Teori dalam Bimbingan Konseling

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagai suatu kegiatan profesional dan ilmiah, pelaksanaan konseling bertitik tolak dari teori-teori yang dijadikan sebagai acuannya. Teori diartikan sebagai prinsip-prinsip yang dapat diuji sehingga dapat dijadikan sebagai kerangka untuk melaksanakan penelitian dan pada umumnya diartikan sebagai suatu pernyataan prinsip-prinsip umum yang didukung oleh data untuk menjelaskan suatu fenomena. Teori yang baik mempunyai kriteria sebagai berikut: jelas, komprehensif, parsiminous atau dapat menjelaskan data secara sederhana dan jelas, dan dapat menurunkan penelitian yang bermanfaat. Adapun fungsi teori antara lain: memberikan kerangka kerja bagi informasi yang spesifik, menjadikan hal-hal yang bersifat kompleks menjadi sederhana, menyusun pengalaman-pengalaman sebelumnya, mensistematikkan penemuan-penemuan, melahirkan hipotesis-hipotesis, membuat prediksi, dan memberi penjelasan. Lahirnya suatu teori mempunyai kaitan dasar pribadi, sosiologis, dan filosofis. Suatu teori mencerminkan kepribadian pembuatnya, sebagai suatu hasil proses waktu, kondisi kekuatan sosial dan budaya dan filsafat yang dianut pembuatnya. Teori-teori konseling muncul bersamaan dengan munculnya konseling itu sendiri sejak permulaan abad 20. Sebagaimana dikatakan di atas, pemunculan suatu teori berkaitan dengan pribadi pembuatnya, waktu dan tempat, kondisi sosial budaya dan filsafat. Demikian pula pemuculan teori-teori konseling mempunyai karakteristik seperti tersebut di atas.
(baca selengkapnya)
1.2 Rumusan Masalah

1. Macam – macam teori – teori dalam Bimbingan Konseling

2. Bagaimana Bimbingan Konseling dalam perspektif islam

1.3 Tujuan

1. Mengetahui macam – macam teori dalam Bimbingan Konseling

2. Mengetahui Bimbingan konseling dalam perspektif islam

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Teori dalam bimbingan konseling

2.1.1 Terapi Gestalt

a. Biografi Frederich Soloman Perls ( 1893-1970 )

Frederich Soloman Perls dilahirkan pada tanggal 8 Juli 1893 di kampung (ghetto) orang Yahudi di Berlin, sebagai anak ketiga dari keluarga Nathan Perls, Ibunya bernama Amelia Rund. Perls meninggal di Amerika pada tanggal 14 Maret 1970. Setelah menyelesaikan studinya sebagai doktor pada tahun 1926 di Berlin, Perls pindah ke Frankfurt dan pada mulanya menjadi asisten dari Kurt Goldstein di Institute For Brain Damage Soldiers. Di Frankfurt Ia bertemu dengan Laura Pasner, seorang DSc Psikologi lulusan Universitas Frankfurt pada tahun 1932, yang kemudian menjadi istrinya. Setelah mengalami kehidupan keras di Eropa dan menghindar dari kancah pergolakan politik pada sekitar tahun 30-an, Ia kemudian pindah ke Amerika Selatan, tinggal di Johanesburg dan bertindak sebagai Psikoanalisis, bahkan kemudian Ia mendirikan South African Institute For Psychoanalysis. Ia tinggal selama 12 tahun di Johanesburg dan pada tahun 1946, Ia berimigrasi ke Amerika, tinggal di New York. Di situlah kemudian lahir Terapi Gestalt, baik melalui buku yang di tulis bersama rekan-rekannya maupun melalui pembentukan New York Institute For Gestalt Therapy pada tahun 1951 suatu institute yang kemudian berkembang dimana-mana.

b. Konsep-konsep Utama Terapi Gestalt

1. Pandangan Tentang Sifat Manusia

Pandangan Gestalt tentang manusia berakar pada filsafat eksistensial dan fenomenologi. Ia menekankan konsep-konsep seperti perluasan kesadaran, penerimaan tanggung jawab pribadi, kesatuan pribadi, dan mengalami cara-cara yang menghambat kesadaran. Terapi di arahkan bukan pada analisis, melainkan pada integrasi yang berjalan selangkah demi selangkah dalam terapi sampai klien menjadi cukup kuat untuk menunjang pertumbuhan pribadinya sendiri.

