Ellie's Note |

Okt/10

31

Tafsir Surat Al-Jumu’ah Ayat 4

TAFSIR SURAT AL-JUMUAH AYAT 4

TENTANG HAK UNTUK MEGEMBANGKAN IPTEK

Pendahuluan

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang

Benar kiranya jika Al Qur’an disebut sebagai mukjizat. Karena ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan di abad ke 7 masehi di mana ilmu pengetahuan belum berkembang (saat itu orang mengira bumi itu rata dan matahari mengelilingi bumi), sesuai dengan ilmu pengetahuan modern yang baru-baru ini ditemukan oleh manusia.

Sebagai contoh ayat di bawah:

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30]

Al Qur’an adalah firman Allah yang di dalamnya terkandung banyak sekali sisi keajaiban yang membuktikan fakta ini. Salah satunya adalah fakta bahwa sejumlah kebenaran ilmiah yang hanya mampu kita ungkap dengan teknologi abad ke-20 ternyata telah dinyatakan Al Qur’an sekitar 1400 tahun lalu. Tetapi, Al Qur’an tentu saja bukanlah kitab ilmu pengetahuan saja. Namun, dalam sejumlah ayatnya terdapat banyak fakta ilmiah yang dinyatakan secara sangat akurat dan benar yang baru dapat ditemukan dengan teknologi abad ke-20. Fakta-fakta ini belum dapat diketahui di masa Al Qur’an diwahyukan, dan ini semakin membuktikan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah.

Dalam pandangan Al-Quran, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap mahluk-mahluk lain, guna menjalankan fungsi kekhalifaannya dibumi[1]. Ini tercermin dari kisah kejadian manusia pertama yang dijelaskan alquran dalam surat al baqarah (2) 31 dan 32 :

Dan Dia Allah mengajarkan kepada Adam, (nama-nama benda) semuanya. Kemudian Dia mengemukakannya kepada para malaikat seraya berfirman “sebutkanlah kepadaKu nama-nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar (menurut dugaanmu)”. Mereka (para malaikat ) menjawab, “ Maha Suci Engkau tiada pengetahuan kecuali yang telah Engkau ajarkan. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Manusia, menurut Al-Quran, memiliki potensi untuk mencari ilmu dan mengembangkannya dengan seizin Allah. Karena itu, banyak ayat yang memerintahkan manusia menempuh berbagai cara untuk mewujudkan hal tersebut. Berkali-kali pula quran menunjukkan berapa tingginya kedudukan orang yang memiliki ilmu pengetahuan.

Selain itu Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber pertama ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan keduanya adalah langsung dari sisi Allah SWT dan dalam pengawasannya, sehingga terjaga dari kesalahan, dan terbebas dari segala vested interest apapun, karena ia diturunkan dari Yang Maha Berilmu dan Yang Maha Adil. Sehingga tentang kewajiban mengambil ilmu dari keduanya, disampaikan Allah SWT melalui berbagai perintah untuk memikirkan ayat-ayat-Nya (QS 12/1-3)

Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.

dan menjadikan Nabi SAW sebagai pemimpin dalam segala hal (QS 33/21).

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Pembahasan

  • Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar.(QS. 62:4)

Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa diutusnya Rasul kepada manusia, untuk membersihkan mereka dari kemusyrikan dan sifat-sifat kebiadaban, adalah merupakan nikmat besar dan karunia dari Allah SWT yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dari hamba-hamba-Nya yang telah dipilih-Nya, karena kebersihan hati mereka dan kesediaan menerimanya[2].

  • Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Pengutusan Nabi Muhammad s.a.w. oleh Allah ini merupakan anugrah dari Allah bagi semua mahluk. Allah s.w.t mengaruniai kerasulah dan hidayah ini hanya kepada orang yang Dia kehendaki.

Dia-lah Allah Yang mempunyai kebaikan yang agung dan menyeluruh keutamaan-Nya tidak bisa ditolak, keberadaan-Nya dita bisa dibantah, dan karnia-Nya tidak bisa dibatasi[3].

  • Dzaalika Fadhlullaahi yu’tiihi Man Yasyaa-u: Tidak diragukan lagi bahwa para sahabat yang menjadi orang-orang yang pertama beriman ini adalah orang yang mendapat karunia dari Allah yang akan Allah berikan kapada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Hal ini harus disikapi dengan lapang dada dan selalu memohon kepada Allah agar dapat memperoleh karunia-Nya, karena sesungguhnya Allah-lah pemilik karunia yang sangat banyak[6].

