BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Negara kita Indonesia saat ini sedang berkembang dan juga sedang membangun. Oleh karena itu dibutuhkan manusia-manusia yang berfikiran  kedepan dan manusia-manusia pembangunan. Manusia yang ingin berkembang dan manusia pembangunan ini yang menjadi sasaran yang ingin diwujudkan oleh pendidikan nasional kita. Dalam GBHN telah dirumuskan tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

Pendidikan di Indonesia mulai zaman penjajahan Belanda sampai sekarang telah menerapkan atau menggunakan beberapa kurikulum, antara lain kurikulum tahun 1947. Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah leer plan   ( dalam bahasa Belanda ) artinya rencana pelajaran, lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris). Asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950.  Kurikulum 1952,  Kurikulum 1968, kurikulum 1975, Kurikulum 1984 yang menerapkan model Cara  Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL), kurukulum 1994 dan suplemen 1999, kurikulum 2004, dengan bahasa kerennya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Dan  di awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau kurikulum 2006.

Namun agaknya kurikulum di negara kita belum mendapatkan porsi yang cukup. Padahal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menciptakan tradisi dan budaya baru dalam peradapan umat manusia. Kita hanya dengan merenung di depan computer pada tempat yang sempit, kita dapat membuka cakrawala dunia yang sangat luas. Kita dapat menjangkau beribu-ribu kilometer jauhnya tentang sesuatu hal. Dengan adanya ilmu pengetahuan dan teknologi segala aktivfitas akan lebih mudah dan cepat, termasuk aktivitas  pendidikan.

Pendidikan merupakan sumber kemajuan bangsa dan Negara yang sangat menentukan daya saing bangsa. Pengembangan kurikulum yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi , pengadaan sarpras, peningkatan SDM,  semuanya menjadi tanggung jawab bersama. Pengembangan kurikulum adalah salah sqatu langkah strategis dalam menyongsong masa depan pendidikan Indonesia.

A.      Hakekat Kurikulum

Dalam memahami hakekat kurikulum antara satu orang dengan orang lain atau satu pakar dengan pakar lain akan berbeda. Pada hakekatnya kurikulum sama artinya dengan kurikulum . Secara garis besar pengertian hakekat kurikulum  dapat dibagi menjadi dua yaitu:

1.      Pengertian kurikulum menurut pandangan tradisional

Menurut Oemar Hamalik kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh murid untuk memperoleh ijazah. Menurut S. Nasution kurikulum diartikan sebagai mata pelajaran yang diajarkan disekolah.  Pengertian kurikulum yang dianggap tradsional ini masih banyak dianut  sampai sekarang juga termasuk Indonesia. Dari definisi kurikulum secara tradisional Nampak jelas bahwa adanya kecenderungan penekanan pada rencana pelajaran untuk menyampaikan  mata pelajaran yang masih mengandung kebudayaan nenek moyang. Kurikulum juga diartikan secara sempit hanya pada penyampaian mata pelajaran kepada anak didik.

2.      Pengertian menurut pandangan modern

Pada saat ini kurikulum tidak hanya sebatas  sebagai segala hal yang berhubungan dengan pendidikan, tetapi sudah lebih luas lagi yaitu sebagai ajang politik, dan sudah menjadi bekal para lulusan dalam menjawab tuntutan masyarakat.

Menurut Hilda Taba dalam bukunya Curriculum Development, menuliskan  “ Curriculum is, after all, a way of preparing young people to participate as productive members of our culture” kurikulum adalah cara mempersiapkan manusia untuk berpartisipasi sebagai anggota yang produktif sari satu budaya.[1] J. Galen Saylor, dan William M. Alexander,  “the curriculum is the sun totral of school’s efforts to in fluence learning. Whether in the classroom, on the playground, or out of school.” Jadi segala usaha sekolah untuk mempengeruhi anak itu belajar, apakah dalam ruangan kelas, dihalaman sekolah, atau diluar sekolah termasuk kurikulum.[2] B. Othenal Smith, W.O. Stanley, dan J. Harlan Shores, “a sequence of potential experiences set up in the school for the purpose of disciplining children and yout in group ways of thinking an acting” kurikulum sebagai sejumlah pengalaman yang secara potensional dapat diberikan kepada anak, yang diperlukan agar mereka dapat berfikir dan berkelakuan sesuai dengan masyarakatnya. [3]

