MASYARAKAT MADANI


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di era  dunia saat ini yang sangat mendukung kemajuan, perubahan – perubahan sangatlah penting untuk mendukung kemajuan suatu bangsa. Persaingan sangatlah penting disini, masyarakat adalah pelaku utama untuk mendukung bangsa menjadi bangsa yang besar dan disegani diseluruh dunia. Indonesia dalam hal ini masih tergolong bangsa yang kalangan menengah kebawah. Dalam kondisi tersebut perubahan sangat diperlukan sekali untuk merubah indonesia menjadi yang lebih berkembang lagi di dunia. Untuk itu masyarakat harus menciptakan perubahan yang bersifat mengarah pada kemajuan. Karena Indonesia sangat membutuhkan sistem sosial yang subur yang diasaskan kepada prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan perorangan dengan kestabilan masyarakat.

Dari hal tersebut masyarakat madani sangat penting untuk mendukung kemajuan bangsa. Karena masyarakat madani  disebut juga masyarakat ideal yang memiliki peradaban maju. Untuk mencapai hal tersebut banyak sekali yang harus dilakukan terutama melakukan perubahan – perubahan diberbagai bidang.  Untuk mendukung perubahan tersebut yang terpenting adalah perubahan pola fikir masyarakat yang masih bersifat terbelakang tersebut harus dirubah menjadi poal fikir yang mengarah untuk kemajuan dan  berfikir demi keluarga, agama dan terutama untuk kemajuan bangsa kita tercinta.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian masyarakat madani?
  2. Apakah ciri-ciri masyarakat madani?
  3. Apakah tujuan masyarakat madani?

1.3 Tujuan

  1. Mengetahui pengertian masyarakat madani
  2. Mengetahui ciri-ciri masyarakat madani
  3. Mengetahui tujuan masyarakat madani

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Masyarakat madani

Mayarakat madani (civil society) dapat diartikan sebagai suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan mamaknai kehidupannya.

Menurut para ahli :

1.      Zbigniew Rew, masyarakat madani merupakan suatu yang berkembang dari sejarah, yang mengandalkan ruang dimana individu dan perkumpulan tempat mereka bergabung bersaing satu sama lain guna mencapai nilai-nilai yang mereka yakini.

2.      Han-Sung, masyarakat madani merupakan sebuah kerangka hukum yang melindungi dan menjamin hak-hak dasar individu.

3.      Kim Sun Hyuk, masyarakat madani adalah suatu satuan yang terdiri dari kelompok-kelompok yang secara mandiri menghimpun dirinya dan gerakan-gerakan dalam msyarakat yang secara relative.

4.      Thomas Paine, masyrakat madani adalah ruang dimana warga dapat mengembangkan kepribadian dan memberi peluang bagi pemuasan kepentingannya secara bebas dan tanpa paksaan

5.      Hegel, masyarakat madani merupakan kelompok subordinatif dari Negara,

  1. Masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Allah SWT memberikan gambaran dari masyarakat madani dengan firman-Nya dalam Q.S. Saba’ ayat 15:

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun”.

Secara global bahwa dapat disimpulkan yang dimaksud dengan masyarakat madani adalah sebuah kelompok atau tatanan masyarakat yang berdiri secara mandiri dihadapan penguasa dan Negara, yang memiliki ruang publik dalam mengemukakan pendapat, adanya lembaga-lembaga yang mandiri yang dapat mengeluarkan aspirasi dan kepentingan publik.

2.1.1 Masyarakat Madani Dalam Sejarah

Ada dua masyarakat madani dalam sejarah yang terdokumentasi sebagai masyarakat madani, yaitu:

1) Masyarakat Saba’, yaitu masyarakat di masa Nabi Sulaiman.

2) Masyarakat Madinah setelah terjadi traktat, perjanjjian Madinah antara Rasullullah SAW beserta umat Islam dengan penduduk Madinah yang beragama Yahudi dan beragama Watsani dari kaum Aus dan Khazraj. Perjanjian Madinah berisi kesepakatan ketiga unsur masyarakat untuk saling menolong, menciptakan kedamaian dalam kehidupan sosial, menjadikan Al-Qur’an sebagai konstitusi, menjadikan Rasullullah SAW sebagai pemimpin dengan ketaatan penuh terhadap keputusan-keputusannya, dan memberikan kebebasan bagi penduduknya untuk memeluk agama serta beribadah sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

Prinsip terciptanya masyarakat madani bermula sejak hijrahnya Nabi Muhammad Saw. beserta para pengikutnya dari Makah ke Yatsrib. Hal tersebut terlihat dari tujuan hijrah sebagai sebuah refleksi gerakan penyelamatan akidah dan sebuah sikap optimisme dalam mewujudkan cita-cita membentuk yang madaniyyah (beradab).

  1. Selang dua tahun pascahijrah atau tepatnya 624 M, setelah Rasulullah mempelajari karakteristik dan struktur masyarakat di Madinah yang cukup plural, beliau kemudian melakukan beberapa perubahan sosial. Salah satu di antaranya adalah mengikat perjanjian solidaritas untuk membangun dan mempertahankan sistem sosial yang baru. Sebuah ikatan perjanjian antara berbagai suku, ras, dan etnis seperti Bani Qainuqa, Bani Auf, Bani al-Najjar dan lainnya yang beragam saat itu, juga termasuk Yahudi dan Nasrani.
  2. Dalam pandangan saya, setidaknya ada tiga karakteristik dasar dalam masyarakat madani. Pertama, diakuinya semangat pluralisme. Artinya, pluralitas telah menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat dielakkan sehingga mau tidak mau, pluralitas telah menjadi suatu kaidah yang abadi dalam pandangan Alquran. Pluralitas juga pada dasarnya merupakan ketentuan Allah SWT (sunnatullah), sebagaimana tertuang dalam Alquran surat Al-Hujurat (49) ayat 13.

