lely's directorytitle

Sekadar sebuah weblog Blog UIN MALIKI MALANG lainnya

RSS Contact

pembagian hadis

ag pembagian hadis. Para muhaddisin, dalam menentukan apakah suatu hadis tersebut dapat diterima atau tidak, tidak hanya mencukupkan diri pada kualitas rawi. Muhadisin juga melihat tentang sanad dan matan serta bentuk-bentuk hadis.

I.2. Rumusan Masalah

Bagaimana pembagian hadis jika dilihat dari bentuknya, kuantitas jumlah perawi, kualitas sanad dan matan, sifat sanad dan cara penyampaian periwayatan, sumber berita, ketersambungan sanad, keterputusan sanad, dan kecacatan para periwaya?

I.3. Tujuan

Mengetahui pembagian hadis jika dilihat dari bentuknya, kuantitas jumlah perawi, kualitas sanad dan matan, sifat sanad dan cara penyampaian periwayatan, sumber berita, ketersambungan sanad, keterputusan sanad, dan kecacatan para periwayat.

BAB II

PEMBAHASAN

Para Ulama berbeda pendapat tentang pembagian hadis. Referensi-referensi yang ada mempunyai sistem penjabaran yang berbeda. Seperti misalnya, ada yang menggolongkan sebuah hadis masuk dalam sebuah golongan, namun referensi lain menyebutkan hadis tersebut menjadi bagian dari golongan lain.  Sulit sekali merangkum semua pendapat itu menjadi sebuah penjabaran yang ringkas, padat, jelas dan tidak berbelit-belit.

Hadis dibagi menjadi delapan, ditinjau dari berbagai segi, bentuknya, kuantitas jumlah perawi, kualitas sanad dan matan, sifat sanad dan cara penyampaian periwayatan, sumber berita, ketersambungan sanad, keterputusan sanad, dan kecacatan para periwayat.

PEMBAGIAN HADIS NABI DITINJAU DARI BERBAGAI SEGI

  1. I. Pembagian Hadis Dilihat dari Bentuknya.
  2. A. Hadis Qauli

Yang dimaksud dengan hadis qauli adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, ataupun ucapan yang memuat berbagai maksud syara’, peristiwa dan  keadaan yang berkaitan aqidah, syari’ah, akhlak dan  lainnya.[1]

  1. B. Hadis Fi’li

Yang dimaksud dengan hadis fi’li adalah hadis yang menyebutkan perbuatan nabi Muhammad SAW yang sampai kepada kita.[2] Hadis yang termasuk kategori ini adalah hadis yang di dalamnya terdapat kata-kata kana/yakunu atau ra’aitu/ ra’aina.[3]

  1. C. Hadis taqriri

Hadis taqriri adalah  hadis yang menyebutkan ketetapan nabi SAW terhadap apa yang datang dari sahabatnya. Nabi SAW membiarkan suatu perbuatanyang dilakukan oleh para sahabt apabila memenuhi beberapa syarat, baik mengenai pelakunya maupun perbuatannya.[4]

  1. D. Hadis Hammi

Yang dimaksud dengan hadis hammi adalah hadis yang menyebutkan keinginan Nabi Muhammad  SAW yang belum terealisasikan.[5] Keinginan nabi untuk berpuasa pada tanggal 9 Asyura’. Nabi belum sempat ,menunaikan hasratnya ini karena beliau wafat sebelum datang bulan Asyura’ tahun berikutnya. Menurut para ulama’ menjalankan had hammi ini disunnahkan, sebagaimana menjalankan sunnah-sunnah lainnya.[6]

  1. . Hadis Ahwali

Yang dimaksud dengan hadis ahwali ialah hadis yang menyebut hal ihwal Nabi Muhammad SAW, yang menyangkut keadaan fisik, sifat-sifat, dan kepribadiannya.[7]

Keadaan fisik Nabi Muhammad SAW tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Sebagimana dikatakan Al-Bara’i dalam sebuah hadis berikut:

  1. II. Pembagian Hadis ditinjau dari kuantitas Rawi

A). Hadits Mutawatir

Ta’rif Hadits Mutawatir

Kata mutawatir Menurut lughat ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain. Sedangkan menurut istilah ialah:
“Suatu hasil hadis tanggapan pancaindera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta.”[8]

Artinya:
“Hadits mutawatir ialah suatu (hadits) yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.”[9]

Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir, yaitu segala berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera, seperti meriwayatkan tentang sifat-sifat manusia, baik yang terpuji maupun yang tercela, juga segala berita yang diriwayatkan oleh orang banyak, tetapi mereka berkumpul untuk bersepakat mengadakan berita-berita secara dusta.[10]

Hadits yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan haruslah diyakini kebenarannya. Karena kita tidak mendengar hadis itu langsung dari Nabi Muhammad SAW, maka jalan penyampaian hadits itu atau orang-orang yang menyampaikan hadits itu harus dapat memberikan keyakinan tentang kebenaran hadits tersebut. Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara perawi menerima dan menyampaikan hadits. Ada yang melihat atau mendengar, ada pula yang dengan tidak melalui perantaraan pancaindera, misalnya dengan lafaz diberitakan dan sebagainya. Disamping itu, dapat diketahui pula banyak atau sedikitnya orang yang meriwayatkan hadits itu.

Apabila jumlah yang meriwayatkan demikian banyak yang secara mudah dapat diketahui bahwa sekian banyak perawi itu tidak mungkin bersepakat untuk berdusta, maka penyampaian itu adalah secara mutawatir.[11]

b. Syarat-Syarat Hadits Mutawatir

Menurut Mohammad Rahman dalam buku Ilmu Musthalahah Al hadis disebutkan bahwa syarat-syarat hadis mutawattir ada 3:

(1.) Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan (daya tangkap) pancaindera. Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar-benar merupakan hasil pemikiran semata atau rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain dan yang semacamnya, dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya, maka tidak dapat disebut hadits mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak.

(2). Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil mereka untuk berdusta. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta.

a. Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim.

b. Ashabus Syafi’i menentukan minimal 5 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi.

c. Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang. Hal tersebut berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang orang-orang mukmin yang tahan uji, yang dapat mengalahkan orang-orang kafir sejumlah 200 orang (lihat surat Al-Anfal ayat 65).

d. Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan firman Allah:

“Wahai nabi cukuplah Allah dan orang-orang yang mengikutimu (menjadi penolongmu).” (QS. Al-Anfal: 64).

(3.) Seimbang jumlah para perawi, sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan) pertama maupun thabaqat berikutnya. Hadits mutawatir yang memenuhi syarat-syarat seperti ini tidak banyak jumlahnya, bahkan Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir tidak mungkin terdapat karena persyaratan yang demikian ketatnya.

Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa pendapat tersebut di atas tidak benar. Ibnu Hajar mengemukakan bahwa mereka kurang menelaah jalan-jalan hadits, kelakuan dan sifat-sifat perawi yang dapat memustahilkan hadits mutawatir itu banyak jumlahnya sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab yang masyhur bahkan ada beberapa kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits mutawatir, seperti Al-Azharu al-Mutanatsirah fi al-Akhabri al-Mutawatirah, susunan Imam As-Suyuti(911 H), Nadmu al-Mutasir Mina al-Haditsi al-Mutawatir, susunan Muhammad Abdullah bin Jafar Al-Khattani (1345 H). [12]

c. Pembagian Hadits Mutawatir

Para ulama membagi hadits mutawatir menjadi 3 (tiga) macam[13] :

  1. Hadits Mutawatir Lafzi

Muhadditsin memberi pengertian Hadits Mutawatir Lafzi antara lain :
“Suatu (hadits) yang sama (mufakat) bunyi lafaz menurut para rawi dan demikian juga pada hukum dan maknanya.”

Pengertian lain hadits mutawatir lafzi adalah :
“Suatu yang diriwayatkan dengan bunyi lafaznya oleh sejumlah rawi dari sejumlah rawi dari sejumlah rawi.”

Contoh Hadits Mutawatir Lafzi :
“Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersedia menduduki tempat duduk di neraka.”

Menurut Abu Bakar Al-Bazzar, hadits tersebut diatas diriwayatkan oleh 40 orang sahabat, kemudian Imam Nawawi dalam kita Minhaju al-Muhadditsin menyatakan bahwa hadits itu diterima 200 sahabat.

