1. B. Rukhsah dan Azimah

B.1  Pengertian azimah dan rukhsah

  1. Azimah menurut kalangan para ahli ushul adalah

ما شرع من الأحكام الكلية ابتداء

Artinya: hukum yang ditetapkan Allah pertama kali dalam bentuk hukum-hukum umum.

Hukum-hukum umum yang telah disyariatkan oleh Allah SWT sejak semula yang tidak dikhususkan oleh kondisi dan oleh mukallaf.[5] Artinya belum ada hukum sebelum disyariatkan , sehingga sejak disyariatkan seluruh mukallaf wajib diikuti.[6]

Kata-kata “ditetapkan pertama kali” mengandung arti bahwa pada mulanyapembuat hukum bermaksud untuk menetapkan hukum taklifi kepada hamba. Hukum ini tidak didahului oleh hukum lain. Seandainya ada hukum lain yang mendahuluinya, hukum yang terdahulu itu tentu dinasakh dengan hukum yang datang belakangan. Dengan demikian hukum azimah ini berlaku sebagai hukum pemula dan sebagai pengantar kemashlahatan umum.

Kata-kata “hukum-hukum kulliyah (umum)” disini mengandung arti berlaku untuk semua mukallaf dan tidak ditentukan untuk sebagian mukallaf atau untuk sebagian waktu tertentu. Umpamanya shalat yang diwajibkan kepada semua mukallaf dalam semua situasi dan kondisi. Begitu pula kewajiban zakat, puasa, haji dan kewajiban lainnya.

Termasuk juga kedalam pengertian hukum azimah adalah hukum umum yang berlaku untuk suatu sebab. Sebab itu suatu ketika hilang dan bila telah berlaku lagi tersebut maka berlaku pula hukum. Umpamanya firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah-198:

}§øŠs9 öNà6ø‹n=tã îy$oYã_ br& (#qäótGö;s? WxôÒsù `ÏiB öNà6În/§‘ 4 !#sŒÎ*sù OçFôÒsùr& ïÆÏiB ;M»sùttã (#rãà2øŒ$$sù ©!$# y‰YÏã ̍yèô±yJø9$# ÏQ#tysø9$# (

198.  Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu Telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam[125

Ayat itu turun sesudah datang ayat sebelumnya (197) yang melarang beberapa perbuatan dalam melaksanakan ibadah haji:

kptø:$# ֍ßgô©r& ×M»tBqè=÷è¨B 4 `yJsù uÚtsù  ÆÎgŠÏù ¢kptø:$# Ÿxsù y]sùu‘ Ÿwur šXqÝ¡èù Ÿwur tA#y‰Å_ ’Îû Ædkysø9$# 3 $tBur (#qè=yèøÿs? ô`ÏB 9Žöyz çmôJn=÷ètƒ ª!$# 3 (#rߊ¨rt“s?ur  cÎ*sù uŽöyz ϊ#¨“9$# 3“uqø)­G9$# 4 Èbqà)¨?$#ur ’Í<’ré’¯»tƒ É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÐÈ

197.  (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi[122], barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats[123], berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa[124] dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.

2.   Hukum rukhsah adalah:

الحكم الثابت على خلاف الدليل لعذر.

Artinya: hukum yang berlaku berdasarkan suatu dalil menyalahi dalil yang ada karena adanya uzur.

Hukum keringanan yang telah disyariatkan oleh Allah SWT atas orang mukallaf dalam kondisi-kondisi tertentu yang menghendaki keringanan. [7]

Kata-kata “hukum” merupakan jenis dalam definisi yang mencakup semua bentuk hukum. Kata-kata tsabit (berlaku tetap) mengandung arti bahwa  rukhsah itu berdasarkan dalil yang ditetapkan pembuat hukum yang menyalahi dalil yan ditetapkan sebelumnya.

Kata-kata “menyalahi dalil yang ada” merupakan sifat pembeda dalam definisi yang mengeluarkan dari lingkup  pengertian rukhsah, suatu yang memang pada dasarnya sudah boleh melakukannya seperti makan dan minum. Kebolehan dalam makan dan minum memang sudah dari dulunya dan tidak menyalahi hukum yang sudah ada.

Kata “dalil” yang maksudnya adalah dalil hukum, dinyatakan dalam defenisi ini agar mencakup rukhsah untuk melakukan perbuatan yang ditetapkan dengan dalil yang menghendaki hukum wajib, seperti berbuka puasa bagi orang yang musafir, atau yang menyalahi dalil yang menghendaki hukum nabd (sunnah) seperti meninggalkan shalat jamaah karena hujan dan lain sebagainya.