2.2 Ciri –ciri masyarakat madani
Karakteristik 1

  1. Free public sphere (ruang publik yang bebas), yaitu masyarakat memiliki akses penuh terhadap setiap kegiatan publik, yaitu berhak dalam menyampaikan pendapat, berserikat, berkumpul, serta mempublikasikan informasikan kepada publik.
  2. Demokratisasi, yaitu proses dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingan-kepentingannya
  3. Toleransi, yaitu sikap saling menghargai dan menghormati pendapat serta aktivitas yang dilakukan oleh orang/kelompok lain.
  4. Pluralisme, yaitu sikap mengakui dan menerima kenyataan mayarakat yang majemuk disertai dengan sikap tulus,
  5. Keadilan sosial (social justice), yaitu keseimbangan dan pembagian antara hak dan kewajiban, serta tanggung jawab individu terhadap lingkungannya.
  6. Partisipasi sosial, yaitu partisipasi masyarakat yang benar-benar bersih dari rekayasa, intimidasi, ataupun intervensi penguasa/pihak lain.
  7. Supremasi hukum, yaitu upaya untuk memberikan jaminan terciptanya keadilan
  8. Sebagai pengembangan masyarakat melalui upaya peningkatan pendapatan dan pendidikan
  9. Sebagai advokasi bagi masyarakt yang teraniaya dan tidak berdaya membela hak-hak dan kepentingan
  10. Menjadi kelompok kepentingan atau kelompok penekan

Karakteristik 2

1.   Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok ekslusif kedalam masyarakat  melalui kontrak sosial dan aliansi sosial.

2.    Menyebarnya kekuasaan sehingga kepentingan-kepentingan yang mendominasi dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif.

3.   Dilengkapinya program-program pembangunan yang didominasi oleh negara dengan program-program pembangunan yang berbasis masyarakat.

4. Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena   keanggotaan organisasi-organisasi volunter mampu memberikan masukan-masukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah.

5.   Tumbuhkembangnya kreatifitas yang pada mulanya terhambat oleh rejim-rejim totaliter.

6.   Meluasnya kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga individu-individu  mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri.

7.  Adanya pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan berbaga ragam perspektif.

8.  Damai, artinya masing-masing elemen masyarakat, baik secara individu maupun secara kelompok menghormati pihak lain secara adil.

9. Tolong menolong tanpa mencampuri urusan internal individu lain yang dapat mengurangi kebebasannya.

10. Toleran, artinya tidak mencampuri urusan pribadi pihak lain yang telah diberikan oleh Allah sebagai kebebasan manusia dan tidak merasa terganggu oleh aktivitas pihak lain yang berbeda tersebut.

11. Keseimbangan antara hak dan kewajiban sosial.

12. Berperadaban tinggi, artinya bahwa masyarakat tersebut memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan untuk umat manusia.

13. Berakhlak mulia.

Dari beberapa ciri tersebut, kiranya dapat dikatakan bahwa masyarakat madani adalah sebuah masyarakat demokratis dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingan-kepentingannya; dimana pemerintahannya memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi kreatifitas warga negara untuk mewujudkan program-program pembangunan di wilayahnya. Namun demikian, masyarakat madani bukanlah masyarakat yang sekali jadi, yang hampa udara, taken for granted. Masyarakat madani adalah onsep yang cair yang dibentuk dari poses sejarah yang panjang dan perjuangan yang terus menerus. Bila kita kaji, masyarakat di negara-negara maju yang sudah dapat dikatakan sebagai masyarakat madani, maka ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi untuk menjadi masyarakat madani, yakni adanya democratic governance (pemerintahan demokratis) yang dipilih dan berkuasa secara demokratis dan democratic civilian (masyarakat sipil yang sanggup menjunjung nilai-nilai civil security; civil responsibility dan civil resilience).

2.3 Tujuan masyarakat madani

1. Terpenuhinya kebutuhan dasar individu, keluarga, dan kelompok dalam masyarakat.

2. Berkembangnya modal manusia (human capital) dan modal sosial (socail capital) yang kondusif bagi terbentuknya kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan terjalinya kepercayaan dan relasi sosial antar kelompok.

3. Tidak adanya diskriminasi dalam berbagai bidang pembangunan; dengan kata lain terbukanya akses terhadap berbagai pelayanan sosial.

4. Adanya hak, kemampuan dan kesempatan bagi masyarakat dan lembaga-lembaga swadayauntuk terlibat dalam berbagai forum dimana isu-isu kepentingan bersama dan kebijakan publik dapat dikembangkan.

5. Adanya kohesifitas antar kelompok dalam masyarakat serta tumbuhnya sikap saling menghargai perbedaan antar budaya dan kepercayaan.

6. Terselenggaranya sistem pemerintahan yang memungkinkan lembaga-lembaga ekonomi, hukum, dan sosial berjalan secara produktif dan berkeadilan sosial.

7. Adanya jaminan, kepastian dan kepercayaan antara jaringan-jaringan kemasyarakatan yang memungkinkan terjalinnya hubungan dan komunikasi antar mereka secara teratur, terbuka dan terpercaya.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

a)    Masyarakat madani merupakan masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi. masyarakat madani adalah suatu satuan yang terdiri dari kelompok-kelompok yang secara mandiri menghimpun dirinya dan gerakan-gerakan dalam msyarakat yang relative.

b)  Ciri-ciri masyarakat madani adalah Demokratisasi ToleransiPluralisme, Keadilan sosial (social justice), Partisipasi sosial .

c) Tujuan dari masyarakat Madani adalah terciptanya masyarakat yang demokratis,dan adanya keseimbangan pada setiap masyarakat Madani. Di dalam masyarakat Madani akan tercipta rasa toleransi, saling menghargai, berani mengeluarkan pendapat, dan saling menghormati.