  1. 2. Hadits mutawatir maknawi

Hadits mutawatir maknawi adalah :

Artinya :
“Hadis yang berlainan bunyi lafaz dan maknanya, tetapi dapat diambil dari kesimpulannya atau satu makna yang umum.”
Artinya: “Hadis yang disepakati penulisannya atas maknanya tanpa menghiraukan perbedaan pada lafaz.”

Jadi hadis mutawatir maknawi adalah hadis mutawatir yang para perawinya berbeda dalam menyusun redaksi hadis tersebut, namun terdapat persesuaian atau kesamaan dalam maknanya.

Contoh :

Artinya :
“Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya selain dalam doa salat istiqa’ dan beliau mengangkat tangannya, sehingga nampak putih-putih kedua ketiaknya.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadis yang semakna dengan hadis tersebut di atas ada banyak, yaitu tidak kurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda-beda. Antara lain hadis-hadis yang ditakrijkan oleh Imam ahmad, Al-Hakim dan Abu Daud yang berbunyi :
Artinya :

“Rasulullah SAW mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundak beliau.”

  1. 3. Hadis Mutawatir Amali

Hadis Mutawatir Amali adalah :
Artinya :
“Sesuatu yang mudah dapat diketahui bahwa hal itu berasal dari agama dan telah mutawatir di antara kaum muslimin bahwa Nabi melakukannya atau memerintahkan untuk melakukannya atau serupa dengan itu.”

Contoh :

Kita melihat dimana saja bahwa salat Zuhur dilakukan dengan jumlah rakaat sebanyak 4 (empat) rakaat dan kita tahu bahwa hal itu adalah perbuatan yang diperintahkan oleh Islam dan kita mempunyai sangkaan kuat bahwa Nabi Muhammad SAW melakukannya atau memerintahkannya demikian.

II.3.2. Hadis Ahad

a. Pengertian hadis ahad

Menurut Istilah ahli hadis, tarif hadis ahad antara laian adalah:
Artinya: “Suatu hadis (khabar) yang jumlah pemberitaannya tidak mencapai jumlah pemberita hadis mutawatir; baik pemberita itu seorang. dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, tetapi jumlah tersebut tidak memberi pengertian bahwa hadis tersebut masuk ke dalam hadis mutawatir: “[14]

Ada juga yang memberikan tarif sebagai berikut:

Artinya:
“Suatu hadis yang padanya tidak terkumpul syara-syarat mutawatir.”

b. Pembagian hadis Ahad

1. Hadis Masyhur

Masyhur menurut Bahasa adalah al-intisyar wa az-zuyu’ (sesuatu yang sudah tersebar dan populer).[15] Menurut istilah ialah hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih pada setiap thabaqah- tidak mencapai derajat mutawatir.[16]

2. Hadis Aziz

Aziz menurut bahasa adalah As-Syafief (yang mulia), An-Nadir (yang sedikit wujudnya), Ash-Shab’bul ladzi yakadu la yuqwa ‘alaih (yang sukar diperoleh), dan Al-Qowiyu (yang kuat).[17] Menurut istilah, hadis aziz ialah hadis yang perawinya kurang dari dua orang dalam semua thabaqat sanad.[18]

3. Hadis Gharib

Gharib menurut bahasa adalah (1) ba’idun ‘anil wathani (yang jauh dari tanah) dan (2) kalimat yang sukar dipahami.[19] Sedangkan secara terminologi, hadis gharib ialah hadis yang diriwayatkan oleh seoran perawi yang menyendiri dalam meriwayatkannya, baik yang menyendiri itu imamnya maupun selainnya.[20]

c. Faedah hadis ahad

Para ulama sependapat bahwa hadis ahad tidak Qat’i, sebagaimana hadis mutawatir. Hadis ahad hanya memfaedahkan zan, oleh karena itu masih perlu diadakan penyelidikan sehingga dapat diketahui maqbul dan mardudnya. Dan kalau temyata telah diketahui bahwa, hadis tersebut tidak tertolak, dalam arti maqbul, maka mereka sepakat bahwa hadis tersebut wajib untuk diamalkan sebagaimana hadis mutawatir.[21] Bahwa neraca yang harus kita pergunakan dalam berhujjah dengan suatu hadis, ialah memeriksa “Apakah hadis tersebut maqbul atau mardud”. Kalau maqbul, boleh kita berhujjah dengannya. Kalau mardud, kita tidak dapat iktiqatkan dan tidak dapat pula kita mengamalkannya.[22]

Kemudian apabila telah nyata bahwa hadis itu (sahih, atau hasan), hendaklah kita periksa apakah ada muaridnya yang berlawanan dengan maknanya. Jika terlepas dari perlawanan maka hadis itu kita sebut muhkam. Jika ada, kita kumpulkan antara keduanya, atau kita takwilkan salah satunya supaya tidak bertentangan lagi maknanya. Kalau tak mungkin dikumpulkan, tapi diketahui mana yang terkemudian, maka yang terdahulu kita tinggalkan, kita pandang mansukh, yang terkemudian kita ambil, kita pandang nasikh. Walhasil, barulah dapat kita dapat berhujjah dengan suatu hadis, sesudah nyata sahih atau hasannya, baik ia muhkam, atau mukhtakif adalah jika dia tidak marjuh dan tidak mansukh. [23]

II.4. Pembagian hadis berdasarkan kualitas sanad dan matan

II.4.1. Hadis Shahih

Hadis sahih menurut bahasa berarti hadis yng bersih dari cacat, hadis yng benar berasal dari Rasulullah SAW. Batasan hadis sahih, yang diberikan oleh ulama, antara lain :

Artinya :
“Hadis sahih adalah hadis yng susunan lafadnya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Quran), hdis mutawatir, atau ijimak serta para rawinya adil dan dabit.” [24]

II.4.2. Hadis Hasan

Menurut bahasa, hasan berarti bagus atau baik. Menurut Imam Turmuzi hasis hasan adalah :

Artinya :
“yang kami sebut hadis hasan dalam kitab kami adalah hadis yng sannadnya baik menurut kami, yaitu setiap hadis yang diriwayatkan melalui sanad di dalamnya tidak terdapat rawi yang dicurigai berdusta, matan hadisnya, tidak janggal diriwayatkan melalui sanad yang lain pula yang sederajat. Hadis yang demikian kami sebut hadis hasan.” [25]

II. 4.3. Hadis Dhoif

Hadis dhoif menurut bahasa berarti hadis yang lemah, yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah (kecil atau rendah) tentang benarnya hadis itu berasal dari Rasulullah SAW.[26]

Para ulama memberi batasan bagi hadis daif :

Artinya :
“Hadis daif adalah hadis yang tidak menghimpun sifat-sifat hadis sahih, dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadis hasan.” [27]

Jadi hadis dhaif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadis sahih, melainkan juga tidak memenuhi syarat-syarat hadis hasan. Pada hadis dhaif itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadis tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.

II.5. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan Sifat Sanad dan Cara Penyampaian Periwayatan

II.5.1. Hadis Ali

Hadis Ali adalah hadis yang jumlah rawinya dalam sanad itu sedikit, dibandingkan jumlah rawi yang ada pada sanad lain yang menyebut hadis yang sama.[28]

Macam-macam hadis ‘Aly ada 5 macam;[29]

  1. ‘aly Mutlaq
  2. Aly Nisbi
  3. ‘Aly Tinzil
  4. ‘Aly bitaqdimil wafat
  5. ‘Aly bitaqoddumis sanad

II.5.2. Hadis Nazil

Hadis Nazil adalah hadis yang jumlah rawi dan sanadnya banyak. Pembagian hadis nazil ada lima. Untuk mengetahuinya, cukup memahami kebalikan pembagian hadis ‘Aly. Aly Mutlaq melawan Nazil mutlaq.[30]

Contoh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Muslim dan Imam Al-Bukhari dengan sanad berbeda. Berikut perbandingannya;

Sanad muslim adalah Harmalah bin Yahya, Ibnu Wahb, Yunus, Ibnu Syihab, Abu Salamah dan Abu Hurairoh (6 orang) adalah hadis nazil. Sedangkan riwayat Bukhari bersanad Quthaibah bin Sa’id, Abul Akhwash, Abu Hasin, Abu Shalih, dan Abu Hurairoh (5 orang) adalah hadis ‘Aly karena sanadnya lebih sedikit.[31]

