Tag-Archive for » efektifitas «

Devinisi Kepemimpinan

Kepemimpinan Adalah  kemampuan seseorang untuk mempengaruuhi orang lain atau kelompok orang kearah tercapainya suatu tujuan organisasi yang telah disepakati bersama sebelumnya. Menurut stepen P. Robbins (2001), seorang pemimpin harus mengusai teori karakter kepemimpinan, yaitu teori-teori yang berkaitan dengan (1)mencari karakter keperibadian, (2) sosial, (3) fisik atau intelektual yang membedakan pemimpin dari bukan pemimpin.

Unsur-unsur penting kewiraswastaan/ berwirausahaan antara lain adalah sikap mental, kepemimpinan, manajemen, dan keterampilan. Kepemimpinan adalah adalah salah satu unsur penting dalam berwirausaha. Kepamimpina yang buruk dapat membuat perusahaan bangkrut. Banyak pemimpin yang bersikap dan bermental juragan dimana anak buah di pandang sebagai factor produksi, maka berarti harus dieksploitasi tanpa diberikan balas jasa yang memadahi, suka dan tidak suka menjadi model dalam kepeemimpinan. Bahkan, sering kali anak buah dianggap tidak perlu manusiakandan sering diancam dengan ungkapan, “ jika tidak suka silahkan angkat kaki”. Kepemimpinan yang baik bisa di contoh dari negeri jepang. Anak buah dianggap sebagai aset perusahaan sehingga di jepang, prinsipnya bekerja adalah seumur hidup. Pengahargaan terhadap tenaga kerja luar biasa sehingga pekerjaan atau anak buah juga akan memberikan tenaga dan pikirannya sepenuh hati karna anak bauh tidak pernah diremehkan dan tidak di pandang sebagai factor produksi. Anak buah di pandang sebagai rekan kerja yang sama tingakatannya dan sebagai asset tidak ternilai serta sebagi makhluk mulia yang harus dihargai dan di junjung tinggi prikemanusiannya.

Kepemimpinan dan manajemen adalah dua istilah yang sering rancu. Apa perbedaan diantara keduanya? John kottler dari Harvard Business School berpendapat bahwa manajemen menyangkut hal mengatasi kerumitan. Manajemen yang baik akan menghasilkan tata tertib dan konsistensi dengan (1) menyusun rencana-rencana formal, (2) merancang stuktur organisasi yang ketat, dan (3) memantau hasil melalui perbandingan dengan rencana. Kepemimpinan menyangkut hal mengatasi perubahan. Pemimpin menetapkan arah dengan (1) mengembangkan suatu visi terhadap masa depan, (2) menyatukan orang dengan mengomunikasikan visi tersebut dan (3) mengilhami mereka untuk mengatasi rintangan-rintangan.

Teori Karakter

Ketika Margaret thatcher menjadi perdana mentri inggris, ia selalu dipilih karena kepemimpinannya. Ia digambarkan sebagai sosok pemimpin wanita yang berkarakter dengan cirri-ciri : (1) percaya diri (PD) (2) bertekad baja, (3) penuh tekad (4) seorang pemimipin yang tegas, bila sesuatu dikatakan benar ya memang benar dan bila salah ya harus bilang salah alias tidak plitat-plintut (plin-plan), (5) karismatik (6) antusias (7) pemberani.

Istilah-istilah tersebut mengambarkan pemimpin yang memegang atau memiliki karakter (traits) dan para pendukung Thatcher ketika itu tidak sadar telah menjadi pendukung teori karakter. Contoh-contoh pemimpin yang berkarakter selain Margaret Thatcher adalah (1) Nelson Mandela (Afrika selatan), (2) Richard Bronson (CEO Virin Group), (3) Steven Jobs (pendiri Apple), (4) Todd Whitman (Gubernur New Jersey), (5) Ken Chenault (direktur Utama American Express), (6) Mahatir Muhammad (PM malaysia), dan Ir. Soekarno (Presiden RI pertama).

Enam karakter yang cenderung membedakan antara pemimpin dengan bukan pemimpin, menurut Stephen P. Robbins (2001), yaitu (1) ambisi dan energi, (2) hasrat untuk memimpin, (3) kejujuran dan integritas (keutuhan), (4) percaya diri, (5) kecerdasan, dan (6) pengetahuan yang relevan dengan pekerjaannya. Kepemimpinan yang dimaksud di sini adalah nilai atau kualitas, bukan pengetahuan tentang sumber daya manusia. Pemimpin adalah orang yang menunjukkan arah, keputusannya mentap, dan didasari oleh keyakinan diri disertai data yang akurat.

