BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia diciptakan selain sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk individu, manusia mempunyai berbagai macam hak dan kewajiban. Begitu pula sebagai makhluk sosial, manusia hendaknya dapat menjaga hubungan baik dengan sesama, menumbuhkan rasa kepedulian sosial serta rasa kesetiakawanan. Karena dalam kehidupan, manusia selalu membutuhkan bantuan dari orang lain. Selain itu, manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda dan saling melengkapi. Oleh karena itu, dalam Islam dianjurkan untuk melakukan wakaf, hibah serta memberi hadiah sebagai salah satu bentuk taqarrub kepada Allah dalam rangka mempersempit kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin serta menghilangkan rasa kecemburuan sosial. Islam telah mengatur hal-hal tersebut, baik dalam syarat dan rukun maupun dalam pelaksanaannya. Namun dalam kenyataannya masyarakat kita banyak yang belum mengetahui hal tersebut dan melakukan wakaf, hibah serta memberi hadiah sesuai dengan pemahaman mereka. Sebagai umat Islam, kita hendaknya mengetahui dan menjalankan syariat Islam sesuai dengan Qur’an dan hadist, oleh karena itu pengetahuan akan wakaf, hibah dan hadiah sangat diperlukan sebelum kita mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah landasan, rukun serta pelaksanaan wakaf dalam Islam? 2. Bagaimanakah rukun dan landasan dan hikmah hibah dalam Islam? 3. Bagaimanakah rukun, macam, bentuk dan keutamaan hadiah dalam Islam? 1.3 Tujuan Pembahasan 1. Untuk mengetahui landasan, rukun serta pelaksanaan wakaf dalam Islam 2. Untuk mengetahui rukun, landasan dan manfaat hibah dalam Islam 3. Untuk mengetahui rukun, macam, bentuk dan keutamaan hadiah dalam Islam BAB II PEMBAHASAN 2.1 Waqaf 2.1.1 Pengertian Wakaf Wakaf bentuk jamaknya Auqaaf berasal dari kata benda abstrak (masdar)atau kata kerja (fi`il) yang dapat berfungsi sebagai kata kerja transitif (fi`il Muta`addi) atau kata kerja intrasitif (fi`il lazim), berarti menahan, atau menghentikan sesuatu dan berdiam ditempat. Dalam literature fiqih dapat dikenal juga istilah al-habsu yang artinya menahan (Zaini Abdul Malik dan Lalu Rus`an Sujak:2001). Menurut istilah wakaf didefinisikan sebagai menahan harta yang mungkin diambil manfaatnya tanpa menghabiskan atau merusak bendanya dan digunakan untuk kebaikan. (K.H. Didin Hafidhuddin.2003:120) banyak lagi pendapat para ulama tentang wakaf menurut istilah yang  dimaksud  dengan  wakaf  sebagaimana  yang  didefinisikan  oleh  para  ulama  adalah  sebagai  berikut: 1.  Muhammad  al  Syarbini  al  Khatib  berpendapat  bahwa  yang  dimaksud dengan wakaf  ialah   “Penahanan  harta  yang  memungkinkan  untuk dimanfaatkan disertai  dengan  kekalnya  zat  benda  dengan  memutuskan (memotong) tasharruf  (penggolongan)  dalam  penjagaannya  atas  Mushrif (pengelola)  yang  dibolehkan  adanya.” 