Struktur Akar, Batang, dan Daun Pada Tumbuhan Lumut (Briophyta), Paku (Pteredophyta), dan Tumbuhan Berbiji Terbuka (Gymnospermae)

MAKALAH

Struktur Akar, Batang, dan Daun Pada Tumbuhan Lumut   (Briophyta), Paku (Pteredophyta), dan Tumbuhan Berbiji Terbuka  (Gymnospermae)

Disakikan Dalam Memenuhi Tugas Mata Kuliah Biologi Umum

Dosen Pengampuh: Meilina RD, S.Kep, Ners

Disusun:

Kelompok III

  1. Fina Mahabbatul Ilah (11620050)
  2. Lia Hikmatul Maula (11620051)
  3. Risalatul Munawwaroh (11620053)
  4. Maulidiah (11620055)
  5. Miftachul Rachman (11620059)
  6. Muhammad Nur Hasan (11620060)

 

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2011

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan suatu proses yang ditunjukkan oleh adanya pembelahan pembesaran sel serta adanya pembentukan pola jaringan dan organ. Seperti halnya hewan multiseluler, organ tumbuhan terdiri dari beberapa macam jaringan. Sedangkan jaringan itu sendiri merupakan suatu unit yang terdiri dari sekumpulan sel yang (umumnya) memiliki struktur dan fungsi yang sama. Walaupun demikian, pertumbuhan pada tumbuhan berbeda dengan hewan. Pada hewan, masa embrionik berlangsung dengan singkat. Sedangkan tumbuhan memiliki sifat tumbuh yang tidak terbatas (indeterminate growth). Pertumbuhan yang tidak terbatas ini disebabkan oleh adanya jaringan titik tumbuh yang disebut jaringan meristem. Pertumbuhan yang terlokalisasi pada jaringan meristem sangat penting untuk proses tumbuh dan perkembangan tumbuhan.

Tumbuhan adalah organisme yang secara simultan mendiami dan mengambil sumber daya dari dua lingkungan yang berbeda, yaitu tanah dan udara. Tanah menyediakan air dan mineral, sedangkan udara merupakan sumber CO2, dan cahaya. Sebagai akibatnya, tumbuhan menyesuaikan terhadap dua lingkungan yang berbeda ini dengan cara melakukan deferensiasi pada organ-organ tubuhnya menjadi dua sistem organ utama, yaitu sistem pucuk (shoot system) dan sistem akar (root system). Kedua sistem organ tersebut dihubungkan oleh sistem pembuluh. Sistem pucuk terdapat di atas permukaan tanah, termasuk di dalamnya adalah organ daun dan batang. Sedangkan system akar meliputisemua bagian tumbuhan yang berada di bawah permukaaan tnah, misalnya ogan akar, umbi, dan rimpang.

Hal tersebutlah yang melatar belakangi dalam penyusunan makalh tentang Struktur Akar, Batang, dan Daun Pada Tumbuhan Lumut (Briophyta), Paku (Pteredophyta), dan Tumbuhan Berbiji Terbuka (Gymnospermae) ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

1.2  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana struktur akar, batang, dan daun pada tumbuhan lumut (Briophyta)?
  2. Bagaimana struktur akar, batang, dan daun pada tumbuhan paku (Pteredophyta)?
  3. Bagaimana struktur akar, batang, dan daun pada tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae)?

 

 

1.3  Tujuan

  1. Untuk mengetahui struktur akar, batang, dan daun pada tumbuhan lumut (Briophyta)?
  2. Untuk mengetahui struktur akar, batang, dan daun pada tumbuhan paku (Pteredophyta)?
  3. Untuk mengetahui struktur akar, batang, dan daun pada tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae)?


