LAPORAN HASIL OBSERVASI PENYEBAB MARAKNYA PENGAMEN DI TERMINAL GADANG MALANG

LAPORAN HASIL OBSERVASI

PENYEBAB MARAKNYA

PENGAMEN DI TERMINAL GADANG MALANG

 

Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD)

Dosen Pembimbing :

Jamilah, MA

Oleh :

M. Lutfi Haris (11310086)

Atik Nur Khasanah (11310088)

Wawik Adipin (11310104)

 
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB
FAKULTAS HUMANIORA DAN BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

JUNI
2012

 


KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Allah yang telah melimpahkan Rahmat, Taufik, dan Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan penelitian dengan tema “Masalah-Masalah Sosial”.

Kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing kami, yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan laporan penelitian ini. Serta kami ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan kami yang telah mendukung kami dalam menyelesaikan laporan ini.

Kami mohon maaf apabila dalam laporan penelitian ini sangat banyak kekurangan dan kesalahan, karena memang didunia tidak ada makhluk yang sempurna. Oleh karena itu, kami minta kritik dan saran yang membangun demi memperbaiki kesalahan dalam laporan ini.

Malang,    Juni 2012

Penulis

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………….i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………ii

BAB I    PENDAHULUAN………………………………………………………………………….1

A. Latar Belakang………………………………………………………………………………..1

B. Rumusan Masalah……………………………………………………………………………2

C. Tujuan Observasi…………………………………………………………………………….2

D. Manfaat Observasi…………………………………………………………………………..2

BAB II  LANDASAN TEORI………………………………………………………………………3

A. Teori Kemiskinan…………………………………………………………………………….3

B. Teori Psikologi………………………………………………………………………………..6

C. Konsep Diri Pengamen……………………………………………………………………..7

BAB III PAPARAN HASIL OBSERVASI…………………………………………………….9

BAB IV  KESIMPULAN……………………………………………………………………………12

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………..13

LAMPIRAN……………………………………………………………………………………………..14

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh setiap masyarakat tidaklah sama antara yang satu dengan lainnya. Perbedaan-perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan tingkat perkembangan kebudayaan dan masyarakatnya, dan keadaan lingkungan dimana masyarakat itu hidup. Masalah-masalah tersebut dapat terwujud sebagai: Masalah sosial, masalah moral, masalah politik, masalah ekonomi, masalah agama, ataupun masalah-masalah lainnya.

Salah satu permasalahan sosial yang ada di Indonesia yaitu semakin meningkatnya jumlah masyarakat miskin di negara ini. Hal ini dapat dilihat dengan semakin banyaknya jumlah pengemis atau pengamen jalanan.

Anak adalah harapan masa depan suatu bangsa, tunas yang berpotensi membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik atau bisa juga lebih buruk. Maka dari itu, amat miris rasanya melihat anak-anak yang hidup mengamen di jalanan, bukannya bersekolah. Rasanya lebih menyedihkan daripada melihat orang dewasa yang melakukan pekerjaan serupa.

Di kota Malang pun juga sangat banyak sekali pengamen jalanan, mulai dari anak-anak sampai remaja. Kebanyakan dari pengamen cilik itu adalah anak-anak yang putus sekolah dengan alasan kekurangan biaya untuk melanjutkan pendidikan mereka. Akibat hal tersebut diatas, mereka terpaksa menjalani kehidupan dengan menjadi pengamen.

Dari latar belakang diatas, di sini penulis ingin membahas faktor apa saja yang menyebabkan banyaknya pengamen di jalanan kota Malang tepatnya di terminal Gadang Malang.

Mengapa fenomena ini perlu di observasi?Fenomena sosial ini perlu diteliti karena merupakan fenomena nyata yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari, menyangkut masalah bersama yang kita miliki sebagai bangsa.

Diharapkan dari penelitian yang dilakukan, dapat memunculkan wacana solusi untuk permasalahan yang sudah terjadi bertahun-tahun dalam masyarakat kita.