3.2 Saran

Sesuai dengan pengertiannya masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi, oleh karena itu untuk menjadiakan negara ini lebih maju kita perlu merubah derajat kita menjadi masyarakat yang madani. Untuk mewujudkan masyarakat yang madani kita harus menjunjung tinggi rasa toleransi dan pluralisme.

 


SASTRA ARAB MODERN

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

 

Sastra Arab merupakan karya sastra yang penting dan menarik untuk dikaji baik secara historis ataupun kritik yang dapat memberikan pengetahuan bagi para pembacanya. Hal ini sangat mungkin karena karya sastra ini menggunakan media bahasa al-Qur’an yaitu bahasa Arab dan tidak bisa dipungkuri bahwa bahasa al-Qur’an memberikan standar bahasa fushah Arab baik dari aspek struktur, gaya, dan model pengungkapan, sehingga memberikan inspirasi positif yang dapat mempengaruhi model ekspresinya sastrawan Arab.

 

Sastra adalah jenis tulisan yang mempunyai nilai keindahan. Sastra dalam bahasa arab “al-adab” dalam arti umum berperilaku dengan alahlakul karimah, seperti jujur dan amanah. Sedangkan dalam arti khusus ucapan yang indah yang menyentuh perasaan dan memberi pengaruh pada jiwa. Sedangkan modern adalah istilah yang berarti adanya perubahan yang lebih baik. Jadi,  sastra arab modern adalah sebuah karya tulis sastra yang mengalami perubahan yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu[1].

Secara garis besar, kesusastraan Arab di bagi menjadi dua bagian, yaitu prosa (an-Natsr) dan puisi (syi’r). Perkembangan puisi pada masa ini, secara bertahap, mendapat pengaruh dari Eropa Baru, salah satu contoh dari pengaruh ini adalah Dalam puisi Arab modern. Pada puisi tersebut terdapat puisi-puisi tidak bersajak atau puisi bebas yang digunakan secara luas dalam puisi-puisi Arab, tidak dapat disangkal lagi merupakan pengaruh dari Barat. Romantisme, puisi tak bersajak dan puisi bebas ini secara luas telah berpengaruh dan berkembang dalam kesusastraan Arab. Perubahan puisi di jaman modern ini juga terlihat jelas pada tema-tema dan gaya penulisannya(‘Utsman Muwafi, 2008: 173). Adanya pengaruh ini juga mempengaruhi terhadap para sastrawan  dan karya sastra Arab yang muncul pada masa ini.

Read more »

Evaluasi Prestasi Belajar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Evaluasi merupakan suatu penilaian terhadap suatu kinerja yang sudah di kerjakan, hal ini pandangan umum dalam masyarakat. Apakah hanya pekerjaan di suatu lembaga saja yang mempuyai evaluasi?. Pastinya tidak di segala aktivitas kita sehari-hari semua memerlukan suatu penilaian untuk mengetahui suatu keberhasilan. Begitu pula di dunia pendidikan sangat memerlukan evaluasi dalam setiap langkah untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sebagaimana kita ketahui tujuan pendidikan secara umum adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya. Dengan demikian suatu evaluasi pasti di butuhkan untuk mengetahui sejauh mana tujuan pengajaran dan pembelajaran yang sudah di laksanakan di suatu instansi tersebut. Dengan demikian evaluasi dalam mencapai Read more »

MENGELOLA KELAS

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Persyaratan utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien adalah tersedianya guru atau dosen (pendidik) yang mampu memenuhi pengelolaan kelas yang efektif. Pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku yang komplek, dan pendidik harus mampu menciptakan kondisi kelas yang sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan bermutu. Kualitas proses dan hasil pembelajaran ditentukan di kelas, untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan pendidik yang mampu memenej atau mengelola kelas. Dan salah satu indikatornya adalah menyediakan suasana yang kondusif, maka pendidik sebisa mungkin untuk menguasai, mengatur dan membenahi, serta menciptakan suasana kelas yang kondusif sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran diinginkan.

Suasana kelas yang kondusif dan optimal dalam proses pembelajaran dapat tercapai jika pendidik mampu mengatur, peserta didik dan sarana prasarana pembelajaran untuk mencapai tujuan.

  1. TUJUAN
  2. Mengetahui pengertian dari mengelola kelas.
  3. Mampu mendesain lingkungan fisik kelas yang baik.
  4. Dapat menciptakan lingkungan yang positif untuk pembelajaran.
  5. Mampu menjadi komunikator yang baik. Read more »

MOTIVASI, PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang

Motivasi belajar bagi siswa menjadi sangat penting ketika seorang siswa mulai mengalami penurunan semangat belajar. motivasi diharapkan dapat  mendorong semangat belajar siswa sehingga siswa mampu untuk belajar dengan baik dan lebih serius. Dengan memiliki motivasi belajar yang baik dalam skala jangka pendek dan jangka panjang, diharapkan siswa nantinya mampu melakukan manajemen waktu untuk mengejar semua tujuan tersebut. motivasi jangka pendek misalnya motivasi mendapatkan hadiah dari guru, ingin mendapat ranking pertama, dan lain sebagainya. Sedangkan motivasi dalam jangka panjang misalnya, ingin mendapatkan pekerjaan yang mapan, ingin mendapatkan jabatan yang tinggi, dan lain sebagainya.

Seorang siswa yang memiliki motivasi yang besar dan berkeinginan kuat untuk mendapatkannya akan memiliki antusias lebih besar dalam belajar di bandingkan dengan siswa yang cenderung tidak memiliki motivasi. Seperti contoh, seorang siswa yang sangat ingin mendapatkan ranking pertama akan lebih antusias belajar dan berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik dari pada siswa yang tidak memperdulikan rankingnya.

