Fiqih 1

Kelompok 1

Oleh :

Angger Rakhmatulhuda (08110070)

Mulyo Dianto (08110092)

M. Lutfil Hakim (08110084)

Efendi MH

SHOLAT FARDHU DAN SUJUD SAHWI

BAB I  PENDAHULUAN

1.1 Abstrak

Shalat Fardhu adalah shalat yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim di seluruh dunia, jika ditinggalkan maka hukumnya adalah dosa. Perintah shalat wajib diterima oleh Nabi Muhammad saw ketika mi’raj. Shalat fardhu sendiri  terbagi menjadi 2, yakni: Shalat Fardu ‘Ain,  shalat wajib yang dilakukan setiap hari, dalam 5 waktu sebanyak 17 rakaat. Dan Shalat Fardu Kifayah, yaitu shalat wajib yang apabila sudah dikerjakan oleh sebagian umat Islam, maka umat islam yang lainnya terbebas dari kewajiban tersebut. Sujud sahwi artinya sujud kerana terlupa mengerjakan sesuatu yang sunnah atau hal yang salah lainnya tanpa sengaja

1.2 Keyword : Shalat Fardhu, Shalat Fardu Kifayah, Shalat Fardu Kifayah, dan Sujud sahwi

BAB II  PEMBAHASAN

2.1.SHALAT FARDHU

2.1.1. Pengertian Shalat Fardhu

Menurut bahasa shalat artinya adalah berdoa, sedangkan menurut istilah shalat adalah suatu perbuatan serta perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sesuai dengan persyaratkan yang ada.

Menurut istilah adalah shalat yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim di seluruh dunia, jika ditinggalkan maka hukumnya adalah dosa. Perintah shalat wajib, diterima Nabi Muhammad saw ketika mi’raj.

2.1.2. Syarat-syarat Wajib Menjalankan Shalat Fardhu

Shalat tidak wajib dikerjakan kecuali oleh mereka yang memenuhi syarat-syarat berikut: (abd Qadir, 2007: 169)

  1. Islam. Maka, tidak diwajibkan atas orang-orang kafir sekalipun ia disiksa dengan siksaan yang berat karena tidak mengerjakannya.
  2. Berakal sehat. Tidak diwajibkan atas orang gila dan pingsan. Jika gila atau pingsannya itu berlangsung terus selama dua waktu shalat yang bias dijama’. Ulama’ Syafi’iyah berpendapat bahwa, jika seseorang gila atau pingsan selama satu waktu shalat penuh, gugurlah kewajiban shalatnya. Sedangkan menurut hanafiah, kewajiban shalat tidak gugur dari seseorang kecuali jika ia gila atau pingsan selama enam waktu, maka ketika itu gugur pula kewajibannya untuk shalat.
  3. Balig atau dewasa. Maka shalat tidak diwajibkan bagi anak kecil yang belum balig. Tetapi bagi walinya hendaklah menyuruhnya mengerjakan salat bila anak itu telah menginjak umur tujuh tahun, dan boleh memukulnya jika tidak mengerjakannya ketika berusia sepuluh tahun. Hal ini agar setelah balig nanti ia terbiasa atau sudah terlatih mengerjakannya.
  4. Sampai dakwah atau seruan dari Nabi, sesuai firman Allah dalam surat Al Isra ayat 15
  5. Suci dari haid dan nifas. Hal ini karena wanita yang sedang haid atau nifas tidak diwajibkan melakukan salat, baik secara ada’(dikerjakan pada waktunya) maupun qada’. Berbeda dengan puasa, mereka wajib mengqada’nya.
  6. Sehat jasmani dan rohani. Karena itu bagi orang yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keadaan buta tuli tidak diwajibkan shalat.

