Sahabat Sejati Lagunya Sheila On 7 Membuatku berfikir masih adakah sahabat sejati di Zaman Sekarang ini ? Jawabnya tentu ada donk kawan-kawan UIN Malang. Seperti Kisah mengenai Sahabat Sejati Yang berkorban demi temannya. Jadi jangan sampai membuat Sakit Hati seorang teman ya sob. Kita mungkin akan lebih sayang terhadap Pacar mengurusi percintaan kemudian teman jadi sedikit terlupakan. Berikut ini aku kumpulkan kata-kata untuk teman dan persahabat serta cerita mengenai pertemanan yang kudapat dari baca-baca Kaskus pagi ini.

Zaman sekarang susah mencari sahabat setia dalam suka maupun duka gan

Kebanyakan sukanya doang mau  giliran dapet dukanya aja ngibrit paling duluan

 

Cerita 1

Terdapat dua orang sahabat baik bernama John dan Andy.
Mereka dari kecil telah bermain bersama, sekolah bersama,
melakukan kenakalan bersama, pada dasarnya hampir segala sesuatu
mereka lakukan secara bersama.

Pada saat mereka memasuki umur remaja pecahlah perang dunia ke-2.
Pemuda-pemudi yang tangguh diwajibkan untuk ikut wajib militer
membela negaranya, tidak terkecuali John dan Andy.
Mereka mendapat pangkat letnan dua dan ditugaskan
di garis depan medan perang.

Pada suatu pagi berkabut hendak dilakukan serangan mendadak
menuju tempat musuh dipimpin oleh kapten mereka.

Pada saat mereka mengendap-endap menuju tempat musuh
mentari pagi bersinar dengan cerahnya dan menghapus kabut
yang menyelubungi mereka.

Kontan musuh yang melihat mereka
segera menembak dengan membabi- buta.
Maka lari tunggang-langganglah mereka semua termasuk John dan Andy.

Sesampainya mereka semua dimarkas ternyata John tidak ada,
maka dengan segera Andy meminta ijin pada kaptennya untuk kembali
ke wilayah musuh mencari John.

Namun sang kapten menolak sambil berkata,
“Untuk apa kau kembali lagi kesana, mungkin dia sudah mati
dan kaupun bakal tertembak musuh ”
Namun Andy tidak menghiraukan perintah tersebut
dan tetap kembali untuk mencari John.

Selang setengah jam kemudian Andy kembali
dengan berlumuran darah sendirian.

Sang kaptenpun marah besar,
“Apa kubilang, John tidak kembali dan kaupun tertembak.
Sungguh sia-sia” kata sang kapten.
“Tidak sia-sia, karena aku mendengar kata-kata terakhirnya,”
kata Andy.
“Omong kosong,” kata sang kapten sambil berlalu.

Namun karena rasa ingin tahu sang kapten maka dia kembali lagi
ke tempat Andy dan bertanya,”Memangnya apa yang dia katakan,
sampai kau rela mempertaruhkan nyawamu?”.

“Saya tahu kau pasti akan kembali mencariku,” itulah kata-kata terakhirnya
dan dia mengatakannya sambil tersenyum dengan puas.

Memang tidak mudah untuk mencari sahabat sejati,
karena kita tidak akan pernah bisa menebak isi hati
dan pikiran orang lain.

Bahkan seorang ibu pun tidak bisa mengetahui apa yang ada
dalam pikiran anaknya walaupun dia yang melahirkan tubuh anaknya.

Sebaliknya teman begitu mudah untuk dicari
namun hal itu tidaklah kekal.

Mereka akan bersama Anda saat ada kepentingan
dan di saat sedang ada kegembiraan,
namun saat giliran duka sedang menaungi Anda
mereka satu demisatu akan meninggalkan Anda.
Disinilah kita bisa mengetahui siapa sahabat sejati Anda.

Namun sahabat janganlah Anda uji,
karena dia telah memberi tempat khusus di hatinya untuk Anda,
saat diuji maka Anda akan kehilangan tempat tersebut.