II.5.3. Hadis Muannan

Muannan menurut bahasa berarti bahwasanya, sesungguhnya. Muannan menurut istilah adalah hadis yang dikatakan dalam sanadnya “memberitakan pada kami bahwasanya si fulan, memberitakan padanya ,begini”

Hukum hadis muannan

Dikalangan ulama terjadi perbedaan pendapat, ada yang berpendapat bahwa hadis muannan berhukum munqati’ sehingga ada penjelasan bahwa ia mendengar berita tersebut melalui sanad lain atau ada indikator lain yang menunjukkan bahwa ia mendengar atau menyaksikannya. Menurut mayoritas ulama’ bahwa hadis muannan di hukumi muttasil sama dengan muan’andi atas asal memenuhi dua syarat

Abu Al-Asyabal menegaskan, bahwa hadis muan’an jika seorang perowi yang menggunakan kata anna = bahwasanya ( muannin ) tidak semasa dengan orang yang menyampaikannya atau semasa tetapi tidak pernah bertemumaka periwayatannya di hukum munqathi’ tidak dapat di terima oleh hujjah[32]atau seorang rowi yang menggunakan anna= bahwasanya ( muannin ) semasa hidupnya dengan yang menyampaikan berita tetapi tidak di ketahui apakah ia bertemu atau tidak, atau di ketahui tetapi ia sesorang penyembunyi cacat (mudallis), maka di tangguhkan  ( tawaqquf ) hingga dapat di ketahui ke muttasilannya

II.5.5. Hadis Musalsal

Menurut bahasa musalsal berasal dari kata salsala yusalsilu salsalatun, yang berarti dan bertali menali, di namakan hadis musalsal karena ada persamaan dengan rantai atau silsilah

Menurut istilah : keikutsertaan para perawi dalam sanad secara berturut turut pada satu sifat atau satu keadaan, terkadang bagi periwayatan.

Dengan demikian hadis musalsal adalah hadis yang secara berturut turut,  sanadnya sama dalam satu sifat atau dalam satu keadaan dan atau satu periwayatan

Macam macam musalsal

1)      musalsal keadaan rawi ( musalsal bi ahwal arruwat )

msalsal keadaan perawi terkadang dalam perkataan ( qauli ) terkadang perbuatan  ( fi’li ) atau keduanya ( qauli & fi’li )

2)      musalsal sifat periwayat ( musalsal bi shifat ar ruwah )

muasalsal ini di bagi menjadi perkataan ( qauli ) dan perbuatan  ( fi’li )

3)      musalsal dalam sifat periwayatan 9 musalsal bi shifat ar riwayah )

muasalsal ini di bagi menjadi tiga macam :

1)      musalsal dalam bentuk ungkapan, penyampaian, periwayatan ( ada’)

2)      musalsal pada waktu periwayatan

3)      musalsal pada tempat periwayatan

Hukum hadis musalsal

Terkadang hadis terjadi musalsal dari awal sampai akhir. Dan terkadang sebagian musalsal terputus di permulaan atau di akhiran. Hukum musalsal ada kalanya shahih, hasan dan dhaif tergantung keadaan para perawinya. Sebagaimana tinjauan pembagian hadis di atas, bahwa musalsal adalah sifat sebagian sanat, maka tidak menujukkan keshahihan suatu hadis.

Diantara kelebihan musalsal tersebut adalah menunjukkan kemutasilan dalam mendengar, tidak adanya tadlis dan inqitha’, dan nilai tambah kedhabithan para perawi. Hal ini dibuktikan dengan perhatian masing-masing perawi dalam pengulangan menyebut keadaan atau sifat para perawi para periwayatan.

II.6. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan sumber berita

II.6.2. Hadis Marfu’

Marfu’ secara etimologi berarti “yang diangkat” atau “ditinggikan”. Secara epistimologis, hadis marfu’ berarti hadis yang dinisbatkan kepada nabi Muhammad SAW baik berupa perbuatan, persetujuan, atau sifat, baik sanadnya bersambung maupun tidak.[33]

Sebagian ulama kemudian membagi hadis ini berdasarkan jenisnya, jika hadis itu berupa ucapan dinamakan marfu’ qouli, jika perbuatan dinamakan marfu’ fi’li, jika persetujuan disebut marfu’ taqriri dan jika sifat maka dinamakan marfu’ washfi.[34]

Jumhur Muhaditsin mambagi hadis marfu’ berdasarkan aspek pengkategorian teks, marfu’ tashrihy dan marfu’ hukmy.[35]

Marfu’ tasyrihi adalah hadis yang tegas-tegas dikatakan oleh seorang sahabat bahwa hadis tersebut didengar, atau dilihat dan atau disetujui Rasulullah. Misalnya perkataan seorang sahabat dengan kata :

Aku mendengar rasulullah SAW bersabda

Diceritakan kepadaku oleh Rasulullah

Berkatalah Rasulullah

Rasulullah menceritakan

Aku melihat rasulullah begini

Adalah rasulullah berbuat begini

Aku berbuat dihadapan Rasulllah begini

Sedangkan marfu’ hukmy adalah ucapan sahabat yang seolah-olah lahirnya dikatakan oleh seorang sahabat tetapi hakikatnya disandarkan kepada Rasulullah.[36] Dengan kata lain bahwa apa yang dikatakan sahabat dapat dipastikan berasal dari nabi dan bukan dari hasil olah pikiran sahabat.

Syarat hadis dikatakan marfu’ tashrihy adalah sebagi berikut,

Pertama, yang diucapkan sahabat tersebut menyangkut masalah yang tidak dapat diijtihadkan. Misalnya tatkala sahabatberbicara masalah ghaib (ghaibiyat) atau tentang tanda-tanda kiamat. [37]

Seperti perkataan ibnu mas’ud,

Barang siapa mendatangi tentang tukang sihir, atau tentang dukun, maka sesunggunhnya ia telah kafir, kepada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.

Kedua, Apabila ada seorang sahabat berkata:

Diantara sunnah begini.

Perkataan ini sudah dipandang sebagai hadist marfu’ karena makna sunnah disini adalah sunnah Rasullah. Contohnya perkataan Anas bin Malik

Diantara sunnah apabila seorang laki-laki beristri dengan seorang gadis (bikr) sedang ia mempunyai seorang istri lain, ia berdiam diri di rumah si gadis itu 7 hari lamanya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)[38]

Ketiga, apabila seorang sahabat membuat suatu pekerjaan yang tidak dapat diperoleh dengan jalan ijtihad, maka perbuatan itu dipandang sebagi hadist marfu’, karena dipersepsikan bahwa para sahabat tidak melakukan suatu perbuatan tanpa ada tuntunan dari Nabi pada tuntuna yang tidak mungkin diperoleh selain dari nabi.

Umpamanya mengangkat kedua tangan ketika takbir dalam beberapa takbir shalat hari raya baik dalam rakaat pertama maupun rakaat kedua. Pekerjaan ini dilakukan oleh Ibnu Umar. Tentunya tibeliau tidak akan mengerjakan hal tersebut kalau tidak mendapat tuntunsan dari Nabi. Dan diketahui bahwa ibnu Umar adalah seorang sahabat yang sangat kuat dalam menjalankan sunnah Nabi.[39]

Keempat, jika sahabat bercerita tentang kejadian yang menimpa umat-umat terdahulu, selama sahabat tersebut tidak dikenal orang yang suka duduk dengan ahli kitab maka ceritanya dapat dikategorikan marfu’, karena tidak dikhawatirkan cerita tersebut mereka dengar dari ahli kitab yang bersumber dari taurat dan injil.