BAB II

PEMBAHASAN

2.1              Lumut (Briophyta)

Lumut (Briophyta) adalah tumbuhan yang sudah terbentuk embrio. Bentuknya kecil, lembut, mempunyai talus yang tingginya kurang dari 15 cm, berspora tapi belum mempunyai akar, batang dan daun sejati. Mereka juga tidak mempunyai bunga atau biji, hanya ada daun-daun yang sederhananya menutupi batang liat yang tipis. Sejemput lumut terdiri dari banyak pucuk berdaun karena haploid, tergolong generasi gametofit yang pada umumnya dijumpai ada tiga macam pucuk berdaun: betina, jantan, steril. (Yang terakhir ini tidak ikut dalam reproduksi seksual). Pucuk jantan mudah dibedakan dari dua lainnya karena puncaknya datar. Potongan melintang melalui ujung tumbuhan jantan menunjukkan organ reproduktif jantan, yaitu anteridia, berisikan sperma. Melalui tumbuhan betina akan tampak arkegonia berbentuk botol, yaitu organ reproduktif beina, masing-masing berisikan satu telur dalam ruang dekat dasarnya (http://www.kangtoebz.com/).

Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan pelopor (perintis), yang tumbuh di suatu tempat sebelum tumbuhan lain mampu tumbuh. Ini terjadi karena tumbuhan lumut berukuran kecil tetapi membentuk koloni yang dapat menjangkau area yang luas. Jaringan tumbuhan yang mati menjadi sumber hara bagi tumbuhan lumut lain dan tumbuhan yang lainnya. Klasifikasi tradisional menggabungkan pula lumut hati ke dalam Bryophyta (Kimball, 1994: 339).

 

Karakteristik (Permana, 2004: 235):

  • Lumut mempunyai klorofil sehingga sifatnya autotrof.
    • Lumut tumbuh di berbagai tempat, yang hidup pada daun-daun disebut sebagai epifit. Jika pada hutan banyak pohon dijumpai epifit maka hutan demikian disebut hutan lumut.
    • Akar dan batang pada lumut tidak mempunyai pembuluh angkut (xilem dan floem).
    • Pada tumbuhan lumut terdapat Gametangia (alat-alat kelamin) yaitu:

a. Alat kelamin jantan disebut Anteridium yang menghasilkan Spermtozoid.

b. Alat kelamin betina disebut Arkegonium yang menghasilkan Ovum.

  • Jika kedua gametangia terdapat dalam satu individu disebut berumah satu (Monoesius). Jika terpisah pada dua individu disebut berumah dua (Dioesius).
  • Sporogonium adalah badan penghasil spora, dengan bagian bagian :- Vaginula (kaki) – Seta (tangkai) – Apofisis (ujung seta yang melebar) – Kotak Spora : Kaliptra (tudung) dan Kolumela (jaringan dalam kotak spora yang tidak ikut membentuk spora). Spora lumut bersifat haploid.
  • Bryophyta mempunyai bentuk badan seperti daun.
  • Tiada kutikel berlilin dan batang tiada berkas vaskular.
  • Gametofit mempunyai struktur berfilamen seperti akar yang disebut rizoid.
  • Rizoid melekatkan tumbuhan kepada batuan atau substrat yang lain.
  • Rizoid bukan akar sebenarnya, hanya selebar satu sel dan tiada jidal akar.

 

Gambar 2.1.1 Morfologi Briophyta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(http://www.kangtoebz.com/)

 

Struktur Tubuh Lumut Berdasarkan Pembagian Kelasnya

  1. 1.    Lumut Daun (Bryopsida )

Lumut daun (musci) memiliki batang sederhana dengan pembuluh angkut tunggal, memiliki daun berbentuk pipih bilateral dengan satu pembuluh angkut (ibu tulang daun). Sehingga biasa disebut dengan lumut sejati. Pada lumut daun, air masuk secara imbibisi dan didistribusikan secara difusi (Kimball, 1994: 339).

 

Gambar 2.1.2 Struktur Tubuh Lumut Daun

(http://www.kangtoebz.com/)

  1. 2.    Lumut Hati (Hepaticopsida)

Lumut hati tidak memiliki batang dan tidak memiliki pembuluh angkut, tubuh berupa thalus (Kimball, 1994: 339).

