Farid Afri Nurmansyah

teori operant conditioning

by on Apr.15, 2011, under kuliah



IMPLEMENTASI TEORI BELAJAR “OPERANT CONDITIONING” DALAM PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK PADA JENJANG MADRASAH TSANAWIYAH (MTs)

Oleh:

Farid Afri Nurmansyah

09110258

Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Jalan Gajayana No. 50 Malang. No. Hp: 085728400079. E-mail: faridafrinurmansyah@yahoo.co

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam menerapkan metode yang baik untuk suatu proses pembelajaran, maka harus diperlukan teori yang cocok untuk sebuah model pembelajaran yang mampu diserap dan diterapkan dalam proses pengajaran di kelas. Banyak teori yang digunakan dalam proses pengajaran, tetapi kita harus melihat mana yang lebih cocok untuk diterapkan di dalam kelas, karena tidak semua teori pembelajan cocok untuk diterapkan. Kita terlebih dahulu harus melihat situasi dan kondisi lingkungan sekitar dan meneliti teori apa yang harus digunakan.

Teori belajar dan pembelajaran banyak sekali yang dapat digunakan untuk proses pengajaran, tetapi kita harus melihat apakah teori itu semua cocok dengan mata pelajaran yang diberikan di dalam suatu lembaga pendidikan. Lebih baik kita pintar memilah-milah teori yang cocok untuk digunakan, karena ini menyangkut respon anak didik untuk meresapi ilmu yang dipelajari. Semakin baik dan cocok teori yang digunakan, semakin baik pula proses pembelajaran. Begitu sebaliknya, semakin tidak cocok teori yang digunakan semakin tidak maksimal dalam proses pembelajaran.

Pendidikan Aqidah sangat penting untuk anak didik yang mulai memasuki remaja, maka perlu adanya pembelajaran Aqidah Akhlak  untuk para remaja. Ini diharapkan agar para remaja ini dapat menjadi manusia yang berakhla mulia. Untuk memberi pengajaran Aqidah akhlak ini maka harus diperlukan teori belajar yang cocok. Maka penulis disini akan menelaah teori mana yang cocok untuk digunakan.

Setelah direnungkan teori apa yang cocok, maka penulis untuk menyimpulkan bahwa teori yang cocok untuk gunakan dalam pengajaran Aqidah Akhlak adalah Teori operant conditioning, karena didalam teori operant conditioning ini akan dijelaskan bagaimana proses pengajaran kepada anak didik agar  mampu mengaplikasikan ilmunya setelah mendapat suatu mata pelajaran.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa konsep teori Operant Conditioning
  2. Kelebihan dan kelemahan teori Operant Conditioning
    1. Penerapan teori belajar Operant Conditioning dalam pengajaran Aqidah Akhlak
    2. Implikasi dan dampak teori Operant Conditioning dalam proses pengajaran Aqidah Akhlak

1.3 Tujuan Penulisan

  1. Penulis dan pembaca dapat mengetahui apa itu teori Operant Conditioning
    1. Penulis dan pembaca dapat menganalisis kelebihan dan kelemahan teori Operant Conditioning
    2. Penulis dan pembaca dapat mengetahui penerapan teori Operant Conditioning pada mata pelajaran Aqidah Akhhlak
    3. Penulis dan pembaca dapat mengetahui implikasi dan dampak teori Operant Conditioning pada proses pengajaran Aqidah akhlak

BAB 11

PEMBAHASAN

  1. A. Konsep Teori Operant Conditioning

Manusia  pertama kali dalam keadaan pasif, seperti halnya kertas kosong, manusia dilahirkan dalam keadaan suci belum mengerti apa-apa. Manusia baru mengenal suatu pengetahuan apabila ia sudah mampu menggunakan akalnya dengan maksimal. Sesuatu perubahan perilaku manusia banyak dipengaruhi oleh faktor pengalaman hidupnya menurut aliran teori empiristik yang tokohnya bernama Jhon Locke. Jadi manusia dalam merubah perilakunya banyak dipengaruhi oleh faktor pengalaman. Teori ini berkembang menjadi teori Behavioristik yang mana perilaku manusia dapat bekembang apabila ada stimulus dan respons. Menurut teori behavioristik atau aliran tingkah laku, belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respons. Belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Belajar tidaknya seseorang bergantung pada faktor-faktor kondisional yang diberikan lingkungan. Beberapa ilmuan yang termasuk pendiri sekaligus penganut behavioristik antara lain Thorndike, Watson, Hull, Guthrie dan skinner.

