1. A.           Ayat Utama Mengenai  Kewajiban Berdakwah

Ditinjau dari dari etiomologi atau bahasa, kata dakwah berasal dari bahasa Arab, yaitu دعا- يدعوا – دعوة artinya mengajak, menyeru, memanggil.[1]

Secara terminologi Dakwah adalah upaya mengumpulkan manusia-manusia dalam kebaikan, menunjuki mereka jalan yang benar dengan cara merealisasikan manhaj Allah di bumi dalam ucapan dan amalan.

Dr. Rauf Syalaby menyatakan bahwa Dakwah Islamiyah adalah sebuah gerakan yang bertujuan menghidupkan sistem Ilahi atau peraturan Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan Dr Muhammad Natsir dalam fiqh dakwahnya menyatakan bahwa dakwah mengajak manusia kepada Allah SWT sehingga ingkar kepada thogut dan [2]beriman kepada Allah, dan keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya nur (Islam). Melihat ayat-ayat al-Qur’an dan Sunnah serta pendapat para ulama maka dapat disimpulkan bahwa Dakwah Islamiyah adalah sebuah aktivitas yang bersifat totalitas, yang bertujuan untuk mengubah pemikiran, perasaan, dan perbuatan manusia agar sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam.

 

 

 

 

  1. Teks ayat  QS. Al Qashas : 87

Ÿwur y7¯R‘‰ÝÁtƒ ô`tã ÏM»tƒ#uä «!$# y‰÷èt/ øŒÎ) ôMs9̓Ré& šø‹s9Î) ( äí÷Š$#ur 4’n<Î) šÎn/u‘ ( Ÿwur ¨ûsðqä3s? z`ÏB tûüÅ2Ύô³ßJø9$# ÇÑÐÈ

  1. Terjemah

“Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan”.( Al Qashas : 87 )[3]

  1. Tafsir Mufradat

Ayat

Tafsir

7¯R‘‰ÝÁtƒwur

Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu asal kata yashuddunnaka adalah yasuddunaka, kemudian huruf nun alamat rafa’nya dibuang karena lafadz dijazamkan. Demikian pula huruf wawu fa’il, tetapi bukan karena bertemu dengan huruf mati lainnya.

 

ô`tã ÏM»tƒ#uä «!$# y‰÷èt/ øŒÎ) ôMs9̓Ré& šø‹s9Î)

 

(Dari menyampaikan ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu) maksudnya janganlah kamu memandang mereka dalam hal tersebut.

í÷Š$#ur

Dan serulah manusia.

4’n<Î) šÎn/u‘

(Kepada jalan tuhanmu) dengan menganjurkan mereka untuk mengesahkan-Nya dan menyembah-Nya.

Ÿwur ¨ûsðqä3s? z`ÏB tûüÅ2Ύô³ßJø9$#

Dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang musyrik yaitu dengan membantu mereka. ‘amil jazm tidak berpengaruh terhadap fi’il yaitu lafadz wa la takunanna. Karena fi’il ini bersifat mabni sebagai akibat kemasukan nun taukid.[4]

 

 

4.      Tajwid

No

Lafadz

Hukum Bacaan

Cara Membacanya

1.

7¯R

Ghunnah

Mendengung

2.

ÏM»tƒ#uäô`tã

Idzhar Khalqi

Jelas

3.

Ms9̓Ré&

Ikhfa’haqiqi

Samar

5.

ûsðqä3s?

Mad thobi’i

Dibaca panjang 1 alif (2 harakat)
6.

Žô³ßJø9$#

Al-Qamariyah

Al takrif ال dibaca

7.

ûüÅ2Ύô³ßJø9$#

Mad arid lissukun

Dibaca panjang 1 alif (2 harakat),2 alif (4 harakat),atau 3 alif (6 harakat)

 

5.      Sabab Nuzul

Ayat diatas tidak ada penyebab turunnya seperti apa, karena ayat tersebut berhubungan dengan ayat di atasnya

 

 

 

6.      Ayat Munasabah

1)      Al- Hijr: 94-96

÷íy‰ô¹$$sù $yJÎ/ ãtB÷sè? óÚ̍ôãr&ur Ç`tã tûüÏ.Ύô³ßJø9$# ÇÒÍÈ $¯RÎ) y7»oYø‹xÿx. šúïÏä̓öktJó¡ßJø9$# ÇÒÎÈ šúïÏ%©!$# tbqè=yèøgs† yìtB «!$# $·g»s9Î) tyz#uä 4 t$öq|¡sù šcqßJn=ôètƒ ÇÒÏÈ

Artinya: “Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami melihat engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan engkau. (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya Tuhan selain Allah, mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). (Al- Hijr: 94-96).

