KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

Disusun untuk memenuhi tugas UAS Mata Kuliah

Pengembangan Kurikulum

Dosen pembimbing: A. Nurul Kawakib, M. Pd, M.A

Oleh :

M. Lutfil Hakim                     (08110084)

Umi Takhammulil Fadilah      (08110088)

Khoirun Nisa                           (08110089)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

MAULANA MALIK IBRAHIM IBRAHIM

FAKULTAS TARBIYAH

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Desember 2010

BAB II

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan ( BSNP ). Kurikulum dikembangan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki potensi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusiayang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, lebutuhan, dan kepentingan beserta didik serta tuntunan lingkungan. Memiliki potensi sentral berarti kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah pengertian dan karakteristik KTSP?
  2. Bagaimanakah prinsip-prinsip KTSP?
  3. Bagaimanakah komponen KTSP?
  4. Bagaimanakah proses penyusunan KTSP?

1.3 Tujuan Pembahasan

  1. Untuk mengetahui pengertian dan karakteristik KTSP?
  2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip KTSP?
  3. Untuk mengetahui komponen KTSP?
  4. Untuk mengetahui proses pennyusunan KTSP

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Karakteristik KTSP

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan ( BSNP ).[1] Kurikulum ini mempunyai beberapa karakteristik, antara lain:

  1. Berorientasi pada disiplin ilmu
  2. Berorientasi pada pengembangan individu
  3. Mengakses kepentingan daerah
  4. Merupakan kurikulum teknologis

2.2 Prinsip-prinsip KTSP

KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip – prinsip sebagai berikut :

a)      Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki potensi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusiayang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, lebutuhan, dan kepentingan beserta didik serta tuntunan lingkungan. Memiliki potensi sentral berarti kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik.

b)      Beragam dan terpadu. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.

c)      Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis. Oleh karena itu, semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

d)     Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk didalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikikr, keterampilan sosial, keterampilan akademik dan keterampilan vokasional merupakaan keniscayaan.

e)      Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.

f)       Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur – unsur pendidikan formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.

g)      Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).[2]

2.3 Komponen Kurikulum Tingkat Kesatuan Pendidikan.

A. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan

Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut :

  1. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
  2. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
  3. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan unuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.[3]

B. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikat: Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, kelompok mata pelajaran estetika, kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.

Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/ atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 Pasal 7. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum.

  1. Mata Pelajaran

Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing – masing tingkat kesatuan pendidikan berpedoman pada struktu r kurikulum yang tercantum dalam SI.

  1. Muatan Lokal

Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak sesuai menjadi bagian dari mata pelajaran lain dan atau terlalu banyak sehingga harus menjadi mata pelajaran tersendiri. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. Muatan lokal merupakan mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Ini berarti bahwa dalam satu tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal.[4]

  1. Kegiatan Pengembangan Diri

Pengembangan diri adalah kegiatn yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi madrasah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/ atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karier peserta didik serta kegiatan kepramukaan, kepemimpinan, dan kelompok ilmiah remaja. Khusus untuk sekolah menengah kejuruan pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier.

Pengembangan diri untuk satuan pendidikan khususmenakankan pada peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran. Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif, tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran.[5]

  1. Pengaturan Beban Belajar

Untuk mengetahui keberhasilan pendidikan maka hendaknya maka seharusnya mengetahui indicator-indikatir yang yang berkaitan pengaturan beban belajar antara lain :

  1. Beban belajar dalam system paket di gunakan oleh tingkat satuan pendidikan SD/MI/ SDLB, SMP/MTs/SMPLB/ Baik katagori standart atau mandiri, SMA/MA/SMABL/SMK/MAK katagori standart. BEban belajar dalam system krdit semester (SKS) Dapat di gunakan oleh SMP/MTs/SMPLB katagori mandiri, dan oleh SMA/MA/SMALB/SMK/MAK katagori standart. Beban belajar dalam sisem kredit semester (SKS) di gunakan oleh SMA/MA/SMABL/SMK/MAK katagori mandiri.
  2. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sitem paket dialokasikan sebagai mana tertera dalam struktur kurikulum. Pengaturan alokasi waktu untuk setiapmata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran perminggu secara keseluruan. Pemamfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompotensi, disamping dimanfaatkan untuk mata pelajaran yang lain yaqng di anggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulumyang tercantum didalam standart isi.
  3. Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam system paket untuk SD/MI/SDLB 0% – 40%, SMP/MTS/SMPBL 0% – 60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan petensi dan kebuthan peserta didik dalam mencapai kompotensi.
  4. Alokasi waktu untuk praktek, dua jam kegiatan praktek di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Empat jam praktek diluar sekolah setara dengan satu jam tatap muka.
  5. Alokasi waktu untk tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandir tidak terstruktur untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK yang menggunakan system SKS Mengikuti aturan sebagai berikut .

