Anfauhum Linnastitle

Sekadar sebuah weblog Blog UIN MALIKI MALANG lainnya

RSS Contact

Archive for the ‘Sejarah Pendidikan Islam’ Category

Sabtu, Oktober 29th, 2011

Laporan

Sejarah dan Eksistensi Madrasah

Disusun untuk memenuhi tugas UTS mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam

DOSEN PEMBIMBING:

Isti’anah Abubakar, M.Ag

OLEH :

Rista Mufidatul ‘Ilmi              (10110040)

FAKULTAS TARBIYAH

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latarbelakang

Dalam perspektif historis, Indonesia merupakan sebuah negeri muslim yang unik, letaknya sangat jauh dari pusat lahimya Islam (Mekkah). Meskipun Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke tujuh, dunia internasional mengakui bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Hal ini merupakan salah satu indikator keberhasilan Pendidikan Agama Islam di Indonesia.

Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang merupakan pengembangan dari pendidikan pesantren yang memadukan antara ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum. Perkembangan dari pesantren ke madrasah muncul pada awal abad 20, sebagai akibat dari kurang puas terhadap sistem pesantren ( waktu itu ) yang dianggap sempit dan terbatas pada pengajaran ilmu fardlu ’ain (Mas’ud Abdurrahman, 2002: 241)

Madrasah adalah bagian dari pendidikan keagamaan secara historis telah mampu membuktikan peranannya secara kongkrit dalam pembentukan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlaq mulia

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Latar belakang berdirinya madrasah?

2. Bagaimana kobtribusi madrasah terhadap Indonesia?

3. Bagaimana isu-isu eksistensi madrasah dan implikasinya?

4. Apa solusi yang ditawarkan?

1.3. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui latar belakang berdirinya madrasah di Indonesia

2. Untuk mengetahui kontribusi madrasah terhadap Indonesia

3. Untuk mengetahui isu-isu eksistensi madrasah dan implikasinya

4. Untuk mengetahui solusi yang ditawarkan

Bab II

PEMBAHASAN

  1. A. Latar Belakang Munculnya Madrasah
    1. 1. Latar Belakang Munculnya Madrasah Secara Umum

Adapun madrasah mulai diperkenalkan pada abad ke-5 H., yaitu sejak berdirinya madrasah Nizhamiyah di Baghdad oleh penguasa Nizham al-Muluk dari Dinasti  Bani Seljuk pada tahun 459 H./1067 M. yang merupakan salah satu lembaga pendidikan tinggi , dapat disamakan dengan lembaga pendidikan pesantren di Indonesia. Persamaan madrasah di Arabia dengan pesantren di Indonesia ini terutama dari segi kelembagaan dan kurikulumnya, yang tidak terstruktur dan longgar. Hal ini berbeda dengan madrasah yang ada di Indonesia sekarang, yang dibagi secara berjenjang (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA), dengan sistem kelembagaan dan struktur kurikulum dan materi berjenjang.

Untuk mempermudah kajian tentang sejarah pendidikan Islam, para pengkaji bidang ini telah melakukan periodesasi sejarah pendidikan Islam. Muhammad Munir Mursi membagi perkembangan pendidikan Islam dalam empat periode (Muhammad Munir Mursi,1977:67-68), yaitu:

  1. Periode pembinaan (610-750 M)
  2. Periode keemasan (750-1258 M)
  3. Periode kejatuhan dan kemunduran (1258-1800 M)
  4. Periode pembaharuan dan pembinaan kembali (1800-sekarang)

Setiap periode dari perkembangan pendidikan Islam mempunyai cirri-ciri tersendiri yang menjadi pembeda dengan periode yang lain. Salah satu cirri yang menonjol dari periode keemasan adalah munculnya madrasah-madrasah.

Adapun untuk mengkaji itu semua terlebih dahulu kita harus mengetahui terlebih dahulu situasi dan kondisi institusi-institusi pendidikan Islam yang ada sebelum madrasah.

Adapun institusi-institusi tersebut diantaranya adalah kuttab, masjid dan masjid-khan(Ahmad Syalabi,1973:33). Kuttab adalah tempat belajar  yang terkenal di rumah guru di mana para murid berkumpul untu menerima pelajaran. [1]Pada mulanya Kuttab digunakan sebagai tempat pembelajaran dasar membaca dan menulis bagi anak para bangsawan, lalu kemudian diperkaya oleh sastra dan etika. Setelah munculnya islam, Kuttab digunakan sebagai pendidikan dasar Islam, yakni cara membaca dan menulis huruf Arab untuk mempelajari Al-Qur’an. Kuttab biasanya diadakan di rumah para guru atau disamping masjid. Dan pada perkembangan selanjutnya, Kuttab diselenggarakan oleh para ulama dalam bentuk Halaqah di masjid-masjid guna memperdalam berbagai bidang ilmu pengetahuan keislaman . selain itu juga dikenal lembaga pendidikan islam yang disebut khanaqah dan ribath (ribath) bagi kalangan pengikut tarekat dan ajaran sufi. [2]

Pada masa awal perkembangan Islam, guru-guru kuttab mayoritas adalah non-muslim. Karena muslim yang pandai membaca dan menulis , disamping jumlah mereka relative sedikit juga trelalu sibuk dengan penulisan wahyu.

Charles Michael Stantos membagi kuttab kepada dua jenis, yaitu untuk pendidikan sekuler  yang mengajarkan sastra, berhitung, dan lain-lain, yang selalu mendapat imbalan jasa, walaupun sangat sederhana. Dan satu lagi untuk pendidikan agama yang tidak menerima imbalan untuk jasa ini.

Selain kuttab, dikenal juga istilah maktab. Menurur A.L Tibawi istilah maktab lebih banyak digunakan pada masa klasik sedangkan kuttab lebih digunakan pada masa modern. Namun sepanjang sejarah Islam kedua istilah tersebut digunakan secara bergantian.

Adapun masjid muncul sebagai pusat pendidikan lanjutan dan pendidikan tinggi bagi para remaja dan orang dewasa dalam ilmu-ilmu agama. Pada awalnya masjid merupakan tempat pendidikan dasar. Akan tetapi, orang-orang Islam berpendapat bahwa lebih baik memisahkan pendidikan anak-anak pada tempat tertentu, demi menjaga kehormatan masjid dari keributan anak-anak dan juga karena mereka belum bisa menjaga kebersihan masjid.

Masjid menjadi pusat ilmu pengetahuan dan budaya karena pelajaran pada tahun-tahun pertama lahirnya Islam adalah berupa pelajaran agama tentang dasar-dasar  Islam. Sistem belajar yang dilaksanakan di masjid adalah sistem halaqoh (study circles). Halaqoh membentuk lengkaran mengelilingi seorang syaikh secara alami dan statusnya ditentukan oleh pengikutnya. Yang selanjutnya syaikh ini diangkat sebagai pengurus masjid. Terkadang dalam satu masjid terdapat beberapa halaqoh dan beberapa syaikh. Yang pada perkembangan selanjutnya para syaikh secara khusus diangkat menjadi guru agama dan pemimpin halaqoh, sehingga sejarah lembaga formal pendidikan tinggi berawal dari trebentuknya halaqoh-halaqoh masjid.

Sedangkan masjid-khan merupakan perkembangan lebih lanjut dari masjid yang dilengkapi dengan sarana akomodasi bagi pihak pelajar. Istilah khan dapat diterjemahkan sebagai pamondokan (penginapan musafir), tetapi dalam hubungan ini, istilah tersebut berarti asrama mahasiswa yang berasal dari desa-desa yang jauh, yang pada umumnya belajar fiqh. Menurut Geoge Makdisi, masjid khan berkembang sekitar awal abad ke-4 H/10 M. lembaga ini didukung sepenuhnya dari dana wakaf (Geoge Makdisi,1981:28).[3]

Institute-institut pendidikan Islam di atas senantiasa mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan oeradaban Islam. Perhatian besar dari para pembesar atau dermawan terhadap bidang pendidikan mendorong terciptanya jaringa ilmiah. Oleh karena berbagai tuntutan yang ada, muncul kebutuhan akan suatu lembaga pendidikan yang secara khusus digunakan untuk pendidikan. Maka lahirlah madrasah yang dianggap dapat menjawab tuntutan tersebut.

