Archive for » Maret, 2011 «

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Umat Islam mengalami kemajuan pada zaman klasik (650-1250). Dalam sejarah, puncak kemajuan ini terjadi pada sekitar tahun 650-1000 M. Pada masa ini telah hidup ulama besar yang tidak sedikit jumlahnya, baik di bidang tafsir, hadits, fiqih, ilmu kalam, filsafat, tasawuf, sejarah maupun bidang pengetahuan lainnya . Berdasarkan bukti historis ini menggambarkan bahwa periwayatan dan perkembangan pengetahuan hadits berjalan seiiring dengan perkembangan pengetahuan lainnya.
Sebab hadits Nabi, sebagaimana halnya Al-Qur’an telah memerintahkan orang-orang beriman menuntut pengetahuan. Dengan demikian prespektif keilmuan hadits, justru menyebabkan kemajuan umat Islam
Meskipun asbab al-Nuzul dan asbab al –Wurud terbatas pada peristiwa dan pertanyaan yang mendahului nuzul (turun) Al-Qur’an dan wurud hadits, tetapi kenyataannya justru tercipta suasana keilmuan pada hadits Nabi SAW. Tak heran jika saat ini muncul berbagai ilmu hadits serta cabang-cabangnya untuk memahami hadits Nabi, sehingga As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam yang kedua dapat dipahami serta diamalkan umat Islam sesuai dengan yang dimaksudkan Rasulullah.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun batasan-batasan masalah atau batasan pembahasan makalah ini adalah:
1. Apa definisi ilmu hadits?
2. Apa saja cabang-cabang ilmu hadits dan apa kegunaan masing-masing cabang-cabang ilmu hadis?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
Adapun tujuan pembahasan makalah ini adalah:
1. mengetahui definisi ilmu hadits
2. mengetahui cabang-cabang dan ilmu hadits serta kegunaanya
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ILMU HADITS
Ulumul Hadis adalah istilah ilmu hadits di dalam tradisi ulama hadits. (Arabnya: ‘ulumul al-hadist). ‘ulum al-hadist terdiri dari 2 kata, yaitu ‘ulum dan Al-hadist. Kata ‘ulum dalam bahasa arab adalah bentuk jamak dari ‘ilm, jadi berarti “ilmu-ilmu”; sedangkan al-hadist di kalangan Ulama Hadits berarti “segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi SAW dari perbuatan, perkataan, taqrir, atau sifat.” (Mahmud al-thahhan, Tatsir Mushthalah al-hadist (Beirut: Dar Al-qur’an al-karim, 1979), h.14) dengan demikian, gabungan kata ‘ulumul-hadist mengandung pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan Hadits nabi sholallahu ‘alaihi wasallam”.
Ilmu hadits adalah ilmu yang membahas kaidah-kaidah untuk mengetahui kedudukan sanad dan matan, apakah diterima atau ditolak. Menurut Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, ilmu hadits, yakni illmu yang berpautan dengan hadits, banyak ragam macamnya.

B. CABANG-CABANG ILMU HADITS DAN KEGUNAANNYA
Secara garis besar ilmu-ilmu hadits dapat dibagi menjadi dua, yaitu ilmu hadits riwayat (riwayah) dan ilmu hadits diroyat (diroyah) .

1. Ilmu Hadits Riwayah
Ilmu hadis riwayah ialah ilmu yang membahas perkembangan hadits kepada Sahiburillah, Nabi Muhammad SAW. dari segi kelakuan para perawinya, mengenai kekuatan hapalan dan keadilan mereka dan dari segi keadaan sanad. Ilmu hadis riwayah ini berkisar pada bagaimana cara-cara penukilan hadis yang dilakukan oleh para ahli hadis, bagaimana cara menyampaikan kepada orang lain dan membukukan hadis dalam suatu kitab.
Menurut Syaikh Manna’ A-Qhaththan, obyek pembahasan ilmu riwayatul hadits: sabda Rasulullah, perbuatan beliau, ketetapan beliau, dan sifat-sifat beliau dari segi periwayatannya secara detail dan mendalam. Faidahnya: menjaga As-Sunnah dan menghindari kesalahan dalam periwayatannya .
Sementara itu, obyek Ilmu Hadits Riwayah, ialah membicarakan bagaimana cara menerima, menyampaikan pada orang lain dan memindahkan atau membukukan dalam suatu Kitab Hadits. Dalam menyampaikan dan membukukan Hadits, hanya dinukilkan dan dituliskan apa adanya, baik mengenai matan maupun sanadnya.
Adapun kegunaan mempelajari ilmu ini adalah untuk menghindari adanya kemungkinan yang salah dari sumbernya, yaitu Nabi Muhammad Saw. Sebab berita yang beredar pada umat Islam bisa jadi bukan hadits, melainkan juga ada berita-berita lain yang sumbernya bukan dari Nabi, atau bahkan sumbernya tidak jelas sama sekali.
Menurut Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Cabang-cabang besar yang tumbuh dari ilmu Hadits Riwayah dan Dirayah ialah:

a) IImu Rijalil Hadis
llmu Rijalil Hadis ialah:
Artinya:”Ilmu yang membahas tentang para perawi hadits, baik dari sahabat, tabi’in, maupun dari angkatan sesudahnya .”
Dengan ilmu ini dapatlah kita mengetahui keadaan para perawi penerima hadits dari Rasulullah dan keadaan para perawi yang menerima hadits dari sahabat dan seterusnya. Di dalam ilmu ini diterangkan tarikh ringkas dari riwayat hidup para perawi, mazhab yang dipegang oleh para perawi dan keadaan-keadaan para perawi itu dalam menerima hadis.
Sungguh penting sekali ilmu ini dipelajari dengan seksama, karena hadis itu terdiri dari sanad dan matan. Maka mengetahui keadaan para perawi yang menjadi sanad merupakan separuh dari pengetahuan. Kitab-kitab yang disusun dalam ilmu ini banyak ragamnya. Ada yang hanya menerangkan riwayat-riwayat ringkas dari para sahabat saja. Ada yang menerangkan riwayat-riwayat umum para perawi-perawi, Ada yang menerangkan perawi-perawi yang dipercayai saja, Ada yang menerangkan riwayat-riwayat para perawi yang lemah-lemah, atau para mudallis, atau para pemuat hadis maudu’. Dan ada yang menerangkan sebab-sebab dianggap cacat dan sebab-sebab dipandang adil dengan menyebut kata -kata yang dipakai untuk itu serta martabat perkataan.
Ada yang menerangkan nama-nama yang serupa tulisan berlainan sebutan yang di dalam ilmu hadits disebut Mu’talif dan Mukhtalif. Dan ada yang menerangkan nama-nama perawi yang sama namanya, lain orangnya, Umpamanya Khalil ibnu Ahmad. Nama ini banyak orangnya. Ini dinamai Muttafiq dan Muftariq. Dan ada yang menerangkan nama- nama yang serupa tulisan dan sebutan, tetapi berlainan keturunan dalam sebutan, sedang dalam tulisan serupa. Seumpama Muhammad ibnu Aqil dan Muhammad ibnu Uqail. Ini dinamai Musytabah. Dan ada juga yang hanya menyebut tanggal wafat.

b) Ilmul Jarhi Wat Takdil
Ilmu Jarhi Wat Takdir, pada hakekatnya merupakan suatu bagian dari ilmu rijalil hadis. Akan tetapi, karena bagian ini dipandang sebagai yang terpenting maka ilmu ini dijadikan sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Yang dimaksud dengan ilmul jarhi wat takdil ialah:
Artinya: “Ilmu yang menerangkan tentang catatan-catatan yang dihadapkan pada para perawi dan tentang penakdilannya (memandang adil para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan tentang martabat-martabat kata-kata itu. ”
Ilmu Jarhi wat Ta’dil dibutuhkan oleh para ulama hadits karena dengan ilmu ini akan dapat dipisahkan, mana informasi yang benar yang datang dari Nabi dan mana yang bukan.
Mencacat para perawi (yakni menerangkan keadaannya yang tidak baik, agar orang tidak terpedaya dengan riwayat-riwayatnya), telah tumbuh sejak zaman sahabat. Menurut keterangan Ibnu Adi (365 H) dalam Muqaddimah kitab AI-Kamil, para ahli telah menyebutkan keadaan-keadaan para perawi sejak zaman sahabat. Di antara para sahabat yang menyebutkan keadaan perawi-perawi hadits ialah Ibnu Abbas (68 H), Ubadah ibnu Shamit (34 H), dan Anas ibnu Malik (93 H).
Di antara tabi’in ialah Asy Syabi(103 H), Ibnu Sirin (110H), Said Ibnu AI-Musaiyab (94 H). Dalam masa mereka itu, masih sedikit orang yang dipandang cacat. Mulai abad kedua Hijrah baru ditemukan banyak orang-orang yang lemah. Kelemahan itu adakalanya karena meng-irsal-kan hadits, adakalanya karena me- rafa-kan hadits yang sebenarnya mauquf dan adakalanya karena beberapa kesalahan yang tidak disengaja, seperti Abu Harun AI-Abdari (143 H).

c) IImu Illail Hadis
Ilmu IllaIl Hadis, ialah:
Artinya: Ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi, tidak nyata, yang dapat mencacatkan hadis.
Yakni menyambung yang munqati, merafakan yang mauqu memasukkan satu hadits ke dalam hadits yang lain dan yang serupa itu Semuanya ini, bila diketahui, dapat merusakkan kesahihan hadis.
Ilmu ini merupakan semulia-mulia ilmu yang berpautan dengan hadis, dan sehalus-halusnya. Tak dapat diketahui penyakit-penyakit hadits melainkan oleh ulama yang mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang martabat-martabat perawi dan mempunyai malakah yang kuat terhadap sanad dan matan-matan hadits.
Menurut Syaikh Manna’ Al-Qaththan bahwa cara mengetahui ‘illah hadits adalah dengan mengumpulkan beberapa jalan hadits dan mencermati perbedaan perawinya dan kedhabithan mereka, yang dilakukan oleh orang orang yang ahli dalam ilmu ini. Dengan cara ini akan dapat diketahui apakah hadits itu mu’tal (ada ‘illatnya) atau tidak. Jika menurut dugaan penelitinya ada ‘illat pada hadits tersebut maka dihukuminya sebagai hadits tidak shahih .
Di antara para ulama yang menulis ilmu ini, ialah Ibnul Madini (23 H), Ibnu Abi Hatim (327 H), kitab beliau sangat baik dan dinamai Kitab Illial Hadis. Selain itu, ulama yang menulis kitab ini adalah AI-lmam Muslim (261 H), Ad-Daruqutni (357 H) dan Muhammad ibnu Abdillah AI-Hakim.

d) Ilmun nasil wal mansuh
Ilmun nasih wal Mansuh, ialah:
Artinya: “ilmu yang menerangkan hadis-hadis yang sudah dimansuhkan dan yang menasihkannya. ”
Apabila didapati suatu hadits yang maqbul, tidak ada yang memberikan perlawanan maka hadits tersebut dinamai Muhkam. Namun jika dilawan oleh hadits yang sederajatnya, tetapi dikumpulkan dengan mudah maka hadits itu dinamai Mukhatakiful Hadits. Jika tak mungkin dikumpul dan diketahui mana yang terkemudian, maka yang terkemudian itu, dinamai Nasih dan yang terdahulu dinamai Mansuh.
Banyak para ahli yang menyusun kitab-kitab nasih dan mam’uh ini, diantaranya Ahmad ibnu Ishaq Ad-Dillary (318 H), Muhammad ibnu Bahar AI-Asbahani (322 H), Alunad ibnu Muhaminad An-Nah-has (338 H) Dan sesudah itu terdapat beberapa ulama lagi yang menyusunnya, yaitu Muhammad ibnu Musa Al-Hazimi (584 H) menyusun kitabnya, yang dinamai Al-lktibar. Kitab AI-Iktibar itu telah diringkaskan oleh Ibnu Abdil Haq (744 H)

e) Ilmu Asbabi Wuruddil Hadis
Ilmu Asbabi Wuruddil Hadis, ialah:
Artinya: “Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi yang menurunkan sabdanya dan masa-masanya Nabi menurunkan itu.”
Menurut Prof Dr. Zuhri ilmu Asbabi Wurudil Hadits adalah ilmu yang menyingkap sebab-sebab timbulnya hadits. Terkadang, ada hadits yang apabila tidak diketahui sebab turunnya, akan menimbulkan dampak yang tidak baik ketika hendak diamalkan.
Penting diketahui, karena ilmu itu menolong kita dalam memahami hadits, sebagaimana ilmu Ashabin Nuzul menolong kita dalam memahami Al-Quran. Disamping itu, ilmu ini mempunyai fungsi lain untuk memahami ajaran islam secara komprehensif. Asbabul Wurud dapat juga membantu kita mengetahui mana yang datang terlebih dahulu di antara dua hadits yang “Pertentangan”. Karenanya tidak mustahil kalau ada beberapa ulama yang tertarik untuk menulis tema semacam ini.Misalnya, Abu Hafs Al- Akbari (380-456H), Ibrahim Ibn Muhammad Ibn Kamaluddin, yang lebih dikenal dengan Ibn hamzah Al-Husainy Al-Dimasyqy (1054-1120H) denagn karyanya Al-Bayan Wa Al Ta’rif Fi Asbab Wurud Al- hadits Al-Syarif.
UIama yang mula-mula menyusun kitab ini dan kitabnya ada dalam masyarakat iaIah Abu Hafas ibnu Umar Muhammad ibnu Raja Al-Ukbari, dari murid Ahmad (309 H), Dan kemudian dituliskan pula oleh Ibrahim ibhu Muhammad, yang terkenal dengan nama Ibnu Hamzah Al Husaini (1120 H), dalam kitabnya AI-Bayan Wat Tarif yang telah dicetak pada tahun 1329 H

f) Ilmu Talfiqil Hadis
Ilmu Talfiqil Hadis, ialah:
Artinya: “Ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan hadits-hadits yang isinya berlawanan.”
Cara mengumpulkannya adakalanya dengan menakhsiskan yang ‘amm, atau menaqyidkan yang mutlak, atau dengan memandang banyaknya yang terjadi. Ilmu ini dinamai juga dengan ilmu Mukhtaliful Hadis. Di antara para ulama besar yang telah berusaha menyusun, ilmu ini ialah Al-Imamusy Syafii (204 H), Ibnu Qurtaibah (276 H), At-Tahawi (321 H) dan ibnu Jauzi (597 H). Kitabnya bernama At-Tahqiq, kitab ini sudah disyarahkan oleh Al-Ustaz Ahmad Muhammad Syakir dan baik sekali nilainya.

g) Ilmu Fannil Mubhammat
Ilmu fannil Mubhamat adalah ilmu untuk mengetahui nama orang-orang yang tidak disebut dalam matan, atau di dalam sanad.
Di antara yang menyusun kitab ini, Al-Khatib Al Baghdady. Kitab Al Khatib itu diringkas dan dibersihkan oleh An-Nawawy dalam kitab Al-Isyarat Ila Bayani Asmail Mubhamat.
Perawi-perawi yang tidak tersebut namanya dalam shahih bukhari diterangkan dengan selengkapnya oleh Ibnu Hajar Al-Asqallanni dalam Hidayatus Sari Muqaddamah Fathul Bari.

h) Ilmu Ghoriebil Hadits
Yang dimaksudkan dalam ilmu haddits ini adalah bertujuan menjelaskan suatu hadits yang dalam matannya terdapat lafadz yang pelik, dan yang sudah dipahami karena jarang dipakai, sehingga ilmu ini akan membantu dalam memahami hadits tersebut.

i) Ilmu Tashif wat Tahrif
Yaitu ilmu yang menerangkan tentang hadits-hadits yang sudah diubah titiknya (dinamai mushohaf), dan bentuknya (dinamai muharraf).
2. Ilmu Hadits Dirayah
Ilmu Dirayatul Hadits, atau Ilmu Ushulur Riwayah dan disebut juga dengan Ilmu Musthalah Hadits.
Menurut kata sebagian ulama Tahqiq, Ilmu Dirayatul Hadits adalah ilmu yang membahas cara kelakuan persambungan hadits kepada Shahibur Risalah, junjungan kita Muhammad SAW dari sikap perawinya, mengenai kekuatan hafalan dan keadilan mereka, dan dari segi keadaan sanad, putus dan bersambungnya, dan yang sepertinya.
Muhammad Abu Zahwu dalam kitabnya Al-Haditsu wal Muhadditsun, memberikan definisi Ilmu Ushulur Riwayah atau Ilmu Riwayatul Hadits adalah ilmu yang membahas tentang hakikat periwayatan, syarat-syaratnya, macam-macamnya, hukum-hukumnya, dan keadaan perawi-perawinya dan syarat-syaratnya, macam-macam yang diriwayatkan dan hal-hal yang berhubungan dengan itu.
Adapun obyek Ilmu Hadits Dirayah ialah meneliti kelakuan para rawi dan keadaan marwinya (sanad dan matannya). Dari aspek sanadnya, diteliti tentang keadilan dan kecacatannya, bagaimana mereka menerima dan menyampaikan haditsnya serta sanadnya bersambung atau tidak. Sedang dari aspek matannya diteliti tentang kejanggalan atau tidaknya, sehubungan dengan adanya nash-nash lain yang berkaitan dengannya.
Dalam penjelasannya, beliau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan:
a. hakikat periwayatan adalah menyampaikan berita dan menyandarkannya kepada orang yang menjadi sumber berita itu.
b. Syarat-syarat periwayatan adalah syarat-syarat perawi di dalam menerima hal-hal yang diriwayatkan oleh gurunya, apakah dengan jalan mendengar langsung atau dengan jalan ijazah, atau lainnya.
c. Macam-macam periwayatan, apakah sanadnya itu bersambung-sambung atau putus dan sebagainya.
d. Hukum-hukumnya, artinya diterima atau ditolaknya apa yang diriwayatkannya itu.
e. Keadaan perawi dan syarat-syaratnya, yaitu adil tidaknya dan syarat-syarat menjadi perawi baik tatkala menerima hadits maupun menyampaikan hadits.
f. Macam-macam yang diriwayatkan, ialah apakah yang diriwayatkannya itu berupa hadits Nabi, atsar atau yang lain.
g. Hal-hal yang berhubungan dengan itu, ialah istilah-istilah yang dipakai oleh ahli-ahli hadits.

BAB III
PENUTUP

A. SIMPULAN
Dalam pengertian ilmu hadits dapat kita ketahui dari asal kata yang membentuk istilah tersebut, dengan demikian kita dapat mengetahui sekilas tentang istilah tersebut. Dalam ilmu hadis terdapat beberapa cabang yang digunakan untuk membedakan objek pembahasan diantara masing-masing cabang tersebut kemudian dari masing-masing cabang tersebut terdapat cabang objek pembahasan yang lebih khusus.
Masing-masing cabang tersebut mempunyai istilah tersendiri yang mendeskripsikan objek bahasan tertentu. Dengan begitu pembahasan tentang objek kajian dikelompokkan di masing-masing cabang tersebut.