2)        An-Nahl: 125

äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(An-nahl: 125).

7.      Tafsir Global

Tafsir Surah Al Qashash 87

 

Ÿwur y7¯R‘‰ÝÁtƒ ô`tã ÏM»tƒ#uä «!$# y‰÷èt/ øŒÎ) ôMs9̓Ré& šø‹s9Î) ( äí÷Š$#ur 4’n<Î) šÎn/u‘ ( Ÿwur ¨ûsðqä3s? z`ÏB tûüÅ2Ύô³ßJø9$# ÇÑÐÈ

Pada ayat ini Allah SWT menganjurkan kepada Rasulullah saw. supaya ia tidak mengindahkan tipu daya mereka, dan jangan sekali-kali terpengaruh sehingga mereka dapat berhasil menghalang-halangi menyampaikan ayat-ayat suci Alquran sesudah diturunkan kepadanya, karena Allah SWT selalu bersamanya dan menguatkan serta memenangkan agama-Nya dari agama-agama yang disyariatkan sebelumnya. Bahkan ia diperintahkan menyeru kaumnya ke jalan Allah dan menyampaikan agama-Nya kepada mereka, menyembah hanya kepada Allah saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Pada akhir ayat ini Allah SWT menekankan supaya Muhammad jangan sekali-kali meninggalkan dakwahnya ke jalan Allah, menyampaikan risalahnya kepada kaum musyrikin, agar supaya dia tidak seperti mereka, bermaksiat menyalahi perintah-Nya.

Setiap muslim berkewajiban untuk berdakwah, hal ini sesuai dengan firman Allah SWT Dalam Surah an-nahl :125

äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (An-Nahl:125)

Ayat diatas dapat kita pahami bahwa kewajiban untuk berdakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim.  Dari ayat diatas dapat kita simpulkan bahwa kewajiban untuk berdakwah adalah Fardhu ’Ain  yang merupakan  kewajiban bagi setiap muslim.[5] Seperti dalam Surat Ali Imran ayat : 104

`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) Ύösƒø:$# tbrããBù’tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9′ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. (Ali Imran:104)

Firman tersebut adalah ayat yang menunjukkan bahwa Hukum berdakwah merupakan Fardhu Kifayah.

Argumentasi lain yang diajukan sebagai penguat hukum Fardhu Kifayah adalah didalam Surat At-Taubah ayat : 122 yang berbunyi :

 $tBur šc%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãÏÿYuŠÏ9 Zp©ù!$Ÿ2 4 Ÿwöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuŠÏj9 ’Îû Ç`ƒÏe$!$# (#râ‘É‹YãŠÏ9ur óOßgtBöqs% #sŒÎ) (#þqãèy_u‘ öNÍköŽs9Î) óOßg¯=yès9 šcrâ‘x‹øts† ÇÊËËÈ

Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (At-Taubah:122)

Ayat diatas diperkuat dengan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi :

عن أَبِي سعيد الخدرِي رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من رأى منكم منكَراً فليغَيّرْه بِيده، فإن لَم يستطِع فبِلسانه، فإن لَم يستطع فبِقَلْبِه وذلك أضعف الإيمان [رواه مسلم]

Artinya : “Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman”. (H.R Muslim)

Berdasarkan dari beberapa ayat-ayat diatas dan hadits Rasulullah SAW, maka dapat kita pahami bahwa dalam melakukan kegiatan dakwah Islamiyah merupakan kewajiban bagi setiap muslim walau yang menjadi persoalan sekarang bagi kita kewajibannya apakah wajib ’aini ataukah wajib kifayah.

