Seni bagaimanapun juga merupakan bagian dari kehidupan di dunia dan  tidak dapat dipisahkan begitu saja dari kehidupan umat manusia. Pada dasarnya seni adalah fitrah manusia dan menjadi wujud dari pikiran, perasaan, keimanan dan karya manusia. Karena itulah Islam sebagai agama fitrah dapat menerima kehadiran seni dalam kehidupan manusia yang merupakan bagian dari fitrahnya. Sebagai bukti ada hadis Nabi Saw. yang menyatakan : ” Allah adalah dzat yang Maha Indah, dan Dia mencintai Keindahan”.

Baik dan buruknya pengaruh sebuah kesenian terhadap moral bangsa/masyarakat sangat tergantung dari mana kesenian itu berasal. Kalau kesenian itu tumbuh dari nilai-nilai keislaman dan keimanan, maka ia akan tumbuh menjadi pilar keimanan. Akan tetapi sebaliknya kalau seni itu tumbuh dari bibit nafsu dan kekufuran, maka iapun akan tumbuh menjadi sumber kekufuran dan pengobar api kemaksiatan. Pendek kata, Islami tidaknya sebuah seni harus dikembalikan pada pesan-pesan moral yang bisa disampaikan.  Allah berfirman : Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah, Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali”. (Surat as-Syu’ara [26] : 224-227)

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa ada sebagian seniman-seniman yang hidupnya tidak teratur dan tidak mau diatur, penyair-penyair itu suka mempermainkan kata-kata dan tidak mempunyai tujuan yang baik dan tidak punya pendirian. Mereka suka mengatakan tetapi tidak pernah mereka kerjakan. Tetapi Allah juga menjelaskan bahwa tidak semua seniman demikian. Masih ada seniman yang baik, yang beriman dan beramal shaleh.

Imam Al-Ghazali mengatakan, untaian syair sama kedudukannya dengan kata-kata  maupun ucapan biasa, yang baik darinya dianggap baik dan yang buruk juga dianggap buruk, ” karena itu bisa saja kegiatan seni budaya suatu bangsa menjadi bagian dari ibadah , kalau diniatkan karena Allah.”

Pengertian  Seni

Seni bagi manusia adalah potensi dalam mengekspresi keindahan untuk dinikmati. Kemampuan manusia dalam mengekspresikan seninya, merupakan salah satu perbedaan dengan makhluk lainnya. Jika demikian, pasti Islam (baca: al-Qur’an) mendorongnya selama mendukung fitrah manusia yang suci yang cinta pada keindahan.

Abdurrahman Al Bagdadi dalam Ensiklopedi Indonesia  mengatakan  bahwa seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantara alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indra pendengaran (seni suara), penglihatan (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantara gerak (seni tari, drama). Sidi Gazalba menjelaskan bahwa seni merupakan tata hubungan manusia dalam bentuk-bentuk yang menyenangkan. Selain itu menurutnya seni dilahirkan oleh agama itu sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwa seni adalah adalah hasil dari cipta karsa dan citra manusia yang menyenangkan yang dilahirkan oleh agama maupun tata hubungan manusia.

Selanjutnya Quraish Shihab mengatakan bahwa seni merupakan ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan. Ia lahir dari sisi terdalam manusia didorong oleh kecenderungan seniman kepada yang indah, apapun jenis keindahan itu. Ia merupakan fitrah manusia yang telah ditentukan Allah. (QS. Ar-Rum, [30]: 30)

Hukum Seni Suara/Seni Musik dalam Pandangan Para Ulama

Dalam memberikan fatwa hukum tentang seni suara atau musik  tampaknya para ulama ada yang mengharamkan dan ada juga yang membolehkan. Imam Ibnu Al-Jauzi, Imam Qurthubi, dan Imam Asy-Syaukani telah mencantumkan beberapa dalil tentang haramnya menyanyi dan penggunaan alat-alat musik, antara lain : Pertama, Firman Allah SWT “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (Q.S Lukman : 6). Kedua, Hadits Bukhari yang diriwayatkan dari Malik Al-Asy’ari yang artinya :”Sesungguhnya akan terdapat dikalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutra, arak dan alat permainan (musik). Kemudian segolongan (dari kaum muslimin) akan pergi ketebing bukit yang tinggi, lalu pengembala dengan ternak kambingnya mengunjungi golongan itu. Lalu mereka didatangi oleh seorang fakir untuk meminta sesuatu. Ketika itu kemudian mereka berkata, “Datanglah kepada kami esok hari”. Pada malam hari Allah membinasakan mereka, dan menghempaskan bukit itu di atas mereka. Sisa mereka yang tidak binasa pada malam tersebut ditukar rupanya menjadi monyet dan babi hingga hari kiamat.”  Selain landasan di atas, ada juga beberapa alasan para ulama fiqh mutaakhirin lebih bersikap mengharamkan lagu-lagu terutama dengan alat-alat musik antara lain untuk mengambil sikap kehati-hatian dan karena lagu-laku sekarang ini kebanyakkannya menyimpang dan keluar batas seperti lagu-lagu porno, mengabaikan shalat, mengikuti syahwat dan mencampuradukan lagu  dengan  kemaksiatan  ditambah  lagi  dengan  sambil  minuman  keras,   berkata  bohong  dan   tidak konsisten dengan yang mereka ucapkan, penampilan yang seksi dan menampilkan aurat dan lain sebagainya.