Kata kunci dalam teori behavioristik ini menyangkut faktor external, stimulus dan respon, triad and error, faktor kebiasaan, reward (penghargaan), hukuman, penguat, panca indera dan law of learning. Kata-kta kunci ini yang nantinya akan dibahas dalam teori-teori pembelajaran sepeti teori keneksivisme, classical conditionem, dan operant conditinem yang juga memiliki tokoh masing-masing.

Pertama teori Behavioristik melahirkan teori yang dinamakan koneksionisme (Thorndike). Kemudian muncul teori classical conditioning yang tokohnya bernama Ivan Pavlov (1927), Edwin Guthri dan Watson. Setelah teori itu sudah lama di pelajari maka muncul lagi teori yang akan kita bahas ini yaitu teori Operant Conditioning.

Operant Conditioning merupakan teori yang dikembangkan oleh Skinner. Skinner mengembangkan teori cinditioning dengan menggunakan tikus sebagai percobaan. Menurutnya, suatu respon sesungguhnya juga menghasilkan sejumlah konsekuensi yang nantinya akan mempengaruhi tingkah laku manusia. Untuk memehami tingkal laku siswa secara tuntas menurut skinner perlu memahami hubungan antara stimulus dengan stimulus yang lainnya, memahami respons itu sendiri dan berbagai konsekuensi yang diakibatkan oleh respons tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan segala sesuatunya menjadi bertambah rumit, sebab alat itu akhirnya juga dijelaskan lagi. Ini nantinya akan lebih jelas apabila akan mempelajari teori kognitivisme. Dari hasil percobaannya, skinner membedakan respon menjadi dua yaitu: (1) respon yang timbul dari stimulus tertentu, (2) “operant (instrumental) respons”, yang timbul dan berkembang karena diikuti oleh perangsang tertentu. Teori Skinner dikenal dengan “operant conditioning”, dengan enam konsepnya yaitu:

  1. Penguatan negatif dan positif.
  2. Shapping yaitu proses pembentukann tingkah laku yang makin mendekati tingkah laku yang diharapkan.
  3. Pendekatan suksesif yaitu proses pembentukan tingkah laku yang menggunakan penguatan pada saat yang tepat, hingga respons pun sesuai dengan yang diisyaratkan.
  4. Extinction yaitu proses penghentian kegiatan sebagai akibat dari ditiadakannya penguatan.
  5. Chaining of response yaitu respons dan stimulus yng berangkaian satu sama lain.
  6. Jadwal penguatan yaitu pemberian penguatan: rasio tetap dan bervariasi, interval tetap dan bervariasi.

Skinner lebih percaya pada “penguatan negatif” (negatif reinforcement), yang tidak sama dengan hukuman. Bedanya dengan hukuman adalah, bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respons yang timbul berbeda dari yang diberikan sebelumnya, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respons yang sama menjadi kuat. Misalnya seorang siswa perlu dihukum untuk suatu kesalahan dan dilakukan pengurangan terhadap sesuatu yang mengenakan baginya (bukan malah ditambah), maka pengurangan ini mendorong siswa untuk memperbaiki kesalahannya. Inilah yang disebut “penguatan negatif”.

  1. B. Kelebihan dan Kelemahan Teori Operant Conditioning

Pertama disini saya akan menjelaskan kelebihann teori Operant Conditioning dalam pengajaran mata pelajaran aqidah akhlak pada jenjang madrasah tsanawiyah. Sudah dijelaskan diatas bahwa teori Operant Conditioning merupakan teori yang yang menggunakan stimulus dan respon dalam mendidik perubahan tingkah laku manusia. Apabila stimulus dan respons ini belum maksimal maka teori ini masih punya cara yang lain yaitu apabila tidak sesuai yang diharapkan maka teori ini menggunakan faktor triad and error. Yaitu faktor pengajaran yang  ada percobaan didalamnya. Mencoba-coba dilakukan apabila seseorang tidak tahu bagaimana harus memberikan respons atau sesuatu, kemungkinan akan ditemukan respons yang tepat berkaitan dengan masalah yang dihadapinya.