Satu SKS pada SMP?MTs terdiri atas 40 menit tatap muka, 20 menit kegiatan tersruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Satu SKS pada SMA/MA/SMK/MAK  terdiri atas 45 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan tidak terstruktur.[6]

  1. Ketuntasan Belajar

Ketuntasan belajar setiap indicator yang telah ditetapkan dalam suatu kompotensi dasar berkisan antara 0 – 100%. Kreteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indicator 75%. Satuan pendidikan harus menentukan kreteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kreteria keuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kreteria ketuntasan ideal.[7]

  1. Kenaikan kelas dan kelulusan

Keaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. Kreteria kenaikan kelas di atur oleh masing-masing direktorak teknis terkait. Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah :

  1. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran.
  2. Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompokmata pelajaran agama dan akhlak yang mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadiann. Kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
  3. Lulus ujian sekolah/ madrasah untuk kelompok mata belajar ilmu pengetahuan dan teknologi,
  4. Lulus Ujian Nasional.
  1. Penjurusan

Penjurusan dilakukan pada kelas XI dan XII di SMA/MA. Adapun kreteria penjurusan diatur oleh direktorat teknis terakhir.

  1. Pendidikan Kecakapan Hidup.

Kurikulum untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, SMK/MAK dapat memasukkan pendidikan kecakapan pribadi, kecakapan nasional, kecakapan akademik atau kecakaan vokanisional. Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkuatan atau dari satuan pendidikan formal lain atau nonformal.[8]

  1. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global.

Pendidikan berbasis keunggulam local dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi, budaya, bahasa, teknologi imformasi dan kemunikasi, Ekologi dan lain-lain, yang senuanya bermanfaat bagi pengenabangan kopotensi peserta didik.

Kurukulum untuk semua tingkat satuan pendidikan dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat menjadi mata pelajaran muatan lokal. Pendidikan berbasis Keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan nonformal yan sudah memperoleh kreditasi.

C. Kalender Pendidikan.

Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat dapat menyusun kalender pendidikan ssuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik madrasah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana yang di muat dalam standar isi.[9]

D. Silabus

Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Berdasarkan silabus yang telah disusun, guru bisa mengembangkannya menjadi Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bagi siswanya.

2.3 Proses Penyusunan KTSP

  1. Analisis Konteks
  1. Mengidentifikasi sstandar isi dan standar Kopetensi Lulusan sebagai acuan dalam penyusunan KTSP.
  2. Menganalisis Kondisi yang ada di satuan pendidikan yang meliputi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, biaya, dan program-program.
  3. Menganalisis peluang dan tantangan yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitar. Komite madrasah, dewan pendidikan, dinas pendidikan, asosiasi profesi, dunia industry dan dunia kerja, sumber daya alam dan social.

B. Mekanisme Penyusunan

1. Tim Penyusun

Tim penyusun KTSP pada SD,SMP,SMA dan SMK terdiri atas guru, konselor, dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota. Didalam kegiatan Tim penyusun melibatkan komite sekolah, dan nara sumber, serta pihak lain yang terkait. Supervisi dilakukan oleh dinas yang bertanggung jawab dibidang pendidikan tingkat kabupaten/kota untuk SD dan SMP dan tingkat provinsi untuk SMA dan SMK.

Tim penyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan MI, MTS, MA dan MAK terdiri atas guru, konselor, dan kepala madrasah sebagai ketua merangkap anggota. Di dalam kegiatan tim penyusun melibatkan komite madrasah, dan nara sumber, serta pihak lain yang terkait. Supervisi dilakukan oleh departemen yang menangani urusan pemerintahan dibidang agama.