Kelima, jika sahabat mengatakan bahwa “kami diperintahkan untuk atau kami  dilarang”, maka dapat dipahami bahwa yang memerintah atu melarang tersebut adalah Nabi Muhammad SAW.[40]

Keenam, jika yang diucapkan dinisbatkan pada zaman Nabi SAW. Misalnya mereka mengucapkan kami melakukan ini dan itu. Ungkapan ini dapat dihukumi sebagi marfu’ sekalipun sahabat tidak menghukumi qola  nabi, karena dipersepsikan bahwa nabi melihat pekerjaan itu terjadi tetapi tidak mencegah atau melarang. Proses ini disebut persetujuan (taqrir nabi).[41]

Hadis marfu’ –baik tashrihi maupun hukmi- dapat dijadikan sebagi hujjah, selama hadis tersebut memenuhi kriteria hadis maqbul (shahih atau hasan).[42]

II.6.3. Hadis Mauquf

Secara etimologi, mauquf berasal dari kata waqaf yang atinya berhenti. Mawquf berarti berhenti atau menghentikan. Secara epistimologi, definisi hadis mauquf adalah ucapan aau perbuatan yang dinisbatkan kepada sahabat. Jika terdapat sebuah teks yang penuturnya seorang sahabat maka diistilahkan dengan mauquf baik tersambung sanadnya atau tidak.[43]

Ibnu Al-Atsir dalam kitab Al-Jami’ mendefinisikan hadist mauquf sebagai

Hadis yang dihentikan (sandarannya) pada seorang sahabat tidak tersembunyi bagi seorang ahli hadis, yaitu suatu hadis yang disandarkan kepada seorang sahabat. Apabila telah sampai pada seorang sahabat, ia (seorang perawi) berkata : bahwasanya sahabat berkata begini, atau berbuat begini atau menyuruh begini.[44]

Contoh hadis mauquf misalnya,

Ali bin Abi thalib berkata: Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Apakah mereka menghendaki Allah dan Rasul-Nya didustakan? (HR. Bukhari)

Dan Ummu ibnu Abbas sedangkan ia bertayammum (HR. Al-Bukhari)

Aku melakukan begini di hadapan salah seorang sahabat dan ia tidak mengingkariku[45].

II.6.4. Hadis Maqthu’

Secara etimologi, maqtu’  berasal dari kata qotho’a yang berarti terputus.  Secara istilah ucapan atau  perbuatan  yang dinisbatkan kepada tabi’in. Jika terdapat sebuah teks dan penuturnya seorang tabi’in maka diistilahkan dengan maqthu’ baik bersambung sanadnya maupun tidak.[46]

Lebih luas hadis maqthu’ didiefinisikan sebagai berikut :

Sesuatu yang disandarkan kepada seorang tabi’in atau seorang setelahnya dari tabi’ tabi’in kemudian orang-orang setelah mereka baik berupa perkataan atau perbuatan dam sesamanya.[47]

Contoh hadis maqthu’

Perkataan Hasan Al-Bashri tentang shalat di belakang ahli bid’ah

Shalatlah dan bid’ahnya atasnya. (HR. Bukhari)[48]

Para ulama’ berpendapat bahwa hadis maqthu’ tidak dapat dijadikan hujjah, kecuali bagi golongan yang membolehkan berhujjah dengan hadis mursal, maka maqthu’ yang marfu’ dijadikan hujjah.[49]

II.7. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan ketersambungan sanad

II.7.1. Hadis Muttashil

Dari segi bahasa Muttashil berarti yang bersambung, berasal dari kata ittashola yattashilu. Secara epistimologi hadis muttasil ialah hadis yang bersambung sanadnya sampai akhir, baik marfu’ disandarkan kepada nabi maupun mauquf (disandarkan kepada seorang sahabat)[50]

Dalam definisi di atas ungkapan hingga akhir sanad menunjukkan bahwa hadis muttashil bisa marfu’ bisa mauquf bahkan juga bisa maqthu’. Jika sanadnya berakhir pada nabi maka disebut marfu’, jika berakhir pada sahabat maka dinamakan mauquf dan jika berakhir pada tabi’in maka disebut maqthu’.[51]

Contoh hadis muttashil yang marfu’

Artinya : orang yang terlambat melaksanakan sholat sepeeti orang yang kehilangan keluarga dan kerabatnya[52] (HR Imam Nasa’i)

II.7.2. Hadis Musnad

Dari segi bahasa musnad berasal dari kata asnad, dengan makna         menyandarkan atau menggabungkan.[53] Dari segi istilah hadis musnad ialah  hadis yang di riwayatkan dengan sanad yang bersambung, dengan kata lain hadist yang bersambung dan marfu’ dan di katakan tidak musnad jika tidak marfu’, inilah yang membedakan musnad dan muttasil, semua musnad pasti muttasil, namun tidak setiap muttasil itu musnad[54]

contoh : hasil periwayatan bukhori misalnya dia berkata : memberitakan pada kami abdullah bin yusuf dari malik dari abu azzanad dari al a’araj dari abu hurairah berkata: sesungguhnya rasulullah bersabda :

Yang artinya : jika anjing minum bejana kamu maka cucilah tujuh kali[55]

II.8. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan keterputusan sanad

II.8.1. Hadis Mursal

Terdapat beberapa perbedaan dalam pendefinisian mursal. Adapun definisi mursal menurut jumhur muhadditsin adalah hadis yang gugur perowinya pada tingkatan shahabat. Pada proses periwayatannya tabi’in tidak berjumpa dengan nabi. Hadis yang didengar oleh tabi’in dapat dipastikan bersumber dari sahabat sedang pada sanad itu sahabat tidak tampak.[56]

Hukum hadis mursal

  1. Hadis mursal tidak dapat dijadikan hujjah karena yang gugur bisa jadi tiak sebatas sahabat tapi ada kemungkinan dua orang.
  2. Dapat dijadikan sebagai hujjah asalkan diriwayatkan dari tabi’in senior
  3. Dapat dijadikan hujjah dengan syarat tabi’in yang meriwayatkan hadis tersebut dikenal sebagai orang yang tsiqah.

II.8.2. Hadis Mu’allaq

Hadis muallaq yaitu hadis yang terputus di awal sanadnya dari jajaran perowi. Baik terputusnya lebih dari satu tempat atau gugur lebih dari satu perowi asalkan terputusnya terdapat diawali sanad masih dapat dikatakan muallaq.[57] Hadis muallaq masuk kategori hadis dhoif karena hilangnya syarat pertama dari syurut Al-qabul (ittishal al-sanad) dan sosok perawi yang gugur ststus kepribadiannya tidak diketahui.

Hadis-hadis muallaq yang terdapat dalam shahihin masuk ketegori shahih, karena hadis-hadis tersebut sebagian besar ternyata berstatus muttashil dalam riwayat lain dalam kitab tersebut. Adapun hadis-hadis muallaq yang tidak terdapat keterangannya atau tidak terulang dalam kitab tersebut ternyata juga berstatus bersambung. Hal itu telah dibuktikan oleh ibn Hajar yang telah meneliti satu persatu hadis-hadis muallaq dalam shahih bukhari dan hasilnya, beliau mendapatkan bahwa hadis-hadis muallaq dalam shahih Bukhari ternyata berstatus muttashil dalam riwayat lain di luar kitab shahih Bukhari.[58]

II.8.3. Hadis Mu’dhal

Istilah ini berasal dari kata a’dhola yang berarti memayahkan. Diistilahkan demikian karena peneliti yang akan mencari perowi yang gugur akan merasa kepayahan. Adapun secara terminologi, mu’dhol berarti hadis yang terputus sanadnya pada dua tempat secara berurutan, bisa mulai dari awal sanad, tengah atau akhir. Hukum hadis mu’dhol dhaif, karena tidak memenuhi kriteria hadis maqbul.[59]

II.8.4. Hadis Munqathi’

Kata Al-Inqita’ (terputus) berasal dari kata Al-Qat (pemotongan) yang menurut bahasa berarti memisahkan sesuatu dari yang lain. Dan kata inqita’ merupakan akibatnya, yakni terputus. Kata inqita’ adalah lawan kata ittisal (bersambung) dan Al-Wasl. Yang dimaksud di sini adalah gugurnya sebagaian rawi pada rangkaian sanad. Para ulama berbeda pendapat dalam memahami istilah ini dengan perbedaan yang tajam. Hal ini dikarenakan berkembangnya pemakaian istilah tersebut dari masa ulama mutaqaddimin sampai masa ulama mutaakhirin.[60]

Definisi Munqati’ yang paling utama adalah definisi yang dikemukakan oleh Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, yakni:

Artinya:
“Hadis Munqati adalah setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya, baik yang disandarkan kepada Nabi SAW, maupun disandarkan kepada yang lain.”