B. SARAN
Dari seluruh isi makalah, baik mengenai pembahasan maupun hasil pemaparan dapat dikaji lebih lanjut untuk mengembangkan tentang objek pengkajian. Dapat pula membuat perbandingan mengenai objek pembahasan tersebut bagi siapapun yang berkeinginan mengembangkan dan mencari lebih banyak penjelasan mengenai pengertian ilmu hadis, yang masih belum terdapat dalam makalah

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhammad-Mudzakir. 1998. Ulumul Hadits. Bandung: Pustaka Setia

Anwar, Muh. 1981. Ilmu Mushthalah Hadits. Surabaya: Al-Ikhlas

Al-Khaththan, Syaikh Manna’. 2005. Pengantar Ilmu Hadits. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

Ash-Shiddieqy, Tengku Muhammad Hasbi. 2005. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits .Semarang: PT Pustaka Rizki Putra

Assa’idi, Sa’adullah. 1996. Hadis-hadis Sekte. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Zuhri. 2005. Hadits Nabi Telaah Historis dan Metodologis. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya

http://www.iaial aqidah.org/Kuliah%20jarak%20jauh/MODUL%20TARBIYAH/MODUL%20HADITS/MODUL%20HADITS.doc.

 Wahai anakku, juallah duniamu dengan kehidupan akheratmu, niscaya engkau akan memperoleh keduanya dengan beruntung.
 Wahai anakku, menjadi orang bisu, tetapi berakal itu lebih baik daripada engkau menjadi orang yang banyak berbicara, tetapi bodoh. Tiap-tiap sesuatu itu ada petunjuknya. Akal petunjuknya ialah berpikir, dan petunjuk berpikir itu adalah diam. Barang siapa berkata-kata dalam hal yang tidak baik maka ia benar-benar sia-sia, barang siapa berpikir tanpa mengambil pelajaran maka ia benar-benar lalai, dan barang siapa diam tanpa berpikir maka ia benar-benar merugi.
 Wahai anakku, dunia ini ibarat sebuah lautan yang dalam, telah banyak orang yang hanyut kedalamnya, maka jadikanlah iman sebagai kapalmu di dunia ini, taqwa sebagai isinya, dan tawakkal sebagai layarnya. Mudah-mudahan dengan ini engkau bisa selamat.
 Wahai anakku, janganlah engkau mengakhir-akhirkan taubat, sebab mati itu datangnya mendadak. Wahai anakku, tahanlah dirimu dalam menghadapi orang kecil karena kekecilannya, orang besar karena martabatnya, orang bodoh karena kekurangannya dan orang ahli ilmu karena keutamaannya. Wahai anakku, janganlah engkau tertawa tanpa ada yang aneh dan janganlah engkau berjalan tanpa tujuan. Janganlah bertanya tentang sesuatu yang tidak berguna untukmu, janganlah menyia-yiakan hartamu dan berbaiklah terhadap harta orang lain. Sebab hartamu itu adalah harta yang engkau kurbankan, sedang harta orang lain itu ialah harta yang engkau tinggalkan.
 Wahai anakku, barangsiapa tidak mempunyai belas kasih maka ia tidak dikasihani. Barangsiapa diam maka ia selamat. Barangsiapa yang berkata baik maka ia beruntung. Barang siapa yang berkata jelek maka ia menyesal. Barang siapa yang tidak menguasai mulutnya maka ia tersandung.
 Wahai anakku, sesungguhnya sejak engkau dilahirkan di dunia berarti engkau telah membelakanginya dan engkau telah menghadapi akherat. Sebab tempat yang engkau tuju dalam perjalananmu itu lebih dekat daripada tempat yang engkau tinggalkan.
 Wahai anakku, berharaplah kepada Allah dengan harapan yang membuat kamu tidak berani berbuat maksiat, dan takutlah kepada Allah dengan takut yang membuat tidak berputus asa terhadap rahmatnya.
 Wahai anakku, janganlah engkau belajar apa yang engkau belum ketahui, sebelum engkau mengamalkan apa yang engkau ketahui.
 Wahai anakku, janganlah engkau bermanis-manis, niscaya engkau ditelan orang dan janganlah engkau berpahit-pahit, niscaya engkau dicampakkan orang.
 Wahai anakku, hati-hatilah terhadap orang yang mulia, kalau engkau menghinakannya ; terhadap orang yang berakal, kalau engkau membuat ia marah ; terhadap orang yang tolol, kalau engkau bergurau ; terhadap orang yang bodoh, kalau engkau berteman dengannya ; dan terhadap orang yang jahat, kalau engkau memusuhinya.

Category: HIKMAH  Leave a Comment

Syaikh Abdul Qodir al-Jilani: “Yang dimaksud dengan al-Sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasûlullâh SAW (meliputi ucapan, perilaku serta ketetapan beliau). Sedangkan pengertian al-Jamâ‘ah adalah segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan para sahabat Nabi Muhammad SAW pada masa al-Khulafâ’ al-Râsyidûn yang empat yang telah diberi hidayah (mudah-mudahan Allah SWT memberi rahmat pada mereka semua)”.(Al-Ghunyah li Thâlibî Tharîq al-Haqq, Juz I, hal 80)

Syaikh Abî al-Fadhl bin `Abdussyakûr As-Senauri: Yang disebut Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ‘ah adalah orang-orang yang selalu berpedoman pada sunnah Nabi SAW dan jalan para sahabatnya dalam masalah akidah keagamaan, amal-amal lahiriyah serta akhlaq hati”. (Al-Kawâkib al-Lammâ‘ah, hal 8-9)

Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad ra Ahlussunnah wal Jama’ah adalah golongan yang berpegang teguh kepada sunnah Nabi dan para sahabatnya (Risalatul Muawanah, 9)

PRINSIP DASAR ASWAJA

التوسط (At-Tawassuth (sikap tengah, sedang-sedang. Firman Allah SWT dalam Q.S al-Baqarah ayat 143 yang artinya:

“ Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang Telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

[95] umat Islam dijadikan umat yang adil dan pilihan, Karena mereka akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat.

التوازن (At-Tawazun) keseimbangan.

Allah SWT berfirman dalam QS. al-Hadid ayat 25 yang artinya: “Sesungguhnya kami Telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Telah kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

الإعتدال (Al-I’tidal) Tegak lurus.

Allah SWT berfirman dalam surat al-Maidah ayat 8 yang berarti: 

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan“.

Perwujudan

1. Lebih mendahulukan al-naql dari pada al-aql, karena menyadari kemampuan akal manusia itu sangat sedikit dan terbatas.

2. Memilih Sistem bermadzhab .

3. Mengakui, mengagungkan sekaligus mengikuti teladan dan jejak langkah para sahabat Nabi Muhammad SAW.

diedit dari tulisan Humaidi

A. Tujuan pendidikan:

1. Ibnu Khaldun: peningkatan kecerdasan dan kemampuan berpikir, peningkatan segi kemasyarakatan manusia, peningkatan segi kerohanian manusia. Sehingga diharapkan pendidikan Islam mampu menciptakan manusia yang siap menghadapi berbagai fenomena sosial yang ada disekitarnya.

2. Muhammad abduh: pendidikan haruslah mampu mengantarkan siswa sesuai apa profesi yang mau dijalani. Jadi murid memasuki sesuai keinginannya

3. Zakariyah darajat: Tujuan umum pendidikan Islam yaitu peningkatan ketaqwaan kepada tuhan yang Maha Esa, sebagaimana yang dimaksud dalam GBHN. Membina manusia agar menjadi hamba Allah yang Shaleh dengan seluruh aspek kehidupannya., perbuatan, pikiran dan perasaannya.

B. Kurikulum:

1. Ibnu khaldun: kurikulum sebagai alat bantu pemahaman (ilmu bahasa, ilmu nahwu, balagah dan syair). Kedua, kurikulum sekunder yaitu matakuliah untuk mendukung memahami Islam (seperti logika, fisika, metafisika, dan matematika). Ketiga kurikulum primer yaitu inti ajaran Islam (ilmu Fiqh, Hadist, Tafsir, dan sebagainya).

2. Muhammad abduh: Tingkat dasar: Kurikulumnya meliputi:

a. Buku ikhtisar doktrin Islam berdasarkan ajaran Islam sunni tanpa menyebut perbedaan sektarian.

b. Buku dasar etika dan moral dan yang menunjukkan antara benar dan salah

c. Sejarah nabi, sahabat, dan sebab-sebab kejayaan Islam

d. Membaca, menulis, berhitung, prinsip-prinsip bahasa Arab atau kaidah-kaidah bahasa Arab, pelajaran agama (akidah, fiqih), pelajaran Akhlak Tingkat menengah: Sekolah ini harus bagi mereka yang ingin belajar syariat, militer, kedokteran, atau ingin bekerja di pemerintahan.

Kurikulum:

a. Buku pengantar pengetahuan, seni logika, prinsip penalaran dan protokol bedebat

b. Teks tentang doktrin yang menyampaikan soal-soal seperti dalil rasional, menentukan posisi tengah dalam upaya menghindari konflik, pendalaman terhadap perbedaan islam dan kristen, keefektifan doktrin islam dalam memnentuk kehidupan di dunia dan akhirat

c. Teks tentang benar dan salah, penggunaan nalar dan prinsip-prinsip doktrin

d. Sejarah penaklukan dan penyebaran Islam e. Semua kurikulum sekolah dasar dan pengembangannya Tingkat atas: Yaitu sekolah bagi calon guru dan kepala sekolah. Kurikulumnya meliputi: a. Tafsir al-qur’an b. Balaghah dan bahasa arab c. Ilmu hadits d. Studi moralitas e. Prinsip-prinsip fiqih f. Historiografi g. Seni bicara dan meyakinkan h. Teologi dan pemahaman doktrin secara rasional

3. Zakariyah:

Materi pendidikan Islam itu meliputi: a. Pengajaran keimanan b. Pengajaran akhlak c. Pengajaran Ibadat d. Pengajaran Fiqih e. Pengajaran Ushul Fiqih f. Pengajarat Qiroat Qur’an g. Pengajaran Tafsir h. Pengajaran Ilmu Tafsir i. Pengajaran Hadits j. Pengajaran Ilmu Hadits k. Pengajaran Tarikh Islam

C. Pendidik:

Ibnu khaldun: haruslah orang yang berpengetahuan luas, dan mempunyai kepribadian yang baik. Karena pendidik selain sebagai pengajar di dalam kelas, pendidik juga harus bisa menjadi contoh atau suri tauladan bagi peserta didiknya.

Muhammad abduh: dapat mengetahui dan mempertimbangkan apakah anak didiknya mampu memahami materi pelajaran dengan memakai metode tertentu dan apakah anak didik telah siap secara psikologis menerimanya (materi – pelajaran). Guru ketika ingin mengajar harus memposisikannya sebagai anak didik, kemudian naik sedikit demi sedikit sampai pada derajat setinggi mungkin. Guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tapi juga spiritual dan akhlak. Profesi guru meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Muhammad Abduh menghendaki guru yang professional, tahu akan ilmu pendidikan, ilmu psikologi, dan sebagainya. Guru yang professional menurutnya, setidaknya memiliki kompetensi berikut ini; Prilaku yang baik , pengetahuan luas , menguasai materi. Seorang pendidik harus berakhlak mulia.

Zakariyah darajat:

1. Fungsi sentral guru adalah mendidik (fungsi educational)yang juga sejalan dengan atau dalam melakukan kegiatan mengajar (fungsi instruktusional) yaitu untuk membina seluruh kemampuan dan sikap yang baik dari murid sesuai dengan ajaran Islam.

2. Pendidik dalam menjalani tugasnya harus mempunyai beberapa kompetensi: Kompetensi keperibadian, kompetensi penguasaan bahan ajar, dan kompetensi dalam cara mengajar.

D. Peserta didik:

1. Ibnu khaldun: bahwa peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki potensi. Maka dari itu peserta didik membutuhkan bimbingan orang dewasa untuk mengembangkan potensi ke arah yang lebih baik.

2. Muhammad abduh: Manusia dalam hal ini anak didik dilahirkan dengan memliki potensi-potensi. Dalam kata lain, manusia lahir ke dunia ini tidak seperti kertas kosong sebagaimana dalam teori tabularasa. Di antara potensi-potensi lahiriyah (bawaan) manusia, khususnya potensi aqliyahnya tidak berkembang begitu saja tanpa ada proses pendidikan. Artinya, potensi aqliyah, tidak berfungsi sempurna tanpa adanya proses pendidikan. Oleh sebab itu, pendidikan adalah sarana untuk mengembangkan potensi aqliyah manusia itu. Pada tahap ini, Muhammad Abduh dekat pada aliran konvergensi daripada aliran nativesme dan empirisme.

3. Zakariyah darajat: a. Peserta didik tingkat Taman kanak-kanak: hanya berpikir terkait dengan apa yang dapat jangkau oleh pancainderanya (Inderawi). b. Peserta didik tingkat Sekolah Dasar: telah mapu memahami hal yang abstrak. Dan pemikiran yang logis baru berkembang. c. Pserta didik tingkat SLTP: kecerdasannya mengalami perkembangan yang hampir selesai. Tidak mau menerima lagi sesuatu ya g tidak masuk akal. d. Peserta didik tingkat SLTA: terjadi perkembangan prbadi dan sosial, ada rasa ingin diakui oleh teman sebayanya. e. Peserta didik tingkat Peruruan Tinggi: pembinaan keperibadian , sosial, ideologi dan agama.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan dari ketiga tokoh pada dasarnya sama. Hanya saja pada tujuan Muhammad Abduh, lebih terlihat bahwa pendidikan harus mampu mengantarkan peserta didik agar mampu meraih cita-cita yang ingin dicapai oleh paserta didik. Dalam hal kurikulum yang ditawarkan oleh ketiga tokoh sangat terlihat sekali perbedaannya. Jika Ibnu khaldun menawarkan kurikulum secara umum dimana kurikulum dibagi menjadi tiga kategori. Sedangkan Muhammad Abduh lebih sistematis dalam menawarkan kurikulum, yaitu pembagian kurikulum sudah dibagi berdasarkan jenjang pendidikan yang ditempuh oleh siswa. Hal ini disebabkan karena perbedaan zaman. Jika masa Ibnu Khaldun pendidikan masih bersifat klasik sedangkan pada masa Abduh paradigma pendidikan modern sedang berkembang. Sedangkan Zakariyah Darajat lebih menekankan kurikulum pendidikan agama islam. Itupun masih bersifat universal, karena belum dibagi berdasarkan jenjang pendidikan. Mengenai konsep pendidik, ketiga tokoh tidak ada perbedaan. Karena ketiganya menginnginkan pendidik yang kompeten dalam berbagai hal. Tidak hanya itu pendidik bukan hanya mengajar di kelas tetapi juga memberikan pendidikan moral. Lebih jelas lagi Abduh menginginkan pendidik yang profesional. Konsep peserta didik ketiga tokoh ada perbedaan pada pemikiran Zakariyah. Jika menurut Ibnu Khaldun dan Abduh memiliki konsep yang sama mengenai peserta didik. Yaitu siswa merupakan manusia yang fitrah dengan memiliki potensi dan memerlukan bimbingan (pendidikan) dalam mengembangkan potensinya (konvergensi). Sedangkan Zakariyah membagi peserta didik menurut jenjang pendidikan. Dia mengelompokkan pendidik berdasarkan perkembangan kognitif yang ada dalam diri siswa (seperti teori kognitif Jean Piaget). Berdasarkan uraian diatas, Ibnu khaldun lebih memiliki kerangka berfikir filosofis-logika. Sedangkan Muhammad Abduh lebih bersifat rasionalis-relistis dan menyarankan integrasi ilmu pengetahuan umum dengan agama. Dan Zakariyah Darajat lebih menekankan pada pendidikan agama.

A. PENDAHULUAN
Agama Islam mempunyai sejarah yang panjang dalam pembuatan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia. Di mulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini. Masa yang paling panjang adalah cara pengambilan hukum lewat jalan ijtihad. Ijtihad mengalami naik-turun hingga saat ini. Menurut sejarawan hukum Islam, kegiatan ijtihad mulai mengalami penurunan semenjak meninggalnya para mujtahid terkenal. Hal ini terjadi pada masa-masa akhir kejayaan imperium Islam. Yaitu ketika daulah Abbasiyah sudah di ambang pintu kehancuran. Sebagian ulama memandang cukup untuk merujuk pendapat imam mahzabnya tanpa harus melakukan ijtihad lagi. Fase ini merupakan fase pergeseran orientasi. Kalau masa-masa sebelumnya merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah, maka pada masa ini yang dirujuk adalah kitab-kitab fiqih yang dikarang oleh imam-imam yang dipandang lebih berkompeten.
Untuk menjaga kesucian kitab-kitab fiqih disamping Al-Qur’an dan Sunnah, ulama melakukan kegiatan yang bersifat internal, yaitu membangun mahzab yang dianutnya sehingga dapat berkembang. Terdapat dua ciri yang menandai kemunduran fiqih Islam, yaitu munculnya taqlid dan tertutupnya pintu ijtihad.
Berbagai faktor, baik politik, mental sosial dan sebagainya yang telah mempengaruhi kegiatan para ulama dalam bidang hukum. Sehingga tidak sanggup mempunyai kepribadian fikiran sendiri, melainkan harus selalu bertaqlid.

B. SUBSTANSI KAJIAN
1. KONSEP TAQLID
Taqlid berasal dari bahasa Arab “qallada”, “yuqallidu”, “taqliidan”, yang mempunyai arti banyak: mengalungi, meniru, mengikuti. Sedangkan para ulama fiqih mengartikan taqlid sebagai berikut:
قبول قول القائل وانت لاتعلم من اين قاله
Artinya: penerimaan perkataan seseorang sedang engkau tidak mengetahui dari mana asal perkataan itu. Menurut Al-Ghazali taqlid adalah menerima atau mengamalkan pendapat orang lain yang tidak diketahui hujjahnya dari Al-Qur’an dan Sunnah. Sedang menurut Muhammad Rasyid Ridha adalah mengikuti pendapat seseorang yang dianggap terhormat dan ahli hukum agama tanpa memperhatikan benar atau salah, baik atau buruk, manfaat atau mudharat . Dja’far Amir, dalam bukunya Ushul Fqih III menjelaskan taqlid adalah mengikuti pendapat orang lain, mengikuti perkataan orang lain, dengan tidak mengetahui dari mana asal pengambilannya, entah orang lain tadi benar atau salah, pokoknya asal mengikuti saja tanpa mengetahui dasar-dasar pengambilannya, hanya mengikuti saja tanpa berfikir. Dan orang yang bertaqlid disebut MUQALLID (مقلد).
Taqlid menurut Ali Syari’ati (1992; 73), dalam pemikiran Syi’ah, taqlid (mengikuti ulama dalam masalah-masalah yang seseorang tak mampu memahaminya) adalah hubungan yang logis, ilmiah, alamiah dan penting, antara orang-orang awam atau bukan ahli dengan ulama dalam masalah-masalah praktis dan hukum yang mengandung aspek-aspek teknis yang tidak diketahui oleh orang bukan ahli.
Dalam pemikiran Syafawi, taqlid hanyalah sekadar kepatuhan buta kepada seorang ulama, tunduk sepenuhnya, tanpa mempertanyakan pikiran, pendapat atau keputusan seorang ulama. Singkat kata, ia sama artinya dengan menyembah gagasan-gagasan kaum agamawan.
Demikianlah, ketika selama berabad-abad, mazhab Syi’ah Alawi mempersembahkan darah tak berdosanya guna mengatakan “tidak” kepada segala bentuk agresi, penyimpangan, dan penindasan, kita melihat bahwa kaum Syafawi justru sebaliknya sibuk mengatakan ”ya”!.
Misalnya, orang-orang yang meminta fatwa hukum tentang suatu masalah kepada seorang mujtahid atau mufti. Mereka itu harus menerima fatwa hukum atau hukum ijtihad dari mujtahid atau mufti itu tanpa harus mengetahui dalil-dalil. Sebab mereka hanya diperintah oleh agama untuk bertanya kepada ahlu adz-dzikir (orang yang mempunyai pengetahuan). Sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 43:
                
43. Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan [454] jika kamu tidak mengetahui,
[454] Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab.

