Archive for the Category »ILMU UMUM «

PENGERTIAN SOSIOLOGI AGAMA

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian Sosiologi Agama

Jika berbicara mengenai definisi Sosiologi Agama, maka ada beberapa hal yang kami singgung dalam pembahasan ini, di antaranya adalah mengenai pengertian Sosiologi, Agama, prinsip sosiologi, dan objek kajian Sosiologi Agama. Sosiologi secara umum adalah ilmu pengetauan yang mempelajari masyarakat secara empiris untuk mencapai hukum kemasyarakatan yang seumum-umumnya.

Sosiologi juga dapat diartikan sebagai ilmu tentang perilaku social ditinjau dari kecenderungan individu dengan individu lain, dengan memperhatikan symbol-simbol interaksi.

Agama dalam arti sempit ialah seperangkat kepercayaan, dogma, peraturan etika, praktek penyembahan, amal ibadah, terhadap tuhan atau dewa-dewa tertentu. Dalam arti luas, agama adalah suatu kepercayaan atau seperangkat nilai yang minimbulkan ketaatan pada seseorang atau kelompok tertentu kepada sesuatu yang mereka kagumi, cita-citakan dan hargai.[1]

Ada beberapa definisi Sosiologi Aagama, di antaranya adalah:

  1. Sosiologi agama adalah ilmu yang membahas tentang hubungan antara berbagai kesatuan masyarakat, perbedaan atau masyarakat secara utuh dengan berbagai system agama, tingkat dan jenis spesialisasi berbagai peranan agama dalam berbagai masyarakat dan system keagamaan yang berbeda.
  2. Sosiologi agama adalah studi tentang fenomena social, dan memandang agama sebagai fenomena social. Sosiologi Aagama selalu berusaha untuk menemukan pinsip-prinsip umum mengenai hubungan agama dengan masyarakat.
  3. Sosiologi Agama adalah suatu cabang sosiologi umum yang mempelajari masyarakat agama secara sosiologis guna mencapai keterangan-keterangan ilmiah dan pasti, demi kepentingan masyarakat agama itu sendiri dan masyarakat luas pada umumnya.[2]

Devinisi I . Menurut Dr. H. Goddijn Sisologi Agama ialah bagian dari Sosiologi Umum (versi Barat) yang mempelajari suatu ilmu budaya empiris, profon dan positif yang menuju pada pengetahuan umum, yang jernih dan pasti dari struktur, fungsi-fungsi dan perubahan-perubahan kelompok kegamaan dan gejalah-gejalah kelompok kegamaan.

Devinisi II. Sosiologi Agama ialah suatu cabang Sosiologi Umum yang mempelajari masyarakat agama secara sosiologis guna mencapai keterangan-keterangan ilmiah dan pasti demi kepentingan masyarakat agama itu sendiri dan masyarakat luas pada umumnnya. Segi-segi penting yang hendak ditonjolkan dalam devinisi itu antara lain:

  1. Sosiologi Agama adalah cabang dari Sosiologi Umum
  2. Sosiologi adalah sungguh ilmu sebagaimana Sosiologi Umum adalah benar-benar suatu ilmu.
  3. Tugasnya mencari keterangan ilmiah.

Sosiologi Umum adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat secara empiris untuk mencapai hukum kemasyarakatan yang seumum-umumnnya. Jadi Sosiologi Umum bertugas mencapai ke hukum kemasyarakatan yang seluas mungkin bagi kehidupan masyarakat umumnya, maka Sosiologi Agama bertugas mencapai keterangan-keterangan ilmiah tentang masyarakat Agama. [3]

Sosiologi Agama menjadi disiplin ilmu tersendiri sejak munculnya karya Weber dan Durkheim. Jika tugas dari Sosiologi Umum adalah untuk mencapai hukum kemasyarakatan yang seluas-luasnya, maka tugas dari sosiologi agama adalah untuk mencapai keterangan-keterangan ilmiah tentang masyarakat agama khususnya.

Masyarakat agama tidak lain ialah suatu persekutuan hidup (baik dalam lingkup sempit maupun luas) yang unsure konstitutif utamanya adalah agama atau nilai-nilai keagamaan.

Jika teologi mempelajar agama dan masyarakat agama dari segi “supra-natural”, maka Sosiologi Agama mempelajarinya dari sudut empiris sosiologis. Dengan kata lain, yang akan dicari dalam fenomena agama itu adalah dimensi sosiologisnya. Sampai seberapa jauh agama dan nilai keagamaan memainkan peranan dan berpengaruh atas eksistensi dan operasi masyarakat. Lebih konkrit lagi, misalnya, seberapa jauh unsur kepercayaan mempengaruhi pembentukan kepribadian pemeluk-pemeluknya ikut mengambil bagian dalam menciptakan jenis-jenis kebudayaan; mewarnai dasar-dasar haluan Negara; memainkan peranan dalam munculnya strata (lapisan) social; seberapa jauh agama ikut mempengaruhi proses social, perubahan social, fanatisme dan lain sebagainya.

  1. B. Objek Kajian Sosiologi Agama.
  2. 1. Obyek Material (langsung)

Menurut Keith A. Roberts, sasaran (objek) kajian sosiologi agama adalah memfokuskan kajian paada:

1). Kelompok-kelompok dan lemabaga keagamaan, yang meliputi pembentukannya, kegiatan demi kelangsungan hidupnya, pemeliharaannya dan pembaharuannya

2). Perilaku individu dalam kelompok-kelompok tersebut atau proses social yang mempengaruhi status keagamaan dan perilaku ritual

3). Konflik antar kelompok, misalnya Katolik lawan Protestan, Kristen dengan Islam dan sebagainya. Bagi sosiolog, kepercayaan hanyalah salah satu bagian kecil dari aspek agama yang menjadi perhatiannya.

Bila dikatakan bahwa yang menjadi sasaran sosiologi agama adalah masyarakat agama, sesungguhnya yang dimaksud bukanlah agama sebagai sutu system (dogma dan moral), tetapi agama sebagai fenomena social, sebagai fakta social yang dapat dilaksanakan dan dialami oleh banyak orang. Ilmu ini hanya mengkonstatasi akibat empiris kebenaran-kebenaran supra-empiris, yaitu yang disebut dengan istilah masyarakat agama, dan itulah sasaran langsung dari sosiologi agama.[4]

  1. 2. Obyek Formal (pendekatan)

Yang hendak dicari dalam fenomena agama itu adalah dimensi sosiologisnya. Sampai seberapa jauh agama dan nilai-nilai keagamaan memainkan peranan dan berpengaruh atas eksistensi dan operasi masyarakat manusia. Lebih konkrit misalnya, seberapa jauh unsure kepercayaan mempengaruhi pembentukkan kepribadian pemeluk-pemeluknya, ikut menciptakan jenis-jenis kebudayaan, mewarnai dasar dan haluan Negara, memainkan peranan dalam memunculkan strata social. Jadi hal-hal tersebut dalam contoh di atas  yang berkaitan erat dengan masalah agama, Sosiologi Agama menyorotinya dari sudut pandang sosiologis.

  1. C. Prinsip Sosiologi Agama.

Prinsip sosiologi ditandai dengan 2 prinsip dasar, yaitu: percaya kepada data empiric dan objektivitas. Sosiolog hanya berurusan dengan fakta-fakta yang dapat diukur, diobservasi dan diuji. Dalam prinsip objektivitas, bukan berarti bahwa sosiolog mengklaim bahwa tidak bias salah, atau bias mencapai kebenaran umum, sebab tidak ada satu disiplin ilmu pun yang berhak menyatakan dirinya maha tahu atau paling benar. Objektivitas berarti sosiolog berusaha mencegah kepercayaan agama pribadi masuk ke dalam bidang studinya. Ilmuan social harus sepenuh hati untuk mencari kebenaran. Sebagai warga Negara sosiolog mempunyai kepentingan dan preferensi nasional namun mereka harus terbuka terhadap data dan menghindarkan diri dari prejudgment (mengambil keputusan sebelum membuktikan kebenarannya) terhadap suatu kelompok atau proses keagamaan tertentu. Seorang sosiolog boleh tidak setuju dengan pandangan suatu kelompok yang sedang diteliti, tetapi harus berusaha untuk mengerti kelompok itu atas dasar penelitiannya menghindarkan bias dalam interpretasi proses-proses kelompok itu.[5]

Talcott Parsons berpendapat, jika seorang sosiolog agama akan melakukan suatu analisis tentang sosiologi terhadap agama, maka ia harus memahami:

  1. System fisiologis organisme

2.    Sistm kepribadian individu

3.    Sistem social kelompok

4.    Sistem budaya

D.   Tempat Sosiologi Agama

Tempat sosiologi agama sudah diterangkan dalam definisi sosiologi agama itu sendiri. Ia merupakan cabang dan juga vertical dari sosiologi umum. Maka, sosiologi agama merupakan ilmu yang menduduki tempat yang profan. Ia bukanlah ilmu yang sacral; ilmu yang dilakukan dan dibina oleh sarjana ilmu social, baik orangnya suci maupun tidak suci. Karena maksud ilmu tersebut bukanlah untuk membuktikan kebenaran (objektivitas) ajaran agama, melainkan untuk mencari keterangan teknis ilmiah mengenai hal ikhwal masyarakat agama.

Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat dikatakan bahwa sosiologi agama mempunyai kedudukan yang sama tingginya dengan rumpun ilmu social yang lain,dan ilmu ini lebih merupakan ilmu praktis (terpakai) daripada ilmu teoritis murni. Ia diciptakan untuk memecahkan masalah-masalah sosio-religius yang timbul waktu itu di Eropa akibat kurangnya pengetahuan tentang segi-segi sosiologis kehidupan beragama.

E.    Fungsi Sosiologi Agama

Sosiologi agama memberikan kontribusi yang tidak kecil lagi bagi instansi keagamaan. Sebagai sosiologi positif ia telah membuktikan daya gunanya dalam hal mengatasi kesulitan-kesulitan yang muncul dalam masyarakat serta menunjukkan cara-cara ilmiah untuk perbaikan dan pengembangan masyarakat, demikian juga sosiologi agama bermaksud membantu para pemimpin agama dalam mengatasi masalah-masalah sosio-religius yang tidak kalah beratnya dengan masalah-masalah social nonkeagamaan, memberikan pengetahuan tentang pola-pola interkasi social keberagamaan yang terjadi dalam masyarakat, membantu kita untuk mengontrol atau mengendalikan setiap tindakan dan perilaku keberagamaan kita dalam kehidupan bermasyarakat, dengan bantuan sosiologi agama, kita akan semakin memahami nilai-nilai, norma, tradisi  dan keyakinan yang dianut oleh masyarakat lain serta memahami perbedaan yang ada. Tanpa hal itu, mejadi alas an untuk timbulnya konflik di antara umat beragama, membuat kita lebih tanggap, kritis dan rasional untuk mengahadapi gejala-gejala social keberagamaan masyarakat, serta kita dapat mengambil tindakan yang tepat dan akurat terhadap setiap situasi social yang kita  hadapi.[6]

Menurut pandangan Durkheim, fungsi sosiologi agama adalah mendukung dan melestraikan masyarakat yang sudah ada. Djamari berpendapat bahwa ada 2 implikasi sosiologi agama bagi agama, yaitu:

  1. Menambah pengertian tentang hakikat fenomena agama di beragai kelompok masyarakat, maupun pada tingkat individu;
  2. Suatu kritik sosiologis tentang peran agama dalam mayarakat dapat membantu kita untuk menentukan masalah teologi yang mana yang paling berguna bagi masyarakat, baik dalam arti sekuler maupun religious.

Dengan cara ini, sosiologi agama memberikan sumbangan kepada dialog kegamaan di dalam masyarakat. Semua pelopor sosiologi Eropa, seperti Karl Marx, Weber, Durkheim, serta Simmel berpendapat bahwa untuk mengerti masyarakat modern, seseorang harus mengerti peran penting agama dalam masyarakat.

F.    Aliran- Aliran dalam Sosiologi Agama.

Sosiologi agama bukan merupakan satu kesatuan yang seragam. Adapun perbedaan aliran dalam sosiologi agama dengan cirri-ciri tersendiri disebabkan oleh:

  1. Perbedaan visi atas realitias masyarakat, khususnya mengenai kekuatan tertentu yang dianggap memerankan peranan dominan atas kehidupan masyarakat.
  2. Akibat dari perbedaan visi tesebut, digunakan pula metode dan pendekatan yang   berbeda.

Aliran-aliran dalam sosiologi agama antara lain adalah:

  1. a. Aliran Klasik

Aliran ini muncul pada pertengahan abad ke-19 dan belahan pertama dari abad ke-20 yang ditopang oleh sejumlah sarjana (kecuali Durkheinm dan Weber). Bagi mereka kedudukan sosiologi agama sangat dekat dengan sejarah dan filsafat dan merupakan suatu refleksi dan analisis sistematis terhadap masyarakat, kebudayaan dan agama.

Tujuan aliran ini adalah hendak mengungkap pola-pola social dasar dan peranannya dalam mencipatakan masyarakat. Instansi pemerintah dan kalangan agama yang berkonsultasi dengan pendukung aliran ini, akan mendapat jawaban panjang tentang sejarah dari masyarakat agama yang bersangkutan dan akan ditunjukkan kekuatan-kekuatan (social) yang mendorong berdirinya unsure-unsur budaya yang menopang kelangsungan hidup, disbanding dengan tuntutan-tuntutan modern dalam situasi yang sudah berubah, lantas mempersilakan instansi yang bersangkutan untuk mengadakan perubahan yang sesuai.[7]

  1. b. Aliran Positivisme

Aliran ini mengikuti sosiologi yang empiris-positivistis dan menyetarakan (menjajarkan) masyarakat agama dengan benda-benda alamiah. Aliran ini menyibukkan diri dengan kuantifikasi dari dimensi masyarakat yang kualitatif dengan metode pengukuran yang eksak dan menarik kesimpulan yang dibuktikan dengan fakta-fakta. Dengan kata lain, kesimpulan yang sifatnya netral tanpa diwarnai pertimbangan teologis atau filosofis, dilepas dari konteks sejarah perkembangan yang dialami masyarakat itu dalam waktu yang lampau. Cara penganalisisan demikian itu dipegang ketat dan konsekuen demi tercapainya hasil yang diinginkan, yaitu hasil yang seobjektif mungkin.

Instansi (pemerintah atau keagamaan) yang berkonsultasi dengan pendukung aliran ini untuk mengadakan penelitian mengenai lembaganya atau organisasinya, akan mendapat keterangan banyak tentang struktur organisasinya, mengenai kualitas pemimpinnya dan reaksi  (baik positif maupun negative) dari naggota-anggota lemaganya. Instansi yang berkonsultasi akan diyakinkan mengenai pentingnya keterangan (ilmiah) itu, tetapi kepadanya diserahkan sepenuhnya untuk menentukan sendiri bagaimana ia akan menggunakan informasi itu.

  1. Aliran Teori Konflik (Teori Kritis)

Menurut ahli teori ini, masyarakat yang baik ialah masyarakat yang hidup dalam situasi konfliktual. Masyarakat yang hidup dalam keseimbangan (equilibrium) dianggap sebagai masyarakat yang tertidur dan berhenti dalam peruses kemajuannya. Karena konflik social dianggapnya sebagai kekuatan social utama dari perkembangan masyarakat yang ingin maju kepada tahap-tahap yang lebih sempurna. Gagasan ini dicetuskan oleh Hegel, Karl Marx dan Weber. Sebagai sarana mutlak (yang diberikan oleh alam sendiri) untuk memajukan masyarakat manusia.

Aliran ini tidak sepakat dengan para ahli aliran fungsionalisme yang melihat keseimbangan soosial masyarakat sebagai bentuk hidup yang ideal, karena dianggap kurang menyadari atau membiarkan adanya kekurangan dan ketidakadilan yang dibungkam oleh struktur kekuasaan yang bertahan. Aliran ini juga tidak menyetujui metode kuantitatif dari aliran positivism, karena dianggap sebagai suatu hal yang mengasingkan orang dari masyarakat.

Aliran ini tidak dapat memusatkan perhatiannya pada problem mikro saja, karena pengkajian masalah yang kecil akan mengundang persoalan yang lebih besar. Dan hal yang tidak boleh dilupakan dalam analisisnya adalah usaha menempatkan situasi yang dhadapi dalam kurun sejarah perkembangan yang telah dilewati yang tidak dapat dilepaskan dari masalah baru yang hendak dicari pemecahannya. Aliran sosiologi ini mempunyai persamaan dengan aliran sosiologi kalsik yang selalu tertarik pada problem-problem makro, dan masalah-masalah mikro hanya diperhatikan sejauh itu dapat memberikan keterangan bagi pemecahan masalah yang besar.

Jika salah satu instansi pemerintah dan keagamaan berkonsultasi dengan pendukung aliran ini, maka mereka akan mendapat seperangkat penjelasan tentang unsure-unsur pertentangan yang ada dalam tubuh organisasinya, dan yang berhasil digali dari keasadaran kelompok-kelompok yang saling bertentangan, lalu diberikan solusi yang dipandang tepat untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi.[8]

  1. d. Airan Fungsionalisme

Para pendukung aliran ini bertolak belakang dari pendirian dasar bahwa masyarakat itu suatu system perimbangan, di mana setiap kelompok memberikan sumbangannya yang khas melalui peranannya masing-masing yang telah ditentukan demi lestarinya suatu masyarakat. Menurut mereka, timbulnya suatu bentrokan dalam organisasi dipandang berfungasi korektif untuk membenahi kesalahan-kesalahan yang telah terjadi, yang tidak berjalan baik. Penelitian yang dilakukan sebegaian besar bertujuan untuk mendapatkan keterangan-keterangan tentang apakah tugas-tugas yang dilaksanakan oleh pimpinan adan anggotanya berjalan dengan baik.

Aliran ini menerima prinsip kerja yang memperkecil penelitiannya pada suatu problem mikro, yang dianggap berguna sebagai sampel untuk mengetahui kedaan keseluruhannya sebagai system keseimbangan. Apabila pendukung aliran ini diminta untuk melakukan sebuah penelitian terhadap suatu masyarakat agama, maka ada 2 hal pokok yang menjadi perhatian utamanya:

1)      Bagian mana dari lembaga tersebut yang berfungsi baik.

2)      Bagian mana dari lembaga tersebut yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Penelitian yang dilakukan oleh aliran fungsionalisme telah melahirkan kesimpulan-kesimpulanyang sangat berguna bagi instansi-instansi keagamaan/ pemerintah. Menurut aliran ini, baik masyarakat religious maupun masyarakat profan, keduanya mengembang fungsi bagi umat manusia, dan mempunyai kewajiban moril untuk menyadari sifat saling ketergantungannya.

Teori ini melihat agama sebagai suatu bentuk kebudayaan yang istimewa, yang pengaruhnya meresapi tingkah laku manusia penganutnya, baik lahiriyah maupun bathiniyah, sehingga system sosialnya untuk sebagian besar terdiri dari kaidah-kaidah yang dibentuk oleh agama.[9]

G.   Metode Penelitian Dalam Sosiologi Agama

Sebagaimana penelaahan proses social lainnya, kajian sosiologi agama menggunakan metode ilmiah. Pengumpulan data dan metode yang digunakan antara lain dengan data sejarah, analisis komparatif lintas budaya, eksperimen yang terkontrol, observasi, survai samlpling dan content analisis.