Disisi lain teori Operant Conditioning juga menggunakan reward dan hukuman sebagai penguatan respons kepada objek yang diteliti. Misalkan anak didik baru menurut perintah guru apabila akan diberi nilai bagus, dan juga sebaliknya akan diberi nilai jelek apabila tidak menurut kata guru disekolahan.

Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan.

Akan tetapi didalam kelebihan suatu teori pasti juga ada kelemahan. Kelemahan teori ini tidak dapat menjelaskan proses perubahan perilaku anak didik. Karena didalam teori ini hanya menekakan pada hasilnya bukan proses dibalik perubahan perilaku tersebut. Apabila kita gunakan dalam mebantu pengaplikasian mata pelajaran aqidah akhak juga kurang memuaskan apabila hasilnya ternyata kurang yang seperti kita harapkan karena didalam prosesnya kita tidak mengetahui penyebabnya.

Beberapa kelemahan  dari teori ini berdasarkan analisa teknologi (Margaret E. B. G. 1994) adalah bahwa: (i) teknologi untuk situasi yang kompleks tidak bisa lengkap; analisa yang berhasil bergantung pada keterampilan teknologis, (ii) keseringan respon sukar diterapkan pada tingkah laku kompleks sebagai ukuran peluang kejadian. Disamping itu pula, tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajar-mengajar. Dengan melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi semakin berat.

Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran justru berakibat buruk pada siswa.

  1. C. Mata Pelajaran Aqidah Akhlak Pada Jenjang Madrasah Tsanawiyah

Aqidah dan Akhlak merupakan dasar yang utama dalam pembentukan kepribadian manusia yang seutuhnya. Pendidikan yang mengarah pada terbentuknya kepribadian berakhlak merupakan hal yang pertama yang harus dilakukan, sebab akan melandasi kestabilan kepribadian secara keseluruhan.

Tentang pendidikan akhlak ini lebih lanjut dikatakan oleh Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, mengatakan bahwa “Pendidikan budi pekerti dan akhlak merupakan jiwa dari pendidikan Islam dan mencapai suatu akhlak yang sempurna merupakan tujuan yang sebenarnya dari pendidikan Islam”. Dengan demikian jelas bahwa gambaran manusia yang ideal yang harus dicapai melalui pendidikan adalah manusia yang sempurna akhlaknya.

Menurut ajaran Islam berdasarkan praktek Rasulullah, pendidikan akhlakul karimah (akhlak mulia) adalah faktor penting dalam membina suatu umat atau membangun suatu bangsa. Suatu pembangunan tidak ditentukan semata dengan faktor kredit dan investasi material. Betapapun melimpah ruahnya kredit dan besarnya investasi, kalau manusia pelaksanaannya tidak memiliki akhlak yang baik, niscaya segalanya akan berantakan akibat penyelewengan dan korupsi.

Oleh karena itu, program utama dan perjuangan pokok dari segala usaha ialah pembinaan akhlak mulia. Ia harus ditanamkan kepada seluruh lapisan dan tingkatan masyarakat, mulai dari tingkat atas sampai ke lapisan bawah. Akhlak dari suatu bangsa itulah yang menentukan sikap hidup dan laku perbuatannya. Tepat apa yang dikatakan oleh penyair besar Ahmad Syauqi Bey, yaitu “kekalnya suatu bangsa ialah selama akhlaknya kekal, jika akhlaknya sudah lenyap, musnah pulalah bangsa itu”.

Apabila suatu bangsa (umat) itu telah rusak, maka hal ini juga akan mempengaruhi akhlak generasi-generasi mendatang. Terlebih lagi kalau rusaknya akhlak tersebut tidak segera mendapat perhatian atau usaha untuk mengendalikan dan memperbaikinya. Bagaimanapun akhlak dan perilaku suatu generasi itu akan sangat menentukan terhadap akhlak dan perilaku umat-umat sesudahnya. Oleh karena itu, tidak salah apa yang telah disampaikan oleh para ahli pendidikan bahwa perkembangan pribadi itu akan sangat ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan, terutama berupa pendidikan. Dijelaskan bahwa manusia yang baik adalah manusia yang memiliki lima syarat utama atau memenuhi empat syarat pokok, yaitu akhlak, amal, asih, arif dan ahli.