Dalam hal ini, Mahmud Yunus menyebutkan empat faktor yang menjadi sebab munculnya madrasah (Mahmud Yunus, 1990:69-71), yaitu:

  1. Untuk mengambil hati rakyat. Ini adalah faktor politik yang berkaitan dengan pendidikan. Oara penguasan berusaha untuk dapat mengambil hati rakyat dengan jalan memajukan agama dan mementingkan pendidikan. Mereka berani mengeluarkan dana yang besar untu membangun sebuah madrasah.
  2. Untuk mengharapkan pahala dan ampunan dari Allah. Faktor religious ini menjadi motifasi bagi lahirnya madrasah. Para penguasa yang hidup mewah dengan pemuasan hawa nafsu bermaksud beramal menyiarkan agama dengan mendirikan madrasah-madrasah, dengan harapan agar mereka mendapat ampunan dan keridhoan Allah.
  3. Untuk memelihara kehidupan anaknya kemudian hari. Faktor ekonomi juga mempunyai pengaruh bagi lahirnya madrasah. Para penguasa dan orang-orang kaya mewakafkan hartanya untuk pembangunan madrasah dengan syarat yang menjadi pengurusnya adalah anak-anak mereka, secara turun-temurun.
  4. Untuk memperkuat aliran keagamaan bagi sultan atau pembesar. Ini adalah faktor fanatisme yang membuat para pembesar mendirikan madrasah dengan maksud untuk memperkuat madzhabnya.

Adapun keempat faktor tersebut sesungguhnya tidak lepas dari kepentinga penguasa  dan para dermawan. Faktor-faktor ini belum dapat mewakili mengapa madrasah lahir secara keseluruhan.

Pendapat lain disampaikan oleh Mehdi Naskisteen yang mengatakan bahwa madrasah lahir karena dua faktor, yaitu faktor intern dan ekstern. Secara intern, pendidikan yang diberikan di kuttab, masjud, dan masjid-khan memiliki beberapa keterbatasan. Kurikulumnya serba terbatas dan fasilitas fisiknya tidak mendukung bagi lingkungan pendidikan yang memadai. Pertentangan antara tujuan pendidikan dan tujun agama hamper tidak dapat ditemukan komprominya. Tujuan pendidikan menghendaki adanya aktifitas pendidikan sehingga tidak jarang menimbulkan suasana hiruk pikuk, sementara beribadah di masjid menghendaki ketenangan dan kekhusyuan. Oleh karena itu, didirikannya lembaga pendidikan dengan bentu baru, yaitu madrasah adalah sesuatu yang wajar dan diperlukan. Sedangkan secara eksternal, adalah kenyataan bahwa kemajuan dan penyebaran ilmu pengetahuan menyebabkan adanya sekelompok orang yang menemui hambatan untuk mancapai kehidupan yang layak melalui pengembangan ilmu pemgetahuan. Dengan demikian dalam rangka memajukan pendidikan, diperlukan sistem pengajian kepada mereka sebagaimana telah diwujudkan oleh madrasah-madrasah.

Dari uraian diatas, jelalah bahwa munculnya madrasah adalah sebagai jawaban lanjutan dari mesinpendidikan islam yang semakin maju seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Madrasah tidak meggantikan fungsi masjid, karena pada kenyataannyabanyak madrasah mempunyai masjid di dalamnya. Fungsi utama madrasah bukan untuk tempat ibadah, ia merupakan jawaban terhadap tantangan dan kebutuhan akan suatu lembaga pendidikan yang lebih  professional.

  1. 2. Latar Belakang Munculnya Madrasah di Indonesia

Bila berbicara mengenai akar sejarah pendidikan Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pesantren. Karena pesantren dianggap sebagai sistem pendidikan asli Indonesia(Haedari Amin, 2007:34) sekalipun demikian informasi-informasi lain membuktikan bahwa sistem pesantren, madrasah, merupakan adaptasi dari sistem pendidikan yang telah dikembangkan sebelumnya seperti telah dijelaskan sebelumnya. Adapun pendapat ini didukung oleh Nurcholis Majid yang setuju bahwasanya pendidikan Islam ini merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari praktik pendidikan pra-islam atau masa kekuasaan Hindu Budha, yang lalu Islam meneruskan dan mengislamkannya (Haedari Amin,2007:34).[4] Seperti halnya penyebaran para wali songo yang menyebarkan Islam dengan budaya-budaya Jawa dengan tujuan agar mudah diserap oleh penduduk lokal.

Munculnya madrasah di Indonesia ini bisa dilihat dari dua aspek menurut historisnya, yaitu:  Pertama dilihat dari aspek internalnya yaitu meliputi faktor ajaran Islam dan kondisi pendidikan Islam di Indonesia. Kedua, yaitu dilihat ari aspek eksternal yang menyangkut kondisi pendidikan modern pemerintah colonial di Indonesia.

Ajaran Islam di Indonesia tidak murni dari budaya Islam sendiri, akan tetapi telah terkombinasikan oleh budaya local yang telah terbentuk sebelumnya, yaitu budaya Hindu dan Budha, Animisme dan Dinamisme.[5]Islam masuk ke Indonesia tidak dalam kekosongan budaya, tetapi sudah terbentuk oleh budaya-budaya sebelumnya.

Hasbullah dalam bukunya “Sejarah pendidikan Islam di Indonesia” mengemukakan kehadiran madrasah sebagai pendidikan Islam setidak-tidaknya mempunyai beberapa latar belakang diantaranya:

a. Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan system pendidikan Islam

b. Usaha penyempurnaan terhadap system pesantren ke arah suatu system pendidikan    yang lebih memungkinkan lulusannya memperoleh kesempatan yang sam dengan sekolah umum, misalnya masalah kesamaan kesempatan kerja dan perolehan ijazah.
c. Adanya sikap mental pada sementara golonan umat Islam, khususnya santri yang terpukau pada Barat sebagai system pendidikan mereka

d. Sebagai upaya untuk menjembatani antara system pendidikan tradisional yang dilakukan oleh pesantren dan system pendidikan modern dari hasil akulturasi

Mengawali asal usul pesantren atau akar sejarah pesantren sama halnya dengan  membahas sejarah madrasah dan sekolah Islam, karena ketiga lembaga pendidikan ini  bernuansa religius atau dengan kata lain fokus studinya keagamaan di samping studi yang lain yang mendukung visi misi ketiga lembaga tersebut juga menjadi program pembelajarannya.[6]

Madrasah ala Indonesia ini merupakan jembatan antara pendidikan pesantren salafiayah yang sepenuhnya diarahkan pada tafaqquh fiddin dan sekolah umum yang lebih mengutamakan kurikulum pengetahuan umum. Kurikulum madrasah, disamping memuat cabang-cabang ilmu pengetahuan keIslaman seperti fiqh, tafsir, tauhid dan kalam, serta ilmu alat seperti bahasa arab, juga memasukkan kurikulum pengetahuan umum, mulai dari berhitung, ilmu bumi sejarah, dan pengetahuan umum lainnya.

Bentuk pendidikan melalui madrasah, selain memenuhi harapan bagi pembekalan pengetahuan keIslaman pada para siswanya, juga dimaksudkan untuk memberikan wawasan pengetahuan umum dan pembekalan yang diperlulan untuk dapat menjalankan berbagai peran dalam kehidupan di dunia modern. Perubahan dari model pesantren salafiyah kepada bentuk madrasah ala Indonesia, disamping merukan penyesuaian terhadap berbagai kebijakan Negara yang mengatur pendidikan Islam, juga merupan jawaban dan respon pendidikan Islam terhadap perkembangan tuntutan dunia modern yang memerlukan penguasaan sains dan berbagai pengetahuan umum dan keterampilan teknologi.

Madrasah di Indonesia lahir pada abad 20 dengan munculnya madrasah Manbaul Ulum Kerajaan Surakarta tahun 1905 dan Sekolah Adabiyah yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad di Sumatera Barat tahun 1909.[7] Madrasah Adabiyah ini mulanya bercorak agama semata-mata, namun kemudian pada tahun 1915 berubah coraknya menjadi HIS (Holand Inland School) Adabiyah, yang merupakan sekolah pertama yang memasukkan pelajaran umum kedalamnya. Akan tetapi dalam buku “Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesisa” karangan Departemen Agama mengatakan bahwasanya lahirnya madrasah di Indonesia diawali dengan berdirinya madasah di Padang Panjang oleh Zainuddin Labay pada tanggal 10 Oktober 1915. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa pada tahun itu pula berdirilah madrasah sebagai lembaga pendidikan islam yang pertama di Jawa Tengah yang bernama Madrasah Muawanatul Muslimin Kenepan (M3P) di Kudus yang didirikan pada tanggal 7 Juli 1915. Madrasah tersebut adalah setingkat Ibtidaiyah (dasar).[8]

Dalam perkembangannya, sistem pendidikan Islam madrasah sudah tidak menggunakan sistem pendidikan yang sama dengan sistem pendidikan Islam pesantren. Karena di lembaga pendidikan madrasah ini sudah mulai dimasukkan pelajaran-pelajaran umum seperti sejarah ilmu bumi, dan pelajaran umum lainnya. Sedangkan metode pengajarannya pun sudah tidak lagi menggunakan sistem halaqah, melainkan sudah mengikuti metode pendidikan moderen barat, yaitu dengan menggunakan ruang kelas, kursi, meja, dan papan tulis untuk proses belajar mengajar.[9]

