Lama gak nulis nih di blog
jadi sekarang ane mau nulis artikel ini. Agak OOT dari tema teknologi sih tapi ini penting buat yang namanya etis gak-nya kalo bercanda. Mungkin kita pernah bercanda kayak gini:
A: Hahaha, parah banget kayak anak Autis!
B: Heh, norak banget sih kelakuan loe kayak anak autis aja!
C: Gak usah didengerin, dia lagi kumat autis-nya wkwkwk
Apa sih yang salah dengan Autis? Menurut wikipedia, autisme bisa diartikan sebagai berikut:
Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993).
Ane baca ini di Kaskus, di sana ane juga baca pengakuan seorang ibu yang memiliki anak autis, suka duka merawat anak autis, dan pengakuan lainnya yang membuat ane terharu. Tentu kita bisa ngerti gimana perasaan ibu tersebut saat mendengar orang-orang bercanda dengan menyebutkan kata-kata “autis”.Miris pastinya. Seandainya bisa memilih, tentu Ibu itu tidak akan meminta anak yang dilahirkannya untuk mengidap autis. Tapi cinta ibu memang luar biasa, apapun kondisi anaknya, cinta yang diberikannya tak akan tergantikan.
Jadi, ayo mulai sekarang kita stop gunakan kata-kata autis kalo lagi bercanda. Mungkin kita masih bisa ketawa-ketawa bercanda menggunakan kata-kata itu, tapi sadarkah kita kalau itu bisa dinamakan “bersenang-senang di atas penderitaan orang lain?” Di luar sana masih banyak orang yang bersusah payah merawat keluarga mereka yang mungkin mengidap autis, tapi apa peduli kita? Gak etis banget kan kalo malah dibuat bahan bercandaan?
Setuju gak setuju ane kembalikan pada kalian, toh kita semua yang udah dewasa dan mau berpikir harusnya tahu mana yang pantas dan tidak ya kan.
Kalo kalian pengen tahu lebih banyak cerita tentang ini bisa ke link berikut:
Silly on http://sillystupidlife.com
also posted http://ngerumpi.com
and http://silly.blogdetik..com
Kalo pengen dukung, bisa join di Facebook lewat grup:
Stop Using The Word “AUTISM” On our daily Jokes
Sumber ane dari Thread ini.
No related posts.
« Open Source Juga Punya Rumus Cinta! 10 Faktor yang Harus Diperhatikan Untuk Membuat Software yang Berkualitas »









saya sangat suka tulisan Anda,
memang benar…sebuah kata-kata adalah doa, sebuah kata-kata bisa menjadi habit (kebiasaan) #teori behaviorisme,
kita harus membiasakan diri menggunakan bahasa yang positive (hindari kata JANGAN dkknya), misalnya saja lebih baik berkata pada anak “sayang, lebih baik makan itu sambil duduk, supaya tidak tersedak” daripada kita menegur “sayang, jangan makan sambil berdiri”
kata pertama akan cenderung tidak menginggung dan mengarahkan sehingga anak tidak bingung, sedangkan kata kedua kata “jangan” seolah kita salah, dan biasanya kata “jangan” lebih cenderung sebagai perintah untuk melakoninya…
sangat banyak manfaat kita berkata positive, hlawong memanggil (menyapa) nama orang saja, itu bisa membuat hati orang yang dipanggil senang…
semua itu perlu dibiasakan supaya menjadi habit (kebiasaan)
sesuatu yang terus berulang-ulang dilakukan akan menjadi tertanam betul, bisa jadi seringnya kita mengatakan pada orang “dasar kamu bodoh atau kamu autis” maka kata itu lama kelamaan akan tertanam dan masuk dalam alam bawah sadarnya #bahwa aku autis/bodoh. bercandaan seperti itu tidak tepat, kalau ada yang lebih baik untuk kita katakan kanapa harus memilih yg kurang bermanfaat #walau kadang cuma bercanda…
percobaan pada seorang anak kecil, yang sesungguhnya tidak punya rasa takut (semua orang dilahirkan tidak punya potensi takut, yg ada dlm islam adalah khauf) perasaan takut adalah bentukan dari pola asuh. anak tadi di beri stimulus hewan tikus, kucing dll, tanpa reinforcement (penguatan apapun), maka anak kecil tersebut bermain dg hewan tanpa rasa takut, setelah dibareng bunyi yang keras sekali dan itu diulang berkali kali, maka anak itu ketika diberi benda sekaligus mainan, dia akan menangis…