Hadis yang tidak bersambung sanadnya adalah hadis yang pada sanadnya gugur seorang atau beberapa orang rawi pada tingkatan (tabaqat) mana pun. Sehubungan dengan itu, penyusun Al-Manzhumah Al-Baiquniyyah mengatakan:

Artinya:
Setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya bagaimanapun keadannya adalah termasuk Hadis Munqati’ (terputus) persambungannya.”

Demikianlah para ulama Mutaqaddimin mengklasifikasikan hadis, An-Nawawi berkata, “Klasifikasi tersebut adalah sahih dan dipilih oleh para fuqaha, Al-Khatib, Ibnu Abdil Barr, dan Muhaddis lainnya”. Dengan demikian, hadis munqati’ merupakan suatu judul yang umum yangmencakup segala macam hadis yang terputus sanadnya.

Adapun ahli hadis Mutaakhirin menjadikan istilah tersebut sebagai berikut:

Artinya: “Hadis Munqati adalah hadis yang gugur salah seorang rawinya sebelum sahabat di satu tempat atau beberapa tempat, dengan catatan bahwa rawi yang gugur pada setiap tempat tidak lebih dari seorang dan tidak terjadi pada awal sanad.”

Definisi ini menjadikan hadis munqati’ berbeda dengan hadis-hadis yang terputus sanadnya yang lain. Dengan ketentuan “Salah seorang rawinya” defnisi ini tidak mencakup hadis mu’dal; dengan kata-kata, “Sebelum sahabat” definisi ini tidak mencakup hadis mursal; dan dengan penjelasan kata-kata “Tidak pada awal sanad” definisi ini tidak mencakup hadis muallaq.

II.8.5. Hadis Mudallas

Dalam bahasa arab, kata at –tadlis diartikan menyimpan atau menyambunyikan cacat. Seadangkan istilah, menyembuyikan cacat dalam isnad dan menyampaikan cara periwayatan yang baik

Maksud menampakkan cara periwayatan yang baik adalah mengunakan ungkapan periwayatan yang tidak tegas bahwa ia mendenagr dari penyampaian berita.hadis ini hamper sama dengan mursal khafi.

Pembagian hadis mudallas

Hadis mudallas dibagi menjadi dua macam

1)      tadlis al isnad : seorang perawi meriwayatkan hadis yang ia tidak mendengarnya dari seseorang yang pernah ia temui dengan cara yang menimbulkan dugaan bahwa ia mendengarnya

2)      tadlis asy syuyukh’ : seorang perawi meriwayatkan dari seorang syaikh sebuah hadis yang ia dengar darinya kemudian ia beri nama lain atau nama panggilan ( kuniyah ) atau nama bangsa dan atau nama sifat yag tidak di kenal supaya tidak di kenal

Hukum periwayatan tadlis

Perawi yang tidak di kanal sebagai mudallis ada beberapa pendapat tentang hukum periwayatannya apakah diterima atau tidak, yaitu sebagai berikut

1)      di tolak secara mutlak baik di jelaskan dengan tegas ( as-sama) atau tidak, yaitu pendapat sebagian malikiyah bahkan menurut sebagian mereka walauun di ketahui sekali melakukan tadlis tetap di tolak

2)      diterima segara mutlak, pendapat al khatib dalm al kifayah dari para ahli ilmu. Alasan pendapat ini, tadlis di pesamakan dgan al irsal

3)      diterima jika ia tidak di ketahui melakukan tadlis kecuali dari orang tsiqah

4)      diterima jika tadlisnya langka atau sedikit saja

5)      diterima periwayatannya, jika ia tsiqah dan mempertegas periwayatannya dengan as sama

II.9. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan kecacatan para periwayat

II.9.1. Hadis Mawdhu’

Hadis maudhu’ sebenarnya adalah ungkapan seseorang yang disandarkan kepada nabi secara dusta.[61] Hadis maudhu’ merupakan hadis terburuk kualitasnya. Karena ia merupakan hadis palsu yang sama sekali tidak dikatakan oleh nabi. Disisi lain hadis jenis ini akan berdampak fatal pada agama. Larangan periwayatan hadis maudhu’ berdasar pada hadis nabi yang berisi kecaman bagi pemalsu hadis;

“ barang siapa meriwayatkan hadis dariku dan dia tahu bahwa yang diriwayatkan itu adalah hadis palsu maka dia termasuk dari pemalsu”[62]

II.9.2. Hadis Matruk

Hadis matruk merupakan bagian dari hadis dha’if yang cacat keadilan. Dalam istilah hadis matruk adalah hadis yang salah satu periwayatnya seorang tertuduh dusta.

II.9.3. Hadis Munkar

Hadis yang pada sanatnya ada seorang perawi yang banyak kesalahannya atau banyak kelupaan atau nampak kefasikan.

Ada yang mengatakan hadis yang diriwayatkan seorang dhaif menyalahi periwayatan yang tsiqqah. Dari definisi diatas sudah jelas bahwa diantara periwayat hadis munkar ada yang sangat lemah daya ingatannya sehingga periwayatannya menyendiri tidak sama dengan periwayatan yang tsiqqah. Perwayatan munkar tidak sama dengan syad karena dalam munkar periwayatannya bersifat dhaif yang menyalahi periwayatan tsiqqah. Sedangkan hadis syad periwayatan orang tsiqqah menyalahi orang yang lebih tsiqqah. Contoh: hadis yang di riwayatkan ibnu majjah melalui usama bin ziad alma dani dari ibu shihab dari abu salamah bin abdur rahman bin auf dari ayahnya secara marfu’:

seorang yang puasa bulan ramadhan dalam perjalanan seperti seorang yang berbuka dalam tempat tinggalnya”

Hadis diatas munkar karena periwayatannya usama bin zaid almadani secara marfu’ (dari Rasulullah) bertentangan periwayatan ibnu Abi dzi’bin yang tsiqqah, menurutnya hadis diatas mauquf pada abdur rahman bin auf. Tingkatan kedhaifannya sangat dhaif setelah matruk.

II.9.4. Hadis mu’allal

Illah adalah ungkapan beberapa sebab yang samar tersembunyi yang datang pad ahadis kemudian membuat cacat dalam keabsahannya padahal lahirnya selamat daripadanya. Hadis mualal adalah hadis yang dilihat di dalamnya terdapat illah ynag membuat cacat keshahihan hadis, padahal lahirnya elamat dari padanya. Dari definisi diastas, dapat difahami bahwa kriteria illah adalah adanya cacat yang tersembunyi dan cacat itu mengurangi atau menghilangkan keshahihan suatu hadis. Illah bis aterjadi pada sanad dan natan.

Contoh hadis mu’alal adalah :

“ hadis yang diriwayatkan oleh tirmidzi dan abu daud dari kutaibah bin said memberitakan kepada kami abdus salam bin harb al malai dari a’masy dari annas berkata nabi ketika hendak hajat tidak mengangkat kainnya sehingga dekat dengan tanah.”

Hadis diatas lahirnya shahih karena semua perawinya dalam sanad tsiqah, tetapi al a’masi tidak mendengar dari annas bin malik; dia melihatnya di mekkah shalat di belakang maqam ibrahim.

II.9.5. Hadis mudraj

Idraj menurut bahasa adalah memasukkan sesuatu dalam lipatan sesuatu yang lain. Menurut istilah muhaddisin, yaitu segala sesuatu yang tersebut dalam kandungan suatu hadis dan bersambung dengannya tanpa ada pemisah, padahal ia bukan bagian dari hadis itu.gampangnya adalah hadis yang disisipkan ke dalam matannya sesuatu perkataan orang lain

baik orang itu sahabat ataupun tabiin untuk menerangkan maksudmakna
Para ulama membagi idraj sesuai dengan tempatnya menjadi dua bagian. Pertama, Mudraj matan adalah ucapan sebagian rawi dari kalangan sahabat atau dari generasi setelahnya yang tercatat dalam matan hadis dan bersambung dengannya. Idraj dalam matan adakalanya terjadi di akhir matan dan ini yang terbanyak, di tengah-tengah atau di awalnya. Kebanyakan idraj dalam matan dilakukan dalam menafsirkan maksud suatu ungkapan hadis., tidak jarang merupakan hasil kesimpulan hukum yang darinya pendengar menganggap sebagai bagian dari hadis sehingga deisertakan dengannya.

