa tersebut secara mendalam. Sedangkan pada kegiatan laboratorium, kata analisa atau analisis dapat juga berarti kegiatan yang dilakukan di laboratorium untuk memeriksa kandungan suatu zat dalam cuplikan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III (2001) analisis ana.li.sis [n] (1) penyelidikan thd suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dsb) untuk mengetahui keadaan yg sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dsb); (2) Man penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yg tepat dan pemahaman arti keseluruhan; (3) Kim penyelidikan kimia dng menguraikan sesuatu untuk mengetahui zat bagiannya dsb; (4) penjabaran sesudah dikaji sebaik-baiknya; (5) pemecahan persoalan yg dimulai dng dugaan akan kebenarannya. Analisa jelas berbeda dengan Analisis. EYD menyebutkan kata bakunya adalah Analisis.

2.      Pengertian Sintesis

Sintesis (berasal dari bahasa Yunani syn = tambah dan thesis = posisi) yang biasanya berarti suatu integrasi dari dua atau lebih elem yang ada yang menghasilkan suatu hasil baru. Istilah ini mempunyai arti luas dan dapat digunakan ke fisika, ideologi, dan fenomenologi. Dalam dialektik sintesis adalah hasil akhir dari percobaan untuk menggabungkan antara thesis dan antithesis. Dalam kimia, sintesis kimia adalah sebuah proses pembentukan sebuah molekul tertentu dari “precursor” kimia.

B. Metode Filsafat

Kata metode berasal dari kata methodos. Methodos berarti penelitian, hipotesa ilmiah dan uraian ilmiah. Maka dapat dikatakan bahwa metode adalah cara kerja yang sistematis yang digunakan untuk memahami suatu objek yang dipermasalahkan atau realitas yang dianalisa.

Metode, sejak awal, merupakan instrumen utama dalam proses dan perkembangan ilmu pengetahuan sejak dari awal suatu penelitian hingga mencapai pemahaman baru dan kebenaran ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Metode yang benar dan sah akan menjamin kebenaran yang benar dan sah pula. Maka tidak mengherankan apabila setiap cabang ilmu pengetahuan mengembangkan metodologi yang sesuai dengan objek penelitiannya. Keharusan metodis adalah keniscayaan dalam pencapaian pengetahuan. Tapi metodologi bisa berbeda bagi setiap bidang ilmu pengetahuan.

1.      Metode Analisis: melakukan perincian terhadap istilah-istilah pernyataan kedalam bagian-bagiannya, agar dapat mengharapkan makna yang di kandungnya.

2.      Metode Sintesis: Melakukan penggabungan semua pengetahuan yang diperoleh untuk menyusun satu pandangan dunia.

C. Aplikasi Metode Analisis Dan Sintesis

1.      Analisis (Analysis)

Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.

2.      Sintesis (Synthesis)

Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.

D. Perangkat Metode Filsafat

Perangkatnya adalah logika : cara-cara/ aturan berfikir untuk mencapai kesimpulan, setelah didahului oleh premis. Logika dibagi dua:

1.      Logika Deduktif : Berangkat dari pernyataan umum yang tidak dipertanyakan lagi (dalil) untuk memperoleh kesimpulan khusus. Pembuktian logika deduktif dijelaskan dalam silogisme katagoris. Terdiri dari tiga pernyataan; premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.

2.      Logika Induktif : Penarikan kesimpulan yang berasal dari pernyataan khusus. ”Kebenaran dari kesimpulan induktif bersifat probablistik. ”

BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan dan rumusan masalah yang telah dijawab dalam pembahasan ini, maka disebutkan beberapa kesimpulan di bawah ini:

1.      Analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yg tepat dan pemahaman arti keseluruhan. Sintesis (berasal dari bahasa Yunani syn = tambah dan thesis = posisi) yang biasanya berarti suatu integrasi dari dua atau lebih elem yang ada yang menghasilkan suatu hasil baru.

3.      Metode adalah cara kerja yang sistematis yang digunakan untuk memahami suatu objek yang dipermasalahkan atau realitas yang dianalisa. Metode Analisis: melakukan perincian terhadap istilah-istilah pernyataan kedalam bagian-bagiannya, agar dapat mengharapkan makna yang di kandungnya. Metode Sintesis: Melakukan penggabungan semua pengetahuan yang diperoleh untuk menyusun satu pandangan dunia.

4.      Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan. Tingkatan sintesis; Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Analisis

http://www.fortunecity.com/millennium/oldemill/498/jzeleny/bab10.htm

Chariri, A. 2009. “Landasan Filsafat dan Metode Penelitian Kualitatif”, Paper disajikan pada Workshop Metodologi

Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Laboratorium Pengembangan Akuntansi (LPA), Fakultas Ekonomi Universitas

Diponegoro Semarang, 31 Juli – 1 Agustus 2009

http://ekawenats.blogspot.com

http://fachrylatief.blogspot.com

http://filsafat-eka-wenats.blogspot.com/2007/04/pencarian-metode-filosofisjelajah.html

1. Apakah Jurusan HBS ?

Hukum Bisnis Syariah merupakan Jurusan/Program Studi baru di bawah Fakultas Syariah sebagai penyelenggara yang berdiri berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Islam Departemen Agama Republik Indonesia Nomor:  Dj.I/ 422/ 2007.

2. Apakah Visi dan Misi Jurusan HBS ?

a. Visi Progam Studi Hukum Bisnis Syari’ah

Menjadi Jurusan/Prodi HBS terkemuka dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk menghasilkan lulusan di bidang hukum bisnis syariah yang memiliki kekokohan aqidah, kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, keluasan ilmu dan kematangan profesional, dan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang bernafaskan Islam serta menjadi kekuatan penggerak masyarakat.

b. Misi Progam Studi Hukum Bisnis Syari’ah

Misi Jurusan/Program Studi Hukum Bisnis Syari’ah adalah:

  1. Mengantarkan mahasiswa memiliki kemantapan akidah, kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, keluasan ilmu dan kematangan profesional.
  2. Menyelenggarakan program pendidikan yang unggul dalam ranah ilmu hukum bisnis syariah yang dapat mengembangkan ketrampilan dan profesi di bidang hukum bisnis syariah
  3. Menyelenggarakan penelitian dan pengkajian keilmuan syariah khususnya bidang hukum bisnis syuariah yang tengah berkembang di masyarakat.

Menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan hasil  pembelajaran dan penelitian khususnya dalam ranah hukum bisnis syariah sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup berbangsa dan bernegara.

3. Apakah yang melatar belakangi dibentuknya Jurusan Hukumn Binis Syari’ah ?

Latar belakang dibukanya jurusan/program studi ini didasarkan atas pemberlakuan Undang-undang Perbankan No.10 Tahun 1998 yang memungkinkan dibukanya perbankan syariah dan terbuka peluang besar untuk ber-muamalah maliyah secara syariah. Aturan ini memberikan landasan hukum yang lebih jelas untuk pendirian perbankan syariah. Berdasarkan undang-undang tersebut maka lahirlah beberapa bank syariah, baik berupa bank umum syariah maupun divisi atau unit usaha dari bank umum konvensional.  Kepesatan perkembangan perbankan syariah ini juga diikuti perkembangan lembaga­-lembaga keuangan syariah yang lain seperti asuransi (takaful) syariah, pasar modal syariah, emiten obligasi syariah, reksadana syariah, pegadaian syariah. Di samping itu juga berkembang di tengah-tengah masyarakat badan-badan dan lembaga-lembaga amil zakat (BAZ dan LAZ) yang dikelola secara profesional, baik di tingkat nasional, regional atau lokal.

Perkembangan industri keuangan syariah harus diimbangi dengan ketersediaan sumberdaya manusia yang memadai, baik kuantitas maupun kualitasnya. Tanpa sumberdaya manusia  yang memadai, mustahil lembaga-lembaga keuangan tersebut dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Kebutuhan sumberdaya manusia Bank Syariah menurut data Biro Perbankan Syariah BI, dalam jangka waktu sepuluh tahun ke depan, dibutuhkan tidak kurang 10 ribu yang memiliki kualifikasi dan keahlian di bidang ini. Menyadari kebutuhan ini,  Fakultas Syariah Universitas membuka dan menyelenggarakan Jurusan/Program Studi Hukum Bisnis Syariah

Tujuan Pendidikan Progam Studi Hukum Bisnis Syari’ah
  1. Menghasilkan Sarjana Hukum Islam yang memiliki kedalaman spiritual, keagungan akhlak, kematangan profesianal dan keluasan ilmu.
  2. Mewujudkan Sarjana Hukum Islam yang mampu dan terampil dalam menganalisis persoalan-persoalan Hukum Islam yang berkembang di masyarakat serta memiliki sikap proaktif dan terbuka dalam menghadapi perkembangan masyarakat.
  3. Menghasilkan Sarjana Hukum Islam  yang menguasai da­sar-dasar ilmiah sehingga mampu menemukan, memahami, menjelaskan, dan merumuskan permasalahan yang ada kaitan­nya dengan hukum bisnis syariah
  4. Menghasilkan Sarjana Hukum Islam yang dapat mengawal dan sekaligus mengembangkan bisnis syariah agar tetap berada dalam garis hukum syariah.
  5. Menghasilkan praktisi dalam bidang hukum bisnis syariah  yang memiliki keunggulan kompetitif dalam per­saingan global.

4. Mengapa anda memilih Jurusan Hukum Bisnis Syari’ah ?

Melihat peluang daripada perkembangan ekonomi dan perbankan syari’ah khususnya di Indonesia maka semestinya membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang tidak sedikit. Maka dari itu mayoritas peserta didik di Jurusan Hukum Bisnis Syari’ah memplaningkan prospek ke depan sebagai pelaku bisnis syari’ah. Serta kesempatan kedua yaitu bisa memilih bekerja di Pengadilan Agama yang menangani khusus perkara tentang bisnis syari’ah. Fleksibelitas yang dimiliki oleh Jurusan Hukum Bisnis Syari’ah bias mengembangkan diri sebagai Jurusan yang bias diandalkan meski masih terhitung baru.

Ø  Profil lulusan dan kompetensi Jurusan/Program Studi Hukum Bisnis Syariáh

  1. Tenaga ahli pada Dewan Syariah Nasional dan Dewan Pengawas Syariah pada Lembaga Keuangan Syariah baik perbankan syariah maupun non perbankan syariah, seperti, takaful, pasar modal syariah, pegadaian syariah, Badan Amil Zakat, Lembaga Amil Zakat dan lain-lain
  2. Hakim Pengadilan Agama yang menyelesaikan perkara bisnis syariah
  3. Sebagai Tenaga ahli penyuluh masyarakat di bidang penerapan syariah di Departemen Agama.
  4. Sebagai Notaris Syariah melalui Magister Kenotariatan
  5. Sebagai konsultan / hakam / muslihu dzatil bain / advokat dalam bidang hukum bisnis syariah melalui penidikan khusus advokat
  6. Pelaku ekonomi syariah

BAB I

PENDAHULUAN

I.      Latar Belakang

Islam di Indonesia merupakan mayoritas terbesar ummat Muslim di dunia. Ada sekitar 85,2% atau 199.959.285 jiwa dari total 234.693.997 jiwa penduduk. Walau Islam menjadi mayoritas, namun Indonesia bukanlah negara yang berasaskan Islam. Berbagai teori perihal masuknya Islam ke Indonesia terus muncul sampai saat ini. Fokus diskusi mengenai kedatangan Islam di Indonesia sejauh ini berkisar pada tiga tema utama, yakni tempat asal kedatangannya, para pembawanya, dan waktu kedatangannya.

Mengenai tempat asal kedatangan Islam yang menyentuh Indonesia masa (1200 – 1600), di kalangan para sejarawan terdapat beberapa pendapat. Ahmad Mansur Suryanegara mengikhtisarkannya menjadi tiga teori besar. Pertama, teori Gujarat, India. Islam dipercayai datang dari wilayah Gujarat – India melalui peran para pedagang India muslim pada sekitar abad ke-13 M. Kedua, teori Makkah. Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-7 M. Ketiga, teori Persia. Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M.[1]. Melalui Kesultanan Tidore yang juga menguasai Tanah Papua, sejak abad ke-17, jangkauan terjauh penyebaran Islam sudah mencapai Semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak, Papua Barat

Pada abad ke-17 masehi atau tahun 1601 kerajaan Hindia Belanda datang ke Nusantara untuk berdagang, namun pada perkembangan selanjutnya mereka menjajah daerah ini. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya, VOC, sejak itu hampir seluruh wilayah Nusantara dikuasainya kecuali Aceh. Saat itu antara kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.

Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, para ulama mengubah pesantren menjadi markas perjuangan, para santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah, sedangkan ulamanya menjadi panglima perang. Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad ke-13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan Islam yang syair-syairnya berisi seruan perjuangan. Para ulama menggelorakan jihad melawan penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi:

Ø  Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara kekuatan ulama dengan adat, contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di Jawa.

Ø  Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar, seorang Guru Besar ke-Indonesiaan di Universitas Hindia Belanda, yang juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah. Dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji, karena pada saat itulah terjadi pematangan pejuangan terhadap penjajahan.