2.1.3. Macam-macam Shalat Fardhu

Shalat fardhu sendiri  terbagi menjadi 2, yakni:

  1. Shalat Fardu ‘Ain,  shalat wajib yang dilakukan setiap hari, dalam 5 waktu sebanyak 17 rakaat, ke lima shalat 5 waktu tersebut adalah; Shalat Shubuh, Shalat Dzuhur, Shalat ‘Ashar, Shalat Maghrib, Shalat Isya’ dan juga Shalat Jum’at (hanya diwajibkan untuk kaum laki-laki, dilakukan setiap hari jumat, pada waktu adzan dzuhur).
  2. Fardu Kifayah, yaitu shalat wajib yang apabila sudah dikerjakan oleh sebagian umat Islam, maka umat islam yang lainnya terbebas dari kewajiban tersebut. Di antaranya adalah Shalat Jenazah dan Shalat Ghaib.

2.1.4. Waktu Shalat

Salat fardu memiliki waktu-waktu tertentu, saat kapan salat itu harus dikerjakan, berdasarka firman Allah:

#sŒÎ*sù ÞOçFøŠŸÒs% no4qn=¢Á9$# (#rãà2øŒ$$sù ©!$# $VJ»uŠÏ% #YŠqãèè%ur 4’n?tãur öNà6Î/qãZã_ 4 #sŒÎ*sù öNçGYtRù’yJôÛ$# (#qßJŠÏ%r’sù no4qn=¢Á9$# 4 ¨bÎ) no4qn=¢Á9$# ôMtR%x. ’n?t㠚úüÏZÏB÷sßJø9$# $Y7»tFÏ. $Y?qè%öq¨B ÇÊÉÌÈ

Artinya: Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

Maksudnya, suatu kewajiban yang sangat penting dan pasti seperti Kitab Suci. Qur’an telah mengisyaratkan waktu-waktu salat ini, sesuai dengan firman-Nya:

ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ǒnûtsÛ Í‘$pk¨]9$# $Zÿs9ã—ur z`ÏiB È@øŠ©9$# 4 ¨bÎ) ÏM»uZ|¡ptø:$# tû÷ùÏdõ‹ãƒ ÏN$t«ÍhŠ¡¡9$# 4 y7Ï9ºsŒ 3“tø.ό šúï̍Ï.º©%#Ï9 ÇÊÊÍÈ

Artinya: Dan Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.(al Hud : 114.)   dan (al-Isra’, 78 dn Taha, 130)

Inilah waktu-waktu salat yang diisyaratkan Qur’an. Sedangkan mengenai batas ketentuannya ditetapkan oleh sunnah. Untuk ini dapat dikutip pada sebuah hadist oleh Bukhari yang dinilai sebaai hadis yang paling sahih. Hadis tersebut bersumber dari Jabir, yang artinya: (abd Qadir, 2007: 169)

“Jibril dating kepada Nabi lalu berkata: ‘Bangun dan salatlah!’ Maka Nabi mengerjakan salat zuhur disaat matahari tergelincir. Kemudian ia dating lagi diwaktu asar, katanya: ‘bangun dan salatlah!’ beliaupun mengerjakan salat asar ketika baying-bayang sesuatu sama panjang dengan bendanya. Lalu ia dating lagi diwaktu magrib dan katanya: ‘bangun dan salatlah!’ Nabipun mengerjakan salat magrib saat matahari terbenam. Kemudian ia dating pula pada waktu isya dan berkata: ‘bangun dan salatlah!’ maka nabi segera salat isya ketika mega merah telah lenyap. Akhirnya ia dating lagi di waktu fajar ketika fajar telah bercahaya…” (Hadis Ahmad, Nasa’I dan Tirmizi)

Waktu-waktu yang dijelaskan dalam hadist di aas adalah waktu-waktu jawaz, yakni waktu salat dalam situasi normal. Sedang dalam keadaan darurat atau ada halngan, maka waktu-waktu tersebut menjadi lebih panjang dari itu. Setiap waktu meluas panjang sampai dengan waktu berikutnya, kecuali suuh yang berakhir dengan terbitnya matahari. Hal ini berdasarkan hadis Abdullah bi ‘Amr bi ‘As, Bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya: (abd Qadir, 2007: 169)

