<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>FITYANBlog UIN MALIKI MALANG &#124; Home</title>
	<atom:link href="http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku</link>
	<description>BLOG KUMPULAN KEGIATANKU DAN MAKALAH -MAKALAH STUDY KU</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Dec 2012 00:59:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>SASTRA ARAB MODERN</title>
		<link>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/sastra-arab-modern/</link>
		<comments>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/sastra-arab-modern/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2012 00:59:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The King</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN   1.1  Latar Belakang &#160; Sastra Arab merupakan karya sastra yang penting dan menarik untuk dikaji baik secara historis ataupun kritik yang dapat memberikan pengetahuan bagi para pembacanya. Hal ini sangat mungkin karena karya sastra ini menggunakan media bahasa al-Qur’an yaitu bahasa Arab dan tidak bisa dipungkuri bahwa bahasa al-Qur’an memberikan standar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>BAB I</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1.1  </strong><strong>Latar Belakang</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sastra Arab merupakan karya sastra yang penting dan menarik untuk dikaji baik secara historis ataupun kritik yang dapat memberikan pengetahuan bagi para pembacanya. Hal ini sangat mungkin karena karya sastra ini menggunakan media bahasa al-Qur’an yaitu bahasa Arab dan tidak bisa dipungkuri bahwa bahasa al-Qur’an memberikan standar bahasa fushah Arab baik dari aspek struktur, gaya, dan model pengungkapan, sehingga memberikan inspirasi positif yang dapat mempengaruhi model ekspresinya sastrawan Arab.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sastra adalah jenis tulisan yang mempunyai nilai keindahan. Sastra dalam bahasa arab “al-adab” dalam arti umum berperilaku dengan alahlakul karimah, seperti jujur dan amanah. Sedangkan dalam arti khusus ucapan yang indah yang menyentuh perasaan dan memberi pengaruh pada jiwa. Sedangkan modern adalah istilah yang berarti adanya perubahan yang lebih baik. Jadi,  sastra arab modern adalah sebuah karya tulis sastra yang mengalami perubahan yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu<a title="" href="/Users/Imam%20Annurcholis/Documents/makalahku.docx#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Secara garis besar, kesusastraan Arab di bagi menjadi dua bagian, yaitu prosa (<em>an-Natsr</em>) dan puisi (<em>syi&#8217;r</em>). Perkembangan puisi pada masa ini, secara bertahap, mendapat pengaruh dari Eropa Baru, salah satu contoh dari pengaruh ini adalah Dalam puisi Arab modern. Pada puisi tersebut terdapat puisi-puisi tidak bersajak atau puisi bebas yang digunakan secara luas dalam puisi-puisi Arab, tidak dapat disangkal lagi merupakan pengaruh dari Barat. Romantisme, puisi tak bersajak dan puisi bebas ini secara luas telah berpengaruh dan berkembang dalam kesusastraan Arab. Perubahan puisi di jaman modern ini juga terlihat jelas pada tema-tema dan gaya penulisannya(‘Utsman Muwafi, 2008: 173). Adanya pengaruh ini juga mempengaruhi terhadap para sastrawan  dan karya sastra Arab yang muncul pada masa ini.</p>
<p><span id="more-285"></span></p>
<p><strong>1.2  </strong><strong>Rumusan Masalah</strong></p>
<p>Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:</p>
<ol>
<li>Genre Sastra Arab modern</li>
<li>Karakteristik sastra Arab modern</li>
<li>Sastrawan dan Karya Sastra Arab Modern</li>
</ol>
<p><strong>1.3  </strong><strong>Tujuan</strong></p>
<p>Berdasarkan masalah di atas, maka tujuan ditulisnya makalah ini adalah untuk:</p>
<ol>
<li>Mengetahui Genre sastra Arab Modern</li>
<li>Mengetahui karakteristik sastra Arab modern</li>
<li>Mengetahui sastrawan dan karya sastra Arab modern</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br /> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>PEMBAHASAN</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>2.1 Genre Sastra Arab Modern</strong></p>
<p>Sastra adalah bagian dari entitas budaya yang wujudnya tercermin dalam karya –karya sastra, sastra Arab pada masa ini  mendapatkan pengaruh besar tehadap sastra Barat terutama di Eropa.Pengaruh inilah yang nantinya akan mempengaruhi genre sastra arab modern. Secara garis besar, kesusastraan Arab di bagi menjadi dua bagian, yaitu prosa (<em>an-Natsr</em>) dan puisi (<em>syi&#8217;r</em>). Perkembangan puisi pada masa ini, secara bertahap, mendapat pengaruh dari Eropa Baru. Keterpengaruhan sastra arab oleh sastra eropa dan sebaliknya bukanlah suatu keterpurukan, justru menjadi fenomena yang indah dalam fora pergaulan sastra dunia, yang pada gilirannya melahirkan karya-karya sastra yang bermutu.</p>
<p>Genre prosa pada masa modern ini memiliki banyak genre seperti maqalah, rosail, khitobah, qissah, uqsusah, dan drama. Maqalah merupakan salah satu genre prosa yang ada pada masa ini, keberadaan dan perkembangan maqalah pada masa ini terpengaruhi oleh pengeruh barat, beberapa jenis maqalah yang ada pada masa ini aadalah maqalah I’jtimaiyah, maqalah As siyasiah, dan maqalah al adaby.</p>
<p>Sastra Arab baru mengenal genre drama pada masa modern. Mereka mengambil genre tersebut dari Barat. Dalam perkembangan berikutnya, seni drama di dalam sastra Arab adalah melalui empat fase<a title="" href="/Users/Imam%20Annurcholis/Documents/makalahku.docx#_ftn2">[2]</a>:</p>
<ol>
<li><strong><em>fase Marun Nuqas al-Lubnani</em></strong> yang meresepsi seni drama ini dari Italia. Dalam karya dramanya berjudul al-Bakhil karya Muller. Kemudian diikuti pula oleh karya-karya drama yang lain seperti Harun al-Rasyid (1850). Karya dramanya yang bersifat jenaka musikal lebih dapat dikatakan sebagai seni operet yang begitu memperhatikan aspek musikalitas dari pada dialoq. Karya-karya dramanya dapat dicerna oleh cita rasa awam, hanya saja karya ini ditulis dengan menggunakan bahasa campuran antara <em>fusha, ami</em>, dan Turki dalam gaya longgar (tidak baku).</li>
<li><strong><em>fase Abu Khalil al-Qubbani</em></strong> di Damaskus yang memajukan seni drama dengan menampilkan banyak sekali kriteria-kriterianya serta bercita rasa dapat dinikmati oleh awam dengan cara memilih drama-drama kerakyatan seperti alfu laylah. Dialognya menggunakan bahsa <em>fusha</em> berupa campuran antara puisi dan prosa yang kadang-kadang mempertimbangkan juga sisi persajakan. Ia terus menghasilkan karya-karya drama di Damskus antara 1878-1884. Sayangnya, beberapa saat setelah itu panggung dramanya ditutup dia pun lalu hijrah ke Mesir dan tetap menulis karya drama.</li>
<li><strong><em>fase Yakkub Sannu’</em></strong>. Pada masa pemerintahan Ismail Basha yang pada saat itu dibangun gedung pertunjukan di mana disitu ditampilkan opera “Aida’ dengan menggunakan bahasa Perancis, dipentaskan pada pembukaan terusan Suez tahun 1869. Pada tahun 1876 muncul tokoh Mesir dalam bidang drama yang bernama Sannu’, populer dengan nama Abu Nazarah. Ia cenderung mengkritisi sosial politik dengan menggunakan bahasa <em>ammi</em>. Kelompok-kelompok penulis Siria dan Mesir melanjutkan penulisan karya drama di Mesir.</li>
<li><strong><em>fase perkembangan</em></strong> pada awal abad 20. Hingga pada tahap ini, banyak drama di Mesir merupakan hasil terjemahan atau resepsi, sebagian diantaranya diterangkan  ini<strong><em>.  Fase pertama</em></strong> 1910, George Abyad pulang dari Perancis setelah di sana mempelajari prinsip-prinsip seni drama, lalu dibuatkan karya drama sosial antara lain berjudul <em>Misr al-Jadidah</em> tulisan Farh Anton, juga dibantu oleh Khalil Mutron dalam menerjemahkan beberapa novel Shakespeare seperti <em>Tajir al-Bunduqiyah</em>,<em>Athil,</em> <em>Macbat</em>, dan Hamlet. <strong><em>Fase  kedua</em></strong>, adalah Yusuf Wahbi mendirikan kelompok ramsis yang memperhatikan tragedi. Ketua kelompok ini telah menulis kurang lebih 200 drama. muncul pula kelompok Najib al-Raihani yang memiliki kecenderungan drama komedi kritik sosial<strong>. <em>Fase ketiga</em></strong>, pasca perang dunia pertama. Di dalam dunia drama muncul aliran Mesir Baru (madrasah al-Misriyah al-Jadidah) yang begitu perhatian terhadap karya drama. Memberikan sentuhan pada probelatika sosial serta cara-cara mengatasinya dengan pasti. Di antara tokohnya adalah Muhammad dan Mahmud Taymur. <strong><em>Fase keempat</em></strong>, mucullah penulis drama Arab modern terbesar Taufiq el-Hakim yang berhasil menuntaskan studi atas prinsip pokok drama di Perancis. Ia menulis lebih dari 60 judul karya drama lengkap dengan struktur dan temanya, demikian pula dialog dan penokohannya. Taufiq begitu ambisius untuk dapat menyertai gerakan perkembanga modern dalam dunia drama. Oleh karena itu, tampak terus mengikuti perkembanga draman barat beserta kecenderungannya. Tidak heran, bila ia dapat berpindah-pindah tema dari drama sejarah ke drama sosial, lalu drama ideologis yang menyelesaikan problema mentalitas. Setelah di dunia Barat muncul drama absurd, ia pun juga melakukan hal yang sama berjudul<em>, Ya Tali’ Syajarah</em>, dan <em>Ta’am Likulli Famm</em>.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rosail atau risalah merupakan salah satu genre prosa yang ada pada masa ini. pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 banyak terdapat kitab rasail terkenal karangan para sastrwan pada masa ini diantara para sastrawan terkenal pada masa ini adalah Abdullah Fikry, Syeikh Muhammad Abduh, Hifni Na’shif, Adib Ishaq, Ahmad Miftah, Abdul Aziz jäwiz, dan bahitah al badiyah. Karangan mereka terkenal dengan sebutan Rasail Al-Ikhwaniyah yang  mana penjelasan didalamnya menjelaskan tentang sebagian hubungan kemanusiaan (hubungan social) diantaranya adalah ucapan selamat, ucapan bela sungkawa,  rindu, harapan, celaan, dan sifat yang menggambarkan tentang permasalahan kehidupan, dan hubungan antara antara manusia. (Mansyur Ahmad dkk, 1972: 174) Khitabah adalah sejenis perkataan dan merupakan cara untuk memuaskan sesuatu dalam mempengaruhi seserang ataupun kelompk, hadirnya khitabah adalah untuk mempertahankan pendapatnya sendiri dan merupakan reaksi terhadap hal-hal yang menyangkut pendapat tersebut. Sedangkan perkembangan khitobah pada masa ini lebih berisi tentang <em>as siyaisyah</em> atau politik. (Mansyur Ahmad dkk, 1972: 177)</p>
<p>Kisah (<em>Qishshah</em>) adalah cerita tentang berbagai hal, baik yang bersifat realistis maupun fiktif, yang disusun menurut urutan penyajian yang logis dan menarik, perkembangan Qishshah pada masa sastra Arab modern terbagi dalam 3 tahapan (Mansyur Ahmad dkk, 1972: 178), yaitu:</p>
<ol>
<li>Fase pertama ialah fase penerjemahan Qishshah sastra Barat kedalam bahasa Arab, Rifah Athohtowi merupakan sastrawan pertama penerjemah Qishashah pada fase ini</li>
<li>Fase yang kedua adalah fase untuk Qishshah bahasa Arab, Qishshah ini muncul dikarenakan munculnya kisah-kisah tentang sejarah. George zaedan merupakan orang yang pertama kali menulis 18 kisah yang disandarkan pada sejarah Arab Islam.</li>
<li>Fase yang ketiga adalah Qishshah bahasa Arab yang muncul dikarenakan adanya kisah social.</li>
</ol>
<p>Perkembangan puisi pada masa sastra Arab modern secara bertahap mendapat pengaruh dari Eropa Baru, meskipun perubahannya mendaptakan tantangan dari para Tradisionalis yang ingin tetap menjaga tradisi klasik yaitu adanya monoritme dalam puisi Arab. Seperti Genre sastra lainnya, puisi pada masa ini dimulai dengan ekspresi-ekspresi mengenai politik, social, dan budaya.(Ahmad Muzakki, 2011:132)</p>
<p>Pada masa modern, perkembangan puisi Arab dapat dibedakan menjadi tiga aliran, meskipun waktunya tidak dapat ditentukan secara jelas, yaitu<a title="" href="/Users/Imam%20Annurcholis/Documents/makalahku.docx#_ftn3">[3]</a>:</p>
<p>1. Aliran al-Muhafidzun, yaitu aliran yang masih memelihara kaidah puisi Arab secara kuat, misalnya keharusan menggunakan wazan (pola) dan qafiyah (rima), jumlah katanya sangat banyak, uslub-nya kuat (gaya atau cara seseorang mengungkapkan dirinya dalam tulisan), tema-temanya masih mengikuti tema-tema masa sebelumnya, seperti madah (pujian-pujian), ritsa (ratapan), ghazal (percintaan), fakhr (membanggakan diri atau kelompok), dan adanya perpindahan dari satu topik ke topik yang lain dalam satu qasidah (ode). Para sastrawan atau penyair yang masuk ke dalam kategori aliran ini di antaranya adalah Mahmud Sami al-Barudi, Ahmad Syauqi, Hafidz Ibrahim, dan Ma’ruf ar-Rusafi.</p>
<p>2. Aliran al-Mujaddidun, yaitu aliran yang muncul karena adanya perubahan situasi politik, sosial, dan pemikiran, adanya keinginan untuk lepas dari hal-hal yang berbau tradisional, adanya pengaruh aliran romantik dari sastrawan-sastrawan Barat, adanya penelitian-penelitian modern tentang jiwa, yang menjadikan sastra, khususnya puisi sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan jiwa dan realita dalam masyarakat. Di antara para sastrawan yang masuk ke dalam aliran ini adalah Khalil Mutran, Abbas al-Aqqad, Abdurrahman Syukri, Ibrahim Abdul Qadir al-Mazini, al-Tijani Yusuf Basyir, Abu al-Qasim asy-Syabiy, dan tahir Zamakhsari.</p>
<p>Dalam aliran ini terdapat adanya pembaharuan dalam topiknya, khususnya dalam hal yang menyangkut tentang masyarakat dan kehidupan, serta kasus-kasus yang terjadi di masyarakat. Adanya pembaharuan dalam deskripsi dan majaz-nya, adanya pengaruh aliran simbolis dalam kesusastraan Arab, di mana para sastrawan atau penyair menggunakan simbol-simbol sebagai sarana pengungkapan perasaan dan pikiran mereka.</p>
<p>3. Aliran al-Mughaaliinu, yaitu aliran yang mengikuti aliran sastra yang ada di Eropa setelah Perang Dunia I. Karena itulah, aliran ini sangat terikat pada situasi dan kondisi politik, sosial, ekonomi, serta pemikiran yang ada pada masyarakat Eropa. Di dunia Arab, pengaruh ini tidak hanya terdapat dalam satu masa saja, tetapi juga berlanjut dari satu masa ke masa sesudahnya. Ciri-ciri aliran ini adalah tidak vokal, tapi menggunakan cara-cara yang pelan-pelan, didominasi oleh deskripsi, tapi ide dan deskripsinya terkadang tidak jelas. Di antara sastrawan yang termasuk dalam aliran ini adalah Ibrahim Naji, Badr Syakir Sayyab, Muhammad Mishbah al-Fituri, Mahmud Darwisy, dan Abdul Wahab al-Bayati.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.2 Karakteristik Sastra Arab Modern</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.2.1 Puisi</strong></p>
<p>Perkembangan puisi pada masa ini, secara bertahap, mendapat pengaruh dari Eropa Baru, meskipun perubahannya mendapat tantangan dari para tradisionalis yang ingin tetap menjaga tradisi klasik, yaitu adanya monoritme dalam puisi Arab (Artikel non personal, 2010).</p>
<p>Pada masa modern, puisi dari sisi temanya dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu (A. Muzakki, 2011: 132):</p>
<ol>
<li>Tema lama yang masih bertahan, diantaranya: wash (deskripsi), fakhr (membanggakan diri), madh (pujian), dan religius.</li>
<li>Tema yang sedikit mengalami perubahan, diantaranya:</li>
</ol>
<p>1)      Naqa’idl  (polemik)</p>
<p>Kalau dulu tema ini hanya digunakan dalam masalah yang bersifat pribadi, sekarang lebih banyak ditujukan kepada orang banyak, atau bahkan kepada masalah negara.</p>
<p>2)      Fakhr (kepercayaan Tuhan)</p>
<p>Tema ini pada mulanya digunakan untuk menggambarkan kemegahan diri atau suatu suku, namun sekarang digunakan untuk kepentingan bangsa dan umat.</p>
<p>3)      Ritsa’ (Ratapan)</p>
<p>Mulanya tema ini digunakan untuk meminta perhatian terhadap suku atau golongan yang berpengaruh, sekarang sering dipergunakan untk meratapi sebuah bangsa yang hancur.</p>
<p>4)      Ghazal (cinta)</p>
<p>Pada masa dulu tema ini digunakan untuk mengungkapkan kecantikan seseorang secara fisik, sekarang lebih terfokus pada nyanyian-nyanyian cinta yang melukiskan gelora jiwa.</p>
<ol>
<li>Tema baru, diantaranya: patriotik, kemasyarakatan, kejiwaan dan puisi drama.</li>
</ol>
<p>Dalam pandangan Herman J. Waluyo tema sastra berikut ini merupakan tema yang masih dominan dalam perkembangan sastra sampai saat ini. Diantaranya:</p>
<ol>
<li>Ketuhanan (religius)</li>
</ol>
<p>Sastra dengan tema ketuhanan atau keagamaan biasanya akan menunjukkan “religius experience” atau pengalaman religi seorang sastrawan. Pengalaman religi ini diambil berdasarkan tingkat kedalaman religi penyair tersebut. Hal ini akan menggambarkan sejauh mana tingkat kereligiusan penyair tersebut. Selain itu, teman ini juga berdasarkan pengalaman religi penyair itu sendiri. Jika seorang penyair tersebut bukan seorang religius yang baik dan khusyuk, maka ikan akan sulit menghasilkan sastra yang bertema keagamaan yang mendalam. Jika penyair adalah seorang yang ragu-ragu akan Tuhan dan agama, mungkin karyanya akan terkesan mempermainkan Tuhan/agama. Adakalanya penyair itu menempatkan tokoh-tokoh agama dalam karyanya dengan tempat yang terhormat, hal ini menunjukkan tingkat kedalaman spiritual penyair yang baik. Sebaliknya, jika penyair menempatkan tokoh-tokoh agama dalam tempat yang buruk atau mulai mencaci kaki mereka, maka hal ini menunjukkan bahwa penyair mengalami kedangkalan iman.</p>
<ol>
<li>Kemanusiaan</li>
</ol>
<p>Tema ini bermaksud menunjukkan harkat dan martabat seorang manusia. Penyair meyakinkan pembaca bahwasanya mereka mempunyai harkat martabat yang sama. Para penyair dengan tema kemanusiaan ini sangat memperjuangkan tema kemanusiaan.</p>
<ol>
<li>Patriotisme</li>
</ol>
<p>Tema patriotisme berfungsi meningkatkan perasaan cinta pada bangsa dan tanah air. Tema ini mengisahkan tentang usaha merebut kemerdekaan atau juga menceritakan perjuangan para pahlawan terdahulu untuk mencapai kemerdekaan. Selain itu, tema ini juga memiliki fungsi membina persatuan dan kesatuan bangsa.</p>
<ol>
<li>Cinta Tanah Air</li>
</ol>
<p>Tema ini berbeda dengan patriotisme. Jika tema patriotisme mengungkapkan pembelaan terhadap tanah air, maka tema cinta tanah air lebih cenderung pada pujian dan pujaan terhadap tanah air.</p>
<ol>
<li>Cinta Kasih antara Pria dan Wanita</li>
</ol>
<p>Sudah tentu jika tema cinta kasih antara pria dan wanita menceritakan tentang percintaan antara pria dan wanita. Di dalam tema ini tidak hanya menceritakan cinta kasih saja, namun juga menceritakan kesedihan-kesedihan dalam cinta. Misalkan saja putus cinta, sedih karena cinta, cinta bertepuk sebelah tangan, ataupun perselingkuhan dalam suatu hubungan.</p>
<ol>
<li>Kerakyatan atau Demokrasi</li>
</ol>
<p>Pada masa modern ini, penyair juga menggunakan tema kerakyatan dalam penciptaan puisinya. Isi dari puisi tersebut adalah protes terhadap penguasa yang tidak mendengarkan jeritan rakyat dan penguasa yang bersikap otoriter.</p>
<p><strong>2.2.2 Prosa</strong></p>
<p>Dalam sejarah kesusastraan Arab modern, sastra prosa telah berhasil mengekspresikan suasana yang kontemporer dan menyebarkan isu-isu individu, keluarga, dan masyarakat. Ciri-ciri kebangkitan sastra prosa pada masa ini dapat dilihat dengan adanya perhatian yang besar terhadap bangkitnya kembali karya-karya Arab klasik, baik dalam bentuk kesusastraan, filsafat, dan disiplin ilmu lainnya (Ahmad Bahruddin, 2011).</p>
<p>Puisi-puisi Arab modern sudah banyak yang tidak terikat lagi pada gaya lama yang memiliki banyak aturan. Meskipun sudah tidak terikat oleh gaya lama, ada beberapa penyair yang masih bertahan dengan menggunakan gaya lama mereka. Beberapa pengamat menganggapnya banyak terpengaruh oleh romantisme Perancis abad ke-19, terutama Lamartine (Nahrub Difan, 2012). Kegiatan penerjemahan buku-buku ke dalam bahasa Arab pun sudah mulai dirintis secara besar-besaran, yang tentunya sebagian besar merupakan karya-karya sastra Barat.</p>
<p>Ciri-ciri prosa pada masa ini adalah lebih memperhatikan pemikrian daripada unsur gayanya, tidak banyak menggunakan kata-kata retoris seperti saja&#8217; tibaq, seperti pada masa sebelumnya. Pemikirannya runtun dan sistematis, penulis tidak keluar dari satu gagasan ke gagasan yang lain, kecuali gagasan yang satu telah selesai, pendahuluannya tidak terlalu panjang, temanya cenderung pada tema yang sedang terjadi pada masyarakat, seperti masalah politik, sosial, dan agama. Perkembangan bahasa pun mengalami perubahan dari gaya tradisional, kalimat yang panjang-panjang, dan berbunga-bunga akibat pengaruh pleonasme dan penggunaan kosakata klasik berganti dengan gaya yang sejalan dengan zaman, serba singkat, dan serba cepat. Perkembangan bahasa pun mengalami perubahan dari gaya tradisional, kalimat yang panjang-panjang, dan berbunga-bunga akibat pengaruh pleonasme dan penggunaan kosakata klasik berganti dengan gaya yang sejalan dengan zaman, serba singkat, dan serba cepat (Ahmad Bahruddin, 2011).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.3 SASTRAWAN DAN KARYA SASTRA  ARAB MODERN</strong></p>
<p>Di bawah ini merupakan sastrawan Arab Modern dan karya-karyanya yang dikutip dari buku (Leksikon Sastrawan Arab Modern, cetakan 1)</p>
<ol>
<li><strong>1.      </strong><strong>‘ABB</strong><strong>Ȃ</strong><strong>S MAHM</strong><strong>Ȗ</strong><strong>D AL-‘AQQ</strong><strong>Ȃ</strong><strong>D (عباس محمود العقاد). </strong>(Atho’illah, 2007, 1-2)<strong></strong></li>
</ol>
<p><strong>‘ABB</strong><strong>Ȃ</strong><strong>S MAHM</strong><strong>Ȗ</strong><strong>D AL-‘AQQ</strong><strong>Ȃ</strong><strong>D </strong>lahir di wilayah Aswan, Mesir pada tanggal 28 Juni 1889. Ia lahir dan besar disebuah keluarga yang taat beragama. Sejak kecil, al-‘Aqqâd sudah belajar di madrasah untuk memndalami ilmu agama. Tampak dalam dirinya aura kecerdasan. Hal itu terlihat sejak kecil. Kegemaran dan kepiawaian al-‘Aqqâd dalam bidang tulis-menulis, membuatnya dibanjiri pujian oleh guru-gurunya. Seperti Muhammad ‘Abduh, Sa’d Zaglul, dan Abdullah Nâdim. Sementara di luar sekolah, ia juga belajar kepada Qadhi Ahmad Jadami, seorang ahli fiqih sahabat Jamaluddîn al-Afganî.</p>
<p>Al-‘Aqqâd adalah seorang jurnalis, kritikus, dan sastrawan Mesir terkemuka. Kontribusi pemikirannya cukup berperan dalam pengembangan wacana keagamaan dan social. Bahkan dirinya juga termasuk salah seorang penyair ternama Mesir yang bersama Abdurrahmân Syukri dan Ibrâhîm Abd al-Qâdir rl-Mâzinî membentuk group <em>Diwan, </em>yaitu kelompok pembaharu dalam sastra arab Mesir.</p>
<p>Karier  al-‘Aqqâd sebagai jurnalis dimulai sejak ia berumur 16 tahun. Pada mulanya, cita-citanya ingin menjadi pegawai pemerintah, tetapi peraturan yang ada mensyaratkan bahwa calon pegawai harus berumur 18 tahun. Sehingga keinginannya belum dapat tercapai, sebab ia harus mennunggu dua tahun lagi. Pada masa menunggu inilah , al-‘Aqqâd menerbitkan majalah mingguan <em>Raj’u Sada</em>, juaga menjadi penulis pada majalah <em>al-jarîdah</em> pimpinan Ahmad Luthfî al-Sayyid, dan majalah az-<em>Zahir </em>pimpinan Abu Syâdî, al-Mu’ayyad, dan al-Liwa’. Dalam bidang jurnalistik ini, ia mendapat bimbaingan dari Muhammad Farîd Wajdî, seorang ulama’ dan penulis terkemuka di Mesir dan pernah bergabungndalam penerbitan surat kabar <em>ad-Dustûr.</em>membaca adalah hobinya, sehingga membuat dirinya bekerja hanya untuk dapat membeli buku. Sebagai konsekuensinya, tulisan-tulisannya begitu tajam, kritis dan cerdas.</p>