Irisan melintang thallus adalah sebagai berikut (http://www.kangtoebz.com/):

  1. Selapis sel epidermis atas.
  2. Mempunyai satu kloroplas dengan satu pirenoid yang besar.
  3. Beberapa anterodium terkumpul dalam satu lekukan pada sisi atas talus, demikian pula arkogeniumnya.
  4. Terdapat pula jaringan parenkim, tempat asimilasi.
  5. Pada sisi bawah talus terdapat stoma dengan dua sel penutup yang berbentuk ginjal.
  6. Selapis epidermis bawah, ada yang menjadi rizoid.

 

Gambar 2.1.3 Struktur Tubuh Lumut Hati

(http://www.kangtoebz.com/)

 

3. Lumut Tanduk (Anthoceratopsida)

Ciri-ciri yang dimiliki lumut tanduk tidak berbeda dengan lumut hati. Struktur tubuh lumut tanduk berupa rizoid, daun, batang, sporofit dan thalus (Kimball, 1994: 339).

 

 

Gambar 2.1.4 Struktur Tubuh Lumut Tanduk

(http://www.kangtoebz.com/)

2.2              Paku (Pteridophyta)

Tumbuhan paku tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan derah kering (gurun). Total spesies yang diketahui hampir 10.000 (diperkirakan 3000 diantaranya tumbuh di Indonesia). Sebagian besar tumbuh di daerah tropika basah yang lembab. Tumbuhan ini cenderung tidak tahan dengan kondisi air yang terbatas. merupakan kelompok tumbuhan tyang berklorofil, hidup sebagai saprofit dan ada yang epifit. Tumbuhan paku menyukai tempat yang lembab (higofit) yaitu dari daerah pantai hingga sekitar kawah (Permana, 2004: 236).

Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berkormus dan berpembuluh yang paling sederhana. Tubuhnya dapat dibedakan dengan jelas antara akar, batang dan daun. Terdapat lapisan pelindung sel (jaket steril di sekelilingi organ reproduksi. Sistem transport internal, hidup di tempat yang lembab. Akar serabut berupa rhizoma, ujung akar dilindungi kaliptra. Sel-sel akar membentuk epidermis, korteks, dan silindris pusat (terdapat xilem dan floem) (Permana, 2004: 236).

 

Ciri-ciri khusus tumbuhan paku antara lain (http://biologi-news.blogspot.com/):

1. Akar berupa :

- Rhizoid : pada generasi gametofit

- Akar serabut : pada generasi sporofit

- Struktur anatomi akar :

a. Pada bagian ujung dilindungi oleh kaliptra

b. Di belakang kaliptra terdapat titik tumbuh akar berbentuk bidang empat yang aktivitasnya keluar membentuk kaliptra sedangkan ke dalam membentuk sel-sel akar.

c. Pada silinder pusat terdapat fasisi (berkas pembuluh angkut) bertipe konsentris (xilem dikelilingi floem).

 

2. Batang berupa :

- Prothalium pada generasi gametofit

- batang sejati pada generasi sporofit

- Struktur anatomi batang :

a. Epidermis : mempunyai jaringan penguat yang terdiri dari atas sel-sel sklerenkim.

b. Korteks : banyak mengandung lubang (ruang antar sel).

c. Silender pusat : terdiri dari xilem dan floem yang membentuk berkas pengangkut bertipe konsentris.

3. Daun

- Berdasarkan ukurannya, dibedakan menjadi dua yaitu :

a. Daun mikrofil : ukurannya kecil, hanya setebal selapis sel dan berbentuk rambut.

b. Daun mikrofil : ukuran besar dan tipis, sudah memiliki bagian-bagian daun seperti tulang daun, tangkai daun, mesofil dan epidermis.

- Berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi dua yaitu :

a. Daun tropofil : untuk fotosintesis

b. Daun sporofil : penghasil spora

- Spora berkumpul di sporangium. Sporangium bisa terdapat pada strobilus, sorus, atau sinagium. Setiap sporangium dikelilingi oleh sederetan sel yang membentuk bangunan seperti cincin yang disebut annulus yang berfungsi sebagai mengatur pengeluaran spora.