Kalau penulis perhatikan dan amati dalam kehidupan sehari-hari, berkaitan dengan moral dan budi pekerti yang menimbulkan kemerosotan norma-norma susila dan norma-norma agama dikalangan masyarakat, terutama dikalangan generasi pemuda yang bisa membawa kegoncangan hidup manusia.

Dengan adanya aqidah yang tidak tetap dan kokoh itu, tentu akan menyebabkan orang tersebut mudah teromabang-ambingkan oleh arus Syaithoniah. Dari keadaan semacam ini apabila tidak dapat dikendalikan oleh norma-norma yang menyetirnya (agama), maka akan terjadi adalah kekacauan dalam kehidupannya. Kita sebagai generasi penerus, harus menyadari hal tersebut, karena pada pundak generasi mudalah akan ditumpahkan harapan masa depan bangsa ini, guna menyambung usaha-usaha memperbaiki akhlak yang sementara ini terbengkalai, cita-cita bangsa yang belum terlaksana sepenuhnya dan selanjutnya untuk memelihara apa-apa yang telah ada dan mengusahakan yang baru (lebih baik) agar dapat berkembang lebih maju dan semakin sempurna. Oleh karena itu, pendidikan tentang akhlak dalam kehidupan umat manusia menempati kedudukan yang sangat penting.

Di Madrasah Tsanawiyah pendidikan merupakan bagian integral dari pendidikan agama. Memang pendidikan Aqidah Akhlak bukan satu-satunya faktor yang menentukan sekaligus membentuk watak dan kepribadian peserta didik. Tetapi secara substansial mata pelajaran Aqidah Akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan nilai-nilai keyakinan keagamaan (tauhid) dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan Aqidah Akhlak memberikan pengajaran tentang tata nilai yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, mengatur hubungan antara sesama manusia, mengatur hubungan dengan lingkungan dan mengatur dirinya sendiri. Dengan demikian pelajaran Aqidah Akhlak merupakan pelajaran yang teoritis dan aplikatif. Pelajaran teoritis menanamkan ilmu pengetahuan, sedangkan pelajaran aplikatif membentuk sikap dan perilaku dalam kehidupan. Jadi, tolok ukur keberhasilan siswa tidak dapat diukur dengan tinggi rendahnya taraf intelektual anak (aspek kognitif), melainkan hendaknya harus dilihat dari sisi bagaimana karakteristik yang terbentuk melalui pendidikan formalnya (aspek afektif dan psikomotorik).

  1. D. Standar Kompetensi Aqidah Akhlak Pada Jenjang Madrasah Tsanawiyah

Mengenai fungsi pembelajaran Aqidah Akhlak, di dalam Standar Kompetensi Madrasah Tsanawiyah Mata Pelajaran Aqidah Akhlak Kurikulum 2004, telah dijelaskan:

  1. Penanaman nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat
  2. Pengembangan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin, yang telah ditanamkan lebih dahulu dalam lingkungan keluarga
  3. Penyesuaian mental peserta didik terhadap lingkungan fisik dan sosial melalui Aqidah Akhlak
  4. Perbaikan kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pengamalan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari
  5. Pencegahan peserta didik dari hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya asing yang akan dihadapinya sehari-hari
  6. Pengajaran tentang informasi dan pengetahuan keimanan dan akhlak, serta sistem dan fungsionalnya.
  7. Penyaluran peserta didik untuk mendalami Aqidah Akhlak pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. (www. Google.com/ standar kompetensi mata pelajaran aqidah akhlak madrasah tsanawiyah, [01 April  2011].

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata pelajaran Aqidah Akhlak pada Jenjang MTs

a. Kelas VII, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah

1. Memahami dasar dan tujuan akidah Islam

1.1 Menjelaskan dasar dan tujuan akidah Islam
1.2 Menunjukkan dalil tentang dasar dan tujuan akidah Islam
1.3 Menjelaskan hubungan Iman, Islam, dan Ihsan
1.4 Menunjukkan dalil tentang Iman, Islam, dan Ihsan
2. Meningkatkan keimanan kepada Allah melalui pemahaman sifat-sifat-Nya 2.1 Mengidentifikasi sifat-sifat wajib Allah yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani dan ma’nawiyah.
2.2 Menunjukkan bukti/dalil naqli dan aqli dari sifat-sifat wajib Allah yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani, dan ma’nawiyah.
2.3 Menguraikan sifat-sifat mustahil dan jaiz bagi Allah SWT.
2.4 Menunjukkan ciri-ciri/tanda perilaku orang beriman kepada sifat-sifat wajib, mustahil, dan Jaiz Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.
Akhlak

