Archive for » November 28th, 2010«

SANG PENCIPTA

Proses penciptaan alam semesta menurut ajaran Islam bersumber dan berpangkal pada Allah sebagai Al Khaliq (Sang Pencipta), yang menciptakan alam semesta dengan segala isinya, termasuk manusia ini (Q.S. Al-Ra’d: 16, Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaratan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.

Al Zumar: 62, Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Al Hasyr: 24, Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.   dan sebagainnya). Allah telah menciptakan alam semesta ini secara bertahap dan berangsur-angsur (secara evolusi) menurut ketentuan-ketantuan dan hukum-hukum yang diciptakan-Nya. (Q.S. Al Mulk: 3, Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?. Nuh: 15, Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Al Furqon: 25 Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang.). Sebagi Al Khaliq, Allah Juga di sebut “Al Rabb”, Rabb al-alamin, Rabb kulli syai’,. Arti dasar kata “rabb” bisa di terjemahkan dengan tuhan, dan mengandung pengertian sebagai “tarbiyah” (yang menumbuhkembangkan sesuatu secara bertahap dan berangsur-angsur sampai sempurna), juga sebagi “murabbi” (yang mendidik ) (Al-Shiddiqy, I, 1977, hal. 12).

Dengan demikian, sebagai al Rabb al-alamin, Allah adalah yang mengurus, mengatur, memperbaiki proses penciptaan alam semesta ini, dan menjadikannya bertumbuh kembang secara dinamis sampai mencapai tujuan penciptaannya. Fungsi mengurus, menumbuh kembangkan dan sebagainya itu disebut sebagai fungsi rububiyah Allah terhadap alam semesta, yang biasa dipahami sebagai fungsi kependidikan. Jadi, proses penciptaan alam semesta yang berlangsung secara evolusi tersebut pada hakikatnya merupakan perwujudan atau realisasi dari fungsi rububiyah (kependidikan) Allah terhadap alam semesta ini.

Sebgai pemuncak dan penyempurna dari proses penciptaan alam semesta yang berlangsung secara bertahap dan berangsur-angsur itu, Allah telah menciptakan manusia dan menjadikannya sebagai “Khalifah” dimuka bumi (Q.S. Al Baqarah: 30, Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Al An’am: 165 Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).

Khalifah menurut arti dasarnya adalah “penganti, kuasa, atau wakil”. Dengan pengangkatannya menjadi khalifah di bumi ini. Mengandung pengertian bahwa pada hakikatnya kehidupan manusia di alam dunia (bumi) ini mendapat tugas khusus dari Allah untuk menjadi “penganti, wakil atau kuasa-Nya” dalam mewujudkan segala kehendak dan kekuasaannya dimuka bumi, serta segala fungsi dan peranan-Nya terhadap alam semesta ini. Sebagai Al Khaliq sekaligus sebagai Al Rabb, Rabb al alamin, Allah Adalah sumber dari proses penciptaan alam semesta dan pemegang peran dan fungsi rububiyah terhadapnya. Dengan demikian. Status manusia sebagai khalifah mengandung peran sebagai pengemban/pelaksana fungsi penciptaan dan rububiyah-Nya terhadap alam semesta, agar proses penciptaan dan pertumbuhan serta perkembangan alam semesta (dengan segala isinya) ini tetap berlansung secara berkesinambungan den tercapai tujuan penciptaannya.

Agar manusia mampu menjadi khalifah atau sebagai pengemban fungsi penciptaan dan rububiyah-nya terhadap alam semesta, maka Allah telam menciptakan manusia dan menyiapkannya serta meberinya kelengkapan dan sarana yang diperlukan dengan sebaik-baiknya. Allah telah menciptakan manusia sebagai struktur dasar panciptaan yang sebaik-baiknnya (Q.S. At-Tin: 4) sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Allah telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada manusia agar dia mampu melaksanakan fungsi dan tugas hidupnya sebagai khalifah tersebut dengan sebaik-baiknya. Proses penciptaan dan pembimbingan manusia agar mampu melaksanakan tugas kekhalifahan di bumi ini, di sebut sebagai proses dan fungsi rububiyah Allah terhadap manusia. Dan inilah hakikat sebenarnya dan sekaligus merupakan sumber dari pendidikan menurut ajaran Islam.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pada hakiatnya pendidikan Islam itu tidak lain adalah keseluruhan dari proses dan fungsi rububiyah Allah terhadap manusia, sejak dari proses pencipataan serta pertumbuhan dan perkembangannya secara bertahap dan berangsur-angsur sampai sempurna, sampai pengarahan dan pembimbingannya dalam pelaksanaan tugas kekhalifahan tersebut, manusia sendiri bertanggung jawab untuk merealisasikan proses pendidikan Islam (yang hakikatnya proses dan fungsi rububiyah Allah) tersebut dalam dan sepanjang kehidupan nyata di muka bumi (dunia) ini. Dalam hal ini, setiap orang tua atau generasi tua bertanggung jawab untuk menyiapkan anak atau generasi mudanya dan membimbing serta mengarahkannya agar mereka mewarisi dan mengembangkan tugas kekhalifahan tersebut secara berkesinambungan (Q.S. Al Nisa’: 9 Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.).

(Muhaimin. Paradigma pedidikan Islam upaya mengefektifkan pedidikan agama islam di sekolah. PT Remaja Rosdakarya. Bandung. 2008)

(Ahmad Hatta, Ma, DR. Tafsir Qur’an Perkata Dilengkapi Asbabun Nuzul & Terjemah. Maghfirah Pustaka: 2006. Jakarta.)

METODE DESKRIPTIF

Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti setatus sekelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistempeikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskipsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

Definisi

Menurut Whintney (1960), metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajarai masalah-masalah dalam masyarakat serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu setudi komparatif . adakalanya peneliti mengadakan klasifikasi, seerta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu setandar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau factor dan melihat hubungan antara satu factor dengan factor  yang lain. Karenanya, metode deskriptif juga dinamakan studi status (satus study).

Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau setandar-setandar, sehingga penelitian deskriptif ini disebut juga survey normative. Dalam metode deskriptif dapat diteliti masalah normative bersama-sama dengan masalah setatus dan sekaligus membuat perbandingan-perbandingan antar fenomena. Studi demikian dinamakan secara umum sebagai studi atau  penelitian deskriptif. Prespektif waktu yang dijangkau dalam penelitian deskriptif , adalah waktu sekarang, atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden.

Ciri-ciri Metode Deskriptif

Secara harfiyah, metode deskriptif adalah metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian, sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka. Namun, dalam pengertian metode penelitian yang lebih luas, penelitian deskriptif mencakup metode penelitian yang lebih luas di luar metode sejarah dan eksperimental, dan secara lebih umum sering diberi nama, metode survei. Kerja peneliti, bukan saja memberikan gambaran terhadap fenomena-fenomena, tetapi juga menerangkan hubungan, menguji hipotesis-hipotesis, membut predeksi serta mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan. Dalam mengumpulkan data digunakan teknik wawancara, dengan mengunakan schedule questionair ataupun interview guide.