  1. Kontribusi Madrasah terhadap Indonesia kajian historis dan visioner

Salah satu pilar pendidikan nasional adalah perluasan dan pemerataan akses pendidikan. Upaya perluasan dan pemerataan akses pendidikan yang ditujukan dalam upaya perluasan daya tampung satuan pendidikan dengan mengacu pada skala prioritas nasional yang memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh peserta didik dari berbagai golongan masyarakat yang beraneka ragam baik secara sosial, ekonomi, gender, geografis, maupun tingkat kemampuan intelektual dan kondisi fisik. Perluasan dan pemerataan akses memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi penduduk Indonesia untuk dapat belajar sepanjang hayat dalam rangka peningkatan daya saing bangsa di era

Bisa dilihat di awal abad ke-20. Pada periode ini, kebangkitan gerakan-gerakan Islam modern berlangsung sejalan dengan berdirinya lembaga-lembaga pendidikan Islam. Pada periode inilah lembaga pendidikan Islam madrasah sebagaimana kita kenal dewasa ini mulai berdiri. Sistem madrasah didirikan sebagai bentuk pembaharuan terhadap sistem pendidikan tradisional, khususnya pesantren di Jawa dan surau di Minangkabau. Sistem pendidikan tradisional ini, bagi para tokoh Muslim saat itu, tidak lagi memadai bagi perkembangan sosial yang berlangsung di tengah masyarakat menyusul modernisasi yang diperkenalkan pemerintah Belanda. Oleh karena itu, mereka mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dalam bentuk madrasah.
Di antara lembaga pendidikan tersebut adalah Sekolah Adabiyah di Padang, didirikan pada 1909 oleh Abdullah Ahmad. Sekolah ini merupakan Sekolah Dasar yang sejajar dengan HIS (Hollands Inlandsche School) milik pemerintah kolonial Belanda, kecuali bahwa di dalamnya terdapat mata pelajaran al Qur’an dan ajaran Islam. Sekolah selanjutnya adalah Sumatra Thawalib, yang didirikan berbasis Surau Jembatan Besi. Seperti halnya Sekolah Adabiyah, Sumatra Thawalib memberikan pengajaran baik di bidang keagamaan maupun bidang-bidang lain yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan modern. Sementara di Jawa, Muhammadiyah adalah yang pertama mendirikan lembaga-lembaga pendidikan bergaya modern. Hingga perkembangannya pada 1925, Muhammadiyah telah memiliki 14 madrasah, 8 HIS, sebuah sekolah guru di Yogyakarta dan 32 sekolah dasar 5 tahun. Perkembangan serta kemajuan pendidikan Islam terus meningkat secara signifikan. Hal itu dapat dilihat misalnya pada pertengahan dekade 60-an, madrasah sudah tersebar di berbagai daerah di hampir seluruh propinsi Indonesia. Perkembangan ini menunjukkan bahwa sudah sejak awal, pendidikan madrasah memberikan sumbangan yang signifikan bagi proses pencerdasan dan pembinaan akhlak bangsa.

Dalam pada itu, meskipun pemerintah melalui departemen agama sudah banyak melakukan perubahan dan perumusan kebijakan di sana-sini untuk memajukan madrasah, namun itu belum terlalu berhasil jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum yang dalam hal ini dikelola oleh departemen pendidikan. Karena realitasnya, masyarakat hingga periode 90-an masih mempunyai sense of interest yang tinggi untuk masuk ke sekolah-sekolah umum yang dinilainya mempunyai prestise yang lebih baik daripada madrasah / sekolah Islam (Islamic School). Lebih dari itu, dengan masuk ke sekolah-sekolah umum, masa depan siswa akan lebih terjamin ketimbang masuk ke madrasah atau sekolah Islam. Hal itu bisa jadi disebabkan oleh image yang menggambarkan lulusan-lulusan madrasah tidak mampu bersaing dengan lulusan-lulusan dari sekolah-sekolah umum. Lulusan madrasah hanya mampu menjadi seorang guru agama atau ustdaz. Sedangkan lulusan dari sekolah umum mampu masuk ke sekolah-sekolah umum yang lebih bonafide dan mempunyai jaminan lapangan pekerjaan yang pasti.
Dari perkembangan di awal abad ke-20, penting ditegaskan, madrasah tampak telah mengalami beberapa perubahan penting di banding masa sebelumnya. Di sini, seperti terlihat dari beberapa contoh di atas, madrasah telah berkembang menjadi satu lembaga pendidikan dengan ciri-ciri yang dikenal kini. Model madrasah ini didirikan sebagai bagian dari upaya umat untuk mengadopsi sistem pendidikan modern yang diperkenalkan kolonial, dan pada saat yang sama karena ketidakpuasan terhadap lembaga pendidikan nasional yang telah berdiri sebelumnya. Oleh karena itu, gagasan modernisasi dan kemajuan merupakan bagian inheren dari perkembangan madrasah saat itu. Madrasah merupakan salah satu perwujudan hasrat muslim untuk melangkah pada dunia baru yang disebut dengan alam kemajuan.[10]

Sumbangan lain dari madrasah dalam pembangunan pendidikan nasional adalah dalam penuntasan wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas) sembilan tahun. Program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun pada pendidikan madrasah dikembangkan melalui Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Kontribusi madrasah terhadap penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun cukup lumayan besar mencapai 17%. Meskipun belum tercapai, namun diharapkan sampai tahun 2009 dapat dituntaskan. Kriteria tuntas adalah angka partisipasi kasar (APK) mengikuti pendidikan SMP atau Madrasah Tsanawiyah mencapai 95%. Sampai tahun 2008 baru mencapai sekitar 92,3%. Angka sisanya yaitu sekitar 2,7 % diharapkan pada tahun 2009 dapat dicapai angka partisipasi kasar pendidikan dasar sembilan tahun hingga 95%. Artinya wajib belajar pendidikan dasar pendidikan dasar sembilan tahun itu dianggap tuntas, meskipun 95% masih ada sisanya 5%. Angka 5% dari 50 juta anak usia sekolah bisa dikatakan lumayan banyak yang tercecer, tetapi bisa dianggap selesai. Sedangkan jika dilihat secara keseluruhan termasuk Madrasah Aliyah, kontribusi madrasah dari mulai MI sampai MA terhadap angka partisipasi mengikuti pendidikan di berbagai jenjang pendidikan secara agregat atau secara keseluruhan itu bisa mencapai 21%. Bukan angka sedikit 21% dari sekitar 60 juta penduduk. Artinya masyarakat terutama madrasah telah memberikan andil pada upaya-upaya pemerintah menyediakan lembaga-lembaga pendidikan yang cukup besar. Di samping kenaikan APK, indikator lain dari percepatan penuntasan program wajib

  1. 4. Isu-isu Eksistensi Madrasah dan Implikasinya

Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia relatif lebih muda dibanding pesantren. Madrasah pernah berkembang pada abad 11 atau pertengahan sejarah Islam, khususnya di wilayah Baghdad seperti Madrasah Nizhamiyah.[11] Madrasah berdiri atas inisiatif dan realisasi dari pembaharuan sistem pendidikan Islam yang telah ada.

Pembaharuan tersebut menurut Mastuhu, meliputi tiga hal, yaitu: (1)Usaha menyempurnakan sistem pendidikan pesantren, (2) Penyesuaian dengan sistem pendidikan Barat, dan (3) Upaya menjembatani antara sistem pendidikan tradisional pesantren dan sistem pendidikan Barat.

Bentuk terkini pendidikan Islam yang mulai berkembang sejak akhir abad ke-20 yaitu model sekolah Islam Unggulan. Dimulai dengan dikembangkannya pendidikan dilingkungan al-Azhar oleh yayasan pendidikan Islam al-Azhar pada sekitar tahun 1980 an, model pendidikan al-Azhar ini kemudian banyak diadopsi oleh berbagai lembaga pendidikan Islam lainnya yang terdapat hamper pada semua daerah yang didukung oleh basis komunitas muslim. Sekolah al-Azhar mengandalkan pendidikan Islam bagi pembentukan pribadi muslim didukung oleh environment keislaman dengan keberadaan masjid al-Azhar yang menjalankan berbagai program dan aktivitas keislaman tersebut. Namun, model sekolah unggulan Islam mutakhir mulai menerapkan pola pendidikan diasramakan (boardingschool) seperti dalam tradisi pesantren yang dilengkapi berbagai infrastruktur pendidikan dengan adanya masjid, laboratorium dan lain-lain.

