Kee mengernyitkan dahi. Sementara pria tua dihadapan kami masih tersedu-sedu sambil menyeka air matanya. Aku juga tak tahan memendam gejolak kesedihan yang ingin meledak. Aku heran mengapa sedari tadi Kee tenang-tenang saja, bahkan ketika melihat bu Rus berkali-kali pingsan. Mungkin ia memang sudah terbiasa berhadapan pada situasi seperti ini, setidaknya bisa menempatkan diri dan mengontrol sikapnya.
Suasana hening cukup lama, Kee menatapku, mengerling memberi isyarat apakah aku ingin bertanya lebih lanjut pada pak Sugih. Aku mengangkat bahu dengan ragu sambil melirik ke arah lelaki yang sedang terpukul itu. Kee terlihat menghela nafas panjang. Ia menegakkan posisi duduknya dan mendorong tubuhnya ke depan lalu mendeham dua kali. Ku lihat matanya melirik ke arah lemari kaca yang membatasi ruang tamu dengan ruang duduk di rumah ini.

“banyak sekali pialanya pak” Kee memecah kesunyian. aku menatapnya ragu, tak menyangka ia akan menanyakan hal tak penting seperti itu
Pak Sugih mendongak, sejurus kemudian melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Kee.
“apa itu milik Annisa?” tanya Kee lagi.
“bukan” Pak Sugih menjawab dengan suara yang masih serak “itu milik Anita, kakaknya”
“ooh”
Aku melihat Kee masih memandangi piala-piala yang berjejeran itu. jumlahnya belasan. Kemudian matanya beralih ke dinding kayu di depannya “piagam-piagam itu juga milik Anita?” tanya Kee lagi.
Pak Sugih mengangguk pelan.
Kemudian suasana kembali kaku. Namun sebentar-sebentar terdengar tangisan dari dalam rumah diiringi beberapa suara wanita. Bu Rus masih menjerit-jerit, sementara ibu-ibu lain berkali-kali mencoba menenangkannya.
Aku bergidik, sulit rasanya membayangkan berada di situasi seperti ini. menghadapi kenyataan meninggalnya salah seorang anggota keluarga, hhmm.. mungkin sekarang aku memberi penilaian kepada sikap bu Rus yang “berlebihan”, namun seandainya aku berada di posisinya, belum tentu aku bisa lebih tegar darinya….”
“lalu Anita sekarang dimana Pak?” pertanyaan Kee spontan membuat lamunanku buyar.
“Anita sedang dalam perjalanan”
“ohh” responnya singkat “dari mana?”
“Jepang”
Nampak keterkejutan di wajah Kee. Sama halnya dengan diriku. Ia lalu mengangguk-angguk
“kuliah pak?” tanya Kee hati-hati
Pak Sugih mengangguk “iya, manajemen teknik industri, hampir selesai”
Kee mengangguk-angguk lagi “wah…hebat banget ya pak”
Sesaat mimik wajah pak Sugih berubah, ia terlihat lebih berseri-seri dari sebelumnya.
“iya, dia anak pinter, dari SMP selalu juara kelas” pak Sugih tersenyum lebar
Kami berdua tersenyum. mengikuti isyarat emosional Pak Sugih yang kontan berubah itu
“kalau Anisa?” tanyaku spontan
Pak Sugih tersenyum tipis, raut wajahnya murung lagi
Aku menatap Kee, menyadari kekeliruan pertanyaanku barusan. Kee malah memunculkan ekspresi datar.
“Anisa…” Pak Sugih terdiam beberapa saat “dia biasa-biasa saja, malah jarang sekali juara di kelas”
Aku dan Kee saling tatap.
“yah…maklumlah, anak itu agak angel kalau disuruh belajar” lanjutnya “seringnya malah main sama anak-anak kampung”
Ku lihat Kee menggaruk-garuk dagunya. Sepertinya ia makin tertarik dengan pembicaraan ini. “oh ya? Nisa biasanya ngapain aja sama anak-anak kampung?” tanyanya.