Jenis-jenis Penelitian Deskriptif

Dtinjau dari jenis masalah yang diselidiki, teknik dan alat yang digunakan dalam menliti, serta tempat dan waktu penelitian dilakukan, penelitian desekriptif dapat dibagi atas bebeprapa jenis yaitu:

  • Metode survey,
  • Metode deskriptif  berkesinanbungan (Continuity deskrptive),
  • Penelitian Studi kasus,
  • Penelitian analisis pekerjaan dan aktivitas,
  • Penelitian tindakan (action research),
  • Penelitian perpustakaan dan documenter.
  1. Metode survey

Metode survei adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara factual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok ataupun suatu daera. Metode survey membedah dan menguliti serta mengenal masalah-masalah serta mendapatkan pembenaran terhadap keadaan dan praktik-praktik yang sedang berlangsung. Dalam metode survei juga dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa dan hasilnya dapat digunakan dalam pembuatan rencana dan pengambilan keputusan di masa mendatang. Penyelidikan dilakukan dalam waktu yang bersamaan terhadap sejumlah individu atanu unit, baik secara sensus atau dengan mengunakan sample. Unit yang digunakan dalam metode survei cukup besar. Misalnya, Kinsey, et al., (1948) dalam penelitian meraka mengenao tinggah laku seksual di Amerika Seriakat telah menggunakan sample dengan 12 ribu orang anggota sample. Banyak sekali masalah dap;t diteliti dengan mengunakan metode survey, termasuk bidang produksi dan tata niaga (survey produksi dan tata niaga ), usaha tani(surve usaha tani), masalah kemasyarakatan (survey sosial), masalah komunikasi daan pendapat umum (survei pendat umum), masalah politik (survey politik), masalah pendidikan (survey pendidikan dan persekolahan), dan sebagainya.

  1. Metode deskritif  berkesinambungan

Metode deskriptif berkesinambungan (continuity descriptive research), adalah kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. Sering kali dilakukan dalam meneliti masalah-masalah sosial.pengetahuan yang lebih menyeluruh dari masalah serta fenomena dan ketentuan-ketentuan sosial dapat diperoleh jika hubungan-hubungan fenomena dikaji dalam suatu interval perkembangan dalam suatu periode yang lama. Dengan memperhatikan secara detail perubahan-perubahan yang dinamis dalam suatu interval tertentu, maka generalisasi suatu situasi atau fenomena secara dinamis dapat dibuat. Meneliti yang berkehendak menjangkau informasi factual yang mendetail secara interval dinamakan penelitian deskriptif berkesinambungan. Jika perhatian dipusatkan kepada perubahan-perubahan prilaku atau pandangan, maka teknik dalam meneliti dinamakan teknik panel. Teknik ini berupa wawancara dengan kelompok-kelompok manusia yang sama pada situasi yang berbeda. Informasi yang diinginkan bisa saja kuantitatif , seperti jumlah konsumsi, anggaran belanja keluarga, dan sebagainya.

Penggunaan metode deskriptif berkesinambungan lebih popular dalam mengkaji masalah sosial. Misalnya, Whitney dan Milholland (1930) mempelajari status akademis dari mahasiswa tingkat persiapan dari Colorado State Colege of Education pada tahun 1930. Penelitian dilakukan dalam waktu empat tahun, dengan menlurusi status akademis sejak tingkat persiapan sampai dengan lulus sarjana muda.

  1. Penelitian Studi Kasus

Studi kasus, atau penelitian kasus (case study), adalah penelitian tentang status subjek penelitian yang berkenan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keselurahan personalitas (Maxfield, 1930). Subjek penelitian dapat saja individu, kelompok, lembaga, maupun masyarakat. Peneliti ingin mempelajari secara intensif latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit-unit sosial yang menjadi subjek. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail latar belakang, sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus, ataupun status dari individu, yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan jadikan suatu hal yang bersfat umum. Pada mulanya, studi kasus ini banyak digunakan dalam penelitian obat-obatan dengan tujuan diagnosis, tetapi kemudian penggunaan studi kasus telah meluas sampai kebidang-bidang lain.

Hasil dari penelitian kasus merupakan suatu generalisasi dari pola-pola kasus yang tipikal dari individu, kelompok, lembaga, dan sebagainya. Tergantung dari tujuannya, ruang lingkup dari studi dapat mencakup segmen atau bagian tertentu atau mencakup keseluruhan siklus kehidupan dari individu, kelompok, dan sebagainya, baik dengan penekanan terhadap factor-faktor kasus tertentu, atau meliputi keseluruhan factor-faktor dan fenomena-fenomena. Stadi kasus lebih menekankan mengkaji vairabel yang cukup banyak pada jumlah unit yang kecil. Ini berbeda dengan metode survei, dimana peneliti cenderung mengevaluasi variabel yang lebih sedikit, tetapi dengan unit sample yang relatif besar.

Studi kasus banyak dikerjakan untuk meneliti desa, kota besar, sekelompok manusia drop out, tahanan-tahanan, pimpinan-pimpinan, dan sebagainya. Jika stadi kasus ditujukan untuk menliti kelompok, maka perlu dikisahkan atau diisolasikan kelompok-kelompok dalam onggokan yang homogen.

Stadi kasus banyak kelemahan disamping adanya keunggulan-keunggulan. Studi kasus mempunyai kelemahan karena anggota sampel yang terlalu kecil, sehingga sulit dibuat inferensi kepada populsi. Disamping itu, studi kasus sangat dipengaruhi oleh pandangan subjektif dalam pilihan kasus karena adanya sifat khas yang dapat saja terlalu dibesar-besarkan. Kurangnya objektifitas, dapat disebabkan karena kasus cocok benar dengan konsep yang sebelumnya telah ada pada si peneliti, ataupun dalam penetapan serta pengikutsertaan data dalam konteks yang bermakna yang menjurus pada interprestsi subjektif.

Studi kasus mempunyai keunggulan sebagai suatu studi untuk mendukung studi-studi yang besar di kemudian hari. Studi kasus mendukung studi-studi yang besar di kemudian hari studi kasus dapat memberikan hipotesis-hipotesis untuk penelitian lanjutan. Dari segi edukatif, maka studi kasus dapat digunakan sebagai contoh ilustrasi baik dalam perumusan masalah, penggunaan statistik dalam menganalisis data serta cara-cara perumusan generalisasi dan kesimmpulan

Marilah kita lihat sebuah contoh studi kasus tentang anak-anak yang tidak dapat menguasai teknik membaca karena jenis-jenis sebab. Penelitian yang memakan waktu dua tahun, secara mendetail telah mempelajari hal-hal berikut.

  • Menentukan sejarah dari sekolah dan rumah tangga sang anak.
  • Menentukan setatus sekarang dari anak.
  • Mengadakan diagnosis terhadap kesukaran-kesukaran membaca sang anak
  • Menentukan sebab musabab si anak mempunyai kekurangan-kekurangan dalam membaca.
  • Mengukur dari hasil pengajaran.

Langkah-langakah pokok dalam meneliti kasus adalah sebagai berikut.

1. Rumuskan tujuan penelitian.

2. Tentukan unit-unit studi, sifat-sifat mana yang akan diteliti dan hubungkan apa yang akan dikaji serta proses-proses apa yang akan menuntun penelitian.

3. tentukan rancangan serta pendekatan dalam memilih unit-unit dan teknik pengumpulan data mana yang digunakan. Sumber-sumber data apa yang tersedia

4. kumpulkan data.