  1. 1. Analisis Sejarah

Objek studi sosiologi adalah menerangkan realitas masa kini, yang berhubungan erat dengan kehidupan manusia dan yang mempengaruhi gagasan serta perilaku manusia. Untuk mengerti persoalan yang dihadapi manusia saat ini, kita harus mngetahui sejarah masa silam. Meskipun terkadang metode ini tidak selalu dapat menjawab persoalan yang dihadapi karena agama tidak sama nilai maupun kepentingannya untuk setiap tempat dan waktu.

Sejarah dalam hal ini hanya sebagai metode analisis atas dasar pemikiran bahwa sejarah dapat menyajikan gambaran tentang unsur-unsur yang mendukung timbulnya suatu lembaga. Karena itu, setiap kita harus menjelaskan fakta manusiawi yang berhubungan dengan sesuatu waktu, apakah itu masalah kepercayaan, hukum, moral, system ekonomi, teknologi, kita perlu melihat sejarah kejadian dan perkembangan eksistensinya dimulai dari bentuk yang sederhana hingga bentuk yang lebih kompleks yang tampak sekarang.

Pendekatan sejarah bertujuan untuk menemukan inti karakter agama dengan menelusuri sumber di masa lampau sebelim tercampuri tradisi lain. Pendekatan tersebut didasarkan kepada personal historis dan perkembangan kebudayaan umat manusia. Pendekatan yang didasarkan atas sejarah personal, berusaha menelusuri awal perkemabangan tokoh keagamaan secara individual, untuk menemukan sumber-sumber dan jejak perkembangan perilaku keagamaan sebagai hasil dialog dengan dunia sekitarnya.

Beberapa sosiolog menggunakan data historis untuk mencari pola-pola interaksi antara agama dan masyarakat. Pendekatan ini telah membimbing ke arah pengembangan teori tentang evolusi agama dan perkembangan tipologi kelompok-kelompok keagamaan. Analisis hisoris telah digunakan oleh Talcott Parson dan Bellah dalam rangka menjelaskan evolusi agama, Berger dalam uraian tentang memudarnya agama dalam masyarakat modern, Max Weber ketika menerangkan tentang sumbangan teologi Protestan dalam melahirkan kapitalisme dan sebagainya.

  1. 2. Analisis Lintas Budaya

Dengan membandingkan pola-pola sosioreligius di beberapa daerah kebudayaan, sosiolog dapat memperoleh gambaran mengenai korelasi unsure budaya tertentu atau kondisi sosiokultural secara umum.

Talmon menggunakan data lintas budaya untuk menelaah pola-pola di antara gerakan millenarian, yaitu gerakan keagamaan yang menganggap akan adanya era baru di masa yang akan dating setelah jatuhnya penguasa yang lama. Salah satu kesulitan pelaksanaan analisis sosiologi agama melalui analisis lintas budaya yaitu sangat bervariasinya konsep agama pada daerah kebudayaan yang berlainan, juga sulit dalam mendapatkan ketepatan yang disyaratkan oleh para saintis.

  1. 3. Eksperimen

Metode eksperimen sulit dilaksanakan dalam bidang sosiologi agama. Namun, di dalam beberapa hal masih dapat dilalukan, misalnya untuk mengeevaluasi hasil pebedaan belajar dari beberapa model pendidikan agama.

  1. 4. Observasi Partisipatif

Dengan partisipasi dalam kelompok, peneliti dapat mengobservasi perilaku orang-orang dalam konteks religious. Hal itu dapat dilakukan dengan terus terang, artinya orang yang dobservasi itu boleh mengetahui bahwa mereka sedang dipelajari. Keuntungan dari metode observasi partisipatif adalah:

a.   Memungkinkan pengamatan interaksi simbolik antara anggota kelompok secara mendalam. Interaksi simbolik maksudnya adalah suatu perspektif teoritik sosiologi dan psikologi social. Dengan perspektif ini, indivudu tidak dilihat reponnya yang lahir, namun dipahami makna dari perilaku itu. Sering makna simbolik dan tata laku dielajari sejak dini secara menyeluruh dengan jalan individu berperan serta di dalam kelompok. Pakainan, pandangan mata, jarak antara orang yang sedang bicara dan gerak merupakan contoh fenomena yang sering secara simbolik sangat signifikan dalam rangka memperoleh pengertian  suatu kebudayaan. Tipe-tipe anggota yang menjadi objek dalam interaksi simbolik itu digunakan sebagai dasar analisis.

b.    Observasi peran serta berguna jika peneliti berpendapat bahwa ada kesenjangan antara apa yang dikatan dengan perilaku orang-orang yang sedang diteliti. Misalnya, responden menyatakan bahwa ia sangat komitmen dengan ajaran ortodoksi agama, namun perilakunya sehari-hari tidak relevan, perlu dipertanyakan.

c.    Observasi peranserta memberikan kesempatan untuk mendapatkan data secara otentik, terutama mengenai perilaku atau karakteristik yag sifatnya pribadi. Dengan observasi peran serta dapat terungkap kualitas perilaku yang lebih dalam, yang mungkin tidak tercakup oleh kuesioner maupun interview singkat. Karena itu, observasi seperti ini sering dihubungkan dengan metode riset kualitatif.

Kelemahan dari metode ini antara lain adalah:

  1. Mungkin data terbatas pada kemampuan observer dan apa yang dianggap benar dalam suatu kasus, belum tentu benar pada kasus lain.
  2. Studi kasus member peluang bagi peneliti untuk mengumpulkan data secara   mendalam, tetapi sering kurang meluas, terikat oleh sesuau aspek tertentu yang menjadi perhatian peneliti.
  3. Diperlukan sejumlah besar kasus untuk menggenaralisasikan pola yang diidentifikasikan.
  4. Data yang dilaporkan sering terikat oleh system penyaringan peneliti sendiri. Tidak semua observer tertarik pada pola yang sama. Apa yang dipilih dan dicatat oleh observer mungkin tidak lengkap.
  5. 5. Riset Survei dan Analisis Statistik

Peneliti menyusun kuesioner, melakukan interview dengan sampel dari sustu populasi. Sampel dan populasi bias berupa oganisasi keagamaan atau penduduk sustu kota atau desa. Responden misalnya ditanya tentang:

1.    Afiliasi keagamaannya;

2.    Frekuensi kehadiran ditempat-tempat peribadatan;

3.    Frekuensi keteraturan sembahyangnya;

4.  Pengetahuan tentang ajaran agama atau doktrin yang dikembangkan oleh sesuatu organisasi keagamaan;

5.   Kepercayaan kepada sesuatu konsep keagamaan tertentu seperti tentang hidup setelah mati, eksistensi tuhan, tentang akan kembalinya nabi Isa (yesus) dan indicator religiousitas lainnya.

Prosedur ini sangat berguna untuk memperlihatkan korelasi dari karakteristik keagamaan tertentu dengan sesuatu sikap social, atau atribut religious tertentu. Kalau metode historis dan observasi memberi peluang kepada interpretasi data subjektif, maka data survey untuk mengidentifikasi sesuatu lebih cermat dari korelasi religious dengan sikap dan karakteristik social tertentu. Misalnya korelasi antara:

1.    Fundamentalisme dengan anti semitisme

2.    Frekuensi menghadiri acara kegerejaan atau pengajian dengan tradisionalisme peran wanita dan pria.

3.    Afiliasi denominasi atau organisasi keagamaan tertentu dengan mobilitas social dan tingkat pendapatan.

Dengan kata lain, riset survey memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mengendalikan variable dan identifikasi korelasi. Adapun kesukarannya antara lain adalah:

1.    Analisis statistic tentang korelasi karakteristik keagamaan dengan atribut social belum tentu menunjukkan factor penyebab dari atribut tersebut, yang berarti interpretasi makna suatu event kadang-kadang hilang.

2.    Data tidak menunjukkan proses yang dilalui oleh sesuatu subyek hanya bersifat statis atau non hirostik, tidak menunjukkan fase-fase perkembangan sebab akibat.

3.    Kadang-kadang peneliti beranggapan jawaban yang negative terhadap sesuatu pertanyaan, diartikan”kurang religious atau kurang orthodox seseorang responden.

4.    Pertanyaan-pertanyaan sering tidak memberikan peluang kepada orang untuk mengemukakan modes alternatif religiuisitas yang lainnya.

5.    Apa yang dikatakan orang dikatakan orang tidak selaras dengan perilakunya.

6.    Informasi survey tidak melibatkan kepada studi yang langsung mengenai pengalaman keagamaan itu sendiri, hanya menfokuskan pada laporan pengalaman keagamaan.

7.    Informasi yang dikumpulkan melalui daftar pertanyaan “lebih lunak” dari pada hakikat informasi yang sebenarnya.

f.    Analisis Isi

Peneliti mencoba mencari keterangan dari teman-tenman religious; baik berpa tulisan, buku-buku khotbah, doktrin, deklarasi teks dan lain-lain. Misalnya:

1.    Sikap suatu kelompok keagamaan dapat dianalisisdari isi khotbah yang diterbitkan oleh kelompok tersebut;

2.    Pandangan hidup dari organisasi atau aliran agama dapat diidentifikasi dari tema atau isi lagu-lagu yang biasa dinyanyikan di gereja, atau lagu qasidahan yang dilantunkan oleh senimannya;

3.    Keterlibatan religious seorang Amerika misalnya, dianalisis dari buku-buku agama popular yang terbit di Negara tersebut;

4.    Tentang eivil religion (sejenis agama bangsa) dipelajari melalui analisis isi referensi relegius, misalnya dalam Declaration of Independence, pidato pengukuhan presiden dan statement lain yang erat hubungannya dengan tujuan bangsa sesuatu Negara.

Content analisis bermanfaat, namun salah satu kesulitannyaadalah asumsinya bahwa asumsi tertulis dianggap sebagai gambaran tepat dari pandangan rakyat. Padahal pidato pengukuhan presiden misalnya, belum tentu mencerminkan sikap dan nilai yang demiliki dan disetujui oleh suatu penduduk suatu Negara tertentu. Sangat lakunya buku-buku agama belum tentu menggambarkan tingkat religiusitas penduduk.


[1] http://orthevie.wordpress.com/2010/02/13/pengertian-tempat-fungsi-dan-aliran-aliran-serta-metode-penelitian-dalam-sosiologi-agama/

[2] http://orthevie.wordpress.com/2010/02/13/pengertian-tempat-fungsi-dan-aliran-aliran-serta-metode-penelitian-dalam-sosiologi-agama/

[3] Drs. D. Hendropuspito, O.C. Sosiologi Agama, hlm.8.

[4] Drs. D. Hendropuspito, O.C. Sosiologi Agama, hlm. 9.

[5] http://orthevie.wordpress.com/2010/02/13/pengertian-tempat-fungsi-dan-aliran-aliran-serta-metode-penelitian-dalam-sosiologi-agama/

[6] Drs. D. Hendropuspito, O.C. Sosiologi Agama, hlm. 10-11.

[7] Drs. D. Hendropuspito, O.C. Sosiologi Agama, hlm. 24.

[8] Ibid, hal. 25

[9] Ibid,hal.26.

MEMAHAMI HAKEKAT AGAMA-AGAMA

MAKALAH

MEMAHAMI HAKEKAT AGAMA-AGAMA

Disusun sebagai tugas  Studi Agama-Agama yang dibimbing

oleh M. Mukhlis Fahrudin, M.S.I

Oleh:

M. Imamul Muttaqin               (07110257)

Suynto                                     (07110283)

Ahmad Mujahid                      (06110236)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

November, 2010

BAB I

  1. A. Latar Belakang

Agama merupakan salah satu aspek yang paling penting dari pada aspek-aspek budaya yang di pelajari oleh para antropolog dan para ilmuwan sosial lainnya. Sangat penting bukan saja yang di jumpai pada setiap masyarakat yang sudah

diketahui, tetapi karena juga penting saling pengaruh mempengaruhi antara lembaga budaya satu dengan yang lainya. Di dalam agama itu di jumpai ungkapan materi budaya dalam tabiat manusia serta dalam sistem nilai, moral dan etika. Agama itu saling pengaruh mempengaruhi dengan sistem organisasi kekeluaragaan, perkawian, ekonomi, hukum, dan politik. Agama juga memasuki lapangan pengobatan, sains dan teknologi. Serta agama itu memberikan inspirasi untum memberontak dan melakukan peperangan dan terutama telah memperindah dan memperhalus karya seni, tidak terdapat suatu instuisi kebudayaan lainnya menyajikan suatu lapangan eksprresi dan implikasi begitu halus seperti halnya agama. Ide-ide keagamaan dan konsep-konsep keagamaan itu tidak dipaksa oleh hal-hal yang bersifat fisik sekirannya. Segala macam formula itu tidak menjumpai keterbasan dibanding dengan permasalahan spiritual yang dipertanyakan oleh manusia itu sendiri.

  1. Rumusan Masalah
    1. Bagamana hakikat agama yang sebenarnya?
    2. Bagaimana usur-unsur agama sebenarnya?
    3. bagaimana pengalaman beragama itu sebenarnya?
    4. Tujuan penulisan makalah ini adalah
      1. Untuk mengetahui hakikat agama yang sebenarnya
      2. Untuk mengetahui unsur-unsur agama sebensrnya
      3. Untuk mengetahui pengalaman beragama sebenarnya

BAB II

Kajian pustaka

  1. A. Hakekat Agama

Agama yang pada hakekatnya adalah keyakinan akan adanya Tuhan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, maka sangat perlu dipahami secaraseksama oleh setiap manusia.Dalam uraian ini akan kemukakan pengertian agama, hubungan agama dengan manusia, manfa’at agama, klasifikasi agama,dan agama Islam.

  1. 1. Pengertian agama

Agama dalam pengertiannya dapat dikelompokkan pada dua bahagian yaitu agama menurut bahasa dan agama menurut istilah. Beberapa persamaan arti kata“agama’’ dalam berbagai bahasa:

1. Ad din (Bahasa Arab dan Semit)

2. Religion (Inggris)

3.La religion (Perancis)

4. De religie (Belanda)

5. Die religion (Jerman)

Secara bahasa, perkataan ‘’agama’’ berasal dari bahasa Sangsekerta yang erat hubungannya dengan agama Hindu dan Budha yang berarti ‘’tidak pergi’’tetap di tempat, diwarisi turun temurun’’. Adapun kata din mengandung arti menguasai, menundukkan, kepatuhan, balasan atau kebiasaan.

Din juga membawa peraturan-peraturan berupa hukum-hukum yang harus dipatuhi baik dalam bentuk perintah yang wajib dilaksanakan maupun berupa larangan yang harus ditinggalkan. Kata din dalam Al Qur’an disebut sebanyak 94kali dalam berbagai makna dan kontek, antara lain berarti :

1. Pembalasan (Q.S Al Fatihah (1) ayat 4.

2. Undang-undang duniawi atau peraturan yang dibuat oleh raja (Q.S Yusuf (12)ayat 76.

3. Agama yang datang dari Allah SWT, bila dirangkaikan dengan kata Allah (Q.SAli Imran (3) ayat 83.

4. Agama yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW sebagai agama yang benar, yakni Islam, bila kata din dirangkaikan dengan kata al-haq (Q.S AtTaubah (9) ayat 33

5. Agama selain Islam (Q.S Al Kafirun(109) ayat 6 dan Q.S Ash Shaf (61) ayat 9.

Menurut Abu Ahmadi agama menurut bahasa :

1. Agama berasal dari bahasa Sangsekerta yang diartikan dengan haluan,peraturan, jalan atau kebaktian kepada Tuhan.

2. Agama itu terdiri dari dua perkataan yaitu A. berarti tidak, Gama berarti kacau balau, tidak teratur. Jadi agama berarti tidak kacau balau yang berarti teratur.

Agama menurut istilah adalah undang-undang atau peraturan-peraturan yang mengikat manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam. Maka orang yang beragama adalah orang yang teratur, orang yang tenteram dan orang yang damai baik dengan dirinya maupun dengan orang lain dari segala aspek kehidupannya.

Sebuah agama biasanya melingkupi tiga persoalan pokok, yaitu :

1. Keyakinan (credial), yaitu keyakinan akan adanya sesuatu kekuatan supranatural yang diyakini mengatur dan mencipta alam.

2. Peribadatan (ritual), yaitu tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan kekuatan supranatural tersebut sebagai konsekuensi atau pengakuan dan ketundukannya.

3. Sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya atau alam semesta yang dikaitkan dengan keyakinan nya tersebut.[1]

2. Klasifikasi Agama

Ditinjau dari sumbernya agama dibagi dua, yaitu agama wahyu dan agama bukan wahyu.

Agama wahyu (revealed religion) adalah agama yang diterima oleh manusia dari Allah Sang Pencipta melalui malaikat Jibril dan disampaikan serta disebarkan oleh Rasul-Nya kepada umat manusia. Wahyu-wahyu dilestarikan melalui Al Kitab, suhuf (lembaran-lembaran bertulis) atau ajaran lisan.Agama wahyu menghendaki iman kepada Tuhan Pemberi wahyu, kepada rasul-rasul penerima wahyu dan kepada kitab-kitab kumpulan wahyu serta pesannya disebarkan kepada seluruh umat manusia

Agama bukan wahyu (agama budaya/ cultural religion atau natural religion) bersandar semata-mata kepada ajaran seorang manusia yang dianggap memiliki pengetahuan tentang kehidupan dalam berbagai aspeknya secara mendalam. Contohnya agama Budha yang berpangkal pada ajaran Sidharta Gautama dan Confusianisme yang berpangkal pada ajaran Kong Hu Cu.

Perbedaan kedua jenis agama ini dikemukakan Al Masdoosi dalam Living

Religious of the World sebagai berikut :

1. Agama wahyu berpokok pada konsep keesaan Tuhan sedangkan agama bukan wahyu tidak demikian.

2. Agama wahyu beriman kepada Nabi, sedangkan agama bukan wahyu tidak.

3. Dalam agama wahyu sumber utama tuntunan baik dan buruk adalah kitab suci yang diwahyukan, sedangkan agama bukan wahyu kitab suci tidak penting.

4. Semua agama wahyu lahir di Timur Tengah, sedangkan agama bukan wahyu lahir di luar itu.

5. Agama wahyu lahir di daerah-daerah yang berada di bawah pengaruh ras semetik.

6. Agama wahyu sesuai dengan ajarannya adalah agama misionari, sedangkan agama bukan wahyu agama misionari.

7. Ajaran agama wahyu jelas dan tegas, sedangkan agama bukan wahyu kabur dan elastis.

8. Agama wahyu memberikan arah yang jelas dan lengkap baik aspek spritual maupun material, sedangkan agama bukan wahyu lebih menitik beratkan kepada aspek spritual saja, seperti pada Taoisme, atau pada aspek material saja seperti pada Confusianisme.

Agama wahyu disebut juga agama samawi (agama langit) dan agama bukan wahyu disebut agama budaya (ardhi/ bumi). Sedangkan yang termasuk dalam kategori agama samawi hanyalah Agama Islam.

3. Ciri-ciri Agama Wahyu (langit)

1. Secara pasti dapat ditentukan lahirnya, dan bukan tumbuh dari masyarakat,melainkan diturunkan kepada masyarakat.

2. Disampaikan oleh manusia yang dipilih Allah sebagai utusan-Nya. Utusan itu bukan menciptakan agama, melainkan menyampaikannya.