Selain golongan yang mengharamkan seni, ada juga golongan yang membolehkan nyanyian dan main musik. Imam Malik, Imam Ja’far, Imam al-Ghazali, dan Imam Abu Daud Azh Zhahiri telah mencantumkan berbagai dalil tentang nyanyian dan menggunakan alat-alat musik. Alasan-alasan mereka antara  lain :  Pertama hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a katanya:  “Pada suatu hari Rasulullah masuk ke tempatku, ketika itu di sampingku ada dua gadis perempuan budak yang sedang mendendangkan nyanyian (tentang hari bu’ats). Kulihat Rasulullah SAW berbaring tetapi dengan memalingkan mukanya. Pada saat itu Abu Bakar masuk dan ia marah kepadaku. Katanya, “Di rumah Nabi ada seruling setan?” mendengar seruan itu Nabi lalu menghadapkan mukanya kepada Abu Bakar seraya berkata : “Biaralah keduanya hai Abu Bakar”. Kedua, hadits riwayat Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra. Katanya : “Aku pernah mengawinkan seorang wanita dengan seorang laki-laki dari kalangan Anshor. Maka Nabi SAW bersabda : ”Hai Aisyah, tidak adakah padamu hiburan (nyanyian karena sesungguhnya orang-orang Anshor senang dengan hiburan (nyanyian)”.

Seni dan Beberapa Batasannya

Prof Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan bahwa  tidak semua lagu diperbolehkan. Oleh karena itu ada beberapa batasan yang harus diperhatikan yakni : temanya harus sesuai dengan adab dan ajaran Islam seperti lagu yang tidak membangkitkan seks dan birahi. Cara melagukankan jangan membangkitkan rangsangan bagi orang yang menyaksikan. Lagu-lagu tidak boleh disertai dengan perbuatan yang diharamkan seperti meminum minuman keras, bercampur laki-laki dan perempuan (ikhtilat), tabarruj (menampakkan aurat). Nyanyian jangan berlebihan terutama yang menyentuh perasaan yang berbicara tentang cinta dan kerinduan yang bersifat material. Setiap orang yang mendengarkan lagu mengenal dengan baik dirinya dan mampu memberi fatwa padanya. Jangan justru dapat membuat fitnah, membuat banyak berkhayal dan menjerumuskan dia pada perbuatan hewani.

Selanjutnya Quraish Shihab mengatakan bahwa  tidak semua keindahan atau seni dapat ditolerir oleh Islam. Seni atau keindahan itu terlarang apabila mengandung unsur-unsur : dapat merusak agama serta dapat membawa kepada kelalaian dan taghut; dapat merusak jiwa; dapat merusak kehormatan; dapat merusak harta benda; dan apabila dapat merusak keturunan.

Imam al-Ghazali yang dikutip Yusuf Qardhawi menjelaskan bahwa ada 5 (lima) faktor yang dapat mengalihkan mendengarkan musik atau lagu dari yang mubah menjadi haram yakni : pertama,  faktor yang ada pada penyanyi, yaitu seorang wanita yang tidak halal untuk dipandang dan dikhawatirkan menjadi fitnah apabila mendengarkannya. Jadi titik tekannya adalah pengharam takut kalau terjadi fitnah,. Kedua, faktor yang ada pada alat  musik tersebut, yaitu apabila menunjukan lambang para banci alat tersebut yakni seruling, autar dan gendang kecil. Ketiga, faktor yang    ada pada isi lagu, bila di dalamnya terkandung kata-kata mencaci maki dan kata-kata kotor, dusta. Keempat, faktor yang ada pada pendengar, yakni ketika mendengarkan lagu atau nyanyian tersebut dapat mendatangkan syahwat, Kelima, apabila orang yang mendengar lagu tersebut mengalahkan cintanya pada Allah.

Demikian tulisan ini disampaikan, semuga bermanfaat. Amin.