Read more »

download disini

MOTIVASI, PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang

Motivasi belajar bagi siswa menjadi sangat penting ketika seorang siswa mulai mengalami penurunan semangat belajar. motivasi diharapkan dapat  mendorong semangat belajar siswa sehingga siswa mampu untuk belajar dengan baik dan lebih serius. Dengan memiliki motivasi belajar yang baik dalam skala jangka pendek dan jangka panjang, diharapkan siswa nantinya mampu melakukan manajemen waktu untuk mengejar semua tujuan tersebut. motivasi jangka pendek misalnya motivasi mendapatkan hadiah dari guru, ingin mendapat ranking pertama, dan lain sebagainya. Sedangkan motivasi dalam jangka panjang misalnya, ingin mendapatkan pekerjaan yang mapan, ingin mendapatkan jabatan yang tinggi, dan lain sebagainya.

Seorang siswa yang memiliki motivasi yang besar dan berkeinginan kuat untuk mendapatkannya akan memiliki antusias lebih besar dalam belajar di bandingkan dengan siswa yang cenderung tidak memiliki motivasi. Seperti contoh, seorang siswa yang sangat ingin mendapatkan ranking pertama akan lebih antusias belajar dan berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik dari pada siswa yang tidak memperdulikan rankingnya.

Dengan demikian, kenyataan dilapangan yang terjadi adalah saat siswa memiliki orientasi yang jelas maka mereka memiliki perilaku belajar yang baik dan teratur. Hasilnya adalah mereka mampu menyelesaikan pekerjaan berdasarkan prioritas dan mendapatkan hasil yang maksimal.

 

 

 

1.2 Tujuan

Adapun beberapa tujuan dari  penyusunan makalah ini adalah:

  1. Memberi pemahaman tentang “Motivasi” kepada para pembaca.
  2. Memberi informasi kepada pembaca tentang bagaimana cara memahami dan memberi motivasi kepada peserta didik dalam proses pengajaran dan pembelajaran.

 

1.3 Manfaat

Beberapa manfaat dari penyusunan makalah ini adalah:

  1. Pembaca dapat mengetahui definisi motivasi,
  2. Pembaca atau khususnya para pendidik dapat menerapkan cara-cara memberi motivasi kepada peserta didik.

 

1.4 Deskripsi Kasus

Tidak semua siswa memiliki motivasi belajar  yang baik sehingga  dapat menjadikan dirinya lebih antusias dan lebih serius dalam proses belajar. Fenomena yang ada pada siswa saat ini adalah terdapat kecenderungan penurunan motivasi dan prestasi belajar mereka dari tahun ke tahun. Mereka semakin jarang masuk sekolah, sering terlambat, duduk di bangku belakang dan mulai tidak peduli dengan masa depan. Hal ini terkadang juga menjangkiti para pengajar. Para guru mulai tidak memperhatikan kualitas pengajaranyya, tidak peduli akan keadaan peserta didiknya. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kualitas pembelajaran.

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN ANALISA KASUS

 

 

2.1  Pengertian Motivasi

Pengertian dasar motivasi ialah keadaan internal organisme baik manusia atau hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah.[1]

Adapun pengertian motivasi menurut Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu. Pendapat lain juga mengatakan bahwa motivasi adalah “ keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan” (Soeharto dkk, 2003 : 110)

Sedangkan pengertian motivasi menurut Chung dan Megginson yang dikutip oleh Faustino Cardoso Gomes, menerangkan bahwa pengertian motivasi adalah tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang yang mengejar suatu tujuan dan berkaitan dengan kepuasan kerja dan perfoman pekerjaan.

Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah  kekuatan tersembunyi di dalam diri kita yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas.

 

 

2.2  Motivasi untuk meraih sesuatu/tujuan

Adapun mengenai Motivasi untuk meraih sesuatu/tujuan menurut Muhibbin Syah  dalam pembahasannya mengungkapkan bahwa, motivasi itu di bedakan menjadi dua macam, yaitu:

1. Motivasi intrinsik

Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik siswa adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan. [2]

2. Motivasi ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang dating dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah, peraturan/tata tertib sekolah, suri teladan orang tua, guru, dan seterusnya merupakan contoh-contoh konktret motivasi ekstrinsik yang dapat menolong siswa untuk belajar. Kekurangan atau ketidakadaan motivasi, akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses belajar materi-materi pelajaran baik di sekolah maupun di rumah.

 

 

2.3  Motivasi, hubungan dan Sosiokultural

 

 

2.4 Analisa Kasus

Dewasa ini banyak kita jumpai fenomena yang tidak enak untuk dipandang mata dan dirasakan. Pengangguran merajalela, prestasi belajar siswa menurun, sehingga sudah jarang lagi pelajar Indonesia yang bisa membanggakan nama bangsa di mata dunia dalam ajang-ajang intelektual. Banyak pula orang-orang yang bekerja tidak professional, seperti dokter-dokter yang mal praktik, dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan motivasi Mereka belum mam, yang ada di dalam benak mereka hanyalah sesuatu yang dangkal. Padahal jika mereka mempunyai motivasi yang besar dan antusiasme yang tinggi dalam mendapatkan sesuatu maka nama bangsa Indonesia secara otomatis akan terangkat dan bisa menyaingi bahkan menjadi lebih baik dari pada Negara-negara maju di dunia.

 

BAB III

PENUTUP

 

 

3.1 Kesimpulan

Motivasi intrinsik

Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar.Motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang dating dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar, selanjut nya motivasi, hubungan dan Sosiokultural

 

 

 

           

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Syah, Muhibbin. 2011. Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: Rosda karya

Surya, Mohamad.2004. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Pustaka Bani Quraisy

 

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2065557-hubungan-motivasi-dan-perilaku-belajar 01.00/04.10.2012

http;//motivasi, pengajaran dan pembelajaran dan.htmla01.00/04.10.2012

 


[1]  Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2011. hal. 134

[2] Ibid. hal. 134

MENGELOLA KELAS

BAB I
PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Persyaratan utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien adalah tersedianya guru atau dosen (pendidik) yang mampu memenuhi pengelolaan kelas yang efektif. Pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku yang komplek, dan pendidik harus mampu menciptakan kondisi kelas yang sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan bermutu. Kualitas proses dan hasil pembelajaran ditentukan di kelas, untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan pendidik yang mampu memenej atau mengelola kelas. Dan salah satu indikatornya adalah menyediakan suasana yang kondusif, maka pendidik sebisa mungkin untuk menguasai, mengatur dan membenahi, serta menciptakan suasana kelas yang kondusif sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran diinginkan.