Surat Aljumua’ah ayat 4 merupakan penjelasan dari ayat-ayat sebelumnya. Allah menegaskan bahwa segala sesuatu di alam baik yang nyata maupun yang gaib senantiasa memuji atau bertasbih padaNya.hal ini ditegaskan oleh huruf lam pada lillah (huruf zaidah). Karena adanya pergeseran kepercayaan yang dibawa Ibrahim (tauhid) menjadi politheisme, maka allah mengutus Rasul SAW yang berasal dari kaum mereka sendiri (Arab) yang menyucikannya ( dari syirik,hawa nafsu,penyakit hati dsb) serta mengajarkan nya al kitab dan hikmah (sunnah).

Rasulullah diutus untuk semua umat manusia (Arab dan non-Arab).Hadits dari Abu Hurairah menjelaskan bahwa pada saat ayat ini turun kami sedang berkumpul,dan kami menyakan pada Rasul siapa mereka, Rasul baru menjawab saat pertanyaan yang ketiga kalinya dengan menaruh tangannya pada Salman al Farisi dan mengatakan jikalau itu sebuah kaum itu di ath- turrayya (plaiedes/yunani) akan lebih dari beberapa orang akan menerima risalah ini. Ayat ini juga mempertegas bahwa turunnya di madinah di mana konteksnya lebih universal. Dan ayat ini juga yang menyebabkan Rasul Saw mengirim surat kepada raja Persia dan Romawi. Maka Betapa besarnya karunia Allah melalui Rasul yang diutusnya untuk seluruh umat manusia[7].

Lebih jelasnya dalam kitab Tafsir Al-Aisar dijelaskan makna ayat 1-4 secara umum.

Firman-Nya ,”Apa yang ada dilangit dan ada dibumi senantiasa bertasbih kepada Allah”. Allah Ta’alah telah memberitahukan tentang diri-Nya bahwasannya seluruh mahluk-Nya senantiasa bertasbih kepada-Nya. Maknanya seluruh mahluk-Nya senantiasa mensucikan diri-Nya dari hal-hal yang tidak layak dengan kemuliaan dan kesempurnaan-Nya, seperti segala bentuk kelemahan dan kekurangan. Mahluk-Nya juga senantiasa menyucikan-Nya, seperti yang tercantum dalam firman-Nya, “ Dan tak ada satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.”

Firman-Nya,” Dia-lah[8] yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri[9], Allah telah mengutus seoran Rasul kepada bangsa Arab yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yaitu Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang merupakan orang arab dari suku Quraisy keturunan hasyim yang terkenal garis keturunannya hingga kakeknya yang paling atas, yaitu Adnan dari anak Ismail bin Ibrahim, sang kekasih Allah.

Firman-Nya, “ Yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya,”. Yaitu ayat-ayat Allah yang terangkum di dalam kitab-Nya, Al-Quran Al-Karim sebagai pemberi petunjuk dan kebaikan untuk mereka. Allah ta’alah berfirman ,”menyucikan (jiwa) mereka” yaitu membersihkan jiwa, raga dan prilaku mereka dari hal-hal yang dapat mengotori badan dan jiwa serta merusak akhlaknya. Allah ta’alah berfirman “dan mengajarkan kepada merekan kitab dan hikmah (sunnah),” mksudnya mengajari mereka Al-Quran Al-Karim, makna dan kandungannya, seperti syariat dan hukum-hukumnya. Sang Rasul juga mengajari mereka hikmah[10] dalam setiap perkara, kebenaran, dan kebaikan dalam setiap urusan mereka, yang memberikan pemahaman kepada mereka tentang rahasia-rahasia syariat dan hikmah-hikmahnya di dalam hukum-hukumnya. Allah ta’alah berfirman, “Meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesasatan yang nyata” maksudnya kehidupan mereka sebelum diutusnya sang Rasul benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Sesat didalam keyakinan, tata krama, hukum, politik, serta manajemen umum dan khususnya.

Firman-Nya, “dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubunggan dengan mereka” , yaitu untuk generasi lain yang akan datang sesudah mereka, baik dari bangsa Arab atau non-Arab. Mereka itu para tabi’in dan tabi’it tabiin[11]. Mareka beriman dan mempelajari Al-Quran serta As-Sunnah sampai hari kiamat kelak seperti yang telah diwariskan Rasulullh kepada mereka. Mereka tidak akan bisa menyamai generasi para pendahhulunya dalam hal keutamaannya. Hal ini dikarenakan pada pendahulu telah menang labih awal beriman dan menemani rasulullah. Hal itu adalah keutamaan yang Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, karena Allah-lah yang Memiliki dan Mahaagung.

