Cacat bukan halangan untuk berkarya – Irma Suryati, Kartini dari Karangsari

Cacat bukan halangan untuk berkarya – Irma Suryati, Kartini dari Karangsari
Irma Suryati, Kartini dari Karangsari

[Image: foto+irma+suryati+00.JPG]

VIRUS Polio boleh saja melumpuhkan kaki Irma Suryati (36). Namun cacat yang dia derita tidak membuat semangat hidupnya turut lumpuh. Meski saat berjalan harus dibantu kayu penyangga, Irma mampu berprestasi bahkan melebihi orang normal.

Dengan keterbatasan fisiknya, perempuan asal Desa Karangsari, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen itu telah membuktikan bahwa penyandang cacat pun bisa mandiri. Melalui usaha Mutiara Handycraft yang dirintis bersama suaminya Agus Priyanto (34) yang juga seorang tuna daksa, perempuan kelahiran Semarang, 1 September 1975 itu mengembangkan aneka kerajinan dari limbah.

Melalui kreativitasnya, kain sisa industri garmen dibentuk menjadi aneka produk keset yang unik. Desain keset berbentuk bunga, karakter kartun, bentuk binatang seperti panda, kupu-kupu, dan katak, maupun elips adalah di antara hasil karyanya. Keset-keset itu tidak sekadar dijual di pasar lokal, namun telah dipasarkan untuk konsumen luar negeri. Khusus desain kupu-kupu bahkan untuk memenuhi konsumen dari Autralia yang dijual melalui broker dengan harga tujuh dolar per unit.

“Sendangkan keset biasa, dijual di pasaran dengan harga Rp 3500. Sedangkan desain unik dijual antara Rp 25.000 hingga Rp 35.000,” ujar Irma Suryati saat ditemui di rumahnya yang dijadikan sebagai pusat usaha kecil menengah penyandang cacat, belum lama ini.

Sampai saat ini, lulusan SMA Negeri 1 Semarang itu memiliki sedikitnya 600 binaan perajin keset. Selain di Kebumen, mereka tersebar di Kabupaten Banyumas, Banjarnegara, dan Purworejo. Sebanyak 150 orang di antaranya merupakan para penyandang cacat khususnya tuna daksa, sedangkan sisanya adalah orang normal. Pada awalnya, mereka diajari bagaimana cara membuat keset, kemudian setelah mandiri pihaknya memasok bahan baku.

Mereka bisa bekerja di rumah sendiri, kemudian hasilnya disetor untuk dipasarkan. Bersama dengan para perajin binaannya, Irma mampu produksi sebanyak 15.000 keset per bulan. Produksi ini masih sangat kurang memenuhi permintaan pasar. Sebab, untuk di Pasar Abang Jakarta saja permintaan bisa mencapai 30.000 keset per bulan. Artinya, prospek kerajinan keset dari kain perca masih sangat luas. Mengingat permintaan yang sangat tinggi itu belum sepenuhnya terpenuhi.

“Saya ingin mengajak para penyandang cacat untuk hidup mandiri termasuk secara ekonomi, sehingga mereka bisa setara dengan orang normal,” imbuh Irma yang juga memproduksi boneka dari kain limbah.

[Image: foto+irma+suryati+01.JPG]

Raih Penghargaan
Semangat, kemandirian dan dedikasinya memberdayakan para penyandang cacat itu mengantarkan Irma terpilih menjadi Wirausaha Muda Teladan Tingkat Nasional tahun 2007 yang diberikan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Tahun 2009 dia juga terpilih menjadi Pemuda Andalan Nusantara. Irma menjadi juara I Tokoh Sampoerna Pejuang 9 Bintang 2010 untuk kategori ekonomi kerakyatan. Di tahun yang sama ibu lima orang anak itu dianugrahi Ummi Award 2010 Dedikasi Ibu Indonesia.

Di atas perjuangan untuk mewujudkan kesetaraan kaum difabel itu pantas kiranya Irma dijuluki sebagai Kartini dari Desa Karangsari. Tidak berlebihan pula apabila Bupati Kebumen, H Buyar Winarso SE mengusulkan Irma sebagai calon penerima penghargaan Lingkungan Hidup Nasional Kalpataru tahun 2011 untuk kategori perintis lingkungan.

Dia dinilai berhasil mengolah limbah garmen menjadi aneka kerajinan tangan yang bernilai ekonomis. Berkat usahanya itu, dia mampu mengurangi pengangguran sekaligus mengurangi limbah sekitar lima ton per bulan. Ya, meski kaki lumpuh, Irma telah terbang keliling sejumlah negara di dunia. Antara lain, dia pernah menjadi duta bangsa dalam lomba wirausaha muda tingkat dunia di Beijing, Cina. Tahun 2008 dia terbang ke Melbourne Autralia mewakili Indonesia dalam pameran kerajinan yang disponsori oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, saat itu dijabat Adhiyaksa Dault.

Capaian yang diperoleh Irma tidak datang begitu saja. Perlu kerja keras dan proses panjang. Apalagi, seorang penyandang cacat seperti dirinya masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Misalnya, seperti saat melamar pekerjaan, saat itu pula ia ditolak dengan alasan cacat yang dia alami. “Dari pengalaman itulah, saya bertekat membuat usaha sendiri dan mengangkat lebih tinggi derajat penyandang cacat seperti saya,” imbuhnya.

[Image: foto+irma+suryati+02.JPG]

Diskriminasi Difabel
Hidup dengan kondisi fisik yang tak sempurna memang cukup berat bagi para penyandan cacat. Apalagi diskriminasi bagi para penyandang cacat masih dirasakan di seluruh sektor baik pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, politik, maupun budaya. Berbeda dengan orang normal, di semua sektor tersebut, kepentingan para penyandang cacat selaku kelompok minoritas masih dinomorsekiankan.

Irma masih ingat harus menelan pil pahit saat ditolak oleh perusahaan saat melamar kerja, gara-gara dia berjalan menggunakan bantuan kruk. Tidak hanya itu, ketika memulai menjalankan usahanya dia justru diremehkan saat mengajak orang-orang bergabung. Mereka sanksi melihat kaki Irma yang cacat akibat virus polio tersebut. Namun cibiran dan dipandang sebelah mata justru menjadi cambuk untuk pembuktian bahwa orang dengan kebutuhan khusus juga bisa.

“Setelah saya mendapatkan penghargaan, satu per satu orang percaya dengan usaha yang saya jalankan,” ujar Irma Suryati menceritakan awal perjalanannya mengelola usaha kerajinan dari limbah garmen.

Dia berkisah, setelah tamat SMAN 1 Semarang, dia tidak melanjutkan kuliah. Tahun 1995 dia memberanikan diri menikah dengan Agus Priyanto yang asli Desa Karangsari, Kebumen. Pasangan tuna daksa itu bertemu saat mereka sama-sama menjalani terapi kaki yang lumpuh layu di Rumah Sakit Orthopedi Solo. Selain mendapatkan terapi, di tempat tersebut mereka juga dilatih membuat kerajinan sesuai minat masing-masing.

“Kami kenal selama dua bulan dan sepakat untuk menikah dan hidup bersama,” ungkap Agus Priyanto.