Abd. Syukur Ibrahim Solchan Basenang Saliwangi, memandang kurikulum sebagai suatu rencana atau bahan tertulis yang dapat dijadikan pedoman bagi para pelaksana (guru) sekolah dan juga sebagai program pendidikan serta dinyatakan dalam bentuk yang lebih umum sifatnya.[4] Alie Miel mengatakan bahwa kurikulum meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, pengetahuan, kecakapan, dan sikap orang-orang yang meladeni dan diladeni sekolah, ialah si anak didi, masyarakat dan pendidik (termasuk tukang kebun, juru tulis, juru rawat sekolah dan pegawai-pegawai sekolah yang lain yang ada hubungannya dengan murid-murid).[5] Donal F. Gay dalam Asnah Said merumuskan kurikulum adalah:

1.   Kurukulum terdiri atas sejumlah bahan pelajaran yang secara logis.

2. Kurukulum terdiri atas pengalaman belajar yang direncanakan untuk membawa      perubahan perilaku anak.

3. Kurikulum merupakan disain kelompok social untuk menjadi pengalaman belajar anak disekolah.

4.  kurikulum terdiriatas semua pengalaman anak yang mereka lakukan dan rasakan di bawah bimbingan belajar.[6]

David pratt, “curriculum, is organized set of formal educational and or training intention”. Maksudnya kurikulum  yaitu seperangkat organisasi pendidikan formal atau pusat-pusat pelatihan. Kemudian membuat implikasi secara lebih eksplisit tentang definisi yang dikemukakannya tersebut menjadi enam hal, yaitu:

1.  Kurikulum adalah suatu rencana atau intentions, ia mungkin hanya berupa perencanaan (mental) saja, tapi pada umumnya diwujudkan dalam bentuk tulisan;

2.    Kurikulum bukanlah kegiatan, melainkan perencanaan atau rancangan kegiatan;

3.  Kurikulum berisi berbagai macam hal seperti masalah apa yang harus dikembangkan pada diri siswa, evaluasi untuk menafsirkan hasil belajar, bahan dan perfalatan yang digunakan, kualitas guru yang dituntut, dan sebagainya;

4.  Kurikulum melibatkan maksud atau pendidikan formal, maka ia sengaja mempro-mosikan belajar dan menolak sifat rambang, tanpa rencana, atau kegiatan tanpa belajar.

5.  sebagai perangkat organisasi pendidikan, kurikulum menyatukan berbagai komponen seperti tujuan, isi, system penilaian dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan atau dengan kata lain, kurikulum adalah suatu system;

6.   Pendidikan dan latihan dimaksudkan untuk untuk menghindari kesalahpahaman yang terjadi jika suatu hal dilalaikan. [7]

Menurut Winarto, sebagaimana dikutip oleh Burhan Nurgiantoro, mendefinisikan kurikulum sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu (Burhan, tt. : 6). Abdul Qadir Yusuf dalam kitabnya at-Tarbiyah wal Mujtami’ mendefinisikan kurikulum sebagai berikut:

kfR% å<ä6p$ãP5ÖQ qjH umäæ Ö*}9<ã Ö~æQeãò/tnUã

ÖA<9Uã 8äE <ã #7däZÎvã

“kurikulum adalah sejumlah pengalaman dan uji coba dalam proses belajar mengajar siswa di bawah bimbingan lembaga (sekolah)”[8]

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun  1989 Bab I pasal I disebutkan bahwa: “kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar”. Mengandung unsur-unsur:

1. Seperangkat Rencana

Seperangkat rencana, artinya bahwa di dalamnya berisikan berbagai rencana yang berhubungan dengan proses pembelajaran. Namanya saja rencana bukan ketetapan, ini berarti bahwa segala sesuatu yang direncanakan dapat berubah sesuai dengan situasi dan kindisi (fleksibel).

2. Pengaturqan Mengenai Isi dan Bahan Pelajaran

Bahan pelajaran ada yang diatur oleh pusat (kurnas) dan oleh daerah setempat (kurmulok)

3. Pengaturan cara yang digunakan

Cara mengajar yang dipergunakan ada berbagai system, misalnya; ceramah, diskusi, demonstrasi, inquiri, membuat laopran portofolio dan sebagainya.