- Spora berkumpul dalam badan yang disebut sorus. Sorus yang masih muda dilindungi oleh selaput sel yang disebut Indisium.

Generasi sporofit lebih dominan dan hidup bebas, sedangkan generasi gametofit tereduksi. Generasi sporofit ini lebih dikenal dengan tumbuhan paku (Kimball, 1994: 340).

Berdasarkan spora yang dihasilkan, ada tiga jenis tumbuhan paku, yaitu (Kimball, 1994: 341):

- Paku Homospor/Isopor : menghasilkan satu jenis spora saja dan mempunyai ukuran yang sama besar . Contoh : paku kawat atau  ground pine Lycopodium clavatum. Spora dari paku ini dikenal sebagai lycopodium powder yang dapat meledak di udara apabila terkumpul dalam jumlah cukup banyak.

- Paku heterospor : menghasilkan dua jenis aspora yaitu : mikrospora (jantan) dan makrospora (betina). Contoh : paku rane (selaginella wildenowii) dan semanggi (Marisilea crenata).

- Paku peralihan ; menghasilkan spora yang bentuk dan ukurannya sama (isospora) tetapi sebagian  jantan dan sebagian betina (jenisnya berbeda = heterospora). Contoh : paku ekor kuda (Equisetum debile).

 

Gambar 2.2 Equisetum fluiratile

 

 

 

 

 

 

 

 

       (http://biologi-news.blogspot.com/)

2.3              Tumbuhan Berbiji Terbuka (Gymnospermae)

Tumbuhan dibagi menjadi dua, yaitu tumbuhan tak berpembuluh (non vaskuler) dan tumbuhan berpembuluh (vaskuler). Tumbuhan tak berpembuluh yaitu lumut, sedangkan tumbuhan berpembuluh terdiri atas tumbuhan tak berbiji, yaitu paku dan tumbuhan berbiji. Sedangkan tumbuhan berbiji sendiri dibagi dalam tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) (Permana, 2004: 70).

Tumbuhan berbiji (Spermatophyta) adalah tumbuhan yang mempunyai bagian yang di sebut biji. Pada dasarnya tumbuhan biji itu dicirikan dengan adanya bunga sehingga sering disebut dengan tumbuhan berbunga (Anthopyta). Biji dihasilkan oleh bunga setelah terjadi peristiwa penyerbukan dan pembuahan. Dengan kata lain, biji dapat dihasilkan merupakan alat pembiakan secara seksual (generatif). Selain itu, ada juga pembiakan secara aseksual (vegetatif) (Permana, 2004: 71).

Tumbuhan berbiji di kelompokkan menjadi dua anak divisi, yaitu tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan biji tertutup (Angiospermae). Pada tumbuhan biji terbuka, biji tertutup dengan daging buah atau daun buah (karpelum). Misalnya, pada cemara, pinus, dan damar. Sementara itu, pada tumbuhan berbiji tertutup, biji di tutupi oleh daging buah atau daun buah. Misalnya, pada mangga, durian, dan jeruk. Dalam tumbuhan berbiji banyak sekali ordo ataupuun famili dari tiap divisi. Hal ini membuktikan bahwa tumbuhan berbiji merupakan tumbuhan yang dapat dikatakan tumbuhan yang memiliki bagian yang sangatlah banyak (Permana, 2004: 71).

Gymnospermae adalah tumbuhan yang memiliki biji terbuka. Gymnospermae berasal dari bahasa Yunani, yaitu gymnos yang berarti telanjang dan sperma yang berarti biji, sehingga gymnospermae dapat diartikan sebagai tumbuhan berbiji terbuka.tumbuhan berbiji terbuka merupakan kelompok tumbuhan berbiji yang bijinya tidak terlindung dalam bakal buah (ovarium). Secara harfiah Gymnospermae berarti gym = telanjang dan spermae = tumbuhan yang menghasilkan biji. Pada tumbuhan berbunga (Angiospermae atau Magnoliphyta), biji atau bakal biji selalu terlindungi penuh oleh bakal buah sehingga tidak terlihat dari luar. Pada Gymnospermae, biji nampak (terekspos) langsung atau terletak di antara daun-daun penyusun  strobilus atau runjung (Kimball, 1994: 342).