Sebelum menjalankan usaha keset di Kebumen, sebenarnya Irma dan Agus telah memulai usaha di Kota Semarang. Dia menghimpun sesama penyandang cacat yang mengikuti pelatihan di Solo. Saat itu usahanya berkembang hingga mampu merekrut 50 penyandang cacat untuk menjadi perajin keset.

Bahkan pada tahun 2002 usahanya berada di puncak. Omset penjualan hasil kerajinan itu mencapai miliaran rupiah per bulannya. Lewat keset itulah dia mampu membeli rumah dan mobil. Sayang, kebakaran hebat di Pasar Karangjati Semarang tahun 2005 membuat usaha mereka hancur tak tersisa.

“Akibat kabakaran itu, kami merugi sekitar Rp 800 juta. Saat itu kami punya apa-apa lagi,” kenang Agus atas tragedi yang mengembalikan keluarganya ke titik nol tersebut.

Hidup Baru Selanjutnya, babak baru kehidupan Irma dilanjutkan di Kebumen, tempat kelahiran suaminya. Dia mencoba bangkit kembali dengan meminta dukungan Bupati Kebumen yang saat itu dijabat Rustriningsih. Gayung bersambut, dengan bantuan bupati yang sekarang menjabat Wakil Gubernur Jawa Tengah itu, dikumpulkan 300 penyandang cacat dan membentuk paguyuban. Irma Suryati terpilih sebagai ketuanya.

“Untuk bertemu bupati juga butuh perjuangan. Saya berkali-kali ditolak oleh pegawai, karena dikira mau meminta sumbangan,” kata Irma yang masih memajang poster Rustringsih yang dinilai berjasa bagi hidupnya.

Seiring waktu, usaha kerajinan berbahan baku kain limbah garmen yang dikelolanya terus berkembang. Tidak hanya memproduksi keset yang omsetnya mencapai Rp 30 juta per bulan, usahanya melebar hingga memproduksi 42 macam kerajinan. Terakhir perempuan yang mengoleksi sekitar 100 penghargaan dari dalam dan luar negeri itu mengembangkan produksi busana muslim.

Irma bahkan telah mendapat order busana muslim dari Jakarta sebanyak 10.000 per bulan. Namun karena keterbatasan tenaga, alat dan modal dia masih belum bisa memenuhi seluruhnya.
“Hanya sekitar 3.000 potong per bulan yang mampu kami penuhi,” imbuhnya.

[Image: irma+suryati1.jpg]

Melihat pasar yang masih terbuka Irma memperbanyak tenaga kerja. Dia juga memberdayakan ibu-ibu rumah tangga, para waria, pekerja seks komersial (PSK), dan mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Selain pekerjaan sehari, Irma tak jarang keliling Indonesia untuk menjadi instruktur pelatihan bagi penyandang cacat.

Selain urusan usaha, Irma berusaha menjadi ibu yang baik bagi kelima anaknya. Dia bersyukur, kelima anaknya; Zika Kusuma (13), Hafiz Al Mukni (10), Eksa Mutiara Nabila (5), Nauli Wyadyaksa (2) dan Pandu Yuda (1) tumbuh normal. Bahkan si sulung saat ini duduk di kelas 2 di SMP Negeri 1 Buayan.

Secara ekonomi, barangkali keluarga Irma saat ini tidaklah kekurangan. Saat ini ada satu cita-cita yang masih belum terwujud. “Saya ingin punya pabrik yang seluruh karyawannya para penyandang cacat,” katanya seraya tak henti-henti mendorong para kaum difabel agar bisa hidup mandiri.***

Biodata

Nama : Irma Suryati
Tempat Tanggal Lahir : Semarang, 1 September 1975
Pendidikan : SMAN 1 Semarang
Suami : Agus Priyanto

Anak
1. Zika Kusuma (13 tahun)
2. Hafiz Al-Mukni (10 tahun)
3. Eksamutiara Nabila (5 tahun)
4. Nauli Wyadyaksa, (2 tahun)
5. Pandu Yuda (1 tahun)

Penghargaan
Wirausaha Muda Teladan 2007 dari Kementerian Pemuda dan Olahraga
Pemuda Andalan Nusantara 2009 dari Kementerian Pemuda dan Olahraga
Perempuan Berprestasi 2008 dari Bupati Kebumen.
Penghargaan dari Jaiki Jepang
Juara I Tokoh Sampoerna Pejuang 9 Bintang 2010
Anugerah Ummi Award 2010 – Dedikasi Ibu Indonesia.
Diusulkan Bupati Kebumen Menerima Kalpataru 2011

source :

http://ondosupriyanto.blogspot.com/2011/06/irma-suryati-kartini-dari-karangsari.html

http://gerakpemuda.wordpress.com/2010/03/12/irma-suryati-keset-mengubah-martabat-penyandang-cacat/

Why Good Things Happen to Good People ?

Quote:“Kamu ingin bahagia? Dicintai? Selamat? Sejahtera? Kamu ingin ketemu orang pada saat-saat kritis dan percaya pada dukungannya? Kamu ingin kehangatan hubungan yang sejati? Kamu ingin berjalan di dunia setiap hari dengan yakin bahwa inilah dunia yang penuh kebaikan dan harapan? Aku punya satu jawaban: Memberi. Berilah setiap hari, walaupun dalam jumlah kecil. Kamu akan hidup lebih bahagia. Berilah dan kamu akan lebih sehat. Berilah dan kamu akan berusia lebih panjang.” – Dr Stephen Post

**
“Why Good Things Happen to Good People”
“Why does God allow bad things to happen to good people?”

Sebuah Artikel yang sangat indah aku kutip dari Blog Ust. Jalalludin Rakhmat.
Menurutku, banyak hal yang bisa dipelajari dari kisah seperti ini. “Why Good Things Happen to Good People” adalah buku yang sangat bagus untuk dibaca. Aku memulainya dari hari kelahiranku kemarin, mencoba sedikit demi sedikit untuk melakukan segala sesuatu nya dengan lebih baik…guess what??, ….hasilnya diluar dugaanku. Jangan pernah menyerah ketika ternyata yang terjadi adalah yang sebaliknya, sometimes bad things happen to people who seem undeserving of them. But God allows things to happen for His reasons, whether or not we understand them. Alhamdulillah. Aku mendapatkan yang lebih mudah dari itu semua. Thanks God for everything… Walaupun Shalatnya masih belum maksimal juga sampe sekarang..hehehe..Maafin aku ya.. Allah

**

Why Good Things Happen to Good People!

“Seorang anak muda yang sangat miskin bekerja sebagai wiraniaga untuk membiayai uang kuliahnya. Pada suatu hari, ia sangat bingung karena ia hanya punya uang sepuluh sen saja, padahal ia sangat kelaparan. Ia memberanikan dirinya untuk minta makan pada tetangganya, tapi ia gugup ketika seorang nyonya yang perlente membuka pintu. Ia tidak jadi minta makanan. Ia minta segelas air saja.

Perempuan itu merasa bahwa anak muda itu dalam kesusahan. Ia berikan kepadanya segelas susu. Ia minum perlahan-lahan. Ia bertanya, “Berapa?”

“Anda tidak perlu bayar apa pun?” kata perempuan itu, “Ibuku mengajarkan untuk tidak menerima apa pun buat perbuatan baik.”