Masjfuk Zuhdi mengatakan, mujtahid itu menjadi tempat bertanya dan rujukan bagi masyarakat awam. Mereka wajib mengikuti hukum ijtihad mujtahid, tanpa harus mengikuti dalil-dalilnya. Sebab mujtahid itu pasti menyandarkan semua pendapatnya atas dalil-dalil syara’, Sekalipun ia tidak menerangkan dalil-dalilnya itu kepada masyarakat awam yang meminta fatwanya. Para mujtahid dari sahabat dan tabi’in banyak sekali memberikan fatwa hukum kepada masyarakat awam tanpa menerangkan landasan fatwanya, dan mereka pun dapat menerima fatwa atau hukum ijtihadnya dengan baik. Namun, hal ini tidak berarti bahwa tidak ada orang yang mengikuti hukum ijtihad itu mengetahui dalil dan tempat pengambilannya. Dan orang-orang yang mengerti hukum ijtihad dengan mengetahui dalil-dalilnya itu sudah tentu tingkatannya lebih tinggi daripada orang-orang yang mengikuti hukum ijtihad tanpa mengetahui dalil-dalilnya. Karena itu, sebagian ulama memberi nama muttabii’, bukan muqallid kepada orang-orang yang mengikuti hukum ijtihad dengan mengetahui dalil-dalil yang dipakai sebagai dasar hukum ijtihadnya.
Ulama telah sepakat bahwa pandangan dan sikap seorang mujtahid tidak boleh berbeda dengan hukum ijtihadnya dan mujtahid lain. Tetapi ulama belum ada kesepakatan mengenai suatu masalah yang belum pernah diijtihadkan oleh seorang mujtahid, sedangkan mujtahid lain telah melakukan ijtihad.
Adapun orang yang awam dan juga orang yang mempunyai pengetahuan sedikit tentang berijtihad, tetapi belum sampai ketingkat mujtahid, para ulama pada prinsipnya membolehkan mereka meminta fatwa dan taqlid. Hanya saja ulama membedakan masalah furu’ dengan masalah ushul atau aqidah.
Misalnya saja orang berbuat sesuatu karena semata-mata karena orang tuanya berbuat demikian. Sebagaimana dalam Q.S. Asy Syu’ara: 74 yang berbunyi
      
74. Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya Kami mendapati nenek moyang Kami berbuat demikian”.
Jadi mereka berbuat semata-mata asal meniru saja, hanya mengikut saja.

2. GAMBARAN POLITIK
Drs. Muhammad Zuhri berpendapat bahwa periode taklid tejadi sejak runtuhnya Baghdad ditangan Holako sampai sekarang. Unsur Turki atau Thurani adalah suatu unsur yang besar sekali yang terdiri dari beberapa kabilah yang berbeda-beda, setelah menyiapkan sarana-sarana berkelana ia jelajahi negeri-negeri Islam untuk menguasainya sebagai tambahan atas negeri asalnya.

3. IJTIHAD PADA PERIODE INI
1. Pada periode pertama dimana Allah mewahyukan syari’at-Nya dihati Rasullullah SAW yaitu sesuatu yang diturunkan oleh Allah lalu beliau terangkan pada manusia.
2. Pada periode kedua dan tiga para sahabat dan tabi’in menerangkan metode-metode dari Kitabullah, Sunnah RasulNya dan ra’yu (pendapat) yang benar.
3. Pada periode keempat, para imam-imam besar dan fuqaha-fuqaha yang cerdik berusaha keras lalu mereka memetik buahnya yang membukukan hukum-hukum syari’at secara terperinci.
4. Pada periode kelima mereka membuat urutan-urutan, membersihkan, memilih dan mengunggulkan.
Drs. Muhammad Zuhri juga berkata, sebesar-besar keistimewaan periode ini adalah menetapnya ruh taklid semata-mata pada jiwa ulama, dan hanya sedikit saja dari kalangan mereka yang sampai ke derajat ijtihad. Demikian itu pada sebagian pertama dari periode ini, yaitu di masa Kairo menempati kedudukan Baghdad dan menjadi pusat kerajaan Islam dan khilafah Abbasiyah. Pada masa ini muncullah dari waktu ke waktu orang yang sampai ke tingkat ijtihad. Namun mereka berhenti membangsakan diri kepada para imam yang terkenal.
Adapun pada sebagian yang kedua yaitu dari abad ke sepuluh sampai sekarang keadaannya telah berganti dan tanda-tanda telah berubah dan diumumkan bahwasannya tidak boleh bagi seorang fakih unuk memilih dan mentarjih karena zamannya telah lalu serta terhalang antara orang-orang dan kitab-kitab orang-orang yang terdaulu. Dan mereka mencukupkan diri pada kitab-kitab yang ada di hadapan mereka.
Seperti pada situasi Mesir sebelum kerajaannya jatuh dan khilafah pindah dari padanya. Kita jumpai nama-nama Al’Izz bin Abdus Salam, Ibnul Hajib, Ibnu Daqiqil ‘Id, Ibnu Rif’ah, Ibnu Taimiyah, As Subki dan puteranya, Ibnul Qayyim, Al Bulqini, Al Asnawi, Kamal bin Hammam dan Jalalluddin As Sayuthi. Mereka itu orang-orang pandai dari madzhab empat. Kemudian kita kembali menengok kepada masa sesudah itu maka kita tidak mendengar nama seorang alim atau faqih besar, atau atau pengarang yang baik, namun kita jumpai suatu kaum yang tinggal menerima saja dalam fiqih.
Drs. Muhammad Zuhri berpendapat seolah-seolah jatuhnya bidang politik adalah kemunduran ilmu, lebih-lebih ilmu agama yang mundur sedemikian jauh. Ketika Mesir menuntut kembalinya kemuliaan maka terbentur beberapa penghalang, yaitu:
1. Terputusnya hubungan antara ulama-ulama negara besar Islam.
2. Terputusnya hubungan antara kita dan kitab-kitab para imam.

4. SEBAB-SEBAB TAQLID
Drs. Yusron Asmuni dalam buku Dirasah Islamiyah II mengatakan bahwa taqlid mulai muncul sekitar abad VII H sampai dengan abad XIII H. Yaitu pada masa kemunduran umat Islam. Pada masa ini umumnya para ulama tidak mau lagi melakukan ijtihad, mereka hanya membeda-bedakan mana dalil yang kuat dan mana dalil yang lemah, dengan demikian ilmu fiqih pada abad-abad ini dalam keadaan statis.
Pada periode taqlid ini memang terdapat beberapa ulama yang berani menentang taqlid dan menyeru untuk ijtihad serta kembali kepada sumber aslinya, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist, di antaranya adalah Ibnu Taimiyah (661-728 H), Ibnul Qayyim (691-751 H). Meskipun seruan ini mendapat tantangan hebat dari ulama-ulama semasanya, akan tetapi pada abad selanjutnya terutama setelah abad XIII H, mempunyai pengaruh besar terhadap kemajuan Ilmu Fiqih.
Di dalam buku Sejarah Dan Perkembangan Hukum Islam, DR. Jaih Mubarok mengemukakan bahwa secara umum keterpakuan tekstual terjadi karena keterbelengguan akal pikiran sebagai akibat hilangnya kebebasan berfikir. Farouk Abu Zaid berpendapat bahwa kebebasan berfikir hilang karena disebabkan oleh pemaksaan penggunaan aliran atau mahzab tertentu oleh pihak penguasa, seperti khalifah al-Makmun, al-Mu’tasshim, dan al-Watsiq memaksakan muktazilah kepada ulama.
Salah satu akibat keterbelengguan akal dan pikiran adalah timbulnya pendapat ulama yang memandang bahwa pendapat para imam mahzab sepadan dengan nash Al-Qur’an dan Sunnah yang tidak dapat diubah, digugat, atau diganti. Salah satu ulama mahzab Hanafi pernah berkata, “Setiap ayat Al-Qur’an dan Hadist yang bertentangan dengan mahzab Hanafi dapat ditakwilkan atau di-nasakh-kan.”. Imam Iyadl juga pernah berkata, “Bagi yang taqlid, kedudukan pendapat imam mahzabnya dinilai sejajar dengan Al-Qur’an dan Sunnah.”
Drs. Yusran Asmuni menyebutkan sebab-sebab timbulnya taqlid antara lain:
a. Adanya pembukuan kitab-kitab Fiqih dan pembelaannya terhadap mahzab yang dianut dalam kitab itu.
b. Kurangnya perhatian umat Islam terhadap ilmu agama dan terpecah belahnya umat Islam atau negara-negara Islam.
c. Pengangkatan hakim-hakim muqallid dan membatasi agar keputusan-keputusan hakim hanya dari mahzab tertentu.
d. Adanya kitab-kitab Manaqib, yaitu kitab yang menerangkan keutamaan dan kelebihan suatu mahzab.
Selain dari yang disebutkan oleh Drs. Yusran Asmuni ada beberapa tokoh lain yang menyebutkan beberapa sebab munculnya taqlid. Tokoh-tokoh itu diantaranya adalah:
1. Sulaiman al-Asyqar (1991: 146-162) menyebutkan lima sebab:
a. Adanya penghargaan yang berlebihan kepada guru. Hal itu tercermin dalam anggapan bahwa, pertama, setiap orang dewasa diwajibkan menganut salah satu mahzab dan haram jika keluar dari mahzab tersebut. Kedua, mengambil pendapat selain pendapat imam yang dianutnya adalah haram, Ketiga, guru yang terdahulu lebih mengetahui nash daripada kita.
b. Banyaknya kitab fiqih. Pada zaman Abu Bakar dan Umar, hadist tidak boleh dibukukan karena Nabi SAW melarangnya. Cegahan tersebut dilakukan karena Nabi khawatir para sahabat akan meninggalkan Al-Qur’an karena disibukkan dengan kegiatan pengumpulan dan pembukuan hadist. Yang dikhawatirkan setelah munculnya kitab-kitab fiqih adalah disibukkannya ulama dengan kegiatan yang berkutat pada kitab fiqih melalui upaya pembuatan ringkasan (al-mukhtashar), penjelasan (syarh), dan penjelasan atas penjelasan (hasyiyah).” Dalam kitab Muqaddimah, Ibnu Khaldun menyatakan bahwa melakukan kegiatan yang berkutat pada kitab fiqih adalah kegiatan yang menyulitkan karena akan belajar haruslah menguasai, menghafal dan menjaga seluruh isi dan cara-cara yang ditempuhnya.
c. Melemahnya Daulah Islamiyah. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, dukungan pemerintah sangat mempengaruhi terhadap kegiatan ilmiah. Dunia Islam pun mulai berkembang dan maju setelah khalifah berpihak kepada pengembangan ilmu dan penerjemahan terhadap buku-buku filsafat, astronomi dan kedokteran ke dalam bahasa Arab. Sebaliknya melemahnya pemerintahan berarti melemah juga tehadap pengembangan ilmu.
d. Adanya anjuran sultan yang menganjurkan untuk mengikuti aliran yang dianutnya. Kedudukan sultan berpengaruh terhadap taqlid karena sultan hanya mengangkat qadli atau hakim dari mahzab yang dianutnya.
e. Adanya keyakinan sebagian ulama yang beranggapan bahwa pendapat setiap mujtahid itu benar. Menurut sebagian ulama, pendapat ulama sejajar dengan syariat, sehingga pendapat ulama yang mana saja boleh digunakan. Ada kesan bahwa pendapat ulama adalah agama yang mesti diikuti.

2. Kamil Musa (1989: 180) menyebutkan tujuh alasan mengapa muncul taqlid, yaitu:
a. Adanya ajakan kuat dari guru kepada muridnya untuk mengikuti mahzab yang ia anut.
b. Lemahnya pemikiran dan peradilan.
c. Adanya upaya pembentukan dan pelestarian mahzab.
d. Munculnya faham bahwa ijtihad (mengeluarkan pendapat sendiri) telah keluar dari mahzab yang ia anut.
e. Berkembangnya sikap berlebih-lebihan dalam memperlakukan kitab-kitab fiqih.
f. Banyaknya kitab-kitab fiqih
g. Tidak adanya kesesuaian antara perkembangan akal dan perkembangan pemahaman (fiqih).

3. Adapun menurut pandangan Muhammad ‘Ali al-Sayyis (1990: 138-139), yang menyebabkan taqlid muncul adalah:
a. Munculnya ajakan yang kuat dari para penerus mahzab untuk mengikuti mahzabnya sehingga yang tidak mengambil dan mengggunakan pendapat imam mahzabnya dianggap keluar dari mahzab dan melakukan bid’ah.
b. Adanya degradasi kecerdasan para hakim. Sebelumnya para hakim diangkat dari kalangan ulama yang mampu melakukan istinbath al-ahkam dari Al-Qur’an dan Sunnah secara langsung. Mereka memutuskan sengketa dan perselisihan di pengadilan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, hakim diangkat dari ulama yang mengikatkan diri dengan aliran hukum tertentu.
c. Berkembangnya pembentukan aliran-aliran fiqih.
d. Adanya “ulama” yang saling hasut.
e. Munculnya perdebatan ahli hukum secara tidak sehat.
f. Berkembangnya sikap berlebihan dalam mengajarkan fiqih mahzab
g. Rusaknya sistem belajar.
h. Banyaknya kitab-kitab fiqih.
i. Hilangnya kecerdasan individu.
j. Munculnya kesenangan masyarakat kepada harta secara berlebihan (materialistik).

Menurut DR. Jaih Mubarok sebab munculnya taqlid adalah karena dua hal: pertama, keterbelengguan pemikiran sehingga ulama lebih suka mengikatkan diri dengan aliran fiqih tertentu; dan kedua, karena ulama kehilangan kepercayaan diri untuk berdiri sendiri yang didasarkan pada bahwa ulama pendiri mahzab itu lebih cerdas dan pintar daripada dirinya.
Ahmad Hanafi, M.A di dalam buku Pengantar dan Sejarah Hukum Islam juga menjelaskan beberapa sebab munculnya taqlid, yaitu:
a. Pergolakan politik telah mengakibatkan perpecahan di dalam negeri Islam menjadi negeri-negeri kecil sehingga negeri-negeri tersebut selalu mengalami kesibukan perang, saling menfitnah, dan hilangnya ketentraman masyarakat. Sehingga berkurangnya perhatian terhadap kemajuan ilmu.
b. Timbul berbagai mahzab yang mempunyai metode berfikir sendiri dibawah seorang imam mujtahid. Akibatnya para pengikut mahzab berusaha untuk membela mahzabnya tanpa memperkuat dasar maupun pendapatnya dengan cara mengemukakan alasan kebenaran mahzabnya dan menyalahkan pendapat mahzab lain dengan cara memuji imam yang mereka anut. Akhirnya seseorang tidak mengarahkan perhatiannya kepada Al-Qur’an dan Hadist, tapi baru menggunakan kedua sumber ini untuk memperkuat pendapat imamnya. Dengan demikian kebebasan orang untuk berfikir menjadi hilang, orang berilmu menjadi awam dan akhirnya hanya bisa bertaqlid.
c. Pembukuan terhadap pendapat mahzab menyebabkan orang mudah untuk mencarinya, orang hanya mencari yang mudah bukan yang sulit. Sebelumnya para fuqaha berijtihad untuk menyelesaikan masalah syara’. Tapi setelah hasil ijtihad dibukukan para pencari ilmu hanya mencukupkan dengan pendapat yang telah ada. Sehingga hilanglah dorongan untuk maju.
d. Masa sebelumnya para hakim berasal dari orang yang bisa berijtihad sendiri, tapi masa sesudahnya hakim diangkat dari orang yang bertaqlid pada pendapat mahzab-mahzab tertentu.
e. Penutupan pintu ijtihad.
Jaih Mubarok menyebutkan beberapa penyebab tertutupnya ijtihad, yaitu:
Pertama, munculnya hubb al-dunya di kalangan para ulama. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulum al-Din, membagi ulama menjadi dua bagian: ulama dunia dan ulama akhirat. Ulama dunia adalah ulama yang ilmunya digunakan hanya untuk mengejar kepentingan duniawi; dan ia lalai dalam ibadah serta kehilangan sifat zuhud.
Kedua, adanya perpecahan politik. Pada akhir kekuasaan Abbasiyah, khalifah dijadikan boneka; daerah yang dikuasainya masing-masing berdiri sendiri dan saling bermusuhan. Pada tahun 324 H, umat Islam terbagi ke dalam beberapa kerajaan: Bashrah dikuasai dinasti Ra’iq, Fez dikuasai dinasti ‘ali ibn Buwaihi, Ray dikuasai oleh Abi ‘Ali al-Husain ibn al-Buwaihi, Diyar Bakr oleh bani Hamdan, Mesir dan Syam dikuasai dinasti Fatimiyah, dan Bahrain dikuasai oleh dinasti Qaramithah. Khalifah hanya berkuasa di Baghdad.
Ketiga, adanya perpecahan aliran fiqih. Umat Islam ada yang beranggapan bahwa pendapat ulama sepadan dan sejajar dengan Al-qur’an dan Sunnah. Pendapat ulama tidak boleh diubah atau diganti dengan pendapat lain. Sehingga melahirkan ketidakharmonisan dalam kalangan umat Islam, karena dalam sejarah umat Islam memiliki banyak aliran. Setiap pengikut mahzab mengklaim bahwa pendapat imamnya yang paling benar dan pendapat imam lain salah. Selain itu faktor lain adalah munculnya keterbelengguan pemikiran atau kegiatan pengembangan ilmu. Ijtihad adalah bagian dari kegiatan ilmiah. Sehingga tertutupnya ijtihad merupakan implikasi kemunduran umat Islam.
Inilah beberapa pendapat yang mengemukakan sebab-sebab munculnya taqlid. Dimana, karena semua itu menyebabkan orang-orang muslim tidak mau lagi berijtihad dalam menyelesiakan permasalahan mereka. Saling menghina dan menyalahkan aliran atau ajaran mahzab lain adalah kebiasaan orang-orang muslim pada masa muqallidun. Dan kemunduran Islam pun semakin parah dan tidak bisa bangkit seperti masa-masa sebelumya.

5. HUKUM TAQLID
Pada dasarnya para ulama sepakat mengharamkan taqlid karena dapat membuat manusia malas untuk berijtihad. Dalam buku Ushul Fiqih II karangan Drs. H.A. Mu’in disebutkan ada tiga hukum taqlid, yaitu:
a. Taqlid yang haram
Para ulama membagi taqlid yang dihukumi haram ini menjadi tiga macam:
1. Taqlid semata-mata mengikuti adat kebiasaan atau pendapat nenek moyang atau orang-orang dahulu kala, yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Contohnya adat kebiasaan yang terjadi pada masyarakat yang sampai sekarang masih sulit untuk ditinggalkan, yaitu pada setiap bulan syuro diadakan yang namanya “bersih desa” atau “grebeg suro” yang ditandai dengan ritual-ritual yang menandai perbuatan syirik dan perdukunan yang masih kental di dalam masyarakat awam di daerah-daerah terpencil. Allah berfiman dalam surat Al-Baqarah:
                       
170. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Dan fiman Allah SWT dalam Surat Al-Maidah ayat 104:
                         
104. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk Kami apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.

