KEPEMIMPINAN KHARISMATIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Author: Dedi Noviyanto  |  Category: Tak Berkategori

KEPEMIMPINAN KHARISMATIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Oleh :

DEDI NOVIYANTO

(Disampaikan dalam Seminar Mata Kuliah Kepemimpinan Pendidikan Islam – Program Magister Manajemen Pendidikan Islam – UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tanggal 3 Mei 2011)

A.        PENDAHULUAN

1.         Latar Belakang

Kepemimpinan merupakan kekuatan aspirasional, kekuatan semangat, dan kekuatan moral yang kreatif yang mampu mempengaruhi para anggota untuk mengubah sikap, sehingga mereka menjadi konform dengan keinginan pemimpin.  Untuk itu, maka gaya seseorang di dalam memimpin akan amat berpengaruh terhadap organisasi yang dipimpinnya, baik pengaruh itu bersifat positif maupun negatif terhadap organisasi tersebut. Covey sebagaimana dikutip oleh Muhaimin et, al [1]menyatakan bahwa 90 persen dari semua kegagalan kepemimpinan adalah kegagalan pada pada karakter

Beberapa tipe kepemimpinan telah dikenal, di antaranya adalah tipe kepemimpinan Karismatis.  Kepemimpinan karismatik selama ini selalu identik dengan pengamatan pemimpin di politik dan keagamaan bukan kepemimpinan organisasi dan perusahaan. Kharisma berasal dari bahasa yunani diartikan karunia diispirasi ilahi (divenely inspired gift) seperti kemampuan meramal dimasa yang akan datang.
Makalah ini akan membahas, bagaimana tipe kepemimpinan kharismatik tersebut apabila digunakan di dalam memimpin suatu sebuah lembaga pendidikan pada umumnya, dan lembaga pendidikan Islam pada khususnya.  Hal ini sangat menarik, terutama apabila melihat bahwa Islam merupakan agama yang sejak awal sejarahnya tidak pernah lepas dari tipe kepemimpinan kharismatik.  Dunia pendidikan Islam juga demikian, misalnya di dunia pesantren dan madrasah diniyah.  Pengaruh seorang tokoh agama biasanya mendahului sebelum berdirinya suatu lembaga pendidikan Islam tersebut.   Tokoh agama biasanya adalah seorang tokoh yang memiliki kharisma yang sangat besar di mata pengikut agama tersebut.  Tokoh agama yang mempunyai kharisma tersebut dapat menjadi pemimpin yang formal di lembaga pendidikan Islam,  maupun menjadi pemimpin informal.  Akan tetapi pengaruh pemimpin berkharisma tersebut amat sangat besar, walaupun pada kenyataan di lapangan ia hanyalah seorang pemimpin informal.

2.         Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

a.          Apakah kepemimpinan kharismatik itu?

b.         Bagaimanakah penerapannya di dalam dunia pendidikan Islam?

B.        PEMBAHASAN

1.         Definisi Kepemimpinan

Untuk mengetahui bagaimanakah definisi tentang kepemimpinan, maka terlebih dahulu dikemukakan mengenai apa sebenarnya konsep tenatng kepemimpinan tersebut.

a.         Konsep-konsep Kepemimpinan.

Terdapat sedikitnya tiga konsep kepemimpinan, yaitu :[2]

1)         Suatu konsep yang menganggap bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemempauan yang berupa sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang ada pada diri seorang pemimpin.  Menurut konsep ini kepemimpinan diartikan sebagai karunia yang didapatkan seseorang sejak lahir, bukan karena hasil dari sebuah pendidikan.  Konsep ini merupakan konsep kepemimpinan yang paling tua dan paling lama dianut manusia.  Namun masih banyak pandangan manusia, terutama di kalangan masyarakat agraris bahwa seseorang muncul diangkat sebagai pemimpin semata-mata karena ia memiliki sifat-sifat yang baik, atau setidaknya memiliki potensi yang merupakan pembawaan atau bahkan keturunan yang diharapkan dapat menajdi teladan bagi oarang-orang yang dipimpinnya