2. Imam  Taqiy  al  Din  Abi  Bakr  bin  Muhammad  al  Husaini  dalam  kitab  Kifayat  al  Akhyar  berpendapat  bahwa  yang  dimaksud  dengan  wakaf  adalah  “Penahanan  harta  yang  memungkinkan  untuk  dimanfaatkan  dengan  kekalnya  benda  (zatnya),  dilarang  untuk  digolongkan  zatnya  dan  dikelola  manfaatnya  dalam  kebaikan  untuk  mendekatkan  diri  pada  Allah  SWT.” 3. Ahmad  Azhar  Basyir  berpendapat  bahwa  yang  dimaksud  dengan  wakaf  ialah,  menahan  harta  yang  mungkin  dapat  diambil  orang  manfaatnya  tidak  musnah  seketika,  dan  untuk  penggunaan  yang  dibolehkan,  serta  dimaksudkan  untuk  mendapat  ridha  Allah. 4. Idris  Ahmad  berpendapat  bahwa  yang  dimaksud  dengan  wakaf  ialah,  menahan  harta  yang  mungkin  dapat  diambil  orang  manfaatnya, kekalnya  zatnya  dan  menyerahkannya  ke  tempat-tempat  yang  telah  ditentukan  syara’,  serta  dilarang  leluasa  pada  benda-benda  yang  dimanfaatkannya  itu. 2.1.2 Dasar/ Landasan  Hukum  Wakaf Para ulama mengemukakan beberapa ayat yang bersifat umum yang dijadikan landasan adanya syariat wakaf. Adapun  yang  dinyatakan  sebagai  dasar  hukum  wakaf  oleh  para  ulama, dalam Al  Quran  surat  Al  Hajj:  77              Artinya: Hai orang-orang yang beriman, rukulah kamu, sujudlah kamu sembahlah tuhanmu, dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendepatkan kemenangan. Dalam  ayat  lain  yaitu  surat  Ali  Imron:  92,  Allah  berfirman:                  Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai pada kebajikan (Yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah maha mengetahuinya. Seoarang sahabat Nabi yang bernama Abu Thalhah, ketika mendengar ayat tersebut, beliau langsung mewakafkan hartanya yang dicintainya berupa sebidang kerbun kurma. “…Kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama)….(al-Ahzab:6) Akan  mencapai  kebaikan  bila  kamu  menyedekahkan  apa  yang  masih  kamu  cintai. Dalam  salah  satu  hadits  yang  diriwayatkan  oleh  Imam  jama’ah  kecuali  Bukhari  dan  Ibnu  Majah  dari  Abu  Hurairah  ra  sesungguhnya  Nabi  saw  bersabda: Apabila  mati  seorang   manusia,  maka  terputuslah  pahala  perbuatannya,  kecuali  tiga  perkara:  shodaqoh  jariyah  (wakaf),  ilmu  yang  dimanfaatkan,  baik  dengan  cara  mengajar  maupun  dengan  karangan  dan  anak  yang  sholeh  yang  mendoakan  orang  tuanya. (HR Muslim dari Abu Hurairah) Para ulama menafsirkan kata-kata sedekah jariyah (sedekah yang terus mengalirkan pahala) dalam hadits tersebut, dengan wakaf. Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang membeli sumur rumah, maka baginya surga”.(H.R Bukhari, Turmuzi, Dan Nasa`I dari Utsman bin Affan) Hadits tersebut menjelaskan bahwa Utsman Bin Affan membeli sumur di Madinah, kemudian ia mewakafkan untuk kepentingan Umum, dan beliau sendiri menggunakannya juga untuk kepentingan sehari-hari. Hadits riwayat Imam Muslim Dan Ibnu Umar, ia berkata, Umar mempunyai tanah di khaibar, kemudian ia dating kepada Rasulullah saw. Meminta untuk mengolahnya, sambil berkata, Ya Rasulullah, aku memiliki sebidang tanah di khaibar, tetapi aku belum mengambil manfaatnya, bagaiman aku harus berbuat?’ Nabi bersabdah, jika kamu menginginkannya maka tahanlah tanah itu sedekahkan hasilnya. Tanah tersebut tidak boleh dijual atau diperjualbelikan, di hibahkan, atau diwariskan’.maka ia menyedekahkan kepada fakir miskin, karib, kerabat, budak beliau, dan ibnu sabil. Tidak berdosa bagi orang yang mengurus harta tersebut untuk menggunakan sekedar keperluannya tanpa maksud memiliki harta itu, (H.R. Muttafakun Alaih). Hadits tersebut merupakan nash yang sahih (Jelas) yang secara umum dijadikan landasan utama adanya syariat wakaf. (Didik Hafidhuddin, 2003:122-123 ) 2.1.3 Rukun Wakaf Rukun Wakaf Ada empat rukun yang mesti dipenuhi dalam berwakaf. Pertama, orang yang berwakaf (al-waqif). Kedua, benda yang diwakafkan (al-mauquf). Ketiga, orang yang menerima manfaat wakaf (al-mauquf ‘alaihi). Keempat, lafadz atau ikrar wakaf (sighah). (Mohammad Daud Ali,1988:84) Penjelasan masing-masing unsur wakaf tersebut adalah sebagai berikut: 2.1.4 Syarat-Syarat Wakaf 1. Syarat-syarat orang yang berwakaf (al-waqif)Syarat-syarat al-waqif ada empat, yaitu: pertama orang yang berwakaf ini mestilah memiliki secara penuh harta itu, artinya dia merdeka untuk mewakafkan harta itu kepada sesiapa yang ia kehendaki. Kedua dia mestilah orang yang berakal, tak sah wakaf orang bodoh, orang gila, atau orang yang sedang mabuk. Ketiga dia mestilah baligh. Dan keempat dia mestilah orang yang mampu bertindak secara hukum (rasyid). Implikasinya orang bodoh, orang yang sedang muflis dan orang lemah ingatan tidak sah mewakafkan hartanya. 2. Syarat-syarat harta yang diwakafkan (al-mauquf)Harta yang diwakafkan itu tidak sah dipindahmilikkan, kecuali apabila ia memenuhi beberapa persyaratan yang ditentukan oleh ah; pertama barang yang diwakafkan itu mestilah barang yang berharga Kedua, harta yang diwakafkan itu mestilah diketahui kadarnya. Jadi apabila harta itu tidak diketahui jumlahnya (majhul), maka pengalihan milik pada ketika itu tidak sah. Ketiga, harta yang diwakafkan itu pasti dimiliki oleh orang yang berwakaf (wakif). Keempat, harta itu mestilah berdiri sendiri, tidak melekat kepada harta lain (mufarrazan) atau disebut juga dengan istilah (ghaira shai’). 3. Syarat-syarat orang yang menerima manfaat wakaf (al-mauquf alaih) Dari segi klasifikasinya orang yang menerima wakaf ini ada dua macam, pertama tertentu (mu’ayyan) dan tidak tertentu (ghaira mu’ayyan). Yang dimasudkan dengan tertentu ialah, jelas orang yang menerima wakaf itu, apakah seorang, dua orang atau satu kumpulan yang semuanya tertentu dan tidak boleh dirubah. Sedangkan yang tidak tentu maksudnya tempat berwakaf itu tidak ditentukan secara terperinci, umpamanya seseorang sesorang untuk orang fakir, miskin, tempat ibadah, dll. Persyaratan bagi orang yang menerima wakaf tertentu ini (al-mawquf mu’ayyan) bahwa ia mestilah orang yang boleh untuk memiliki harta (ahlan li al-tamlik), Maka orang muslim, merdeka dan kafir zimmi yang memenuhi syarat ini boleh memiliki harta wakaf. Adapun orang bodoh, hamba sahaya, dan orang gila tidak sah menerima wakaf. Syarat-syarat yang berkaitan dengan ghaira mu’ayyan; pertama ialah bahwa yang akan menerima wakaf itu mestilah dapat menjadikan wakaf itu untuk kebaikan yang dengannya dapat mendekatkan diri kepada Allah. Dan wakaf ini hanya ditujukan untuk kepentingan Islam saja. 4. Syarat-syarat Shigah Berkaitan dengan isi ucapan (sighah) perlu ada beberapa syarat. Pertama, ucapan