Gymnospermae telah hidup di bumi sejak periode Devon (410-360 juta tahun yang lalu), sebelum era dinosaurus. Pada saat itu, Gymnospermae banyak diwakili oleh kelompok yang sekarang sudah punah dan kini menjadi batu bara : Pteridospermophyta (paku biji), Bennettophyta dan Cordaitophyta. Anggota-anggotanya yang lain dapat melanjutkan keturunannya hingga sekarang. Angiospermae yang ditemui sekarang dianggap sebagai penerus dari salah satu kelompok Gymnospermae purba yang telah punah (paku biji). (Kimball, 1994: 342).

Gymnospermae berasal dari Progymnospermae melalui proses evolusi biji. Hal tersebut dapat dilihat dari bukti-bukti morfologi yang ada. Selanjutnya Progymnospermae dianggap sebagai nenek moyang dari tumbuhan biji. Progymnospermae mempunyai karakteristik yang merupakan bentuk antara Trimerophyta dan tumbuhan berbiji. Meskipun kelompok ini menghasilkan spora, tetapi juga menghasilkan pertumbuhan xylem dan floem sekunder seperti pada Gymnospermae. Progymnospermae juga sudah mempunyai kambium berpembuluh yang bifasial yang mampu menghasilkan xilem dan floem sekunder. Kambium berpembuluh merupakan ciri khas dari tumbuhan berbiji. Salah satu contoh Progymnospermae adalah tipe Aneurophyton yang hidup pada jaman Devon, sudah menunjukkan system percabangan tiga dimensi dengan stelenya yang bertipe protostele. Contoh lainnya adalah tipe Archaeopteris yang juga hidup di jaman Devon. Kelompok ini dianggap lebih maju karena sudah menunjukkan adanya system percabangan lateral yang memipih pada satu bidang dan sudah mempunyai struktur yang dianggap sebagai daun. Batangnya mempunyai stele yang bertipe eustele yang menunjukkan adanya kekerabatan dengan tumbuhan berbiji yang sekarang (Kimball, 1994: 342).

 

Gymnospermae memiliki karakteristik sebagai berikut (Permana, 2004: 237):

1. Bakal biji tidak terlindungi oleh daun buah.

2. Pada umumnya perdu atau pohon, tidak ada yang berupa herba. Batang dan akar berkambium sehingga dapat tumbuh membesar. Akar dan batang tersebut selalu mengadakan pertumbuhan menebal sekunder. Berkas pembuluh pengangkutan kolateral terbuka. Xilem pada gymnospermae hanya terdiri atas trakeid saja sedangkan floemnya tanpa sel-sel pengiring.

3. Mempunyai akar, batang, dan daun sejati.

4. Bentuk perakaran tunggang.

5. Daun sempit, tebal dan kaku.

6. Tulang daun tidak beraneka ragam.

7.  Tidak memiliki bunga sejati.

8. Alat kelamin terpisah, serbuk sari terdapat dalam strobilus jantan dan sel telur terdapat dalam strobilus betina.

 

9. Struktur perkembangbiakan yang khas adalah biji yang dihasilkan bunga ataupun runjung.   Setiap biji mengandung bakal tumbuhan , yaitu embrio yang terbentuk oleh suatu proses reproduksi seksual. Sesudah bertunas embrio ini tumbuh menjadi tumbuhan dewasa.

10. Sperma atau sel kelamin jantan menuju kesel telur atau sel kelamin betina melalui tabung serbuk sari hanya terdapat pada tumbuhan berbiji.

11. Tumbuhan biji mempunyai jaringan pembuluh yang rumit. Jaringan ini merupakan saluran menghantar untuk mengangkut air, mineral, makanan dan bahan – bahan lain.

12. Tumbuhan berbiji terbuka memiliki pigmen hijau (klorofil) yang penting untuk fotosintesis yaitu suatu proses dasar pembuatan makanan pada tumbuhan.

13. Gymnospermae memiliki batang yang tegak lurus dan bercabang-cabang. Daunnya jarang yang berdaun lebar, jarang yang bersifat majemuk, dan system pertulangan daunnya tidak banyak ragamnya. Hal ini sangat berbeda dengan karakteristik daun yang terdapat pada angiospermae yang sistem pertulangannya beraneka ragam.

 

(http://meynyeng.wordpress.com/):

Ciri dan Bentuk Tubuh (Morfologi) Berdasarkan Kelasnya

a. Ginkgophyta

  1. Tubuh berupa pohon besar, batang lurus bercabang.
  2. Merupakan tumbuhan berumah dua (dioseus).
  3. Bentuk daun seperti kipas. Tumbuh berkelompok pada cabang batang yang pendek.
  4. Pada musim panas dan semi berwarna hijau, pada musim gugur dan musim dingin berwarna coklat dan daun berguguran.
  5. Bakal biji tidak dilindungi oleh bakal buah.
  6. Hanya tersisa 1 spesies, yaitu: Ginkgo biloba

 

Gambar 2.3.1 Ginkgo biloba

 

 

 

 

 

 

 

(http://meynyeng.wordpress.com/)

 

 

b. Pinophyta

Merupakan tumbuhan gymnospermae yang terbesar dari ukuran sampai jumlah anggotanya.

  1. Selalu hijau sepanjang tahun.
  2. Daun berbentuk jarum, dilapisi lapisan kutikula.
  3. Memiliki alat reproduksi berupa konus (strobilus).
  4. 1 pohon umumnya memiliki 2 konus, konus jantan di ujung cabang, dan konus betina di bawahnya.

 

Gambar 2.3.2 Pinophyta

 

 

 

 

 

 

 

(http://meynyeng.wordpress.com/):

 

c. Cycadophyta

  1. Menyerupai palem, daun tersusun roset batang.
  2. Daun muda tumbuh menggulung, menyerupai tumbuhan paku.
  3. Biji terbuka dan dihasilkan oleh strobilus betina.
  4. Merupakan tumbuhan berumah dua (dioseus).
  5. Strobilus tumbuh pada ujung batang.

 

Gambar 2.3.3 Cycas rumphii

 

 

 

 

 

 

 

 

(http://meynyeng.wordpress.com/):

 

 

d. Gnetophyta

  1. Bunga berkelamin tunggal (dioseus).
  2. Terdiri dari 3 ordo, yaitu:
  3. Gnetales
  4. Ephedrales
  5. Welwitschiales

 

Gambar 2.3.4 Gnetophyta

 

 

 

 

 

 

 

 

(http://meynyeng.wordpress.com/)


 

BAB III

KESIMPULAN

 

Lumut (Briophyta) adalah tumbuhan yang sudah terbentuk embrio. Bentuknya kecil, lembut, mempunyai talus yang tingginya kurang dari 15 cm, berspora tapi belum mempunyai akar, batang dan daun sejati. Mereka juga tidak mempunyai bunga atau biji, hanya ada daun-daun yang sederhananya menutupi batang liat yang tipis. Sejemput lumut terdiri dari banyak pucuk berdaun karena haploid, tergolong generasi gametofit yang pada umumnya dijumpai ada tiga macam pucuk berdaun: betina, jantan, steril. Lumut mempunyai klorofil sehingga sifatnya autotrofl. Lumut tumbuh di berbagai tempat, yang hidup pada daun-daun disebut sebagai epifit. Jika pada hutan banyak pohon dijumpai epifit maka hutan demikian disebut hutan lumut. Akar dan batang pada lumut tidak mempunyai pembuluh angkut (xilem dan floem). Gametofit mempunyai struktur berfilamen seperti akar yang disebut rizoid. Rizoid melekatkan tumbuhan kepada batuan atau substrat yang lain dan bukan merupakan akar sebenarnya, karena hanya selebar satu sel dan tiada jidal akar.

Pada tumbuhan paku (Pteredophyta) akar pada generasi gametofit berupa rhizoid dan akar serabut pada generasi sporofit. Struktur anatomi akar pada bagian ujung dilindungi oleh kaliptra. Di belakang kaliptra terdapat titik tumbuh akar berbentuk bidang empat yang aktivitasnya keluar membentuk kaliptra sedangkan ke dalam membentuk sel-sel akar. Pada silinder pusat terdapat fasisi (berkas pembuluh angkut) bertipe konsentris (xilem dikelilingi floem). Batang berupa prothalium pada generasi gametofit dan batang sejati pada generasi sporofit. Struktur anatomi batang terdiri dari epidermis yang mempunyai jaringan penguat yang terdiri dari atas sel-sel sklerenkim, korteks yang banyak mengandung lubang (ruang antar sel), silender pusat yang terdiri dari xilem dan floem yang membentuk berkas pengangkut bertipe konsentris. Daun paku berdasarkan ukurannya, dibedakan menjadi dua yaitu: daun mikrofil yang ukurannya kecil, hanya setebal selapis sel dan berbentuk rambut dan daun mikrofil yang berukuran besar dan tipis, sudah memiliki bagian-bagian daun seperti tulang daun, tangkai daun, mesofil dan epidermis. Berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi dua yaitu: daun tropofil untuk fotosintesis dan daun sporofil sebagai penghasil spora.

Sedangkan pada tumbuhan yang memiliki biji terbuka (Gymnospermae) pada umumnya perdu atau pohon, tidak ada yang berupa herba. Batang dan akar berkambium sehingga dapat tumbuh membesar. Akar dan batang tersebut selalu mengadakan pertumbuhan menebal sekunder. Berkas pembuluh pengangkutan kolateral terbuka. Xilem pada gymnospermae hanya terdiri atas trakeid saja sedangkan floemnya tanpa sel-sel pengiring. Mempunyai akar, batang, dan daun sejati. Bentuk perakaran tunggang. Daun sempit, tebal dan kaku. Tulang daun tidak beraneka ragam. Tidak memiliki bunga sejati. Alat kelamin terpisah, serbuk sari terdapat dalam strobilus jantan dan sel telur terdapat dalam strobilus betina. Struktur perkembangbiakan yang khas adalah biji yang dihasilkan bunga ataupun runjung.   Setiap biji mengandung bakal tumbuhan , yaitu embrio yang terbentuk oleh suatu proses reproduksi seksual. Sesudah bertunas embrio ini tumbuh menjadi tumbuhan dewasa.

Sperma atau sel kelamin jantan menuju kesel telur atau sel kelamin betina melalui tabung serbuk sari hanya terdapat pada tumbuhan berbiji.

Tumbuhan biji mempunyai jaringan pembuluh yang rumit. Jaringan ini merupakan saluran menghantar untuk mengangkut air, mineral, makanan dan bahan – bahan lain. Tumbuhan berbiji terbuka memiliki pigmen hijau (klorofil) yang penting untuk fotosintesis yaitu suatu proses dasar pembuatan makanan pada tumbuhan. Gymnospermae memiliki batang yang tegak lurus dan bercabang-cabang. Daunnya jarang yang berdaun lebar, jarang yang bersifat majemuk, dan system pertulangan daunnya tidak banyak ragamnya. Hal ini sangat berbeda dengan karakteristik daun yang terdapat pada angiospermae yang sistem pertulangannya beraneka ragam.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Kimball, John W. 1994. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Permana, Agus D., dkk. 2004. Biologi. Bandung: PT. Lima Enam Tujuh

 

http://www.kangtoebz.com/2011/03/ciri-ciri-tumbuhan-lumut-dan-paku.html

http://biologi-news.blogspot.com/2011/11/divisi-pteridophyta-tumbuhan-paku.html

http://meynyeng.wordpress.com/2010/06/01/gymnospermae/. Diakses pada tanggal 07 Desember 2011 pukul 08:85 WIB

Category: Biologi
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>