Perkembangan sekolah Islam Unggulan terutama berkaitan dengan makin meningkatnya gairah (semangat) keagamaan masyarakat muslim Indonesia pada decade akhir abad ke-20. Makin meningkatnya jumlah generasi terdidik yang berasal dari keluarga muslim, terutama mereka yang menyelesaikan pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi umum, telah ikut mendorong meningkatnya kebutuhan mereka mendapatkan pendidikan bagi anak-anaknya yang selain dapat memberikan bekal penguasaan pengetahuan umum juga mapu memberikan pendidikan agama sebagai bekal bagi pembentukan pribadi muslim. Hal itu menjadi factor pendorong meluasnya pembentukan sekolah-sekolah Islam unggulan bagi anak-anak keluarga muslim terdidik.

Lembaga pendidikan Islam madrasah, sejak tumbuhnya merupakan lembaga pendidikan yang mandiri, tanpa bantuan dan bimbingan pemerintah colonial Belanda. Setelah Indonesia merdeka, madrasah dan pesantren mulai mendapat perhatian dan pembinaan dari pemerintah Republik Indonesia. UUD 1945 mengamanatkan, agar mengusahakan terbentuknya suatu system pendidikan dan pengajaran yang bersifat nasional. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan madrasah sesuai dengan sasaran agar madrasah dapat bantuan materil dan bimbingan dari pemerintah, maka kementrian agama mengeluarkan peraturan menteri agama No. 1 tahun 1952. Menurut ketentuan ini, yang dinamakan madrasah ialah tempat pendidikan yang diatur sebagai sekolah dan memuat pendidikan dan ilmu pengetahuan agama Islam menjadi pokok pengajarannya. Berdasarkan ketentuan tersebut, jenjang pendidikan pada madrasah tersusun sebagai berikut:

1. Madrasah rendah atau sekarang lebih dikenal dengan madrasah ibtidaiyah, ialah madrasah yang memuat pendidikan dan ilmu pengetahuan agama Islam menjadi pokok pengajarannya, lama pendidikan 6 tahun

2. Madrasah lanjutan tingkat pertama atau sekarang dikenal sebagai madrasah tsanawiyah ialah madrasah yang menerima murid-murid tamatan madrasah rendah atau sederajat dengan itu, serta member pendidikan dalam ilmu pengetahuan agama islam sebagai pokok, lama pendidikan 3 tahun.

3. Madrasah lanjutan atas atau sekarang dikenal sebagai madrasah aliyah, ialah madrasah yang menerima murid-murid tamatan madrasah lanjutan pertama atau yang sederajat memberi pendidikan dalam ilmu pengetahuan agama Islam sebaagai pokok, lama belajar 3 tahun.
Sebelum mengalami perkembangan seperti sekarang ini, madrasah hanya diperuntukkan bagi kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah. Namun sejak mulai mengadopsi sistem pendidikan moderen yang berasal dari Barat sambil tetap mempertahankan yang sudah ada dan dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung iklim pembelajaran siswa dan pengajaran siswa, madrasah (atau sekolah Islam) sekarang sudah sangat diminati oleh kalangan masyarakat kelas menengah ke atas. Apalagi madrasah sekarang ini sudah banyak yang menjalankan dengan apa yang disebut sebagai English Daily. Semua guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar harus berbicara dalam bahasa Inggris. Madrasah seperti Madrasah Pembangunan UIN Jakarta, Sekolah Islam Al-Azhar, sekolah Islam Al-Izhar, Sekolah Islam Insan Cendekia, dan lain sebagainya adalah beberapa contoh diantaranya.[12]

Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam, kini ditempatkan sebagai pendidikan sekolah dalam sistem pendidikan nasional. Di dalam salah satu diktum surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri (Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Menteri Dalam Negeri) disebutkan perlunya diambil langkah-langkah untuk meningkatkan mutu pendidikan pada madrasah agar lulusan dari madrasah dapat melanjutkan ke sekolah-sekolah umum, dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi (Mastuhu, 1999: 226)

Untuk memperkuat eksistensi Madrasah, pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa Keputusan Presiden No. 34 Tahun 1972 tentang ”Tanggung jawab Fungsional Pendidikan dan Latihan ”. Isi keputusan ini pada intinya menyangkut tiga hal sebagai berikut (Maksum,1999: 146):[13]

1. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bertugas dan bertanggungjawab atas pembinaan pendidikan umum dan kejuruan

2. Menteri Tenaga Kerja betugas dan bertanggung jawab atas pembinaan latihan keahlian dari kejuruan tenaga kerja bukan pegawai negeri

3. Ketua Lembaga Administrasi Negara bertugas dan bertanggung jawab atas pembinaan pendidikan dan latihan khusus untuk pegawai negeri

Dua tahun berikutnya, Keppres itu dipertegas dengan Inpres No. 15 Tahun 1974 yang mengatur realisasinya. Bagi Departemen Agama yang mengelola pendidikan Islam, termasuk madrasah, Keputusan ini menimbulkan ”masalah”. Dalam Tap MPRS No. 27 Tahun 1966 dinyatakan bahwa agama merupakan salah satu unsur mutlak dalam pencapaian tujuan Nasional. Selain itu, dalam Tap MPRS No.2 Tahun 1960 ditegaskan bahwa madarasah adalah lembaga pendidikan otonom di bawah pengawasan Menteri Agama.

Secara implisit ketentuan ini mengharuskan diserahkannya penyelenggaraan pendidikan madrasah yang sudah menggunakan kurikulum nasional kepada Kementerian Pendidikan dan

Kebudayaan(sekarang Departemen Pendidikan Nasional). Secara yuridis, keberadaan madrasah dijamin oleh undang-undang SKB tiga menteri (menag, Mendikbud dan Mendagri) Tahun 1975 kedudukan madrasah sama dan sejajar dengan sekolah formal lainnya. Demikian juga dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 1989 ditegaskan ulang bahwa madrasah adalah sekolah umum yang berciri khas agama Islam. Kurikulum yang digunakan pun secara umum mengacu kepada kurikulum Dinas dan ditambah kurikulum agama yang dikeluarkan oleh Depag. Oleh karena itu secara teoritis, madrasah seharusnya mampu memberikan nilai lebih bagi para siswanya dibanding sekolah umum (Mifathul Haq, 2002: 26).[14]

Dalam perkembangannya, sistem pendidikan Islam madrasah sudah tidak menggunakan sistem pendidikan yang sama dengan sistem pendidikan Islam pesantren. Karena di lembaga pendidikan madrasah ini sudah mulai dimasukkan pelajaran-pelajaran umum seperti sejarah ilmu bumi, dan pelajaran umum lainnya. Sedangkan metode pengajarannya pun sudah tidak lagi menggunakan sistem halaqah, melainkan sudah mengikuti metode pendidikan moderen barat, yaitu dengan menggunakan ruang kelas, kursi, meja, dan papan tulis untuk proses belajar mengajar. Melihat kenyataan sejarah, kita tentunya bangga dengan sistem dan lembaga pendidikan Islam madrasah yang ada di Indonesia. Apalagi dengan metode dan kurikulum pelajarannya yang sudah mengadaptasi sistem pendidikan serta kurikulum pelajaran umum. Peran dan kontribusi madrasah yang begitu besar itu pada gilirannya—sejak awal kemerdekaan—sangat terkait dengan peran Departemen Agama yang mulai resmi berdiri 3 Januari 1946. Lembaga inilah yang secara intensif memperjuangkan politik pendidikan Islam di Indonesia.