<p>Sebagai satrawan, sumbangan al-‘Aqqâd terlihat pada tulisan-tulisannya, baik dalam bentuk puisi maupun prosa. Ciri khas puisinya terletak pada sisi kehalusan perasaan (kepekaan rasa) dan pikiran yang menjadi suatu paduan yang sangat serasi. Karya puisi-puisinya mengetengahkan pendapat-pendapat yang brilian. Menurutnya, puisi yang hanya menerbitkan bentuk teksnya saja tidak akan berbobot dan puisi tidak hanya cukup pada cerita atau puisi cerita. Akan tetapi, yang terpentinga dalam puisi adalh maknanya. Sebagai kritikus, al-‘Aqqâdtelah memberikan kritik terhadap puisi dan prosa yang ada sambil mengemukakan pendapat untuk memperbaruinya. Susunan bahasa puisi dan prosa yang penuh hinaan tak berisi diarahkannya kepada susunan kata yang penuh arti dan padat isi. Hal tersebut dapat digali dari keindahan lingkungan dan kekayaan budaya Mesir. Sebab, hal itu dapat menjadi bahan imajinasi dan bahan gubahan. Pikiran-pikirannya dalam bentuk puisi dipublikasikan di majalah yang telah disebutkan di atas sejak sebalum Perang Dunia I.</p>
<p>Al-‘Aqqâd berpendapat bahwa seorang penulis sejati adalah pemikiran orisinil dari pikiran dan metodenya sendiri tanpa mencontoh sedikitpun karya-karya sebelumnya. Oleh karena itu, ia mengkritik penulis-penulis seperti Ahmad Syauqî dan Thâhâ Husein yang dianggapnya hanya mampu berfikir dengan metode orang lain dan sedikit sekali pemikiran orisinil yang dihasilkannya.</p>
<p>Adapun karya-karya Al-‘Aqqâd diantaranya sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>مراجعات في الأدب والفنـــون  (1925)</li>
<li> دبوان العقـــاد (1928)</li>
<li>بين الكتب والنــار (1952)</li>
<li>العبقريـــــات (1959) dalam bentuk buku berseri.</li>
<li>سارة dalam bentuk novel.</li>
<li>القرن العشرين ما كان وما سيكون؟ (1959)</li>
<li>الديمقراطيـــــة في الإسلام  yang diterbitkan Dâr al-Ma’arif.</li>
<li>الــــديوان: في الأدب والنقــــــــــد  yang diterbitkan Dâr al-Sya’b.</li>
<li> اللغة الشـــاعرة yang diterbitkan Dâr Nahdha Misr.</li>
<li>شــاعر اندلســــي وجــــائرة عالميــــة  yang diterbitkan Maktabah al-Anjilû al-Misriyyah.</li>
<li>ديوان مـا بعــد البعــد  yang diterbitkan Dâr al-Ma’arif.</li>
</ol>
<p>Selain beberapa karya Dâr al-Ma’arif. Di atas, karyanya yang berjudul <em>Mausu’ah ‘Abbas Mahmud al-‘Aqqâd </em>(Ensiklopedi ‘Abbas Mahmud al-‘Aqqâd)(1970) yang terdiri dari 5 jilid juga diterbitkan oleh  Dâr al-Kitab al-Arabî di Beribut. Buku tersebut adalah kumpulan tulisan. Dalam karya-karya itulah al-‘Aqqâd memublikasikan beberapa pemikiran yang dianggap orisinil tentang berbagai segi kehidupan  umat Islam. Pemikiran yang berupa obsesi untukmembaw umat islam kepada kemajuan.</p>
<p>Karya sastra al-‘Aqqâd pertama kali diterbitkan pada tahun 1916 berupa antologi puisi. Setelah itu menyusul beberapa buku antologi puisi yang lainnya seperti: هداية الكـــروان, أعاصــير المغـــرب, حــي الأربعـــين, dan عـــابر ســـبيل. Abbâs Mahmûd Al-‘Aqqâd meninggal di Kairo 12 Maret 1964.</p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>2.      </strong><strong>‘ABD AL-LATHîF AL-ARNAUTH (عبـــد اللطيـــف الأرنــاؤوط). </strong>(Atho’illah, 2007, 6-7)<strong></strong></li>
</ol>
<p><strong>‘ABD AL-LATHîF AL-ARNAUTH</strong>  lahir di kota Damaskus pada tahun 1931. Ia bergelut dalam bidang sastra sejak usia dini. Hasil karya sastranya yang berupa puisi da cerpen dipublikasikan disejumllah surat kabar dan majalah di Damaskus. ‘Abd al-Lathif al-Arnouth mulai menerjemahkan beberapa bentul karya sastra Albania ke dalam bahasa Arab. Ia adalah orang pertama yang pertama yang memperkenalkan kepada para pembaca di Arab tentang budaya dan sastra Albania. Selain menerjemahkan karya sastra Albania ke dalam bahasa Arab, ia juga menerjemahkan sejumlah karya-karya pilihan dari bahasa Arab ke bahasa Albania. Perannya sangat penting dalam memasukkan sastra arab ke tengah-tengah sastra Albania. Bahkan, dirinya juga menulis puisi, cerpen, novel, dan studi analisis sastra dengan menggunakan bahasa Albania.</p>
<p>Al-Arnaûth sempat menjadi sekretaris redaksi di majalah at-Turâts al-‘Arabî yang diterbitkan oleh Ittihad al-Kuttâb al-‘Arab dipertengahan tahun 1997. Ia juga termasuk anggota Jam’iyyah at-Tarjamah. Karyanya yang berupa novel-novel hasil terjemahan dari bahasa Albania adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>جزال الجيش الميت  (Damaskus: 1981), sebuah terjemahan dari novel Albania karya Ismâ’ȋl Kâdârâh.</li>
<li>الحصن  (Damaskus:1986), sebuah terjemahan dari novel Albania karya Ismâ’ȋl Kâdârâh.</li>
<li>العــرس للكتابالألبني  sebuah terjemahan dari novel Albania karya Ismâ’ȋl Kâdârâh.</li>
<li>لجنة الاتفال  sebuah terjemahan dari novel Albania karya Ismâ’ȋl Kâdârâh.</li>
<li>المللف  /هـ/  sebuah terjemahan dari novel Albania karya Ismâ’ȋl Kâdârâh.</li>
<li>ملحةمدينةكوريين sebuah terjemahan dari novel Albania karya Wâts Quraisyi.</li>
<li>عرسساكو Sebuah terjemahan dari novel Albania karya Wâts Quraisyî</li>
<li>صيف لن يعود  Sebuah terjemahan dari novel Albania karya Basnik Musthafa.</li>
<li>الرجل والمدفع للكاتب الالباني دريترواعوللي: sebuah tejemahan dari novel Albania karya Dritro Agolali.</li>
</ol>
<p>Adapun naskah drama hasil terjemahan dari bahasa Albania adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>ارضنا- للكاتــب الالبــاني: كول ياكوخا sebuah karya terjemahan naskah drama karya Kul Yakukha.</li>
<li> عاءلةصـــيادالســـــمك-للكاتـــب الاءلبـــاني: سليمان بتاركــا sebuah karya terjemahan naskah drama karya sulaiman batarka.</li>
<li>فتاة الجبال-للكاتبي الأالباني: لو ني بابــــا  sebuah karya terjemahan naskah drama karya Launi Baba.</li>
<li>كــــرالييفو- للكاتب الكرواتي: ميروسلاف كريجـــا  sebuah karya terjemahan naskah drama karya Mairuslaf Karija.</li>
<li>ملـــــك بيتايـــــا نوفــــا- للكاتب الســـلوفيني: إيفـــان تســــانكر  sebuah karya terjemahan naskah drama karya Ifan Tasangkar.</li>
<li>اليوغســــتلافي: بوريســاف ســـــتانكوفيتش كوشـــتانا الغجريــــــــة- للكاتب   sebuah karya terjemahan karya Beourisaf Stankofick.</li>
</ol>
<p>‘Abd al-Lathif al-Arnouth juga membuahkan karya sastra dengan sekmentasi pembaca anak-anak.  Karyanya yang berkaitan dengan dunia anak ini ia disebut dengan sastra anak. Karyanya itu antara lain:</p>
<ol>
<li>المدخنــــة والغيوم sebuah karya antologi cerpen.</li>
<li>الفراشــــة  sebuah karya antologi cerpen.</li>
<li>العاصــــفة والاشـــجار  sebuah karya antologi cerpen.</li>
<li>العنكبـــــوت sebuah karya antologi cerpen.</li>
<li>العصـــافير وقوس قزح sebuah karya antologi cerpen.</li>
<li>الـــــبراعم.  sebuah karya antologi puisi, dan</li>
<li>أنا وأمـــي والعــــالم sebuah karya terjemahan antologi cerpen karya penulis Bulgaria Daurâ Gâbî.</li>
</ol>
<p>Sedangkan karya ‘Abd al-Lathif al-Arnouth tentang kajian sastra antara lain sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><strong>A.  </strong><strong>Studi Sastra Feminis</strong>
<ol>
<li>البــلاد العربيـة ـ دراســات في الأدب النســـائي المعاصـــر  sebanyak dua jilid.</li>
<li>المرأة في عيــون الشـــعراء</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>B.  </strong><strong>Studi Tokoh Sastra</strong></li>
<li>في ســـورية معروف الأرناؤوط: رائــد الرواية التاريخيـــة</li>
<li>شفيق جــــبير: شاعر الشام</li>
<li>الفنـــان- عبد القــادر الأرنـــاؤوط: الأديــــب- الشاعر</li>
<li>مواقف من الحضــارة والـــتراث: عبد العــزيز عبــد المحســـن التويجـــري</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>C.  </strong><strong>Studi Sastra dan Sejarah</strong></li>
<li>تجـــربتي مــع الثقافــــة والأدب</li>
<li>أوراق بعد الســـتين مــن العمـــر</li>
<li>أعلام وكتـــب مــن الـــتراث العـــربي الإســـلامي</li>
<li>أدبـــــاء في دائــرة الضــــوء</li>
<li>كتب تحــت الأضـــواء  (terbit di kuwair)</li>
<li>المســــرح الألبـــاني عـــبر التــــاريخ</li>
<li>الأخطـــاء الســــائرة في اللغـــة العربيـــــة  yang ditulis bersama Dr. Khâlȋd Qûthrâsy.</li>
</ol>
<p>Adapun karya-karyanya yang mamsih dalam proses terbit antara lain:</p>
<ol>
<li>نظــــرات حضـــارية في عـــالم الطفولـــة</li>
<li>كتـــــب تربويــة تحـــت الأضـــواء</li>
<li>دراســـات في عــــالم المعرفــــة</li>
<li>الثقافـــة والأدب الألبــــاني</li>
<li>تـــأملات الفكــــر</li>
<li>فلســـــطين في ضـــمير الأدبــــاء</li>
<li>قصـــص مختـــارة مــن ألبانيــــا</li>
<li>مختـــارات مــن الشـــعر اليونــــاني</li>
<li>مختـــارات مــن الشـــعر المكــــدوني</li>
<li>مختـــارات مــن الشـــعر اليوغســـــلافي</li>
<li>مختـــارات مــن الشـــعر البلغــــاري</li>
<li>مختـــارات مــن الشـــعر الكــــوري</li>
<li>مختـــارات مــن الشـــعر الهنـــــدي</li>
<li>مختـــارات مــن الشـــعر الصــــيني</li>
<li>المســــاجد في تلركيــــــا  ) sebuah karya terjemahan )</li>
<li> دبلوماســـيون اســــتهواهم الأدب</li>
<li>عسكريون اســــتهواهم الأدب</li>
<li>معلمون اســــتهواهم الأدب</li>
<li> مختـــارات مــن الشـــعر الكــــوبي</li>
<li>مختـــارات مــن الشـــعر الفيتنـــــامي</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>ABD AL-WAHAB AL- BAYYTI (عبــــد اللطيـــــف الأرنــــاؤوط). </strong>(Atho’illah, 2007, 13-14)</li>
</ol>
<p><strong>‘ABD AL-WAHHAB AL-BAYYATI</strong>  lahir pada sebuah desa di Irak tahun 1926. Pada saat masih kecil,ia pindah ke Baghdad dan menghabiskan masa kecilnya di kampung Bab as-.Yaitu,sebuah perkampungan rakyat miskin yang berada di sekitar makam as-Syekh ‘Abd arl-Qâdir al-Jailânȋ.Pendidikannya di tempuh pada perguruan tinggi keguruan hingga memperoleh ijazah di bidang bahasa arab pada tahun 1950.Ia pernah bekerja  sebagai pengajar dan juga jurnalis.Selain itu,ia termasuk salah satu angggota jam’iyah as-Syi’r di Damaskus.</p>
<p>Al-Bayyâtȋ adalah salah seorang penyair yang turut serta meletakkan pondasi perakan puisi modern sejak awal permulaan,yang sekarang ini di sebut dengan istilah ‘modernisasi puisi’Antologi puisinya yang pertama pada tahun 1950 dengan judul ملائكة وشياطين . Puisinya menjadi terkenal karena keindahan dan getaran maknanya yag di tulis secara bertahap dari perjalanan pengembaraannya di berbagai ibu kota.Juga di karenakan oleh pergaulannya yang luas dengan banyak sastrawan dan penyair sekaliber internasional,seperti penyair Turki Nâzhim Hikmat dan Asbania Rafâîl al-burtȋ.Karya puisinya juga terkenal karena adanya perpanduan antara warisan-warisan budaya dan symbol-simbol sufistik serta mitologi yang membentuk salah satu karakteristik penting dalam puisi dan kemodernannya.</p>
<p>Al-Bayyâtî hidup berpindah-pindah dari satu Negara ke Negara yang lain.Antara tahun 1959 sampai 1964,ia tinggal di moskow.Kembali dirinya terbang ke Asbania dan bekerja di Pusat Budaya Irak yang ada di Madrid pada tahun 1980-an.Perjalanannya di lanjutkan ke Kairo,Rabat,Amma,dan sejumlah ibu kota lainnya yang ada di wilayanhArab.Setelah itu ia kembali ke Baghdad,lalu indah ke damaskus yang merupakan tempat pemberhentian terahir dalam perjalanan pengambaraanny.Di Damaskus inlah ia mengakhiri hidupnya.</p>
<p>Karya-karya al-Bayyât yang berupa antologi puisi antara lain:</p>
<ol>
<li>ملائكة وشــياطين  (Beirut: 1950)</li>
<li>أباريق مهشمــة  (Bagdad” 1954)</li>
<li>المجـــد للأطفـــال والزيتوون  (Kairo: 1956)</li>
<li>رســالة إلى نــاظم حكمــت وقصائد أخرى  (Bagdad: 1959)</li>
<li>أشــعاار فى المنفـــى  (Kairo: 1957)</li>
<li>عشرون قصــيدة من برلين  (Bagdad: 1959)</li>
<li>كلمات لاتموت  (Beirut: 1960)</li>
<li>النار والكلمات  (Beirut: 1964)</li>
<li>قصائــد  (Kairo: 1965)</li>
<li>ســفر الفقــر الثورة  (Beirut: 1965)</li>
<li>الــذي يــأتي ولايــأتي (Beirut: 1966)</li>
<li>الموت في الحياة  (Beirut: 1968)</li>
<li>عيــون الكـــلاب الميتــة  (Beirut: 1969)</li>
<li>بكائيـــة إلى شمـــس حزيران والمرتزقــة  (Beirut: 1969)</li>
<li>الكتابة على الطين  (Beirut: 1971)</li>
<li>يوميـــات سياســـي محــترف  (Beirut: 1970)</li>
<li>تجربتي الشــعرية  (Beirut: 1968)</li>
<li>قصائد حب على بوابات العالم السبع  (Bagdad: 1971)</li>
<li>كتاب البحر  (Beirut: 1972)</li>
<li>بستـــان عائشــة (1989)</li>
</ol>
<p>Sedangkan karya lainnya yang non antologi puisi sebagai berikut:</p>
<ol>
<li> بول أيلــوار مغني  الحب والحرية (Beirut: 1957), sebuah terjemahan bersama Ahmad Mursî.</li>
<li>اراجون شــاعر المقاومة  (Beirut: 1959), sebuah karya buku terjemahan bersama Ahmad Mursî.</li>
<li>محاكمة في نسيابور  (Beirut: 1963), sebuah naskah drama.</li>
</ol>
<p>Sudah  banyak karya puisi al-Bayyât yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Albania, Rusia, Prancis, dan Inggris. Sesuai dengan pesannya, setelah meninggal dunia pada tanggal 3 Agustus 1999 ia dimakamkan dipemakaman as-Syekh Muhyî ad-Dȋn bin ‘Arabî.</p>
<ol>
<li><strong>4.    </strong><strong>‘AL</strong><strong>Ȋ</strong><strong> MAHM</strong><strong>Ȗ</strong><strong>D TH</strong><strong>Ȃ</strong><strong>H</strong><strong>Ȃ</strong><strong> (على محمودn طـــه). </strong>(Atho’illah, 2007, 42)<strong></strong></li>
</ol>
<p><strong>            ‘AL</strong><strong>Ȋ</strong><strong> MAHM</strong><strong>Ȗ</strong><strong>D TH</strong><strong>Ȃ</strong><strong>H</strong><strong>Ȃ</strong> lahir di al-Manurah, Mesir. Meskipun dirinya seorang insinyur, ia sangat piawai dalam berpuisi. Ia termasuk salah satu anggota Jama’ah Apollo. Puisinya beraliran romantic da termasuk peny air Arab kontemporer yang terkemuka dalam aliran tersebut. Lawatan-lawatannya ke negara-negara Eropa didokumentasikan dalam bentuk puisi-puisi lirik, yang diantaranya dijadikan sebagai teks lagu. Puisi-puisinya sangat halus, romantic, dan religious. Beberapa pengamat menganggapnya banyak terpengaruh oleh romantisme Prancis abad ke-19, terutama Lamartine.</p>
<p><strong>       </strong>‘Ali Mahmûd Thâhâ meninggal dunia tahun 1949. Karyanya yang berupa antologi puisi antara lain:</p>
<ol>
<li>المـــلاح التائـــه</li>
<li>ليــــالي المـــلاح التائــه</li>
<li>زهر وخمر dan</li>
<li>ديوان علي محمود طــــه<strong></strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>AN</strong><strong>Ȋ</strong><strong>SAH ‘AB</strong><strong>Ȗ</strong><strong>D (أنســـة عبـــود). </strong>(Atho’illah, 2007, 47)<strong>                                           </strong></li>
</ol>
<p><strong>            AN</strong><strong>Ȋ</strong><strong>SAH ‘AB</strong><strong>Ȗ</strong><strong>D </strong>lahir di Jabalah dekat Latakia pada tahun 1957, ia menyelesaikan studinya pada sekolah-sekolah yang ada di Jabalah. Pekerjaanya sebagai insinyur pertanian dan juga aktif menulis di berbagai surat kabar. Dirinya termasuk salah satu anggota Jam’iyyah al-Qishshah wa ar-Riwâyah. Karyanya seperti cerpen dan puisi telah dimuat pertama kali disejumlah surat kabar dan majalah Syria. Karyanya antara lain.<strong></strong></p>
<ol>
<li>حـــين تـــترع الأقنعـــة<strong>  </strong>(Damaskus: 1991) sebuah karya antologi cerpen.</li>
<li>حـــريق في ســــنابل الــــذاكرة   (1994) sebuah karya antologi cerpen, dan</li>
<li>مشكاة الكــــلام  (1994) sebuah karya antologi puisi.</li>
</ol>
<p>Selain itu, dia juga menulis beberapa buku ilmiah dan esai tentang kritik sastra.<strong>                   </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB III</strong></p>
<p align="center"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.1 Kesimpulan</strong></p>
<p><strong>1. </strong>Genre prosa pada masa modern ini memiliki banyak genre seperti maqalah, rosail, khitobah, qissah, uqsusah, dan drama.</p>
<p>2. Perkembangan puisi pada masa sastra Arab modern secara bertahap mendapat pengaruh dari Eropa Baru, meskipun perubahannya mendaptakan tantangan dari para Tradisionalis yang ingin tetap menjaga tradisi klasik yaitu adanya monoritme dalam puisi Arab.</p>
<p>3. Pada masa modern, perkembangan puisi Arab dapat dibedakan menjadi tiga aliran, yaitu:</p>
<ol>
<li>Aliran al-Muhafidzun</li>
<li>Aliran Mujaddidun</li>
<li>Aliran al-Mughaaliinu</li>
</ol>
<p>4, Pada masa modern, puisi dari sisi temanya dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu</p>
<ol>
<li>Tema lama yang masih bertahan</li>
<li>Tema yang sedikit mengalami perubahan</li>
<li>Tema baru</li>
</ol>
<p>5, Ciri-ciri prosa pada masa ini adalah lebih memperhatikan pemikrian daripada unsur gayanya, tidak banyak menggunakan kata-kata retoris seperti saja&#8217; tibaq, seperti pada masa sebelumnya</p>
<ol>
<li>Berikut ini adalah beberapa sastrawan pada masa sastra Arab modern
<ol>
<li><strong>‘</strong>ABBȂS MAHMȖD AL-‘AQQȂD (عباس محمود العقاد)</li>
<li>‘ABD AL-LATHîF AL-ARNAUTH (عبـــد اللطيـــف الأرنــاؤوط)</li>
<li>ABD AL-WAHAB AL- BAYYTI (عبــــد اللطيـــــف الأرنــــاؤوط)</li>
<li>‘ALȊ MAHMȖD THȂHȂ (على محمودn طـــه)</li>
<li>ANȊSAH ‘ABȖD (أنســـة عبـــود).</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Fathoni, Atho’llah. 2007. <em>Leksikon Sastrawan Arab Modern Biografi dan Karyanya. </em>Yogyakarta: Data Media</p>
<p>Kamil, Syukron.  2009. <em>Teori Kritik Sastra Arab Klasik dan Modern</em>. Jakarta: Raja Grafondo Persada.</p>
<p>Mansyur, Fadli Munawar. 2011. <em>Perkembnagan Sastra Arab dan Teori Sastra Islam. </em>Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p>Muhammad, Mansyur dkk. 1972. Al- Adab Wa An Nushus Wa An naqdi Wa Al-Balaghoh. Mesir: Wizaroh at Tarbiyah wa Atta’lim.</p>
<p>Muzakki, Akhmad. 2011. <em>PengantarTeori Sastra Arab</em>. Malang: UIN-Malaiki Press.</p>
<p><a href="http://nafidba.wordpress.com/2012/05/09/puisi-arab-pada-masa-modern/">http://nafidba.wordpress.com/2012/05/09/puisi-arab-pada-masa-modern/</a></p>
<p><a href="http://riungsastra.wordpress.com/2010/10/16/kritik-sastra-pada-masa-modern-2">http://riungsastra.wordpress.com/2010/10/16/kritik-sastra-pada-masa-modern-2</a></p>
<p><a href="http://himasaunpad.blogspot.com/2010/10/puisi-arab-pada-masa-modern.html">http://himasaunpad.blogspot.com/2010/10/puisi-arab-pada-masa-modern.html</a></p>
<p><a href="http://alwaysterk.blogspot.com/2011/10/perkembangan-prosa-arab-modern.html">http://alwaysterk.blogspot.com/2011/10/perkembangan-prosa-arab-modern.html</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="/Users/Imam%20Annurcholis/Documents/makalahku.docx#_ftnref1">[1]</a> Kamil, Syukron. Teori Kritik Sastra Arab dan Modern. Jakarta: Raja Grafondo Persada.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/Users/Imam%20Annurcholis/Documents/makalahku.docx#_ftnref2">[2]</a> http://riungsastra.wordpress.com/2010/10/16/kritik-sastra-pada-masa-modern-2/</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/Users/Imam%20Annurcholis/Documents/makalahku.docx#_ftnref3">[3]</a> http://nafidba.wordpress.com/2012/05/09/puisi-arab-pada-masa-modern/</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/sastra-arab-modern/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Evaluasi Prestasi Belajar</title>
		<link>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/evaluasi-prestasi-belajar/</link>
		<comments>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/evaluasi-prestasi-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Nov 2012 03:17:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The King</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Evaluasi merupakan suatu penilaian terhadap suatu kinerja yang sudah di kerjakan, hal ini pandangan umum dalam masyarakat. Apakah hanya pekerjaan di suatu lembaga saja yang mempuyai evaluasi?. Pastinya tidak di segala aktivitas kita sehari-hari semua memerlukan suatu penilaian untuk mengetahui suatu keberhasilan. Begitu pula di dunia pendidikan sangat memerlukan evaluasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BAB I</p>
<div>
<p align="center">PENDAHULUAN</p>
<ol>
<li>Latar Belakang</li>
</ol>
<p>Evaluasi merupakan suatu penilaian terhadap suatu kinerja yang sudah di kerjakan, hal ini pandangan umum dalam masyarakat. Apakah hanya pekerjaan di suatu lembaga saja yang mempuyai evaluasi?. Pastinya tidak di segala aktivitas kita sehari-hari semua memerlukan suatu penilaian untuk mengetahui suatu keberhasilan. Begitu pula di dunia pendidikan sangat memerlukan evaluasi dalam setiap langkah untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sebagaimana kita ketahui tujuan pendidikan secara umum adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya. Dengan demikian suatu evaluasi pasti di butuhkan untuk mengetahui sejauh mana tujuan pengajaran dan pembelajaran yang sudah di laksanakan di suatu instansi tersebut. Dengan demikian evaluasi dalam mencapai <span id="more-281"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Tujuan</li>
</ol>
<p>2.1  Pendidik dan peserta didik dapat mengetahui arti,tujuan,dan fungsi dari evaluasi.</p>
<p>2.2  Pendidik dan peserta didik dapat mengetahui ragam dari evaluasi.</p>
<p>2.3  Pendidik dan peserta didik dapat mengetahui indikator prestasi belajar.</p>
<p>2.4   Pendidik dan peserta didik dapat mengetahui prestasi kognitif, afektif dan psikomotor.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Manfaat</li>
</ol>
<p>Sitem pembelajaran yang mana di dalamnya terdapat, pendidik, peserta didik serta media pembelajaran dapat berkesinambungan dalam menjalankan perannya. Sehingga dengan adanya pembahasan evaluasi belajar dapat mengetahui sejauh mana tujuan dari proses belajar mengajar dapat  tercapai secara maksimal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Deskripsi Kasus</li>
</ol>
<p>Identifikasi Diri Siswa</p>
<table width="605" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="284">
<ul>
<li>Nama Siswa : Nur nabila mufatahatin.<br />
Nama Panggilan : Nabila<br />
Kelas : 2 SMP<br />
Tempat/tgl. Lahir : Malang, 12 juli 1999<br />
Agama : Islam<br />
Jenis Kelamin : Perempuan<br />
Alamat : RT 01, Rw 02 Joyo Suko malang<br />
Sekolah : SMP 13 Negeri Malang<br />
Hobby : Menyanyi<br />
Jumlah saudara : 3 (tiga)<br />
Anak ke : 2 (dua)</li>
<li>· Ayah<br />
Nama lengkap : Iskandar Muda<br />
Umur/TTL : 50 tahun / Trenggalek, 7 April 1962<br />
Pendidikan : Sarjana<br />
Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil<br />
Hubungan dengan anak : Anak kandung<br />
Alamat : Rt 01, Rw 02 Joyo Suko Malang</p>
<ul>
<li>Keadaan Jasmani Siswa<br />
Tinggi Badan : 154 cm<br />
Berat badan : 44 kg<br />
Warna kulit : sawo matang<br />
Warna rambut : hitam<br />
Bentuk muka : lonjong</li>
</ul>
</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="321"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="284"></td>
<td valign="top" width="321">
<ul>
<li>· Ibu<br />
Nama lengkap : Sri Nuryati<br />
Umur/TTL : 43 tahun / Blitar, 28 Agustus 1979<br />
Pendidikan : SMA<br />
Pekerjaan : Ibu rumah tangga<br />
Alamat : Rt 01, Rw 02 Joyo Suko Malang</li>
</ul>
<p>&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="284">
<ul>
<li>Keadaan Kesehatan<br />
Penglihatan : Normal<br />
Pendengaran : Normal<br />
Pembicaraan : Normal<br />
Potensi jasmani : Normal</li>
</ul>
<p>&nbsp;</td>
<td valign="top" width="321">
<ul>
<li>Kegiatan Siswa di Rumah<br />
Klien bangun pagi setiap pukul 05.00 WIB, cuci muka, lihat tv, mandi, sarapan dan berangkat sekolah. Klien berangkat ke sekolah diantar orang tua. Pada pukul 15.30 klien pulang sekolah dan selanjutnya bermain. Pada pukul 16.30 klien mandi setelah itu makan. Setelah magrib klien belajar dengan didampingi orang tua. Pada pukul 22.00 WIB klien mulai tidur malam.</p>
<ul>
<li>Kelengkapan belajar<br />
Buku paket : lengkap<br />
Buku catatan : lengkap<br />
Ruang belajar : tidak punya</li>
<li>Bimbingan<br />
Dari ayah : pernah<br />
Dari ibu : selalu, Dari saudara : selalu</li>
<li>Waktu belajar<br />
Waktu belajar siswa kurang teratur.<br />
Siswa belajar jika disuruh orang tua</li>
<li>Perumahan<br />
Klien tinggal bersama kakek, nenek, ayah, ibu dan adik dan saudara-saudaranya dalam lingkungan desaJoyo Suko Malang. Dalam lingkungan tersebut hubungan bertetangga cukup bagus. Hal ini mendukung perkembangan sosial klien untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar tempat tinggalnya.</p>
<ul>