Kedua Mudraj isnad. Dalam hal ini, para ulama menyebutkan beberapa bentuk yang secara garis besarnya adalah sebagai berikut; 1) Seorang rawi mendengar suatu hadis dari banyak guru dengan beraneka ragam jalur sanadnya, kemudian ia meriwayatkannya dengan satu jalur sanad tanpa menjelaskan perbedaannya. 2) Seorang rawi memiliki sebagian matan, namun ia juga memiliki sebagian matan lainnya dari sanad lain, kemudian matan tersebut diriwayatkan oleh salah seorang muridnya secara sempurna dengan satu sanad. Jelasnya adalah bila ia memiliki dua hadis dengan dua sanad berbeda, lalu keduanya digabungkan dalam satu sanad. 3) Seorang muhaddis membacakan suatu sanad hadis, kemudian terjadilah sesuatu sehingga ia mengeluarkan kata-katanya sendiri, kemudian kata-katanya itu dianggap oleh sebagai orang yang mendengarnya sebagai matan, sehingga mereka meriwayatkan kata-kata tersebut dengan sanad yang dibaca muhaddis.

Idraj dalam hadis memiliki dampak yang sangat bahaya, lantaran kadang-kadang berakibat menjadikan sesuatu yang bukan hadis sebagai hadis, maka para ulama sangat keras menyoroti dan mengkajinya dengan serius serta menanganinya dengan sangat hati-hati. Sehubungan dengan itu mereka menetapkan beberapa pedoman untuk mengetahui dan menyingkapnya dengan pasti.

Pedoman itu adalah sebagai berikut; 1) Adanya riwayat yang memisahkan lafad yang mudraj dari pokok hadis, hal ini sangat jelas. 2) Adanya penegasan tentang kejadian itu dari rawi yang bersangkuta, atau dari salah seorang imam yang luas wawasannya. 3) Idraj dapat diketahui dari lahiriyah susunan hadis. Seperti hadis yang menyatakan bahwa Bilal melakukan adzan di waktu malam.

Sesuatu hadis yang dapat diketahui mana kata-kata yang disisipkan ke dalamnya, dapat dipandang sahih dengan mengeluarkan kata-kata kata itu. Tetapi jika tidak lagi, maka fenomena hadis mudraj oleh para ulama digolongkan hadis daif. Karena tercampur dengan sesuatu yang bukan hadis. Disamping itu, seandainya kata-kata yang di idrajkan itu sahih atau hasan karena dimungkinkan datang melalui sanad lain yang sahih, namun hal ini tidak mengubah kedhoifannya karena dinilai sebagai sesuatu bercampur dalam sebuah hadis yang terjadi idraj. Padahal jelas bahwa ia bukan bagian dari hadis itu.
Namun, al-Suyuthi mengecualikan kesengajaan dalam idraj apabila dalam rangka menafsirkan suatu kata yang asing, maka hal ini tidak haram. Pendapat ini didukung oleh tindakan para imam hadis yang dapat dipegangi, seperti al-Zuhri. Akan tetapi yang lebih utama memastikan mana kata-kata asing yang di idrajkan itu sebagai upaya penafsiran; sementara orang yang mengetahuinya hendaklah menjelaskan.

II.9.6. Hadis maqlub

Menurut etimologi, berubahnya sesuatu dari bentuknya. Kata maqlub adalah isim maf’l dari akar kata qalaba,. Secara terminologi adalah mengganti lafad dengan lafad yang lain pada sanad atau matan hadis. Jelasnya hadis maqlub adalah sesuatu hadis yang telah terjadi kesilapan pada seeorang perawi dengan mendahulukan yang semestinya diahir, atau mengemudiankan yang semestinya lebih dulu baik berupa matan atau sanad

Nuruddin memberikan definisi hadis maqlub adalah hadis yang rawinya menggantikan suatu bagian darinya dengan yang lain, baik dalam sanad atau matan, dan bila karena lupa atau sengaja. Menurutnya, definisi ini yang paling tepat. Berdasarkan definisi ini dapat membagi hadis maqlub menjadi beberapa bagian dengan pembagian yang dapat mempersatukan berbagia keterangan yang beranekaragam dalam berbagai sumber pembahasan bidang ini. Yakni, maqlubnya suatu hadis bila ditinjau dari posisinya dapat diklasifikasikan menjadi dua. Pertama, maqlub sanad, yakni pergantian pada sanad. Kedua, maqlub matan yakni pergantian pada matan

Masing-masing dari keduanya adalakanya terjadi karena kelalaian rawinya atau karena kesengajaanya. Para muhaddisin menaruh perhatian besar terhadap kedua klasisfikasi hadis maqlub terahir. Karena dugaannya dapat diketahui mana yang dapat diterima dan mana yang ditolak, serta dapat dijadikan dalil dalam al-jarh wa at ta’dil. Pertama, hadis maqlub yang terjadi karena kelupaan rawinya. Seperti matan suatu hadis yang diriwayatkan dengan sanad tertentu oleh rawinya sehingga meriwayatkannya dengan menggunakan sanad lain.

Diantara contoh hadis maqlub jenis ini hadis yang diriwayatkan dari Ishaq bin Isa al-Thabab’

“Meriwayatkan hadis kepada kami Jarir bin Hazxim dari Sabit dari Anas r.a katanya, Rasululullah bersabda: Apabila sholat telah siap didirikan, maka janganlah kamu berdiri sehingga kamu melihatku

Ishaq bin Isa berkata: Kemudian saya dating kepada Hammad dan bertanya kepadanya perihal hadis ini. Ia menjawab; Abu al-Nadhar salah duga. Sesungguhnya kami berada di majelis Sabit al-Banni dan Hajjaj bin Abu Usman ada bersama kami. Hajjaj al-Shawwaf meriwayatkan hadis kepada kami dari Yahya bin Abu Bakar dari Abdullah bin Abu Qatradah dari bapaknya bahwa Rasulullah berkata “Apabila sholat telah siap didirikan, maka janganlah kamu berdiri sehingga kamu melihatku”. Abu Nadhar menduga bahwa hadis tersebut termasuk hadis yang diriwayatkan kepada kami oleh Sabit dari Anas.
Jelaslah bagimana tertukarnya suatu sanad oleh rawinya, dimana dia telah menempatkan matan pada selain sanad yang sebenarnya.

Hukum hadis maqlub jenis ini adalah daif, karena hal demikian timbul akibat kacaunya hafalan rawi, sehingga ia memalingkannya dari yang sebenarnya. Apabila terjadi berulang kali, maka akan mengurangi ke-dhabitannya dan semua hadisnya akan di daifkan

Kedua, hadis maqlub yang terjadi karena kesengajaannya rawinya. Hadis maqlub jenis ini adalah yang paling bahaya, sehingga para ulama sangat besar perhatiannya untuk mengkaji dan membongkar rahasianya serta menjelaskan latar belakang dan motif para rawi yang melakukan hal itu. Diantara latar belakang dan motif tersebut adalah;

  1. Keinginan perawi untuk mengemukakan hal-hal yang aneh kepada orang lain, sehingga diduga meriwayatkan hadis yang tidak pernah diriwayatkan oleh rawi lain. Dengan itu orang-orang akan menerima dan menghafalkanya.
  2. Keinginan seorang rawi untuk menguji ahli hadis yang lain, ia hafal atau tidak dan apakah hafalannya masih baik atau sudah kacau. Di samping dimaksudkan untuk menguji kecerdasan rawi lain, apakah ia menerima indoktrinasi atau tidak. Sebab untuk mengetahui hadis maqlub dibutuhkan hafalan yang luas dan ketekunan yang tinggi guna menguasai sejumlah riwayat dan sanad.