Di akhir abad ke-19, muncul ideologi pembaruan Islam yang diserukan oleh Jamal-al-Din Afghani dan Muhammad Abduh. Ulama-ulama Minangkabau yang belajar di Kairo, Mesir banyak berperan dalam menyebarkan ide-ide tersebut, diantara mereka ialah Muhammad Djamil Djambek dan Abdul Karim Amrullah. Pembaruan Islam yang tumbuh begitu pesat didukung dengan berdirinya sekolah-sekolah pembaruan seperti Adabiah (1909), Diniyah Putri (1911), dan Sumatera Thawalib (1915). Pada tahun 1906, Tahir bin Jalaluddin menerbitkan koran pembaruan al-Iman di Singapura dan lima tahun kemudian, di Padang terbit koran dwi-mingguan al-Munir.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Peradaban Islam

Peradaban islam adalah terjemahan dari kata Arab al – hadha- rah al – islamiyah .Kata arab ini juga sering di artikan dalam bahasa indonesia dengan kebuayaan islam “kebudayaan” dalam bahsa arab adalah al-tsaqafa.di indonesia, sebagai mana juga di arab dan barat. Islam diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa bangsa arab yang semula terkebelakang, bodoh, tidak terkenal, dan di abaikan oleh bangsa- bangsa lain, menjadi banngsa yang maju. Ia dengan cepat bergerak mengembangkan dunia,membina suatu kebudayaan dan pradaban yang sangat penting artinya dalam sejarah manusia hingga sekarang.bahkan kemajuan wilayah barat bersumber dari peradaban islam yang masuk ke Eropa melalui Spanyol.

Islam memang berbeda dengan agama – agama lain.  H.A.R Gibbi di dalam bukunya Whiter islam menyatakan, “islam is indeed much more than a system of theology, it is a complete civilization ” ( Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama. Ia adalah suatu peradaban yang sempurna.

Harun Nasution, membagi Sejarah Perkembangan Peradaban Islam ke dalam tiga  periode yaitu [1] periode klasik [650-1250 M],  dibagi dalam dua masa : [a] masa kemajuan Islam I [650-100], [b] masa disintegrasi [1000 - 1250 M]. [2]  Periode pertengahan [1250 - 1800], dan [3] Periode Modern [1800 M.

B.     Ide pembaharuan Islam di Indonesia

Cak Nur dianggap sebagai ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Gagasannya tentang pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual Muslim terdepan di masanya, terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di dalam berbagai kemorosotan dan ancaman disintegrasi bangsa. Cak Nur dikenal dengan konsep pluralismenya yang mengakomodasi keberagaman / ke-bhinneka-an keyakinan di Indonesia. Menurut Cak Nur, keyakinan adalah hak primordial setiap manusia dan keyakinan meyakini keberadaan Tuhan adalah keyakinan yang mendasar. Keyakinan tersebut sangat mungkin berbeda-beda antar manusia satu dengan yang lain, walaupun memeluk agama yang sama.

Hal ini berdasar kepada kemampuan nalar manusia yang berbeda-beda, dan dalam hal ini Cak Nur mendukung konsep kebebasan dalam beragama. Bebas dalam konsep Cak Nur tersebut dimaksudkan sebagai kebebasan dalam menjalankan agama tertentu yang disertai dengan tanggung jawab penuh atas apa yang dipilih. Cak Nur meyakini bahwa manusia sebagai individu yang paripurna, ketika menghadap Tuhan di kehidupan yang akan datang akan bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan, dan kebebasan dalam memilih adalah konsep yang logis. Manusia akan bertanggung jawab secara pribadi atas apa yang ia lakukan dengan yakin. Apa yang diyakini, itulah yang dipertanggung jawabkan. Maka pahala ataupun dosa akan menjadi benar-benar imbalan atas apa yang secara yakin ia lakukan.

Sebagai tokoh pembaruan dan cendikiawan Muslim Indonesia, seperti halnya K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Cak Nur sering mengutarakan gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial terutama gagasan mengenai pembaruan Islam di Indonesia. Pemikirannya dianggap sebagai sumber pluralisme dan keterbukaan mengenai ajaran Islam terutama setelah berkiprah dalam Yayasan Paramadina dalam mengembangkan ajaran Islam yang moderat.

C.    Peradaban Islam di  Masa Reformasi 1998

Namun demikian, ia juga berjasa ketika bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan pada tahun 1998. Cak Nur sering diminta nasihat oleh Presiden Soeharto terutama dalam mengatasi gejolak pasca kerusuhan Mei 1998 di Jakarta setelah Indonesia dilanda krisis hebat yang merupakan imbas krisis 1997. Atas saran Cak Nur, Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya untuk menghindari gejolak politik yang lebih parah.

D.    Kontroversi Peradaban Islam di Indonesia

Ide dan Gagasan Cak Nur tentang sekularisasi dan pluralisme tidak sepenuhnya diterima dengan baik di kalangan masyarakat Islam Indonesia. Terutama di kalangan masyarakat Islam yang menganut paham tekstualis literalis (tradisional dan konservatif) pada sumber ajaran Islam. Mereka menganggap bahwa paham Cak Nur dan Paramadinanya telah menyimpang dari teks-teks Al-Quran dan Al-Sunnah. Gagasan Cak Nur yang paling kontroversial adalah saat dia mengungkapkan gagasan "Islam Yes, Partai Islam No?" yang ditanggapi dengan polemik berkepanjangan sejak dicetuskan tahun 1960-an [1], sementara dalam waktu yang bersamaan sebagian masyarakat Islam sedang gandrung untuk berjuang mendirikan kembali partai-partai yang berlabelkan Islam. Konsistensi gagasan ini tidak pernah berubah ketika setelah terjadi reformasi dan terbukanya kran untuk membentuk partai yang berlabelkan agama.

E.     Organisasi dan Aliran-Aliran di Indonesia

1)      Nahdlatul Ulama

a. Sejarah Pembentukan

Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam yang terbesar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi. Masjid Jombang, adalah tempat kelahiran organisasi Nahdlatul Ulama

Suatu waktu Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab Wahabi di Mekkah, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermazhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut. Dengan sikapnya yang berbeda itu kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta pada tahun 1925. Akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekkah yang akan mengesahkan keputusan tersebut.

Sumber lain menyebutkan bahwa K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Wahab Hasbullah dan sesepuh NU lainnya melakukan walk out. Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermazhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamakan Komite Hejaz, yang diketuai oleh K.H. Wahab Hasbullah.

b. K.H. Hasyim Asy’arie, Rais Akbar (ketua) pertama NU

Berangkat komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar.

Untuk menegaskan prisip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasyim Asy’ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

c. Paham Keagamaan

NU menganut paham Ahlussunah waljama’ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya al-Qur’an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab: imam Syafi’i dan mengakui tiga madzhab yang lain: imam Hanafi, imam Maliki,dan imam Hanbali sebagaimana yang tergambar dalam lambang NU berbintang 4 di bawah. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

Gagasan kembali kekhittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran ahlussunnah wal jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskankembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.

d. Tujuan

Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama’ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

e. Usaha

  1. Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.
  2. Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas.Hal ini terbukti dengan lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa.
  3. Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.
  4. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah terbukti membantu masyarakat.
  5. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyrakat.

f. Struktur

  1. Pengurus Besar (tingkat Pusat)
  2. Pengurus Wilayah (tingkat Propinsi)
  3. Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) atau Pengurus Cabang Istimewa untuk kepengurusan di luar negeri
  4. Pengurus Majlis Wakil Cabang / MWC (tingkat Kecamatan)
  5. Pengurus Ranting (tingkat Desa / Kelurahan)

Untuk Pusat, Wilayah, Cabang, dan Majelis Wakil Cabang, setiap kepengurusan terdiri dari:

  1. Mustayar (Penasihat)
  2. Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
  3. Tanfidziyah (Pelaksana Harian)

Untuk Ranting, setiap kepengurusan terdiri dari:

  1. Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
  2. Tanfidziyah (Pelaksana harian)

g. NU dan Politik

Pertama kali NU terjun pada politik praktis pada saat menyatakan memisahkan diri dengan Masyumi pada tahun 1952 dan kemudian mengikuti pemilu 1955. NU cukup berhasil dengan merahil 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante. Pada masa Demokrasi Terpimpin NU dikenal sebagai partai yang mendukung Sukarno. Setelah PKI memberontak, NU tampil sebagai salah satu golongan yang aktif menekan PKI, terutama lewat sayap pemudanya GP Ansor.

NU kemudian menggabungkan diri dengan Partai Persatuan Pembangunan pada tanggal 5 Januari 1973 atas desakan penguasa orde baru. Mengikuti pemilu 1977 dan 1982 bersama PPP. Pada muktamar NU di Situbondo, NU menyatakan diri untuk ‘Kembali ke Khittah 1926′ yaitu untuk tidak berpolitik praktis lagi.

Namun setelah reformasi 1998, muncul partai-partai yang mengatasnamakan NU. Yang terpenting adalah Partai Kebangkitan Bangsa yang dideklarasikan oleh Abdurrahman Wahid. Pada pemilu 1999 PKB memperoleh 51 kursi DPR dan bahkan bisa mengantarkan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI. Pada pemilu 2004, PKB memperoleh 52 kursi DPR.

2)      Muhammadiyah

a.      Sejarah Muhammadiyah

Berdasarkan situs resmi Muhammadiyah, Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 November 1912.

Persyarikatan Muhammadiyah didirikan untuk mendukung usaha KH Ahmad Dahlan untuk memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi hal-hal mistik. Kegiatan ini pada awalnya juga memiliki basis dakwah untuk wanita dan kaum muda berupa pengajian Sidratul Muntaha. Selain itu peran dalam pendidikan diwujudkan dalam pendirian sekolah dasar dan sekolah lanjutan, yang dikenal sebagai Hooge School Muhammadiyah dan selanjutnya berganti nama menjadi Kweek School Muhammadiyah (sekarang dikenal dengan Madrasah Mu’allimin _khusus laki-laki, yang bertempat di Patangpuluhan kecamatan Wirobrajan dan Mu’allimaat Muhammadiyah_khusus Perempuan, di Suronatan Yogyakarta).

Pada masa kepemimpinan Ahmad Dahlan (1912-1923), pengaruh Muhammadiyah terbatas di karesidenan-karesidenan seperti: Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan, daerah Pekalongan sekarang. Selain Yogya, cabang-cabang Muhammadiyah berdiri di kota-kota tersebut pada tahun 1922. Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam. Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatera Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar keseluruh Indonesia. Terdapat pula organisasi khusus wanita bernama Aisyiyah.

b.      Bentuk Organisasi

Kantor pengurus pusat Muhammadiyah awalnya berada di Yogyakarta. Namun pada tahun 1970, komite-komite pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan kesejahteraan berpindah ke kantor di ibukota Jakarta.

Struktur Pimpinan Pusat Muhammadiyah terdiri dari lima orang Penasehat, seorang Ketua Umum yang dibantu tujuh orang Ketua lainnya, seorang Sekretaris Umum dengan dua anggota, seorang Bendahara Umum dengan seorang anggotanya.[3]

Muhammadiyah juga memiliki beberapa organisasi otonom Muhammadiyah, yaitu: [4]

3)      Ahmadiyyah

a.      Sejarah Ahmadiyah

Ahmadiyyah (Urdu: احمدیہ Ahmadiyyah) atau sering pula disebut Ahmadiyah, adalah Jamaah Muslim yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) pada tahun 1889 di satu desa kecil yang bernama Qadian, Punjab, India. Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Mujaddid, al Masih dan al Mahdi. Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah bagian dari Jamaah Muslim Ahmadiyah Internasional. Di Indonesia, organisasi ini telah berbadan hukum dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia sejak 1953 (SK Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 Tgl. 13-3-1953) [2].

Atas nama Pemerintah Indonesia, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung pada tanggal 9 Juni 2008 telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama, yang memerintahkan kepada penganut Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya yang bertentangan dengan Islam.[3]

b.      Tujuan Pendirian

Menurut pendirinya, Mirza Ghulam Ahmad, misi Ahmadiyah adalah untuk menghidupkan kembali Islam dan menegakkan Syariah Islam. Tujuan didirikan Jemaat Ahmadiyah menurut pendirinya tersebut adalah untuk meremajakan moral Islam dan nilai-nilai kerohanian. Ahmadiyah bukanlah sebuah agama baru namun merupakan bagian dari Islam. Para pengikut Ahmadiyah mengamalkan Rukun Iman yang enam dan Rukun Islam yang lima. Gerakan Ahmadiyah mendorong dialog antar agama dan senantiasa membela Islam serta berusaha untuk memperbaiki kesalah-pahaman mengenai Islam di dunia Barat. Gerakan ini menganjurkan perdamaian, toleransi, kasih dan saling pengertian diantara para pengikut agama yang berbeda; dan sebenar-benarnya percaya dan bertindak berdasarkan ajaran al Quran : “Tidak ada paksaan dalam agama” (2:257) serta menolak kekerasan dan teror dalam bentuk apapun untuk alasan apapun. [4]

Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah satu organisasi keagamaan Internasional yang telah tersebar ke lebih dari 185 negara di dunia[5]. Pergerakan Jemaat Ahmadiyah dalam Islam adalah suatu organisasi keagamaan dengan ruang lingkup internasional yang memiliki cabang di 174 negara tersebar di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Australia dan Eropa. Saat ini jumlah keanggotaannya di seluruh dunia lebih dari 150 juta orang. [6] Jemaat Ahmadiyah Internasional juga telah menerjemahkan al Quran ke dalam bahasa-bahasa besar di dunia dan sedang merampungkan penerjemahan al Quran ke dalam 100 bahasa di dunia. Sedangkan Jemaat Ahmadiyah di Indonesia telah menerjemahkan al Quran dalam bahasa Indonesia, Sunda, dan Jawa.