Pendapat diatas didukung oleh Ibrahim Imam, Bassam al-Shibagh, dan Muhammad Abu al-Fath al-Bayanuni, bahwa Fardhu ’ain dan fardhu kifayah dari kewajiban berdakwah dapat dilakukan bersama-sama, sedangkan Bassam menyatakan bahwa setiap umat Islam harus menyampaikan dakwah, meski dengan kemampuan agama yang  terbatas. Setiap muslim menurutnya pasti memiliki kemampuan, sekecil apapun dan turut menjadi andil dalam kemajuan Islam.

Dengan demikian jelas bahwa dakwah merupakan kewajiban bagi setiap kaum muslimin, dalam menyampaikan pesan amar makruf dan nahi mungkar sesuai dengan ilmu yang dimilikinya. Sehingga jelaslah bagi kita kewajiban dakwah dalam pelaksanaannya semuanya itu haruslah bertopang kepada Al-qur’an dan hadits yang merupakan pedoman hidup bagi umat Islam itu sendiri.

Mengajak manusia menuju agama Allah merupakan salah satu ibadah dan agung, manfaatnya menyangkut orang lain. Bahkan dakwah menuju agama Allah merupakan perkataan yang paling baik.

Dakwah mengajak kepada agama Allah merupakan tugas para nabi, maka cukuplah sebagai kemuliaan bahwa para da’i mengemban tugas para nabi.

Seorang da’i harus memurnikan niatnya untuk mengajak kepada agama Allah, semata-mata mencari ridhaNya, bukan mengajak kepada dirinya sendiri, kelompoknya, atau pendapat dan fikirannya. Juga tidak dengan niat untuk mengumpulkan harta, meraih jabatan, mencari suara, atau tujuan dunia lainnya.

 

 

 

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلَ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali nan murni (ikhlas) untukNya dan untuk mencari wajahNya. [HR Nasa-i[[6]

Oleh karena itulah, Allah memerintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan, bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tak meminta upah dalam menyampaikan Al Qur`an kepada mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُل لآ أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ

Artinya: “Katakanlah: “Aku tak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al Qur`an)”. Al Qur`an itu tak lain hanyalah peringatan untuk segala umat”. [Al An'am: 90].

Oleh karena itu, jika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta upah, maka hal itu akan menyebabkan umat menjadi keberatan & menjauh. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di telah berkata di dalam tafsirnya: “Yaitu: Aku tak meminta pajak atau harta dari kamu sebagai upah tablighku & dakwahku kepada kamu; karena itu akan menjadi sebab-sebab penolakan kamu. Tidaklah upahku, kecuali atas tanggungan Allah”. [Taisir Karimir Rahman, surat Al An'am: 90].

Dalam ayat lain Allah Azza wa Jalla berfirman:

÷Pr& óOßgè=t«ó¡n@ #\ô_r& Nßgsù `ÏiB 5Qtøó¨B tbqè=s)÷W•B ÇÍÉÈ

 

Artinya: “Ataukah engkau meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang”. [Ath Thur: 40].

Nabi-nabi zaman dahulu juga tak meminta upah kepada kaum mereka. Allah Azza wa Jalla memberitakan bahwa Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Luth, Nabi Syu’aib -‘alaihimus salam- berkata kepada kaumnya masing-masing:

!$tBur öNä3è=t«ó™r& Ïmø‹n=tã ô`ÏB @ô_r& ( ÷bÎ) y“̍ô_r& žwÎ) 4’n?tã Éb>u‘ tûüÏJn=»yèø9$# ÇÊÉÒÈ

Artinya: “Dan aku sekali-kali tak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tak lain hanyalah dari Rabb semesta alam”. [Asy Syu'ara' ayat 109[

Namun, jika seseorang berdakwah dengan benar dan ikhlas, kemudian dia diberi harta, sedangkan dia tak mengharapkannya dan tak memintanya, tujuannya hanyalah berdakwah, baik dia mendapatkan harta itu atau tidak, maka boleh menerimanya hartanya. Umar Radhiyallahu 'anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِينِي الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ مَنْ هُوَ أَفْقَرُ إِلَيْهِ مِنِّي فَقَالَ خُذْهُ إِذَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ شَيْءٌ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ

Artinya: “Dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan pemberian kepadaku, kemudian aku mengatakan: “Berikan kepada orang nan lebih miskin daripadaku,” maka Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Ambillah itu Jika datang kepadamu sesuatu dari harta ini, sedangkan engkau tak memperhatikan (yakni mengharapkan) dan tak meminta, maka ambillah itu Dan nan tidak, maka janganlah engkau mengikuti hawa-nafsumu terhadapnya”. [HR Bukhari, no. 14734].