2)         Konsep kedua agak lebih maju lagi.  Konsep ini memandang kepemimpinan sebagai fungsi kelompok.  Menurut konsep ini, sukses tidaknnya suatu kepemimpinan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan atau sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang, tetapi justru yang lebih penting dipengaruhi oleh sifat-sifat dan ciri-ciri kelompok yang dipimpinnya.  Setiap kelompok memiliki sifat dan ciri yang berlainan, sehingga memerlukan tipe atau gaya kepemimpnan yang berbeda-beda

3)         Konsep ketiga merupakan konsep yang lebih maju lagi.  Konsep ini tidak hanya didasari atas pandangan yang bersifat psikologis dan sosiologis, tetapi juga atas ekonomis dan politis.  Menurut konsep ini, kepemimpinan dipandang sebagai suatu fungsi dari situasi.  Di samping sifat-sifat individu pemimpin dan fungsi-fungsi kelompok seperti pada konsep pertama dan kedua, kondisi dan situasi tempat kelompok itu beradamendapat penganalisaan pula dalam kepemimpinan ini.  Konsep yang ketiga ini menunjukkan, bahwa betatapun seorang pemimpin telah memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang baik dan dapat menjalankan fungsinya sebagai anggota kelompok, sukses tidaknya kepemimpinan masih ditentukan oleh situasi yang selalu berubah yang mempengaruhi perubahan dan perkembangan kehidupan kelompok yang dipimpinnya.

Demikianlah, untuk mendapatkan kepemimpina yang ideal, ketiga konsep di atas harus dipadukan, karena ketiganya saling melengkapi.

b.         Definisi Kepemimpinan

Secara definisi, kepemimpinan memiliki berbagai perbedaan pada berbagai hal, namun demikian yang pasti ada pada definisi kepemimpinan adalah adanya suatu proses dalam kepemimpinan untuk memberikan pengaruh sosial pada orang lain, sehingga orang lain tersebut menjalankan suatu proses sebagaimana yang diinginkan oleh pemimpin, sebagaimana dinyatakan oleh Muhaimin.[3]

Prajudi Atmosudirjo [4] menyatakan beberapa definisi kepempimpinan sebagai berikut:

1)         Kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai suatu kepribadian seseorang yang men datangkan keinginan pada kelompok orang untuk mencontohnya atau mengikutinya, atau yang memancarkan suatu pengaruh tertentu, suatu kekauatan atau wibawa, yang sedemikian rupa sehingga membuat sekelompok orang mau melakukan apa yang dikehendakinya.

2)         Kepemimpinan dapat pula dipandang sebagai penyebab kegiatan-kegiatan atau proses atau kesediaan untuk mengubah pandangan atau sikap baik mentak maupun fisik dari kelompok orang-orang, baik dalam hubungan organisasi formal maupun informal.

3)         Kepemimpinan adalah suatu seni, kesanggupan, atau teknik untuk membuat sekelompok orang bawahan dalam organisasi formal atau para pengikut atau simpatisan dalam organisasi informal untuk mengikuti atau menaati segala apayang dikehendakinya, membuat mereka begitu antusias atau bersemangat untuk mengikutinya, atau bahkan mungkin berkorban untuknya.

4)         Kepemimpinan dapat pula dipandang sebagai suatu bantuk persuasi suatu seni pembinaan kepompok orang-orang tertentu, biasanya memalui human relations dan motivasi tepat, sehingga mereka tanpa adanya rasa takut mau bekerjasama dan mambanting tulang untuk memahami dan mencapai segala apa yang menajdi tujuan organisasi.

5)         Kepemimpinan dapat pula dipandang sebagai suatu sarana, suatu instrumen atau alat, untuk membuat sekelompok orang-orang mau bekerjasama dan berdaya upaya menaati segala aturan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan.  Dalam hal ini, kepemimpinan dipandang sebagai dinamika suatu organisasi yang membuat orang-orang bergerak, bergiat, berdaya upaya secara kesatuan organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.