“Kalau begitu, terimakasih saya yang setulus-tulusnya,” katanya. Ketika anak muda itu meninggalkan rumah itu, ia merasa lebih bahagia dan keimanannya kepada Tuhan serta kepercayaannya kepada umat manusia menjadi lebih kuat.

Bertahun-tahun kemudian, nyonya yang baik itu jatuh sakit. Dokter-dokter tidak tahu persis apa penyakit yang dideritanya. Ia dikirim ke rumah sakit dan diserahkan kepada anak muda dulu yang kini sudah menjadi dokter. Ketika ia mendengar nama kota asal pasiennya, matanya bersinar dan mulai menduga-duga siapa dia.

Ia mulai merawatnya dan segera mengenal sang nyonya. Ia bekerja keras untuk menyelamatkan nyawanya. Akhirnya, setelah perjuangan yang berat, perempuan itu sembuh.

Dokter itu meminta administrasi rumah sakit untuk menyampaikan kepadanya tagihan untuk ia setujui. Ia memperbaiki tagihan itu dan menandatanganinya. Di atas tagihan biaya rumah sakit itu ia menuliskan catatan kecil. Ia krimkan kembali kepada pasiennya.
Perempuan itu tahu ia harus membayar tagihan itu selama sisa usianya. Walaupun ia bahagia karena telah disembuhkan, ia juga kuatir tidak bisa membayarnya. Ia membuka amplop dan terkejut ketika membaca tulisan di atas surat tagihan itu: “Tagihan ini sudah dibayar bertahun-tahun yang lalu dengan segelas susu- dr Howard.”

Tangisan kebahagiaan membasahi mukanya. Ia bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada dokter muda itu akan balasan kebaikannya.”

Cerita di atas dikirim ke alamat email saya. Pengirimnya adalah bagian dari organisasi internasional untuk menyebarkan kebaikan, The Random Acts of kindness Foundation. Saya terharu dengan perilaku perempuan elegan itu yang berempati dengan derita orang miskin yang tidak dikenalnya. Saya lebih terharu lagi dengan dokter muda yang menjadi tangan Tuhan; untuk membalas kebaikan sekecil apa pun dengan berlipat ganda.

“Apalagi balasan perbuatan baik selain perbuatan baik lagi,” firman Tuhan. “Sesungguhnya Allah selalu menolong seorang hamba yang selalu menolong orang lain,” kata Nabi Muhammad saw. Alam ini diatur oleh hukum resiprositas, hukum balas- membalas. Sapa orang dengan tatapan kasih, dan ia akan menjawabmu dengan pelukan. Makilah kawan-kawanmu, dan mereka akan menyebarkan keburukanmu.

Mungkin Anda akan mengajukan keberatan. Mengapa orang yang kita bantu sering membalas air susu dengan air tuba? Pada saat seperti itu, ingatlah bahwa Tuhan tidak memilih orang itu sebagai tanganNya untuk membalas kebaikan Anda. Tapi ia pasti memilih tangan lain yang akan datang padamu dari orang yang tepat pada saat yang tepat.

Saya ingat kawan saya yang terkenal sangat dermawan. Pada waktu kecil, ayahnya mengumpulkan anak-anak miskin di kampungnya. Ia mendidik dan membesarkan mereka dengan dananya sendiri. Setiap hari ia harus bekerja sangat keras, sehingga sering melupakan anaknya sendiri. Ketika ia mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri, pada saat-saat kritis ia selalu memperoleh pertolongan dari orang-orang yang tidak dikenalnya. Tentu saja mereka bukan anak-anak asuh bapaknya. Tapi tetap saja mereka adalah tangan-tangan Tuhan yang dikrimkan kepadanya pada saat yang tepat.

Pada khotbahnya menyambut bulan Ramadhan, Nabi saw bersabda: “Sayangilah anak-anak yatim orang lain, nanti Tuhan akan sayang pada anak-anak yatim yang kamu tinggalkan. Bersedekahlah walaupun dengan seteguk air atau sebutir kurma.” Ia sedang mengajarkan kepada kita hukum reprositas.

1500 tahun sesudah itu, puluhan ribu mil jauhnya dari negeri Nabi, seorang dosen Fakultas Kedokteran di Case Western University membiayai dan melakukan penelitian-penelitian tentang manfaat memberi atau bersedekah bagi pelakunya. Ia telah menjadi tangan Tuhan untuk membuktikan kebenaran sabda Nabi. Dengarkan kata-katanya: “Kamu ingin bahagia? Dicintai? Selamat? Sejahtera? Kamu ingin ketemu orang pada saat-saat kritis dan percaya pada dukungannya? Kamu ingin kehangatan hubungan yang sejati? Kamu ingin berjalan di dunia setiap hari dengan yakin bahwa inilah dunia yang penuh kebaikan dan harapan? Aku punya satu jawaban: Memberi. Berilah setiap hari, walaupun dalam jumlah kecil. Kamu akan hidup lebih bahagia. Berilah dan kamu akan lebih sehat. Berilah dan kamu akan berusia lebih panjang.” Dr Stephen Post, dosen itu, menuliskan hasil penelitiannya yang disimpulkan dalam judul bukunya Why Good Things Happen to Good People.

source :http://himynameisfitrah.multiply.com/journal/item/125/Why_Good_Things_Happen_to_Good_People…

Aku gagal? Tidak ini hanya jalan lain yang di beri Tuhan

Berikut ini adalah daftar panjang kegagalan dari orang yang semasa hidupnya banyak menghadapi tantangan dan badai.

Tahun 1831 : Usahanya bangkrut
Tahun 1832 : Ia menderita kekalahan dalam pemilu tingkat lokal
Tahun 1833 : Ia kembali bangkrut dalam usahanya
Tahun 1835 : Istrinya meninggal dunia
Tahun 1836 : Ia menderita tekanan mental sehingga hampir saja masuk RSJ
Tahun 1837 : Menderita kekalahan dalam suatu kontes pidato
Tahun 1840 : Gagal dalam pemilu anggota Senat
Tahun 1842 : Kalah dalam pemilu Konggres
Tahun 1848 : Gagal lagi dalam pemilu Konggres
Tahun 1855 : Gagal lagi dalam pemilu Senat
Tahun 1856 : Kalah dalam pemilu sebagai Cawapres
Tahun 1858 : Gagal lagi-lagi dalam pemilu Senat
Tahun 1860 : Ia akhirnya terpilih menjadi Presiden

Siapakah dia?

[Image: aqkc5s55.jpg]
Namanya adalah Abraham Lincoln – salah seorang Presiden Amerika yang terkenal.
Mungkin jika orang lain mengalami kegagalan sebanyak itu sudah mundur teratur sejak awal-awal. Tetapi Lincoln maju terus, mungkin kata ‘mundur’ tidak ada dalam otaknya. Selama hampir 29 tahun ia terus berupaya. Akibatnya kemudian ia mencapai suatu sukses yang luarbiasa.

Simak kata-kata terkenalnya:
“Sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yang lain, Tanpa kehilangan semangat” (Abraham Lincoln)

Kegagalan itu ibarat pasir keruh yang menyembunyikan emas. Bila anda terus berusaha, tekun mencari perbaikan di sela-sela kerumitan, serta berani menyingkirkan alasan-alasan, maka anda akan menemukan cahaya kesempatan. Hanya mencari alasan sama saja membuang pasir dari semua emas yang ada di dalamnya.