Perls memandang manusia dalam keterlibatannya untuk mencapai keseimbangan, bilamana kehidupannya terganggu oleh kebutuhan dunia, gangguan ini akan menimbulkan ketegangan dan diperlukan keseimbangan untuk mengurangi dan menghilangkan ketegangan tersebut. Dalam keadaan sehat seseorang akan mampu menerima dan bereaksi terhadap keadaan dunia. Tetapi kalau keadaannya menjadi tidak seimbang, maka akan timbul ketakutan dan menghindar untuk mengetahui / menyadari. Jadi aktivitas yang menandai ciri-ciri seimbang dan sehat tidak ada maka perlu penyadaran ulang agar keseimbangan tercapai. Untuk itu diperlukan teknik agar seseorang membukakan diri secara langsung terhadap pengalaman yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan tindakan sekarang ini.

Pandangan teori dan terapi Gestalt terhadap manusia, sama halnya dengan pandangan eksistensialistik-humanistik, ialah positif bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menjadi sesuatu dan manusia adalah makhluk yang mampu mengurus diri sendiri. Manusia dilihat sebagai keseluruhan.

Di dalam rangka terapi Gestalt, pandangan terhadap manusia, menurut Passans (1975) adalah sebagai berikut :

  1. Manusia adalah keseluruhan dari komposisi bagian-bagian yang saling berhubungan.
  2. Manusia adalah bagian dari lingkungannya sendiri.
  3. Manusia memilih bagaimana ia memberi respons terhadap rangsangan, dalam hal ini manusia adalah aktor.
  4. Manusia memiliki kemampuan untuk menyadari sepenuhnya terhadap semua penginderaan, pikiran, emosi, dan pengamatan.
  5. Manusia mampu melakukan pilihan karena adanya kemampuan menyadari ini.
  6. Manusia tidak bisa mengalami dirinya sendiri, terhadap hal yang sudah lampau atau hal yang akan datang, ia hanya dapat mengalami dirinya sendiri sekarang.
  7. Manusia menjadi baik / buruk bukan dari dasarnya.

2. Saat Sekarang

Bagi Perls, tidak ada yang ada kecuali sekarang, karena masa lampau telah pergi dan masa depan belum datang, maka saat sekaranglah yang penting. Salah satu sumbangan utama dari terapi Gestalt adalah penekanannya pada disini dan sekarang ( Here and Now). Dalam pendekatan ini, kecemasan dipandang sebagai kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian (Now and Then). Kecemasan timbul karena individu menyimpang dari saat sekarang (now) dan disibukkan oleh pemikiran-pemikiran tentang masa datang. Kesibukan ini menimbulkan gambaran tingkat ketakutan atas berbagai hal buruk yang akan terjadi. Kesadaran bahwa kecemasan hanya merupakan suatu ketidak senangan dan bukan suatu kencana, merupakan awal dari penyadaran akan dirinya. Penyadaran adalah suatu bentuk pengalaman, penyadaran yang berlangsung terus-menerus dan tidak terputus akan mencapai pemahaman.

Ada beberapa ciri-ciri penyadaran, yakni :

  1. Penyadaran akan efektif jika didasarkan pada dan didorong untuk kebutuhan sekarang yang dominan pada seseorang.
  2. Penyadaran tidak lengkap tanpa mengetahui langsung keadaan sebenarnya
  3. Penyadaran selalu berada disini dan sekarang serta selalu berubah. Kejadian yang telah lewat sekarang muncul sebagai ingatan, yang akan datang tidak ada kecuali sekarang sebagai khayalan / harapan. Jadi penyadaran di artikan sebagai pemahaman terhadap apa yang dilakukan sekarang, pada situasi yang ada sekarang.

3. Urusan Yang Tidak Selesai

Dalam pendekatan Gestalt terhadap konsep tentang urusan yang tak selesai, yakni mencakup perasaan yang tidak terungkap seperti dendam, kemarahan, kebencian, sakit hati, kecemasan, kedudukan, rasa berdosa, rasa di abaikan. Meskipun tidak bisa di ungkapkan, perasaa-perasaan itu di asosiasikan dengan ingatan-ingatan dan fantasi-fantasi tertentu. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan dibawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. Urusan yang tak selesai itu akan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkap itu.

c. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah

Individu bermasalah karena terjadi pertentangan top dog dan keberadaan under dog. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan, menuntut, mengancam. Under dog adalah keadaan membela diri, tidak berdaya, lemah, ingin dimaklumi. Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus dan apa-apa yang diinginkan.

