Pembaruan Dalam Pendidikan
Muhammad Abduh memulai perbaikannya melalui pendidikan. Menjadikan pendidikan sebagai sektor utama guna menyelamatkan masyarakat Mesir. menjadikan perbaikan sistem pendidikan sebagai asas dalam mencetak muslim yang shaleh. Pemikiran dibidang pendidikan dan pengajaran umum:
a) Perlawanan terhadap taqlid dan kemadzhaban.
b) Perlawanan terhadap buku yang tendensius, untuk diperbaiki dan disesuaikan dengan pemikiran rasional dan historis.
c) Reformasi al-Ahzar yang merupakan jantung umat Islam. Jika ia rusak maka rusaklah umatnya, dan jika ia baik maka baik pula umat Islam.
d) Menghidupkan kembali buku-buku lama untuk mengenal intelektualisme Islam yang ada dalam sejarah umatnya. Dan mengikuti pendapat-pendapat yang benar disesuaikan dengan kondisi yang ada.
Sebagai konsekuensi dari pendapatnya bahwa umat Islam harus mempelajari dan mementingkan ilmu pengetahuan, umat Islam harus pula mementingkan soal pendidikan. Sekolah-sekolah modern perlu dibuka, dimana ilmu-ilmu pengetahuan modern diajarkan disamping ilmu agama. Pogram yang diajukannya sebagai pondasi utama adalah memahami dan menggunakan Islam dengan benar untuk mewujudkan kebangkitan masyarakat. Dia mengkritik sekolah modern yang didirikan oleh misionaris asing dan yang didirikan oleh pemerintah. Katanya di sekolah asing, siswa dipaksa mempelajari Kristen, sedangkan di sekolah pemerintah, siswa tidak diajar agama sama sekali.
Abduh memperjuangkan sistem pendidikan fungsional yang bukan impor, yang mencangkup pendidikan univerrsal bagi semua anak, laki-laki maupun perempuan. Semuannya harus mempunyai kemampuan dasar seperti membaca, menulis dan berhitung. Semuanya harus mendapat pendidikan agama, mengabaikan perbedaan sektarian dan menyoroti perbedaan Islam-Kristen.
Kata Muhammad Abduh bahwa sesungguhnya kurikulum yang baik di sekolah Islam adalah berkaitan dengan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu modern. Kedua kategori ilmu tersebut hendaknya berhasil dalam pembinaan akhlak. Sesungguhnya kata Muhammad Abduh bahwa kemajuan ilmu di mulai dari Timur baru ke Barat, kemudian saat ini kita harus mengambil kembali ilmu-ilmu yang hilang dari kita, apalagi ilmu-ilmu tersebut dikuasai oleh orang-orang di Barat. Dari penjelasannya tersebut, dapat dipahami bahwa pada masa Muhammad Abduh ilmu-ilmu modern itu berkembang di negeri Barat yang pada awalnya berasal dari negeri Timur, maka ilmu yang hilang itu harus dicari kembali dari negeri Barat.
Abduh berpendapat, perlu dimasukkan ilmu-ilmu modern ke dalam kurikulum al-Ahzar, agar ulama’-ulama’ Islam mengerti kebudayaan modern dan demikian dapat mencari penyelesaian yang baik bagi persoalan-persoalan yang timbul pada zaman modern ini. Menurutnya mempermodern pendidikan di al-Ahzar akan mempunyai pengaruh yang besar dalam usaha-usaha pembaruan Islam. Al-Ahzar memang universitas agama Islam yang dihargai dan dihormati di seluruh dunia Islam. Dari semua penjuru Islam semua orang pergi belajar disana. Ulama-ulama yang dilahirkan dari universitas ini akan tersebar keseluruh penjuru dunia Islam dan akan membawa ide-ide modern bagi kemajuan umat Islam. Usaha-usahanya dalam pembaharuan di Al-Ahzar terbentur pada tantangan kaum ulama konservatif yang belum dapat melihat faedah perubahan-perubahan yang dianjurkan.
Ia juga memperhatikan sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah untuk mendidik tenaga-tenaga yang perlu bagi Mesir dalam lapangan administrasi, militer, kesehatan, perindustrian, pendidikan dan sebagainya. Ia berpendapat, perlu dimasukkan didikan agama yang lebih kuat ke sekolah ini, termasuk mata pelajaran sejarah Islam dan sejarah kebudayaan islam. Atas usahanya maka didirikanlah Majelis Pengajaran Tinggi. Muhammad Abduh melihat bahaya pada dualisme pendidikan. Sistem madrasah lama akan melahirkan ulama’-ulama’yang tidak memiliki pengetahuan tentang ilmu-ilmu modern, sedangkan sekolah-sekolah Islam akan melahirkan ahli-ahli yang sedikit pengetahuannya tentang agama. Dengan memasukkan ilmu pengetahuan ilmu modern ke dalam Al-Ahzar dan memperkuat didikan agama di sekolah pemerintah, jurang yang memisah golongan ulama’ dari golongan ahli ilmu modern akan dapat diperkecil.

I. Kurikulum Menurut Muhammad Abduh
1. Kurikulum Sekolah Dasar
Isi dan lama pendidikan harus beragam, sesuai dengan tujuan dan profesi yang dikehendaki pelajar. Abduh percaya bahwa anak tukang kayu dan petani harus mendapat pendidikan minimum agar dapat meneruskan jejak ayahnya. Kurikulum sekolah ini harus meliputi buku ikhtisar doktrin Islam yang berdasarkan ajaran sunni dan tidak menyebut-nyebut perbedaan sektarian, teks ringkasanyang memaparkan secara garis besar pondasi kehidupan etika dan moral dan menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah, dan teks ringkas sejarah hidup Nabi Muhammad, kehidupan sahabat dan sebab-sebab kejayaan Islam.
Bahwa kurikulum pada sekolah Dasar meliputi: membaca, menulis, berhitung, prinsip-prinsip bahasa Arab atau kaidah-kaidah bahasa Arab, pelajaran agama, pelajaran Akhlak. Muhammad Imarah dalam pemikirannya menambahkan bahwa pelajaran agama di sekolah dasar menurut Muhammad Abduh meliputi :
Akidah, bahwa buku yang dipelajari pada sekolah dasar adalah buku ringkasan akidah lslam ahli sunnah dengan tidak mengajarkan, perbedaan pendapat disertai dengan dalil-dalil yang mudah diterima oleh akal. Pelajaran agma Islam harus menunjukkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits shahih. Pada periode ini tidak boleh mengajarkan perbandingan agama seperti perbandingan agama Islam dengan Kristen.
Fiqh dan Akhlak, buku yang dipelajari di sekolah dasar juga berhubungan dengan halal dan haram dari perbuatan sehari-hari, akhlak mahmudah dan akhlak mazmumah, dan bahaya bid’ah. Semua itu diterangkan dengan menyertakan ayat-ayat al-Qur’an, hadits shahih, dan memberikan contoh-contoh orang-orang yang jujur dari umat terdahulu. Doktrin yang harus dilakukan oleh seorang guru pada tingkatan ini adalah segala perbuatan yang tidak bersandar dari Allah dan Rasulullah Saw tidak boleh diterima.
Sejarah. buku yang dipelajari ialah sirah al-nabawiyah dan shahabatnya yang berhubungan dengan akhlak mulia, perbuatan agung, pesan-pesan agama yang berhubungan dengan pengorbanan jiwa dan harta. Selain itu, juga boleh ditambah dengan sejarah khilafat Utsmaniyah. Semua itu, hendaknya diajarkan dengan ringkas dan mudah diterima akal.
2. Kurikulum Sekolah Menengah
Siswa sekolah menengah haruslah mereka yang ingin mempelajari syari’at, militer, kedokteran, atau ingin bekerja pada pemerintah. Kurikulum yang diajarkan pada Sekolah Menengah, semua yang ada dalam Sekolah Dasar, hanya saja materi-materi lebih diperdalam dan diperluas lagi. Adapun ciri-ciri yang lain pada kurikulum di sekolah menengah sebagai berikut:
1) Mantiq atau ilmu logika dan dasar-dasar penalaran
2) Akidah, Pada tingkat ini materi yang dikemukakan dengan pembuktian akal dan dalil-dalil yang, pasti. Pada tingkat ini juga, belum diajarkan perbedaan pendapat atau pembagian firqah-firqah dalam Islam. Pada tingkat ini sudah diajarkan fungsi akidah dalam kehidupan, protokol berdebat, teks tentang doktrin, menentukan posisi tengah dalam upaya menghindarkan konflik, pembahasan lebih rinci mengenai perbedaan antara kristen dan islam dan keefektifan doktrin islam dalam membentuk kehidupan di dunia dan akhirat, teks yang menjelaskan mana yang benar dan salah.
3) Fikih dan akhlak. Pada tingkat ini pelajaran fikih dan akhlak hanya pengembangan yang diberikan pada tingkat dasar. Pelajaran ditekankan pada aspek sebab, kegunaan, dan menghormati orang tua, apa pengaruhnya terhadap kehidupan keluarga, dan sebagainya. Landasan pelajaran-pelajaran itu harus bersumber pada dalil-dalil yang shahih dan praktek ajaran Islam al-salaf al-shalih.
4) Sejarah Islam. Materi pelajaran di sini adalah pengembangan dari materi sejarah Islam pada tingkat dasar. Pada tingkat ini, sejarah Islam dapat dilihat dari perspektif agama dan aspek politik, harus berada dibelakang aspek agama. Materinya juga meliputi berbagai penaklukkan dan penyebaran Islam.

3. Kurikulum Sekolah Tingkat Atas.
Pendidikan yang lebih tinggi lagi untuk guru dan kepala sekolah, dengan kurikulumnya yang lebih lengkap. Pelajaran agama Islam pada tingkatan ini dijelaskan oleh Muhammad Abduh mencakup mata pelajaran : Tafsir, hadits, bahasa arab dengan segala cabangnya, akhlak dengan pembahasan yang terinci sebagai yang diuraikan oleh Imam al-Ghazali dalam bukunya yang termasyhur ihya ‘Ulum ad-Din. Ushul Fiqih, Sejarah yang termasuk di dalamnya sejarah nabi Muhammad Saw. dan shahabat-shahabatnya yang diuraikan secara rinci. Sejarah peralihan kekuasaan Islam, sejarah kerajaan Ustmaniyah, dan sejarah jatuhnya kerajaan-kerajaan Islam ke tangan lain dengan menerangkan penyebabnya, retorika (tehnik berpidato), dasar-dasar berdiskusi, dan ilmu kalam.
Pada tingkat ini, ilmu kalam diberikan dengan menerangkan aliran-aliran yang terdapat dalam ilmu kalam, dengan menjelaskan dalil-dalil yang menopang pendapat setiap aliran. Pada tingkat ini, pelajaran ilmu kalam tidak bertujuan untuk memperteguh akidah, tetapi untuk memperluas cakrawala pemikiran siswa.
Muhammad Imarah berpendapat bahwa kurikulum perguruan tinggi menurut Muhammad Abduh sebagai berikut:
Tafsir al-Qur’an. Yang paling penting dalam pelajaran ini adalah membaca dan memahami al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah SWT dengan sejumlah hikmahnya, Bahasa Arab dan tata bahasanya, Hadits, khususnya yang dikutip para mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an, Akhlak dengan penjelasan yang rinci seperti yang dilakukan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din dan mencocokkannya dengan akidah Islam, Ushul Fiqh,Sejarah yang lama dan yang baru, logika dan khithabah, Ilmu kalam dan penelitan agama.
Kalau dilihat dari kurikulum yang dikemukakan Muhammad Abduh pada tiga tingkatan di atas, secara umum menggambarkan kurikulum pendidikan agama Islam. Adapun ilmu-ilmu Barat tidak dimasukkan oleh Muhammad Abduh ke dalam kurikulum. karena menurutnya ilmu-ilmu umum itu dipelajari bersama-sama dengan ilmu-ilmu yang telah dijelaskan di atas. Dalam kata lain, ilmu-ilmu umum hendaknya terintegrasi ke dalam ilmu-ilmu agama. Selanjutnya Muhammad Abduh tidak merinci karena menurutnya setiap sekolah memiliki kecenderungan-kecenderungan atau penekanan- penekanan yang berbeda antara satu materi pelajaran dengan materi pelajarn yang lainnya.
Pada tingkatan yang terakhir ini harus dibimbing atau diajar oleh guru-guru yang professional dan berakhlak mahmudah. Mahasiswa yang kuliah juga tidak diberikan tanda tamat belajar (ijazah) sembarangan kecuali setelah mereka mengikuti ujian yang mendalam dan mengikuti komprehensif dan dinyatakan lulus.