Penggunaan kata “uzur” dalam definisi ini yang mengandung arti kesukaran dan keberatan, untuk menghindari dari cakupan arti rukhsah dalam dua hal:

  1. Hukum yang berlaku dan ditetapkan dengan dalil lebih kuat yang menyalahi dalil lain yang lemah dari hukum itu. Diberlakukannya hukum yang datang belakangan bukan karena memberikan keringanan tetapi memang secara ketentuan harus dilakukan karena kekuatan dalilnya.
  2. Taklif atau beban hukum semuanya merupakan hukum yang tetap menyalahi dalil asal dan yang menurut asalnya tidak ada taklif.

Adapun hukum yang ditetapkan dengan dalil nasakh karena mengandung kesukaran dalam pelaksanaannya juga tidak dinamakan rukhsah karena dalil yang dinasakh itu tidak dinamakan dalil kecuali dalam arti kiasan terhadap apa yang telah berlaku.

Penambahan kata “berat” pada sebagian definisi merupakan batasan selanjutnya bagi pengertian “rukhsah”, karena kata uzur saja dapat berarti kesukaran atau keberatan, sedang uzur yang berarti semata-mata kebutuhan tanpa adanya kesukaran tidak disebut rukhsah. Contoh uzur yang tidak berarti rukhsah umpamanya ditetapkannya hukum qiradh (investasi modal) yang sebenarnya menyalahi ketentuan syirkah yang mengharuskannya persyarikatan dalam modal dan usaha. Tetapi cara ini dinyatakan sah karena adanya kebutuhan yaitu ketidakmampuan pemilik modal dalam usaha, padahal disini tidak terdapat kesukaran apa-apa.

Memang kadang-kadang digunakan kata rukhsah untuk sesuatu yang dikecualikan oleh prinsip umum yang menghendaki larangan secara umum dan mutlak tanpa memandang pada sifat uzur besar yang harus ada padanya seperti contoh di atas: karena dalam salah satu hadist Nabi disebutkan: “Nabi merukhsahkan jual beli saham.”

Dengan membandingkan pengertian azimah dan ruhsah secara sederhana dapat dikatakan bahwa azimah adalah melaksanakan perintah dan menjauhi larangan secara umum dan mutlak, baik perintah itu perintah wajib atau sunnah, baik larangan itu untuk haram atau makruh, sedangkan rukhsah adalah keringanan atau kelapangan yang diberikan kepada seorang mukallaf dalam melakukan perintah dan menjauhi larangan.

Azimah adalah merupakan hak Allah atas hamba-Nya dan rukhsah adalah hak hamba dalam karunia dan kebijaksanaan Allah. Dalam bentuk ini antara rukhsah dengan hukum mubah terdapat kesamaan.[8] Dan hal ini sesuai dengan pernyataan

[9]المشقة تجلب التيسير    “kesulitan itu akan mendatangkan kemudahan”                                          ”

B.2 Macam-macam rukhsah

Pada dasarnya rukhsah itu adalah keringanan yang diberikan Allah sebagai pembuat hukum kepada mukallaf pada suatu keadaan tertentu yang berlaku terhadap mukallaf tersebut. Hukum keringanan ini menyalahi hukum asalnya. Macam-macam keringanan atau rukhsah dapat dilihat dari beberapa segi:

  1. 1. Rukhsah dilihat dari segi bentuk hukum asalnya, terbagi menjadi dua, yaitu: rukhsah memperbuat dan rukhsah meninggalkan.
    1. Rukhasah memperbuat adalah keringanan untuk melakukan suatu perbuatan yang menurut asalnya harus ditinggalkan. Inilah hukum azimahnya. Contohnya boleh memakan daging babi dalam keadaan terpaksa, berdasarkan firman Allah dalam surat al-Baqorah-173.
    2. Rukhsah meninggalkan adalah keringanan untuk meninggalkan perbuatan  yang menurut hukum azimahnya adalah wajib atau nadb (sunnah). Dalam hukum asalnya adalah wajib atau sunnah. Tetapi dalam keadaan tertentu mukallaf tidak dapat melakukannya dalam arti bila melakukannya hal itu akan membahayakan dirinya. Umpamanya kebolehan meninggalkan puasa Ramadhan bagi orang yang sakit atau dalam perjalanan berdasarkan firman Allah surat al-Bawarah-184.