<li>Kelakuan dan prestasi Klien<br />
Sikap pada teman : Cukup baik, tidak membeda-bedakan teman.<br />
Sikap pada guru : Baik, tapi masih merasa segan untuk bertanya.<br />
Prestasi : Kurang baik/lambat, prestasi rendah.</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="284"></td>
<td valign="top" width="321"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="284"></td>
<td valign="top" width="321"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>f. Gambaran Masalah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nabila adalah anak ke dua dari pasangan Iskandar dan Sri Nuryati sekrang dia berumur 13 tahun dan duduk di kelas 2 (dua) di SMP 13 Negeri Malang. Dia selalu rutin masuk sekolah dan mematuhi peraturan yang ada di sekolah. Pada saat pembelajaran dia termasuk anak yang aktif. Hampir semua pertanyaan guru dijawab tetapi sebagian jawaban salah. Pada saat menerangkan dia lebih banyak berbicara sendiri dari pada memeperhattikan penjelasan guru. Ayah Nabila bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, pulang kerja sore hari, kadang juga lembur atau piket, sehingga ayahnya kurang biasa memperhatikan Nabila. Dia di rumah diperhatikan oleh kakek, nenek, ibu dan saudara-saudaranya. Untuk belajar dia selalu diingatkan oleh ibunya jika tidak diingatkan dia tidak belajar. Ibunya selalu menemani saat ia belajar, tetapi ibunya juga harus mengawasi adiknya yang masih kecil. Di rumah dia termasuk anak yang dimanja. Semua keinginanya selalu dituruti orang tuanya atau oleh kakek neneknya. Apabila tidak dituruti dia tidak mau berangkat sekolah dan marah. Pada waktu berangkat sekolah dia selalu diantar dan saat pulangnya dia pun di jemput. Kebiasaan orang tua Nabila yang selalu memanjakanya itu memebuat Nabila manja dan maunya sendiri.<br />
g.  Gejala-gejala yang Nampak<br />
Berdasarkan gambaran masalah di atas, dapat diketahui gejala-gejala yang nampak jelas pada diri klien diantaranya sebagai berikut.</p>
<ul>
<li>Gejala yang bersifat positif adalah sikap atau perbuatan yang dapat membantu dan meningkatkan proses belajar mengajar pada diri klien. Gejala-gejala tersebut diantaranya : Mematuhi peraturan sekolah, rajin mengikuti kegiatan sekolah, tidak suka membolos sekolah, menurut perintah guru</li>
<li>Gejala yang bersifat negatif adalah sikap atau perbuatan yang kurang baik yang dapat mengganggu proses belajar mengajar pada diri klien. Gejala tersebut diantaranya :<br />
Sulit memahami materi pelajaran, bersifat pendiam dan pemalu, kurang memiliki keberanian dalam berpendapat, cepat putus asa dalam mengerjakan soal, bersikap manja, bertindak semaunya sendiri, tidak mau meneliti hasil jawabannya</li>
</ul>
<p align="center">BAB II</p>
<p align="center">PEMBAHASAN</p>
<ol>
<li>Kajian Pustaka</li>
</ol>
<p>1.1                   Definisi Evaluasi</p>
<p>Sebelum lebih jauh mempelajari tentang ruang lingkup evaluasi pendidikan, perlu diketahui terlebih dahulu, apa itu eavaluasi?. Sebagaimana kita ketahui terdapat tiga istilah tentang evaluasi yaitu “ evaluasi (<em>evaluation</em>) ”, “ pengukuran (<em>measurement</em>)”, dan “ penilaian (<em>assesment</em>)”. Evaluasi berasal dari <em>evaluation</em> (bahasa inggris), kata tersebut di serap ke dalam perbendaharaan istilah bahasa Indonesia menjadi “evaluasi”. Istilah “penilaian” merupakan kata benda dari “nilai”. Pengertian “pengukuran” mengacu pada kegiatan membendingkan sesuatu hal dengan satuan ukuran tertentu, sehingga sifatnya menjadi kuantitatif<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>. Dengan demikian ketiga istilah tersebut akan digunakan secara bergantian tanpa mengubah suatu makna pembahasan. Sehingga dari pengertian tersebut dapat di tarik suatu pengartian bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif  yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p>Dalam arti luas, evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat di perlukan untuk membuat alternatif- alternatif keputusan (Mehrens &amp; Lehmann,1978:5)<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>. Dalam hubungan dengan kegiatan pengajaran Norman E. gronlund (1976) merumuskan penertian evaluasi sebagai berikut: “ <em>Evaluation… a systematic process of determining the extent to wich instructional objectives are archeived by pupils</em>”. (evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan- tujuan pengajaran dicapai oleh siswa)<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Dalam pengertian lain evaluasi berasal dari bahasa inggris yaitu “Evaluation”. Dalam buku Essentials of Educational Evaluation karangan Edwin wand dan Gerald W.Brown dikatakan bahwa “ <em>evaluation refer to the act or prosess to determining the value of something </em>( wand and Brown, 19, hal 1), jadi menurut mereka berdua evaluasi merupakan suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari pada sesuatu . Sesuai dengan pendapat tersebut maka evaluasi pendidikan dapat di artikan sebagai</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>suatu tindakan atau sesuatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan<a title="" href="#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p>Dari berbagai pengertian di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa evaluasi, khususnya evaluasi pengajaran adalah:</p>
<ol>
<li>Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis, bahwa evaluasi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara berkesinambungan.</li>
<li>Di dalam evaluasi di perlukan berbagai informasi atau data yang menyangkut obyek yang sedang di evaluasi.</li>
<li>Setiap kegiatan evaluasi tidak dapat di lepaskan dari tujuan- tujuan pengajaran yang hendak di capai.</li>
</ol>
<p>Pada tahun 1974an masyarakat masih menganggap bahwa evaluasi pendidikan terbatas penertiannya pada penilaian hasil belajar. Dasar pemikiran yang di gunakan adalah bahwa pendidikan merupakan upaya memberikan satu perlakuan pembelajaran kepada peserta didik. Kesuksesan hasil belajar mereka dapat di ketahui melalui kegiatan penilaian . Selain itu dasar pemikiran tersebut terdapat pula anggapan bahwa upaya pendidik dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran adalah kunci pembelajaran dengan hasil belajar peserta didik. Sehingga di asumsikan bahwa di antara pembelajaran dengsn hssil belajar merupakan hubungan lurus atau linier<a title="" href="#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.2               Tujuan dan Fungsi Evaluasi</p>
<p>1.2.1 Tujuan Evaluasi</p>
<p>Secara garis besar tujuan evaluasi pendidikan adalah untuk mendapat data pembuktian yang akan menunjukkan sampai mana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan- tujuan kurikuler. Selain itu juga dapat di gunakan oleh guru-gur dan para pengawas pendidikan untuk mengukur atau menilai sampai di mana ke efektifan pengalaman- pengalaman mengajar, kegiatan-kegiatan belajar dan metode-metode mengajar yang di gunakan<a title="" href="#_ftn7">[7]</a>.</p>
<p>Secara terperinci tujuan dari evaluasi adalah<a title="" href="#_ftn8">[8]</a>:</p>
<ol>
<li>Mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam satu kurun waktu proses belajar tertentu.</li>
<li>Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam kelompok kelasnya.</li>
<li>Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar.</li>
<li>Untuk mengetahui segala upaya siswa dalam mendayagunakan kapasitas kognitifnya (kemempuan kecerdasan yang dimilikinya ) untuk keperluan belajar.</li>
<li>  Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode yang telah di gunakan guru dalam proses mengajar belajar.</li>
</ol>
<p>Selain itu berdasarkan UU Sidiknas No. 20 tahun 2003 Pasal 58(1) evaluasi hasil belajar peserta didik di lakukan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan<a title="" href="#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.2.2         Fungsi Evaluasi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Disamping memiliki tujuan evaluasi tentunya juga memilikiperan fungsi khusus dalam dunia pendidikan. Karena fungsi evaluasi di dalam pendidikan tidak dapat lepas dari tujuan evaluasi itu sendiri. Secara umum fungsi evaluasi sebagai berikut<a title="" href="#_ftn10">[10]</a>:</p>
<ol>
<li>Untuk mengetahui tarap kesiapan dari anak- anak untuk menempuh suatu pendidikan tertentu.</li>
<li>Untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang telah di capai dalam proses pendidikan yang telah dilaksanakan.</li>
<li>Untuk mengetahui apakah suatu mata pelajaran yang kita ajarkan dapat kita lanjutkan dengan bahan yang baru, ataukah kita harus mengulangi bahan- bahan yang telah lampau.</li>
<li>Untuk mendapatkan informasi dalam memberikan bimbingan tentang jenis pendidikan atau jenis jabatan yang cocok untuk anak tersebut.</li>
<li>Untuk mendapatkan bahan- bahan informasi untuk menentukan apakah seorang anak dapat di naikkan ke dalam kelas lebih tinggi ataukah harus mengulang di kelas semula.</li>
<li>Untuk membandingkan apakah prestasi yang dicapai oleh anak- anak sudah sesuai dengan kapasitasnya atau belum</li>
</ol>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Untuk menafsirkan apakah seorang anak telah cukup matang untuk kita lepaskan kedalam masyarakat atau lembaga pendidikan yang lebih tinggi.</li>
<li>Untuk mengadakan seleksi.</li>
<li>Untuk mengetahui taraf efesiensi metode yang di gunakan dalam lapangan pendidikan.</li>
</ol>
<p>Selain itu evaluasi prestasi belajar sudah tentu juga berfungsi  melaksanakan ketentuan konstitutional sebagaimana termaktub dalam UU Sindiknas No. 20/2003 Bab XVI  Pasal 57 (1) yang berbunyi “ Evaluasi pendidikan dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pehak- pihak yang berkepentingan<a title="" href="#_ftn11">[11]</a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.3               MACAM- MACAM EVALUASI</p>
<p>Evaluasi hasil belajar merupakan kegiatan berencana dan kesinambungan, oleh karena macamnya paun banyak, mulai yang paling sederhana hingga yang paling kompleks.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Pre Test dan Post Test</li>
</ol>
<p>Pre test merupakan kegiatan evaluasi belajar yang dilakukan guru sebelum memulai proses pembelajaran. Dala m test ini bertujuan untuk mengetahui taraf pengetahuan siswa mengenai materi  yang akan dibahas/dipelajari. Sedangkan post test kebalikan dari pre test yakni kegiatan evaluasi belajar yang dilakukan setelah guru menjelaskan materi yang dibahas. Tujuannya untuk mengetahui taraf penguasaan siswa terhadap materi  yang telah diajarkan.</p>
<ol>
<li>Evaluasi Prasyarat</li>
</ol>
<p>Evaluasi ini sangat mirip dengan pre test. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi penguasaan siswa atas materi lama yang mendasari materi baru yang akan diajarkan.</p>
<ol>
<li>Evaluasi Diagnostik</li>
</ol>
<p>Evaluasi ini dilakukan setelah selesai penyajian sebuah satuan pelajaran dengan tujuan mengidentifikasikan bagian-bagian tertentu yang belum dikuasai siswa. Instrumen evaluasi jenis ini pada bahasan tertentu yang dipandang telah membuat siswa mendapatkan kesulitan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Evaluasi Formatif</li>
</ol>
<p>Evaluasi jenis ini dilakukan pada setiap akhir penyajian satuan pelajaran. Tujuannya ialah untuk memperoleh umpan balik yang mirip dengan evaluasi diagnostik, yakni untuk mendiagnosis mengetahui kesulitan belajar siswa. Hasil diagnosis kesulitan belajar tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan pengajaran remidial (perbaikan).</p>
<ol>
<li>Evaluasi Sumatif</li>
</ol>
<p>Evaluasi sumatif dilakukan untuk mengukur kinerja akademik atau prestasi belajar siswa pada akhir periode pelaksanaan program pengajaran. Evaluasi ini lazim dilakukan pada setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran. Hasilnya dijadikan bahan laporan resmi mengenai kinerja akademik siswa dan bahan penentu naik atau tidaknya siswa ke kelas yang lebih tinggi.</p>
<ol>
<li>Ebta atau Ebtanas</li>
</ol>
<p>EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir) dan EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) atau sekarang lebih dikenal dengan UAN, pada prinsipnya sama dengan evaluasi sumatif dalam arti sebagai alat penentu kenaikan status siswa. Namun, EBTA dan EBTANAS, atau UAN ini dirancang untuk siswa yang telah menduduki kelas tertinggi pada suatu jenjang pendidikan tertentu seperti SD/ MI, SMP/MTs, SMA/MA.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.4               INDIKATOR PRESTASI BELAJAR</p>
<p>Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa murid, sangat sulit. Hal ini disebabkan perubahna hasil belajar itu ada yang bersifat intangible (tak dapat diraba). Oleh kaerena itu, yang dapat dilakukan guru dalam hal ini adalah mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang  berdimensi karsa.</p>
<p>Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa sebagaimana yang terutai dia atas adalah mengatuhi garis-garis besar indicator (penunjuk adanya prestasi tertentu) di kaitkan dengan jenis prestasi yang hendak di ungkapkan atau diukur. Selajutnya agar pemahaman anda lebih mendalam mengenai pokok tadi dan memudahkan anda dalam menggunakan alat dan kiat evaluasi yang</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>dipandang tepat, reliable dan valid, dibawah ini penyusun sajikan sebuah table panjang. Table ini berasal dari berbagai sumber rujukan (surya, 1982; Barlow, 1985; petty, 2004) dengan penyesuaian seperlunya.</p>
<p align="center">TABEL</p>
<p align="center">Jenis, indicator, dan cara evaluasi prestasi</p>
<table width="586" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="193">Ranah/jenis prestasi</td>
<td valign="top" width="223">Indikator</td>
<td valign="top" width="170">Cara evaluasi</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="193">
<ol>
<li><strong>A.     </strong><strong>Ranah cipta</strong></li>
</ol>
<p><strong>(kognitif)</strong></p>
<ol>
<li>Pengamatan</li>
</ol>
</td>
<td valign="top" width="223">1.  Dapat menunjukkan</p>
<p>2.  Dapat  membandingkan</p>
<p>3.  Dapat menghubungkan</td>
<td valign="top" width="170">1. Tes lisan</p>
<p>2. Tes tertulis</p>
<p>3. Observasi</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="193">
<ol>
<li>Ingatan</li>
</ol>
</td>
<td valign="top" width="223">1.  Dapat menyebutkan2.  Dapat menunjukkan kembali</td>
<td valign="top" width="170">1. Tes lisan2. Tes tertulis</p>
<p>3. Observasi</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="193">
<ol>
<li>pemahaman</li>
</ol>
</td>
<td valign="top" width="223">1. Dapat menjelaskan2. Dapat mendefinisikan dengan lisan sendiri</td>
<td valign="top" width="170">1. Tes lisan2. Tes tertulis</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="193">
<ol>
<li>penerapan</li>
</ol>
</td>
<td valign="top" width="223">1. Dapat memberikan contoh2. Dapat menggunakan secara</p>
<p>Tepat</td>
<td valign="top" width="170">1. Tes tertulis2. Pemberian tugas</p>
<p>3. Observasi</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="193">
<ol>
<li>Analisis (pemeriksaan dan pemilihan secara teliti)</li>
</ol>
</td>
<td valign="top" width="223">1. Dapat menguraikan2.  Dapat mengklasifikasikan/memilah-milah</td>
<td valign="top" width="170">1. Tes tertulis2. Pemberian tugas</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="193">
<ol>
<li>Sintesis (mem-buat paduan baru dan utuh)</li>
</ol>
</td>
<td valign="top" width="223">1. Dapat menghubungkan2. Dapat menyimpulkan</p>
<p>3. Dapat menggeneralisasikan (membuat prinsip umum)</p>
<p>&nbsp;</td>
<td valign="top" width="170">1. Tes tertulis2. Pemberian tugas</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.5               EVALUASI PRESTASI KOGNITIF, AFEKTIF, PSIKOMOTORIK</p>
<p>1.5.1 Pengukuran Ranah Kognitif</p>
<p>Mengukur Keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan. Karena semakin membengkaknya jumlah siswa di sekolah-sekolah, tes lisan dan perbuatan hampir tak pernah digunakan lagi. Alasan lain mengapa tes lisan khususnya kurang mendapat perhatian ialah karena pelaksanaannya yang  <em>face to face</em> (berhadapan langsung).</p>
<p>Dampak negatif yang tak jarang muncul akibat tes yang  <em>face to face</em> itu, ialah sikap dan perlakuan yang subjektif dan kurang adil, sehingga soal yang diajukan pun tingkat kesulitannya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Di satu pihak ada siswa yang diberi soal yang mudah dan terarah (sesuai dengan topik) sedangkan di pihak lain ada pula siswa yang ditanyai masalah yang sukar bahkan terkadang tidak relevan dengan topik.</p>
<p>Untuk mengatasi masalah subjektifitas itu, semua jenis tes tertulis baik yang berbentuk subjektif maupun yang berbentuk objektif (kecuali tes B-S), seyogyanya dipakai sebaik-baiknya oleh para guru. Namun demikian, apabila anda menghendaki informasi yang lebih akurat mengenai kemampuan kognitif siswa, selain tes B-S, tes pilihan berganda juga sebaiknya tak digunakan. Sebagai gantinya, penguji sangat dianjurkan untuk menggunakan tes pencocokan (matching test), tes isian, dan tes esai. Khusus untuk mengukur kemampuan analisis dan sintesis siswa, penguji lebih dianjurkan untuk menggunakan tes esai, karena tes ini adalah satu-satunya ragam instrument evaluasi yang paling tepat untuk mengevaluasi dua jenis kemampuan akal siswa tadi.</p>
<p>Dalam hubungan dengan satuan pelajaran, ranah kognitif memegang peran paling utama. Yang menjadi tujuan pengajaran di jenjang pendidikan pada umumnya adalah peningkatan kemampuan siswa dalam aspek kognitif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai tiap aspek:</p>
<ol>
<li>Pengetahuan</li>
</ol>
<p>Pengetahuan adalah aspek yang paling dasar. Seringkali juga disebut aspek ingatan. Dalam jenjang kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, fakta atau istilah-istilah, dan lain sebagainya tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya. Karena itu menggunakan kata-kata operasional</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>sebagai berikut: menyebutkan, menunjukkan, mengenal, mengingat kembali, menyebutkan definisi, memilih dan menyatakan. Bentuk soal yang sesuai untuk mengukur kemampuan ini antara lain: benar-salah, menjodohkan, isian atau jawaban singkat, dan pilihan ganda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Pemahaman</li>
</ol>
<p>Kemampuan ini umumnya mendapat penekanan dalam proses belajar-mengajar. Siswa dituntut memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan isinya tanpa keharusan menghubungkannya dengan hal-hal lain. Bentuk soal yang sering digunakan untuk mengukur kemampuan ini adalah pilihan ganda dan uraian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Penerapan</li>
</ol>
<p>Dalam jenjang kemampuan ini dituntut kesanggupan ide-ide umum, tata cara, ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, serta teori-teori dalam situasi baru dan kongkret.  Pengukuran kemampuan ini umumnya menggunakan pendekatan pemecahan masalah. Melalui pendekatan ini siswa dihadapkan dengan suatu masalah yang perlu dipecahkan dengan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Dengan demikian, penguasaan aspek ini sudah tentu harus didasari aspek pemahaman yang mendalam tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Analisis</li>
</ol>
<p>Dalam jenjang kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu ke dalam unsur-unsur  atau komponen-komponen pembentuknya. Dengan jalan ni situasi teresebut menjadi lebih jelas. Bentuk soal yang sesuai untuk mengukur kemampuan ini adalah pilihan ganda dan uraian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Sintesis</li>
</ol>
<p>Pada jenjang ini seseorang dituntut untuk dapat menghasilkan sesuatu yang baru.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Penilaian</li>
</ol>
<p>Dalam jenjang kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat mengevaluasi situasi, keadaan, pernyataan atau konsep berdasarkan suatu kriteria tertentu. Yang penting dalam evaluasi adalah menciptakan kondisinya sedemikian rupa sehingga siswa mampu mengembangkan kriteria, standart, atau ukuran untuk mengevaluasi  sesuatu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.5.2         Pengukuran Ranah Afektif</p>
<p>Dalam merencanakan penyusunan instrument tes prestasi siswa yang berdimensi efektif (ranah rasa) jenis-jenis prestasi internalisasi dan karakterisasi, seyogyanya mendapat perhatian khusus. Alasanya, karena kedua jenis prestasi ranah rasa itulah yang lebih banyak mengendalikan sikap dan perbuatan siswa.</p>
<p>Salah satu bentuk tes ranah rasa yang popular ialah “Skala Likert” (likert Scale) yang tujunya untuk mengidentifikasi kecenderungan/sikap orang (Robert, 1988) bentuk skala ini yang menampung pendapat yang mencerminkan sikap sangat setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sagat tidak setuju. Rentang sekor ini di beri nilai 1 sampai 5 atau 1 sampai 7 bergantung kebutuhan dengan catatan sekor-sekor itu dapat mencerminkan sikap-sikap mulai sangat “ya” sampai “sangat tidak”. Perlu pula dicatat, untuk memudahkan identifikasi jenis kecenderunagn efektif siswa yang representative, item-item skala sikap sebaiknya dilengkapi dengan identitas sikap yang meliputi; 1) komitmen; 3) penghayatan; 4) wawasan.</p>
<p>Selanjutnya, untuk memperjelas uraian ini, penyusun sajikan sebuah contoh seperti tampak pada gambar berikut:</p>
<p align="center">MODEL</p>
<p align="center">Sikap Siswa Terhadap Perbuatan Zina</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" valign="top" width="307">
<p align="center">Pernyataan</p>
</td>
<td valign="top" width="307">
<p align="center">Skala sikap</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="307">Sangat tidak setuju                   sangat setuju</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="307"></td>
<td valign="top" width="307"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain itu ada beberapa hal yang dapat di jadikan acuan pendukung dalam proses ini yaitu:</p>
<ol>
<li>Menerima</li>
</ol>
<p>Jenjang ini berhubungan dengan kesediaan siswa untuk ikut dalam kegiatan kelas. Jenjang ini berhubungan dengan menimbulkan, mempertahankan, dan mengarahkan perhatian siswa. Hasil belajar  dalam jenjang ini berjenjang mulai dari kesadaran bahwa sesuatu itu ada sampai kepada minat khusus dari pihak siswa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Menjawab</li>
</ol>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berhubungan dengan partisipasi siswa. Hasil belajar dalam jenjang ini dapat menekankan kemauan untuk menjawab atau kepuasan dalam menjawab.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Menilai</li>
</ol>
<p>Berhubunagn dengan nilai yang dikenakan siswa terhadap suatu obyek, fenomena, atau tingkah laku tertentu. Jenjang ini mulai dari hanya sekedar penerimaan nilai sampai ke tingkat komitmen yang lebih tinggi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Organisasi</li>
</ol>
<p>Tingkat ini berhubungan dengan menyatukan nilai-niali yang berbeda, menyelesaikan/memcahkan konflik diantara nilai-niali itu, dan mulai membentuk suatu sistem nilai yang konsisten secara internal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Karakteristik dengan suatu nilai atau kompleks nilai</li>
</ol>
<p>Pada  jenjang ini individu memiliki sistem nilai yang mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang cukup lama sehingga membentuk karakteristik “pola hidup”. Jadi tingkah lakunya menetap, konsisten. Hasil belajar meliputi sangat banyak kegiatan, tapi penekanan lebih besar diletakkan pada kenyataan bahwa tingkah laku itu menjadi ciri khas atau karakteristik siswa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.5.3         Pengukuran Ranah Psikomotorik</p>