2. Taqlid kepada orang atau sesuatu yang tidak diketahui kemampuan dan keahliannya. Seperti orang yang menyembah berhala, tapi ia tidak mengetahui kemampuan dan kekuasaan berhala tersebut. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah yang berbunyi:
 ••                        •    •           •      
165. Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu [57] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).
166. (yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
[57] Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.

3. Taqlid kepada perkataan atau pendapat seseorang, sedang yang bertaqlid mengetahui bahwa perkataan dan pendapat itu salah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S At-Taubah ayat 31:
                         
31. Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah[372] dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
[372] Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.
Berkenaan dengan ayat di atas Nabi Muhammad SAW bersabda:
اليس يحلون لكم ما حرم الله عليكم فتحلونه ويحرموت عليكم ما احل الله لكم فتحرمونه

Artinya: ”Bukankah mereka menhalalkan bagimu apa yang telah diharamkan Allah, dan mereka telah mengharamkan atasmu apa yang telah dihalalkan Allah bagimu. Lalu kamu mengharamkannya pula”?

Dalam ayat ini dijelaskan orang-orang yahudi dan nasrani mengikuti perkataan dan pendapat rahib-rahib dan pendeta pendeta tanpa memperhatikan dasar-dasar dalil yang mereka ucapkan karena mereka menganggap rahib dan pendeta adalah Tuhan. Hal ini dikemukakan Allah secara analogi dalam ayat ini bahwa bertaqlid kepada orang lain, sedang mereka mengetahui berbagai kesalahan sama dengan menyembah kapada selain Allah. Dan hal ini sangat dicela Alah dan Rasulnya. Taqlid semacam ini kelak akan dimintai tanggung jawab di akhirat. Allah berfirman:
        •         
36. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (Q.S Al-Israa’: 36)

Sehubungan dengan taqlid yang diharamkan diatas Ad Dahlawi mengatakan bahwa tidak boleh seorang awam bertaqlid kepada seorang ulama dengan anggapan bahwa ulama itu tidak munkin salah atau dengan anggapan bahwa semua yang dikatakan ulama itu pasti benar, serta enggan mengikuti perkataan atau pendapat orang lain walaupun ada dalil yang membenarkannya. Ad Dahlawi juga mengatakan bahwa tidak boleh bertaqlid kepada orang yang mengharuskan berfatwa sesuai dengan mahzab Hanafi sehingga semua persoalan harus dikembalikan kepada mahzab Hanafi saja atau dengan mahzab tertentu saja, karena hal ini menyalahi kesepakatan ulama dan berlawanan dengan pendapat sahabat dan tabi’in.

b. Taqlid yang Dibolehkan
Drs. H.A. Mu’in mengatakan diperbolehkan bertaqlid kepada seorang mujtahid dalam hal yang belum ia ketahui hukum Allah dan Rasulnya yang berhubungan dengan persoalan atau suatu peristiwa, dengan syarat bahwa ia harus selalu mencari dalil dan menyelidiki kebenaranya, maksudnya bahwa taqlidnya adalah bersifat sementara. Dan jika kebenarannya sudah diketahui dari Al-Qur’an dan Hadist dan ternyata pendapat mujtahid tersebut salah maka pendapat itu harus ditinggalkan dan kembali pada Al-Qur’an dan Hadist. Sebagai contoh adalah jika kita ketinggalan waktu sholat ashar ada ulama yang berpendapat boleh dijama’ dengan sholat magrib sesudahnya. Untuk sementara kita boleh mengikuti pendapat tersebut. Tapi jika kita menemukan dalil yang menyalahkan pendapat tersebut kita harus meninggalkannya.
Taqlid ini biasanya terjadi pada orang awam kepada ulama yang dipercayainya, selama orang awam itu belum menemukan alasan dari pendapat ulama yang diikutinya itu. Hal semacam ini sudah terjadi dikalangan umat Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW.
Sekalipun para imam mujtahid, seperti imam, Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal tidak mengharuskan orang bertaqlid kepada pendapat mereka, namun para ulama mutaakhirin membagi masyarakat yang bertaqlid menjadi dua golongan , yaitu:
1. Golongan awam atau orang yang tidak berpendidikan wajib bertaqlid kepada pendapat salah satu dari ke empat imam tersebut.
2. Golongan yang memenuhi syarat ijtihad, sehingga tidak boleh bertaqlid kepada ulama. Ulama yang berpendapat demikian antara lain:
1. Al ‘Adhud (wafat 573 H)
2. Ibnul Hajib (wafat 646 H)
3. Ibnus Subki (wafat 771 H)
4. Al Mahalli (wafat 886 H)
Mereka berempat mengemukakan ada dua arti taqlid:
1. Taqlid dengan arti lughawi (bahasa), yaitu beramal atau mengikuti pendapat seseorang tanpa mengetahui sama sekali dasar dari pendapat itu.
2. Taqlid dengan arti ‘urfi (populer), yaitu beramal atau mengikuti pendapat seeorang, sedang dasar dari pendapat itu tidak diketahui dengan sempurna.

Ahmad Hanafi menjelaskan bahwa bagi orang yang sudah mencapai tingkatan mujtahid, maka dengan kesepakatan fuqaha ia tidak boleh menggunakan pendapat orang lain dengan menyalahi hasil ijtihadnya sendiri. Tetapi apabila dalam suatu persoalan ia belum mengambil ijtihad, sedangkan orang lain telah mengadakan ijtihad apakah ia boleh mengikuti mendapat mereka?
Menurut pendapat yang kuat ia tidak boleh mengambil ijtihad orang lain dan ia harus ijtihad sendiri sebagai kewajiban pokok. Kebolehan mengikuti pendapat orang lain bagi orang awam tidak berlaku bagi orang yang sanggup melakukan ijtihad sendiri. Kebolehan mengikuti pendapat bagi orang biasa hanya terbatas dalam masalah furu’ (masalah yang lahir), bukan masalah kepercayaan dan orang yang diikuti bukanlah orang yang awam, tapi orang yang ahli dalam melakukan ijtihad, berdasarkan keyakinan yang maksimal.
Kalau dalam suatu negeri terdapat beberapa tingkatan orang mujtahid, maka yang harus diikuti adalah orang yang paling taat beragama, karena kedudukan para mujtahid bagi orang-orang awam sama dengan kedudukan dalil syara’ bagi seorang mujtahid, harus diadakan penarjihan mana yang lebih kuat. Pendapat lain mengatakan, orang awam bisa mengikuti mujtahid mana yang disukai, karena di kalangan sahabat-sahabat sendiri terdapat tingkatan keijtihadannya. Walaupun begitu tidak ada riwayat yang mengharuskan bagi orang awam untuk mengikuti sahabat tertentu dan tidak ada kritikan terhadap orang yang mengikuti mujtahid sahabat dari kalangan biasa.

c. Taqlid yang Diwajibkan
Pada zaman sekarang ini taqlid yang berkembang seperti di Indonesia adalah taklid kepada buku, bukan taqlid kepada imam-imam yang terkenal. Imam-imam yang terkenal itu adalah Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, dan Ahmad Bin Hanbal. Jika seseorang bertaqlid kepada seorang imam dia harus mengikuti ajaran imam tersebut secara murni, atau setidaknya kepada muridnya yang paling dekat. Orang yang bertaqlid pada salah satu imam tidak boleh mengikuti ajaran imam lain. Tapi kenyataan yang terjadi adalah tidak demikian, kebanyakan orang mengikuti pendapat seseorang yang digolongkan termasuk mahzab salah satu imam.
Jadi kenyataan menunjukkan bahwa taqlid yang berkembang masa sekarang, bukan taqlid kepada mujtahid, sebagaimana yang dikehendaki Al ‘Adhud (wafat 573 H), Ibnul Hajib (wafat 646 H), Ibnus Subki (wafat 771 H), dan Al Mahalli (wafat 886 H) dan para ushul fiqih, tetapi adalah taqlid kepada orang yang mengaku bertaqlid kepada imam yang terkenal, sambil menyisipkan pendapatnya ke dalam kitab karangan imam-imam yang terkenal. Hal semacam ini sangat dilarang oleh para ulama, khususnya Ad Dahlawi, Ibnu Abdil Bar, Al Jauzi dan sebagainya.

6. TAQLID dalam MASALAH FAR’IJJAH
Dja’far Amir mengemukakan taqlid dalam masalah far’ijjah sebagai berikut:
واختلفوا فى المسائل الشرعية هل يجوزالتقليد فيها فذهب الجمهور من اهل العلم انه لايجوز مطلقا

Para ulama berselisih dalam masalah far’ijjah (hukum syara’), adakah diperbolehnya taqlid dalam soal syara’ itu.
1. Para ulama jumhur melarang hal itu secara mutlak. Maksudnya, agar supaya tiap orang itu berusaha supaya mengetahui hukum Allah dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya ikut saja, tapi kita beramal harus disertai ilmu dan amal tanpa ilmu adalah tidak karuan serta tidak dapat dipertanggung jawabkan ke hadapan Allah SWT. Jadi ulama jumhur mencela taqlid.
2. Sebagian ulama mewajibkan taqlid. Berarti yang belum mengerti diwajibkan mengikuti dan meniru saja kepada yang sudah mengerti. Tidak boleh berfikir, karena berfikirnya orang yang tidak mengerti akan keliru dan sia-sia, dan sulit untuk dapat dipertanggung jawabkan.
Taqlid bagi dia lebih aman daripada berfikir sendiri.

يجب مطلقا ويحرم النظر
3. Ulama yang lain berpendapat harus diperinci ialah bahwa taqlid wajib bagi orang awam dan haram bagi seorang mujtahid. Karena mengingat tidak semua orang dapat mengetahui dengan sendiri tentang hukum syara’.
التفصيل وهو يجب للعام ويحرم على المجتهد

Masjfuk Zuhdi menjelaskan mengenai taqlid dalam masalah-masalah furu’ (masalah bukan aqidah), ada tiga pendapat , ialah:
1. Tidak boleh taqlid begitu saja, tetapi mereka wajib berusaha mengetahui hukum- hukum ijtihad atau fatwa dari mujtahid/mufti.
2. Boleh taqlid dalam masalah-masalah ijtihadiyah, bukan masalah-masalah yang sudah ada kepastian hukumnya dalam nash Al-Quran dan Sunnah.
3. Wajib mengikuti pendapat mujtahid dan mengambil fatwanya (taqlid).
Karena itu sesuai dengan tradisi di zaman sahabat dan tabi’in, masyarakat awam selalu bertanya kepada mujtahid dari kalangan sahabat dari tabi’in itu mengenai masalah-masalah hukum syara’. Dan mereka menanggapi secara cepat dengan memberikan fatwa-fatwanya kepada masyarakat awam yang meminta fatwanya. Kemudian mereka dengan penuh kepercayaan dapat menerima fatwa-fatwa para mujtahid itu, sekalipun fatwa-fatwa hukumnya tidak disertai dalil syara’, sebab masyarakat awam itu seolah-olah menganggap mujtahid sebagai dalil sendiri kedudukannya.
Mengenai taqlid dalam masalah-masalah ushul atau aqidah, kebanyakan ulama Ushul Fiqh berpendapat, bahwa tidak boleh taklid dalam masalah ushul/akidah, sekalipun bagi masyarakat awam. Siapa pun orang muslim wajib mengetahui dan memahami dalil-dalilnya secara global dengan alasan sebagai berikut:
1. Masalah yang menyangkut ushul/akidah itu terbatas dan tertentu, berbeda dengan masalah furu’ yang tidak terbatas jumlahnya, sehingga kewajiban mengetahui dan memahami dalil-dalil aqidah secara global itu tidak akan menimbulkan kerepotan dan kesulitan hidup masyarakat.
2. Manusia diperintahkan untuk mencapai tingkatan yakin dalam masalah akidah. Misalnya Surat Al-A’raf ayat 185:
                       
185. Dan Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?

3. Pada dasarnya taklid itu tercela dan dilarang oleh agama. Dan kalau kita diperbolehkan taklid dalam masalah furu’ itu tidak lain sebagai dispensasi. Banyak ayat Al-Quran yang mencela sikap bertaqlid. Antara lain surat Al-Baqarah ayat 170,yang artinya:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

7. BERTANYA
Dja’far Amir juga mengemukakan bahwa bagi orang yang tidak mengerti sebenarnya diharuskan oleh Allah bertanya kepada yang mengerti, sehingga jelaslah dia soal-soal agama, mengerti hukum-hukum Allah dengan baik, tidak hanya ikut-ikut saja. Karena Allah membekali manusia dengan akal adalah untuk berfikir dan juga untuk memikirkan tentang hukum-hukum Allah. Allah berfiman dalam sebuah ayat:
        
Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan [454] jika kamu tidak mengetahu”. (Q.S An-Nahl: 43)

[454] Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab.
Allah juga berfirman yang artinya: …”Apakah kamu tidak berfikir”. (Q.S Al-An’am: 50)
  

8. PENDAPAT PENDAPAT IMAM MAHZAB TENTANG TAQLID
Drs. H.A. Mu’in, dkk dalam buku Ushul Fiqih menjelaskan para ulama sepakat bahwa boleh bertaqlid kepada seorang mujtahid yang telah diakui oleh para ulama sebagai mujtahid selama seseorang belum memiliki kesanggupan untuk melakukan ijtihad, sesuai dengan ketentuan Ushul Fiqih bahwa dilarang bertaqlid kepada muqallid sementara boleh bertaqlid kepada mujtahid.
Pada masa kehidupan imam-imam mahzab, belum ada persoalan taqlid karena para imam menganjurkan dan mendorong umat Islam untuk menuntut ilmu agama Islam sehingga mereka bisa berijtihad. Pendapat para imam mahzab tentang taqlid adalah sebagai berikut:

1. Abu Hanifah (80-150 H)
Imam Abu Hanifah sangat melarang seseorang mengikuti apa yang dikatakannya, jika ia tidak mengetahui dasar perkataan itu. Beliau menyatakan: “Tidak boleh seseorang mengikuti perkataan yang telah kami katakan, sehingga ia mengetahui dari mana asal perkataan kami itu”. Bahkan beliau mengharamkan orang mengikuti fatwanya, jika ia tidak mengetahui dalil dari fatwa itu.
Abu Hanifah pernah ditanya orang: ‘apakah engkau akan mengatakan suatu perkataan, sedang kitab Allah melarangnya, bagaimana pendapatmu’. Beliau menjawab: ‘tinggalkanlah perkataanku dan ikutilah kitab Allah’. Orang itu bertanya: ‘Bila khabar Rosululloh menyalahkannya’. Beliau menjawab: ‘tinggalkanlah perkataanku dan ikutilah khabar dari Rosululloh SAW’. Bila perkataan sahabat menyalahkannya,’ Beliau menjawab: ‘tinggalkan perkataanku dan ikutilah perkataan para sahabat’.

2. Malik bin Anas (93-179 H)
Beliau menyatakan bahwa beliau adalah seorang manusia biasa yang tidak luput dari berbagai kesalahan. Beliau berkata: sesungguhnya aku ini tidak lain adalah manusia biasa, munkin aku salah dan mungkin benar. Karena itu hendaklah kamu perhatikan pendapatku. Semua pendapatku yang sesuai dengan kitab Allah dan Sunnah Rasul, ambillah, dan semua yang tidak sesuai dengan Sunnah Rasul tinggalkanlah’.
Sewaktu beliau ziarah ke makam Rasululloh SAW, beliau berkata kepada temannya: ‘Setiap orang dapat diterima atau ditolak pendapatnya, kecuali perkataan orang yang ada di dalam kubur ini’ sambil menunjuk ke kuburan Rasul. Hal ini berarti setia pendapat dan perkataan orang sampai kepada kita harus diperiksa dan diteliti lebih dulu, jika benar diikuti dan jika salah ditinggalkan.

3. Imam Asy Syafi’i (150-204)
Beliau adalah murid Imam Malik. Ia belajar kepada Imam Malik selama 9 tahun. Kemudian belajar kepada Muhammad bin Hasan, murid imam Malik selama sekitar dua tahun. Imam Syafi’i lebih tegas terhadap taqlid, dan ada nada mengecam orang yang taqlid dan orang yang menganjurkan bertaqlid. Beliau menyatakan: “Terhadap apa yang telah aku katakan, sedang Hadist Nabi telah menyalahi perkataanku, maka riwayat yang benar adalah dari Nabi SAW lebih utama dan janganlah kamu bertaqlid padaku”.
Beliau juga menyatakan bahwa beliau akan meninggalkan pendapatnya, pada setiap saat ia mengetahui bahwa pendapatnya tidak sesuai dengan Hadist Nabi SAW. Setiap masalah yang benar-benar berasal dari Nabi SAW dan menyalahi pendapatku, maka aku akan kembali kepada Hadist Nabi, di waktu aku hidup atau setelah mati.
Bahkan beliau berpesan kepada Abu Ishaq dan Al-Muzzani: ‘Hai Abu Ishaq janganlah bertaqlid kepada setiap apa yang aku katakan, perhatikanlah yang demikian untuk dirimu sendiri, karena hal ini berhubungan dengan masalah agama’.

4. Imam Hambali (164-241)
Imam Hambali sangat melarang taqlid. Imam Abu Daud berkata: ‘aku pernah bertanya kepada Imam Hambali: “Apakah Imam Auza’i yang aku ikuti atau Imam Malik”. Beliau menjawab: “Jangan kamu mengikuti pendapat salah seorang dari keduanya dalam hal yang berhubungan dengan hal agamamu. Apa yang berasal dari Nabi SAW dan sahabatnya, hendaklah kamu ambil dan pegang kokoh, kemudian apa yang berasal dari tabi’in boleh kamu ambil setelah kamu seleksi atau teliti.
Dari permyataan ini difahamkan bahwa beliau melarang bertaqlid pada para imam manapun, dan beliau menyuruh orang agar mengikuti semua yang berasal dari Nabi SAW dan orang-orang sesudahnya agar diselidiki lebih dahulu. Mana yang benar diikuti dan mana yang salah ditinggalkan. Beliau pernah menyatakan bahwa tanda menunjukkan sedikitnya ilmu seorang itu, ialah ia bertaqlid kepada seseorang tentang urusan agama. Banyak pernyataan-pernyataan beliau yang menunjukkan bahwa beliau seorang yang tidak menyetujui taqlid.

9. ULAMA YANG HIDUP PADA MASA TAQLID
1. IBNU HAZM AL-ZHAHIRI (384-456 H)
Ibnu Hazm hidup dalam dua masa kerajaan Islam yaitu dinasti Umayah dan zaman Muluk Al Thawaif. Ia hidup di masa Umayah selama 37 tahun dan 32 tahun pada zaman Muluk al-Thawaif. Sebagai anak seorang menteri ia mulai mengenal politik sejak muda, yaitu usia lima belas tahun. Dia melihat berbagai macam kerusuhan dalam pemerintahan Negara. Bahkan dia ikut dalam kancah politik dan menyelesaikan kericuhan sampai beberapa kali sehingga keluar masuk penjara. Setelah keluar dari penjara yang terakhir, Ibnu Hazm mencurahkan perhatiannya dan menuliskan gagasan-gagasannya.
Kemelut politik yang berkepanjangan membuat Ibnu Hazm melakukan penelitian tentang hukum yang berlaku. Mahzab resmi bani Umayah adalah mahzab Imam Maliki. Dalam pandangannya fiqih Maliki menggunakan mashlahah mursalah yang menggunakan ra’yu ternyata tidak bisa mengatasi permasalahan politik yang terjadi dalam tubuh bani Umayah.
Ibnu Hazm mengajukan solusi ntuk mengganti mahzab yang resmi yang tidak dapat mengatasi kemelut politik tersebut adalah mengajukan empat sumber yaitu al-kitab, al-sunnah, ijma’ al-shahabah, dan al-dalil.