Gagal. Nah gagal itu sebenarnya adalah suatu rencana Tuhan untuk menunjukkan kepada kita bahwa masih banyak hal yang harus kita pelajari, yang mana kalau kita sukses padahal kemampuan kita masih dangkal, kita akan terjatuh lebih dalam lagi. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang ahli investasi dari Amerika bahwa ‘orang bodoh dengan uang banyak adalah suatu fenomena yang sangat menarik’. Apakah yang akan terjadi bila orang bodoh tiba-tiba mendapatkan uang banyak? Jelas, dia akan menghabiskannya tanpa perhitungan hanya untuk barang-barang konsumtif dan kembali mengalami kesulitan keuangan karena kemungkinan besar barang-barang konsumtif tersebut akan dia beli dengan cara kredit. Apakah dia pantas disebut orang kaya? Jelas tidak, orang yang betul-betul kaya tahu betul apa yang akan dia perbuat dengan uangnya dan akan mengembangkannya lebih banyak lagi.

Poin utamanya adalah kesuksesan yang kita terima akan selalu sesuai dengan kapasitas diri kita. Jika kita menerima kesuksesan di luar kapasitas diri, malah kita akan jatuh lebih dalam dan gagal lebih parah. Maka dari itu, jangan terlalu mendramatisir kegagalan. Bisa jadi dengan kegagalan Tuhan menyelamatkan kita dari kegagalan yang lebih parah. Yang perlu kita fokuskan adalah bagaimana caranya agar kita bisa berkembang secara pribadi untuk layak menjadi orang yang betul-betul sukses sehingga kesuksesan kita bisa bertahan lama dan semakin berkembang.

Nah untuk itu Syukurilah apa yang ada, karena hidup adalah anugrah terindah dari Allah SWT. Kita harus yakin bahwa apapun yang diberikan Allah SWT. pada kita adalah yang terbaik bagi kita semua. Kita tidak akan pernah menyadari bahwa yang tadinya ulat berbulu, kini menjadi kupu kupu indah yang terbang leluasa. Kita juga tidak pernah menyadari bahwa kaktus dan pohon mawar yang awalnya berduri kini mengembang bunganya. Bunga yang indah yang dihinggapi kupu kupu cantik. Itulah makna dari sebuah kegagalan dan kesuksesan.

source :

http://marmalade7.blogspot.com/2011/04/aku-gagal-tidak-ini-hanya-jalan-lain.html
http://www.eocommunity.com/showthread.php?pid=132246

5 Motivasi kerja yang membuat orang Jepang Sukses

Kita tahu jepang menjadi salah negara sukses di asia dan dunia. Pada artikel kali ini bintang akan membahas motivasi kerja apa saja sih yang membuat kebanyakan orang disana sukses.Mungkin banyak faktor yang membuat semua itu terjadi.
Tapi bintang sendiri yakin motivasi dibawah inilah, yang membuat kebanyakan masyarakat jepang hidup makmur seperti sekarang ini :

1. Kerja Keras
Tentu ini motivasi yang patus kita contoh! Sama seperti kebanyakan orang-orang di Asia Timur. Mereka menjadi pekerja keras dalam hidupnya.
Kata mutiara motivasi : Di dunia ini tidak ada yang namanya kegagalan, yang ada adalah kita kurang bekerja keras.

2. Pantang Menyerah
Masyarakat jepang untuk ini benar-benar membuktikannya. Dulu mereka setelah porak-poranda akbiat perang dunia ke II. Hanya membutuhkan waktu tidak lama untuk menjadi salah satu pusat ekonomi dunia.
Pesan Motivasi : Menyerahlah jika peluang benar-benar sudah habis. Tapi selagi masih ada satu harapan, Raihlah dengan kerja keras dan anda pasti SUKSES.

3. Menjaga Kehormatan
Jika kamu sering melihat film atau mungkin mengikuti artikel berita di TV, sesekali pasti mendengar istilah Harakiri yaitu bunuh diri dengan menusukkan pedang ke perut. Itu dilakukan oleh masyarakat disana karena mereka tahu malu.
Masih ingat Menteri Kesehatan Jepang yang mengundurkan diri karena melakukan kesalahan. Atau pejabat yang akhirnya bunuh diri karena telah melakukan korupsi. Atau pelajar yang bunuh diri karena nilainya jelek. Dan menjadikan orang jepang menjadi nomer satu dalam kasus bunuh diri.
Tapi ingat BAIK-BAIK artikel ini tidak memerintahkan anda bunuh diri jika membuat orang lain susah.
Pesan Motivasi yang bisa kita raih adalah “Tahu Malulah”, dan kemudian intropeksi diri berbuat lebih baik lagi

4. Rajin Membaca
Membaca seperti menjadi sebuah budaya di Jepang. Bukanlah hal yang aneh melihat orang bejalan sambil membaca.Atau saat anda masuk ke kereta listrik, disana bisa dilihat banyak orang yang membaca.
Banyak-banyaklah membaca artikel, apalagi sekarang sudah zaman internet anda bisa mendapatkan artikel tentang berbagai hal mulai dari komputer, motivasi, sejarah, ekonomi dsb. Karena dengan lebih banyak mengetahui informasi dibanding lawan, anda sudah lebih dekat ke tujuan.

5. Menjaga Tradisi
Motivasi yang ini patut kita contoh. Mengapa? bayangkan saja dengan kemajuan tekhnologi dan ekonomi. Mereka tetap tidak meninggalkan tradisi. Bahkan bintang pernah menonton berita yang memperlihatkan “Laptop dikasih jampi-jampi supaya tidak terkena masalah”.
Entah sekarang anda saat ini kerja atau sedang belajar. Gunakanlah artikel sukses dari orang jepang diatas untuk dijadikan motivasi. Kobarkan SEMANGAT anda, karena sukses adalah HAK setiap orang bagi yang mau menerimanya.

Read more: http://berbagipintar.blogspot.com

source : http://www.eocommunity.com/showthread.php?tid=1193

Kalau Hanya Ada Satu Pemenang – Mengapa Kita Ikut Bertanding?

Salah satu alasan mengapa kita memiliki frase `kalah sebelum bertanding’ adalah karena pada kenyataannya begitu banyak orang yang enggan untuk ikut dalam pertandingan menyusuri hidup.
Hanya karena mereka tahu bahwa mereka tidak akan pernah menjadi pemenang.
Jika hidup kita adalah soal kalah dan menang, mungkin cara berpikir itu bisa diterapkan.

Namun, pada kenyataannya hidup kita tidak selamanya tentang kalah dan menang.
Memang, ada kalanya kita harus terlibat dalam permainan seperti itu.
Jika kita tidak mengalahkan orang lain, maka orang lain akan mengalahkan kita; dan kita menjadi pecundang.
Namun, sebagian besar kegiatan dalam hidup kita bukan soal itu.
Melainkan soal; bagaimana kita menjalani hidup itu sendiri.
Oleh karena itu, dalam banyak situasi; `menjalani’ hidup itu lebih penting daripada hasil akhirnya.