5. Organisasikan informasi serta data yang terkumpul dan analisis untuk membuat interpretasi seta generalisasi.

6. Susun laporan dengan memberikan kesimpulan serta implikasi dari hasi penelitian.

Studi atau penelitian komperatif

Penelitian komperatif adalah sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawab secara mendasar tentang sebab-akibat, dengan menganalisis factor-faktor penyebab terjadinnya atau munculnya suatu fenomena tertentu. Jangakauan waktu adalah masa sekarang, karena jika jangkauan waktu terjadinya adalah masa lampau, maka penelitian tersebut termasuk dalam metode sejarah. Dalam studi komperatif ini, memeng sulit untuk mengetahui factor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding, seperti penelitain komperatif  tidak mempunyai control. Hal ini semakin nyata kesulitannya jika kemungkinan-kemungkinan hubungan antar fenomena banyak sekali jumlahnya

Studi komperatif banyak sekali dilakukan jika metode eksperimental tidak dapat diperlukan. Bidang studi mencakup penghiduupan kota dan desa, dengan membandingkan pengaruh sebab akibat dari mekanan, rekreasi, waktu kerja, ketenangan kerja, dan sebagainnya. Penelitian komperatif dapat dilakukan untuk mencari pola tingkahlaku serta prestsi belajar dengan membedakan unsur waktu masuk sekolah, dan lain-lain.

Metode penelitian komperatif adalah bersifat ex post facto. Artinya, data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. Keunggulan metode ini adalah sebagai berikut.

  1. Metode komparatif dapat mensubtisusikan metode eksperimental karena beberapa alasan:
  • Jika sukar diadakan kontrol terhadap salah satu faktor yang ingin diketahui atau diselidiki hubungan sebab-akibat.
  • Apabila teknik untuk mengadakan vaiabel kontrol dapat menhalangi penampilan fenomena secara normal ataupun tidak memungkinkan adanhya interaksi secara normal.
  • Penggunaan laboratoriuum untuk penelitian untuk dimungkinkan, baik karena kendala teknik, keungan, maupun etika, dan normal.
  1. Dengan adanya teknik yang lebih mutakhir serta alat setatistik yang lebih maju, membuat penelitian komparatif dapat mengadakn estimasi terhadap parameter-parameter hubungan kausal secara lebih efektif.

Disamping keunggulan-keunggulan, penelitian komparatif mengandung kelemahan-kelemahan, antara lain sebagai berikut.

  1. Karena penelitian  komparatif sefatnya ex post facto, maka penelitain tersebut tidak mempunyai kontrol terthadap variabel bebas. Peneliti hanya berpegang pada penampilan variabel sebagaimana adanya, tanpa kesempatan mengatur kondisi ataupun mengadakan manipulasi terhadap bebrapa variabel. Karena itu, sipenelitia diharapkan mempunyai cukup banyak alas an dalam mempertahankan hasil hubungan-hubungan kasual yang ditemukan, dan dapat mengajukan hipotesis-hipotesis saingan untuk membuat jastifikasi terhadap kesimpulan-kesimpulan yang ditarik.
  2. Sukar memperoleh kepastian, apakah faktor-faktor suatu hubungan kausal yang diselidiki benar-benar relaevan.
  3. Karena faktor-faktor bukan bekerja secara merdeka tetapi saling berkaitan antara satu dengan lain, maka interaksi antar faktor-faktor tunggal sebagai penyebab atau akibat terjadinya suatu fenomena sukar diketahui. Bahkan akibat dari faktor ganda, bisa saja dikarenakan oleh faktor diluar cakupan penelitian yang bersangkutan.
  4. Adakalanya dua atau lebih faktor memperlihatkan adanya hubungan, tetapi belum tentu bahwa hubungan yang diperlihatkan adalah hubungan sebab-akibat. Mungkin saja hubungan variabel tersebut dikarenakan oleh adanya keterkaitan dengan faktor-faktor lain diluar itu. Dilain pihak, andai kata pun telah diketemukan bahwa hubungan antara faktor-faktor adalah hubungan sebab-akibat, tetapi masih sukar untuk dipisahkan faktor mana sebagai penyebab dan faktor mana yang merupakan akibat
  5. Mengkatagorisasikan subjek dalam dikotomi (misalnya, dalam katagori demokrasi dan otoriter, pandai bodoh, tua-muda, dan sebagainya) untuk tujuan perbandingan, dapat menjurus kepada pengambilan keputusan dan kesimpulan yang salah akibat katagori-katagori dikhotomi yang dibuat mempunyai sifat kabur, bervariasi, samar-samar, mengahendaki valuejudgement, dan tidak kokoh.

Langkah-langkah pokok dalam studi komparatif adalah sebagai berikut,

  1. Rumuskan dan definisikan masalah.
  2. Jajki dan teliti literature yang ada.
  3. Rumuskan kerangka troritis dan hipotesis-hipotesis serta asumsi-asumsi yang dipakai.
  4. Buatlah rancangan penelitian:
  • Pilih subjek yang digunakan dengan teknik pengumpulan data yang diinginkan;
  • Kategorikan sifat-sifat atau atribut-atribut atau hal-hal lain yang sesuai dengan masalah-masalah yang ingin dipecahkan, untuk memudahkan analisis sebab-akibat.
  1. Uji hipotesis, buat interpretasi terhadap hubungan dengan teknik statistic yang tepat.
  2. Buat gegeralisasi, kesimpulan, serta implikasi kebijakan.
  3. Susun laporan dengan cara penulisan ilmiah.

Dalam penelitian komparatif, sering digunakan teknik korelasi, Dalam penelitian komparatif, sering digunakan teknik korelasi, yaitu meneliti derajat ketergantungan dalam hubungan-hubungan antarvariabel dengan menggunakan koefisien korelasi. Namun, perlu dijelaskan bahwa penggunaan koefisien korelasi hanya menyatakan tinggi rendahnya ketergantungan antar variabel yang diuji, tetapi tidak menyatakan ada tidaknya hubungan yang terjadi. Ini berbeda dengan penggunaan metode eksperimental. Pada metode eksperimental, peneliti dapat menguji ada tidaknya efek tertentu. Dengan demikian, penggunaaan teknik korelasi dalam penelitian komparatif mengandung kelemahan-kelemahan, antara lain sebagai berikut.

  • Menjurus pada keterbiasaan menggunakan teknik korelasi dengan memasang variabel apa saja tanpa pilih yang menjurus pula interpretasi yang salah.
  • Tidaknya adanya kontrol terhadap variabel bebas, dan tidak dapat melihat ada tidaknya hubungan kausal antar variabel. Peneliti tidak dapat mengenai yang mana variabel bebas dan mana variabel dependen.
  1. Penelitian  Analisis kerja dan aktivitas

Analisis Kerja dan Aktivitas (job and activity analysis), merupakan penelitian dengan menggunakan metode deskriptif. Penelitian itu ditujukan untuk menyelidiki secara terperinci aktivitas dan pekerjaan manusia. Dan hasil penelitian tersebut dapat memberikan rekomendasi-rekomendasi untuk keperluan masa yang akan datang. Penenlitian perkejaan di bidang industri dinamakan job analysis (analisis pekerjaan), sedangkan penelitian di bidang pertanian , disebut analysis aktivitas (activity analysis). Analysis aktivitas juga mencakup analysis pekerjaan dibidang jasa, seperti pendidikan, peleyanan kesehatan, dan sebagainya.

