MENGELOLA KELAS

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Persyaratan utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien adalah tersedianya guru atau dosen (pendidik) yang mampu memenuhi pengelolaan kelas yang efektif. Pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku yang komplek, dan pendidik harus mampu menciptakan kondisi kelas yang sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan bermutu. Kualitas proses dan hasil pembelajaran ditentukan di kelas, untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan pendidik yang mampu memenej atau mengelola kelas. Dan salah satu indikatornya adalah menyediakan suasana yang kondusif, maka pendidik sebisa mungkin untuk menguasai, mengatur dan membenahi, serta menciptakan suasana kelas yang kondusif sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran diinginkan.

Suasana kelas yang kondusif dan optimal dalam proses pembelajaran dapat tercapai jika pendidik mampu mengatur, peserta didik dan sarana prasarana pembelajaran untuk mencapai tujuan.

  1. TUJUAN
  2. Mengetahui pengertian dari mengelola kelas.
  3. Mampu mendesain lingkungan fisik kelas yang baik.
  4. Dapat menciptakan lingkungan yang positif untuk pembelajaran.
  5. Mampu menjadi komunikator yang baik.
  1. MANFAAT
  2. Pendidik dan peserta didik mengetahui apa yang dimaksud dengan mengelola kelas.
  3. Agar pendidik mampu mendesain lingkungan fisik kelas yang baik bagi peserta didiknya

 

 

  1. Pendidik dapat menciptakan lingkungan yang positif bagi eserta didi untuk proses pembelajaran.
  2. Agar pendidik mengetahui dan mampu untuk menjadi komunikator yang baik bagi peserta didiknya.
  3. Pendidik juga akan dapat menghadapi prilaku bermasalah peserta didik.

 

  1. DESKRIPSI KASUS

Situasi yang Menular

Bu Cornell menerima ijazahnya di bulan Mei. Segera setelah itu dia menerima jabatan sebagai guru kelas lima di SD Twin Pines. Dia menghabiskan musim panas untuk merencanakan kurikulum kelasnya, mengidentifikasi tujuan pengajarannya selama setahun tersebut, serta mengembangkan berbagai macam aktifitas untuk membantu siswa mencapai tujuan tersebut.

Setelah musim panas yang panjang dan panas, sebagian besar siswa bu Corell merasa senang kembali bersekolah. Di hari pertama bersekolah, bu Corell langsung masuk ke kurikulum yang direncanakannya. Namun ada tiga masalah yang muncul- yang dilakukan oleh Eli, Jake, dan Vanessa.

Ketiga siswa ini tampaknya mengganggu kelas setiap ada kesempatan. Mereka meninggalkan ruangan tanpa izin, mengganggu teman lain ketika mereka berjalan dengan pengasah pensil atau keranjang sampah. Mereka berbicara di luar giliran, terkadang terkadang secara kasar dan tidak menghargai guru, dan di lain waktu meremehkan aktifitas bu Corell yang telah direncanakan dengan cermat. Mereka jarang melaksanakan tugas di kelas, dan lebih memilih bersendagurau. Tampaknya mereka sering bertindak nakal ketika jam-jam kosong- misalnya di awal dan di akhir jam sekolah, sebelum dan setelah istirahat dan makan siang, serta setiap kali bu Corell berbicara dengan siswa lain.

Bu Corell terus melanjutkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) hariannya dengan mengabaikan siswanya yang bermasalah dan berharap mereka akan mulai membaik sendiri. Akan tetapi kenakalan-kenakalan tersebut mulai menjalar ke siswa-siswa lainnya. Di pertengahan Oktober, kelas bu Corell menjadi seperti sirkus dan tujuan pengajaran jarang tercapai.[1]

 

 

 

BAB II
PEMBAHASAN

  1. KAJIAN PUSTAKA

Pengelolaan kelas merupakan kegiatan yang terencana dan sengaja dilakukan oleh guru atau dosen (pendidik) dengan tujuan menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal, sehingga diharapkan proses belajar mengajar dapat berjalan secara efektif dan efisien, sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan untuk kepentingan pembelajaran.[2]

Menurut Jeanne Ellis Ormrod dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan bahwasanya pengelolaan kelas (class management)berarti membangun dan memelihara lingkungan kelas yang kondusif bagi pembelajaran dan prestasi siswa. Siswa dapat belajar lebih banyak di beberapa lingkungan kelas dibandingkan lingkungan kelas yang lainnya.[3]