3. Memiliki kitab suci yang bersih dari campur tangan manusia.

4. Ajarannya serba tetap, walaupun tafsirnya dapat berubah sesuai dengan kecerdasan dan kepekaan manusia.

5. Konsep ketuhanannya adalah : monotheisme mutlak ( tauhid)

6. Kebenarannya adalah universal yaitu berlaku bagi setiap manusia , masa dan keadaan.

4. Ciri-ciri agama budaya (ardhi)

1. Tumbuh secara komulatif dalam masyarakat penganutnya.

2. Tidak disampaikan oleh utusan Tuhan ( Rasul).

3. Umumnya tidak memiliki kitab suci, walaupun ada akan mengalami perubahan-perubahan dalam perjalanan sejarahnya.

4. Ajarannya dapat berubah-ubah, sesuai dengan perubahan akal pikiranmasyarakatnya ( penganutnya).

5. Konsep ketuhanannya : dinamisme, animisme, politheisme, dan paling tinggi adalah monotheisme nisbi.

6. Kebenaran ajarannya tidak universal , yaitu tidak berlaku bagi setiap manusia, masa, dan keadaan.

5. Agama Sebagai Kebenaran

Pertama, ada dua macam agama, di tinjau dari sumbernya, yaitu: (1) agama budaya, yakni agama ciptaan manusia sendiri dan (2) agama wahyu, yakni agama yang diwahukan Allah swt. Kepada manusia;

Kedua, semua agama wahyu, semua agama para nabi, adalah agama Islam. Oleh karena itu, menurut Al Qur’an, agama islam adalah satu-satunya agama wahyu. Untuk selanjutnya, apabila kita bicara tentang agama, maka yang kita maksudkan agama wahyu itulah.

Dalam kesempatan ini baik dan perlu sekali kita ulangi yang pernah kita simpulkan yaitu: pertama, bahwa percaya dan kepercayaan itu lekat dengan diri pribadi manusia; kita tidak dapat membayangkan manusia dapat hidup dengan wajar tanpa suatu kepercayaan apapun. Kedua, bahwa baik dalam kehidupan dan penghidupan sehari-hari, maupun dalam lapangan ilmu pengetahuan, ataupun dalam bidang filsafat sekalipun, ternyata manusia tidak dapat melepaskan diri dari faktor kepercayaan. Ketiga, faktor kepercayaan ini memegang peranan pertama dan utama di dalam agama. Keempat, bentuk kepercayaan yang tinggi ialah agama.[2]

B. Unsur-unsur agama.

Setiap agama pada dasarnya terdiri dari empat unsur, yaitu:

  1. Ajaran (= teori; konsep) sebagai sisi gaib
  2. Iman sebagai interaksi antara pelaku dan konsep,
  3. Ritus (= upacara) sebagai sistem lambang, dan
  4. Praktik ( = amal) sebagai perwujudan konsep dalam segala segi kehidupan individu dan masyarakat.

Dalam dïnul-islãm (‘agama Islam’) keempat unsur itu terungkap melalui Hadis Jibril, yang mencakup butir-butir di bawah ini.

1.  Ajaran Allah sebagai konsep hidup

Dalam dialog tentang iman, Rasulullah menegaskan tentang masalah terpenting dari dïnul-islãm, yaitu adanya interaksi antara seorang mu’min dengan ajaran Allah, yang disampaikan (diajarkan) melalui malaikat-malaikatNya, dalam bentuk kitab-kitab, yang diterima rasul-rasulNya, untuk mencapai tujuan akhir (kehidupan yang baik di dunia dan akhirat), dengan menjadikan ajaran Allah sebagai qadar (ukuran; standard; teori nilai) baik-buruk menurutNya.

Ajaran Allah yang dimaksud adalah Al-Qurãn.

Al-Qurãn sebagai qadr atau taqdïr adalah sisi gaib (abstract level) dari dïnul-islãm, yang merupakan “teori nilai” untuk menentukan baik buruknya segala sesuatu menurut pandangan Allah.

2. Îmãn sebagai interaksi

Iman pada hakikatnya adalah interaksi (aksi timbal balik) antara Allah sebagai pemberi konsep hidup dengan si mu’min yang menyambut da’wah (ajakan; tawaran) Allah melalui rasulNya. Selanjutnya, interaksi itu berlangsung intensif  melalui penghayatan si mu’min terhadap Al-Qurãn, sehingga Al-Qurãn menjadi satu-satunya konsep hidup yang tumbuh subur dalam ‘organ kesadaran’ (al-qalbu) si mu’min, yang selanjut meledak dan membanjir keluar melalui indra pengucapan (al-lisãnu), dan akhirnya menjelma menjadi berbagai bentuk tindakan dan kretifitas (al-‘amalu). Tepat seperti dinyatakan Rasulullah, misalnya dalam hadis riwayat Ibnu Majah:  الإيمان عقد بالفلب و إقرار باللسان و عمل بالأركان .

3. Ritus sebagai sistem lambang

Dalam dïnul-islãm ada sejumlah ritus yang dalam Hadis Jibril disebut dengan nama Al-Islãm pula, yaitu:

  1. a. Syahãdah sebagai sumpah setia (bay’ah). Pada masa Rasulullah jelas bahwa syahadat (syahãdah) adalah sebuah ‘upacara’ (ritus) untuk menyatakan sumpah setia seseorang terhadap dïnul-islãm, alias untuk meresmikan rekrutmen seseorang atau sejumlah orang sebagai anggota bun-yãnul-islãm (organisasi Islam).
  2. b. Shalat sebaga sarana pembatinan nilai-nilai Al-Qurãn, sekaligus pembinaan jama’ah/korp Islam. Orang-orang yang menyatakan diri (bersyahadat) sebagai anggota organisasi Islam tentu harus memahami dan menghayati konsep organisasinya, yakni Al-Qurãn. Hal itu dilakukan melalui shalat, yang bacaan pokoknya adalah surat Al-Fãtihan (ummul-qurãn) ditambah dengan surat-surat lain yang terus dipelajarinya. Selain itu, melalui shalat jama’ah, mereka juga belajar untuk membangun sebuah jama’ah atau korp yang rapi dan kompak.
  3. c. Zakat sebagai sistem ekonomi. Zakat, mulai dari zakat harta sampai zakat fitrah, pada hakikatnya melambangkan kesediaan setiap mu’min yang mampu untuk mendanai organisasi dan memperkuat jama’ah. Lebih lanjut, setelah organisasi menjelma menjadi sebuah sistem yang dipercaya untuk menata kehidupan umat (jama’ah mu’min plus komunitas-komunitas lain, seperti terlihat pada Piagam Madinah), maka zakat itu pun dikembangkan menjadi sistem ekonomi masyarakat secara umum.
  4. d. Shaum Ramadhan sebagai pembina ketahanan mental dan fisik dalam menerapkan nilai-nilai Al-Qurãn. Seluruh anggota organisasi jelas membutuhkan pembinaan mental dan fisik, supaya menjadi anggota-anggota yang militan dan tangguh. Shaum Ramadhan adalah sarana yang tepat untuk itu.
  5. e. Haji sebagai sarana pemersatu umat Islam sedunia. Ibadah haji merupakan ritus yang paling istimewa di antara kelima ritus dalam dïnul-islãm. Melalui hajilah umat Islam sedunia berkumpul, menjalin persahabatan, persaudaraan, dan persatuan berdasar kesamaan iman.

4. Praktik sebagai perwujudan konsep

Dïnul-islãm pada dasarnya adalah agama yang berorientasi pada praktik (amal). Tapi supaya praktinya tidak dilakukan sembarangan, Allah menempatkan rasulNya sebagai tokoh sentral untuk memimpin dan memberikan contoh penerapan setiap aspek ajaran Islam, mulai dari yang bersifat individu sampai pada yang bersifat kemasyarakatan. Tegasnya, pribadi Rasulullah adalah contoh sempurna dari individu mu’min, dan masyarakat yang dibangun beliau bersama jama’ahnya juga, otomatis, merupakan bentuk masyarakat yang ideal. Sebuah masyarakat yang mewakili Al-Qurãn sebagai konsepnya.

5.  Ihsãn sebagai sistem kendali

Seperti ditegaskan Rasulullah dalam Hadis riwayat Muslim, bahwa Allah menentukan al-ihsãn(u) pada setiap urusan, sampai pada urusan menyembelih hewan, maka bisa disimpulkan bahwa ihsan adalah sistem kendali (kontrol) atas setiap pelaksanaan ajaran Allah.

Dengan demikian, harfiah, ihsan bisa diterjemahkan sebagai “kecermatan, ketelitian, dan keseksamaan dalam melaksanakan ajaran Allah”.

Bagi kita sekarang, sikap ihsan harus diterapkan pertama-tama dalam konteks studi ajaran Allah itu sendiri, yang mencakup musshaf Al-Qurãn, kitab-kitab Hadits, plus buku-buku sejarah, dan lain-lain yang berkaitan. Studi ini harus mengarah pada “ditemukannya makna Al-Qurãn yang utuh dan murni”, yaitu suatu makna yang mampu merekonstruksi pribadi-pribadi (tokoh-tokoh), jama’ah, dan umat yang dulu dibangun Rasulullah bersama para sahabat beliau. Suatu makna yang, pertama-tama, mampu menegaskan bahwa persatuan para mu’min adalah mutlak wajib, dan perpecahan mereka adalah mutlak haram!

6.  Sã’ah sebagai peluang da’wah

Harfiah, sã’ah berarti waktu, tapi waktu di sini bukanlah sembarang waktu. Dalam konteks Nabi Muhammad pada masanya, sã’ah yang dimaksud adalah  waktu yang dibentangkan Allah sebagai wilayah da’wah hingga mencapai hasil. Tepatnya, waktu yang dimaksud adalah 13 tahun dalam Periode Makkah, dan 10 tahun dalam Periode Madinah. Yang pertama (Periode Makkah) merupakan masa perjuangan untuk memperkenalkan konsep Allah dan membangun jama’ah. Yang kedua (Periode Madinah) adalah masa pembangunan konsep Allah itu menjadi sebuah sistem pemerintahan.

7.  Tanda-tanda sã’ah sebagai gambaran tujuan

Melalui Hadis Jibril kita mendapat gambaran bahwa tujuan penegakan ajaran Allah pada dasarnya adalah demi mencapai target-target:

  1. a. Lenyapnya diskriminasi kelas dan gender, yang merupakan produk feodalisme dan antek-anteknya, dan
  2. b. Lenyapnya kemiskinan struktural, yang merupakan produk kapitalisme dan antek-anteknya.

Feodalisme dan kapitalisme adalah musuh Al-Qurãn pada masa Rasulullah, dan juga pada masa sekarang.[3]

  • Agama sebagai pustaka kebenaran.
  • Iman: sikap jiwa
  • Iman: pertama dan utama
  • Agama sebagai kebenaran
  • Kebenaran mutlak dan kebenaran relatif[4]
  1. C. Pengalaman Beragama

Agama merupakan salah satu aspek yang paling penting dari pada aspek-aspek budaya yang dipelajari oleh para antropolong dan para ilmuan sesial lainnya. Sangat penting bukan saja yang di jumpai pada setiap masyarakat yang sudah diketahui, tetapi juga karena penting saling pengaruh mempengaruhi antara lembaga budaya satu sama lainya. Didalam agama itu dijumpai ungakapan meteri budaya dalam tabiat manusia serta dalam sistem nilai, moral dan etika. Agama itu saling pengaruh mempengaruhi dengan sistem organisasi kekluaragaan, perkawinan, ekonomi, hukum dan politik. Agama juga memasuki lapangan pengobatan, sains dan teknologi. Serta agama itu telah memberikan inspirasi untuk memberontak dan melakukan peperanagan dan terutama telah memperindah dan memperhalus karya seni. Tidak terdapat suatu institusi kebudayaan lain yang menyajikan suatu lapangan ekspresi dan implliksi begitu halus seperti halnya agama. Ide-ide kagamaan dan konsep-konsep keagamaan itu tidak di periksa oleh hal-hal yang bersifat fisik sekiranya. Segala macam fornula itu tidak menjumpai keterbatasan di banding permasalahan spiritual yang dipertanyakan oleh manusia itu sendiri.[5]

  1. 1. Animisme

Animisme besal dari keta anima, animae; dari bahasa latin ‘animus’ dan bahasa yunani ‘avepos’, dalam bahasa sansakerta disebut ‘prana’ dalam bahasa brani disebut ‘Ruah’ yang artinya ‘napas’ atau ‘’jiwa’. Ia, adalah ajaran atau doktrin tentang realitas jiwa.

Dalam filsafat, animisme adalah doktrin yang menempatkan asal mula kehidupan mental dan fisik dalam suatu energi yang lepas atau sekurang-kurangnya berbeda dari jasad. Atau, animisme adalah teori bahwa segala objek-objek alami itu bernyawa atau berjiwa, mempunyai ‘spirit’ dan bahwa kehidupan mental dan fisik bersumber pada nyawa, jiwa atau ‘spirit’ tadi.

Dan dalam studi tentang sejarah agama prinsip kita mengenal ‘Necrolaty’, ‘Spiritisme’, ‘Naturisme’, dan ‘Animisme’. Necroalty adalah pemujaan terhadap roh-roh atau jiwa manusia dan binatang, terutama pemujaan terhadap roh orang yang telah meninggal. Spiritisme adalah pemujaan terhdap makluk spiritual yang tidak dihubungkan dalam suatu cara yang mapan dengan jasad-jasad tertentu dan obyek-obyek  tertentu.[6]

2. Dinamisme

Manusia mulai menganalisa setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Sebelumnya, manusia primitif mulai mengeluarkan teori-teori tentang hakikat benda atau materi. Ia mulai menggabungkan antara keberadaan ruh manusia dengan keberadaan benda lain seperti air, udara, api, dan tanah.

Animisme berkembang lebih awal daripada dinamisme. Animisme menitikberatkan pada perkembangan ruh manusia. Mulai dari sini, manusia primitif menyimpulkan bahwa setiap materi yang memiliki sifat yang sama, maka memiliki substansi yang sama pula. Jika manusia mati dan hidup, tidur dan terjaga, kuat dan lemah, diam dan bergerak, kemudian manusia diyakini memiliki ruh, maka pepohonan, binatang, laut, api, matahari, bulan, dan materi-materi lainnya pun memiliki ruh seperti manusia.

Menurut mereka, setiap materi memiliki kesamaan sifat dengan manusia. Sebagai contoh, api memiliki sifat yang sama dengan manusia. Api memiliki kekuatan untuk membunuh atau melenyapkan apapun dengan panasnya sebagaimana manusia mampu membunuh binatang dengan kekuatan tangannya. Karena itulah, api mempunyai ruh. Bagi manusia primitif, menyembah api adalah proses menghormati keberadaan api itu sendiri. Penyembahan tersebut dilakukan agar tidak terjadi kebakaran seperti kebakaran hutan, sedangkan kebakaran diyakini sebagai bentuk kemurkaan api. Selanjutnya, berkembanglah paham banyak tuhan, banyak roh, banyak dewa, atau banyak kekuatan ghaib. Setiap kawasan bumi, hutan, sungai, laut, atau bahkan ruang angkasa, semuanya diyakini memiliki kekuatan tersendiri.[7]

3. Sinkretisme agama

Animisme dan dinamisme adalah kepercayaan kuno yang tumbuh lebih awal sebelum kedatangan Islam di nusantara. Walaupun pada hakikatnya, agama Islam adalah kepercayaan yang pertama kali ada dalam kehidupan manusia. Nabi Adam adalah manusia pertama yang menganut Islam. Oleh karena itu, animisme dan dinamisme tidak lain adalah salah satu bentuk dari penyelewengan ajaran Allah. Namun bagaimanapun juga, penyebaran Islam di nusantara memang tidak bisa dipungkiri akan adanya perpaduan atau percampuradukan antara ajarannya yang agung dengan kepercayaan animisme dan dinamisme.

Dampak dari adanya sinkretisme agama ini terlihat nyata di sekeliling kita. Sebagai contoh, adanya penghormatan khusus terhadap roh nenek moyang yang menjadi leluhur kita. Atau adanya pemujaan khusus terhadap Ratu Pantai Selatan. Atau bahkan menyebarnya cerita-cerita khurafat yang berkembang di tengah-tengah masyarakat muslim. Selain itu, menyebarnya praktik sihir dan perdukunan adalah produk asli dari animisme dan dinamisme. Terlebih, sinkretisme telah melegalkan bahwa praktik perdukunan adalah ajaran Islam juga. Hal ini terlihat dengan meluasnya praktik-praktik sihir yang dilakukan oleh orang-orang yang bertitel ’kyai’. Semua ini adalah realita yang nyata akibat sinkretisme agama.

Sebenarnya, banyak beberapa sisa-sisa animisme dan dinamisme, terutama di nusantara, baik ajaran tersebut masih murni ataupun telah ada pembauran dengan Islam. Berikut beberapa contoh sisa-sisa animisme dan dinamisme:[8]

4. Upacara dan Ritual Adat

Banyak masyarakat kita yang masih mempertahankan beberapa macam upacara atau ritual yang masih murni berkaitan dengan animisme dan dinamisme atau telah mengalami pembauran dengan Islam. Salah satu contohnya dalah upacara kelahiran dan kematian. Hampir di setiap daerah nusantara menggelar upacara kelahiran dan kematian dengan ritual-ritual berbeda. Contoh, di Aceh terdapat upacara Peugot Tangkai. Upacara ini adalah perajahan barang/benda dengan membacakan mantera untuk dipakai pada wanita hamil empat bulan.

Tentang acara ritual kematian dalam adat masyarakat Aceh yang sampai sekarang ini masih diamalkan seperti, apabila ada kematian di sebuah keluarga, maka semua pakaian dan kain-kain yang menyelimuti mayat tadi disimpan pada suatu tempat. Kain-kain ini disebut dengan reuhab. Biasanya disimpan di atas tempat tidur untuk selama empat puluh hari atau empat puluh empat hari. Setelah selesai upacara penguburan tadi, mulai malam pertama sampai dengan malam ketiga diadakan samadiah atau tahlil. Masih banyak lagi ritual-ritual aneh seperti membakar kemenyan pada malam jum’at kliwon dan selasa kliwon. Menyediakan sesaji pada hari kelahiran bayi. Di kamar bayi yang baru lahir digantungkan keris dan kain merah. Atau sesaji di bawah pohon beringin.[9]

5. Kesenian Budaya

Di bumi nusantara ini, masih terdapat beberapa macam kesenian yang jelas berasal dari budaya animisme dan dinamisme. Satu contoh seperti Tarian Kuda Lumping di Jawa Barat. Biasanya, sebelum pertunjukkan dimulai, para peserta wajib dibekali mantera-mantera tertentu oleh sang dukun sebagai pengendali acara. Setelah itu, sang penari kuda kesurupan dan bertingkah aneh layaknya orang gila. Para penari itu terlihat lincah memainkan kuda mainan dan bahkan mereka makan pecahan kaca atau beberapa ekor ayam yang masih hidup. Para penari tidak merasakan sakit akibat pecahan kaca yang mereka makan atau merasa jijik dengan daging ayam yang dimakan hidup-hidup, semuanya karena ada roh lain yang merasuk dalam diri mereka. Roh itulah (jin) yang mengendalikan si penari.