Sepak terjang seorang pemimpin selalu khas dan tidak lazim atau “Tampil Beda”. Banyak bisnis yang didirikan mengalami kegagalan dan hanya 30 persen yang hadir. Mengapa ? penyebab utamanya adalah lemahnya kepemimpinan  atau pemimpin yang gagal.

Unsur-Unsur Kepemimpinan

Factor-faktor yang harus dimiliki seorang pemimpin antara lain sebagai berikut :

  1. Kepemimpinan melibatkan orang lain /bawahan. Seorang pemimpin harus dapat merangkul dan menghargai bawahannya.
  2. Kepemimpinan menyangkut distribusi kekuasaan. Pendelegasian kekuasaan dari pemimpin keanak buah sesauai dengan tingkatannya sangat mutlak diperlukan jika seorang pemimpin ingin menjalankan fungsinya dengan efektif dan efisien.
  3. Kepinpinan menyangkut penanaman pengaruh dalam rangka mengarahkan bawahan.

Penaman pengaruh dari pimpinan kepada anak buah akan tercapai apabila seorang pemimpin mempu memberikan contoh disiplin, seorang pemimpin harus datang lebih awal dalam setiap kesempatan, mulai lebih awal masuk kekantor, kebih awal untuk masuk dalam suatu rapat, atau acara-acara resmi maupun tidak resmi (formal dan non-forma). Dengan disiplin pada acara penting itu, biasanya anak buah akan segan dan meneladani.

Keterampilan Memimpin.

Keterampilan yang harus dimilliki seseorang dalam memimpin adalah sebagai berikut.

  1. Technical Skills

Kemampuan untuk melakukan dan atau memahami pekerjaan-pekerjaan yang bersifat operional atau teknis sehingga mampu menjadi guru bagi anak buahnya yang tidak memahami operasional atau teknis pekerjaan, terutama pegawai baru.

  1. Human Skills

Kemampuan bekerjasama dengan para bawahan dan membangun tim kerja dengan pendekatan kemanusiaan. Seorang pemimpin harus belajar bagaimana melakukan pendekatan kepada anak buah, sehingga pada saat memberikan perintah kepada bawahan, bawhan tidak merasa diperintah.

  1. Coseptual Skills

Kemampuan untuk menyusun konsep atau berpikir dan mengungkapkan pemikirannya. Seorang pemimpin adalah pemegang perubanhan sehingga harus memiliki kosep atau minimal mampu merumuskan misi, visi, strategi, serta program unggulan yang jelas dan dapat dipahami oleh seluruh bawhannya.

Perbedaan Kekuasaan (Power) Dengan Kepemimpinan

Kekuasaan (power) adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, sehingga orang yang memahami, mempertangungjawabkan dan mampu berpegang pada kekuasaannya diakan menjadi pemimpin yang cerdas dan tegas.

Kekuasaan (power) dalam hubungan bisnis antara lain sebagai berkut.

  1. Coercive power (kekuasaan memaksa). Dengan kekuasaan memaksanya, maka seorang pemimpin mampu memerintah setiap anak buahnya dengan efektif.
  2. Reward Power (kekuasaan penghargaan). Dengan berbagai penghargaan yang diberikan kepada anak buahnya, maka kekuasaannya dapat dijalankan oleh pemimpin dan didukung oleh anak buahnya.
  3. Legitimate Power (kekuasaan sah). Seorang pemimpin diterima secara legalitas atau sah sehingga ia memiliki kekuasaan. Contoh presiden RI terpilih secara langsung oleh 60 persen suara rakyat pemilih atau dapat menjalankan kekuasaan secara legal karna memperoleh suara diatas 50 persen plus satu.
  4. Expert Power (kekuasaan ahli). Dengan keahlian atau sepesialisasinya, misalnya seorang professor, maka kekuasannya bisa diterima, disalurkan dan dijalankan oleh anak buahnya dengan baik.
  5. Referant Power (kekuasaan refrensi). Dengan adanya refrensi seseorang, misalnya dari raja, maka yang bersangutan memiliki kekuasaan untuk memerintah.

Kepemimpinan Dan Pengambilan Peputusan

Pengambilan keputusan adalah pemilihan dua atau lebih. Pengambilan keputusan perlu dilakukan karena adanya perbedaan antara harapan /tujuan dengan hasil yang dicapai. Sala satu model pengambilan keputusa yang menguraikan bagaimana individu seharusnya berperilaku untuk mencapai hasil atau keluaran yang maksimal.