Lembaga inilah yang secara intensif memperjuangkan politik pendidikan Islam di Indonesia. Orientasi usaha Departemen Agama dalam bidang pendidikan Islam bertumpu pada aspirasi umat Islam agar pendidikan agama diajarkan di sekolah-sekolah, di samping pada pengembangan madrasah itu sendiri. Perkembangan serta kemajuan pendidikan Islam terus meningkat secara signifikan[15]

Sebagai jembatan antara model pendidikan pesantren dan model pendidikan sekolah, madrasah menjadi sangat fleksibel diakomodasikan dalam berbagai lingkungan. Di lingkungan pesantren, madrasah bukanlah barang asing, karena memang lahirnya madrasah merupakan inovasi model pendidikan pesantren. Dengan kurikulum yang disusun rapi, para santri lebih mudah mengetahui sampai dimana tingkat penguasaan materi yang dipelajari. Dengan metode pengajaran modern yang disertai audiovisual, kesan kumuh, jorok, ortodok, dan exclusive yang selama ini melekat pada pesantren sedikit demi sedikit juga semakin terkikis.[16]

Satu lagi yang menarik dari madrasah adalah pengembangan madrasah tidak hanya dilakukan secara kuantitatif, tetapi juga dengan peningkatan kualitas yang cukup signifikan. Manajemen profesional telah menjadi andalan. Pembagian kewenangan antara spritualis (kyai) dan manajer administratif mendukung terciptanya suasana kerja yang harmonis. Keberadaan madrasah di pusat-pusat kota juga banyak yang tampil dengan inovasi baru. Hal ini bukan saja telah membuat masyarakat tidak alergi lagi dengan menyebut nama madrasah, tetapi juga dapat diartikan sebagai naiknya prestise madrasah.[17]

  1. 5. Solusi yang Ditawarkan

Dalam konteks kekinian, image madrasah atau sekolah Islam telah berubah. Madrasah sekarang tidak lagi menjadi sekolah Islam yang hanya diminati oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Melainkan sudah diminati oleh siswa-siswa yang berasal dari masyarakat golongan kelas menengah ke atas. Hal itu disebabkan sekolah-sekolah Islam atau madrasah elit yang sejajar dengan sekolah-sekolah umum sudah banyak bermunculan. Diantara madrasah atau sekolah Islam itu adalah; Madrasah Pembangunan UIN Jakarta, Sekolah Islam al-Azhar, Sekolah Islam al-Izhar, Sekolah Islam Insan Cendekia, Madania School, dan lain sebagainya.
Kemampuan bahasa asing yang bagus di era globalisasi seperti sekarang ini mutlak diperlukan. Oleh karena itu, di beberapa madrasah dan sekolah Islam itu kemudian tidak hanya memberikan pengetahuan bahasa Inggris saja. Lebih dari itu, pengetahuan bahasa asing lainnya juga absolut diajarkan oleh madrasah seperti bahasa Arab misalnya. Atau bahasa Jepang, Mandarin dan lainnya pada tingkat Madrasah Aliyah. Disamping itu, dalam menghadapi era globalisasi, madrasah sebagai institusi pendidikan Islam tidak lantas cukup merasa puas atas keberhasilan yang telah dicapainya dengan memberikan pengetahuan bahasa asing kepada para siswanya dan desain kurikulum pendidikan yang kompatibel dan memang dibutuhkan oleh madrasah. Akan tetapi, justru madrasah harus terus berpikir ulang secara berkelanjutan yang mengarah kepada progresivitas madrasah dan para siswanya. Oleh karena itu, dalam pendidikan madrasah memang sangat diperlukan pendidikan keterampilan. Pendidikan keterampilan ini bisa berbentuk kegiatan ekstra kurikuler atau kegiatan intra kurikuler yang berupa pelatihan atau kursus komputer, tari, menulis, musik, teknik, montir, lukis, jurnalistik atau mungkin juga kegiatan olahraga seperti sepak bola, basket, bulu tangkis, catur dan lain sebagainya. Dari pendidikan keterampilan nantinya diharapkan akan berguna ketika para siswa lulus dari madrasah. Karena jika sudah dibekali dengan pendidikan keterampilan, ketika ada siswa yang tidak dapat melanjutkan sekolahnya ke tingkat yang lebih tinggi seperti universitas misalnya, maka siswa dengan bekal keterampilan yang sudah pernah didapatnya ketika di madrasah tidak akan kesulitan lagi dalam upaya mencari pekerjaan.  Jadi, kiranya penting bagi madrasah untuk mengembangkan pendidikan keterampilan tersebut. Sebab, dengan begitu siswa akan langsung dapat mengamalkan ilmunya setelah lulus dari madrasah atau sekolah Islam. Namun semua itu tentunya harus dilakukan secara profesional. Dengan adanya pendidikan keterampilan di sekolah-sekolah Islam atau madrasah, lulusan madrasah diharapkan mampu merespon tantangan dunia global yang semakin kompetitif. Dan nama serta citra madrasah juga tetap akan terjaga. Karena ternyata alumni-alumni madrasah mempunyai kompetensi yang tidak kalah kualitasnya dengan alumni sekolah-sekolah umum. [18]

`Munculnya kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi dalam bidang pendidikan yang bertujuan untuk memberi peluang kepada peserta didik untuk memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat, tidak mengagetkan para pengelola madrasah. Madrasah juga lebih survive dalam kondisi perubahan kurikulum yang sangat cepat, karena kehidupan madrasah tidak taklid kepada kurikulum nasional. Manajemen desentralisasi memberikan kewenangan kepada sekolah untuk melaksanakan PBM sesuai dengan kebutuhan yang dikondisikan untuk kebutuhan lokal. Dengan demikian, maka madrasah mendapatkan angin segar untuk bisa lebih exist dalam mengatur kegiatannya tanpa intervensi pemerintah pusat dalam upaya mencapai peningkatan mutu pendidikannya. Melalui proses belajar mengajar yang didasari dengan kebutuhan lokal, kurikulum tidak terbebani dengan materi lain yang sesungguhnya belum atau bahkan tidak relevan bagi peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta didik pada jenjang tersebut. Efektivitas proses belajar mengajar diharapkan bisa tercapai sehingga menghasilkan prestasi belajar yang lebih tinggi.

Adapun meningkatnya keterlibatan pemerintah dalam pendidikan menyebabkan para pengelola madrasah memfokuskan pada program-program tambahan sebagai sarana meningkatkan kualitas pendidikan. Program remidial dan kursus untuk meningkatkan perkembangan kognitif, sosial dan emosional dari siswa yang berkemampuan rendah dalam taraf perekonomian dan hasil belajar merupakan program-program kompensasi, bukan untuk menggantikan program-program yang ada.

Sebagai lembaga pendidikan yang lahir dari masyarakat, madrasah lebih mudah mengintegrasikan lingkungan eksternal ke dalam organisasi pendidikan, sehingga dapat menciptakan suasana kebersamaan dan kepemilikan yang tinggi dengan keterlibatan yang tinggi dari masyarakat. Keterlibatan masyarakat bukan lagi terbatas seperti peranan orang tua siswa (POMG) yang hanya melibatkan diri di tempat anaknya sekolah. Melainkan keterlibatan yang didasarkan kepada kepemilikan lingkungan.

Sesuai dengan jiwa desentralisasi yang menyerap aspirasi dan partisipasai masyarakat dalam pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan, masyarakat dituntut untuk memiliki kepedulian yang tinggi memperhatikan lembaga pendidikan yang berada di lingkungan setempat. Hal ini dapat menumbuhkan sikap kepemilikan yang tinggi dengan memberikan kontribusi baik dalam bidang material, kontrol manajemen, pembinaan, serta bentuk partisipasi lain dalam rangka meningkatkan eksistensi madrasah yang selanjutnya menjadi kebanggaan lingkungan setempat.

Akhirnya madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam yang hidup dari, oleh dan untuk masyarakat belum mendapatkan sentuhan pikiran dan tangan kita semua. Peningkatan mutu tidak akan terealisir tanpa andil semua pihak. Untuk itu, demi peningkatan mutunya maka madrasah perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas bahwasanya diketahui latar belakang berdirinya madrasah di Indonesia ini adalah karena semakin berkembangnya mesin pendidikan. Yaitu kesadaran untuk menggabungkan antara pendidikan agama dan pendidikan umum agar tidak tertinggal akan perkembangan zaman.

Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam sebagai jembatan antara pendidikan pesantren salafiayah yang sepenuhnya diarahkan pada tafaqquh fiddin dan sekolah umum yang lebih mengutamakan kurikulum pengetahuan umum.

Bentuk terkini pendidikan Islam yang mulai berkembang sejak akhir abad ke-20 yaitu model sekolah Islam Unggulan. Perkembangan sekolah Islam Unggulan terutama berkaitan dengan makin meningkatnya gairah (semangat) keagamaan masyarakat muslim Indonesia.

Dalam pendidikan madrasah sangat diperlukan pendidikan keterampilan. Pendidikan keterampilan ini bisa berbentuk kegiatan ekstra kurikuler atau kegiatan intra kurikuler. Dengan adanya pendidikan keterampilan di sekolah-sekolah Islam atau madrasah, lulusan madrasah diharapkan mampu merespon tantangan dunia global yang semakin kompetitif.

  1. Saran

Dalam penyusunan laporan ini tentunya tidak luput dari kesalahan, baik dari segi materi maupun penulisan. Kiranya laporan ini masih membutuhkan perbaikan guna menjadi bahan bacaan dan dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi penulis khususnya, dan bagi pembaca umumnya. Oleh karena itu penulis sangat mengaharapkan kritik dan saran guna memperbaiki laporan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Jurnal Tarbiyah “Kebangkitan Madrasah (Telaah Historis Madrasah Nizamiyah)” oleh Asep Kurniawan, Staf Pengajar STAIN Cirebon.Edisi XX.Vol 1.Juni 2007

Raharjo.”MADRASAH SEBAGAI THE CENTRE OF EXCELLENCE

Djamas.Nurhayati.”Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia Pasca  Kemerdekaan”.Jakarta:Rajawali Pers.2009

Djoned.Marwati.”Sejarah Nasional Indonesia”.1984.Jakarta:Balai Pustaka.