6. Mitos

Cerita-cerita mitos yang menyesatkan memang masih merebak luas di tengah masyarakat. Masih banyak yang percaya bahwa ruh orang yang mati terbunuh akan menjelma menjadi hantu. Ada yang menyebutnya dengan istilah pocong, genderewo, dan lain-lain. Yang pasti, hantu tersebut akan gentayangan ke setiap tempat untuk membalas dendam. Jika yang mati adalah orang jahat, maka ia akan menjelma menjadi babi atau kera. Jelmaan ini akan mengganggu warga sekitar yang masih hidup.

Lebih lanjut, terdapat pula sisa-sisa animisme dan dinamisme yang berkembang. Seperti, mitos bulan Safar yang dianggap membawa sial. Mitos ini sangat dikenal oleh masyarakat kita, terutama masyarakat muslim. Adanya mitos demikian, sehingga terdapat ritual tertentu yang dijalankan untuk menolak bala di bulan Safar.

Di masyarakat Parahyangan dan Jawa, tersebar mitos-mitos yang berkembang sesuai dengan perkembangan budayanya. Dalam konsep ketuhanan orang Sunda sebelum Hindu, Hyang (sanghyang, sangiang) diyakini sebagai Sang Pencipta (Sanghyang Keresa) dan Yang Esa (Batara Tunggal) yang menguasai segala macam kekuatan, kekuatan baik ataupun kekuatan jahat yang dapat mempengaruhi roh-roh halus yang sering menetap di hutan, sungai, pohon, atau di tempat-tempat dan benda-benda lainnya. Ketika muncul proses Islamisasi di Nusantara, istilah sembahyang pun lahir dari tradisi menyembah Hyang (Yang Tunggal).

BAB III

Kesimpulan

Hakikatnya agama adalah keyakinan akan adanya Tuhan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, maka sangat perlu dipahami secaraseksama oleh setiap manusia. Agama juga membawa peraturan-peraturan berupa hukum-hukum yang harus dipatuhi baik dalam bentuk perintah yang wajib dilaksanakan maupun berupa larangan yang harus ditinggalkan.

Setiap agama pada dasarnya terdiri dari empat unsur, yaitu:

  1. Ajaran (= teori; konsep) sebagai sisi gaib
  2. Iman sebagai interaksi antara pelaku dan konsep,
  3. Ritus (= upacara) sebagai sistem lambang, dan
  4. Praktik ( = amal) sebagai perwujudan konsep dalam segala segi kehidupan individu dan masyarakat.

Agama itu saling pengaruh mempengaruhi dengan sistem organisasi kekluaragaan, perkawinan, ekonomi, hukum dan politik. Agama juga memasuki lapangan pengobatan, sains dan teknologi. Serta agama itu telah memberikan inspirasi untuk memberontak dan melakukan peperanagan dan terutama telah memperindah dan memperhalus karya seni. Tidak terdapat suatu institusi kebudayaan lain yang menyajikan suatu lapangan ekspresi dan implliksi begitu halus seperti halnya agama.

Dafatar Pustaka

Saifuddin Anshari, Endang. Ilmu Filsafat dan Agama. PT Bina Ilmu. 1987. Surabaya

http://ahmadhaes.wordpress.com/2010/01/15/empat-unsur-agama/. Diambil 02/11/2010

Tim penyusun. Perbandingan Agama. DPPTAI. 1982.

http://zonadiskusi.blogspot.com/2009/09/animisme-dan-dinamisme.html, diamabil 2/01/2010


[1] http://dewon.wordpress.com/2007/11/04/kategori-20/ 28/10/2010

[2] Saifuddin Anshari, Endang. Ilmu Filsafat dan Agama. PT Bina Ilmu. 1987. Surabaya. Hal 142

[3] http://ahmadhaes.wordpress.com/2010/01/15/empat-unsur-agama/. Diambil 02/11/2010

[4] Ibid. hal 147

[5] Tim penyusun. Perbandingan Agama. DPPTAI. 1982. Hal 1

[6] ibid Hal 25

[7] http://zonadiskusi.blogspot.com/2009/09/animisme-dan-dinamisme.html, diamabil 2/01/2010

[8] Ibid.

[9] Ibid.

Devinisi Kepemimpinan

Kepemimpinan Adalah  kemampuan seseorang untuk mempengaruuhi orang lain atau kelompok orang kearah tercapainya suatu tujuan organisasi yang telah disepakati bersama sebelumnya. Menurut stepen P. Robbins (2001), seorang pemimpin harus mengusai teori karakter kepemimpinan, yaitu teori-teori yang berkaitan dengan (1)mencari karakter keperibadian, (2) sosial, (3) fisik atau intelektual yang membedakan pemimpin dari bukan pemimpin.

Unsur-unsur penting kewiraswastaan/ berwirausahaan antara lain adalah sikap mental, kepemimpinan, manajemen, dan keterampilan. Kepemimpinan adalah adalah salah satu unsur penting dalam berwirausaha. Kepamimpina yang buruk dapat membuat perusahaan bangkrut. Banyak pemimpin yang bersikap dan bermental juragan dimana anak buah di pandang sebagai factor produksi, maka berarti harus dieksploitasi tanpa diberikan balas jasa yang memadahi, suka dan tidak suka menjadi model dalam kepeemimpinan. Bahkan, sering kali anak buah dianggap tidak perlu manusiakandan sering diancam dengan ungkapan, “ jika tidak suka silahkan angkat kaki”. Kepemimpinan yang baik bisa di contoh dari negeri jepang. Anak buah dianggap sebagai aset perusahaan sehingga di jepang, prinsipnya bekerja adalah seumur hidup. Pengahargaan terhadap tenaga kerja luar biasa sehingga pekerjaan atau anak buah juga akan memberikan tenaga dan pikirannya sepenuh hati karna anak bauh tidak pernah diremehkan dan tidak di pandang sebagai factor produksi. Anak buah di pandang sebagai rekan kerja yang sama tingakatannya dan sebagai asset tidak ternilai serta sebagi makhluk mulia yang harus dihargai dan di junjung tinggi prikemanusiannya.

Kepemimpinan dan manajemen adalah dua istilah yang sering rancu. Apa perbedaan diantara keduanya? John kottler dari Harvard Business School berpendapat bahwa manajemen menyangkut hal mengatasi kerumitan. Manajemen yang baik akan menghasilkan tata tertib dan konsistensi dengan (1) menyusun rencana-rencana formal, (2) merancang stuktur organisasi yang ketat, dan (3) memantau hasil melalui perbandingan dengan rencana. Kepemimpinan menyangkut hal mengatasi perubahan. Pemimpin menetapkan arah dengan (1) mengembangkan suatu visi terhadap masa depan, (2) menyatukan orang dengan mengomunikasikan visi tersebut dan (3) mengilhami mereka untuk mengatasi rintangan-rintangan.

Teori Karakter

Ketika Margaret thatcher menjadi perdana mentri inggris, ia selalu dipilih karena kepemimpinannya. Ia digambarkan sebagai sosok pemimpin wanita yang berkarakter dengan cirri-ciri : (1) percaya diri (PD) (2) bertekad baja, (3) penuh tekad (4) seorang pemimipin yang tegas, bila sesuatu dikatakan benar ya memang benar dan bila salah ya harus bilang salah alias tidak plitat-plintut (plin-plan), (5) karismatik (6) antusias (7) pemberani.

Istilah-istilah tersebut mengambarkan pemimpin yang memegang atau memiliki karakter (traits) dan para pendukung Thatcher ketika itu tidak sadar telah menjadi pendukung teori karakter. Contoh-contoh pemimpin yang berkarakter selain Margaret Thatcher adalah (1) Nelson Mandela (Afrika selatan), (2) Richard Bronson (CEO Virin Group), (3) Steven Jobs (pendiri Apple), (4) Todd Whitman (Gubernur New Jersey), (5) Ken Chenault (direktur Utama American Express), (6) Mahatir Muhammad (PM malaysia), dan Ir. Soekarno (Presiden RI pertama).

Enam karakter yang cenderung membedakan antara pemimpin dengan bukan pemimpin, menurut Stephen P. Robbins (2001), yaitu (1) ambisi dan energi, (2) hasrat untuk memimpin, (3) kejujuran dan integritas (keutuhan), (4) percaya diri, (5) kecerdasan, dan (6) pengetahuan yang relevan dengan pekerjaannya. Kepemimpinan yang dimaksud di sini adalah nilai atau kualitas, bukan pengetahuan tentang sumber daya manusia. Pemimpin adalah orang yang menunjukkan arah, keputusannya mentap, dan didasari oleh keyakinan diri disertai data yang akurat.

Sepak terjang seorang pemimpin selalu khas dan tidak lazim atau “Tampil Beda”. Banyak bisnis yang didirikan mengalami kegagalan dan hanya 30 persen yang hadir. Mengapa ? penyebab utamanya adalah lemahnya kepemimpinan  atau pemimpin yang gagal.

Unsur-Unsur Kepemimpinan

Factor-faktor yang harus dimiliki seorang pemimpin antara lain sebagai berikut :

  1. Kepemimpinan melibatkan orang lain /bawahan. Seorang pemimpin harus dapat merangkul dan menghargai bawahannya.
  2. Kepemimpinan menyangkut distribusi kekuasaan. Pendelegasian kekuasaan dari pemimpin keanak buah sesauai dengan tingkatannya sangat mutlak diperlukan jika seorang pemimpin ingin menjalankan fungsinya dengan efektif dan efisien.
  3. Kepinpinan menyangkut penanaman pengaruh dalam rangka mengarahkan bawahan.

Penaman pengaruh dari pimpinan kepada anak buah akan tercapai apabila seorang pemimpin mempu memberikan contoh disiplin, seorang pemimpin harus datang lebih awal dalam setiap kesempatan, mulai lebih awal masuk kekantor, kebih awal untuk masuk dalam suatu rapat, atau acara-acara resmi maupun tidak resmi (formal dan non-forma). Dengan disiplin pada acara penting itu, biasanya anak buah akan segan dan meneladani.

Keterampilan Memimpin.

Keterampilan yang harus dimilliki seseorang dalam memimpin adalah sebagai berikut.

  1. Technical Skills

Kemampuan untuk melakukan dan atau memahami pekerjaan-pekerjaan yang bersifat operional atau teknis sehingga mampu menjadi guru bagi anak buahnya yang tidak memahami operasional atau teknis pekerjaan, terutama pegawai baru.

  1. Human Skills

Kemampuan bekerjasama dengan para bawahan dan membangun tim kerja dengan pendekatan kemanusiaan. Seorang pemimpin harus belajar bagaimana melakukan pendekatan kepada anak buah, sehingga pada saat memberikan perintah kepada bawahan, bawhan tidak merasa diperintah.

  1. Coseptual Skills

Kemampuan untuk menyusun konsep atau berpikir dan mengungkapkan pemikirannya. Seorang pemimpin adalah pemegang perubanhan sehingga harus memiliki kosep atau minimal mampu merumuskan misi, visi, strategi, serta program unggulan yang jelas dan dapat dipahami oleh seluruh bawhannya.

Perbedaan Kekuasaan (Power) Dengan Kepemimpinan

Kekuasaan (power) adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, sehingga orang yang memahami, mempertangungjawabkan dan mampu berpegang pada kekuasaannya diakan menjadi pemimpin yang cerdas dan tegas.

Kekuasaan (power) dalam hubungan bisnis antara lain sebagai berkut.

  1. Coercive power (kekuasaan memaksa). Dengan kekuasaan memaksanya, maka seorang pemimpin mampu memerintah setiap anak buahnya dengan efektif.
  2. Reward Power (kekuasaan penghargaan). Dengan berbagai penghargaan yang diberikan kepada anak buahnya, maka kekuasaannya dapat dijalankan oleh pemimpin dan didukung oleh anak buahnya.
  3. Legitimate Power (kekuasaan sah). Seorang pemimpin diterima secara legalitas atau sah sehingga ia memiliki kekuasaan. Contoh presiden RI terpilih secara langsung oleh 60 persen suara rakyat pemilih atau dapat menjalankan kekuasaan secara legal karna memperoleh suara diatas 50 persen plus satu.
  4. Expert Power (kekuasaan ahli). Dengan keahlian atau sepesialisasinya, misalnya seorang professor, maka kekuasannya bisa diterima, disalurkan dan dijalankan oleh anak buahnya dengan baik.
  5. Referant Power (kekuasaan refrensi). Dengan adanya refrensi seseorang, misalnya dari raja, maka yang bersangutan memiliki kekuasaan untuk memerintah.

Kepemimpinan Dan Pengambilan Peputusan

Pengambilan keputusan adalah pemilihan dua atau lebih. Pengambilan keputusan perlu dilakukan karena adanya perbedaan antara harapan /tujuan dengan hasil yang dicapai. Sala satu model pengambilan keputusa yang menguraikan bagaimana individu seharusnya berperilaku untuk mencapai hasil atau keluaran yang maksimal.

Kunci Efektivitas Kepemimpinan

Faktor situasional utama (kunci) yang menentukan keefektifan suatu kepemimpinan menurut Fiedler dalam bukunya (Stephen P.Robins,2001), adalah sebagia berikut:

Hubungan Pemimpin-Anggota

Hubungan yang berkaitan dengan : tingkat keyakinan, dan respek bawahan terhadap pemimpin mereka.

Struktur Tugas

Tingkat penugasan pekerjaan yang diprosedurkan (yakni terstruktur atau tidak terstruktur)

Kekuasaan Jabatan

Tingkat pengaruh yang dimiliki seorang pemimpin yang berkaitan dengan variable kekuasaan, seperti memperkerjakan bawahannya, memecat bawahan, mendisiplinkan bawahan, mempromosikan bawahan,menaikkan gaji bawahannya.

Pengaruh Perilaku Terhadap Pengambilan Keputusan

Ada empat faktor perilaku individu yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan, yaitu sebagai berikut:

Nilai-nilai , nilai dianggap sebagai pedoman jika seorang menghadapi situasi di mana harus dilakukan suatu pilihan

Keperibadian, dimana aspek keperibadian meliputi sikap, kepercayaan, dan kebutuhan individu

Kecenderungan mengambil Risiko, ada yang beani dalam mengambil risiko, ada yang di tengah-tengah dan ada yang penuh pertimbangan / kurang berani ambil risiko

Disonasi Kognitif, adanya rasa cemas pada pengambilan keputusan terhadap akibat dari keputusan yang diambilnya.

Sifat-Sifat Yang Harus Dimiiki Seorang Pemimpin

sifat-sifat yang harus dimiiki seorang pemimpin menurut Andy Undap (1983) adalah sebagai berikut:

Pendidikan umum yang luas, dengan pendidikan umum yang luas, maka akan mudah memecahkan berbagai masalah yang dihadapi.

Kematangan mental, dengan ke,atangan mental seorang pemimpin akan dapat mengendalikan emosinya dalam setiap tindakannya.

Sifat ingin tahu, dengan sifat ini seorang pemimpin akan mudah menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.

Kemampuan analisi, dengan sifat ini seorang pemimpin akan cepat dan cermat dalam mengambil keputusan

Daya ingat kuat, dengan sifat ini seorang pemimpin akan konsisten dalam mengatasi segala macam permasalahan.

Integratif/ integritas (terpadu) dengan sifat ini seorang pemimpin akan mendekati suatu pemecahan masalah dengan berbagi pendekatan secara terpadu.

Keterampilan Komunikasi, dengan sifat ini seorang pemimpin akan disukai oleh anak buah dan mudah membentuk jaringan dalam bisnis.

Keterampilan mendidik, dengan sifat ini seorang pemimpin akan meningkatkan kematanagan anak buah atau akan mendewasakan dan memberikan bekal pengetahuan kepada anak buahnya.

Rasional Objektif/ dengan sifat ini seorang pemimpin akan objektif dalam mengatasi berbagai masalah dan objektif dalam menilai anak buahnya.

Menejemen Waktu, dengan sifat ini seorang pemimpin akan mengatur jadwal atau waktunya secara evektif dan efisien

Berani mengambil risiko, dengan sifat ini seorang pemimpin tidak akan ragu dalam mengambil keputusan yang seterategis, tentunya dengan penuh pertimbangan dan tetap menekankan pada risiko kecil dengan keuntungan (benefit) besar.

Ada naluri perioritas, dengan sifat ini seorang pemimpin dapat melakukan pekerjaannya sesuai prioritas, tidak sekedar memperioritaskan jadwal.

Efisien dalam bertindak, dengan sifat ini seorang pemimpin akan selalu penuh perhitungan dalam melakukan aktivitas yang bertujuan agar efisien dalam segala aktivitasnya.

Haus informsi, dengan sifat ini seorang pemimpin tidak akan ketinggalan informasi atau selalu up-to-date dalam pengumpulan informasi dan atau data untuk mendukung pengambilan keputusan

Sifat-sifat seorang pemimpin menurut Kartini Kartono (1983) adalah sebagai berikut:

Tipe karismatik, seseorang yang memiliki daya tarik atau karisma yang luar biasa, contohnya Ir. Soekarno

Tipe paternalistis, seperti sorang bapak menganggap anak buah adalah anaknya sehingga bawahan kurang diberi kesempatan.

Tipe militeristis, sistim pemimpin yang lebih cenderung memerintah atau sebagai pemberi komando terhadap anak buahnya.

Tipe otokratis, kekuasaan dan paksaan dalam memerintah anak buahnya.

Tipe laissez-faire, pemimpin membiarkan bawahannya bekerja semaunya sepanjang tujuan perusahaan atau organisasi dapat tercapai

Tipe populis, pemimpin rakyat berpegang pada nilai teradisional.

Tipe administratife, seorang pemimpin yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrative secara efektife.

Tipe demokratis, seorang pemimpin yang menekankan tanggung jawan dan kerja sama terhadap anak buahnya. Setiap pendapat dari anak bawahannya selalu diakomondasi atau diterima dan dijadikan sebagi bahan dalam pengambilan keputusan walau sekecil apapun..

Langkah-Langkah Dalam Pengambilan Keputusan

Langkah-langkah dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :

  1. Menentukan perlunya pengambilan keputusan
  2. Mengidentifikasi criteria keputusan
  3. Mengalokasi pembobotan terhadap kriteria
  4. Mengembangkan alternative
  5. Mengevaluasi alternative
  6. Memilih alternative terbaik

Lngkah-langkah tersebut tentunya tidak mutlak berurutan, melainkan harus disesuaikan dengan bobot keputusan yang akan diambilnya. Sering kali hal-hal khusus harus dimasukkan di dalamnya, antara lain menyangkut asumsi-asumsi yang harus agar alternative-alternative dapat lebih banyak dimunculkan. Dengan alternative yang relative lebih banyak, kemungkinan yang dievaluasi semakin banyak pula. Pada akhirnya, keputusan dapat diambil berdasarkan berbagai alternative yang muncul.

Hal lain yang tidak kalah penting dalam pengambilan suatu keputusan adalahadanya perubahan yang begitu cepat, sehingga sering kali begitu  keputusan dijalankan terasa sudah ketingglan, padahal keputusan baru saja dijalankan.