itu mestilah mengandungi kata-kata yang menunjukKan kekalnya (ta’bid). Tidak sah wakaf kalau ucapan dengan batas waktu tertentu. Kedua, ucapan itu dapat direalisasikan segera (tanjiz), tanpa disangkutkan atau digantungkan kepada syarat tertentu. Ketiga, ucapan itu bersifat pasti. Keempat, ucapan itu tidak diikuti oleh syarat yang membatalkan. Apabila semua persyaratan diatas dapat terpenuhi maka penguasaan atas tanah wakaf bagi penerima wakaf adalah sah. Pewakaf tidak dapat lagi menarik balik pemilikan harta itu telah berpindah kepada Allah dan penguasaan harta tersebut adalah orang yang menerima wakaf secara umum ia dianggap pemiliknya tapi bersifat ghaira tammah. (mohammad daud ali,1988:88-89) 2.1.5 Hikmah dan Manfaat Wakaf Banyak hikmah dan manfaat yang dapat diambil dari kegiatan wakaf, baik bagi wakif maupun bagi masyarakat secara lebih luas, antara lain sebagai berikut : 1) Menunjukkan kepedian dan tanggung jawab terhadap kebutuhan masyarakat. 2) Keuntungan moral bagi wakif dengan mendapatkan pahala yang akan mengalir terus, walaupun wakif sudah meninggal dunia. 3) Memperbanyak aset-aset yang digunakan untuk kepentingan umum yang sesuai dengan ajaran islam. 4) Merupakan sumber dana potensial bagi kepentingan kualitas umat, seperti pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan sebagainya. 2.2 Hibah 2.2.1 Pengertian dan Dasar Hukum Hibah Hibah merupakan bentuk mashdar dari kata (وهب- يهب – هبة). Asalnya adalah (وهبة), yaitu dari (وهب الشيئ) yang artinya “memberikan sesuatu”.1 Dalam penggunaannya, hibah merupakan bentuk pemberian sukerela kepada orang lain, baik pemberian itu berupa harta atau yang lain. Dalam bidang hukum syara’, hibah didefinisikan sebagai akad yang dilakukan dengan maksud memindahkan milik seseorang kepada orang lain ketika masih hidup dan tanpa imbalan.2 Landasan hibah terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 177 …..          ….. “…..dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan)….” Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa orang yang memberikan harta yang dicintainya pada kerabatnya adalah termasuk orang yang beriman dan bertakwa. Sehingga jelas bahwa hibah atau member pada orang lain merupakan sesuatu yang dianjurkan. 2.2.2 Rukun Hibah Rukun hibah ada 3, yaitu pemberi hibah (al-wahib), barang yang dihibahkan dan ijab kabul. 1) Pemberi hibah Pemberi hibah disyaratkan sebagai berikut: a. Memiliki apa yang dihibahkan b. Bukan orang yang dibatasi haknya karena suatu alasan c. Dewasa, sebab anak-anak masih kurang kemampuannya d. Tidak dipaksa, sebab hibah itu akad yang mempersyaratkan keridhaan dalam keabsahannya. Berdasarkan pendapat Abu Khaththob dan kebanyakan sahabat Imam Syafi’i, apabila seseorang mati yang masih berstatus penghibah, maka ahli warislah yang bertindak selaku pemberi izin untuk memberikan hibah tersebut kepada yang penerima hibah. Hal ini menunjukkan bahwa hibah tidak batal karena meninggalnya penghibah. Dalam pasal 210 Kompilasi Hukum Islam disebutkan bahwa orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun, berakal sehat dan tanpa adanya paksaan dapat menghibahkan sebanyak-banyaknya 1/3 harta