“Waktu zuhur ialah bila matahari tergelincir hingga bayang-bayang seseorang sama panjang dengan badannya selama waktu asar belum tiba.; waktu asar ialah selama belum menguning sinar matahari; waktu salat magrib ialah selama mega merah belum lenyap; dan waktu salat isya ialah sampaitengah malam kedua; sedangkan waktu salat subuh mulai sejak terbit fajar sampai matahari terbit. Jika matahari telah terbit maka hentikanlah salat, karena ia terbit di antara dua tanduk setan.” (Hadis Muslim)

2.1.5. Salat Menurut Empat Madzhab

  1. A. Hukum Melafalkan Niat Untuk Sholat

a. Mazhab Hanafi :

Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa niat sholat adalah bermaksud untuk melaksanakan sholat karena Allah dan letaknya dalam hati, namun tidak disyaratkan melafadhkannya dengan lisan. Adapun melafadhkan niat dengan lisan sunah hukumnya, sebagai pembantu kesempurnaan niat dalam hati. Dan menentukan jenis sholat dalam niat adalah lebih afdlal. (al-Badai’ I/127. Ad-Durru al-Muhtar I/406. Fathu al-Qadir I/185 dan al-lubabI/66)

b. Mazhab Maliki :

Ulama Malikiyah berpendapat bahwa niat adalah bermaksud untuk melaksanakan sesuatu dan letaknya dalam hati. Niat dalam sholat adalah syarat sahnya sholat, dan sebaiknya tidak melafadzkan niat, agar hilang keragu-raguannya. Niat sholat wajib bersama Takbiratul Ihram, dan wajib menentukan jenis sholat yang dilakukan (al-Syarhu al-Shaghir wa- Hasyiyah ash-Shawy I/303-305. al-Syarhu al-Kabir ma’ad-Dasuqy I/233 dan 520).

c. Mazhab Hambali :

Ulama Hanabilah berpendapat bahwa niat adalah bermaksud untuk melakukan ibadah, yang bertujuan untuk mendekatkan dirikepada Allah. Sholat tidak sah tanpa niat, letaknya dalam hati, dan sunnah melafadzkan dengan lisan, disyaratkan pula menentukan jenis sholat serta tujuan mengerjakannya. (al-Mughny I/464-469, dan II/231. Kasy-Syaaf al-Qona’ I364-370).

d. Syafi’i :

Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa niat adalah bermaksud melaksanakan sesuatu yang disertai dengan perbuatan. Letaknya dalam hati. Niat sholat disunnahkan melafadzkan menjelang Takbiratul Ihram dan wajib menentukan jenis sholat yang dilakukan. (Hasyiyah al-Bajury I/149.

Mughny al-Muhtaj I/148-150. 252-253. al-Muhadzab I/70 al-Majmu’ Syarh

al-Muhadzab III/243-252).

B.  Hukum Membaca Basmalah Dalam Fatihah Sholat

a. Maliki: Tidak memakai Bismillah karena Bismillah bukan ayat dari Surat Al-Fatihah. Dari Aisyah r.a : “Sesungguhnya Rosulullah memulai sholat dengan takbir dan membaca alhamdulillahi robbil’alamin (Riwayat Muslim)

b. Hanafi: Membaca Basmalah dalam Fatihah sholat itu hukumnya wajib namun dengan suara pelan. Dalam riwayat lain bagi Ibnu Huzaimah : “Mereka membaca Bismillahirrahmaanir-raahiim”membacanya dengan pelan”. (Subulus Salam I/333).

c. Hambali Membaca Basmallah dengan pelan dan tidak sunat untuk dikeraskan.