Ciri-ciri tingkah laku bermasalah pada individu meliputi :

  1. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis.
  2. Ketidak mampuan individu mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya.
  3. Melarikan diri dari kenyataan.
  4. Menolak hubungan dengan lingkungan.
  5. Memelihara unfished bussiness.

d. Tujuan Konseling

Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani menghadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan / orang lain menjadi percaya diri, dapat berbuat lebih banyak untuk meningkatkan kebermaknaan hidupnya.

Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh, melainkan baru memanfaatkan sebagian dari potensinya yang dimiliki, melalui konselor, membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal.

Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut:

  1. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau realitas, serta mendapatkan insight secara penuh.
  2. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya.
  3. Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain dan mengatur diri sendiri.
  4. Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat bertingkah laku menurut prinsip-prinsip Gestalt, semua situasi bermasalah (unfished bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik.

e. Deskripsi Fase-Fase Konseling

1. Fase Pertama

Konselor mengembangkan pertemuan konseling, agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda, karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan.

2. Fase Kedua

Konselor berusaha menyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini, yaitu :

  1. Membangkitkan motivasi klien, dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidak senangannya / ketidak puasannya. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya, sehingga semakin tinggi pula keinginannyauntuk bekerja sama dengan konselor.
  2. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasan-alasannya secara bertanggung jawab.

3. Fase Ketiga

Konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini, klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu, dalam situasi disini dan saat ini.

4. Fase Keempat

Setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya, konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya, menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang, sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya, perasaan-perasaannya, pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya.

Dalam situasi ini klien sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk melepaskan diri dari konselor, dan siap untuk mengembangkan potensi dirinya.

f. Teknik Konseling

Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. Dalam kaitan itu, teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh.

2.1.2 Teori Behavioristik

Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respons. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain,belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons.

Menurut teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati.

Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respons pun akan tetap dikuatkan.

  1. A. Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar

Teori behavioristik sering kali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang tidak dapat menjadi sekedar hubungan stimulus dan respons. Teori ini tidak mampu menjelaskan alasan-alasan yang mengacaukan hubungan stimulus dan respons ini dan tidak dapat menjawab yang menyebabkan terjadinya penyimpangan antara stimulus yang diberikan dengan responsnya. Namun, kelebihan dari teori ini cendrung mengarahkan siswa untuk berpikir linier, konvergen, tidak kreatif, dan tidak produktif. Pandangan teori bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau snapping, yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.

Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktivitas “mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.

2.1.3 Teori Yang Berpusat Pada Klien Dalam Pelaksanaan BK

  1. A. Konsep pokok

Menurut Rogers, konstruk inti konseling berpusat pada klien adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau perwujudan diri. Dikatakan bahwa konsep diri atau struktur diri dapat dipandang sebagai konfigurasi konsepsi yang terorganisasikan tentang diri yang membawa kesadaran.

Teori kepribadian Rogers yang disebut sebagai “the self theory”  yaitu:

  1. Tiap individu berada di dalam dunia pengalaman yang terus menerus berubah, dan dirinya menjadi pusat.
  2. Individu mereaksi terhadap lingkungannya sesuai dengan apa yang dialami dan ditanggapinya.
  3. Individu memiliki satu kecendrungan atau dorongan utama yang selalu diperjuangkannya, yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan, dan memperluas pengalamannya.
  4. Individu mereaksi terhadap gejala kehidupan dengan cara keseluruhan yang teratur.
  5. Tingkah laku atau tindakan itu pada dasarnya adalah suatu usaha mahluk hidup yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan yang dialami dan dirasakan.
  6. Emosi yang menyertai tindakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, sesungguhnya merupakan suatu yang memperkuat usaha individu mencari sesuatu ataupun memuaskan kebutuhannya untuk memelihara dan mengembangkan dirinya.
  7. Cara yang terbaik untuk memahami tingkah laku seseorang ialah dengan jalan memandang dari segi pandangan individu-individu itu sendiri.
  1. B. Proses Konseling