Paradigma baru dalam pengambilan keputusan akibat perubahan, menurut Samuel H. Tirtamihardja (2003), dalam bukunya “pemimpin adalah pemimpin (leaders are dreamers)” digambarkan sebagai berikut:

Pengambilan keputusan:

  1. Waktu komoditas berharga
  2. Kompetisi
  3. Pemanfaatan informasi dan tekhnologi
  4. Kreativitas
  5. Belajar terus menerus

Kelima unsur tersebut memberi kekuatan untuk mengambil keputusan yang

diakibatkan oleh adanya perubahan yang harus dihadapi pada masa kini. Memang ada ketautan dalam setiap pengambilan keputusan, tetapi bertindaklah. Jika tidak bertindak maka akan lebih rugi sama dari pada bila tidak bertindak sama seakali. Unsur-unsur tersebut dapat diringkas sebagai berikut.

  1. Waktu merupakan komoditas yang sangat berharga

Waktu sebagai komoditas yang paling berharga dan mahal yang ada didunia, bahkan dibandingkan dengan uang sekalipun. Waktu sangat mahal dan tidak dapat diputar balik. Sebaiknya pemimpin tidak menyia-nyiakan waktu, karena peluang hanya datang sekejap waktu dan tidak akan datang kedua kalinya. Kalau peluang tidak dimanfaatkan, maka sesuatu yang berharga akan hilang dari tangan anda. Dalam waktu singkat, kita dapat megirimkan milyaran e-mail melalui dunia maya atau internet. Jadi, waktu adalah komoditas yang sangat berharga. Pada setiap pengambilan keputusan, semuanya menyangkut waktu. Semua jadwal (sceduling) yang baik mendapat manfaat yang lebih besar. Di dunia yang cepat berubah, orang nag lambat dalam mengambil keputusan adalah orang yang kalah.

  1. Kompetisi

Persaingan dimasa depan adalah ilmu lawan ilmu, bukan uang lawan uang. Untuk memenangkan persaiangan dimasa kini kuncinya adalah “how to make our people learn better and faster than our competitor”, kata T.P. Rahmat, Presiden komisaris PT. Astra Internasional. Anak buah kita harus belajar dengan lebih baik dan cepat dibandigkan para pesaing kita. Kompetisi juga membuat orang harus lebih kreatif dalam menerima perubahan yang sangat cepat sekarang ini. Hukum moore menyatakan bahwa penemuan baru dalam tekhnologi bersifat kuadratis dan bukan bersifat linier.

  1. Pemanfaatan Informasi dan Tekhnologi

Dalam dunia yang seba cepat ini kita harus memanfaatkan informasi dan tekhnologi yang tumbuh dengan cepat. Infotmation is power kita tidak oleh gagap tekhnologi. Kita harus menguasi informasi serta ilmu pengetahuan dan tehnologi (IPTEK) meskipun kemjuan ekonomi tidak merata, namun itu tidak menjadi alasan untuk tidak menguasai tekhnologi. Kompetisi di masa kini adalah tekhologi lawa tekhnologi jelaslah bahwa perusahaan yang menguasai tekhnologi akan mempunyai competitive adge yang lebih tinggi. Dunia saat ini terus berubah dengan sangat cepat, berbagai temuan ilmiah dan teknologi terjadi hampir setiap hari. Untuk dapat bertahan terhadap perubahan yang ada, pengetahuan yang kita miliki harus meningkat. Peningkatan internet dan ecommerce dan juga pemakaian server dan networking yang canggih akan sangat mengubah dunia.

  1. Kreativitas

Informasi kini tersedia dimana-mana dan dapat diperoleh melalui media internet, televisi, buku, dan surat kabar (baik cetak maupun elektronik). Namun perlu keahlian untuk mengompilasi dan menganalis informasi yang kita terima kemudian berikir kreatif bukan reaktif. Kreatifitas sangat dituntut untuk memenangkan kompetisi zaman sekarang ini. Fooster dan Kaplan (2001) berkata. “Semua elemen yang terdapat pada inovasi adalah kreatifitas. Hanya dengan mengerti akan kreatifitas orang dapat berjuang untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk mempertahankan kinerja kita”. Dengan bantuan imajinasi kita juga dapat mengubah informasi yang samar-samar menjadi strategi melawan kompetitor kita dan kreatifitas menjadi sangat penting dalam merundingkan dan menyelesaiakan permasalahn yang ada.

  1. Belajar terus menerus

Bill gates dalam bukunya The roat a head sangat menekankan proses belajar terus menerus. Dalam dunia yang terus berubah pendidikan adalah modal utama seseorang agar ia dapat beradaptasi terhadap parubahan. Menurut Bill gates alangkah baiknya jika setiap orang mendapatkan pendidikan formal yang baik kemudian tetap terus belajar. Microsoft adalah suatu contoh organisasi yang terus beradaptasi dengan perubahan sesuai tantangan zaman. Mula-mula ia menciptakan peranti lunak (software) bebasis windows kemudian ia masuk ke dalam bisnis networking. Ia terus melayani pasar yang berunah agar stay a head in competition and not becomming a follower. Microsoft ingin selalu menjadi yang terdepan bukan menjadi pengikut.

Kriteria Seorang Pemimpin

Burt Nanus (leader the strategies for taking change,  2001) yang dikutip dalam tulisan P. Ari Subagyo menyebutkan 12 kriteria pemimpin, yaitu:

  1. Menginovasi
  2. Melakukan orisinil
  3. Mengembangkan
  4. Mengilhami
  5. Memancarkan kharisma
  6. Berperspektif  luas
  7. Berfikir jangka panjang
  8. Bertanya apa dan mengapa
  9. Menyukai tantangan dan perubahan

10.  Menjadi diri sendiri

11.  Menciptakan anak tangga dan meletakkan di tempat yang benar

12.  Mengerjakan hal-hal yang tepat

Efektif Leadership

Seorang pemimpin yang efektif sangat dibutuhkan dalam sebuah organisasi atau usaha. Menurut Samuel H. Tirtamiharja (2003) dalam bukunya Pemimpin adalah Pemimpin (leader are dreamers), seorang pemimpin yag efektif akan melakukan hal-hal berikut ini.

  1. Menciptakan sebuah visi yang sesuai untuk organisasinya

Visi yang sesuai akan memberi arah kemana organisasi akan dibawa. Visi perlu sesuai dengan tujuan didirikannya organisasi atau badan usaha tersebut.

  1. Memperkuat dan mendorong semua lapisan organisasinya

Analog dengan mendorong mobil mogok bila seluruh tenaga atau orang dikerahkan untuk mendorong ke arah yang sama, maka mobil mogok itu akan berjalan kembali. Namun, bila didorong oleh mereka ke arah yang saling berlawanan satu dengan yang lain, maka mobil itu akan diam ditempat. Implikasinya dalam dunia usaha adalah pemimpin akan gagal bila tidak didorong oleh setiap orang ke arah yang ditentukannya.

  1. Menciptakan suasana perasaan tim untuk merasakan mana yang terpenting

Apa yang menjadi prioritas akan mendapat tempat utama agar kita tidak membuang energi, sumber daya, dan dana yang ada.

  1. Membentuk kerja sama tim yang baik

Kerja sama tim adalah suatu kekuatan yang luar biasa. Melalui kerja sama, hasil yang diperoleh akan berlipat ganda.

  1. Mengomunikasikan visi kepada seluruh lapisan organisasi

Tidak ada satu mesin penggerak pun yang perkasa, yang dapat menggerakkan suatu organisasi menuju kesempurnaan dan kesuksesan jangka panjang dari pada memiliki suatu misi masa depan yang menarik, berharga, dan dapat dicapai yang dibagikan kepada seluruh jajaran.

  1. Menciptakan suatu moment yang tepat (magic moment)

Pemimpin yang efektif akan meciptakan dan mempergunakan suatu momen yang tepat untuk membuat perubahan yang dibutuhkan oleh organisasi.

  1. Menciptakan sikap yang baru dala berperilau organisasi

Sikap yang berpusat pada suatu tujuan, yakni sikap yang fokus akan membuat suatu organisasi atau usaha maju pesat. Jadi, fokus itu penting.

Mangapa Banyak Pemimpin Yang Gagal Memimpin

Kegagalan sebuah usaha, sering kali karena pemilik perusahaan tidak mampu memimpin anak buahnya dengan baik. Mengapa banyak pemimpin yang gagal memimpin ? Menurut Davd L, Dotlich, Peter C. Cain, dan Jossey Bass (2003) dalam tulisan Why CEO’s Fail yang dimuat di koran Suara Pemaharuan, 23 Oktober 2003, pada samuel H. Tirtamihardja (2003), dalam bukunya Pemimpin adalah pemimpin, ada sebelas penyebab utama pemimin mengalami kegagalan dalam memimpin, yaitu :

  1. Arogasi (Arrogance)

Pemimpin merasa dirinya paling suprrior dan paling benar, sehingga yang lain (anak buah) dianggapnya salah semua. (Secara harfiah artinya pemimpin yang congkak, sombong, angkuh, dan keras kepala).

  1. Melograma (Melogram). Pemimpin selalu ingin menjadi pusat perhatian
  2. Mudah berubah pendirian (Volatility). Pemimpin sulit ditebak, bersikap sesuai situasi (sikapnya selalu berubah setiap saat/situasi).
  3. Hati-hati yang berlebihan (Excessive Caution). Pemimpin takut atau memiliki keraguan yang berlebihan dalam mengambil suatu keputusan atau kebijakan.
  4. Kebiasaan berupa ketidakpercayaan (Habitual Distrust). Pemimpin selalu bersikap penuh curiga dan tidak percaya terhadap setiap orang (anak buah).
  5. Menjauhkan diri dari orang lain (Aloofness). Pemimpin sulit dihubungi(Cenderung tertutup ) dan sulit berkomunikasi dengan orang lain (menjaga jarak, terutama dengan para anak buahnya) yang berbeda pendapat atau pernah mengecewakannya.
  6. Kejahatan kenakalan (Mischievousness). Peraturan atau sistem dibuat dan ditetapkan untuk dilanggar (oleh anak buah dan dirinya sendiri) tanpa ada tindakan yang tegas.
  7. Keanehan-kesintingan (Eccentricity). Pemimpin selalu ingin tampil berbeda sehingga kadangkala dianggap aneh/nyeleneh oleh orang lain.
  8. Berdaya tahan pasif (Passive Resistence). Pemimpin tidak yakin dengan apayang dikatakan dan atau apa yang telah diucapkan harus dipertahankan.

10.  Perfeksionisme atau terlalu ingin segalanya sempurna (Perfectionism). Pemimpin menganggap kebanyakan atau mayoritas tindakan anak buahnya salah, hanya sedikit yang dianggap benar. Ia selalu mencari kambing hitam bila terjadi kesalahan, meskipun kesalahannyan sebenarnya adalah kesalahan yang dilakukan oleh dirinya sendiri.

11.  Hasrat-keinginan untuk menyenangkan hatinya sendiri (Eagerness to please). Pemimpin mengejar popularitas semata dalam setiap situasi.

oleh-oleh yang ada di jepang

http://baltyra.com/2010/01/19/budaya-membaca-di-jepang/?#comment-125905

TEORI PERKEMBANGAN


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan merupakan perubahan, dalam upaya mengungkap perubahan dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan ini para ahli psikologi mengungkapkan berbagai konsepsi yang menggambarkan mekanisme perubahan yang dialami manusia sepanjang masa perkembangannya. Masing-masing teori dan konsep yang dikemukakan mempunyai alasan dan cara pandang yang berbeda, sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat untuk sepenuhnya mengikuti salah satu konsep secara murni, mengingat tidak ada konsep yang berlaku obyektif untuk semua kondisi perkembangan manusia.

Selain pendapat diatas beberapa ahli juga berpendapat bahwa Perkembangan pada manusia ialah perubahan yang bersifat kualitatif. Sifat perubahan ini tidak dapat diukur, tetapi jelas berlaku jika dibandingkan dengan peringkat yang lebih awal.(Atan Long,1980). Paul Eggan dan Don Kauchak berpendapat perkembangan adalah perubahan yang berurutan dan kekal dalam diri seseorang hasil daripada pembelajaran, pengalaman dan kematangan. Slavin (1997) pula berpendapat perkembangan adalah berkaitan dengan mengapa dan bagaimana individu berkembang dan membesar, menyesuaikan diri kepada persekitaran dan berubah melalui peredaran masa. Beliau berpendapat, individu akan mengalami perkembangan sepanjang hayat, yaitu perkembangan dari segi fizikal, personaliti, sosioemosional dan kognitif serta bahasa. Sedangkan Menurut Crow dan Crow (1980), perkembangan merupakan perubahan secara ‘kualitatif’ serta cenderung ke arah yang lebih baik dari segi pemikiran, rohani, moral dan sosial.

Secara singkat ada lima perspektif teoritis utama tentang perkembangan yaitu psikoanalitis, kognitif, belajar perilaku atau social, etologis dan ekologis. Keberagaman teori ini akan menyebabkan pemahaman perkembangan masa hidup sebagai suatu usaha yang menantang, sama seperti ketika kita berpikir mengenai suatu teori yang memiliki penjelasan benar tentang perkembangan masa hidup, teori lain muncul dan menyebabkan kita memikirkan ulang kesimpulan kita sebelumnya untuk mencegah frustasi ingat bahwa perkembangan masa hidup adalah suatu topic yang kompleks, banyak wajah dan tidak ada teori tunggal yang memperhitungkan semua aspeknya.

Oleh karena itu, teori perkembangan harus kita pelajari sebagai upaya untuk mengetahui tahapan-tahapan hidup manusia terutama kita sebagai calon guru harus memahami perkembangan dari peserta didik agar kita dapat menentukan jenis pembelajaran yang tepat baginya.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:

Apa sajakah perspektif teoritis utama tentang perkembangan?

Apakah anak dilahirkan dalam keadaan baik atau keadaan buruk atau keadaan netral?

Apakah alam (nature) ataukah lingkungan (nature) yang memberikan pengaruh utama terhadap perkembangan anak?

Apakah anak berperan aktif atau pasif dalam proses perkembangan?

Apakah perkembangan anak berjalan kontinyu ataukah diskontinyu?

Apakah perkembangan anak perorang sama ataukah berbeda dari satu anak ke anak lainnya?

1.3 Tujuan Penulisan

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui Apa sajakah perspektif teoritis utama tentang perkembangan, Apakah anak dilahirkan dalam keadaan baik atau keadaan buruk atau keadaan netral, Apakah alam (nature) ataukah lingkungan (nature) yang memberikan pengaruh utama terhadap perkembangan anak, Apakah anak berperan aktif atau pasif dalam proses perkembangan, Apakah perkembangan anak berjalan kontinyu ataukah diskontinyu, Apakah perkembangan nak orang perorang sama ataukah berbeda dari satu anak ke anak lainnya.

1.4 Manfaat Penulisan

Penulisan ini mempunyai beberapa manfaat terutama dalam aspek akademis yaitu memberikan informasi kepada masyarakat mengenai teori-teori perkembangan dan peranananya terhadap pendidikan dan perkembagan anak.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Teori-teori Perkembangan

2.1.1 Teori Psikoanalis

Bagi para teoritisi psikoanalitis, perkembangan pada dasarnya tidak disadari yaitu diluar kesadaran dan sangat diwarnai oleh emosi. Para teoritis psikoanalitis yakin bahwa perilaku semata-mata adalah suatu karakteristik permukaan dan untuk benar-benar memahami perkembangan kita harus menganalisis makna simbolis perilaku dan kerja pikiran yang paling dalam. Para teoritisi psikoanalitis juga menekankan bahwa pengalaman-pengalaman sebelumnya dengan orang tua secara ekstensif membentuk perkembangan kita. Karakteristik ini digarasbawahi dalam teori psikoanalitis utama yaitu Sigmuend Freud.

Kepribadian, karena ego membuat keputusan-keputusan rasional. Id dan ego tidak memiliki moralitas. Id dan ego tidak memperhitungkan apakah sesuatu benar atau salah. Superego adalah struktur kepribadian freud yang merupakan badan moral kepribadian dan benar-benar memperhitungkan apakah sesuatu benar atau salah. Anggaplah superego sebagai apa yang selalu kita rujuk sebagai “ hati nurani” kita. Kita barangkali mulai merasa bahwa Id maupun superego menyebabkan kehidupan kasar bagi ego. Ego kita barangkali mengatakan “aku akan melakukan hubungan sex” kadang-kadang saja dan memastikan untuk menggunakan alat pencegah kehamilan yang tepat, karena aku tidak ingin gangguan anak dalam perkembangan karirku. “ akan tetapi ide anda mengatakan akau ingin dipuaskan, sex itu nikmat. Superego anda sedang bekerja juga “aku merasa bersalah kalau melakukan hubungan sex”.

Ingat bahwa freud melihat kepribadian seperti gunung es; kebanyakan kepribadian di bawah tingkat kesadaran kita, sama seperti bagian terbesar dari suatu gunung es yang terdapat di bawah permukaan air.

Asumsi yang mendasari teori psikoanalis adalah kegiatan terjadi pada tiga tingkat kesadaran, ialah keadaan sadar, mencakup apapun yang dipikirkan dan dikerjakan manusia, prasadar mencakup segala pengetahuan dan ingatan yang sewaktu-waktu dapat dikeluarkan ke alam sadar, tidak sadar mencakup segala sesuatu yang tidak ingin disadari dan dengan sengaja ditekan agar terluka. Asumsi berikutnya dari teori ini adalah bahwa banyak hal yang dilakukan manusia sebenarnya didorong oleh kekuatan di bawah sadar. Freud menyebutkan sebagai desire (dapat diterjemahkan sebagai hasrat) atau instic drive sebagai lawan dari reason (nalar). Dengan demikian energy psikologis tidk lain adalah energy instingtif. Dalam garis besarnya insting di bagi menjadi dua yaitu ego dan libido. Libido mengacu pada insting primer, sedangkan ego merupakan insting yang menyertai insting primer tersebut: kepribdian terdiri dari ego, suatu proses kejiwaan yang asli pad diri manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam prinsip kenyamanan dan hedonistic,id, bagian kepribadian yang mempunyai prinsip realitas dan superego, bagian proses kejiwaan dalam prinsip kesempurnn hidup.

Konsepsi ini berpendapat bahwa sumber pokok perilaku manusia adalah libido seksualis( dorongan untuk memuaskan nafsu). Insting ini tidak mengenal batas, sehingga freud berpendapat bahwa anak anak itu asocial (ego). Sedang kenyataan dimasyarakatnya menganut norma (id). Dengan demikian anak mengalami dua dunia yang bertentanga, disatu pihak ingin memuaskan instingnya, dilain pihak norma masyarakat membatsi. Banyak tuntutan insting yang terhalang oleh norma masyarakat. Untuk mengatasi konflik ini, anak harus menyesuaikan diri dengan menekan dorongan yang tidak dibenarkan masyarakat. Keudian menyalurkan dorongan melalui kaidah yang berlaku dalam masyarakat (superego). Proses ini disebut sebagai “internalisasi, sublimasi, dan identifikasi”. Melalui perkembangan ini anak berubah dari asocial menjdi sosil.

Perilaku yang terbentuk dalam diri manusia adalah interaksi dari ketiga bagian kejiwaan tersebut. Sedang penahapan dari kontinum interaksi dari ketiga tersebut. Tahap-tahap yng di ajukan adalah terdiri dari tahap oral ( 0-1 tahun), tahap anal ( 1-3 tahun), tahap falik ( 3-5 tahun), tahap laten ( 5-11 tahun), dan tahap genital (usia remaja).