  1. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam observasi ini adalah apa saja penyebab banyaknya pengamen di terminal Gadang Malang?

  1. Tujuan Observasi

Sejalan dengan perumusan masalah di atas, observasi ini bertujuan untuk mengetahui apa saja penyebab banyaknya pengamen terminal GadangMalang.

D. Manfaat Observasi

Kita dapat mengetahui dan belajar banyak dari kehidupan yang begitu sulit atau tidak mudah bagi seseorang untuk menimba ilmu setitinggi-tingginya karena masih banyak anak-anak dan remaja yang terpaksa dan memang harusmeninggalkan bangku sekolah karena himpitan ekonomi keluarganya yang mengharuskan bekerja sebagai pengamen jalanan, lalu bagi kita yang dapat mendapatkan pendidikan yang layak dapat membantu anak-anak dan remaja yang putus sekolah untuk memajukan seluruh anak bangsa.

 


BAB II

LANDASAN TEORI

Secara keseluruhan, teori yang melandasi analisis kami terhadap fenomena ini dapat dibagi ke dalam dua kategori: teori kemiskinan dan teori psikologi. Tujuan kami memakai kedua teori ini adalah untuk mendalami penyebab kemiskinan yang dialami obyek kami dan teori psikologis dipakai untuk menganalisa objek penelitian kami secara individu.

  1. Teori  Kemiskinan

Kemiskinan adalah salah satu masalah yang di punyai oleh manusia, yang sama tuanya dengan usia kemanusiaan itu sendiri dan implikasi permasalahannya dapat melibatkan keseluruhan aspek kehidupan manusia, tetapi sering tidak disadari kehadirannya sebagai masalah.[1]

Suparlan (1981) menyatakan kemiskinan adalah sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat hidup yang rendah,s yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah ini secara langsung nampak  pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan, kehidupan moral dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong sebagai orang miskin. Kemiskinan bukanlah sesuatu yang terwujud sendiri terlepas dari aspek-aspek lainnya, tetapi kemiskinan itu terwujud sebagai hasil interaksi antara berbagai aspek yang ada dalam kehidupan manusia. Aspek-aspek tersebut, terutama adalah aspek sosial dan ekonomi. Aspek sosial ialah adanya ketidaksamaan sosial diantara sesama warga masyarakat yang bersangkutan,seperti perbedaan suku bangsa, ras, kelamin, usia, yang bersumber dari corak sistem pelapisan sosial yang ada dalam masyarakat. Sedangkan yang dimaksud aspek ekonomi ialah, adanya ketidaksamaan antara sesama warga masyarakat dalam hak dan kewajiban yang berkenaan dengan pengalokasian sumber-sumber daya ekonomi.[2]

Pendapat lain dikemukakan oleh Ala dalam Setyawan (2001: 120) yang menyatakan kemiskinan adalah adanya gap atau jurang antara nilai-nilai utama yang diakumulasikan dengan pemenuhan kebutuhan akan nilai-nilai tersebut secara layak. Ada lima ketidakberuntungan yang melingkari kehidupan orang atau keluarga miskin menurut Chambers dalam Ala (1996: 18) yaitu: kemiskinan (poverty), fisik yang lemah (physical weakness), kerentanan (vulnerability), keterisolasian (isolation), ketidak berdayaan (powerlessness). Sebab-sebab kemiskinan itu sendiri menurut Sen dalam Ismawan (2003: 102) bahwa penyebab kemiskinan dan keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas. Akibat keterbatasan dan ketertiadaan akses maka manusia mempunyai keterbatasan pilihan untuk mengembangkan hidupnya, kecuali menjalankan apa yang terpaksa saat ini dilakukan bukan apa yang seharusnya dilakukan, akibatnya potensi manusia untuk mengembangkan hidupnya manjadi terhambat. Itu semua bisa kita lihat bahwa semakin banyak jumlah para pengamen jalanan yang diorganisir oleh pihak tertentu yang memaksa mereka untuk bekerja seperti itu karena mereka juga tidak punya pilihan lain untuk mendapatkan uang. [3]