Anda tentu masih ingat sebuah kisah klasik tentang seorang lelaki lugu yang tengah duduk diteras sebuah kedai dipinggir jalan.
Ketika mendekatkan cangkir kopi ke bibirnya, dia terperangah, karena tiba-tiba saja ada segerombolan orang yang berlarian.
Ia lalu bertanya kepada pelayan;”Kenapa sih orang-orang itu pada berlarian begitu?”
Sang pelayan menjawab:”Ini perlombaan lari marathon, Tuan.”
Ia tersenyum dengan ramah, kemudian melanjutkan: “Pemenangnya akan mendapatkan sebuah piala.” Katanya.
Lalu lelaki itu berkata;”Kalau hanya pemenangnya yang mendapatkan piala, kenapa orang-orang yang lainnya juga pada ikut berlari…?”

Kemungkinan besar, didunia nyata tidak ada manusia yang cukup lugu untuk melakukan dialog seperti itu.
Setidak-tidaknya dalam konteks `lomba lari marathon’. Kita semua tahu bahwa pemenang lomba lari marathon hanya satu orang. Atau paling banyak 3 orang.
Jika panitia berbaik hati menyediakan hadiah sampai juara harapan ketiga seperti ketika kita sekolah di TK dulu, maka jumlah pemenangnya paling banyak ada 6 orang.
Tetapi, kita tidak cukup bodoh untuk mempertanyakan; “Mengapa ratusan orang lainnya ikut berlari juga?”
Tetapi, mari cermati kehidupan sehari-hari kita. Secara tidak langsung kita sering mengajukan pertanyaan naif seperti itu.
Kita begitu seringnya bertanya; kenapa orang kecil seperti kita mesti kerja habis-habisan? Paling hasilnya cuma segitu-gitu juga.

Ketika masih disekolah menengah dulu, saya beberapa kali mengikuti 10K Marathon Competition.
Dalam perlombaan itu, selalu saja ada atlet profesional dari pelatda yang ikut serta. Tapi, jumlah mereka tidak banyak.
Sedangkan, ratusan peserta lainnya adalah mereka yang paling banter hanya berolah raga seminggu sekali saja, termasuk saya dengan tubuh kerempeng dan napas yang pas-pasan ini.
Bahkan ada juga peserta yang sudah lanjut usia. Nyaris tidak mungkin kami bisa menang.
Kami semua mengetahui hal itu. Tapi, mengapa kami tetap ikut perlombaan itu? “Ya, kenapa Kakek mengikuti perlombaan ini?”
Anda boleh bertanya begitu kepada si Kakek veteran perang kemerdekaan yang ngotot mau ikut perlombaan.
Dan dia akan menjawab: “Kakek mah, yang penting sehat, cucu. Tidak apa-apa menang juga.
Yang penting sehat….” Alah, yang penting sehat, kata si Kakek.
Kalau anda tanyakan itu kepada orang dewasa lainnya, mereka akan menjawab: “Demi kesehatan, Mas. Kita perlu berolah raga.
Kalau menang syukur. Tidak juga yah, tidak apa-apalah. Yang penting sehat.”
Sedangkan, gadis-gadis remaja berusia belasan tahun akan menjawab:”Tau deh, Mas. Pokoknya seru ajjah. Bisa ketemuan sama teman-teman. ”
Dan dari para lelaki kecil yang sedang puber seperti saya waktu itu, mungkin anda akan mendengar:”Asyik Mas. Banyak cewek kece yang ikutan….”
Pendek kata, ada begitu banyak alasan mengapa orang ikut serta dalam perlombaan lari marathon itu; meskipun mereka tahu tidak akan menang.
Dan diakhir pertandingan, kita selalu bisa menemukan senyum kepuasan disetiap wajah yang mengikuti perlombaan.
Ketika sang atlet pelatnas naik pentas untuk menerima tabanas; setiap orang ikut merasa puas. Tidak ada iri dihati ini.
Sebab, dari awal pun kita sudah tahu bahwa hadiah tabanas dan piala itu bukan untuk kita.

Kita mempunyai bagian masing-masing dalam perlombaan itu. Sang Kakek, mendapatkan kesempatan untuk berolah raga dengan gembira demi kesehatannya.
Para pemuda senang dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Para remaja gembira karena bertemu dengan rekan-rekan seusianya.
Sambil ngeceng satu sama lain. Dan tampaknya, semua orang mendapatkan kemenangannya masing-masing.
Kecuali orang-orang yang memilih tidur dibawah selimut. Dan mereka yang hanya nongkrong dipinggir jalan yang dilewati para pelari.

Lomba lari marathon mungkin sudah bukan olah raga populer lagi dijaman ini.
Tetapi, esensinya masih tetap ada hingga kini.
Kehidupan kita, tidak ubahnya seperti perlombaan lari marathon itu.
Ada sejumlah hadiah disediakan bagi mereka yang berkoneksi sangat kuat. Bermodal teramat besar. Dan berkedudukan begitu tinggi.
Namun, jika saja orang-orang yang tidak memiliki semua keistimewaan itu memilih untuk berhenti sebelum bertanding; kehidupan kita mungkin akan berubah wajah.
Menjadi sebuah ironi ketidakberdayaan.
Untungnya, sebagian besar manusia sederhana yang kita lihat adalah orang-orang tangguh.
Mereka adalah pejuang hebat yang tidak mudah menyerah. Tengoklah mereka yang tidak pernah lelah untuk terus merengkuh hidup.
Mengagumkan sekali. Meskipun mereka tahu bahwa tidak mungkin untuk mendapatkan pendapatan sejumlah miliaran atau sekedar ratusan ribu rupiah saja; namun mereka tetap melangkah, ikut terlarut dalam geliat hidup.
Mereka tidak hendak berhenti.
Sebab, sekalipun tahu bahwa uang besar adalah jatah orang-orang besar, namun ikut terlibat dalam permainan keseharian adalah pilihan yang paling bijaksana.

..Jika kita berkesempatan untuk menyasar ke pasar-pasar pada pukul dua pagi, kita akan menemukan orang-orang dari jenis ini.
Tukang gorengan. Para penyapu jalan. Para petugas pembersih toilet digedung-gedung perkantoran. Para buruh tani. Ibu-ibu tukang cuci pakaian.
Para hansip dan petugas keamanan. Para guru bantu disekolah-sekolah reyot . Aih, betapa banyaknya orang yang ikut dalam lari marathon kehidupan ini.
Apakah mereka akan mendapatkan piala? Tidak. Lantas, mengapa mereka ikut berlari? Karena, mereka ingin mengajari kita tentang hidup.
Mengajari kita? Ya. Mengajari kita. Karena kita yang lebih beruntung ini sering sekali menyia-nyiakan hidup.
Kita terlampau mudah untuk berkeluh kesah. Ketika kita tahu akan kalah, kita langsung menyerah.
“Untuk apa kita bekerja jika dibayar dengan upah murah? Cuma membuat kaya para pengusaha saja!” Begitu kita sering berkilah.
“Ngapain susah-susah begitu jika hasilnya cuma segini?” Kemudian kita memilih untuk tidur lagi.
“Kalau begini caranya, aku berhenti saja!” Lalu kita keluar dari arena. Malu kita oleh orang-orang sederhana itu.