<p>Meskipun peranan ranah psikomotorik semakin dirasakan pentingnya, namun tidak dibicarakan meluas dalam lingkup tulisan ini.</p>
<ol>
<li>Keterampilan motorik : memperlihatkan gerak, menunjukkan hasil (pekerjaan tangan), menggerakkan, menampilkan, melompat dan sebagainya.</li>
<li>Manipulsai benda-benda : menyusun, membentuk, memindahkan, menggeser, mereparasi, dan sebagainya.</li>
<li>Koordinasi neuromuscular, menghubungkan, mengamati, memotong dan sebagainya.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.6          Analisis Kasus</p>
<p>Mengukur Keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif, afektif, serta psikomotorik dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan. Dalam studi kasus ini pendekatan atau cara yang digunakan oleh konselor dalam rangka pengumpulan data tentang siswa yang bermasalah ialah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>1.  Berdasarkan Pengamatan di Sekolah<br />
a. Kepribadian</li>
</ol>
<p>Pribadi klien baik walaupun cenderung mudah putus asa dan kurang teliti dalam mengerjakan sesuatu. Dia selalu ingin semua keinginannya dituruti. Dia juga cenderung untuk memilih-milih teman.<br />
b. Tingkah Laku</p>
<p>Tingkah laku klien di rumah menunjukkan sikap yang cukup baik. Ia juga sangat patuh terhadap peraturan sekolah. Ia termasuk siswa yang disiplin baik dalam piketnya, datang ke sekolah atau mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>c. Perkembangan Jasmani</p>
<p>Perkembangan jasmani klien cukup baik. Klien memiliki fisik yang normal dan sama seperti teman-teman seusianya, taapi kurang lincah. Di dalam kelas klien termasuk siswa yang lembut dan tidak urakan.<br />
d. Hubungan dengan Guru</p>
<p>Klien memiliki hubungan yang baik dengan guru. Klien patuh dan hormat dengan guru-guru di sekolah. Dalam kesehariannya, klien terlihat memilki rasa tidak percaya diri untuk mengutarakan isi hatinya ketika ada materi pelajaran yang belum ia pahami. Pada saat guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya klien cenderung untuk memilih diam saja. Ia tidak berani angkat tangan untuk bertanya.</p>
<p>2. Berdasarkan Wawancara<br />
a. Latar Belakang Keluarga</p>
<p>Berdasarkan wawancara dengan orang tua klien, klien adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai pegawi negeri sipil di Pemkab Kepanjen. Ibunya sebagai ibu rumah tangga. Klien dan keluarganya tinggal di lingkungan desa Joyo Suko Rumahnya tergolong sedang dan sederhana.<br />
Di dalam lingkungan desa tersebut klien tidak mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggalnya, sehingga hubungan bertetangganyapun cukup baik dan akrab.</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
b. Minat</p>
<p>Minat klien terhadap kegiatan sekolah yang berhubungan dengan masalah pelajaran cukup baik walaupun secara intelektual klien tertinggal dengan teman yang lain-lainnya. Hal ini dapat dilihat dari presensi klien yang tidak pernah membolos dan selalu masuk sekolah.<br />
c. Kebiasaan Klien di rumah</p>
<p>Berdasarkan angket yang diberikan pada klien dan wawancara kepada orang tua dapat disimpulkan bahwa waktu klien kurang dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan yang berguna. Sepulang sekolah klien memafaatkan waktu untuk kursus atau melihat tv. Ia belajar setiap harinya maksimal 3 jam. Kalau dia merasa tidak bisa dia minta diajari oleh ibunya.<br />
d. Hobby Klien<br />
Klien memiliki hobby bermain musik dan menyanyi. Kadang waktu luangnya digunakan untuk  mempelajari kembali pelajaran sekolah.<br />
3. Berdasarkan Studi Dokumentasi<br />
a. Hasil Nilai Raport</p>
<p>Hasil nilai raport yang diterima klien kurang baik. Nilai raport dari kelas I tengah semester 1 hingga kelas I tengah semester 2, nilai klien menunjukan penurunan.<br />
b. Absensi Siswa</p>
<p>Dari daftar kehadiran siswa di sekolah dapat diketahui bahwa klien termasuk anak yang rajin masuk sekolah. Ia tidak pernah membolos sekolah. Klien hanya ijin jika kondisinya benar-benar sakit atau kepentingan yang mendesak.</p>
<p>4. Kesimpulan Timbulnya Masalah</p>
<p>Masalah yang dihadapi siswa SD sangatlah kompleks dan banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya masalah. Faktor tersebut dapat berasal dari diri sendiri, keluarga atau lingkungan. Begitu pula yang dialami klien. Ada banyak faktor yang menimbulkan masalah pada diri klien, diantaranya adalah sebagai berikut.<br />
Faktor yang Berasal dari Diri Sendiri<br />
a. Motivasi yang kurang<br />
b. Anak kurang mau bekerja keras agar bias dalam pelajaran.<br />
c. Anak tidak mau meneliti kembali hasil pekerjaannya.<br />
d. Anak terlalu manja.<br />
e. Semua keinginanya harus dipenuhi</p>
<p>Faktor dari Lingkungan Keluarga<br />
a. Kurang bimbingan orang tua saat belajar.<br />
b. Terlalu dimanja dengan selalu menuruti keinginan klien<br />
c. Pelanggara-pelangaran klien kurang mendapat teguran dari orang tua.</p>
<p>Faktor yang Bersumber dari Lingkungan<br />
a. Sekolah<br />
Kurang terbuka kepada guru.<br />
Sikap mudah putus asa dalam pelajaran</p>
<p>b. Luar sekolah atau masyarakat</p>
<p>Kurang memanfaatkan waktu luang, waktu hanya digunakan untuk menonton televisi.<br />
Dari rincian di atas dapat disimpulkan berbagai hal yang menyebabkan permasalahan pada klien. Permasalahan tersebut berasal dari diri klien sendiri, keadaan keluarga dan lingkungan sekitar sangat berpengaruh terhadap sikap dan daya tangkap belajar siswa.</p>
<p>Teknik Pemecahan Masalah</p>
<p>Untuk mengatasi masalah klien dapat dilakukan beberapa hal, yaitu: a.Terhadap Klien</p>
<ul>
<li>Mengajak klien berbincang-bincang mengenai masalah yang dihadapinya sehingga memudahkan konselor untuk megetahui pribadi siswa dan masalah yang sedang dihadapinya serta mempermudah memberikan bantuan dan bimbingan.</li>
<li> Memberi bimbingan yang luas pada klien yang berhungan dengan pendidikan sehingga dapat menimbulkan minat dan motivasi untuk meningkatkan semangat belajarnya</li>
<li>memberi pengarahan pada klien bahwa sikapnya yang semaunya sendiri menimbulkan kerugian pada dirinya sendiri.</li>
<li>Memberikan pengarahan dan penjelasan agar klien memeperhatikan penjelasan dari guru. Serta tidak mudah menyerah bila mengalami kesulitan belajar.</li>
<li>Menasihati klien agar tidak telalu manja pada siapapun.</li>
<li> Menasihati klien agar lebih rajin belajar.</li>
</ul>
<p>b. Terhadap Orang Tua</p>
<ul>
<li>Memberikan pengarahan pada orang tua agar tidak terlalu memanjakannya karena hal itu dapat berakibat buruk pada klien</li>
</ul>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li> Memeberikan penjalasan pada orang tua agar selalu memeperingatkan klien untuk belajar dan selalu menasihati dan memeberikan dorongan pada klien untuk lebih rajin belajar.</li>
<li> Memeberikan penjelasan pada orang tua bahwa mereka harus selalu</li>
</ul>
<p>memeperhatikan dan membimbing anaknya untuk belajar lebih giat agar tidak tertinggal dengan teman-temannya.</p>
<ul>
<li> Memeberikan penjelasan pada orang tua agar menanamkan pada diri klien sikap menghormati dan menghargai orang lain.</li>
</ul>
<ol>
<li>c.  Terhadap Teman Klien</li>
</ol>
<ul>
<li> Menasihati teman-teman klien agar mau memebantu klien bila ada kesulitan dalam belajar.</li>
<li>Menasihati teman-teman klien agar mau menegur klien bila melakuakn penyelewengan-penyelewengan.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">BAB III</p>
<p align="center">PENUTUP</p>
<p>1.1                   Kesimpulan</p>
<p>Dalam suatu pembelajaran sangat di butuhkan yang namanya evaluasi, sebagaimana yang telah kita ketahui evaluasi secara garis besar memiliki tujuan untuk mendapat data pembuktian yang akan menunjukkan sampai mana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan- tujuan kurikuler. Sedangkan fungsi dari evaluasi itu sendiri dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pehak- pihak yang berkepentingan. Untuk mengevaluasi sebuah kasus tidak lah literlak dengan konsep soal- soal, akan tetapi terlebih dahulu mengidentifikasi apa penyebab dari permasalahan yang ada, baru di sajikan manakala evalusi memungkin kan untuk tes dari soal pembelajaran atau IQ,EQ,SQ. Dari beberapa kegagalan yang di alami dalam belajar bukan lah semua berlatar belakang dari sistem belajar mengajar, akan tetapi juga bisa berlatar belakang dari pribadi dan keluarga klien. Dapat di ketahui peran evaluasi sangat lah penting di setiap kalangan, baik pendidik, keluarga, lingkungan, ataupun pribadi diri sendiri yang menjadi komponen suksesnya prestasi belajar  peserta didik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.2                   Saran</p>
<p>Secara garis besar dalam evaluasi belajar semua komponen yang mendukung  peserta didik harus lah ikut turun tangan dalam masalah. Jangan sampai saling menyalahkan antara pihak satu dengan yang lainnya. Sistem, proses belajar mengajar di sekolah perlu di evaluasi minimal dalam satu bulan sekali. Sedangkan keluarga dan peserta didik bias mengevaluasi setiap hari ataupun ketika peserta didik menerima nilai hasil belajar.</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Arikunto, Suharsismi dan  Abdul Jabar, Safrudin Cepi.<em>Evaluasi Program Pendidikan</em>. Jakarta.  Bumi Aksara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Syah, muhibin. <em>Psikologi Pendidikan</em>. Bandung. Remaja Rosdakarya,2010.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nurkancana,Wayan dan Sumartana. <em>Evaluasi pendidikan</em>.Surabaya.usaha Nasional 1982 .</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Purwanto,Ngalim. <em>Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.</em>Bandung. Remaja Rosdakarya. 2002.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Daryanto,H. Evaluasi Pendidikan. Jakarta. Rinika Cipta.1999</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Thoha,habib. Teknik Evaluasi pendidikan. Jakarta. Raja wali Press. 1991</p>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Suharsismi Arikunto dan Cepi Safrudin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan,Jakarta: Bumi Aksara, hal.1</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> ibid</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> M. Ngalim purwanto, <em>Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, </em>Bandung: Remaja Rosdakarya 2002,hal 3</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> ibid</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Wayan Nurkancana dan Sumartana, <em>Evaluasi pendidikan</em>,Surabaya: usaha Nasional 1982, hal.1</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Suharsimi Arikunto dan Cepi safrudin Abdul Jabar, op.cit., hal2</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Ngalim Purwanto,op.cit., hal.5</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Muhibin Syah, <em>Psikologi Pendidikan</em>, Bandung, Remaja Rosdakarya,2010, hal.140</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Ibid.hal.141</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Wayan Nurkancana dan Sumantana, op.cit, hal.3</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Muhibin syah,op.cit.,hal. 142</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/evaluasi-prestasi-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGELOLA KELAS</title>
		<link>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/mengelola-kelas-2/</link>
		<comments>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/mengelola-kelas-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Nov 2012 03:09:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The King</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/?p=277</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Persyaratan utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien adalah tersedianya guru atau dosen (pendidik) yang mampu memenuhi pengelolaan kelas yang efektif. Pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku yang komplek, dan pendidik harus mampu menciptakan kondisi kelas yang sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">BAB I<br />
PENDAHULUAN</p>
<ol>
<li>LATAR BELAKANG</li>
</ol>
<p>Persyaratan utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien adalah tersedianya guru atau dosen (pendidik) yang mampu memenuhi pengelolaan kelas yang efektif. Pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku yang komplek, dan pendidik harus mampu menciptakan kondisi kelas yang sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan bermutu. Kualitas proses dan hasil pembelajaran ditentukan di kelas, untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan pendidik yang mampu memenej atau mengelola kelas. Dan salah satu indikatornya adalah menyediakan suasana yang kondusif, maka pendidik sebisa mungkin untuk menguasai, mengatur dan membenahi, serta menciptakan suasana kelas yang kondusif sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran diinginkan.</p>
<p>Suasana kelas yang kondusif dan optimal dalam proses pembelajaran dapat tercapai jika pendidik mampu mengatur, peserta didik dan sarana prasarana pembelajaran untuk mencapai tujuan.</p>
<ol>
<li>TUJUAN</li>
<li>Mengetahui pengertian dari mengelola kelas.</li>
<li>Mampu mendesain lingkungan fisik kelas yang baik.</li>
<li>Dapat menciptakan lingkungan yang positif untuk pembelajaran.</li>
<li>Mampu menjadi komunikator yang baik.<span id="more-277"></span></li>
</ol>
<ol>
<li>MANFAAT</li>
<li>Pendidik dan peserta didik mengetahui apa yang dimaksud dengan mengelola kelas.</li>
<li>Agar pendidik mampu mendesain lingkungan fisik kelas yang baik bagi peserta didiknya</li>
</ol>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Pendidik dapat menciptakan lingkungan yang positif bagi eserta didi untuk proses pembelajaran.</li>
<li>Agar pendidik mengetahui dan mampu untuk menjadi komunikator yang baik bagi peserta didiknya.</li>
<li>Pendidik juga akan dapat menghadapi prilaku bermasalah peserta didik.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>DESKRIPSI KASUS</li>
</ol>
<p align="center">Situasi yang Menular</p>
<p>Bu Cornell menerima ijazahnya di bulan Mei. Segera setelah itu dia menerima jabatan sebagai guru kelas lima di SD Twin Pines. Dia menghabiskan musim panas untuk merencanakan kurikulum kelasnya, mengidentifikasi tujuan pengajarannya selama setahun tersebut, serta mengembangkan berbagai macam aktifitas untuk membantu siswa mencapai tujuan tersebut.</p>
<p>Setelah musim panas yang panjang dan panas, sebagian besar siswa bu Corell merasa senang kembali bersekolah. Di hari pertama bersekolah, bu Corell langsung masuk ke kurikulum yang direncanakannya. Namun ada tiga masalah yang muncul- yang dilakukan oleh Eli, Jake, dan Vanessa.</p>
<p>Ketiga siswa ini tampaknya mengganggu kelas setiap ada kesempatan. Mereka meninggalkan ruangan tanpa izin, mengganggu teman lain ketika mereka berjalan dengan pengasah pensil atau keranjang sampah. Mereka berbicara di luar giliran, terkadang terkadang secara kasar dan tidak menghargai guru, dan di lain waktu meremehkan aktifitas bu Corell yang telah direncanakan dengan cermat. Mereka jarang melaksanakan tugas di kelas, dan lebih memilih bersendagurau. Tampaknya mereka sering bertindak nakal ketika jam-jam kosong- misalnya di awal dan di akhir jam sekolah, sebelum dan setelah istirahat dan makan siang, serta setiap kali bu Corell berbicara dengan siswa lain.</p>
<p>Bu Corell terus melanjutkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) hariannya dengan mengabaikan siswanya yang bermasalah dan berharap mereka akan mulai membaik sendiri. Akan tetapi kenakalan-kenakalan tersebut mulai menjalar ke siswa-siswa lainnya. Di pertengahan Oktober, kelas bu Corell menjadi seperti sirkus dan tujuan pengajaran jarang tercapai.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">BAB II<br />
PEMBAHASAN</p>
<ol>
<li>KAJIAN PUSTAKA</li>
</ol>
<p>Pengelolaan kelas merupakan kegiatan yang terencana dan sengaja dilakukan oleh guru atau dosen (pendidik) dengan tujuan menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal, sehingga diharapkan proses belajar mengajar dapat berjalan secara efektif dan efisien, sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan untuk kepentingan pembelajaran.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Menurut Jeanne Ellis Ormrod dalam bukunya yang berjudul <em>Psikologi Pendidikan</em> bahwasanya pengelolaan kelas (class management)berarti membangun dan memelihara lingkungan kelas yang kondusif bagi pembelajaran dan prestasi siswa. Siswa dapat belajar lebih banyak di beberapa lingkungan kelas dibandingkan lingkungan kelas yang lainnya.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<ol>
<li><em>1.      </em><em>Mendesain Lingkungan Fisik Kelas</em></li>
</ol>
<p>Banyak faktor penting dalam upaya memaksimalkan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Yakni berupa lingkungan pembelajaran yang kondusif. Dan hal ihwal yang paling meunjang yaitu lingkungan fisik. Lingkungan fisik dalam hal ini adalah lingkungan yang ada disekitar siswa belajar berupa sarana fisik baik yang ada dilingkup sekolah,  dalam hal ini dalam ruang kelas belajar di sekolah. Lingkungan fisik dapat berupa sarana dan prasarana kelas, pencahayaan, pengudaraan, pewarnaan, alat/media belajar, pajangan serta penataannya.</p>
<p>Dalam upaya memenejemen lingkungan kelas yang efektif terdapat beberapa factor yang perlu untuk diperhatikan, diantaranya:</p>
<ul>
<li><em>Kurangi kepadatan di tempat lalu lalang</em>. Daerah ini antara lain area belajar kelompok, bangku siswa, meja guru, dan lokasi penyimpanan alat tulis, rak buku, computer dan lokasi lainnya. Area-area harus dapat dipisahkan sejauh mungkin dan dipastikan mudah diakses, karena gangguan dapat terjadi pada daerah yang sering dilewati.</li>
<li><em>Pastikan bahwa Guru dapat dengan mudah melihat semua anak.</em> Sebagai manajer kelas, guru penting untuk memonitor anak secara cermat. Pastikan ada jarak pandang yang jelas dari meja guru, lokasi instruksional, meja anak, dan semua anak.</li>
<li><em>Materi Pengajaran dan Perlengkapan anak harus mudah diakses.</em> Hal ini akan meminimalkan waktu persiapan dan perapian, serta mengurangi kelambatan dan gangguan aktivitas.</li>
<li><em>Pastikan siswa dapat dengan mudah melihat semua presentasi kelas. </em>Tentukan di mana anda dan siswa anda akan berada saat presentasi kelas diadakan. Pada aktivitas ini, anak tidak boleh memindahkan kursi atau menjulurkan lehernya. <a title="" href="#_ftn4">[4]</a></li>
</ul>
<p>Sedangkan dalam pengaturan ruang fisik kelas disesuaikan dengan tipe belajar peserta didik. Diantara 5 gaya penataan kelas yang standar<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> :</p>
<ul>
<li>Gaya auditorium: gaya susunan kelas di mana semua siswa duduk menghadap guru.</li>
<li>Gaya tatap muka: gaya susunan kelas di mana siswa saling menghadap.</li>
<li>Gaya off-set: gaya susunan kelas di mana sejumlah siswa (biasanya tiga atau empat anak) duduk di bangku, tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain.</li>
<li>Gaya seminar: gaya susunan kelas di mana sejumlah besar siswa (sepuluh atau lebih) duduk disusunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U.</li>
<li>Gaya klaster: gaya susunan kelas di mana sejumlah siswa (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara menurut Iskandar dalam bukunya yang berjudul <em>Psikologi Pendidikan </em>dituliskan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kondisi fisik kelas yaitu:</p>
<ol>
<li>Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar
<ol>
<li>Jenis kegiatan (dalam kelas/ di ruang praktium)</li>
<li>Jumlah siswa yang melakukan kegiatan</li>
<li>Pengaturan tempat duduk
<ol>
<li>Berbaris</li>
<li>Pengelompokan</li>
<li>Setengah lingkaran</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Berbentuk lingkaran</li>
<li>Individu</li>
<li>Ruang kelas yang tidak normal</li>
<li>Ventilasi dan pengaturan cahaya</li>
</ol>
<p>Ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa antara lain jendela yang cukup besar agar cahaya matahari masuk dan udara sehat.</p>
<ol>
<li>Pengaturan penyimpanan barang-barang</li>
</ol>
<p>Penyimpanan barang-barang hendaknya disimpan di tempat khusus yang mudah dicapai, dan diatur sedemikian rupa sehingga barng-barang tersebut  segera dapat digunakan.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Gambar- gambar tata letak duduk kegiatan belajar mengajar <a title="" href="#_ftn7">[7]</a>:</p>
<p>Penataan tempat duduk peserta didik ini dapat mendorong adanya interaksi sosial antar siswa maupun guru.</p>
<ol>
<li><em>2.      </em><em>Menciptakan Lingkungan yang Positif untuk Pembelajaran</em></li>
</ol>
<p>Seperti yang telah kita ketahui, dalam upaya untuk memaksimalkan proses belajar, maka seorang guru dituntut untuk bisa membawa para peserta didik menciptakan lingkungan yang positif. Yakni dengan strategi menejemen kelas dan strategi positif agar peserta didik mau untuk bekerja sama</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>Strategi umum manajemen kelas untuk menciptakan lingkungan positif bagi anak mencakup penggunaan gaya otoritatif dan manajemen kelas secara efektif.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<ul>
<li>Gaya manajemen kelas otoritatif berasal dari gaya parenting.</li>
</ul>
<p>Di mana guru yang otoritatif akan mempunyai siswa yang cenderung mandiri, tidak cepat puas, mau bekerja sama dengan teman, dan menunjukkan penghargaan diri yang tinggi. Strategi manajemen kelas otoritatif, mendorong siswa untuk menjadi pemikir yang independen dan pelaku yang independen, tetapi strategi ini masih menggunakan sedikit monitoring siswa. Guru otoritatif akan menjelaskan aturan, regulasi dan  menentukan standar dengan masukan dari siswa. Gaya otoritatif bertentangan dengan gaya otoritarian dan permisif yang tidak efektif.</p>
<ul>
<li>Gaya manajemen kelas otoritarian fokus utamanya adalah menjaga ketertiban di kelas, bukan pada pengajaran dan pembelajaran.</li>
</ul>
<p>Guru otoriter sangat mengekang dan mengontrol perilaku siswa, sehingga siswa di kelas cenderung pasif, tidak berinisiatif dalam aktivitas, memiliki keterampilan komunikasi yang buruk. Sedangkan gaya manajemen kelas yang permisif, memberi banyak otonomi pada siswa tapi tidak memberi banyak dukungan untuk pengembangan keahlian pembelajaran atau pengelolaan perilaku. Siswa di kelas permisif, cenderung punya keahlian akademik yang tidak memadai dan control diri yang rendah.</p>
<p>Guru yang berperan sebagai manajer kelas yang efektif senantiasa mengikuti apa yang terjadi, selalu memonitor siswa secara regular, sehingga dapat mendeteksi perilaku yang salah jauh sebelum perilaku itu lepas kendali. Guru yang efektif mampu mengatasi situasi yang <em>over-lapping</em> secara efektif, menjaga kelancaran dan kontuinitas pelajaran, serta melibatkan siswa dalam berbagai aktivitas yang menantang.</p>
<p>Berbagai macam penerapan Teori Motivasi Belajar dikemukakan oleh RBS. Fudyartanto sebagai berikut<a title="" href="#_ftn9">[9]</a>:</p>
<ul>
<li>Guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan</li>
<li>Guru memberikan hadiah dan hukuman kepada siswa</li>
<li>Guru mendorong peserta didik untuk lebih bersemangat</li>