1. Menerapkan akhlak terpuji kepada Allah

1.1 Menjelaskan pengertian dan pentingnya ikhlas, taat, khauf dan taubat
1.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku ikhlas, taat, khauf, dan taubat
1.3 Menunjukkan nilai-nilai positif dari perilaku ikhlas, taat, khauf, dan taubat dalam fenomena kehidupan
1.4 Membiasakan perilaku ikhlas, taat, khauf, dan taubat dalam kehidupan sehari-hari
  1. b. Kelas VII, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah

1. Memahami al-asma’ al-husna

1.1 Menguraikan 10 al-asma’ al-husna (al-‘Aziiz, al-Ghaffaar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)
1.2 Menunjukkan bukti kebenaran tanda-tanda kebesaran Allah melalui pemahaman terhadap 10 al-asma’ al-husna (al-‘Aziiz, al-Ghaffaar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)
1.3 Menunjukkan perilaku orang yang mengamalkan 10 al-asma’ al-husna (al-‘Aziiz, al-Ghaffaar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)
1.4 Meneladani sifat-sifat Allah yang terkandung dalam 10 al-asma’ al-husna (al-‘Aziiz, al-Ghaffaar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum) dalam kehidupan sehari-hari
2.2 Meningkatkan keimanan kepada malaikat-malaikat Allah SWT dan makhluk gaib selain malaikat 2.1

2.2

2.3

2.4

Menjelaskan pengertian iman kepada malaikat Allah SWT dan makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan

Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya malaikat Allah dan makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan

Menjelaskan tugas, dan sifat-sifat malaikat Allah serta makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan

Menerapkan perilaku beriman kepada malaikat Allah dan makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan dalam fenomena kehidupan

Akhlak

3.3 Menghindari akhlak tercela kepada Allah

3.1 Menjelaskan pengertian riya’ dan nifaaq
3.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perbuatan riya’ dan nifaaq
3.3 Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat perbuatan riya’ dan nifaaq dalam fenomena kehidupan
3.4 Membiasakan diri untuk menghindari perbuatan riya’ dan nifaaq dalam kehidupan sehari-hari
  1. c. Kelas VIII, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah

1. Meningkatkan keimanan kepada kitab-kitab Allah SWT

1.1 Menjelaskan pengertian beriman kepada kitab-kitab Allah SWT
1.2 Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya kitab-kitab Allah SWT
1.3 Menjelaskan macam-macam, fungsi, dan isi kitab Allah SWT
1.4 Menampilkan perilaku yang mencerminkan beriman kepada kitab Allah SWT
Akhlak

1. Menerapkan akhlak terpuji kepada diri sendiri

1.1

1.2

1.3

1.4

Menjelaskan pengertian dan pentingnya tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah

Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah

Menunjukkan nilai-nilai positif dari tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah dalam fenomena kehidupan

Menampilkan perilaku tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah

2. Menghindari akhlak tercela kepada diri sendiri 2.1 Menjelaskan pengertian ananiah, putus asa, ghadab, tamak dan takabur
2.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perbuatan ananiah, putus asa, ghadab, tamak dan takabur
2.3 Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat perbuatan ananiah, putus asa, ghadab, tamak, dan takabur
2.4 Membiasakan diri menghindari perilaku ananiah, putus asa, ghadab, tamak, dan takabur
  1. d. Kelas VIII, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah

1. Meningkatkan keimanan kepada Rasul Allah

1.1 Menjelaskan pengertian dan pentingnya beriman kepada Rasul Allah SWT
1.2 Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya Rasul Allah SWT
1.3 Menguraikan sifat-sifat Rasul Allah SWT
1. 4 Menampilkan perilaku yang mencerminkan beriman kepada Rasul Allah dan mencintai Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan
2. Memahami mukjizat dan kejadian luar biasa lainnya (karamah, ma’unah, dan irhash) 2.1 Menjelaskan pengertian mukjizat dan kejadian luar biasa lainnya (karamah, ma’unah, dan irhash)
2.2 Menunjukkan hikmah adanya mukjizat dan kejadian luar biasa lainnya (karamah, ma’unah, dan irhash) bagi Rasul Allah dan orang-orang pilihan Allah
Akhlak