Pendekatan yang berpusat pada klien menggunakan sedikit tekhnik, akan tetapi menekankan sikap konselor. Tehknik dasar adalah mencakup, mendengar, dan menyimak secara aktif, refleksi, klariflkasi, “being here” bagi klien. Konseling berpusat pada klien tidak menggunakan tes diagnostik, interpretasi, studi kasus, dan kuesioner untuk memperoleh informasi. Tekhnik-tekhnik itu dilaksanakan dengan jalan wawancara, terapi permainan, dan terapi kelompok, baik langsung atau tidak langsung. Keberhasilan terapi tergantung kepada faktor-faktor tingkat gangguan psikis, struktur biologis klien, lingkungan hidup klien, dan ikatan emosional.

  1. C. Kritik dan Kontribusi

Beberapa kritik terhadap konseling berpusat pada klien antara lain:

  1. Terlalu menekankan pada aspek afektif, emosional, perasan sebagai penutup perilaku, tetapi melupakan faktor intelektif, kognitif, dan rasional.
  2. Penggunaan informasi untuk membantu klien, tidak sesuai dengan teori.
  3. Tujuan untuk setiap klien, yaitu untuk memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas, umum, dan longgar sehingga sulit untuk menilai setiap individu.
  4. Tujuan ditetapkan oleh klien, tetapi tujuan konseling kadang-kadang dibuat tergantung lokasi letak konselor dan klien.
  5. Meskipun terbukti bahwa konseling “ client-centered” diakui afektif, tapi bukti-bukti tidak cukup sistematik tidak lengkap. Terutama yang berkaitan dengan klien yang kecil tanggung jawabnya.
  6. Sulit bagi konselor untuk benar-benar bersifat  netral dalam situasi hubungan interpersonal.

Beberapa kontribusi yang diberikan antara lain dalam:

  1. Pemusatan pada klien dan bukan konselor dalam konseling.
  2. Indentifikasi dan penekanan hubungan konseling sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian.
  3. Lebih menekankan pada sikap konselor daripada tehknik.
  4. Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuantitatif.
  5. Penekanan emosi, perasaan, dan afektif dalam konseling.

2.1.4 Teori Psikoanalisis dalam penerapan BK

Psikoalisis merupakan metode penyembuhan yang lebih bersifat psikologi dengan cara- cara fisik. Tokoh utama dan pendiri teori ini adalah stemund freud, ia adalah orang yang telah mengemukakan konsep ketidaksadaran dalam kepribadian.

Teori kepribadian menurut Freud, menyangkut 4 hal, yaitu:

  1. struktur kepribadian
  2. dinamika kepribadian
  3. perkembangan kepribadian
  4. gangguan jiwa
  1. 1. struktur kepribadian

menurut freud, kepribadian terdiri dari 3 sistem, yaitu id, ego, super ego. Id adalah aspek biologis yang merupakan  system kepribadian yang asli. Id berfungsi menghindari diri dari ketidaksenangan dan mencari atau menjadikan kesenangan atau kepuasan.

Ada 2 cara id menghilangkan rasa tidak enak atau mencari kepuasan tersebut, yaitu:

  1. Dengan refleks atau reaksi- reaksi otomatis seperti bersin, mengedipkan mata, dll.
  2. dengan proses primer, misalnya pada waktu lapar maka id membayangkan ada makanan yang lezat.

Ego adalah  aspek psikologis yang timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan dengan dunia kenyataan.

Perbedaan ego dan id adalah kalau id mengenal bayangan subyektif  sedangkan ego dapat membedakan sesuatu yang hanya ada dalam subyektif dan sesuatu yang ada dalam dunia objektif.

Super ego merupakan aspek sosiologis yang mencerminkan nilai- nilai tradisional serta cita- cita masyarakat yang ada dalam kepribadian individu.

Fungsi super ego dalam hubungannya dengan id, dan ego adalah:

  1. merintangi impuls- impuls id, terutama impuls seksual dan agresif yang peryataannya sangat dipengaruhi oleh mastarakat.
  2. mendorong ego untuk lebih mengejar hal- hal yang moralitas daripada realitas.
  3. mengejar kesempurnaan.
  1. 2. Dinamika Kepribadian

Dinamika kepribadian terdiri dari cara bagaimana energi psikis itu didistribusikan serta digunakan oleh Id, Ego, Super Ego.