Freud berfikir bahwa kepribadian orang dewasa ditentukan oleh cara-cara mengatasi konflik antara sumber-sumber kenikmatn awal-mulut, dubur, dan kemudian alat kelamin dan tuntutan relitas. Bila konflik ini tidak diatasi, individu dapat mengalami perasaan yang mendalam pada  tahap perkembangan tertentu. Misalnya, orang tua dapat menyapih seorang anak terlalu dini, terlalu keras dalam pelatihan menggunakan toilet, menghukum anak karena melakukan masturbasi, atu melimpahi anak dengan kehangatan. Kita akan kembali kepada gagasan tentang fiksasi ( presaan mendalam) dan bagaimana perasaan itu dapat muncul dalm kepribadian orang dewasa. Namun,  pertama-tam kita harus belajar tentang tahap-tahap awal perkembangan kepribadian.

1)      Tahap mulut: ialah tahp pertama kepribadian Freud, yang berlangsung selama 18 bulan pertama kehidupan, dalam mana penemptan bayi berpusat disekitar mulut. Umunya, mengunyah, menghisap, dan menggigit adalh sumber utama kenikmatan. Tindakan-tindakan ini mengurangi tekanan atu ketegangan pada bayi.

2)      Tahap lubang anus: ialah tahap kedua kepribadian Freud yng berlangsung antara usia 1 dan 3 tahun, dalam mana kenikmatan terbesar anak meliputi lubang anus atau fungsi pengeluaran yang diasosiasikan dengan dirinya. Dalam pandangan Freud latihan otot lubang dubur mengurangi tekanan atu ketegangan.

3)      Tahap alat kelamin laki-laki ialah tahp ketiga kepribadian Freud, yang berlangsung antara usia 3 dan 6 tahun selam atahap ini kenikmatan berfokus pada alat kelamin, ketika anak bahwa manipulasi diri dapat memberikan kenikmatan.

Dalam pandangan Freud, tahap phallic memiliki kepentingan khusus dalam perkembangan kepribadian karena selama periode inilah Oedipus complex muncul, istilah ini berasal dari mitologi yunani, di mana Oedipus, putra raja Thebes, tanpa sengaja membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Oedipus complex ialah konsep Freud dalam mana anak kecil mengembangkan suatau keinginan yang mendalam untuk menggantikan orang tua yang sama jenis kelamin dengannya dan menikmati afeksi dari orang tua yang berbeda jenis kelamin dengannya. Konsep Oedipus complex Freud dikecam oleh beberapa pakar psikoanalisis dan penulis.

Bagaimana Oedipus complex diatasi? Pada usia kira-kira 5 hingga 6 tahun, anak-anak menyadari bahwa orang tua yang sama jenis kelamin dengannya dapat menghukum mereka atas keinginan incest mereka. Untuk mengurangi konflik ini, anak mengidentifikasikan diri dengan orang tua yang sama jenis kelamin dengannya, dengan berusaha keras menjadi seperti orang tua yang sama jenis kelaminnya itu. Namun, bila konflik tidak teratasi, individu dapat terfiksasi pada tahap phallic.

4)      Tahap laten/tersembunyi ialah tahap keempat kepribadian Freud, yang berlangsung antara kira-kira usia 6 tahun dan masa puberitas, anak menekan semua minat terhadap sex dan mengembangkan keterampilan social dan intelektual. Kegiatan ini menyalurkan banyak energy anak ke dalam bidang-bidang yang aman secara emosional dan menolong anak melupakan konflik pada tahap phallic yang sangat menekan.

5)      Tahap kemaluan ialah tahap kelima dan terakhir kepribadian Freud, yang berawal dari masa puberitas dan seterusnya. Tahap kemaluan ialah suatu masa kebangkitan seksual; sumber kenikmatan seksual sekarang menjadi seseorang yang berada di luar keluarga.Freud yakin bahwa konflik yang tidak teratasi dengan orang tua menjadi kembali selama masa remaja. Bila teratasi, individu mampu mengembangkan suatu hubungan cinta yang dewasa dan berfungsi secara mandiri sebagai seorang dewasa.

Teori Freud mengalami revisi yang signifikans oleh sejumlah teoritis psikoanalitis. Banyak teoritisi psikoanalitis kontemporer kurang memberi tekanan pada naluri seksual dan lebih menekankan pada pengalaman-pengalaman kebudayaan sebagai factor-faktor yang menentukan perkembangan individu. Pikiran tidak sadar tetap merupakan tema sentral, tetapi sebagian besar psikoanalisis kontemporer yakin bahwa pikiran sadar terdiri dari lebih banyak gunung es daripada yang diperkirakan oleh Freud.

2.1.2 Teori Perkembangan kognitif

Pakar psikologi Swiss terkenal Jean Piaget (1896-1980) menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri; informasi tidak sekedar dituangkan ke dalam pikiran mereka dari lingkungan. Piaget yakin bahwa anak-anak menyesuaikan pemikiran mereka untuk mencakup gagasan-gagasan baru, karena informasi tambahn memajukan pemahaman.

Teori piaget didasarkan atas presuposisi biologis, dengan focus minatnya pada bagaimana makhluk hidup menyesuaikan atau mengorganisasikan dirinya terhadap lingkungannya dan berkembang.

Dinyatakan dalam teori tersebut bahwa makhluk hidup mempunyai regulasi diri untuk mencapai keseimbangan dengan lingkungannya. Apabila penyesuaian berjalan dengan baik, maka akan tercapai keseimbangan, sedang apabila penyesuaian tidak berjalan dengan baik akan tercapai ketidakseimbangan. Dalam diri makhluk hidup terdapat pola perilaku yang terorganisasikan dengan baik yang disebut skema. Skema tersebut disesuaikan dengan lingkungannya melalui 2 cara, ialah: asimilasi dalam bentuk mempersepsi dan menafsir informasi dari lingkungannya sebagai bentuk pengetahuan baru, dan akomodasi dalam bentuk restrukturisasi organisasi mental agar informasi yang baru tersebut dapat diterima.

Asimilasi terjadi ketika individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada. Akomodasi terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan inforrmasi baru. Perhatikan suatu keadaan di mana seorang anak perempuan berusia 7 tahun diberi palu dan paku untuk menggantung gambar di dinding. Ia belum pernah menggunakan palu, tetapi dari pengamatan dan pengalaman orang lain ia mengetahui bahwa palu adalah obyek yang harus dipegang, yang diayun dengan tangkai untuk memukul paku, dan yang biasanya diayun beberapa kali. Dengan mengenal kedua benda itu, ia menyesuaikan perilakunya dengan informasi yang sudah ia miliki (asimilasi). Akan tetapi, palu berat, sehingga ia memegangnya di bagian ujung. Ia mengayun terlalu keras dan paku bengkok, sehingga ia menyesuaikan tekanan pukulannya. Penyesuaian ini memperlihatkan kemampuannya untuk sedikit mengubah konsepnya tentang dunia (akomodasi).

Piaget berpikir bahwa asimilasi dan akomodasi berlangsung sejak kehidupan bayi yang masih sangat kecil. Bayi yang baru lahir secara reflex mengisap segala sesuatu yang menyentuh bibirnya (asimilasi), tetapi setelah beberapa bulan pengalaman, mereka membangun pemahaman mereka tentang dunia secara berbeda. Beberapa obyek, seperti jari dan susu ibu, dapat diisap, dan obyek lain, seperti selimut yang berbulu halus sebaiknya tidak diisap (akomodasi).

Piaget mengakui bahwa perkembanagn ialah suatu yang kontinyu. Namun ia berpendapat bahwa perkembangan kontinyu tersebut terjadi secara sekuensial. Satu bagian dikembangkan di atas bagian lain yang telah ada dalam kurun waktu sebelumnya. Dengan demikian kematangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap yang berbeda dan berurutan.

Piaget juga yakin bahwa kita melampui empat tahap dalam memahami dunia. Masing-masing tahap terkait dengan usia dan terdiri dari cara berpikir yang khas/berbeda. Ingat, cara yang berbeda dalam memahami dunialah yang menyebabkan satu tahap lebih berkembang dari tahap yang lain; menurut pandangan Piaget mengetahui lebih banyak informasi tidak menyebabkan pemikiran anak lebih berkembang, inilah yang Piaget maksudkan ketika ia mengatakan bahwa kognisi anak berbeda secara kualitatif pada satu tahap dibandingkan dengan tahap lain.

Diungkapkan oleh Piaget adanya 5 tahapan perkembangan yaitu tahap sensorik-motorik (usia 0-2 tahun), tahap prekonsep (usia 2-4 tahun), tahap intuisi (usia 4-7 tahun), tahap operasional konkrit (usia 7-11 tahun) dan tahap operasinal formal (usia 11-15 tahun).

Tahap sensorimotor yang berlangsung dari kelahiran hingga usia 2 tahun, merupakan tahap pertama Piaget. Pada tahap ini, bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia dengan mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensor (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan-tindakan motorik fisik oleh karena itulah istilahnya sensorimotor. Pada permulaan tahap ini, bayi yang baru lahir memiliki sedikit lebih banyak daripada pola-pola reflex. Pada akhir tahap, anak berusia 2 tahun memiliki pola-pola sensorimotor yang kompleks dan mulai beroperasi dengan symbol-simbol primitive.

Tahap praoperasional yang berlangsung kira-kira dari usia 2 hingga 7 tahun, merupakan tahap kedua Piaget. Pada tahap ini, anak-anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Pemikiran simbolis melampui hubungan sederhana antara informasi sensor dan tindakan fisik. Akan tetapi, walaupun anak-anak prasekolah dapat secara simbolis melukiskan dunia, menurut Piaget mereka masih belum mampu untuk melaksanakan apa yang Piaget sebut “operasi” tindakan mental yang diinternalisasikan yang memungkinkan anak-anak melakukan secara mental apa yang sebelumnya dilakukan secara fisik.

Tahap operasional konkret yang berlangsung kira-kira dari usia 7-11 tahun, merupakan tahap ketiga Piaget. Pada tahap ini, anak-anak dapat melaksanakan operasi, dan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran dapat diterapkan ke dalam contoh-contoh yang spesifik atau konkret. Misalnya, pemikir operasional konkret tidak dapat membayangkan langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu persamaan aljabar, yang terlalu abstark untuk dipikirkan pada tahap perkembangan ini.

Tahap operasional formal yang tampak dari usia 11 hingga 15 tahun, merupakan tahap keempat dan terakhir Piaget. Pada tahap ini, individu melampaui dunia nyata, pengalaman-pengalaman kongkret dan berpikir secara abstrak dan lebih logis. Sebagai bagian dari pemikiran yang lebih abstrak, anak-anak remaja mengembangkan gambaran keadaan yang tak ideal. Mereka dapat berpikir tentang seperti apakah orang tua yang ideal dan membandingkan orang tua mereka dengan standar ideal ini. Mereka mulai mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan bagi masa depan dan terkagum-kagum terhadap apa yang dapat mereka lakukan. Dalam memecahkan masalah, pemikir operasional formal ini lebih sistematis, mengembangkan hipotesis tentang mengapa sesuatu terjadi seperti itu, kemudian menguji hipotesis ini dengan cara deduktif.

Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :

a.     Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

b.      Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

c.      Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.

d.     Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

e.     Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

Kebanyakan ahli psikologi sepenuhnya menerima prinsip-prinsip umum Piaget bahwa pemikiran anak-anak pada dasarnya berbeda dengan pemikiran orang dewasa, dan jenis logika anak-anak itu berubah seiring dengan bertambahnya usia. Namun, ada juga peneliti yang meributkan detail-detail penemuan Piaget, terutama mengenai usia ketika anak mampu menyelesaikan tugas-tugas spesifik.

-         Pada sebuah studi klasik, McGarrigle dan Donalson (1974) menyatakan bahwa anak sudah mampu memahami konservasi (conservation) dalam usia yang lebih muda daripada usia yang diyakini oleh Piaget.

-         Studi lain yang mengkritik teori Piaget yaitu bahwa anak-anak baru mencapai pemahaman tentang objek permanence pada usia di atas 6 bulan. Balillargeon dan De Vos (1991) ; 104 anak diamati sampai mereka berusia 18 tahun, dan diuji dengan  berbagai tugas operasional formal berdasarkan tugas-tugas yang dipakai Piaget, termasuk pengujian hipotesa. Mayoritas anak-anak itu memang belum mencapai tahap operasional formal. Hal ini sesuai dengan studi-studi McGarrigle dan Donaldson serta Baillargeon dan DeVos, yang menyatakan bahwa Piaget terlalu meremehkan kemampuan anak-anak kecil dan terlalu menilai tinggi kemampuan anak-anak yang lebih tua

-         dan belum lama ini, Bradmetz (1999) menguji pernyataan Piaget bahwa mayoritas anak mencapai formal pada akhir masa kanak-kanak.

-         Inilah yang menjadi pertentangan dan kritikan  diantara para ahli psikologi.

Piaget sang penemu teori

2.1.3 Teori Belajar (Konsepsi Asosiasi)

Inti dari konsepsi asosiasi adalah bahwa hakekat perkembangan adalah proses asosiasi, dimana bagian-bagian mempunyai nilai yang lebih pening dari keseluruhan. Dalam perkembangannya anak-anak pada mulanya mempunyai kesan sebagian-sebagian, kemudian melalui proses asosiasi bagian-bagian tersebut akan membentuk menjadi suatu keseluruhan. Banyak tokoh terkenal penganut konsepsi ini diantaranya yaitu: John locke (dengan teori tabularasa), Thorndike (denga teori conectionisme), J.B Watson dengan Teori Behaviriosme, dan Ivan Pavlov dengan teori Conditiononing Reflect.

Konsepsi asosiasi dibangun dari teori Pavlov mengenai pebiasaaan klasik. Dimulai dari kajian JB Watson, teori ini mendapatkan bentuknya yang lengkap dari BF Skiner. Focus utama teori ini adalah bahwa perilaku sepenuhnya merupakan hasil dari kegiatan belajar. Perilaku terbentuk sebagai respon terhadap stimulus. Selain pembiasaan klasik bias diberikan pembiasaan aktif (conditioning operant), yang dikenal sebagai penguatan (reinforcement).

1.      Teori Belajar Menurut Thorndike

Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula denganteori koneksionisme (Slavin, 2000).

Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.

  1. 2. Teori Belajar Menurut Watson

Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.

  1. 3. Teori Belajar Menurut Clark Hull

Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler, 1991).

  1. 4. Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie

Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.

Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991).

  1. 5. Teori Belajar Menurut Skinner

Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebihkomprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya.

Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

  1. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
  2. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforceritu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

  1. 6. Analisis Tentang Teori Behavioristik

Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997).

Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.

Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.

Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.

Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.

Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pebelajar untuk berpikir dan berimajinasi.

Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:

  • Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara;
  • Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama;
  • Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.

Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons.

  1. 7. Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran

Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.

Demikian halnya dalam pembelajaran, pebelajar dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para pebelajar. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar pebelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi.

Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.

Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, maka pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Pebelajar atau peserta didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri pebelajar.

Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”, yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.

Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila pebelajar menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa pebelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar secara individual.

  1. 8. Teori Belajar Sosial

Beberapa pakar psikologi yakin bahwa behavioris pada dasarnya benar ketika mereka mengtakan perkembangan dipelajari dan dipengaruhi secara kuat oleh pengalaman-pengalaman lingkungan. Akan tetapi, merekan yakin bahwa Skinner bergerak terlalu jauh dengan menyatakan bahwa kognisi tidak penting dalam memahami perkembangan. Teori belajar social ialah pandangan para pakar psikologi yang menekankan  perilaku, lingkungan dan kognisi sebagai faktor kunci dalam perkembangan.

Para teoritis belajr mengatakan kita tidak seperti robot yang tidak memiliki pikiran, yang tanggap secara meknis kepada orang lain di dalam lingkungan kita. Tidak seorangpun dari kita seperti penunjuk arah angin, yang berperilaku seperti orang komunis dalam kehadiran seorang komunis atau seperti seorang John Brcher. Sebaliknya, kita berfikir, bernalar, membayangkan, merencanakan, mengharapkan, menginterpretasikan, meyakini, menilai dan membandingkan.ketika orang lain, mencoba mengendalikan kita, nilai-nilai dan keyakinan kita memungkinkan kita menolak kendali mereka.

Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura seorang psikolog pendidikan dari Stanford University, USA. Teori belajar ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana orang belajar dalam seting yang alami/lingkungan sebenarnya.

Bandura (1977) menghipotesiskan bahwa baik tingkah laku (B), lingkungan (E) dan kejadian- kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P) adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh(interlocking), Harapan dan nilai mempengaruhi tingkah laku Tingkah laku sering dievaluasi, bebas dari umpan balik lingkungan sehingga mengubah kesan- kesan personal Tingkah laku mengaktifkan kontingensi lingkungan Karakteristik fisik seperti ukuran, ukuran jenis kelamin dan atribut sosial menumbuhkan reaksi lingkungan yang berbeda.

Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu Kontingensi yang aktif dapat merubah intensitas atau arah aktivitas.

P
B
E

Tingkah laku dihadirkan oleh model Model diperhatikan oleh pelajar (ada penguatan oleh model) Tingkah laku (kemampuan dikode dan disimpan oleh pembelajar) Pemrosesan kode-kode simbolik Skema hubungan segitiga antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku, (Bandura, 1976).

Proses perhatian sangat penting dalam pembelajaran karena tingkah laku yang baru (kompetensi) tidak akan diperoleh tanpa adanya perhatian pembelajar. Proses retensi sangat penting agar pengkodean simbolik tingkah laku ke dalam visual atau kode verbal dan penyimpanan dalam memori dapat berjalan dengan baik. Dalam hal ini rehearsal (ulangan ) memegang peranan penting.

Proses motivasi yang penting adalah penguatan dari luar, penguatan dari dirinya sendiri dan Vicarius Reinforcement (penguatan karena imajinasi).
Lebih lanjut menurut Bandura (1982) penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian, retensi, motor reproduksi dan motivasi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni “sense of self Efficacy” dan “self – regulatory system”. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku.
Self regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku dan hasil belajar, 2) sub proses kognitif yang merasakan, mengevaluasi, dan pengatur tingkah laku kita (Bandura, 1978). Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan “goal setting” dan “self evaluation” pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya.

Menurut Bandura agar pembelajar sukses instruktur/guru/dosen/guru harus dapat menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar, mengembangkan “self of mastery”, self efficacy, dan reinforcement bagi pembelajar.
Berikut Bandura mengajukan usulan untuk mengembangkan strategi proses pembelajaran yaitu sebagi berikut :

MODEL KOGNISI

2.1.4 Teori Humanistik

Teori ini terutama dikembangkan oleh Maslow. Teori ini menjelaskan bahwa pada hakekatnya setiap diri manusia adalah unik, memiliki potensi individual dan dorongan internal untuk berkembang dan membentuk perilakunya dalam kaitan itu maka setiap diri manusia adalah bebas dan memiliki kecendrungan untuk tumbuh dan berkembang mencapai aktualisasi diri. Lebih lanjut dinyatakan bahwa kebutuhan manusia adalah beritngkat-tingkat, terdiri dari tingkatan: kebutuhan faaali, kebutuhan keamanan, kebutuhan pengakuan, dan kebutuhan aktualisasi diri.