Dengan demikian maka sepantasnya seorang da’i juga memiliki pekerjaan dan usaha untuk mencukupi kebutuhannya, sehingga dia tak menggantungkan kepada umat. Karena sesungguhnya makanan terbaik yang dimakan oleh seseorang ialah hasil keringatnya sendiri. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seorangpun memakan makanan sama sekali dan lebih baik daripada dia makan dari pekerjaan tangannya. Dan sesungguhnya Nabi Allah, Dawud Alaihissallam, dia makan dari pekerjaan tangannya”. [HR Bukhari, no. 2072].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B.            Hadits Mengenai Kewajiban Berdakwah

1.        Teks Hadits

عن عبد الله بن عمرو أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : بلغوا عني ولو اية وحدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار {رواه البخارى}

  1. Terjemah

Dari Abdullah Ibn Amr bahwa Nabi saw. bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satua ayat. Ceritakanlah apa yang telah aku beritahukan mengenai Bani Israil karena demikian itu tidak berdosa. Barang siapa sengaja berdusta tentang aku, kelak tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari)

  1. Takhrij Hadits

Hadits ini merupakan hadits ke 3202 yang terdapat di kitab Bukhari bab من كذ ب علي متعمدا.

  1. Tafsir Mufradat

Ayat

Tafsir

بلغوا

Sampaikanlah

حدثوا

Ceritakanlah

حرج

Berdosa

كذب

Berdusta

متعمدا

Sengaja

مقعده

Tempat duduknya

 

  1. Analisis Hadits

Hadits ini menyampaikan ajaran-ajaran beliau. Kata وَلَوْايَةً  menunjukkan bahwa dakwah dilakukan menurut kemampuan masing-masing. Meskipun hanya satu ayat (sedikit ajaran islam) yang kita terima, kita mempunyai kewajiban untuk menyampaikannya kepada orang lain. Dalam berdakwah, kita juga diperbolehkan menyampaikan tentang kisah-kisah Bani Israil sebagai ibrah (pelajaran) tentang perjalanan umat terdahulu. Dengan catatan, kisah-kisah yang sudah disampaikan Rasulullah saw.[7]

Orang-orang yang mau berdakwah akan mendapatkan keutamaan/pahala yang sangat besar, sebagaimana sabda Rasulullah saw. berikut ini.

مَنْ دعا الى هدا ى كان له من آلأجرمئل اجورمن تبعه لاينقص ذ لك من اجور هم شيآً, ومن دعا الى ضلا لة كان عليه من الإثم مثل اثام من تبعه لا ينقص ذ لك من اثا مهم شئً

Artinya: “Barang siapa mengajak pada hidayah, dia akan memperoleh bagian pahala itu seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun pahala-pahala mereka. Barang siapa mengajak pada kesesatan, dia akan memperoleh bagian dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun dosa-dosa mereka (yang mengikutinya). (H.R Muslim dari Abu Hurairah no. 4831) 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata mengajak mengandung pengertian meminta (menyilakan, menyuruh) supaya turut. Dalam meminta, harus ada harus ada unsur lemah, lembut, persuasif, dan tidak memaksa. Dengan demikian, orang yang diajak akan dengan senang hati mengikuti ajakan tersebut. Kata hidayah sering diartikan sebagai petunjuk Allah, yaitu agama Islam itu sendiri yang teringkas dalam rukun iman dan rukun Islam. Mengajak pada hidayah, dapat diartikan sebagai ajakan menuju Islam secara baik.