bendanya kepada orang lain atau lembaga, serta di hadapan dua orang saksi untuk dimiliki (ayat 2). Bagi orang yang diberi hibah disyaratkan benar-benar ada pada waktu diberi hibah.3 2) Barang yang dihibahkan Syarat barang yang dihibahkan antara lain: a. Benar-benar ada b. Harta yang bernilai c. Dapat dimiliki dzatnya, yakni apa yang biasanya dimiliki, diterima peredarannya dan kepemilikannya dapat berpindah tangan d. Tidak berhubungan dengan tempat milik penghibah dan wajib dipisahkan serta diserahkan kepada yang diberi hibah sehingga menjadi milik baginya e. Dikhususkan, yakni yang dihibahkan itu bukan milik umum. Namun Imam Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Abu Tsaur tidak mensyaratkan demikian, dan menurut mereka hibah untuk umum yang tidak dibagi-bagi itu sah. Sesuatu yang boleh diperjualbelikan dari benda-benda boleh juga dihibahkan, karena hibah itu merupakan suatu akad dengan maksud memiliki suatu benda, maka benda yang dihibahkan itu menjadi hak milik seperti memiliki benda yang diperjualbelikan. 3) Ijab Kabul Para imam madzhab sepakat, hibah menjadi sah hukumnya jika dilakukan dengan tiga perkara, yakni ijab, kabul dan qabdhu (serah terima barang yang dihibahkan).4 Oleh karena itu, menurut pendapat Hanafi, Syafi’i, dan Hambali hibah tidak sah kecuali berkumpulnya ketiga perkara tersebut. Sedangkan menurut imam Maliki, sah dan lazimnya suatu hibah itu tidak memerlukan serah terima barang, tetapi cukup adanya ijab dan kabul saja. 2.2.3 Macam-macam hibah Hibah secara umum dibagi menjadi 2, yakni hibah barang dan hibah manfaat.5 a. Hibah barang Hibah barang ada yang dimaksudkan untuk mencari pahala, ada pula yang tidak dimaksudkan untuk mencari pahala. Pahala yang dimaksud ada yang ditujukan pada Allah, ada pula yang ditujukan untuk memperoleh kerelaan (kesenangan dan simpati) makhluk. Hibah yang tidak bertujuan untuk mencari pahala itu boleh tanpa ada perselisihan pendapat tetapi keetentuan hukumnya masih diperselisihkan. Mengenai hibah yang bertujuan mencari pahala, fuqaha memperselisihkannya. Malik dan Abu Hanifah memperbolehkannya, tetapi Syafi’i melarangnya. b. Hibah manfaat Di antara hibah manfaat ialah hibah muajjalah (hibah bertempo), arriyah (pinjaman), atau minhah (pemberian). Ada pula hibah yang disyaratkan masanya selama orang yang diberi hibah masih hidup dan disbut hibah umri (hibah seumur hidup). Seperti jika seseorang memberikan tempat tinggal kepada orang lain sepanjang hidupnya. Hibah seperti ini diperselisihkan oleh para ulama. 2.2.4 Hikmah Hibah Hibah mempunyai hikmah antara lain: a. Menghidupkan rasa kebersamaan dan tolong menolong b. Menumbuhkan sifat sosial dan kedermawanan c. Mendorong manusia berbuat baik d. Menjalin hubungan antar sesama manusia e. Salah satu cara pemerataan rizki atau pendapatan (Moh. Daud Ali, 1985: 6-24) 2.3 Hadiah 2.3.1 Pengertian Hadiah Menurut pendapat salah seorang Syafi’iyah –Najmuddin Ahmad Ibnu Ar-Rif’ah dalam kitabnya Kifayah Rasulullah SAW Fi Syarh At-Tanbih, hadiah adalah pemberian kepada orang lain yang diberi sebagai satu bentuk penghormatan dan untuk memupuk silaturrahim. Hadist tentang hadiah diriwayatkan