4)      Hizbut Tahrir

a.      Sejarah Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir atau Hizb ut-Tahrir (Arab: حزب التحرير; Inggris: Party of Liberation; Indonesia: Partai Pembebasan) awal bernama Partai Pembebasan Islam (hizb al-tahrir a]-islami) [2] adalah partai politik berideologi Islam didirikan pada tahun 1952 di Al Quds berdasarkan aqidah IslamSistim islam. [3] Taqiyyuddin An Nabhani (1905-1978) atau di Indonesia dikenal dengan Syekh Taqiyyuddin An Nabhani seorang Ulama, Mujtahid, hakim pengadilan (Qadi) Di Palestina dan lulusan Al Azhar. Beliau hafidz Quran sejak usia 15 tahun. Ia adalah cucu dari Ulama besar di masa Khilafah Utsmaniyah, Syeikh Yusuf An-Nabhani.

b.      Tujuan Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir memiliki dua tujuan: (1) melangsungkan kehidupan Islam; (2) mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Tujuan ini berarti mengajak umat Islam agar kembali hidup secara Islami di dâr al-Islam dan di dalam lingkungan masyarakat Islam. Tujuan ini berarti pula menjadikan seluruh aktivitas kehidupan diatur sesuai dengan hukum-hukum syariat serta menjadikan seluruh pandangan hidup dilandaskan pada standar halal dan haram di bawah naungan dawlah Islam. Dawlah ini adalah dawlah-khilâfah yang dipimpin oleh seorang khalifah yang diangkat dan dibaiat oleh umat Islam untuk didengar dan ditaati. Khalifah yang telah diangkat berkewajiban untuk menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

c.       Keanggotaan Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir menerima anggota dari kalangan umat Islam, baik pria maupun wanita, tanpa memperhatikan lagi apakah mereka keturunan Arab atau bukan, berkulit putih ataupun hitam. Hizbut Tahrir adalah sebuah partai untuk seluruh umat Islam. Partai ini menyerukan kepada umat untuk mengemban dakwah Islam serta mengambil dan menetapkan seluruh aturan-aturannya tanpa memandang lagi ras-ras kebangsaan, warna kulit, maupun mazhab-mazhab mereka. Hizbut Tahrir melihat semuanya dari pandangan Islam. Para anggota dan aktivis Hizbut Tahrir dipersatukan dan diikat oleh akidah Islam, kematangan mereka dalam penguasaan ide-ide (Islam) yang diemban oleh Hizbut Tahrir, serta komitmen mereka untuk mengadopsi ide-ide dan pendapat-pendapat Hizbut Tahrir. Mereka sendirilah yang mengharuskan dirinya menjadi anggota Hizbut Tahrir, setelah sebelumnya ia terlibat secara intens dengan Hizb; berinteraksi langsung dengan dakwah bersama Hizb; serta mengadopsi ide-ide dan pendapat-pendapat Hizb. Dengan kata lain, ikatan yang mengikat para anggota dan aktivis Hizbut Tahrir adalah akidah Islam dan tsaqâfah (ide-ide) Hizb yang sepenuhnya diambil dari dari akidah ini. Halaqah-halaqah atau pembinaan wanita di dalam tubuh Hizbut Tahrir terpisah deri halaqah-halaqah pria. Yang memimpin halaqah-halaqah wanita adalah para suami, para muhrimnya, atau sesama wanita.

d.      Aktivitas Hizbut Tahrir

Aktivitas Hizbut Tahrir adalah mengemban dakwah Islam dalam rangka melakukan transformasi sosial di tengah-tengah situasi masyarakat yang rusak sehingga diubah menjadi masyarakat Islam. Upaya ini ditempuh dengan tiga cara:

1)      Mengubah ide-ide yang ada saat ini menjadi ide-ide Islam. Dengan begitu, ide-ide Islam diharapkan dapat menjadi opini umum di tengah-tengah masyarakat, sekaligus menjadi persepsi mereka yang akan mendorong mereka untuk merealisasikan dan mengaplikasikan ide-ide tersebut sesuai dengan tuntutan Islam.

2)      Mengubah perasaan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat menjadi perasaan Islam. Dengan begitu, mereka diharapkan dapat bersikap ridha terhadap semua perkara yang diridhai Allah, dan sebaliknya, marah dan benci terhadap semua hal yang dimurkai dan dibenci oleh Allah.

3)      Mengubah interaksi-interaksi yang terjadi di tengah masyarakat menjadi interaksi-interaksi yang Islami, yang berjalan sesuai dengan hukum-hukum Islam dan pemecahan-pemecahannya. Seluruh aktivitas atau upaya yang dilakukan Hizbut Tahrir di atas adalah aktivitas atau upaya yang bersifat politis—dalam makna yang sesungguhnya. Artinya, Hizbut Tahrir menyelesaikan urusan-urusan masyarakat sesuai dengan hukum-hukum serta pemecahannya secara syar‘î. Sebab, secara syar‘î, politik tidak lain mengurus dan memelihara urusan-urusan masyarakat (umat) sesuai dengan hokum hukum Islam dan pemecahannya.

Ikhwanul Muslimin (Arab:الاخوان المسلمون al-ikhwān al-muslimūn) sering hanya disebut (Arab الإخوان Al-Ikhwan) adalah salah satu jamaah dari umat Islam, mengajak dan menuntut ditegakkannya syariat Allah, hidup di bawah naungan Islam, seperti yang diturunkan Allah kepada Rasulullah saw, dan diserukan oleh para salafush-shalih, bekerja dengannya dan untuknya, keyakinan yang bersih menghujam dalam sanubari, pemahaman yang benar yang merasuk dalam akal dan fikrah, syariah yang mengatur al-jawarih (anggota tubuh), perilaku dan politik. Di kemudian hari, gerakan Ikhwanul Muslimin tersebar ke seluruh dunia.

9) Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti)

Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) adalah nama sebuah organisasi massa Islam nasional yang berbasis di Sumatera Barat. Organisasi ini berakar dari para ulama Ahlussunnah wal jamaah di Sumatera Barat. Organisasi ini didirikan pada 20 Mei 1930 di Sumatera Barat. Kemudian organisasi ini meluas ke daerah-daerah lain di Sumatera, dan juga mencapai Kalimantan dan Sulawesi. Perti ikut berjuang di kancah politik dengan bergabung ke dalam GAPI dalam aksi Indonesia Berparlemen, serta turut memberikan konsepsi kenegaraan kepada Komisi Visman.

Setelah kemerdekaan Perti menjadi partai politik. Dalam Pemilihan Umum 1955 Perti mendapatkan empat kursi DPR-RI dan tujuh kursi Konstituante. Setelah Konstituante dan DPR hasil Pemilu dibubarkan oleh Presiden Soekarno, Perti mendapatkan dua kursi di DPR-GR. Pada masa Orde Baru Perti bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan.

BAB III

KESIMPULAN

Perkembangan peradaban islam di Indonesia sudah sangat dinamis sekali. Terbukti dari perjalanan sejarah ternyata mampu mengubah hampir dari seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sehingga kaloborasi dari konteks islam dengan social-kultur sangat erat sekali hubungannya. Dari peradaban islam klasik, pertengahan, sampai modern sudah mewarnai sendi-sendi agama di Negara Indonesia yang mayoritas merupakan pemeluk agama islam terbesar di dunia.

Maka timbullah organisasi dan aliran-aliran di dalamnya, yang merupakan wujud implementasi ajaran islam “khilafah” perbedaan mendasar akan tetapi tidak merubah esensialnya sendiri. Pada ringkasan ini terdapat beberapa organisasi dan aliran-aliran yang berada di Indonesia antara lain; NU, Muhammadiyah, Ahmadiyah, Hizbut Tahrir, Jema’ah Tablig, Jema’ah Islamiyah, LDII, Ikhwanul Muslim, Perti, dan masih banyak lagi yang lainnya yang tidak disebutkan disini.

Kesemuanya organisasi dan aliran-aliran tersebuat adalah bukti bahwa perkembangan peradaban islam sudah mengaplikasi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Berbagai argumentasi dan penalaran pengembangan ajaran islam telah melahirkan corak baru pada peradaban islam dikemudian. Sehingga secara fundamental islam sangat relevan dan actual pada perjalanan roda social.

Perbedaan dan fanatisme tidak membuat perpecahan dan malah menimbulkan nuansa khasanah keindahan perbedaan dalam memahami teks dan kontekstual sumber-sumber ajaran. Maka terciptalah rahmatan lil ‘alamin dalam perbedaan dan kesamaan. Begitulah islam mampu dan senantiasa eksis din tengah hiruk pikuk globalisasi sekarang ini. Wallahua’lam

DAFTAR PUSTAKA

Masuknya Islam di Indonesia, situs Kidung Peziarah

Mustafa Kamal, SS, Sejarah Islam di Indonesia. Dakwatuna.com. Diakses pada 4 Januari 2010

Ricklefs, M.C. (23 September 1991). A History of Modern Indonesia 1200-2004. London: MacMillan. hlm. 353-356.

http://id.shvoong.com/books/classic-literature/1860973-sejarah-peradaban-islam/

Nalar Politik NU & Muhammadiyah, 2009

http://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_UlamaKategori: Organisasi Islam | Organisasi di Indonesia | Partai politik di Indonesia

Ahmad Syafii Maarif : Strategi Dakwah Muhammadiyah.

http://www.muhammadiyah.or.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=471

Website resmi Muhammadiyah. Sejarah Singkat Pendirian Persyarikatan Muhammadiyah.

http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=22&Itemid=35 Yogyakarta: diunduh 21 Februari 2007 16:15 WIB

Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2005-2010. Muhammadiyah. Diakses pada 22 April 2010

Organisasi Otonom. Muhammadiyah. Diakses pada 10 Agustus 2006

http://www.alislam.org/introduction/index.html

http://www.thepersecution.org/world/indonesia/05/jai_pr2108.html

http://www.ahmadiyya.or.id/pengantar

http://alislam.org/introduction/index.html

http://www.ahmadiyya.or.id/kontak

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=319274&kat_id=3

http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=33

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Konstitusi (Latin:constitutio) dalam negara adalah sebuah norma sistem politik dan hukum bentukan pada pemerintahan negara – biasanya dikodifikasikan sebagai dokumen tertulis – Dalam kasus bentukan negara, konstitusi memuat aturan dan prinsip-prinsip entitas politik dan hukum, istilah ini merujuk secara khusus untuk menetapkan konstitusi nasional sebagai prinsip-prinsip dasar politik, prinsip-prinsip dasar hukum termasuk dalam bentukan struktur, prosedur, wewenang dan kewajiban pemerintahan negara pada umumnya, Konstitusi umumnya merujuk pada penjaminan hak kepada warga masyarakatnya.

Istilah konstitusi dapat diterapkan kepada seluruh hukum yang mendefinisikan fungsi pemerintahan negara.Untuk melihat konstitusi pemerintahan negara tertentu,  Konstitusi dapat menunjuk ke hukum penting, biasanya dikeluarkan oleh kaisar atau raja dan digunakan secara luas dalam hukum kanon untuk menandakan keputusan subsitusi tertentu terutama dari Paus. konstitusi adalah mengatur hak-hak dasar. Dalam bentukan organisasi konstitusi menjelaskan bentuk, struktur, aktivitas, karakter, dan aturan dasar organisasi tersebut. Jenis organisasi yang menggunakan konsep Konstitusi termasuk: Organisasi pemerintahan (transnasional, nasional atau regional), organisasi sukarela, persatuan dagang, partai politik, perusahaan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

1.    Apa Pengertian dan tujuan Konstitusi Negara ?

2.    Bagaimana penerapan konstitusi dan problematikanya?

3.    Bagaimana Korelasi dasar negara dengan Konstitusi ?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas dapat dirumuskan beberapa tujuan pembahasan sebagai berikut:

1.    Untuk mengetahui Pengertian dan tujuan dari konstitusi negara.

2.    Untuk mengetahui aplikasi dan mengkritisi problematika konstitusi negara.

3.    Untuk mengetahui korelasi antara dasar negara dengan konstitusi.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Konstitusi

Konstitusi pada umumnya bersifat kodifikasi yaitu sebuah dokumen yang berisi aturan-aturan untuk menjalankan suatu organisasi pemerintahan negara, namun dalam pengertian ini, konstitusi harus diartikan dalam artian tidak semuanya berupa dokumen tertulis (formal). Namun menurut para ahli ilmu hukum maupun ilmu politik konstitusi harus diterjemahkan termasuk kesepakatan politik, negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan dan distibusi maupun alokasi, Konstitusi bagi organisasi pemerintahan negara yang dimaksud terdapat beragam bentuk dan kompleksitas strukturnya, terdapat konstitusi politik atau hukum akan tetapi mengandung pula arti konstitusi ekonomi

Dewasa ini, istilah konstitusi sering di identikkan dengan suatu kodifikasi atas dokumen yang tertulis dan di Inggris memiliki konstitusi tidak dalam bentuk kodifikasi akan tetapi berdasarkan pada yurisprudensi dalam ketatanegaraan negara Inggris. Istilah Konstitusi berasal dari bahasa inggris yaitu “Constitution” dan berasal dari bahasa belanda “Constitue” dalam bahasa latin (Contitutio,Constituere) dalam bahasa prancis yaitu “Constiture” dalam bahsa jerman “Vertassung” dalam ketatanegaraan RI diartikan sama dengan Undang – undang dasar.

Konstitusi / UUD dapat diartikan peraturan dasar dan yang memuat ketentuan – ketentuan pokok dan menjadi satu sumber perundang- undangan. Konstitusi adalah keseluruhan peraturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur secara mengikat cara suatu pemerintahan diselenggarakan dalam suatu masyarakata Negara.

a. Pengertian Konstitusi Menurut Para Ahli

1.    K. C. Wheare, konstitusi adalah keseluruhan sistem ketaatanegaraaan suatu negara yang berupa kumpulan peraturan yang mmbentuk mengatur /memerintah dalam pemerintahan        suatu negara.