Dalam penelitian ini, studi yang mendalam dilakukan terhadap kelakuan-kelakuan pekerjaan, buruh, petani, guru, dan lain-lain terhadap gerak-gerik mereka dalam melakukan tugas, penggunaan waktu secara efisien dan efektif, dan sebagainya. Data mengenai hal-hal yang ini diselidiki, kemudian dianalisis, diberikan interpretasi, dan diadakan generalisasi dalam rangka menetapkan sifat-sifat dan keriteria-keriteria pekerjaan yang baik, rencana upgrading, keseimbangan berusaha dan bekerja serta aktivitas sangat berkembang pada masa sesudah Perang Dunia I, dengan tujuan untuk mengadakan klsifikasi pekerjaan dan pekerjaan secara lebih efektif.

Studi Waktu Gerakal.

Studi Waktu dan gerakan (time and motion study) adalah penelitian dengan metode deskriptif yang berusaha untuk menyelidiki efisien produksi dengan mengadakan studi yang mendetail tentang penggunaan waktu serta perilaku pekerja dalam proses produksi. Gerak-gerak utama dalam pekerjaan diamati, dicatat, dilukiskan, serta dianalisis. Generalisasi dan interpretasi tentang waktu yang digunakan serta gerak-gerak utama yang terjadi, sehingga suatu kesimpulan tentang gerak-gerak yang diperlukan dalam pekerjaan, gerak-gerak yang tidak diperlukan yang dapat menghambat pekerjaan serta saran-saran dalam rangka memperbaiki pekerjaan dan menambah efisiensi kerja. Dalam rangka efisisensi, juga perlu dikaji alat-alat produksi yang digunakan, serta bagaimana alat-alat produksi tersebut diatur demi peningkatan efisisensi kerja.

Kriteria Pokok Metode Deskriptif

Metode deskriptif mempunyai beberapa pokok, yang dapat dibagi atas kriteria umum dan kriteria khusus. kriteria tersebut adalah sebagai berikut

Kriteria umum

Kriteria umum dari penelitian dengan metode deskriptif adalah sebagai berikut.

  1. Masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas.
  2. Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum.
  3. Data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini.
  4. Standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas.
  5. Harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan.
  6. Hasil penelitian harus berisi secara detail yang digunakan, baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakaan yang dilakukan. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoritis yang digunakan jika kerangka teoritis untuk itu telah dikembangan.

Kriteria Khusus

Kriteria khusus dari metode deskriptif adalah sebagai berikut.

  1. Prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value).
  2. Fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status.
  3. Sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu, tidak adalah kontrol terhadap variabel, dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau menipulasi terhadap variabel. Variabel dilihat sebagaimana adanya.

Langkah-langkah Umum dalam Metode Deskriptif

Dalam melaksanakan penelitian deskriptif, maka langkah-langkah umum yang sering diikuti adalah sebagai berikut.

  1. Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada.
  2. Menentuan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Tujuan dari penelitian harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah
  3. Memberikan limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. Termasuk didalamnya daerah geografis dimana penelitian akan dilakukan, batasan-batasan kronologis ukuran tentang dalam dangkal, serta seberapa utuh daerah penelitian tersebut akan dijangkau.
  4. Pada bidang ilmu yang telah mempunyai teori-teori yang kuat, maka perlu dirumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual yang kemudian diturunan dalam bentuk hipotesis-hipotesis untuk diverifikasikan. Bagi ilmu sosial yang telah berkembang baik, maka kerangkan analisis dapat dijabarkan dalam bentuk-bentuk model matematika.
  5. Menulusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan.
  6. Merumuskan hipotesis-hipotesis yang diuji, baik secara emplisit maupun secara implicit.
  7. Melakukan kerja lapangan untuk megumpulkan data, gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian.
  8. Membuat tabulasi serta analisis statistic dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan. Kurangi penggunaan statistic sampai kepad batas-batas yang dapat dikerjakan dengan unit-unit pengukuran  yang sepadan.
  9. Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi sosial yang ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh serta refrensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan.

10.  Mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. Berikan rekomendasi-rekomendasi untuk kebijakan-kebijakan yang dapat ditarik dari penelitian.

(Nazir, moh. Metode penelitian. Ghalia Indonesia. 2005,)

Metode pembelajaran aktif (kuis tim)

kuis tim teknik ini dapat meningkatkan rasa tanggung jawab siswa atas apa yang mereka pelajari dengan cara yang menyenangkan dan tidak megancam atau tidak membuat mereka takut.

Prosedur.

1. Pilihlah topic yang bisa disajikan dalam tiga segmen.

2. Bagilah siswa menjadi tiga tim.

3. Jelaskan format pelajaran dan mulailah penyajian materinya. Batasi hingga 10 menit atau kurang dari itu.

4. Perintahkan tim A untuk menyiapkan kuis jawaban singakat. Kuis tersebut harus sudah siap dalam tidak lebih 5 menit. Tim B dan C menggunakan waktu ini untuk memeriksa catatan mereka.

5. Tim A memberi kuis kepada tim B. jika tim B tidak dapat menjawab satu pertanyaan, tim C segera menjawabnya.

6. Tim A mengarahkan pertanyaan berikutnya kepada tim C dan menggulang proses tersebut.

7. Ketika kusinya selesai, langjutkan dengan segen ketiga dari pelajaran Anda, dan tunjuklah tim C sebagai pemandu kuis.

Variasi,

1. Berikan tim pertanyaan kuis yang telah di persiapkan yang darinya mereka memilih kepan meraka mendapat giliran menjadi pemandu kuis.

2. Berikan satu penyajian materi secara kontinyu. Bagilah siswa menjadi dua tim. Pada akhir pelajaran, perintahkan dua tim untuk saling member kuis

JCQHBq%vwYN$

Membangunkan Lahan Tidur

Malang 28 November 2010

Lahan tidur seluas 200 hektar di daerah perbukitan yang sebelumnya banyak di tumbuhi alang-alang dan semak-semak belukar, kini, telah berubah menjadi hijau. Itulah lahan di desa Reroroja, kecamatan Magepanda, kabupaten sikka, flores, nusa tenggara timur.

Sejak Desember 2008, lahan milik masyarakat itu ditanami tanaman jarak pagar (Jatropha curcas). Tahap pertama 200.000 pohon dan pada desember 2009 lalu ditanam 300.000 pohon. Total 500.000 pohon atau sekitar 2.500 pohon per hektar (ha).

Penanaman jarak di Reroroja itu merupakan baigan dari proyek pengembangan ramah Lingkungan dengan aneka pemanfatan jarak pagar di indonesia (Environmentally Friendly Development by Multiple Use of Jatropha curcas in indonesia). Proyek ini direncanakan berjalan selama tigatahun, yakni dari tahun 2008 sampai 2011.

Penyelenggara proyek adalah kerjasama antara yayasan Dian Desa (YDD) dengan Asian People’s Exchange(Apex), lembaga swadaya masyarakat (LSM) jepang, yang didukung dana bantua dari kementrian luar negri jepang, dana proyek yang sudah terkucur hingga tahun ini berkisar Rp 7 miliar.