1. Menerapkan akhlak terpuji kepada sesama

1.1 Menjelaskan pengertian dan pentingnya husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun
1.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh perilaku husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun
1.3 Menunjukkan nilai-nilai positif dari husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun dalam fenomena kehidupan
1.4 Membiasakan perilaku husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun dalam kehidupan sehari-hari
2. Menghindari akhlak tercela kepada sesama 2.1 Menjelaskan pengertian hasad, dendam, ghibah, fitnah, dan namiimah
2.2 Mengidentifikasi bentuk perbuatan hasad, dendam, ghibah, fitnah dan namiimah
2.3 Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat perbuatan hasad, dendam, ghibah, fitnah dan namiimah
2.4 Membiasakan diri menghindari perilaku hasad, dendam, ghibah, fitnah dan namiimah dalam kehidupan sehari-hari
  1. Kelas IX, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah

1. Meningkatkan keimanan kepada hari akhir dan alam gaib yang masih berhubungan dengan hari akhir

1.1 Menjelaskan pengertian beriman kepada hari akhir
1.2 Menunjukkan bukti/dalil kebenaran akan terjadinya hari akhir
1.3 Menjelaskan berbagai tanda dan peristiwa yang berhubungan dengan hari akhir
1.4 Menjelaskan macam-macam alam gaib yang berhubungan dengan hari akhir
1.5 Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap hari akhir
Akhlak

1. Menerapkan akhlak terpuji kepada diri sendiri

1.1 Menjelaskan pengertian dan pentingnya berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif
1.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif
1.3 Menunjukkan nilai-nilai positif dari berilmu, kerja keras, kreatif dan produktif dalam fenomena kehidupan
1.4 Membiasakan perilaku berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif dalam kehidupan sehari-hari
  1. f. Kelas IX, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah

1. Meningkatkan keimanan kepada Qada dan Qadar

1.1 Menjelaskan pengertian beriman kepada Qada dan Qadar
1.2 Menunjukkan bukti/dalil kebenaran akan adanya Qada dan Qadar
1.3 Menjelaskan berbagai tanda dan peristiwa yang berhubungan adanya Qada dan Qadar
1.4 Menunjukkan ciri-ciri perilaku orang yang beriman kepada Qada dan Qadar Allah.
1.5 Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan kepada Qada dan Qadar Allah
Akhlak

1. Menerapkan akhlak terpuji dalam pergaulan remaja

1.1 Menjelaskan pengertian dan pentingnya akhlak terpuji dalam pergaulan remaja
1.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku akhlak terpuji dalam pergaulan remaja
1.3 Menunjukkan nilai negatif akibat perilaku pergaulan remaja yang tidak sesuai dengan akhlak Islam dalam fenomena kehidupan
1.4 Menampilkan perilaku akhlak terpuji dalam pergaulan remaja dalam kehidupan sehari-hari.

  1. E. Penerapan Teori Operant Conditioning Dalam Pembinaan Aqidah Akhlak Pada Jenjang Madrasah Tsanawiyah

Sudah dijelaskan semua diatas bahwasanya teori operant cinditioning dapat digunakan dalam pendidikan aqdah akhlak. Teori operant conditioning mempuyai konsep yang bagus untuk menjadikan anak didik mampu melaksanakan perannya sebagai manusia yang berakhlak mulia.

Penerapan teori conditioning ini dapat dilihat dari kasus anak didik yang bandel atau nakal. Menurut skinner yang juga tokoh teori ini menyatakan bahwa penguat negatif dapat digunakan untuk anak yang seperti itu. Penguat negatif ini menurutnya berbeda dengan hukuman, karena hukuman itu merupakan stimulus yang diberikan kepada anak didik agar berperilaku yang lebih baik dari sebelumnya.

Penguat negatif dapat dimisalkan begini, seorang anak didik perlu dihukum untuk suatu kesalahan yang dibuatnya , jika ia masih membandel, maka hukuman harus ditambah. Tetapi bila anak didik membuat kesalahan kemudian dikurangi hukumannya dan anak didik terdorong untuk memperbaiki kesalahannya maka inilah yang disebut penguat negatif menurut skinner.