2.    Herman Heller, konstitusi mempunyai arti luas daripada uud. Konstitusi tidak hanya        bersifat yuridis tettapi juga sosiologis dan politis

3.    Lasalle, konstitusi adalah hubungan antara kekuasaaan yang terdapat didalam                   masyarakat seperti golongan yang mempunyai kedudukan nyata didalam masyarakat   misalnya kepala negara angkatan perang, partai politik dsb

4.     L.J Van Apeldoorn, konstitusi memuat baik peraturan tertulis maupun peraturan tak       tertulis.

5.    Koernimanto Soetopawiro, istilah konstitusi berasal dari bahasa latin cisme yang             berarati bewrsama dengan dan statute yang berarti membuat sesuatu agar berdiri. Jadi             konstitusi berarti menetapkan secara bersama.

6.    Carl Schmitt membagi konstitusi dalam 4 pengertian yaitu:

a) Konstitusi dalam arti absolut mempunyai 4 sub pengertian yaitu;

Ø Konstitusi sebagai kesatuan organisasi yang mencakup hukum dan   semua             organisasi yang ada didalam negara.

Ø Konstitusi sebagai bentuk Negara

Ø Konstitusi sebagai faktor integrasi

Ø Konstitusi sebagai sistem tertutup dari norma hukum yang tertinggi didalam           negara

b) Konstitusi dalam arti relatif dibagi menjadi 2 pengertian yaitu

Ø Konstitusi sebagai tuntutan dari golongan borjuis agar haknya dapat dijamin oleh   penguasa dan konstitusi sebagai sebuah konstitusi dalam arti formil (konstitrusi          dapat berupa terttulis) dan

Ø Konstitusi dalam arti materiil (konstitusi yang dilihat dari segi isinya)

c) Konstitusi dalam arti positif adalah sebagai sebuah keputusan politik yang tertinggi

sehingga mampu merubah tatanan kehidupan kenegaraan

d) Konstitusi dalam arti ideal yaitu konstitusi yang memuat adanya jaminan atas hak asasi                 serta perlindungannya.

b. Tujuan Konstitusi

1.    Membatasi kekuasaan penguasa agar tidak bertindak sewenang – wenang maksudnya        tanpa membatasi kekuasaan penguasa, konstitusi tidak akan berjalan dengan baik dan     bisa saja kekuasaan penguasa akan merajalela Dan bisa merugikan rakyat banyak

2.    Melindungi HAM maksudnya setiap penguasa berhak menghormati HAM orang lain dan hak memperoleh perlindungan hukum dalam hal melaksanakan haknya.

3.    Pedoman penyelengaraan negara maksudnya tanpa adanya pedoman konstitusi negara       kita tidak akan berdiri dengan kokoh.

c. Unsur-Unsur Konstitusi

Suatu Negara memiliki tiga unsur Yaitu: Rakyat, Wilayah, dan pemerintah.Ketiga Unsur inilah oloh Mahmud M. Disebut dengan unsur Konstitusi. Untuk lebih jelas memahami Unsur-unsur pokok Konstitusi berikut akan di jelaskan masing-masing Unsur-unsur tersebut:

a. Rakyat

Rakyat dalam pengertian keberadaan suatu negara adalah sekumpulan manusia yang dipersatukan oleh rasa persamaan dan bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu.

b. Wilayah

Wilayah adalah unsur negara yang harus  terpenuhi karna tidak mungkin ada negara tanpa ada batas –batasTeritorial yang jelas.Secara umum wilayah dalam sebuah negara biasanya mencakup daratan ,perairan [samudra,laut dan sungai], dan udara .Dalam konsep negara modern masing –masing batas wilayah tersebut diatur dalam perjanjian dan undang-undang Internasional.

c. Pemerintah

Pemerintahan adalah alat kelengkapan negara  yang bertugas memimpin organisasi negara untuk mencapai tujuan bersama didirikanya sebuah negara. Pemerintah melalui aparat dan alat –alat negara, yang menetapkan hukum,melaksanakan ketertiban dan keamanan ,mengadakan perdamaian lainnya dalam rangka mewujudkan kepentingan  warganegaranya yang beragam.Untuk mewujudkan cita-cita bersama tersebut  dijumpai bentuk-bentuk negara dan pemerintah .Pada umumnya  , nama sebuah negara identik dengan model  pemerintahan yng di jalankannya,misalnya,negara demokrasi dengan pemerintahan sistem parlementer atau presidensial .Ketiga unsur ini dilengkapi dengan unsur negara lainnya,konstitusi

d. Pengakuan negara lain

Unsur pengakuan begara lain hanya bersifat menerangkan tentang adanya negara lain Hal ini hanya bersifat Deklaratif,bukan konstitutif,sehingga tidak bersifat mutlak. Ada dua macam pengakuan terhadap negara yakni pengakuan de facto dan pengakuan de jure.

Pengaakuan de facto adalah pengakuan atas fakta adanya negara.Pengakuan tersebut didasarkan adanya tiga unsur utama negara(wilayah ,rakyat ,pemerintah yang berdaulat) Sedangkan pengakuan de jure adalah pngakuan akan sahnya suatu nagara atas dasar pertimbangan yuridhis menurut hukum .Dengan memperoleh pengakuan de jure ,maka suatu nagara memperoleh hak-haknya di samping kewajiban sebagai anggota keluarga bangsa sedunia.Hak dan kewajiban yang di maksud adalah hak dan kewajiban untuk bertindak dan di berlakukan sebagai suatu negara yang berdaulat penuh di antara nagara-nagara- lain.

B. Nilai Konstitusi Negara

1.    Nilai Normatif adalah suatu konstitusi yang resmi diterima oleh suatu bangsa dan bagi       mereka konstitusi itu tidak hanya berlaku dalam arti hukum (legal), tetapi juga nyata        berlaku dalam masyarakat dalam arti berlaku efgektif dan dilaksanakan secara murni dan       konsekuen.

2.    Nilai Nominal adalah suatu konstitusi yang menurut hukum berlaku, tetrapi tidak   sempurna. Ketidak sempurnaan itu disebabkan pasal – pasal tertentu tidak berlaku /           tidak    seluruh pasal – pasal yang terdapat dalam UUD itu berlaku bagi seluruh wilayah   negara.

3.    Nilai Semantik adalah suatu konstitusi yang berlaku hanya untuk kepentingan penguasa     saja. Dalam memobilisasi kekuasaan, penguasa menggunakan konstitusi sebagai alat           untuk melaksanakan kekuasaan politik.

a. Macam – Macam Konstitusi

1.    Konstitusi Tertulis (dokumentary constiutution / writen constitution) adalah aturan –         aturan pokok dasar negara , bangunan negara dan tata negara, demikian juga aturan dasar lainnya yang mengatur perikehidupan suatu bangsa didalam Øpersekutuan hukum        negara.

2.    Konstitusi Tidak Tertulis / Konvensi (nondokumentary constitution) adalah berupa            kebiasaan ketatanegaraan yang sering timbul. Adapun syarat – syarat konvensi adalah: 1)            Diakui dan dipergunakan berulang – ulang dalam praktik penyelenggaraan negara. 2)       Tidak bertentangan dengan UUD 1945 3) Memperhatikan pelaksanaan UUD 1945.

b. Syarat Terjadinya Konstitusi

Agar suatu bentuk pemerintahan dapat dijalankan secara demokrasi dengan memperhatikan kepentingan rakyat. Melinmdungi asas demokrasi Menciptakan kedaulatan tertinggi yang berada ditangan rakyat Untuk melaksanakan dasar negara Menentukan suatu hukum yang bersifat adil.

Kedudukan konstitusi dengan adanya UUD baik penguasa dapat mengetahui aturan / ketentuan pokok mendasar mengenai ketatanegaraan . Sebagai hukum dasar Sebagai hukum yang tertinggi. Perubahan Konstitusi / UUD yaitu: Secara revolusi, pemerintahan baru terbentuk sebagai hasil revolusi ini yang kadang – kadang membuat sesuatu UUD yang kemudian mendapat persetujuan rakyat. Secara evolusi, UUD/konstitusi berubah secara berangsur – angsur yang dapat menimbulkan suatu UUD, secara otomatis UUD yang lama tidak berlaku lagi.

c. Peran Mahkamah Konstitusi

Di Indonesia, Mahkamah Konstitusi merupakan produk dari perubahan keempat UUD 1945. Pasal 24 ayat (2) UUD 1945 menyatakan: “Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”. Hal ini berarti cabang kekuasaan kehakiman merupakan satu kesatuan sistem yang dilakukan oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi yang mencerminkan puncak kedaulatan hukum Indonesia berdasarkan UUD 1945 Agustus 2003. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia kemudian diatur dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada tanggal 13 Agustus 2003. Namun lembaga Mahkamah Konstitusi sendiri baru benar-benar terbentuk pada tanggal 17 Agustus 2003 setelah pengucapan sumpah jabatan sembilan hakim konstitusi pada tanggal 16 Agustus 2003.

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk; (a) menguji undang-undang terhadap UUD 1945; (b) memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945; (c) memutus pembubaran partai politik; dan (d) memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Selain itu Mahkamah Konstitusi juga (e) wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela, dan/atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945.

Kewenangan pertama Mahkamah Konstitusi sering disebut sebagai judicial review. Namun istilah ini harus diluruskan dan diganti dengan istilah constitutional review atau pengujian konstitusional mengingat bahwa kewenangan Mahkamah Konstitusi adalah menguji Undang-Undang terhadap UUD 1945. Per definisi, konsep constitutional review merupakan perkembangan gagasan modern tentang sistem pemerintahan demokratis yang didasarkan atas ide negara hukum (rule of law), prinsip pemisahan kekuasaan (separation of power), serta perlindungan hak asasi manusia (the protection of fundamental rights). Dalam sistem constitutional review itu tercakup dua tugas pokok, yaitu (a) menjamin berfungsinya sistem demokrasi dalam hubungan peran atau interplayantara cabang kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif; dan (b)  melindungi setiap individu warga negara dari penyalahgunaan kekuasaan oleh lembaga negara yang merugikan hak-hak fundamental mereka yang dijamin dalam konstitusi.

Sedangkan kewenangan Mahkamah Konstitusi yang lain dapat dilihat sebagai upaya penataan hubungan kelembagaan negara dan institusi-institusi demokrasi berdasarkan prinsip supremasi hukum. Sebelum terbentuknya Mahkamah Konstitusi dengan kewenangannya tersebut, hubungan kelembagaan negara dan institusi demokrasi lebih didasarkan pada hubungan yang bersifat politik. Akibatnya, sebuah lembaga dapat mendominasi atau mengkooptasi lembaga lain, atau terjadi pertentangan antar lembaga atau institusi yang melahirkan krisis konstitusional. Hal ini menimbulkan ketiadaan kepastian hukum dan kotraproduktif terhadap pengembangan budaya demokrasi. Pengaturan kehidupan politik kenegaraan secara umum juga telah berkembang sebagai bentuk “the constitutionalization of democratic politics”. Hal ini semata-mata untuk mewujudkan supremasi hukum, kepastian hukum, dan perkembangan demokrasi itu sendiri, berdasarkan konsep negara hukum yang demokratis (democratische reshtsstaat).

Kewenangan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar merupakan kewenangan Mahkamah Konstitusi sebagai penjaga konstitusi (the guardian of the constitution). Kewenangan ini dilaksanakan untuk menjaga ketentuan undang-undang agar tidak bertentangan dengan UUD 1945 dan atau merugikan hak konstitusional warga negara. Batu ujian yang digunakan tentu saja adalah UUD 1945 yang terdiri dari Pembukaan dan Pasal-pasal. Yang dijadikan alat untuk menguji apakah suatu ketentuan undang-undang melanggar hak konstitusional atau bertentangan dengan Undang-Undang Dasar tidak hanya Pasal-Pasal, melainkan juga cita-cita dan prinsip dasar yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945.

Dalam pelaksanaan kewenangan Mahkamah Konstitusi, berbagai permasalahan baru yang mendasar senantiasa muncul dalam proses penataan kehidupan bernegara terkait dengan dasar negara Pancasila dan perkembangan dunia yang didominasi oleh ideologi kapitalisme. Permasalahan tersebut diantaranya adalah; (a) hubungan ekonomi dengan wilayah hukum dan politik; (b) kerangka institusional negara; (c) tujuan dan peran pemerintahan; (d) akibat dan batasan intervensi negara dalam masyarakat; dan (e) masalah kedaulatan negara berhadapan dengan perkembangan hukum internasional.

Putusan pengujian Undang-Undang terhadap UUD 1945  yang telah dibuat oleh Mahkamah Konstitusi terhadap berbagai permohonan pengujian yang diajukan juga selalu melihat secara utuh UUD 1945. Dalam putusan-putusan tersebut memuat pengertian-pengertian dan konsep-konsep terkait dengan pemahaman suatu ketentuan dalam konstitusi berdasarkan cita negara (staatside)dan landasan filosofis (filosofische grondslag) bangsa Indonesia. Hingga saat ini telah terdapat berbagai putusan Mahkamah Konstitusi baik di bidang politik, ekonomi, dan sosial terkait dengan ketentuan dalam UUD 1945 yang mengelaborasi nilai-nilai dasar Pancasila sebagai batu ujian atas permohonan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar.

Mahkamah Konstitusi sebagai penjaga konstitusi secara otomatis juga berarti sebagai penjaga Pancasila sebagai materi konstitusi dan mempertahankannya sebagai ideologi terbuka. Mahkamah Konstitusi mengelaborasi nilai-nilai dan prinsip dasar Pancasila untuk menentukan apakah sesuatu ketentuan undang-undang bertentangan dengan konstitusi atau tidak. Disamping itu, melalui pelaksanaan kewenangannya, Mahkamah Konstitusi tetap menjaga Pancasila sebagai ideologi terbuka dengan senantiasa mempertimbangkan perkembangan nilai-nilai dalam masyarakat dan masyarakat internasional sehingga tidak menjadi ideologi tertutup yang dapat disalahgunakan sebagai alat legitimasi kekuasaan belaka. Hal ini juga dapat dilakukan dalam pelaksanaan kewenangan yang lain terutama dalam hal sengketa kewenangan lembaga negara, pembubaran partai politik, dan memutus usulan DPR untuk pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden.