Pada 10 april telah diresmikan gedung Gethering Center sebagai pos pengumpulan biji jarak, juga proses pemecahan buah menjadi biji jarak.

Kemudian, pada tanggal 26 Agustus diresmikan Jatropha Center dijalan seluas 8 hektar dikampung Wairita, desa Wairbleler, kecamatan Waigete, Sikka, peresmian dilakukan oleh gubernur NTT Frans Lebu Raya.

Jatropha Center yang diresmikan terdiri atas gudang biji (288 meter persegi), gudang produksi dengan fasilitas ekstrasi dan pemurnian minyak (128 persegi), tempat penyimpanan minyak (192 meter persegi), tempat pengolahan limbah(96 meter persegi), serta kantor atau laboratorium (57 meter persegi), dengan kapasitas pengolahan biji 700 kilogram perjam.

Tanaman semak besar dengan cabang yang tidak teratur itu dinilai cocok ditanam dikawasan NTT sebagai daerah kering dan tandus, tanaman tersebut dapat tumbuh pada tanah berbatu, tanah berpasir, tanah liat, bahkan ditanah yang kurang subur.

Tanaman jarak juga dapat tumbuh didaratan rendah, sekitar 1000 meter diatas permukaan laut, curah hujan 300-2.380 mm pertahun, temperatur tahunan 20-28 drajat selsius, suhu di NTT 23-24 derajat celsius, curah hujan 800-3.000 mm pertahun. Pihak pengelola pun melalui melakukan pembelian biji jarak dari masyarakat. Harga belinya Rp. 2.500 per ember, yang isinya sekitar 2.5 kg biji. Bagi masyarakat Reroroja, harga itu sudah cukup membuat mereka senang karena sebelumnnya biji jarak di NTT nyaris tak ada harganya atau sangat murah, berkisar 500 per kg.

Sekian lama, masyarakat di NTT pun hanya mengfungsikan tanaman jarak sebagai pagar hidup ataupun tanaman obat tradisional, antara lain untuk mengobati sakit kulit dan rematik, belum sampai untuk industri.

Hasil dari penjualan jarak ini lumanyan, bisa untuk menambah pemasukan keluarga. Lahan tidur jugamenjadi hijau. Hasil penjualan cukuplah buat uang jajan anak-anak, kata kepala desa Reroroja Sirilus Bajo. Sirilus berharap, kedepan harga biji jarak bisa meningkat sehingga dapat meningkatkan kesejah teraan masyarakat desa yang berpenduduk sekitar 6000 jiwa atau 787 keluarga itu. Diharapkan proyek tersebut juga tidak berhenti setelah tahun 2011. (Diambil dari koran kompas, sabtu, 27 NOVEMBER 2010)

Kepemimpinan

Kepemimpinan Adalah  kemampuan seseorang untuk mempengaruuhi orang lain atau kelompok orang kearah tercapainya suatu tujuan organisasi yang telah disepakati bersama sebelumnya. Menurut stepen P. Robbins (2001), seorang pemimpin harus mengusai teori karakter kepemimpinan, yaitu teori-teori yang berkaitan dengan (1)mencari karakter keperibadian, (2) sosial, (3) fisik atau intelektual yang membedakan pemimpin dari bukan pemimpin.

Unsur-unsur penting kewiraswastaan/ berwirausahaan antara lain adalah sikap mental, kepemimpinan, manajemen, dan keterampilan. Kepemimpinan adalah adalah salah satu unsur penting dalam berwirausaha. Kepamimpina yang buruk dapat membuat perusahaan bangkrut. Banyak pemimpin yang bersikap dan bermental juragan dimana anak buah di pandang sebagai factor produksi, maka berarti harus dieksploitasi tanpa diberikan balas jasa yang memadahi, suka dan tidak suka menjadi model dalam kepeemimpinan. Bahkan, sering kali anak buah dianggap tidak perlu manusiakandan sering diancam dengan ungkapan, “ jika tidak suka silahkan angkat kaki”. Kepemimpinan yang baik bisa di contoh dari negeri jepang. Anak buah dianggap sebagai aset perusahaan sehingga di jepang, prinsipnya bekerja adalah seumur hidup. Pengahargaan terhadap tenaga kerja luar biasa sehingga pekerjaan atau anak buah juga akan memberikan tenaga dan pikirannya sepenuh hati karna anak bauh tidak pernah diremehkan dan tidak di pandang sebagai factor produksi. Anak buah di pandang sebagai rekan kerja yang sama tingakatannya dan sebagai asset tidak ternilai serta sebagi makhluk mulia yang harus dihargai dan di junjung tinggi prikemanusiannya.

Kepemimpinan dan manajemen adalah dua istilah yang sering rancu. Apa perbedaan diantara keduanya? John kottler dari Harvard Business School berpendapat bahwa manajemen menyangkut hal mengatasi kerumitan. Manajemen yang baik akan menghasilkan tata tertib dan konsistensi dengan (1) menyusun rencana-rencana formal, (2) merancang stuktur organisasi yang ketat, dan (3) memantau hasil melalui perbandingan dengan rencana. Kepemimpinan menyangkut hal mengatasi perubahan. Pemimpin menetapkan arah dengan (1) mengembangkan suatu visi terhadap masa depan, (2) menyatukan orang dengan mengomunikasikan visi tersebut dan (3) mengilhami mereka untuk mengatasi rintangan-rintangan.

Teori Karakter

Ketika Margaret thatcher menjadi perdana mentri inggris, ia selalu dipilih karena kepemimpinannya. Ia digambarkan sebagai sosok pemimpin wanita yang berkarakter dengan cirri-ciri : (1) percaya diri (PD) (2) bertekad baja, (3) penuh tekad (4) seorang pemimipin yang tegas, bila sesuatu dikatakan benar ya memang benar dan bila salah ya harus bilang salah alias tidak plitat-plintut (plin-plan), (5) karismatik (6) antusias (7) pemberani.

Istilah-istilah tersebut mengambarkan pemimpin yang memegang atau memiliki karakter (traits) dan para pendukung Thatcher ketika itu tidak sadar telah menjadi pendukung teori karakter. Contoh-contoh pemimpin yang berkarakter selain Margaret Thatcher adalah (1) Nelson Mandela (Afrika selatan), (2) Richard Bronson (CEO Virin Group), (3) Steven Jobs (pendiri Apple), (4) Todd Whitman (Gubernur New Jersey), (5) Ken Chenault (direktur Utama American Express), (6) Mahatir Muhammad (PM malaysia), dan Ir. Soekarno (Presiden RI pertama).

Enam karakter yang cenderung membedakan antara pemimpin dengan bukan pemimpin, menurut Stephen P. Robbins (2001), yaitu (1) ambisi dan energi, (2) hasrat untuk memimpin, (3) kejujuran dan integritas (keutuhan), (4) percaya diri, (5) kecerdasan, dan (6) pengetahuan yang relevan dengan pekerjaannya. Kepemimpinan yang dimaksud di sini adalah nilai atau kualitas, bukan pengetahuan tentang sumber daya manusia. Pemimpin adalah orang yang menunjukkan arah, keputusannya mentap, dan didasari oleh keyakinan diri disertai data yang akurat.