Guru-guru Ibnu Hazm:
1. Al- Husain Ibnu ‘Ali al-Farasy
2. Ahmad ibn Yusuf
3. Ibnu ‘Abd al-Birri al-Maliki
4. ‘Abd al-Qasim ‘Abd al-Rahman al-Azdi
5. Abu Bakr Muhammad ibn Ishaq
6. ‘Abd Allah al-Azdi
7. Abu Khiyar Mas’ud ibn Sulaiman ibn Maflat al-Zahiri
8. Abu ‘Abd Allah ibn Hasan al-Madhaji.
Dalam ijtihad, Ibnu Hazm menentukan langkah-langkah sebagai berikut:

الاصول التى لايعرف شيء من الشارع الا منها اربعة وهي نص القران ونص كلام رسول الله صلى الله عليه وسلم الذى انما هو عن الله مما صح عنه عليه السلام ونقله الثقات او التواتر واجماع الائمة ودليل منها لايحتمل الا وجها واحدا
“ Dasar-dasar hukum Allah yang sama sekali tidak dapat diketahui kecuali dengan empat dasar, yaitu nash Al-Qur’an, nash sabda Nabi Muhammad SAW yang dasarnya berasal dari Allah yang diriwayatkan oleh rawi tsiqah (cerdas, adil, dan kuat ingatan) atau diriwayatkan secara mutawatir, ijma’ ulama, dan al-dalil”.

Karya Ibnu Hazm
Kitab fiqih Ibnu Hazm yang terkenal adalah al-Muhalla (tiga belas jilid). Sedangkan dalam bidang ushul al-fiqh adalah al-Ihkam fi Ushul al Ahkam (delapan jilid). Kitab kitab yang lain adalah sebagai berikut:
a. Risalah fi al-Fadll al-Andalus
b. Al-Ishal ila Fahm al-Hishal al-Jami’ah li Jumal al-Syara’i al-Islam
c. Al-fashl fi al-Milal wa al-Ahwal wa al-Niha
d. Al-Ijma’
e. Maratib al-Ulum wa Kaifiyyat Thalabuha
f. Idhar al-Tabdil al-Yahud wa al-Nashara
g. Al-Taqrib bi Hadd al-Manthiq
h. Thauq al-Hamamah

2. ABU HAMID AL-GHAZALI (450-505 H./W. 1111 M.)
Beliau lahir di Ghazaleh (khurasa), dan ia dijuluki sebagai hujjat al-Islam. Beliau menuntut ilmu di Nisyapur dan Khurasan yang pada waktu itu merupakan pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia Islam. Ia belajar tentang teologi, fiqih, dan ushul-nya, filsafat, logika dan sufisme. Sedangkan ilmu yang ia kuasai adalah akidah, ushul fiqih, fiqih, mantik, filsafat dan tasawuf.
Dalam berijtihad beliau melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Nushul al-Kitab
b. Hadis Mutawatir
c. Hadis ahad
d. Apabila tidak didapatkan dalam tiga landasan di atas, ia menggunakan zhahir al-Kitab
e. Apabila tidak di dapatkan keempatnya, menggunakan ijma’ jika diketahui terdapat ijma’
f. Apabila dalam ijma’ pun tidak ada ia menggunakan analogi (qiyas).

Karya imam Ghazali jumlahnya banyak sekali, diantaranya adalah, kitab Ihya ‘Ulum al-din, al-Wajiz fi al-fiqih, Bayan al-Qaulain li al-Syafi’I dan al-Fatawa. Kitab Ihya ‘Ulum al-Din adalah kitab yang paling terkenal. Dalam pendahuluan kitab itu Badawi Ahmad Thahah (1957) menjelaskan berbagai kitab karya Imam al-Ghazali dalam berbagai bidang. Ia menuliskan karya al-Ghazali yang jumlahnya 47, diantaranya dalam bidang fiqih adalah kitab Ihya ‘Ulum al-Din (empat jilid); dalam bidang tafsir adalah Jawahir al-Qur’an; dalam bidang filsafat Tahayut al-Falasiyah; dalam bidang tasawuf adalah Kimiya’ al- Sa’adah; dalam bidang ushul fiqih adalah al-Musthasfa.

C. SKEMATIKA
1. Pendahuluan
Berisi latar belakang penulisan makalah
2. Substansi Kajian
Berisi isi makalah yang meliputi seluruh bab:
a. konsep taklid: mencangkup pengertian taqlid secara bahasa maupun terminologi.
b. gambaran politik: merupakan gambaran keadaan politik pada masa periode taqlid.
c. gambaran ijtihad: mencangkup keadaan ijtihad yang semakin hilang karena maraknya orang bertaqlid.
d. sebab taqlid: merupakan hal-hal yang melatarbelakangi mnculnya taqlid.
e. hukum taqlid: adalah hukum mengenai taqlid.
f. taqlid masalah far’ijjah: adalah bagian yang menjelaskan hukum taqlid dalam masalah far’ijjah.
g. bertanya: menjelaskan agar orang yang awam bertanya jika tidak tahu sesuatu kepada ulama.
h. pendapat para ulama: berisi pendapat para ulama tentang taqlid.
i. ulama yang hidup pada masa taqlid: berisi biografi ulama yang hidup pada masa taqlid.
j. kesimpulan: merupakan ringkasan dari masalah yang dibahas.

D. KESIMPULAN
Taqlid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dari mana asal hujjahnya. Sedangkan orang yang bertaqlid disebut muqallid. Taqlid muncul ketika kekuasaan Islam sudah di ambang pintu kehancuran, yaitu pada masa kemunduran. Kemunduran Islam dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya politik, tertutupnya ijtihad dan sebagainya.
Pada dasarnya para ulama jumhur sangat melarang perbuatan taqlid karena hal itu dapat menyebabkan orang tidak mau berfikir tentang masalah agamanya. Sehingga umat Islam hanya mencukupkan tentang perkara agamanya itu dengan kitab-kitab karangan para imam ijtihad. Tapi dalam kalangam umat Islam sendiri tidak ada keharmonisan, hal ini disebabkan karena masing-masing pengikut mahzab mengklaim bahwa mahzabnya yang paling benar.
Orang yang berpendidikan tinggi dan dianggap mampu untuk berijtihad sendiri dilarang untuk bertaqlid. Taqlid boleh dilakukan oleh orang awam tapi dengan syarat bahwa ia harus selalu berusaha mencari dasar-dasar dalilnya. Dan jika ia telah menemukan dasarnya ia harus kembali pada dalil tersebut, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

DAFTAR PUSTAKA

Amir, Dja’far. 1972. Ushul Fiiqh III. Semarang: CV. Toha Putra

Asmuni, Yusran. 1996. Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Hanafi, Ahmad, MA. 1970. Pengantar Dan Sejarah Hukum Islam. Jakarta: Bulan Bintang

Mubarok, Jaih. 2000. Sejarah Dan Perkembangan Hukum Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Rosyada, Dede. 1993. Hukum Islam Dan Pranata Sosial. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Mu’in, H.A, dkk. 1986. Ushul Fiqih II (Qaidah-Qaidah Istinbat Dan Ijtihad). Jakarta: Depag
Syari’ati, Ali. 1992. Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi. Bandung: Mizan
Zuhri, Muhammad. 1980. Tarjamah Tarikh Al-tasyri’ Al-Islami. Semarang: Darul Ikhya
Zuhdi, Masjfuk. 1987. Pengantar Hukum Syariah. Jakarta: CV Haji Masagung
_____. 2005. Al-Qur’an Dan Terjemahnya. Jakarta: PT Syaamil Cipta Media

Category: pendidikan  One Comment

Engkau yang menghidupkan Engkau yang mematikan
Engkau yang memberi sakit Engkau yang mennyehatkan
Engkau yang maha memberi rohmat
Engkau yang maha berkehendak
Engkau yang maha berkuasa atas segala sesuatu
Kami serahkan jiwa raga ini
Hanya kepada Mu kami memohon dan berserah diri
Ampunilah kami
Rohmatillah kami
Sayangi kami, kasihi kami, lindungi kami
Seperti engkau menyayangi oarang-orang yang Engkau cintai dan kasihi

Category: HIKMAH  Leave a Comment

1. Ciri-Ciri Perkembangan Peserta Didik Pada Masa Awal

Masa dewasa awal menurut para ahli psikologi dimulai pada umur 18-30 tahun. Pada masa ini dalam kajian psikologi Islam disebut “fase taklif”, yaitu fase dimana seseorang telah menjadi manusia dewasa telah dikenai kewajiban sebagai ‘abdullah dan sebagai khalifah di bumi, dalam proses menjadi pribadi yang berkualitas. Menurut Fuad Nashori (2002), fase ini akan dapat dijalani oleh seseorang dengan baik bila dalam fase-fase sebelumnya telah mempersiapkan diri agar peran ‘abdullah dapat optimal, mampu berfikir tauhidik, memahami dan menjalankan perintah-perintah Allah dan hukum-hukum Allah dengan baik. Menurut Siti Partini S. (2006) pada masa ini peserta didik memiliki ciri: a. Usia produktif atau masa kesuburan sehingga siap menjadi ayah atau ibu dalam mengasuh dan mendidik anak b. Usia memantapkan letak kedudukan yang mantap c. Usia banyak masalah, serta adanya masalah yang pernah dialami pada masa lalu mungkin berlanjut, serta adanya problem baru. Yaitu yang berhubungan dengan rumah tangga baru, hubungan sosial, keluarga, pekerjaan dan faktor kesempatan, demikian pula faktor intern d. Usia tegang dalam emosi. Ketegangan emosi berhubungan dengan persoalan-persoalan jabatan, karier, perkawinan, keuangan, hubungan sosial/saudara, teman, kenalan . Secara fisik pada masa dewasa awal individu mencapai puncak kemampuan fisik yang diikuti dengan kesehatan yang baik. Sedangkan secara kognitif Schie mengatakan bahwa ada beberapa tahap erkembangan kognitif pada masa dewasa, yaitu: a). Mencari prestasi (achieving stage), b). tahap tanggung jawab (responbility stage), c). tahap eksekutif (executive stage), d). Tahap reintegratif (the integrative stage). Pada masa ini perkembangan emosi, sosial, dan moral sangat berkaitan berbagai macam perubahan dari masa sebelumnya, yaitu remaja. Hal ini saja menimbulkan minat yang berbeda yang menjadi fokus pada usia dini. Kondisi yang mempengaruhi perubahan adalah perubahan kondisi kesehatan, status sosial-ekonomi, pola kehidupan, nilai, peran seks, status dari belum nikah ke status menikah, menjadi orang tua, perubahan tekanan budaya dan lingkungan. Untuk perkembangan sosialnya, sebagaimana yang ditekankan oleh Erikson, masa dewasa awal merupakan masa krisis isolasi (Harlock, 1991). Hal ini dikarenakan kegiatan soaial pada masa dewasa awal sering dibatasi karena berbagai tekanan pekerjaan dan keluarga .

2. Tugas-tugas perkembanga masa dewasa awal Adapun tugas-tugas perkembangan orang dewasa awal, yaitu: a. Memilih pasangan hidup b. Belajar hidup bersama sebagai pasangan suami istri c. Mulai hidup dalam satu keluarga d. Belajar mengasuh anak e. Mengelola rumah tangga f. Mulai bekerja atau membangun karier g. Mulai bertanggung jawab sebagai warga negara h. Bergabung dengan aktivitas atau perkumpulan sosial .

3. Implikasi terhadap pendidikan Fase ini sudah memiliki tingkat kesadaran moral, spiritual dan agam secara mendalam maka pendidikan masa ini menurut Mujib adalah upaya internalisasi sifat-sifat rasul seperti jujur, amanah, tabligh, dan fathanah. Pendidikan yang dapat meningkatkan ketaqwaan dan taqarrub atau kedekatan kepada Alloh SWT, mempersiapkan diri sebaik mungkin .

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS. Al-Ahzab : 72).

Kepercayaan memegang peranan amat penting dalam pelbagai aspek kehidupan. Manusia sendiri sejak awal sudah diberikan kepercayaan oleh Allah SWT untuk menjadi khalifah di muka bumi. Misi kepercayaan ini yang diemban manusia itu tak lain memakmurkan dan memelihara perdamaian.

Namun demikian, memelihara kepercayaan itu tidaklah mudah. Bahkan sebagaimana dijelaskan pada ayat di atas, memelihara amanah itu sangat berta. Karenanya banyak orang yang tidak kuat, akhirnya ia khianat atau ingkar terhadap amanah itu. Allah sendiri sebenarnya sudah mengetahu bahwa sebagian orang sering ingkar terhadap amanah itu.

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan tentang pengertian amanah dalam ayat itu, yaitu menjalankan tugas-tugas keagamaan. Dan tugas-tugas keagamaan ini menyangkut seluruh aspek kehidupan.

Amanah sebenarnya adalah suatu kepercayaan yang ditanggung oleh seseorang untuk mewujudkan kepercayaan atau membuktikan dalam kenyataan dan prilakunya. Sehingga kalau manusia bisa bersikap dan berperilaku amanah, maka dunia ini akan aman dan damai. Tetapi, karena manusia sering zalim atau mencederai amanah atau kepercayaan yang dipegangnya sendiri, maka dunia ini sering kacau gara-gara yang bersangkutan tidak amanah.

Karena itu, jika seorang pemimpin sudah tidak bisa bersikap amanah, maka sebetulnya yang bersangkutan dan yang dipimpinnya tinggal menunggu kehancuran. Karena sekuat manusia menutup ketidakjujurannya, suatu saat akan ketahuan juga. Sekalil ia diketahui bahwa ia tidak bisa dipercaya, maka orang tersebut sulit untuk mendapat kepercayaan lagi.

Biasanya, Allah menguji amanah kepada hamba-Nya itu pada tiga persoalan. Pertama soal tahta atau jabatan, kedua soal wanita dan ketiga pada harta. Sumber kerusakan di muka bumi ini juga sering berawal dari tiga persoalan ini.

Seoarng penguasa atau pemimpin, kalau tidak amanah dengan jabatannya, barang kali ia juga tidak amanah pada yang lain. Misalnya, meski punya istri ia suka dia-diam berbuat serong dengan wanita lain. Karena serong, ia mungkin juga tidak beres dlam mengelola keuangan.

Sehingga dapat disimpulak, jika seseorang tak bisa dipercaya untuk satu urusan, ada kemungkinan ia telah melakukan khianat atau dusta secara akumulatif pada aspek kehidupan lainnya. (Zis Muzahid Hasan)

sumber : Republika

Category: HIKMAH  Leave a Comment

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Al-Qur’an sebagai kitab bagi umat Islam, telah mengisyaratkan kepada manusia untuk melakukan kegiatan pendidikan. Perintah itu turun pertama kali kepada nabi Muhammad dengan perintah untuk membaca, yaitu surat al-Falaq ayat 1-5.
Dalam kegiatan pendidikan ada proses yang tidak bisa terlepas darinya, yiatu proses belajar dan mengajar. Dimana dalam proses itu tidak semerta-merta tanpa adanya faktor-faktor yang diperhatikan. Dalam melakukan proses belajar dan mengajar para komponen pendidikan tidak bisa meninggalkan metode dan teori dalam pendidikan.
Sementara itu belajar dan mengajar merupakan konsep yang bermuatan psikologis. Dan belajar dalam konteks pembelajaran tidak bisa dipisahkan dengasn konteks pengajaran. Belajar merupakan istilah kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan. Dan dalam prosesnya pendidikan selalu mendapat tempat dalam setiap disiplin ilmu, misalnya psikologi belajar.
Dalam konteks psikologi pembelajaran, pengertian tentang belajar sangat beragam, beragamnya pengertian tersebut dipengaruhi oleh teori yang melandasi rumusan belajar sendiri. Teori belajar merupakan prinsip umum yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar. Dari sekian banyak teori pembelajaran yang paling menonjol adalah connectionism, cassical conditioning, operan konditioning dan teori pendekatan kognitif.
Namun penulis tidak akan membahas semua teori itu, penulis hanya akan membahas teori yang terakhir yaitu “pendekatan kognitif”. Dimana teori tersebut salah satunya diciptakan oleh seorang okoh bernama Jean Piaget yang melihat proses belajar mengajar dari sudut pandang psikologi perkembangan kognitif. Untuk lebih jelasnya teori ini akan dibahas pada bagian pembahasan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi Jean Piaget?
2. Bagaimana pemikiran Jean Piaget tentang perkembangan kognitif?
3. Bagaimana implikasi teori Piaget terhadap pendidikan?