C. Korelasi Antara Dasar Negara Dengan Konstitusi

Keterkaitan antara dasar negara dengan konstitusi nampak pada gagasan dasar, cita – cita dan tujuan negara yang tertuang dalam pembukaan UUD suatu negara. Dasar negara sebagai pedoaman penyelenggaraan negara secara tertulis termuat dalam konstitusi suatu Negara. Keterkaitan Konstitusi Dengan UUD yaitu: Konstitusi adalah hukum dasar tertulis dan tidak ter tulis sedangkan UUD adalah hukum dasar tertulis. UUD memiliki sifat mengikat oleh karenanya makin elastik sifatnya aturan itui makin baik, konstitusi menyangkut cara suatu pemeritahan diselenggarakan

Di dalam dunia politik istilah konstitusi biasanya dipergunakan sekurang-kurangnya dipergunakan untuk melukiskan seluruh sistem pemerintahan suatu negara, yaitu kumpulan ketentuan-ketentuan tentang menetapkan dan yang mengatur pemerintahan. Ketentuan-ketentuan ini sebagian bersifat aturan hukum dan sebagian bersifat non legal atau ektra legal.
Dengan demikian tidak heran apabila kemudian dinyatakan banyak ahli, bahwa sebuah konstitusi atau UUD merupakan kristalisasi dari berbagai pemikiran politik ketika negara akan didirikan atau ketika konstitusi itu disusun. Setelah itu konstitusi mempunya kedudukan sangat penting karena ia harus menjadi landasan penyelenggaraan negara dari berbagai segi sehingga setiap tingkah laku atau kebijaksanaan politik dari setiap pemimpin negara akan senantiasa terlihat relevansinya dengan ketentuan undang-undang dasar (Moh.Mahfud MD:2000;40). Dan karena konstitusi itu merupakan kristalisasi dari berbagai pemikiran politik, maka sebuah konstitusi bukan sekedar aturan belaka mengenai ketatanegaraan. Konstitusi sebagai hukum dasar (induk seluruh ketentuan hukum di sebuah negara) merefleksikan banyak hal penting bagi negara bersangkutan. Sebagian substansi konstitusi merefleksikan hal-hal yang monumental dimasa lalu, masa kini dan harapan masa datang.

a. Perubahan Konstitusi di Indonesia

Di Indonesia, perubahan konstitusi telah terjadi beberapa kali dalam sejarah  ketatanegaraan Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sejak Proklamasi hingga sekarang telah berlaku tiga macam Undang-undang Dasar dalam delapan periode yaitu :

1.    Periode 18 Agustus 1945 – 27 desember 1949

2.    Periode 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950

3.    Periode 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959

4.    Periode 5 Juli 1959 – 19 Oktober

5.    Periode 19 Oktober 1999 – 18 Agustus 2000

6.    Periode 18 Agustus 2000 – 9 November 2001

7.    Periode 9 November 2001 – 10 Agustus 2002

8.    Periode 10 Agustus  2002 – sampai sekarang

Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945) ditetapkan dan disahkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 Agustus 1945. UUD 1945 terdiri dari :

1.    Pembukaan (4 alinea) yang pada alinea ke-4tercantum dasar negara yaitu Pancasila;

2.    Batang Tubuh (isi) yang meliputi :

1.    16 Bab;

2.    37 Pasal

3.    4 aturan peralihan;

4.    2 Aturan Tambahan.

UUD 1945 digantikan oleh Konstitusi Republik Indonesia Serikat (Konstitusi RIS) pada 27 Desember 1949, pada 17 Agustus 1950 Konstitusi RIS digantikan oleh Undang-undang Dasar Sementara 1950 (UUDS 1950). Dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, UUD 1945 dinyatakan berlaku kembali di Indonesia hingga saat ini. Hingga tanggal 10 Agustus 2002, UUD 1945 telah empat kali diamandemen oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan dan rumusan masalah yang telah dijawab dalam pembahasan ini, maka disebutkan beberapa kesimpulan di bawah ini:

1.      Istilah Konstitusi berasal dari bahasa inggris yaitu “Constitution” dan berasal dari bahasa belanda “Constitue” dalam bahasa latin (Contitutio,Constituere) dalam bahasa prancis yaitu “Constiture” dalam bahsa jerman “Vertassung” dalam ketatanegaraan RI diartikan sama dengan Undang – undang dasar. Konstitusi / UUD dapat diartikan peraturan dasar dan yang memuat ketentuan – ketentuan pokok dan menjadi satu sumber perundang- undangan. Konstitusi adalah keseluruhan peraturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur secara mengikat cara suatu pemerintahan diselenggarakan dalam suatu masyarakata Negara.

2.      Agar suatu bentuk pemerintahan dapat dijalankan secara demokrasi dengan memperhatikan kepentingan rakyat. Melinmdungi asas demokrasi Menciptakan kedaulatan tertinggi yang berada ditangan rakyat Untuk melaksanakan dasar negara Menentukan suatu hukum yang bersifat adil.

3.      Nilai Konstitusi Negara Nilai Normatif, Nilai Nominal, Nilai Semantik. Macam – Macam Konstitusi Konstitusi Tertulis (dokumentary constiutution / writen constitution), Konstitusi Tidak Tertulis / Konvensi (nondokumentary constitution) Kedudukan konstitusi dengan adanya UUD baik penguasa dapat mengetahui aturan / ketentuan pokok mendasar mengenai ketatanegaraan . Sebagai hukum dasar Sebagai hukum yang tertinggi. Perubahan Konstitusi / UUD yaitu: Secara revolusi, pemerintahan baru terbentuk sebagai hasil revolusi ini yang kadang – kadang membuat sesuatu UUD yang kemudian mendapat persetujuan rakyat. Secara evolusi, UUD/konstitusi berubah secara berangsur – angsur yang dapat menimbulkan suatu UUD, secara otomatis UUD yang lama tidak berlaku lagi.

4.      Keterkaitan antara dasar negara dengan konstitusi nampak pada gagasan dasar, cita – cita dan tujuan negara yang tertuang dalam pembukaan UUD suatu negara. Dasar negara sebagai pedoaman penyelenggaraan negara secara tertulis termuat dalam konstitusi suatu Negara. Keterkaitan Konstitusi Dengan UUD yaitu: Konstitusi adalah hukum dasar tertulis dan tidak ter tulis sedangkan UUD adalah hukum dasar tertulis. UUD memiliki sifat mengikat oleh karenanya makin elastik sifatnya aturan itui makin baik, konstitusi menyangkut cara suatu pemeritahan diselenggarakan.

DAFTAR PUSTAKA

Alder, John and Peter English. Constitutional and Administrative Law. London: MacMillan Education LTD, 1989.

Almond, Gabriel A. and G. Bingham Powell Jr. Comparative Politics; A Developmental Approach. Little, Brown and Company Inc., 1966.

Andrews, William G. Constitutions and Consti­tu­tio­nalism. 3rd edition. New Jersey: Van Nostrand Company, 1968.

Asshiddiqie, Jimly. Gagasan Kedaulatan Rakyat dalam Konstitusi dan Pelaksanaanya di Indonesia. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994.

_______________. Konstitusi & Konstitusionalisme Indonesia. Edisi Revisi. Jakarta: Konstitusi Press, 2005.

_______________. Model-Model Pengujian Konstitusional di Berbagai Negara. Jakarta: Konstitusi Press, 2005.

Asshiddiqie, Jimly dan Mustafa Fakhry. Mahkamah Konstitusi: Kompilasi Ketentuan UUD, UU dan Peraturan di 78 Negara. Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara FH UI dan Asosiasi Pengajar HTN dan HAN Indonesia, 2002.

Attamimi, A. Hamid A. Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara; Suatu Studi Analisis Mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi Pengaturan dalam Kurun Waktu Pelita I–Pelita IV. Disertasi Ilmu Hukum Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia. Jakarta, 1990.

Bahar, Saafroedin Ananda B. Kusuma, dan Nannie Hudawati (peny.). Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 28 Mei 1945–22 Agustus 1945. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1995.

Bogdanor, Ver­non (ed). Blackwell’s Encyclopedia of Political Science. Oxford: Blackwell, 1987.

Bryce, J. Studies in History and Jurisprudence. vol.1. Oxford: Clarendon Press, 1901.

Friedrich, Carl J. Man and His Government. New York: McGraw-Hill, 1963.

_____________. Constitutional Government And Democracy: Theory and Practice in Europe and America. Fourth Edition. Massachussets-Toronto-London: Blaisdell Publishing Company, 1967.

Hewitt, Martin. Welfare, Ideology and Need, Developing Perspectives on the Welfare State. Maryland: Harvester Wheatsheaf, 1992.

Jessop, Bob. State Theory. Cambridge: Polity Press, 1990.

Kelsen, Hans. General Theory of Law and State. translated by: Anders Wedberg. New York: Russell & Russell, 1961.

___________.  Pure Theory Of Law. Translation from the Second (Revised and Enlarged) German Edition. Translated by: Max Knight. Berkeley, Los Angeles, London: University of California Press, 1967.

Kranenburg, R. dan Tk. B. Sabaroedin. Ilmu Negara Umum. Cetakan Kesebelas. Jakarta: Pradnya Paramita, 1989.

Kusuma, RM. A.B. Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945. Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2004.

Lijphart, Arend. Patterns of Democracy: Government Forms and Performance in Thirty-Six Countries. New Heaven and London: Yale University Press, 1999.

Magnis-Suseno, Franz. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Jakarta: Kanisius, 1992.

Mannheim, Karl. Ideologi dan Utopia: Menyingkap Kaitan Pikiran dan Politik. Judul Asli: Ideology and Utopia, An Introduction to the Sociology of Knowledge. Penerjemah: F. Budi Hardiman. Jakarta: Penerbit Kanisius, 1998.

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemuda merupakan generasi penerus sebuah bangsa, kader bangsa, kader masyarakat dan kader keluarga. Pemuda selalu diidentikan dengan perubahan, betapa tidak peran pemuda dalam membangun bangsa ini, peran pemuda dalam menegakkan keadilan, peran pemuda yang menolak kekeuasaan. Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemuda yang tak kenal waktu yang selalu berjuang dengan penuh semangat biarpun jiwa raga menjadi taruhannya. Indonesia merdeka berkat pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang seperti Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Bung Tomo dan lain-lain dengan penuh mengorbankan dirinya untuk bangsa dan Negara.

Dalam sebuah pidatonya, Sukarno pernah mengorbakan semangat juang Pemuda apa kata Sukarno “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia”. Begitu besar peranan pemuda di mata Sukarno, jika ada sembilan pemuda lagi maka Indonesia menjadi negara Super Power. Satu tumpah darah, satu bangsa dan satu bahasa merupakan sumpah pemuda yang di ikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928. Begitu kompaknya pemuda Indonesia pada waktu itu, dan apakah semangat pemuda sekarang sudah mulai redup, seolah dalam kacamata negara dan masyarakat seolah-olah atau kesannya pemuda sekarang malu untuk mewarisi semangat nasionalisime. Hal tersebut di pengaruhi oleh Globalisasi yang penuh dengan tren.

Sukarno, Hatta, Syahrir seandainya mereka masih hidup pasti mereka menangis melihat semangat nasionalisme pemuda Indonesia sekarang yang selalu mementingkan kesenangan dan selalu mementikan diri sendiri.

Selaku Pemuda kita dituntut aktif dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, sosialisasi dengan warga sekitar. Kehadiran pemuda sangat dinantikan untuk menyokong perubahan dan pembaharuan bagi masyarakat dan negara. Aksi reformasi disemua bidang adalah agenda pemuda kearah masyarakat madani. Reformasi tidak mungkin dilakukan oleh orang tua dan anak-anak. Dengan penuh harapan moga pemuda-pemudi dan generasi penerus harapan bangsa dapat menjelma menjadi sukarno-sukarno masa depan dengan samangat juang yang tinggi. Sebagai motor perjuangan bangsa.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

1.      Apa Peranan Pemuda bagi Bangsa dan Negara ?

2.      Bagaimana Sumpah pemuda dan mengapa bisa terjadi ?

3.      Apa makna Sejarah dan Nasionalisme Indonesia ?

4.      Bagaimana Korelasi Nasionalisme dan Gerakan Mahasiswa ?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas dapat dirumuskan beberapa tujuan pembahasan sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui Peranan Pemuda bagi Bangsa dan Negara Indonesia.

2.      Untuk mengetahui proses terjadinya Sumpah Pemuda dan latar belakang penyebabnya.

3.      Untuk mengetahui Sejarah dan pengertian Nasionalisme Indonesia.

4.      Untuk mengetahui Korelasi antara Nasionalisme dan Gerakan Mahasiswa.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Peranan Pemuda

Sejarah menunjukkan banyak deretan nama yang terukir sebagai pembaharu peradaban manusia dari mulai tingkat nasional sampai tingkat internasional. Peranan pemuda telah terbukti dalam perjalanan sejarah kehidupan manusia. Perubahan apa pun yang terjadi di masyarakat selalu diawali dan dipelopori oleh para pemuda. Risalah Islam dan perintah perubahan hanya dapat dilakukan oleh pemuda. Di zaman Rasulullah, penegak dan pejuang dakwah mayoritas dibawa oleh para pemuda, begitu juga perubahan-perubahan yang terjadi di berbagai kelompok masyarakat dilakukan oleh para pemuda.