d. Syafi’i : Wajib membaca Basmallaha. Abu Hurairoh r.a, Nabi Muhammad SAW: Sesungguhnya rosulluloh telahbersabda “Jika kalian membaca alhamdulillahi robbil’alamin, makabacalah bismillaahir rohmaanir rohiim. Sesungguhnya itu ummul Qur’an, ummul kitab, dan sab’ul matsani (tujuh ayat yang dibaca berulangulang), dan bismillaahir rohmaanir rohiim termasuk salah satu ayat surat Al-Fatihah. (Riwayat Daruqutni dari Hadits Abdul Hamid bin Za’far dari Nuh bin Abi Bilal dari Sa’id bin Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairoh r.a)

Hadits Anas r.a, sesungguhnya ia ditanya tentang bacaan rosululloh SAW dalam sholat, jawab Anas “Sesungguhnya rosululloh memanjangkan bacaannya… seterusnya beliau membaca bismillaahir rohmaanir rohiim alhamdulillahir robbil’alamiin maaliki yaumid diin…” (riwayat Bukhori)

  1. C. Hukum Membaca Surat Al-Fatihah Bagi Makmum
    1. a. Ulama Hanafiyah melarang makmum membaca fatihah secara mutlaq Dengan alasan :
      1. Nash Al-Qur’an yaitu firman Allah SWT :“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf (7) : 204)
      2. . Hadits yang diriwayatkan oleh abu Hanifah dari Abdullah bin Syaddaad dari Jabir bin Abdullah r.a, bahwa rosululloh SAW, bersabda : Man sholla kholfa imaamin fa inna qiroo’atal imaami lahu qiroo’atun.

Artinya :“Barangsiapa yang mengerjakan sholat dibelakang imam (bermakmum), maka sesungguhnya bacaan imam adalah menjadi bacaannya.”

  1. b. Syafi’iyah mewajibkan secara mutlaq.
  2. . Firman Allah SWT :“Bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an.” (QS. Al-Muzzammil (83) : 20)
  3. . Al-Hadits
    1. Sesungguhnya rosululloh SAW, bersabda :

Laa sholaata illa biqiroo’atin“

Artinya : “Tidaklah sah sholat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

  1. Rosululloh SAW, bersabda:

Laa sholaata liman lam yaqro bifaatihatil kitaab “

Artinya :“Tidak ada sholat (tidak sah), kecuali dengan bacaan Fatihah”(HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tarmidzi, An-Nasa’I, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad dari ‘Ubaadah bin Shamit).

  1. Juga ulama Syafi’iyah yang berpegang lagi dengan Hadits Abu Hurairoh, yang diangkatnya : “Barangsiapa yang sholat yang didalamnya tanpa membaca ummul kitab (fatihah), maka sholat itu kurang, tegasnya tidak sempurna.”Perawi Hadits itu berkata : “Wahai Abu Hurairoh! Sungguh kadangkadang aku sholat dibelakang imam.” Lalu Abu Hurairoh memegang lenganku dan berkata, “Wahai Farisy, bacalah fatihah untuk dirimu.”Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud.
  2. Hadits ‘Ubaadah bin Shamit, ia berkata “Rasululloh SAW. Sholatsubuh dan beliau mengeraskan bacaannya. Setelah selesai sholat, beliau bersabda “Saya melihat kalian membaca dibelakang imam?” kami menjawab, “Benar, demi Allah , wahai rosululloh.” Kemudian rosululloh SAW, bersabda : “ Laa taf’aluu illa biummil qur’ani fainnahu laa sholaata liman lam yaqro’biha “

Artinya :“Janganlah kamu semua lakukan, kecuali dengan ummul Qur’an (S.Alfatihah, karena sesungguhnya tidak ada sholat bagi orang yang tidak membacanya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Hadits-Hadits ini khusus mengenai bacaan makmum, dan semuanya tegas tentang fardu membaca fatihah. Menurut Syafi’iyah berpendapat bahwa membaca fatihah itu merupakan salah satu rukun sholat, maka ia tidak dapat gugur dari makmum sebagaimana rukun-rukun lainnya.

c. Malikiyah tidak mewajibkan dan tidak juga melarang. Hanya pada sholat sir disunatkan membacanya.

d. Ulama Hanabilah tidak mewajibkan dan tidak melarang pada saat tidak terdengar bacaan imam, maka sunat membacanya bagi makmum.