takut memang akibat pola asuh, terlalu sering orang tua melarang anak mengaktualisasi diri dg kretivitasnya, bahkan orang tua terkadang mematikan kreativitas anak dengan melarang bermain kotor dan sebagainya.. dan mirisnya para kakek dan nenek biasanya menjadi regulasi dlm pendidikan anak, shg pola asuh tidak maksimal contohnya ibuk melarang anak makan coklat sedangkan nenek bilang, “nanti nenek belikan coklat, jangan nangis yya, gak usah bilang ibuk”…kasus pertama, nenek menjadi regulasi pendidikan anak oleh ibunya, menjadikan tdk konsisten, sm ibu tdk boleh makan coklat sm nenek boleh. kedua adalah coklat akan menghentikan tangis anak, bisa jadi kedepan anak nangis bukan karena hal lain tapi anak nangis karena minta coklat, tp memang kalau anak harus banyak dikassih reward (hadiah) tidak selamanya hadiah berupa benda, hadiah bisa jadi pujian atas kesuksesasnya misalnya “iyya adek pintar, besok tambah semangat lagi yya, sini ibuk cium…” itu akan membangkitkan semangat anak #jadi ngomong anak, hehee… saya pikir, anak (masa depan) lebih penting dari pada kita skg, dg membicarakan anak semoga saja hati kita terbuka dan prihatin terhadap keadaan yg sekarang ini dan kita bisa berusaha memperbaiki diri…lagian kita semua adalah calon orang tua, 5 tahun lagi pasti kita akan merasakan bagaimana menjadi orang tua, dan bagaimana tidak mudahnya mendidik anak hingga menjadi anak yang benar-benar berkualitas… waktu 5 tahun kedepan akan sangat cepat terlewati jika kita tidak selalu belajar dan membiasakan diri, berencara sejak sekarang, kalau aku drpd klabakan dan bingung nantinya, maka hari gini ngomong masalah seperti ini adalah hal yg biasa bukan tabu lagi, karena ini penting bagi yang mau peduli terhadap masa depan bangsa ini. coba bayangkan…kalau hampir semua anak di indonesia tidak ada yang disiplin dan menghargai waktu, mau bgmn bangsa ini, akan banyak koruptor, semoga kita termasuk orang-orang yang bisa menjaga amanah dari Allah…aminn….
wah serasa baca wikipedia
Iya, bener emang kalo perkataan positif itu lebih baik apalagi buat perkembangan pribadi anak. Kayaknya emang banyak yang salah kaprah kalo mendidik anak ya, maksudnya tegas tapi malah marah-marah yang kadang itu gak baik buat psikologis anak.
Haduh, jadi ngomongin cara mendidik anak ini hehe. Padahal niatnya mo kampanye “STOP PENGGUNAAN KATA AUTIS BUAT BAHAN BERCANDA” tapi tak apalah buat nambah wacana, makasih udah mampir . . .
hu’um…pola asuh anak itu ada demokratis, ada yang otoriter ada yang sama sekali membiarkan kebebasan anak…perlu tau aja, dan nanti bisa milih…mau masuk dalam paham yang mana..hehee…paham dalam berkeluarga juga ada hlo, jadi nti klo punya pasangan harus milih dan berembug,kira2 mau konsep apa? tradisional, moderat atau egaliter #mengurangi kasus perceraiaan,maka harus py konsep.hehee
kalau yang baik dan harus kita lakukan dalam pola asuh adalah selalu tegas (konsisten) supaya paradigma anak tidak terbiasa bahwa aturan bisa dilanggar. SEMANGAT terus… #marai aku terobsesi jd psikolog anak ben anakku pinter, ayu koyok aku amin amin amin amin, hehee…
oiyya, bagi para pria, perlu tau saja…
pria itu sangat menyumbang kecerdasan bagi anak, maka segeralah mengasah kecerdasan…supaya anaknya nanti cerdas, sedang kan wanita menyumbang akhlak, maka bagi kaum pria jangan salah memilih istri…karena tanpa ayah yang cerdas, anak bisa dilatih oleh ibu jika ibu cerdas dan akhlaknya baik, insyaAllah bisa!
namun, jika ibu rusak insyaAllah sulit bisa mencetak anak bermoral dan berintelektual handal… intinya pendidikan adalah pada ibu…
disarankan benar-benar selektif dalam memilih pendamping, usahakan bisa mendapatkan istri yang bisa memberi ASI yang baik bagi anak, karena kejiwaan ibu sangat mempengaruhi pribadi anak, hal sepele seperti ASI, dalam penelitian kata dosenku, ditelusuri itulah salah satu faktor banyaknya korupsi.
dalam memberikan ASI usahakan ibu harus dalam kondisi senang, ikhlas dan tidak mengeluh, karena keadaan ibu sangat bisa dirasakan anak, kedua tuntas tidak 2 tahun itu penuh dengan ASI, ketiga keturunan (apakah ibu dr orang baik2/orang baik akhlaknya)..
SEMOGA ini info bermanfaat, doakan saya bisa jadi ibu yang baik yya
bisa jadi istri yang baik juga, bisa masuk surga dengan semuanya bareng-bareng…amiinn….yya Allah…dan yang penting semoga semua tercapai…hehee
amiin,,amiiin
intinya pasangan tersebut kudu bisa saling melengkapi. Wah, punya anak itu kayaknya emng bener cobaan.
urip nyat cobaan mas…
semangat wes…
jane uripku yyo susah, ning semangat ae…
wah kalo dipikir susah terus kapan mo seneng? hehe semangat lah pastinya