Padahal, Ayah dan Ibu sudah menyekolahkan kita dengan bersusah payah. Mereka mengumpulkan rupiah, demi rupiah.
Dengan terengah-engah. Supaya kita bisa kuliah. Setelah kita lulus sekolah?
Kita menjadi orang-orang yang begitu mudahnya untuk menyerah kalah.
Setiap kali dihadapkan pada jalan yang menanjak sedikit saja, kita sudah cepat merasa lelah.
Ketika tersandung dengan kerikil kecil saja, kita sudah mengeluh seolah kehilangan kaki sebelah.
Bukan peristiwanya yang menjadi musibah. Melainkan sikap kita untuk memilih menjadi manusia bermental lemah.

Malu kita oleh orang-orang sederhana itu. Meskipun mungkin mereka tidak sepintar kita. Tidak sekolah setinggi kita.
Tidak berkulit semulus kita. Namun, semangat mereka dalam menjalani hidup, bukanlah tandingan bagi kita.
Cobalah sesekali tengok garis-garis wajah mereka. Disana kita akan menemukan sebuah gambaran tentang hidup semacam apa yang mereka jalani setiap hari.
Tidak lebih mudah dari kita.
Sekalipun begitu; mereka enggan untuk berhenti. Mereka terus berlari. Untuk berlomba dalam marathon ini.
Perlombaan yang hadiahnya mereka definisikan sendiri. Yaitu; menunaikan panggilan hidup.
Dan, apakah sesungguhnya panggilan hidup itu? Untuk menjalani kehidupan itu sendiri.
Dengan segenap bekal yang telah Tuhan berikan didalam diri kita masing-masing. Bersediakah kita mendayagunakannya?

Catatan Kaki:
Hidup tidak selamanya tentang kalah dan menang.
Melainkan tentang bagaimana kita menjalaninya dengan tindakan-tindakan yang memberi makna positif.
[dk]

Semoga artikel ini bermanfaat…

source : http://www.eocommunity.com/showthread.php?tid=1316

Setiap kemenangan butuh kesabaran

Di suatu sore seorang anak datang pada ayah nya yg sedanng baca koran….”ayah…”ayah.. kata sang anak.

“Ada apa?” tanya sang ayah…..

“Aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…

Aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capel, sangat capek …

Aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …

Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…

Aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”
” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”
” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

Kiriman sahabat Nida Tsaura S <nida.tsaura@gmail.com>

sumber: resensi.net

source : http://www.eocommunity.com/showthread.php?tid=1204

Hidup Bagaikan Segenggam Garam di Dalam Air

GARAM DALAM AIR

Alkisah, ada seorang pemuda yang berwajah murung akhir-akhir ini. Ia mengerjakan segala sesuatu dengan gelisah dan tidak bersemangat, seakan banyak masalah yang ada di pikirannya. Gurunya yang bijaksana, memperhatikan kelakuan si pemuda dan mengajaknya berbicara. “Bapak perhatikan, kamu selalu murung. Bukankah banyak hal indah di kehidupan ini? Ke mana perginya wajah ceria dan bersemangat kepunyaanmu dulu?”

“Guru, belakangan ini hidup saya sedang penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang tidak ada habis-habisnya. Serasa tak ada lagi sisa untuk kegembiraan,” jawab pemuda itu sambil tertunduk lesu. Sambil tersenyum, sang guru berkata,”Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam di dapur. Bawalah kemari. Biar bapak coba perbaiki suasana hatimu itu.” Pemuda itu pun bergegas melakukan permintaan gurunya sambil berharap dalam hati mudah-mudahan gurunya memberi jalan keluar bagi permasalahan hidupnya.

Setelah itu, sang guru berkata, “Ambil garamnya dan masukkan ke segelas air itu, kemudian aduk dan coba kamu minum.” Wajah si pemuda langsung meringis setelah meminum air asin tersebut. “Bagaimana rasanya?” tanya sang guru dengan senyum lebar di bibirnya. “Asin, tidak enak, dan perutku jadi mual,” jawab si pemuda. Kemudian sang guru membawa muridnya itu ke sebuah danau di dekat tempat mereka. Danau itu begitu indah dan airnya bening karena sumber air alam yang selalu mengairi di situ. “Ambil air garam dan garam yang tersisa dan tebarkan ke danau,” perintah sang guru. Si pemuda dengan patuh memenuhi permintaan gurunya. “Sekarang, coba kamu minum sedikit air danau itu”. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan meminumnya.

“Bagaimana rasanya? Terasakah garam yang kamu tebarkan tadi?”“Segar sekali,” jawab si pemuda sambil mengambil air dan meminumnya lagi. “Tidak ada rasa asin sama sekali!” Gurunya kemudian berkata, “Nak, segala masalah dalam hidup ini sama seperti segenggam garam. Tidak kurang tidak lebih! Rasa ‘asin’ sama seperti masalah, kesulitan, penderitaan yang dialami setiap manusia, dan tidak ada manusia yang bebas dari permasalahan dan penderitaan. Benar kan? Perlu kamu ketahui, berapa banyak rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami setiap manusia sesungguhnya tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Maka, jangan memiliki kesempitan hati seperti gelas tadi! Jadikan hatimu sebesar danau sehingga semua kesulitanmu tidak akan mengganggu rasa di jiwamu dan kamu tetap bisa bergembira walaupun sedang dilanda masalah. Nah, mudah-mudahan penjelasan gurumu ini bisa memperbaiki suasana hatimu.”

Pembaca yang Budiman, Seorang filsuf besar pernah berkata “Life is suffering. Hidup adalah penderitaan”. Memang, pada kenyataannya, segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera kita, membuat kita menderita. Kadar penderitaan setiap orang tentu berbeda. Semuanya tergantung dari cara pandang dan keikhlasan kita dalam menyesuaikan dengan selera kita. Maka selayaknya kita harus terus belajar dan memperluas wawasan kebijaksanaan, agar jangan samapai masalah yang menguasai kita. Tetapi kitalah yang mengendalikan masalah. Sehingga, masalah yang datang bukan lagi dipandang sebagai penderitaan, tetapi bagian dari kehidupan yang harus kita jalani.

Salam sukses, luar biasa!

Penulis : Andrie Wongso | (Motivator – http://www.andriewongso.com)

Kisah Inspiratif Lena Maria (Tanpa Tangan, Satu Kaki Hanya Setengah)

Kisah Inspiratif Lena Maria (Tanpa Tangan, Satu Kaki Hanya Setengah)

Kisah Inspiratif Lena Maria Klingvall

Sebuah kisah inspiratif yang dapat memotivasi diri kita agar tidak mudah menyerah dikarenakan keterbatasan yang ada pada diri kita.

Lena Maria Klingvall terlahir di Stockholm Swedia, tanpa memiliki kedua lengan dan dengan kaki kiri yang lebih kecil dari ukuran normal. Walaupun dengan kondisi fisik seperti itu, kini ia mampu meraih lebih banyak prestasi dibandingkan dengan orang yang pada umumnya berfisik normal.

[Image: lm%20barn.jpg]

Orangtua Lena Maria sangat terkejut ketika mengetahui anak mereka terlahir tanpa tangan dan hanya memiliki satu kaki normal. Tetapi mereka tidaklah kecewa dan berputus asa, mereka yakin bahwa anak mereka itu berhak melakukan apapun, mereka membesarkannya dengan penuh kebanggaan dan kasih sayang. Mereka tidak malu untuk memperkenalkan anak mereka ke lingkungan tempat tinggal, dan teman-teman mereka. Banyak kerabat yang salut kepada keteguhan dan kegigihan mereka, bahkan memberikan semangat serta dukungan bagi mereka. Hal ini yang menjadikan Lena Maria tumbuh menjadi sosok yang mandiri, penuh keyakinan dan kepercayaan diri.

[Image: lernsvim.jpg]

Walaupun tak memiliki kedua tangan, Lena Maria belajar renang ketika umurnya masih tiga tahun. Pada usia 18 tahun, ia meraih juara di kejuaraan olahraga nasional Swedia di cabang renang dan menempatkannya sebagai salah satu atlet renang nasional Swedia. Banyak kompetisi renang yang telah diikutinya salah satunya kejuaraan Paralympic Nasional di Seoul, Korea Selatan.

[Image: Guldmedalj.jpg]

Saat ini, Lena telah berhenti menjadi atlet nasional dan memulai kariernya di bidang seni. Ia mendapatan beasiswa dari pemerintah Swedia untuk melanjutkan pendidikannya di The Royal University College of Music . Saat ini ia telah mengadakan berbagai konser di Moskow, Latvia, Jerman, USA, Hong Kong, Thailand, Korea, Singapore, Malaysia and Taiwan. Ia juga telah membuat beberapa album lagu yang diproduksi oleh Universal Music Jepang.

[Image: DSC1321lr.jpg]
[Image: dsc00140.jpg]
[Image: lidkping.jpg]

Selain berprestasi di bidang tarik suara, Lena Maria juga sangat berbakat dalam melukis. Ia melukis menggunakan mulut dan kakinya.
Pada tahun 1996, Lena Maria meluncurkan sebuah buku yang mengisahkan tentang hidupnya, yang berjudul “Foot-Notes”. Saat ini buku tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa Norwegia, Finlandia, Polandia, Jerman, Perancis, Jepang, Thailand, Korea, Mandarin, Rusia, dan Inggris.

[Image: 121628_jumbo.jpg]

“I prefer to rejoice what I can do- not mourn what I can’t ” – Lena Maria

Kata-kata dari Lena Maria :

“Saya lebih memilih untuk bersyukur atas apa yang dapat saya lakukan- daripada kecewa atas apa yang tak dapat saya lakukan “

Kisah inspiratifnya dapat selengkapnya dibaca di http://www.lenamaria.com

source:http://akeminissa.wordpress.com/2010/02/21/kisah-inspiratif-lena-maria-klingvall/

Rencana Tuhan – SMS nyasar

“Maaf salah sambung”. SMS itu masuk beberapa saat setelah saya mengirim SMS untuk seorang teman. Jawaban yang saya terima dari teman itu membuat saya bertanya-tanya. Mengapa teman saya mengatakan salah sambung?

Merasa tidak enak, saya mengirim SMS lagi untuk menyatakan permintaan maaf. Lalu saya cantumkan nama saya di akhir SMS dengan harapan jika itu benar nomor telepon teman saya, maka dia akan menyadari yang mengirim SMS tadi itu saya. Tak lama kemudian handphone saya berdering. Di layar muncul nomor teman saya. “Maaf Pak Andy, nama saya Wahidin. Saya bekerja di Imigrasi,” ujar suara di seberang sana. Ternyata nomor tersebut memang bukan nomor telepon teman saya. Setelah sedikit berbasa-basi saya meminta maaf lalu menutup pembicaraan.

Tidak ada yang istimewa dari peristiwa itu. Saya hanya heran mengapa bisa salah mencatat nomor telepon teman. Tapi sebulan kemudian saya mendapat SMS dari Pak Wahidin. Setelah mengingatkan bahwa SMS saya pernah nyasar ke handphone-nya, dia kemudian menginformasikan di sebuah desa di Subang ada seorang anak, usianya 9 tahun, yang selama ini menanggung derita karena mengalami kelainan di tubuhnya. Anak itu tidak punya anus. Kalau buang air besar melalui kemaluannya. “Mungkin Pak Andy bisa membantu,” tulis Pak Wahidin sembari menyertakan nama, alamat, dan nomor kontak anak tersebut.

Saya bilang saya tidak berjanji, tetapi akan berusaha mencari orang yang bisa membantu anak tersebut. Setelah itu, saya mengirim kisah anak tersebut via SMS ke seorang pimpinan sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Esoknya saya mendapat jawaban, “Pak Andy, saya masih di Italia. Bisakah saya dapatkan data lebih lengkap dari anak itu? Sesampai di Jakarta akan saya diskusikan dengan tim dokter.”

Dua minggu kemudian, tim Kick Andy sudah menjemput anak tersebut dan membawanya ke Jakarta. Pihak rumah sakit setuju untuk melakukan operasi. Untuk tahap pertama, akan dibuatkan “lubang pembuangan” di perut. Setelah itu baru dibuatkan anus untuk pembuangan permanen.

Tiga hari kemudian, saya menerima SMS dari pimpinan rumah sakit tersebut. “Alhamdulilah operasi berjalan baik. Semoga semuanya berjalan sesuai rencana”. Sejenak saya terhenyak membaca SMS tersebut. Ada rasa haru yang memenuhi relung hati. “Tuhan, terima kasih,” gumam saya dalam hati. Sungguh saya tidak menyangka semua berjalan begitu cepat dan lancar. Bahkan pihak rumah sakit memperlakukan Ani sangat istimewa. Semua kebutuhan Ani dan ayahnya selama di Jakarta semuanya ditanggung rumah sakit.

Malamnya saya merenung. Ah, kalau dipikir seringkali rencana Tuhan sulit dipahami akal manusia. Termasuk sulit bagi saya memahami mengapa saya salah mencatat nomor handphone teman saya. Sulit memahami mengapa Pak Wahidin yang saya kenal gara-gara salah sambung menginformaskan kondisi seorang anak nun jauh di sebuah desa
kecil di Subang yang membutuhkan pertolongan. Juga sulit dipahami oleh akal manusia respon rumah sakit yang bersedia melakukan operasi gratis. Padahal, operasi semacam itu tentu membutuhkan biaya yang besar. Pimpinan rumah sakit itupun baru saya kenal dan kami baru sekali bertemu.

Akal manusia memang tidak akan pernah mampu mencerna rencana Tuhan. Rencana Tuhan hanya mampu dicerna melalui iman. Karena itu saya meyakini semua yang terjadi itu bukan sesuatu yang kebetulan. Sejak saya salah mencatat nomor telepon teman, sebenarnya Tuhan sudah “mengatur” untuk mempertemukan saya dengan Ani. Kemudian melalui SMS “nyasar”, Tuhan menghubungkan saya dengan Pak Wahidin. Melalui Pak Wahidin Tuhan memberi tahu ada seorang anak di Subang yang membutuhkan bantuan. Kemudian Tuhan “memerintahkan” saya untuk menghubungi pimpinan rumah sakit tersebut. Lalu semuanya berakhir dengan operasi oleh tim dokter terhadap Ani.