<li>Guru melakukan kompetisi dan kerja sama pada peserta didik</li>
<li>Guru melakukan pujian kepada peserta didik</li>
<li>Guru mengusahakan selalu ada yang baru ketika melakukan pembelajaran di kelas</li>
<li>Guru dalam mengajar tidak menggunakan prosedur yang menekan</li>
<li>Guru melibatkan siswa secara aktif.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><em>3.      </em><em>Menjadi Komunikator yang Baik</em></li>
</ol>
<p>Dilihat dari peran guru di dalam kelas, mereka berperan sebagai seorang komunikator, mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan non verbal. Pesan yang akan disampaikan kepada komunikan berupa buku teks, catatan, lisan, cerita, dan lain sebagainya, pesan itu telah dikemas, sedemikian rupa sehingga mudah dipahami, dimengerti, dipelajari, dicerna, dan diaplikasikan para siswa.<br />
Pesan dalam bentuk verbal tersebut dirancangkan untuk disajikan dalam beberapa kali pertemuan dan diterapkan sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, indicator, media dan dalam alokasi waktu yang sesuai dengan beban dan muatan materi.<br />
Komunikasi materi pelajaran tidak terbatas dalam kelas semata tetapi dirancangkan untuk luar kelas, berupa tugas yang terkontrol dan terukur, baik materi teoritis dan praktis, sehingga materi pelajaran yang disajikan lebih komunikator.<br />
Di dalam kelas guru menjelaskan siswa bertanya, menyimak sebaliknya guru mendapat informasi dari siswa-siswanya dan menjawab pertanyaan siswa serta mencari solusi bersama-sama, kedua belah pihak (komunikator, komunikan) aktif, dan peran yang lebih dominan terletak pada siswa atau siswa yang lebih aktif. Pada akhir dari penyajian materi, guru melakukan evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa terhadap materi yang telah dikomunikasikan.</p>
<p>Komunikasi pembelajaran dan komunikasi umum memiliki perbedaan dalam aspek tujuan, komunikasi pembelajaran mempunyai tujuan lebih spesifik atau khusus. Kekhususan inilah yang dalam proses komunikasi melahirkan istilah-istilah khusus seperti: penerangan, propaganda, indoktrinisasi, agisasi dan pendidikan. Komunikasi umum tujuan bersifat umum dan tidak terukur.<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><em>4.      </em><em>Menghadapi Perilaku Bermasalah Siswa</em></li>
</ol>
<p>Walaupun kita telah berusaha, siswa terkadang tetap saja berperilaku dengan cara-cara yang tidak diinginkan. Guru yang efektif tidak hanya merencanakan dan menstuktur kelas untuk meminimalkan masalah masalah prilaku yang potensial, tetapi secara aktif menyikapi prilaku yang tidak sesuai (misbehaviour) yang benar-benar terjadi (W. Doyle. 1990).</p>
<p>Beberapa misbehavioris di kelas relative kecil, dan tidak berdampak jangka panjang pada kesuksesan siswa. Perilaku seperti berbicara di luar giliran, menulis catatan kecil ke teman sekelasselama pelajaran berlangsung, atau mengumpulkan tugas melebihi batas waktu. Misbehavioris lainnya lebih jauh serius, ketika mengganggu proses pembelajaran atau ketenangan seorang atau beberapa siswa. Misalna ketika siswa berteriak kea rah guru, memukul teman sekelas, atau menolak berpartisipasi dalam aktifitas di kelas, maka pembelajaran di kelas terutama bagi pihak yang salah dan seringkali bagi siswa-siswa lain, dapat terpengaruh secara negatif, dan dengan demikian juga mempengaruhi kelas secara keseluruhan.</p>
<p>Sebagai guru, kita harus merencanakan terlebih dahulu bagaimana menyikapi berbagai misbehavior yang mungkin kita lihat di kelas. Meskipun kita tentu saja harus konsisten dalam konsekuensi yang kita jatuhkan atas pelanggaran peraturan. Beragam strategi dapat digunakan untuk mengurangi prilaku kontraproduktif dalam jangka panjang.</p>
<ol>
<li>Mengabaikan perilaku</li>
</ol>
<p>Dalam beberapa kesempatan, tindakan terbaik kita adalah tidak bertindak, paling tidak bukan sesuatu yang bersifat disipliner (G.A. Davis dan Thomas, 1989; W.Doyle, 2006).</p>
<ol>
<li>Member isyarat ke siswa</li>
</ol>
<p>Dalam beberapa situasi, perilaku yang tak ada kaitannya dengan pelajaran, meskipun tidak serius, benar-benar mengganggu pembelajaran teman sekelas dan harus dicegah.</p>
<ol>
<li>Membahas masalah secara pribadi dengan siswa</li>
</ol>
<p>Terkadang isyarat di kelas tidak cukup untuk mencegah misbehavior siswa. Percakapan dengan siswa-siswa secara perorangan member kita, sebagai guru, suatu kesempatan untuk menjelaskan mengapa perilaku-perilaku tertentu tidak dapat diterima dan harus dihentikan.</p>
<ol>
<li>Mangajarkan strategi-strategi pengaturan diri</li>
</ol>
<p>Ketika siswa mengekspresikan keprihatinan mereka sendiri akan perilaku bermasalah mereka, mengajarkan strategi-strategi pengaturan diri (self-regulation) seringkali membantu.</p>
<ol>
<li>Berunding dengan orangtua</li>
</ol>
<p>Terkadang kita harus bekonsultasi dengan orangtua siswa atau wali siswa lainnya tentang masalah perilaku. Berunding dengan orangtua khususnya penting ketika masalah perilaku siswa menunjukkan suatu pola sepanjang waktu dan memilik implikasi serius bagi kesuksesan akademik atau sosialna dalam jangka panjang.</p>
<ol>
<li>Melakukan intervensi yang terencana dan sistematis</li>
</ol>
<p>Terkadang siswa mungkin tidak bersedia atau tidak mampu mengubah perilaku mereka sendiri. Dan karena satu alas an tertentu, berkonsultasi dengan orangtua mungkin tidak menghasilkan solusi yang efektif. Terkadang strategi-strategi sederhana tersebut dapat efektif jika digabungkan dengan strategi lainnya, dengan mendorong kemampuan berpikir dari sudut pandang orang lain.<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan menurut Santrock dalam bukunya yang berjudul <em>Psikologi Pendidikan</em> berpendapat dalam beberapa hal mengenai prilaku siswa yang bermasalah yaitu:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>a)        </strong><strong>Intervesi Minor</strong><strong></strong></p>
<p>Beberapa masalah hanya membutuhkan intervensi minor atau kecil. Masalah-masalah yang kerap muncul biasanya mengganggu aktifitas belajar di kelas. Misalnya, murid mungkin ribut sendiri, meninggalkan tempat duduk tanpa ijin, bercanda sendiri, atau memakan permen di kelas. Strategi yang efektif antara lain adalah:</p>
<ul>
<li><strong>Gunakan isyarat non verbal</strong><br />
Jalin kontak mata dengan murid. Kemudian beri isyarat dengan meletakkan telunjuk jari di bibir anda, menggeleng kepala, atau menggunakan isyarat tangan untuk menghentikan perilaku tersebut.</li>
<li><strong>Terus lanjutkan aktifitas belajar</strong><br />
Biasanya terjadi suatu jeda dalam transisi aktifitas dalam kegiatan belajar mengajar, dimana pada jeda tersebut murid tidak melakukan apa-apa. Pada situasi ini, murid</li>
<li>mungkin akan meninggalkan tempat duduknya, mengobrol, bercanda dan mulai ribut. Strategi yang baik adalah bukan mengkoreksi tindakan mereka tetapi segera melangsungkan aktifitas baru berikutnya.</li>
<li><strong>Mendekati murid</strong><br />
Saat murid mulai bertindak menyimpang. Anda cukup mendekatinya, maka biasanya dia akan diam.</li>
<li><strong>Arahkan perilaku</strong><br />
Jika murid mengabaikan tugas yang kita perintahkan, ingatkan mereka tentang kewajiban itu. Anda bisa berkata, <em>“Baiklah, ingat, semua anak harus menyelesaikan soal matematika ini.”</em></li>
<li><strong>Beri instruksi yang dibutuhkan</strong><br />
Terkadang siswa melakukan kesalahan kecil saat tidak memahami cara mengerjakan tugas. Untuk mengatasinya anda harus memantau murid dan memberi petunjuk jika dibutuhkan.</p>
<ul>
<li><strong>Suruh murid berhenti dengan nada tegas dan langsung</strong><br />
Jalin kotak mata dengan murid, bersikap asertif, dan suruh murid menghentikan tindakannya. Buat pernyataan, singkat dan pantau situasi sampai murid patuh. Strategi ini bisa dilakukan dengan mengkombinasikan strategi mengarahkan perilaku murid.</li>
<li><strong>Beri murid pilihan</strong><br />
Berilah murid tanggung jawab dengan memilih dua pilihan, bertindak benar atau menerima konsekuensi negatif. Beri tahu murid apa tindakan benar itu dan apa konsekuensi bila melanggar.</li>
</ul>
</li>
</ul>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p><strong>b)     </strong><strong>Intervensi Moderat</strong><strong></strong></p>
<p>Beberapa perilaku yang salah membutuhkan intervensi yang lebih kuat dari pada intervensi minor di atas, misalnya, ketika murid menyalahgunakan aktifitasnya, mengganggu, cabut dari kelas, mengganggu pelajaran, atau mengganggu pekerjaan murid lainnya. Berikut adalah strategi yang bisa dilakukan:</p>
<ul>
<li><strong>Jangan beri</strong><strong> </strong><em>privilese</em><a title="" href="#_ftn12"><strong><em><strong>[12]</strong></em></strong></a><strong> </strong><strong>atau aktifitas yang mereka inginkan</strong><br />
Bila anda memperbolehkan murid untuk berkeliling kelas atau mengerjakan tugas dengan murid lain dan ia malah menyalahgunakan <em>privilese</em><em> </em>yang anda berikan atau mengganggu pekerjaan temannya, maka anda bisa mencabut<em>privilese</em>nya.</li>
<li><strong>Buat perjanjian behavioral</strong><br />
Buatlah perjanjian yang bisa disepakati oleh semua murid. Perjanjian ini harus merefleksikan masukan dari kedua belah pihak yaitu guru dan murid. Jika muncul problem dan murid tetap keras kepala, guru bisa merujuk pada kesepakatan bersama yang telah dibuat.</li>
<li><strong>Pisahkan atau keluarkan murid dari kelas</strong><br />
Bila murid bersenda gurau dan bersikap tidak mengindahkan peringatan, anda bisa memisahkan ia dari murid disekitarnya ataupun mengeluarkannya dari dalam kelas.</li>
<li><strong>Kenakan hukuman atau sanksi</strong><br />
Menggunakan hukuman sebaiknya tidak melakukan tindakan kekerasan, tetapi bisa dilakukan dengan memberikan tugas mengerjakan soal atau menulis halaman tambahan.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></li>
</ul>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li> ANALISIS KASUS</li>
</ol>
<p>Dari deskripsi kasus dihalaman awal, dapat dilihat bahwa tidak semua rencana yang telah kita buat dapat terlaksana dengan baik dan sesuai harapan. Pada kasius diatas kelompok kami menilai kurang setuju dengan tindakan yang diambil oleh Bu Cornell. Kasus diatas juga menunjukkan bahwa selain adanya pengaruh situasi yang tidak diinginkan juga perencanaan yang matang dalam menyiapkan dan pelaksanaan proses belajar mengajar juga seorang guru hendaknya melakukan pendekatan kepada para peserta didiknya. Hal ini selain sebagai upaya untuk membangun hubungan social yang baik dan harmonis. Selain itu pendekatan juga berupaya untuk mengontrol tingkah laku para peserta didik, dan dapat menetapkan cara yang tepat untuk mengatasinya sehingga dapat dikendalikan serta tindak tunduk antara pengajar dan peserta didik.</p>
<p>Selain melakukan pendekatan, pengajar dapat sering memberikan motivasi agar para peserta didik akan merasa termotivasi, terdorong untuk selalu bersemangat dalam menerima ilmu dari pengajar. Beberapa penyebab dari munculnya pelanggaran atau penyimpangan di kelas oleh peserta didik diantaranya kurangnya dorongan atau motivasi. Dapat juga dengan mengajarkan beberapa pelajaran tentang etika belajar di kelas, baik itu berupa akhlak yang disertai dengan praktiknya.</p>
<p>Adanya monitoring budi pekerti untuk peserta didik juga sangat dibutuhkan, sehingga para peserta dapat terbiasa melakukan hal-hal yang baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">BAB III</p>
<p align="center">PENUTUP</p>
<ol>
<li> Kesimpulan</li>
</ol>
<p>Persyaratan utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien adalah tersedianya guru atau dosen (pendidik) yang mampu memenuhi pengelolaan kelas yang efektif. Pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan untuk kepentingan pembelajaran. Kualitas proses dan hasil pembelajaran ditentukan di kelas, untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan pendidik yang mampu memenej atau mengelola kelas. Pengelolaan kelas juga berarti membangun dan memelihara lingkungan kelas yang kondusif bagi pembelajaran dan prestasi siswa. Siswa dapat belajar lebih banyak di beberapa lingkungan kelas dibandingkan lingkungan kelas yang lainnya.</p>
<ol>
<li>Saran dan Solusi
<ol>
<li>Saran</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Setiap pengajar hendakanya memperhatikan factor intern maupun ekstern dalam mengelola kelas. Kondisi fisik kelas, tata cara mengajar, mengatasi beberapa masalah kelas dengan tepat serta mengoptimalkan strategi-strategi belajar yang tepat dan sesuai dengan cara belajar serta karakter peserta didik.</p>
<ol>
<li>Solusi</li>
</ol>
<ul>
<li>Perlu diadakannya evaluasi baik dari pengajar maupun peserta didik secara rutin. Sehingga dapat diketahui secara jelas perkembangan peserta didik.</li>
<li>Adanya pendekatan kepada para peserta didik sehingga peserta didik akan lebih terbuka dan taat kepada pengajar.</li>
</ul>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">DAFTAR PUSTAKA</p>
<ul>
<li>Iskandar. 2009. <em>Psikologi Pendidikan.</em> Ciputat: Gaung Persada Press.</li>
<li>Ormrod. Jeanne Ellis. 2008, <em>Psikologi Pendidikan.</em> Jakarta: Erlangga.</li>
<li>Prawira. Purwa Atmaja. 2012,  <em>Psikologi Pendidikan dalam Perspektif baru, </em>Jogjakarta: Ar Ruzz Media.</li>
<li>Santrock. 2009,  (Everston:2003), <em>Psikologi Pendidikan (terjemahan), </em>Jakarta: PT.Kencana.</li>
<li><a href="http://www.scribd.com/doc/82161566/5/PENGATURAN-LINGKUNGAN-FISIK-KELAS">http://www.scribd.com/doc/82161566/5/PENGATURAN-LINGKUNGAN-FISIK-KELAS</a></li>
</ul>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Jeanne Ellis Ormrod, <em>Psikologi Pendidikan</em>, (Jakarta: Erlangga. 2008), hal. 209</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Iskandar, <em>Psikologi Pendidikan</em>, (Ciputat: Gaung Persada Press. 2009), hal. 210.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Jeanne Ellis Ormrod, <em>Psikologi Pendidikan</em>, (Jakarta: Erlangga. 2008), hal. 210.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Santrock (Everston:2003),<em>Psikologi Pendidikan (terjemahan), Jakarta: PT.Kencana. 2009.</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Ibid</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Iskandar, <em>Psikologi Pendidikan</em>, (Ciputat: Gaung Persada Press. 2009), hal. 215.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> <a href="http://www.scribd.com/doc/82161566/5/PENGATURAN-LINGKUNGAN-FISIK-KELAS"><em>Loc.Cit</em></a></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Op.Cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Purwa Atmaja Prawira, <em>Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru, </em>Jogjakarta: Ar Ruzz Media, hal. 347-350</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> <em>Loc.Cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Jeanne Ellis Ormrod, <em>Psikologi Pendidikan</em>, (Jakarta: Erlangga. 2008), hal. 229-238</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Previlise: hak istimewa</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> Santrock, <em>Psikologi Pendidikan</em>, (Jakarta: Kencan Prenada Media Group, 2007)</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/mengelola-kelas-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MOTIVASI, PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN</title>
		<link>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/motivasi-pengajaran-dan-pembelajaran-2/</link>
		<comments>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/motivasi-pengajaran-dan-pembelajaran-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Nov 2012 03:05:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The King</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN     1.1 Latar Belakang Motivasi belajar bagi siswa menjadi sangat penting ketika seorang siswa mulai mengalami penurunan semangat belajar. motivasi diharapkan dapat  mendorong semangat belajar siswa sehingga siswa mampu untuk belajar dengan baik dan lebih serius. Dengan memiliki motivasi belajar yang baik dalam skala jangka pendek dan jangka panjang, diharapkan siswa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>BAB I</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>1.1 Latar Belakang</strong><strong></strong></p>
<p>Motivasi belajar bagi siswa menjadi sangat penting ketika seorang siswa mulai mengalami penurunan semangat belajar. motivasi diharapkan dapat  mendorong semangat belajar siswa sehingga siswa mampu untuk belajar dengan baik dan lebih serius. Dengan memiliki motivasi belajar yang baik dalam skala jangka pendek dan jangka panjang, diharapkan siswa nantinya mampu melakukan manajemen waktu untuk mengejar semua tujuan tersebut. motivasi jangka pendek misalnya motivasi mendapatkan hadiah dari guru, ingin mendapat ranking pertama, dan lain sebagainya. Sedangkan motivasi dalam jangka panjang misalnya, ingin mendapatkan pekerjaan yang mapan, ingin mendapatkan jabatan yang tinggi, dan lain sebagainya.</p>
<p>Seorang siswa yang memiliki motivasi yang besar dan berkeinginan kuat untuk mendapatkannya akan memiliki antusias lebih besar dalam belajar di bandingkan dengan siswa yang cenderung tidak memiliki motivasi. Seperti contoh, seorang siswa yang sangat ingin mendapatkan ranking pertama akan lebih antusias belajar dan berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik dari pada siswa yang tidak memperdulikan rankingnya.</p>
<p><span id="more-274"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1.</strong><strong>2</strong><strong> </strong><strong>Tujuan </strong></p>
<p>Adapun beberapa tujuan dari  penyusunan makalah ini adalah:</p>
<ol>
<li>Memberi pemahaman tentang “Motivasi” kepada para pembaca.</li>
<li>Memberi informasi kepada pembaca tentang bagaimana cara memahami dan memberi motivasi kepada peserta didik dalam proses pengajaran dan pembelajaran.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1</strong><strong>.3 Manfaat</strong></p>
<p>Beberapa manfaat dari penyusunan makalah ini adalah:</p>
<ol>
<li>Pembaca dapat mengetahui definisi motivasi,</li>
<li>Pembaca atau khususnya para pendidik dapat menerapkan cara-cara memberi motivasi kepada peserta didik.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1.4 Deskripsi Kasus</strong></p>
<p>Tidak semua siswa memiliki motivasi belajar  yang baik sehingga  dapat menjadikan dirinya lebih antusias dan lebih serius dalam proses belajar. Fenomena yang ada pada siswa saat ini adalah terdapat kecenderungan penurunan motivasi dan prestasi belajar mereka dari tahun ke tahun. Mereka semakin jarang masuk sekolah, sering terlambat, duduk di bangku belakang dan mulai tidak peduli dengan masa depan. Hal ini terkadang juga menjangkiti para pengajar. Para guru mulai tidak memperhatikan kualitas pengajaranyya, tidak peduli akan keadaan peserta didiknya. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kualitas pembelajaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>KAJIAN PUSTAKA DAN ANALISA KASUS</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.1  </strong><strong>Pengertian Motivasi</strong></p>
<p>Pengertian dasar motivasi ialah keadaan internal organisme baik manusia atau hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (<em>energizer</em>) untuk bertingkah laku secara terarah.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Adapun pengertian motivasi menurut Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu. Pendapat lain juga mengatakan bahwa motivasi adalah “ keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan” (Soeharto dkk, 2003 : 110)</p>
<p>Sedangkan pengertian motivasi menurut Chung dan Megginson yang dikutip oleh Faustino Cardoso Gomes, menerangkan bahwa pengertian motivasi adalah tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang yang mengejar suatu tujuan dan berkaitan dengan kepuasan kerja dan perfoman pekerjaan.</p>
<p>Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah  kekuatan tersembunyi di dalam diri kita yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.2  </strong><strong>Motivasi untuk meraih sesuatu/tujuan</strong></p>
<p>Adapun mengenai Motivasi untuk meraih sesuatu/tujuan menurut Muhibbin Syah  dalam pembahasannya mengungkapkan bahwa, motivasi itu di bedakan menjadi dua macam, yaitu:</p>
<p>1. Motivasi intrinsik</p>
<p>Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik siswa adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan. <a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>2. Motivasi ekstrinsik</p>
<p>Motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang dating dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah, peraturan/tata tertib sekolah, suri teladan orang tua, guru, dan seterusnya merupakan contoh-contoh konktret motivasi ekstrinsik yang dapat menolong siswa untuk belajar. Kekurangan atau ketidakadaan motivasi, akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses belajar materi-materi pelajaran baik di sekolah maupun di rumah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>2.3  Motivasi, hubungan dan Sosiokultural</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.4 Analisa Kasus</strong></p>
<p>Dewasa ini banyak kita jumpai fenomena yang tidak enak untuk dipandang mata dan dirasakan. Pengangguran merajalela, prestasi belajar siswa menurun, sehingga sudah jarang lagi pelajar Indonesia yang bisa membanggakan nama bangsa di mata dunia dalam ajang-ajang intelektual. Banyak pula orang-orang yang bekerja tidak professional, seperti dokter-dokter yang mal praktik, dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan motivasi Mereka belum mam, yang ada di dalam benak mereka hanyalah sesuatu yang dangkal. Padahal jika mereka mempunyai motivasi yang besar dan antusiasme yang tinggi dalam mendapatkan sesuatu maka nama bangsa Indonesia secara otomatis akan terangkat dan bisa menyaingi bahkan menjadi lebih baik dari pada Negara-negara maju di dunia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB III</strong></p>
<p align="center"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.1 Kesimpulan</strong><strong></strong></p>
<p>Motivasi intrinsik</p>
<p>Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar.Motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang dating dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar, selanjut nya motivasi, hubungan dan Sosiokultural</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Syah, Muhibbin. 2011. <em>Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru</em><em>. </em>Bandung: Rosda karya</p>
<p>Surya, Mohamad.2004. <em>Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. </em>Bandung: Pustaka Bani Quraisy</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2065557-hubungan-motivasi-dan-perilaku-belajar">http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2065557-hubungan-motivasi-dan-perilaku-belajar</a> 01.00/04.10.2012</p>
<p>http;//motivasi, pengajaran dan pembelajaran dan.htmla01.00/04.10.2012</p>
<p>&nbsp;</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>  Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2011. hal. 134</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ibid. hal. 134</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/motivasi-pengajaran-dan-pembelajaran-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/270/</link>
		<comments>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/270/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Nov 2012 09:30:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The King</dc:creator>