  1. 1.      Mendesain Lingkungan Fisik Kelas

Banyak faktor penting dalam upaya memaksimalkan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Yakni berupa lingkungan pembelajaran yang kondusif. Dan hal ihwal yang paling meunjang yaitu lingkungan fisik. Lingkungan fisik dalam hal ini adalah lingkungan yang ada disekitar siswa belajar berupa sarana fisik baik yang ada dilingkup sekolah,  dalam hal ini dalam ruang kelas belajar di sekolah. Lingkungan fisik dapat berupa sarana dan prasarana kelas, pencahayaan, pengudaraan, pewarnaan, alat/media belajar, pajangan serta penataannya.

Dalam upaya memenejemen lingkungan kelas yang efektif terdapat beberapa factor yang perlu untuk diperhatikan, diantaranya:

  • Kurangi kepadatan di tempat lalu lalang. Daerah ini antara lain area belajar kelompok, bangku siswa, meja guru, dan lokasi penyimpanan alat tulis, rak buku, computer dan lokasi lainnya. Area-area harus dapat dipisahkan sejauh mungkin dan dipastikan mudah diakses, karena gangguan dapat terjadi pada daerah yang sering dilewati.
  • Pastikan bahwa Guru dapat dengan mudah melihat semua anak. Sebagai manajer kelas, guru penting untuk memonitor anak secara cermat. Pastikan ada jarak pandang yang jelas dari meja guru, lokasi instruksional, meja anak, dan semua anak.
  • Materi Pengajaran dan Perlengkapan anak harus mudah diakses. Hal ini akan meminimalkan waktu persiapan dan perapian, serta mengurangi kelambatan dan gangguan aktivitas.
  • Pastikan siswa dapat dengan mudah melihat semua presentasi kelas. Tentukan di mana anda dan siswa anda akan berada saat presentasi kelas diadakan. Pada aktivitas ini, anak tidak boleh memindahkan kursi atau menjulurkan lehernya. [4]

Sedangkan dalam pengaturan ruang fisik kelas disesuaikan dengan tipe belajar peserta didik. Diantara 5 gaya penataan kelas yang standar[5] :

  • Gaya auditorium: gaya susunan kelas di mana semua siswa duduk menghadap guru.
  • Gaya tatap muka: gaya susunan kelas di mana siswa saling menghadap.
  • Gaya off-set: gaya susunan kelas di mana sejumlah siswa (biasanya tiga atau empat anak) duduk di bangku, tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain.
  • Gaya seminar: gaya susunan kelas di mana sejumlah besar siswa (sepuluh atau lebih) duduk disusunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U.
  • Gaya klaster: gaya susunan kelas di mana sejumlah siswa (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil.

 

Sementara menurut Iskandar dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan dituliskan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kondisi fisik kelas yaitu:

  1. Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar
    1. Jenis kegiatan (dalam kelas/ di ruang praktium)
    2. Jumlah siswa yang melakukan kegiatan
    3. Pengaturan tempat duduk
      1. Berbaris
      2. Pengelompokan
      3. Setengah lingkaran

 

 

  1. Berbentuk lingkaran
  2. Individu
  3. Ruang kelas yang tidak normal
  4. Ventilasi dan pengaturan cahaya

Ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa antara lain jendela yang cukup besar agar cahaya matahari masuk dan udara sehat.

  1. Pengaturan penyimpanan barang-barang

Penyimpanan barang-barang hendaknya disimpan di tempat khusus yang mudah dicapai, dan diatur sedemikian rupa sehingga barng-barang tersebut  segera dapat digunakan.[6]

Gambar- gambar tata letak duduk kegiatan belajar mengajar [7]:

Penataan tempat duduk peserta didik ini dapat mendorong adanya interaksi sosial antar siswa maupun guru.

  1. 2.      Menciptakan Lingkungan yang Positif untuk Pembelajaran

Seperti yang telah kita ketahui, dalam upaya untuk memaksimalkan proses belajar, maka seorang guru dituntut untuk bisa membawa para peserta didik menciptakan lingkungan yang positif. Yakni dengan strategi menejemen kelas dan strategi positif agar peserta didik mau untuk bekerja sama

 

Strategi umum manajemen kelas untuk menciptakan lingkungan positif bagi anak mencakup penggunaan gaya otoritatif dan manajemen kelas secara efektif.[8]

  • Gaya manajemen kelas otoritatif berasal dari gaya parenting.