Dalam surat Al-jumuah telah dijelaskan bahwa Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang dikehendaki. Doa merupakan salah satu dari beberapa cara untuk mendapatkan arunia-Nya, selain itu k ita juga harus selalu berusaha untuk mencari karunia yang sesungguhnya. Karunia Allah sangatlah banyak, salah satunya adalah karunia akal. Akal merupakan karunia tersebar bagi manusia, akal yang membedakan manusia dengan mahlluk ciptaan Allah lainnya.

Akal terdiri atas rasio dan hati/rasa. Setelah manusia memikirkan/merasio tanda-tanda kekuasaan Allah yang terbentang di alam atau tertulis dalam kitab-Nya maka tidak akan mengakui adanya Allah kalau hatinya tidak berfungsi, sebab buta, tidak yakin, dan kotor[12]. Sesuatu yang rasional tentu dapat diterima akal, sebab dalam akal manusia ada unsur hati/rasa percaya. Akal manusia akan semakin berfungsi dengan baik manakala unsur rasa atau hatinya baik, suci, dan senantiasa beriman.

Dalam Al-quran dielaskan,

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.Dalam surat lain juga dijelaskan

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.

Masih banyak lagi ayat alquran yang menjelaskan bahwasannya alquran merupakan sumber dari pengetahuan, jika kita benar-benar memahaminya. Jelaslah bahwa dari wahyu pertama (al-alaq) kita dapat mengetahui perintahnya, yaitu

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Dari kata Iqra’ dapat diartikan mentelaah, mendalami, meneliti, mengetahui, mengembangkan, menyampaikan, membaca dalam arti tekstual ataupun kontekstual. Dari perintah satu kata dapat kita simpulkan bahwa perintah pertama adalah belajar, mempelajari segala sesuatu yang telahh ditunjukkan oleh Allah melalui kitab-Nya, wahyu pertama ini mengandung perulangan kata Iqra’ , hal ini menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan memperoleh kecuali dibaca berulang-ulang sampai kita dapat memahaminya.

Selanjutnya, dari wahyu pertama Al-Quran diperolah isyarat bahwa ada dua cara memperoleh dan mengembangkan ilmu, yaitu Allah mengajar dengan pena yang telah diketahui manusia, dan mengajar tanpa pena( yang belum diketahuinya). Cara pertama adalah dengan alat atau atas dasar usaha manusia. Cara kedua adalah dengan belajar tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Walaupun berbeda keduanya berasal dari satu sember, yaitu Allah[13].

Menurut pandangan Al-Quran seperti diisyaratkan wahyu pertama, ilmu terdiri atas dua macam, pertama ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia dinamai, ‘ilm ladunni, seprti yang telah di sebutkan dalam Al-Quran surat Al-Khafi ayat 65

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.

Kedua, ilmu yang diperoleh karena usaha manusia, dinamakan ‘ilm kasbi. Ayat-ayat ‘ilm kasbi jauh lebih banyak dari pada ayat yang berbicara tentang ‘ilm ladunni. Pembagian ini disebabkan pandangan alquran terhadap hal-hal yang ada tetapi tidak dapat diketahui melalui upaya manusia sendiri. Ada wujud yang tidak tampak sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah

Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat.

Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.

Dengan demikian, objek ilmu meliputi materi dan non materi, fenomena dan non fenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui oleh manusiapun tidak.

dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya

selain menjelaskan tentang ilmu, alquran juga menjelaskan tentang teknologi yang juga merupakan karunia yang diberikan Allah bagi siapa saja yang dikehendaki dan mau mempelajari serta mengembangkannya. Dalam KBBI, teknologi diartikan sebagai “Kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta dan berdasarkan proses teknis”. Teknologi adalah ilmu tentang cara menerapkan sains untuk memanfaatkan alam bagi kesejahteraan dan kenyamanan manusia.

Terdapat 750 ayat Al-Quran yang berbicara tentang alam materi dan fenomenanya, dan yang memerintahkan manusia untuk mengetahui dan memanfaatkan alam ini. Secara tegas dan berulang-ulang Al-quran menyatakan bahwa alam raya ini diciptakan dan ditundukkan Allah untuk manusia

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.