Penyebab lain menurut Kuncoro (2000 : 107)[4] mencakup 3 aspek:

  1. Secara mikro kemiskinan minimal karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. Penduduk miskin hanya mempunyai sumber daya dalam jumlah terbatas dan kualitasnya rendah.
  2. Kemiskinan muncul akibat perbedaan kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber dayayang rendah berarti produktifitasnya rendah. Rendahnya kualitas sumber daya ini karena rendahnya pedidikan, nasib yang kurang beruntung, diskriminasi, atau karena keturunan
  3. Kemiskinan muncul akibat perbedaan akses dalam modal.

Kelima hal diatas merupakan kondisi yang ada pada masyarakat miskin di negara berkembang seperti Indonesia. Penyebab kemiskinan itu sendiri bersifat dinamis, maka ia akan senantiasa berkembang mengikuti dinamika kehidupan sosial manusia. Kemiskinan yang dihadapi oleh setiap generasi manusia pasti pemaknaan kemiskinan mengalami perubahan di setiap saat dan setiap tempat.[5]

Para ahli ilmu-ilmu sosial umumnya berpendapat bahwa sebab utama yang melahirkan kemiskinan ialah sistem ekonomi yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Kemiskinan menurut pendapat umum dapat dikategorikan[6]:

  1. Kemiskinan yang disebabkan aspek badaniah atau mental seseorang
  2. Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam
  3. Kemiskinan buatan

Kemiskinan disebabkan aspek badaniah biasanya orang tersebut tidak bisa berbuat maksimal sebagaimana manusia lainnya yang sehat jasmaniah. Karena cacat badaniah misalnya, dia lantas berbuat atau bekerja secara tidak wajar, seperti: menjadi pengemis atau peminta-minta. Menurut ukuran produktifitas kerja, mereka tidak bisa menghasilkan sesuatu yang maksimal malah lebih bersifat konsumtif. Sedangkan yang menyangkut aspak mental, biasanya mereka disifati oleh sifat malas bekerja secara wajar, sebagaimana halnya manusia lainnya. Mereka ada yang bekerja sebagai peminta-minta, atau sebagai pekerja sambilan bila ada yang memerlukannya.[7]

Tindakan-tindakan seperti itu jelas bisa menyebabkan kemiskinan bagi dirinya dan menimbulkan beban bagi masyarakat lainnya. Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana, apabila tidak segera diatasi sama saja halnya akan menimbulkan beban bagi masyarakat umum lainnya. Mereka yang tertimpa bencana alam, umumnya tidak mempunyai tempat tinggal bahkan sumber-sumber daya alam yang mereka miliki sebelumnya habis oleh pengikisan bencana alam. Kemiskinan buatan disebut juga kemiskinan struktural, ialah kemiskinan yang ditimbulkan oleh dan dari struktur-struktur ekonomi, sosial dan kultur serta politik. Kemiskinan struktur ini selain ditimbulkan oleh struktur penenangan atau nrimo memandang kemiskinan sebagi nasib, tetapi sebagai takdir tuhan.[8]

B.  Teori Psikologi

Teori Hierarki Abraham Maslow: Menurut Maslow, manusia adalah hewan yang punya keinginan.Kalimat ini mungkin cukup mengganggu harga diri kita, tapi Maslow ada benarnya.Yang jelas, setelah berasumsi seperti itu, Maslow pun mengurutkan kebutuhan-kebutuhan manusia ke dalam hierarki yang berjenjangdari tinggi ke rendah. Kebutuhan fisiologis; sama seperti letaknya, kebutuhan ini adalah kebutuhan paling dasar bagi seorang manusia: makanan, minuman, dan tempat tinggal.