Di mana guru yang otoritatif akan mempunyai siswa yang cenderung mandiri, tidak cepat puas, mau bekerja sama dengan teman, dan menunjukkan penghargaan diri yang tinggi. Strategi manajemen kelas otoritatif, mendorong siswa untuk menjadi pemikir yang independen dan pelaku yang independen, tetapi strategi ini masih menggunakan sedikit monitoring siswa. Guru otoritatif akan menjelaskan aturan, regulasi dan  menentukan standar dengan masukan dari siswa. Gaya otoritatif bertentangan dengan gaya otoritarian dan permisif yang tidak efektif.

  • Gaya manajemen kelas otoritarian fokus utamanya adalah menjaga ketertiban di kelas, bukan pada pengajaran dan pembelajaran.

Guru otoriter sangat mengekang dan mengontrol perilaku siswa, sehingga siswa di kelas cenderung pasif, tidak berinisiatif dalam aktivitas, memiliki keterampilan komunikasi yang buruk. Sedangkan gaya manajemen kelas yang permisif, memberi banyak otonomi pada siswa tapi tidak memberi banyak dukungan untuk pengembangan keahlian pembelajaran atau pengelolaan perilaku. Siswa di kelas permisif, cenderung punya keahlian akademik yang tidak memadai dan control diri yang rendah.

Guru yang berperan sebagai manajer kelas yang efektif senantiasa mengikuti apa yang terjadi, selalu memonitor siswa secara regular, sehingga dapat mendeteksi perilaku yang salah jauh sebelum perilaku itu lepas kendali. Guru yang efektif mampu mengatasi situasi yang over-lapping secara efektif, menjaga kelancaran dan kontuinitas pelajaran, serta melibatkan siswa dalam berbagai aktivitas yang menantang.

Berbagai macam penerapan Teori Motivasi Belajar dikemukakan oleh RBS. Fudyartanto sebagai berikut[9]:

  • Guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan
  • Guru memberikan hadiah dan hukuman kepada siswa
  • Guru mendorong peserta didik untuk lebih bersemangat
  • Guru melakukan kompetisi dan kerja sama pada peserta didik
  • Guru melakukan pujian kepada peserta didik
  • Guru mengusahakan selalu ada yang baru ketika melakukan pembelajaran di kelas
  • Guru dalam mengajar tidak menggunakan prosedur yang menekan
  • Guru melibatkan siswa secara aktif.

 

  1. 3.      Menjadi Komunikator yang Baik

Dilihat dari peran guru di dalam kelas, mereka berperan sebagai seorang komunikator, mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan non verbal. Pesan yang akan disampaikan kepada komunikan berupa buku teks, catatan, lisan, cerita, dan lain sebagainya, pesan itu telah dikemas, sedemikian rupa sehingga mudah dipahami, dimengerti, dipelajari, dicerna, dan diaplikasikan para siswa.
Pesan dalam bentuk verbal tersebut dirancangkan untuk disajikan dalam beberapa kali pertemuan dan diterapkan sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, indicator, media dan dalam alokasi waktu yang sesuai dengan beban dan muatan materi.
Komunikasi materi pelajaran tidak terbatas dalam kelas semata tetapi dirancangkan untuk luar kelas, berupa tugas yang terkontrol dan terukur, baik materi teoritis dan praktis, sehingga materi pelajaran yang disajikan lebih komunikator.
Di dalam kelas guru menjelaskan siswa bertanya, menyimak sebaliknya guru mendapat informasi dari siswa-siswanya dan menjawab pertanyaan siswa serta mencari solusi bersama-sama, kedua belah pihak (komunikator, komunikan) aktif, dan peran yang lebih dominan terletak pada siswa atau siswa yang lebih aktif. Pada akhir dari penyajian materi, guru melakukan evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa terhadap materi yang telah dikomunikasikan.