Biarlah seleksi alam yang menentukan siapa sahabat sejati Anda,
saat Anda sedang jatuh dia akan tetap bersama Anda,
saat dia sedang kesulitan Anda akan menolongnya tanpa pamrih.

Bila Anda telah menemukannya Anda harus menjaga
berlian tersebut baik-baik karena Anda mungkin tidak akan
menemukan berlian yang lain.

Saya sering mendengar dan membaca cerita
bahwa persahabatan putus karena masalah uang dan cinta,
dan saya sering tertawa setelah mendengar / melihatnya
karena menurut saya itu adalah omong kosong.

Seorang sahabat sejati tidak akan menukar hati sahabatnya
dengan uang bahkan untuk wanita/pria sekalipun,
bahkan bila mereka telah berkeluarga tetap akan saling kontak.

Tidak ada teori tetap yang bisa merumuskan seorang sahabat sejati
untuk Anda namun bila saatnya tiba Anda akan mengetahui dengan sendirinya.

Seperti sebuah pepatah cina yang menyebutkan
‘bisa bertemu merupakan jodoh’.
Tentunya bukan dalam konteks cowo-cewe,
bisa saja antar cowo maupun antar cewe
dan belum tentu harus kimpoi dan saling menyukai.

Bisa saja seorang sahabat sejati justru adalah rival Anda,
dia akan banyak bergesekan dengan Anda tapi hal tersebut
justru membuat Anda makin sering bersua dengannya,
berkompetisi sehingga saling memajukan,
dan kembali ke ciri klasik bahwa dialah yang akan menolong Anda
saat sedang jatuh walaupun terkadang rival Anda ini
terlalu angkuh untuk mengakuinya.

Pentingnya Seorang Sahabat

 