Dari beberapa definisi di atas, dapat diseimpulkan bahwa kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemapuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk di dalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, serta tidak merasa terpaksa.

c.         Definisi Kepemimpinan Kharismatik

Ada beberapa tipe kepemimpimpinan, antara lain adalah[5] :

1)         Tipe karismatis

2)         Tipe paternalitis dan maternalistis

3)         Tipe militeristis

4)         Tipe otokratis/otoritatif

5)         Tipe laisser faire

6)         Tipe populistis

7)         Tipe administratif

8)         Tipe demokratis ( group developer )

Selanjutnya dibahas mengenai apakah sesungguhnya tipe kepemimpinan kharismatik tersebut.  kepemimpinan karismatik selama ini selalu identik dengan pengamatan pemimpin di politik dan keagamaan bukan kepemimpinan organisasi dan perusahaan. Dari segi bahasa, kharisma berasal dari bahasa yunani diartikan karunia diinspirasi oleh Tuhan divenely inspired gift seperti kemampuan meramal di masa yang akan datang.  Sedangkan dari segi istilah para ahli sepakat mengartikan karisma sebagai “suatu hasil persepsi para pengikut dan atribut-atribut yang dipengaruhi oleh kemampuan-kemampuan aktual dan perilaku dari para pemimpin dalam konteks situasi kepemimpinan dan dalam kebutuhan-kebutuhn individual maupun kolektif para pengikut ”[6]

Tipe pemimpin karismatik ini memiliki kekuatan energi, daya tarik dan wibawa yang kuat atau luar biasa untuk menarik serta mempengaruji orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya serta amat sangat loyal kepadanya.  Sampai sekarangpun orang-orang tidak mengetahui benar sebab-sebabnya, mengapa seseorang itu memiliki kharisma yang sangat besar.  Dia dianggap mempunyai kekuatan ghaib dan kemampuan-kemampuan yang di luar manusia pada umumnya yang diperolehnya sebagai karunia dari Tuhan.  Dia banyak memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri.  Totalitas keperibadian pemimpin itu memancarkan pengaruh dan daya tarik yang teramat besar.  Tokoh-tokoh besar agama pada umumnya mempunyai tipe kepemimpinan kharismatik ini, misalnya para nabi dan rasul, serta para ulama.  Sedangkan tokoh-tokoh politik yang kita kenal mempunyai tipe kepemimpinan kharismatik ini antara lain adalah Sukarno, Mao Tse Tung, Mahatma Gandhi, KH Abdurrahman Wahid, dll.

d.         Kepemimpinan kharismatik dalam dunia pendidikan Islam

Muhaimin[7] mengutip Maxwell dalam Kasali menyatakan bahwa ada 5 tahapan kepemimpinan yang meliputi :

1)         Level 1, pemimpin yang mempimpin karena legalitas formal, misalnya memimpin karena surat keputusan (SK)

2)         Level 2, pemimpin yang memimpin dengan kecintaannya, pemimpin pada level ini sudah memimpin orang, bukan memimpin pekerjaan

3)         Level 3, pempimmpin yang lebih berorientasi pada hasil, pada pemimpin level ini prestasi kerja adalah sangat penting

4)         Level 4, pada level ini pemimpin berusaha menunmbuhkan pribadi-pribadi dalam organisasi untuk menjadi pemimpin

5)         Level 5, pemimpin yang memiliki daya tarik luar biasa, pada pemimpin level ini, orang-orang ingin mengikutinya bukan karena apa yang telah diberika pemimpin secara personal atau manfaatnya, tetapi juga karena nilai-nilai dan simbol-simbol yang melekat pada diri orang tersebut.

Bila diamati, maka pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan kharismatik terletak pada level 5 pada teori Maxwell tersebut.  Seorang pemimpin yang bertipe kharismatik pada lembaga pendidikan Islam, akan sangat efektif di dalam memimpin lembaga pendidikan tersebut.

Pemimpin kharismatik dapat menggunakan suara hati/fitrahnya untuk melaksanakan proses kepemimpinan.  Bukan hanya sekedar hasil dari pencitraan seolah-olah.  Tetapi memang pemimpin tersebut mempunyai kharisma yang luar biasa.  Pemimpin yang mempunyai kharisma, akan sangat mudah di dalam memimpin suatu lembaga pendidikan.  Dikarenakan seluruh warga di lembaga pendidikan tersebut mempunyai loyalitas yang tinggi kepada pemimpinnya.