				<category><![CDATA[terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[download disini]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>download<a title="apik" href="http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/files/2012/07/address-bar.jpg"> disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/270/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MOTIVASI, PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN</title>
		<link>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/motivasi-pengajaran-dan-pembelajaran/</link>
		<comments>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/motivasi-pengajaran-dan-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Nov 2012 22:08:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The King</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN     1.1 Latar Belakang Motivasi belajar bagi siswa menjadi sangat penting ketika seorang siswa mulai mengalami penurunan semangat belajar. motivasi diharapkan dapat  mendorong semangat belajar siswa sehingga siswa mampu untuk belajar dengan baik dan lebih serius. Dengan memiliki motivasi belajar yang baik dalam skala jangka pendek dan jangka panjang, diharapkan siswa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>BAB I</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>1.1 Latar Belakang</strong><strong></strong></p>
<p>Motivasi belajar bagi siswa menjadi sangat penting ketika seorang siswa mulai mengalami penurunan semangat belajar. motivasi diharapkan dapat  mendorong semangat belajar siswa sehingga siswa mampu untuk belajar dengan baik dan lebih serius. Dengan memiliki motivasi belajar yang baik dalam skala jangka pendek dan jangka panjang, diharapkan siswa nantinya mampu melakukan manajemen waktu untuk mengejar semua tujuan tersebut. motivasi jangka pendek misalnya motivasi mendapatkan hadiah dari guru, ingin mendapat ranking pertama, dan lain sebagainya. Sedangkan motivasi dalam jangka panjang misalnya, ingin mendapatkan pekerjaan yang mapan, ingin mendapatkan jabatan yang tinggi, dan lain sebagainya.</p>
<p>Seorang siswa yang memiliki motivasi yang besar dan berkeinginan kuat untuk mendapatkannya akan memiliki antusias lebih besar dalam belajar di bandingkan dengan siswa yang cenderung tidak memiliki motivasi. Seperti contoh, seorang siswa yang sangat ingin mendapatkan ranking pertama akan lebih antusias belajar dan berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik dari pada siswa yang tidak memperdulikan rankingnya.</p>
<p>Dengan demikian, kenyataan dilapangan yang terjadi adalah saat siswa memiliki orientasi yang jelas maka mereka memiliki perilaku belajar yang baik dan teratur. Hasilnya adalah mereka mampu menyelesaikan pekerjaan berdasarkan prioritas dan mendapatkan hasil yang maksimal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1.</strong><strong>2</strong><strong> </strong><strong>Tujuan </strong></p>
<p>Adapun beberapa tujuan dari  penyusunan makalah ini adalah:</p>
<ol>
<li>Memberi pemahaman tentang “Motivasi” kepada para pembaca.</li>
<li>Memberi informasi kepada pembaca tentang bagaimana cara memahami dan memberi motivasi kepada peserta didik dalam proses pengajaran dan pembelajaran.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1</strong><strong>.3 Manfaat</strong></p>
<p>Beberapa manfaat dari penyusunan makalah ini adalah:</p>
<ol>
<li>Pembaca dapat mengetahui definisi motivasi,</li>
<li>Pembaca atau khususnya para pendidik dapat menerapkan cara-cara memberi motivasi kepada peserta didik.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1.4 Deskripsi Kasus</strong></p>
<p>Tidak semua siswa memiliki motivasi belajar  yang baik sehingga  dapat menjadikan dirinya lebih antusias dan lebih serius dalam proses belajar. Fenomena yang ada pada siswa saat ini adalah terdapat kecenderungan penurunan motivasi dan prestasi belajar mereka dari tahun ke tahun. Mereka semakin jarang masuk sekolah, sering terlambat, duduk di bangku belakang dan mulai tidak peduli dengan masa depan. Hal ini terkadang juga menjangkiti para pengajar. Para guru mulai tidak memperhatikan kualitas pengajaranyya, tidak peduli akan keadaan peserta didiknya. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kualitas pembelajaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>KAJIAN PUSTAKA DAN ANALISA KASUS</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.1  </strong><strong>Pengertian Motivasi</strong></p>
<p>Pengertian dasar motivasi ialah keadaan internal organisme baik manusia atau hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (<em>energizer</em>) untuk bertingkah laku secara terarah.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Adapun pengertian motivasi menurut Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu. Pendapat lain juga mengatakan bahwa motivasi adalah “ keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan” (Soeharto dkk, 2003 : 110)</p>
<p>Sedangkan pengertian motivasi menurut Chung dan Megginson yang dikutip oleh Faustino Cardoso Gomes, menerangkan bahwa pengertian motivasi adalah tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang yang mengejar suatu tujuan dan berkaitan dengan kepuasan kerja dan perfoman pekerjaan.</p>
<p>Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah  kekuatan tersembunyi di dalam diri kita yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.2  </strong><strong>Motivasi untuk meraih sesuatu/tujuan</strong></p>
<p>Adapun mengenai Motivasi untuk meraih sesuatu/tujuan menurut Muhibbin Syah  dalam pembahasannya mengungkapkan bahwa, motivasi itu di bedakan menjadi dua macam, yaitu:</p>
<p>1. Motivasi intrinsik</p>
<p>Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik siswa adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan. <a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>2. Motivasi ekstrinsik</p>
<p>Motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang dating dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah, peraturan/tata tertib sekolah, suri teladan orang tua, guru, dan seterusnya merupakan contoh-contoh konktret motivasi ekstrinsik yang dapat menolong siswa untuk belajar. Kekurangan atau ketidakadaan motivasi, akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses belajar materi-materi pelajaran baik di sekolah maupun di rumah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>2.3  Motivasi, hubungan dan Sosiokultural</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.4 Analisa Kasus</strong></p>
<p>Dewasa ini banyak kita jumpai fenomena yang tidak enak untuk dipandang mata dan dirasakan. Pengangguran merajalela, prestasi belajar siswa menurun, sehingga sudah jarang lagi pelajar Indonesia yang bisa membanggakan nama bangsa di mata dunia dalam ajang-ajang intelektual. Banyak pula orang-orang yang bekerja tidak professional, seperti dokter-dokter yang mal praktik, dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan motivasi Mereka belum mam, yang ada di dalam benak mereka hanyalah sesuatu yang dangkal. Padahal jika mereka mempunyai motivasi yang besar dan antusiasme yang tinggi dalam mendapatkan sesuatu maka nama bangsa Indonesia secara otomatis akan terangkat dan bisa menyaingi bahkan menjadi lebih baik dari pada Negara-negara maju di dunia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB III</strong></p>
<p align="center"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.1 Kesimpulan</strong><strong></strong></p>
<p>Motivasi intrinsik</p>
<p>Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar.Motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang dating dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar, selanjut nya motivasi, hubungan dan Sosiokultural</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>            </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Syah, Muhibbin. 2011. <em>Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru</em><em>. </em>Bandung: Rosda karya</p>
<p>Surya, Mohamad.2004. <em>Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. </em>Bandung: Pustaka Bani Quraisy</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2065557-hubungan-motivasi-dan-perilaku-belajar">http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2065557-hubungan-motivasi-dan-perilaku-belajar</a> 01.00/04.10.2012</p>
<p>http;//motivasi, pengajaran dan pembelajaran dan.htmla01.00/04.10.2012</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>  Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2011. hal. 134</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ibid. hal. 134</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/motivasi-pengajaran-dan-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGELOLA KELAS</title>
		<link>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/mengelola-kelas/</link>
		<comments>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/mengelola-kelas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Nov 2012 22:01:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The King</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Persyaratan utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien adalah tersedianya guru atau dosen (pendidik) yang mampu memenuhi pengelolaan kelas yang efektif. Pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku yang komplek, dan pendidik harus mampu menciptakan kondisi kelas yang sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p align="center">BAB I<br />
PENDAHULUAN</p>
<ol>
<li>LATAR BELAKANG</li>
</ol>
<p>Persyaratan utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien adalah tersedianya guru atau dosen (pendidik) yang mampu memenuhi pengelolaan kelas yang efektif. Pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku yang komplek, dan pendidik harus mampu menciptakan kondisi kelas yang sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan bermutu. Kualitas proses dan hasil pembelajaran ditentukan di kelas, untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan pendidik yang mampu memenej atau mengelola kelas. Dan salah satu indikatornya adalah menyediakan suasana yang kondusif, maka pendidik sebisa mungkin untuk menguasai, mengatur dan membenahi, serta menciptakan suasana kelas yang kondusif sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran diinginkan.</p>
<p><span id="more-261"></span></p>
<ol>
<li>TUJUAN</li>
<li>Mengetahui pengertian dari mengelola kelas.</li>
<li>Mampu mendesain lingkungan fisik kelas yang baik.</li>
<li>Dapat menciptakan lingkungan yang positif untuk pembelajaran.</li>
<li>Mampu menjadi komunikator yang baik.</li>
<li>Dapat mengahadapi prilaku bermasalah siswa.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>MANFAAT</li>
<li>Pendidik dan peserta didik mengetahui apa yang dimaksud dengan mengelola kelas.</li>
<li>Agar pendidik mampu mendesain lingkungan fisik kelas yang baik bagi peserta didiknya</li>
</ol>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Pendidik dapat menciptakan lingkungan yang positif bagi eserta didi untuk proses pembelajaran.</li>
<li>Agar pendidik mengetahui dan mampu untuk menjadi komunikator yang baik bagi peserta didiknya.</li>
<li>Pendidik juga akan dapat menghadapi prilaku bermasalah peserta didik.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>DESKRIPSI KASUS</li>
</ol>
<p align="center">Situasi yang Menular</p>
<p>Bu Cornell menerima ijazahnya di bulan Mei. Segera setelah itu dia menerima jabatan sebagai guru kelas lima di SD Twin Pines. Dia menghabiskan musim panas untuk merencanakan kurikulum kelasnya, mengidentifikasi tujuan pengajarannya selama setahun tersebut, serta mengembangkan berbagai macam aktifitas untuk membantu siswa mencapai tujuan tersebut.</p>
<p>Setelah musim panas yang panjang dan panas, sebagian besar siswa bu Corell merasa senang kembali bersekolah. Di hari pertama bersekolah, bu Corell langsung masuk ke kurikulum yang direncanakannya. Namun ada tiga masalah yang muncul- yang dilakukan oleh Eli, Jake, dan Vanessa.</p>
<p>Ketiga siswa ini tampaknya mengganggu kelas setiap ada kesempatan. Mereka meninggalkan ruangan tanpa izin, mengganggu teman lain ketika mereka berjalan dengan pengasah pensil atau keranjang sampah. Mereka berbicara di luar giliran, terkadang terkadang secara kasar dan tidak menghargai guru, dan di lain waktu meremehkan aktifitas bu Corell yang telah direncanakan dengan cermat. Mereka jarang melaksanakan tugas di kelas, dan lebih memilih bersendagurau. Tampaknya mereka sering bertindak nakal ketika jam-jam kosong- misalnya di awal dan di akhir jam sekolah, sebelum dan setelah istirahat dan makan siang, serta setiap kali bu Corell berbicara dengan siswa lain.</p>
<p>Bu Corell terus melanjutkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) hariannya dengan mengabaikan siswanya yang bermasalah dan berharap mereka akan mulai membaik sendiri. Akan tetapi kenakalan-kenakalan tersebut mulai menjalar ke siswa-siswa lainnya. Di pertengahan Oktober, kelas bu Corell menjadi seperti sirkus dan tujuan pengajaran jarang tercapai.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">BAB II<br />
PEMBAHASAN</p>
<ol>
<li>KAJIAN PUSTAKA</li>
</ol>
<p>Pengelolaan kelas merupakan kegiatan yang terencana dan sengaja dilakukan oleh guru atau dosen (pendidik) dengan tujuan menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal, sehingga diharapkan proses belajar mengajar dapat berjalan secara efektif dan efisien, sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan untuk kepentingan pembelajaran.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Menurut Jeanne Ellis Ormrod dalam bukunya yang berjudul <em>Psikologi Pendidikan</em> bahwasanya pengelolaan kelas (class management)berarti membangun dan memelihara lingkungan kelas yang kondusif bagi pembelajaran dan prestasi siswa. Siswa dapat belajar lebih banyak di beberapa lingkungan kelas dibandingkan lingkungan kelas yang lainnya.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<ol>
<li><em>1.      </em><em>Mendesain Lingkungan Fisik Kelas</em></li>
</ol>
<p>Banyak faktor penting dalam upaya memaksimalkan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Yakni berupa lingkungan pembelajaran yang kondusif. Dan hal ihwal yang paling meunjang yaitu lingkungan fisik. Lingkungan fisik dalam hal ini adalah lingkungan yang ada disekitar siswa belajar berupa sarana fisik baik yang ada dilingkup sekolah,  dalam hal ini dalam ruang kelas belajar di sekolah. Lingkungan fisik dapat berupa sarana dan prasarana kelas, pencahayaan, pengudaraan, pewarnaan, alat/media belajar, pajangan serta penataannya.</p>
<p>Dalam upaya memenejemen lingkungan kelas yang efektif terdapat beberapa factor yang perlu untuk diperhatikan, diantaranya:</p>
<ul>
<li><em>Kurangi kepadatan di tempat lalu lalang</em>. Daerah ini antara lain area belajar kelompok, bangku siswa, meja guru, dan lokasi penyimpanan alat tulis, rak buku, computer dan lokasi lainnya. Area-area harus dapat dipisahkan sejauh mungkin dan dipastikan mudah diakses, karena gangguan dapat terjadi pada daerah yang sering dilewati.</li>
<li><em>Pastikan bahwa Guru dapat dengan mudah melihat semua anak.</em> Sebagai manajer kelas, guru penting untuk memonitor anak secara cermat. Pastikan ada jarak pandang yang jelas dari meja guru, lokasi instruksional, meja anak, dan semua anak.</li>
<li><em>Materi Pengajaran dan Perlengkapan anak harus mudah diakses.</em> Hal ini akan meminimalkan waktu persiapan dan perapian, serta mengurangi kelambatan dan gangguan aktivitas.</li>
<li><em>Pastikan siswa dapat dengan mudah melihat semua presentasi kelas. </em>Tentukan di mana anda dan siswa anda akan berada saat presentasi kelas diadakan. Pada aktivitas ini, anak tidak boleh memindahkan kursi atau menjulurkan lehernya. <a title="" href="#_ftn4">[4]</a></li>
</ul>
<p>Sedangkan dalam pengaturan ruang fisik kelas disesuaikan dengan tipe belajar peserta didik. Diantara 5 gaya penataan kelas yang standar<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> :</p>
<ul>
<li>Gaya auditorium: gaya susunan kelas di mana semua siswa duduk menghadap guru.</li>
<li>Gaya tatap muka: gaya susunan kelas di mana siswa saling menghadap.</li>
<li>Gaya off-set: gaya susunan kelas di mana sejumlah siswa (biasanya tiga atau empat anak) duduk di bangku, tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain.</li>
<li>Gaya seminar: gaya susunan kelas di mana sejumlah besar siswa (sepuluh atau lebih) duduk disusunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U.</li>
<li>Gaya klaster: gaya susunan kelas di mana sejumlah siswa (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara menurut Iskandar dalam bukunya yang berjudul <em>Psikologi Pendidikan </em>dituliskan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kondisi fisik kelas yaitu:</p>
<ol>
<li>Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar
<ol>
<li>Jenis kegiatan (dalam kelas/ di ruang praktium)</li>
<li>Jumlah siswa yang melakukan kegiatan</li>
<li>Pengaturan tempat duduk
<ol>
<li>Berbaris</li>
<li>Pengelompokan</li>
<li>Setengah lingkaran</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Berbentuk lingkaran</li>
<li>Individu</li>
<li>Ruang kelas yang tidak normal</li>
<li>Ventilasi dan pengaturan cahaya</li>
</ol>
<p>Ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa antara lain jendela yang cukup besar agar cahaya matahari masuk dan udara sehat.</p>
<ol>
<li>Pengaturan penyimpanan barang-barang</li>
</ol>
<p>Penyimpanan barang-barang hendaknya disimpan di tempat khusus yang mudah dicapai, dan diatur sedemikian rupa sehingga barng-barang tersebut  segera dapat digunakan.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Gambar- gambar tata letak duduk kegiatan belajar mengajar <a title="" href="#_ftn7">[7]</a>:</p>
<p align="center">
<p>Penataan tempat duduk peserta didik ini dapat mendorong adanya interaksi sosial antar siswa maupun guru.</p>
<ol>
<li><em>2.      </em><em>Menciptakan Lingkungan yang Positif untuk Pembelajaran</em></li>
</ol>
<p>Seperti yang telah kita ketahui, dalam upaya untuk memaksimalkan proses belajar, maka seorang guru dituntut untuk bisa membawa para peserta didik menciptakan lingkungan yang positif. Yakni dengan strategi menejemen kelas dan strategi positif agar peserta didik mau untuk bekerja sama</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>Strategi umum manajemen kelas untuk menciptakan lingkungan positif bagi anak mencakup penggunaan gaya otoritatif dan manajemen kelas secara efektif.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<ul>
<li>Gaya manajemen kelas otoritatif berasal dari gaya parenting.</li>
</ul>
<p>Di mana guru yang otoritatif akan mempunyai siswa yang cenderung mandiri, tidak cepat puas, mau bekerja sama dengan teman, dan menunjukkan penghargaan diri yang tinggi. Strategi manajemen kelas otoritatif, mendorong siswa untuk menjadi pemikir yang independen dan pelaku yang independen, tetapi strategi ini masih menggunakan sedikit monitoring siswa. Guru otoritatif akan menjelaskan aturan, regulasi dan  menentukan standar dengan masukan dari siswa. Gaya otoritatif bertentangan dengan gaya otoritarian dan permisif yang tidak efektif.</p>
<ul>
<li>Gaya manajemen kelas otoritarian fokus utamanya adalah menjaga ketertiban di kelas, bukan pada pengajaran dan pembelajaran.</li>
</ul>
<p>Guru otoriter sangat mengekang dan mengontrol perilaku siswa, sehingga siswa di kelas cenderung pasif, tidak berinisiatif dalam aktivitas, memiliki keterampilan komunikasi yang buruk. Sedangkan gaya manajemen kelas yang permisif, memberi banyak otonomi pada siswa tapi tidak memberi banyak dukungan untuk pengembangan keahlian pembelajaran atau pengelolaan perilaku. Siswa di kelas permisif, cenderung punya keahlian akademik yang tidak memadai dan control diri yang rendah.</p>
<p>Guru yang berperan sebagai manajer kelas yang efektif senantiasa mengikuti apa yang terjadi, selalu memonitor siswa secara regular, sehingga dapat mendeteksi perilaku yang salah jauh sebelum perilaku itu lepas kendali. Guru yang efektif mampu mengatasi situasi yang <em>over-lapping</em> secara efektif, menjaga kelancaran dan kontuinitas pelajaran, serta melibatkan siswa dalam berbagai aktivitas yang menantang.</p>
<p>Berbagai macam penerapan Teori Motivasi Belajar dikemukakan oleh RBS. Fudyartanto sebagai berikut<a title="" href="#_ftn9">[9]</a>:</p>
<ul>
<li>Guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan</li>
<li>Guru memberikan hadiah dan hukuman kepada siswa</li>
<li>Guru mendorong peserta didik untuk lebih bersemangat</li>
<li>Guru melakukan kompetisi dan kerja sama pada peserta didik</li>
<li>Guru melakukan pujian kepada peserta didik</li>
<li>Guru mengusahakan selalu ada yang baru ketika melakukan pembelajaran di kelas</li>
<li>Guru dalam mengajar tidak menggunakan prosedur yang menekan</li>
<li>Guru melibatkan siswa secara aktif.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><em>3.      </em><em>Menjadi Komunikator yang Baik</em></li>
</ol>
<p>Dilihat dari peran guru di dalam kelas, mereka berperan sebagai seorang komunikator, mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan non verbal. Pesan yang akan disampaikan kepada komunikan berupa buku teks, catatan, lisan, cerita, dan lain sebagainya, pesan itu telah dikemas, sedemikian rupa sehingga mudah dipahami, dimengerti, dipelajari, dicerna, dan diaplikasikan para siswa.<br />
Pesan dalam bentuk verbal tersebut dirancangkan untuk disajikan dalam beberapa kali pertemuan dan diterapkan sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, indicator, media dan dalam alokasi waktu yang sesuai dengan beban dan muatan materi.<br />
Komunikasi materi pelajaran tidak terbatas dalam kelas semata tetapi dirancangkan untuk luar kelas, berupa tugas yang terkontrol dan terukur, baik materi teoritis dan praktis, sehingga materi pelajaran yang disajikan lebih komunikator.<br />
Di dalam kelas guru menjelaskan siswa bertanya, menyimak sebaliknya guru mendapat informasi dari siswa-siswanya dan menjawab pertanyaan siswa serta mencari solusi bersama-sama, kedua belah pihak (komunikator, komunikan) aktif, dan peran yang lebih dominan terletak pada siswa atau siswa yang lebih aktif. Pada akhir dari penyajian materi, guru melakukan evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa terhadap materi yang telah dikomunikasikan.</p>
<p>Komunikasi pembelajaran dan komunikasi umum memiliki perbedaan dalam aspek tujuan, komunikasi pembelajaran mempunyai tujuan lebih spesifik atau khusus. Kekhususan inilah yang dalam proses komunikasi melahirkan istilah-istilah khusus seperti: penerangan, propaganda, indoktrinisasi, agisasi dan pendidikan. Komunikasi umum tujuan bersifat umum dan tidak terukur.<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><em>4.      </em><em>Menghadapi Perilaku Bermasalah Siswa</em></li>
</ol>
<p>Walaupun kita telah berusaha, siswa terkadang tetap saja berperilaku dengan cara-cara yang tidak diinginkan. Guru yang efektif tidak hanya merencanakan dan menstuktur kelas untuk meminimalkan masalah masalah prilaku yang potensial, tetapi secara aktif menyikapi prilaku yang tidak sesuai (misbehaviour) yang benar-benar terjadi (W. Doyle. 1990).</p>