2.1.5 Teori Ethologi ( sosiobiologi)

Etologi menekankan landasan biologis, dan evolusioner perkembangan. Penamaan ( imprinting ) dan periode penting ( critical period ) merupakan konsep kunci. Teori ini di tegakkan berdasarkan penelitian yang cermat terhadap perilaku binatang dalam keadan nyata. Pendirinya adalah Carl Von Frisch serang pecinta binatang. Bertahun-tahun ia memelihara berbagai macam binatang dan mengamati perilakunya. Percobaan yang dilakukan pada sekelompok itik dengan ank-anaknya adalah yang yang digunakan untuk menyusun teori ini. Ia pisahkan dua kelompok anak angsa, satu kelompok diasuh induknyadan satu kelompok lagi ia asuh sendiri. Setelah beberapa bulan kelompok anak angsa yang diasuhnya mengidentifikasi  Carl Von Frisch sebagai induknya. Kemanapun Carl Von Frisch pergi mereka selalu mengikuti. Suatu saat dipertemukan kelompok asuhnya dengan induk aslinya ternyata kelompok yang diasuh ini menolak induk aslinya

Garis besar teori ini mengatakan pada dasarnya sumber dari semua perilaku social ada dalam gen. ada instink dalam makhluk untuk mengembangkan perilakunya. Analogi yang dikemukakan adalah “genes setting the stage, and society writing the play”. Teori ini memberikan dasar bagi pemahaman periode kritis perkembangan dan perilaku melekat pada anak segera setelah dilahirkan.

Kepekaan terhadap jenis pengalaman yang berbeda berubah sepanjang siklus kehidupan. Adanya atau tidak adanya pengalaman-pengalaman tertentu pada waktu tertentu selama masa hidup mempengaruhi individu dengan baik di luar waktu pengalaman-pengalaman itu pertama kali terjadi. Para etologi yakin bahwa kebanyakan pakar psikologi meremehkan pentingnya kerangka waktu khusus ini pada awal perkembangan dan peran yang kuat yang dimainkan evolusi dan landasan biologis dalam perkembangan.

Etologi lahir sebagai pandangan penting karena pekerjaan para pakar ilmu hewan eropa, khususnya Konrad Lorenz (1903-1989). Etologi menekankan bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh biologi terkait dengan evolusi, dan ditandai oleh periode yang penting atau peka.

Melalui penelitian yang sebagian besar dilakukan dengan angsa abu-abu, Lorenz (1965) mempelajari suatu pola perilaku yang dianggap diprogramkan di dalam gen burung. Seekor anak angsa yang baru ditetaskan tampaknya dilahirkan dengan naluri untuk mengikuti induknya. Pengamatan memperlihatkan bahwa anak angsa mampu berperilaku demikian segera setelah ditetaskan. Lorenz membuktikan bahwa tidak benar anggapan bahwa perilaku semacam itu diprogramkan terhadap binatang.

2.1.6 Teori Ekologis

Teori etologis menempatkan tekanan yang kuat pada landasan perkembangan biologis. Berbeda dengan teori etologi, Urie Bronfenbrenner (1917) mengajukan suatu pandangan lingkungan yang kuat tentang perkembangan yang sedang menerima perhatian yang meningkat. Teori ekologi adalah pandangan sosiokultular Bronfenbrenner tentang perkembangan, yang terdiri dari 5 sistem lingkungan mulai dari masukan interaksi langsung dengan gen-gen social (social agent) yang berkembang baik hingga masukan kebudayaan yang berbasis luas. Ke 5 sistem dalam teori ekologis Bronfenbrenner ialah mikrosystem, mesosyem, ekosistem, makrosistem dan kronosistem. Modal ekologis Bronfenbrenner (1979, 1986, 1989, 1993).

Makrosystem, dalm teori ekologis Bronfenbrenner ialah setting dalam mana individu hidup. Konteks ini meliputi keluarga individu, teman-teman sebaya, sekolah dan lingkungan. Dalam mskrosystem inilah interaksi yang paling langsung dengan agen-agen social berlangsung. Misalnya orang tua, teman-teman sebaya, dan guru. Individu tidak dipandang sebagai penerima pengalaman yang pasif dalam setting ini, tetapi sebagai seseorang yang menolong membangun setting. Bronfenbrenner menunjukkan bahwa kebanyakan penelitian tentang dampak-dampak sosiokultular berfokus pada mikrosystem.

Mesosistem dalam teori ekologi Bronfenbrenner meliputi hubungan antara beberapa mikrosistem atau hubungan antar beberapa konteks. Contohnya ialah hubungan antara pengalaman keluarga dan pengalaman sekolah, pengalaman sekolah dengan pengalaman keagamaan, dan pengalaman keluarga dengan pengalaman teman sebaya. Misalnya anak-anak yang orang tuanya menolak mereka dapat mengalami kesulitan mengembangkan hubungan positif dengan guru, para developmentalis semakin yakin pentingnya mengamati perilaku dalam setiing majemuk seperti keluarga, teman sebaya, dan konteks sekolah untuk mmperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang perkambangan individu.

Ekosistem dalam teori ekologi Bronfenbrenner dilibatkan ketika pengalaman-pengalaman dalam setting social lain dalam mana individu tidak memiliki peran yang aktif mempengaruhi apa yang individu alami dalam konteks yang dekat. Misalnya pengalaman kerja dapat mempengaruhi hubungan seoran perempuan dengan suami dan anaknya. Seorang ibu dapat menerima promosi yang menuntutnya melakukan banyak perjalanan, yang dapat meningkatkan konflik perkawinan dan perubahan pola interaksi orang tua anak. Contoh lain ekosistem adalah pemerintah kota yang bertanggung jawab bagi kualitas taman, pusat-pusat rekreasi dan fasilitas perpustakaan bagi anak-anak dan remaja.

Makrosistem, dalam teori ekologi Bronfenbrenner meliputi kebudayaan di mana individu hidup ingat bahwa kebudayaan mengacu pada pola perilaku, keyakinan dan semua produk lain. Dari sekelompok manusia yang diteruskan dari generas-generasi ingat juga bahwa studi lintas budaya perbandingan antar satu kebudayaan dengan kebudayaan lain atau lebih kebudayaan lain, member informasi tentang generalitas perkembangan.

Kronosistem, dalam teori ekologi Bronfenbrenner meliputi pemolaan peristiwa-peristiwa lingkungan dan transisi sepanjang rangkaian kehidupan dan keadaan sosiohistoris. Misalnya dalam mempelajari dampak perceraian terhadap anak-anak, para peneliti menemukan bahwa dampak negative sering memuncak pada tahun pertama setelah perceraian dan bahwa dampaknya lebih negatef bagi anak laki-laki daripada anak perempuan. 2 tahun setekah perceraian interaksi keluarga tidak begitu kacau lagi dan lebih stabil dengan mempertimbangkan keadaan-keadaan sosiohistoris, dewasa ini, kaum perempuan tampaknya sangat didorong untuk meniti karir dibandingkan pada 20 atau 30 tahun yang lalu. Dengan cara seperti ini, kronosistem memiliki dampak yang kuat pada perkembangan kita.

2.1.7 Teori Erikson

Erikson mengembangkan dua filosofi dasar berkenaan dengan perkembangan, yaitu:

  1. dunia bertambah besar seiring dengan diri kita
  2. kegagalan bersifat kumulatif

Kedua dasar filosofi inilah yang membentuk teorinya yang terkenal itu. Ia hendak mengatakan bahwa dunia semakin besar seiring dengan perkembangan karena kapasitas persepsi dan kognisi manusia juga mengalami perubahan. Di sisi lain, dalam pengertian Erikson, kegagalan yang terjadi pada sebuah stage perkembangan akan menghambat sebuah proses perkembangan ke stage berikutnya. Kegagalan ini tidak lantas hilang dengan sendirinya, bahkan terakumulasi dalam stage perkembangan berikutnya.

Dari penelitiannya, Erikson yang penganut Freudian (karena menggunakan konsep ego) ini melihat bahwa jalur perkembangan merupakan interaksi antara tubuh (pemrograman biologi genetika), pikiran (aspek psikologis), dan pengaruh budaya.

Erikson sang penemu teori

Erikson mengelompokkan tahapan kehidupan ke dalam 8 stage yang merentang sejak kelahiran hingga kematian.

1. Tahap Bayi (Infancy): Sejak lahir hingga usia 18 bulan.

Kekuatan dasar: Dorongan dan harapan

Periode ini disebut juga dengan tahapan sensorik oral, karena orang biasa melihat bayi memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Sosok Ibu memainkan peranan terpenting untuk memberikan perhatian positif dan penuh kasih kepada anak, dengan penekanan pada kontak visual dan sentuhan. Jika periode ini dilalui dengan baik, bayi akan menumbuhkan perasaan trust (percaya) pada lingkungan dan melihat bahwa kehidupan ini pada dasarnya baik. Sebaliknya, bila gagal di periode ini, individu memiliki perasaan mistrust (tidak percaya) dan akan melihat bahwa dunia ini adalah tempat yang mengecewakan dan penuh frustrasi. Banyak studi tentang bunuh diri dan usaha bunuh diri yang menunjukkan betapa pentingnya pembentukan keyakinan di tahun-tahun awal kehidupan ini. Di awal kehidupan ini begitu penting meletakkan dasar perasaan percaya dan keyakinan bahwa tiap manusia memiliki hak untuk hidup di muka bumi, dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh sosok Ibu, atau siapapun yang dianggap signifikan dalam memberikan kasih sayang secara tetap.

QS Al-Baqarah 233: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Islam mengatakan bahwa sosok Ibu atau pengganti Ibu adalah madrasah pertama melalui kasih sayangnya, sehingga ada pepatah “surga di telapak kaki ibu”. Ibu lah yang bertanggung jawab di awal untuk mengantarkan anak ke surga.

2. Tahap Kanak-Kanak Awal (Early Childhood): 18 Bulan hingga 3 tahun

Hasil perkembangan ego: autonomy vs shame (otonomi vs rasa malu)

Kekuatan dasar: Pengendalian diri, keberanian, dan kemauan (will)

Selama tahapan ini individu mempelajari ketrampilan untuk diri sendiri. Bukan sekedar belajar berjalan, bicara, dan makan sendiri, melainkan juga mempelajari perkembangan motorik yang lebih halus, termasuk latihan yang sangat dihargai: toilet training. Di masa ini, individu berkesempatan untuk belajar tentang harga diri dan otonomi, seiring dengan berkembangnya kemampuan mengendalikan bagian tubuh dan tumbuhnya pemahaman tentang benar dan salah. Salah satu ketrampilan yant muncul di periode adalah kemampuan berkata TIDAK. Sekalipun tidak menyenangkan orang tua, hal ini berguna untuk pengembangan semangat dan kemauan.

Di sisi lain, ada kerentanan yang bisa terjadi dalam periode ini, khususnya berkenaan dengan kegagalan dalam proses toilet training atau mempelajari skill lainnya, yang mengakibatkan munculnya rasa malu dan ragu-ragu. Lebih jauh, individu akan kehilangan rasa percaya dirinya.

Dalam periode ini, hubungan yang signifikan adalah dengan orang tua.

QS Al-Maidah 6: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Kebersihan selalu menjadi bagian dari Islam, karena itu layak diajarkan sejak anak-anak masih kecil agar mereka bisa mandiri dalam melakukannya serta terbiasa membersihkan diri sekalipun belum siap untuk beribadah secara formal.

3. Tahap Usia Bermain (Play Age): 3 hingga 5 tahun

Hasil perkembangan ego: initiative vs guilt (inisiatif vs rasa bersalah)

Kekuatan dasar: Tujuan

Pada periode ini, individu biasanya memasukkan gambaran tentang orang dewasa di sekitarnya dan secara inisiatif dibawa dalam situasi bermain. Anak laki-laki bermain dengan kuda-kudaan dan senapan kayu, anak perempuan main “pasar-pasaran” atau boneka yang mengimitasi kehidupan keluarga, mobil-mobilan, handphone mainan, tentara mainan untuk bermain peran, dsb. Di masa ini, muncul sebuah kata yang sering diucapkan seorang anak:”KENAPA?”

Sesuai dengan konsep Freudian, di masa ini anak (khususnya laki-laki) juga sedang berjuang dalam identitas gender-nya yang disebut “oedipal struggle”. Kita sering melihat anak laki-laki yang bermain dengan alat kelaminnya, saling menunjukkan pada sesama anak laki-laki, atau bahkan menunjukkan pada anak perempuan sebaya. Kegagalan melalui fase ini menimbulkan perasaan bersalah.

Hubungan yang signifikan di periode ini adalah dengan keluarga inti (ayah, ibu, dan saudara).

Rasulullah SAW bersabda; “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang-tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR Bukhari)

Anak-anak di usia ini disebut dengan golden age, karena memiliki ingatan yang luar biasa, dan apapun memory yang didapatkan di kurun usia ini akan menjadi kenangan seumur hidup. Karena itu biarlah mereka selalu mengenang orang tuanya sebagai ilham bagi perbuatan penuh kebajikan dan amal saleh di kelak kemudian hari.

4. Tahap Usia Sekolah (School Age): Usia 6 – 12 tahun

Hasil perkembangan ego: Industry vs Inferiority (Industri vs Inferioritas)

Kekuatan dasar: Metode dan kompetensi

Periode ini sering disebut juga dengan periode laten, karena individu sepintas hanya menunjukkan pertumbuhan fisik tanpa perkembangan aspek mental yang berarti, berbeda dengan fase-fase sebelumnya. Kita bisa simak, dalam periode sebelumnya pertumbuhan dan perkembangan berbilang bulan saja untuk manusia agar bisa tumbuh dan berkembang.

Ketrampilan baru yang dikembangkan selama periode ini mengarah pada sikap industri (ketekunan belajar, aktivitas, produktivitas, semangat, kerajinan, dsb), serta berada di dalam konteks sosial. Bila individu gagal menempatkan diri secara normal dalam konteks sosial, ia akan merasakan ketidak mampuan dan rendah diri.

Sekolah dan lingkungan sosial menjadi figur yang berperan penting dalam pembentukan ego ini, sementara orang tua sekalipun masih penting namun bukan lagi sebagai otoritas tunggal.

Imam asy-Syafi’i rahimahullaah pemah mengatakan dalam sya’irnya: Saudaraku, engkau tidak akan mendapat ilmu, melainkan dengan enam perkara.Kukabarkan kepadamu rinciannya dengan jelas: Kecerdasan, kemauan keras, bersungguh-sungguh, bekal yang cukup, bimbingan ustadz, dan waktunya yang lama.

Anak-anak selalu menganggap guru sebagai orang tua kedua, bahkan seringkali lebih mendengar penuturan mereka. Karena guru dan teman-teman sekolah memberikan pengaruh penting, kita wajib seksama dalam memilihkan pendidikan dasar anak kita.

5. Tahap Remaja (Adolescence): Usia 12 hingga 18 tahun

Hasil perkembangan ego: Identity vs Role confusion (identitas vs kebingungan peran)

Kekuatan dasar: devotion and fidelity (kesetiaan dan ketergantungan)

Bila sebelumnya perkembangan lebih berkisar pada apa yang dilakukan untuk saya, sejak stage perkembangan ini perkembangan tergantung padaapa yang saya kerjakan. Karena di periode ini individu bukan lagi anak tetapi belum menjadi dewasa, hidup berubah sangat kompleks karena individu berusaha mencari identitasnya, berjuang dalam interaksi sosial, dan bergulat dengan persoalan-persoalan moral.

Tugas perkembangan di fase ini adalah menemukan jati diri sebagai individu yang terpisah dari keularga asal dan menjadi bagian dari lingkup sosial yang lebih luas. Bila stage ini tidak lancara diselesaikan, orang akan mengalami kebingungan dan kekacauan peran.

Hal utama yang perlu dikembangkan di sini adalah filosofi kehidupan. Di masa ini, seseorang bersifat idealis dan mengharapkan bebas konflik, yang pada kenyataannya tidak demikian. Wajar bila di periode ada kesetiaan dan ketergantungan pada teman.

Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang sholeh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk. (HR. Al Hakim) Seseorang adalah sejalan dan sealiran dengan kawan akrabnya, maka hendaklah kamu berhati-hati dalam memilih kawan pendamping. (HR. Ahmad)

Pergaulan menjadi sangat crucial di usia ini, dan sangat menentukan arah masa depan perkembangan kerohanian seseorang kelak. Orang tua perlu mengontrol siapa saja teman anak-anaknya tanpa merasa rikuh, karena tugas orang tua adalah memilihka teman yang bisa membawa anak ke jalan kehidupan yang benar.

6. Tahap Dewasa Awal (Young Adulthood): Usia 18 hingga 35 tahun

Hasil perkembangan ego: Solidarity vs Isolation (Solidaritas vs isolasi)

Kekuatan dasar: affiliation and love (kedekatan dan cinta)

Langkah awal menjadi dewasa adalah mencari teman dan cinta. Hubungan yang saling memberikan rasa senang dan puas, utamanya melalui perkawinan dan persahabatan. Keberhasilan di stage ini memberikan keintiman di level yang dalam.

Kegagalan di level ini menjadikan orang mengisolasi diri, menjauh dari orang lain, dunia terasa sempit, bahkan hingga bersikap superior kepada orang lain sebagai bentuk pertahanan ego.

Hubungan yang signifikan adalah melalui perkawinan dan persahabatan.

QS An-Nuur32: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

” jika seorang hamba menikah sesungguhnya ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karena itu bertakwalah pada Allah untuk menyempurnakan sebagian yang lain” (HR Al Baihaqi)

Menikah adalah pilihan, namun bagi kaum muslim adalah sunnah. Pernikahan yang baik dan berdasarkan ridha Allah akan memberikan ketenteraman.

7. Tahap Dewasa (Middle Adulthood): Usia 35 hingga 55 atau 65tahun

Hasil perkembangan ego: Generativity vs Self Absorption or Stagnation

Kekuatan dasar: production and care (produksi dan perhatian)

Masa ini dianggap penting karena dalam periode inilah individu cenderung penuh dengan pekerjaan yang kreatif dan bermakna, serta berbagai permasalahan di seputar keluarga. Selain itu adalah masa “berwenang” yang diidamkan sejak lama.

Tugas yang penting di sini adalah mengejawantahkan budaya dan meneruskan nilai budaya pada keluarga (membentuk karakter anak) serta memantapkan lingkungan yang stabil. Kekuatan timbul melalui perhatian orang lain, dan karya yang memberikan sumbangan pada kebaikan masyarakat, yang disebut dengan generativitas. Jadi di masa ini, kita takut akan ketidak aktifan dan ketidak bermaknaan diri.

Sementara itu, ketika anak-anak mulai keluar dari rumah, hubungan interpersonal tujuan berubah, ada kehidupan yang berubah drastic, individu harus menetapkan makna dan tujuan hidup yang baru. Bila tidak berhasil di stage ini, timbullah self-absorpsi atau stagnasi.

Yang memainkan peranan di sini adalh komunitas dan keluarga.