J. Metode Pendidikan Islam
Yang dimaksud dengan metode pendidikan Islam disini adalah semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik anak. Oleh karena itu, metode yang dimaksud di sini mencakup juga metode pengajaran. Sesungguhnya, membicarakan metode pengajaran terkandung juga dalam pembahasan materi pelajaran sebab dalam materi pelajaran secara tidak langsung juga membicarakan metode pengajaran.
Prof.Dr.Ramayulis dalam metodologi pengajaran agama Islam menyebutkan bahwa tidak ada satu metode yang dijamin baik untuk setiap tujuan pengajaran dalam setiap situasi. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk itu, semua metode pendidikan atau pengajaran menurut Muhammad Abduh yang akan diuraikan di bawah ini tidak menolak dan menafikan adanya metode-metode yang lainnya. Metode metode yang akan diuraikan, dipilih atas pertimbangan literatur yang ditemukan.
Da1am pembahasan ini, akan diuraikan metode menghafal, metode diskusi, metode tanya jawab, metode darmawisata, metode demonstrasi, metode latihan, metode tauladan, cara belajar siswa aktif (CBSA), dan langkah-langkah pengajaran.
1) Metode Menghafal
Dalam bidang metode pengajaran Muhammad Abduh menggunakan metode menghafal yang telah dipraktekkan di sekolah sekolah saat itu memakai metode menghapal. Karena metode menghapal ini pulalah Muhammad Abduh frustasi dan membenci belajar saat ia belajar di mesjid Ahmadi Thanta. Muhammad Abduh mengkritik metode menghapal bukan berarti membenci metode tersebut, ia tidak setuju dengan metode ini kalau berhenti sampai di situ. Selanjutnya ia mengatakan ;”Saya kata Muhammad Abduh, telah mengalami pengajaran seperti ini, belajar setahun setengah tanpa memahami sesuatu dari al-Kafrawi dan Ajrumiyah. Metode pengajaran ilmu nahwu tanpa memahami istilah-istilahnya telah membuatku (Muharnmad Abduh) tidak memahami sesuatu, akhirnya saya benci belajar dan putus asa.”
Hendaknya metode menghafal ini diteruskan pada pemahaman, sehingga dimengerti apa yang dipelajari. Menurut Arbiyah Lubis, dalam tulisan-tulisan Muhammad Abduh, ia tidak menjelaskan metode apa yang sebaiknya diterapkan, tetapi dari pengalamannya mengajar di Universitas al-Azhar, Mesir nampaknya ia menerapkan metode diskusi.
2) Metode Diskusi
Dari pengalaman belajar Muhammad Abduh dan kritikannya terhadap metode menghapal, dapat diketahui bahwa ia mementingkan pemahaman, hal itu didukung oleh fakta metode yang ia praktekkan dan ia sukai metode diskusi. Sewaktu Muhammad Abduh menafsirkan sebuah QS.al-Nisa ayat tiga puluh lima, dalam keterangannya tentang “ وبالوالدين إحسانا” Disebutkan bahwa metode orang tua dalam mendidik anak di Mesir membuat anak sebagai manusia passif, sehingga mereka (para Orang tua) mendidik anak-anak dengan cara diktator. Kebanyakan orang tua mencetak anak-anak sesuai dengan kehendak mereka. Anak-anak dijadikan berpengetahuan atau berilmu sesuai dengan pengetahuan orang tua, anak-anak marah sesuai dengan marahnya orang tua. Anak-anak berbuat sesuai dengan keinginan orang tua.
Rumah adalah lembaga yang menciptakan pendidikan kediktatoran yang buruk dan mencetak kader-kader pemimpin yang zhalim dan yang hina.Para orang tua yang mendidik anak secara diktator sesungguhnya mereka yang gila akan kehinaan mereka anggap suatu kenikmatan dan keselamatan. Selanjutnya, Muhammad Abduh mengatakan, “Wahai ulama agama dan adab, hendaknya kalian menerangkan kepada umat baik di sekolah-sekolah atau majlis-majlis apa kewajiban orang tua terhadap anak dan apa kewajiban anak terhadap orang tua, dan kewajiban umat terhadap dua kelompok itu. Hendaklah kalian tidak lupa kaidah atau teori kemerdekaan dan kebebasan. Dua kaidah itu adalah landasan dasar berdirinya bangunan Islam. Para sosiolog bagian utara yang berkuasa pada zaman ini (Roma) mengakui bahwa peradaban mereka maju karena mereka berlandaskan dua dasar di atas (kebebasan berpikir dan berbuat)
Pada penjelasan tersebut di atas, Muhammad Abduh berpendapat bahwa metode pendidikan dan pengajaran hendaknya memperhatikan kemampuan bakat dan minat anak didik. Dalam kata lain, metode pengajaran yang memberikan kebebasan berpikir dan berkreasi dalam pendidikan dan pengajaran adalah metode diskusi. Metode diskusi inilah yang banyak dipraktekkan oleh Muhammad Abduh dalam mengajar di Universitas al-Azhar Mesir. Menghafal dalam proses belajar tidak mungkin di dinafikan karena ia sangat esensial.Terbukti umat Islam banyak yang hapal al-Qur’an termasuk Muhammad Abduh, Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa Muhammad Abduh tidak mengharamkan metode menghafal, tetapi dapat diketahui dari pengalaman dan kritiknya terhadap metode menghapal, sepertinya ia berpendapat bahwa metode menghapal tanpa pemahaman tidak baik (untuk tidak mengatakan buruk).
3) Metode Tanya Jawab
Manusia berhak membuka jalan bagi penuntut ilmu untuk meneliti dalam berbagai ilmu pengetahuan. Contohnya; ia menerangkan kaidah atau sebuah teori, kemudian ia mencari kecocokannya dalam berbagai aspek pekerjaan. Dalam hal ini metode pengajaran, hendaknya guru mengjarkan kepada anak didik cara untuk mengetahui kesalahan dan cara kembali kepada yang benar. Cara yang demikianlah yang dipraktekkan oleh Muhammad Abduh ketika belajar sehingga ia menjadi seorang seorang ahli. Adapun untuk memperdalam suatu ilmu sangat tergantung pada usaha seorang anak didik setelah seseorang lulus dari suatu lembaga pendidikan, maka ia akan mengamalkan apa-apa yang ia peroleh ketika sekolah. Kemudian untuk memperdalam pengetahuannya itu, hendaknya ia belajar lebih lanjut.
Muhammad Qodri Luthfi mengatakan bahwa Muhammad Abduh dalam mengajar menggunakan metode hiwar (tanya-jawab) dan munaqasah (diskusi) tidak hanya ceramah Memang dua metode tanya jawab dan diskusi bisa berdampingan bahkan pada setiap diskusi ada metode tanya jawab, tetapi mutlak dalam metode tanya jawab ada metode diskusi.
4) Metode Darmawisata.
Muhammad Abduh dalam pemikirannya sering membuat terobosan dalam pendidikan dan pengajaran. Dalam hal metode darmawisata misalnya menyebutkan bahwa rihlah adalah rukun dalam pendidikan. Ketika ingin mengajarkan kepada anak didik materi “pesawat” hendaknya mereka dibawa langsung ke bandara. Ketika ingin mengajarkan “kapal” hendaknya anak didik dibawa ke pelabuhan. Mereka sulit memahami sesuatu yang abstrak,
Kalau dilihat contoh metode darmawisata tersebut di atas, dapat dipahami bahwa salah satu fungsi metode ini untuk dapat dipahami bahwa salah satu fungsi metode ini untuk dapat memahami materi kepada anak didik. Selain itu, metode darmawisata salah satu indikasi bahwa belajar tidak hanya di kelas. Metode pengajaran seperti disebutkan di atas sangat lebih tepat digunakan pada sekolah dasar dimana kemampuan berpikir abstrak anak didik belum matang.
5) Metode Demontrasi
Dalam menyampaikan materi Ilmu-ilmu praktis (fi’liyah) hendaknya tidak hanya diajarkan dengan menyampaikan ilmunya dengan cara berceramah, kemudian anak didik disuruh untuk menghafalnya ilmu-ilmu fi’liyah harus diajarkan dengan cara menyertakan prakteknya, seperti mengajarkan tata cara shalat lima waktu dengan mendemontrasikannya baik di depan kelas maupun di mesjid. Lebih lanjut Muhammad Abduh mengatakan ; “Hendaknya guru mengadakan praktek mengajar di sekolah tidak hanya sebentar, tetapi dalam waktu yang cukup lama, sehingga para calon guru tersebut telah siap ilmu dan mentalnya untuk mengajar di saat mereka telah menjadi sarjana.”
6) Metode Latihan
Untuk mengintegrasikan antara pendidikan akal dan jiwa, guru di sekolah harus menyuruh anak didik untuk melakukan shalat lima waktu. Bagi sekolah yang memiliki anak didik beragama non Islam seperti Kristen, maka guru hendaknya tidak menyuruh mereka untuk melaksanakan shalat, namun meskipun anak didik yang non Islam tidak melaksanakan shalat, tetapi nilai-nilai spiritual tersebut tidak boleh hilang dari mereka.
Dari penjelasan tentang pembiasaan ibadah tersebut di atas, dapat dipahami bahwa Muhammad Abduh sangat demokratis dan menghormati kebebasan beragama. Tetapi nilai-nilai akal [intelektual] dan jiwa [spiritual] bersifat universal, sehingga berlaku pada seluruh negara, suku, bangsa, agama, dan sebagainya.
7) Metode Teladan
Pendidik harus dapat mendidik anak didik untuk memiliki sifat kasih sayang terhadap sesama manusia. Dalam mengajarkan pesan kasih sayang itu, guru dapat memberi tauladan kepada anak didik. Tauladan yang baik jauh lebih berpengaruh kepada jiwa anak didik dari pada sekedar teori. Selain aspek tauladan, guru juga harus memperhatikan dan memilih gaya bahasa yang serasi untuk menyampaikan pesan sifat kasih sayang itu. Gaya bahasa yang digunakan guru juga harus memperhatikan aspek efektivitas dan efesiensi.
Dari penjelasan tersebut di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa pengajaran yang bertujuan untuk membina akhlak, hendaknya guru menggunakan bahasa yang baik mudah dipahami, jelas, dan tegas, disampaikan dengan uslub atau tata cara yang baik.
8) Cara Belajar Siswa Aktif
Muhammad Abduh mengajar materi Risalah al-Tauhid, al-Bashair, Asrair al-Balaghah, dan Dalail al-I’jaz. Ia mengajar buku-buku tersebut dengan keterangan yang singkat dan padat. Anak didiknya sangat sedikit yang bertanya. Sedikit yang bertanya maksudnya bukan sedikit yang paham materi pelajaran yang diterangkan oleh Muhammad Abduh, tetapi keterangan Muhammad Abduh yang singkat dan padat itu sudah membuat anak didiknya paham. Jika ada yang bertanya karena kesulitan dalam memahami, maka ia menjawab dengan jawaban yang singkat dan padat juga.
Dari uraian Muhammad Abduh tentang metode pengajaran tersebut di atas, dapat dipahami bahwa guru dalam mengajar tidak perlu menerangkan panjang lebar kalau intinya hanya sedikit, tetapi lebih baik singkat padat dan mengenai sasaran (qalla wa dalla). Hal ini juga menjadi indikasi bahwa Muhammad Abduh dalam mengajar menginginkan anak didik lebih aktif dan kreatif, sehingga guru hanya membantu dan mengantarkan anak didik pada pemahaman materi. Dalam kata lain, guru berfungsi sebagai pembimbing dan fasilitator. Dalam konteks kekinian, konsep metode pengajaran yang dimaksud oleh Muhammmad Abduh di antaranya sesuai dengan metode diskusi, tanya jawab, dan cara belajar siswa aktif .
Pembiasaan berpikir sesuai dengan hukum akal. Muhammad Abduh berpendapat bahwa tidak wajib bepikir kecuali untuk sesuatu yang benar. Jika seseorang menemukan jalan berpikirnya benar, maka ia boleh mengikutinya dan jika ia menemukan jalan berpikirnya salah, maka ia harus meninggalkannya.
9) Langkah-Langkah Mengajar
Adapun alat pembelajaran yang paling efesien melalui pengajaran tafsir al-Qur’an harus disebutkan judul atau temanya dan dikemukakan hubungannya dengan pembaruan umat. Dalam pembaharuan masyarakat Muhammad Abduh berusaha menghubungkan Islam dengan peradaban modern dan ilmu pengetahuan. Selain itu ia juga berusaha menghindari kesalahan dalam memahami teks-teks agama karena ia berpendapat bahwa akidah yang bersih dari bid’ah akan melahirkan perbuatan yang baik.Dalam pengajaran Muhammad Abduh juga sangat memperhatikan urusan agama dan dunia serta akhlak yang mulia.
Muhammad Abduh mengajar dengan menempuh tiga langkah, yaitu: mengutarakan materi (matan), menerangkan (al-syarh), menyebutkan hasyiyah-hasyiyah-nya. Terkadang Muhammad Abduh menambahkan langkah terakhir dengan keputusan atau penentuan sikap. Kalau dilihat dari langkah-langkah yang ditempuh Muhammad Abduh ini, maka dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah pengajaran tersebut pada materi yang mangandung perbedaan pendapat seperti materi pelajaran ilmu kalam dan fiqh. Muhammad Abduh berusaha agar anak didiknya tidak membaca hasyiyah suatu buku.
Dan keterangan suatu buku untuk menghindar suatu taklid ia tidak mengajarkan sampai akhir masa pembaharuan di Universitas al-Azhar Mesir selain matan (materi).Meninggalkan hasyiyah dan keterangan buku serta mengajarkan matan nya yang dilakukan Muhammad Abduh berhubungan dengan ayat al-Qur’an dan hadits sebab para ulama sebenarnya berbeda pendapat dalam memahami nas-nas tersebut. Muhammad Abduh juga mengarang Ta’liqat dari buku al-Bashair al-Nashiriyah dalam ilmu mantiq, tetapi ia tidak mewajibkan anak didiknya untuk membacanya. Muhammad Abduh mengarang Ta’liqat tersebut untuk mempermudah mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir dalam memahami pendapatnya tentang ilmu mantiq.
Muhammad Abduh ketika mengajar meletakkan buku catatan materi di depannya, kemudian ia menulis judul materi pelajaran yang akan diajarkan dengan singkat dan jelas. Selain itu, ia juga menulis beberapa pertanyaan yang akan dijawab setiap tatap muka. Muhammad Abduh tidak lupa menulis tujuan pembelajaran setiap tatap muka dengan ungkapan yang variatif. Menurut Rasyid Ridha langkah-langkah pengajaran atau kegiatan pengajaran seperti yang dilakukan oleh Muhammad Abduh sangat berbeda dengan yang dilakukan gurunya Jamaluddin al-Afghani. Jamaluddin al-Afghani pertama kali meminta anak didiknya bertanya, kemudian masalah itu diidentifikasi dan selanjutnya ia menerangkannya dengan merujuk suatu buku untuk memahamkan anak didik.
Hendaknya seorang guru kata Muhammad Abduh dapat mengetahui dan mempertimbangkan apakah anak didiknya mampu memahami materi pelajaran dengan memakai metode tertentu dan apakah anak didik telah siap secara psikologis menerimanya (materi – pelajaran). Guru ketika ingin mengajar harus memposisikannya sebagai anak didik, kemudian naik sedikit demi sedikit sampai pada derajat setinggi mungkin. Ini adalah keterampilan untuk mengetahui tingkat kemampuan otak dan cara menggunakannya. Keterampilan khusus ini harus dipelajari calon guru selama enam belas tahun dan jika inti-intinya saja, maka cuknp ditempuh selama delapan tahun.
Ada beberahal yang harus diperhatikan dalam memahami pemikiran Muhammad Abduh tentang metode pendidikan dan pengajaran. Ia berpendapat bahwa metode penyampaian ilmu kepada manusia tidak selalu sama. Metode dapat berubah sesuai dengan perubahan tempat dan zaman.
Contoh yang dikemukakan Muhammad Abduh adalah teknologi pos dalam mengirim uang. Mestinya amanah penitipan uang mesti disampaikan langsung kepada orang yang bersangkutan, tetapi dengan adanya teknologi pos ini, maka caranya pun mengalami perubahan.

K. Pendidik
a. Tugas Guru
Pendidikan adalah tugas guru yang pertama dan pengajaran adalah tugas keduanya. Muhammad Abduh mengatakan; “Tujuan utama mendirikan sekolah adalah untuk pengajaran. Pengajaran yang dimaksud oleh Muhammad Abduh tentu pendidikan sekolah formal yang sangat berbeda dengan pendidikan non formal. Pendidikan Sekolah tentu memiliki keteraturan, sedangkan pendidikan non sekolah tentu tentu tidak ada keteraturan formalnya, seperti tidak ada kurikulum yang sama antara satu pendidikan rumah dengan rumah yang lain, tidak seragamnya tujuan pendidikan rumah tangga, tidak sama waktu belajarnya, dan sebagainya. Oleh karena itu, pengajaran menurut Muhammad Abduh identik dengan keteraturan belajar. Dengan kata lain, pendidikan tidak selamanya melalui, pengajaran tetapi pengajaran adalah salah satu bentuk pendidikan. Jadi antara pendidikan dan pengajaran terdapat perbedaan. Menurut Muhammad Abduh, hendaknya dalam pengajaran di sekolah-sekolah selalu diperhatikan pendidikan akal [intelektual] dan jiwa [spiritual] , sehingga anak didik menemukan kebahagiaan yang sempurna selama ia hidup.”
Sebenarnya tugas seorang guru tidak sekedar mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak didik, karena tugas utamanya adalah mendidik dan mengajar dalam pengertian yang terbatas. Mengajar adalah sebagian dari perbuatan mendidik. Dalam pengertian yang baru, mengajar merupakan upaya dan proses membuat anak didik mau belajar (Causing Children to learn) [learning how to learn]. Dari sekolah diharapkan anak didik dapat meningkatkan kecerdasannya, terbentuk akhlak dan kepribadiannya, mendapatkan keterampilan dalam bekerja, meningkatkan kemampuan estetikanya, dan berkemampuan secara layak untuk hidup di tengah-tengah masyarakatnya.
Dari penjelasan tentang tugas pendidik yang tersebut di atas, dapat dipahami bahwa tugas tersebut disebut tugas profesi. Menurut Mahammad Abduh, di Mesir pada dasarnya substansi pendidikan telah hilang karena para pendidik tidak berkepentingan pada anak didik yang diajarinya karena itu sulit mencapai tujuan. Suatu kritikan tajam dari Muhammad Abduh tentang guru-guru Mesir pada masanya mereka tidak perduli keadaan muridnya, hubungan antara guru dan murid terbatas hanya di kelas, moral guru kurang mulia. Bahkan lebih ekstrimnya lagi guru tidak boleh berhubungan dengan murid. Guru-guru dalam mengajar saat itu tidak menjelaskan tujuan instruksionalnya tidak ada buku pegangan mereka.
Sikap afektif merupakan komplementasi bagi ranah kognitif.Ia harus berdisiplin yang benar karena guru bukan saja fungsional yang digaji dan yang mempunyai tanggung jawab tertentu yang justru membatasi kewajiban-kewajiban sehingga membuat terciptannya jarak antara guru, murid, dan masyarakat.
Dan penjelasn tentang kritik Muhammad Abduh terhadap guru yang tersebut di atas, dapat dipahami bahwa guru hanya berfungsi sebagai pengajar yang menciptakan jarak dari anak didiknya. Dalam kondisi seperti di atas, biasanya anak didik sangat hormat dan takut kepada gurunya. Hubungan seperti ini terkesan birokratis antara atasan dan bawahan. Di sini secara implisit Muhanimad Abduh menginginkan guru bersahabat dengan anak didiknya. Guru yang menjadi orang tua kedua bagi anak didik. Dengan demikian, tujuan pendidikan lebih mudah berhasil.Dalam kata lain, Muhammad Abduh berpendapat bahwa guru memiliki tugas kemanusiaan.
b. Kompetensi Guru
Mempertegas pendapatnya mengenai pengajar yang menurutnya tidak layak mengajar karena umumnya para pengajar masa itu disebut “Fuqaha” tidaklah mengerti sama sekali hal-hal lain kecuali hapal al-Qur’an secara verbal tanpa mengetahui artinya. Dari penjelasan tentang kompetensi guru yang tersebut, Muhammad Abduh menghendaki guru yang professional, tahu akan ilmu pendidikan, ilmu psikologi, dan sebagainya. Hanya saja ia tidak merincikan kompetensi seorang guru, tetapi setidaknya kritikannya itu dapat dilihat dari potret dirinya sebagai seorang guru sebagaimana digambarkan oleh C.C.Adams. Mengenai guru yang baik pakar pendidikan C.C Adams menggambarkan bahwa Muhammad Abduh merupakan seorang guru yang bijaksana, mengetahui keadaan objektif muridnya, baik fisik, mental, dan pengetahuan, sehingga dapat mengkomunikasikan segala sesuatunya selama proses pengajaran secara benar. Dalam hal ini, Muhammad Abduh berkata; “Seharusnya guru memilik pengetahuan atau pertimbangan yang memadai tentang muridnya, sehingga ia dapat menilai pemikiran dan kesiapan muridnya untuk menerima apa yang dikatakannya.
Selanjutnya C.C.Adams bahwa Muhammad Abduh sangat menguasai masalah-masalah Ahli sunnah secara mendalam baik literature primer dan sekunder yang selalu dirujuk dalam pengajarannya. Guru yang professional menurutnya, setidaknya memiliki kompetensi berikut ini; Prilaku yang baik , pengetahuan luas , menguasai materi. Dari penjelasan tentang kompetensi yang penulis sebutkan di atas, Muhammad Abduh berpendapat bahwa guru yang professional harus memiliki kompetensi berprilaku yang baik, berwawasan dan berpengetahuan yang luas, dan menguasai materi. Ketiga katagori kompetensi tersebut masih dikenal dalam ilmu pendidikan sekarang ini. Prilaku yang baik sebagai kompetensi guru disebut oleh Muhammad Uzer Utsman dengan kompetensi professional .
c. Sifat Seorang Pendidik
Pendidikan menurut Muhanumad Abduh hendaknya berusaha menghasilkan manusia yang berakhlak mahmudah. Oleh karena itu, pendidikan harus menghasilkan insan-insan berakhlak mahmudah. Karena di antara hasil yang akan dicapai dalam pendidikan pembinan akhlak mulia,maka sudah pasti guru sebagai tenaga pendidik juga harus berakhlak mahmudah.
Muhammad Abduh tidak merinci secara detail apa itu akhlak mulia, tetapi ia mengungkapkannya secara umum dan global. Sebagaimana dikutip Muhammad Imarah, akhlak mahmudah menurut Muhammad Abduh di antaranya mengikuti perilaku para nabi seperti nabi Ibrahim As, nabi Musa As, nabi lsa As, dan nabi Muhammad Saw. Selain perilaku nabi yang harus diikuti oleh guru, juga dapat mencontoh perilaku para syuhada, .shiddiqin , dan quddusin . Karena para nabi, syuhada, shiddiqin, dan quddusin adalah suri tauladan bagi semua manusia dan termasuk guru, maka harus juga meneladani cara berpikir, kebijaksanaan, dan sumber yang mereka pakai.
Selanjutnya, Muhammad Abduh berpendapat bahwa seorang guru harus memiliki pengetahuan tentang akhlak dan berakhlak mahmudah [yang baik]. Selain itu guru juga harus memiliki akidah yang baik dan pemikiran yang benar. Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa guru harus perwira (‘iffah), berani, dan energik, sehingga ia dapat melaksanakan semua tugasnya.
Dalam rangka mengajarkan akhlak mulia, menurutnya seorang guru harus menjadi tauladan bagi anak didiknya, sehingga kesempurnaan sikapnya menjadi pelajaran tambahan bagi mereka (anak didik). Prilaku yang baik dari seorang guru akan lebih berkesan dan berpengaruh bagi anak didik dari pada ilmu yang ia sampaikan.
Hendaknya guru kata Muhammad Abduh berusaha menselaraskan Islam dengan peradaban modern dan Islam dengan ilmu. Hendaknya juga guru mengajar dengan keterangan yang jelas dengan menyebutkan judul atau temanya. Dalam pengajaran ilmu balaghah (tata bahasa Arab), hendaknya guru melatih dzauq (kecerdasan) dan meningkatkan uslub yang tinggi yang telah dinafikan oleh para filosof. Dalam pengajaran insya‘ [dikte menulis arab] hendaknya diucapkan dengan baik dan fasih. Dalam pengajaran berbagai ilmu, hendaknya (guru dikaitkan dengan prinsip-prinsip ilmu yang sesuai dengan tradisi dalam suatu Negara. Dalam pengajaran ilmu berhitung, hendaknya guru mengaitkan rumus-rumusnya dengan perdagangan dengan cara menghitung jumlah yang dibeli dibelanjakan seseorang dan cara menghitung pendapatan negara, dan termasuk di dalamnya latihan menimbang.
Dalam pengajaran geometri, hendaknya guru mengaitkanmya dengan bentuk-bentuk yang berlaku dalam suatu negara. Dalam pengajaran tata bahasa Arab, hendaknya guru menganjurkan untuk digunakan dalam tulis menulis. Dalam pengajaran tentang pertanian dan industri, hendaknya guru memberi kesempatan untuk praktek lapangan setiap minggu. Menurut Muhammad Imarah, bahwa Muhammad Abduh menganut madzhab pendidikan demokratis. Ia berpendapat pendidikan harus memperhatikan perkembangan dan periode anak, sehingga bisa menyesuaikan, tujuan, kurikulum, dan metode pengajaran yang layak digunakan oleh guru.
d. Panduan Khusus Pendidik Islam
Telah dikatakan oleh Muhammad Abduh bahwa agama tidak satu tetapi bermacam-macam dan demikian juga madzhab-madzhab dalam agama masing-masing. Oleh sebab itu, hendaknya satu agama dengan agama yang lain saling menghormati akidah masing-masing dan tidak menghina akidah orang lain. Dari keterngan singkat tentang pelajaran agama terdahulu, dapat dipahami dalam konteks pendidikan guru menurut Muhammad Abduh harus memberikan materi-materi pelajaran agama yang dapat memperkuat akidah anak didik. Guru tidak boleh memberi keterangan yang berupaya untuk mendiskriditkan agama yang lain. Dalam hal ini Muhammad Abduh dapat disebut penganut madzhab pluralisme dalam ajaran agama.
Sebagai panduan operasional dalam pelajaran agama, hendaknya guru menerapkan nilai-nilai berikut:Menghindari buruk sangka (su’u al-zhan) terhadap agama lain. Guru berusaha mempersatukan semua agama, tetapi bukan mempersatukan akidahnya. Membangkitkan rasa kemanusiaan. Hendaknya ditanamakan oleh guru kepada semua anak didik bahwa semua manusia bersaudara bersumber dari satu bapak dan satu ibu, maka hendaknya yang satu memberi manfaat bagi yang lainnya. Oleh sebab itu semua manusia harus saling mencintai.
Dari keterangan yang panjang lebar tentang sifat guru di atas, secara umum itu mengandung akhlak mahmudah. Sifat-sifat para nabi, khususnya nabi Muhammad Saw dikenal dengan empat sifat (sidiq, amanah, tabligh, fatanah). Empat sifat nabi Muhammada Saw itu dapat mewakili akhlak mahmudah.