oleh Baghdadi (4/88) dari Aisyah. Hindi juga menyebutkannya dalam Kanz Al Ummal (15093) yang artinya “Saling bertukar hadiahlah, karena hadiah akan menghilangkan kedengkian”. Menurut pendapat Malikiyah, hadiah adalah pemindahan kepemilikan sesuatu semata-mata karena Allah SWT. Hadiah dimaksudkan untuk memperoleh sesuatu dari orang yang diberi, atau untuk hubungan kekeluargaan dan persahabatan.6 Menurut pendapat madzhab Hambali, hadiah adalah apabila suatu pemberian dimaksudkan untuk memuliakan seseorang, untuk menunjukkan rasa sayang, atau sebagai penghargaan. Dalam madzhab ini, hibah, hadiah, sedekah, dan athiyah mempunyai makna yang sama secara zahir, yaitu kepemilikan suatu barang bergerak tanpa ada penggantian. Yang membedakan semua hal tersebut adalah niat.7 2.3.2 Rukun Hadiah Rukun hadiah adalah adanya ijab (penyerahan) dari orang yang menghadiahkan (memberi) karena hadiah merupakan salah satu pemberian kepada orang yang diberi (semata-mata karena Allah SWT), dengan adanya qabul (penerimaan) dari orang yang menerima. 2.3.3 Macam-macam Hadiah 1) Halal dari kedua belah pihak, karena dilakukan atas dasar suka. 2) Haram dari kedua belah pihak, karena hadiahnya dimaksudkan untuk membantunya dalam kezhaliman. 3) Haram untuk yang menerima karena untuk mengungkap sebuah perbuatan zhalim dan halal untuk yang memberi. 2.3.4 Bentuk – bentuk Hadiah Sebagian ulama membagi pemberian hadiah berdasarkan orang yang diberi kedalam 3 bagian : 1) Pemberian seseorang kepada orang yang dibawahnya, seperti pembantu dan semacamnya sebagai penghormatan dan kelembutan atasnya. Pemberian seperti ini tidak menghendaki pembalasan. 2) Pemberian dari orang kecil kepada orang yang diatasnya, yang dimaksudkan untuk mencari perlindungan dan bantuan. Pemberian semacam ini wajib dibalas. 3) Pemberian dari seseorang kepada seseorang yang derajatnya sama. Pada umumnya hal itu dilakukan sebagai perwujudan kasih sayang dan silaturrahim. Pemberian semacam ini ada yang mengatakan perlu diberikan balasan. 2.3.5 Keutamaan hadiah 1) Hadiah dapat menghilangkan kemarahan, kedengkian, dan kebencian. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, yang artinya, “Saling bertukar hadiahlah, karena hadiah dapat menghilangkan rasa marah yang bersemayam dalam hati. Janganlah seseorang menghina tetangganya dan (berikanlah hadiah) walaupun hanya berupa tulang yang sedikit dagingnya. Al Munawi dalam kitab Syarh Al Jami’ Ash-Shagir berkata, “yang dimaksud dengan wahar adalah kebencian dalam hati, permusuhan dan rasa iri. Hal ini terjadi karena hati manusia dihiasi dengan rasa cinta kepada harta dan kesenangan, sehingga apabila ia memperolehnya maka ia akan merasa gembira dan berkuranglah kesedihannya sebesar kebahagiaan yang ia dapatkan.8 2) Hadiah akan menumbuhkan rasa cinta. Imam Suyuhti meriwayatkan dalam kitab Jami’ dan Tarikh(nya) dari Ibnu Asakir, dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya, “Saling bertukar hadiahlah, karena itu akan menumbuhkan rasa cinta diantara kalian. Saling berjabattanganlah, karena itu akan menghilangkan kebencian dalam hatimu.”9 2.3.6 Hukum Hadiah untuk Pemimpin Menurut Pendapat Mawardi. Imam Mawardi dalam Al Hawi10 menyebutkan bahwa hadiah untuk pemimpin tiga macam, yaitu : 1) Memberi suap pada pemimpin yang akan menolongnya, dengan catatan akan membantunya dalam kebenaran, atau membayar demi suatu hal yang tidak baik, atau mensyaratkan sesuatu yang batil, yang hukumnya jelas suap yang diharamkan. 