Dalam mengajak, khususnya dalam hal agama, unsur utama yang paling penting untuk diperhatikan adalah keteladanan. Dari keteladanan inilah akan memunculkan kepercayaan. Jika sudah ada kepercayaan, akan lebih memudahkan seseorang dalam mengajak pada kebaikan.[8] Ajakan kebaikan ini dalam bahasa lainnya adalah nasihat. Dalam beragama, praktik untuk melakukan nasihat mendapatkan tempat yang sangat tinggi, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut ini:

عَنْ تَمِيْمٍ الدّا رِيِّ اَنَّ النَّبِيِّ صلىّ الله عليه وسلم قال, الد ين النصيحة قلنا لمن قال لله و لكتا به ولر سو له ولأئمة المسلمين وعا متهم

Artinya:” Dari Tamim ad-Dari bahwa Rasulullah saw. bersabda, “agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya, “bagi siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi para pemimpin umat Islam pada umumnya. ” (H.R Muslim no.82).

Nasihat bagi Allah dalam pengertian yang benar adalah mengimani keesaan-Nya dan tidak menyektukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Nasihat bagi kitab-Nya adalah agar umat Islam berpegang teguh pada petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. Nasihat bagi Rasul adalah mengimani kerasulannya, menegakkan ajaran-ajarannya, dan mencintainya. Nasihat bagi para pemimpin umat Islam bisa diartikan sebagai seruan kepada manusia agar menaati mereka selama sesuai dengan ajaran Islam. Nasihat itu juga berarti mengontrol dan mengingatkan para pemimipin agar bersikap adil, tegas, dan bijaksana. Nasihat bagi umat Islam bisa berarti mengajak mereka untuk senantiasa berada dalam jalan hidayah-Nya dengan memerhatikan empat pokok nasihat sebelumnya.

Dalam bentuk mutakhirnya, cara mengajak orang untuk melakukan sesuatu tampaknya telah mengalami perubahan. Saat ini untuk mengajak pada sesuatu, seperti memeperkenalkan visi misi seorang presiden, pola hidup baru (new life style), atau penawaran sebuah produk, orang cukup menggunakan media televisi. Program tersebut ditayangkan ditelevisi secara berulang-ulang pada acara dan jam-jam tertentu, yang diduga banyak pemirsanya. Penayangan berulang-ulang itu mengakibatkannya masuk ke alam bawah sadar pemirsa dan menjadi pola hidupnya. Hal ini terjadi begitu saja, diluar kesadaran pemirsa. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika acara-acara yang ratingnya tinggi selalu dibanjiri oleh sponsor. Celakanya, lewat media televisi yang jangkauannya demikian luas, pemirsa menerima begitu saja ajakan-ajakan dalam televisi tersebut tanpa reserve. Mereka tidak peduli lagi acara itu baik atau buruk. Bagi mereka, yang penting adalah hiburan, yang selanjutnya secara tidak sadar mereka pun mengikutinya.

Dalam konteks inilah, tampaknya sabda Rasulullah tentang imbalan pahala yang berantai bagi mereka yang mengajak pada hidayah, akan diganjar dengan pahala dari dakwah yang dilakukannya ditambah dengan ganjaran mereka yang mengikuti. Sebaliknya, mereka yang mengajak pada keburukan meskipun tidak secara terang-terangan (seperti membuat, mensponsori tayangan mistis, dan pornografi), akan mendapat dosa dari perbuatannya itu ditambah dengan dosa mereka yang meniru atau terinspirasi oleh tayangan itu.

Dari paparan diatas, bisa dipahami betapa beratnya tugas yang diemban oleh para da’i yang akan memperjuangkan seruannya agar orang mau mengikuti hidayah Allah. Mereka tidak hanya dituntut untuk mengemas dakwahnya lebih menarik, tetapi dituntut menjadi teladan atas apa yang didakwahkannya. Orang yang hanya pandai menyeru tanpa melaksanakan apa yang diserukan, dia akan memperoleh murka Allah, sebagaimana firman-Nya berikut ini

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä zNÏ9 šcqä9qà)s? $tB Ÿw tbqè=yèøÿs? ÇËÈ uŽã9Ÿ2 $ºFø)tB y‰YÏã «!$# br& (#qä9qà)s? $tB Ÿw šcqè=yèøÿs? ÇÌÈ      

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (itu) sangatlah dibenci disisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (Q.S. Ash-Shaff:2-3).

Dengan demikian, sudah seyogianya terdapat keselarasan antara ucapan dan tindakan da’i didalam melakukan dakwahnya. Dia menjadi praktikkan pertama atas materi dakwahnya. Setelah itu, baru dia mengajak orang lain untuk mempraktikkannya secara bersama-sama.