C. Tujuan Perumusan Masalah
1. Mengetahui biografi Jean Piaget.
2. Mengetahui pemikiran Jean Piaget tentang perkembangan kognitif.
3. Mengetahui implikasi teori Piaget terhadap pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

1. BIOGRAFI JEAN PIAGET
Jean Piaget lahir di Neuchâtel, Swiss , yang berbahasa Perancis pada 9 Agustus 1896 dan meninggal 16 September 1980 pada umur 84 tahun. Dia adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan Swiss, yang terkenal karena hasil penelitiannya tentang anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya. Menurut Ernest von Glasersfeld, Jean Piaget adalah juga “perintis besar dalam teori konstruktivis tentang pengetahuan” . Karya Piaget pun banyak dikutip dalam pembahasan mengenai psikologi kognitif.
Ayahnya, Arthur Piaget, adalah seorang profesor dalam sastra Abad Pertengahan di Universitas Neuchâtel. Dalam keterangan lain dijelaskan bahwa ayahnya adalah ahli sejarah di bidang sejarah literatur. Piaget adalah seorang anak yang sangat cepat menjadi matang, yang mengembangkan minatnya dalam biologi dan dunia pengetahuan alam, dan dalam usia 21 tahun mendapat gelar doctor dengan disertasi tentang moluska (kerang-kerangan) , dan bahkan menerbitkan sejumlah makalah sebelum ia lulus dari SMA. Bahkan, kariernya yang panjang dalam penelitian ilmiah dimulai ketika ia baru berusia 11 tahun, dengan diterbitkannya sebuah makalah pendek pada 1907 tentang burung gereja albino. Pada usia 23 tahun ia mempublikasikan artikel tentang hubungan antara psikoanalisis dengan psikologi anak. Sepanjang kariernya, Piaget menulis lebih dari 60 buah buku dan ratusan artikel.
Piaget memperoleh gelar Ph.D. dalam ilmu alamiah dari Universitas Neuchâtel, dan juga belajar sebentar di Universitas Zürich. Selama masa ini, ia menerbitkan dua makalah filsafat yang memperlihatkan arah pemikirannya pada saat itu, tetapi yang belakangan ditolaknya karena dianggapnya sebagai karya tulis seorang remaja. Minatnya terhadap psikoanalisis, sebuah aliran pemikiran psikologi yang berkembang pada saat itu, juga dapat dicatat mulai muncul pada periode ini.
Kemudian ia pindah dari Swiss ke Grange-aux-Belles, Perancis, dan di sana ia mengajar di sekolah untuk anak-anak lelaki yang dikelola oleh Alfred Binet, pengembang tes intelegensia Binet dan bekerja dengan Theodore Simon dalam laboratorium Binet . Ketika ia menolong menandai beberapa contoh dari tes-tes intelegensia inilah Piaget memperhatikan bahwa anak-anak kecil terus-menerus memberikan jawaban yang salah untuk pertanyaan-pertanyaan tertentu. Piaget tidak terlalu memperhatikan pada jawaban-jawaban yang keliru itu, melainkan pada kenyataan bahwa anak-anak yang kecil itu terus-menerus membuat kesalahan dalam pola yang sama, yang tidak dilakukan oleh anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa. Hal ini menyebabkan Piaget mengajukan teori bahwa pemikiran atau proses kognitif anak-anak yang lebih kecil pada dasarnya berbeda dengan orang-orang dewasa. Belakangan, ia mengajukan teori global tentang tahap-tahap perkembangan yang menyatakan bahwa setiap orang memperlihatkan pola-pola kognisi umum yang khas dalam setiap tahap perkembangannya.
Pada 1921, Piaget kembali ke Swiss sebagai direktur Institut Rousseau di Geneva. Pada 1923, ia menikah dengan Valentine Châtenay, salah seorang mahasiswinya. Pasangan ini memperoleh tiga orang anak, yang dipelajari oleh Piaget sejak masa bayinya. Pada 1929, Jean Piaget menerima jabatan sebagai Direktur Biro Pendidikan Internasional, yang tetap dipegangnya hingga 1968. Setiap tahun, ia menyusun “Pidato Direktur”nya untuk Dewan BPI itu dan untuk Konferensi Internasional tentang Pendidikan Umum, dan di dalamnya ia secara eksplisit mengungkapkan keyakinan pendidikannya.
Piaget menjabat sebagai profesor psikologi di Universitas Geneva dari 1929 hingga 1975 dan menjadi terkenal karena menyusun kembali teori perkembangan kognitif ke dalam serangkaian tahap, memperluas karya sebelumnya dari James Mark Baldwin, menjadi empat tahap perkembangan yang lebih kurang sama dengan (1) masa infancy, (2) pra-sekolah, (3) anak-anak, dan (4) remaja. Masing-masing tahap ini dicirikan oleh struktur kognitif umum yang mempengaruhi semua pemikiran si anak (suatu pandangan strukturalis yang dipengaruhi oleh filsuf Immanuel Kant). Masing-masing tahap mewakili pemahaman sang anak tentang realitas pada masa itu, dan masing-masing kecuali yang terakhir adalah suatu perkiraan (approximation) tentang realitas yang tidak memadai. Jadi, perkembangan dari satu tahap ke tahap yang lainnya disebabkan oleh akumulasi kesalahan di dalam pemahaman sang anak tentang lingkungan nya; akumulasi ini pada akhirnya menyebabkan suatu tingkat ketidakseimbangan kognitif yang perlu ditata ulang oleh struktur pemikiran.

KARYA-KARYA JEAN PIAGET
1. Piaget, J. (1950). Introduction à l’Épistémologie Génétique. Paris: Presses Universitaires de France.
2. Piaget, J. (1961). La psychologie de l’intelligence. Paris: Armand Colin (1961, 1967, 1991).
3. Piaget, J. (1967). Logique et Connaissance scientifique, Encyclopédie de la Pléiade.
4. Inhelder, B. dan J. Piaget (1958). The Growth of Logical Thinking from Childhood to Adolescence. New York: Basic Books.
5. Inhelder, B. dan Piaget, J. (1964). The Early Growth of Logic in the Child: Classification and Seriation. London: Routledge and Kegan Paul.
6. Piaget, J. (1928). The Child’s Conception of the World. London: Routledge and Kegan Paul.
7. Piaget, J. (1932). The Moral Judgment of the Child. London: Kegan Paul, Trench, Trubner and Co.
8. Piaget, J. (1952). The Child’s Conception of Number. London: Routledge and Kegan Paul.
9. Piaget, J. (1953). The Origins of Intelligence in Children. London: Routledge and Kegan Paul.
10. Piaget, J. (1955). The Child’s Construction of Reality. London: Routledge and Kegan Paul.
11. Piaget, J. (1971). Biology and Knowledge. Chicago: University of Chicago Press.dll

JABATAN
1. 1921-25 Direktur Penelitian, Institut Jean-Jacques Rousseau, Geneva
2. 1925-29 Profesor Psikologi, Sosiologi dan Filsafat Ilmu, Universitas Neuchatel
3. 1929-39 Direktur Sejarah Pemikiran Ilmiah, Universitas Geneva
4. 1929-67 Direktur, Biro Pendidikan Internasional, Geneva
5. 1932-71 Direktur, Institut Ilmu-ilmu Pendidikan, Universitas Geneva
6. 1938-51 Profesor Psikologi Eksperimen dan Sosiologi, Universitas Lausanne
7. 1939-51 Profesor Sosiologi, Universitas Geneva
8. 1940-71 Profesor Psikologi Eksperimen, Universitas Geneva
9. 1952-64 Profesor Psikologi Genetika, Sorbonne, Paris
10. 1955-80 Direktur, Pusat Internasional untuk Epistemologi Genetika, Geneva
11. 1971-80 Profesor Emeritus, Universitas Geneva

2. PEMIKIRAN JEAN PIAGET TENTANG PERKEMBANGAN KOGNITIF
Tujuan teori Piaget adalah untuk menjelaskan mekanisme dan proses perkembangan intelektual sejak masa bayi dan kemudian masa kanak-kanak yang berkembang menjadi seorang individu yang dapat bernalar dan berpikir menggunakan hipotesis-hipotesis.
Piaget mengemukakan, inteligensi adalah ciri bawaan yang dinamis sebab tindakan yang cerdas akan berubah saat organisme itu makin matang secara biologis dan mendapat pengalaman. Inteligensi adalah bagian integral dari setiap organisme karena setiap organisme yang hidup selalu mencari kondisi yang kondusif untuk keberlangsungan hidup. Namun bagaimana kecerdasan memanifestasikan dirinya pada waktu tertentu akan selalu bervariasi sesuai kondisi yang ada. Teori Piaget sering disebut sebagai genetic epistemology, karena teori ini berusaha melacak perkembangan kemampuan intelektual. Sedangkan istilah genetik yang dimaksud mengacu pada pertumbuhan developmental bukan warisan biologi.
Ada tiga aspek perkembangan intelektual yaitu : struktur, isi dan fungsi. (Dahar ,1988:179). Struktur atau skemata merupakan organisasi mental tingkat tinggi yang terbentuk pada individu waktu ia berinteraksi dengan lingkungannya. Isi merupakan pola perilaku khas anak yang tercermin pada responnya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Sedangkan fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektual. Fungsi itu terdiri dari organisasi dan adaptasi. Semua organisme lahir dengan kecenderungan untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka. Cara beradaptasi ini berbeda antara organisme yang satu dengan yang lain. Adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui 2 proses yaitu : assimilasi dan akomodasi. Dalam proses asimilasi seseorang menggunakan struktur atau kemampuan yang sudah ada untuk menanggapi masalah yang dihadapinya dalam lingkungan. Dan proses akomodasi seseorang memerlukan modifikasi struktur mental yang ada untuk mengadakan respon terhadap tantangan lingkungan.
Piaget menyimpulkan dari penelitiannya bahwa organisme bukanlah agen yang pasif dalam perkembangan genetik. Perubahan genetik bukan peristiwa yang menuju kelangsungan hidup suatu organisme melainkan adanya adaptasi terhadap lingkungannya dan adanya interaksi antara organisme dan lingkungannya. Dalam responnya organisme mengubah kondisi lingkungan, membangun struktur biologi tertentu yang ia perlukan untuk tetap bisa mempertahankan hidupnya. Perkembangan kognitif yang dikembangkan Piaget banyak dipengaruhi oleh pendidikan awal Piaget dalam bidang biologi.
Dari hasil penelitiannya dalam bidang biologi, ia berkeyakinan bahwa suatu organisme hidup dan lahir dengan dua kecenderungan yang fundamental, yaitu kecenderungan untuk :
a. Beradaptasi. Pada proses ini berisi dua kegiatan. Pertama, mengabungkan atau mengintegrasikan pengetahuan yang diterima oleh manusia atau disebut asimilasi. Kedua, mengubah struktur pengetahuan yang sudah dimiliki dengan struktur pengetahuan baru, sehingga akan terjadi keseimbangan (equilibrium).
b. Organisasi (tindakan penataan). Yaitu proses ketika manusia menghubungkan informasi yang diterimanya dengan struktur-struktur pengetahuan yang sudah disimpan atau sudah ada sebelumnya dalam otak. Melalui proses ini, manusia dapat memahami sebuah informasi baru yang didapatnya dengan menyesuaikan informasi tersebut dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya, sehingga manusia dapat mengasimilasikan atau mengakomodasikan informasi atau pengetahuan tersebut.
Untuk memahami proses-proses penataan dan adaptasi terdapat empat konsep dasar, yaitu sebagai berikut:
1. Skema
Istilah skema atau skemata yang diberikan oleh Piaget untuk dapat menjelaskan mengapa seseorang memberikan respon terhadap suatu stimulus dan untuk menjelaskan banyak hal yang berhubungan dengan ingatan.
Skema adalah struktur kognitif atau serangkaian perilaku terbuka secara sistematis yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungan (barang, orang, keadaan, kejadian) dan menata lingkungan ini secara intelektual. Misalnya, skema memegang adalah kemampuan umum untuk memegang sesuatu. Skema lebih dari sekedar manifestasi refleksi memegang saja. Skema memegang dapat dianggap sebagai struktur kognitif yang membuat semua tindakan memegang bisa dimungkinkan.
Dalam teori Piaget, skema dianggap sebagai elemen penting dalam struktur kognitif organisme. Skema akan menentukan bagaimana ia akan merespon lingkungan fisik. Skemata dapat muncul dalam perilaku yang jelas, seperti dalam kasus refleks memegang, atau muncul secara tersamar. Manifestasi skema yang tidak jelas dapat disamakan dengan tindak berpikir. Jelas, cara anak menghadapi lingkungan akan berubah seiring dengan pertumbuhan anak. Agar terjadi interaksi organisme-lingkungan, skemata yang tersedia untuk anak harus berubah.
Adaptasi terdiri atas proses yang saling mengisi antara asimilasi dan akomodasi
2. Asimilasi
Asimilasi itu suatu proses kognitif, yang aktif dalam menggunakan skema untuk merespon lingkungan. Dengan asimilasi seseorang mengintegrasikan bahan-bahan persepsi atau stimulus ke dalam skema yang ada atau tingkah laku yang ada. Asimilasi berlangsung setiap saat. Seseorang tidak hanya memproses satu stimulus saja, melainkan memproses banyak stimulus. Secara teoritis, asimilasi tidak menghasilkan perubahan skemata, tetapi asimilasi mempengaruhi pertumbuhan skemata. Dengan demikian asimilasi adalah bagian dari proses kognitif, dengan proses itu individu secara kognitif mengadaptasi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan itu.

3. Akomodasi
Akomodasi dapat diartikan penyesuaian aplikasi skema yang cocok dengan lingkungan yang direspons . Atau sebagai penciptaan skemata baru atau pengubahan skemata lama. Asimilasi dan akomodasi terjadi sama-sama saling mengisi pada setiap individu yang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses ini perlu untuk pertumbuhan dan perkembangann kognitif. Antara asimilasi dan akomodasi harus ada keserasian dan oleh Piaget disebut sebagai keseimbangan.

4. Keseimbangan
Yaitu keseimbangan antara skema yang digunakan dengan lingkungan yang direspons sebagai hasil ketepatan akomodasi . Dalam proses adaptasi dengan lingkungan individu berusaha mencapai struktur mental atau skemata yang stabil. Yaitu keseimbangan antara proses asimilasi dan akomodasi. Seandainya hanya asimilasi secara kontinu maka yang bersangkutan hanya akan memiliki beberapa skemata global dan ia tidak mampu melihat perbedaan antara berbagai hal. Sebaliknya jika hanya akomodasi saja secara kontinu, maka hanya memiliki skemata kecil-kecil saja dan mereka tidak memiliki skemata yang umum. Dan tidak akan mampu melihat persamaan antara berbagai hal.
Dengan keseimbangan ini maka efisiensi interaksi antara anak yang sedang berkembang dengan lingkungannya dapat tercapai dan terjamin. Dengan kata lain terjadi keseimbangan antara faktor-faktor internal dan faktor eksternal.
Proses akomodasi adalah proses memodifikasi struktur kognitif yang sudah dimiliki dengan informasi yang diterima. Proses asimilasi dan akomodasi akan menimbulkan ketidakseimbangan antara yang telah diketahui dengan apa yang dilihat atau dialaminya sekarang. Proses ketidakseimbangan ini harus disesuaikan melalui proses ekuilibrasi. Proses ekuilibrasi ini merupakan proses yang berkesinambungan antara proses asimilasi dan akomodasi. Proses ini akan menjaga stabilitas mental dalam diri pembelajar dan ia akan dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuannya.
Perubahan struktur kognitif yang dipengaruhi oleh proses adaptasi tersebut melalui tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya dan bersifat hierarki. Seseorang harus melalui urutan tertentu dan tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya.
Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat. Kemampuan bayi melalui tahapan ini bersumber dari tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan (melalui asimilasi dan akomodasi) serta adanya pengorganisasian struktur berpikir. Tahapan ini secara kualitatif berbeda pada setiap individu. Demikian pula, pemikiran seorang anak berbeda pada setiap tahap. Desmita mengutip dari Mussen (1969) mengatakan bahwa Piaget tidak menegaskan batasan umur dalam masing-masing tahap. Batasan umur tersebut diberikan oleh Ginsburg dan Opper.
Untuk keperluan pengkonseptualisasian pertumbuhan kognitif /perkembangan intelektual, Piaget membagi perkembangan ini ke dalam 4 periode yaitu :
1) Periode Sensori motor (0-2,0 tahun)
Pada periode ini tingkah laku anak bersifat motorik dan anak menggunakan sistem penginderaan untuk mengenal lingkungannya untu mengenal obyek.
Tahap sensorimotor adalah yang pertama dari empat tahap perkembangan kognitif. “Pada tahap ini, bayi membangun pemahaman tentang dunia dengan pengalaman panca indra koordinasi (seperti melihat dan mendengar) dengan fisik, motorik tindakan.” “Bayi memperoleh pengetahuan tentang dunia dari tindakan-tindakan fisik yang mereka lakukan di atasnya.” “Seorang bayi berkembang dari refleksif, insting tindakan saat lahir ke awal pemikiran simbolis menjelang akhir panggung.” “Piaget membagi tahap sensorimotor menjadi enam sub-tahap”
Sub Tahap
Usia
Deskripsi

Simple Refleks Kelahiran-6 minggu “Koordinasi sensasi dan aksi melalui perilaku refleksif”. Tiga dasar Reflek yang dijelaskan oleh Piaget: mengisap benda-benda di mulut, berikut obyek bergerak atau menarik dengan mata, dan penutupan tangan ketika membuat sebuah objek kontak dengan telapak (palmaris pegang). Selama enam minggu pertama kehidupan, refleks ini mulai menjadi tindakan sukarela, misalnya refleks menjadi palmaris sengaja menangkap.
Anak menggunakan reflek alamiah, dan mengikuti gerakan objek dalam medan penglihatan.
reaksi sirkular primer 6 minggu-4 bulan “Koordinasi sensasi dan dua jenis skema: kebiasaan (refleks) dan reaksi sirkular primer (reproduksi dari sebuah peristiwa yang awalnya terjadi secara kebetulan). Utama masih fokus pada tubuh bayi.” Sebagai contoh jenis reaksi, bayi mungkin akan mengulangi gerakan lewat tangan mereka sebelum wajah mereka. Juga pada tahap ini, reaksi pasif, yang disebabkan oleh klasik atau instrumental conditioning. Contohnya, sekiranya bayi tersebut melakukan sesuatu tingkah laku yang mana dapat menyenangkan dia, maka dia akan mengulangi tingkah laku itu lagi. Dan anak terus memandangi objek yang hilang.

fase reaksi sirkular sekunder 4-8 bulan
Pengembangan kebiasaan. “Bayi menjadi lebih object-oriented, bergerak di luar keasyikan diri; ulangi tindakan yang membawa hasil yang menarik atau yang menyenangkan.” Tahap ini terutama berhubungan dengan pengembangan koordinasi antara visi dan kemampuan memegang. Tiga kemampuan baru terjadi pada tahap ini: disengaja menggapai untuk objek yang dikehendaki, reaksi sirkular sekunder, dan pembedaan antara tujuan dan sarana. Pada tahap ini, bayi akan sengaja menangkap udara ke arah objek yang dikehendaki, sering membuat geli teman-teman dan keluarga. Reaksi sirkular sekunder, atau pengulangan dari suatu tindakan yang melibatkan objek eksternal mulai misalnya, memindahkan saklar untuk menyalakan lampu berulang-ulang. Pembedaan antara cara dan tujuan juga terjadi. Ini mungkin salah satu yang paling penting pada tahap-tahap pertumbuhan anak karena menandakan fajar logika. Dan anak mencari objek yang hilang.
Koordinasi tahap reaksi sirkular sekunder 8-12 bulan
“Koordinasi visi dan sentuhan – koordinasi tangan-mata; koordinasi skema dan niat.” Tahap ini terutama terkait dengan perkembangan logika dan koordinasi antara sarana dan tujuan. Ini adalah sangat penting pada tahap perkembangan, Piaget memegang apa yang disebutnya “tepat pertama kecerdasan.” Selain itu, tahap ini menandai awal orientasi tujuan, perencanaan yang disengaja dan langkah-langkah untuk memenuhi suatu tujuan. Anak mulai menggunakan tanda untuk mengantisipasi kejadian, mengenali objek dan orang yang sudah dikenal dan mencari objek yang di sembunyikan.
reaksi sirkular tersier, kebaruan, dan rasa ingin tahu 12-18 bulan “Bayi menjadi tergelitik oleh banyak sifat-sifat benda dan oleh banyak hal yang mereka dapat membuat terjadi pada objek; mereka bereksperimen dengan perilaku baru.” Tahap ini berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk memenuhi tujuan menggunakan trial and error. Piaget menjelaskan anak pada saat ini sebagai “ilmuwan muda,” melakukan pseudo-eksperimen untuk menemukan metode baru menghadapi tantangan. Mencari objek yang disembunyikan dan meniru tindakan orang lain.
internalisasi Skema 18-24 bulan “Bayi mengembangkan kemampuan untuk menggunakan simbol-simbol dan bentuk primitif bertahan lama mental.” Tahap ini berhubungan terutama dengan awal pemahaman, atau kreativitas. Mengembangkan kemampuan menirukan, mengembangkan citra mental untuk menyelesaikan masalah, mengantisipasi konsekuensi, menngetahui objek tetap ada setelah objek hilang dari pandangan.

Pada akhir dari periode sensorimotor, objek keduanya terpisah dari diri dan permanen. Objek keabadian adalah pemahaman bahwa benda tetap ada bahkan ketika mereka tidak dapat dilihat, didengar, atau disentuh. Mendapatkan pengertian objek permanen adalah salah satu prestasi bayi yang paling penting, menurut Piaget.”

2) Periode Pra operasional (2,0-7,0 tahun)
Pada periode ini anak bisa melakukan sesuatu sebagai hasil meniru atau mengamati sesuatu model tingkah laku dan mampu melakukan simbolisasi.
Piaget juga mengatakan bahawa proses perkembangan kognitif kanak-kanak menjadi lebih sempurna menerusi “tiga kebolehan azas” yang berlaku yaitu :
1. Perkembangan kebolehan mental kanak-kanak untuk melakukan tingkah laku yang ketara seperti kebolehan mengira.
2. Melalui latihan yang diulang-ulang, rangkaian tingkah laku yang dikukuhkan dan digeneralisasikan sehingga menjadi skema tingkah laku yang stabil.
3. Hal-hal umum yang betul-betul difahami oleh individu bagi mewujudkan sesuatu pengukuhan tingkah laku.
Selain itu, Piaget juga mengatakan bahwa operasi yang berlaku mesti berasaskan pada tiga fenomena mental yang penting yaitu pengamatan, ingatan dan bayangan. Pengamatan merupakan suatu proses dimana kanak-kanak memberikan sepenuh perhatian terhadap sesuatu yang dilihat. Sementara, ingatan pula ialah satu proses pembinaan, pengumpulan dan pengambilan kembali memori mengenai peristiwa lalu. Sedangkan, bayangan merupakan satu proses yang menyebabkan sensasi yang statik, yang mana pandangan dan pendengaran selalu dikumpulkan di bagian mental.
Yang sebelum operasi tahap kedua dari empat tahap perkembangan kognitif. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget mampu menunjukkan bahwa menjelang akhir tahun kedua, yang secara kualitatif jenis baru dari fungsi psikologis terjadi.
(Pre) Operatory Pikiran adalah setiap prosedur untuk bekerja pada objek mental. Ciri dari tahapan yang jarang dan secara logika tidak memadai operasi mental. Selama tahap ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambar, kata, dan gambar. Si anak mampu membentuk konsep-konsep yang stabil serta penalaran mental dan keyakinan magis. Namun anak masih belum mampu melakukan operasi; tugas yang si anak dapat melakukan mental daripada fisik. Berpikir anak masih egosentris: anak kesulitan mengambil sudut pandang orang lain. Dua substages dapat dibentuk dari pikiran sebelum operasi.

a. The Symbolic Fungsi Substage
Terjadi antara rentang usia 2 dan 4. Si anak mampu merumuskan desain benda-benda yang tidak hadir. Contoh lain dari bahasa kemampuan mental dan berpura-pura bermain. Walaupun ada kemajuan, masih ada keterbatasan seperti egocentrism dan animisme. Egocentrism terjadi ketika seorang anak tidak mampu membedakan antara perspektif mereka sendiri dan orang lain. Anak-anak cenderung memilih pandangan mereka sendiri apa yang mereka lihat daripada tampilan sebenarnya ditampilkan ke orang lain. Salah satu contoh adalah eksperimen dilakukan oleh Piaget dan barbel Inhelder. Tiga dilihat dari sebuah gunung yang ditampilkan dan si anak diminta apa boneka keliling akan melihat pada berbagai sudut; anak mengambil pandangan mereka sendiri dibandingkan dengan pandangan aktual boneka. Animisme adalah kepercayaan bahwa benda-benda mati mampu bertindak seperti manusia hidup dan memiliki kualitas. Contohnya adalah seorang anak percaya bahwa trotoar gila dan membuat mereka jatuh bawah.

b. Pikiran yang intuitif Substage
Terjadi antara tentang usia 4 dan 7. Anak-anak cenderung menjadi sangat ingin tahu dan mengajukan banyak pertanyaan; mulai menggunakan penalaran primitif. Ada kemunculan untuk kepentingan penalaran dan ingin tahu mengapa hal-hal terjadi. Piaget menyebutnya intuitif substage karena anak-anak menyadari bahwa mereka memiliki sejumlah besar pengetahuan tetapi mereka tidak mengetahui bagaimana mereka tahu itu. Centration dan konservasi keduanya terlibat dalam berpikir sebelum operasi. Centration adalah tindakan memusatkan seluruh perhatian pada satu karakteristik dibandingkan dengan yang lain. Centration adalah memperhatikan konservasi; kesadaran bahwa mengubah penampilan suatu zat tidak merubah sifat dasar. Anak-anak pada tahap ini tidak menyadari konservasi. Dalam penelitian Piaget, seorang anak dihadapkan dengan dua gelas berisi jumlah cairan yang sama. Si anak biasanya mencatat bahwa gelas memiliki jumlah cairan yang sama. Ketika salah satu dari gelas dituangkan ke dalam kontainer yang lebih tinggi dan kurus, anak-anak yang biasanya lebih muda dari 7 atau 8 tahun mengatakan bahwa sekarang dua gelas berisi jumlah cairan yang berbeda. Si anak hanya berfokus pada tinggi dan lebar wadah dibandingkan dengan konsep umum. Piaget percaya bahwa jika seorang anak gagal dalam tugas konservasi-of-cair, itu merupakan tanda bahwa mereka berada pada tahapan perkembangan kognitif. Anak juga gagal untuk menunjukkan konservasi angka, materi, panjang, volume, dan luas. Contoh lain adalah ketika seorang anak melihat 7 anjing dan 3 kucing di layar dan bertanya apakah ada lebih anjing daripada kucing? Anak akan merespons secara positif. Namun ketika ditanya apakah ada lebih anjing daripada hewan, anak akan kembali merespon positif. Seperti kesalahan mendasar dalam logika menunjukkan transisi antara intuitif dalam memecahkan masalah dan penalaran logis sejati diperoleh di tahun-tahun berikutnya ketika anak tumbuh.
Piaget menganggap bahwa anak-anak terutama belajar melalui imitasi dan bermain selama dua tahap pertama ini, ketika mereka membangun gambar simbolis melalui kegiatan diinternalisasi.
Studi telah dilakukan di antara negara-negara lain untuk mencari tahu apakah teori Piaget bersifat universal. Psikolog Patricia Greenfield melakukan percobaan tugas serupa dengan Piaget’s beaker di negara Afrika Barat Senegal. Hasilnya menyatakan bahwa hanya 50 persen anak dari 10-13 tahun memahami konsep konservasi. Pusat kebudayaan lainnya seperti Australia dan New Guinea memiliki hasil yang sama. Jika orang dewasa tidak mendapatkan konsep ini, mereka tidak akan dapat memahami sudut pandang lain orang. Mungkin ada perbedaan dalam komunikasi antara eksperimen dan anak-anak yang mungkin telah mengubah hasil. Ia juga telah menemukan bahwa jika konservasi tidak secara luas di negara tertentu, konsep dapat diajarkan kepada anak dan pelatihan dapat meningkatkan pemahaman anak. Oleh karena itu, diketahui bahwa terdapat perbedaan umur yang berbeda dalam mencapai pemahaman tentang konservasi didasarkan pada sejauh mana budaya mengajarkan tugas-tugas ini.

3) Periode konkret (7,0-11,0 tahun)
Pada periode ini anak sudah mampu menggunakan operasi. Pemikiran anak tidak lagi didominasi oleh persepsi, sebab anak mampu memecahkan masalah secara logis.
Tahap operasional konkrit adalah yang ketiga dari empat tahap perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini, yang mengikuti tahap praoperasional, terjadi antara usia 7 dan 11 tahun dan ditandai oleh penggunaan yang sesuai logika. Proses penting selama tahap ini adalah:
a. Pengurutan; kemampuan untuk menyortir benda-benda dalam urutan sesuai dengan ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Sebagai contoh, bila diberi benda berbeda ukuran mereka mungkin membuat warna gradien.
b. Transitivitas; Kemampuan untuk mengenali hubungan logis di antara unsur-unsur dalam urutan serial, dan melakukan ‘transitif kesimpulan’ (misalnya, Jika A lebih tinggi daripada B, dan B lebih tinggi daripada C, maka A harus lebih tinggi dari C).
c. Klasifikasi; kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukuran atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan lain.
d. Decentering; anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Misalnya, anak tidak akan lagi menganggap luar biasa cangkir lebar tapi pendek untuk mengandung kurang dari normal-lebar, tinggi cangkir.
e. Kedapatbalikan; anak memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk alasan ini, seorang anak akan dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan t, t-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
f. Konservasi; memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau item.
g. Penghapusan Egocentrism; kemampuan untuk melihat sesuatu dari perspektif lain (bahkan jika mereka berpikir salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik seorang anak di mana Jane meletakkan boneka di bawah kotak, meninggalkan ruangan, dan kemudian Melissa menggerakkan boneka ke laci, dan Jane kembali. Seorang anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Jane akan tetap berpikir itu di bawah kotak meskipun anak tahu itu adalah di dalam laci. Anak-anak di tahap ini bisa, bagaimanapun, hanya memecahkan masalah-masalah yang berlaku untuk obyek atau peristiwa aktual, dan bukan konsep-konsep abstrak atau hipotetis tugas.
h. Reversibilitas; anak berfikir bahwa adonan pipih bisa dibentuk kembali menjadi bola
i. Anak mengembangkan empati atas posisi atau kedudukan orang lain. Kemampuan dalam konsentrasi, perhatian dan memori lebih besar.

4) Periode operasi formal (11,0-dewasa)
Periode operasi fomal merupakan tingkat puncak perkembangan struktur kognitif, anak remaja mampu berpikir logis untuk semua jenis masalah hipotesis, masalah verbal, dan ia dapat menggunakan penalaran ilmiah dan dapat menerima pandangan orang lain.
Menurut Surya (2003), perkembangan kognitif pada peringkat ini merupakan ciri perkembangan remaja dan dewasa yang menuju ke arah proses berfikir dalam peringkat yang lebih tinggi. Peringkat berfikir ini sangat diperlukan dalam pemecahan masalah. Proses pembelajaran akan berhasil apabila disesuaikan dengan peringkat perkembangan kognitif siswa. Siswa hendaklah banyak diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan objek fizikal, yang disokong dengan interaksi sesama rekan sebaya.
Selain itu anak juga mampu berfikir abstrak. Dapat menggeneralisasikan pemikiran, membuat kesimpulan dan menggunakan penalaran obyektif. Mampu berfikir fleksibel dan kreatif. Serta mengembangkan tingkat empati dan idealisme yang lebih tinggi.
Dalam Al-Qur’an pencapaian kematangan intelektual seseorang dinyatakan berkembang bersamaan dengan kematangan organ seksualnya. Hal ini dinyatakan dalam surat An-Nisa’ yang artinya:
Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin: jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas, maka serahkanlah harta mereka harta-hartanya; dan janganlah kamu memakan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah) kamu tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa…. (Q.S An-Nisa’: 6)
Piaget mengemukakan bahwa ada 4 aspek besar yang ada hubungannya dengan perkembangan kognitif :
a. Pendewasaaan/kematangan, merupakan pengembangan dari susunan syaraf. Pada aspek ini penalaran orang dewasa semakain berkembang, karena mereka lebih berpengalaman dan banyak belajar. Mereka dapat berpikir tentang sesuatu melalui proses berpikir logis dan abstraksi yang lebih kaya. Dengan meningkatnya usia, seseorang menjadi lebih memahami berbagai konsep abstrak, seperti keadilan, kebenaran dan hak asasi. Mereka juga telah dapat menimba pengalaman dari berbagai konflik yang terjadi sebelumnya karena terjadinya individuasi selama masa transisi dari anak-anak menuju masa dewasa.
b. Pengalaman fisis, anak harus mempunyai pengalaman dengan benda-benda dan stimulus-stimulus dalam lingkungan tempat ia beraksi terhadap benda-benda itu.
c. Interaksi sosial, adalah pertukaran ide antara individu dengan individu
d. Keseimbangan, adalah suatu sistem pengaturan sendiri yang bekerja untuk menyelesaikan peranan pendewasaan, pengalaman fisis, dan interaksi sosial.

3. IMPLIKASI TEORI PIAGET DALAM PENDIDIKAN
Jika ada kurikulum yang menekankan pada filosofi pendidikan yang berorientasi pada pembelajar (murid) sebagai pusat, learner-centered, maka model kurikulum seperti itulah yang diinspirasi dari pandangan Piaget. Sedangkan, beberapa metode pengajaran yang diterapkan pada kebanyakan sekolah di Amerika waktu itu seperti metode ceramah, demonstrasi, presentasi audi-visual, pengajaran dengan menggunakan mesin dan peralatan, pembelajaran terprogram, bukanlah merupakan metode yang dikembangkan oleh Piaget. Piaget mengembangkan model pembelajaran discovery yang aktif dalam lingkungan kelas. Inteligensi tumbuh dan berkembang melalui dua proses asimilasi dan akomodasi. Dengan demikian, pengalaman harus direncanakan untuk membuka kesempatan untuk melakukan asimilasi dan akomodasi.
Anak-anak harus diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk untuk mencari, memanipulasi, melakukan percobaan, bertanya, dan mencari jawaban sendiri terhadap berbagai pertanyaan yang muncul. Namun demikian, bukan berarti pembelajar dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan. Kalau demikian halnya, apa peranan guru dalam ruangan kelas? Guru seharusnya mampu mengukur kemampuan, kelebihan, dan kekurangan yang dimiliki siswa. Pembelajaran harus dirancang untuk menfasilitasi perbedaan siswa dan dapat memberikan kesempatan yang luas untuk membangun komunikasi antara siswa yang satu dengan yang lainnya, untuk berdebat, dan saling menyanggah terhadap isu-isu aktual yang diberikan kepada siswa. Keberadaan guru harus mampu menjadi fasilitator pengetahuan, mampu memberikan semangat belajar, membina, dan mengarahkan siswa.
Seharusnya tidak menekankan kepada benar-salah, melainkan bagaimana menfasilitasi siswa agar dapat mengambil pelajaran dari kesalahan yang diperbuat. Pembelajaran harus lebih bermakna dengan memberi peluang kepada siswa untuk melakukan percobaan sendiri dari pada harus mendengarkan lebih banyak dari hasil ceramah dari guru. Guru harus mampu menghadirkan materi pelajaran yang membawa murid kepada suatu kesadaran untuk mencari pengetahuan baru. Dalam bukunya yang berjudul To Understand Is to Invent, Piaget mengatakan bahwa prinsip dasar dari metode aktif dapat dijelaskan sebagai berikut: Untuk memahami harus menemukan atau merekonstruksi melalui penemuan kembali dan kondisi seperti ini harus diikuti jika menginginkan seseorang dibentuk guna mampu memproduksi dan mengembangkan kreativitas dan bukan hanya sekedar mengulangi. Dalam pembelajaran aktif, guru harus memiliki keyakinan bahwa siswa akan mampu belajar sendiri.
Teori Piaget membahas kognitif atau intelektual. Dan perkembangan intelektual erat hubungannya dengan belajar, sehingga perkembangan intelektual ini dapat dijadikan landasan untuk memahami belajar.
Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat adanya pengalaman dan sifatnya relatif tetap. Teori Piaget mengenai terjadinya belajar didasari atas 4 konsep dasar, yaitu skema, asimilasi, akomodasi dan keseimbangan. Piaget memandang belajar itu sebagai tindakan kognitif, yaitu tindakan yang menyangkut pikiran. Tindakan kognitif menyangkut tindakan penataan dan pengadaptasian terhadap lingkungan.
Piaget menginterpretasikan perkembangan kognitif dengan menggunakan diagram berikut :

Berdasarkan diagram tersebut dimulai dengan meninjau anak yang sudah memiliki pengalaman yang khas, yang berarti anak sudah memiliki sejumlah skemata yang khas. Pada suatu keadaan seimbang sesaat ketika ia berhadapan dengan stimulus (bisa berupa benda, peristiwa, gagasan) pada pikiran anak terjadi pemilahan melalui memorinya. Dalam memori anak terdapat 2 kemungkinan yang dapat terjadi yaitu :
1. Terdapat kesesuaian sempurna antara stimulus dengan skema yang sudah ada dalam pikiran anak
2. Terdapat kecocokan yang tidak sempurna, antara stimulus dengan skema yang ada dalam pikiran anak.
Kedua hal itu merupakan kejadian assimilasi.
Menurut diagram, kejadian kesesuaian yang sempurna itu merupakan penguatan terhadap skema yang sudah ada. Stimulus yang baru (datang) tidak sepenuhnya dapat diasimilasikan ke dalam skemata yang ada. Di sini terjadi semacam gangguan mental atau ketidakpuasan mental seperti keingintahuan, kepedulian, kebingungan, kekesalan, dsb. Dalam keadaaan tidak seimbang ini anak mempunyai 2 pilihan :
a. Melepaskan diri dari proses belajar dan mengabaikan stimulus atau menyerah dan tidak berbuat apa-apa (jalan buntu)
b. Memberi tanggapan terhadap stimulus baru itu baik berupa tanggapan secara fisik maupun mental. Bila ini dilakukan anak mengubah pandangannya atau skemanya sebagai akibat dari tindakan mental yang dilakukannya terhadap stimulus itu. Peritiwa ini disebut akomodasi.
Walaupun pada mulanya, Piaget beranggapan bahwa pada usia sekitar 15 tahun, hampir semua remaja akan mencapai tahap perkembangan formal operation ini. Namun kenyataan membuktikan bahwa banyak siswa SMU bahkan sebagian orang dewasa sekali pun tidak memiliki kemampuan berpikir dalam tingkat ini.
Dalam hubungannya dengan pembelajaran, teori ini berpedoman kepada kegiatan pembelajaran yang mesti melibatkan siswa. Menurut teori ini, pengetahuan tidak hanya sekadar dipindahkan secara lisan, tetapi mesti dikonstruksi semua siswa. Sebagai realisasi teori ini, maka dalam kegiatan pembelajaran siswa, ia mestilah bersifat aktif. Pembelajaran koperatif adalah sebuah model pembelajaran aktif dan bekerjasama. Pada masa ini, siswa telah menyesuaikan diri dengan realitas konkrit dan harus berpengetahuan. Oleh sebab itu, dalam usaha meningkatkan kualitas kognitif siswa, guru dalam melaksanakan pembelajaran mesti lebih ditujukan pada kegiatan pemecahan masalah atau latihan meneliti dan menemukan (Semiawan 1990). Selanjutnya, diungkap pembelajaran koperatif bahwa pembentukan mind dengan pengetahuan hafalan dan latihan (drill) yang berlebihan, selain tidak mewujudkan peningkatan perkembangan kognitif yang optimal.

a. PENDAPAT PIAGET TENTANG PENDIDIKAN
Menurut Piaget, pengalaman pendidikan harus dibangun di seputar struktur kognitif pembelajar. Anak-anak berusia sama dan dari kultur yang sama cenderung memiliki kognitif yang sama, tetapi adalah mungkin bagi mereka memiliki sturktur kognitif yang berbeda dan karenanya membutuhkan materi belajar yang berbeda pula. Di satu sisi, materi pendidikan yang tidak bisa diasimilasikan ke struktur kognitif anak tidak akan bermakna bagi si anak. Jika di sisi lain, materi bisa diasimilasi secara komplet, tidak akan ada proses belajar yang terjadi. Agar belajar tejadi, materi perlu sebagian sudah sebagian diketahui dan sebagian belum. Bagian yang sudah diketahui akan diasimilasi, dan bagian yang belum diketahui akan menimbulkan modifikasi dalam struktu kognitif anak. Modifikasi ini disebut akomodasi, yang dapat disamakan dengan belajar.
Jadi, menurut Piaget, pendidikan yang optimal membutuhkan pengalaman yang menantang bagi si pembelajar sehingga proses asimilasi dan akomodasi dapat menghasilkan pertumbuhan intelektual. Untuk menciptakan pengalaman ini, guru harus tahu level fungsi struktur kognitif siswa. Piaget (kaum kognitif) dan kaum behaviorisme, menyimpulkan bahwa pendidikan harus diindividualisasikan. Piaget mendapatkan kesimpulan ini dengan menyadari bahwa kemampuan untuk mengasimilasi dan bervariasi dari anak ke anak yang lain dan bahwa materi pendidikan harus disesuaikan dengan struktur kognitif anak. Behavioris mendapatkan kesimpulan dengan menyadari bahwa penguatan haruslah kontingen (bergantung) pada perilaku yang tepat, dan penyaluran penguat yang tetap membutuhkan hubungan tatap muka antara satu guru dengan satu murid atau antara murid dan materi pendidikan.

b. Kondisi optimal untuk belajar
Jika sesuatu tak bisa diasimilasikan ke dalam struktur kognitif organisme, ia tak dapat bertindak sebagai stimulus biologi. Sehingga struktur kognitif menciptakan lingkungan fisik (jasmani). Saat struktur kognitif semakin meluas, lingkungan fisik teratikulasikan dengan lebih baik. Demikian pula, jika sesuatu sangat jauh dari struktur kognitif organisme sehingga tidak bisa diakomodasi, tidak akan terjadi belajar. Agar belajar optimal terjadi, informasi harus disajikan sedemikian rupa sehingga dapat diasimilasikan ke dalam sturtuk kognitif tersebut. Jika informasi tidak dapat diasimilasikan, maka ia tak bisa dipahami. Tapi jika sesuatu sudah dipahami dengan sempurna, tidak diperlukan proses belajar.
Dalam teori Piaget asimilasi dan pemahaman mempunyai pengertian yang serupa. Sehingga Dollard dan Miller mengistilahkannya sebagai “dilema belajar”, yang menunjukkan semua proses belajar bergantung pada kegagalan. Menurut Piaget, kegagalan pengetahuan sebelumnya untuk mengasimilasikan suatu pengalaman akan menyebabkan akomodasi, atau proses belajar baru. Pengalaman harus cukup menantang agar memicu perkembangan kognitif. Sekali lagi, pertumbuhan akan terjadi jika hanya asimilasi terjadi.
Piaget mendukung hubungan tatap muka (satu-satu) antara guru dan murid dalam pembelajaran. Dengan alasan seseorang harus menentukan jenis struktur kognitif apa yang tersedia bagi individu dan pelan-pelan mengubah struktur ini sedikit demi sedikit.
Piaget sering dianggap nativis yang percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi sebagai hasil dari kematangan biologis, namun anggapan ini tak sepenuhnya benar. Ia percaya bahwa pendewasaan hanya menyediakan kerangka untuk perkembangan intelektual. Selain itu, ada pula pengalaman fisik maupun sosial yang sangat penting bagi perkembangan mental.
Pada tahun 1958 Piaget dan Inhelder mengemukakan “pendewasaan sistem syaraf tak bisa melakukan lebih dari penentuan totalitas kemungkinan dan kemustahilan pada tahap tertentu. Lingkungan sosial tertentu jelas tidak bisa diabaikan agar kemungkinan-kemungkinan dapat direalisasikan. Realisasi ini dapat dipercepat atau diperlambat oleh fungsi kultural dan kondisi pendidikan”.
Piaget juga mengatakan “manusia sejak lahir sudah berada dalam lingkungan fisik dan sosial yang mempengaruhinya. Masyarakat dalam pengertian lebih dari sekedar lingkungan fisik dan lingkungan sosial bisa mengubah struktur dasar individu, sebab ia bukan hanya individu untuk mengenali fakta, tapi juga memberinya sistem tanda yang sudah siap, yang akan memodifikasi pemikirannya, lingkungan sosial akan memberinya nilai-nilai baru dan menetapkan serangkaian kewajiban kepadanya”.
Pada tahun 1979 Ginsburg dan Opper meringkas pendapat piaget bahwa perkembangan kognitif yang dipengaruhi oleh warisan bawaan, sebagai berikut:
a. Struktur fisik bawaan (sistem syaraf) membatasi fungsi intelektual
b. Reaksi behaviorial bawaan (refleks) mempengaruhi tahap awal kehidupan manusia namun setelah itu dimodifikasi besar-besaran setelah bayi berinteraksi dengan lingkungannya
c. Pendewasaan struktur fisik mungkin memiliki korelasi psikologis (ketika otak menjadi matang sampai titik dimana perkembangan bahasa dimungkinkan). Dan seperti yang kita ketahui bahwa equilibrasi atau tendensi mencari harmoni antara diri dengan lingkungan, juga merupakan bawaan.
Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

c. Kontribusi teori Piaget dalam belajar
Berbeda dengan teori belajar lain seperti yang telah kita pelajari, Piaget tidak mudah dikategorikan sebagai teoritisi penguatan, atau teoretisi kontinguitas. Seperti para periset lainnya yang secara longgar disebut sebagai aliran kognitif, dia mengasumsikan bahwa belajar terjadi kurang lebih secara kontinu dan belajar melibatkan akuisi informasi dan representasi kognitif dari informasi itu. Kontribusi unik Piaget dalam perspektif umum ini adalah ia telah mengidentifikasi aspek kualitatif dalam belajar. Secara spesifik, aspek asimilasi dan akomodasinya mengidentifikasi dua tipe pengalaman belajar. Keduanya adalah proses belajar, keduanya melibatkan akuisi dan penyimpanan informasi. Namun asimilasi adalah jenis belajar yang statis, dibatasi oleh struktur kognitif yang ada; akomodasi adalah proses pertumbuhan progresif dari struktur kognitif yang mengubah karakter dari semua proses belajar selanjutnya.

d. Cara anak belajar
Piaget menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya. Menurutnya, pemahaman anak tentang objek melalui asimilasi dan akomodasi. Jika kedua proses tersebut terjadi terus menerus, membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.
Anak sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak-atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab anak dihadapkan pada peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna dan kebenarannya lebih dapat dipertanggung jawabkan.
Pada renang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajara sebagai berikut:
1. Mulai memandang dunia secara obyektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lan secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak.
2. Mulai berpikir secara operasional.
3. Menggunakan cara berpiki operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda.
4. Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah secara sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab-akibat.
5. Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas dan berat.

e. Dampak Belajar
Kurikulum-pendidik harus merencanakan kurikulum sesuai dengan tahapan perkembangan yang meningkatkan pertumbuhan logis dan konseptual siswa.
Instruksi-Guru harus menekankan peran penting bahwa siswa belajar dengan pengalaman atau interaksi dengan lingkungan sekitarnya (bermain). Sebagai contoh, instruktur harus mempertimbangkan peran konsep dasar, seperti obyek permanen, bermain dalam membentuk struktur kognitif.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah:
a. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
b. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
c. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
d. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
e. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
Menurut Slavin (dalam Nur :1998 : 27) implikasi dari teori Piaget dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
1. Memfokuskan pada proses berfikir atau proses mental anak tidak sekedar pada produknya. Di samping kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut.
2. Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dalam kelas Piaget, penyajian materi jadi (ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
3. Tidak menekankan pada praktek-praktek yang diarahkan untuk menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.
4. Penerimaan terhadap perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan, teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh anak berkembang melalui urutan perkembangan yang sama namun mereka memperolehnya dengan kecepatan yang berbeda.
Dari uraian tersebut pembelajaran menurut konstruktivis dilakukan dengan memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya dan mengutamakan peran siswa dalam kegiatan pembelajaran serta memaklumi adanya perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan yang dapat dipegaruhi oleh perkembangan intelektual anak.

f. Langkah-langkah dalam pembelajaran menurut Piaget
Penetahuan dibangun dalam pikiran. Setiap individu membangun sendiri pengetahuannya. Pengetahuan yang dibangun ada tiga bentuk, yaitu pengetahuan fisik, logika-matematika dan sosial.
Belajar pengetahuan meliputi tiga fase, yaitu fase eksplorasi (siswa mempelajari gejala dengan bimbingan), pengenalan konsep (siswa mengenal konsep yang ada hubungannya dengan gejala), dan fase aplikasi konsep (siswa menggunakan konsep untuk meneliti gejala lebih lanjut).
Empat langkah pembelajaran:
1. Menentukan topik yang dapat dipelajari oleh anak sendiri dengan dibimbing dengan beberapa pertanyaan:
a) Pokok bahasan apakah yang cocok untuk eksperimentasi?
b) Topik manakah yang cocok untuk pemecahan masalah dalam situasi kelompok?
c) Topik manakah yang dapat disajikan pada tingkat manipulasi secara fisik sebelum secara verbal?
2. Memilih atau mengembangkan aktivitas kelas dengan topik tersebut yang dibimbing dengan pertanyaan:
a) Apakah aktivitas itu memberi kesempatan untuk melaksanakan eksperimen?
b) Dapatkah kegiatan itu menimbulkan pertanyaan siswa?
c) Dapatkah siswa membandingkan berbagai cara bernalar dalam mengikuti kegiatan di kelas?
d) Apakah masalah tersebut merupakan masalah yang dapat dipecahkan atasa dasar pengisyaratan perseptual?
e) Apakah kegiatan itu dapat menghasilkan aktivitas fisik dan kognitif?
f) Dapatkah kegiatan siswa itu memperkaya konstruk yang sudah dipelajari?
3. Mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk memberikan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah, yang dibimbing dengan pertanyaan:
a) Pertanyaan lanjut yang memancing berfikir seperti “bagaimana jika”?
b) Membandingkan materi apakah yang cocok untuk menimbulkan pertanyaan spontan?
4. Menilai pelaksanaan kegiatan, memperhatikan keberhasilan, dan melakukan revisi, yang dibimbing dengan pertanyaan:
a) Segi apakah yang menghasilkan minat dan keterlibatan siawa yang besar?
b) Segi kegiatan manakah yang tak menarik, dan apakah alternatifnya?
c) Apakah aktivitas itu memberikan peluang untuk memberikan siasat baru dipelajaruntuk penelitian atau meningkatkan siasat yang sudah dipelajari?
d) Apakah kegiatan itu dapat dijadikan modal untuk pembelajaran lebih lanjut?
Secara singkat Piaget menyarankan agar pembelajaran, guru memilih masalah yang beciri kegiatan prediksi, eksperimentasi, dan eksplanasi.

g. Peran Latihan dan Pengalaman
Menurut Piaget, perkembangan kognitif bukan hanya sekedar kematangan pemikiran seseorang adalah “latihan dan pengalaman”.
Latihan berpikir, merumuskan masalah, dan memecahkannya, serta mengambil kesimpulan akan membantu seseorang dalam mengembangkan pemikirannya dan inteligensinya. Semakin banyak dan sering seorang anak dalam memecahkan masalah matematika, ia akan semakin mengerti dan mengembangkan cara berpikirnya. Piaget membedakan dua macam pengalaman:
1. Pengalaman fisis, terdiri dari tindakan atau aksi seseorang terhadap objek yang dihadapi untuk mengabstraksi sifat-sifatnya. Misalnya, pengalaman melihat dan mengamati akan mampu mengabstraksikan sifat-sifat anjing yang pada tahap selanjutnya membantu pemikiran itu tentang anjing.
2. Pengalaman matematis-logis, terdiri dari tindakan terhadap objek untuk mempelajari akibat tindakan-tindakan terhadap objek tersebut. Misalnya, pengalaman penjumlahan atau pengurangan benda akan membantu pemikiran akan operasi pada benda itu.
Dalam pengalaman ini, bukan sifat-sifat objeknya yang diambil, melainkan sifat-sifat objeknya terhadap tindakan terhadap objek tersebut. Oleh sebab itu Piaget menekankan bahwa dalam proses belajar penekanan terbesar adalah lebih kepada siswa. Menurut Piaget, pengetahuan itu dibentuk sendirinya oleh murid dalam berhadapan dengan lingkungan atau objek yang sedang dipelajarinya. Kegiatan murid dalam membentuk pengetahuannya sendiri menjadi hal yang sangat penting dalam sistem Piaget ini. Proses belajar harus dapat membantu dan memungkinkan murid mengkonstruksi pengetahuannya. Oleh sebab itu kegiatan belajar harus memungkinkan murid mengalami berbagai pengalaman itu dan bertindak terhadap pengalaman-pengalaman tersebut.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Teori Piaget mengenai perkembangan kognitif mendefinisikan kembali intelegensi, pengetahuan, dan hubungan dengan lingkungannya.
Perkembangan kognitif mempunyai 4 aspek yaitu kematangan, pengalaman, interaksi social, dan ekuilibrasi.
Menurut Piaget setiap organisme hidup cenderung untuk melakukan adaptasi dan organisasi. Dalam proses adaptasi dan organisasi terdapat 4 konsep dasar yaitu skema, asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi.
Skema adalah struktur kognitif yang digunakan organisme untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungannya dan menata lingkungan itu secara intelektual.
Asimilasi adalah proses yang digunakan seseorang untuk mengintegrasikan bahan persepsi baru atau stimulus baru ke dalam skemata atau pola perilaku yang sudah ada.
implikasi dari teori Piaget dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
a. Memfokuskan pada proses berfikir atau proses mental anak tidak sekedar pada produknya. Di samping kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut.
b. Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dalam kelas Piaget, penyajian materi jadi (ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
c. Tidak menekankan pada praktek-praktek yang diarahkan untuk menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.
d. Penerimaan terhadap perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan, teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh anak berkembang melalui urutan perkembangan yang sama namun mereka memperolehnya dengan kecepatan yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul karim
Baharuddin dan Wahyuni, Esa Nur. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Desmita. 2008. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya
F:\piaget .htm
F:\PIAGET DAN TEORINYA « Ilmuwan Muda.htm
G:\Jean_Piaget. htm
G:\Teori Pembelajaran Piaget – Xpresi Riau Pos.htm
G:\teori-yang-melandasi-pembelajaran-sains.html
Hasan, Aliah B. Purwakania. 2006. Psikologi Perkembangan Islami, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Hergenhahn, B.R. & Olson, Matthew H. 2008. Theories of Leanrning. Jakarta: Kencana

http://en.wikipedia.org/wiki/Theory_of_cognitive_development

http://www.funderstanding.com/content/piaget

Orton, Geraldine Leitl . 2007. Strategi Konseling Untuk Anak Dan Orang tuanya, UIN Press Malang,
Syah, Muhibbin. 2009. Psikologi belajar. Jakarta: Rajawali Pers

Category: pendidikan  3 Comments

Islam merupakan aagama yang palng getol menyuruh umatnya untuk belajar ilmu. Banyak dalil yang menerangkan tentang mencari ilmu. Dengan ilmu jendela dunia terbuka, dengan ilmu semua rahasia kehdupan akan terbuka dan manusia tidak akan buta. Orang yang mencari ilmu juga dijamin mendapatkan keutamaan dengan di tingkatkan derajatnya. Alloh SWT berfirman di dalam kitab yang suci dalam surat al-Mujadalah ayat 11:
                                
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Dalam ayat diatas Alloh memberitahukan bahwa orang yang berilmu akan di tinggikan derajatnya di hadapan Alloh dari pada orang yang tak berilmu. Dan dalam reallitasnya juga sudah kita lihat bahwa orang yang berilmu dalam strata sosial mereka menjadi orang yang disegani dalam masyarakat.
Al-Ghazali membagi ilmu menjadi dua bagian utama yaitu ilmu yang terpuji yang wajib untuk dipelajari dan ilmu tercela yang tidak boleh dipelajari. Dalam kaitannya ilmu yang terpuji yang paling diutamakan beliau untuk dipelajari adalah ilmu agama. Kenapa harus ilmu agama? Karena denga belajar ilmunagama hidup menjadi terarah sesuai fitrahnya penciptaan manusia yaitu untuk beribadah kepada Alloh. Selain itu hidup juga menjadi tentram, karena nilai spiritual meruakan obat yang mujarab bagi orang yang sedang mengalami kesetresan atau sakit yang pengobatan secara konvensional tak mampu untuk menyembuhkannya.
Belajar ilmu tentunya juga harus mengikuti kaidah atau adab-adab dalam tolabul ilmi. Di dalam kitab Mukhtarul Ahadist sahabat Umar ra. meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda:
تََعَلَّمُوْا الْعِلْمَ, وَ تَعَلَّمُوْا لِلْعِلْمِ السَّكِيْنَةَ وَالْوَقَارَ, وَتَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُ. (رواه ابو نعيم عن عمر)
Artinya: “Belajar ilmu agamalah kalian, dan berusahalah untuk bersikap tenang dan anggun demi memperoleh ilmu, dan rendahkanlah diri kalian terhadap guru kalian”. (HR. Abu Nua’aim)
Mencari ilmu itu harus dijalani dengan penuh kesabaran, tidak boleh tergesa-gesa. Karena ilmu itu tidak akan bisa masuk ke dalam hati jika mencarinya dengan tergesa-gesa. Dalam menuntut ilmu harus dibarengi dengan jiwa dan pikiran yang tenang serta bersikap anggun atau bersikap ramah. Dengan begitu ilmu yang kita cari akan masuk dengan mudah. Jangan berisik ketika kita sedang belajar, terutama ketika di dalam kelas. Karena ketika kita berisik, bermain sendiri tidak memperhatikan materi pelajaran kita akan rugi karena tidak tahu apa yang sedang dikaji saat itu. Sudah tidak dapat ilmu sehingga pulangpun dengan tangan hampa. Selain itu kita juga merugikan orang lain. Karena kebisingan yang kita perbuat akan mengganggu teman kita yang sedang memperhatikan pelajaran.
Satu hal yang kini adab ini mulai ditinggalkan oleh kalangan pelajar. Yaitu agar orang yang menuntut ilmu merendahkan diri kepada gurunya. Maksudnya adalah agar ia menghormati gurunya. Banyak pelajar kita sekarang tidak mau menghormati gurunya. Tidak jarang pelajar sekarang berani terhadap gurunya. Padahal dari guru mereka bisa belajar dan mengetahui ilmu pengetahuan. Memang secara teori sekarang konsep dalam kitab Ta’limul Muta’alim agar murid menghormati guru mulai bergeser menjadi guru adalah partner murid dalam belajar namun posisi murud tetaplah murid. Dan ia harus menghormati gurunya.
Guru merupakan orang tua kedua setelah orang tua kandung yang wilayahnya ada di lingkungan sekolah. Tidak menghormati guru berarti juga tidak menghormati orang tuanya sendiri. Dan doa orang tua itu sangat mujarab bagi anak-anaknya. Walaupun bukan orang tua sendiri tapi mereka mengajarkan ilmu kepada anak didiknya penuh dengan rasa ikhlas. Doa guru sama barokahnya dengan doa orang tua. Karena ridhonya Alloh ada di dalam ridhonya orang tua.
Sama halnya guru ketika ia sudah ridho kepada muridnya, ingsyaalloh ia akan menjadi orang sukses seperti yang mereka inginkan. Guru tidak pernah meminta imbalan materi kepada muridnya ketika muridnya sudah sukses. Mendengar muridnya sukses saja mereka gembira sekali, apalagi kalau mereka mau bersilaturahim kepada gurunya atau paling tidak menyapanya ketika bertemu di jalan. Namun terkadang kita sok tidak kenal kepada guru yang telah mendidik kita ketika kita masih menuntut ilmu.