Pak Sugih menatap ke langit-langit rumahnya yang rendah, bisa kupastikan ingatannya sedang melayang pada anak bungsunya.
“ya biasalah mbak, seperti permainan anak kampung biasa, ya sepedaan, ya nari…”
“nari?” Kee spontan memotong ucapan Pak Sugih
“iya mbak, Anisa itu pinter nari, dia sama teman-temannya sering disuruh ngisi acara di kecamatan” Pak Sugih tersenyum lebar “Cuma ya itu..mungkin gara-gara itu dia malas belajar” Pak Sugih menggeleng-gelengkan kepala.
“trus pak?” tanya Kee, aku melihat aura penasaran di setiap respon yang diberikannya
“ya dia sering saya marahin mbak, kata saya ‘kamu tuh harus rajin belajar biar bisa pinter koyok mbak mu” Pak Sugih menirukan ucapannya kala itu.
“terus Nisa-nya gimana setelah bapak marahin?” tanya Kee. Ia lebih banyak bertanya, seakan menggantikan tugasku disini.
“ya dia diam saja, kadang-kadang saya lihat dia nangis..” suara Pak Sugih kembali serak.
Tenggorokanku tercekat, aku kembali harus mengendalikan emosi.
“memangnya bapak nasehatin apa ke Nisa?”
Mata pak Sugih kembali berair “ya saya bilang mbak, kamu bisa apa sih selain nari? Mosok masuk sepuluh besar di kelas aja ndak bisa”
Pak Sugih terisak lagi. Aku dan Kee saling pandang
“saya nyesel juga mbak kalo ingat kata-kata saya, abisnya saya emosi, memangnya dari menari bisa menghasilkan apa? Iya kan mbak? Pendapat saya ndak salah kan mbak?” Pak Sugih menatap kami bergantian.
Aku tersenyum salah tingkah. Sementara Kee merunduk, menatap meja di hadapannya
“saya ini hanya orang miskin mbak, tapi saya ndak mau anak-anak saya juga nasibnya sama dengan saya”
aku dan Kee mengangguk pelan
“udah gitu pas tes masuk universitas dia gak diterima, sementara Anita dapat beasiswa ke Jepang. Padahal Cuma universitas dalam negeri lho mbak, dia ndak bisa masuk.. ibu nyaranin coba lagi tahun depan, tapi saya bilang ndak usah, takutnya pas kuliah malah tambah nyusahin”
Saat pak Sugih berkisah, aku juga memperhatikan Kee. Raut wajahnya menampakkan ketidaksenangan.
“ya itulah mbak, akhirnya Nisa Cuma bantu-bantu ibu jualan di warung. Sampe akhirnya dia ketemu dengan si Andre brengsek itu” nada suara Pak Sugih meninggi. Ia menggigit bibirnya, amarahnya menumpuk dengan kesedihannya yang mendalam, simpulku.
“awalnya saya udah peringatkan Anisa, bahkan sampai beberapa kali dia hampir saya pukuli…”
Aku terkejut “siapa pak?”
“Anisa…karena dia keras kepala mbak! Padahl dia udah tahu kelakuan si brengsek itu….”
Aku merasakan pembicaraan ini mulai menarik.
Kee menopang dagu. Menataplekat pak Sugih
“tapi itulah mbak…saya ndak tahu kenapa Anisa malah ngotot, ndak tahu dia dijanjin apa.. sampai suatu hari dia minta ijin, katanya pengen jalan sama temen-temennya. Tapi ternyata…”

Tapi ternyata tidak, Anisa pergi bersama Andre yang rupanya salah satu anggota komplotan pelaku trafficking. Setelah sadar dirinya ingin dijual kepada seorang pria Thailand, Anisa mencoba kabur, namun naas ia tertangkap dan dibunuh-dengan tiga tusukan pisau.

Pak Sugih serta merta menangis tersedu-sedu. Kee mencoba menangkan.
Pertahananku jebol, air mataku berhasil menetes.