L. Anak Didik
a. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Didik.
Dalam pembahasan pasal ini lebih dahulu kita ketahui bagaimana pendapat Muhammad Abduh tentang fitrah manusia dalam kaitannya dengan perkembangan anak didik. Menurut Muhammad Abduh sebagaimana dikutip oleh Muhammad Imarah, pada umumnya pendidikan sekolah pada masa Kerajaan Utsmani tidak membuahkan hasil apa-apa, dan para lulusan sekolah-sekolah dasar itu tidak memperhatikan terjadinya proses perkembangan fitrah mereka. Terbukti bahwa perilaku mereka tidak mencerminkan kesucian fitrah mereka.
Kritikan Muhammad Abduh di atas tentang pelaksanaan pendidikan di Kerajaan Ustmani tersebut lebih lanjut dapat dipahami dari pendapatnya bahwa setiap individu memiliki potensi fitri yang baik, namun individu tersebut kemudian dapat berubah-rubah corak dan bentuknya sejalan dengan pendidikan yang ditempuh atau dialaminya. Lebih tegas, ia mengatakan bahwa manusia tidak jadi apa-apa kecuali dengan pendidikan dengan memahami ajaran yang dibawa oleh Rasul, baik dan aspek hukum, hikmah, dan lain-lain.
Dari keterangan tentang fitrah manusia tersebut di atas, dapat dipahami bahwa menurut Muhammad Abduh, manusia dalam hal ini anak didik dilahirkan dengan memliki potensi-potensi. Dalam kata lain, manusia lahir ke dunia ini tidak seperti kertas kosong sebagaimana dalam teori tabularasa. Di antara potensi-potensi lahiriyah (bawaan) manusia, khususnya potensi aqliyahnya tidak berkembang begitu saja tanpa ada proses pendidikan. Artinya, potensi aqliyah, tidak berfungsi sempurna tanpa adanya proses pendidikan. Oleh sebab itu, pendidikan adalah sarana untuk mengembangkan potensi aqliyah manusia itu. Pada tahap ini, Muhammad Abduh dekat pada aliran konvergensi daripada aliran nativesme dan empirisme.
Lebih lanjut, dalam membicarakan fitrah manusia, Muhammad Abduh pernah mengutip hadits nabi pada pidato resepsi di al-Jami’ah al-Khariyah “kullu mauludin yuladu ala al-fitrah, faabawahu yuhawwidanihi au yunashshiranihi au yumajjisanihi” kata “yuladu ‘ala al-fitrah” adalah menunjukkan pada potensi bawaan manusia, sedangkan tiga fi’il mudhari itu [yuhawidanihi, yunashshiranihi, dan yumajjisanihi,] mengidentifikasikan suatu proses perkembangan anak didik melalui pendidikan. Potensi bawaan [fitrah] ada yang bersifat aqliyah dan ada yang bersifat nafsiyah.
Fitrah nafsiyah atau ilahiyah manusia sesungguhnya adalah sama, tetapi fitrah aqliyah mereka dapat berbeda. Fitrah aqliyah manusia, erat hubungannya dengan kualitas gizi anak selama dalam kandungan dan selanjutnya disempurnakan dalam masa penyusuan selama dua tahun. Setelah dua tahun kata Andi Hakim Nasution, perkembangan otak akan lebih berkesan dan berpengaruh bagi anak didik dari pada ilmu yang ia sampaikan sebagai alat kecerdasan tidak berarti lagi. Akan tetapi kecerdasan bayi itu akan bertambah melalui kegiatan fisiknya yang berinteraksi dengan lingkungan.
Dalam hadits yang menjelaskan tentang fitrah manusia tersebut diatas, dapat dipahami bahwa manusia lahir membawa fitrah. Fitrah lahiriyah berupa potensi aqliyah dan nafsiyah. Kedua fitrah manusia itu berkembang dengan melalui proses pendidikan. Dengan demikian, Muhammad Abduh mengakui pembawaan lahir dan mementingkan proses pendidikan. Jadi jelaslah bahwa Muhammad Abduh sangat dekat dengan aliran konvergensi. Dalam kata lain, proses perkembangan aqliyah dan nafsiyah manusia setelah dua tahun banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan (empiris).
b. Tugas Anak Didik
Tugas sebagai anak didik tentunya bermacam-macam. Ada tugasnya terhadap dirinya, terhadap orang tuanya, terhadap teman-temannya, terhadap gurunya, terhadap pendidikan, dan sebagainya. Tugas anak didik terhadap pendidikan menurut Muhammacl Abduh adalah belajar bersungguh-sungguh. Pendapatnya ini didukung oleh data bahwa ketika ia mengajar di Universitas al-Azhar, mewajibkan mahasiswa bersungguh-sungguh dalam belajar, tidak boleh memiliki kesibukan selainnya.Ia juga mewajibkan mahasiswa untuk mengikuti ujian umum tahunan setelah mereka mengikuti ujian sesuai dengan tingkatan, kepintaran, dan kapasitas keilmuan mereka secara lisan.
Dari uraian tersebut di atas tentang kewajiban belajar dan ujian, dapat dipahami bahwa Muhammad Abduh menerapkan disiplin belajar yang baik. Kemudian sistem ujian umum tahunan yang dimaksud berbentuk tes tulis setelah dilakukan tes lisan untuk melihat kemampuan mahasiswa yang variatif. Konsep disiplin belajar yang diterapkan oleh Muhammad Abduh masih relevan sampai sekarang. Sistem boarding school dan beberapa pesantren di Indonesia juga masih menerapkan system ini. Adapun sistem ujian lisan dan tulis inipun masih banyak diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia.
Dengan demikian, di antara tugas anak didik terhadap pendidikan adalah bersungguh-sungguh belajar.Pendapat Muhammad Abduh ini sifat dengan sifat anak didik yang ditemukakan al-Abrasyi. la berpendapat bahwa diantara sifat anak didik adalah bersungguh-sungguh dan tekun belajar, bahkan untuk mendapat suatu kemuliaan (ilmu) seseorang perlu melakukan sahiru al-lail artinya tidak tidur pada malam hari dengan tujuan lainnya tidak dimasukkan dalam konteks ini.
c. Fungsi Motivasi Bagi Anak Didik
Pada fitrahnya, manusia ingin mulia dan dimuliakan. Salah satu bentuk pemuliaan di sekolah adalah pemberian beasiswa, baik beasiswa prestasi ataupun beasiswa tidak mampu. Dalam hal ini, Muhammad Abduh dalam pembaharuannya di Universitas al-Azhar memberikan beasiswa bagi para mahasiswa berprestasi sebagai motivasi untuk lebih bersemangat lagi dalam belajar. Beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa termasuk leaving cost.
Sistem pendidikan yang memberikan beasiswa adalah salah satu bentuk memotivasi anak didik yang masih relevan sampai sekarang.Beasiswa sebagai reword sangat berguna untuk membangkitkan semangat belajar yang berimplikasi pada kompetisi anak didik, karena padu dasarnya manusia ingin lebih mulia dari yang lainnya. Konsep ini jugalah yang tersirat dalam ayat fastabiqul al-khairat. Muhammad Abduh tidak saja memperhatikan kesejahteraan mahasiswa, ia juga memperlihatkan kesejahteraan guru-guru dengan memberikan perumahan khusus untuk mereka bagi mereka juga disediakan kantor-kantor khusus untuk bekerja.
d. Perpustakaan dan Anak Didik
Belajar untuk memperoleh ilmu tentu tidak cukup hanya didapatkan dari guru. Demi memperluas wawasan, anak didik harus senang membaca. Senang membaca, salah satunya dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Fasilitas perpustakaan adalah salah satu wadah untuk menciptakan cinta membaca. Dalam kaitannya dengan perpustakaan, Muhammad Abduh dalam pembaharuannya di Universitas Al-Azhar sangat apresiatif terhadap pengembangan, perpustakaan yang menginventarisir buku-buku. Sebagian perpustakaan itu ditempatkan di mesjid-mesjid yang dekat.
Oleh sebab itu, Muhammad Abduh menyediakan anggaran [budget] khusus untuk menambah buku-buku di perpustakaan, sehingga perpustakaan Universitas al-Azhar mengoleksi buku-huku dari berbagai ilmu pengetahuan.
Dari penjelasan tersebut di atas tentang perpustakaan, dapat dipahami bahwa lembaga pendidikan tidak bisa terlepas dari perpustakaan, apalagi perguruan tinggi. Di antara fungsi perpustakaan bagi anak didik, yaitu: alat memotivasi untuk cinta membaca, fasilitas untuk memperdalam ilmu, dan membantu anak didik yang tidak mampu membeli buku.
e. Sistem Drop Out dan Anak Didik
Dalam rangka menciptakan kesungguhan belajar anak didik, maka perlu dibuat aturan-aturan, salah satunya adalah sistem droup out. Berkenaan dengan drop out, Muhammad Abduh juga menerapkan sistem ini di Universitas al-Azhar. Paling lama seseorang kuliah di Universitas al-Azhar lima belas tahun. Delapan tahun pertama, mahasiswa bisa mendapatkan ijazah lokal dan empat tahun berikutnya bisa mendapatkan ijazah sarjana.
Dari penjelsan tersebut di atas tentang lama masa kuliah dan sistem drop out, maka menurut penulis dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan gelar sarjana minimal membutuhkan waktu dua belas tahun. Jika ditarik dalam konteks sistem pendidikan tinggi saat ini, maka masa dua belas tahun bisa sampai pada tingkat doktoral. Sistem drop out ini diberlakukan oleh Muhammad Abduh di Universitas al-Azhar Mesir.
Jika dibandingkan dengan masa studinya dalam menempuh gelar ‘Alim di lembaga pendidikan ini, maka Muhammad Abduh dapat dikatagorikan mahasiswa yang sungguh dalam belajar, karena ia dapat menyelesaikan studinya selama sebelas tahun. Sistem drop out, masih sangat diperlukan dan relevan, khususnya bagi masyarakat yang tidak memiliki budaya yang baik, dalam hal ini budaya rajin dan bersungguh-sungguh dalam belajar.

KESIMPULAN
Muhammad Abduh adalah seorang pelopor reformasi dan pembaharuan dalam pemikiran Islam. Ide-idenya yang cemerlang, meninggalkan dampak yang besar dalam tubuh pemikiran umat Islam. Beliaulah pendiri sekaligus peletak dasar-dasar sekolah pemikiran pada zaman modern juga menyebarkannya kepada manusia. Walau guru beliau Jamal Al-Afghani adalah sebagai orang pertama yang mengobarkan percikan pemikiran dalam jiwanya, akan tetapi Imam Muhammad Abduh sebagai mana diungkapkan Doktor. Mohammad Imarah, adalah seorang arsitektur terbesar dalam gerakan pembaharuan dan reformasi atau sekolah pemikiran modern. Melebihi guru beliu Jamaluddin Al-Afghani.
Muhammad Abduh memiliki andil besar dalam perbaikan dan pembaharuan pemikiran Islam kontemporer.
Pemikiran dibidang pendidikan dan pengajaran umum:
a) Perlawanan terhadap taqlid dan kemadzhaban.
b) Perlawanan terhadap buku yang tendensius, untuk diperbaiki dan disesuaikan dengan pemikiran rasional dan historis.
c) Reformasi al-Ahzar yang merupakan jantung umat Islam. Jika ia rusak maka rusaklah umatnya, dan jika ia baik maka baik pula umat Islam.
d) Menghidupkan kembali buku-buku lama untuk mengenal intelektualisme Islam yang ada dalam sejarah umatnya. Dan mengikuti pendapat-pendapat yang benar disesuaikan dengan kondisi yang ada.
Konsep pendidikan Muhammad Abduh ditelaah dari faktor-faktor pendidikan menunjukkan adanya relevansinya dengan Sistem Pendidikan Nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, terutama pada tujuan pendidikan Nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa serta membentuk peserta didik yang memiliki iman dan takwa serta masih ada yang relevan pada bab yang lain yang dijabarkan pada pasal-pasal di dalam undang-undang tersebut.
Berangkat dari persoalan tersebut di atas, M. Abduh mengkaji lebih jauh pemikiran tentang pendidikan Islam yang mewakili kelompok modernis-rasionalis. Atau dengan kata lain, kajian tentang pemikiran pendidikan Islam M. Abduh berada pada wilayah historisitas-empiris yang responsif terhadap adanya perubahan. Dengan demikian, rekonseptualisasi atau bahkan dekonstruksi harus dilakukan terhadap warisan pendidikan Islam yang ada. Di samping juga melakukan upaya-upaya pembaharuan dengan tujuan optimalisasi fungsi pendidikan Islam dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan mendepan.
DAFTAR PUSTAKA

C. C Adams, file:///E:/sekilas-pandangan-mabduh-tokoh.html
Hasan, Ilyas. 1996. Pioneers of Islamic Revival. Bandung: Mizan
Imarah, Muhammad. 2007. 45 Tokoh Pengukir Sejarah (terj). Solo: Era Intermedia
Mj Achyadi, Mohammed. file:///E:/syaikh-muhammad-abduh-dan-reformasi.html Selasa, Februari 02, 2010
Mohammad, Herry. dkk. 2006. Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20. Jakarta: Gema Insani
Nasution, Harun. 1975. Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang

1. Definisi Sejarah Kebudayaan Islam
Sejarah secara bahasa berasal dari bahasa arab yaitu “syajarah” yang berarti pohon. Dari sudut lain pula, istilah history merupakan terjemahan dari perkataan Yunani yakni Histories yang membawa makna satu penyelidikan ataupun pengkajian. Sedangkan kebudayaan secara bahasa, berasal dari kata budaya. Budaya berasal dari bahasa Sansekerta Budhayah. Kata ini berasal dari dua kata yaitu budi dan daya. Budi artinya: akal, tabiat, watak, akhlak, perangai, kebaikan, daya upaya, kecerdikan untuk pemecahan masalah. Sedangkan daya : berarti kekuatan, tenaga, pengaruh, jalan, cara, muslihat.
Dalam bahasa Arab, kata yang dipakai untuk kebudayaan adalah: al-Hadlarah, as Tsaqafiyah/Tsaaqafah yang artinya juga peradaban. Kata lain yang digunakan untuk menunjuk kata kebudayaan adalah: Culture (Inggris), Kultuur (Jerman), Cultuur (Belanda). Dalam kamus bahasa indonesia kebudayaan berarti hasil budidaya manusia. Kebudayaan secara istilah adalah cara berfikir dan cara merasa yang menyatakan diri dalam keseluruhan segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan waktu.
Kebudayaan Islam adalah hasil cipta, karsa dan rasa bersama dari orang-orang yang berada diwilayah kekuasaan pemerintahan islam tanpa peduli asal bangsa, agama dan sebagainya. Kebudayaan Islam diatas berlandasan bahwa Islamlah yang menaungi kebudayaan ini dan membekalinya dengan visi historisnya dari kulturalnya, dan memberi bentuk intuitifnya secara khusus.
Jadi sejarah kebudayaan islam adalah silsilah atau kajian yang mempelajari hasil cipta, karsa dan rasa bersama dari orang-orang yang berada diwilayah kekuasaan pemerintahan islam tanpa peduli asal bangsa, agama dan sebagainya .