Jurnal Peran Strategi Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam di Indonesia oleh SriHaningsih, Dosen Fak. Ilmu Agama Islam UII.No.1.Vol.1.2008.

Mansur.Mahfud Junaedi.”Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia”.Jakarta:Dep.Agama RI.2005.hal.98

http://www.elfilany.com/2010/11/eksistensi-madrasah-dalam-sejarah.html

http://manshur-rasyid.blogspot.com/2011/08/perkembangan-madrasah-di-indonesia.html


[1] Jurnal Tarbiyah “Kebangkitan Madrasah (Telaah Historis Madrasah Nizamiyah)” oleh Asep Kurniawan, Staf Pengajar STAIN Cirebon.Edisi XX.Vol 1.Juni 2007.hal.15

[2] Djamas.Nurhayati.”Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia Pasca Kemerdekaan”.Jakarta:Rajawali Pers.2009.hal.4

[3] Jurnal Tarbiyah “Kebangkitan Madrasah (Telaah Historis Madrasah Nizamiyah)” oleh Asep Kurniawan, Staf Pengajar STAIN Cirebon.Edisi XX.Vol 1.Juni 2007.hal.16

[4] Ibid.hal.30

[5] Djoned.Marwati.”Sejarah Nasional Indonesia”.1984.Jakarta:Balai Pustaka.hal.173

[6] Jurnal Peran Strategi Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam di Indonesia oleh SriHaningsih, Dosen Fak. Ilmu Agama Islam UII.No.1.Vol.1.2008.hal.30

[7] Jurnal Peran Strategi Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam di Indonesia oleh SriHaningsih.No.1.Vol.1.2008.hal.32

[8] Mansur.Mahfud Junaedi.”Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia”.Jakarta:Dep.Agama RI.2005.hal.98

[9] http://adit680lp.blogspot.com/2010/06/madrasah-sebagai-lembaga-pendidikan.html

[10] http://adit680lp.blogspot.com/2010/06/madrasah-sebagai-lembaga-pendidikan.html

[11] Makdisi.George.”The Rise of College Institution of Islam and The West”.Edinburgh:University Press.1981.hal.40

[12] http://adit680lp.blogspot.com/2010/06/madrasah-sebagai-lembaga-pendidikan.html

[13] Jurnal Peran Strategi Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam di Indonesia oleh SriHaningsih.No.1.Vol.1.2008.hal.33

[14] Ibid.hal.34

[15] http://manshur-rasyid.blogspot.com/2011/08/perkembangan-madrasah-di-indonesia.html

[16] Raharjo.”Madrasah Sebagai The Center of Excellence”.hlm.226

[17] Ibid.hlm 128

[18] http://adit680lp.blogspot.com/2010/06/madrasah-sebagai-lembaga-pendidikan.html



Jumat, Oktober 21st, 2011

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA RASULULLAH DAN SAHABAT

BAB I

PENDAHULUAN

Mempelajari Sejarah Pendidikan Islam sangat penting, bahkan wajib dipelajari terutama bagi mahasiswa Pendidikan Agama Islam maupun orang-orang yang berkecimpung di dalamnya. Karena dengan mempelajari sejarah pendidikan Islam ini kita dapat mengetahui bagaimana asal mula pendidikan Islam ini berkembang, serta bagaimana cara mendidikan dan mengajarkannya. Khususnya pendidikan Islam pada zaman nabi Muhammad SAW yang merupakan perintis pendidikan Islam di bumi ini. Karena kita tahu bahwasanya nabi Muhammad adalah paling utama-utamanya pendidik di bumi ini.

Sebagai umat islam, hendaknya kita mengetahui sejarah tersebut guna menumbuhkembangkan wawasan generasi mendatang di dalam pengetahuan sejarah tersebut, serta sebagai landasan kita dalam bergelimut di bidang pendidikan Islam.  Sejarah Pendidikan Islam pada masa Nabi Muhammad SAW terdapat dua periode. Yaitu periode Makkah dan periode Madinah.

Pada periode Makkah, Nabi Muhammad lebih menitik beratkan pembinaan moral, akhlak serta tauhid kepada masyarakat Arab yang bermukim di Makkah dan pada peroide di Madinah Nabi Muhammad SAW melakukan pembinaan di bidang sosial politik. Disinilah pendidikan islam berkembang pesat.

BAB II

PEMBAHASAN

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA RASULULLAH DAN SAHABAT

1.Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah

Pendidikan islam pada masa Rasulullah dapat dibedakan menjadi 2 periode:

  1. Periode Makkah
  2. Periode Madinah
  1. Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah di Makkah

Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama di Gua Hira, Makkah pada tahun 610 M. Dalam wahyu itu termaktub ayat al-qur’an yang artinya: “Bacalah (ya Muhammad) dengan nama tuhanmu yang telah menjadikan (semesta alam). Dia menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmu maha pemurah. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya[1].

Kemudian disusul oleh wahyu yang kedua termaktub ayat al-qur’an yang artinya: Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah. dan perbuatan dosa tinggalkanlah. dan janganlah kamu member (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah[2].

Dengan turunnya wahyu itu Nabi Muhammad SAW telah diberi tugas oleh Allah, supaya bangun melemparkan kain selimut dan menyingsingkan lengan baju untuk member peringatan dan pengajaran kepada seluruh umat manusia, sebagai tugas suci, tugas mendidik dan mengajarkan islam.kemudian kedua wahyu itu diikuti oleh wahyu-wahyu yang lain. Semuanya itu disampaikan dan diajarkan oleh Nabi, mula-mula kepada karib kerabatnya dan teman sejawatnya dengan sembunyi-sembunyi.

Setelah banyak orang memeluk islam, lalu Nabi menyediakan rumah Al- Arqam bin Abil Arqam untuk tempat pertemuan sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutnya. di tempat itulah pendiikan islam pertama dalam sejarah pendidian islam.disanalah Nabi mengajarkan dasar-dasar atau pokok-pokok agama islam kepada sahabat-sahabatnya dan membacakan wahyu-wahyu (ayat-ayat) alqur’an kepada para pengikutnya serta Nabi menerima tamu dan orang-orang yang hendak memeluk agama islam atau menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan agama islam. Bahkan disanalah Nabi beribadah (sholat) bersama sahabat-sahabatnya[3].

Lalu turunlah wahyu untuk menyuruh kepada Nabi, supaya menyiarkan agama islam kepada seluruh penduduk jazirah Arab dengan terang-terangan. Nabi melaksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Banyak tantangan dan penderitaan yang diterima Nabi dan sahabat-sahabatnya. Nabi tetap melakukan penyiaran islam dan mendidik sahabat-sahabatnya dengan pendidikan islam.

Dalam masa pembinaan pendidikan agama islam di Makkah Nabi Muhammad juga mengajarkan alqur’an karena al-qur’an merupakan inti sari dan sumber pokok ajaran islam. Disamping itu Nabi Muhamad SAW, mengajarkan tauhid kepada umatnya[4].

Intinya pendidikan dan pengajaran yang diberikan Nabi selama di Makkah ialah pendidikan keagamaan dan akhlak serta menganjurkan kepda manusia, supaya mempergunakan akal pikirannya memperhatikan kejadian manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan alam semesta sebagai anjuran pendidikan ‘akliyah dan ilmiyah.

Mahmud Yunus dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam, menyatakan bahwa pembinaan pendidikan islam pada masa Makkah meliputi:

  1. Pendidikan Keagamaan

Yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata jangan dipersekutukan                                 dengan nama berhala.

  1. Pendidikan Akliyah dan Ilmiah

Yaitu mempelajari kejadian manusiadari segumpal darah dan kejadian alam                                    semesta.

  1. Pendidikan Akhlak dan Budi pekerti

Yaitu Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada sahabatnya agar berakhlak                               baik sesuai dengan ajaran tauhid.

  1. Pendidikan Jasmani atau Kesehatan.

Yaitu mementingkan kebersihan pakaian, badan dan tempat kediaman.[5]

  1. Pendidikan Islam pada masa Rasulullah di Madinah

Berbeda dengan periode di Makkah, pada periode Madinah islam merupakan kekuatan politik. Ajaran islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di Madinah. Nabi Muhammad juga mempunyai kedudukan, bukan saja sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala Negara.