Sepak terjang seorang pemimpin selalu khas dan tidak lazim atau “Tampil Beda”. Banyak bisnis yang didirikan mengalami kegagalan dan hanya 30 persen yang hadir. Mengapa ? penyebab utamanya adalah lemahnya kepemimpinan  atau pemimpin yang gagal.

Unsur-Unsur Kepemimpinan

Factor-faktor yang harus dimiliki seorang pemimpin antara lain sebagai berikut :

  1. Kepemimpinan melibatkan orang lain /bawahan. Seorang pemimpin harus dapat merangkul dan menghargai bawahannya.
  2. Kepemimpinan menyangkut distribusi kekuasaan. Pendelegasian kekuasaan dari pemimpin keanak buah sesauai dengan tingkatannya sangat mutlak diperlukan jika seorang pemimpin ingin menjalankan fungsinya dengan efektif dan efisien.
  3. Kepinpinan menyangkut penanaman pengaruh dalam rangka mengarahkan bawahan.

Penaman pengaruh dari pimpinan kepada anak buah akan tercapai apabila seorang pemimpin mempu memberikan contoh disiplin, seorang pemimpin harus datang lebih awal dalam setiap kesempatan, mulai lebih awal masuk kekantor, kebih awal untuk masuk dalam suatu rapat, atau acara-acara resmi maupun tidak resmi (formal dan non-forma). Dengan disiplin pada acara penting itu, biasanya anak buah akan segan dan meneladani.

Keterampilan Memimpin.

Keterampilan yang harus dimilliki seseorang dalam memimpin adalah sebagai berikut.

  1. Technical Skills

Kemampuan untuk melakukan dan atau memahami pekerjaan-pekerjaan yang bersifat operional atau teknis sehingga mampu menjadi guru bagi anak buahnya yang tidak memahami operasional atau teknis pekerjaan, terutama pegawai baru.

  1. Human Skills

Kemampuan bekerjasama dengan para bawahan dan membangun tim kerja dengan pendekatan kemanusiaan. Seorang pemimpin harus belajar bagaimana melakukan pendekatan kepada anak buah, sehingga pada saat memberikan perintah kepada bawahan, bawhan tidak merasa diperintah.

  1. Coseptual Skills

Kemampuan untuk menyusun konsep atau berpikir dan mengungkapkan pemikirannya. Seorang pemimpin adalah pemegang perubanhan sehingga harus memiliki kosep atau minimal mampu merumuskan misi, visi, strategi, serta program unggulan yang jelas dan dapat dipahami oleh seluruh bawhannya.

Perbedaan Kekuasaan (Power) Dengan Kepemimpinan

Kekuasaan (power) adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, sehingga orang yang memahami, mempertangungjawabkan dan mampu berpegang pada kekuasaannya diakan menjadi pemimpin yang cerdas dan tegas.

Kekuasaan (power) dalam hubungan bisnis antara lain sebagai berkut.

  1. Coercive power (kekuasaan memaksa). Dengan kekuasaan memaksanya, maka seorang pemimpin mampu memerintah setiap anak buahnya dengan efektif.
  2. Reward Power (kekuasaan penghargaan). Dengan berbagai penghargaan yang diberikan kepada anak buahnya, maka kekuasaannya dapat dijalankan oleh pemimpin dan didukung oleh anak buahnya.
  3. Legitimate Power (kekuasaan sah). Seorang pemimpin diterima secara legalitas atau sah sehingga ia memiliki kekuasaan. Contoh presiden RI terpilih secara langsung oleh 60 persen suara rakyat pemilih atau dapat menjalankan kekuasaan secara legal karna memperoleh suara diatas 50 persen plus satu.
  4. Expert Power (kekuasaan ahli). Dengan keahlian atau sepesialisasinya, misalnya seorang professor, maka kekuasannya bisa diterima, disalurkan dan dijalankan oleh anak buahnya dengan baik.
  5. Referant Power (kekuasaan refrensi). Dengan adanya refrensi seseorang, misalnya dari raja, maka yang bersangutan memiliki kekuasaan untuk memerintah.

Kepemimpinan Dan Pengambilan Peputusan

Pengambilan keputusan adalah pemilihan dua atau lebih. Pengambilan keputusan perlu dilakukan karena adanya perbedaan antara harapan /tujuan dengan hasil yang dicapai. Sala satu model pengambilan keputusa yang menguraikan bagaimana individu seharusnya berperilaku untuk mencapai hasil atau keluaran yang maksimal.

Kunci Efektivitas Kepemimpinan

Faktor situasional utama (kunci) yang menentukan keefektifan suatu kepemimpinan menurut Fiedler dalam bukunya (Stephen P.Robins,2001), adalah sebagia berikut:

Hubungan Pemimpin-Anggota

Hubungan yang berkaitan dengan : tingkat keyakinan, dan respek bawahan terhadap pemimpin mereka.

Struktur Tugas

Tingkat penugasan pekerjaan yang diprosedurkan (yakni terstruktur atau tidak terstruktur)

Kekuasaan Jabatan

Tingkat pengaruh yang dimiliki seorang pemimpin yang berkaitan dengan variable kekuasaan, seperti memperkerjakan bawahannya, memecat bawahan, mendisiplinkan bawahan, mempromosikan bawahan,menaikkan gaji bawahannya.

Pengaruh Perilaku Terhadap Pengambilan Keputusan

Ada empat faktor perilaku individu yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan, yaitu sebagai berikut:

Nilai-nilai , nilai dianggap sebagai pedoman jika seorang menghadapi situasi di mana harus dilakukan suatu pilihan

Keperibadian, dimana aspek keperibadian meliputi sikap, kepercayaan, dan kebutuhan individu

Kecenderungan mengambil Risiko, ada yang beani dalam mengambil risiko, ada yang di tengah-tengah dan ada yang penuh pertimbangan / kurang berani ambil risiko

Disonasi Kognitif, adanya rasa cemas pada pengambilan keputusan terhadap akibat dari keputusan yang diambilnya.

Sifat-Sifat Yang Harus Dimiiki Seorang Pemimpin

sifat-sifat yang harus dimiiki seorang pemimpin menurut Andy Undap (1983) adalah sebagai berikut:

Pendidikan umum yang luas, dengan pendidikan umum yang luas, maka akan mudah memecahkan berbagai masalah yang dihadapi.

Kematangan mental, dengan ke,atangan mental seorang pemimpin akan dapat mengendalikan emosinya dalam setiap tindakannya.

Sifat ingin tahu, dengan sifat ini seorang pemimpin akan mudah menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.

Kemampuan analisi, dengan sifat ini seorang pemimpin akan cepat dan cermat dalam mengambil keputusan

Daya ingat kuat, dengan sifat ini seorang pemimpin akan konsisten dalam mengatasi segala macam permasalahan.

Integratif/ integritas (terpadu) dengan sifat ini seorang pemimpin akan mendekati suatu pemecahan masalah dengan berbagi pendekatan secara terpadu.

Keterampilan Komunikasi, dengan sifat ini seorang pemimpin akan disukai oleh anak buah dan mudah membentuk jaringan dalam bisnis.

Keterampilan mendidik, dengan sifat ini seorang pemimpin akan meningkatkan kematanagan anak buah atau akan mendewasakan dan memberikan bekal pengetahuan kepada anak buahnya.

Rasional Objektif/ dengan sifat ini seorang pemimpin akan objektif dalam mengatasi berbagai masalah dan objektif dalam menilai anak buahnya.