Penundukan tersebut secara potensial terlaksana melalui hukum-hukum alam yang ditetapkan Allah dan kemampuan yang dianugrahkan-Nya kepada manusia. Al-Quran menjelaskan sebagian dari ciri-ciri tersebut, antara lain:

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.

Al-Quran memerintahkan manusia untuk terus berusaha meningkatkan kemampuan ilmiyahnya. Jangankan manusia biasa, Rasulullah Muhammad saw pun diperintahkan untuk berusaha dan berdoa agar selalu ditambah pengetahuannya. Qul Rabbi zidni ‘ilma (Berdoalah {hai Muhammad] “Wahai tuhanku, tambahkanlah untukku ilmu”) (QS Thaha[20]:114) kerena fauqo kulli zi ‘ilm (in) ‘alim (diatas setiap pemilikpengetahuan, ada yang amat mengetahui) (QS Yusuf [12]:72)

Daftar Pustaka


[1] Wawasan Al-quran 435

[2] http://c.1asphost.com/sibin/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=62

[3] ‘Aid al-Qarni.at-Tafsir al-Muyassar.jilid 4.jakarta,tim Qisthi press.2008.h:340-341

[4] Tafsir Alquranul ‘Adim lil Imam jajalain juz I. Semarang : Taha Putra

[5] Imam jalaluddin Al-mahalli dan imam jalaluddin As-suyuti. Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul. Jilid   4.penerjemah: Bahrun Abubakar.cetakan kesembilan 2005.Bandung, Sinar Baru Algesindo. h : 2454

[6] Al-jazairi,Syaikh Abu Bakar Jabir. Aisar At-Tafaasir li Al-Kalaami Al-Aliyyi Al-Kabir. Penerjaah : Fityan Amali dan Edy Suwanto. Jilid 7. 2009. Jatinegara-Jakarta Timur : Darus Sunnah Press.h : 438

[7] Tafsir Ibnu Katsir

[8] Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma berkata ,”Al-Ummiyyunna”(orang-orang buta huruf) yang dimaksud adalah seluruh bangsa arab, baik orang yang bisa menulis ataupun yang tidak bisa menulis, karena mereka belum pernah memiliki kitab sebelumnya(seperti orang-orang, yahudi dan nasrani). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang yang buta huruf yang terlahir dari dari sebuah bangsa yang buta huruf. Hal ini menjadi bukti akan mukjizat dan kebenaran kenabian beliau.

[9] Ayat yang berbunyi “Rasuulan minhum”, Ibnu Ishaq berkata, “ semua penduduk diperkampungan arab memiliki hubungan kekerabatandengan Rasulullah shallallahu Alaihi wa Sallam dan bahkan mereka ikut membantu persalinan beliau, kecuali kampung Bani Taghlib karena Allah menyucikan Nabi-nya dari kampung mereka, karena mereka adalah orang-orang nasrani, mereka tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan belliau”.

[10] Malik bin Anas, yang dimaksud dengan hikmah adalah pemahaman terhadap agama islam.

[11] Dari bangsa arab dan bangsa-bangsa lain(non-arab), seperti dari bangsa  Persia, Romawi, Barbar, Sudan (kulit hitam), Turki, Mongol, Kurdi, Cina, India, dan lain-lain. Dalam hal ini terdapat mu’jzat Al-Quran, Maha benarlah firman-Nya. “dan juga kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan denga mereka”. Mereka mamu menyusul, mereka beriman, belajar, dan menyucikan diri.

[12] Choiruddin hadhiri. Klasifikasi Kandungan Alquran. Jakarta:Gema Insani press.1993.h:85

[13] Muhammad Quraish shihab. Wawasan Alqur-an, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. (cet. I, Syawwal 1416/Maret 1996) Bandung:Mizan. H:434

Study Quran

RSS Feed

1 Komentar for Tafsir Surat Al-Jumu’ah Ayat 4

Asbab an Nuzul | 20 Juni 2014 at 22:17

alhamdulillah,,,
terimakasih atas share ilmunya, semoga berkah. saya ada tulisan kecil mengenai asbabunnuzul qs al jumu’ah ayat 12. mari berkunjung di

Leave a comment!

<<

>>

Find it!

Tag Cloud

Copyright © 2014 Ellie's Note - .
Website powered by WordPress and UltrAjax wordpress theme designed by TopTut.com & TopWPThemes.com.
Visit WebHostingFan.com for the latest news on web hosting and cms review.