Cara Nabi melakukan pembinaan dan pengajaran pendidikan agaam islam di Madinah adalah sebagai berikut:

  1. Pembentukan dan pembinaan masyarakat baru, menuju satu kesatuan sosial dan politik.

Nabi Muhammad SAW mulai meletakkan dasar-dasar terbentuknya masyarakat yang bersatu padu secara intern (ke dalam), dan ke luar diakui dan disegani oleh masyarakat lainnya (sebagai satu kesatuan politik). Dasar-dasar tersebut adalah:

  1. Nabi Muhammad saw mengikis habis sisa-sisa permusuhan dan pertentangan anatr suku, dengan jalan mengikat tali persaudaraan diantara mereka.nabi mempersaudarakan dua-dua orang, mula-mula diantara sesama Muhajirin, kemudian diantara Muhajirin dan Anshar. Dengan lahirnya persaudaraan itu bertambah kokohlah persatuan kaum muslimin.[6]
  2. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nabi Muhammad menganjurkan kepada kaum Muhajirin untuk berusaha dan bekerja sesuai dengan kemampuan dan pekerjaan masing-masing seperti waktu di Makkah.
  3. Untuk menjalin kerjasama dan saling menolong dlam rangka membentuk tata kehidupan masyarakat yang adil dan makmur, turunlah syari’at zakat dan puasa, yang merupakanpendidikan bagi warga masyarakat dalam tanggung jawab sosial, bnaik secara materil maupun moral.
  4. Suatu kebijaksanaan yang sangat efektif dalam pembinaan dan pengembangan masyarakat baru di Madinah, adalah disyari’atkannya media komunikasi berdasarkan wahyu, yaitu shalat juma’t yang dilaksanakan secara berjama’ah dan adzan. Dengan sholat jum’at tersebut hampir seluruh warga masyarakat berkumpul untuk secara langsung mendengar khutbah dari Nabi Muhammad SAW dan shalat jama’ah jum’at

Rasa harga diri dan kebanggaan sosial tersebut lebih mendalam lagi setelah Nabi Muhammad SWA menapat wahyu dari Allah untuk memindahkan kiblat dalam shalat dari Baitul Maqdis ke Baitul Haram Makkah, karena dengan demikian mereka merasa sebagai umat yang memiliki identitas.[7]

Setelah selesai Nabi Muhammad mempersatukan kaum muslimin, sehingga menjadi bersaudara, lalu Nabi mengadakan perjanjian dengan kaum Yahudi, penduduk Madinah. Dalam perjanjian itu ditegaskan, bahwa kaum Yahudi bersahabat dengan kaum muslimin, tolong- menolong , bantu-membantu, terutama bila ada seranga musuh terhadap Madinah. Mereka harus memperhatikan negri bersama-sama kaum Muslimin, disamping itu kaum Yahudi merdeka memeluk agamanya dan bebas beribadat menurut kepercayaannya. Inilah salah satu perjanjian persahabatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.[8]

  1. Pendidikan sosial politik dan kewarganegaraan.

Materi pendidikan sosial dan kewarnegaraan islam pada masa itu adalah pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam konstitusi Madinah, yang dalam prakteknya diperinci lebih lanjut dan di sempurnakan dengan ayat-ayat yang turun Selama periode Madinah.

Tujuan pembinaan adalah agar secara berangsur-angsur, pokok-pokok pikiran konstitusi Madinah diakui dan berlaku bukan hanya di Madinah saja, tetapi luas, baik dalam kehidupan bangsa Arab maupun dalam kehidupan bangsa-bangsa di seluruh dunia.

  1. Pendidikan anak dalam islam

Dalam islam, anak merupakan pewaris ajaran islam yang dikembangkan oleh Nabi Muhammad saw dan gnerasi muda muslimlah yang akan melanjutkan misi menyampaikan islam ke seluruh penjuru alam. Oleh karenanya banyak peringatan-peringatan dalam Al-qur’an berkaitan dengan itu. Diantara peringatan-peringatan tersebut antara lain:

  • Pada surat At-Tahrim ayat 6 terdapat peringatan agar kita menjaga diri dan anggota keluarga (termasuk anak-anak) dari kehancuran (api neraka)
  • Pada surat An-Nisa ayat 9, terdapat agar janagan meninggalkan anak dan keturunan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya menghadapi tantangan hidup.
  • Pada surat Al-Furqan ayat 74, Allah SWT memperingatkan bahwa orang yang mendapatkan kemuliaan antara lain adalah orang-orang yang berdo’a dan memohon kepada Allah SWT, agar dikaruniai keluarga dan anak keturunan yang menyenangkan hati.[9]

Adapun garis-garis besar materi pendidikan anak dalam islam yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah SWT dalam surat Luqman ayat 13-19 adalah sebagai berikut:

  1. Pendidikan Tauhid
  2. Pendidikan Shalat
  3. Pendidikan adab sopan dan santun dalam bermasyarakat
  4. Pendidikan adab dan sopan santun dalam keluarga
  5. Pendidikan kepribadian[10]
  6. Pendidikan kesehatan
  7. Pendidikan akhlak.[11]

Perbedaan ciri pokok pembinaan pendidikan islam periode kota Makkah dan kota Madinah:

  • Periode kota Makkah:

Pokok pembinaan pendidikan islam di kota Makkah adalah pendidikan tauhid, titik beratnya adalah menanamkan nilai-nilai tauhid ke dalam jiwa setiap individu muslim, agar jiwa mereka terpancar sinar tauhid dan tercermin dalam perbuatan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.

  • Periode kota Madinah:

Pokok pembinaan pendidikan islam di kota Madinah dapat dikatakan sebagai pendidikan sosial dan politik. Yang merupakan kelanjutan dari pendidikan tauhid di Makkah, yaitu pembinaan di bidang pendidikan sosial dan politik agar dijiwai oleh ajaran , merupakan cermin dan pantulan sinar tauhid tersebut.

  1. Kurikulum Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah SAW

Mengindentifikasikan kurikulum pendidikan pada zaman Rasulullah terasa sulit, sebab Rasul mengajar pada sekolah kehidupan yang luas tanpa di batasi dinding kelas. Rasulullah memanfaatkan berbagai kesempatan yang mengandung nilai-nilai pendidikan dan rasulullah menyampaikan ajarannya dimana saja seperti di rumah, di masjid, di jalan, dan di tempat-tempat lainnya.

Sistem pendidikan islam lebih bertumpu kepada Nabi, sebab selain Nabi tidak ada yang mempunyai otoritas untuk menentukan materi-materi pendidikan islam.Dapat dibedakan menjadi dua periode:

  1. Makkah
  • Materi yang diajarkan hanya berkisar pada ayat-ayat Makiyyah sejumlah 93 surat dan petunjuk-petunjuknya yang dikenal dengan sebutan sunnah dan hadits.
  • Materi yang diajarkan menerangkan tentang kajian keagamaan yang menitikberatkan pada keimanan, ibadah dan akhlak.
  1. Madinah
  • upaya pendidikan yang dilakukan Nabi pertama-tama membangun lembaga masjid, melalui masjid ini Nabi memberikan pendidikan islam.
  • Materi pendidikan islam yang diajarkan berkisar pada bidang keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan jasmanai dan pengetahuan kemasyarakatan
  • Metode yang dikembangkan oleh Nabi adalah:
  1. Dalam bidang keimanan: melalui Tanya jawab dengan penghayatan yang mendalam dan di dukung oleh bukti-bukti yang rational dan ilmiah.
  2. Materi ibadah : disampaikan dengan metode demonstrasi dan peneladanan sehingga mudah didikuti masyarakat.
  3. Bidang akhlak: Nabi menitikberatkan pada metode peneladanan. Nabi tampil dalam kehidupan sebagai orang yang memiliki kemuliaan dan keagungan baik dalam ucapan maupun perbuatan.[12]
  1. Kebijakan Rasulullah Dalam Bidang Pendidikan

Untuk melaksanakan fungsi utamanya sebagai pendidik, Rasulullah telah melakukan serangkaian kebijakan yang amat strategis serta sesuai dengan situasi dan kondisi.

Proses pendidikan pada zaman Rasulullah berada di Makkah belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Hal yang demikian belum di mungkinkan, kaena pada saat itu Nabi Muhammmad belum berperan sebagai pemimipin atau kepala Negara, bahkan beliau dan para pengikutnya berada dalam baying-bayang ancaman pembunuhan dan kaum kafir quraisy. Selama di Makkah pendidikan berlangsung dari rumah ke rumah secara sembunyi-sembunyi. Diantaranya yang terkenal adalah rumah Al- Arqam. Langkah yang bijaka dilakukan Nabi Muhammad SAW pada tahap awal islam ini adalah melarang para pengikutnya untuk menampakkan keislamannya dalam berbagai hak.tidak menemui mereka kecuali dengan cra sembunyi-sembunyi dalam mendidik mereka.