D. Qunut Subuh

Maliki berpendapat, bahwa qunut subuh itu mustahab (sesuatu perbuatan yang disukai nabi, tetapi tidak dibiasakannya). Adapun dalil bagi orang yang mengatakan, bahwa qunut subuh itu tidak ada ialah : Dari Abu Hurairoh r.a bahwasannya Nabi SAW pernah qunut disembahyang subuh, hingga katanya : “Kemudian sampai kabar kepada kami, bahwa qunut itu telah ditinggalkannya tatkala turun ayat “Laisalaka minal amri syaiun au yatuubu ‘alaihim wa yu’adzdzibahum fa innahum dhoolimuun” yang artinya “Itu bukan urusan engkau hai Muhammad apa Allah memberi taubat mereka, atau mengazab mereka sebab mereka orang yang aniaya.” (HR. Muslim).

Juga hadits : ‘An anasin rodliyallohu ‘anhu anna nabiyyu sholallahu ‘alaihi was salama qonata syahron ba’dar rukuuyad’uu ‘alaa ahyaai minal ‘arobi tsumma tarkahu .( rowahu bukhori muslim )

Dari Anas r.a, “Bahwasannya Nabi SAW pernah qunut sebulan lamanya sesudah rukuk, yang mendoakan suku-suku Arab, kemudian meninggalkannya.” ( HR. Bukhori dan muslim )

Tentang Hadits-Hadits diatas dijawab oleh Ulama Syafi’iyah. “Bahwa qunut yang ditinggalkan oleh Nabi itu, hanyalah qunut Nazilah yang sifatnya mengutuk, berdasarkan Hadits-Hadits diatas. Adapun qunut yang sifatnya tidak mengutuk tidak ada keterangan yang jelas bahwa Nabi meninggalkannya, terutama sekali qunut subuh. Hal ini dikuatkan oleh Hadits Anas r.a : An anasin rodliyallohu ‘anhu qoola: maa zaala rosuulullohi sholallohi‘alaihi wasallam yaqnutu fish shubhi hatta faaroqod dunya. (HR oleh Jama’atul huffaz ).

artinya: Dari Anas r.a berkata “Senantiasalah rosululloh SAW melakukan qunut dalam sembahyang subuh sehingga beliau meninggal dunia”. (diriwayatkan oleh Jama’atul Huffadz).

Dan ditambah pula dengan hadits dengan sanad yang shahih sebagai berikut : Dari Anas r.a “Bahwasannya Nabi SAW pernah qunut sebulan lamanya yang mendoakan suku-suku Arab, kemudian ditinggalkannya. Adapun qunut subuh senantiasa dilakukannya sampai meninggal dunia.” (riwayat HR. Hakim, Baehaqi dan Darulqutni)

2.2.SUJUD SAHWI

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : “Kapan wajibnya sujud
sahwi, sebelum atau sesudah salam ..?Sujud sahwi adalah dua kali sujud yang dilakukan orang shalat untuk menambali kekurang sempurnaan shalatnya lantaran kena lupa. Sebab kelupaan ada 3 yaitu ; kelebihan, kekurangan dan keraguan.

Kelebihan (tambah) : Jika yang shalat sengaja menambahkan berdiri, duduk, ruku’ atau sujud, batallah shalatnya. Jika ia lupa akan kelebihannya dan baru sadar ketika sudah selesai, maka ia wajib sujud sahwi. Jika sadarnya itu terjadi di tengah-tengah shalat, hendaklah ia kembali ke shalatnya lalu sujud sahwi. Contohnya, jika ia lupa shalat Zuhur lima raka’at dan baru ingat sedang tasyahud, hendaklah ia sujud sahwi dan salam. Jika ingatnya itu di tengah-tengah raka’at kelima, hendaklah langsung duduk tasyahud dan salam. setelah itu sujud sahwi dan salam.