Sejak awal, Tuhan sudah mengatur semuanya untuk Ani. Pak Wahidin, pimpinan rumah sakit, dokter-dokter yang mengoperasi, dan semua pihak yang ikut membantu — termasuk saya — hanya mendapat “tugas” untuk menolong Ani. Setelah memahami semua itu, saya lalu tersenyum. “Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengikutsertakan aku untuk menjalankan suatu misi mulia.”
http://www.kickandy.com/corner/5/21/2162…cana-Tuhan

Kisah Hidup Sukses Nick Vujicic Tanpa Tangan Tanpa Kaki

Terlahir sebagai seorang cacat dengan banyak kekurangan…ternyata tidak menghalangi seorang Nick Vujicic untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya. Sempat depresi dan ingin bunuh diri diusia 8 tahun….namun kemudian dia sadar bahwa hidup harus dia syukuri…apapun keadaannya. Akhirnya perlahan namun pasti…dia menjadi seorang motivator hebat yang mendunia…dan berhasil memotivasi jutaan orang di seluruh dunia untuk terus meraih mimpi. Lebih lanjut mengenai kisah hidup seorang Nick Vujicic…simak artikel berikut yang saya terjemahkan dari wikipedia :

Nicholas James Vujicic (lahir 4 Desember 1982) adalah seorang pengkhotbah, seorang pembicara motivasi dan Direktur organisasi nirlaba Hidup Tanpa Limbs. Lahir tanpa anggota badan karena gangguan Tetra-amelia langka, Vujicic harus hidup dengan kesulitan dan penderitaan sepanjang masa kecilnya.

Namun, ia berhasil mendapatkan lebih kesulitan ini dan, di tujuh belas, mulai organisasi sendiri nirlaba Life Without Limbs. Setelah sekolah, Vujicic dihadiri universitas dan lulus dengan besar ganda. Dari titik ini, ia mulai perjalanan sebagai seorang pembicara motivasi dan hidupnya menarik lebih banyak liputan media massa. Saat ini, dia secara teratur memberikan pidato tentang topik, seperti cacat, harapan, dan menemukan arti hidup.

Kehidupan awal

Anak pertama lahir dari sebuah keluarga Serbia , Nick Vujicic lahir di Brisbane, Australia dengan gangguan Tetra-amelia langka: tanpa kaki, hilang kedua lengan di tingkat bahu, dan tak berkaki tapi dengan dua kaki kecil, salah satu yang memiliki dua jari kaki. Awalnya, orangtuanya hancur. Vujicic adalah sehat.

Tumbuh

Hidupnya penuh dengan kesulitan dan kesulitan. Salah satunya yang dilarang oleh hukum negara bagian Victoria dari menghadiri sekolah utama karena cacat fisik, meskipun ia tidak mengalami gangguan mental. Selama sekolahnya, undang-undang tersebut berubah, dan Vujicic adalah salah satu siswa cacat pertama yang akan diintegrasikan ke sekolah mainstream

Ia belajar menulis dengan menggunakan dua jari-jari kaki di kaki kirinya,. Dan perangkat khusus yang meluncur ke nya jempol kaki yang dia gunakan untuk pegangan. Dia juga belajar menggunakan komputer dan mengetik menggunakan “tumit dan kaki” metode (seperti diperlihatkan dalam pidatonya), melemparkan bola tenis, main drum pedal, menyisir rambutnya, sikat gigi, menjawab telepon, mencukur dan mendapatkan dirinya segelas air (juga ditunjukkan dalam pidato).

Epiphany

Ditindas di sekolahnya, Vujicic tumbuh sangat tertekan, dan pada usia 8, mulai memikirkan bunuh diri. Pada usia 10, ia mencoba untuk menenggelamkan dirinya dalam 4 inci air, tapi tidak pergi melalui dengan itu dari cinta untuk orang tuanya. Setelah memohon pada Tuhan untuk tumbuh lengan dan kaki, Nick akhirnya mulai menyadari bahwa prestasi adalah inspirasi bagi banyak orang, dan mulai bersyukur kepada Tuhan karena hidup.

Sebuah titik balik penting dalam hidupnya adalah ketika ibunya dia menunjukkan artikel surat kabar tentang seorang pria berhubungan dengan cacat berat. Ini dipimpin dia untuk menyadari bahwa ia bukan satu-satunya dengan perjuangan besar. Seiring berjalannya waktu Nick mulai memeluk situasinya dan mencapai hal-hal yang lebih besar. Dalam tujuh kelas Nick terpilih kapten dari sekolah dan bekerja dengan dewan mahasiswa di sana pada berbagai acara penggalangan dana bagi badan amal lokal dan kampanye cacat. Ketika ia berumur tujuh belas, ia mulai memberikan ceramah di kelompok doa nya, dan akhirnya mulai organisasi non-profit nya, Life Without Limbs.

Pada tahun 2005 Nick dinominasikan untuk “Muda Australia of the Year” Award.

Karir

Nick lulus dari universitas pada usia 21 dengan dua jurusan Akuntansi dan Keuangan Perencanaan. Ia memulai perjalanannya sebagai seorang pembicara motivasi, fokus pada topik yang remaja saat ini wajah. Dia juga berbicara di sektor korporasi, meskipun tujuannya adalah untuk menjadi seorang pembicara inspirasional internasional, baik di tempat Kristen dan non-Kristen. Ia secara rutin melakukan perjalanan internasional untuk berbicara dengan jemaat-jemaat Kristen, sekolah, dan rapat perusahaan. Dia telah berbicara kepada lebih dari tiga juta orang sejauh ini, di lebih dari 24 negara di lima benua (Afrika, Asia, Australia, Amerika Selatan, dan Amerika Utara).

Vujicic mempromosikan karyanya melalui acara televisi seperti The Oprah Winfrey Show dan juga dengan menulis. Buku pertamanya yang berjudul Hidup Tanpa Batas:. Inspirasi untuk ridiculously Good Life (Random House, 2010)

Nya DVD motivasi, Greater Life Purpose, tersedia di website Life Without Limbs Sebagian dari DVD difilmkan di tahun 2005, menampilkan film dokumenter singkat tentang kehidupan rumah nya, dan bagaimana ia melakukan hal-hal biasa tanpa anggota badan.. Bagian kedua dari DVD difilmkan di gereja setempat di Brisbane, dan merupakan salah satu dari pidato pertama motivasi profesional. Sebuah DVD bagi kaum muda adalah berjudul: Tidak Arms, No Legs, No Kekhawatiran: Pemuda Version pidato motivasi Nya dapat dilihat pada Website Speaker Biro Premiere.. Vujicic saat ini tinggal di California.

pertama televisi Vujicic Wawancara seluruh dunia, fitur pada 20/20 (ABC) dengan Bob Cummings disiarkan pada tanggal 28 Maret 2008.

Dia muncul dalam film pendek “The Circus Butterfly” yang memenangkan Doorpost Film Project’s tahun 2009, dan penghargaan Film Pendek Terbaik di Method Fest Film Festival, di mana Vujicic juga dianugerahi Aktor Terbaik dalam film pendek. Butterfly Circus juga baru saja memenangkan Film Pendek Terbaik di Feel Good Film Festival di Hollywood pada tahun 2010.

source:http://getmorezones.wordpress.com/2011/04/11/kisah-hidup-sukses-nick-vujicic-tanpa-tangan-tanpa-kaki/

Powered by WordPress | Find Cheap Cell Phones at iFreeCellPhones.com. | Thanks to Palm Pre Blog, Video Game Music and Car Insurance