Dari berbagai pendapat dan definisi hakekat kurikulum, menurut S. Nasution dapat diperoleh penggolongan sebagai berikut:

a.       Kurikulum dapat dilihat sebagai produk, yakni sebagai hasil karya para pengembang kurikulum, biasanya dalam suatu panitia. Hasilnya dituangakan dalam bentuk buku atau pedoman kurikulum, misalnya berisi sejumlah mata pelajaran yang harus diajarkan.

b.      Kurikulum dapat pula dipandang sebagai program, yakni alat yang dilakukan sekolah untuk mencapai tujuannya. Ini dapat berupa mengajarkan berbagai pelajaran tetapi dapat juga meliputi segala kegiatan yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, misalnya perkumpulan sekolah, pertandingan, pramuka, warung sekolah dan lain-lain.

c.       Kurikulum dapat pula dipandang sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajari siswa, yakni pengetahuan, sikap, dan ketrampilan tertentu. Apa yang diharapkan akan dipelajari tidak selalu sama dengan apa yang benar-benar dipelajari.

d.      Kurikulum sebagai pengalaman siswa.

Dari berbagai definisi dan pandangan para tokoh mengenai hakekat kurikulum, pemakalah dapat menyampaikan bahwa hakekat kurikulum merupakan pengalaman peserta didik baik disekolah maupun diluar sekolah di bawah bimbingan sekolah.  Kurikulum tidak hanya terbatas pada mata pelajaran, tetapi meliputi segala sesuatu yang mempengaruhi peserta didik, dan bias menentukan arah atau mengantisipasi sesuatu yang akan terjadi.

B. Fungsi Kurikulum

Untuk  memahami fungsi  kurikulum difokuskan pada titik pandang:

1.      Guru

Bagi guru yang sudah lama mengajar maupun guru baru sebelum mengajar pertama kali yang perlu dilihat adalah kurikulumnya. Setelah kurikulum adalah Standar Kompetensi (SK), Kompetensi  Dasar (KD), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), barulah kemudian guru mencari berbagai sumber bahan yang relevan atau yang telah ditentukan oleh Dinas. Jadi jelas bahwa fungsi kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka guru mesti harus mencermati tujuan pendidikan yang akan dicapai oleh lembaga dimana ia bekerja.

2.      Para Penulis

Bagi para penulis buku, khususnya buku bidang studi sebelum menulis buku hendaknya melihat materi yang harus diajarkan dari kurikulum. Penulis hendaknya banyak  berdialog dengan para nara sumber dan ahli dalam kurikulukm sehingga buku yang ditulisnya memang sesuai dengan kurikulum dan dapat dipakai sebagai salah satu pegangan bagi guru. Perlu diingat bagi para penulis untuk mempertimbangkan criteria-kriteria  sebagai berikut:

a.       Bahan hendaknya bersifat pedagogis, artinya bahan hendaknya berisikan hal-hal yang normatif.

b.      Bahan hendaknya bersifat psikologis, artinya bahan hendaknya yang ditulis memperhatikan kejiwaan peserta didik yang mempegunakannya.

c.       Bahan hendaknya disusun secara didatis, artinya bahan yang ditulis mudah untuk diajarkan

d.      Bahan hendaknya bersifat sosiologis, artinya bahan jangan sampai controversial dengan keadaan masyarakat sekitar

e.       Bahan hendaknya bersifat yuridis, artinya bahan yang disusun jangan bertentangan dengan UUD 1945, GBHN, UU SISDIKNAS, da peraturan pemerintah lainnya.

Yang paling baik buku yang ditulis dibuat oleh tim guru dengan bimbingan ahli yang relevan.

3.      Bagi kepala sekolah

Bagi kepala sekolah yang baru menjabat, yang dipelajari pertama kali adalah tujuan lembaga yang dipimpinya. Kemudian yang kedua adalah mencari kurikulum yang berlaku sekarang  dan dipelajarinya, terutama pada buku petunjuk pelaksanaan. Dan yang ketiga adalah melaksanakan supervise kurikulum. Yang menjadi sasaran supervise kurikulum disini adalah:

a.       Bagaimana guru menyusun perangkat pembelajaran?.

b.      Bagaimana  guru melaksanakan PBM?.

c.       Bagaimana guru  melaksanakan penilaian hasil belajar?.