Maslow memberi aturan main[9] seperti ini:

  1. Pemenuhan kebutuhan manusia berjalan urut dari tingkat terbawah (kebutuhan fisiologis) hingga mencapai tingkat tertinggi (aktualisasi diri). Misalnya, jika kita kelaparan, mana mungkin kita berpikir mengenai pemenuhan cita-cita? Pasti kita akan berpikir dan bertindak untuk mencari makanan.
  2. Segera setelah keinginan yang satu terpenuhi, muncul keinginan yang lain (dalam hal ini, keinginan akan kebutuhan yang jenjangnya lebih tinggi).
  3. Manusia termotivasi oleh kebutuhan yang belum terpenuhi ia akan melakukan usaha agar kebutuhan tersebut akhirnya terpenuhi.
  4. Satu kebutuhan yang sudah terpenuhi bukan lagi menjadi pendorong. Hanya kebutuhan yang belum terpenuhi yang akan menjadi motivator seseorang.
  1. Konsep Diri Pengamen

Negara Indonesia dikenal sebagai Negara yang kaya akan sumber dayanya, tetapi pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Anak-anak yang seharusnya duduk di bangku sekolah, banyak berkeliaran di jalanan untuk berjuang mencari uang untuk menyambung hidup mereka dan keluarga mereka. Selain itu, mereka pun harus mengalami berbagai tindak kekerasan yang dilakukan oleh para preman jalanan.[10]

                Kebanyakan dari pengamen cilik itu adalah anak-anak yang putus sekolah dengan alasan kekurangan biaya untuk melanjutkan pendidikan mereka. Akibat hal tersebut diatas, mereka terpaksa menjalani kehidupan dengan menjadi pengamen. Keadaan ini cukup memprihatinkan, karena pada kenyataannya pemerintah sudah membuat berbagai macam program pendidikan untuk mengatasi masalah ini, misalnya saja Program Wajib Belajar Sembilan tahun, tetapi tetap saja masih banyak di negara ini anak-anak yang putus sekolah.Menjadi pengamen mengharuskan mereka menjalani kehidupan di jalanan.[11]

Semakin hari semakin banyak pengamen di jalanan dan juga beroperasi di setiap terminal, di setiap bus dan angkot, di setiap rumah makan dan kaki lima, di setiap perumahan mulai dari anak balita sampai yang sudah tua, dari yang di lengkapi dengan alat musik seadanya sampai yang lengkap seperti pemain band, dari yang berpenampilan kotor sampai yang rapi, dari yang suaranya fals sampai yang bagus.[12]

Mereka tidak bisa mengenyam kehidupan yang menyenangkan seperti remaja lain. Padahal di sekeliling kita begitu banyak remaja yang orang tuanya tak mampu, bahkan tidak punya sama sekali. Dengan membantu mereka dalam bimbingan belajar, dan memberikan kesempatan mereka untuk sekolah lagi dengan beasiswa, atau meringankan bebannya dalam membayar uang sekolah dan bila perlu diadakan sekolah gratis bagi mereka yang tidak mampu dengan membebaskan uang SPP. Dengan latar belakang pendidikan yang rendah serta lingkungan yang tidak sehat mengakibatkan mereka rentan dengan sakit penyakit. Pada kondisi sekarang mereka bukanlah tidak memiliki uang untuk berobat namun kesadaran akan mahalnya kesehatan sangat rendah dalam lingkungan mereka.


BAB III

PAPARAN HASIL OBSERVASI

Menurut teori psikologi Abraham Maslow, kebutuhan primer memang datang sebelum kebutuhan sekunder. Makan adalah kebutuhan primer dan pendidikan adalah kebutuhan sekunder. Orang yang kebutuhan primernya belum terpenuhi, tidak akan memenuhi kebutuhan sekundernya. Segala tindakannya akan terfokus untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dahulu. Secara sederhana: bagaimana mungkin kita belajar jika perut kita lapar? Inilah yang mendasari mengapa seorang anak usia 10 tahun meninggalkan sekolahnya dan mencari uang di jalanan. Dari sekolah, ia belum merasakan manfaat langsungnya. Dari bekerja, ia dapat merasakan makanan yang ia dan keluarganya santap hari itu.