Revolusi besar di banyak Negara di motori oleh pemuda. Di Indonesia, rezim Soeharto di jatuhkan oleh gerbong reformasi pelajar dan mahasiswa. Pelajar dan mahasiswa menjadi momok bagi penguasa zalim. Mereka adalah nyawa gerakan pemuda dan masyarakat. Unsure pemuda adalah pelajar, mahasiswa dan mereka yang berusia 15-45 tahun. Pemuda pada zaman terdahulu telah menjadi pelaku sejarah untuk dikenang oleh kita semua. Dan, sekarang adalah zamannya para pemuda untuk menjadi pembaharu kea rah yang lebih baik.

Kejahiliyahan tatanan kehidupan sekarang adalah tanggung jawab para pemuda untuk mengubahnya. Tingginya tingkat kriminalitas seperti perampokan, perjudian, pembunuhan, pemerkosaan, mabuk-mabukan, pornografi dan pornoaksi sampai kepada kedzaliman pemerintah yang tak mampu menegakkan keadilan adalah menjadi tanggung jawab pemuda sekarang untuk menjadi pelaku sejarah sebagai pembaharu kea rah yang lebih baik. Ironisnya tindakan kriminalitas itu justru diperankan oleh para pemuda. Sebagai kaum intelektual yang bermoral, mahasiswa harus bangkit dan memainkan peranannya yang sesungguhnya. Kehadiran pemuda sangat dinantikan untuk menyokong perubahan dan pembaharuan. Aksi reformasi disemua bidang adalah agenda pemuda kearah masyarakat madani. Reformasi tidak mungkin dilakukan oleh orang tua dan anak-anak.

a. Peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.

b. Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua :

Pertama : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).

Kedua : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).

Ketiga : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).

Dalam peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali yang diciptakan oleh W.R. Soepratman. Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.

Apabila kita ingin mengetahui lebih lanjut mengenai banyak hal tentang Sumpah Pemuda kita bisa menunjungi Museum Sumpah Pemuda yang berada di Gedung Sekretariat PPI Jl. Kramat Raya 106 Jakarta Pusat. Museum ini memiliki koleksi utama seperti biola asli milik Wage Rudolf Supratman yang menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta foto-foto bersejarah peristiwa Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang menjadi tonggak sejarah pergerakan pemuda-pemudi Indonesia.

B. Semangat Sumpah Pemuda Mempererat Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Dalam peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan W.R. Soepratman pertama kali dinyanyikan. Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.

Tidak kalah penting pada peristiwa ini, bendera Merah Putih dikibarkan. Sumpah Pemuda, adalah Ikrar dalam kongres pemuda ke II di Jakarta yang menyatakan bahwa Putra Putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, menjunjung bahasa persatuan dan berbangsa satu yaitu Indonesia. Hal ini bukan omong kosong dan bukan pekerjaan dalam waktu singkat, dan juga bukan hasil usaha dari beberapa gelintir orang saja. Sejak kebangkitan nasional 20 Mei 1908, para pemuda Indonesia telah membuktikan diri kepada penguasa Kolonial bahwa anggapan jelek bangsa Indonesia itu “Laksheid”, yang berarti pemalas, tidak bersatu serta saling bermusuhan, adalah tidak benar.

Proses panjang sejak terbentuknya gerakan kepemudaan yang berciri kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes, Jong Ambon dan sebagainya maka pada tanggal 31 Desember 1930 jam 12 malam, mereka telah berfusi menjadi satu dan membentuk Perkoempoelan “INDONESIA MOEDA”. Indonesia Muda tidak punya afiliasi dengan partai politik manapun juga, dalam sejarahnya merupakan cikal bakal gerakan kepemudaan menuju Indonesia merdeka. Meskipun organisasi ini sudah tidak eksis lagi dizaman pendudukan Jepang, para kadernya tetap aktif memperjuangkan cita-cita mereka secara terselubung. Dengan menimba ilmu dan teknologi kemiliteran dizaman Jepang para pemuda bergabung dalam Tentara Nasional Indonesia, yang ahirnya pada periode Revolusi Kemerdekaan 1945-1949, dengan semangat, cita-cita Sumpah Pemuda, ikut serta mewujudkan Proklamasi Kemerdekaan R.I, 17 Agustus 1945.

Sebagai putera dan puteri Indonesia sudah seharusnya kita mengingat, menghormati, mengenang, menghayati hari sumpah pemuda. Mungkin sebagian muda dari kita ada yang ingat, tetapi ada juga yang lupa. kalau ingat, itu memang sudah seharusnya, tetapi kalau lupa rasanya sangat miris. Kita harus mengenal para pahlawan kita, bagaimana sumpah pemuda bisa terjadi, dan pada tanggal berapa sumpah pemuda diikrarkan.

Tentunya sebagai pemuda-pemudi Indonesia kita harus bisa melakukan sesuatu yang lebih, minimal bagi diri sendiri misalnya, paling tidak kita ingat kapan  hari Sumpah Pemuda. Dan untuk menghormati hari Sumpah Pemuda paling tidak bisa diwujudkan dengan kegiatan sehari-hari kita seperti yang tadinya tidak pernah lari pagi jadi lari pagi pada hari H. Yang tadinya pemarah jadi pemaaf. Yang tadinya berangkat sekolah sering telat jadi datang lebih awal. Bekerja dengan hati gembira dll. Hendaknya hal itu semua tidak di lakukan hanya pada hari H saja, tapi di lakukan secara kontinyu sebagai wujud semangat jiwa muda kita, seperti halnya semangat jiwa muda para pahlawan kita.

C. Makna dan Sejarah Nasionalisme Indonesia

Ketika berbicara mengenai nasionalisme dalam konteks Indonesia pada saat ini, tentunya tidak terlepas dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan perkembangan kontemporer kita saat ini. Kedua hal ini masih terus mempengaruhi nasionalisme, baik itu dari aspek definisi atau aspek praktikal, dan tidak hanya saling mempengaruhi, namun juga akan memunculkan silang pendapat antara golongan yang berusaha menghidupkan kembali romantisme masa lalu dan golongan yang berusaha memahami realitas pada saat ini.

Perdebatan antara sejarah dan perkembangan saat ini dan kemudian muncul pro-kontra antara golongan yang satu dengan yang lain akan selalu memunculkan sebuah pertanyaan besar, yaitu: masih relevankah nasionalisme untuk Indonesia? Pertanyaan yang sebenarnya hanya membutuhkan kalimat selanjutnya yang cukup panjang ini, seakan tidak pernah tenggelam di antara isu-isu lain yang berkembang, karena pada akhirnya isu-isu tersebut bisa dikaitkan dengan nasionalisme.

Nasionalisme adalah suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (nation) dengan mewujudkan suatu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia (Wikipedia, 2006). Dalam konteks Indonesia, pengertian ini dapat kita cocokkan dengan sejarah Indonesia ketika tahun 1945, yang pada saat itu para pendiri bangsa berusaha membuat sebuah nasionalisme yang dapat mempersatukan seluruh masyarakat yang berada dalam wilayah jajahan Belanda. Nasionalisme yang kemudian dihasilkan adalah sebuah nasionalisme yang berdasarkan kepada kesamaan nasib. Konsep yang dihasilkan para pendiri bangsa tersebut, berhasil untuk mempersatukan wilayah yang kita kenal sebagai Indonesia pada saat ini.

Nasionalisme akan mudah untuk dimengerti dan diimplementasikan jika ada musuh bersama. Jika musuh ini hilang, maka ikatan nasionalisme akan mengendur dengan sendirinya. Preseden yang muncul di Indonesia mempertegas pendapat ini. Jika kita melihat ke tahun 1940-an, ketika Belanda masih berusaha menguasai Indonesia melalui Agresi Militer I dan II, nasionalisme di kalangan masyarakat masih kuat, sehingga perjuangan Indonesia di Konferensi Meja Bundar 1949 membuahkan hasil diakuinya kedaulatan Indonesia sebagai sebuah negara. Namun pasca-KMB 1949, Indonesia kehilangan musuh bersama dan golongan-golongan dalam masyarakat lebih mengutamakan kepentingan kelompok yang ditandai dengan jatuh bangunnya kabinet selama masa tersebut.

Nasionalisme sempat muncul meski sebentar, ketika Indonesia mengeluarkan sikap politik luar negeri terhadap Malaysia dengan Dwikora. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena kondisi internal dalam Indonesia memang sedang rapuh. Setelah itu, nasionalisme dapat dimunculkan kembali ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) dijadikan sebagai musuh bersama karena dianggap sebagai biang keladi Gerakan 30 September. Lebih dari 30 tahun kemudian, Indonesia memperoleh kembali sebuah musuh bersama, yaitu Orde Baru, sehingga gerakan nasionalisme dapat menghasilkan reformasi dan demokrasi yang selama 30 tahun dikebiri. Namun ketika musuh bersama tersebut telah berhasil dilumpuhkan, kepentingan kelompok kembali muncul mengesampingkan nasionalsime itu sendiri. Kejadian-kejadian historis di Indonesia tersebut mempertegas bahwa nasionalisme dapat secara efektif diimplementasikan apabila masyarakat dalam sebuah negara memiliki musuh bersama.

D. Nasionalisme dan Gerakan Mahasiswa

Dari preseden yang ada mengenai nasionalisme, musuh bersama menjadi sebuah kebutuhan jika nasionalsime ingin mempunyai tempat dalam kehidupan Indonesia. Namun pencarian terhadap musuh bersama ini tidaklah sekadar mencari subyek ataupun obyek yang sekadar dijadikan tumbal caci maki oleh civil society (yang di dalamnya terdapat juga gerakan mahasiswa), melainkan juga harus mencari subyek atau obyek yang memang harus dijadikan musuh bersama karena pengaruhnya yang buruk bagi masyarakat.

Nasionalisme akan selalu berkaitan erat dengan masalah kedaulatan sebuah negara. Kedaulatan adalah sebuah hal yang mutlak dimiliki oleh sebuah negara dan tidak bisa diganggu gugat oleh negara atau pihak manapun. Pada perkembangan saat ini, kedaulatan negara tidaklah lagi menjadi hal yang mutlak untuk dipraktekkan. Karena dengan munculnya berbagai macam organisasi internasional (OI) dan semakin kuatnya posisi tawar negara-negara maju di dalam OI tersebut, kedaulatan negara menjadi semakin kabur. Prinsip koordinatif yang dikembangkan ketika awal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) muncul menggantikan Liga Bangsa-bangsa (LBB) tidak lagi tegas jika sudah berhadapan dengan kepentingan negara-negara besar. Nasionalisme telah digantikan oleh globalisasi sedikit demi sedikit.

Globalisasi yang lahir dari budaya sebuah bangsa, dan dijadikan budaya tunggal dunia. Indonesia terkena dampak dari globalisasi ini. Hukum positif Indonesia tidak lagi menjadi kewenangan legislatif, melainkan harus mematuhi regulasi internasional yang dihasilkan oleh OI yang dikontrol oleh negara-negara maju. Nasionalisme sebuah bangsa menentukan arah pergerakan bangsa tersebut kepada pilihan yang lebih buruk atau baik. Negara-negara maju pada saat ini menekankan pentingnya nasionalisme ketika mereka sedang berada dalam posisi sebagai negara sedang berkembang.

Ketika posisi mereka berubah, nasionalisme mereka tidak ikut berubah dan justru berusaha menyebarkan nasionalisme mereka ke negara lain. Jadi, ketika muncul pertanyaan: masih relevankah nasionalisme untuk Indonesia, hal ini harus dijawab dengan mudah jika melihat preseden dan memiliki visi yang tegas mengenai bangsa ini. Bangsa yang tidak memiliki kedaulatan penuh atas wilayahnya, akan selalu menjadi bangsa kelas dua di lingkungan internasional, akan selalu menjadi bangsa konsumtif yang dependen terhadap negara lain. Kedaulatan penuh dapat diwujudkan jika masyarakat dalam suatu bangsa memiliki visi yang kuat untuk mengarahkan bangsanya menjadi lebih baik. Sebuah visi yang kuat dapat lahir jika dilandaskan dengan nasionalisme. Tanpa adanya nasionalisme, tidak akan ada visi, tidak akan ada kedaulatan, dan tidak akan ada perubahan bagi bangsa ini.

Lalu bagaimana mahasiswa Indonesia (baca: mahasiswa UKSW) mewujudkan nasionalisme yang erat kaitannya dengan musuh bersama? Tindakan apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa Indonesia? Berbagai cara diwujudkan oleh civil society dalam mencari musuh pada saat ini untuk menunjukkan nasionalisme mereka, terlepas dari kepentingan yang mereka usung. Ada yang melalui tindakan elitis, persuasif, underground, sampai pada taraf anarkis. Isu yang muncul pun semakin beragam seperti program peningkatan kualitas pendidikan, penghapusan utang luar negeri, nasionalisasi perusahaan multinasional, anti OI, dan lainnya. Tindakan mewujudkan nasionalisme melalui metode-metode dan isu-isu tersebut terjadi dengan mendasar pada kondisi yang berkembang pada saat ini. Mahasiswa Indonesia tidak harus terikat dengan metode-metode dan isu-isu yang ada.

Kajian ilmiah menjadi sebuah keharusan bagi mahasiswa Indonesia yang merupakan civil society berbasis kaum intelektual untuk dapat mengidentifikasi musuh bersama yang ingin dikedepankan. Tanpa adanya kajian ilmiah yang mendalam, aksi dalam mengedepankan musuh bersama untuk membangkitkan kembali nasionalisme hanya akan menjadi aksi taktis yang tak ada kontinuitasnya. Kajian ini juga tidak hanya sekadar bergerak dalam isu-isu terkini saja, namun juga harus mampu mengantisipasi kemungkinan yang terjadi pada masa yang akan datang, sehingga mahasiswa Indonesia tidak tergagap-gagap untuk menghadapi perubahan masyarakat yang drastis.