Kunci Efektivitas Kepemimpinan

Faktor situasional utama (kunci) yang menentukan keefektifan suatu kepemimpinan menurut Fiedler dalam bukunya (Stephen P.Robins,2001), adalah sebagia berikut:

Hubungan Pemimpin-Anggota

Hubungan yang berkaitan dengan : tingkat keyakinan, dan respek bawahan terhadap pemimpin mereka.

Struktur Tugas

Tingkat penugasan pekerjaan yang diprosedurkan (yakni terstruktur atau tidak terstruktur)

Kekuasaan Jabatan

Tingkat pengaruh yang dimiliki seorang pemimpin yang berkaitan dengan variable kekuasaan, seperti memperkerjakan bawahannya, memecat bawahan, mendisiplinkan bawahan, mempromosikan bawahan,menaikkan gaji bawahannya.

Pengaruh Perilaku Terhadap Pengambilan Keputusan

Ada empat faktor perilaku individu yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan, yaitu sebagai berikut:

Nilai-nilai , nilai dianggap sebagai pedoman jika seorang menghadapi situasi di mana harus dilakukan suatu pilihan

Keperibadian, dimana aspek keperibadian meliputi sikap, kepercayaan, dan kebutuhan individu

Kecenderungan mengambil Risiko, ada yang beani dalam mengambil risiko, ada yang di tengah-tengah dan ada yang penuh pertimbangan / kurang berani ambil risiko

Disonasi Kognitif, adanya rasa cemas pada pengambilan keputusan terhadap akibat dari keputusan yang diambilnya.

Sifat-Sifat Yang Harus Dimiiki Seorang Pemimpin

sifat-sifat yang harus dimiiki seorang pemimpin menurut Andy Undap (1983) adalah sebagai berikut:

Pendidikan umum yang luas, dengan pendidikan umum yang luas, maka akan mudah memecahkan berbagai masalah yang dihadapi.

Kematangan mental, dengan ke,atangan mental seorang pemimpin akan dapat mengendalikan emosinya dalam setiap tindakannya.

Sifat ingin tahu, dengan sifat ini seorang pemimpin akan mudah menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.

Kemampuan analisi, dengan sifat ini seorang pemimpin akan cepat dan cermat dalam mengambil keputusan

Daya ingat kuat, dengan sifat ini seorang pemimpin akan konsisten dalam mengatasi segala macam permasalahan.

Integratif/ integritas (terpadu) dengan sifat ini seorang pemimpin akan mendekati suatu pemecahan masalah dengan berbagi pendekatan secara terpadu.

Keterampilan Komunikasi, dengan sifat ini seorang pemimpin akan disukai oleh anak buah dan mudah membentuk jaringan dalam bisnis.

Keterampilan mendidik, dengan sifat ini seorang pemimpin akan meningkatkan kematanagan anak buah atau akan mendewasakan dan memberikan bekal pengetahuan kepada anak buahnya.

Rasional Objektif/ dengan sifat ini seorang pemimpin akan objektif dalam mengatasi berbagai masalah dan objektif dalam menilai anak buahnya.

Menejemen Waktu, dengan sifat ini seorang pemimpin akan mengatur jadwal atau waktunya secara evektif dan efisien

Berani mengambil risiko, dengan sifat ini seorang pemimpin tidak akan ragu dalam mengambil keputusan yang seterategis, tentunya dengan penuh pertimbangan dan tetap menekankan pada risiko kecil dengan keuntungan (benefit) besar.

Ada naluri perioritas, dengan sifat ini seorang pemimpin dapat melakukan pekerjaannya sesuai prioritas, tidak sekedar memperioritaskan jadwal.

Efisien dalam bertindak, dengan sifat ini seorang pemimpin akan selalu penuh perhitungan dalam melakukan aktivitas yang bertujuan agar efisien dalam segala aktivitasnya.

Haus informsi, dengan sifat ini seorang pemimpin tidak akan ketinggalan informasi atau selalu up-to-date dalam pengumpulan informasi dan atau data untuk mendukung pengambilan keputusan

Sifat-sifat seorang pemimpin menurut Kartini Kartono (1983) adalah sebagai berikut:

Tipe karismatik, seseorang yang memiliki daya tarik atau karisma yang luar biasa, contohnya Ir. Soekarno

Tipe paternalistis, seperti sorang bapak menganggap anak buah adalah anaknya sehingga bawahan kurang diberi kesempatan.