Anas bin Malik r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak sempurna iman seseorang di antaramu kecuali jika ia mencintai saudaranya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya.” (HR Bukhari dan Muslim)


Dari Nu’man bin Basyir r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan saling membantu itu bagaikan satu jasad. Jika ada di antaranya yang merasa sakit, maka semua unsur jasad ikut tidak tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Menjadi bagian dari komunitas adalah tuntunan bagi orang Islam, selain untuk amalan hablum minannas juga untuk menunjukkan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin.

7. Tahap Dewasa Akhir (Late Adulthood): Usia 55 atau 65tahun hingga mati

Hasil perkembangan ego: Integritas vs Despair (integritas vs keputus asaan)

Kekuatan dasar: wisdom (kebijaksanaan)

Orang berusia lanjut yang bisa melihat kembali masa-masa yang telah dilaluinya dengan bahagia, merasa tercukupi, dan merasa telah memberikan kontribusi pada kehidupan, ia akan merasakan integritas. Kebijaksanaannya yang tumbuh menerima keluasan dunia dan menjelang kematian sebagai kelengkapan kehidupan.

Sebaliknya, orang yang menganggap masa lalu adalah kegagalan merasakan keputus asaan, belum bisa menerima kematian karena belum menemukan makna kehidupan. Atau bisa jadi, ia merasa telah menemukan jati diri dan meyakini sekali bahwa dogma yang dianutnyalah yang paling benar.

QS Al-Jumu’ah 8: Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan”.

2.1.8 Teori Vygotsky

Perkembangan kognitif dan bahasa anak-anak tidak berkembang dalam suatu situasi sosial yang hampa. Lev Vygotsky (1896-1934), seorang psikolog berkebangsaan Rusia, mengenal poin penting tentang pikiran anak ini lebih dari setengah abad yang lalu. Teori Vygotsky mendapat perhatian yang makin besar ketika memasuki akhir abad ke-20.

Sezaman dengan Piaget, Vygotsky menulis di Uni Soviet selama 1920-an dan 1930-an. Namun, karyanya baru dipublikasikan di dunia Barat pada tahun 1960-an. Sejak saat itulah, tulisan-tulisannya menjadi sangat berpengaruh. Vygotsky adalah pengagum Piaget. Walaupun setuju dengan Piaget bahwa perkembangan kognitif terjadi secara bertahap dan dicirikan dengan gaya berpikir yang berbeda-beda, tetapi Vygotsky tidak setuju dengan pandangan Piaget bahwa anak menjelajahi dunianya sendirian dan membentuk gambaran realitas batinnya sendiri.

B. KONSEP SOSIOKULTURAL

Banyak developmentalis yang bekerja di bidang kebudayaan dan pembangunan menemukan dirinya sepaham dengan Vygotsky, yang berfokus pada konteks pembangunan sosial budaya. Teori Vygotsky menawarkan suatu potret perkembangan manusia sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Vygotsky menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran menggunakan temuan-temuan masyarakat seperti bahasa, sistem matematika, dan alat-alat ingatan. Ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut. Penekanan Vygotsky pada peran kebudayaan dan masyarakat di dalam perkembangan kognitif berbeda dengan gambaran Piaget tentang anak sebagai ilmuwan kecil yang kesepian.

Piaget memandang anak-anak sebagai pembelajaran lewat penemuan individual, sedangkan Vygotsky lebih banyak menekankan peranan orang dewasa dan anak-anak lain dalam memudahkan perkembangan si anak. Menurut Vygotsky, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relatif dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan perhatian. Namun, anak-anak tak banyak memiliki fungsi mental yang lebih tinggi seperti ingatan, berfikir dan menyelesaikan masalah. Fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi ini dianggap sebagai ”alat kebudayaan” tempat individu hidup dan alat-alat itu berasal dari budaya. Alat-alat itu diwariskan pada anak-anak oleh anggota-anggota kebudayaan yang lebih tua selama pengalaman pembelajaran yang dipandu. Pengalaman dengan orang lain secara berangsur menjadi semakin mendalam dan membentuk gambaran batin anak tentang dunia. Karena itulah berpikir setiap anak dengan cara yang sama dengan anggota lain dalam kebudayaannya.

Vygotsky menekankan baik level konteks sosial yang bersifat institusional maupun level konteks sosial yang bersifat interpersonal. Pada level institusional, sejarah kebudayaan menyediakan organisasi dan alat-alat yang berguna bagi aktivitas kognitif melalui institusi seperti sekolah, penemuan seperti komputer, dan melek huruf. Interaksi institusional memberi kepada anak suatu norma-norma perilaku dan sosial yang luas untuk membimbing hidupnya. Level interpersonal memiliki suatu pengaruh yang lebih langsung pada keberfungsian mental anak. Menurut vygotsky (1962), keterampilan-keterampilan dalam keberfungsian mental berkembang melalui interaksi sosial langsung. Informasi tentang alat-alat, keterampilan-keterampilan dan hubungan-hubungan interpersonal kognitif dipancarkan melalui interaksi langsung dengan manusia. Melalui pengorganisasian pengalaman-pengalaman interaksi sosial yang berada di dalam suatu latar belakang kebudayaan ini, perkembangan mental anak-anak menjadi matang.

C. PERKEMBANGAN BAHASA

Para pakar perilaku memandang bahasa sama seperti perilaku lainnya, misalnya duduk, berjalan, atau berlari. Mereka berpendapat bahwa bahasa hanya merupakan urutan respons (Skinner,1957) atau sebuah imitasi (Bandura, 1977). Tetapi banyak diantara kalimat yang kita hasilkan adalah baru, kita tidak mendengarnya atau membicarakannya sebelumnya.

Kita tidak mempelajari bahasa di dalam suatu ”ruang hampa sosial” (social vacuum). Kebanyakan anak-anak diajari bahasa sejak usia yang sangat muda. Kita memerlukan pengenalan kepada bahasa yang lebih dini untuk memperoleh keterampilan bahasa yang baik (Adamson,1992; Schegloff,1989). Dewasa ini, kebanyakan peneliti penguasaan bahasa yakin bahwa anak-anak dari berbagai konteks sosial yang luas menguasai bahasa ibu mereka tanpa diajarkan secara khusus dan dalam beberapa kasus tanpa penguatan yang jelas ( Rice,1993). Dengan demikian aspek yang penting dalam mempelajari suatu bahasa tampaknya tidaklah banyak. Walaupun begitu, proses pembelajaran bahasa biasanya memerlukan lebih banyak dukungan dan keterlibatan dari pengasuh dan guru. Suatu peran lingkungan yang membangkitkan rasa ingin tahu dalam penguasaan bahasa pada anak kecil disebutmotherese, yakni cara ibu dan orang dewasa sering berbicara pada bayi dengan frekuensi dan hubungan yang lebih luas dari pada normal, dan dengan kalimat-kalimat yang sederhana.

Bahasa dipahami dalam suatu urutan tertentu. Pada setiap tahap di dalam tahap perkembangan, interaksi linguistik anak dengan orang tua dan orang lain pada dasarnya mengikuti suatu prinsip tertentu ( Conti-Ramsden & Snow, 1991; Maratsos, 1991). Perkembangan pemahaman bahasa pada anak bukan saja sangat dipengaruhi oleh kondisi biologis anak, tetapi lingkungan bahasa di sekitar anak sejak usia dini jauh lebih penting dibandingkan dengan apa yang diperkirakan di masa lalu ( Von Tetzchner & Siegel, 1989).

Vygotsky lebih banyak menekankan bahasa dalam perkembangan kognitif daripada Piaget. Bagi Piaget, bahasa baru tampil ketika anak sudah mencapai tahap perkembangan yang cukup maju. Pengalaman berbahasa anak tergantung pada tahap perkembangan kognitif saat itu. Namun, bagi Vygotsky, bahasa berkembang dari interaksi sosial dengan orang lain. Awalnya, satu-satunya fungsi bahasa adalah komunikasi. Bahasa dan pemikiran berkembang sendiri, tetapi selanjutnya anak mendalami bahasa dan belajar menggunakannya sebagai alat untuk membantu memecahkan masalah. Dalam tahap praoperasional, ketika anak belajar menggunakan bahasa untuk menyelesaikan masalah, mereka berbicara lantang sembari menyelesaikan masalah. Sebaliknya, begitu menginjak tahap operasional konkret, percakapan batiniah tidak terdengar lagi.

D. ZONE PERKEMBANGAN PROKSIMAL

Meskipun pada akhirnya anak-anak akan mempelajari sendiri beberapa konsep melalui pengalaman sehari-hari, Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh lebih berkembang jika berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tidak akan pernah mengembangkan pemikiran operasional formal tanpa bantuan orang lain.

Pada satu sisi, Piaget menjelaskan proses perkembangan kognitif sejalan dengan kemajuan anak-anak, dan dia menggambarkan bahwa anak-anak mampu melakukan sesuatu sendiri. Pada sisi lain, Vygotsky mencari pengertian bagaiman anak-anak berkembang dengan melalui proses belajar, dimana fungsi-fungsi kognitif belum matang, tetapi masih dalam proses pematangan. Vygotsky membedakan antara aktual development dan potensial development pada anak. Aktual development ditentukan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa atau guru. Sedangkan potensial development membedakan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu, memecahkan masalah di bawah petunjuk orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.

Menurut teori Vygotsky, Zona Perkembangan Proksimal merupakan celah antara actual development dan potensial development, dimana antara apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.

Maksud dari ZPD adalah menitikberatkan ZPD pada interaksi sosial akan dapat memudahkan perkembangan anak. Ketika siswa mengerjakan pekerjaanya di sekolah sendiri, perkembangan mereka kemungkinan akan berjalan lambat. Untuk memaksimalkan perkembangan, siswa seharusnya bekerja dengan teman yang lebih terampil yang dapat memimpin secara sistematis dalam memecahkan masalah yang lebih kompleks. Melalui perubahan yang berturut-turut dalam berbicara dan bersikap, siswa mendiskusikan pengertian barunya dengan temannya kemudian mencocokkan dan mendalami kemudian menggunakannya. Sebuah konsekuensi pada proses ini adalah bahwa siswa belajar untuk pengaturan sendiri (self-regulasi).

E. KONSEP SCAFFOLDING

Scaffolding merupakan suatu istilah yang ditemukan oleh seorang ahli psikologi perkembangan-kognitif masa kini, Jerome Bruner, yakni suatu proses yang digunakan orang dewasa untuk menuntun anak-anak melalui zona perkembangan proksimalnya.

Pengaruh karya Vygotsky dan Bruner terhadap dunia pengajaran dijabarkan oleh Smith et al.(1998).

1. Walaupun Vygotsky dan Bruner telah mengusulkan peranan yang lebih penting bagi orang dewasa dalam pembelajaran anak-anak daripad peran yang diusulkan Piaget, keduanya tidak mendukung pengajaran didaktis diganti sepenuhnya. Sebaliknya mereka malah menyatakan, walaupun anak tetap dilibatkan dalam pembelajaran aktif, guru harus secara aktif mendampingi setiap kegiatan anak-anak. Dalam istilah teoritis, ini berarti anak-anak bekerja dalam zona perkembangan proksimal dan guru menyediakan scaffolding bagi anak selama melalui ZPD.

2. Secara khusus Vygotsky mengemukakan bahwa disamping guru, teman sebaya juga berpengaruh penting pada perkembangan kognitif anak.berlawanan dengan pembelajaran lewat penemuan individu (individual discovery learning), kerja kelompok secara kooperatif ( cooperative groupwork) tampaknya mempercepat perkembangan anak.

3. Gagasan tentang kelompok kerja kreatif ini diperluasa menjadi pengajaran pribadi oleh teman sebaya ( peer tutoring), yaitu seorang anak mengajari anak lainnya yang agak tertinggal dalam pelajaran. Foot et al. (1990) menjelaskan keberhasilan pengajaran oleh teman sebaya ini dengan menggunakan teori Vygotsky. Satu anak bisa lebih efektif membimbing anak lainnya melewati ZPD karena mereka sendiri baru saja melewati tahap itu sehingga bis adengan mudah melihat kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak lain dan menyediakan scaffolding yang sesuai.

Komputer juga dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran dalam berbagai cara. Dari perspektif pengikut Vygotsky-Bruner, perintah-perintah di layar komputer merupakan scaffolding ( Crook, 1994). Ketika anak menggunakan perangkat lunak (software) pendidikan, komputer memberikan bantuan atau petunjuk secara detail seperti yang diisyaratkan sesuai dengan kedudukan anak yang sedang dalam ZPD. Tak pelak lagi, beberapa anak di kelas lebih terampil dalam menggunakan komputer sehingga bisa berperan sebagai tutor bagi teman sebayanya. Dengan murid-murid yang bekerja dengan komputer, guru bisa dengan bebas mencurahkan perhatinnya kepada individu-individu yang memerlukan bantuan dan menyiapkan scaffolding yang sesuai bagi masing-masing anak.

F. KONSTRUKTIVISME

Pendekatan konstruktivisme pada pendidikan berusaha merubah pendidikan dari dominasi guru menjadi pemusatan pada siswa. Peranan guru adalah membantu siswa mengembangkan pengertian baru. Siswa diajarkan bagaimana mengasimilasi pengalamn, pengetahuan, dan pengertiannya dan apakah mereka siap untuk tahu dari pembentukan pengertian baru ini. Pada bagian ini, kita melihat permulaan aliran konstruktivisme , peranan pengalaman siswa dalam belajar dan bagaiman dapat mengasimilasi pengertiannya.

Konstruktivisme adalah suatu teori belajar yang mempunyai suatu pedoman dalam filosofi dan antropologi sebaik psikologi. Pedoman filosofi pada teori ni ditemukan pada abad ke-5 sebelum masehi. Ketika Socrates memajukan pemikiran dari level sophist oleh metode perkembangan sistematis yang ditemukan melalui gabungan antara pertanyaan dan alasan logika. Metode baru ini yang mengkontribusi secara besar-besaran untuk memajukan aspek pemecahan masalah aliran konstruktivisme.

Penyelidikan atau pengalaman fisik, pengalaman pendidikan adalah kunci metode konstruktivisme. Selama abad ke-18 dan ke-17, filosof Inggris ” Frances Bacon” memberikan ilmu metode untuk menyelidiki lingkungan.

Pendukung konstruktivisme percaya bahwa pengalaman melalui lingkungan, kita akan mengikat informasi yang kita peroleh dari pengalaman ini ke dalam pengertian sebelumnya, membentuk pengertian baru. Dengan kata lain, pada proses belajar masing-masing pelajar harus mengkreasikan pengetahuannya. Pada konstruktivis, kegiatan mengajar adalah proses membantu pelajar-pelajar mengkreasikan pengetahuannya. Konstruktivisme percaya bahwa pengetahuan tidak hanya kegiatan penemuan yang memungkinkan untuk dimengerti, tetapi pengetahuan merupakan cara suatu informasi baru berinteraksi dengan pengertian sebelumnya dari pelajar.

Para konstruktivisme menekankan peranan motivasi guru untuk membantu siswa belajar mencintai pelajaran. Tidak seprti behaviorist, yang menggunakan sangsi berupa reward, sedangkan konstruktivisme percaya bahwa motivasi internal, seperti kesenangan pada pelajaran lebih kuat daripada reward eksternal.

Konstruktivisme yang mempunyai pengaruh besar pada tahun 1930 yang bekerja sebagai ahli Psikologi Rusia adalah L.S. Vygotsky, yang sangat tertarik pada efek interaksi siswa dengan teman sekelas pada pelajaran. Jaramillo (1996) menjelaskan, Vygotsky mencatat bahwa interaksi individu dengan orang lain berlangsung pada situasi sosial. Vygotsky percaya bahwa subyek yang dipelajari berpengaruh pada proses belajar, dan mengakui bahwa tiap-tiap disiplin ilmu mempunyai metode pembelajaran tersendiri. Vygotsky adalah seorang guru yang tertarik untuk mendesign kurikulum sebagai fasilitas dalam interaksi siswa.

2.1.9 Konsepsi Gestalt

Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :

  1. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
  2. Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
  3. Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.
  4. Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
  5. Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan
  6. Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.

Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:

  1. Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”.
  2. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).
  3. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.
  4. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.

Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :

  1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
  2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
  3. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
  4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
  5. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

2.1.10 Konsepsi Neo-Gestalt

Konsepsi ini dikenal pula dengan nama “Field Theory” atau teori medan. Tokoh yang terkenal pada konsepsi ini adalah Kurt Lewin. Pada intinya berpendapat perkembangan di samping merupakan proses deferensiasi juga merupakan proses stratifikasi. Struktur pribadi manusia digambarkan terdiri dari lapisan-lapisan, dan makin besar akan makin tinggi perkembangganya, bertambah pula lapisan-lapisannya. Pada awal perkembanggannya anak kecil masih satu lapis, anak akan jujur mengatakan apa adanya dan belum dapat menyembunyikan sesuatu dalam jiwanya. Anak tidak akan dapat berdusta dengan sengaja.

2.1.11 Konsepsi Bio-Sosial

Konsep ini berpendapat bahwa hidup itu belajar dan perkembangan itu juga belajar. “Living Is Learning and Growing Is Learning” maksudnya adalh setiap makhluk untuk dapat mempertahankan hidupnya harus belajar, karena proses belajar manusia akan dapat berkembang. Untuk belajar diperlukan, pemasakan biologis dan, pemasakan social. Tokoh yang berpendapat demikian adalah R.J. Havighurs. Terdapat 4 faktor yang berkaitan dengan perkembangan menurut pendapat ini. Factor tersebut yaitu pertama, kemasan fisik kedua, tekanan social, ketiga nilai-nilai pribadi, keempat, gabungan ketiganya.

BAB III

KESIMPULAN

  1. Perspektif teoritis utama tentang perkembangan daintaranya adalah: Teori Psikoanalis, Teori Perkembangan kognitif, Teori Belajar (Konsepsi Asosiasi), Teori Humanistik, Teori Etologi, dan teori ekologi.
  2. Jika dilihat berdasarkan teori-teori di atas maka secara umum perkembangan anak akan berbeda-beda misalnya saja pada teori etologi mempunyai pandangan sebagai berikut:

a. anak dilahirkan dengan tanpa kecenderungan tertentu

b.  factor bawaan berperan utama dalam perkembangan anak

c. anak berperan aktif dalam proses perkembangan

d. perkembanga berjalan secara kontinu

e. tahap perkembangan bervariasi

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2006. Teori Perkembanagan Moral http://sylvie.edublogs.org/2006/09/19/teori-perkembangan-moral/. (Online). Diakses Tanggal 10 Oktober 2009.

Anonymous. 2008. Teori Perkembangan Anak. http://eko13.wordpress.com/2008/05/31/teori-perkembangan-anak-–-erickson-dan-gardner/. (Online). Diakses tanggal 10 Oktober 2009.

Anonymous. 2009. Tahapan Perkembangan Manusia. http://mercusuarku.wordpress.com/2008/08/10/perkembangan-manusia/. (Online). Diakses Tanggal 10 Oktober 2009.

Poerwanti, endang dan Nur Widodo. 2002. Perkembangan Peserta Didik. UMM Press. Malang.

Santrock, John. 1995. Life Span Development. Erlangga. Jakarta.

Hamalik, Oemar. 1992. Psikologi Belajar dan Mengajar. Sinar Baru. Bandung.

Soetjitiningsih. 1993. Tumbuh Kembang Anak. EGC Penerbit Kedokteran. Jakarta.

Suryabrata. 1993. Psikologi Pendidikan. CV Rajawali. Jakarta.