2. Tujuan Dan Manfaat Mempelajari Kebudayaan Islam
Belajar sejarah sama halnya dengan belajar melalui pengalaman sehari-hari. Bukankah lebih baik jika orang mau belajar melalui pengalaman sehari-hari untuk menghadapi dan memecahkan masalah baru agar dapat menghasilkan suatu hal yang terbaik. Kamu juga akan mampu berpikir secara kronologis dan memiliki pengetahuan tentang masa lampau yang dapat digunakan untuk menjelaskan proses perkembangan, perubahan masyarakat Islam, serta keragaman budaya di masa yang akan datang.
Sejarah merupakan jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, ia merupakan tempat belajar bagi para generasi penerus agar dapat memandang ke masa silam, melihat ke masa kini, dan menatap ke masa depan. Al- Qur’an adalah kitab suci yang merupakan pedoman hidup umat Islam yang telah memerintahkan umatnya untuk memperhatikan sejarah. Beberapa ayat Al-Qur’an dengan jelas memerintahkan hal itu. Di antaranya adalah sebagai berikut.
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الأرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ :٩
Artinya :
“Dan tidaklah mereka berpergian dimuka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul)? Orang-orang itu lebih kuat dari mereka (sendiri) dan mereka telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan, dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang jelas. Maka Allah samasekali tidak berlaku zalim kepada mereka, tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (Q.S. Ar-Ruum [30] :9]
Al-Qur’an bahkan tidak hanya memerintahkan umatnya untuk memperhatikan perkembangan sejarah manusia, tetapi Al-Qur’an juga menyajikan banyak kisah. Sebagian ulama bahkan ada yang berpendapat bahwa dua pertiga isi Al-Qur’an itu adalah kisah sejarah. Dalam kitab Mańa al-Qaţţan dijelaskan bahwa kisah dalam Al-Qur’an terbagi menjadi tiga macam antara lain sebagai berikut :
Kisah para nabi yang berisi usaha, fase-fase perkembangan dakwah mereka, dan sikap orang-orang yang menentang para nabi. Adapun yang termasuk yang termasuk ke dalam jenis kisah tersebut di antaranya adalah kisah nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Ishak, Ismail, Musa, Harun, Isa dan Muhammad saw.
Kisah orang-orang terdahulu yang termasuk ke dalam katagori nabi. Adapun yang termasuk ke dalam jenis kisah tersebut seperti kisah Talut, Jalut, dua orang putera nabi Adam, Ashab al Kahfi (penghuni gua), Zulkarnaen, Qarun, Firaun, Maryam, dan keluarga Imran.
Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa Nabi Muhammad saw. seperti peristiwa Perang Badar, Perang Uhud, Perang Ahzab, Perang Hunain, Perang Tabuk, peristiwa hijrah, dan peristiwa Isra’ mi’raj. Kisah-kisah ini dipaparkan dengan tujuan agar umat manusia mengambil i’tibar (pelajaran) darinya. Allah berfirman sebagai berikut:
وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ :١٢٠
Artinya :
“Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu Muhammad, agar dengan kisah ini kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran ini Telah datang kepadamu kebenaran nasehat dan peringatan dan bagi orang-orang yang beriman”. (QS Hud[11]:120)
Jadi, tujuan dan manfaat mempelajari sejarah kebudayaan Islam adalah sebagai berikut.
1) Memperoleh pengalaman mengenai peristiwa-peristiwa sejarah kebudayaan Islam di masa lalu baik pengalaman positif maupun pengalaman negatif yang dapat dijadikan hikmah agar kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi tidak terulang kembali.
2) Mengetahui teori-teori sejarah kebudayaan Islam yang berlaku agar kemudian dapat dimanfaatkan dan diterapkan dalam mengatasi berbagai persoalan hidup di masa kini dan masa yang akan datang.
3) Menumbuhkan kedewasaan berpikir, memiliki cara pandang ke depan yang lebih luas serta bertindak lebih arif dan bijaksana .
4) Untuk mengetahui sejarah perkembangan peradaban Islam.
5) Sebagai pelajaran untuk diterapkan di masa sekarang.
6) Peradaban Islam pada masa Nabi Muhammad adalah peradaban yang paling sempurna sehingga dapat kita jadikan pelajaran di masa sekarang.
7) Untuk menyelidiki dan mengetahui sejauh mana kemajuan yang telah di capai oleh umat Islam terdahulu dalam lapangan peradaban.
8) Untuk mengggali dan meninjau kembali faktor-faktor apa yang menyebabkan kemajuan islam dalam lapangan peradaban dan faktor apa pula yag menyebabkan kemundurannya kemudian menjadi cermin bagi masa-masa sesudahnya.
9) Untuk mengetahui dan membandingkan antara peradaban yang dijiwai islam dengan peradaban yang lepas dari jiwa Islam. Mengetahui sumbangan Islam dan umat Islam dalam lapangan peradaban umat manusia di muka bumi :.

3. Wujud Kebudayaan
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
a. Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
b. Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
c. Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
SUMBER:

http://fauzyuzy.blogspot.com

http://apachemask.wordpress.com

Ria Laily Husnia, blog.uin-malang.ac.id

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan zaman, telah menuntut banyak orang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara yang cepat. Permasalahan ini, mau tidak mau telah memaksa para ahli Fiqih dalam menetapkan suatu hukum. Salah satu permasalahan yang menjadi pembicaraan orang-orang adalah masalah pegadaian.
Dengan motto/jargon yang telah dikenal oleh masyarakat, Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah, pegadaian telah menjamur dimana-mana dan menjadi alternatif solusi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal itu, yang menjadi daya tarik tersendiri yang dimiliki oleh pegadaian.
Masyarakat sedikit demi sedikit telah terlena dengan solusi yang diberikan oleh Pegadaian tersebut dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Masyarakat juga mulai melupakan tentang landasan hukum (khususnya menurut pandangan agama Islam) dalam pelaksanaan pelaksanaan gadai tersebut. Yang terpenting bagi mereka, masalah selesai tanpa masalah.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Gadai ?
2. Apa dasar hukum Gadai menurut Islam ?
3. Apa saja rukun dan syarat sah Gadai ?
4. Bagaimana pemanfaatan barang Gadai oleh Debitor (Murtahin) ?
5. Bagaimana barang gadai pada saat jatuh tempo ?

C. Tujuan Perumusan Masalah
1. Untuk mengetahui pengertian dari Gadai
2. Untuk mengetahui dasar hukum Gadai menurut Islam
3. Untuk mengetahui rukun dan syarat sah Gadai
4. Untuk mmengetahui cara pemanfaatan barang Gadai oleh Debitor (Murtahin)
5. Untuk mengetahui keadaan barang gadai pada saat jatuh tempo

BAB II
PEMBAHASAN
HUKUM GADAI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

A. Definisi Gadai
Menurut bahasa, rahn artinya adalah tetap dan berkesinambungan. Disebut juga dengan al habsu yang artinya menahan . Secara syarak, penetapan harta sebagai jaminan hutang yang mencukupi nilai hutang itu, jika tidak mampu melunasi hutangnya. Sulaiman Rasyid berpendapat jaminan adalah barang yang dijadikan peneguh atau penguat kepercayaan dalam utang-piutang.
Contoh penggunaannya dalam kalimat, “Ni’matun Rahinah” yang bermakna karunia yang tetap dan berkesinambungan. Penggunaan rahn untuk makna al-habsu menahan, dimuat dalam al Quran.
     
Artinya: “Tiap-tiap pribadi terikat (tertahan) dengan atas apa yang telah diperbuatnya”(al Muddatstsir[74]:38)
Menurut syari’at Islam, gadai berarti menjadikan barang yang memiliki nilai menurut syariat sebagai jaminan hutang, hingga orang tersebut dibolehkan mengambil sebagian manfaat barang tersebut. Demikian definisi yang dikemukakan oleh para ulama.
Sedangkan menurut UU Perdata 1150, gadai adalah suatu hak yang diperoleh seseorang yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang yang berhutang atau oleh seorang lain atas dirinya, dan yang memberikan kekuasaan kepada orang yang berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang yang berpiutang lainnya, dengan pengecualian biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan.
Dalam ketentuan hukum adat, gadai adalah menyerahkan tanah untuk menerima pembayaran sejumlah uang secara tunai, dengan ketentuan si penjual (penggadai) tetap berhak atas penngembalian tanahnya dengan jalan menebusnya kembali.
Jika seseorang berhutang kepada orang lain, maka ia menjadikan barang miliknya, bergerak atau tidak bergerak seperti ternak untuk diberikan kepada debitor hingga ia melunasi semua utangnya. Pemilik barang gadai disebut rahin, dan orang yang mengutangkan yaitu orang yang mengambil barang tersebut serta menahannya disebut murtahin sedangkan barang yang digadaikan disebut rahn atau marhun.

B. Dasar Hukum Gadai
Hukum Islam tentang gadai adalah boleh (jaiz) berdasarkan al Quran, Sunnah dan Ijma’. Dalil al-Quran,
         •                            
Artinya:“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuammalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis. Hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang mengutangkan). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dicapai itu menunaikan amanat (utangnya) dan hendaklahia bertakwa kepada Allah Tuhannya”. (QS. Al- Baqarah [2]: 283)
Dalil Sunnah, Rasulullah pernah menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi untuk meminjam gandum. Yahudi tersebut berkata, “Sungguh Muhammad ingin membawa lari hartaku”. Rasulullah kemudian menjawab, “Bohong! Sesungguhnya aku orang yang paling jujur di atas bumi dan langit ini. Apabila kau berikan amanat kepadaku pasti aku tunaikan. Pergilah kalian menemuinya dengan membawa baju besiku”. Sabda Rasulullah SAW.:
عن أنس قال رهن رسول الله صعم در عا عند يهودى بالمدينة و أخذ شعيرالأ هله (روه أحمد والبخارى والنسائ وابن ماجة)
Artinya: Dari Anas, katanya: “Rasulullah telah merungguhkan baju besi beliau kepada seorang Yahudi di Madinah, sewaktu beliau mengutang syair (gandum) dari orang Yahudi itu untuk keluarga beliau”. (HR Ahmad, Bukhari, Nasai dan Ibnu Majah). Dalam riwayat Bkhari dan lainnya, Aisyah Ummul Mu’minin ra. Menceritakan, “Rasulullah pernah membeli makanan dari orang yahudi dan ia menggadaikan baju besinya”.
Para ulama sepakat bahwa gadai hukumnya boleh dan tidak pernah mempertentangkan tentang hukum mubah gadai dan landasan hukumnya. Mayoritas ulama berpendapat bahwa syariat tersebut diberlakukan bagi orang yang tidak bepergian dan bepergian, dengan dalil perbuatan Rasulullah saw, terhadap orang Yahudi tersebut yang berada di Madinah. Jika bepergian, sebagaimana dikaitkan dalam ayat di atas, maka tergantung kebiasaan yang berlaku pada masyarakat tersebut. Mujahid, Adh Dhahhak, dan pengikut madzhab azh-Zahiri berpendapat bahwa gadai tidak disyariatkan kecuali pada waktu bepergian, berdasarkan ayat di atas. Namun, ada hadits yang menyanggah pendapat tersebut.

C. Rukun dan Syarat Sah Gadai
Rukun-rukun gadai adalah sebagai berikut:
1. Ar-Rahn (yang menggadaikan) dan Al-Murtahin (penerima gadai/yang memberikan pinjaman) adalah orang yang telah dewasa, berakal, bisa dipercaya dan atas keinginan sendiri .
2. Al-Mahrun/Rahn (barang yang digadaikan) harus ada pada saat perjanjian gadai dan barang tersebut merupakan milik sepenuhnya dari pemberi gadai. Syarat benda yang dijadikan jaminan ialah benda itu tidak rusak sebelum janji hutang harus dibayar. Rasul bersabda: ” Setiap barang yang bisa diperjualbelikan boleh dijadikan jaminan gadai”. Menurut Ahmad bin Hijazi bahwa yang dapat dijadikan jaminan dalam masalah gadai ada tiga macam, yaitu: kesaksian, barang gadai dan barang tanggungan.
Sedangkan syarat barang yang digadaikan adalah:
1. Dapat diserah terimakan
2. Bermanfaat
3. Milik orang yang menggadaikan (rahin)
4. Jelas
5. Tidak brsatu dengan harta lain
6. Dikuasai oleh rahin
7. Harta yang tetap atau dapat dipindahkan
3. Al-Mahruun Bih (Utang) adalah sejumlah dana yang diberikan murtahin kepada rahin atas dasar besarnya tafsiran marhun
Menurut ulama hanafiyah dan syafiiyah syarat utang yangdapat dijadikan alas gadai adalah:
1. Utang yang tetap dapat dimanfaatkan
2. Utang harus lazim pada waktu akad
3. Utang harus jelas dan diketahui oleh rahin dan murtahin
4. Sighat, Ijab dan Qabul adalah kesepakatan antara rahin dan murtahin dalam melakukan transaksi gadai.
Sedangkan, syarat-syarat sah akad gadai adalah sebagai berikut;
1. Berakal
2. Baligh
3. Barang yag dijadikan jaminan ada pada saat akad meski tidak lengkap.
4. Barang tersebut diterima oleh orang yang memberikan utang ( murtahin) atau wakilnya.
Imam Syafi’i melihat bahwa Allah tidak menetapkan satu hukum kecuali dengan jaminan yang memiliki kriteria jelas dalam serah terima. Apabila kriteria tersebut tidak ada maka hukumnya juga tidak ada.
Mazhab Maliki berpendapat bahwa gadai wajib dengan akad dan bagi orang yang menggadaikan diharuskan menyerahkan barang jaminan untuk dikuasai oleh debitor (murtahin). Barang jaminan jika sudah berada di tangan debitor (murtahin), ia berhak memanfaatkan barang tersebut. Berbeda dengan Imam Syafi’i yang mengatakan, “Hak pemanfaatan atas barang jaminan hanya boleh selama tidak merugikan debitor”.