Termasuk pula ke dalam rukhsah ditinjau dari segi hukum asalnya ini ada dua macam rukhsah sebagai berikut:

  1. Rukhsah dalam meninggalkan hukum-hukum yang berlaku terhadap umat sebelum islam yang dinilai terlalu berat untuk dilakukan umat Nabi Muhammad, sebagaimana dalam firman Allah surat al-Bawarah-286. Biala dilihat keringanan hukum dalam hal ini dibandingkan dengan yang berlaku sebelumnya, lebih tepat disebut nasakh, meskipun demikian dalam artian luas dapat pula disebut rukhsah.
  2. Rukhsah dalam bentuk melegalisasikan beberapa bentuk akad yang tidak memenuhi syarat yang ditentukan. Adanya rukhsah ini disebabkan oleh kebutuhan umum. Umpamanya jual beli saham, karena hal ini menyalahi ketentuan umum yang melarang menjual sesuatu yang tidak ada di tangan.
  3. 2. Rukhsah ditinjau dari segi bentuk keringanan yang diberikan. Dalam hal ini keringanan ada 7 bentuk:
    1. Keringan dalam bentuk menggugurkan kewajiban seperti boleh meninggalkan shalat jumat, haji, umrah dan jihad dalam keadaan uzur.
    2. Keringanan dalam bentuk mengurangi kewajiban, seperti, mengqoshr shalat.
    3. Keringanan dalam bentuk mengganti kewajiban seperti: mengganti wushu dan mandi dengan tayammum, mengganti kewajiban berdiri dalam shalat dengan duduk.
    4. Keringanan dalam bentuk penangguhan pelaksanaan kewajiban seperti: pelaksanaan shalat zuhur dalam waktu shalat ashar pada jama’ ta’khir.
    5. Keringanan dalam bentuk mendahulukan pelaksanaan kewajiban seperti: membayar zakat fitrah sejak awal Ramadhan, mendahulukan shalat ashar dalam waktu zuhur pada jama’ taqdiim.
    6. Keringanan dalam bentuk merubah kewajiban seperti: cara-cara pelaksanaan shalat dalam perang yang berubah dari bentuk yang biasanya yang desebut shalat khauf.
    7. Keringanan dalam bentuk membolehkan mengerjakan perbuatan haram dan meninggalkan perbuatan wajib seperti yang dijelaskan di atas.
    8. 3. Rukhsah ditinjau dari segi keadaan hukum  asal sesudah berlaku padanya rukhsah: apakah masih berlaku pada waktu ini atau tidak. Dalam hal ini ulama Hanafiyah membaginya menjadi dua:
      1. Rukhasah tarfih (رخصة الترفيه) adalah rukhsah yang meringankan dari pelaksanaan hukum azimah tetapi hukum azimah berikut dalilnya ikut berlaku. Hanya pada waktu itu si mukallaf dapat meninggalkan atau melakukannya sebagai keringanan baginya. Umpamanya mengucapkan kalimat kufur yang terlarang dalam hukum azimah, akan tetapi dibolehkan bagi orang yang dipaksa selama hatinya tetap dalam keimanan, sebagaimana dalam surat al-Nahl-106.
      2. Rukhsah isqath (رخصة الإسقاط) adalah rukhsah yang menggugurkan hukum azimah terhadap pelakunyasaat keadaan rukhsah itu berlangsung. Dalam keadaan rukhsah itu maka hukum yang berlaku bagi orang yang terpaksa adalah hukum rukhsah, bukan hukum azimah karena ada saat itu hukum azimah tidak berlaku lagi atasnya. Umpamanya mengqoshr shalat.

B.3 Hukum menggunakan rukhsah

Pada dasarnya rukhsah adalah pembebasan seorang mukallaf  dari melakukan tututan hukum azimah dalam keadaan darurat. Dengan sendirinya hukumnya boleh, baik dalam mengerjakan sesuatu yang terlarang atau meninggalkan sesuatu yang perintah. Namun dalam hal menggunakan hukum rukhsah bagi orang yang memenuhi syarat untuk itu terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum menggunakan rukhsah itu tergantung kepada bentuk uzur yang menyebabkan adanya rukhsah itu. Dengan demikian menggunakan hukum rukhsah itu dapat menjadi wajib seperti memakan bangkai bagi orang yang tidak mendapat makanan halal, sedangkan ia khawatir jika tidak menggunakan rukhsah akan membahayakan dirinya. Hukum rukhsah adapula yang sunnah seperti berbuka ouasa Ramadhan bagi orang sakit dan musafir. Ada pula yang semata-mata ibahah seperti jual beli saham.[10]