Cara di atas bersumber kepada hadits dari Abdullah bin Mas’ud yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah shalat Zhuhur lima rakaat. Lalu ditanyakan apakah ia menambahkan raka’at shalat .? Maka setelah para sahabat menjelaskan bahwa beliau shalat lima raka’at, beliau langsung bersujud dua kali setelah salam (shalat). Riwayat lain menjelaskan bahwa ketika itu beliau berdiri membelahkan kedua kakinya sambil menghadap kiblat lalu sujud dua kali dan salam.

Sujud sahwi terkadang dilakukan sebelum salam dalam dua tempat.

Pertama. Jika seseorang kekurangan dalam shalatnya, berdasarkan hadits Abdullah bin Buhainah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sahwi sebelum salam ketika lupa tasyahud awal. Kedua. Ketika yang shalat ragu-ragu atas dua hal dan tak mampu mengambil yang lebih diyakininya, seperti yang dijelaskan oleh hadits Abi Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu tentang orang yang ragu-ragu dalam shalatnya, apakah tiga atau empat raka’at. Ketika itu, orang tersebut disuruh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar sujud dua kali sebelum salam. Hadits-hadits yang barusan telah dikemukakan lafaznya dalam bahasan sebelumnya.

Sedangkan sujud sahwi sesudah salam, dilakukan dalam dua hal :

Pertama. Ketika kelebihan sesuatu dalam shalat sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abdullah bin Mas’ud tentang shalat Zuhur lima raka’at yang dialami Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sujud sahwi dua kali ketika sudah diberitahu oleh para sahabat. Ketika itu beliau tidak menjelaskan bahwa sujud sahwinya dilakukan setelah salam (selesai) karena beliau tidak tahu kelebihan. Maka hal ini menunjukkan bahwa sujud sahwi karena kelebihan dalam shalat dilaksanakan setelah salam shalat, baik kelebihannya itu diketahui sebelum atau sesudah salam.

Contoh lain, jika orang lupa membaca salam padahal shalatnya belum sempurna,
lalu ia sadar dan menyempurnakannya, berarti ia telah menambahkan salam di tengah-tengah shalatnya. Karena itu, ia wajib sujud sahwi setelah salam berdasarkan hadits Abu Hurairah yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Zuhur atau Ashar sebanyak dua raka’at. Maka setelah diberitahukan, beliau menyempurnakan shalatnya dan salam. Dan
setelah itu sujud sahwi dan salam.

Kedua. Jika ragu-ragu atas dua hal namun salah satunya diyakini. Hal ini telah dicontohkan dalam hadits Ibnu Mas’ud sebelumnya. Jika terjadi dua kelupaan, yang satu terjadi sebelum salam dan yang kedua sesudah salam, maka menurut ulama yang terjadi sebelum salamlah yang diperhatikan lalu sujud sahwi sebelum salam. Contohnya, umpamanya seseorang shalat Zuhur lalu berdiri menuju raka’at ketiga tanpa tasyahud awal. Kemudian pada raka’at ketiga itu ia duduk tasyahud karena dikiranya raka’at kedua dan ketika itu ia baru ingat bahwa
ia berada pada raka’at ketiga, maka hendaklah ia bediri menambah satu rakaat lagi, lalu sujud sahwi serta salam. Yakni dari contoh di atas diketahui bahwa lelaki tersebut telah tertinggal
tasyahud awal dan sujud sebelum salam. Ia-pun kelebihan duduk pada raka’at ketiga dan hendaknya sujud (sahwi) sesudah salam. Oleh sebab itu, apa yang terjadi sebelum salam diunggulkan. Wallahu ‘alam

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Qadir ar-Rahbawi, 2007, Salat Empat Mazhab, Pustaka Litera AntarNusa- Halim Jaya, Bogor.

Anne Ahira, Shalat Fardhu, Rabu 11 Agustus 2010, [tersedia] http:// AnneAhira.blogspot.com, (online) Jum’at , 24 September 2010.