Read more »

PROPOSAL KEGIATAN RAMADAHAN

PROPOSAL KEGIATAN PESANTREN RAMADHAN

MAHASISWA UIN MAULANA MALIK IBRAHIM

1433H/2012 M

 

  1. Latar Belakang

Ramadhan adalah bulan yang mulia, penuh rahmat, maghfirah, dan limpahan pahala dari Allah SWT. Kedatangannya selalu dinanti dan dirindu oleh setiap mukmin yang haus akan limpahan kasih sayang Allah SWT.Dimana di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an dan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Segala amal kebaikan akan dilipat gandakan nilai ganjarannya.

Rasa gembira akan kehadiran bulan Ramadhan adalah bentuk keimanan seorang muslim. Dan dari rasa gembira itu membuat Allah SWT mengharamkan api neraka untuk menyentuh jasadnya. Namun meski demikian, kita harus mempersiapkan segala sesuatu untuk mengisi bulan Ramadhan tersebut. Supaya kita bisa menjalankan amal-amal sholeh dengan baik dan Ramadhan tidak berlalu sia-sia dari kehidupan kita, tanpa meninggalkan kemuliaan sedikitpun.

Menyiapkan hati dan jiwa menjelang bulan Ramadhan dengan cara bertobat kepada Allah SWT, yaitu menyesali segala kelalaian dan kesalahan yang kita lakukan, memperbaiki hubungan dengan orang-orang di sekitar kita seperti orang tua, saudara, tetangga, teman, dan orang-orang yang kita kenal, serta menebarkan kebaikan dan kebahagiaan di hati setiap manusia adalah upaya agar Ramadhan kita berjalan penuh makna. Selain itu kita mesti membuat perencanaan yang cerdas untuk mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan yang tersusun rapi yang membuat Read more »

cara membuat adress berjalan pada blog


Di postingan  blog kali ini saya mau bahas tentang cara bikin teks pada address bar agar dapat berjalan ,
Address bar itu seperti yang ada pada gambar.. Jadi, bagaimana cara membuat dia berjalan, bahkan berlari dan gak akan capek??? hehehe… ayo ikuti langkah2nya..

Yang pertama temen2 harus lakukan adalah masuk ke Rancangan –> Edit HTML
Trus temen2 temukan code </head>
Kalau udah ketemu, masukan kode di bawah ini di atas kode </head> :

<script language=’JavaScript’>
var txt=&quot;SmiLe..SmiLe..SmiLe…&quot;;
var kecepatan=100;var segarkan=null;function bergerak() { document.title=txt;
txt=txt.substring(1,txt.length)+txt.charAt(0);
segarkan=setTimeout(&quot;bergerak()&quot;,kecepatan);}bergerak();
</script>

ubah yang berwarna merah dengan teks mu sendiri..
jangan lupa di save yah..^^
Semoga Berhasil..

POTRET PENDIDIKAN NASIONAL

BAB I

PENDAHULUAN

 

1. Latar Belakang

 

Seiring dengan perkembangan zaman, berkembang pula sistem yang berlaku dalam pendidikan nasional. Akan tetapi dari perubahan ke perubahan memberikan dampak yang kurang memuaskan sesuai dengan perencanaan yang ada, Sehingga dalam menanggapi dan menjalankannya kurang sesuai dengan cita-cita nasional yang mana mencerdaskan anak bangsa. Hal ini mengakibatkan para peserta didik kurang menghargai akan makna pendidikan yang ada dalam negeri, mereka lebih menyukai dengan sistem yang ada di luar  negeri atau memilih untuk tidak mengikuti pembelajaran yang di berikan di nasinal alias mogok sekolah. Dengan adanya permasalahan tersebut sehingga memunculkan gagasan-gagasan baru

 

2. Rumusan Masalah

 

2.1 Apa pengertian dan tujuan pendidikan itu?

2.2 Bagaimana potret pendidikan nasional?

2.3 Bagaimana cara mencerahkan pendidikan  nasional?

 

 

 

3. Tujuan

 

3.1 Mengetahui pengertian dan tujuan pendidikan nasional yang benar.

3.2 Mengetahui gambaran situasi dan kondisi pendidikan nasional benar.

3.3 Mengetahui cara memberikan pencerahan dalam pendidikan nasional.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN MASALAH

 

 

 

1. Pengertian dan Tujuan Pendidikan

 

1.1 Pengertian pendidikan

 

Rasanya tidak ada yang menafikkan arti dan makna penting pendidikan. Hampir semua orang akan sepakat bahwa pendidikan itu memiliki manfaat yang besar dalam kehidupan manusia.Banyak pihak yang meyakini bahwa pendidikan instumen yang paling penting sekaligus strategis untuk mencapai tujuan individual maupun sosial. Pendidikan secara umum bisa diartikan sebagai usaha untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembauran baik jasmani maupun rohani, agar berfungsi dan mampu melaksanakan tugas-tugas hidup secara budaya.

Prof. Sugadra purbakawala dalam ensiklopedi pendidikannya mengartikan pendidikan dalam arti luas meliputi semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pngetahuannya, ilmunya, kecakapannya, serta ketmpilannya. Menurut prof. Lodge pendidikan mempunyai pengertian luas dan sempit. Dalam pengertian luas pendidikan merupakan pengalaman yang dialami seseorang selama hidupnya. Dalam   pengertian sempit pendidikan di batasi pada fungsi tertentu didalam masyarakat yang  terdiri atas penyerahan adat istiadat dengan latar belakang sosial. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seseorang mulai mendapatkan atau memperoleh pengalaman dalam lingkungannya  ketia ia memulai hidupnya di dunia.

 

1.2 Tujuan Pendidikan

 

Pendidikan merupakan suatau alat yang digunakan oleh mnusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya (survival). Manusia dalam memelihara kelanjutan hidupnya mewariskan berbagai nilai-nilai budaya. Dengan landasan “al umur bimaqoshihida”  mana setiap tindakan dan aktivitas harus berorentasi pada tujuan dan rencana, sehingga tujuan pendidikan itu adalah terbentuknya insan kamil yang di dalamnya memiliki wawasan yang kaffah maksudnya religius, mampu menjaga dan melestarikan kepribadian, bersikap obyektif , realitis, selalu berkembang berkreatifitas mengolah fikiran,dan agar mampu menjalankan tugas-tugas kehambaan, kekhalifahan, pewaris nabi dan penerus pejuang ilmu nasional, Selain itu pendidikan memiliki tujuan sebagai berikut:

 

1.2.1 Wajah kekeluargaan dan persaudaraan yang menumbuhkan sikap sosial yang     tinggi.

1.2.2 Wajah penuh kemulyaan sebagai makhluk hidup yang berakhlak.

1.2.3 Wajah kreatif yang menumbuhkan gagasan-gagasan baru dan bemanfaat bagi kemanusiannya.

1.2.4 Keterbukaan dalam menumbuhkan prestasi kerja dan pengabdian.

 

1.2.5 Keseimbangan dalam menumbuhkan kebijakan dan kearifan dalam mengambil keputusan.

 

Dengan kata lain pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan rasio, perasaan, dan panca indera. Oleh karena itu pendidikan seharusnya memiliki pelayanan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya yang meliputi spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, linguistik, baik secara individu ataupun kolektif, dengan demikian tujuan utama pendidikan adalah bertumpu pada terealisasinya sistem pendidikan dalam mencerdaskan para peserta didik nasional.

 

2. Gambaran pendidikan

 

Dalam pendidikan nasional tentunya menginginkan pendidikan yang bermutu dan berkualitas, akan tetapi hal ini memberikan pandangan lain ketika pendidikan yang diharapkan gagal ataupun belum behasil. Sebagaimana dalam pendidikan di Indonesia yang tergambar buram dalam pelaksanaannya, adapun gambaran pendidikan nasional sebagai berikut ini:

 

2.1 Sistem Parsial

 

Pendidikan nasional memiliki peranan yang cukup signifikan dalam dinamika perjalalan bangsa Indonesia. Tanpa adanya peranan dari dunia pendidikan, sulit dibayangkan bagaimna kondisi bangsa Indonesia sekarang ini. Arah perjalanan bangsa dan potert Indonesia secara umum mewakili gambaran yang dimiliki dunia pendidikan. Hal ini tidak bisa dinafikkan peranan penting para lulusan luar negeri, mereka memiliki peranan yang lebih luas dalam kancah berbagai aspek kehidupan. Serara jujur harus kita akui bersama bahwa apa yang tengah berlangsung dalam dunia pendidikan nasional sekarang ini bukanlah potret yang sempurna. Gambaran pendidikan Indonesia, selain kontribusi positif yang telah dimainkan juga sarat dengan persoalan kian hari kian kompleks dan sulit di urai.

Salah satu penilaian menyebutkan bahwa sistem pendidikan nasional bersifat parsial, tidak utuh dan tidak sistematis. Implikasi dari sistem ini adalah di hasilkannya output yang memiliki karekteristik yamg terpecah .Ada tiga kelompok besar prototipe output pndidikan dari sistem parsial sebagaimana berikut ini:

 

2.1.1 Pendidikan menghasilkan lulusan yang intelektual yang mamapu menguasai alat teknologi yang mutakhir, namun kurang mampu memahami, menjalankan, dan menghayatinilai-nilai luhur ajaran agama. Akibatnya banyak oarang pandai akan tetapi kurangmemperhatiak nilai-nilai moralitas. Misalnya, banyak oarng yang memiliki intelektualitas yang memadai bergelar doktor bahkan profesor, akan tetapi tidak di iringi oleh moralitas yang tinggi. Terbukti beberapa dari mereka kini menghuni teralis besi.

2.1.2 Mereka yang memiliki kemampuan intelektual mampu, menghayati, menguaasai, dan menjalankan nilai-nilai luhur, tetapi tidak mampu menguasai teknologi dan dinamika politik yang ada di dalamnya. Karena watak kritis dan lemahnya kemampuan analitis menjadikan kelompok ini begitu mudah dijadikan sebagai alat untuk kepentinagan tertentu.

2.1.3 Kelompok yang memiliki kemampuan intelektual yang mampu menguasai agama, akan tetapi tidak mampu manghayati nilai-nilai luhur sebagai substansi ajaran agama, akibatnya muncul para ahli agama yang mumpuni secara keilmuan, tetapi mereka justru menggadaikan agama demi kepentingan tertentu.

 

Oleh karena itu jika pendidikan yang di kembangkan berkarakter sistematis dan komprehensif, berbagai kekurangan dalam sistem parsial kan mampu diminimalisir. Dalam kerangka inilah sistem pendidikan yang harus dikritik, dievaluasi dan diperbaiki agar menjadi lebih baik lagi.