Akhir hadits tentang perintah dakwah di atas menjelaskan tentang pokok-pokok tentang materi dakwah. Sebagai orang yang berdakwah kita harus menyampaikan ajaran-ajaran yang telah disampaikan Rasulullah saw. kita tidak boleh membuat-buat ajaran dengan mengatas namakan Rasulullah saw. padahal, ajaran itu tidak pernah disampaikan beliau. Ancaman bagi orang yang melakukannya adalah neraka.

 

  1. Hadits Terkait

عن أَبِي سعيد الخدرِي رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من رأى منكم منكَراً فليغَيّرْه بِيده، فإن لَم يستطِع فبِلسانه، فإن لَم يستطع فبِقَلْبِه وذلك أضعف الإيمان [رواه مسلم]

Artinya : “Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman”. (H.R Muslim)

 

 

  1. C.           Analisis

Setelah kita  mengetahui keutamaan dakwah menuju agama Allah, kemudian apakah hukum dakwah ini dan siapakah yang bertanggung jawab terhadapnya?. Sesungguhnya para ulama sepakat bahwa dakwah menuju agama Allah hukumnya wajib. Hal ini berdasarkan perintah Allah untuk berdakwah sebagaimana terdapat di beberapa tempat di dalam Al Qur`an:

`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) Ύösƒø:$# tbrããBù’tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9′ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (Ali Imran:104)

äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (An-Nahl:125)

Ÿwur y7¯R‘‰ÝÁtƒ ô`tã ÏM»tƒ#uä «!$# y‰÷èt/ øŒÎ) ôMs9̓Ré& šø‹s9Î) ( äí÷Š$#ur 4’n<Î) šÎn/u‘ ( Ÿwur ¨ûsðqä3s? z`ÏB tûüÅ2Ύô³ßJø9$# ÇÑÐÈ

Artinya: “Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan”. ( Al Qashas : 87 )

öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù’s? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur šÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #ZŽöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB šcqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçŽsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ

Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Imran: 110)

Ayat-ayat di atas secara tegas memerintahkan berdakwah, oleh karenanya para ulama sepakat tentang kewajiban dakwah ini. Akan tetapi, kemudian mereka berselisih menjadi 2 pendapat:

1.        Hukum dakwah adalah fardhu kifayah.

2.        Hukum dakwah adalah fardhu ‘ain, sesuai dengan kemampuan setiap orang.

Perbedaan pendapat ini, antara lain disebabkan oleh pemahaman terhadap firman Allah Azza wa Jalla surat Ali Imran ayat 104, artinya: Dan hendaklah ada dari kamu satu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf & mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.

Ada 2 pendapat ulama tentang tafsir ayat ini:

1.        Bahwa مِنْ di dlm firman Allah مِنْكُمْ (dari kamu) utk menjelaskan jenis. Yaitu, “jadilah kamu semua demikian”, bukan 1 orang tanpa nan lain. Dan nan sama semisal ayat ini ialah firman Allah Ta’ala:

bÎ)ur óOä3ZÏiB žwÎ) $ydߊ͑#ur 4 tb%x. 4’n?tã y7În/u‘ $VJ÷Fym $wŠÅÒø)¨B ÇÐÊÈ

Artinya: “Dan tak ada seorangpun dari kamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabb-mu adalah suatu kemestian nan sudah ditetapkan”. [Maryam:71].

Ayat di atas tidak membedakan antara manusia satu dengan lainnya, tetapi ditujukan kepada umat semuanya, masing-masing orang sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya.

2.        Bahwa مِنْ di sini untuk menunjukkan sebagian. Maknanya ialah, bahwa orang-orang nan menyuruh (kepada nan ma’ruf) wajib menjadi ulama, & tak setiap orang itu ulama.

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: “Umat di sini (pada ayat 104 surat Ali Imran) adalah umat ulama, orang-orang yang Allah menjadikan baik kebanyakan umat dgn mereka (ulama itu)”.