Hal ini dilakukan kepala sekolah bias dengan observasi, wawancara, dokumentasi dan sebagainya. Dengan demikian kepala sekolah tahu kekurangan yang terjadi pada guru yang selanjutnya diadakan pembinaan seperlunya, baik berupa pembinaan perbidang studi maupun bidang administrasi kurikulum dengan harapan PBM produknya akan lebih memusat.

4.      Bagi masyarakat

Kurikulum adalah alat produsen dari sekolah, sedangkan masyarakat adalah konsumen atau pengguna hasil dari produsen. Sudah selayaknya antara produsen dan konsumen harus sinkron.     Bagi kepala sekolah sebagai pedoman untuk melaksanakan supervise kurikulum terhadap guru pemegang mata pelajaran. bagi

Dengan demikian bahwa fungsi kurikulum adalah untuk mencapai suatu tujuan. Bagi guru sebagai pedoman untuk melaksanakan kegiatan proses pembelajaran. Bagi masyarakat mendorong kepada sekolah agar out putnya menghasilkan lulusan yang dibutuhkan masyarakat. Sedangkan bagi penulis  buku dijadikan pedoman dalam penyusunan pegangan guru yang mengacu pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ada. Ada yang berpendapat bahwa fungsi kurikulum diibaratkan sebagai kendaraan yang memiliki fungsi untuk mencapai tujuan, yang digambarkan sebagai berikut:

1.      Mobil (kendaraan)  sebagai kurikulum;

2.      Sopir sebagai guru;

3.      Penumpang sebagai siswa;

4.      Tempat yang dituju sebagai tujuan pendidikan;

5.      Jarak yang ditempuh sebagai alat;

6.      Hanbatan dijalan sebagai kendala-kendala dalam proses;

7.      Bengkel sebagai biro perencana kurikulum;.[9]

C. Proses Pengembangan Kurikulum

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan pada skala global saat ini sudah dapat dikatakan luar biasa, bahkan bisa dikatakan sudah mencapai eksplosi atau ledakan. Masyarakat akan mengalami perubahan mengikuti perkembangan dan kemajuan teknologi serta ilmu pengetahuan. Perubahan masyarakat itu juga akan diikuti pula oleh lembaga pendidikan. Karena masyarakat menginginkan out put dari sekolah sesuai dengan harapan masyarakat. Tidak berlebihan sekiranya di dalam pendidikan diadakan perubahan di bidang kurikulum dan pembelajarannya. Lembaga pendidikan juga harus menyiapkan sumberdaya manusia yang mampu berkompetisi dalam masyarakat global. Ilmu pengetauan dan teknologi dalam hal ini berperan sebagai penggerak utama dalam perubahan.

Perubahan yang terjadi hendaknya disikapi bijak oleh lembaga pendidikan untuk menyesuaikan dan mengantisipasinya. Tujuan, materi, metode, dan pengalaman belajar di lembaga pendidikan harus disesuaikan dan mengacu pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Kurikulum didesain untuk mempersiapkan anak didik dalam menghadapi tantangan-tantangan dimasa depan dengan memberikan ketrampilan dan keahlian bertahan hidup.

Pengembangan kurikulum dapat kami gambarkan dengan siklus di bawah ini:

bagan kurikulum

bagan kurikulum

Siklus pengembangan kurikulum.[1]

1.      Perencanaan Kurikulum

Perencanaan kurikulum pada dasarnya adalah penyiapan dokumen kurikulum berupa kurikulum dokumen inti, pedoman,  dan suplemen yang merupakan paket dokumen kurikulum. Dokumen ini dikembangkan didasari beberapa analisa yaitu: (1) Analisa kebutuhan masyarakat. (2) analisa kebutuhan pengembangan ilmu pengetahuan. (3) analisa kebutuhan peserta didik. Perencanaan kurikulum dilakukan baik dalam jangka panjang, menengah, maupun pendek. Dalam jangka panjang kurikulum yang dikembangkan adalah kurikulum secara nasional yang istilahnya “Standar Muatan Nasional “.  Dalam jangka menengah kurikulum yang dikembangkan adalah silabusnya, sedangkan dalam jangka pendek yang dikembangkan adalah dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)

2.  Pengembangan Kurikulum

Dalam pengembangan kurikulum hendaknya melibatkan pihak-pihak terkait, diantaranya: (1) pengambil keputusan dan penetapan kurikulum. (2) ahli kurikulum. (3) Ahli disiplin ilmu. (4). Ahli psikologi. (5) pengajar. Pihak-pihak tersebut dalam mengembangkan kurikulum harus memperhatikan asas-asas, psikologi anak, sosiologi atau keadaan bangsa Indonesia, perkembangan IPTEK, dan filsafat bangsa sendiri yaitu pancasila.