Menejemen Waktu, dengan sifat ini seorang pemimpin akan mengatur jadwal atau waktunya secara evektif dan efisien

Berani mengambil risiko, dengan sifat ini seorang pemimpin tidak akan ragu dalam mengambil keputusan yang seterategis, tentunya dengan penuh pertimbangan dan tetap menekankan pada risiko kecil dengan keuntungan (benefit) besar.

Ada naluri perioritas, dengan sifat ini seorang pemimpin dapat melakukan pekerjaannya sesuai prioritas, tidak sekedar memperioritaskan jadwal.

Efisien dalam bertindak, dengan sifat ini seorang pemimpin akan selalu penuh perhitungan dalam melakukan aktivitas yang bertujuan agar efisien dalam segala aktivitasnya.

Haus informsi, dengan sifat ini seorang pemimpin tidak akan ketinggalan informasi atau selalu up-to-date dalam pengumpulan informasi dan atau data untuk mendukung pengambilan keputusan

Sifat-sifat seorang pemimpin menurut Kartini Kartono (1983) adalah sebagai berikut:

Tipe karismatik, seseorang yang memiliki daya tarik atau karisma yang luar biasa, contohnya Ir. Soekarno

Tipe paternalistis, seperti sorang bapak menganggap anak buah adalah anaknya sehingga bawahan kurang diberi kesempatan.

Tipe militeristis, sistim pemimpin yang lebih cenderung memerintah atau sebagai pemberi komando terhadap anak buahnya.

Tipe otokratis, kekuasaan dan paksaan dalam memerintah anak buahnya.

Tipe laissez-faire, pemimpin membiarkan bawahannya bekerja semaunya sepanjang tujuan perusahaan atau organisasi dapat tercapai

Tipe populis, pemimpin rakyat berpegang pada nilai teradisional.

Tipe administratife, seorang pemimpin yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrative secara efektife.

Tipe demokratis, seorang pemimpin yang menekankan tanggung jawan dan kerja sama terhadap anak buahnya. Setiap pendapat dari anak bawahannya selalu diakomondasi atau diterima dan dijadikan sebagi bahan dalam pengambilan keputusan walau sekecil apapun..

Langkah-Langkah Dalam Pengambilan Keputusan

Langkah-langkah dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :

  1. Menentukan perlunya pengambilan keputusan
  2. Mengidentifikasi criteria keputusan
  3. Mengalokasi pembobotan terhadap kriteria
  4. Mengembangkan alternative
  5. Mengevaluasi alternative
  6. Memilih alternative terbaik

Lngkah-langkah tersebut tentunya tidak mutlak berurutan, melainkan harus disesuaikan dengan bobot keputusan yang akan diambilnya. Sering kali hal-hal khusus harus dimasukkan di dalamnya, antara lain menyangkut asumsi-asumsi yang harus agar alternative-alternative dapat lebih banyak dimunculkan. Dengan alternative yang relative lebih banyak, kemungkinan yang dievaluasi semakin banyak pula. Pada akhirnya, keputusan dapat diambil berdasarkan berbagai alternative yang muncul.

Hal lain yang tidak kalah penting dalam pengambilan suatu keputusan adalahadanya perubahan yang begitu cepat, sehingga sering kali begitu  keputusan dijalankan terasa sudah ketingglan, padahal keputusan baru saja dijalankan.

Paradigma baru dalam pengambilan keputusan akibat perubahan, menurut Samuel H. Tirtamihardja (2003), dalam bukunya “pemimpin adalah pemimpin (leaders are dreamers)” digambarkan sebagai berikut:

Pengambilan keputusan:

  1. Waktu komoditas berharga
  2. Kompetisi
  3. Pemanfaatan informasi dan tekhnologi
  4. Kreativitas
  5. Belajar terus menerus

Kelima unsur tersebut memberi kekuatan untuk mengambil keputusan yang

diakibatkan oleh adanya perubahan yang harus dihadapi pada masa kini. Memang ada ketautan dalam setiap pengambilan keputusan, tetapi bertindaklah. Jika tidak bertindak maka akan lebih rugi sama dari pada bila tidak bertindak sama seakali. Unsur-unsur tersebut dapat diringkas sebagai berikut.

  1. Waktu merupakan komoditas yang sangat berharga

Waktu sebagai komoditas yang paling berharga dan mahal yang ada didunia, bahkan dibandingkan dengan uang sekalipun. Waktu sangat mahal dan tidak dapat diputar balik. Sebaiknya pemimpin tidak menyia-nyiakan waktu, karena peluang hanya datang sekejap waktu dan tidak akan datang kedua kalinya. Kalau peluang tidak dimanfaatkan, maka sesuatu yang berharga akan hilang dari tangan anda. Dalam waktu singkat, kita dapat megirimkan milyaran e-mail melalui dunia maya atau internet. Jadi, waktu adalah komoditas yang sangat berharga. Pada setiap pengambilan keputusan, semuanya menyangkut waktu. Semua jadwal (sceduling) yang baik mendapat manfaat yang lebih besar. Di dunia yang cepat berubah, orang nag lambat dalam mengambil keputusan adalah orang yang kalah.

  1. Kompetisi

Persaingan dimasa depan adalah ilmu lawan ilmu, bukan uang lawan uang. Untuk memenangkan persaiangan dimasa kini kuncinya adalah “how to make our people learn better and faster than our competitor”, kata T.P. Rahmat, Presiden komisaris PT. Astra Internasional. Anak buah kita harus belajar dengan lebih baik dan cepat dibandigkan para pesaing kita. Kompetisi juga membuat orang harus lebih kreatif dalam menerima perubahan yang sangat cepat sekarang ini. Hukum moore menyatakan bahwa penemuan baru dalam tekhnologi bersifat kuadratis dan bukan bersifat linier.

  1. Pemanfaatan Informasi dan Tekhnologi

Dalam dunia yang seba cepat ini kita harus memanfaatkan informasi dan tekhnologi yang tumbuh dengan cepat. Infotmation is power kita tidak oleh gagap tekhnologi. Kita harus menguasi informasi serta ilmu pengetahuan dan tehnologi (IPTEK) meskipun kemjuan ekonomi tidak merata, namun itu tidak menjadi alasan untuk tidak menguasai tekhnologi. Kompetisi di masa kini adalah tekhologi lawa tekhnologi jelaslah bahwa perusahaan yang menguasai tekhnologi akan mempunyai competitive adge yang lebih tinggi. Dunia saat ini terus berubah dengan sangat cepat, berbagai temuan ilmiah dan teknologi terjadi hampir setiap hari. Untuk dapat bertahan terhadap perubahan yang ada, pengetahuan yang kita miliki harus meningkat. Peningkatan internet dan ecommerce dan juga pemakaian server dan networking yang canggih akan sangat mengubah dunia.