Di antara ulama yang berpendapat hukum berdakwah fardhu kifayah ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau rahimahullah menyatakan: “Dan dengan ini telah menjadi jelas, dakwah menuju (agama) Allah wajib atas setiap muslim. Akan tetapi kewajiban itu adalah fardhu kifayah. Dan sesungguhnya, hal itu menjadi wajib ‘ain atas seseorang yang dia mampu, jika tak ada orang lain yang melakukannya. Inilah urusan amar ma’ruf (memerintahkan kebaikan), nahi mungkar (melarang kemungkaran), tabligh (menyampaikan) yang dibawa oleh Rasul, jihad fie sabililah, mengajarkan iman dan Al Qur`an”.

Demikian juga Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, beliau rahimahullah berkata: “Para ulama telah menerangkan, bahwa dakwah menuju (agama) Allah Azza wa Jalla (hukumnya) fardhu kifayah berkaitan dengan daerah-daerah yang para da’i tinggal padanya. Karena sesungguhnya setiap daerah dan penjuru membutuhkan dakwah dan kegiatan padanya. Maka hukumnya adalah fardhu kifayah. Jika orang yang telah mencukupi telah melakukan dakwah, kewajiban itu gugur dari orang-orang yang lain. Dan jadilah hukum dakwah atas orang-orang yang lain itu menjadi sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan) dan sebuah amalan shalih yang agung”.

Adapun di antara ulama yang berpendapat hukum dakwah fardhu‘ain, sesuai dengan kemampuan setiap orang, yaitu Imam Ibnu Katsir. Dalam tafsirnya, beliau rahimahullah berkata: Allah Ta’ala berfirman, hendaklah ada dari kamu satu umat yang bangkit untuk melaksanakan perintah Allah di dalam dakwah (mengajak) menuju kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf & mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. Adh Dhahhak mengatakan, mereka adalah para sahabat Nabi yang khusus, dan para perawi (hadits) yang khusus, yakni para mujahidin dan ulama… Dan maksud dari ayat ini (ialah), hendaklah ada sekelompok dari umat ini yang mengurusi perkara ini, walaupun itu merupakan kewajiban atas setiap pribadi dari umat ini sesuai dengan (keadaan atau kemampuan)nya. Sebagaimana telah disebutkan dalam Shahih Muslim

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Artinya: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, jika dia tak mampu, maka dengan lidahnya, jika dia tak mampu, maka dengan hatinya dan itu selemah-lemah iman.”(HR. Muslim)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Hudzaifah bin Al Yaman, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهُ ثُمَّ لَتَدْعُنَّهُ فَلَا يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ

Artinya: “Demi (Allah) yang jiwaku di tanganNya, sungguh benar-benar kamu memerintahkan nan ma’ruf dan sungguh benar-benar kamu melarang yang mungkar, atau sungguh benar-benar Allah hampir akan mengirimkan siksaan kepada kamu dari sisiNya, kemudian kamu sungguh-sungguh akan berdoa kepadaNya, namun Dia tak mengabulkan bagi kamu”. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Juga diriwayatkan oleh Tirmidzi & Ibnu Majah dari hadits Amr bin Abi Amr dengan hadits ini. Tirmidzi mengatakan: “Hasan”. Dan hadits-hadits dalam masalah ini banyak, serta ayat-ayat yang mulia sebagaimana akan datang tafsirnya pada tempat-tempatnya. Lihat Tafsir Al Qur’anil Azhim, surat Ali Imran ayat 104.[9]

Kapan Dakwah Menjadi Fardhu ‘Ain

Kemudian hukum dakwah yang asalnya fardhu kifayah, (atau fardhu ‘ain sesuai dengan kemampuan setiap orang, sebagaimana telah dijelaskan di atas) menjadi fardhu ‘ain dlm keadaan-keadaan tertentu.[10]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata: “Dan terkadang kewajiban (dakwah) itu menjadi fardhu ‘ain, jika engkau berada di suatu tempat yang di sana tak ada orang nan menunaikannya selainmu”.

Beliau rahimahullah juga menjelaskan: “Disaat sedikitnya da’i, disaat banyaknya kemungkaran-kemungkaran, disaat dominannya kebodohan, seperti keadaan kita ini hari ini, dakwah menjadi fardhu ‘ain atas setiap orang sesuai dengan kemampuannya”.