Tipe militeristis, sistim pemimpin yang lebih cenderung memerintah atau sebagai pemberi komando terhadap anak buahnya.

Tipe otokratis, kekuasaan dan paksaan dalam memerintah anak buahnya.

Tipe laissez-faire, pemimpin membiarkan bawahannya bekerja semaunya sepanjang tujuan perusahaan atau organisasi dapat tercapai

Tipe populis, pemimpin rakyat berpegang pada nilai teradisional.

Tipe administratife, seorang pemimpin yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrative secara efektife.

Tipe demokratis, seorang pemimpin yang menekankan tanggung jawan dan kerja sama terhadap anak buahnya. Setiap pendapat dari anak bawahannya selalu diakomondasi atau diterima dan dijadikan sebagi bahan dalam pengambilan keputusan walau sekecil apapun..

Langkah-Langkah Dalam Pengambilan Keputusan

Langkah-langkah dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :

  1. Menentukan perlunya pengambilan keputusan
  2. Mengidentifikasi criteria keputusan
  3. Mengalokasi pembobotan terhadap kriteria
  4. Mengembangkan alternative
  5. Mengevaluasi alternative
  6. Memilih alternative terbaik

Lngkah-langkah tersebut tentunya tidak mutlak berurutan, melainkan harus disesuaikan dengan bobot keputusan yang akan diambilnya. Sering kali hal-hal khusus harus dimasukkan di dalamnya, antara lain menyangkut asumsi-asumsi yang harus agar alternative-alternative dapat lebih banyak dimunculkan. Dengan alternative yang relative lebih banyak, kemungkinan yang dievaluasi semakin banyak pula. Pada akhirnya, keputusan dapat diambil berdasarkan berbagai alternative yang muncul.

Hal lain yang tidak kalah penting dalam pengambilan suatu keputusan adalahadanya perubahan yang begitu cepat, sehingga sering kali begitu  keputusan dijalankan terasa sudah ketingglan, padahal keputusan baru saja dijalankan.

Paradigma baru dalam pengambilan keputusan akibat perubahan, menurut Samuel H. Tirtamihardja (2003), dalam bukunya “pemimpin adalah pemimpin (leaders are dreamers)” digambarkan sebagai berikut:

Pengambilan keputusan:

  1. Waktu komoditas berharga
  2. Kompetisi
  3. Pemanfaatan informasi dan tekhnologi
  4. Kreativitas
  5. Belajar terus menerus

Kelima unsur tersebut memberi kekuatan untuk mengambil keputusan yang

diakibatkan oleh adanya perubahan yang harus dihadapi pada masa kini. Memang ada ketautan dalam setiap pengambilan keputusan, tetapi bertindaklah. Jika tidak bertindak maka akan lebih rugi sama dari pada bila tidak bertindak sama seakali. Unsur-unsur tersebut dapat diringkas sebagai berikut.

  1. Waktu merupakan komoditas yang sangat berharga

Waktu sebagai komoditas yang paling berharga dan mahal yang ada didunia, bahkan dibandingkan dengan uang sekalipun. Waktu sangat mahal dan tidak dapat diputar balik. Sebaiknya pemimpin tidak menyia-nyiakan waktu, karena peluang hanya datang sekejap waktu dan tidak akan datang kedua kalinya. Kalau peluang tidak dimanfaatkan, maka sesuatu yang berharga akan hilang dari tangan anda. Dalam waktu singkat, kita dapat megirimkan milyaran e-mail melalui dunia maya atau internet. Jadi, waktu adalah komoditas yang sangat berharga. Pada setiap pengambilan keputusan, semuanya menyangkut waktu. Semua jadwal (sceduling) yang baik mendapat manfaat yang lebih besar. Di dunia yang cepat berubah, orang nag lambat dalam mengambil keputusan adalah orang yang kalah.

  1. Kompetisi

Persaingan dimasa depan adalah ilmu lawan ilmu, bukan uang lawan uang. Untuk memenangkan persaiangan dimasa kini kuncinya adalah “how to make our people learn better and faster than our competitor”, kata T.P. Rahmat, Presiden komisaris PT. Astra Internasional. Anak buah kita harus belajar dengan lebih baik dan cepat dibandigkan para pesaing kita. Kompetisi juga membuat orang harus lebih kreatif dalam menerima perubahan yang sangat cepat sekarang ini. Hukum moore menyatakan bahwa penemuan baru dalam tekhnologi bersifat kuadratis dan bukan bersifat linier.