<p>Beberapa misbehavioris di kelas relative kecil, dan tidak berdampak jangka panjang pada kesuksesan siswa. Perilaku seperti berbicara di luar giliran, menulis catatan kecil ke teman sekelasselama pelajaran berlangsung, atau mengumpulkan tugas melebihi batas waktu. Misbehavioris lainnya lebih jauh serius, ketika mengganggu proses pembelajaran atau ketenangan seorang atau beberapa siswa. Misalna ketika siswa berteriak kea rah guru, memukul teman sekelas, atau menolak berpartisipasi dalam aktifitas di kelas, maka pembelajaran di kelas terutama bagi pihak yang salah dan seringkali bagi siswa-siswa lain, dapat terpengaruh secara negatif, dan dengan demikian juga mempengaruhi kelas secara keseluruhan.</p>
<p>Sebagai guru, kita harus merencanakan terlebih dahulu bagaimana menyikapi berbagai misbehavior yang mungkin kita lihat di kelas. Meskipun kita tentu saja harus konsisten dalam konsekuensi yang kita jatuhkan atas pelanggaran peraturan. Beragam strategi dapat digunakan untuk mengurangi prilaku kontraproduktif dalam jangka panjang.</p>
<ol>
<li>Mengabaikan perilaku</li>
</ol>
<p>Dalam beberapa kesempatan, tindakan terbaik kita adalah tidak bertindak, paling tidak bukan sesuatu yang bersifat disipliner (G.A. Davis dan Thomas, 1989; W.Doyle, 2006).</p>
<ol>
<li>Member isyarat ke siswa</li>
</ol>
<p>Dalam beberapa situasi, perilaku yang tak ada kaitannya dengan pelajaran, meskipun tidak serius, benar-benar mengganggu pembelajaran teman sekelas dan harus dicegah.</p>
<ol>
<li>Membahas masalah secara pribadi dengan siswa</li>
</ol>
<p>Terkadang isyarat di kelas tidak cukup untuk mencegah misbehavior siswa. Percakapan dengan siswa-siswa secara perorangan member kita, sebagai guru, suatu kesempatan untuk menjelaskan mengapa perilaku-perilaku tertentu tidak dapat diterima dan harus dihentikan.</p>
<ol>
<li>Mangajarkan strategi-strategi pengaturan diri</li>
</ol>
<p>Ketika siswa mengekspresikan keprihatinan mereka sendiri akan perilaku bermasalah mereka, mengajarkan strategi-strategi pengaturan diri (self-regulation) seringkali membantu.</p>
<ol>
<li>Berunding dengan orangtua</li>
</ol>
<p>Terkadang kita harus bekonsultasi dengan orangtua siswa atau wali siswa lainnya tentang masalah perilaku. Berunding dengan orangtua khususnya penting ketika masalah perilaku siswa menunjukkan suatu pola sepanjang waktu dan memilik implikasi serius bagi kesuksesan akademik atau sosialna dalam jangka panjang.</p>
<ol>
<li>Melakukan intervensi yang terencana dan sistematis</li>
</ol>
<p>Terkadang siswa mungkin tidak bersedia atau tidak mampu mengubah perilaku mereka sendiri. Dan karena satu alas an tertentu, berkonsultasi dengan orangtua mungkin tidak menghasilkan solusi yang efektif. Terkadang strategi-strategi sederhana tersebut dapat efektif jika digabungkan dengan strategi lainnya, dengan mendorong kemampuan berpikir dari sudut pandang orang lain.<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan menurut Santrock dalam bukunya yang berjudul <em>Psikologi Pendidikan</em> berpendapat dalam beberapa hal mengenai prilaku siswa yang bermasalah yaitu:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>a)        </strong><strong>Intervesi Minor</strong><strong></strong></p>
<p>Beberapa masalah hanya membutuhkan intervensi minor atau kecil. Masalah-masalah yang kerap muncul biasanya mengganggu aktifitas belajar di kelas. Misalnya, murid mungkin ribut sendiri, meninggalkan tempat duduk tanpa ijin, bercanda sendiri, atau memakan permen di kelas. Strategi yang efektif antara lain adalah:</p>
<ul>
<li><strong>Gunakan isyarat non verbal</strong><br />
Jalin kontak mata dengan murid. Kemudian beri isyarat dengan meletakkan telunjuk jari di bibir anda, menggeleng kepala, atau menggunakan isyarat tangan untuk menghentikan perilaku tersebut.</li>
<li><strong>Terus lanjutkan aktifitas belajar</strong><br />
Biasanya terjadi suatu jeda dalam transisi aktifitas dalam kegiatan belajar mengajar, dimana pada jeda tersebut murid tidak melakukan apa-apa. Pada situasi ini, murid</li>
<li>mungkin akan meninggalkan tempat duduknya, mengobrol, bercanda dan mulai ribut. Strategi yang baik adalah bukan mengkoreksi tindakan mereka tetapi segera melangsungkan aktifitas baru berikutnya.</li>
<li><strong>Mendekati murid</strong><br />
Saat murid mulai bertindak menyimpang. Anda cukup mendekatinya, maka biasanya dia akan diam.</li>
<li><strong>Arahkan perilaku</strong><br />
Jika murid mengabaikan tugas yang kita perintahkan, ingatkan mereka tentang kewajiban itu. Anda bisa berkata, <em>“Baiklah, ingat, semua anak harus menyelesaikan soal matematika ini.”</em></li>
<li><strong>Beri instruksi yang dibutuhkan</strong><br />
Terkadang siswa melakukan kesalahan kecil saat tidak memahami cara mengerjakan tugas. Untuk mengatasinya anda harus memantau murid dan memberi petunjuk jika dibutuhkan.</li>
<li><strong>Suruh murid berhenti dengan nada tegas dan langsung</strong><br />
Jalin kotak mata dengan murid, bersikap asertif, dan suruh murid menghentikan tindakannya. Buat pernyataan, singkat dan pantau situasi sampai murid patuh. Strategi ini bisa dilakukan dengan mengkombinasikan strategi mengarahkan perilaku murid.</li>
<li><strong>Beri murid pilihan</strong><br />
Berilah murid tanggung jawab dengan memilih dua pilihan, bertindak benar atau menerima konsekuensi negatif. Beri tahu murid apa tindakan benar itu dan apa konsekuensi bila melanggar.</li>
</ul>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p><strong>b)     </strong><strong>Intervensi Moderat</strong><strong></strong></p>
<p>Beberapa perilaku yang salah membutuhkan intervensi yang lebih kuat dari pada intervensi minor di atas, misalnya, ketika murid menyalahgunakan aktifitasnya, mengganggu, cabut dari kelas, mengganggu pelajaran, atau mengganggu pekerjaan murid lainnya. Berikut adalah strategi yang bisa dilakukan:</p>
<ul>
<li><strong>Jangan beri</strong><strong> </strong><em>privilese</em><a title="" href="#_ftn12"><strong><em><strong>[12]</strong></em></strong></a><strong> </strong><strong>atau aktifitas yang mereka inginkan</strong><br />
Bila anda memperbolehkan murid untuk berkeliling kelas atau mengerjakan tugas dengan murid lain dan ia malah menyalahgunakan <em>privilese</em><em> </em>yang anda berikan atau mengganggu pekerjaan temannya, maka anda bisa mencabut<em>privilese</em>nya.</li>
<li><strong>Buat perjanjian behavioral</strong><br />
Buatlah perjanjian yang bisa disepakati oleh semua murid. Perjanjian ini harus merefleksikan masukan dari kedua belah pihak yaitu guru dan murid. Jika muncul problem dan murid tetap keras kepala, guru bisa merujuk pada kesepakatan bersama yang telah dibuat.</li>
<li><strong>Pisahkan atau keluarkan murid dari kelas</strong><br />
Bila murid bersenda gurau dan bersikap tidak mengindahkan peringatan, anda bisa memisahkan ia dari murid disekitarnya ataupun mengeluarkannya dari dalam kelas.</li>
<li><strong>Kenakan hukuman atau sanksi</strong><br />
Menggunakan hukuman sebaiknya tidak melakukan tindakan kekerasan, tetapi bisa dilakukan dengan memberikan tugas mengerjakan soal atau menulis halaman tambahan.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></li>
</ul>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li> ANALISIS KASUS</li>
</ol>
<p>Dari deskripsi kasus dihalaman awal, dapat dilihat bahwa tidak semua rencana yang telah kita buat dapat terlaksana dengan baik dan sesuai harapan. Pada kasius diatas kelompok kami menilai kurang setuju dengan tindakan yang diambil oleh Bu Cornell. Kasus diatas juga menunjukkan bahwa selain adanya pengaruh situasi yang tidak diinginkan juga perencanaan yang matang dalam menyiapkan dan pelaksanaan proses belajar mengajar juga seorang guru hendaknya melakukan pendekatan kepada para peserta didiknya. Hal ini selain sebagai upaya untuk membangun hubungan social yang baik dan harmonis. Selain itu pendekatan juga berupaya untuk mengontrol tingkah laku para peserta didik, dan dapat menetapkan cara yang tepat untuk mengatasinya sehingga dapat dikendalikan serta tindak tunduk antara pengajar dan peserta didik.</p>
<p>Selain melakukan pendekatan, pengajar dapat sering memberikan motivasi agar para peserta didik akan merasa termotivasi, terdorong untuk selalu bersemangat dalam menerima ilmu dari pengajar. Beberapa penyebab dari munculnya pelanggaran atau penyimpangan di kelas oleh peserta didik diantaranya kurangnya dorongan atau motivasi. Dapat juga dengan mengajarkan beberapa pelajaran tentang etika belajar di kelas, baik itu berupa akhlak yang disertai dengan praktiknya.</p>
<p>Adanya monitoring budi pekerti untuk peserta didik juga sangat dibutuhkan, sehingga para peserta dapat terbiasa melakukan hal-hal yang baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">BAB III</p>
<p align="center">PENUTUP</p>
<ol>
<li> Kesimpulan</li>
</ol>
<p>Persyaratan utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien adalah tersedianya guru atau dosen (pendidik) yang mampu memenuhi pengelolaan kelas yang efektif. Pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan untuk kepentingan pembelajaran. Kualitas proses dan hasil pembelajaran ditentukan di kelas, untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan pendidik yang mampu memenej atau mengelola kelas. Pengelolaan kelas juga berarti membangun dan memelihara lingkungan kelas yang kondusif bagi pembelajaran dan prestasi siswa. Siswa dapat belajar lebih banyak di beberapa lingkungan kelas dibandingkan lingkungan kelas yang lainnya.</p>
<ol>
<li>Saran dan Solusi
<ol>
<li>Saran</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Setiap pengajar hendakanya memperhatikan factor intern maupun ekstern dalam mengelola kelas. Kondisi fisik kelas, tata cara mengajar, mengatasi beberapa masalah kelas dengan tepat serta mengoptimalkan strategi-strategi belajar yang tepat dan sesuai dengan cara belajar serta karakter peserta didik.</p>
<ol>
<li>Solusi</li>
</ol>
<ul>
<li>Perlu diadakannya evaluasi baik dari pengajar maupun peserta didik secara rutin. Sehingga dapat diketahui secara jelas perkembangan peserta didik.</li>
<li>Adanya pendekatan kepada para peserta didik sehingga peserta didik akan lebih terbuka dan taat kepada pengajar.</li>
</ul>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">
<p align="center">DAFTAR PUSTAKA</p>
<ul>
<li>Iskandar. 2009. <em>Psikologi Pendidikan.</em> Ciputat: Gaung Persada Press.</li>
<li>Ormrod. Jeanne Ellis. 2008, <em>Psikologi Pendidikan.</em> Jakarta: Erlangga.</li>
<li>Prawira. Purwa Atmaja. 2012,  <em>Psikologi Pendidikan dalam Perspektif baru, </em>Jogjakarta: Ar Ruzz Media.</li>
<li>Santrock. 2009,  (Everston:2003), <em>Psikologi Pendidikan (terjemahan), </em>Jakarta: PT.Kencana.</li>
<li><a href="http://www.scribd.com/doc/82161566/5/PENGATURAN-LINGKUNGAN-FISIK-KELAS">http://www.scribd.com/doc/82161566/5/PENGATURAN-LINGKUNGAN-FISIK-KELAS</a></li>
</ul>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Jeanne Ellis Ormrod, <em>Psikologi Pendidikan</em>, (Jakarta: Erlangga. 2008), hal. 209</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Iskandar, <em>Psikologi Pendidikan</em>, (Ciputat: Gaung Persada Press. 2009), hal. 210.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Jeanne Ellis Ormrod, <em>Psikologi Pendidikan</em>, (Jakarta: Erlangga. 2008), hal. 210.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Santrock (Everston:2003),<em>Psikologi Pendidikan (terjemahan), Jakarta: PT.Kencana. 2009.</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Ibid</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Iskandar, <em>Psikologi Pendidikan</em>, (Ciputat: Gaung Persada Press. 2009), hal. 215.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> <a href="http://www.scribd.com/doc/82161566/5/PENGATURAN-LINGKUNGAN-FISIK-KELAS"><em>Loc.Cit</em></a></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Op.Cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Purwa Atmaja Prawira, <em>Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru, </em>Jogjakarta: Ar Ruzz Media, hal. 347-350</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> <em>Loc.Cit</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Jeanne Ellis Ormrod, <em>Psikologi Pendidikan</em>, (Jakarta: Erlangga. 2008), hal. 229-238</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Previlise: hak istimewa</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> Santrock, <em>Psikologi Pendidikan</em>, (Jakarta: Kencan Prenada Media Group, 2007)</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/mengelola-kelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PROPOSAL KEGIATAN RAMADAHAN</title>
		<link>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/proposal-kegiatan-ramadahan/</link>
		<comments>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/proposal-kegiatan-ramadahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Oct 2012 13:58:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The King</dc:creator>
				<category><![CDATA[MOTIVASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[PROPOSAL KEGIATAN PESANTREN RAMADHAN MAHASISWA UIN MAULANA MALIK IBRAHIM 1433H/2012 M &#160; Latar Belakang Ramadhan adalah bulan yang mulia, penuh rahmat, maghfirah, dan limpahan pahala dari Allah SWT. Kedatangannya selalu dinanti dan dirindu oleh setiap mukmin yang haus akan limpahan kasih sayang Allah SWT.Dimana di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an dan Lailatul Qadar, malam yang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>PROPOSAL KEGIATAN PESANTREN RAMADHAN </strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong>MAHASISWA UIN MAULANA MALIK IBRAHIM </strong></p>
<p align="center"><strong>1433H/2012 M</strong></p>
<p align="center">
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>Latar Belakang</strong></li>
</ol>
<p>Ramadhan adalah bulan yang mulia, penuh rahmat, maghfirah, dan limpahan pahala dari Allah SWT. Kedatangannya selalu dinanti dan dirindu oleh setiap mukmin yang haus akan limpahan kasih sayang Allah SWT.Dimana di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an dan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Segala amal kebaikan akan dilipat gandakan nilai ganjarannya.</p>
<p>Rasa gembira akan kehadiran bulan Ramadhan adalah bentuk keimanan seorang muslim. Dan dari rasa gembira itu membuat Allah SWT mengharamkan api neraka untuk menyentuh jasadnya. Namun meski demikian, kita harus mempersiapkan segala sesuatu untuk mengisi bulan Ramadhan tersebut. Supaya kita bisa menjalankan amal-amal sholeh dengan baik dan Ramadhan tidak berlalu sia-sia dari kehidupan kita, tanpa meninggalkan kemuliaan sedikitpun.</p>
<p>Menyiapkan hati dan jiwa menjelang bulan Ramadhan dengan cara bertobat kepada Allah SWT, yaitu menyesali segala kelalaian dan kesalahan yang kita lakukan, memperbaiki hubungan dengan orang-orang di sekitar kita seperti orang tua, saudara, tetangga, teman, dan orang-orang yang kita kenal, serta menebarkan kebaikan dan kebahagiaan di hati setiap manusia adalah upaya agar Ramadhan kita berjalan penuh makna. Selain itu kita mesti membuat perencanaan yang cerdas untuk mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan yang tersusun rapi yang membuat <span id="more-256"></span></p>
<p>Diskusi ilmiah, sholat berjama’ah, buka bersama, qiyamul lail, tadarrus Al Quran, pengajian umum dan ibadah buka dan sahur bersama adalah beberapa agenda yang dapat kita susun untuk mengisi bulan Ramadhan nanti, yang dapat kita lakukan sendiri maupun secara berkelompok.</p>
<p>Untuk itu, kesempatan berjumpa dengan bulan Ramadhan jangan sampai berlalu begitu saja. Karena bulan ini sangat istimewa, dimana setiap amal manusia untuk dirinya kecuali puasa, sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :</p>
<p>“Setiap amal Manusia untuk dirinya kecuali puasa. Sungguh puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya.” [HR. Bukhari-Muslim]</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>II.        </strong><strong>Nama Kegiatan</strong></li>
</ol>
<p><strong>“Pekan Ramadhan bil Hikmah wal Ishlah.”</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>III.      </strong><strong>Tema Kegiatan</strong></li>
</ol>
<p>“<em>Dengan </em><em>semangat </em><em>Ramadhan kita </em><em>wujudkan generasi berprestasi dan berpotensi menuju ridho Ilahi</em>”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>IV.     </strong><strong>Dasar Kegiatan</strong><strong></strong>
<ol>
<li>Hadits dari Ubadah bin Shamith r.a. bahwa Rasulullah SAW. Telah bersabda yang artinya, <em>&#8220;Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan bulan keberkahan, Allah SWT mengunjungi kalian pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa, dan mengabulkan doa. Allah SWT melihat berlomba-lombanya kalian pada bulan ini dan membanggakan kalian kepada malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu karena yang sengsara ialah yang tidak mendapat rahmat Allah pada bulan ini.&#8221;</em> (HR. Ath-Thabrani)</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah bersabda:<br />
&#8220;Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do&#8217;a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini. &#8221; (HR.Ath-Thabrani, dan para periwayatnya terpercaya).</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>V.       </strong><strong>Tujuan Kegiatan</strong><strong></strong>
<ol>
<li>Menyemarakkan bulan Ramadhan dengan memperbanyak amal sholeh.</li>
<li>Media pengembangan wawasan Islami dan da’wah Islami.</li>
<li>Memberikan pengetahuan teoritis dan praktis tentang keislaman sebagai bekal kehidupan bermuamalah agar tetap bernaung dalam ridlo Allah SWT, baik pada saat sekarang maupun yang akan datang.</li>
<li>Sebagai media untuk meningkatkan diri khususnya dalam kajian keislaman.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>VI.     </strong><strong>Waktu dan tempat Pelaksanaan</strong><strong></strong></li>
</ol>
<p>Kegiatan “Pekan Ramadhan bil Hikmah wal Ishlah” ini akan dilaksanakan       pada:</p>
<p>Hari             : Senin s.d. Rabu</p>
<p>Tanggal       : 30 Juli s.d. 1 Agustus 2012</p>
<p>Waktu         : Menyesuaikan</p>
<p>Tempat       : SMK Negeri 3 Malang</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>VII.   </strong><strong>Materi</strong><strong></strong></li>
</ol>
<p>Ruang lingkup materi pesantren ramadhan 1433H adalah Akhlakul karimah, Tahsin Al Quran, Ubudiyah, Praktek Ibadah termasuk tadarrus Al Quran.</p>
<p><strong>VIII. </strong><strong>Struktur Kepanitiaan</strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Susunan Panitia Kegiatan Pesantren Ramadhan 1433 H / 2012 M</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketua                           :     Moh. Arifudin</p>
<p>Sekretaris                    :     Imam Athoir Rokhman</p>
<p>Bendahara                   :     Nidayatur Rohmah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sie. Keagamaan           :     Imam Qori’</p>
<p>Syahirotun Nisa’</p>
<p>Sie. KBM                      :     Nanang Ma’asshobirin</p>
<p>Ika Setia Rini</p>
<p>Afifah Mubayyinatul</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sie. Humas                   :     Dewi Mufti Nabila</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sie. Perlengkapan        :     Hilmi abdan Kamal</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sie. Dekdok                  :     M. Abdullah Mukhroji</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sie. Acara                    :     Ajib Nur Taufiq</p>
<p>Intan Nur Ilya</p>
<p>Konsumsi                     :     Diah Dina Aminata</p>
<p>Tsurayya Fatin</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>IX.      </strong><strong>Timing Kegiatan</strong><strong></strong>
<ol>
<li>Jadwal kegiatan Belajar Mengajar (Terlampir)</li>
<li>Jadwal Perlombaan</li>
</ol>
</li>
</ol>
<table width="548" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<p align="center">NO</p>
</td>
<td valign="top" width="161">
<p align="center">NAMA PERLOMBAAN</p>
</td>
<td valign="top" width="113">
<p align="center">WAKTU</p>
</td>
<td valign="top" width="142">
<p align="center">TEMPAT</p>
</td>
<td valign="top" width="95">
<p align="center">KET.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="top" width="161">
<p align="center">TARTIL AL QURAN</p>
</td>
<td valign="top" width="113">
<p align="center">06.30-10.00</p>
</td>
<td valign="top" width="142">
<p align="center">MUSHOLA</p>
</td>
<td rowspan="3" valign="top" width="95">
<p align="center">1 SISWA UNTUK SETIAP KELAS</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="top" width="161">
<p align="center">MUMTAZ JIDDAN</p>
</td>
<td valign="top" width="113">
<p align="center">06.30-10.00</p>
</td>
<td valign="top" width="142">
<p align="center">AULA</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="top" width="161">
<p align="center">ASMAUL HUSNA IN PUZZLE</p>
</td>
<td valign="top" width="113">
<p align="center">06.30-10.00</p>
</td>
<td valign="top" width="142">
<p align="center">LAPANGAN PARKIR</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center">
<p align="center">
<ol>
<li><strong>X.        </strong><strong>Dana</strong><strong></strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<div align="center">
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="5" width="555">
<p align="center"><strong>ACARA</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">
<p align="center"><strong>No</strong></p>
</td>
<td width="177">
<p align="center"><strong>Nama Barang</strong></p>
</td>
<td width="105">
<p align="center"><strong>Banyak</strong></p>
</td>
<td width="123">
<p align="center"><strong>Harga Satuan</strong></p>
</td>
<td width="114">
<p align="center"><strong>Jumlah</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">
<p align="center">1</p>
</td>
<td width="177">
<p align="center">Trofi</p>
</td>
<td width="105">
<p align="center">3</p>
</td>
<td width="123">
<p align="left">@ Rp. 80.000</p>
</td>
<td width="114">Rp. 240.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">
<p align="center">2</p>
</td>
<td width="177">
<p align="center">Banner</p>
</td>
<td width="105">
<p align="center">1</p>
</td>
<td width="123">
<p align="left">@ Rp. 200.000</p>
</td>
<td width="114">Rp. 200.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">
<p align="center">3</p>
</td>
<td width="177">
<p align="center">Hadiah</p>
</td>
<td width="105">
<p align="center">
</td>
<td width="123">&nbsp;</td>
<td width="114">Rp. 200.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">
<p align="center">4</p>
</td>
<td width="177">
<p align="center">
</td>
<td width="105">
<p align="center">
</td>
<td width="123">&nbsp;</td>
<td width="114">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td width="37">
<p align="center">
</td>
<td width="177">
<p align="center">
</td>
<td width="105">
<p align="center">
</td>
<td width="123">
<p align="center"><strong>TOTAL</strong></p>
</td>
<td width="114"><strong>Rp. 640.000</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br /> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>XI.      </strong><strong>Penutup</strong><strong></strong></li>
</ol>
<p>Demikianlah rencana kegiatan ini kami sampaikan dengan harapan dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita melalui serangkaian aktivitas yang sarat dengan semangat kebersamaan dan persaudaraan Islam ini sebagai kerangka untuk menyi’arkan agama Allah.</p>