“Haiiii…“Sebuah sapaan akrab yang selalu kedengar, sepintas sapaan tersebut terlintas dalam pikiranku saat mengenang masa – masa kelas sepuluh bersama teman – teman saat bertemu setiap harinya.Kini semua telah berubah. Entah karena diriku yang memang berubah atau mereka yang berubah. “Hai, Ani. Wah anak IPA sombong nih sekarang,“ sapa temanku Andri.Sedih hatiku mendengar ucapan tersebut dan memikirkan apa keselahanku sehingga dia berkata seperti itu kepadaku.“Hai juga. Sombong? Sombong gimana? Kamu kali yang sombong,” jawabku.Setiap hari kudengar ucapan tersebut keluar dari mulut teman – teman terdekatku bahkan teman yang lainnya yang menganggap bawa anak IPA selalu sombong. “Apa sih bagusnya IPA? Apa yang bisa di sombongin sama anak IPA?,” pikirku setiap hari saat melihat dan mendengar temanku menjauh dan mengucapkan kata – kata “SOMBONG”.Lama kelamaan aku pun merasa tidak tahan dengan ucapan tersebut, ucapan yang terdengar memojokkan diriku.Akhirnya tidak lama kemudian aku SMS dua orang di antara mereka yang ku pikir mereka pasti tahu penyebabnya.“Hai. Apa kabar nih? Oh ya, aku mau tanya sesuatu. Apa aku punya salah sama kamu?,” SMSku kepada keduanya.“Ga kok,” jawab Dita.“Yakin?,” tanyaku kembali.“Yakin,” jawab Dita.Jawaban Dita yang begitu singkat menambah pikiranku yang sedang kacau. Namun jika aku tidak bersalah mengapa aku dijauhi?.Beberapa saat kemudian Vino membalas SMSku, “Ga kok, Ni. Memang kenapa?”.“Ga kenapa – kenapa. Aku hanya merasa ada yang aneh aja sama sikap kamu dan teman – teman ke aku. Kenapa kalian menjauhi aku?,” jawabku. “Ah masa sih? Kata siapa? Biasa aja kok,” jawab Vino.Aneh, sungguh jawaban mereka semua tak masuk akal. Jawaban mereka membuatku semakin bingung. Setelah beberapa lama SMSan dengan Vino, akhirnya dia mengungkapkan alasan mengapa dia dan teman – teman menjauhiku.“Sebelumnya aku minta maaf ya, Ni. Kita ngerasa sekarang kamu berbeda dengan yang dulu. Sejak kamu masuk IPA, kamu ga pernah turun ke kelas kita untuk menemui kita, ngumpul sama kita, juga makan dengan sama kita. Aku jujur aja ya sama kamu. Maaf kalau kata – kata aku udah buat kamu sakit hati,” kata Vino saat SMS.Oh, ternyata aku yang salah? Tapi apa karena aku jarang menemui mereka, ngumpul sama mereka aku harus di jauhi? Apakah itu yang dinamakan sahabat?.Sungguh hatiku perih mendengar pernyataan tersebut. Tetapi di lain hal, pernyataan tersebut membuat aku merasa tenang.Lalu aku membalas SMS tersebut, “Oh begitu. Maaf ya. Bukan aku tidak mau berkumpul lagi sama kalian, tapi sekarang sama dulu itu beda. Apalagi sekarang aku IPA. Ya aku hanya bisa berharap kamu bisa mengerti keadaan ini.Aku juga harus adaptasi dengan kelas yang baru.”“Iya, aku ngerti kok. Tapi tolong kamu luangkan waktu saat istirahat untuk menemui kita. Kita ngumpul lagi seperti dulu,” kata Vino.“Aku juga tidak mau seperti itu. Tapi apa daya aku . Kadang kelas aku tidak istirahat. Gimana mau ketemu sama kalian?,” jawabku.Meskipun sedikit lebih tenang dari sebelumnya, tetap saja aku masih bingung. Apa harus aku yang selalu menemui dia? Kenapa tidak dia yang menemuiki sekali – kali di kelas?Sempat ku berpikir mereka semua egois. Mereka hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri, mereka tidak memikirkan apa yang kurasakan saat ini.“Anak IPA sombong. Gengsi anak IPA tinggi. Anak IPA malu bermain dengan anak IPS”. Apa ungkapan itu betul?. Seandainya aku malu bermain dengan anak IPS, pasti aku pun akan menjauhi saudaraku yang duduk di kelas IPS bersama temanku. Buktinya aku suka ngobrol dengan anak IPS saat pagi sebelum pintu kelas dibuka dan mereka datang.Hari – hari pun berlalu dengan cepat. Sejak Vino, mengungkapkan alas an mengapa menjauhiku, aku pun berusaha untuk introspeksi diri dan mengubah sikapku yang menurut mereka aku sombong.“Hai, teman – teman sedang apa? Aku makan dengan kalian disini ya,” sapaku kepada teman – temanku.“Oh, iya. Boleh kok. Duduk aja,” kata Vino membalas sapaanku.“Baik. Makasih,” jawabku.Ada sedikit perilaku aneh yang tak biasa ditunjukkan oleh Dita. Mengapa saat aku datang ia pergi? Apa salah aku makan bersama mereka lagi?Selesai makan aku kembali ke kelas dan SMS ke Vino, “Hai, Vin. Kok tadi Dita pergi saat aku datang? Sepertinya percuma aku ngumpul lagi dengan kalian. Aku seperti sudah tidak dianggap.”“Ga kok, Ni. Kamu masih teman kita. Mungkin kita semua butuh waktu. Kita kan sudah lama tidak kumpul bersama lagi,” jawab Vino.Beberapa hari kemudian suasana semakin membaik meskipun aku masih sedikit asing dengan suasana seperti itu. Namun ku mencoba untuk membiasakan diri kembali dengan teman-temanku.Sejak saat itu aku berusaha untuk selalu mendekatkan diri dengan mereka. Berkumpul dan saling berbagi dengan mereka, meskipun suasananya tidak seperti dulu saat kita kelas sepuluh. Setelah itu aku baru menyadari betapa pentingnya seorang sahabat dalam hidup. Kita dapat saling mengasihi dan berbagi dengan mereka baik dalam suka dan duka. Tanpa mereka apa artinya hidupku ini. Terima kasih teman

 

 

  1. [...] Hati sebenarnya cara lupainnya paling gampang ialah bermain dengan teman2 kalian. Karena seorang teman sejati akan lebih bisa mengerti bagaimana enjoy nikmatin hidup [...]