Tanpa Bagas sadari, ia sudah menjadi korban dari eksploitasi tenaga kerja di bawah umur. Para pengamen ini semua adalah bagian dari sebuah perkumpulan yang teroganisir, dimana menurut pengakuan Bagas, ada seorang ’boss’ yang mengelola mereka, mengawasi, memungut semacam ’setoran’ dari hasil keringat para pengamen hari itu. Tiap pagi mereka diantar ke lokasi tempat mereka mencari uang, dan dijemput lagi pada sore harinya. Organisasi ini merupakan pelanggaran berat terhadap UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang jelas-jelas menyatakan larangan untuk mempekerjakan anak di bawah 14 tahun, apalagi dalam pekerjaan yang membahayakan kesehatan, keselamatan, dan moral si anak.

Untuk memahami akar permasalahan seorang anak, kita harus kembali pada orang tuanya. Jika dipelajari lebih mendalam, latar belakang keluarga Bagas menunjukkan tipikal keluarga pra sejahtera: orangtua bekerja kasar, anak-anak putus sekolah. Jika ditanya, apa penyebab kemiskinan mereka maka amat sulit untuk menjawabnya. Kita tidak tahu secara pasti latar belakang pendidikan orang tua Bagas, namun dari pekerjaannya dapat ditebak bahwa mereka tidak memiliki pendidikan yang cukup. Kalaupun ternyata itu tidak benar, satu hal yang jelas adalah orangtua Bagas tidak mendapat kesempatan atau akses yang memadai kepada modal dan keterampilan. Terlalu banyak pekerja, kurangnya lapangan. Kemiskinan mereka turut dipengaruhi oleh faktor-faktor kemiskinan menurut Kuncoro yang telah dipaparkan pada landasan teori:

  1.  Ketidaksamaan pada kepemilikan sumber daya, keluarga Bagas praktis nyaris tidak bermodal. Mereka hanya dapat mengandalkan tenaga fisiknya, yang celakanya juga tidak memberikan hasil berarti yang bisa memperbaiki kondisi ekonomi mereka
  2.  Perbedaan kualitas SDM, keluarga Bagas yang kurang pendidikannya, akan membuat mereka selamanya kalah bersaing dalam pasar tenaga kerja dengan mereka yang bermodalkan pendidikan.

Jadi, jika ditelaah, pengamen jalanan kecil muncul akibat kemiskinan. Kemiskinan muncul dari berbagai sumber, tapi secara keseluruhan, kondisi ekonomi-sosial Indonesia memang memiliki andil besar. Karena kurang modal, orang menjadi miskin. Anak mereka pun mau tak mau meninggalkan pendidikan dan mencari uang, yang pada akhirnya akan membawa ia ke dalam lingkaran kemiskinan lagi karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan. Kemiskinan struktural semacam ini menjadi lingkaran siklus yang sulit diputus; kemiskinan seakan diwariskan dari generasi ke generasi.

Hasil wawancara dan observasi kami menunjukkan bahwa pada dasarnya bukan kemauan pribadi Bagas untuk menjadi pengamen. Namun, desakan ekonomi menggeser kebutuhan akan pendidikan menjadi kebutuhan untuk bekerja, mendapat uang dan makan. Pengamatan kami juga menunjukkan bahwa Bagas tidak bekerja sendiri; ia berada di bawah sebuah perkumpulan yang terorganisir; orang-orang dewasa yang seperti menjadi ’mentor’ Bagas.

Bagas menjadi gambaran tipikal anak di bawah umur yang karena tekanan hidup harus menjalani kehidupan yang tidak pantas untuk usianya-bahkan terbukti ia juga mengalami kekerasan fisik saat bekerja.