Komunikasi pembelajaran dan komunikasi umum memiliki perbedaan dalam aspek tujuan, komunikasi pembelajaran mempunyai tujuan lebih spesifik atau khusus. Kekhususan inilah yang dalam proses komunikasi melahirkan istilah-istilah khusus seperti: penerangan, propaganda, indoktrinisasi, agisasi dan pendidikan. Komunikasi umum tujuan bersifat umum dan tidak terukur.[10]

 

 

  1. 4.      Menghadapi Perilaku Bermasalah Siswa

Walaupun kita telah berusaha, siswa terkadang tetap saja berperilaku dengan cara-cara yang tidak diinginkan. Guru yang efektif tidak hanya merencanakan dan menstuktur kelas untuk meminimalkan masalah masalah prilaku yang potensial, tetapi secara aktif menyikapi prilaku yang tidak sesuai (misbehaviour) yang benar-benar terjadi (W. Doyle. 1990).

Beberapa misbehavioris di kelas relative kecil, dan tidak berdampak jangka panjang pada kesuksesan siswa. Perilaku seperti berbicara di luar giliran, menulis catatan kecil ke teman sekelasselama pelajaran berlangsung, atau mengumpulkan tugas melebihi batas waktu. Misbehavioris lainnya lebih jauh serius, ketika mengganggu proses pembelajaran atau ketenangan seorang atau beberapa siswa. Misalna ketika siswa berteriak kea rah guru, memukul teman sekelas, atau menolak berpartisipasi dalam aktifitas di kelas, maka pembelajaran di kelas terutama bagi pihak yang salah dan seringkali bagi siswa-siswa lain, dapat terpengaruh secara negatif, dan dengan demikian juga mempengaruhi kelas secara keseluruhan.

Sebagai guru, kita harus merencanakan terlebih dahulu bagaimana menyikapi berbagai misbehavior yang mungkin kita lihat di kelas. Meskipun kita tentu saja harus konsisten dalam konsekuensi yang kita jatuhkan atas pelanggaran peraturan. Beragam strategi dapat digunakan untuk mengurangi prilaku kontraproduktif dalam jangka panjang.

  1. Mengabaikan perilaku

Dalam beberapa kesempatan, tindakan terbaik kita adalah tidak bertindak, paling tidak bukan sesuatu yang bersifat disipliner (G.A. Davis dan Thomas, 1989; W.Doyle, 2006).

  1. Member isyarat ke siswa

Dalam beberapa situasi, perilaku yang tak ada kaitannya dengan pelajaran, meskipun tidak serius, benar-benar mengganggu pembelajaran teman sekelas dan harus dicegah.

  1. Membahas masalah secara pribadi dengan siswa

Terkadang isyarat di kelas tidak cukup untuk mencegah misbehavior siswa. Percakapan dengan siswa-siswa secara perorangan member kita, sebagai guru, suatu kesempatan untuk menjelaskan mengapa perilaku-perilaku tertentu tidak dapat diterima dan harus dihentikan.

  1. Mangajarkan strategi-strategi pengaturan diri

Ketika siswa mengekspresikan keprihatinan mereka sendiri akan perilaku bermasalah mereka, mengajarkan strategi-strategi pengaturan diri (self-regulation) seringkali membantu.

  1. Berunding dengan orangtua

Terkadang kita harus bekonsultasi dengan orangtua siswa atau wali siswa lainnya tentang masalah perilaku. Berunding dengan orangtua khususnya penting ketika masalah perilaku siswa menunjukkan suatu pola sepanjang waktu dan memilik implikasi serius bagi kesuksesan akademik atau sosialna dalam jangka panjang.

  1. Melakukan intervensi yang terencana dan sistematis

Terkadang siswa mungkin tidak bersedia atau tidak mampu mengubah perilaku mereka sendiri. Dan karena satu alas an tertentu, berkonsultasi dengan orangtua mungkin tidak menghasilkan solusi yang efektif. Terkadang strategi-strategi sederhana tersebut dapat efektif jika digabungkan dengan strategi lainnya, dengan mendorong kemampuan berpikir dari sudut pandang orang lain.[11]

 

Sedangkan menurut Santrock dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan berpendapat dalam beberapa hal mengenai prilaku siswa yang bermasalah yaitu:

 

a)        Intervesi Minor

Beberapa masalah hanya membutuhkan intervensi minor atau kecil. Masalah-masalah yang kerap muncul biasanya mengganggu aktifitas belajar di kelas. Misalnya, murid mungkin ribut sendiri, meninggalkan tempat duduk tanpa ijin, bercanda sendiri, atau memakan permen di kelas. Strategi yang efektif antara lain adalah:

  • Gunakan isyarat non verbal
    Jalin kontak mata dengan murid. Kemudian beri isyarat dengan meletakkan telunjuk jari di bibir anda, menggeleng kepala, atau menggunakan isyarat tangan untuk menghentikan perilaku tersebut.
  • Terus lanjutkan aktifitas belajar
    Biasanya terjadi suatu jeda dalam transisi aktifitas dalam kegiatan belajar mengajar, dimana pada jeda tersebut murid tidak melakukan apa-apa. Pada situasi ini, murid
  • mungkin akan meninggalkan tempat duduknya, mengobrol, bercanda dan mulai ribut. Strategi yang baik adalah bukan mengkoreksi tindakan mereka tetapi segera melangsungkan aktifitas baru berikutnya.
  • Mendekati murid
    Saat murid mulai bertindak menyimpang. Anda cukup mendekatinya, maka biasanya dia akan diam.
  • Arahkan perilaku
    Jika murid mengabaikan tugas yang kita perintahkan, ingatkan mereka tentang kewajiban itu. Anda bisa berkata, “Baiklah, ingat, semua anak harus menyelesaikan soal matematika ini.”
  • Beri instruksi yang dibutuhkan
    Terkadang siswa melakukan kesalahan kecil saat tidak memahami cara mengerjakan tugas. Untuk mengatasinya anda harus memantau murid dan memberi petunjuk jika dibutuhkan.

    • Suruh murid berhenti dengan nada tegas dan langsung
      Jalin kotak mata dengan murid, bersikap asertif, dan suruh murid menghentikan tindakannya. Buat pernyataan, singkat dan pantau situasi sampai murid patuh. Strategi ini bisa dilakukan dengan mengkombinasikan strategi mengarahkan perilaku murid.
    • Beri murid pilihan
      Berilah murid tanggung jawab dengan memilih dua pilihan, bertindak benar atau menerima konsekuensi negatif. Beri tahu murid apa tindakan benar itu dan apa konsekuensi bila melanggar.

 

b)     Intervensi Moderat

Beberapa perilaku yang salah membutuhkan intervensi yang lebih kuat dari pada intervensi minor di atas, misalnya, ketika murid menyalahgunakan aktifitasnya, mengganggu, cabut dari kelas, mengganggu pelajaran, atau mengganggu pekerjaan murid lainnya. Berikut adalah strategi yang bisa dilakukan:

  • Jangan beri privilese[12] atau aktifitas yang mereka inginkan
    Bila anda memperbolehkan murid untuk berkeliling kelas atau mengerjakan tugas dengan murid lain dan ia malah menyalahgunakan privilese yang anda berikan atau mengganggu pekerjaan temannya, maka anda bisa mencabutprivilesenya.
  • Buat perjanjian behavioral
    Buatlah perjanjian yang bisa disepakati oleh semua murid. Perjanjian ini harus merefleksikan masukan dari kedua belah pihak yaitu guru dan murid. Jika muncul problem dan murid tetap keras kepala, guru bisa merujuk pada kesepakatan bersama yang telah dibuat.
  • Pisahkan atau keluarkan murid dari kelas
    Bila murid bersenda gurau dan bersikap tidak mengindahkan peringatan, anda bisa memisahkan ia dari murid disekitarnya ataupun mengeluarkannya dari dalam kelas.
  • Kenakan hukuman atau sanksi
    Menggunakan hukuman sebaiknya tidak melakukan tindakan kekerasan, tetapi bisa dilakukan dengan memberikan tugas mengerjakan soal atau menulis halaman tambahan.[13]

 

 

  1.  ANALISIS KASUS

Dari deskripsi kasus dihalaman awal, dapat dilihat bahwa tidak semua rencana yang telah kita buat dapat terlaksana dengan baik dan sesuai harapan. Pada kasius diatas kelompok kami menilai kurang setuju dengan tindakan yang diambil oleh Bu Cornell. Kasus diatas juga menunjukkan bahwa selain adanya pengaruh situasi yang tidak diinginkan juga perencanaan yang matang dalam menyiapkan dan pelaksanaan proses belajar mengajar juga seorang guru hendaknya melakukan pendekatan kepada para peserta didiknya. Hal ini selain sebagai upaya untuk membangun hubungan social yang baik dan harmonis. Selain itu pendekatan juga berupaya untuk mengontrol tingkah laku para peserta didik, dan dapat menetapkan cara yang tepat untuk mengatasinya sehingga dapat dikendalikan serta tindak tunduk antara pengajar dan peserta didik.