Setelah masyarakat islam terbentuk di Madinah barulah, barulah pendidikan islam dapat berjalan dengan leluasa dan terbuka secara umum.dan kebijakan yang telah dilakukan Nabi Muhammmad ketika di Madinah adalah:

  1. Membangun masjid di Madinah. Masjid inilah yang selanjutnya digunakan sebagai pusat kegiatan pendidikan dan dakwah.
  2. Mempersatukan berbagai potensi yang semula saling berserakan bahkan saling bermusuhan. Langkah ini dituangkan dalam dokumen yang lebih popular disebut piagam Madinah. Dengan adanya piagam tersebut terwujudlah keadaan masyarakat yang tenang, harmonis dan damai.[13]

2.Pendidikan Islam Pada Masa Kulafa al-Rasyidin

Tahun-tahun pemerintahan Khulafa al-Rasyidin merupakan perjuangan terus menerus antara hak yang mereka bawa dan dakwahkan kebatilan yang mereka perangi dan musuhi. Pada zaman khulafa al-Rasyidin seakan-akan kehidupan Rasulullah SAW itu terulang kembali. Pendidikan islam masih tetap memantulkanAl-Qur’an dan Sunnah di ibu kota khilafah di Makkah, di Madinah dan di berbagai negri lain yang ditaklukan oleh orang-orang islam.[14]

Berikut penguraian tentang pendidikan Islam pada masa Khulafa al- Rasyidin:

  1. Masa Khalifah Abu Bakar as-Siddiq

Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada masa Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya. Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya. Menurut Ahmad Syalabi lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan Kuttab. Kuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa Kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar dan pusat pembelajaran pada masa ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat rasul terdekat.[15]

Lembaga pendidikan Islam masjid, masjid dijadikan sebagai benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan, dan lembaga pendidikan Islam, sebagai tempat shalat berjama’ah, membaca Al-qur’an dan lain sebagainya.

  1. Masa Khalifah Umar bin Khattab

Berkaitan dengan masalah pendidikan, khalifah Umar bin Khattab merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan di kota Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di masjid-masjid dan pasar-pasar serta mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukan itu, mereka bertugas mengajarkan isi Al-qur’an dan ajaran Islam lainnya. Adapun metode yang mereka pakai adalah guru duduk di halaman masjid sedangkan murid melingkarinya.

Pelaksanaan pendidikan di masa Khalifah Umar bin Kattab lebih maju, sebab selama Umar memerintah Negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini disebabkan disamping telah ditetapkannya masjid sebagai pusat pendidikan juga telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota dengan materi yang dikembangkan, baik dari segi ilmu bahasa, menulis, dan pokok ilmu-ilmu lainnya.[16]

Pendidikan dikelola di bawah pengaturan gubernur yang berkuasa saat itu,serta diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, baitulmal dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukan dan dari baitulmal.

  1. Masa Khalifah Usman bin Affan.

Pada masa khalifah Usman bin Affan, pelaksanaan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan Islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah di masa khalifah Umar, diberikan kelonggaran untuk keluar di daerah-daerah yang mereka sukai. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah.

Proses pelaksanaan pola pendidikan pada masa Usman ini lebih ringan dan lebih mudah dijangkau oleh seluruh peserta didik yang ingin menuntut dan belajar Islam dan dari segi pusat pendidikan juga lebih banyak, sebab pada masa ini para sahabat memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.[17]

Tugas mendidik dan mengajar umat pada masa ini diserahkan pada umat itu sendiri, artinya pemerintah tidak mengangkat guru-guru, dengan demikian para pendidik sendiri melaksanakan tugasnya hanya dengan mengharapkan keridhaan Allah.

  1. Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib

Pada masa Ali telah terjadi kekacauan dan pemberontakan, sehingga di masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada saat itu ali tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruhan perhatiannya itu ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat Islam.[18]

Adapun pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafa al-Rasyidin antara lain:

  1. Makkah
  2. Madinah
  3. Basrah
  4. Kuffah
  5. Damsyik (Syam)
  6. Mesir.[19]
  1. Kurikulum Pendidikan Islam Masa khulafa al Rasyidin (632-661M./ 12-41H)

Sistem pendidikan islam pada masa khulafa al-Rasyidin dilakukan secara mandiri,tidak dikelola oleh pemerintah, kecuali pada masa Khalifah Umar bin al;khattab yang turut campur dalam menambahkan materi kurikulum pada lembaga kuttab.

Materi pendidikan islam yang diajarkan pada masa khalifah Al-Rasyidin sebelum masa Umar bin Khattab, untuk pendidikan dasar:

  1. Membaca dan menulis
  2. Membaca dan menghafal Al-Qur’an
  3. Pokok-pokok agama islam, seperti cara wudlu, shalat, shaum dan sebagainya

Ketika Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah, ia menginstruksikan kepada penduduk kota agar anak-anak diajari:

  1. Berenang
  2. Mengendarai unta
  3. Memanah
  4. Membaca dan menghapal syair-syair yang mudah dan peribahasa.

Sedangkan materi pendidikan pada tingkat menengah dan tinggi terdiri dari:

  1. Al-qur’an dan tafsirnya
  2. Hadits dan pengumpulannya
  3. Fiqh (tasyri’)[20]

BAB III

KESIMPULAN

  • Pokok pembinaan pendidikan islam di kota Makkah adalah pendidikan tauhid, titik beratnya adalah menanamkan nilai-nilai tauhid ke dalam jiwa setiap individu muslim, agar jiwa mereka terpancar sinar tauhid dan tercermin dalam perbuatan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.
  • Pokok pembinaan pendidikan islam di kota Madinah dapat dikatakan sebagai pendidikan sosial dan politik. Yang merupakan kelanjutan dari pendidikan tauhid di Makkah, yaitu pembinaan di bidang pendidikan sosial dan politik agar dijiwai oleh ajaran , merupakan cermin dan pantulan sinar tauhid tersebut.
  • Pendidikan pada masa khalifah Abu Bakar tidak jauh berbeda dengan pendidikan pada masa Rasulullah. Pada masa khalifah Unar bin Khattab, pendidikan sudah lebih meningkat dimana pada masa khalifah Umar, guru-guru sudah diangkat dan digaji untuk mengajar ke daerah-daerah yang baru ditaklukan. Pada masa khalifah Usman bin Affan, pendidikan diserahkan pada rakyat dan sahabat tidak hanya terfokus di Madinah saja, tetapi sudah di bolehkan ke daerah-daerah untuk mengajar.pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, pendidikan kurang mendapat perhatian, ini disebabkan pemerintahan Ali selalu dilanda konflik yang berujung kepada kekacauan.

DAFTAR PUSTAKA

Arief,Armai, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam Klasik. Bandung: Penerbit Angkasa,2005.

Langgulung, Hasan, Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Husna, 1988.

Nata, Abuddin, Pendidikan Islam Perspektif Hadits. Ciputat: UIN Jakarta Press, 2005

Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008

Yunus , Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1992

Zuhairini,dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara,cet.9,2008

[1]


[1] (Q.S. Al-Alaq: 1-5)

[2] (Q.S. Al-Mudatsir: 1-7)

[3] Prof. Dr.H. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1992. Hal 6

[4] Dra. Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, cet.9, 2008. Hal 28

[5] Dra.Zuhairini,dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, cet.9,2008 hal 27

[6] Prof.Dr.H.Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta:PT.Raja Grafindo, 1992 Persada,2008. Hal 26

[7] Dra. Zuhairini,dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, cet.9,2008 hal 37

[8] Prof.Dr.H.Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta:PT. Hidakarya Agung, 1992. hal 16

[9] Dra.Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara cet.9,2008 hal 55

[10] Dra. Zuhairini,dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara,cet.9,2008 hal 58

[11]Prof.Dr.H.Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Hidakarya Agung,1992.hal 18

[12] Dr.Armai Arief, MA, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam Klasik. Bandung: Penerbit Angkasa,2005. Hal 135-136

[13] Prof.Dr.H.Abuddin Nata, MA, Pendidikan Islam Perspektif Hadits. Ciputat: UIN Jakarta Press 2005 hal 24

[14] Prof. Dr. Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Husna, 1988. Hal 121

[15] Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M.ag, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008 hal 45

[16] Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M.ag, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008 hal 48

[17] Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M.ag, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008 hal 49

[18] Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M.ag, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008 hal 50

[19] Prof.Dr.H.Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Hidakarya Agung,1992.hal 33

[20]Dr.Armai Arief, MA, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam Klasik. Bandung: Penerbit Angkasa,2005. Hal 137