  1. Kreativitas

Informasi kini tersedia dimana-mana dan dapat diperoleh melalui media internet, televisi, buku, dan surat kabar (baik cetak maupun elektronik). Namun perlu keahlian untuk mengompilasi dan menganalis informasi yang kita terima kemudian berikir kreatif bukan reaktif. Kreatifitas sangat dituntut untuk memenangkan kompetisi zaman sekarang ini. Fooster dan Kaplan (2001) berkata. “Semua elemen yang terdapat pada inovasi adalah kreatifitas. Hanya dengan mengerti akan kreatifitas orang dapat berjuang untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk mempertahankan kinerja kita”. Dengan bantuan imajinasi kita juga dapat mengubah informasi yang samar-samar menjadi strategi melawan kompetitor kita dan kreatifitas menjadi sangat penting dalam merundingkan dan menyelesaiakan permasalahn yang ada.

  1. Belajar terus menerus

Bill gates dalam bukunya The roat a head sangat menekankan proses belajar terus menerus. Dalam dunia yang terus berubah pendidikan adalah modal utama seseorang agar ia dapat beradaptasi terhadap parubahan. Menurut Bill gates alangkah baiknya jika setiap orang mendapatkan pendidikan formal yang baik kemudian tetap terus belajar. Microsoft adalah suatu contoh organisasi yang terus beradaptasi dengan perubahan sesuai tantangan zaman. Mula-mula ia menciptakan peranti lunak (software) bebasis windows kemudian ia masuk ke dalam bisnis networking. Ia terus melayani pasar yang berunah agar stay a head in competition and not becomming a follower. Microsoft ingin selalu menjadi yang terdepan bukan menjadi pengikut.

Kriteria Seorang Pemimpin

Burt Nanus (leader the strategies for taking change,  2001) yang dikutip dalam tulisan P. Ari Subagyo menyebutkan 12 kriteria pemimpin, yaitu:

  1. Menginovasi
  2. Melakukan orisinil
  3. Mengembangkan
  4. Mengilhami
  5. Memancarkan kharisma
  6. Berperspektif  luas
  7. Berfikir jangka panjang
  8. Bertanya apa dan mengapa
  9. Menyukai tantangan dan perubahan

10.  Menjadi diri sendiri

11.  Menciptakan anak tangga dan meletakkan di tempat yang benar

12.  Mengerjakan hal-hal yang tepat

Efektif Leadership

Seorang pemimpin yang efektif sangat dibutuhkan dalam sebuah organisasi atau usaha. Menurut Samuel H. Tirtamiharja (2003) dalam bukunya Pemimpin adalah Pemimpin (leader are dreamers), seorang pemimpin yag efektif akan melakukan hal-hal berikut ini.

  1. Menciptakan sebuah visi yang sesuai untuk organisasinya

Visi yang sesuai akan memberi arah kemana organisasi akan dibawa. Visi perlu sesuai dengan tujuan didirikannya organisasi atau badan usaha tersebut.

  1. Memperkuat dan mendorong semua lapisan organisasinya

Analog dengan mendorong mobol mogok bila seluruh tenaga atau orang dikerahkan untuk mendorong ke arah yang sama, maka mobil mogok itu akan berjalan kembali. Namun, bila didorong oleh mereka ke arah yang saling berlawanan satu dengan yang lain, maka mobil itu akan diam ditempat. Implikasinya dalam dunia usaha adalah pemimpin akan gagal bila tidak didorong oleh setiap orang ke arah yang ditentukannya.

  1. Menciptakan suasana persaan tim untuk merasakan mana yang terpenting

Apa yang menjadi prioritas akan mendapat tempat utama agar kita tidak membuang energi, sumber daya, dan dana yang ada.

  1. Membentuk kerja sama tim yang baik

Kerja sama tim adalah suatu kekuatan yang luar biasa. Melalui kerja sama, hasil yang diperoleh akan berlipat ganda.

  1. Mengomunikasikan visi kepada seluruh lapisan organisasi

Tidak ada satu mesi penggerak pun yang perkasa, yang dapat menggerakkan suatu organisasi menuju kesempurnaan dan kesuksesan jangka panjang dari pada memiliki suatu misi masa depan yang menarik, berharga, dan dapat dicapai yang dibagikan kepada seluruh jajaran.

  1. Menciptakan suatu moment yang tepat (magic moment)

Pemimpin yang efektif akan meciptakan dan mempergunakan suatu momen yang tepat untuk membuat perubahan yang dibutuhkan oleh organisasi.

  1. Menciptakan sikap yang baru dala berperilau organisasi

Sikap yang berpusat pada suatu tujuan, yakni sikap yang fokus akan membuat suatu organisasi atau usaha maju pesat. Jadi, fokus itu penting.

Mangapa Banyak Pemimpin Yang Gagal Memimpin

Kegagalan sebuah usaha, sering kali karena pemilik perusahaan tidak mampu memimpin anak buahnya dengan baik. Mengapa banyak pemimpin yang gagal memimpin ? Menurut Davd L, Dotlich, Peter C. Cain, dan Jossey Bass (2003) dalam tulisan Why CEO’s Fail yang dimuat di koran Suara Pemaharuan, 23 Oktober 2003, pada samuel H. Tirtamihardja (2003), dalam bukunya Pemimpin adalah pemimpin, ada sebelas penyebab utama pemimin mengalami kegagalan dalam memimpin, yaitu :

  1. Arogasi (Arrogance)

Pemimpin merasa dirinya paling suprrior dan paling benar, sehingga yang lain (anak buah) dianggapnya salah semua. (Secara harfiah artinya pemimpin yang congkak, sombong, angkuh, dan keras kepala).

  1. Melograma (Melogram). Pemimpin selalu ingin menjadi pusat perhatian
  2. Mudah berubah pendirian (Volatility). Pemimpin sulit ditebak, bersikap sesuai situasi (sikapnya selalu berubah setiap saat/situasi).
  3. Hati-hati yang berlebihan (Excessive Caution). Pemimpin takut atau memiliki keraguan yang berlebihan dalam mengambil suatu keputusan atau kebijakan.
  4. Kebiasaan berupa ketidakpercayaan (Habitual Distrust). Pemimpin selalu bersikap penuh curiga dan tidak percaya terhadap setiap orang (anak buah).
  5. Menjauhkan diri dari orang lain (Aloofness). Pemimpin sulit dihubungi(Cenderung tertutup ) dan sulit berkomunikasi dengan orang lain (menjaga jarak, terutama dengan para anak buahnya) yang berbeda pendapat atau pernah mengecewakannya.
  6. Kejahatan kenakalan (Mischievousness). Peraturan atau sistem dibuat dan ditetapkan untuk dilanggar (oleh anak buah dan dirinya sendiri) tanpa ada tindakan yang tegas.
  7. Keanehan-kesintingan (Eccentricity). Pemimpin selalu ingin tampil berbeda sehingga kadangkala dianggap aneh/nyeleneh oleh orang lain.
  8. Berdaya tahan pasif (Passive Resistence). Pemimpin tidak yakin dengan apayang dikatakan dan atau apa yang telah diucapkan harus dipertahankan.

10.  Perfeksionisme atau terlalu ingin segalanya sempurna (Perfectionism). Pemimpin menganggap kebanyakan atau mayoritas tindakan anak buahnya salah, hanya sedikit yang dianggap benar. Ia selalu mencari kambing hitam bila terjadi kesalahan, meskipun kesalahannyan sebenarnya adalah kesalahan yang dilakukan oleh dirinya sendiri.

11.  Hasrat-keinginan untuk menyenangkan hatinya sendiri (Eagerness to please). Pemimpin mengejar popularitas semata dalam setiap situasi.