Selain melakukan pendekatan, pengajar dapat sering memberikan motivasi agar para peserta didik akan merasa termotivasi, terdorong untuk selalu bersemangat dalam menerima ilmu dari pengajar. Beberapa penyebab dari munculnya pelanggaran atau penyimpangan di kelas oleh peserta didik diantaranya kurangnya dorongan atau motivasi. Dapat juga dengan mengajarkan beberapa pelajaran tentang etika belajar di kelas, baik itu berupa akhlak yang disertai dengan praktiknya.

Adanya monitoring budi pekerti untuk peserta didik juga sangat dibutuhkan, sehingga para peserta dapat terbiasa melakukan hal-hal yang baik.

 

BAB III

PENUTUP

  1.  Kesimpulan

Persyaratan utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien adalah tersedianya guru atau dosen (pendidik) yang mampu memenuhi pengelolaan kelas yang efektif. Pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan untuk kepentingan pembelajaran. Kualitas proses dan hasil pembelajaran ditentukan di kelas, untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan pendidik yang mampu memenej atau mengelola kelas. Pengelolaan kelas juga berarti membangun dan memelihara lingkungan kelas yang kondusif bagi pembelajaran dan prestasi siswa. Siswa dapat belajar lebih banyak di beberapa lingkungan kelas dibandingkan lingkungan kelas yang lainnya.

  1. Saran dan Solusi
    1. Saran

Setiap pengajar hendakanya memperhatikan factor intern maupun ekstern dalam mengelola kelas. Kondisi fisik kelas, tata cara mengajar, mengatasi beberapa masalah kelas dengan tepat serta mengoptimalkan strategi-strategi belajar yang tepat dan sesuai dengan cara belajar serta karakter peserta didik.

  1. Solusi
  • Perlu diadakannya evaluasi baik dari pengajar maupun peserta didik secara rutin. Sehingga dapat diketahui secara jelas perkembangan peserta didik.
  • Adanya pendekatan kepada para peserta didik sehingga peserta didik akan lebih terbuka dan taat kepada pengajar.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Iskandar. 2009. Psikologi Pendidikan. Ciputat: Gaung Persada Press.
  • Ormrod. Jeanne Ellis. 2008, Psikologi Pendidikan. Jakarta: Erlangga.
  • Prawira. Purwa Atmaja. 2012,  Psikologi Pendidikan dalam Perspektif baru, Jogjakarta: Ar Ruzz Media.
  • Santrock. 2009,  (Everston:2003), Psikologi Pendidikan (terjemahan), Jakarta: PT.Kencana.
  • http://www.scribd.com/doc/82161566/5/PENGATURAN-LINGKUNGAN-FISIK-KELAS

[1] Jeanne Ellis Ormrod, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Erlangga. 2008), hal. 209

[2] Iskandar, Psikologi Pendidikan, (Ciputat: Gaung Persada Press. 2009), hal. 210.

[3] Jeanne Ellis Ormrod, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Erlangga. 2008), hal. 210.

[4] Santrock (Everston:2003),Psikologi Pendidikan (terjemahan), Jakarta: PT.Kencana. 2009.

[5] Ibid

[6] Iskandar, Psikologi Pendidikan, (Ciputat: Gaung Persada Press. 2009), hal. 215.

[8] Op.Cit

[9] Purwa Atmaja Prawira, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru, Jogjakarta: Ar Ruzz Media, hal. 347-350

[10] Loc.Cit

[11] Jeanne Ellis Ormrod, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Erlangga. 2008), hal. 229-238

[12] Previlise: hak istimewa

[13] Santrock, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Kencan Prenada Media Group, 2007)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress | Find Cheap Cell Phones at iFreeCellPhones.com. | Thanks to Palm Pre Blog, Video Game Music and Car Insurance