D. Pemanfaatan Barang Gadai
1) Oleh Debitor (Murtahin)
Akad gadai dimaksudkan sebagai bentuk kepercayaan dan jaminan atas pemberian utang, bukan mencari keuntungan dan hasil darinya. Apabila demikian yang berlaku, debitor (Murtahin) tidak berhak memanfaatkan barang yang digadaikan sekalipun diizinkan oleh kreditor (Rahin). Memanfaatkan barang gadaian tak ubahnya seperti Qiradh yang menguntungkan dan setiap bentuk qiradh yang menguntngkan adalah riba. Hal tersebut berlaku apabila barang bukan berbentuk binatang tunggangan atau binatang ternak yang bisa diperah susunya.
Jika barang jaminan berupa binatang ternak, maka debitor boleh memanfaatkannya sebagai ganti pemberian makanan binatang tersebut. Juga, dibolehkan memanfaatkan binatang tungganngan seperti unta, kuda keledai dan lainnya. Debitor juga dibolehkan mengambil susu dari hewan sapi, kambing, dan lainnya. Landasan hukumnya adalah sebagai berikut.
1. Riwayat dari Sya’bi dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda, “Susu binatang perahan boleh diambil apabila binatang tersebut sebagai jaminan dan diberi makan oleh murtahin, juga boleh menunggangi binatang yang diberi makan (oleh murtahin) jika binatang itu menjadi barang gadaian. Orang yang menunggangi dan mengambil susu wajib memberi makan” (HR Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majjah). Dalam komentarnya, Abu Dawud menyebutnya sebagai hadits shahih.
2. Riwayat dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda,”Dibolehkan menunggangi hewan gadaian yang diberi makan, begitu juga boleh mengambi susu binatang gadaian jika ia memberi makan. Kewajiban yang menunggangi dan mengambil susu adalah memberi makan” (HR. Jamaah kecuali Muslim dan Nasa’i). Dalam riwayat lain dengan afadz yang berbeda,”Jika binatang itu sebagai barang gadaian, maka debitor dibolehkan menungganginya. Dan Begitu juga pada hewan ternak, maka oleh diminum susunya. Bagi orang yang menunggangi dan mengambi susunya maka harus memberi makan” (HR. Ahmad)
3. Riwayat Abu Shaleh dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW. bersabda, “Barang gadaian boleh diperah susunya dan ditunggangi”. Atau, “Dibolehkan menunggangidan memerah susunya”, sebagaimana juga terdapat pada riwayat lainnya.
4. Adapula riwayat yang menyatakan:
إداار تهن شاة شرب المرتهن من لبنها بقدر علفها فإن استفضل من اللبن بعد ثمن العلف فهو ربا (روه حمار بن سلمة)
Artinya: “Apabila seekor kambing dijadikan jaminan, maka yang memegang jaminan itu boleh minum susunya sekedar sebanyak makanan yang diberikannya kepada kambing itu, jika dilebihkannya dari sebanyak (pengeluaran) itu, maka lebihnya itu menjadi riba (HR. Hammar bin Salamah).
Abdul Ghafur Anshori, dalam bukunya Gadai Syariah di Indonesia menyebutkan tiga pemanfaatan murtahin atas borg (barang gadaian):
a. Ulama Hanafiah berpendapat bahwa murtahin tidak boleh memanfaatkan borg sebab dia hanya berhak menguasainya dan tidak boleh memanfaatkannya.
b. Ulama Malikiyah membolehkan murtahin memanfaatkan borg jika diizinkam oleh rahin atau disyaratkan ketika akad dan barang tersebut barang yang dapat diperjualbelikan serta ditentukan waktunya secara jelas. Pendapat ini hampir sama dengan pendapat Syafi’iyah.
c. Ulama Hanabiyah berbeda dengan jumhur. Mereka berpendapat, jika borg berupa hewan, murtahin boleh memanfaatkan seperti mengendarai atau mengambil susunya sekedar mengganti biaya meskipun tidak diizinkan oleh rahin. Sedangkan borg selain hewan tidak boleh dimanfaatkan tanpa siizin rahin.
Semua manfaat barang gadaian adalah bagi rahin (yang menggadaikan), anak hewan yang digadaikan termasuk dalam barang gadaian termasuk anak, bulu, buah dan susu, berdasarkan sabda Rasulullah SAW, “Dia berhak memperoleh bagiannya dan berkewajiban gharamahnya”.
Imam Syafii berkata, “Semua hal tersebut tidak satupun termasuk dalam barang gadaian”. Menurut Imam Malik bahwa tidak temasuk kecuali hewan dan anak pohon kurma. Jika debitor memberi makan barang gadaian dengan terlebih dahulu meminta izin kepada hakim dalam keadaan kondisi pihak kreditor tidak ada dan tidak setuju, maka berarti hutang dianggap utang kepada debitor (yang memberi makan barang gadai)”
Menurut Ahmad dan Syafi’i bahwa barang gadai merupakan amanah bagi debitor sehingga tidak wajib meminta kecuali jika melewati batas normal. Ibnu Mundzir berkata, “Para ulama sepakat bahwa orang yang menjaminkan sesuatu dengan harta, lalu melunasi sebagiannya, dan ia menghendaki mengeluarkan sebagian harta jaminan, ia tidak berhak sebelum ia melunasi sebagian lain atau pihak penberi utang membebaskannya”.

2) Oleh Rahin
a. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa rahin tidak boleh memanfaatkan barang tanpa seizin murtahin, begitu pula murtahin tidak boleh memanfaatkannya tanpa seizin rahin. Pendapat ini senada dengan pendapat ulama Hanabilah.
b. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa jika borg sudah berada ditangan murtahin, rahin mempunyai hak memanfaatkannya.
c. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa rahin dibolehkan untuk memanfaatkan barang jika tidak menyebabkan borg berkurang, tidak perlu meminta izin, seperti mengendarainya, menempatinya dan sebagainya. Tapi jika menyebabkan borg berkurang, seperti sawah, kebun, rahin harus meminta izin.

E. Jatuh Tempo
Kebiasaan masyarakat Arab pra-Islam, apabila yang menggadaikan barang tidak mampu megembalikan pinjaman, maka ia tidak berhak lagi atas barangnya dan barang tersebut menjadi hak pemegang gadai. Islam kemudian membatalkan dan melarang cara tersebut.
Jika tempo telah jatuh, maka orang yang menggadaikan berkewajiban melunasi utangnya, apabila ia tidak mampu melunasinya dan ia tidak mengizinkan barangnya dijual untuk pelunasan, maka hakim berhak memaksanya untuk melunasi atau menjual barang yang dijadikan jaminan tersebut. Apabila hakim telah menjual barang tersebut dan kemudian ada kelebihan nilai atau harga barang, maka kelebihan menjadi milik pihak yang menggadaikan. Dan apabila masih kurang nilai harganya dengan utang, maka kreditor wajib melunasi sisa utangnya.
Muawiyah bin Abdullah bin Ja’far meriwayatkan bahwa seseorang telah menggadaikan sebuah rumah di Madinah untuk masa waktu tertentu. Setelah jatuh tempo, pihak debitor menyatakan rumah tersebut sebagai miliknya. Rasulullah kemudian bersabda, “Janganlah pemegang harta gadai menghalangi hak atas barang gadai tersebut dari peminjam yang menggadaikan. Peminjam berhak memperoleh bagiannya dan dia berkewajiban membayar dendanya”. (HR. Syafii, Atsram dan Daruquthni)
Dalam komentarnya, Daruquthni mengatakan bahwa sanadnya hasan muttashil (baik dan beruntun). Sedangkan Ibnu Hajar dalam kitab Bulughul Maram mengatakan, “Para perawi haditsnya tsiqat (terpercaya)”. Namun, keterangan lain dari Abu Dawud dan lainnya bahwa hadits tersebut adalah mursal (sanadnya rancu).
و عنه قال: قال النبى (لا يفلق الرهن من صا حبة الذى رهنة له غنمه, و عليه غرمه) (رواه ادر قطنى, والحاكم)
Artinya: “Barang gadaian tidak menutup pemilik yang menggadaikannya, keuntungannya untuknya dan kerugiannya menjadi tanggungannya” (HR. Daruquthni dan Hakam)
Apabila pada akad gadai ada persyaratan bahwa apabila jatuh tempo maka barang gadai akan dijual, maka syarat tersebut dibolehkan. Dan merupakan hak debitor untuk menjual barang jaminan tersebut. Imam Syafii berbeda pendapat akan hal tersebut dan berpandangan bahwa dengan syarat tersebut, akad gadai telah batal.
Abdul Ghafur Anshori menyimpulkan bahwa akad rahn berakhir dengan hal-hal sebagai berikut:
1. Barang telah diserahkan kembali kepada pemiliknya.
2. Rahin membayar hutangnya.
3. Dijual dengan perintah hakim atas perintah rahin.
4. Pembebasan hutang dengan cara apapun, meskipun tidak ada persetujuan dari pihak rahin.
Jika marhun mengalami kerusakan karena ketedoran murtahin, maka murtahin wajib mengganti marhun tesebut. Tapi jika tidak disebabkan murtahin maka murtahin tidak wajib mengganti dan piutangnya tetap menjadi tanggungan rahin.
Jika rahin meninggal dunia atau pailit maka murtahin lebih berhak atas marhun daripada semua kreditur. Jika hasil penjualan marhun tidak mencukupi piutangnya, maka murtahin memiliki hak yang sama bersama para kreditur terhadap harta peninggalan rahin.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Gadai berarti menjadikan barang yang memiliki nilai menurut syariat sebagai jaminan hutang, hingga orang tersebut dibolehkan mengambil sebagian manfaat barang tersebut.
Para ulama sepakat bahwa gadai hukumnya boleh dan tidak pernah mempertentangkan tentang hukum mubah gadai dan landasan hukumnya. Mayoritas ulama berpendapat bahwa syariat tersebut diberlakukan bagi orang yang tidak bepergian dan bepergian
Rukun-rukun gadai adalah sebagai berikut:
1. Ar-Rahn (yang menggadaikan) dan Al-Murtahin (penerima gadai/yang memberikan pinjaman) adalah orang yang telah dewasa, berakal, bisa dipercaya.
2. Al-Mahrun/Rahn (barang yang digadaikan) harus ada pada saat perjanjian gadai dan barang tersebut merupakan milik sepenuhnya dari pemberi gadai
3. Al-Mahruun Bih (Utang) adalah sejumlah dana yang diberikan murtahin kepada rahin atas dasar besarnya tafsiran marhun
4. Sighat, Ijab dan Qabul adalah kesepakatan antara rahin dan murtahin dalam melakukan transaksi gadai.
Syarat-syarat sah akad gadai adalah sebagai berikut;
1. Berakal
2. Baligh
3. Barang yag dijadikan jaminan ada pada saat akad meski tidak lengkap.
4. Barang tersebut diterima oleh orang yangmemberikan utang ( murtahin) atau wakilnya.
Debitor (Murtahin) tidak berhak memanfaatkan barang yang digadaikan sekalipun diizinkan oleh kreditor (Rahin). Memanfaatkan barang gadaian tak ubahnya seperti Qiradh yang menguntungkan dan setiap bentuk qiradh yang menguntngkan adalah riba. Hal tersebut berlaku apabila barang bukan berbentuk binatang tunggangan atau binatang ternak yang bisa diperah susunya
Jika tempo telah jatuh, maka orang yang menggadaikan berkewajiban melunasi utangnya, apabila ia tidak mampu melunasinya dan ia tidak mengizinkan barangnya dijual untuk pelunasan, maka hakim berhak memaksanya untuk melunasi atau menjual barang yang dijadikan jaminan tersebut.

DAFTAR RUJUKAN

Al Asqalani, Al Hafizh Ibn Hajar. 2007. Terjemah Bulughul Maram. Jakarta: Pustaka Imam

Al Asqalani, Ibnu Hajar. 2005. Fathul Bar. Jakarta: Pustaka Azzam

Anshori, Abdul Ghafur. 2006. Gadai Syariah di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Asy-Syafi’i, Muhammad bin Qasim. 1995. Fiqh Islam (Terjemah Fat-hul Qarib). Surabaya: Karya Abditama

At Tuwaljiri, Syaikh Nuh bin Ibrahim bin Abdullah. 2007. Ensiklopedia Islam Al Kamil. Jakarta: Darrussunah

Casanova, 2008, Gadai Syariah: Konsep Dan Operasionalnya Di Indonesia, http://www.indoskripsi.com

Hasan, Ali. 2003. Masail Fiqhiyah. Jakarta: PT. Rajagrafindo

Rasyid, Sulaiman. 2004. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Sabiq, Sayyid. 2004. Fiqhus Sunnah, , Pena Pundi Aksara

Suhendi, Hendi. 2007. Fiqh Muamalah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

IPNU-IPPNU UIN MALIKI MALANG dan JAMIAH SHALAWATT NAWiUNG KRIDHA mengundang seluruh civitas akademika kampus untuk mengikuti kegiatan rutin di masjid tarbiyah dengan agenda sbb:
1. ngaji kitab hikmatu tasyri’ dan mafahim setiap malam selasa
2. ngaji kitab nashoihul ibad setiap malam sabtu dan
3. bersholawat ad-dhiba’i setiap malam minggu
Dari pada hanya berdiam diri di kamar atau pacaran setiap malam minggu kan mendingan ikut ngaji dan sholawatan. Udah dihati menjadi tentram, dapat ilmu lagi. Lestarikan budaya pesantrren di kampus dan hijaukan UIN dari aliran lain.

Category: al-Islam  One Comment

pertahankan NKRI dengan cinta tanah air, NU sebagai ormas Islam di Indonesia tetap akan menjadikan Pancasila sebagai dasar negara.

Apabila kita berbicara tentang pendidikan, tidak akan pernah lepas dari peran sebuah masyarakat. Masyarakat adalah komunitas yang selalu mengalami oerubahan sosial dari waktu ke waktu. perubahan itu memberikan dampak yang cukup besar bagi proses pendidikan di masyarakat tersebut baik secra lokal maupun secara universal.
Dalam kajian sosiologi pendidikan, ada tiga hal yang yang selalu mempengaruhi kajian ini. isu-isu masyarakat tersebut adalah:
1. Industrial Technology
Adanya industri teknologi sangat mempengaruhi status sosial yang terjadi di dalam masyarakat. munculnya industri teknologi membuat semua orang kemudian berminat untuk bekerja di perindustrian sosiologi. kemudian mengakibatkan ketidak seimbangan disuatu masyarakat. Karena masyarakat lebih tertarikuntuk berkecimpung di dunia industri teknologi dari pada pada bidang yang lain.
Hal ini akhirnya mempengaruhi pada ranah pendidikan juga. Adanya industri teknologi yang semakin canggih dan kompleks mendorong sekolah-sekolah untuk menggunakan teknologi untuk kelancaran kegiata di sekolah-sekolah. Dengan begitu akan mengakibatkan kegiatan sekolah semakin efektif.

2. Urbanisation Growth
Salah satu isu di masyarakat yang memengaruhi perubahan sosial di lembaga pemdidikan adalah perubahan sosial masyarakat yang ditandai dengan dengan adanya urbanisasi. Kemajuan yang terjadi di perkotaan menyebabkan adanya arus urbanisasi. Adanya kesempatan lapang pekerjaan yang banyak berpengaruh kepada orang desa untuk berbondong-bondong pergi ke kota untuk mengadu nasib.
Kemudian mereka pun mulai menetap di kota untuk beberapa tahun. biasanya para urban adalah orang-orang muda yang masih produktif dan berada pada masa untuk menikah. Dengan menetap di kota dan memiliki anak mereka berfikir untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang ada di kota. Kondisi ini menyebabkan sekolah sekolah yang ada di kota kelebihan kapasitas peserta didik.
Disisi lain arus urbanisasi menyebabkan jumlah penduduk di desa berkurang. Berkurangnya orang-orang muda di pedesaan berimbas pada pertumbuhan penduduk desa yang lambat. Kemudian anak-anak yang sekolah di pedesaan juga berkurang, sehinga sekolah kekurangan murid bahkan ada yang gulung tikar.
Selama proses urbanisasi tidak diatur dengan baik, akan semakin banyak orang yang datang ke kota. Seharusnya potensi yang ada di desa dikembangkan agar arus urbanisasi itu dapat terhenti karena di pedesaan juga ada lapangan pekerjaan. Sehingga pendidikan bisa merata baik di kota maupun di desa.

3. Political Change
Selain dua hal diatas salah satu yang mempengaruhi perubahan sosial dalam pendidikan adalah perubahan politik yang ada pada sebuah negara. Iklim politik di Indonesia mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Hal ini berpengaruh pada kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Perubahan kebijakan yang dilakukan pemerintah tersebut juga termasuk adanya perubahan kebijakan bagi pendidikan. Misalnya adanya perubahan kurikulum, standarisasi lembaga pendidikan maupun guru/dosen, biaya pendidikan dan lain-lain.

Oleh:
Joko purwanto (08110141)
Fitri
Zahroh Arofah (08110216)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan bisa lepas dari kehidupan sosial masyarakat. Kehidupan masyarakat meliputi berbagai kehidupan sosial. Diantaranya adalah kehidupan sosial keluarga, masyarakat sekitar, pendidikan, bisnis, politik dan lain sebagainya. Setiap kehidupan sosial tersebut juga saling berhubungan dan saling memberikan kontribusi satu sama lain.
Ilmu sosiologi sebagai ilmu yang membahas tentang kehidupan sosial manusia juga membahas bagaimana peranan atau kontribusi salah satu kehidupan sosial masyarakat terhadap sisi sosial yang lain. Dalam kajian pendidikan pembahasan tentang kontribusi sosiologi terhadap pendidikan menyajikan semacam-ancar-ancar bagi para praktisi pendidikan, yaitu mengenai beberapa kontribusi spesifik dari analisis sosiologi terhadap pendidikan. Pembahsannya terbatas pada suatu perangkat subtantif kontribusi sosiologi yang daripadanya para praktisi (seperti guru, penilik, kepala sekolah, atau pengawas) bisa mengambil manfaatnya secara lebih realistis dan efektif di dalam lingkungan pekerjaannya masing-masing.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kontribusi sosiologi terhadap sistem sekolah sebagai suatu organisasi?
2. Bagaimana kontribusi sosiologi terhadap kegiatan kelas sebagai suatu sistem sosial?
3. Bagaimana kontribusi sosiologi terhadap lingkungan eksternal sekolah?

C. Tujuan
1. Mengetahui kontribusi sosiologi terhadap sistem sekolah sebagai suatu organisasi
2. Mengetahui kontribusi sosiologi terhadap kegiatan kelas sebagai suatu sistem sosial
3. Mengetahui kontribusi sosiologi terhadap lingkungan eksternal sekolah
BAB II
PEMBAHASAN

1. Kontribusi Sosiologi Terhadap Sistem Sekolah Sebagai Suatu Organisasi
Seiring dengan bergulirnya roda sejarah kehidupan, maka prestasi pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh manusia menjadi sedemikian kompleks, sehingga pada fase inilah konsep pengetahuan dan kemampuan–kemampuan gemilangnya telah menjadi penentu arah kehidupan di masa yang akan datang. Beberapa faktor telah melatarbelakangi terbentuknya lembaga-lembaga tertentu untuk mengelola alokasi pemenuhan kebutuhan di antaranya, (1) pertumbuhan jumlah populasi manusia yang mempengaruhi tingkat penguasaan dan ketersediaan sumber daya alam, (2) kompleksnya pranata kebudayaan dan mekanisme pengetahuan beserta teknologi terapan, dan (3) implikasi tingkat akal budi dan mentalitas manusia yang kian rasional .
Secara singkat, terbentuknya lembaga pendidikan merupakan konsekuensi logis dari taraf perkembangan masyarakat yang sudah kompleks. Sehingga untuk mengorganisasikan perangkat-perangkat pengetahuan dan keterampilan tidak memungkinkan ditangani secara langsung oleh masing-masing keluarga. Perlunya pihak lain yang secara khusus mengurusi organisasi dan apresiasi pengetahuan serta mengupayakan untuk ditransformasikan kepada para generasi muda agar terjamin kelestariaannya merupakan cetak biru kekuatan yang melatarbelakangi berdirinya sekolah sebagai lembaga pendidikan.
Walaupun wujudnya berbeda-beda dalam tiap-tiap negara, keberadaan sekolah merupakan salah satu indikasi terwujudnya masyarakat modern. Dalam hal ini para sosiolog telah melakukan ikhtiar ilmiah untuk menentukan taraf evolusi perkembangan masyarakat manusia. Dimulai dari Auguste Comte (1798-1857) dengan karyanya yang berjudul “Course de philosophie Positive” (1844). Beliau menekankan hukum perkembangan masyarakat yang terdiri dari tiga jenjang, yaitu jenjang teologi dimana manusia mencoba menjelaskan gejala di sekitarnya dengan mengacu pada hal yang bersifat adikodrati. Taraf perkembangan selanjutnya disusul pencapaian manifestasi kemampuan manusia untuk menangkap fenomena lingkungan dengan menyandarkan pada kekuatan-kekuatan metafisik atau abstrak. Hingga pada level tertinggi, taraf positif. Iklim kehidupan demikian ditandai dengan prestasi kemampuan manusia untuk menjelaskan gejala alam maupun sosial berdasar pada deskripsi ilmiah melalui pemahaman kekuasaan hukum objektif (Sunarto, 2000: 3). Dari pengertian tersebut perwujudan manusia positivis hanya mampu ditopang oleh orientasi pendidikan yang sudah terlembaga secara mantap melalui aplikasi fungsi sekolah-sekolah modern.
Di lain pihak, tak kalah pentingnya buah pikiran Emile Durkheim (1858-1912) berupa buku yang berjudul The Division of Labour in Society (1968) juga menganalisis kecenderungan masyarakat maju yang di dalamnya terdapat pembagian kerja dalam pemetaan bidang-bidang ekonomi, hukum, politik, pendidikan, kesenian dan bahkan keluarga. Gejala tersebut merupakan dampak dari penerapan sistem ekonomi industri yang di dalamnya memerlukan memerlukan spesialisasi peran untuk mengusung keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan hidup para anggotanya (Johson, 1986: 181-184). Sekali lagi ilustrasi di atas hanya dapat tercermin pada konteks organisasi lembaga pendidikan yang telah mampu memproduk manusia profesional dengan spesifikasi keahlian. Sedangkan untuk mewujudkan figur-figur manusia itu hanya mampu dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan modern.
Dari kedua pernyataan ilmiah para tokoh sosiologi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa keberadaan sekolah yang mewarnai dunia kehidupan manusia saat ini merupakan sebuah keniscayaan peradaban modern yang lekat dengan renik-renik pergulatan ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi mutakhir. Sementara melihat konteks sosial yang terbentuk dapat dijawab pula sekolah juga masuk dalam kategori-kategori organisasi pada umumnya yang mengemban konsekuensi-konsekuensi organisatoris.
Oleh karena itu keberadaan sekolah patut dimasukkan sebagai salah satu organisasi yang memanfaatkan mekanisme birokratis dalam mengelola kerja-kerja institusinya. Beberapa prinsip penerapan birokrasi juga terdapat dalam lembaga sekolah antara lain:
a. Aturan dan prosedur yang ketat melalui birokrasi,
b. Memiliki hierarki jabatan dengan struktur pimpinan yang mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda-beda,
c. Pelaksanaan adminstrasi secara professional,
d. Mekanisme perekrutan staf dan pembinaan secara bertanggung jawab,
e. Struktur karier yang dapat diidentifikasikan, dan
f. Pengembangan hubungan yang bersifa formal dan impersonal. (Robinson, 1981: 241).
Masih dalam lingkup sekolah sebagai organisasi formal, beberapa ahli telah menyajikan pranata-pranata manajemen yang berbeda-beda dalam menerapkan fungsi manajemen di sekolah (Robinson, 1981). Di antaranya adalah sebagai berikut.
a. Manajemen Ilmiah
Pokok-pokok dari manajemen ilmiah antara lain:
• Menggunakan alat ukur dan perbandingan yang jelas dan tepat,
• Menganalisis dan membandingkan proses-proses yang telah dicapai, dan
• Menerima hipotesis terkuat yang lulus dari verifikasi serta menggunakannya sebagai kriteria tunggal
Implikasinya jelas, penerapan kriteria tunggal bagi sekolah demi mencapai maksimalisasi hasil-hasil belajar secara efisien dan efektif. Tampak jelas jenis manajemen ini berkarakter mekanistis, ketat, mengutamakan hasil kuantitatif, serta cenderung mengesampingkan unsur-unsur manusiawi di dalam prosesnya .

b. Sistem Sosio-teknis
Sebagai sistem sosio-teknis, sekolah mencakup banyak hal yang menjadi input organisasi, namun stafnya akan “mengetahui” sifat input-inputnya. Dengan begitu sekolah dapat menentukan instrumen-instrumen pengolahan demi menjamin hasil yang optimal. Sampai disini definisi sosio-teknis memberikan titik tekan pada pengamatan dan pengelompokan jenis-jenis masukan dalam sekolah lalu ditindaklanjuti dengan cara-cara yang relevan dengan “bahan mentah” tersebut. Manajemen sosio-teknis masih menggunakan prinsip manajemen formal, sehingga beberapa unsur yang melekat pada prinsip manajemen ilmiah juga dimiliki oleh sistem sosio-teknis .

c. Pendekatan Sistemik
Model pengelolaan yang paling banyak digunakan adalah bentuk teori sistem. Ciri khas pendekatan ini adalah pengakuan adanya bagian-bagian suatu sistem yang terkait erat pada keseluruhan. Hubungan timbal balik itu mengisyaratkan detail bagian yang cukup kompleks dan proses interaksi secara keseluruhan dalam sebuah organisasi. Implikasi lain, batas-batas antar bagian harus diketahui dengan tegas dalam mengidentifikasi komponen-komponen lembaga sekolah.
Secara internal model teori sistem, mengadopsi penanganan lembaga formal pada umumnya untuk menggerakkan roda organisasi. Akan tetapi pendekatan ini juga memperhatikan sistem sosial yang bekerja di luar sekolah. Tiap sekolah berusaha pula menampung tuntutan-tuntutan dari para orang tua siswa, industri setempat, pendapat profesional dan kebijaksanaan pendidikan .

d. Pendekatan Individual
Baik pendekatan manajemen maupun pendekatan sistem cenderung “membendakan” organisasi. Organisasi dipandang seakan-akan seperti makhluk besar yang mengatasi dan mengecilkan peran anggota-anggotanya (terutama para murid). Sebagai antitesisnya, maka pendekatan individual mengakomodasi nilai-nilai kemanusiaan dalam organisasi. Akan tetapi pada perkembangannya pendekatan individual memiliki dua keompok pandangan yakni :
1) Teori Pasif
Pandangan yang menekankan pengamatan input pendidikan secara kolektif. Dimana sudut terpenting yang harus diperhatikan oleh sekolah adalah proses kematangan pribadi para siswa yang harus difasilitasi, diakomodasi kebutuhannya dan dibimbing menuju kedewasaan. Oleh karena itu, proporsi organisasi sekolah yang cenderung mekanistis harus dipola menjadi fleksibel agar para anggotanya bisa berekspresi dengan optimal (Robinson, 1981: 252).
2) Teori Aktif
Konstruksi pendekatan yang mengutamakan kemampuan aktif para siswa untuk menginterpretasikan makna-makna normatif dan tindakan-tindakan yang diharapkan berdasarkan iklim kesadaran mereka. Menurut Silverman (1970) proses sosialisasi di sekolah bukanlah imperatif-imperatif moral yang memaksa akan tetapi justru sekolah menjadi “pembantu” para siswa dalam mendokumentasi dan memantapkan makna-makna kehidupan yang didapat oleh mereka sendiri. Pendekatan ini sangat kental dengan pengaruh aliran fenomenologis dalam sosiologi. Oleh karena itu teori aktif bermaksud menekankan makna-makna tafsiran budaya yang didapat oleh individu-individu di dalam mempersepsikan fungsi sekolah bagi mereka (Robinson, 1981: 254).
Dari sini analisis yang bisa disajikan untuk mengamati keberadaan sekolah sebagai lembaga formal dalam aktivitas pendidikannya terbagi menjadi dua lahan persoalan yakni:
a. Penafisiran multi-konsep tentang tujuan organisasi beserta alokasi peran yang sinergis
Sudah menjadi konsekuensi bagi setiap organisasi untuk menetapkan tujuan lembaga. Berbeda dengan organisasi pada umumnya, sekolah memiliki ciri khas yang agak unik, khususnya dari objek yang menjadi tujuannya. Dengan menetapkan posisi peran kelembagaan yang bertugas untuk membekali peserta didik seperangkat pengetahuan dan keterampilan maka sekolah telah mengumandangkan jenis tujuan yang bersifat abstrak. Hal ini tentu saja berbeda dengan lembaga lain yang jelas-jelas memiliki objek tujuan konkrit. Contohnya lembaga perusahaan, tentunya bagi siapa saja akan jelas memahami arti “mencari keuntungan maksimal” bagi perusahaan. Baik itu manajer pemasaran, direktur pabrik, buruh angkutan, sopir, sampai tenaga administrasi akan jelas mengartikan definisi tujuan tersebut. Sementara sekolah memiliki tujuan yang bersifat multi-penafsiran dan agak kabur.
Selain itu, dimensi abstrak yang menjadi titik tolak penafsiran para praktisi sekolah dapat memunculkan hambatan besar untuk menyatukan pemahaman makna tujuan pendidikan antar posisi. Berdasarkan struktur organisasi yang terbentuk, guru bertugas sebagai pelaksana pengajaran kepada siswa, supervisor berfungsi membina para guru dan tugas formal administratur sekolah ialah untuk mengkoordinasikan dan memadukan berbagai ragam aktivitas dalam lingkungan sekolah. Masing-masing pemegang posisi mempunyai hak dan kewajiban tertentu dalam hubungan dengan posisi lain. Sudah tentu kompleksitas peranan menimbulkan nilai sosial yang berbeda-beda dan apabila ditarik dalam suatu prospek tujuan maka akan melibatkan bermacam-macam penafsiran.
Dipandang dari sudut tujuannya ternyata lembaga sekolah harus melakukan bermacam-macam proses penyatuan pandangan baik dari wilayah internal maupun asumsi-asumsi publik di lingkup eksternal. Telaah sosiologis telah memberikan sumbangan konseptual untuk membedah objek tujuan sekolah dalam pola pola hubungannya dengan pihak internal maupun luar lembaga sekolah.
b. Kompleks permasalahan di sekitar orientasi lintas posisi dalam koridor efisiensi dan efektivitas
Kompleks pertentangan tersebut merupakan derivasi dari perangkat-perangkat manusia yang memiliki peran-peran spesifik di lembaga sekolah. Banyak buku teks yang mengemukakan tentang peranan guru dan adminsitratur pendidikan seolah-olah harmonis dan serba sinergis. Padahal kenyataan membuktikan, salah satu faktor yang memberatkan kerja organisasi adalah gejala kesalahpahaman untuk memahami kawan sekerja berkenaan dengan hak dan kewajiban yang berbeda sesuai dengan status pekerjaannya.
Kecenderungan yang terjadi, hampir semua tanggung jawab dan tugas sekolah yang berhubungan dengan siswa selalu dilimpahkan kepada seorang guru. Sedangkan pemberitaan fungsi-fungsi peran yang berbeda baik dari aspek bimbingan konseling, pelayanan birokrasi dan keuangan, serta peran penegak ketertiban dan kedisplinan tidak pernah tersiar secara utuh kepada para siswa.
Tentu saja dalam hal ini sumbangsih teori sosiologi cukup strategis guna memberikan gambaran komprehensif tentang gurita konflik yang terbentuk di lingkungan sekolah dalam kaitan pertentangan antar peran. Dengan begitu, para praktisi pendidikan diharapkan memiliki bahan mentah yang lengkap mengenai pola-pola sosial yang tersusun di dunia pendidikan formal beserta varian-varian permasalahannya .
Sekolah sebagai suatu sistem, juga dipandang sebagai sebuah organisasi yang berskala luas. Sebagai suatu organisasi, sekolah mempunyai tujuan organisasi. Tujuan itu yang menjadi arah dan mengarahkan sistem sosial bersangkutan. Dalam organisasi sekolah terdapat suatu arus jaringan kerja dari sejumlah posisi yang saling berkaitan (guru, supervisor dan administrator) di dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Berdasarkan model organisasi bisa dikatakan bahwa tugas sekolah adalah memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada anak didik. Dalam hubungan ini supervisor berfungsi membina para guru supaya bisa bertugas secara lebih efektif dan tugas formal para administrator sekolah ialah untuk mengkoordinasikan dan memadukan berbagai ragam aktivitas dalam lingkungan sistem sekolah. Para pemegang posisi mempunyai hak dan kewajiban tertentu dalam hubungannya dengan pemegang posisi lain di dalam sistem interaksi mereka.
Di antara para guru berbeda-beda pandangan mengenai tujuan sekolah. Begitu juga dengan para praktisi lembaga sekolah lainnya juga tidak mempunyai kesamaan dalam pandangan tuuan pendidikan. Bukti penelitian menunjukkan salah satu sumber utama yang melahirkan konflik dikalangan masyarakat praktisi mengenai tujuan dan program sekolah. Dan mereka tidak sadar akan kontroversi pertentangan mengenai tujuan sekolah. Dan perbedaan itu sering tidak muncul ke permukaan untuk dibahas secara terbuka. Sehingga hal ini menyebabkan adanya penghalang utama untuk keefektifan tindakan kelompok dan harmonisnya hubungan sosial.
Kesamaan pendapat mengenai batasan peranan para pemegang posisi pendidikan juga meragukan. Mereka yang bekerja bersama-sama dalam dunia pendidikan, seringkali tak memiliki pandangan atau pendapat yang sama mengenai hak dan kewajiban yang terkait dengan posisinya masing-masing.
Di dalam sekolah juga terdapat konflik intern, yaitu masalah harapan dari pihak lainnya kepada pihak lainnya antar pemegang posisi. Satu sama lain saling memberikan harapan. Harapan ini terkait tugas-tugas yang harus dijalankan oleh setiap pemegang posisi. Begitu juga orang tua wali menginginkan pengaturan masalah kediplinan sekolah, besar uang sekolah, penerimaan murid baru, kelulusan dan lain sebagainya.
Memandang sekolah sebagai suatu organisasi formal, dari kacamata sosiologis menisyaratkan adanya rintangan organisasi yang besar untuk berfungsi secara efektif. Kesimpulan pembahasan ini, ada dua penyebab masalah dalam sekolah. Yaitu kurangnya kata persetujuan mengenai tujuan organisasi sekolah itu sendiri dan kurangnya kesepakatan tentang batasan peranan dari masing-masing pemegang posisi pendidikan .

2. Kontribusi Sosiologi Terhadap Kegiatan Kelas Sebagai Suatu Sistem Sosial
Suatu analisis tentang struktur kompetisi beserta pengaruhnya terhadap prestasi belajar di sekolah menengah, secara nyata mempunyai implikasi untuk mengisolasikan kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi hasil belajar suatu kelas. Gordon dan Bpookover ahli dari Amerika menyarankan pentingnya tinjauan sosiologis di dalam mengkaji struktur dan fungsi ruangan kelas sebagai suatu sistem sosial.
Dewasa ini penelaahan sosiologis dan sosio-psikologis mengenai ruangan kelas sebagai suatu sistem, sudah tak diragukan lagi nilai guna dan kontribusinya. Kontribusi empiris utama dari para sosiolog selama ini, yaitu di dalam menelaah struktur sosiometrik di kelas, dan memilihkan sumber-sumber tekanan dan ketegangan yang dihadapi guru-guru di kelas. Telaah sosiometrik mengungkapkan bahwa ruangan kelas, di dalamnya terdapat anak-anak “idiola” dan “penyendiri”, mengenai para guru, hasil penelitian menunjukkan, bahwa kerapkali para guru tidak mengetahui hubungan-hubungan antar pribadi di kalangan murid-muridnya di kelas. Mereka tidak menunjukkan kepekaan yang tinggi mengenai bagaimana sesungguhnya para muridnya mereaksi satu sama lain, mereka sering kali membiarkan bias pribadinya dalam menghadapi para siswanya ketimbang menggunakan asesmen yang tepat melalui sosiometri.
Hal lain yang menyebabkan ketegangan kejiwaan para guru pengajar di kelas salah satunya karena benturan antara struktur otoritas sekolah dengan status profesional guru-guru itu sendiri. Kepala sekolah sebagai pemegang otoritas di sekolah sudah tentu perlu mengawasi, mengkoordinasikan, dan memadukan semua kegiatan yang berlangsung di sekolah, termasuk juga terhadap sajian pelajaran yang diberikan guru (sesuai dengan kurikulum dan batasan bahan untuk satu semester/tahun). Untuk itu para guru harus bekerja dengan bertanggung jawab (sebagai hamba kurikulum) dan jika tidak maka kepala sekolah bisa menindak guru dengan memberikan sanksi. Hal seperti ini sebenarnya bertentangan dengan tugas seorang guru sebagai tenaga profesional yang memiliki otonomi untuk mengembangakan aktivitasnya dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Otoritas kepala sekolah menimbulkan kekecewaan bagi guru dan bisa mengacaukan pengajaran di kelas. Sehingga menimbulkan adanya jarak sosial antara guru dan kepala sekolah.
Penyebab ketegangan lainnya tumbuh dari perbedaan norma antara yang dianut guru dengan norma yang dianut siswa dalam hubungannya dengan perilaku siswa. Para guru mengharapkan para murid berprestasi sebaik mungkin sesuai potensinya. Sementara itu para siswa tak seberapa konsentrasi dengan harapan gurunya. Mereka lebih berorientasi pada struktur informal dan nilai-nilai dikalangan mereka sendiri. Mereka memiliki sifat asli yang dibawanya dari lingkungannya sendiri. Hal ini mempunyai pengaruh besar terhadap penampilan mereka di sekolah. Jika tiak ada kesesuaian dengan nilai-nilai yang diharapkan guru, maka guru akan bisa tersiksa di dalam proses transaksi pengajarannya dengan para siswa.
Kontribusi lainnya adalah mengenai perilaku siswa yang suka menyendiri. Kekuatan kelompok teman sekelasnya mempunyai pengaruh besar terhadap anak-anak yang terisolasi. Hambatan utama untuk menyembuhkan anak penyendiri bukan terletak pada diri anak itu sendiri, tetapi terletak pada konteks kelas itu sendiri. Selama ini para guru dan bimbingan konseling berasumsi bahwa bimbingan individual adalah satu-satunya cara penyembuhan. Kita harus menyadarkan para guru dan pembimbing bahwa melalui perubahan iklim kelompok/kelas juga suatu alternatif lain yang tak kalah pentingnya dibanding cara individual. Untuk itu dituntut untuk mengeksplorasi bagaimana adanya kehidupan kelas sebagai suatu sistem sosial.
Analisis sosiologi juga mengungkapkan ada hubungan yang erat antara tingkah laku dan sikap seseorang dengan latar belakang kelompok atau aspirasi yang digandrunginya. Anak-anak sekolah pada umumnya cenderung untuk membentuk sebuah kelompok atau “GANK”. Kelompok-kelompok tersebut merupakan tempat berlabuh yang harus diperhitungkan dalam upaya pembinaan tingkah laku siswa. Konsekuensi pentingnya adalah agar pengajar bisa efektif dalam mendidik siswanya maka perlu adanya usaha membendung kekuatan-kekuatan kelompok yang bisa mengacaukan arah pembinaan anak didiknya, dan berupaya mengubah nilai-nilai atau norma-norma kurang sehat di kalangan klik-klik siswa itu sendiri .

3. Kontribusi Sosiologi Terhadap Lingkungan Eksternal Sekolah
Sekolah sebagai suatu sistem tidak berdiri ssendiri dalam dunia hampa. Ia berada dan berfungsi, sebagiannya bergantung pada lingkungan eksternalnya. Sudut pandang sosiologis seperti itu mempunyai banyak implikasi dalam analisis sistem persekolahan.
Implikasi pertama ialah, dengan adanya perubahan-perubahan demografis di dalam sistem sosial yang lebih besar (masyarakat), secara materiil akan mempengaruhi komposisi kesiswaan pada suatu sistem sekolah dan hal itu menyebabkan sering kali ada modifikasi kurikulum. Jumlah urbanisasi yang besar menuntut mereka membutuhkan persekolahan. Fenomena di satu pihak menyebabkan sekolah-sekolah di desa kekurangan murid dan sebaliknya sekolah di kota tidak muat menampung banyaknya siswa yang mau masuk sekolah. Hal tersebut mengungkapkan betapa pentingnya pendekatan tersendiri dalam perencanaan sekolah baik di desa atau di kota yang jarang diperhatikan dunia pendidikan.
Aspek kedua adalah terkait struktur kelas sosial di masyarakat. Dari hasil penelitian, menyatakan bahwa kebanyakan aspek-aspek dalam penunaian fungsi persekolahan diengaruhi oleh fenomena kelas sosial. Pelaksanaan penilaian beserta kriteria yang digunakan dalam eveluasi hasil belajar siswa tampaknya ada hubungan dengn posisi kelas sosial siswa dan guru. Selain itu mobilitas aspirasi para siswa, angka putus sekolah, partisipasi siswa dalam kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler, tingkah laku berpacaran siswa, dan pola persahabatan di kalangan siswa, tampaknya juga dipengaruhi oleh karakter sosial-ekonomi dari keluarga/orang tua siswa.
Aspek yang ketiga adalah stuktur kekuasaan di masyarakat. Pengelolaan program pendidikan di sekolah-sekolah membutuhkan topangan dana yang tidak sedikit, dan hal itu sedikit banyak mempengaruhi mutu program dan hasil pendidikan. Seberpa banyak subsisi ke dunia pendidikan, baik dari pemerintah lokal atau nasional, kenyataannya bergantung pada para pengambil kebijakan di lingkungan struktur kekuasaan yang ada. Sehingga tidak heran jika para administratur pendidikan juga menunjukkan minatnya untuk menelaah struktur kekuasaan yang berlangsung di masyarakat, dan untuk itu lazimnya menyertakan ahli-ahli sosiologi.
Kontribusi keempat sosiologi terhadap lingkungan eksternal sekolah adalah penelitian rantaian penghubung antara sekolah dengan masyarakat. Keberadaan badan pertimbangan sekolah biasanya diasumsikan dengan tidak adanya proporsional asal strata para anggota badan pertimbangan sekolah (strata atas terhadap strata ekonomis) mengakibatkan adanya bias konservatif dalam pertimbangan-pertimbangannya. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh tingkah laku para anggota badan pertimbangan dan memotivasinya untuk menduduki jabatan tersebut terhadap penampilan dan kepuasan kerja para penilik kepala. Faktor lain seperti agama, pekerjaan, dan penghasilan terhadap tingkah laku para anggota. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa serba sulit bagi perkembangan sekolah, meskipun seringkali diabaikan, dengan adanya variabel tingkah laku kelompok kecil orang-orang awam dalam badan pertimabangan sekolah. Hal ini menyebabkan adanya upaya untuk meningkatkan mutu anggota badan pertinbangan sekolah.
Kontribusi yang kelima yaitu bertolak dari telaahan terhdap konflik antara peranan dimana para tenaga kependidikan dihadapkan pada benturan kepentingan dari posisi yang dipegangnya dalam sistem persekolahan dengan posisinya di dalam sistem sosial lain. Banyak harapan-harapan yang terkait dengan posisi guru, dalam kenyataannya berbenturan dengan harapan-harapan posisi lain yang dipegangnya di luar sistem persekolahan.
Hasil penemuan-penemuan diatas menyokong suatu prosisi bahwa konflik antar peranan di antara posisi di sistem persekolahan dengan lingkungan eksternal, merupakan sumber potensial utama lahirnya ketegangan di kalangan praktisi pendidikan, termasuk juga bagi para guru. Dengan tinjauan dan analisis sosiologis, para praktisi pendidikan bisa secara lebih realistis dan peka mengkaji kekuatan-kekuatan majemuk yang ada dan berlangsung dalam konteks penyelenggaraan pendidikan. Dengan sokongan penglihatan dan konsep-konsep sosiologis para praktisi pendidikan bisa lebih jeli memperhitungkan faktor-faktor organisasi, budaya, dan personal di lingkungan kerjanya masing-masing .

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Keberadaan sekolah yang mewarnai dunia kehidupan manusia saat ini merupakan sebuah keniscayaan peradaban modern yang lekat dengan renik-renik pergulatan ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi mutakhir. Sebagai organisasi pada umumnya yang mengemban konsekuensi-konsekuensi organisatoris.
Prinsip Birokrasi dalam Sekolah:
1. Aturan dan prosedur yang ketat melalui birokrasi,
2. Memiliki hierarki jabatan dengan struktur pimpinan yang mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda-beda,
3. Pelaksanaan adminstrasi secara professional,
4. Mekanisme perekrutan staf dan pembinaan secara bertanggung jawab,
5. Struktur karier yang dapat diidentifikasikan, dan
6. Pengembangan hubungan yang bersifa formal dan impersonal. (Robinson, 1981: 241).
Beberapa Pranata Manajemen di Sekolah:
• Manajemen ilmiah (berkarakter mekanistis, ketat, mengutamakan hasil kuantitatif, serta cenderung mengesampingkan unsur-unsur manusiawi di dalam prosesnya)
• Sistem sosio-teknis (memberikan titik tekan pada pengamatan dan pengelompokan jenis-jenis masukan “input” dalam sekolah lalu ditindaklanjuti dengan cara-cara yang relevan)
• Pendekatan sistemik (mengadopsi penanganan lembaga formal pada umumnya untuk menggerakkan roda organisasi. Tetapi memperhatikan sistem sosial yang bekerja di luar sekolah. Tiap sekolah berusaha pula menampung tuntutan-tuntutan dari para orang tua siswa, industri setempat, pendapat profesional dan kebijaksanaan pendidikan)
• Pendekatan individual (mengakomodasi nilai-nilai kemanusiaan dalam organisasi). Dibagi menjadi 2, yaitu: 1. teori pasif, 2. teori aktif
Penyebab Masalah dalam Sekolah:
• Yaitu kurangnya kata persetujuan mengenai tujuan organisasi sekolah itu sendiri.
• kurangnya kesepakatan tentang btasan peranan dari masing-masing pemegang posisi pendidikan.
Penyebab ketegangan di dalam kelas:
• Perilaku siswa yang suka menyendiri, guru kurang peka terhadap fenomena tersebut
• Adanya benturan antara struktur sekolah dengan tugas profesional guru
• Adanya perbedaan norma yang dianut guru dan murid, apa yan diharapkan guru kurang direspon oleh murid. Contoh mengenai prestasi yang diharapkan guru kepada siswa
• Adanya sekelompok siswa yang membuat Gank, sehingga interaksi di dalam kelas tidak bisa normal/sehat
Kontribusi Sosiologi Terhadap Lingkungan Eksternal Sekolah:
• Implikasi pertama ialah, dengan adanya perubahan-perubahan demografis di dalam sistem sosial yang lebih besar (masyarakat), secara materiil akan mempengaruhi komposisi kesiswaan pada suatu sistem sekolah dan hal itu menyebabkan sering kali ada modifikasi kurikulum
• Implikasi kedua adalah terkait struktur kelas sosial di masyarakat. Dari hasil penelitian, menyatakan bahwa kebanyakan aspek-aspek dalam penunaian fungsi persekolahan dipengaruhi oleh fenomena kelas sosial.
• Aspek yang ketiga adalah stuktur kekuasaan di masyarakat. Pengelolaan program pendidikan di sekolah-sekolah membutuhkan topangan dana yang tidak sedikit, dan hal itu sedikit banyak mempengaruhi mutu program dan hasil pendidikan.
• Kontribusi keempat sosiologi terhadap lingkungan eksternal sekolah adalah penelitian rantaian penghubung antara sekolah dengan masyarakat.
• Kontribusi yang kelima yaitu bertolak dari telaahan terhdap konflik antara peranan dimana para tenaga kependidikan dihadapkan pada benturan kepentingan dari posisi yang dipegangnya dalam sistem persekolahan dengan posisinya di dalam sistem sosial lain.

DAFTAR PUSTAKA

Faisal, Sanapiah. 1985. Sosiologi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional
http:// kontribusi sosiologi terhadap pendidikan. Uns.ac.id
http:// kontribusi sosiologi terhadap pendidikan. Uns.ac.id
Robinson, Philip. 1981. Beberapa Perspektif Sosiologi Pendidikan. Jakarta: CV. Rajawali

Hari begitu cerah, tiada awan mendung sedikitpun. Tanggal 26 april 2011 kampus ini kembali melaksanakan pemira yang kedua kalinya. sebuah event yang ditujukan untuk memilih orang-orang yang menduduki jabatan penting di tingkat mahasiswa ini kembali mengalami kericuhan. Sama seperti PEMIRA yang pertama, namun kali ini lebih parah. Kotak suara di sebar sampai berserakan hingga ada aksi kekerasan.
Panasnya cuaca hari ini mungkin juga menambah panasnya kepala dan hati mahasiswa, terutama yang tidak puas dengan acara tersebut. Entah siapa yang salah, entah siapa yang benar. Tapi apakah tidak ada cara lain untuk menyelesaikan permasalahan yang diperselisihkan selain dari kekerasan.
Partai politik memang syarat dengan adanya kepentingan. Masing-masing partai memiliki kepentingan masing-masing. Namun seharusnya kepentingan itu dilakukan dengan cara-cara yang baik dan mementingkan kepentingan umum dari pada kepentingan golongan atau pribadi.
Begitu juga seharusnya pemegang otoritas kampus bisa lebih bijaksana untuk menengahi permasalah yang terjadi. Jangan berpihak kepada salah satu golongan. Sehingga tercipta keadilan dan kepuasan dipihak masing. Namun pihak-pihak yang berkepentingan seharusnya juga legowo, mau menerima keputusan yang telah diambil. Sportif dan tidak mudah tersulut amarahnya.
Masih muda saja (mahasiswa) sudah mudah tersulut emosinya, apalagi kelak jika sudah turun kemasyarakat. Sebagai kaum yang dikenal dengan kaum intelektual seharusnya bisa berfikir secara dingin dan bijaksana. bukannya berfikir pendek dan dangkal.
Apalagi kampus ini adalah kampus yang bernuansa religius. seharusnya komunitas yang ada di dalamnya bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan koridor agama. Selesaikan masalah dengan cara-cara yang demokratis, dengan musyawarah yang baik dan saling memahami dan mengerti.
Mau jadi apa bangsa ini, semua penduduknya mudah sekali melakukan kekerasan. Tidak disana tidak disini selalu terjadi kekerasan. Sedikit-sedikit demo, marah dan sebagainya. Dimanakan gelar bangsa inidonesia yang terkenal dengan budaya ketimuran yang terkenal dengan kesopananya, santun, mudah bergaul dan tidak mudah marah.

Category: umum  Leave a Comment

cinta itu membutuhkan kegilaan, jika tidak gila bukan cinta namanya.
Cinta itu tidak masuk akal, berhati-hatilah dan sukalah pada yang membaikan.
Cinta sebagai penguat bagi orang yang mau memantapkan diri.
Waktu kita jatuh cinta, apapun bentuknya. Orang yang tidak pernah jatuh cinta tidak akan pernah mengenali kekuatan cinta. Cinta meningkatkan keimanan.
Ketika jatuh cinta kita belajar untuk menggantungkan harapan.
Jatuh cintalah dan pastikanlah kecintaan itu menuntun anda kearah yang lebih baik.
(Mario Teguh golden ways)

Category: AL-HUBB  Leave a Comment

oleh: Joko Purwanto
BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang
Dunia pendidikan selalu berkembang seiring dengan berkembangnya dunia. Begitu juga dengan sarana dan prasarana pendidikan semakin memadai dan semakin lengkap. Jika dulu sekolah-sekolah menggunakan sarana yang seadanya, sekarang sudah semakin lengkap. Sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan maksimal. Demikian juga media yang dipakai dalam proses belajar mengajar semakin kompleks.
Perkembangan teknologi pada akhirnya juga merambah kepada dunia pendidikan. Banyak sekolah yang sekarang memakai teknologi ini untuk memperlancar pembelajaran di sekolah. Teknologi dalam pembelajaran bisa menjadi sarana pembelajaran, metode/media dan sebagai sumber belajar bagi peserta didik. Sebagai sarana teknologi merupakan alat untuk memperlancar pembelajaran. Sebagai metode/media teknologi sebagai inovator agar pembelajaran menjadi lebih menarik. Sedangkan sebagai sumber belajar tekonologi sebagai salah satu penyedia informasi bagi peserta didik.
Diantara banyaknya teknologi pembelajaran salah satunya adalah video/film. Sebagai salah satu media, video/fil merupakan salah satu tekonologi pembelajaran yang memiliki kelebihan yang cukup baik untuk pelaksanaan pembelajaran.

Rumusan masalah
1. Apa definisi dari video?
2. Apa saja jenis teknik video?
3. Bagaimana cara pembuatan video untuk pembelajaran?
4. Apa saja kelebihan video untuk pengajaran dan pembelajaran?

Tujuan
1. Mengetahui definisi video
2. Mengetahui jenis teknk video
3. Mengetahui cara pembuatan video untuk pembelajaran
4. Mengetahui kelebihan video untuk pengajaran dan pembelajaran
BAB II
PEMBAHSAN

1. Definisi Video
Dalam kamus bahasa indonesia video adalah teknologi pengiriman sinyal elektronik dari suatu gambar bergerak. Aplikasi umum dari sinyal video adalah televisi, tetapi dia dapat juga digunakan dalam aplikasi lain di dalam bidang teknik, saintifik, produksi dan keamanan .
Kata video berasal dari kata Latin, “Saya lihat”. Istilah video juga digunakan sebagai singkatan dari videotape, dan juga perekam video serta pemutar video .
Video adalah salah satu temuan terbesar manusia di abad 20. Dimulai dari ditemukannya fotografi yang menampilkan citra atau image diam yang identik dengan aslinya kemudian berkembang dengan menampilkan citra bergerak (motion picture). Perkembangan ini tidak terlepas dari kemajuan teknologi yang kemudian mampu menggabungkan unsur gambar bergerak tadi dengan unsur suara. Lalu disebut sebagai video, yakni gabungan yang harmonis atau sinkron antara visual (gambar bergerak) dengan audio (suara)
Bahan video ini diproduksi dengan merekam objek bergerak sekaligus suaranya dengan menggunakan peralatan yang disebut kamera. Kamera video berfungsi sebagai alat yang mewakili mata manusia untuk menangkap pantulan cahaya sebuah objek dan gelombang suara yang kemudian diproses secara mekanik atau elektronik dan disimpan dengan media seperti pita seluloid, pita magnetis bahkan digital video disc. Video sebagai media komunikasi yang memadukan unsur suara/bunyi dan gambar dengan segala teknik penyiapan yang didasarkan pada derajad kegunaannya (useware), sangat ditentukan oleh penyiapan penggarapan perangkat lunak (software) yaitu materi/pesan dan perangkat keras (hardware) berupa perlatan produksi (Djauhari, 2003).
Pada perkembangan teknologi komunikasi saat ini yang sangat menunjang penggarapan kemasan informasi melalui media audio visual maka beberapa keunggulan sifat video yang dimiliki, yakni fixative, manipulative dan distributif semakin menghadapkan kita sebagai perencana pesan untuk senantiasi kreatif dalam pembuatan kemasan pesan (Djauhari, 2003:3). Keunggulan video yang mampu menampilkan gambar bergerak dan suara merupakan satu daya tarik tersendiri, karena kita mampu menyerap pesan atau informasi dengan menggunakan lebih dari satu indera. Kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media ini akan meningkatkan tingkat keberhasilan penyampaian materi dan memperkuat apresiasi peserta didik serta memudahkan pengembangan materi terhadap apa yang diajarkan .
Menurut Mohd. Arif dan Rosnaini, video merupakan alat untuk merekamkan dan menayangkan film dengan menggunakan pita video (disalurkan melalui televisi). Pita rekaman diartikan sebagai pita bermagnet yang digunakan untuk merekam gambar dan suara dari televisi. Sedangkan film video adalah film yang telah direkam pada vita video dan hanya sesuai ditayang kan dengan menggunakan alat video.
Video sebagai salah satu media dalam pengajaran dan pembelajaran menunjukkan dampak yang positif. Video dapat membantu para guru mengetahui satu pendekatan baru yang bisa digunakan untuk menarik minat belajar. Oleh karena itu sedikit banyak video merupakan salah satu alternatif dalam mengatasi kemerosotan pelajaran dan pembelajaran. Menurut Zubaidah (1997), guru-guru bisa melakukan penyesuaian dan meningkatkan daya kreativitas dalam proses penyampaian isi-isi pengajaran supaya menjadi lebih berkesan dan mudah seiring dengan citarasa dan karakteristik pelajar. Video bersifat interaktif tutoial membimbing peserta didik untuk memahami sebuah materi melalui visualisasi. Peserta didik dapat secara interaktif mengikuti kegiatan praktik sesuai dengan yang diajarkan dalam video .
Video mempunyai karakteristik diantaranya adalah:
a. Mengatasi keterbatasan jarak dan waktu
b. Dapat diulang untuk menambah kejelasan
c. Pesan yang disampaikan cepat dan mudah diingat
d. Mengembangkan pikiran, imajinasi dan pendapat siswa
e. Memperjelas hal-hal yang abstrak dan memberikan gambaran yang lebih relistis
f. Sangat kuat mempengaruhi emosi seseorang
g. Sangat baik menjelaskan suatu proses dan ketrampilan, mampu menunjukkan rangsangan yang sesuai dengan tujuan dan respon yang diharapkan dari siswa
h. Semua siswa dapat belajar baik yang pandai ataupun yang kurang pandai
i. Menumbuhkan minat dan motivasi belajar
j. Penampilan dapat segera dilihat kembali untuk dievaluasi .

2. Beberapa Jenis Teknik Video
Salah satu media pembelajaran yang menjadikan pembelajaran menjadi menarik dan berkesan adalah dengan video. Teknik video adalah alat elektronik yang melibatkan televisi, pita rekaman dan perekam video. Ada dua jenis pengajaran yang bisa digunakan dalam pengajaran teknik video, yaitu:
a. Ideo Pengajaran Terus
Yaitu mengajar di kelas dengan skrin tv secara langsung. Cara ini lebih sesuai untuk peringkat asas dan mendengar. Di dalam VPT hanya terdapat satu bahasa pengantar dan satu pembawa acara di dalam skrin tv yang membimbing pelajar.
Di dalam skrin tv akan menonjolkan item-item penting yang akan dipelajari dan terdapat juga arahan yang menerangkan apa yang patut diperhatikan dan dilakukan oleh pelajar untuk menelusuri video tersebut.
Dalam VPT, tayangan video itu mempersembahkan bahasa baru dan guru berperan menyusulinya dengan buku dan pits video sebagai latihan dan eksploitasi. Biasanya bahasa yang dipilih, adalah bertujuan untuk memenuhi keperluan tertentu. Dengan demikian guru akan mengunakan video sebagai sumber belajar.
b. Video Sumber
Video sumber tidak mengandungi bahan pengajaran secara terus, tetapi input bahasa yang yng dipilih dan degred masih berdasarkan pelajaran bahasa dan merupakan jenis pengajaran secara tidak langsung. Tujuan sumber video adalah untuk memberi ilustrasi bahasa baru bagi sesuatu tahap tertentu.

Jenis-jenis teknik video:
a. Pemahaman Mendengar (cloze/listening comphrehension)
Pada jenis ini terdapat berbagai aktivitas yang dijalankan. Para pelajar bisa diberi beberapa skrip narator cerita di dalam video dengan beberapa perkataan yang ditiadakakan. Tugas pelajar ialah mengisi tempat-tempat yang kosong dengan teliti. Sebagai alternatif, peserta didik boleh diminta untuk menjawab soal-soal pemahaman berdasarkan video yang dipertontonkan.
b. Tayangan Senyap (Silent Viewing)
Audio ditutup dan guru meminta siswa hanya menonton visual yang terdapat pada skrin TV. Siswa dibiarkan menerka apa yang dikatakan pada video yang mereka tonton. Mungkin mereka akan mengalami kesulitan dalam memahami perkataan yang ada dalam video tapi setidaknya mereka mampu memberitahu kata-kata kunci dan frasa.
c. Tayangan Bersilang (Jigsaw Viewing)
Setiap siswa secara berpasangan duduk saling membelakangi antara satu sama lain. Salah satu dari merreka menghadap monitor TV sebaliknya pasangannya menghadap ke arah sebaliknya. Anak yang tidak melihat video ditanya oleh anak yang melihat video.
Misalnya, siapakah orang yang memakai bajju warna hijau?
Dimanakah video itu berlaku? Dan sebagainya.
Siswa yang menghadap video perlu memberikan opsi jawaban, dan siswa yang bisa menjawab dengan benar dianggap menang.
d. Tayangan Bersinar dengan Komentar (Jigsaw Viewing With Commentary)
Setiap siswa duduk secara berpasangan dengan belakang membelakangi satu sama lain. Guru memberitahu bahwa siswa yang tidak mengadap skrin TV, harus menjawab soal-soal berdasarkan sekuen video selepas aktivitas itu selesai dan pemenangnya adalah pasangan yang berupaya menjawab yang paling tepat.
Kemudia guru menayangkan video dengan menutup audionya, siswa yang menghadap skrin memberi komentar secara langsung tentang apa yang ditayangkan dalam video. Dan pasangannya harus memberi soal-soal untuk mendapatkan maklumat yang lebih banyak.
e. Pencarian Harta Karun Video (Video Treasure Hunt)
Warna pada skrin dikurangi supaya menjadi gelap dan tak ada apapun dapat dilihat. Sehingga hanya ada perkataan, komentar dan kesan-kesan bunyi yang bisa didengar, siswa diharapkan dapat menerangkan tentang aksi, watak, emosi, obyek dan sebagainya yang mereka rasa ada ditayangan.
f. Ramalan (Prediction)
Ramalan bisa meliputi semua apa yang akan berlaku sebelumnya dan apa yang kan dikatakan seterusnya. Kedua aktivitas ramalan ini mengharuskan siswa meramal sekuen video yang dihentikan secara tiba-tiba untuk menimbulkan respon lisan atau tulisan terkait dengan apa yang akan terjadi seterusnya.
Kemudian untuk mengetahui hasil respun dan pembicaraan-pembicaraan selanjutnya. Siswa akan dipertontonkan jalan cerita sebenarnya dari video.
g. Ramalan Sebelum (Reverse Prediction)
Aktivitas ini sangat sesuai untuk siswa yang baik penguasaan bahasanya. Dalam aktivs ini, siswa ditunjukkan bagian akhir dari cerita yang ditayangkan video yang pendek. Siswa diminta memberi penjelasan secara lsan dan tertulis bagaimana awal cerita dari akhir video yang ditayangkan. Kemudia siswa mempersembahkan cerita versi mereka. Persembahan bisa dijalankan secara keseluruhan video itu dari awal hingga akhir.
h. Urutan (Sequencing)
Siswa-siswa diberikan skrip video bertulis yang telah dicampuradukkan. Tugas mereka adalah menyusun skrip itu menjadi benar. Kegiatan ini paling cocok untuk video yang sekuennya menerangkan tentang proses-proses dan melibatkan seorang narator. Cara yang lain yaitu guru menyunting video itu dan mencampuradukkan peristiwa-peristiwa dalam video itu. Kemudian siswa-siswa mendiskusikan tentang bagaimanakah sebenarnya urutan video yang bagus .

3. Cara Membuat Video untuk pembelajaran
Untuk membuat video dalam rangka pembelajaran, tentunya berbeda dalam pembuatan video untuk keperluan pribadi. M Fausiyah (2008) menjelaskan cara pembuaan video untuk pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Menetapkan adegan atau tema yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan
b. Mengembangkan tema tersebut dan berusaha untuk membagi-bagi kejadian atau moment menjadi serangkaian bidikan atau serangkaian kejadian yang berurutan. Usahakan natural , agar siswa dapat mengikuti atau merasakan kejadian tersebut.
c. Kita harus membidik urutan kejadian tersebut dengan berbagai jenis atau ukuran bidikan
d. Bila akan mengubah atau memotong dua bidikan yang berurutan, hendaknya memberi sisipan bidikan dengan ukuran bidikan yang berbeda mencolok juga dari dua sudut bidik yang berbeda pula
e. Selain itu, perlu mengantisipasi adegan yang selanjutnya diharapkan siswa. Agar alunan yang wajar dari rangkaian bidikan kita bisa terangkai
f. Membantu terciptanya alunan tadi. Sudut bidik yang berlawanan arah menciptakan kesinambungan bidikan yang sangat berharga. Demikian pula bidikan-bidikan berdasarkan arah pandangan
g. Membidik satu objek dengan durasi yang panjang sangat tidak disarankan. Menunjukkan hal-hal yang penting saja agar menarik. Untuk menggabungkannya, manfaatkan fasilitas fade in/out yang terdapat pada hampir semua perangkat handycam.
h. Untuk memberikankesan yang meyakinkan bidikan-bidikan tersebut perlu dipertahankan paling tidak selama tiga detik supaya siswa dapt menangkap atau menghayati suatu adegan .

4. Kelebihan Video Dalam Pengajaran Dan Pembelajaran
Video/film termasuk dalam kategori motion media yang mempunyai beberapa kelebihan daripada media-media pendidikan yang lain seperti media cetak. Kelebihan-kelebihan yang terdapat pada video film menyebabkan video/film sesuai digunakan untuk tujuan pembelajaran, diantara kelebihan itu adalah:

a. Unsur multimedia
Menurut Romiszowski (1998), video/film adalah satu media pengajaran yang cukup berkesan untuk digunakan dalam pembelajaran karena video/film menggabungkan secara baik unsur multi media seperti audio, visual, gerak, warna dan kesan tiga dimensi. Muhammad Hasan (2000) mengakui kelebihan video/film, dimana penggunaan unsur-unsur gerak, bunyi, warna, dan cahaya menjadi video/film dapat secara langsung menarik minat siswa dan seterusnya mendorong pembelajaran siswa. Unsur-unsur dramatik dan kegiatan yang terdapat dalam video/film berupaya meningkatkan kesan pasa proses pengajaran dan pembelajaran (Norton dan Wiburg 2003).
b. Manipulasi perspektif ruang, masa dan ukuran
Penggunaan video dapat memanipulasi ruang. Suatu fenomena dapat ditunjukkan dengan perspektif yang berbeda secara mikrocosmis atau makrocosmis. Contohnya, siswa ditunjukkan visual secara mikrocosmis bagaimana seekor nyamuk menghisap darahmanusia secara close-up. Atau secara makrocosmis seperti gerak bus yang semakin menjauh.
Yusuf (1997) menyatakan bahwa video/film mempunyai kelebihan dari manipulasi masa, dimana guru dapat melakukan perubahan kepada masa dengan menggunakan teknik-teknik seperti gerak perlahan , gerak cepat, bingkai demi bingkai, penyerapan dan ulang tayang. Video turut memampatkan, mempercepat atau meregangkan masa dengan teknik-teknik seperti penyerapan, pemfokussan atau digelapkan dan sebagainya. dalam realitas kehidupan banyak perkara yang memakan masa yang agak lama seperti pembangunan jembatan, penghasilan sebuah kereta atau proses percambahan biji hingga jadi pohon. Melalui video/film, perkembangan dapat ditunjukkan dan para siswa dapat mempelajari tentang proses-proses tersebut dalam waktu yang singkat.
c. Penyampaian Pesan Pengajaran
Sebagai satu media komunikasi video/film dapat digunakan sebagai satu cara penyampaian pelajaran. Naim (1995) berpendapat sebgai satu media komunikasi, video/film dapat menyampaikan secara terperinci dan konkrit pesan-pesan pendidikan seperti pembelajaran isi kandungan kurikulum serta pembentukan sikap dan tingkah laku siswa. Disamping itu, video/film dapat digunakan untuk menonjolkan relitas kehidupan, dan membangkitkan emosi dan perasaan. Menurut Amla et al. (2000), video/film dilihat sebagai satu media yang dinamis yang dapat merangsang umpan balik luar dan dalam yang kadang-kadang memengaruhi psikologi seseorang. Selain itu video/film bisa digunakan untuk menyampaikan pesan pendidikan berkaitan moral pemimpin dan sikap pemimpin.
d. Memudahkan Pembelajaran Dan Pencapaian Objektif Pengajaran
Video/film dapat membantu guru menerangkan tentang sesuatu konsep yang abstrak atau sukar untuk diterangkan. Video/film dapat membawa masalah sebenarnya ke dalam tempat yang sama dengan perkara yang telah berlalu atau yang sedang terjadi tanpa batasan waktu, jarak dan tempat. Video dapat meningkatkan pemahaman pelajar, menghindari salah penafsiran dan memudahkan pembelajaran.
Menurut Naim (1990), karena video dapat menempati keperluan “mendekatkankan yang jauh, menjauhkan yang dekat, memperlihatkan yang tidak terlihat, mengecilkan yang besar, membesarkan yang kecil, memperlihatkan yang telah berlalu dan memvisualkan futuristik”, video film dapat dapat dimanfaatkan oleh guru untuk mencpai pembelajaran yang objektif. Sebagi contoh, guru bisa membawa masuk keadaan negara asing ke dalam kelas, menunjukkan pertumbuhan biji, menunjukkan ikan paus dilautan, dan menunjukkan struktur amuba atau kuman. Video film yang direka bentuk dan digunakan secara sistematis juga dapat merangsang daya imajinasi dan penglihatan pelajar.
Fatawi (2000) menyatakan berbagai video/film dan tayangan televisi seperti drama, dokumentasi, iklan hiburan, majalah dan sebagainya dapat digunakan untuk mencapai objektif pengajaran tertentu. Bentuk drama misalnya dapat digunakan untuk perubahan sikap, pandangan dan emosi. Bentuk iklan dapat dieksploitasikan untuk menanam nilai-nilai murni dan sebagainya. bentuk dokumentari atau rencana dapat digunkan untuk pemahaan dunia dan budaya suatu masyarakat. Penggunaan video film tertentu dapat diulang tayang dan dilihat berkali-kali untuk membantu meningkatkan daya ingat dan kemahiran.
Video/film tetentu dapat merangsang umpan balik/respon, interaksi dan penyertaan pelajar terhadap apa yang dipaparkan, secara psikomotorik atau afektif. Rrangsangan ini bisa menjadi pendukung terhadap kesan pembelajaran ke arah objektif yang diinginkan. Penyertaan aktif siswa dalam perkara yang dipelajari adalah penting dalam pengajaran dan pembelajaran (Abdul Malik, 1995).
e. Meningkatkan berbagai kemahiran dan pengalaman belajar
Fideo film juga dapat meningkatkan berbagai kemahiran dan pengalaman belajar. Penggunaan video/film dapat meningkatkan kemampuan literasi visual pelajar, dimana mereka dapat menginterpretasi simbol-simbol visual secara tepat dan pelajar berinteraksi dan memberi respons selaras dengan pesan-pesan yang diperoleh mereka. Balakhrisman (1994) mengatakan dari berbagai jenis sumber bahan pelajaran, umumnya video film mempunyai kesan yang lebih tinggi untuk pembelajaran yang berkaitan dengan fakta. Abdul malik (1995) juga berpendapat melalui penggunaan video film, pelajar bisa memperoleh berbagai pengalaman serta menarik minat mereka dan menjadikan pembelajaran menyenangkan. Video film juga bisa digunakan untuk mengukuhkan strategi pengajaran yang digunakan guru .

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Video secara bahasa berarti “saya lihat”. Sedangkan secara istilah adalah teknologi pengiriman sinyal elektronik dari suatu gambar bergerak.
Jenis jenis teknik video:
a. Pemahaman Mendengar (cloze/listening comphrehension)
b. Tayangan Senyap (Silent Viewing)
c. Tayangan Bersilang (Jigsaw Viewing)
d. Tayangan Bersinar dengan Komentar (Jigsaw Viewing With Commentary)
e. Pencarian Harta Karun Video (Video Treasure Hunt)
f. Ramalan (Prediction)
g. Ramalan Sebelum (Reverse Prediction)
h. Urutan (Sequencing)
Kelebihan video sebagai media pembelajaran:
a. Unsur multimedia
b. Manipulasi perspektif ruang, masa dan ukuran
c. Penyampaian Pesan Pengajaran
d. Memudahkan Pembelajaran Dan Pencapaian Objektif Pengajaran
e. Meningkatkan berbagai kemahiran dan pengalaman belajar

DAFTAR PUSTAKA
http://gunawansusilo.blogspot.com/video sebagai media pembelajaran seni

http://id.wikipedia.org/wiki/Video

Isjoni dkk. 2008. Pembelajaran Virtual Perpaduan Indonesia-Malaysia. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Mahirjanto, Bambang. 1995. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: Bintang Ilmu
Munadi, Yudhi. 2008. Media Pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada Press