Dari contoh diatas, banyak dimanfaatkan oleh pihak MTs untuk menerapakan teori ini. Banyak MTs dalam mendidik aqidah akhlah muridnya, memberikan sebuah stimulus yang dapat membuat anak didik berperilaku yang mulia. Misalkan saja, anak didik yang berperilaku baik akan mendapatkan nilai yang bagus. Dari sini kita melihat bahwa stimulus yang diberikan oleh pihak sekolah adalah berupa reward (penghargaan), jelas ini membuat anak didik akan selalu berperilaku yang baik karena kalau tidak akan merasakan akibatnya yaitu mendapat nilai yang jelek.

Akan tetapi, stimulus-stimulus diatas dapat dikurangi apabila anak didik oleh pihak sekolah diberi penguat negatif. Misalkan anak didik terpanggil jiwanya karena kalau ia berperilaku yang tidak mulai ia akan dihukum oleh Tuhan. Ini karena ada kesadaran dalam anak didik itu sendiri.

Penerapan yang lain dari teori operant conditioning ini adalah konsep pendekatan suksesif, yaitu proses  pembentukan perilaku yang menggunakan penguatan pada saat yang tepat, hingga respon pun sesuai yang diharapkan.

  1. F. Implikasi dan Dampak Teori Belajar Operant Conditioning dalam Pembinaan Aqidah Ahklak pada Jenjang MTs

Dampak teori operant conditioning sangat besar pengaruhnya terhadap pembinaan aqidah akhlak pada siswa-siswa MTs. Dampak yang paling menonjol adalah dapat dilihatnya hasil yang baik dalam perilaku anak didik setelah diberi stimulus.

Teori operant conditioning sangat teliti dalam menganalisis perilaku anak didik sehingga hasil yang dicapai pasti maksimal. Misalkan saja dalam memberikan reward atau penghargaan kepada anak didik, hasil belajar harus diberitahukan kepada anak didik, karena jika hasil perilaku anak didik bagus maka penghargaan ini akan diperkuat, tetapi kalau salah akan dibetulkan dan diteliti ulang.

Didalam teori ini juga ditekankan anak didik untuk belajar mengubah perilakunya sendiri, karena pendidik hanya mengawalnya untuk menjadi yang lebih baik. Teori ini menjauhi sebisanya menjauhi sistem hukuman, reward lah yang sering dipakai untuk mendidik anak didik. Apabila anak didik baik perilakunya maka reward ini akan ditambah tetapi apabila perilkunya tetap pada kebiasaan buruk maka reward ini akan dikurangi. Kegiatan ini digunakan untuk pentukan kemandirian anak didik untuk mengubah perilakunya sendiri. Anak didik apabila tahu akan kebutuhannya sendiri maka tingkah laku ini yang nantinya disebut operant.

Analisis Perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk mengubah perilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan aqidah aklhak yaitu:

  1. 1. Meningkatkan perilaku yang diharapkan

Ada lima strategi pengkondisian operan dapat dipakai untuk meningkatkan perilaku anak yang diharapkan yaitu:

  1. Memilih Penguatan yang efektif

Tidak semua penguatan akan sama efeknya bagi anak. Analisis perilaku terapan menganjurkan agar guru mencari tahu penguat apa yang paling baik untuk anak, yakni mengindividualisasikan penggunaan penguat tertentu. Untuk mencari penguatan yang efektif bagi seorang anak, disarankan untuk meneliti apa yang memotivasi anak dimasa lalu, apa yang dilakukan murid tapi tidak mudah diperolehnya, dan persepsi anak terhadap manfaat dan nilai penguatan. Penguatan alamiah seperti pujian lebih dianjurkan ketimbang penguat imbalan materi, seperti permen, mainan dan uang.

  1. Menjadikan penguat kontingen dan tepat waktu

Agar penguatan dapat efektif, guru harus memberikan hanya setelah murid melakukan perilaku tertentu. Analisis perilaku terapan seringkali menganjurkan agar guru membuat pernyataan “jika…maka”. penguatan akan lebih efektif jika diberikan tepat pada waktunya, sesegera mungkin setelah murid menjalankan tindakan yang diharapkan. Ini akan membantu anak melihat hubungan kontingensi antar-imbalan dan perilaku mereka. Jika anak menyelesaikan perilaku sasaran (seperti mengerjakan sepuluh soal matematika) tapi guru tidak memberikan waktu bermain pada anak, maka anak itu mungkin akan kesulitan membuat hubungan kontingensi.