 

`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) Ύösƒø:$# tbrããBù’tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9′ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (Al-Imran:104)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. D.           KESIMPULAN

Ditinjau dari dari etiomologi atau bahasa, kata dakwah berasal dari bahasa Arab, yaitu دعا- يدعوا – دعوة artinya mengajak, menyeru, memanggil.

Secara terminologi Dakwah adalah upaya mengumpulkan manusia-manusia dalam kebaikan, menunjuki mereka jalan yang benar dengan cara merealisasikan manhaj Allah di bumi dalam ucapan dan amalan.

Allah SWT berfirman:

Ÿwur y7¯R‘‰ÝÁtƒ ô`tã ÏM»tƒ#uä «!$# y‰÷èt/ øŒÎ) ôMs9̓Ré& šø‹s9Î) ( äí÷Š$#ur 4’n<Î) šÎn/u‘ ( Ÿwur ¨ûsðqä3s? z`ÏB tûüÅ2Ύô³ßJø9$# ÇÑÐÈ

Artinya: “Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan”.( Al Qashas : 87 )

Dan Rasulullah Saw bersabda:

عن عبد الله بن عمرو أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : بلغوا عني ولو اية وحدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار {رواه البخارى}

Artinya: “Dari Abdullah Ibn Amr bahwa Nabi saw. bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satua ayat. Ceritakanlah apa yang telah aku beritahukan mengenai Bani Israil karena demikian itu tidak berdosa. Barang siapa sengaja berdusta tentang aku, kelak tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari)

 

Hadits tersebut menjelaskan tentang setiap individu Muslim diperintahkan untuk melaksanakan dakwah Islam sesuai dengan kadar kemampuannya. Sebab, setiap individu Muslim adalah mukallaf yang dibebani dengan sejumlah hukum syariat. Diantara hukum syariat yang dibebankan Allah adalah dakwah. Oleh karena itu seorang Muslim wajib mengemban dakwah Islam sesuai dengan batas-batas yang telah ditetapkan oleh syariat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. E.            DAFTAR PUSTAKA

Alu Syaikh, Abdullah bin Muhammad. 2006. Tafsir Ibnu Katsir. Bogor: Pustaka Imam Syafi’i.

Departemen Agama RI. 2005.Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: PT Syaamil Cipta Media.

Fauziyah, Lilis. 2008. Kebenaran Al-Qur’an dan Hadits. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

 

Al-Mahalli, Imam Jalaluddin. 2008. Tafsir Jalalain 2. Bandung: Sinar Baru Algensido.

Annonimous. 2012. http:// AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR MENURUT HUKUM ISLAM- Ustadz Kholid Syamhudi/ diakses Senin 26 Maret 2012 Pukul 13.00 WIB

http://internet/kewajiban-berdakwah, diakses senin 26 Maret 2012 pukul 13.50 WIB.

http://kewajiban-berdakwah/MAJELIS TABLIGH MUHAMMADIYAH, diakses senin 26 Maret 2012 pukul 13.15 WIB

 

 


[1] http://kewajiban-berdakwah/MAJELIS TABLIGH MUHAMMADIYAH, diakses senin 26 Maret 2012 pukul 13.15 WIB

 

[2] http://internet/kewajiban-berdakwah.diakses  diakses senin 26 Maret 2012 pukul 13.50

 

[3] Departemen Agama RI, 2005, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung: PT Syaamil Cipta Media, hal. 396

 

 

[4] Imam Jalaluddin Al-Mahalli, 2008, Tafsir Jalalain 2, Bandung: Sinar Baru Algensido, hal.416

 

[5] http://internet/kewajiban-berdakwah, diakses senin 26 Maret 2012 pukul 13.50

 

 

[6] no. 3140. Lihat Silsilah Ash Shahihah, no. 52; Ahkamul Janaiz, hlm. 63].

 

[7] Lilis Fauziyah, 2008, Kebenaran Al-Qur’an dan Hadits, Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, hal. 9

[8] Lilis Fauziyah, 2008, Kebenaran Al-Qur’an dan Hadits, Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, hal. 10

 

[9] Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir, 2006, Bogor: Pustaka Imam Syafi’i, hal. 108

[10] Annonimous. 2012. http:// AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR MENURUT HUKUM ISLAM- Ustadz Kholid Syamhudi/, diakses Senin 26 Maret 2012 Pukul 13.00 WIB