Evaluasi Prestasi Belajar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Evaluasi merupakan suatu penilaian terhadap suatu kinerja yang sudah di kerjakan, hal ini pandangan umum dalam masyarakat. Apakah hanya pekerjaan di suatu lembaga saja yang mempuyai evaluasi?. Pastinya tidak di segala aktivitas kita sehari-hari semua memerlukan suatu penilaian untuk mengetahui suatu keberhasilan. Begitu pula di dunia pendidikan sangat memerlukan evaluasi dalam setiap langkah untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sebagaimana kita ketahui tujuan pendidikan secara umum adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya. Dengan demikian suatu evaluasi pasti di butuhkan untuk mengetahui sejauh mana tujuan pengajaran dan pembelajaran yang sudah di laksanakan di suatu instansi tersebut. Dengan demikian evaluasi dalam mencapai

 

  1. Tujuan

2.1  Pendidik dan peserta didik dapat mengetahui arti,tujuan,dan fungsi dari evaluasi.

2.2  Pendidik dan peserta didik dapat mengetahui ragam dari evaluasi.

2.3  Pendidik dan peserta didik dapat mengetahui indikator prestasi belajar.

2.4   Pendidik dan peserta didik dapat mengetahui prestasi kognitif, afektif dan psikomotor.

 

  1. Manfaat

Sitem pembelajaran yang mana di dalamnya terdapat, pendidik, peserta didik serta media pembelajaran dapat berkesinambungan dalam menjalankan perannya. Sehingga dengan adanya pembahasan evaluasi belajar dapat mengetahui sejauh mana tujuan dari proses belajar mengajar dapat  tercapai secara maksimal.

 

  1. Deskripsi Kasus

Identifikasi Diri Siswa

  • Nama Siswa : Nur nabila mufatahatin.
    Nama Panggilan : Nabila
    Kelas : 2 SMP
    Tempat/tgl. Lahir : Malang, 12 juli 1999
    Agama : Islam
    Jenis Kelamin : Perempuan
    Alamat : RT 01, Rw 02 Joyo Suko malang
    Sekolah : SMP 13 Negeri Malang
    Hobby : Menyanyi
    Jumlah saudara : 3 (tiga)
    Anak ke : 2 (dua)
  • · Ayah
    Nama lengkap : Iskandar Muda
    Umur/TTL : 50 tahun / Trenggalek, 7 April 1962
    Pendidikan : Sarjana
    Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil
    Hubungan dengan anak : Anak kandung
    Alamat : Rt 01, Rw 02 Joyo Suko Malang

    • Keadaan Jasmani Siswa
      Tinggi Badan : 154 cm
      Berat badan : 44 kg
      Warna kulit : sawo matang
      Warna rambut : hitam
      Bentuk muka : lonjong
  • · Ibu
    Nama lengkap : Sri Nuryati
    Umur/TTL : 43 tahun / Blitar, 28 Agustus 1979
    Pendidikan : SMA
    Pekerjaan : Ibu rumah tangga
    Alamat : Rt 01, Rw 02 Joyo Suko Malang

 

  • Keadaan Kesehatan
    Penglihatan : Normal
    Pendengaran : Normal
    Pembicaraan : Normal
    Potensi jasmani : Normal

 

  • Kegiatan Siswa di Rumah
    Klien bangun pagi setiap pukul 05.00 WIB, cuci muka, lihat tv, mandi, sarapan dan berangkat sekolah. Klien berangkat ke sekolah diantar orang tua. Pada pukul 15.30 klien pulang sekolah dan selanjutnya bermain. Pada pukul 16.30 klien mandi setelah itu makan. Setelah magrib klien belajar dengan didampingi orang tua. Pada pukul 22.00 WIB klien mulai tidur malam.

    • Kelengkapan belajar
      Buku paket : lengkap
      Buku catatan : lengkap
      Ruang belajar : tidak punya
    • Bimbingan
      Dari ayah : pernah
      Dari ibu : selalu, Dari saudara : selalu
    • Waktu belajar
      Waktu belajar siswa kurang teratur.
      Siswa belajar jika disuruh orang tua
    • Perumahan
      Klien tinggal bersama kakek, nenek, ayah, ibu dan adik dan saudara-saudaranya dalam lingkungan desaJoyo Suko Malang. Dalam lingkungan tersebut hubungan bertetangga cukup bagus. Hal ini mendukung perkembangan sosial klien untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

      • Kelakuan dan prestasi Klien
        Sikap pada teman : Cukup baik, tidak membeda-bedakan teman.
        Sikap pada guru : Baik, tapi masih merasa segan untuk bertanya.
        Prestasi : Kurang baik/lambat, prestasi rendah.

 

 

f. Gambaran Masalah

 

Nabila adalah anak ke dua dari pasangan Iskandar dan Sri Nuryati sekrang dia berumur 13 tahun dan duduk di kelas 2 (dua) di SMP 13 Negeri Malang. Dia selalu rutin masuk sekolah dan mematuhi peraturan yang ada di sekolah. Pada saat pembelajaran dia termasuk anak yang aktif. Hampir semua pertanyaan guru dijawab tetapi sebagian jawaban salah. Pada saat menerangkan dia lebih banyak berbicara sendiri dari pada memeperhattikan penjelasan guru. Ayah Nabila bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, pulang kerja sore hari, kadang juga lembur atau piket, sehingga ayahnya kurang biasa memperhatikan Nabila. Dia di rumah diperhatikan oleh kakek, nenek, ibu dan saudara-saudaranya. Untuk belajar dia selalu diingatkan oleh ibunya jika tidak diingatkan dia tidak belajar. Ibunya selalu menemani saat ia belajar, tetapi ibunya juga harus mengawasi adiknya yang masih kecil. Di rumah dia termasuk anak yang dimanja. Semua keinginanya selalu dituruti orang tuanya atau oleh kakek neneknya. Apabila tidak dituruti dia tidak mau berangkat sekolah dan marah. Pada waktu berangkat sekolah dia selalu diantar dan saat pulangnya dia pun di jemput. Kebiasaan orang tua Nabila yang selalu memanjakanya itu memebuat Nabila manja dan maunya sendiri.
g.  Gejala-gejala yang Nampak
Berdasarkan gambaran masalah di atas, dapat diketahui gejala-gejala yang nampak jelas pada diri klien diantaranya sebagai berikut.

  • Gejala yang bersifat positif adalah sikap atau perbuatan yang dapat membantu dan meningkatkan proses belajar mengajar pada diri klien. Gejala-gejala tersebut diantaranya : Mematuhi peraturan sekolah, rajin mengikuti kegiatan sekolah, tidak suka membolos sekolah, menurut perintah guru
  • Gejala yang bersifat negatif adalah sikap atau perbuatan yang kurang baik yang dapat mengganggu proses belajar mengajar pada diri klien. Gejala tersebut diantaranya :
    Sulit memahami materi pelajaran, bersifat pendiam dan pemalu, kurang memiliki keberanian dalam berpendapat, cepat putus asa dalam mengerjakan soal, bersikap manja, bertindak semaunya sendiri, tidak mau meneliti hasil jawabannya

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Kajian Pustaka

1.1                   Definisi Evaluasi

Sebelum lebih jauh mempelajari tentang ruang lingkup evaluasi pendidikan, perlu diketahui terlebih dahulu, apa itu eavaluasi?. Sebagaimana kita ketahui terdapat tiga istilah tentang evaluasi yaitu “ evaluasi (evaluation) ”, “ pengukuran (measurement)”, dan “ penilaian (assesment)”. Evaluasi berasal dari evaluation (bahasa inggris), kata tersebut di serap ke dalam perbendaharaan istilah bahasa Indonesia menjadi “evaluasi”. Istilah “penilaian” merupakan kata benda dari “nilai”. Pengertian “pengukuran” mengacu pada kegiatan membendingkan sesuatu hal dengan satuan ukuran tertentu, sehingga sifatnya menjadi kuantitatif[1]. Dengan demikian ketiga istilah tersebut akan digunakan secara bergantian tanpa mengubah suatu makna pembahasan. Sehingga dari pengertian tersebut dapat di tarik suatu pengartian bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif  yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan[2].

Dalam arti luas, evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat di perlukan untuk membuat alternatif- alternatif keputusan (Mehrens & Lehmann,1978:5)[3]. Dalam hubungan dengan kegiatan pengajaran Norman E. gronlund (1976) merumuskan penertian evaluasi sebagai berikut: “ Evaluation… a systematic process of determining the extent to wich instructional objectives are archeived by pupils”. (evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan- tujuan pengajaran dicapai oleh siswa)[4].

Dalam pengertian lain evaluasi berasal dari bahasa inggris yaitu “Evaluation”. Dalam buku Essentials of Educational Evaluation karangan Edwin wand dan Gerald W.Brown dikatakan bahwa “ evaluation refer to the act or prosess to determining the value of something ( wand and Brown, 19, hal 1), jadi menurut mereka berdua evaluasi merupakan suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari pada sesuatu . Sesuai dengan pendapat tersebut maka evaluasi pendidikan dapat di artikan sebagai

 

suatu tindakan atau sesuatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan[5].

Dari berbagai pengertian di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa evaluasi, khususnya evaluasi pengajaran adalah:

  1. Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis, bahwa evaluasi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara berkesinambungan.
  2. Di dalam evaluasi di perlukan berbagai informasi atau data yang menyangkut obyek yang sedang di evaluasi.
  3. Setiap kegiatan evaluasi tidak dapat di lepaskan dari tujuan- tujuan pengajaran yang hendak di capai.

Pada tahun 1974an masyarakat masih menganggap bahwa evaluasi pendidikan terbatas penertiannya pada penilaian hasil belajar. Dasar pemikiran yang di gunakan adalah bahwa pendidikan merupakan upaya memberikan satu perlakuan pembelajaran kepada peserta didik. Kesuksesan hasil belajar mereka dapat di ketahui melalui kegiatan penilaian . Selain itu dasar pemikiran tersebut terdapat pula anggapan bahwa upaya pendidik dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran adalah kunci pembelajaran dengan hasil belajar peserta didik. Sehingga di asumsikan bahwa di antara pembelajaran dengsn hssil belajar merupakan hubungan lurus atau linier[6].

 

1.2               Tujuan dan Fungsi Evaluasi

1.2.1 Tujuan Evaluasi

Secara garis besar tujuan evaluasi pendidikan adalah untuk mendapat data pembuktian yang akan menunjukkan sampai mana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan- tujuan kurikuler. Selain itu juga dapat di gunakan oleh guru-gur dan para pengawas pendidikan untuk mengukur atau menilai sampai di mana ke efektifan pengalaman- pengalaman mengajar, kegiatan-kegiatan belajar dan metode-metode mengajar yang di gunakan[7].

Secara terperinci tujuan dari evaluasi adalah[8]:

  1. Mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam satu kurun waktu proses belajar tertentu.
  2. Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam kelompok kelasnya.
  3. Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar.
  4. Untuk mengetahui segala upaya siswa dalam mendayagunakan kapasitas kognitifnya (kemempuan kecerdasan yang dimilikinya ) untuk keperluan belajar.
  5.   Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode yang telah di gunakan guru dalam proses mengajar belajar.

Selain itu berdasarkan UU Sidiknas No. 20 tahun 2003 Pasal 58(1) evaluasi hasil belajar peserta didik di lakukan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan[9].

 

1.2.2         Fungsi Evaluasi

 

Disamping memiliki tujuan evaluasi tentunya juga memilikiperan fungsi khusus dalam dunia pendidikan. Karena fungsi evaluasi di dalam pendidikan tidak dapat lepas dari tujuan evaluasi itu sendiri. Secara umum fungsi evaluasi sebagai berikut[10]:

  1. Untuk mengetahui tarap kesiapan dari anak- anak untuk menempuh suatu pendidikan tertentu.
  2. Untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang telah di capai dalam proses pendidikan yang telah dilaksanakan.
  3. Untuk mengetahui apakah suatu mata pelajaran yang kita ajarkan dapat kita lanjutkan dengan bahan yang baru, ataukah kita harus mengulangi bahan- bahan yang telah lampau.
  4. Untuk mendapatkan informasi dalam memberikan bimbingan tentang jenis pendidikan atau jenis jabatan yang cocok untuk anak tersebut.
  5. Untuk mendapatkan bahan- bahan informasi untuk menentukan apakah seorang anak dapat di naikkan ke dalam kelas lebih tinggi ataukah harus mengulang di kelas semula.
  6. Untuk membandingkan apakah prestasi yang dicapai oleh anak- anak sudah sesuai dengan kapasitasnya atau belum

 

 

  1. Untuk menafsirkan apakah seorang anak telah cukup matang untuk kita lepaskan kedalam masyarakat atau lembaga pendidikan yang lebih tinggi.
  2. Untuk mengadakan seleksi.
  3. Untuk mengetahui taraf efesiensi metode yang di gunakan dalam lapangan pendidikan.

Selain itu evaluasi prestasi belajar sudah tentu juga berfungsi  melaksanakan ketentuan konstitutional sebagaimana termaktub dalam UU Sindiknas No. 20/2003 Bab XVI  Pasal 57 (1) yang berbunyi “ Evaluasi pendidikan dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pehak- pihak yang berkepentingan[11].

 

1.3               MACAM- MACAM EVALUASI

Evaluasi hasil belajar merupakan kegiatan berencana dan kesinambungan, oleh karena macamnya paun banyak, mulai yang paling sederhana hingga yang paling kompleks.

 

  1. Pre Test dan Post Test

Pre test merupakan kegiatan evaluasi belajar yang dilakukan guru sebelum memulai proses pembelajaran. Dala m test ini bertujuan untuk mengetahui taraf pengetahuan siswa mengenai materi  yang akan dibahas/dipelajari. Sedangkan post test kebalikan dari pre test yakni kegiatan evaluasi belajar yang dilakukan setelah guru menjelaskan materi yang dibahas. Tujuannya untuk mengetahui taraf penguasaan siswa terhadap materi  yang telah diajarkan.

  1. Evaluasi Prasyarat

Evaluasi ini sangat mirip dengan pre test. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi penguasaan siswa atas materi lama yang mendasari materi baru yang akan diajarkan.

  1. Evaluasi Diagnostik

Evaluasi ini dilakukan setelah selesai penyajian sebuah satuan pelajaran dengan tujuan mengidentifikasikan bagian-bagian tertentu yang belum dikuasai siswa. Instrumen evaluasi jenis ini pada bahasan tertentu yang dipandang telah membuat siswa mendapatkan kesulitan.

 

 

  1. Evaluasi Formatif

Evaluasi jenis ini dilakukan pada setiap akhir penyajian satuan pelajaran. Tujuannya ialah untuk memperoleh umpan balik yang mirip dengan evaluasi diagnostik, yakni untuk mendiagnosis mengetahui kesulitan belajar siswa. Hasil diagnosis kesulitan belajar tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan pengajaran remidial (perbaikan).

  1. Evaluasi Sumatif

Evaluasi sumatif dilakukan untuk mengukur kinerja akademik atau prestasi belajar siswa pada akhir periode pelaksanaan program pengajaran. Evaluasi ini lazim dilakukan pada setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran. Hasilnya dijadikan bahan laporan resmi mengenai kinerja akademik siswa dan bahan penentu naik atau tidaknya siswa ke kelas yang lebih tinggi.

  1. Ebta atau Ebtanas

EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir) dan EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) atau sekarang lebih dikenal dengan UAN, pada prinsipnya sama dengan evaluasi sumatif dalam arti sebagai alat penentu kenaikan status siswa. Namun, EBTA dan EBTANAS, atau UAN ini dirancang untuk siswa yang telah menduduki kelas tertinggi pada suatu jenjang pendidikan tertentu seperti SD/ MI, SMP/MTs, SMA/MA.

 

1.4               INDIKATOR PRESTASI BELAJAR

Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa murid, sangat sulit. Hal ini disebabkan perubahna hasil belajar itu ada yang bersifat intangible (tak dapat diraba). Oleh kaerena itu, yang dapat dilakukan guru dalam hal ini adalah mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang  berdimensi karsa.

Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa sebagaimana yang terutai dia atas adalah mengatuhi garis-garis besar indicator (penunjuk adanya prestasi tertentu) di kaitkan dengan jenis prestasi yang hendak di ungkapkan atau diukur. Selajutnya agar pemahaman anda lebih mendalam mengenai pokok tadi dan memudahkan anda dalam menggunakan alat dan kiat evaluasi yang

 

dipandang tepat, reliable dan valid, dibawah ini penyusun sajikan sebuah table panjang. Table ini berasal dari berbagai sumber rujukan (surya, 1982; Barlow, 1985; petty, 2004) dengan penyesuaian seperlunya.

TABEL

Jenis, indicator, dan cara evaluasi prestasi

Ranah/jenis prestasi Indikator Cara evaluasi
  1. A.     Ranah cipta

(kognitif)

  1. Pengamatan
1.  Dapat menunjukkan

2.  Dapat  membandingkan

3.  Dapat menghubungkan

1. Tes lisan

2. Tes tertulis

3. Observasi

  1. Ingatan
1.  Dapat menyebutkan2.  Dapat menunjukkan kembali 1. Tes lisan2. Tes tertulis

3. Observasi

  1. pemahaman
1. Dapat menjelaskan2. Dapat mendefinisikan dengan lisan sendiri 1. Tes lisan2. Tes tertulis
  1. penerapan
1. Dapat memberikan contoh2. Dapat menggunakan secara

Tepat

1. Tes tertulis2. Pemberian tugas

3. Observasi

  1. Analisis (pemeriksaan dan pemilihan secara teliti)
1. Dapat menguraikan2.  Dapat mengklasifikasikan/memilah-milah 1. Tes tertulis2. Pemberian tugas
  1. Sintesis (mem-buat paduan baru dan utuh)
1. Dapat menghubungkan2. Dapat menyimpulkan

3. Dapat menggeneralisasikan (membuat prinsip umum)

 

1. Tes tertulis2. Pemberian tugas

 

 

 

 

 

1.5               EVALUASI PRESTASI KOGNITIF, AFEKTIF, PSIKOMOTORIK

1.5.1 Pengukuran Ranah Kognitif

Mengukur Keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan. Karena semakin membengkaknya jumlah siswa di sekolah-sekolah, tes lisan dan perbuatan hampir tak pernah digunakan lagi. Alasan lain mengapa tes lisan khususnya kurang mendapat perhatian ialah karena pelaksanaannya yang  face to face (berhadapan langsung).

Dampak negatif yang tak jarang muncul akibat tes yang  face to face itu, ialah sikap dan perlakuan yang subjektif dan kurang adil, sehingga soal yang diajukan pun tingkat kesulitannya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Di satu pihak ada siswa yang diberi soal yang mudah dan terarah (sesuai dengan topik) sedangkan di pihak lain ada pula siswa yang ditanyai masalah yang sukar bahkan terkadang tidak relevan dengan topik.

Untuk mengatasi masalah subjektifitas itu, semua jenis tes tertulis baik yang berbentuk subjektif maupun yang berbentuk objektif (kecuali tes B-S), seyogyanya dipakai sebaik-baiknya oleh para guru. Namun demikian, apabila anda menghendaki informasi yang lebih akurat mengenai kemampuan kognitif siswa, selain tes B-S, tes pilihan berganda juga sebaiknya tak digunakan. Sebagai gantinya, penguji sangat dianjurkan untuk menggunakan tes pencocokan (matching test), tes isian, dan tes esai. Khusus untuk mengukur kemampuan analisis dan sintesis siswa, penguji lebih dianjurkan untuk menggunakan tes esai, karena tes ini adalah satu-satunya ragam instrument evaluasi yang paling tepat untuk mengevaluasi dua jenis kemampuan akal siswa tadi.

Dalam hubungan dengan satuan pelajaran, ranah kognitif memegang peran paling utama. Yang menjadi tujuan pengajaran di jenjang pendidikan pada umumnya adalah peningkatan kemampuan siswa dalam aspek kognitif.

 

Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai tiap aspek:

  1. Pengetahuan

Pengetahuan adalah aspek yang paling dasar. Seringkali juga disebut aspek ingatan. Dalam jenjang kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, fakta atau istilah-istilah, dan lain sebagainya tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya. Karena itu menggunakan kata-kata operasional

 

sebagai berikut: menyebutkan, menunjukkan, mengenal, mengingat kembali, menyebutkan definisi, memilih dan menyatakan. Bentuk soal yang sesuai untuk mengukur kemampuan ini antara lain: benar-salah, menjodohkan, isian atau jawaban singkat, dan pilihan ganda.

 

  1. Pemahaman

Kemampuan ini umumnya mendapat penekanan dalam proses belajar-mengajar. Siswa dituntut memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan isinya tanpa keharusan menghubungkannya dengan hal-hal lain. Bentuk soal yang sering digunakan untuk mengukur kemampuan ini adalah pilihan ganda dan uraian.

 

  1. Penerapan

Dalam jenjang kemampuan ini dituntut kesanggupan ide-ide umum, tata cara, ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, serta teori-teori dalam situasi baru dan kongkret.  Pengukuran kemampuan ini umumnya menggunakan pendekatan pemecahan masalah. Melalui pendekatan ini siswa dihadapkan dengan suatu masalah yang perlu dipecahkan dengan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Dengan demikian, penguasaan aspek ini sudah tentu harus didasari aspek pemahaman yang mendalam tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah tersebut.

 

  1. Analisis

Dalam jenjang kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu ke dalam unsur-unsur  atau komponen-komponen pembentuknya. Dengan jalan ni situasi teresebut menjadi lebih jelas. Bentuk soal yang sesuai untuk mengukur kemampuan ini adalah pilihan ganda dan uraian.

 

  1. Sintesis

Pada jenjang ini seseorang dituntut untuk dapat menghasilkan sesuatu yang baru.

 

  1. Penilaian

Dalam jenjang kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat mengevaluasi situasi, keadaan, pernyataan atau konsep berdasarkan suatu kriteria tertentu. Yang penting dalam evaluasi adalah menciptakan kondisinya sedemikian rupa sehingga siswa mampu mengembangkan kriteria, standart, atau ukuran untuk mengevaluasi  sesuatu.

 

1.5.2         Pengukuran Ranah Afektif

Dalam merencanakan penyusunan instrument tes prestasi siswa yang berdimensi efektif (ranah rasa) jenis-jenis prestasi internalisasi dan karakterisasi, seyogyanya mendapat perhatian khusus. Alasanya, karena kedua jenis prestasi ranah rasa itulah yang lebih banyak mengendalikan sikap dan perbuatan siswa.

Salah satu bentuk tes ranah rasa yang popular ialah “Skala Likert” (likert Scale) yang tujunya untuk mengidentifikasi kecenderungan/sikap orang (Robert, 1988) bentuk skala ini yang menampung pendapat yang mencerminkan sikap sangat setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sagat tidak setuju. Rentang sekor ini di beri nilai 1 sampai 5 atau 1 sampai 7 bergantung kebutuhan dengan catatan sekor-sekor itu dapat mencerminkan sikap-sikap mulai sangat “ya” sampai “sangat tidak”. Perlu pula dicatat, untuk memudahkan identifikasi jenis kecenderunagn efektif siswa yang representative, item-item skala sikap sebaiknya dilengkapi dengan identitas sikap yang meliputi; 1) komitmen; 3) penghayatan; 4) wawasan.

Selanjutnya, untuk memperjelas uraian ini, penyusun sajikan sebuah contoh seperti tampak pada gambar berikut:

MODEL

Sikap Siswa Terhadap Perbuatan Zina

Pernyataan

Skala sikap

Sangat tidak setuju                   sangat setuju

 

Selain itu ada beberapa hal yang dapat di jadikan acuan pendukung dalam proses ini yaitu:

  1. Menerima

Jenjang ini berhubungan dengan kesediaan siswa untuk ikut dalam kegiatan kelas. Jenjang ini berhubungan dengan menimbulkan, mempertahankan, dan mengarahkan perhatian siswa. Hasil belajar  dalam jenjang ini berjenjang mulai dari kesadaran bahwa sesuatu itu ada sampai kepada minat khusus dari pihak siswa.

 

  1. Menjawab

 

 

Berhubungan dengan partisipasi siswa. Hasil belajar dalam jenjang ini dapat menekankan kemauan untuk menjawab atau kepuasan dalam menjawab.

 

  1. Menilai

Berhubunagn dengan nilai yang dikenakan siswa terhadap suatu obyek, fenomena, atau tingkah laku tertentu. Jenjang ini mulai dari hanya sekedar penerimaan nilai sampai ke tingkat komitmen yang lebih tinggi.

 

  1. Organisasi

Tingkat ini berhubungan dengan menyatukan nilai-niali yang berbeda, menyelesaikan/memcahkan konflik diantara nilai-niali itu, dan mulai membentuk suatu sistem nilai yang konsisten secara internal.

 

  1. Karakteristik dengan suatu nilai atau kompleks nilai

Pada  jenjang ini individu memiliki sistem nilai yang mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang cukup lama sehingga membentuk karakteristik “pola hidup”. Jadi tingkah lakunya menetap, konsisten. Hasil belajar meliputi sangat banyak kegiatan, tapi penekanan lebih besar diletakkan pada kenyataan bahwa tingkah laku itu menjadi ciri khas atau karakteristik siswa.

 

1.5.3         Pengukuran Ranah Psikomotorik

Meskipun peranan ranah psikomotorik semakin dirasakan pentingnya, namun tidak dibicarakan meluas dalam lingkup tulisan ini.

  1. Keterampilan motorik : memperlihatkan gerak, menunjukkan hasil (pekerjaan tangan), menggerakkan, menampilkan, melompat dan sebagainya.
  2. Manipulsai benda-benda : menyusun, membentuk, memindahkan, menggeser, mereparasi, dan sebagainya.
  3. Koordinasi neuromuscular, menghubungkan, mengamati, memotong dan sebagainya.

 

1.6          Analisis Kasus

Mengukur Keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif, afektif, serta psikomotorik dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan. Dalam studi kasus ini pendekatan atau cara yang digunakan oleh konselor dalam rangka pengumpulan data tentang siswa yang bermasalah ialah sebagai berikut:

  1. 1.  Berdasarkan Pengamatan di Sekolah
    a. Kepribadian

Pribadi klien baik walaupun cenderung mudah putus asa dan kurang teliti dalam mengerjakan sesuatu. Dia selalu ingin semua keinginannya dituruti. Dia juga cenderung untuk memilih-milih teman.
b. Tingkah Laku

Tingkah laku klien di rumah menunjukkan sikap yang cukup baik. Ia juga sangat patuh terhadap peraturan sekolah. Ia termasuk siswa yang disiplin baik dalam piketnya, datang ke sekolah atau mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah lainnya.

 

c. Perkembangan Jasmani

Perkembangan jasmani klien cukup baik. Klien memiliki fisik yang normal dan sama seperti teman-teman seusianya, taapi kurang lincah. Di dalam kelas klien termasuk siswa yang lembut dan tidak urakan.
d. Hubungan dengan Guru

Klien memiliki hubungan yang baik dengan guru. Klien patuh dan hormat dengan guru-guru di sekolah. Dalam kesehariannya, klien terlihat memilki rasa tidak percaya diri untuk mengutarakan isi hatinya ketika ada materi pelajaran yang belum ia pahami. Pada saat guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya klien cenderung untuk memilih diam saja. Ia tidak berani angkat tangan untuk bertanya.

2. Berdasarkan Wawancara
a. Latar Belakang Keluarga

Berdasarkan wawancara dengan orang tua klien, klien adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai pegawi negeri sipil di Pemkab Kepanjen. Ibunya sebagai ibu rumah tangga. Klien dan keluarganya tinggal di lingkungan desa Joyo Suko Rumahnya tergolong sedang dan sederhana.
Di dalam lingkungan desa tersebut klien tidak mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggalnya, sehingga hubungan bertetangganyapun cukup baik dan akrab.

 

b. Minat

Minat klien terhadap kegiatan sekolah yang berhubungan dengan masalah pelajaran cukup baik walaupun secara intelektual klien tertinggal dengan teman yang lain-lainnya. Hal ini dapat dilihat dari presensi klien yang tidak pernah membolos dan selalu masuk sekolah.
c. Kebiasaan Klien di rumah

Berdasarkan angket yang diberikan pada klien dan wawancara kepada orang tua dapat disimpulkan bahwa waktu klien kurang dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan yang berguna. Sepulang sekolah klien memafaatkan waktu untuk kursus atau melihat tv. Ia belajar setiap harinya maksimal 3 jam. Kalau dia merasa tidak bisa dia minta diajari oleh ibunya.
d. Hobby Klien
Klien memiliki hobby bermain musik dan menyanyi. Kadang waktu luangnya digunakan untuk  mempelajari kembali pelajaran sekolah.
3. Berdasarkan Studi Dokumentasi
a. Hasil Nilai Raport

Hasil nilai raport yang diterima klien kurang baik. Nilai raport dari kelas I tengah semester 1 hingga kelas I tengah semester 2, nilai klien menunjukan penurunan.
b. Absensi Siswa

Dari daftar kehadiran siswa di sekolah dapat diketahui bahwa klien termasuk anak yang rajin masuk sekolah. Ia tidak pernah membolos sekolah. Klien hanya ijin jika kondisinya benar-benar sakit atau kepentingan yang mendesak.

4. Kesimpulan Timbulnya Masalah

Masalah yang dihadapi siswa SD sangatlah kompleks dan banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya masalah. Faktor tersebut dapat berasal dari diri sendiri, keluarga atau lingkungan. Begitu pula yang dialami klien. Ada banyak faktor yang menimbulkan masalah pada diri klien, diantaranya adalah sebagai berikut.
Faktor yang Berasal dari Diri Sendiri
a. Motivasi yang kurang
b. Anak kurang mau bekerja keras agar bias dalam pelajaran.
c. Anak tidak mau meneliti kembali hasil pekerjaannya.
d. Anak terlalu manja.
e. Semua keinginanya harus dipenuhi

Faktor dari Lingkungan Keluarga
a. Kurang bimbingan orang tua saat belajar.
b. Terlalu dimanja dengan selalu menuruti keinginan klien
c. Pelanggara-pelangaran klien kurang mendapat teguran dari orang tua.

Faktor yang Bersumber dari Lingkungan
a. Sekolah
Kurang terbuka kepada guru.
Sikap mudah putus asa dalam pelajaran

b. Luar sekolah atau masyarakat

Kurang memanfaatkan waktu luang, waktu hanya digunakan untuk menonton televisi.
Dari rincian di atas dapat disimpulkan berbagai hal yang menyebabkan permasalahan pada klien. Permasalahan tersebut berasal dari diri klien sendiri, keadaan keluarga dan lingkungan sekitar sangat berpengaruh terhadap sikap dan daya tangkap belajar siswa.

Teknik Pemecahan Masalah

Untuk mengatasi masalah klien dapat dilakukan beberapa hal, yaitu: a.Terhadap Klien

  • Mengajak klien berbincang-bincang mengenai masalah yang dihadapinya sehingga memudahkan konselor untuk megetahui pribadi siswa dan masalah yang sedang dihadapinya serta mempermudah memberikan bantuan dan bimbingan.
  •  Memberi bimbingan yang luas pada klien yang berhungan dengan pendidikan sehingga dapat menimbulkan minat dan motivasi untuk meningkatkan semangat belajarnya
  • memberi pengarahan pada klien bahwa sikapnya yang semaunya sendiri menimbulkan kerugian pada dirinya sendiri.
  • Memberikan pengarahan dan penjelasan agar klien memeperhatikan penjelasan dari guru. Serta tidak mudah menyerah bila mengalami kesulitan belajar.
  • Menasihati klien agar tidak telalu manja pada siapapun.
  •  Menasihati klien agar lebih rajin belajar.

b. Terhadap Orang Tua

  • Memberikan pengarahan pada orang tua agar tidak terlalu memanjakannya karena hal itu dapat berakibat buruk pada klien

 

 

  •  Memeberikan penjalasan pada orang tua agar selalu memeperingatkan klien untuk belajar dan selalu menasihati dan memeberikan dorongan pada klien untuk lebih rajin belajar.
  •  Memeberikan penjelasan pada orang tua bahwa mereka harus selalu

memeperhatikan dan membimbing anaknya untuk belajar lebih giat agar tidak tertinggal dengan teman-temannya.

  •  Memeberikan penjelasan pada orang tua agar menanamkan pada diri klien sikap menghormati dan menghargai orang lain.
  1. c.  Terhadap Teman Klien
  •  Menasihati teman-teman klien agar mau memebantu klien bila ada kesulitan dalam belajar.
  • Menasihati teman-teman klien agar mau menegur klien bila melakuakn penyelewengan-penyelewengan.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

1.1                   Kesimpulan

Dalam suatu pembelajaran sangat di butuhkan yang namanya evaluasi, sebagaimana yang telah kita ketahui evaluasi secara garis besar memiliki tujuan untuk mendapat data pembuktian yang akan menunjukkan sampai mana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan- tujuan kurikuler. Sedangkan fungsi dari evaluasi itu sendiri dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pehak- pihak yang berkepentingan. Untuk mengevaluasi sebuah kasus tidak lah literlak dengan konsep soal- soal, akan tetapi terlebih dahulu mengidentifikasi apa penyebab dari permasalahan yang ada, baru di sajikan manakala evalusi memungkin kan untuk tes dari soal pembelajaran atau IQ,EQ,SQ. Dari beberapa kegagalan yang di alami dalam belajar bukan lah semua berlatar belakang dari sistem belajar mengajar, akan tetapi juga bisa berlatar belakang dari pribadi dan keluarga klien. Dapat di ketahui peran evaluasi sangat lah penting di setiap kalangan, baik pendidik, keluarga, lingkungan, ataupun pribadi diri sendiri yang menjadi komponen suksesnya prestasi belajar  peserta didik.

 

1.2                   Saran

Secara garis besar dalam evaluasi belajar semua komponen yang mendukung  peserta didik harus lah ikut turun tangan dalam masalah. Jangan sampai saling menyalahkan antara pihak satu dengan yang lainnya. Sistem, proses belajar mengajar di sekolah perlu di evaluasi minimal dalam satu bulan sekali. Sedangkan keluarga dan peserta didik bias mengevaluasi setiap hari ataupun ketika peserta didik menerima nilai hasil belajar.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsismi dan  Abdul Jabar, Safrudin Cepi.Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta.  Bumi Aksara.

 

Syah, muhibin. Psikologi Pendidikan. Bandung. Remaja Rosdakarya,2010.

 

Nurkancana,Wayan dan Sumartana. Evaluasi pendidikan.Surabaya.usaha Nasional 1982 .

 

Purwanto,Ngalim. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.Bandung. Remaja Rosdakarya. 2002.

 

Daryanto,H. Evaluasi Pendidikan. Jakarta. Rinika Cipta.1999

 

Thoha,habib. Teknik Evaluasi pendidikan. Jakarta. Raja wali Press. 1991

 


[1] Suharsismi Arikunto dan Cepi Safrudin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan,Jakarta: Bumi Aksara, hal.1

[2] ibid

[3] M. Ngalim purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: Remaja Rosdakarya 2002,hal 3

[4] ibid

[5] Wayan Nurkancana dan Sumartana, Evaluasi pendidikan,Surabaya: usaha Nasional 1982, hal.1

[6] Suharsimi Arikunto dan Cepi safrudin Abdul Jabar, op.cit., hal2

[7] Ngalim Purwanto,op.cit., hal.5

[8] Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan, Bandung, Remaja Rosdakarya,2010, hal.140

[9] Ibid.hal.141

[10] Wayan Nurkancana dan Sumantana, op.cit, hal.3

[11] Muhibin syah,op.cit.,hal. 142

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress | Find Cheap Cell Phones at iFreeCellPhones.com. | Thanks to Palm Pre Blog, Video Game Music and Car Insurance