 

2.2 Kurikulum yang Kurang Mencerdaskan

 

Banyaknya perubahan-perubahan dalam membuat kurikulum baru, misalnya dari kurikulum MGMP diganti dengan KTSP tidak lama diganti dengan KBK dan diganti lagi jika kurang cocok dengan harapan. Memang perubahan itu perlu, akan tetapi perlu disadari tidak semua perubahan mudah di terima, termasuk perubahan kurikulum. Pada dataran teknis, perubahan kurikulum memang telah diikuti dan dilaksanakan oleh para guru, terlepas bgaimana kualitas pelaksanaanya. Tetapi nampaknya spirit, ruh, filosofi, dan substansi yang mendasari kurikulum baru tersebut belum mampu terinternalisasi secara utuh. Akibtnya, pergantian kurikulum pun mampu memberikan perubahan secara signifikan dalampeningkatan kualitas peningkatan kualitas lulusan.

Gambaran yang kurang memuaskan dari wajah pendidikan ini diperparah dengan munculnya berbagai permasalahan lain yang datag seolah tanpa henti. Hal ini tampak pada ujian nasional, perjokian” jalan belakang” dalam menerima murid baru, dan berbagai permasalahan lain, seolah begitu sulit untuk diputus. Berita seperti inisepertinya menjadi rutinitas yang terus mengikuti perjalanan pendidikan dari waktu ke waktu. Berbagai realitas semacam inilah yang menjadikan wajah pendidikan nasional tetap saja sulit menjadi cerah dan menggembirakan.

 

2.3 Akses Negatif Media

 

Inilah era akhir rahasia, segala sesuatu memiliki peluang menjadi konsumsi publik termasuk persoalan yang paling privat sekalipun. Dalam analisis yang di kembangkan oleh pakar pendidikan Indonesia, H.A.R Tilar ada beberapa persoalan yang kini harus dihadapi oleh sistem pendidikan nasional.salah satunya menurunya akhlak dan moral siswa (dan mahasiswa). Pergaulan dan seks bebas, telah berkembang menjadi fenomena yang kian meresahkan. Jumlah pelaku dari kalangan pelajar dari waktu ke waktu  semakin meningkat. Fenomena seperti tidak bisa dilihat semata mata dari sudut pandang normatif keberagaman dan moralitas saja, akan tetapi merupakn salah satu faktor yang cukup determinan pengaruhnya adalah derasnya pengaruh perkembangan teknologi informasi.

Seksualitas memang buakan sekedar entitas bio-seksual yang keberadaanya terformat dalam suatu kerangka makna dan pola-pola pengorganisasian yang mantab, tetapi setiap saat dapat berubah karena interaksi dengan berbagai faktor. Pornografi salah satu bentuk hidden curicculum merupakan hal yang cukup berbahaya bagi perkembangan mentalitas anank didik. Oleh karena itu di butuhkan pemikiran dan usaha serius agar dampak negatifnya dapat dieliminir. Sebagaimana dalam ajaran agama, seksualitas seharusnya diposisikan secara proporsional sebagai representasinilai, norma dan sistem pengetahuan masyarakat, bukan justru diekploitasi sebagai obyek nafsu.

 

2.4 Buruknya infrakstruktur Sekolah

 

Banyak yang tergelitik melihat wajah pendidikan kita yang carut marut dan bopeng disana sini. Apa yang dilakukan pemerintah masih sebatas melemparkan ide-ide abstrak yang tidakoperasional dan tidak di imbangi dengan adanya alat untuk merealisasikan anjuran tersebut. Indra Djati Sidi seperti yang dikutip kembali oleh Enco Muliyasa, mengemukakan beberapa hal yang harus dilakukan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan otonomi pendidikan yaitu:

 

2.4.1 Upaya peningkatan mutu pendidikan dilakukan dengan menetapkan tujuan dan standar kompetensi pendidikan melalui konsesus nasional antara pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat.

2.4.2 Peningkatan efisiensi pengelolaan pendidikan yang mengarah pada pengelolaan berbasis sekolah ( school based management), dengan memberi kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia bagi tercapainya tujuan pendidikan.

2.4.3 Peningkatan relevansi pendidikan yang mengarah pada pendidikan yang berbasis masyarakat ( community based management).

2.4.4 pemerataan pelayanan pendidikan mengarah pada pendidikan yang berkeadilan yang berkaitan dengan formula pembiayaan pendidikan yang adil dan transparan.

 

2.5. Kenakalan Pelajar

 

Selain persoalan pornografi dan menurunnya akhlak dan moralitas siswa ditandai dengan semakin meningkatnya perilaku kekerasan sesama mereka. Para pelajar yang melakukan perkelahian sesama pelajar meningkat terus dari waktu ke waktu. Belakangan kondisi semakin memprihatinkan dengan perilaku tawuran yang dilakukan oleh kalangan mahasiswa. Akan tetapi kesalahan itu tidak semuanya diakibatkan dari para pelajar sendiri melainkan ada faktor penyebab lainnya misalnya, kurangnya ekonomi, hubungan orangtua dan anak bagaikan musuh, tidak bisa mengontrol sosial pada tindakan ekerasan. Sehingga dalam mengatasi masalah kenakalan pelajar yang kian hari kian meningkat intensitasnya ini, menarik mengutip pendapat prof.Dr.Arief Rahman. Beliau menawarkan beberapa langkah untuk mengatasi masalah tersebut, sebagaimana berikut ini:

 

2.5.1 Memberi informasi kepada kepala sekolah, guru, orangtua, anak dan masyarakat mengenai kenakalan pelajar.

2.5.2 Memberikan kegiatan edukatif, yaitu kegiatan yang melibat kan semua unsur tersebut untuk membahas dan memberi alternatif kegiatan yang bernialai pendidikan dan mengandung manfaat positif.

2.5.3 Memberi kegiatan yang sifatnya alternatif.

 

2.6 Masyarakat yang Mabuk Gelar

 

Sebuah gelar akademis memiliki makna yang sangat penting. Gelar tersebut mencerminkan kapasitas dan kualitas yang selaras dengan pemiliknya. Kalau dibelakang ada gelar SH, misalnya, maka bukan hal yang salah jika masyarakat mengansumsikan jika pemiliknya adalah orang yang menguasai hal ikhwal dan seluk beluk dalam bidang hukum. Demikian juga dengan gelar-gelar yang lainnya yang melekat di depan atau di belakang nama seseorang.