……………………
Kami pamit pulang, Pak Sugih mengantar dan terus mengawasi kepergian kami dari daun pintu rumahnya yang rapuh.
“nih…” Kee menyodorkan selembar tissu padaku saat kami sudah berada di dalam honda Jazz nya.
Aku menatapnya heran.
Sambil menyetir ia menoleh sedikit ke arahku “kenapa?”
“kamu kok bisa tenang gitu?”
Kee tertawa kecil “tenang? Biasa saja, aku hanya sibuk memikirkan hal lain yang tentu saja tidak kau pikirkan selama pembicaraan tadi”
“maksudmu?” tanyaku.
“katakan kalau aku salah, kau menangis karena menempatkan dirimu diposisi pak Sugih juga bu Rus. Dan secara otomatis kau bisa merasakan emosi mereka” ujar Kee datar.
“sementara, terutama saat pak Sugih mulai bercerita tentang kedua anaknya dan perbedaan mereka, aku malah menempatkan diriku pada posisi Anisa. Sekarang kutanya kau, bagaimana seandainya orang tuamu memaksa supaya kau meninggalkan bidang jurnalis dan beralih ke Fisika-misalnya?” Kee menoleh padaku.
Aku bergidik “yang benar saja! Tidak akan Kee..”
“lalu kau dikatakan bodoh atau semacamnya? Bagaimana perasaanmu?” tanya Kee lagi
“oke Kee..aku ngerti, lalu?”
Seketika Kee terbahak “wah…sepertinya sekali-sekali wartawan harus mempelajari psikologi”
Aku merengut mendengar cibirannya.
Namun ia langsung melanjutkan “kau tau, aku lebih senang Anisa berontak dari ayahnya dan tetap meneruskan bakat tarinya. Tapi sayang, seperti yang telah kau dengar tadi, Anisa anak yang pendiam dan penurut. Tapi bukan berarti disini…” Kee menepuk dadanya “ia tidak menyimpan sesuatu, malahan semakin ia diam, semakin besar pula beban perasaan itu, ya minder, malu, sedih,… yah, kau bayangkan sendirilah..”
Aku sudah mulai bisa menangkap arah penjelasan Kee.
“dan akhirnya, si serigala muncul tepat pada waktunya, Nisa yang sudah terlanjur luka hatinya, menyambut Andre dengan tangan terbuka. Aku bayangkan Andre membuat Anisa merasa berharga dan tidak lagi tersisihkan, ketidakpercayaan dia pada orang tuanya membuatnya mudah menerima serigala itu, kau paham?”
Aku mengangguk.
“namun kita juga tidak bisa menyalahkan Pak Sugih dan istrinya, merupakan hal wajar jika mereka banyak menuntut, kau tentu masih ingat kata-kata Pak Sugih tadi, Anisa tidak bisa mendapat banyak uang dengan hobi menarinya. Itu dia alasannya, kondisi ekonomi. Juga karena mereka salah mempersepsikan, bahwa kecerdasan itu terletak pada keberhasilanmu memecahkan rumus matematika atau kemenanganmu dalam lomba pidato”
“wah kompleks juga yah” ujarku lirih.
Kee mendengar ucapanku dan berkomentar “yah begitulah, kita semua setuju bahwa setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya, tapi kadang-kadang mereka lupa –yang terbaik menurut siapa?”
Pikiranku masih melayang-layang ke setiap sudut rumah tadi. Anisa yang malang.
“tetapi…” Kee masih bercuap-cuap “persepsi juga dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, kau tentu tahu, pola asuh –ala pak Sugih- banyak ditemukan pada masyarakat yang taraf ekonominya rendah. Disamping pola asuh permisif, dan…hmm…yang autoritatif mungkin hanya kasuistik”
“ya ya ya Kee..mungkin kamu juga harus lebih peka- bahwa yang sedang kau ajak bicara sekarang tidak begitu paham dengan isitilah-istilah psikologimu itu”
Kee terbahak “hahaha… sorry…sorry, kalau kau mau ,aku pinjami buku parenting saat kita tiba di rumah”
………….