Para pihak terkait dalam mengembangkan kurikulum hendaknya ada 4 komponen yang harus diperhatikan dan tidak boleh ditinggalkan salah satunya karena saling keterkaitan. Komponen tersebut adalah: Tujuan – materi – metode – evaluasi.

3.  Pelaksanaan Kurikulum

Dalam pelaksanaan kurikulum ini lebih jelasnya adalah bagaimana mengaktualisasikan kurikulum dalam bentuk proses pembelajaran. Dari berbagai macam input anak akan diproses dalam pembelajaran yang nantinya akan mengalami perubahan. Perubahan pada anak didik ini sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

4.  Penilaian Kurikulum

Penilaian kurikulum disini adalah untuk menilai terhadap proses pelaksanaan perangkat kurikulum  dan  penilaian kurikulum yang dilakukan terhadap keseluruhan pelaksanaan perangkat kurikulum.

Penilaian ini dilakukan untuk: (1) mendiagnosa kegagalan atau kelemahan pelaksanaan kurikulum, (2) merevisi kekurangan dan kelemaham selama pelaksanaan kurikulum, (3) membandingkan dengan kurikulum sebelumnya, (4) mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan yang berhubungan dengan bidang pendidikan, (5) menentukan tujuan yang sudah tercapai

KESIMPULAN

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar. Lembaga pendidikan diharapkan mempunyai kurikulum yang sejalan dengan masa sekarang dan masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat. Perkembangan ini akan merubah cara pandang, cara berfikir, dan bekerja masyarakat yang hal ini harus diikuti oleh lembaga pendidikan dengan cara memasukan materi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat mempercayakan pendidikan anaknya kepada lembaga yang nantinya berguna dimasyarakat sesuai dengan kebutuhannya.

Dengan melihat keinginan masyarakat yang begitu besar harapannya untuk  menyekolahkan anaknya yang nantinya berguna dalam kehidupannya yang sesuai dengan jamannya, maka salah satu jalan yang strategis adalah merubah isi  kurikulum ke hal yang lebih baik. Hal ini akan digunakan oleh guru dalam mengajar, bagi penulis dalam menyusun bahan ajar, kepala sekolah dalam mengembangkan kurikulum, dan bagi masyarakat yang akan menggunakan hasil dari kurikulum sekolah. Lembaga pendidikan hendaknya melakukan siklus pengembangan kurikulum yang meliputi perencanaan kurikulum, pengembangan kurikulum, pelaksanaan kurikulum, dan penilaian kurikulum.


[1] M.IT. Munir. Dr, 2010. Kurikulum Berbasis Teknologi dan Informasi. CV ALFABETA. Hal. 30.


[1] H. Khaeruddin. Drs, 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP Konsep dan Implementasinya di Madrasah.  MDC Jateng Pilar Media. Hal. 25

[2] Nasution, Prof. 1982, Asas-asa kurikulum, Jemmars Bandung, Hal. 11

[3] Ibid. Hal. 12

[4] Ibrahim Syukur. 1987, Telaah Kurikulum SMA 1984, Usaha Nasional Surabaya-Indonesia. Hal. 11.

[5] Ahmadi Abu Drs. 1984, Pengantar Kurikulum,Bina Ilmu Surabaya, Hal. 10.

[6] H Dakir Drs. 2004, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, Renika Cipta Jakarta. Hal. 5.

[7] H. Khaeruddin. Drs, 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP Konsep dan Implementasinya di Madrasah.  MDC Jateng Pilar Media. Hal. 25.

[8] Ibid, Hal. 26.

[9] H Dakir Drs. 2004, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, Renika Cipta Jakarta. Hal. 21.