Ada beragam manifestasi mentalitas instan, misalnya obral ijazah dan gelar serta perkuliahan jarak jauh. Fenomena lain yang dapat kita amati adalah tumbuhnya perilaku tidak jujur dalam dunia sekolah. Coba simak berita di media masa pada waktu penerimaan musim penerimaan murid baru. Hampir terjadi dalam setiap tahunnya protes demi protes dari orang tua murid terkait dengan pelaksanaan penerimaan murid baru. Fenomena yang tampak hampir setiap tahun ini telah mencerminkan sesuatu yang menyedihkan dalam dunia pendidikan kita. Ada guratan kekecewaan, kesedihan, ketidakpercayaan, dan harapan yang tidak tercapai dari wajah –wajah orang tua yang anaknya gagal menjadi siswa di sekolah tertentu. Sementara orang tua yang anak-anaknya di terima di sekolah tertentu merasakan gembira yang luar biasa seolah masa depan anaknya telah di rengkuh secara nyata. Bahkan yang tercermin demi kesuksesan anaknya, banyak orang tua yang rela berkorban dengan melakukan apapun. Jika lewat mekanisme norma gagal, maka “jalan belakang” menjadi alternatif lain yang dipilih. Ada salah satu mutiara kearifan Jawa yag memiliki relevansi untuk kita renungkan di tengah arus budaya masyarakat yang semakin cenderung ke arah budaya jalan pintas. Aja nggege mangsa yag mana artinya jangan mempercepat atu mendahului waktu.  Dalam etika dan filsafat Jawa, ungkapan tersebut mengandung makna yang lebih dalam. Pemaknaannya terkait dengan sikap hidup dan kaitan jati diri manusia sebagai dalam individu, sosial, dan makhluk ciptaan Tuhan.

 

3. Cara Pencerahan Terhadap Pendidikan

 

Makna penting pendidikan tentunya sudah diketahui oleh sebagian besar orang. Tetapi kesadaran untuk menjadikan pendidikan sebagi bagian yang tidak terpisah dari kehidupan, masih menjadi agenda besar yang harus terus menerus diperjuangkan. Sebab, kesadaran ini baru tumbuh di sebagian kecil kalangan masyarakat. Sementara sebagian besarnya masih memahami pendidikan sebatas formalitas sekolah sampai jenjang tertentu. Setidaknya ada jejak untuk mencerahkan pendidikan itu misalnya, menjadikan pecandu pendidikan, memberikan wewenang kepada setiap masyarakat untuk belajar, memberikan paradigma bahwa pendidikan berkualitas tidak harus mahal. Selain itu metode pendidikan juga perlu diperhatikan, yang mana metode itu memiliki tujuan menjadikan proses belajar mengajar berhasil, lebih berguna, menimbulkan gairah untuk belajar para peserta didik. Misalnya, metode diakronis sosiohistoris, sinkronis-Analitis, problem solving, empiris, induktif, dan deduktif. Akan tetapi sebaik-baiknya metode tanpa pengaplikasian sama saja tidak memberikan arti dari sistem metode yang bagus, adapun contoh teknik dari metode pembelajaran sebagai berikut ini:

 

3.1 Periklanan dan pertemuan adalah sistem pengaplikasian yang berisikan ceramah dan tulisan.

3.2 Dialog(hiwar) adanya tanya jawab, diskusi(forum, seminar, musyawaroh, panel,    simposium), mujadalah, saling menstransfer saran antar anggota peserta didik, sehingga peserta didik bisa memahami secara mendalam materi yang telah di jelakan.

3.3 Metafora dengan adanya perumpamaan baik berupa ungkapan, gerak, gambar-gambar.

3.4 Permainan dan simulasi.

3.5 Driil pengaplikasian atau praktek secara di paksa setiap hari.

3.6 Memberikan janji dan ancaman, hal ini memberikan dorongan para peserta didik untuk lebih giat dalam belajar.

 

Dengan demikian pendidikan bisa mewujudkan cita-cita dan tujuannya yaitu, memanusiakan manusia dan memberikan pengetahuan yang modern, profesional yang bermoral dan berakhlak. Sehingga sistem pendidikan nasional yang memberikan gambaran buram pada pendidikan  bisa di tanggulangi secara bertahap dan continue.

BAB III

KESIMPULAN

 

Pendidikan sebagai bagian erat dari dinamika sosial kemasyarakatan harus selalu tanggap tehadap perubahan. Lembaga pendidikan dimana pun  dan dalam bentuk yang seperti apapun seha rusnya tidak menempatkan posisinya sebagai menara air, yaitu melebur menjadi  satu dengan masyarakat tanpa memberikan identitas apa-apa. Untuk memberikan prespektif yang mencerahkan berkaitan dengan bagaimana menghasilkan sistem pendidikan yang lebih baik. Karena perubahan yang ignifikan tidak harus dengan melakukan aksi yang spektakuler dan revolusioner, aksi biasa saja yang dilakukan secara konsisten dan dialakukan dengan penuh kesadaran akan pentingnya perubahan yang bermakna. Pendidikan yang bisa mengangkat kehormatan manusia dan mampu memberikan prespektif perubahan inilah yang di harapkan para penerus bangsa untuk mengubah paradigma baru yang mencerahkan pendidikan nasional.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 Naim, ngainun. Rekontruksi Pendidikan. 2010. Yogyakarta. Teras.

Widiastono, Tonny. Pendidikan Manusia. 2004.Jakarta. Kompas.

Santrok, Jhon. Psikologi Pendidikan. 2009. Salemba Humanika.

 

 

 

 

 

 

 

 

Powered by WordPress | Find Cheap Cell Phones at iFreeCellPhones.com. | Thanks to Palm Pre Blog, Video Game Music and Car Insurance