Semakin banyaknya jumlah pengamen di jalanan, terutama diantara mereka merupakan anak-anak di bawah umur yang seharunya duduk di bangku sekolah, bukan di jalanan. Seperti yang kita ketahui bahwa pemerintah pun sudah membuat banyak program mengenai masalah ini, tetapi pada kenyataannya program yang dibuat tidak berjalan secara maksimal dan efisien. Bukti nyata karena bertambah banyaknya parapengamen di jalanan. Ditambah lagi dengan kekerasan yang mereka alami. Hal ini yang menjadi dasar dari penelitian kami.

Hal tersebut diatas seharusnya tidak terjadi apabila pemerintah lebih serius dan fokus dalam menangani hal tersebut. Banyaknya janji yang diberikan oleh pemerintah, misalnya berupa program-program yang dibuat dan juga peraturan perundang-undangan yang ada, tidak dapat menjamin hidup mereka yang berada di jalanan.

Terbukti dengan banyaknya jumlah anak-anak di bawah umur yang bekerja mencari uang dan harus mengalami tindak kekerasan. Padahal di pasal yang terdapat dalam undang-undang membahas mengenai hal tersebut diatas, tetapi tetap saja semua tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya.

Bagasadalah gambaran anak Indonesia yang masa depannyahabisdirenggutolehsistem. Ia adalah korban kemiskinan, yang harus menjalani kehidupan keras di jalanan, tanpa pendidikan dan keamanan yang minim. Fakta bahwa ia menyanyikan lagu-lagu yang sebenarnya belum pantas untuk usianya sudah menunjukkan bahwa anak ini dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya.

 

 


BAB IV

 

KESIMPULAN

Ternyataanak-anak yang kurangmampusekaranginitidakadaniatatausemangatuntukmelanjutkansekolah. Mereka berpikir untuk lebih memilih mengamen di jalanan, karena dengan begitu mereka akan mendapatkan uang. Sedangkan kalau mereka melanjutkan untuk sekolah, tidak ada bantuan dari pemerintah sehingga mereka harus membiayai sekolah dengan susah payah. Mereka harus mencari biaya yang banyak untuk memenuhi kebutuhan dan membayar sekolah mereka. Maka dari itu mereka bekerja sebagai pengamen. Setelah merasakan mendapat uang dari hasil mengamen, mereka lupa akan sekolah mereka. Mereka terlanjur menikmati kesenangan mendapatkan uang dari hasil mengamen tersebut.

Mereka tidak menyadari pentingnya sekolah, karena saat ini tidak mengalami secara langsung faedah dari bersekolah. Ada kecenderungan mereka lebih memilih mencari uang, karena mereka dapat merasakan secara langsung manfaatnya, meski tidak besar. Kebutuhan akan makanan mengalahkan kebutuhan akan pendidikan.

Mereka, yaitu anak-anak pengamen jalanan ternyata tidak bekerja sendirian. Mereka dikoordinasi oleh seseorang. Hasil kerja mereka nantinya akan disetorkan pada ketua mereka. Mereka akan diberi gaji dan makan siang dari hasil setoran mereka setiap harinya. Kalau setoran mereka banyak, maka gaji yang mereka peroleh juga banyak.

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Wahyu, MS, 1986, Wawasan Ilmu Sosial Dasar, Usana, Surabaya

Hartono, 2001, Ilmu Sosial Dasar,Bumi Aksara, Jakarta

Arnicun, Aziz, 2001, Ilmu Sosial Dasar,Bumi Aksara, Jakarta

Ranjabar, Jacopus, 2008, Pendekatan Realitas Sosial, Alfabeta, Bandung

Ranjabar, Jacopus, 2006, Sistem Sosial dan Budaya Indonesia,Ghalia Indonesia, Bogor

Ahmadi, Abu, 1991, Ilmu Sosial Dasar, Rhineka Cipta, Yogyakarta

Soekanto, Soerjono, 1983, Beberapa Teori Sosiologi tentang Struktur Masyaraka, Rajawali, Jakarta

Kuswarno, Engkus, 2009, Fenomenologi, Widya Padjajaran, Bandung

 

LAMPIRAN

 

Hasil Wawancara

Di Jalanan sekitar terminal Gadang, pukul. 10.00, bocah kecil berumur 10 tahun berlari mengejar angkutan umum sambil menyanyikan lagu. Gadis itu turun setelah mendapat beberapa keping uang logam dan beberapa lembar kertas. Lalu dia duduk di pinggiran jalan sambil menghitung hasil yang dia dapatkan. Dibawah ini adalah hasil wawancara kami dengan adik Bagas:

Atik : Siang dek.