Freud berpendapat, bahwa energi psikis dapat dipindahkan dari energi fisiologis dan sebaliknya. Jembatan antara energi tubuh dengan kepribadian ialah id dan insting.

Ada 3 istilah yang banyak persamaannya, yaitu insting, keinginan dan kebutuhan. Insting adalah sumber perangsang somatic dalam yang dibawa sejak lahir.

Insting mempunyai 4 sifat yaitu:

  1. sumber, yaitu kondisi jasmaniah.
  2. Tujuan, tujuan insting ialah menghilangkan rangsangan kejasmanian, sehingga ketidakkenaan yang timbul karena adanya tegangan yang disebabkan oleh meningkatnya energi dapat di tiadakan. Misalnya, tujuan insting lapar ialah menghilangkannya dengan cara makan.
  3. Objek insting objeknya adalah segala aktivitas yang mengantarai keinginan dan terpenuhinya keinginan tersebut.
  1. 3. perkembangan kepribadian

kepribadian menurut Freud mulai terbentuk pada tahun- tahun pertama di masa kanak- kanak. Kepribadian berkembang sehubungan dengan 4 macam pokok sebagai sumber ketegangan, yaitu: [1] proses pertumbuhan psikologi [2] frustasi [3] konflik [4] ancaman.

Sebagai akibat adanya tantangan dari ke-4 hal tersebut, individu berusaha untuk menemukan atas belajar cara- cara baru dalam meredakan ketegangan inilah yang disebut perkembangan kepribadian.

  1. 4. Gangguan Jiwa

Psikoanalisis membedakan 2 macam gejala gangguan jiwa, yaitu:

  1. psikoneorose dan psikose. Psikoneorose disebabkan oleh kegagalan ego untuk mengontrol dorongan id, karena ego tidak berhasil memperoleh kesepakatan. Psikoneorose dikelompokkan menjadi 3 yaitu histeri, psikastenia, reaksi kecemasan.
  2. Psikose dikelompokkan menjadi 2 macam, yaitu psikos fungisional terdiri dari 3 jenis yaitu manic – defressive, paranoia, shizopherenia, psikos organic terdiri dari implutional melanchcholia, senile.

2.2 Bimbingan Konseling dalam Perspektif Islam

Bebicara tentang agama terhadap kehidupan manusia memang cukup menarik, khususnya Agama Islam. Hal ini tidak terlepas dari tugas para Nabi yang membimbing dan mengarahkan manusia kearah kebaikan yang hakiki dan juga para Nabi sebagai figure konselor yang sangat mumpuni dalam memecahkan permasalahan (problem solving) yang berkaitan dengan jiwa manusia, agar manusia keluar dari tipu daya syaiton.

Dengan kata lain manusia diharapkan saling memberi bimbingan sesuai dengan kemampuan dan kapasitas manusia itu sendiri, sekaligus memberi konseling agar tetap sabar dan tawakal dalam menghadapi perjalanan kehidupan yang sebenarnya.

“Berkata orang-orang tiada beriman:”Mengapa tiada diturunkan kepadanya (Muhammad) sebuah mukjizat dari Tuhannya?”

Jawablah :”Allah membiarkan sesat siapa yang Ia kehendaki, dan membimbing orang yang bertobat kepada-Nya.” (Ar-Ra’d :27)

Dari ayat-ayat tersebut dapat dipahami bahwa ada jiwa yang  menjadi fasik dan adapula jiwa yang menjadi takwa, tergantung kepada manusia yang memilikinya. Ayat ini menunjukan agar manusia  selalu mendidik diri sendiri maupun orang lain, dengan kata lain membimbing kearah mana seseorang itu akan menjadi, baik atau buruk. Proses pendidikan dan pengajaran agama tersebut dapat dikatakan sebagai “bimbingan” dalam bahasa psikologi. Nabi Muhammad SAW, menyuruh manusia muslim untuk menyebarkan atau menyampaikan ajaran Agama Islam yang diketahuinya, walaupun satu ayat saja yang dipahaminya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa nasihat agama itu ibarat bimbingan (guidance) dalam pandangan psikologi.

