Bismillaahirrohmaanirrohiim
Gagal, ya sesuatu itu bernama kegagalan. Dia bagaikan pisau bermata dua yang di satu sisi bisa bermanfaat dan di sisi yang lain justru melemahkan manusia. Lalu bagaimana bisa kegagalan bisa memiliki dua sisi yang berbeda?

sumber gambar: bahpong.blogspot.com
Mereka yang Tidak Takut Gagal
Masih ingat Thomas A. Edison yang berhasil menemukan bola lampu? Atau tentu kita mengetahui Rasulullah Muhammad SAW yang berjuang untuk menegakkan Islam hingga sekarang menjadi umat terbesarnya. Coba bayangkan jika beliau-beliau ini menyerah hanya karena kegagalan mewarnai perjuangannya dalam menggapai sesuatu. Bayangkan jika Thomas A. Edison menyerah dalam penelitiannya lalu siapakah yang akan menemukan bola lampu? Bayangkan jika Rasulullah SAW menyerah, lalu Islam akan berjaya?
Sungguh mereka merupakan sebagian kecil dari sosok-sosok yang tidak pernah takut untuk gagal. Kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, kegagalan merupakan sesuatu yang harus dihadapi. Sama dengan menghadapi ketakutan diri terhadap kegagalan. Kegagalan itu adalah pintu menuju kesuksesan, karena dengan belajar dari kegagalan kita bisa menyusun kembali peta perjuangan agar tidak terjadi kesalahan yang sama.
Orang-orang sukses itu tidak pernah menggapai sukses dalam waktu semalam saja. Saat gagal mereka terus belajar dan mengembangkan diri untuk bisa meraih cara lain dalam menggapai sukses. Ada sebuah ungkapan,
“Jika pintu yang satu tertutup, maka pintu yang lain akan terbuka. Hanya saja kita seringkali terpaku dengan pintu yang tertutup itu tanpa melihat ada pintu lain yang terbuka”
Ketiga gagal, mereka akan mencari jalan lain untuk bisa meraih apa yang diinginkan sehingga itu bisa memotivasi bahwa kegagalan bukanlah hal yang harus ditakuti.
Benar-Benar Gagal!
Anggaplah kita punya mimpi atau tujuan yang ingin kita capai. Lalu tiba-tiba terlintas di dalam benak bahwa mimpi itu tidak mungkin, mimpi itu beresiko tinggi, dan parahnya beranggapan bahwa kita bisa gagal dalam mewujudkannya. Dan akhirnya kita tak pernah sejengkal pun beranjak untuk mewujudkan mimpi itu. Inilah salah satu bentuk kegagalan yang nyata, takut beranjak hanya karena takut gagal di kemudian hari. Siapa sih yang tahu tentang masa depan? Allah ‘Azza wa jalla Maha Mengetahui apa yang akan terjadi pada manusia dan kita hanya bertugas untuk mencoba mewujudkannya.
Sikap ini yang menghambat kita untuk berkembang. Kita tidak pernah belajar apapun dan semakin membuat kita takut dengan kegagalan. Setiap tujuan memiliki resiko sendiri-sendiri. Maka resiko-resiko itulah yang membuat kita kreatif, lebih cakap, dan lebih kuat dalam menjalani hidup. Dengan memahami resiko kita bisa menciptakan alur sukses tanpa harus menghambat diri untuk memulai hanya karena bayang-bayang gagal.
3B (Berusaha, Berdoa, Bertawakkal)
Rumus 3B itu adalah hal dasar yang harus kita lakukan untuk meraih sesuatu. Kita percaya bahwa takdir Allah itu berlaku untuk setiap makhluknya. Maka berusaha adalah sesuatu yang harus kita lakukan untuk menjemput apa yang kita inginkan. Tanpa usaha, tak ada namanya pencapaian sukses. Usaha pun tak cukup, iringi dengan doa agar Allah senantiasa mengiringi setiap perjuangan kita dengan ridho-Nya. Apalah arti sukses kalaupun kesuksesan itu justru memberatkan kita di akhirat kelak, jadi perkuat sukses dengan iringan doa. Ketika semua telah dilakukan bertawakallah dan berserah dirilah pada Allah karena apa-apa yang terjadi di dunia ini adalah atas izin-Nya. Pahami bahwa apa yang kita capai adalah yang terbaik menurut Allah, sekalipun itu dalam bentuk kegagalan. Itu berarti kita harus lebih menguatkan usaha dan doa untuk menggapai semua itu.
Tanamkan pikiran positif, melangkahlah dengan asma Allah, dan bertawakallah kepada Allah, maka insya Allah kegagalan tidak akan menjadi sesuatu yang menakutkan.
Semoga bermanfaat.
No related posts.
« Akhirnya Blog UIN Maliki Malang Upgrade Juga Marhaban Yaa Ramadhan 1433H »