  1. Pemanfaatan Informasi dan Tekhnologi

Dalam dunia yang seba cepat ini kita harus memanfaatkan informasi dan tekhnologi yang tumbuh dengan cepat. Infotmation is power kita tidak oleh gagap tekhnologi. Kita harus menguasi informasi serta ilmu pengetahuan dan tehnologi (IPTEK) meskipun kemjuan ekonomi tidak merata, namun itu tidak menjadi alasan untuk tidak menguasai tekhnologi. Kompetisi di masa kini adalah tekhologi lawa tekhnologi jelaslah bahwa perusahaan yang menguasai tekhnologi akan mempunyai competitive adge yang lebih tinggi. Dunia saat ini terus berubah dengan sangat cepat, berbagai temuan ilmiah dan teknologi terjadi hampir setiap hari. Untuk dapat bertahan terhadap perubahan yang ada, pengetahuan yang kita miliki harus meningkat. Peningkatan internet dan ecommerce dan juga pemakaian server dan networking yang canggih akan sangat mengubah dunia.

  1. Kreativitas

Informasi kini tersedia dimana-mana dan dapat diperoleh melalui media internet, televisi, buku, dan surat kabar (baik cetak maupun elektronik). Namun perlu keahlian untuk mengompilasi dan menganalis informasi yang kita terima kemudian berikir kreatif bukan reaktif. Kreatifitas sangat dituntut untuk memenangkan kompetisi zaman sekarang ini. Fooster dan Kaplan (2001) berkata. “Semua elemen yang terdapat pada inovasi adalah kreatifitas. Hanya dengan mengerti akan kreatifitas orang dapat berjuang untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk mempertahankan kinerja kita”. Dengan bantuan imajinasi kita juga dapat mengubah informasi yang samar-samar menjadi strategi melawan kompetitor kita dan kreatifitas menjadi sangat penting dalam merundingkan dan menyelesaiakan permasalahn yang ada.

  1. Belajar terus menerus

Bill gates dalam bukunya The roat a head sangat menekankan proses belajar terus menerus. Dalam dunia yang terus berubah pendidikan adalah modal utama seseorang agar ia dapat beradaptasi terhadap parubahan. Menurut Bill gates alangkah baiknya jika setiap orang mendapatkan pendidikan formal yang baik kemudian tetap terus belajar. Microsoft adalah suatu contoh organisasi yang terus beradaptasi dengan perubahan sesuai tantangan zaman. Mula-mula ia menciptakan peranti lunak (software) bebasis windows kemudian ia masuk ke dalam bisnis networking. Ia terus melayani pasar yang berunah agar stay a head in competition and not becomming a follower. Microsoft ingin selalu menjadi yang terdepan bukan menjadi pengikut.

Kriteria Seorang Pemimpin

Burt Nanus (leader the strategies for taking change,  2001) yang dikutip dalam tulisan P. Ari Subagyo menyebutkan 12 kriteria pemimpin, yaitu:

  1. Menginovasi
  2. Melakukan orisinil
  3. Mengembangkan
  4. Mengilhami
  5. Memancarkan kharisma
  6. Berperspektif  luas
  7. Berfikir jangka panjang
  8. Bertanya apa dan mengapa
  9. Menyukai tantangan dan perubahan

10.  Menjadi diri sendiri

11.  Menciptakan anak tangga dan meletakkan di tempat yang benar

12.  Mengerjakan hal-hal yang tepat

Efektif Leadership

Seorang pemimpin yang efektif sangat dibutuhkan dalam sebuah organisasi atau usaha. Menurut Samuel H. Tirtamiharja (2003) dalam bukunya Pemimpin adalah Pemimpin (leader are dreamers), seorang pemimpin yag efektif akan melakukan hal-hal berikut ini.

  1. Menciptakan sebuah visi yang sesuai untuk organisasinya

Visi yang sesuai akan memberi arah kemana organisasi akan dibawa. Visi perlu sesuai dengan tujuan didirikannya organisasi atau badan usaha tersebut.

  1. Memperkuat dan mendorong semua lapisan organisasinya

Analog dengan mendorong mobil mogok bila seluruh tenaga atau orang dikerahkan untuk mendorong ke arah yang sama, maka mobil mogok itu akan berjalan kembali. Namun, bila didorong oleh mereka ke arah yang saling berlawanan satu dengan yang lain, maka mobil itu akan diam ditempat. Implikasinya dalam dunia usaha adalah pemimpin akan gagal bila tidak didorong oleh setiap orang ke arah yang ditentukannya.

