Jendela

Sekadar sebuah weblog Blog UIN MALIKI MALANG lainnya

Artikel 2

April25

SPIRIT PEREMPUAN, HIASI CITRA DIRI

DENGAN KELUHURAN BUDI

Perempuan, manusia yang tercipta dari tulang rusuk laki-laki, terlukis dalam kisah Adam dan Hawa. Dia terlahir dengan sejuta kemampuan dan bakat. Makhluk yang dianugerahi Allah dengan kelembutan hati, perasaan halus, dan tatapan mata yang penuh arti.

Secara hakiki, Allah SWT menciptakan perempuan sebagai pendamping laki-laki. Dia nantinya akan menjadi istri sekaligus ibu dari anak-anak suami. Sebagai makhluk yang berakal, perempuan boleh bercita-cita tinggi, mengembangkan kemampuan sesuai kompetensi di bidang yang diminati.

Islam telah memaparkan secara gamblang bahwa perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menuntut ilmu, sebagaimana yang terurai dalam hadits Nabi. Undang-Undang Dasar 1945 juga mengungkapkan bahwa semua warga negara berhak mendapatkan pengajaran, keadilan, perlindungan, kebebasan dalam batas tertentu, pemerataan, dan lain sebagainya. Hal tersebut membuka peluang bagi perempuan beraktualisasi dan berkarier untuk menggapai cita-citanya.

Di era modern saat ini, isu emansipasi yang berakar dari feminisme barat telah digembar-gemborkan dan terealisasi dalam ujud gerakan nyata. Orang-orang feminis bertekad agar perempuan memiliki kebebasan yang sebebas-bebasnya dalam berekspresi. Mereka ingin kedudukannya disetarakan dengan laki-laki. Mereka bisa masuk ke segala bidang dan seratus persen bisa menggantikan pekerjaan yang semula hanya dikerjakan oleh laki-laki. Aliran ini menuding  islam sebagai penghambat kemajuan dan eksisme kaum Hawa. Pahlawan kita, R.A. Kartini pun telah menjadi korban isu yang disebarkan oleh pendukung feminisme di Indonesia. Cita-cita dan perjuangan Kartini telah diselewengkan para feminis. Kartini bercita-cita memajukan perempuan agar menjadi wanita yang intelek, berkepribadian, dan terampil di bidang masing-masing. Kartini tidak mengusung emansipasi wanita, tetapi menginginkan agar wanita bisa mengembangkan kemampuannya, mendapatkan hak berpendidikan, berkarya, sesuai dengan ajaran islam yang dianutnya.

Sebagaimana tugas berat yang diemban, perempuan dituntut terampil. Dia adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, “ الام مدرسة ”.  Dengan sifat lembut dan keibuannya dapat mencetak generasi penerus yang unggul dan berakhlak. Untuk menjadi ibu yang terampil, dapat dipersiapkan sedini mungkin. Aspek internal berupa pengokohan iman dan pembenahan budi pekerti menjadi hal yang pertama harus diperhatikan. Perempuan juga harus mengembangkan anugerah besar dari Allah yang telah diberikan yaitu akal. Dia mulai mengasah akal, mengembangkan wawasan, memperluas pengetahuan dengan membaca teks sekaligus konteks, khususnya dari Al-Qur’an, Hadist, serta buku-buku yang berkualitas. Dengan demikian terbentuklah calon ibu yang tangguh dan taat beragama, tidak mudah terombang-ambing oleh arus modernisasi dan globalisasi yang mengalir deras.

Jika kita tengok perempuan masa kini, sebagian besar dari mereka telah hanyut dalam lingkaran setan. Keseharian mereka warnai dengan gaya hidup penuh glamour. Semua hal dinilai dari aspek materinya saja tanpa memandang aspek iner beauty dan keluhuran budi. Hedonisme pun sudah menjadi suatu tradisi. Remaja dan orang tua menjadi generasi mall dan handphone. Perempuan tidak lagi menyibukkan diri dengan ibadah dan belajar, tetapi malah shopping membeli barang-barang yang kurang bermanfaat, berlomba-lomba mempercantik diri untuk sekedar pamer, jaim (jaga image), dan mengejar pamor diri.

Perempuan telah lupa akan perannya dalam keluarga, masyarakat, dan negara. Mereka telah mengotori fitrah yang melekat pada dirinya sendiri. Allah mencetak  perempuan dalam bentuk yang baik yang nantinya memikul tugas berat untuk mencetak generasi islami yang kuat iman dan taqwanya, menjadi mitra suami, serta turut membangun bangsa, karena wanita adalah tiang negara. Tetapi pada kenyataannya mereka dengan suka cita bersedia dieksploitasi untuk memperlihatkatkan keindahan tubuh dengan membuka aurat. Mereka terpengaruh budaya barat yang mengesampingkan nilai moral dan kesopanan.

Sebagai wanita muslim, sudah selayaknya paham akan kedudukan diri. Allah SWT menciptakan laki-laki dan perempuan dalam bentuk yang berbeda, memikili tugas yang berbeda pula. Jadi antara keduanya tidak bisa disamakan seperti apa yang usung dalam emansipasi, feminisme, maupun persamaan gender yang disalahartikan dan diselewengkan esensinya. Islam menyatakan bahwa kedudukan semua manusia sama di hadapan Allah, yang membedakan hanyalah tingkat ketaqwaannya. Namun islam juga mengungkapkan bahwa peran dan beberapa tugas antara laki-laki dan perempuan berbeda. Misalnya dalam peran suami dan istri, pembagian warisan, dan lain-lain. Bukan berarti islam memunculkan ketidakadilan. Namun hal tersebut dikarenakan perbedaan persentase intensitas tugas yang diembannya.

Perempuan harus mulai berbenah dalam seluruh aspek yang ada dalam dirinya. Ketaqwaan dan keluhuran budi yang menjadi substansi. Citra perempuan sebagai manusia yang terampil harus senantiasa di up-date. Banyak tokoh-tokoh wanita yang patut dijadikan teladan, salah satunya adalah Sayyidah Khodijah. Beliau adalah sosok wanita yang taat beragama, lemah lembut, spirit berkarier, patuh, serta menjadi tempat mendapatkan ketentraman bagi sang suami. “Pondasi perbaikan bangsa adalah perbaikan keluarga, dan kunci perbaikan keluarga adalah perbaikan kaum wanitanya, karena wanita adalah guru dunia. Dialah yang menggoyang ayunan dengan tangan kanannya dan mengguncang dunia dengan tangan kirinya” (Hasan Al Banna). Dengan cita-cita luhur yang diraih lewat spirit cinta kepada Sang Kholiq, Insyaallah perempuan akan dapat meraih kembali citra islami yang selaras dengan kemajuan di segala lini kehidupan ini.

By : Farihah

No related posts.

posted under Tak Berkategori

Email will not be published

Website example

Your Comment:

CAPTCHA Image Refresh Image