<p>Semoga rencana kegiatan ini dapat memperoleh sambutan hangat dan partisipasi dari berbagai pihak, sehingga dapat berlangsung dengan lancar dan mendatangkan banyak manfaat serta keberkahan bagi kita semua. Semoga amal sholeh kita mendapat ridlo dari Allah SWT.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Panitia Pelaksana Kegiatan,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketua                                                             Sekretaris</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Moch. Arifudin                                           Imam Athoir Rokhman \</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/proposal-kegiatan-ramadahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>cara membuat adress berjalan pada blog</title>
		<link>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/cara-membuat-adress-berjalan-pada-blog/</link>
		<comments>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/cara-membuat-adress-berjalan-pada-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2012 08:28:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The King</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENGETAHUAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[Di postingan  blog kali ini saya mau bahas tentang cara bikin teks pada address bar agar dapat berjalan , Address bar itu seperti yang ada pada gambar.. Jadi, bagaimana cara membuat dia berjalan, bahkan berlari dan gak akan capek??? hehehe&#8230; ayo ikuti langkah2nya.. Yang pertama temen2 harus lakukan adalah masuk ke Rancangan &#8211;&#62; Edit HTML [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/cara-membuat-adress-berjalan-pada-blog/address-bar/" rel="attachment wp-att-247"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-247" src="http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/files/2012/07/address-bar-150x44.jpg" alt="" width="150" height="44" /></a><br />
Di postingan  blog kali ini saya mau bahas tentang cara bikin teks pada address bar agar dapat berjalan ,<br />
Address bar itu seperti yang ada pada gambar.. Jadi, bagaimana cara membuat dia berjalan, bahkan berlari dan gak akan capek??? hehehe&#8230; ayo ikuti langkah2nya.. <a name="more"></a></p>
<p>Yang pertama temen2 harus lakukan adalah masuk ke Rancangan &#8211;&gt; Edit HTML<br />
Trus temen2 temukan code &lt;/head&gt;<br />
Kalau udah ketemu, masukan kode di bawah ini di atas kode &lt;/head&gt; :</p>
<p>&lt;script language=&#8217;JavaScript&#8217;&gt;<br />
var txt=&amp;quot;SmiLe..SmiLe..SmiLe&#8230;&amp;quot;;<br />
var kecepatan=100;var segarkan=null;function bergerak() { document.title=txt;<br />
txt=txt.substring(1,txt.length)+txt.charAt(0);<br />
segarkan=setTimeout(&amp;quot;bergerak()&amp;quot;,kecepatan);}bergerak();<br />
&lt;/script&gt;</p>
<p>ubah yang berwarna merah dengan teks mu sendiri..<br />
jangan lupa di save yah..^^<br />
Semoga Berhasil..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/cara-membuat-adress-berjalan-pada-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>POTRET PENDIDIKAN NASIONAL</title>
		<link>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/potret-pendidikan-nasional/</link>
		<comments>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/potret-pendidikan-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jul 2012 10:35:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The King</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN &#160; 1. Latar Belakang &#160; Seiring dengan perkembangan zaman, berkembang pula sistem yang berlaku dalam pendidikan nasional. Akan tetapi dari perubahan ke perubahan memberikan dampak yang kurang memuaskan sesuai dengan perencanaan yang ada, Sehingga dalam menanggapi dan menjalankannya kurang sesuai dengan cita-cita nasional yang mana mencerdaskan anak bangsa. Hal ini mengakibatkan para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">BAB I</p>
<p align="center">PENDAHULUAN</p>
<p align="center">
<p>&nbsp;</p>
<p>1. Latar Belakang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seiring dengan perkembangan zaman, berkembang pula sistem yang berlaku dalam pendidikan nasional. Akan tetapi dari perubahan ke perubahan memberikan dampak yang kurang memuaskan sesuai dengan perencanaan yang ada, Sehingga dalam menanggapi dan menjalankannya kurang sesuai dengan cita-cita nasional yang mana mencerdaskan anak bangsa. Hal ini mengakibatkan para peserta didik kurang menghargai akan makna pendidikan yang ada dalam negeri, mereka lebih menyukai dengan sistem yang ada di luar  negeri atau memilih untuk tidak mengikuti pembelajaran yang di berikan di nasinal alias <em>mogok sekolah.</em> Dengan adanya permasalahan tersebut sehingga memunculkan gagasan-gagasan baru</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2. Rumusan Masalah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.1 Apa pengertian dan tujuan pendidikan itu?</p>
<p>2.2 Bagaimana potret pendidikan nasional?</p>
<p>2.3 Bagaimana cara mencerahkan pendidikan  nasional?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>3. Tujuan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>3.1 Mengetahui pengertian dan tujuan pendidikan nasional yang benar.</p>
<p>3.2 Mengetahui gambaran situasi dan kondisi pendidikan nasional benar.</p>
<p>3.3 Mengetahui cara memberikan pencerahan dalam pendidikan nasional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">BAB II</p>
<p align="center">PEMBAHASAN MASALAH</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1. Pengertian dan Tujuan Pendidikan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.1 Pengertian pendidikan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rasanya tidak ada yang menafikkan arti dan makna penting pendidikan. Hampir semua orang akan sepakat bahwa pendidikan itu memiliki manfaat yang besar dalam kehidupan manusia.Banyak pihak yang meyakini bahwa pendidikan instumen yang paling penting sekaligus strategis untuk mencapai tujuan individual maupun sosial. Pendidikan secara umum bisa diartikan sebagai usaha untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembauran baik jasmani maupun rohani, agar berfungsi dan mampu melaksanakan tugas-tugas hidup secara budaya.</p>
<p>Prof. Sugadra purbakawala dalam ensiklopedi pendidikannya mengartikan pendidikan dalam arti luas meliputi semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pngetahuannya, ilmunya, kecakapannya, serta ketmpilannya. Menurut prof. Lodge pendidikan mempunyai pengertian luas dan sempit. Dalam pengertian luas pendidikan merupakan pengalaman yang dialami seseorang selama hidupnya. Dalam   pengertian sempit pendidikan di batasi pada fungsi tertentu didalam masyarakat yang  terdiri atas penyerahan adat istiadat dengan latar belakang sosial. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seseorang mulai mendapatkan atau memperoleh pengalaman dalam lingkungannya  ketia ia memulai hidupnya di dunia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.2 Tujuan Pendidikan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pendidikan merupakan suatau alat yang digunakan oleh mnusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya (survival). Manusia dalam memelihara kelanjutan hidupnya mewariskan berbagai nilai-nilai budaya. Dengan landasan “al umur bimaqoshihida”  mana setiap tindakan dan aktivitas harus berorentasi pada tujuan dan rencana, sehingga tujuan pendidikan itu adalah terbentuknya insan kamil yang di dalamnya memiliki wawasan yang <em>kaffah</em> maksudnya religius, mampu menjaga dan melestarikan kepribadian, bersikap obyektif , realitis, selalu berkembang berkreatifitas mengolah fikiran,dan agar mampu menjalankan tugas-tugas kehambaan, kekhalifahan, pewaris nabi dan penerus pejuang ilmu nasional, Selain itu pendidikan memiliki tujuan sebagai berikut:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.2.1 Wajah kekeluargaan dan persaudaraan yang menumbuhkan sikap sosial yang     tinggi.</p>
<p>1.2.2 Wajah penuh kemulyaan sebagai makhluk hidup yang berakhlak.</p>
<p>1.2.3 Wajah kreatif yang menumbuhkan gagasan-gagasan baru dan bemanfaat bagi kemanusiannya.</p>
<p>1.2.4 Keterbukaan dalam menumbuhkan prestasi kerja dan pengabdian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.2.5 Keseimbangan dalam menumbuhkan kebijakan dan kearifan dalam mengambil keputusan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan kata lain pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan rasio, perasaan, dan panca indera. Oleh karena itu pendidikan seharusnya memiliki pelayanan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya yang meliputi spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, linguistik, baik secara individu ataupun kolektif, dengan demikian tujuan utama pendidikan adalah bertumpu pada terealisasinya sistem pendidikan dalam mencerdaskan para peserta didik nasional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2. Gambaran pendidikan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam pendidikan nasional tentunya menginginkan pendidikan yang bermutu dan berkualitas, akan tetapi hal ini memberikan pandangan lain ketika pendidikan yang diharapkan gagal ataupun belum behasil. Sebagaimana dalam pendidikan di Indonesia yang tergambar buram dalam pelaksanaannya, adapun gambaran pendidikan nasional sebagai berikut ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.1 Sistem Parsial</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pendidikan nasional memiliki peranan yang cukup signifikan dalam dinamika perjalalan bangsa Indonesia. Tanpa adanya peranan dari dunia pendidikan, sulit dibayangkan bagaimna kondisi bangsa Indonesia sekarang ini. Arah perjalanan bangsa dan potert Indonesia secara umum mewakili gambaran yang dimiliki dunia pendidikan. Hal ini tidak bisa dinafikkan peranan penting para lulusan luar negeri, mereka memiliki peranan yang lebih luas dalam kancah berbagai aspek kehidupan. Serara jujur harus kita akui bersama bahwa apa yang tengah berlangsung dalam dunia pendidikan nasional sekarang ini bukanlah potret yang sempurna. Gambaran pendidikan Indonesia, selain kontribusi positif yang telah dimainkan juga sarat dengan persoalan kian hari kian kompleks dan sulit di urai.</p>
<p>Salah satu penilaian menyebutkan bahwa sistem pendidikan nasional bersifat parsial, tidak utuh dan tidak sistematis. Implikasi dari sistem ini adalah di hasilkannya <em>output</em> yang memiliki karekteristik yamg terpecah .Ada tiga kelompok besar prototipe <em>output</em> pndidikan dari sistem parsial sebagaimana berikut ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.1.1 Pendidikan menghasilkan lulusan yang intelektual yang mamapu menguasai alat teknologi yang mutakhir, namun kurang mampu memahami, menjalankan, dan menghayatinilai-nilai luhur ajaran agama. Akibatnya banyak oarang pandai akan tetapi kurangmemperhatiak nilai-nilai moralitas. Misalnya, banyak oarng yang memiliki intelektualitas yang memadai bergelar doktor bahkan profesor, akan tetapi tidak di iringi oleh moralitas yang tinggi. Terbukti beberapa dari mereka kini menghuni teralis besi.</p>
<p>2.1.2 Mereka yang memiliki kemampuan intelektual mampu, menghayati, menguaasai, dan menjalankan nilai-nilai luhur, tetapi tidak mampu menguasai teknologi dan dinamika politik yang ada di dalamnya. Karena watak kritis dan lemahnya kemampuan analitis menjadikan kelompok ini begitu mudah dijadikan sebagai alat untuk kepentinagan tertentu.</p>
<p>2.1.3 Kelompok yang memiliki kemampuan intelektual yang mampu menguasai agama, akan tetapi tidak mampu manghayati nilai-nilai luhur sebagai substansi ajaran agama, akibatnya muncul para ahli agama yang mumpuni secara keilmuan, tetapi mereka justru menggadaikan agama demi kepentingan tertentu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh karena itu jika pendidikan yang di kembangkan berkarakter sistematis dan komprehensif, berbagai kekurangan dalam sistem parsial kan mampu diminimalisir. Dalam kerangka inilah sistem pendidikan yang harus dikritik, dievaluasi dan diperbaiki agar menjadi lebih baik lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.2 Kurikulum yang Kurang Mencerdaskan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Banyaknya perubahan-perubahan dalam membuat kurikulum baru, misalnya dari kurikulum MGMP diganti dengan KTSP tidak lama diganti dengan KBK dan diganti lagi jika kurang cocok dengan harapan. Memang perubahan itu perlu, akan tetapi perlu disadari tidak semua perubahan mudah di terima, termasuk perubahan kurikulum. Pada dataran teknis, perubahan kurikulum memang telah diikuti dan dilaksanakan oleh para guru, terlepas bgaimana kualitas pelaksanaanya. Tetapi nampaknya spirit, ruh, filosofi, dan substansi yang mendasari kurikulum baru tersebut belum mampu terinternalisasi secara utuh. Akibtnya, pergantian kurikulum pun mampu memberikan perubahan secara signifikan dalampeningkatan kualitas peningkatan kualitas lulusan.</p>
<p>Gambaran yang kurang memuaskan dari wajah pendidikan ini diperparah dengan munculnya berbagai permasalahan lain yang datag seolah tanpa henti. Hal ini tampak pada ujian nasional, perjokian” jalan belakang” dalam menerima murid baru, dan berbagai permasalahan lain, seolah begitu sulit untuk diputus. Berita seperti inisepertinya menjadi rutinitas yang terus mengikuti perjalanan pendidikan dari waktu ke waktu. Berbagai realitas semacam inilah yang menjadikan wajah pendidikan nasional tetap saja sulit menjadi cerah dan menggembirakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.3 Akses Negatif Media</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Inilah era akhir rahasia, segala sesuatu memiliki peluang menjadi konsumsi publik termasuk persoalan yang paling privat sekalipun. Dalam analisis yang di kembangkan oleh pakar pendidikan Indonesia, H.A.R Tilar ada beberapa persoalan yang kini harus dihadapi oleh sistem pendidikan nasional.salah satunya menurunya akhlak dan moral siswa (dan mahasiswa). Pergaulan dan seks bebas, telah berkembang menjadi fenomena yang kian meresahkan. Jumlah pelaku dari kalangan pelajar dari waktu ke waktu  semakin meningkat. Fenomena seperti tidak bisa dilihat semata mata dari sudut pandang normatif keberagaman dan moralitas saja, akan tetapi merupakn salah satu faktor yang cukup determinan pengaruhnya adalah derasnya pengaruh perkembangan teknologi informasi.</p>
<p>Seksualitas memang buakan sekedar entitas bio-seksual yang keberadaanya terformat dalam suatu kerangka makna dan pola-pola pengorganisasian yang mantab, tetapi setiap saat dapat berubah karena interaksi dengan berbagai faktor. Pornografi salah satu bentuk <em>hidden curicculum</em> merupakan hal yang cukup berbahaya bagi perkembangan mentalitas anank didik. Oleh karena itu di butuhkan pemikiran dan usaha serius agar dampak negatifnya dapat dieliminir. Sebagaimana dalam ajaran agama, seksualitas seharusnya diposisikan secara proporsional sebagai representasinilai, norma dan sistem pengetahuan masyarakat, bukan justru diekploitasi sebagai obyek nafsu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.4 Buruknya infrakstruktur Sekolah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Banyak yang tergelitik melihat wajah pendidikan kita yang carut marut dan bopeng disana sini. Apa yang dilakukan pemerintah masih sebatas melemparkan ide-ide abstrak yang tidakoperasional dan tidak di imbangi dengan adanya alat untuk merealisasikan anjuran tersebut. Indra Djati Sidi seperti yang dikutip kembali oleh Enco Muliyasa, mengemukakan beberapa hal yang harus dilakukan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan otonomi pendidikan yaitu:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.4.1 Upaya peningkatan mutu pendidikan dilakukan dengan menetapkan tujuan dan standar kompetensi pendidikan melalui konsesus nasional antara pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat.</p>
<p>2.4.2 Peningkatan efisiensi pengelolaan pendidikan yang mengarah pada pengelolaan berbasis sekolah ( school based management), dengan memberi kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia bagi tercapainya tujuan pendidikan.</p>
<p>2.4.3 Peningkatan relevansi pendidikan yang mengarah pada pendidikan yang berbasis masyarakat ( community based management).</p>
<p>2.4.4 pemerataan pelayanan pendidikan mengarah pada pendidikan yang berkeadilan yang berkaitan dengan formula pembiayaan pendidikan yang adil dan transparan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.5. Kenakalan Pelajar</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain persoalan pornografi dan menurunnya akhlak dan moralitas siswa ditandai dengan semakin meningkatnya perilaku kekerasan sesama mereka. Para pelajar yang melakukan perkelahian sesama pelajar meningkat terus dari waktu ke waktu. Belakangan kondisi semakin memprihatinkan dengan perilaku tawuran yang dilakukan oleh kalangan mahasiswa. Akan tetapi kesalahan itu tidak semuanya diakibatkan dari para pelajar sendiri melainkan ada faktor penyebab lainnya misalnya,<em> </em>kurangnya ekonomi, hubungan orangtua dan anak bagaikan musuh, tidak bisa mengontrol sosial pada tindakan ekerasan. Sehingga dalam mengatasi masalah kenakalan pelajar yang kian hari kian meningkat intensitasnya ini, menarik mengutip pendapat prof.Dr.Arief Rahman. Beliau menawarkan beberapa langkah untuk mengatasi masalah tersebut, sebagaimana berikut ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.5.1 Memberi informasi kepada kepala sekolah, guru, orangtua, anak dan masyarakat mengenai kenakalan pelajar.</p>
<p>2.5.2 Memberikan kegiatan edukatif, yaitu kegiatan yang melibat kan semua unsur tersebut untuk membahas dan memberi alternatif kegiatan yang bernialai pendidikan dan mengandung manfaat positif.</p>
<p>2.5.3 Memberi kegiatan yang sifatnya alternatif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.6 Masyarakat yang Mabuk Gelar</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebuah gelar akademis memiliki makna yang sangat penting. Gelar tersebut mencerminkan kapasitas dan kualitas yang selaras dengan pemiliknya. Kalau dibelakang ada gelar SH, misalnya, maka bukan hal yang salah jika masyarakat mengansumsikan jika pemiliknya adalah orang yang menguasai hal ikhwal dan seluk beluk dalam bidang hukum. Demikian juga dengan gelar-gelar yang lainnya yang melekat di depan atau di belakang nama seseorang.</p>
<p>Ada beragam manifestasi mentalitas instan, misalnya obral ijazah dan gelar serta perkuliahan jarak jauh. Fenomena lain yang dapat kita amati adalah tumbuhnya perilaku tidak jujur dalam dunia sekolah. Coba simak berita di media masa pada waktu penerimaan musim penerimaan murid baru. Hampir terjadi dalam setiap tahunnya protes demi protes dari orang tua murid terkait dengan pelaksanaan penerimaan murid baru. Fenomena yang tampak hampir setiap tahun ini telah mencerminkan sesuatu yang menyedihkan dalam dunia pendidikan kita. Ada guratan kekecewaan, kesedihan, ketidakpercayaan, dan harapan yang tidak tercapai dari wajah –wajah orang tua yang anaknya gagal menjadi siswa di sekolah tertentu. Sementara orang tua yang anak-anaknya di terima di sekolah tertentu merasakan gembira yang luar biasa seolah masa depan anaknya telah di rengkuh secara nyata. Bahkan yang tercermin demi kesuksesan anaknya, banyak orang tua yang rela berkorban dengan melakukan apapun. Jika lewat mekanisme norma gagal, maka “jalan belakang” menjadi alternatif lain yang dipilih. Ada salah satu mutiara kearifan Jawa yag memiliki relevansi untuk kita renungkan di tengah arus budaya masyarakat yang semakin cenderung ke arah budaya jalan pintas. <em>Aja nggege mangsa</em> yag mana artinya jangan mempercepat atu mendahului waktu.  Dalam etika dan filsafat Jawa, ungkapan tersebut mengandung makna yang lebih dalam. Pemaknaannya terkait dengan sikap hidup dan kaitan jati diri manusia sebagai dalam individu, sosial, dan makhluk ciptaan Tuhan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>3. Cara Pencerahan Terhadap Pendidikan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Makna penting pendidikan tentunya sudah diketahui oleh sebagian besar orang. Tetapi kesadaran untuk menjadikan pendidikan sebagi bagian yang tidak terpisah dari kehidupan, masih menjadi agenda besar yang harus terus menerus diperjuangkan. Sebab, kesadaran ini baru tumbuh di sebagian kecil kalangan masyarakat. Sementara sebagian besarnya masih memahami pendidikan sebatas formalitas sekolah sampai jenjang tertentu. Setidaknya ada jejak untuk mencerahkan pendidikan itu misalnya, menjadikan pecandu pendidikan, memberikan wewenang kepada setiap masyarakat untuk belajar, memberikan paradigma bahwa pendidikan berkualitas tidak harus mahal. Selain itu metode pendidikan juga perlu diperhatikan, yang mana metode itu memiliki tujuan menjadikan proses belajar mengajar berhasil, lebih berguna, menimbulkan gairah untuk belajar para peserta didik. Misalnya, metode diakronis sosiohistoris, sinkronis-Analitis, problem solving, empiris, induktif, dan deduktif. Akan tetapi sebaik-baiknya metode tanpa pengaplikasian sama saja tidak memberikan arti dari sistem metode yang bagus, adapun contoh teknik dari metode pembelajaran sebagai berikut ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>3.1 Periklanan dan pertemuan adalah sistem pengaplikasian yang berisikan ceramah dan tulisan.</p>
<p>3.2 Dialog(hiwar) adanya tanya jawab, diskusi(forum, seminar, musyawaroh, panel,    simposium), mujadalah, saling menstransfer saran antar anggota peserta didik, sehingga peserta didik bisa memahami secara mendalam materi yang telah di jelakan.</p>
<p>3.3 Metafora dengan adanya perumpamaan baik berupa ungkapan, gerak, gambar-gambar.</p>
<p>3.4 Permainan dan simulasi.</p>
<p>3.5 Driil pengaplikasian atau praktek secara di paksa setiap hari.</p>
<p>3.6 Memberikan janji dan ancaman, hal ini memberikan dorongan para peserta didik untuk lebih giat dalam belajar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan demikian pendidikan bisa mewujudkan cita-cita dan tujuannya yaitu, memanusiakan manusia dan memberikan pengetahuan yang modern, profesional yang bermoral dan berakhlak. Sehingga sistem pendidikan nasional yang memberikan gambaran buram pada pendidikan  bisa di tanggulangi secara bertahap dan <em>continue.</em></p>
<p align="center">BAB III</p>
<p align="center">KESIMPULAN</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pendidikan sebagai bagian erat dari dinamika sosial kemasyarakatan harus selalu tanggap tehadap perubahan. Lembaga pendidikan dimana pun  dan dalam bentuk yang seperti apapun seha rusnya tidak menempatkan posisinya sebagai menara air, yaitu melebur menjadi  satu dengan masyarakat tanpa memberikan identitas apa-apa. Untuk memberikan prespektif yang mencerahkan berkaitan dengan bagaimana menghasilkan sistem pendidikan yang lebih baik. Karena perubahan yang ignifikan tidak harus dengan melakukan aksi yang spektakuler dan revolusioner, aksi biasa saja yang dilakukan secara konsisten dan dialakukan dengan penuh kesadaran akan pentingnya perubahan yang bermakna. Pendidikan yang bisa mengangkat kehormatan manusia dan mampu memberikan prespektif perubahan inilah yang di harapkan para penerus bangsa untuk mengubah paradigma baru yang mencerahkan pendidikan nasional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">DAFTAR PUSTAKA</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p> Naim, ngainun. Rekontruksi Pendidikan. 2010. Yogyakarta. Teras.</p>
<p>Widiastono, Tonny. Pendidikan Manusia. 2004.Jakarta. Kompas.</p>
<p>Santrok, Jhon. Psikologi Pendidikan. 2009. Salemba Humanika.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/potret-pendidikan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
