Artikel 3
Perubahan, sebuah Keniscayaan
Tidak ada seorang pun yang dapat menolak atau menghindar dari sebuah perubahan karena perubahan merupakan keniscayaan. Hal yang tetap bahkan hanya perubahan itu sendiri. Setiap saat, di mana pun, dan kapan pun, perubahan akan selalu ada. Contoh, secara fisiologis, tubuh manusia berubah dari kecil menjadi besar, menjadi tua; beruban, keriput, sampai akhirnya meninggal. Semua itu merupakan perubahan yang tidak mungkin dapat dihindari. Demikian juga dengan mental, sejak kecil sampai dewasa, manusia berubah, dari penakut menjadi pemberani dan mandiri, dari yang tadinya bersemangat muda dan berani, tiba-tiba menjadi kurang berani karena tua. Perubahan-perubahan tersebut berkaitan dengan perubahan internal. Perubahan internal dapat terjadi pada fisik atau secara biologis dapat terjadi pada mental dan pemahaman/paradigma.
Bertambahnya wawasan, ilmu pengetahuan, dan kemampuan (skill) seseorang akan membawa dirinya berubah. Tidak hanya itu, selera pun terkadang berubah. Seseorang yang tadinya tidak suka akan sesuatu bisa jadi malah berbalik menyukainya. Ia yang tadinya menyenangi trend a berubah menjadi trend b. Misalnya, cara berpakaian seseorang bisa berubah. Cara berpakaian menyesuaikan dengan apa yang dilihat, diamati, dan dipandang.
Perubahan merupakan sebuah siklus. Siklus perubahan tidak bisa kita hindari. Dari yang sebelumnya tidak ada menjadi ada, kemudian berubah kembali menjadi tidak ada. Dari tidak mampu menjadi mampu kemudian menjadi tidak mampu lagi. Dari yang tadinya lemah menjadi kuat kemudian menjadi lemah lagi.
Perubahan internal mungkin dapat diikuti dari dekat dan dipantau secara cermat, meskipun kadang-kadang manusia tidak dapat mengelolanya dengan baik. Jika ada sebagian yang berhasil dikelola, mungkin karena manusia telah mengetahuinya dan bisa segera diantisipasi. Pada perubahan internal, terdapat tiga kelompok perubahan sebagai berikut.
1. Profil diri
Profil diri manusia berubah: dari pendek menjadi panjang, dari kecil menjadi besar, menjadi tua, muka berubah, rambut berubah.
2. Perubahan sumber daya dan kemampuan
Perubahan sumber daya kecil menjadi sumber daya besar. Dari kemampuan kecil ke kemampuan besar.Bisa juga pada waktu tertentu dari kemampuan besar atau sumber daya besar ke kemampuan kecil atau sumber daya kecil.
3. Harapan dan kebutuhan
Internal manusia, seperti alam pikiran, kemauan, selera, rasa, kebutuhan, dan harapan juga berubah. Seiring waktu, hidup berjalan mencapai titik tertentu. Harapan semakin lama semakin besar. Begitu pula kebutuhan, semakin lama semakin banyak. Seseorang yang sebelumnya sendiri menjadi berkeluarga, kemudian mempunyai anak dan memiliki beragam tanggung jawab. Kebutuhan, baik materi maupun nonmateri semakin lama semakin besar. Hal ini berkaitan dengan perubahan internal yang suka atau tidak suka dan sadar tau tidak sadar harus dilalui dan dialami.
Perubahan yang tidak kalah penting, cepat, dan drastis adalah perubahan eksternal. Perubahan eksternal mencakup perubahan lingkungan, kondisi makro, serta peluang dan tekanan. Perubahan eksternal ini lebih sulit dipantau. Jika perubahan internal tterjadi di dalam diri manusia, perubahan eksternal berada di luar diri manusia.
1. Perubahan lingkungan
Lingkungan adalah sesuatu yang dapat dilihat, ditempati, dirasakan, dan dialami, seperti lingkungan fisik, lingkungan pergaulan, lingkungan pengetahuan, lingkungan peruahaan, dan lain-lain. Semua lingkungan tersebut dapat berubah secara drastis dan kita lebih tidak berdaya untuk menghalangi atau mengantisipasi, atau memutuskan untuk iya atau tidak dibandingkan perubahan internal. Dalam menghadapi perubahan internal mungkin kita masih berdaya, walaupun tidak semuanya juga kita mampu mengelolanya.
2. Kondisi lingkungan makro.
Lingkungan makro adalah lingkungan yang lebih luas dari lingkungan tempat kita tinggal, menyaksikan, merasakan, dan mengalami. Adapun lingkungan makro berkaitan dengan lingkungan umum, lingkungan yang lebih jauh dari kita, seperti lingkungan yang mencakup regional dan internasional. Situasi makro juga berubah dengan sangat cepat dan drastis. Perubahan tersebut cenderung membawa perubahan pada situasi mikro, kondisi individu, dan lingkungannya. Contoh, jika masalah ekonomi sebuah bangsa terguncang, harga segala macam kebutuhan pokok pun akan terguncang.
3. Peluang dan tekanan.
Peluang dan tekanan pun berubah. Situasi makro yang berubah ke arah tidak baik tentu memiliki tekanan besar. Namun, jika situasi makro berubah kea rah yang lebih baik, tentu memiliki peluang lebih besar. Perubahan eksternal membawa dua dampak pada penguatan tekanan atau penguatan peluang. Jika perubahan lingkungan, situasi makro, dan lainnya mengarah pada perbaikan atau nilai positif, tentu peluang yang ditimbulkan akan berubah lebih bagus, lebih banyak, lebih tinggi, dan lebih besar. Namun, jika situasi makro, lingkungan, dan lainnya berubah kea rah yang tidak baik, tentu tekanan yang akan didapatkan lebih tinggi; tekanan hidup, tekanan biaya, dan tekanan komunikasi.
Dua perubahan, internal dan eksternal inilah yang akan selalu dihadapi,dialami, dan dirasakan manusia. Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, itu akan terjadi. Itulah mengapa perubahan disebut sebagai sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditunda, ditolak, dan dihindari.
(Sumber: Walneg S. Jas, Wawasan Kemandirian Calon Sarjana, Hal 60-68)