  1. Memilih jadwal penguatan terbaik

Menyusun jadwal penguatan menentukan kapan suatu respons akan diperkuat. Empat jadwal penguatan utama adalah

  1. Jadwal rasio tetap: suatu perilaku diperkuat setelah sejumlah respon.
  2. Jadwal rasio variabel : suatu perilaku diperkuat setelah terjadi sejumlah respon, akan tetapi tidak berdasarkan basis yang dapat diperidiksi.
  3. Jadwal interval – tetap : respons tepat pertama setelah beberapawaktu akan diperkuat.
  4. Jadwal interval – variabel : suatu respons diperkuat setelah sejumlah variabel waktu berlalu.
  5. Menggunakan Perjanjian (contracting)

Adalah menempatkan kontigensi penguatan dalam tulisan. Jika muncul problem dan anak tidak bertindak sesuai harapan, guru dapat merujuk anak pada perjanjian yang mereka sepakati. Analisis perilaku terapan menyatakan bahwa perjanjian kelas harus berisi masukan dari guru dan murid. Kontrak kelas mengandung pernyataan “jika… maka” dan di tandatangani oleh guru dan murid, dan kemudian diberi tanggal.

  1. e. Menggunakan penguatan negatif secara efektif

Dalam penguatan negatif, frekuensi respons meningkat karena respon tersebut menghilangkan stimulus yang dihindari.seorang guru mengatakan”Pepeng, kamu harus menyelesaikan PR mu dulu diluar kelas sebelum kamu boleh masuk kelas ikut pembelajaran” ini berarti seorang guru menggunakan penguatan negatif.

  1. 2. Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukkan (shaping).

Prompt (dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respon tersebut akan terjadi. Shapping (pembentukan) adalah mengajari perilaku baru dengan memperkuat perilaku sasaran.

3. Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan.

Ketika guru ingin mengurangi perilaku yang tidak diharapkan (seperti mengejek, mengganggu diskusi kelas, atau sok pintar) yang harus dilakukan berdasarkan analisis perilaku terapan adalah

  1. Menggunakan Penguatan Diferensial.
  2. Menghentikan penguatan (pelenyapan)
  3. Menghilangkan stimuli yang diinginkan.
  4. Memberikan stimuli yang tidak disukai (hukuman)

Itulah sedikit gambaran teori operant conditioning dalam penerapannya pada pembinaan mata pelajran aqidah akhlak pada jenjang MTs. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin…

KESIMPULAN

Teori operant conditioning sangat cocok untuk digunakan didalam pembinaan akhlak para siswa Madrasah Tsanawiyah, walaupun banyak yang harus dilengkapi dan diusahakan dalam penerapannya.

Sistem reward atau penghargaan yang sangat dominan dalam teori ini, walaupun juga teori ini menggunkan hukuman sebagai konsep untuk merubah perilaku anak didik. Akan tetapi hukuman ini menurut teori yang dibawakan oleh skinner ini sejauh mungkin menghindari konsep hukuman tersebut.

Dampak yang baik dalam penerapan teori ini dapat dilihatnya hasil perubahan perilaku anak didik sehingga kita bisa mengukur sejauh mana keberhasilan kita dalam mendidik perilaku aqidah akhlak anak didik.

DAFTAR PUSTAKA

ü  Bell Gredler, E. Margaret. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: CV. Rajawali

ü  John W. Satrock, 2007. Psikologi Pendidikan. edisi kedua. PT Kencana Media Group: Jakarta.

ü  Prasetya Irawan, dkk, 1997. Teori belajar. Dirjen Dikti: Jakarta

ü  Mukminan. 1997. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: P3G IKIP.

ü  www. Google.com/teori operan conditioning.[01 april 2011]

ü  ———————/ standar kompetensi mata pelajaran aqidah akhlak madrasah tsanawiyah, [01 April  2011].

ü  www. Wikipedia.com/kompetensi dasar aqidah akhlak.[01 april 2011]


Leave a Reply

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Blogroll

A few highly recommended websites...

Archives

All entries, chronologically...