Bagas : Iya

Atik : Lagi ngapain dek?

Bagas : Lagi menghitung uang

Atik : Adek biasa mangkal di sini ya??

Bagas : Iya,

Atik : Banyak ya dek hasil ngamennya?

Bagas : Iya, sehari biasanya dapet 30.000

Atik : Adek gak ke sekolah??Atau uda pulang sekolah??

Bagas : Aku ndak sekolah kak,,

Atik: Kenapa??

Bagas : Yah gimana ya kak, orang tua ndak punya duit. Untuk makan saja sulit, jadi ya buat membantu ekonomi keluarga kak.

Atik: Emang adekndak pengen sekolah?

Bagas : Ingin sekali kak. Dulu saya sekolah kak, tapi karena orang tua tidak mampu akhirnya terpaksa saya berhenti sekolah.

Atik : Emangnya ayah dan ibu adek di mana ??

Bagas : Ayahkerja tukang kuli bangunan dan ibujadi tukang cuci

Atik : Trusselamakerjadisini, adekpernahbermasalahndak sama orang – orangsekitar?

Bagas : Saya pernahdikeroyok samakakak – kakak. Waktupertamakalingamen, uang saya diambilsemuanya. sayagakmaumemberikan, tapi merekamalahmemukul sayasampaiberdarah.

Atik : Adek ndakberhentisetelahkejadianitu?

Bagas : Ya ndak kak. Kalo berhenti mau makan apa nanti?

Atik : Klouang adikdiambilsemua, berarti adikpercuma dong kerja?

Bagas:Besok – besoknya, sebagian uangnya saya simpan aja di kolor.

Setelah beberapa saat kami berbincang-bincang dengan pengamen, ada seorang ibu-ibu yang menyuruh kami untuk segera meninggalkan Bagas.

Ibu :Maaf mbak, sebaiknya mbak cepat pergi sebelum dikeroyok oleh komplotan pengamen lainnya karena mengganggu ngamen Bagas

Atik :Oh iya… kakak pergi dulu ya, makasih.


[1] Drs.wahyu Ms, wawasan imu sosial dasar, (usana, surabaya, 1986,) hal: 199

[2]Drs. H. Hartono, ilmu sosial dasar, (bumi aksara, jakarta, 2001) hal:315

[3]Dra. Arnicun aziz, ilmu sosial dasar, (bumi aksara, jakarta, 2001) hal:316

[4]Jacobus Ranjabar, S. H., M. Si., Pendekatan Realitas Sosial, (Alfabeta, Bandung, 2008), hal:61

[5]Jacobus Ranjabar, S. H., M.Si., Sistem sosial budaya indonesia, (Ghalia Indonesia, Bogor, 2006), hal 115

[6]Drs. Abu Ahmadi, ilmu sosial dasar, (Rhineka cipta, Yogyakarta, 1991), hal:328

[7]Ibid

[8]Drs. Abu Ahmadi, ilmu sosial dasar, (Rineka Cipta, Yogyakarta, 1991), hal:328

[9]Soerjono Soekanto, Beberapa Teori Sosiologi Tentang Struktur Masyarakat, (Rajawali, Jakarta, 1977), hal:105

[10]Prof. Dr. Engkus Kuswarno, M. S., Fenomenologi, (widya Padjajaran, Bandung, 2009) hal:202

[11]ibid

[12]ibid

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress | Find Cheap Cell Phones at iFreeCellPhones.com. | Thanks to Palm Pre Blog, Video Game Music and Car Insurance