2) Memberi sesuatu pada pemimpin yang pernah membantunya (sebelum memegang jabatan). Apabila jumlahnya sama dengan penghasilannya sebelum menjabat dan tidak disertai dengan tendensi, maka boleh menerima. Kalau pemberian tersebut ada tendensinya, maka tidak boleh diterima sebelum pelaksanaan peradilan, tetapi boleh diterima setelah proses peradilan terlaksana. Hadiah yang jumlahnya lebih dari biasanya dan kelebihannya sama bentuknya dengan hadiah itu sendiri, maka boleh diterima (karena jenisnya sama). Tapi kalau bentuknya lain dengan bentuk hadiah, maka tidak boleh diterima. 3) Memberi kepada pemimpin (yang dahulunya tidak pernah menolongnya sebelum menjadi pemimpin). Apabila pemberian tersebut didasari oleh posisi (pemimpin yang diberi) dan baiknya pelayanan sang pemimpin (baik berbentuk wajib dalam kapasitasnya sebagai imam maupun hanya sekedar membantu), maka dianggap sebagai suap, sehingga diharamkan untuk mengambilnya. BAB III PENUTUP Kesimpulan Wakaf didefinisikan sebagai menahan harta yang mungkin diambil manfaatnya tanpa menghabiskan atau merusak bendanya dan digunakan untuk kebaikan. Rukun Wakaf Ada empat rukun yang mesti dipenuhi dalam berwakaf. Pertama, orang yang berwakaf (al-waqif). Kedua, benda yang diwakafkan (al-mauquf). Ketiga, orang yang menerima manfaat wakaf (al-mauquf ‘alaihi). Keempat, lafadz atau ikrar wakaf (sighah). Hibah didefinisikan sebagai akad yang dilakukan dengan maksud memindahkan milik seseorang kepada orang lain ketika masih hidup dan tanpa imbalan. Rukun hibah ada 3, yaitu pemberi hibah (al-wahib), barang yang dihibahkan dan ijab kabul. Hadiah adalah pemberian kepada orang lain yang diberi sebagai satu bentuk penghormatan dan untuk memupuk silaturrahim. Rukun hadiah adalah adanya ijab (penyerahan) dari orang yang menghadiahkan (memberi) karena hadiah merupakan salah satu pemberian kepada orang yang diberi (semata-mata karena Allah SWT), dengan adanya qabul (penerimaan) dari orang yang menerima. DAFTAR PUSTAKA Al-‘Allamah. 2010. Fiqih Empat Mazhab. Bandung: Hasyimi Al-‘Utsaimin. 2008. Panduan Wakaf, Hibah dan Wasiat. Jakarta: Pustaka Imam As-Syafi’i Ali, Muhammad Daud. 1988. Sistem Ekonomi Islam Zakat Dan wakaf. Jakarta: Universitas Indonesia. Chuzaimah dan Hafiz. 1997. Problematika Hukum Islam Kontemporer. Jakarta: PT Pustaka Firdaus Ghani, Abdul. 2003. Hukum Suap dan Hadiah. Jakarta: Cendekia Sentra Muslim Hafidhuddin, Didin. 2003.Islam Aplikatif. Jakarta: PT Gema Insani Rusyid, Ibnu. 2007. Bidayatul Mujtahid. Jakarta: Pustaka Amani Shomad, Abd. 2010. Penormaan Prinsip Syariah dalam Hukum Indonesia. Jakarta: Prenada Media Group Syafei Rachmat. 2001. Fiqih Muamalah. Bandung: CV Pustaka Setia Usman, Rachmadi. 2009. Hokum perwakafan di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.

Author: Hanif  |  Category: Tak Berkategori

Leave a Reply