Tim penyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan khusus (SDLB, SMPLB, dan SMALB)  terdiri atas guru konselor. Kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota.di dalam kegiatan tim penyusun melibatkan komite sekolah, dan nara sumber, serta pihak lain yang terkait. Supervisi dilakukan oleh dinas provinsi yang bertanggung jawab dibidang pendidikan.

2. kegiatan

Penyusunan KTSP merupakan bagian dari kegiatan perencanaan sekolah/ madrasah. Kegiatan ini dapat berbentuk rapat kerja atau lokakarya sekolah/madrasah atau kelompok sekolah/madrasah yang diselenggarakan dalam jangka waktu sebelum tahun pelajaran baru.

Tahun kegiatan penyusunan KTSP secara garis besar meliputi: penyiapan dan penyusunan draf, review dan revisi, serta finalisasi. Pemantapan dan penilaian. Langkah yang lebih rinci dari masing-masing kegiatan diatur dan selenggarakan oleh tim penyusun.[10]

3. Pemberlakuan.

Dokumen KTSP pada SD, SMP, SMA, dan SMKdinyatakan berlaku oleh kepala sekolah serta mendapat pertimbangan dari komite sekolah dan diketahui oleh dinas tingkat kabupaten/ kota yang bertanggung jawab dibidang pendidikan untuk SD dan SMP, dan tingkat provinsi untuk SMA dan SMK.

Dokumen KTSP pada MI, MTS, MA, dan MAK dinyatakan berlaku oleh kepala madrasah setelah mendapat pertimbangan dari komite madrasah dan diketahui oleh departemen yang menangani urusan pemerintahan dibidang agama.

Dokumen kurikulum tingkat satuan pendidikan SDLB, SMPLB, dan SMALB. Dinyatakan berlaku oleh kepala sekolah serta mendapat pertimbangan dari komite sekolah dan diketahui dinas provinsi yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.[11]

DAFTAR PUSTAKA

Joko Susilo, Muhammad. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sanjaya, Wina. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Pranada Media Group

Muslich, Masnur. 2007. KTSP. Jakarta: PT Bumi Aksara

Khaeruddin dan Mahfud. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Yogyakarta: Pilar Media


[1] Khairudin, Junaidi Mahfud. Kurikulum tingkat satuan Pendidikan. PT Pilar media.2007. Yogyakarta. Hlm:79

[2] Khairudin, Junaidi Mahfud. Kurikulum tingkat satuan Pendidikan. PT Pilar media.2007. Yogyakarta. Hlm:80

[3] Khairudin, Junaidi Mahfud. Kurikulum tingkat satuan Pendidikan. PT Pilar media.2007. Yogyakarta. Hlm:84

[4] Khairudin, Junaidi Mahfud. Kurikulum tingkat satuan Pendidikan. PT Pilar media.2007. Yogyakarta. Hlm:85

[5]Khairudin, Junaidi Mahfud. Kurikulum tingkat satuan Pendidikan. PT Pilar media.2007. Yogyakarta. Hlm:86

[6] Khairudin, Junaidi Mahfud. Kurikulum tingkat satuan Pendidikan. PT Pilar media.2007. Yogyakarta. Hlm:88

[7] Khairudin, Junaidi Mahfud. Kurikulum tingkat satuan Pendidikan. PT Pilar media.2007. Yogyakarta. Hlm:88

[8] Khairudin, Junaidi Mahfud. Kurikulum tingkat satuan Pendidikan. PT Pilar media.2007. Yogyakarta. Hlm:89

[9][9] Khairudin, Junaidi Mahfud. Kurikulum tingkat satuan Pendidikan. PT Pilar media.2007. Yogyakarta. Hlm:90

[10] Khairudin, Junaidi Mahfud. Kurikulum tingkat satuan Pendidikan. PT Pilar media.2007. Yogyakarta. Hlm:94

[11] Khairudin, Junaidi Mahfud. Kurikulum tingkat satuan Pendidikan. PT Pilar media.2007. Yogyakarta. Hlm:95