Contoh yang amat mudah adalah apa yang terlihat pada pondok-pondok pesanren.  Pondok pesantren merupakan salah satu unsur pendidikan Islam, khususnya di Indonesia [8].  Kepemimpinan di Pondok Pesantren amat dipengaruhi oleh tipe kepemimpinan kharismatik.  Seorang kyai sebagai pemimpin pondok pesantren selalu identik dengan tipe kepemimpinan kharismatik.  Seluruh warga lembaga pendidikan yang ia pimpin memiliki loyalitas yang sangat tinggi kepadanya.  Dengan tipe kepemimpinan tersebut, pondok pesantren terbukti tidak pernah ditinggalkan oleh umat.  Tidak pernah dijumpai pondok pesantren yang gulung tikar karena kekurangan santri, berbeda dengan sekolah yang dapat gulung tikar karena kekurangan siswa.  Keadaan yang berbeda tersebut dipengaruhi oleh tipe kepemimpinan yang berbeda di antara dua lembaga pendidikan tersebut.

Hal ini membuktikan, bahwa penerapan tipe kepemimpinan kharismatik di lembaga pendidikan Islam dapat dilakukan, dan mempunyai nilai yang positif.  Keberhasilan tipe kepemimpinan kharismatik tersebut juga tidak lepas dari adanya nilai-nilai agama yang melekat pada lembaga-lembaga pendidikan Islam, sehingga tipe kepemimpinan kharismatik yang pada hakekatnya memang selalu identik dengan kepemimpin di bidang politik dan keagamaan.

C.        SIMPULAN

Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemapuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk di dalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, serta tidak merasa terpaksa.

Karisma sebagai “suatu hasil persepsi para pengikut dan atribut-atribut yang dipengaruhi oleh kemampuan-kemampuan aktual dan perilaku dari para pemimpin dalam konteks situasi kepemimpinan dan dalam kebutuhan-kebutuhn individual maupun kolektif para pengikut

Penerapan tipe kepemimpinan kharismatik di lembaga pendidikan Islam dapat dilakukan, dan mempunyai nilai yang positif.  Keberhasilan tipe kepemimpinan kharismatik tersebut juga tidak lepas dari adanya nilai-nilai agama yang melekat pada lembaga-lembaga pendidikan Islam, sehingga tipe kepemimpinan kharismatik yang pada hakekatnya memang selalu identik dengan kepemimpin di bidang politik dan keagamaan.

والله أعلم باالصواب

وقال تعالى (  وماأوتيتم من العلم إلا  قليلا )

DAFTAR RUJUKAN

Garry Yukl, 1994, Kepemimpinan dalam organisasi, terj. Jusuf Udaya Jakarta:Prehalindo

Haidar Putra Daulay, 2007, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, Jakarta : Kencana

Muhaimin et al, 2010, Manajemen Pendidikan,Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah.Madrasah , Jakarta:Kencana Prenada Media Group

Muhammad Kholid Fathoni, 2005, Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional (Paradigma baru), Jakarta:Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam – Departemen Agama

Kartini Kartono,1983,  Pemimpin dan Kepemimpinan, Jakarta: Rajawali Press

Ngalim Purwanto,2004,  Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung : Remaja Rosdakarya

Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, 2006, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam – Departemen Agama RI


[1] Muhaimin, et. al, Manajemen dan Kepemimpina Sekolah/Madrasah, (2010) Jakarta:Kencana Prenada Media Group, hal : 29

[2] Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (2004) Bandung : Remaja Rosdakarya, hal 24-25

[3] Muhaimin, et. al, Manajemen dan Kepemimpina Sekolah/Madrasah, (2010) Jakarta:Kencana Prenada Media Group, hal : 29

[4] Dikutip oleh Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (2004) Bandung : Remaja Rosdakarya, hal 25-26

[5] Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, (1983) Jakarta: Rajawali Press, hal 80-81

[6] Garry Yukl, Kepemimpinan dalam organisasi, terj. Jusuf Udaya,(1994) Jakarta :  Prehalindo, hal 269

[7] Muhaimin, et. al, Manajemen dan Kepemimpina Sekolah/Madrasah, (2010) Jakarta:Kencana Prenada Media Group, hal : 30

[8] Ragam Pendidikan Islam di Indonesia munurt UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional  terdiri dari Pendidikan Kegamaan (Pondok Pesantren/Madrasah Diniyah, Madrasah, Sekolah Islam, serta Pendidikan Agama di Sekolah umum)

Leave a Reply

linkdock.com
Privacy