Dalam hal ini Islam memberi perhatian pada proses bimbingan,. Allah menunjukan adanya bimbingan, nasihat atau petunjuk bagi manusia yang beriman dalam melakukan perbuatan terpuji, seperti yang tertuang pada ayat-ayat berikut :

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya, kemudian kami kembalikan dia ketempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh, maka bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya” (At-Tiin :4-5)

Ada beberapa ayat yang lebih khusus menerangkan tugas seseorang dalam pembinaan agama bagi keluarganya.

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (As-Syu’ara:214)

Sedangkan pada beberapa Hadits yang berkaitan dengan arah perkembangan anak diantaranya :

“Tiap-tiap anak itu dilahirkan dalam keadaan suci. Maka kedua orang tuanya yang menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR Baihaqi)

“Seseorang supaya mendidik budi pekerti yang baik atas anaknya. Hal itu lebih baik daripada bersedekah satu sha” (HR At Turmudzi)

Selanjutnya yang berkaitan dengan perkembangan konseling, khusus konseling sekolah adalah adanya kebutuhan nyata dan kebutuhan potensial para siswa  pada beberapa jenjang pendidikan, yaitu meliputi beberapa tipe konseling berikut ini :

  1. Konseling krisis, dalam menghadapi saat-saat krisis yang dapat terjadi misalnya akibat kegagalan sekolah, kegagalan pergaulan atau pacaran, dan penyalahgunaan zat adiktif.
  2. Konseling fasilitatif, dalam menghadapi kesulitan  dan kemungkinan kesulitan pemahaman diri dan lingkungan untuk arah diri dan pengambilan keputusan dalam karir, akademik, dan pergaulan social.
  3. Konseling preventif, dalam mencegah sedapat mungkin kesulitan yang dapat dihadapi  dalam pergaulan atau sexual, pilihan karir, dan sebagainya.
  4. Konseling developmental, dalam menopang kelancaran perkembangan individual siswa seperti pengembangan kemandirian, percaya diri, citra diri, perkembangan karir dan perkembangan akademik.

Dengan demikian, kebutuhan akan hubungan bantuan (helping relationship), terutama konseling, pada dasarnya timbul dari diri dan luar individu yang melahirkan seperangkat pertanyaan mengenai apakah yang harus diperbuat individu.

Dalam konsep Islam, pengembangan diri merupakan sikap dan perilaku yang sangat disitimewakan. Manusia yang mampu mengoptimalkan potensi dirinya, sehingga menjadi pakar dalam disiplin ilmu pengetahuan dijadikan kedudukan yang mulia disisi Allah SWT.

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al-Mujadalah 58:11)

BAB III

PENUTUP

3.1 .Kesimpulan

  1. 1. Macam – macam teori – teori dalam Bimbingan Konseling
    1. Terapi Gestalt
    2. Teori Behavioristik
    3. Teori Yang Berpusat Pada Klien Dalam Pelaksanaan BK
    4. Teori Psikoanalisis dalam penerapan BK

2. Bagaimana Bimbingan Konseling dalam perspektif islam

Dalam konsep Islam, pengembangan diri merupakan sikap dan perilaku yang sangat disitimewakan. Manusia yang mampu mengoptimalkan potensi dirinya, sehingga menjadi pakar dalam disiplin ilmu pengetahuan dijadikan kedudukan yang mulia disisi Allah SWT.

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al-Mujadalah 58:11)

Daftar Pustaka

Agustian, Ary Ginanjar. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual– ESQ.Jakarta : Penerbit Arga.

Daradjat, Zakiah. 2001. Kesehatan Mental. Jakarta : Toko Gunung Agung.

Daradjat, Zakiah. 2002. Psikoterapi Islami. Jakarta : Bulan Bintang.

Hartati, Netty.dkk. 2003. Islam dan Psikologi. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.

Mappiare AT., Andi. 2002. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Nasir, Sahilun A. 2002. Peranan Pendidikan Agama Terhadap Pemecahan Problema Remaja. Jakarta : Kalam Mulia.

Saleh, Abdul Rahman; Wahab , Muhbib Abdul. 2004. Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam. Jakarta : Kencana.

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.