Kajian ilmiah yang menjadi suatu keharusan bagi mahasiswa Indonesia dalam membangkitkan kembali nasionalisme, harus mampu diwujudkan jika mahasiswa Indonesia tidak ingin terjebak dalam romantisme masa lalu. Mahasiswa Indonesia harus sungguh-sungguh dalam mempersiapkan dan meningkatkan kualitas dirinya agar mampu membangkitkan kembali nasionalisme Indonesia. Ketika kualitas diri mahasiswa Indonesia meningkat dan kajian ilmiah semakin menguat, mahasiswa Indonesia (termasuk mahasiswa UKSW) akan mampu menjadi think tank bagi pergerakan nasionalisme di Indonesia.

BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan dan rumusan masalah yang telah dijawab dalam pembahasan ini, maka disebutkan beberapa kesimpulan di bawah ini:

1.      Peran pemuda dalam menegakkan keadilan, peran pemuda yang menolak kekeuasaan. Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemuda yang tak kenal waktu yang selalu berjuang dengan penuh semangat biarpun jiwa raga menjadi taruhannya. Indonesia merdeka berkat pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang seperti Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Bung Tomo dan lain-lain dengan penuh mengorbankan dirinya untuk bangsa dan Negara. Sejarah menunjukkan banyak deretan nama yang terukir sebagai pembaharu peradaban manusia dari mulai tingkat nasional sampai tingkat internasional. Peranan pemuda telah terbukti dalam perjalanan sejarah kehidupan manusia. Perubahan apa pun yang terjadi di masyarakat selalu diawali dan dipelopori oleh para pemuda. Risalah Islam dan perintah perubahan hanya dapat dilakukan oleh pemuda. Di zaman Rasulullah, penegak dan pejuang dakwah mayoritas dibawa oleh para pemuda, begitu juga perubahan-perubahan yang terjadi di berbagai kelompok masyarakat dilakukan oleh para pemuda.

2.      Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.

3.      Nasionalisme adalah suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (nation) dengan mewujudkan suatu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia (Wikipedia, 2006). Dalam konteks Indonesia, pengertian ini dapat kita cocokkan dengan sejarah Indonesia ketika tahun 1945, yang pada saat itu para pendiri bangsa berusaha membuat sebuah nasionalisme yang dapat mempersatukan seluruh masyarakat yang berada dalam wilayah jajahan Belanda. Nasionalisme yang kemudian dihasilkan adalah sebuah nasionalisme yang berdasarkan kepada kesamaan nasib. Konsep yang dihasilkan para pendiri bangsa tersebut, berhasil untuk mempersatukan wilayah yang kita kenal sebagai Indonesia pada saat ini.

4.      Nasionalisme akan selalu berkaitan erat dengan masalah kedaulatan sebuah negara. Kedaulatan adalah sebuah hal yang mutlak dimiliki oleh sebuah negara dan tidak bisa diganggu gugat oleh negara atau pihak manapun. Kajian ilmiah yang menjadi suatu keharusan bagi mahasiswa Indonesia dalam membangkitkan kembali nasionalisme, harus mampu diwujudkan jika mahasiswa Indonesia tidak ingin terjebak dalam romantisme masa lalu. Mahasiswa Indonesia harus sungguh-sungguh dalam mempersiapkan dan meningkatkan kualitas dirinya agar mampu membangkitkan kembali nasionalisme Indonesia. Ketika kualitas diri mahasiswa Indonesia meningkat dan kajian ilmiah semakin menguat, mahasiswa Indonesia (termasuk mahasiswa UKSW) akan mampu menjadi think tank bagi pergerakan nasionalisme di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

www.museumsumpahpemuda.go.id

http://sosbud.kompasiana.com/2010/02/23/peranan-pemuda-dalam-sosialisasi-bermasyarakat/

http://waspada.co.id/index.php/images/flash/index.php?option=com_content&view=article&id=76031:karakter-pemuda-indonesia-memprihatinkan&catid=17&Itemid=30

http://www.google.co.id/search?q=pemuda+masa+depan+bangsa&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a

http://www.google.co.id/search?q=karakter+pemuda&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a

http://waspada.co.id/index.php/images/flash/index.php?option=com_content&view=article&id=76031:karakter-pemuda-indonesia-memprihatinkan&catid=17&Itemid=30

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=62522:gubsu-pemuda-harus-miliki-jiwa-nasionalisme&catid=15:sumut&Itemid=28

http://portal.sarapanpagi.org/sosial-politik/sejarah-memperingati-sumpah-pemuda-28-oktober-1928-untuk-memperkuat-kesatuan-bangsa.html

http://groups.yahoo.com/group/soasiu/message/2965

http://www.google.co.id/search?client=opera&rls=en&q=pemuda+masa+depan+bangsa&sourceid=opera&ie=utf-8&oe=utf-8

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

I. Pendahuluan

Negara adalah suatu daerah atau wilayah yang ada di permukaan bumi di mana terdapat pemerintahan yang mengatur ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan keamanan, dan lain sebagainya. Di dalam suatu negara minimal terdapat unsur-unsur negara seperti rakyat, wilayah, pemerintah yang berdaulat serta pengakuan dari negara lain.

a) Pengertian Negara Berdasarkan Pendapat Para Ahli :

Ø  Roger F. Soltau : Negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau mengendalikan persoalan bersama atas nama masyarakat.

Ø  Georg Jellinek : Negara merupakan organisasi kekuasaan dari kelompok manusia yang telah berdiam di suatu wilayah tertentu.

Ø  Prof. R. Djokosoetono : Negara adalah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama.

Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berbentuk republik yang telah diakui oleh dunia internasional dengan memiliki ratusan juta rakyat, wilayah darat, laut dan udara yang luas serta terdapat organisasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang berkuasa. Negara merupakan suatu organisasi dari rakyat negara tersebut untuk mencapai tujuan bersama dalam sebuah konstitusi yang dijunjung tinggi oleh warga negara tersebut. Indonesia memiliki Undang-Undang Dasar 1945 yang menjadi cita-cita bangsa secara bersama-sama.

b) Fungsi-Fungsi Negara :

1)      Mensejahterakan serta memakmurkan rakyat
Negara yang sukses dan maju adalah negara yang bisa membuat masyarakat bahagia secara umum dari sisi ekonomi dan sosial kemasyarakatan.

2)      Melaksanakan ketertiban
Untuk menciptakan suasana dan lingkungan yang kondusif dan damani diperlukan pemeliharaan ketertiban umum yang didukung penuh oleh masyarakat.

3)      Pertahanan dan keamanan
Negara harus bisa memberi rasa aman serta menjaga dari segala macam gangguan dan ancaman yang datang dari dalam maupun dari luar.

4)      Menegakkan keadilan
Negara membentuk lembaga-lembaga peradilan sebagai tempat warganya meminta keadilan di segala bidang kehidupan.[1]

II. Pengertian dan Konsep Pendidikan Kewarganegaraan

a) Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan

Kewarganegaraan dalam bahasa latin disebutkan “Civis”, selanjutnya dari kata “Civis” ini dalam bahasa Inggris timbul kata ”Civic” artinya mengenai warga negara atau kewarganegaraan. Dari kata “Civic” lahir kata “Civics”, ilmu kewarganegaraan dan Civic Education, Pendidikan Kewarganegaraan.

Pelajaran Civics mulai diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun 1790 dalam rangka “mengamerikakan bangsa Amerika” atau yang terkenal dengan nama “Theory of Americanization”. Sebab seperti diketahui, bangsa Amerika berasal dari berbagai bangsa yang datang di Amerika Serikat dan untuk menyatukan menjadi bangsa Amerika maka perlu diajarkan Civics bagi warga negara Amerika Serikat. Dalam taraf tersebut, pelajaran Civics membicarakan masalah ”government”, hak dan kewajiban warga negara dan Civics merupakan bagian dari ilmu politik.[2]

Beberapa definisi Pendidikan kewarganegaraan menurut para ahli :

Ø  Azzumardi Azra : “Pendidikan Kewarganegaraan adalah pendidikan yang mengkaji dan membahas tentang pemerintahan konstitusi lembaga-lembaga demokrasi rule of law, HAM, hak dan  kewajiban warganegara serta proses demokrasi.

Ø  Zamroni : “Pendidikan Kewarganegaraan adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk mempersiapkan warga masyarakat berfikir kritis dan bertindak demokratis.”

Ø  Merphin Panjaitan : “Pendidikan Kewarganegaraan adalah pendidkan demokrasi yang bertujuan untuk mendidik generasi muda menjadi warganegara yang demokratis dan partisipatif melalui suatu pendidikan yang dialogial.”

Ø  Civitas Internasional : “Civic Education adalah pendidikan yang mencakup pemahaman dasar tentang cara kerja demokrasi dan lembaga-lembaganya, pemahaman tentang rule of law, HAM, penguatan ketrampilan partisipatif yang demokratis, pengembangan budaya demokratis dan perdamaian.”

Ø  Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas : “Kewarganegaraan merupakan keanggotaan seseorang dalam satuan tertentu (secara khusus: Negara) yang dengannya membawa hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik. Seseorang dengan keanggotaan yang demikian disebut warga Negara. Seseorang warga Negara berhak memiliki paspor dari Negara yang dianggotainya.” .[3]

b) Konsep Pendidikan Kewarganegaraan

Konsep Pendidikan kewarganegaraan dalam  sebagai citizenship education, secara substantif dan pedagogis didesain untuk mengembangkan warganegara yang cerdas dan baik untuk seluruh jalur dan jenjang pendidikan. Sampai saat ini bidang itu sudah menjadi bagian inheren dari instrumentasi serta praksis pendidikan nasional Indonesia dalam lima status.

Pertama, sebagai mata pelajaran di sekolah. Kedua, sebagai mata kuliah di perguruan tinggi. Ketiga, sebagai salah satu cabang pendidikan disiplin ilmu pengetahuan sosial dalam kerangka program pendidikan guru. Keempat, sebagai program pendidikan politik yang dikemas dalam bentuk Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Penataran P4) atau sejenisnya yang pernah dikelola oleh Pemerintah sebagai suatun crash program. Kelima, sebagai kerangka konseptual dalam bentuk pemikiran individual dan kelompok pakar terkait, yang dikembangkan sebagai landasan dan kerangka berpikir mengenai pendidikan kewarganegaraan dalam status perta­ma, kedua, ketiga, dan keempat.[4]

III. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Kewarganegaraan

Hakikat pendidikan kewarganegaraan adalah upaya sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bagi warga negara dengan menumbuhkan jati diri dan moral bangsa sebagai landasan pelaksanaan hak dan kewajiban dalam belanegara, demi kelangsungan kehidupan dan kejayaan bangsa dan negara.

Tujuan pendidikan kewarganegaraan adalah mewujudkan warga negara sadar belanegara berlandaskan pemahaman politik kebangsaan, dan kepekaan mengembangkan jati diri dan moral bangsa dalam perikehidupan bangsa.[5]

Standarisi pendidikan kewarganegaraan adalah pengembangan :

1. Nilai-nilai cinta tanah air;
2. Kesadaran berbangsa dan bernegara;
3. Keyakinan terhadap Pancasila sebagai ideology negara;
4. Nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia dan lingkungan hidup;
5. Kerelaan berkorban untuk masyarakat, bangsa, dan negara, serta
6. Kemampuan awal belanegara.

Berdasarkan Kep. Dirjen Dikti No. 267/Dikti/2000, tujuan Pendidikan Kewarganegaraan mencakup[6] :
1. Tujuan Umum
Untuk memberikan pengetahuan dan kemampuan dasar kepada mahasiswa mengenai hubungan antara warga negara dengan negara serta PPBN agar menjadi warga negara yang diandalkan oleh bangsa dan negara. untuk mengembangkan wawasan mahasiswa tentang makna pendidikan bela negara sebagai salah satu kewajiban warganegara sesuai dengan Pasal 30 UUD 1945. Kedua mata kuliah ini merupakan mata kuliah yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa, yang mulai tahun 2000 disebut sebagai Mata Kuliah Pembinaan Kepribadian atau MKPK.

2. Tujuan Khusus

1)      Agar mahasiswa dapat memahami dan melaksanakan hak dan kewajiban secara santun, jujur, dan demokratis serta ikhlas sebagawai WNI terdidik dan bertanggung jawab.

2)      Agar mahasiswa menguasai dan memahami berbagai masalah dasar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta dapat mengatasinya dengan pemikiran kritis dan bertanggung jawab yang berlandaskan Pancasila, Wawasan Nusantara, dan Ketahanan Nasional

3)      Agar mahasiswa memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kejuangan, cinta tanah air, serta rela berkorban bagi nusa dan bangsa.

IV. Sejarah Perkembangan Pendidikan Kewarganegaraan

a) Pada Masa Orde Lama

Pendidikan kewarganegaraan telah mengalami perkembangan yang fluktuatif, baik dalam kemasan maupun substansinya. Pengalaman tersebut di atas menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 1975, di Indonesia kelihatannya terdapat kerancuan dan ketidakajekan dalam konseptualisasi civics, pendidikan kewargaan negara, dan pendidikan IPS. Hal itu tampak dalam penggunaan ketiga istilah itu secara bertukar-pakai. Selanjutnya, dalam Kurikulum tahun 1975 untuk semua jenjang persekolahan yang diberlakukan secara bertahap mulai tahun 1976 dan kemudian disempurnakan pada tahun 1984, sebagai pengganti mata pelajaran Pendidikan Kewargaan Negara mulai diperkenalkan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang berisikan materi dan pengalaman belajar mengenai Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) atau “Eka Prasetia Pancakarsa”.

Perubahan itu dilakukan untuk mewadahi missi pendidikan yang diamanatkan oleh Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau P4 (Depdikbud:1975a, 1975b, 1975c). Mata pelajaran PMP ini bersifat wajib mulai dari kelas I SD s/d kelas III SMA/Sekolah Kejuruan dan keberadaannya terus dipertahankan dalam Kurikulum tahun 1984, yang pada dasarnya merupakan penyempurnaan Kurikulum tahun 1975.