II.9.7. Hadis mudhharib

Kata mudtarib adalah isim fail dari fiil madi idtaraba yaitu perbedaan perkara dan rusaknya aturan. Kata dasarnya daraba. Secara istilah, bermakna sesuatu yang diriwayatkan dalam bentuk yang berbeda dalam satu tema sebagai penguat. Jelasnya, hadis mudltarib adalah hadis yang diriwayatkan dari seorang rawi atau lebih dengan beberapa redaksi yang berbeda dengan kualitas yang sama, sehingga tidak ada yang dapat diunggulkan dan tidak dapat dikompromikan. Perbedaan tersebut periwayatnya atau matannya, baik dilakukan oleh seorang perawi atau oleh banyak perawi, dengan mendahulukan, mengemudiankan, menambah, mengurangi, ataupun mengganti, serta tidak dapat dikuatkan salah satu riwayatnya atau salah satu matannya.

Singkatnya, hadis mudltarib adalah hadis yang memiliki perbedaan dari berbagai riwayatnya dengan dua catatan. Pertama, antara hadis tersebut seimbang kualitasnya sehingga tidak dapat diunggulkan salah satunya. Karena bila ada yang dapat diunggulkan, maka hukumnya pada hadis yang unggul tersebut disebut dengan mahfuz, atau ma’ruf lawan dari syadz atau munkar. Kedua, antara hadis tersebut tidak dapat dikompromikan. Karena bila perbedaannya dapat dihilangkan dengan cara benar, maka status ke-mudltaribannya hilang.
Diantara contoh hadis mudltarib adalah hadis Zaid bin Arqam dari Rasululllah. Bersabda:
“Sesungguhnya taman ini terkena bencana. Apabila salah seorang di antara kamu memasuki kakus, berdoalah: Aku berlindung kepada Allah dari Mahluk jahat laki-laki dan mahluk jahat perempuan”

Menurut Turmudzi, hadis Zaid bin Arqam sanadnya mengandung ke mudltariban. Sebab kemudltariban hadis ini adalah adanya perselisihan yang cukup banyak tentang dari siapa Qatadah menerima hadis tersebut. Said bin Abi ‘Arubah meriwayatkan bahwa Qatadah menerimanya dari Qasim bin ‘Auf al-Syaibani, dari Zaid bin Arqam. Hisyam Dastuwa’i berkata: dari Qatadah dari Zaid bin Arqam. Syu’bah meriwayatkan dari Qatadah dari al-Nadhr bin Anas dari Zid bin Arqam. Mu’amar meriwayatkannya dari Qatadah dari al-Nahar dari ayahnya dari Rasululllah.

Ditinjau dari segi hukum, maka hadis mudltarib adalah daif, karena ke-mudltariban itu mengesankan tidak adanya ke-dhabitan seorang periwayat terhadap hadis yang bersangkutan. Karena apabila suatu saat meriwayatkan hadis demikian, lalu pada kesempatan lain meriwayatkanya dalam bentuk lain, maka hal yang demikian menunjukkan bahwa hadis tersebut tidak terekam kuat dalam hafalannya. Demikian pula bila terjadi pertentangan di antara beberapa riwayat, maka tidak dapat memastikan perawi mana yang paling dhabit terhadap hadis yang diriwayatkan.

II. 9. 8 Hadis Mushahhaf dan Muharraf

Perubahan kalimat dalam hadis selain apa yang dirwayatkan oleh orang tsiqah baik secara lafal atau makna. Ibnu Hajar membedkan adanya perubahan yang terjadi pada hadis, jika perubahan itu berupa titik pada suatu huruf atau beberapa huruf itulah disebut mushahhaf dan jika perubahan itu berebentuk shakkal atau harokat huruf disebut muharaf.

Contohnya hadis mushahhaf:

“hadis nabi, barang siapa yang berpuasa ramadhan dan diikutiya denagn enam hari dari bulan syawal, maka ia sama dengan berpuasa satu tahun. “

Contohnya hadis muharraf: hadis jabir berkata:

“Ubay dipanah pada peperangan azab diurat lengannya, maka Rasululah mengobatinya dengan besi panas.” ( HR. Ad Daru Quthani)

II.10. Pembagian Hadis Dari Segi Kedudukan Dalam Hujjah

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa suatu hadis perlu dilakukan pemeriksaan, penyelidikan dan pemhahasan yang seksama khususnya hadis ahad, karena hadis tersebut tidak mencapai derajat mutawatir. Memang berbeda dengan hadis mutawatir yang memfaedahkan ilmu darury, yaitu suatu keharusan menerima secara bulat. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, hadis ahad ahad ditinjau dari segi dapat diterima atau tidaknya terbagi menjadi 2 (dua) macam yaitu hadis maqbul dan hadis mardud.

II.10.1. Hadis Maqbul

Maqbul menurut bahasa berarti yang diambil, yang diterima, yang dibenarkan. Sedangkan menurut urf Muhaditsin hadis Maqbul ialah:

Artinya:
“Hadis yang menunjuki suatu keterangan bahwa Nabi Muhammad SAW menyabdakannya.”

Jumhur ulama berpendapat bahwa hadis maqbul ini wajib diterima. Sedangkan yang temasuk dalam kategori hadis maqbul adalah:

* Hadis sahih, baik yang lizatihu maupun yang ligairihi.
* Hadis hasan baik yang lizatihi maupun yang ligairihi.

Kedua macam hadis tersebut di atas adalah hadis-hadis maqbul yang wajib diterima, namun demikian para muhaddisin dan juga ulama yang lain sependapat bahwa tidak semua hadis yang maqbul itu harus diamalkan, mengingat dalam kenyataan terdapat hadis-hadis yang telah dihapuskan hukumnya disebabkan datangnya hukum atau ketentuan barn yangjugaditetapkan oleh hadis Rasulullah SAW.

Adapun hadis maqbul yang datang kemudian (yang menghapuskan)disebut dengan hadis nasikh, sedangkan yang datang terdahulu (yang dihapus) disebut dengan hadis mansukh. Disamping itu, terdapat pula hadis-hadis maqbul yang maknanya berlawanan antara satu dengan yang lainnya yang lebih rajih (lebih kuat periwayatannya). Dalam hal ini hadis yang kuat disebut dengan hadis rajih, sedangkan yang lemah disebut dengan hadis marjuh.

Apabila ditinjau dari segi kemakmurannya, maka hadis maqbul dapat dibagi menjadi 2 (dua) yakni hadis maqbulun bihi dan hadis gairu ma’mulin bihi.

1. Hadis maqmulun bihi
Hadis maqmulun bihi adalah hadis yang dapat diamalkan apabila yang termasuk hadis ini ialah:
a. Hadis muhkam, yaitu hadis yang tidak mempunyai perlawanan
b. Hadis mukhtalif, yaitu dua hadis yang pada lahimya saling berlawanan yang mungkin dikompromikan dengan mudah
c. Hadis nasih
d. Hadis rajih

2. Hadis gairo makmulinbihi
Hadis gairu makmulinbihi ialah hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan. Di antara hadis-hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan ialah:
a. Hadis mutawaqaf, yaitu hadis muthalif yang tidak dapat dikompromikan, tidak dapat ditansihkan dan tidak pula dapat ditarjihkan
b. Hadis mansuh
c. Hadis marjuh.

II.10.2. Hadis Mardud

Mardud menurut bahasa berarti yang ditolak; yang tidak diterima. Sedangkan menurut urf Muhaddisin, hadis mardud ialah :

Artinya:
“Hadis yang tidak menunjuki keterangan yang kuat akan adanya dan tidak menunjuki keterangan yang kuat atas ketidakadaannya, tetapi adanya dengan ketidakadaannya bersamaan.”

Ada juga yang menarifkan hadis mardud adalah:

Artinya:
“Hadis yang tidak terdapat di dalamnya sifat hadis Maqbun.”

Sebagaimana telah diterangkan di atas bahwa jumhur ulama mewajibkan untuk menerima hadis-hadis maqbul, maka sebaliknya setiap hadis yang mardud tidak boleh diterima dan tidak boleh diamalkan (harus ditolak).

Jadi, hadis mardud adalah semua hadis yang telah dihukumi daif.

BAB III

PENUTUP

Para Ulama berbeda pendapat tentang pembagian hadis. Ada yang membaginya berdasarkan kualitas matan dan sanad serta kuantitas perawi, namun ada yang mengklasifikasikannya berdasarkan penggolongan yang lebih spesifik. Amat sulit mencari sebuah rangkuman dari banyak referensi yang berbeda-beda.