  1. Menciptakan suasana perasaan tim untuk merasakan mana yang terpenting

Apa yang menjadi prioritas akan mendapat tempat utama agar kita tidak membuang energi, sumber daya, dan dana yang ada.

  1. Membentuk kerja sama tim yang baik

Kerja sama tim adalah suatu kekuatan yang luar biasa. Melalui kerja sama, hasil yang diperoleh akan berlipat ganda.

  1. Mengomunikasikan visi kepada seluruh lapisan organisasi

Tidak ada satu mesin penggerak pun yang perkasa, yang dapat menggerakkan suatu organisasi menuju kesempurnaan dan kesuksesan jangka panjang dari pada memiliki suatu misi masa depan yang menarik, berharga, dan dapat dicapai yang dibagikan kepada seluruh jajaran.

  1. Menciptakan suatu moment yang tepat (magic moment)

Pemimpin yang efektif akan meciptakan dan mempergunakan suatu momen yang tepat untuk membuat perubahan yang dibutuhkan oleh organisasi.

  1. Menciptakan sikap yang baru dala berperilau organisasi

Sikap yang berpusat pada suatu tujuan, yakni sikap yang fokus akan membuat suatu organisasi atau usaha maju pesat. Jadi, fokus itu penting.

Mangapa Banyak Pemimpin Yang Gagal Memimpin

Kegagalan sebuah usaha, sering kali karena pemilik perusahaan tidak mampu memimpin anak buahnya dengan baik. Mengapa banyak pemimpin yang gagal memimpin ? Menurut Davd L, Dotlich, Peter C. Cain, dan Jossey Bass (2003) dalam tulisan Why CEO’s Fail yang dimuat di koran Suara Pemaharuan, 23 Oktober 2003, pada samuel H. Tirtamihardja (2003), dalam bukunya Pemimpin adalah pemimpin, ada sebelas penyebab utama pemimin mengalami kegagalan dalam memimpin, yaitu :

  1. Arogasi (Arrogance)

Pemimpin merasa dirinya paling suprrior dan paling benar, sehingga yang lain (anak buah) dianggapnya salah semua. (Secara harfiah artinya pemimpin yang congkak, sombong, angkuh, dan keras kepala).

  1. Melograma (Melogram). Pemimpin selalu ingin menjadi pusat perhatian
  2. Mudah berubah pendirian (Volatility). Pemimpin sulit ditebak, bersikap sesuai situasi (sikapnya selalu berubah setiap saat/situasi).
  3. Hati-hati yang berlebihan (Excessive Caution). Pemimpin takut atau memiliki keraguan yang berlebihan dalam mengambil suatu keputusan atau kebijakan.
  4. Kebiasaan berupa ketidakpercayaan (Habitual Distrust). Pemimpin selalu bersikap penuh curiga dan tidak percaya terhadap setiap orang (anak buah).
  5. Menjauhkan diri dari orang lain (Aloofness). Pemimpin sulit dihubungi(Cenderung tertutup ) dan sulit berkomunikasi dengan orang lain (menjaga jarak, terutama dengan para anak buahnya) yang berbeda pendapat atau pernah mengecewakannya.
  6. Kejahatan kenakalan (Mischievousness). Peraturan atau sistem dibuat dan ditetapkan untuk dilanggar (oleh anak buah dan dirinya sendiri) tanpa ada tindakan yang tegas.
  7. Keanehan-kesintingan (Eccentricity). Pemimpin selalu ingin tampil berbeda sehingga kadangkala dianggap aneh/nyeleneh oleh orang lain.
  8. Berdaya tahan pasif (Passive Resistence). Pemimpin tidak yakin dengan apayang dikatakan dan atau apa yang telah diucapkan harus dipertahankan.

10.  Perfeksionisme atau terlalu ingin segalanya sempurna (Perfectionism). Pemimpin menganggap kebanyakan atau mayoritas tindakan anak buahnya salah, hanya sedikit yang dianggap benar. Ia selalu mencari kambing hitam bila terjadi kesalahan, meskipun kesalahannyan sebenarnya adalah kesalahan yang dilakukan oleh dirinya sendiri.

11.  Hasrat-keinginan untuk menyenangkan hatinya sendiri (Eagerness to please). Pemimpin mengejar popularitas semata dalam setiap situasi.