Di dalam Undang-Undang No 2/1989 tentang Pokok-Pokok Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN), yang antara lain Pasal 39, menggariskan adanya Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan sebagai bahan kajian wajib kurikulum semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan. Sebagai implikasinya, dalam Kurikulum persekolahan tahun 1994 diperkenalkan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang berisikan materi dan pengalaman belajar yang diorganisasikan secara spiral/artikulatif atas dasar butir-butir nilai yang secara konseptual terkandung dalam Pancasila.

Bila dianalisis dengan cermat, ternyata baik istilah yang dipakai, isi yang dipilih dan diorganisasikan, dan strategi pembelajaran yang digunakan untuk mata pelajaran Civics atau PKN atau PMP atau PPKn yang berkembang secara fluktuatif hampir empat dasawarsa (1962-1998) itu, menunjukkan indikator telah terjadinya ketidakajekan dalam kerangka berpikir, yang sekaligus mencerminkan telah terjadinya krisis konseptual, yang berdampak pada terjadinya krisis operasional kurikuler.[7]

b) Pada Masa Orde Baru

Krisis atau dislocation menurut pengertian Kuhn (1970) yang bersifat konseptual tersebut tercermin dalam ketidakajekan konsep seperti: civics tahun 1962 yang tampil dalam bentuk indoktrinasi politik; civics tahun 1968 sebagai unsur dari pendidikan kewargaan negara yang bernuansa pendidikan ilmu pengetahuan sosial; PKN tahun 1969 yang tampil dalam bentuk pengajaran konstitusi dan ketetapan MPRS; PKN tahun 1973 yang diidentikkan dengan pengajaran IPS; PMP tahun 1975 dan 1984 yang tampil menggan­tikan PKN dengan isi pembahasan P4; dan PPKn 1994 sebagai penggabungan bahan kajian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang tampil dalam bentuk pengajaran konsep nilai yang disaripati­kan dari Pancasila dan P4.

Krisis operasional tercermin dalam terjadinya perubahan isi dan format buku pelajaran, penataran guru yang tidak artikulatif, dan fenomena kelas yang belum banyak bergeser dari penekanan pada proses kognitif memorisasi fakta dan konsep. Tampaknya semua itu terjadi karena memang sekolah masih tetap diperlakukan sebagai socio-political institution, dan masih belum efektifnya pelaksanaan metode pembelajaran serta secara konseptual, karena belum adanya suatu paradigma pendidikan kewarganegaraan yang secara ajek diterima dan dipakai secara nasional sebagai rujukan konseptual dan operasional.[8]

Kini pada era reformasi pasca jatuhnya sistem politik Orde Baru yang diikuti dengan tumbuhnya komitmen baru kearah perwujudan cita-cita dan nilai demokra­si konstitusional yang lebih murni, keberadaan dan jati diri mata pelajaran PPKn kembali dipertanyakan secara kritis. Dalam status kedua, yakni sebagai mata kuliah umum (MKU) pendidikan kewarganegaraan diwadahi oleh mata kuliah Pancasila dan Kewiraan.

Dalam status ketiga, yakni sebagai pendidikan disiplin ilmu (Somantri:1998), pendidikan kewarganegaraan merupakan program pendidikan disiplin ilmu sosial sebagai program pendidikan guru mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan di LPTK (IKIP/ STKIP/ FKIP) Jurusan atau Program Studi Civics dan Hukum pada tahun 1960-an, atau Pendidikan Moral Pancasila dan Kewarganegaraan (PMPKn) pada saat ini. Bila dikaji dengan cermat, rumpun mata kuliah pendidi­kan kewarganegaraan dalam program pendidikan guru tersebut pada dasarnya merupakan program pendidikan disiplin ilmu pengetahuan sosial bidang pendidikan kewarganegaraan. Secara konseptual pendidikan disiplin ilmu ini memusatkan perhatian pada program pendidikan disiplin ilmu politik, sebagai substansi induknya. Secara kurikuler program pendidikan ini berorientasi kepada pengadaan dan peningkatan kemampuan profesional guru pendidikan kewarganegaraan.

Dampaknya, secara akademis dalam lembaga pendidikan tinggi keguruan itu pusat perhatian riset dan pengembangan cender­ung lebih terpusat pada profesionalisme guru. Sementara itu riset dan pengembangan epistemologi pendidikan kewarganegar­aan sebagai suatu sistem pengetahuan, belum banyak mendapat­kan perhatian. Dalam status keempat, yakni sebagai crash program pendidikan politik bagi seluruh lapisan masyarakat, Penataran P-4 mulai dari Pola 25 jam sampai dengan Pola 100 jam untuk para Manggala yang telah berjalan hampir 20 tahun dengan Badan Pembina Pelaksanaan Pendidikan P-4 atau BP7 Pusat dan Propinsi sebagai pengelolanya, dapat dianggap sebagai suatu bentuk pendidikan kewarganegaraan yang bersifat non-formal.
Seiring dengan semakin kuatnya tuntutan demokratisasi melalui gerakan reformasi baru-baru ini, dan juga dilandasi oleh berbagai kenyataan sudah begitu maraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme selama masa Orde Baru, tidak dapat dielakkan tudingan pun sampai pada Penataran P-4 yang dianggap tidak banyak membawa dampak positif, baik terhadap tingkat kematangan berdemokrasi dari warganegara, maupun terhadap pertumbuhan kehidupan demokrasi di Indonesia.

Sebagai implikasinya, sejalan dengan jiwa dan semangat Ketetapan MPR Nomor XVIII/MPR/1998 tentang Pencabu­tan Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakar­sa) dan Penetapan tentang Penegasan Pancasila sebagai Dasar Negara, kini semua bentuk penataran P-4 telah dibekukan, dan pada tanggal 30 April 1999 BP7 secara resmi di likuidasi. Kini tumbuh kebutuhan baru untuk mencari bentuk pendidikan politik dalam bentuk pendidikan kewarganegaraan yang lebih cocok untuk latar pendidikan non formal, yang diharapkan benar-benar dapat meningkatkan kedewasaan seluruh warganegara yang mampu berpikir, bersi­kap, dan bertindak sesuai dengan cita-cita, nilai dan prinsip demokrasi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas kehidupan demokrasi di Indonesia.

Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan adanya sistem pendidikan demokrasi untuk seluruh lapisan masyarakat, terasa menjadi sangat mendesak.Dalam status kelima, yakni sebagai suatu kerangka konseptual sistemik pendidikan kewarganegaraan terkesan masih belum solid karena memang riset dan pengembangan epistemologi pendidikan kewarganegaraan belum berjalan secara institusional, sistematis dan sistemik.[9]

V. Perbandingan Perkembangan Pendidikan Kewarganegaraan

a) Pada Masa Orde Lama

Mata Pelajaran Kewargaan Negara telah mengalami revitalisasi dari masa ke masa. Pada orde lama dan perkembangannya, sebelum mata pelajaran pendidikan Kewargaan Negara, kita pernah mengenal Pendidikan Pancasiladan Kewarganegaraan (PPKn) pada kurikulum 1994, Pendidikan Moral Pancasila (PMP) pada kurikulum 1984, PKN pada kurikulum 1973.

Civics tahun 1962 yang tampil dalam bentukin doktrinasi politik; civics tahun 1968 sebagai unsure dari pendidikan kewargaannegara yang bernuansa pendidikan ilmu pengetahuan sosial; PKN tahun 1969 yang tampil dalam bentuk pengajaran konstitusi dan ketetapan MPRS; PKN tahun 1973 yang di identikkan dengan pengajaran IPS; PMP tahun 1975 dan 1984 yang tampil menggantikan PKN dengan isi pembahasan P4; dan PPKn 1994 sebagai penggabungan bahan kajian Pendidikan Pancasiladan Kewarganegaraan yang tampil dalam bentuk pengajaran konsepnilai yang di saripatikan dari Pancasila dan P4. Krisisoperasional tercermin dalam terjadinya perubahan isi dan format buku pelajaran, penataran guru yang tidak artikulatif, dan fenomena kelas yang belum banyak bergeser dari penekanan pada proses kognitif memorisasi fakta dan konsep.[10]

Landasan Hukum
1) UUD 1945, Alinea kedua dan keempat, Pasal 27 (1), Pasal 30 (1), Pasal 31 (1).
2) UU No. 20 tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan dan Keamanan Negara RI (jo. UU No. 1 tahun 1988).
3) UU No 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
4) Kep. Dirjen Dikti No. 267/dikti/kep./2000 tentang penyempurnaan kurikulum Inti Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MKPK) PKn pada PT di Indonesia.

b) Pada Masa Orde baru

Orde Baru adalah suatu tatanan seluruh perikehidupan rakyat, bangsa dan negara yang diletakkan kembali kepada pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Dengan kata lain, Orde Baru adalah suatu orde yang mempunyai sikap dan tekad untuk mengabdi pada kepentingan rakyat dan nasional dengan dilandasi oleh semangat dan jiwa Pancasila serta UUD 1945. Lahirnya Orde Baru diawali dengan dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret 1966. Dengan demikian Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) sebagai tonggak lahirnya Orde Baru.[11]

Menurut Azyumardi Azra (2001), setidaknya terdapat tiga faktor mengapa pendidikan kewarganegaraan nasional dalam beragam bentuknya mengalami kegagalan. Pertama, menyangkut substantif, PPKn, mata kuliah Pancasila dan Kewiraan tidak disiapkan sebagai materi pendidikan demokrasi dan kewargaan. Kedua, menyangkut strategi pembelajaran mata pelajaran dan kedua Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) bersifat indoktrinatif, regimentatif, monologis dan tidak partisipatif.
Ketiga, ketiga subjek tersebut lebih bersifat teoritis daripada praksis. Walhasil hasil pembelajaran ketiga model pendidika kewargaan produk Orde Baru itu lebih tepat dianalogikan dengan ungkapan klasik ”jauh panggang dari api” ; kurang menyentuh realitas yang berkembang di masyarakat lokal maupun internasional.

VI. Kesimpulan

Paradigma pendidikan kewarganegaraan yang kini ada kelihatannya masih belum sinergistik. Kerangka acuan teoritik yang menjadi titik tolak untuk merancang dan melaksanakan pendidikan kewarganegaraan dalam masing-masing statusnya sebagai mata pelajaran dalam kurikulum sekolah, atau sebagai program pendidikan disiplin ilmu dan program guru, atau sebagai pendidikan politik untuk masyarakat mengesankan satu sama lain tidak saling mendukung secara komprehensif. Sebagai aki­batnya, program pendidikan kewarganegaraan di sekolah, di lembaga pendidikan guru, dan di masyarakat terkesan belum sepenuhnya saling mendukung secara sistemik dan sinergistik.

Secara konseptual “Pendidikan Kewarganegaraan” atau citizenship education merupakan bidang kajian ilmiah pendidikan disiplin ilmu sosial yang bersifat “lintas-bidang keilmuan” dengan intinya ilmu politik, yang secara paradigmatik memiliki saling-keterpautan yang bersifat komplementatif dengan pendidikan ilmu sosial secara keseluruhan[12]. Dalam hal ini, bahwa (a) social studies berpijak terutama pada konsep-konsep dan metode berpikir ilmu-ilmu sosial secara keseluruhan, sedang citizenship education berpijak terutama pada ilmu politik dan sejarah; (b) salah satu dimensi dari social studies adalah citizenship education (NCSS:1994, CICED:1998), khususnya dalam upaya pengembangan intelligent social actor (Banks:1977, NCSS:1994).Dalam konteks proses reformasi menuju Indonesia baru dengan konsepsi masyarakat madani sebagai tatanan ideal sosial-kulturalnya, maka pendidikan kewarganegaraan mengemban missi: sosio-pedagogis, sosio-kultural, dan substantif-akademis.

Perubahan demi perubahan yang dilakukan dari orde lama, orde baru bahkan reformasi  berguling membawa wajah baru pada Pendidikan Kewarganegaraan dalam dunia pendidikan dan aplikasi social. Maka perlu pendalaman pemikiran dalam mengatasi dan memberikan solusi yang solutif di dalamnya. Bukan hanya menjadi tugas pemerintah saja dalam upaya hal tersebut, melainkan individual dan social seluruh warga Negara juga bertanggung jawab memberikan sumbangan konstribusi positif.


[1] (http://organisasi.org/arti-definisi-pengertian-negara-dan-fungsi-negara-pendidikan-kewarganegaraan-pkn)

[2] http://radensomad.com/pengertian-kewarganegaraan.html

[3] http://definisi-pengertian.blogspot.com/2010/04/definisi-pendidikan-kewarganegaraan-pkn.html

[4]http://muhamadsb-tekhnologipendidikan.blogspot.com/2009/03/paradigma-pendidikan-kewarganegaraan.html

[5] http://radensomad.com/pengertian-kewarganegaraan.html

[6] http://organisasi.org/arti-definisi-pengertian-negara-dan-fungsi-negara-pendidikan-kewarganegaraan-pkn

[7]http://muhamadsb-tekhnologipendidikan.blogspot.com/2009/03/paradigma-pendidikan-kewarganegaraan.html

[8] http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=emagazine&id=39&fid=397

[9] http://thara.wordpress.com/2010/02/24/pengertian-dan-pendidikan-kewarganeraan/

[10] blogspot.com/2009/12/sistem-pendidikan-kewaganegaraan-.html

[11] Musthofa, Sh., dkk, 2009, Sejarah 3 : Untuk SMA/MA Kelas XII Program IPA, Jakarta : Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, h. 2.

[12] (Winataputra:1978, Barr dkk:1978, Welton dan Mallan:1988, NCSS:1985, 1994, Somantri:1993).