Namun pada akhirnya, ditarik kesimpulan bahwa pertama, dalam perkembangan masa hadis dikelompakkan sesuai kriteria masing-masing. Secara garis besar hadis dapat dibagi dengan melihat sanad dan matan. Sehingga dapat dirumuskan, berdasarkan diterima dan ditolaknya, jumlah rawi, bentuk dan penisbahan matan dan berdasarkan persambungan dan keadaan sanad.

Kedua, munculnya fenomena penambahan, perbedaan redaksi, penukaran urutan kalimat terdapat uncur positive dan lebih banyak negatifnya. Positif bila dilihat dari penambah penjelas dari kalimat yang masih perlu ditafsirkan. Negatifnya membuat keraguan sang pengkaji, disebabkan berbagai hal, diantaranya kemungkinan sang perawi memang tidak dabit, dan kemungkinan rawi menafsirkan secara obyektif, sehingga tidak sesuai makna dan maksud sebenarnya.

Dengan munculnya fenomena diatas memiliki dampak yang sangat bahaya, lantaran kadang-kadang berakibat menjadikan sesuatu yang bukan hadis sebagai hadis, maka para ulama sangat keras menyoroti dan mengkajinya dengan serius serta menanganinya dengan sangat hati-hati. Dan ahirnya para pecinta hadis agar tergugah untuk lebih berhati-hati dalam menelaah dan mengamalkan isi hadis sehingga dapat membedakan mana yang termasuk bagian hadis dan yang bukan

DAFTAR PUSTAKA

Al-Mas’udi. Hasan, Hafidz. Ilmu Musthalah Hadis. Surabaya: Alhidayah.

Anwar, Moh. 1981.  Ilmu Musthalahah Hadit., Surabaya:AL-IKLAS.

At-Thahan, Taysir Musthalal Al-hadist. Rizki Putra.

As sidiqi. 1958. Pokok pokok ilmu dirayah hadis. Jakarta: Bulan Bintang.

Ash Shiddieqy, Tengku Hasbi. 1999.  Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. Semarang: Pustaka Khon,

Abdul Majid . Ulumul Hadis. Jakarta: Bumi Aksara.

Mudatsir.  2005. Ilmu Hadis. Bandung : Pustaka Setia.

Rahman, Fatchur.1987. Ikhtisar Musthalahul Hadist. Bandung:PT Alma’arif.

Sholahudin. Suryadi, Agus. 2009. Ulumul Hadis. Bandung : Pustaka Setia.

Shalahudin, Agus. Suryadi, Agus. 2008. Ulumul Hadis. Bandung: Pustaka setia.

Smeer, Zeid B. Ulumul Hadis: Pengantar Studi Hadis Praktis, Malang: UIN Malang Press.

Soetari, Endang AD.  1997. Ilmu Hadis. Bandung: Amal Bakti Press.

Utang Ranuwijaya. 1996.  Ilmu Hadis. Jakarta: Gaya Media Pratama.


[1] Mudatsir, Ilmu Hadis, Cet I(Bandung : Pustaka Setia,2005), hal 33.

[2] Mudatsir, Ilmu Hadis……., hal 34.

[3] Agus Shalahudin. Agus Suryadi, Ulumul Hadis, cet I(Bandung: Pustaka setia, 2008), hal 21.

[4] Mudatsir, Ilmu Hadis……., hal 35.

[5] Mudatsir, Ilmu Hadis,……, hal 36.

[6] Utang Ranuwijaya. Ilmu Hadis. Cet I(Jakarta: Gaya Media Pratama. 1996), hal 18.

[7] Mudatsir, Ilmu Hadis ……, hal 37.

[8] Moh. Anwar, Ilmu Musthalahah Hadits,cet I (Surabaya:AL-IKLAS, 1981) hlm.16.

[9] Fatchur Rahman, Ikhtisar Musthalahul Hadist.cet I( Bandung:PT Alma’arif, 1974)hlm. 86.

[10] Moh. Anwar, Ilmu Musthalahah……., hlm.18.

[11] Fatchur Rahman, Ikhtisar Musthalahul ……., hlm. 88.

[12] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, Cet I(Jakarta: Bumi Aksara), hlm 164.

[13] Fatchur Rahman, Ikhtisar Musthalahul ……., hlm. 90-95.

[14] Tengku Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, cet I (Semarang: Pustaka Rizki Putra 1999). Hal 122.

[15] Mudatsir, Ilmu Hadis, Cet I(Bandung: Pustaka seka, 2005) hlm 127.

[16] Sholahudin. Suryadi, Agus. Ulumul Hadis. Cet I(Bandung : Pustaka Setia, 2009)., hlm 134.

[17] Sholahudin. Suryadi, Agus. Ulumul Hadis……., hlm 136.

[18] Mudatsir, Ilmu Hadis……., hlm 132.

[19] Sholahudin. Suryadi, Agus. Ulumul Hadis.……, hlm 137.

[20] Mudatsir, Ilmu Hadis……., hlm 134.

[21] Endang Soetari AD, Ilmu Hadis, cet I (Bandung: Amal Bakti Press 1997) hlm 23.

[22] Tengku Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar……., Hal 122.

[23] Endang Soetari AD, Ilmu Hadis……., hlm 24.

[24] Tengku Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar …….., Hal 152.

[25] Tengku Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar …….., Hal 155.

[26] Sholahudin. Suryadi, Agus. Ulumul Hadis……., hlm 156.

[27] Tengku Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar …….., Hal 155.

[28] Al-Mas;udi. Hafidz Hasan. Ilmu Musthalah Hadis. Cet I(Surabaya: Alhidayah) hlm 38.

[29] Al-Mas;udi. Hafidz Hasan. Ilmu Musthalah ……., hlm 39.

[30] Al-Masudi. Hafidz Hasan. Ilmu Musthalah ……., hlm 40.

[31] Al-Masudi. Hafidz Hasan. Ilmu Musthalah Hadis. Cet I(Surabaya: Alhidayah) hlm 41.

[32] As sidiqi. Pokok pokok ilmu dirayah hadis, jakarta: bulan bintang, 1958,jilid I,hal 324

[33] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis: Pengantar Studi Hadis Praktis, Cet I (Malang: UIN Malang Press), hlm 65.

[34] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis: Pengantar Studi ……., hlm 66.

[35] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, Cet I(Jakarta: Bumi Aksara), hlm 224.

[36] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis…….,, hlm 225.

[37] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis: Pengantar Studi ……., hlm 66.

[38] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis…….,, hlm 226.

[39] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis…….,, hlm 225.

[40] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis: Pengantar Studi ……., hlm 66.

[41] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis…….,, hlm 226.

[42] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis: Pengantar Studi ……., hlm 67

[43] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis: Pengantar Studi Hadis Praktis, Cet I (Malang: UIN Malang Press), hlm 67.

[44] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, Cet I(Jakarta: Bumi Aksara), hlm 227.

[45] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis……., hlm 228.

[46] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis: Pengantar Studi Hadis Praktis, Cet I (Malang: UIN Malang Press), hlm 68.

[47] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, Cet I(Jakarta: Bumi Aksara), hlm 231.

[48] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis……., hlm 232.

[49] Tengku Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar …….., Hal 78.

[50] At-Thahan, Taysir Musthalal Al-hadist, hlm 111.

[51] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis: Pengantar Studi Hadis Praktis…….., hlm 50

[52] zeis B. Smeer Ulumul Hadis: Pengantar Studi Hadis Praktis……., hlm 52.

[53] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis: Pengantar Studi Hadis……, hlm 52.

[54] At-Thahan, Taysir Musthalal Al-hadist, hlm 51

[55] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, Cet I(Jakarta: Bumi Aksara), hlm 234

[56] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis: Pengantar Studi Hadis……, hlm 54.

[57] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis: Pengantar Studi Hadis……, hlm 53.

[58] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis: Pengantar Studi Hadis……, hlm 54.

[59] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis: Pengantar Studi Hadis……, hlm 55.

[60] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis……., hlm 211

[61] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis: Pengantar Studi Hadis……, hlm 72.

[62] Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis: Pengantar Studi Hadis……, hlm 73.

This entry was posted on Jumat, Maret 4th, 2011 at 07:01 and is filed under Tak Berkategori. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply