Archive for the Category »Kuliah_Q «

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Mungkin sebaiknya kita merubah cara pandang kita terhadap pengertian bakat, minat, maupun kreatifitas. Kenapa? Karena semua orang selalu berpendapat tentang ketiganya dengan tak memahami maknanya.

Coba renungkan pertanyaan berikut: “Apa bakatmu?”, “Apakah kamu berminat mengikutinya?” dan “Apa kamu dapat menunjukkan kreatifitasmu?”. Jika kita ditanyakan hal ini kira-kira apa ya jawabannya?

Mungkin tidak banyak yang bisa langsung menjawabnya. Boleh jadi karena bakat memang tidak mudah untuk dikenali dan dijelaskan kepada orang lain. Padahal, bakat sering disebut-sebut sebagai anugerah dari Tuhan yang patut disyukuri. Memang, kerap orang mengatakan minat dan bakat adalah teropong bagi jalan kehidupan di masa depan. Membayangkannya pun terasa menyenangkan karena dengan keduanya kita bisa menjadi siapa pun yang diinginkan asalkan mau kerja keras dan pantang menyerah.

Kenyataannya, pemahaman itu justru sebaliknya. Hal itu sering kali menimbulkan masalah ketika kita beranjak dewasa dan tiba saatnya memilih bidang pendidikan dan karier. Pemahaman itu sedikit banyak menciptakan ilusi akan beragam pilihan bidang pendidikan dan karier yang menjanjikan masa depan. Dan lagi, apakah semua itu pilihan yang benar-benar kita inginkan?

Pada bab selanjutnya penulis akan membahas mengenai apa itu bakat, minat dan kreatifitas serta bagaimana cara mengenalinya.

  1. B. Rumusan Masalah

Terdapat beberapa rumusan masalah yang dapat penulis ajukan:

  1. Apakah pengertian Minat dan Bakat itu?
  2. Bagaimanakah cara untuk mengenali bakat seseorang?
  3. Kreatifitas, apakah itu?
  4. Bagaimanakah cara untuk mengembangkan kreatifitas anak berbakat?
  1. C. Tujuan Penulisan

Dari beberapa rumusan masalah yang dipaparkan penulis memiliki tujuan, di antaranya:

  1. Agar memahami pengertian tentang Bakat, minat dan kretaifitas.
  2. Agar mampu mengetahui cara mengenali bakat seseorang.
  3. Agar dapat mengetahui cara untuk mengembangkan kreatifitas anak berbakat
    1. D. Manfaat Penulisan

Dapat penulis peroleh beberata manfaat dari penulisan makalah ini, antara lain:

  1. Memahami pengertian tentang Bakat, minat dan kretaifitas.
  2. Mengetahui cara mengenali bakat seseorang.
  3. Mengetahui cara untuk mengembangkan kreatifitas anak berbakat

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian Minat

Minat diartikan sebagai kehendak, keinginan atau kesukaan (Kamisa, 1997 : 370). Minat adalah sesuatu yang pribadi dan berhubungan erat dengan sikap. Minat dan sikap merupakan dasar bagi prasangka, dan minat juga penting dalam mengambil keputusan. Minat dapat menyebabkan seseorang giat melakukan menuju ke sesuatu yang telah menarik minatnya(Gunarso,1995 : 68). Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih (Hurlock, 1995 : 144).

Apabila seseorang menaruh perhatian terhadap sesuatu, maka minat akan menjadi motif yang kuat untuk berhubungan secara lebih aktif dengan sesuatu yang menarik minatnya. Minat akan semakin bertambah jika disalurkan dalam suatu kegiatan. Keterikatan dengan kegiatan tersebut akan semakin menumbuh kembangkan minat. Sesuai pendapat yang dikemukakan Hurlock (1990:144), “bahwa semakin sering minat diekspresikan dalam kegiatan maka semakin kuatlah ia”. Minat dapat menjadi sebab terjadinya suatu kegiatan dan hasil yang akan diperoleh. Minat adalah suatu pemusatan perhatian secara tidak sengaja yang terlahir dengan penuh kemauan, rasa ketertarikan, keinginan, dan kesenangan (Natawijaya, 1978:94)

Menurut Soesilowindradini (dalam Tuharjo,1989:13), “suatu kegiatan yang dilakukan tidak sesuai minat akan menghasilkan prestasi yang kurang menyenangkan”. Dapat dikatakan bahwa dengan terpenuhinya minat seseorang akan mendapatkan kesenangan dan kepuasan batin yang dapat menimbulkan motivasi. Purnama (1994:15) menjabarkan karakteristik individu yang memiliki minat tinggi terhadap sesuatu yaitu: adanya perhatian yang besar, memiliki harapan yang tinggi, berorientasi pada keberhasilan, mempunyai kebangggaan, kesediaan untuk berusaha dan mempunyai pertimbangan yang positif. Pendapat tersebut tidak jauh berbeda dengan pendapat Slameto dalam (TomiDarmawan,2007) yang menyatakan “bahwa minat adalah rasa suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh, minat pada hakekatnya adalah penerimaan hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar dirinya, semakin kuat atau semakin dekat hubungan tersebut maka semakin besar minatnya”.

Suyanto (1969:9) memandang minat sebagai pemusatan perhatian yang tidak sengaja yag terlahir dengan penuh kemauan dan tergantung dari bakat dan lingkungan. Utami dan Fauzan dalam (Tomi Darmawan,2007) memandang minat sebagai kecenderungan yang relatif menetap sebagai bagian diri seseorang, untuk tertarik dan menekuni bidang-bidang tertentu. Winkel (1987:105) menyatakan “bahwa minat merupakan suatu kecenderungan subjek yang menetap untuk merasa tertarik pada bidang studi tertentu dan merasa senang untuk mempelajari materi itu”. Dari berbagai pendapat tersebut dapat ditemukan adanya beberapa unsur pokok dalam pengertian minat, yaitu adanya perhatian, daya dorong tiap-tiap individu dan kesenangan.

Kesimpulan dari beberapa definisi di atas tentang minat, bahwa minat merupakan suatu perhatian khusus terhadap suatu hal tertentu yang tercipta dengan penuh kemauan dan tergantung dari bakat dan lingkungannya. Minat dapat dikatakan sebagai dorongan kuat bagi seseorang untuk melakukan segala sesuatu dalam mewujudkan pencapaian tujuan dan cita-cita yang menjadi keinginannya

  1. B. Pengertian Bakat

Sebelum penulis membahas lebih lanjut mengenai apa itu bakat, penulis ingin mengatakan bahwa bakat menurut penjelasan teoritisnya memang punya wilayah bahasan yang cukup luas. Di antaranya:

ü  dalam literatur ilmiah, ada istilah talent, ada istilah giftedness, ada istilah traits, ada istilah intelligence seperti dalam “multiple intelligence, aptitude, dan seterusnya. Selain harus berurusan dengan istilah-istilah yang mungkin tidak dimengerti bagi kebanyakan orang, pun juga tidak semua orang “boleh” memberikan penilaian tentang bakat seseorang. Hanya bagi orang-orang yang sudah bersertifikat di bidang ini yang “disahkan” memberikan penilaian.

ü  dalam pengertian bahasa atau dalam pengertian yang umum kita pahami, adalah kelebihan / keunggulan alamiah yang melekat pada diri kita dan menjadi pembeda antara kita dengan orang lain. Kamus Advance, misalnya, mengartikan talent dengan “natural power to do something well.” Dalam kamus Marriam-Webster’s, dikatakan “natural endowments of person.” Dalam percakapan sehari-hari kita sering mengatakan si Ani berbakat di nyanyi, di bisnis, di IT dan seterusnya.

Bakat dalam pengertian kedua ini juga dipakai oleh Thomas Amstrong, pakar pendidikan dari Harvard University yang sering berkolaborsi dengan Howard Gardner dalam membahas kecerdasan. Dalam tulisannya, Little Geniuses, yang pernah diterbitkan majalah Parenting (1989), ia menjelaskan, bakat manusia bisa muncul dalam berbagai bentuk.

Misalnya orang yang hebat di bidang IT tidak berarti hanya dibekali kemampuan tekun dalam meng-otak-atik komputer. Ia juga punya kemauan keras, punya disiplin, kreatif, mau mempelajari hal-hal baru dan seterusnya. Seorang tokoh agama tidak berarti hanya dibekali kemampuan spiritual sensibility saja. Ia juga punya kemampuan lain yang mendukung keunggulannya, seperti verbal, sosial, dan lain-lain.

Hal lain yang perlu kita ingat adalah penjelasan Dr. Sternberg, pakar Psikologi dari Yale University (Practical Intelligence, John Meunier, Fall, 2003)). Selama bertahun-tahun mengkaji kemampuan manusia, ia berkesimpulan bahwa kemampuan manusia itu bukanlah sebuah kemampuan yang sifatnya sudah baku pada satu bentuk atau titik tertentu (not fixed ability), tetapi sebuah kemampuan yang sifatnya terus berkembang (developing abilities).

Banyak mahasiswa di perguruan tinggi tidak mencapai hasilyang optimal bahkan selalu mengeluh karena tidak enjoy dengan jurusan yang dipilihnya. Misalnya sarjana pertanian melamar untuk menjadi manager supermarket. Banyak orang tua frustasi karena anak yang baru pulang dari luar negeri seperti German,USA, hanya menyerahkan ijazahnya kepada orang tua kemudian mengalami depresi.

Semua gejala di atas tidak harus terjadi kalau sejak awal Anda telah memahami Bakat dan Minat studi anda atau sejak usia dini para orang tua sudah mempersiapkan dan memotivasi anak sesuai bakat yang di milikinya. Harap artikel ini akan bermanfaat buat anda.

Hal-hal yang Mempengaruhi Bakat

  • pengaruh unsur genetik, khususnya yang berkaitan dengan fungsi otak bila dominan otak sebelah kiri, bakat sangat berhubungan dengan masalah verbal, intelektual, teratur, dan logis dan bila dominan dengan otak kanan berhubungan dengan masalah spasial, non verbal, estetik, artistik serta atletis.
  • Latihan, bakat adalah sesuatu yang sudah dimiliki secara alamiah, yang mutlak memerlukan latihan untuk membangkitkan dan mengembangkannya.
  • Struktur tubuh mempengaruhi bakat seseorang. Seorang yang bertubuh atletis akan memudahkannya menggeluti bidang olah raga atletik.

Manfaat Mengenal Bakat

  • Untuk mengetahui potensi diri, dengan mengetahui bakat yang dimiliki, kita jadi tahu potensi kita dan bisa dikembangkan.
  • Untuk merencanakan masa depan, dengan mengetahui bakat yang dimiliki, kita bisa merencanakan mengembangkannya dengan demikian juga turut merencanakan masa depan
  • Untuk menentukan tugas atau kegiatan, dengan mengetahui bakat yang dimiliki, kita bisa memilih kegiatan apa yang akan kita lakukan sesuai dengan bakat yang kita miliki.

Cara Mengembangkan Bakat

  • Perlu keberanian: bereani memulai, berani gagal, berani berkorban (perasaan, waktu, tenaga, pikiran, dll), berani bertarung. Keberanian akan membuat kita melihat jalan keluar berhadapan dengan berbagai kendala.
  • Perlu didukung latihan: bakat perlu selalu diasah, latihan adalah kunci keberhasilan.
  • Perlu didukung lingkungan: lingkungan disini termasuk manusia, fasilitas, biaya, dan kondisi sosial yang turut berperan dalam usaha pengembangan bakat.
  • Perlu memahami hambatan dan mengatasinya: maksudnya disini perlu mengidentifikasi dengan baik kendala-kendala yang ada, kemudian dicari jalan keluar untuk mengatasinya.
  1. C. Mengenali Bakat

Setiap Orang Perlu Mengenal Bakatnya

Jangan memberikan pelajaran menggambar kepada orang yang buta. Maka sehebat-hebatnya kurikulum serta guru yang akan mengajarnya pasti akan sia-sia dan tidak berguna. Jangan mengajarkan seni berpidato kepada orang yang tidak punya lidah. Itupun akan menjadi sia-sia belaka.

Banyak orang di sekitar kita yang tidak mau didiagnosa kesehatannya oleh seorang dokter karena ia takut akan ketahuan berpenyakit. Biarlah saya tidak tahu sakit saya, toh kalau tiba-tiba saya sakit maka saya akan datang juga pada seorang dokter. Bila datangnya tidak terlambat tidak begitu bermasalah. Anehnya sebagian besar kita akan memborong semua obat agar penyakitnya segera cepat sembuh.

Pun demikian terhadap putra-putri kita – bahkan tidak jarang terhadap kita sendiri juga – bahwa kita sibuk mencarikan sekolah anak-anak kita tanpa mengetahui apa sebenarnya yang menjadi bakat anak-anak kita. Nampaknya ibarat sebuah perjalanan yang sangat jauh, kita akan menjadi lebih baik dan lebih tenang bila kita sudah menyiapkan sebuah ”peta kota perjalanan kita”.

Demikian juga dengan perjalanan pendidikan yang akan kita pilih dan akan kita lalui untuk meraih prestasi masa depan kita. Nampaknya kita juga memerlukan ”peta potensi diri” yang harus dicarikan warna pendidikan yang sesuai. Tugas kita adalah mengenal bakat, kemudian meyakini dan mengembangkannya yang jelas-jelas sudah diketahui mana yang menonjol.

Mengembangkan bakat yang menonjol akan lebih mudah dari pada mengembangkan bakat yang lemah. Apalagi mengubah bakat alaminya (atau beralih pada hal lain yang bukan menjadi bakatnya). Semakin dekat bakat dengan cita-cita maka semakin mudah untuk meraihnya. Semakin dekat bakat dengan pendidikan yang dipilihnya maka semakin mudah meraih prestasi akademik. Semakin dekat bakat dengan minat maka semakin mudah menikmati hidup ini. (walau ada sebagian kita menyamakan pengertian bakat dengan minat)

Pengenalan Bakat Dan Minat

Bakat berarti kepandaian atau di bawa dari lahir (Kamus Bahasa Indonesia). Dan dalam bahasa Inggris bakat disebut “talent” yang berarti bakat alamiah yang di miliki seseorang. Jadi yang di maksud dengan anak berbakat adalah anak yang oleh profesional diidentifikasikan sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yag tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul. Kemampuan tersebut meliputi:

  1. Kemampuan intelektual umum (kecerdasan atau inteligensi).
  2. Kemampuan akademik khusus.
  3. Kemampuan berpikir kreatf-produktif.
  4. Kemampuan memimpin.
  5. Kemampuan dalam salah satu bidang seni.
  6. Kemampuan psikomotor (seperti dalam olah raga)

(Utami Munandar mengutip definisi menurut U.S.O.E)

Untuk memahami minat dan studi, dapat mengunakan testing minat menurut Kuder (1966). Kuder membagi ke dalam 10 kelompok minat yang dimiliki setiap orang yaitu:

  1. Outdoor yang menyangkut: pekerjaanyang biasa dilakukan di luar rumah atau pada alam sekitar. Misalnya: pertanian, nelayan, peternak, kapten kapal, pilot, dsb.
  2. Mechanical adalah pekerjaan yang berkaitan dengan mesin-mesin atau alat tehnik seperti semua bidang tehnik termasuk tehnik industri.
  3. Computational adalah kelompok minat terhadap suatu pekerjaan atau jabatan hitung menghitung. Misal: pedagang, akutansi, pemegang buku, dll.
  4. Science adalah kelompok minatyang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Misalnya: fulkanologi, metereologi, laboratorium, dokter, dll.
  5. Persuasive adalah kelompok minat yang menyangkut mempengaruhi orang lain. Misalnya: guru, dosen, menager, propaganda, sales.
  6. Artistic adalah kelompok minat yang memerlukan keterampilan seni: pelukis,pemahat, designer, dekorasi.
  7. Literary adalah kelompok minat literature atau minat yang berkaitan dengan bahasa, tulis menulis, wartawan, sekretaris.
  8. Musical adalah kelompok minat yang berkaitan dengan masalah musik.
  9. Sosial Service adalah kelompok minat yang berhubungan dengan layanan atau membantu orang lain. Seperti: pendeta, rohaniwan, konselor.

10.  Clerical adalah kelompok minat yang berkaitan dengan pekerjaan administrasi.

Pengayaan Bakat Dan Minat

  1. Anda Pribadi yang Special.
    1. a. Anda didesign oleh Tuhan secara unik, berbeda satu dengan yang lain, kemidian Tuhan memberikan seperangkat sarana untuk bertumbuh ke arah yang maksimal.
    2. b. Setiap anak normal yang dilahirkan memiliki potensi atau bakat bawaan, namun benih potensi tersebut tidak akan bertumbuh dengan baik apabila tidak dirawat dengan baik. Apalagi anak-anak sudah berdosa. Dosa telah mengaburkan bahkan membunuh potensi untuk berbuat baik. Itu sebabnya anank-anak lebih cakap atau terampil melakukan keburukan dari pada kebaikan.
    3. c. Keadaan bakat Anda dipengaruhi oleh berbagai aspek, seperti: biologis, psikologis, social, dan spiritual.
    4. 2. Pengayaan keberbakatan Anda
      1. Tingkat 1, Bakat, kapasitas, kemampuan atau aptitude bawaan. Dari usia anak sudah mulai nampak
      2. Tingkat 2, Pembawaan perlu di pupuk, dilatih, dan dikembangkan agar dapat terwujud, dan untuk itu diperlukan kerja keras
      3. Tingkat 3, Bakat yang sudah nyata: talenta dan kinerja tingkat tinggi dan luar biasa.
      4. Orang Tua Perlumendukung Pertumbuhan Anak
        1. a. Menjamin dan menyakinkan bahwa anak mendapatkan kesempatan untuk memperoleh banyak pengalaman yang beragam.
        2. b. Setiap anak walaupun sekadung tetap berbeda bakat dan minat. Oleh karena itu orang tua jangan menyamakan semua anak dengan potensi yang satu.
        3. c. Kreatifitas anak akan muncul kalau diberikan kebebasanberkreasi, dan orang tua perlu aspek akan hasil kreasinya yang positif.
        4. d. Kedekatan emosi sangat mempe-garuhi bagi terciptanya kreatifitas yang baru. Anak akan mogok bila mengalami permusuhan atau penolakan.
        5. e. Dorong anakuntuk berprestasi tetapi buka angka. Lebih baik imajinasi dan kejujuran daripada ilai atau “renking” tertinggi.
        6. f. Menghargai kreatifitas setiap anak, baik secara verbal maupun nonverbal.
        7. g. Orang tua perlu jadi model: keaktifan dan kemandirian.
        8. h. Orang tua tetap perlu menerapkan disiplin yang konsisten bagi anak-anak
  1. A. Kreatifitas

Definisi sederhana mengenai kreatifitas seringkali mengecoh para psikolog. Kreatifitas adalah salah satu dari kualitas yang luar biasa sulit untuk dihambat. Salah satu kriterianya bahwa hal ini sepertinya menjadi sebuah proses yang menghasilkan tanggapan suatu cerita yang berkontribusi pada pemecahan masalah (Simonton, 2000). Pandangan yang alin menyatakan bahwa secara umum, orang lain harus beranggapan peranan atau kontribusi cerita tersebut. Kreatifitas merupakan titik pertemuan yang khas antara tiga atribut psikologis:

  • Intelegensi, meliputi terutama kemapuan verbal, pemikiran lancar, pengertahuan, perencanaan, perumusan masalah, penyusunan strategi, representasi mental, keterampilan pengambilan keputusan dan keseimbangan serta integrasi intelektual secara umum.
  • Gaya koginif atau intelektual dari pribadi yang kreatif menunjukkan kelonggaran dari keterikatan pada konvensi menciptakan aturan sendiri, melakukan hal-hal dengan caranya sendiri, menyukai masalah yang tidak terlalu terstruktur.
  • Kepribadian atau motivasi, meliputi ciri-ciri seperti fleksibilitas, toleransi terhadap kedwiartian, dorongan untuk berprestai dan mendapat pengakuan, keuletan dalam menghadapi rintangan, dan pengambilan resiko yang moderat.

Bersama-sama ke tiga segi dari alam pikiran ini membantu memahami apa yang melatarbelakangi individu yang kreatif (sternberg, 1988)

Dalam suatu kebenaran, bagaimanapun juga, terdapat fakta bahwa sebuah jalan kreatifitas tidak diakui pada saat mereka sedang membuatnya, aturan ini harus dikualifikasi. John Nicholls (1972) menambahkan bahwa sebuah solusi harus asli dan “menghasilkan kontribusi yang berarti bagi budaya.” Dari sudut pandang ini, apabila kita menemukan suatu karangan cerita (novel) dan solusi yang unik dari suatu permasalahan mengenai bagaimana kita membersihkan debu ruangan kita, hal itu dinilai cerdas akan tetapi bukan merupakan kreatifitas yang baru. Bagian dari permasalahan tersebut bahwa terdapat rentang yang sangat luas dalam perilaku yang mendasari pengertian kreatifitas. Pada saat seseorang membicarakan seseorang yang kreatif, mereka dapat mengartikan apapun dari kegunaan yang tidak terduga dan tidak biasanya dari campuran jerami pada kebun sayuran. Untuk itu, dua tipe mengenai kreatifitas perlu dispesifikasikan.

Tipe Dasar Kreatifitas, ahli psikologi membedakan dua tipe kreatifitas:

  • proses kreatifitas, diartikan tipe kreatifitas seseorang dan apapun yang bertumpu pada sisi psikologis: ditandai dengan adanya peningkatan sifat terbuka dala mendapatkan pengalaman, sebuah keinginan untuk dapat menerima dan bahkan menyukai suatu perubahan, kemampuan untuk mempersiapkan dan menyesuaikan secara cepat pada semua situasi, dan labih besar kemampuannya di atas rata-rata untuk memikirkan kemungkinan yang tidak terduga.
  • hasil kreatifitas adalah apa yang menjadi pemikiran seseorang pada saat mereka menggunakan makna kreatifitas tersebut. Ini merupakan proses dalam menemukan keaslian dan penemuan solusi suatu masalah.

Pengukuran Kreatifitas

Skala pengukuran biasanya berdasarkan pada interval pengukuran, dimana salah satu indikator lebih besar atau lebih kecil daripada indikator yang lainnya- apabila kita mendapat nilai “8” pada tes kesenangan dan teman kita menilai “6” maka kita lebih ‘senang’ daripada mereka. Akan tetapi, buktinya psikolog tidak menggunakan pengukuran itu secara pasti. Mereka lebih memilih untuk menggunakan pengukuran dengan derajad relatifitas. Todd Lubart dan robert Sternberg (1995) meminta empat puluh delapan orang dewasa untuk bergabung kedalam kreatifitas mereka dan memberikan mereka tugas sebuah gambar yang menggambarkan ‘harapan’ atau mendesain sebuah televisi bagi Internal Revenue Service. Peserta yang bekerja dirangking dalam beberapa ukuran kualitas dibidangnya, menurut alur cerita, keseluruhan kreatifitas dan usaha yang dilakukan. Dalam penelitian ini, dalam jumlah beberapa orang, penemuan pertama adalah bahwa mereka lebih menyadari persetujuan antara juri dalam hal penentuan manakah solusi yang kreatif dan yang tidak. Penelitian ini menemukan bahwa secara umum, banyak orang dapat menyadari suatu kreatifitas apabila mereka melihatnya.

Penemuan yang menarik lainnya yaitu bahwa dari penelitian Lubart dan Sternberg masih ditumakan bahwa kreatifitas terdapat dalam satu domain, seperti kesenian, yang hanya menghubungkan suatu kreatifitas dengan domain yang berbeda, misalnya dengan menulis. Saat ini, tealh menjadi hal yang umum untuk seorang artis untuk menjadi kreatif baik dalam seni melukis dan memahat karena media yang digunakan sangat dekat berhubungan. Perlu dicatat bahwa peneliti tidak mengatakan bahwa keaslian suatu kreatifitas merupakan hal yang berbeda untuk domain yang berbeda atau permasalahan yang berbeda. Ada beberapa hal sudah yang biasa terjadi dalam kreatifitas yang tampaknya terlalu melampaui penggunaan media, permasalahan, dan situasi (Tardif dan Sternberg, 1988).

Kesulitan lain bagi psikolog dalam meneliti kreatifitas adalah setiap disiplin dalam ilmu psikologi cenderung untuk mempelajarinya dari sudut pandangnya sendiri. Dalam hal ini, studi mengenai psikologi sosial dan kepribadian mempelajari personality traits yang berhubungan dengan kreatifitas, psikologi kognitif melihat pada proses kognitif, dan beberapa fokus yang lain pada teori motivasional. Situasi seperti ini dapat dianalogikan seperti lima orang buta yang mencoba menggambarkan bentuk gajah dengan cara merabanya. Setiap orang buta yang meraba memiliki gambaran ‘realita’ sebuah gajah hanya dari sudut pandangnya sendii-sendiri pada bagian yang berbeda. Pada pernyataan yang sama, J.P. Guilford (1950) menjelaskan kreatifitas sebagai sebuah fungsi kognitif yang dipadukan pada faktor berganda. Untuk itu, beberapa peneliti telah berusaha mengelompokkan beberapa pendekatan yang bervariasi pada kreatifitas, dengan mengetahui bahwa setiap pendekatan merepresentasikan sebagian saja dari keseluruhan wujud sempurna. Pendekatan confluence pada kreatifitas berasumsi bahwa faktor berganda (multiple factor) memerlukan suatu langkah penyatuan dengan tujuan mendapatkan suatu penciptaan kreatifitas yang nyata. Model ini diusulkan oleh Lubart dan Sternberg (1995) yang menyatakan bahwa enam sumberdaya harus bekerja secara bersama-sama dalam kreatifitas: kemampuan intelektual, pengetahuan, sifat kepribadian, faktor motivasional, gaya berpikir, dan sebuah lingkungan yang mendukung proses kreatifitas dan output/hasil kreatifitas. Tardif dan Sternberg (1998) merangkum keseluruhan penelitian dan mengelompokkan studi kreatifitas kedalam empat lingkup: creative person (orangnya), creative process (proses kreatifitas), creative products (produk kreatifitas), dan creative environment (lingkungan kreatifitas).

Orang Kreatif

Pertama, kebanyakan karakteristik orang kreatif melampaui karakter seseorang yang unggul (excellence). Bagaimanapun juga, hubungan ini tampaknya mejadi satu arah, karena tidak semua orang yang memiliki keunggulan adalah kreatif. Seseorang yang kreatif secara konsisten tertarik dalam bidangnya dan mau bekerja keras dalam waktu yang lama (mengingat aturan sepuluh tahunan). Kreatifitas membutuhkan waktu. Seseorang bekerja untuk menemukan solusi dan harus sering menunggu suatu pemahaman dan menemukan solusi praktis suatu masalah.

Bagi kebanyakan orang, hipotesis pertama mengenai keaslian melibatkan intelejensi/kecerdasan (dalam pembahasan pendekatan confluence). Hipotesisnya yaitu apabila seseorang yang memiliki kreatifitas tinggi lebih baik dalam memecahkan masalah, maka mereka seharusnya lebih cerdas. Hipotesis ini tampaknya logis, akan tetapi data yang ada tidak dapat mendukungnya secara lengkap. Penelitian telah menemukan bahwa koralasi antara tes kreatifitas dan skor pada standard tes IQ biasanya antara 0.10 dan 0.30, atau dalam rentang modus (Barron dan Harrington, 1981). Studi penelitian secara umum menyimpulkan bahwa dengan memiliki rata-rata sampai dengan kemampuan IQ diatas rata-rata selalu berhubungan dengan tingkat kreatifitas dan bahkan menguntungkan ddalam hal itu, akan tetapi tidak penting apabila bertujuan untuk menjadi kreatif.

Faktor selanjutnya yang menjadi bagian dalam pendekatan confluence adalah pengetahuan pada satu keahlian atau sebuah media artistik. Orang yang kreatif cenderung terlihat lebih ahli didalam bidangnya sebaik seperti kreatifitas yang mereka miliki. Untuk itu, apabila produk kreatif yang sebenarnya adalah karya tulis, asli, dan “menjadi dasar yang baru,” kemudian satu yang perlu diketahui adalah dasar yang “lama” seperti mempunyai tujuan melakukan hal yang baru yang berbeda dengan hal itu. Sementara faktor dalam kreatifitas ini akan menjadi signifikan pada banyak kasus, beberapa contoh muncul tanpa diduga.

Salah satu lingkup penelitian yang berhasil menemukan hal yang mempersulit ruang lingkup hubungan dengan kreatifitas adalah pencarian karakteristik personal orang yang kreatif (Tardif dan Sternberg, 1988). Dalam beberapa hal, seseorang yang kreatif berbeda dengan orang lain, dan perbedaan tersebut mendorong kemampuan mereka untuk menemukan suatu karya, yang unik, dan tidak terduga. Kemudian, tardif dan Sternberg (1988) mencatat bahwa tidak ada satu karakter kepribadian yang membingungkan yang didapatkan dari penelitian-penelitian sebagai kunci kreatifitas.

Orang yang kreatif cenderung mengemukakan beberapa sifatnya yang dapat diklasifikasikan sebagai sifat keterbukaan pada pengalaman (Tardif dan Sternberg, 1988; Sternberg, 2000). Sifat keterbukaan yang lebih besar mempengauhi seseorang yang lebih menginginkan untuk menyadari keanehan, tidak terduga, diluar kebiasaan, dan tidak umum. Untuk itu, orang yang kreatif akan cenderung lebih fleksibel dalam pemikirannya dan lebih menghargai pada perbedaan atau bahkan kesalahan. Pada kenyataannya, mereka bahkan memiliki sebuah pilihan dalam kompleksitas. Mereka sering menikmati dalam mencari sebuah kesederhanan yang terdapat di bawah bukti yang kompleks, sulit, dan bahkan permasalahan yang keras. Hasilnya, mereka juga memiliki sebuah toleransi yang besar dalam tekanan karena hal ini merupakan permasalahan yang lebih kompleks yang dapat mengarah pada jalan buntu dan kegagalan lagi daripada permasalahan dengan sebuah struktur sederhana yang terjadi pada mereka.

Penelitian juga telah menemukan bahwa orang yang sangat kreatif cenderung lebih mandiri (independent). Hal ini merupakan manifestasi dirinya sendiri sehingga mampu menghadapi tekanan sosial untuk bersikap dan berpikir secara konvensional. Sebenarnya, orang yang kreatif melakukan lebih daripada hanya menghindari tekanan sosial sehingga mereka menjadi berbeda. Mereka akan menghindari suatu perjanjian karena itu akan menghambat kreatifitas yang mereka butuhkan dalam bekerja. Mereka juga memilih untuk bekerja sendiri sehingga mereka dapat memilih jalur dalam mendapatkan solusi. Karena hal ini, banyak orang kreatif yang menilai dirinya sendiri sebagai penyendiri. Orang yang sangat kreatif juga terlihat menginginkan untuk menata ulang permasalahan atau mengembangkan ide yang baru, konsep, dan solusi. Kebanyakan dari beberapa orang, mereka berkeinginan menata ulang permasalahan, sebuah ide, sebuah bentuk, atau pola. Banyak peneliti juga berpendapat bahwa kreatifitas melibatkan ketegangan dan konfik. Kreatifitas melibatkan perjuangan keras dalam menjawab pertanyaan yang sepertinya tidak sesuai. Kreatifitas juga berhubungan dengan memotivasi diri sendiri. Orang yang kreatif menyukai aktifitas yang akan merangsang dorongan kreatifitas. Terkadang mereka terlihat memiliki hasrat dibidangnya. Bekerja dengan menggunakan sebuah usaha yang kreatif sebenarnya terlihat seperti memberikan energi tambahan daripada menguras energi. Gardner (1993) menemukan bahwa orang yang kreatif selalu produktif setiap hari.

Karakteristik kepribadian yang lainnya yang berhubungan dengan kreatifitas termasuk kepandaian dalam menerima, peka terhadap permasalahan, mahir dalam berpikir, dan memiliki keinginan dalam mengambil resiko (Arieti, 1976; Sternberg, 1999). Theresa Amabile (1983) merangkumbeberapa kualitas kedalam tiga karakteristik utama pada orang yang kreatif. Pertama, mereka ahli dalam lingkup tertentu atau dalam media kesenian. Kedua, mereka memiliki dan menggunakan keahlian kognitif dan karakteristik kepribadian yang telah disebutkan sebelumnya. Yang ketiga, mereka termotivasi dengan dirinya sendiri.

Proses Kreatifitas

Salah satu karakteristik yang paling umum yang berhubungan dengan kreatifitas berfokus pada gaya berpikir. Ide pertama mengenai bagaimana gaya berpikir berhubungan dengan kreatifitas muncul dari Freud (1901/1960). Dia percaya bahwa kreatifitas berhubungan dengan proses berpikir yang utama, atau tipe pemikiran yang ditujukan pada proses secara tidak sadar. Pemahaman Freud mengarahkan pada sebuah catatan bahwa kreatifitas berhubungan pada sebuah kemampuan untuk bergabung kedalam proses yang tidak disadari. Jung juga percaya bahwa kreatifitas berasal dari proses tidak sadar akan tetapi pada tingkatan yang lebih dalam pada alam bawah sadar yang menjadi puast untuk kreatifitas, penemuan, dan secara sepontan. Kemudian psikolog dinamis berorientasi pada teori yang mengusulkan bahwa kreatifitas tidak berdasarkan pada proses tidak sadar akan tetapi terjadi pada saat pemikiran pra-sadar (Kris, 1952; Kubie, 1958). Salah satu yang paling berpengaruh dalam sudut pandang ini adalah bahwa dia menamakan regression in service of the ego. Ini merupakan kemampuan untuk bersama-sama memunculkan fungsi kontrol dan rasional pada ego dan bergabung ke dalam proses kognitif yang lebih memiliki arti,simbolis, dan holistik.

Empat Tahapan Proses Kreatifitas

Ide yang mengungkapkan bahwa kreatifitas bagaimanapun juga berhubungan dengan proses secara pra-sadar atau tidak sadar juga berhubungan dengan teori terkenal four-stage theory pada kreatifitas yang diungkapkan oleh Joseph Wallas (1926), yakni:

  • preparation (persiapan), atau pada saat informasi telah didapatkan, awalnya mencoba untuk memecahkan permasalahan telah dilakukan, bermacam-macam ide yang ada diseleksi dan dipilih, dan, secara umum, tahapan ini ditetapkan untuk menentukan solusi yang kreatif. Apabila solusi tidak ditemukan, maka masuk pada tahap kedua
  • incubation (inkubasi), mencoba untuk mencari solusi kreatif yang dilakukan dengan sebuah tingkatan proses secara tidak sadar “unconscious”. Dalam tahapan ini bisa mencapai berjam-jam bahkan bertahun-tahun. Penelitian baru-baru ini mengungkapkan bahwa selama periode inkubasi sering berhubungan dengan pencapaian sebuah solusi terbaru, hal ini merupakan proses kognitif yang normal yang bekerja dibawah permukaan dan bukan merupakan proses berpikir utama seseorang (Trotter, 1986).
  • illumination (pencerahan), ini terjadi pada saat sebuah solusi kreatif muncul sering bersamaan dan tidak terdugasebagai sebuah pemahaman, misalnya, pada saat seseorang bangun dari mimpinya harus menjawab sebuah pertanyaan yang sulit. Pemahaman tersebut bisa saja sebagai rangsangan dari kejadian sehari-hari. Banyak peneliti pada kretifitas juga menyadari bahwa secara umum pemahaman bisa menjadi bagian yang sangat penting dalam proses kretifitas. Yang mengejutakan bagi kebanyakan orang adalah bahwa selama para peneliti mempelajari kreatifitas menyadari bahwa pemahaman mempunyai peranan penting dalam proses kreatifitas, mereka juga menunjukkan hal tersebut sebagai peranan yang kecil dalam keseluruhan proses kreatifitas
  • verification (verifikasi). Dalam tahapan ini, pemecahan kreatifitas harus bekerja pada bentuk akhirnya. Seringkali, hal ini melibatkan kinerja mereka mengenai cara mengubah titik pencerahan dan pemahaman kedalam solusi nyata yang dapat diaplikasikan dalam praktek sehari-hari.

Gaya Berpikir dan Kreatifitas

Gaya berpikir yang paling umum disebutkan dalam literatur penelitian pada kreatifitas adalah pemikiran convergent (proses yang kita gunakan pada saat strategi pemecahan masalah yang bermacam-macam terpusat pada satu, jawaban yang benar pada satu masalah. Pengujian dalam pemikiran ini seringkali dihitung dengan cara menghitung jawaban yang benar) dan divergent thinking(kemampuan untuk berpikir dengan berbagai macam cara, menggunakan beberapa macam strategi, setidaknya sebagai permulaan, terkadang memperlihatkan beberapa solusi yang relevan dan terarah) (Guilford, 1950). Pengujian pada pemikiran divergent dinilai dengan menghitung beberapa perbedaan yang ada akan tetapi solusi tersebut secara umum dapat dipercaya. Saat ini, pengujian dalam pemikiran divergent adalah dengan meminta seseorang untuk melakukan generalisasi dalam fungsinya sebaik mungkin pada sebuah ide baru yang matang.

Pertama, divergent thingking terlihat lebih berhubungan dengan kreatifitas daripada convergent thingking. Untungnya, keduanya sangat berkorelasi positif pada kreatifitas (Barron dan Harrington, 1981). Sebenarnya, keduanya menjadi hal yang penting?divergent untuk generalisasi ide-ide dan usulan lainnya, dan convergent membawa pemikiran/ide-ide tersebut kemudian mengasahnya kedalam sebuah solusi (Rathunde, 2000). Penelitian menunjukkan bahwa percobaan seperti ini untuk mencari sebuah gaya berpikir yang berhubungan dengan kreatifitas telah menjadi sederhana secara keseluruhan (Sternberg, 1999).

Pada akhirnya, pemikiran mengenai gaya berpikir otak-kanan dan otak-kiri harus disebutkan. Pada tahun 1980-an, terdapat sebuah teori yang sangat populer yang mengungkapkan bahwa pemikiran secara logis dan rasional dihasilkan di dalam hemisphere-kiri pada otak manusia, sedangkan kreatifitas, kesopanan, dan gaya artistik yang umum merupakan produk yang berhubungan dengan hemisphere-kanan. Dalam penelitian ini, membuktikan, telah ditemukan bahwa terdapat keuntungan kecil pada hemisphere-kiri untuk berpikir secara logis dan hemisphere-kanan untuk pemikiran simbolis (setidaknya pada orang kidal). Kesimpulan secara keseluruhan, bagaimanapun juga, bahwa kedua bagian otak tersebut terlibat dalam dua cara berpikir. Perbedaannya adalah pengaruh relatif yang terlihat pada setiap bagian otak (Trope, Rozin, Nelson, dan Gur, 1992).

Lingkungan Kreatif

Kreatifitas juga berhubungan dengan lingkungan yang mendukung, yang dibatasi pada lingkungan keluarga pada sosial atau lingkungan secara historis. Keluarga orang yang kreatif tampaknya akan terbagi dalam sebuah karakteristik yang umum. Beberapa orang yang sangat kreatif kelihatannya datang dari perubahan di masa kecilnya dimana mereka mendapatkan sedikit perbandingan kenyamanan secara emosional. Yang menarik, keluarga ini secara kuat mendukung anak-anaknya untuk memperoleh dan menyediakan banyak kesempatan dan sumberdaya untuk belajar dan mendapatkan pengalaman baru. Berbicara mengenai keluarga, salah satu faktor yang tidak penting dalam kreatifitas adalah sifat turunan. Studi twins menunjukkan bahwa dilihat dari kembar identik yang dilahirkan secara bersamaan, telah diketahui bahwa korelasi antara skor kreatifitas ‘si kembar’ lebih rendah daripada korelasi antara skor IQ anak kembar tersebut (Nicholls, 1972). Terkadang, sebuah kelompok yang unik secara bersama-sama dapat menciptakan sinergi yang akan menghasilkan kreatifitas yang lebih besar. Ada lagi, The Beatles merupakan salah satu contoh yang nyata dan dapat dipelajari. Kemudian Csikszentmihalyi (1988) mengungkapkan bahwa dengan tujuan agar kreatifitas dapat terpelihara dan sangat indah, sebuah sinergi terbaik antar sesama, lingkungan, budaya, dan periode historis harus dijaga dan dikomposisikan dengan baik.

  1. A. Program Akselerasi bagi Anak Berbakat dan Kreatif

Layanan Pendidikan terhadap Anak Berbakat

Pada tulisan ini membahas tentang tataran landasan yuridis maupun landasan filosofis dari perlu layanan pendidikan terhadap siswa berbakat istimewa. Itu sudah banyak dibahas pada tulisan-tulisan saya sebelumnya. Pada prinsipnya, layanan terhadap anak cerdas dan bakat istimewa itu sama, yaitu pemenuhan hak anak untuk mendapatkan layanan pendidikan sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya.

Yang harus menjadi landasan terpenting adalah visi dan niat sekolah penyelenggara dalam mewujudkan layanan terhadap siswa berbakat istimewa. Jangan sampai pelaksanaan ini hanya dilandasi oleh keinginan membuka proyek baru, menjadi pos pemasukan alternatif bagi sekolah atau hanya sekedar untuk menerima bantuan pemerintah baik dalam hal dana maupun sarana. Kesalahan ini akan berdampak pada kualitas seleksi, kurikulum dan pendampingan dalam proses pembelajaran.
Apa yang Dimaksud dengan Bakat Istimewa?

Pengertian keberbakatan dalam pengembangannya telah mengalami berbagai perubahan dan kini pengertian keberbakatan selain mencakup kemampuan intelektual tinggi, juga menunjuk kepada kemampuan kreatif. Bahkan menurut clark (1986) kreativitas adalah ekspresi tertinggi dari keberbakatan.
Keberbakatan dipengaruhi oleh berbagai unsur kebudayaan bahkan sementara ahli berpendapat bahwa sifat-sifat anak berbakat itu bercirikan culture bound (dibatasi oleh batasan kebudayaan). Dengan demikian, ada dua petunjuk kunci dalam mengamati dan mengerti keberbakatan ini, sebagai berikut :

  1. Keberbakatan itu adalah ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil interaksi dari pengaruh lingkungan.
  2. Keberbakatan itu ikut ditentukan oleh kebutuhan dan kecenderungan kebudayaan di mana seseorang yang berbakat itu hidup.
    Jadi pengertian bakat istimewa lebih menekankan kepada minat, kemampuan dan bakat siswa diaspek psikomotor baik berupa seni maupun olah raga. Beberapa indikator deteksi dini seorang siswa memiliki bakat istimewa dibidang seni maupun olah raga adalah tentang pengetahuannya dibidang yang digeluti, minat dan motivasi, produk/hasil karya dan sensitifitas/sensibiltas-nya dalam mengapresiasi hasil karya.
    Indikator diatas diperkuat oleh adanya prestasi yang dianalisa tingkat kesukaran dan kompetitornya dalam setiap kompetisi yang diikuti. Hal ini menunjukkan bahwa sasaran layanan ini adalah siswa yang benar-benar memiliki minat, bakat, motivasi dan prestasi yang sangat tinggi dibidangnya masing-masing.

Keinginan setiap sekolah untuk menyelenggarakan layanan pendidikan kepada anak berbakat istimewa terbentur dan terkendala oleh ketidakjelasan pedoman penyelenggaraan dan kurangnya fasilitas sarana dan prasarana. Pemerintah pun dirasakan kurang dalam memberikan perhatian yang intens terhadap keberadaan siswa dengan bakat istimewa, kecuali melalui pekan olah raga dan seni yang diselenggarakan setiap setahun sekali.

Mulai saat ini memang sekolah harus mampu menjadi pelopor dan penggagas dari berbagai bentuk layanan terhadap anak bangsa sesuai dengan minat bakat dan kemampuannya. Bahkan tidaklah mustahil, dengan bantuan berbagai elemen masyarakat yang peduli dengan dunia pendidikan, sekolah umum mulai melirik layanan bagi para penyandang cacat atau yang memiliki kendala dalam melaksanakan proses pembelajaran secara normal.

Sekolah yang mampu melaksanakan ini adalah sekolah yang memiliki komitmen untuk melakukan layanan maksimal terhadap masyarakat. Pedoman yang belum jelas, kendala, rintangan dan tantangan yang bisa muncul dari pemerintah, yayasan, LSM dan lainnya justru mampu melecut sekolah untuk lebih berprestasi dalam pelayanan pendidikan terhadap semua unsur masyarakat.
Orientasi layanan ini akan menjadi sulit ketika sekolah berubah menjadi lembaga bernuansa bisnis, fokus pada untung rugi semata dan dikelola secara serampangan oleh orang yang tidak memahami hakekat pendidikan. Sekolah harus lepas dari semua yang berbau kapitalisme bisnis,, namun tetap menerapkan manajemen efektif dan efisien sehingga dapat tetap mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dalam memberikan jasa layanan pendidikan.

Hal Yang Harus Dipersiapkan

Untuk melaksanakan layanan pendidikan terhadap anak berbakat istimewa, sekolah memang juga tidak semestinya berbuat serampangan, asal jadi dan sekedar mencari sensasi, apalagi untung rugi. Kalau itu yang terjadi maka bukan hanya akan rugi sendiri, merugikan masyarakat, dan yang lebih membahayakan adalah lahirnya siswa anak bangsa dari salah asuh. Dampaknya tidak hanya sekedar individu, namuan juga jiwa bangsa itu sendiri.
Untuk itu maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh sekolah yang akan melaksanakan layanan terhadap siswa bakat istimewa, diantaranya :

  1. Standarisasi siswa berbakat istimewa masih belum ada yang baku sehingga dikhawatirkan apabila guru yang melakukan seleksi tidak memahami perbedaan antara siswa berbakat dan berbakat istimewa, maka input program keberbakatan akan menjadi bias. Berbeda dengan layanan cerdas istimewa, walaupun masih menjadi perdebatan, namun alat ukur yang secara umum diterima adalah psikotest dengan standar IQ,TC dan EQ yang telah ditetapkan pula.
  2. Bentuk layanan yang akan dilaksanakan, apakah berbentuk sekolah bakat istimewa, kelas bakat istimewa atau bentuk inklusi. Sekolah khusus bakat akan sulit dilaksanakan oleh sekolah yang telah mapan menjadi sekolah umum. Sekolah umum akan lebih mudah melakukannya dalam bentuk kelas khusus, yaitu melakukan pengelompokan siswa bakat istimewa dari siswa lainnya untuk menerima materi keberbakatan lebih banyak ketimbang pelajaran lainnya. Atau siswa akan tetap belajar bersama dengan siswa lainnya namun di jam tertentu mereka akan dipisah untuk menerima materi keberbakatan yang lebih intensif.
  3. Sumber daya manusia pelaksana, guru pada umumnya belum dipersiapkan untuk menjadi pelatih profesional. Guru dipersiapkan dengan materi baku dan standar umum yang terangkum pada kurikulum nasional. Dimana materi lebih menekankan pada keterampilan dasar saja, sehingga sekolah belum dapat secara maksimal mencetak atlet, seniman dan produk yang menggambarkan kemampuan siswa itu sendiri. Namun hal tersebut bisa disiasati dengan melakukan kerjasama dengan lembaga pendidikan non formal yang ada disekitar sekolah misalnya, sanggar seni, klub olah raga atau seniman lokal.
  4. Sarana prasarana pendukung, berbicara fasilitas berarti bicara anggaran yang cukup besar. Padahal sarana untuk siswa berbakat istimewa tidak hanya terbatas pada kelas dan segala alat pendukungnya, namun juga sarana keberbakatan itu sendiri, seperti sanggar, aula, alat musik, alat seni lainnya dan tenaga pengajar. Sementara dipihak lain, lembaga pendidikan non formal akan sulit melakukan kerjasama apabila hal tersebut akan merebut pasar mereka sebagai sanggar atau klub. Karena yang dilayani ini bukan siswa biasa, maka memang keberadaan sarana prasaran menjadi sesuatu yang mutlak. Anggapan ”memanfaatkan apa yang ada” hanya akan menjadi kendala perkembangan bakat mereka. ”memanfaatkan apa yang ada” mungkin bisa dilaksanakan pada siswa reguler atau kelas dengan bakat rata-rata, namun untuk siswa bakat istimewa hal tersebut tidak bisa dilakukan.
  5. Kurikulum, materi untuk kelas bakat istimewa. Masih menjadi perdebatan pada saat workshop layanan bakat istimewa tingkat nasional yang diselenggarakan di Jogja tanggal 10-13 Maret 2009 yang lalu, apakah muatan keberbakatannya itu harus 100% dengan menyerahkan aspek lainnya di luar jam sekolah atau dengan komposisi 70% materi keberbakatan dan 30% materi umum. Perbedaan komposisi ini akan otomatis merubah kurikulum yang telah ada sekarang ini. Dengan adanya KTSP, maka peluang sekolah dan guru untuk melakukan penyesuaian kurikulum bukan lagi masalah.

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Manusia itu tidak pernah lepas dengan suatu fenomena yang bermasalah. Masalah bisa timbul dari suatu yang tiba-tiba sangat menyenangkan bahkan yang menyedihkan. Seperti fenomena yang ada mulai zaman dulu hingga saat ini, manusia itu butuh seseorang untuk bisa diajak curhat atau membantu mencari jalan keluar dari masalah itu. Hal inilah yang sering disebut dengan konseling. Konseling sendiri menurut ahli yaitu salah satu upaya untuk membantu mengatasi konflik, hambatan dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan kita sekaligus untuk sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan mental.

Dalam pembahasan psikologi konseling telah dikenal adanya konseling Rasional Emotif Behavior yang biasa disingkat dengan Konseling REB. Teori ini telah dikembangkan pada tahun 1955 oleh Albert Ellis. Teori ini dikembangkan berdasarkan hasil pengamatannya bahwa banyak anak yang tidak mencapai kemajuan karena dia tidak memiliki pemahaman yang tepat dalam hubungannya dengan peristiwa-peristiwa yang dialami. Ellis berpendapat bahwa REB merupakan terapi yang sangat komprehensif, yang menangani masalah-masalah yang berhubungan emosi, kognisi, dan perilaku.

Terapi REB memiliki banyak sebutan yang bermacam-macam diantaranya yaitu Rational Therapy, Rational Emotive Therapy, Semantic Therapy, Cognitive Behavior Therapy dan Rational Emotiv Behavior Therapy.

Dalam pembahasan makalah kami ini akan khusus mengupas tentang terapi Rational Emotiv Behavioral. Terapi REB dianggap sangat penting untuk diketahui dan difahami oleh mahasiswa untuk berpikir tentang sejumlah masalah dasar yang mendasari konseling dan psikoterapi. Oleh karenanya, jangan berhenti sampai disini membaca makalah kami karena sesungguhnya isi pembahasan yang lebih jelas mengenai terapi ini ada di Bab II Pembahasan.

I.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana teori kepribadian menurut REBT?
  2. Apa yang disebut prilaku bermasalah menurut REBT?
  3. Apa karakteristik dan keyakinan yang irrasional?
  4. Bagaimana hakikat manusia menurut menurut REBT?
  5. Apa tujuan konseling menurut REBT?
  6. Bagaimana tahapan konseling menurut REBT?
  7. Bagaimana peranan Konselor dalam REBT?
  8. Bagaimana Aplikasi konseling dalam REBT?

I.3 Tujuan

  1. Untuk mengetahui teori kepribadian menurut REBT?
  2. Untuk memahami prilaku bermasalah menurut REBT?
  3. Untuk memahami karakteristik dan keyakinan yang irrasional?
  4. Untuk mengetahui hakikat manusia menurut menurut REBT?
  5. Untuk memahami tujuan konseling menurut REBT?
  6. Untuk mengetahui tahapan konseling menurut REBT?
  7. Untuk mengetahui peranan Konselor dalam REBT?
  8. Untuk memahami Aplikasi konseling dalam REBT?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Teori Kepribadian

Emosi adalah produk pemikiran manusia. Jika kita berpikir buruk tentang sesuatu, maka kita pun akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk. Ellis (1967 hlm 82) menyatakan bahwa gangguan emosi pada dasarnya terdiri atas kalimat atau arti-arti yang keliru, tidak logis dan tidak bisa disahihkan, yang diyakini secara dogmatis dan tanpa kritik, dan terhadapnya, orang yang terganggu beremosi atau bertindak sampai ia sendiri kalah. Menurut Ellis (1994) ada tiga hal yang terkait dengan perilaku yaitu:

a. Antecedent event (A) yaitu peristiwa pendahulu yang berupa fakta, peristiwa, perilaku atau sikap orang lain. Prinsipnya segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.

b. Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam: keyakinan rasinoal (rB) dan keyakinan irrasional (iB). Keyakinan yang rasional adalah cara berpikir atau sistem keyakinan yang tepat dan masuk akal, bijaksana. Keyakinan yang irrasional yaitu keyakinan atau sistem berpikir seseorang yang salah, yang tidak masuk akal, emosional.

c. Emotional Consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan (A).

d. Disputing (D) yaitu penerapan metode ilmiah untuk membantu para klien menantang keyakinan-keyakinan yang irrasional yang telah megakibatkan gangguan emosi dan tingkah laku.

Menurut Ellis orang yang berkeyakinan rasional akan mereaksi peristiwa-peristiwa yang dihadapi kemungkinan mampu melakukan sesuatu secara realistik (Hansen dkk, 1977). Jika individu berpikir atau berkeyakinan irrasional maka dalam menghadapi masalah ia akan mengalami hambatan emosional. Hambatan emosional itu bisa berupa neurotik atau psikotik, cemas, dll. Penyembuhannya kita harus menghentikan penyalahan diri dan penyalahan terhadap orang lain yang ada pada orang tersebut. Orang perlu belajar untuk menerima dirinya sendiri dengan segala kekurangannya. Kecemasan bersumber pada pengulangan internal dari putusan dan kalimat menyalahkan diri. Sistem keyakinan pada dasarnya diperoleh individu sejak kecil dari orang tua, masyarakat atau lingkungan dimana anak hidup. Menurut pendapat Ellis bahwa sebab-sebab individu tidak mampu berpikir rasional karena hal-hal berikut (nelson-Jones, 1980) :

1. Anak tidak berpikir secara jelas tentang yang ada saat ini dan yang akan datang, antara kenyataan dan imajinasi.

2.  Anak tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain.

3. Orang tua dan masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irrasional dan diajarkan kepada anak melalui berbagai media.

Ellis (1973a, hlm.179-180) mngemukakan bahwa karena manusia memiliki kesanggupan untuk berpikir, maka manusia mampu melatih dirinya untuk mengubah dan menghapus keyakinan yang menyabotase diri sendiri.

2.2 Perilaku Bermasalah

Menurut pandangan REBT perilaku yang  bermasalah adalah perilaku yang didasarkan pada cara berfikir yang irrasional. Indikator perilaku bermasalah secara universal menurut Albert Ellis (1994) yaitu:

  1. Pandangan bahwa suatu keharusan bagi orang dewasa untuk dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. Padahal seharusnya mereka menghargai diri sendiri, memenangkan tujuan-tujuan praktis dan mencintai dari pada menjadi obyek yang dicintai
  2. Pandangan bahwa tindakan tertentu adalah mengerikan dan jahat, dan orang yang melakukan tindakan sangat terkutuk. Seharusnya berpandangan bahwa tindakan tertentu adalah kegagalan diri atau antisocial, dan orang yang melakukan tindakan demikian adalah melakukan kebodohan, ketidaktahuan, atau neurotik, dan akan lebih baik jika ditolong untuk berubah. Orang yang berperilaku malang tidak membuat mereka menjadi individu yang buruk.
  3. Pandangan bahwa hal yang mengerikan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri kita. Seharusnya berpandangan bahwa kita menjadi lebih baik untuk mengubah atau mengendalikan kondisi yang buruk, juga bahwa mereka menjadi lebih memuaskan dan jika hal itu tidak mungkin untuk sementara menerima dan secara baik-baik mengubah keberadaannya.
  4. Pandangan bahwa kesengsaraan (segala masalah) manusia selalu disebabkan oleh faktor eksternal dan kesengsaraan itu menimpa kita melalui orang lain atau peristiwa. Seharusnya berpandangan bahwa neurosis itu sebagian besar disebabkan oleh pandangan bahwa kita mendapat kondisi yang sial.
  5. Pandangan bahwa jika sesuatu itu dapat berbahaya atau menakutkan, kita terganggu dan tidak akan berakhir dalam memikirkannya. Seharusnya berpandangan bahwa seseorang akan lebih baih menghadapinya secara langsung dan mengubahnya tidak berbahaya dan jika tidak memungkinkan, diterima sebagai hal yang tidak dapat dihindari.
  6. Pandangan bahwa kita lebih menghindari berbagai kesulitan hidup dabn tanggung jawab dari pada berusaha untuk menghadapinya. Seharusnya berpandangan bahwa kemudahan itu biasanya banyak kesulitan dikemudian hari.
  7. Pandangan bahwa kita seharusnya kompeten, inteligen dan mencapai dalam semua kemungkinan yang menjadi perhatian kita. Seharusnya pandangan itu adalah kita bekerja lebih baik dari pada selalu membutuhkan unutk bekerja secara baik dan menerima diri sendiri  sebagai mahluk yang tidak benar-benar sempurna, yang memiliki keterbatasan umumnya dan kesalahan.
  8. Pandngan bahwa kita secara absolute membutuhkan sesuatu dari orang lain atau orang asing yang lebih besar dari pada diri sendiri sebagai sandaran. Seharusnya pandangan itu adalah bahwa lebih baik untuk menerima resiko berpikir dan bertindak kurang bargantung.
  9. Pandangan bahwa karena segala sesuatu kejadian sangat kuat pengaruhnya terhadap kehidupan kita, hal itu akan mempengaruhi dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Seharusnya pandangan itu adalah kita dapat belajar dari pengalaman masa lalu kita tetapi tidak terlalu mengikuti atau berprasangka terhadap pengalaman-pengalaman masa lalu itu.

10.  Pandangan bhawa kita sebenarnya tidak mengendalikan emosi kita dan bahwa kita tidak dapat memabntu perasaan yang mengganggu pikiran. Seharusnya pandangan itu adalah bahwa kita harus mengendalikan secara nyata atas perasaan yang merusak kita jika kita memilih untuk bekerja untuk mengubah anggapan yang fantastis.

11.  Pandangan bahwa kita harus memiliki kepastian dan pengendalian yang sempurna atas sesuatu hal. Seharusnya pandangan itu adalah bhwa dunia ini penuh dengan probabilitas (serba mungkin) dan berubah dan bahwa kita dapat hidup nikmat sekalipun demikian keadaannya.

12.  Pandangan bahwa kebahagiaan manusia dapat dicapai dengan santai dan tanpa berbuat. Seharusnya berpandangan bahwa kita dapat menuju kebahagiaan jika kita sangat tertarik dalam hal melakukan kreativitas, atau jika kita mencurahkan perhatian diri kita pada orang lain atau melakukan sesuatu di luar diri kitab sendiri.

Menurut pandangan Ellis, keyakinan yang rasional berakibat pada prilaku dan reaksi individu yang tepat sedangkan keyakinan yang irrasonal berakibat pada reaksi emosional dan perilaku yang salah.

2.3 Karakteristik dan keyakinan yang irasional

Menurut Nelson (1982) karakteristik berfikir yang irrasional dapat dijumpai sebagai berikut :

  • Ø Terlalu Menuntut

Tuntutan, perintah, komando dan permintaan yang berlebihan oleh REBT dibedakan dengan hasrat, pikiran, dan keinginan. Hambatan emosional terjadi ketika individu menuntut “harus” terpuaskan dan bukan “ingin” terpuaskan. Tuntutan ini berasal dari dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan sekitarnya. Menurut Ellis, kata “harus” merupakan cara berfikir absolut tanpa ada toleransi dan tuntutan semacam ini akan membuat individu mengalami hambatan sosial.

  • Ø Generalisasi Secara Berlebihan

Overgeneralization berarti individu menganggap sebuah peristiwa atau keadaan di luar batas-batas yang wajar. Contohnya : “saya orang paling pintar sedunia”, pernyataan tersebut merupakan overgeneralization karena pada kenyataannya dia bukan orang yang paling pintar sedunia.

  • Ø Penilaian Diri

Pada dasarnya individu dapat memiliki sifat-sifat yang menguntungkan dan tidak menguntungkan  namun yang terpenting adalah dia dapat belajar untuk menerima dirinya tanpa syarat (unconditioning self-regard). Individu dikatakan irrasional apabila individu selalu menilai harga dirinya (self-rating). Dalam hal ini individu sebaiknya menerima dirinya sendiri (self-acceptance) dan tidak melakukan penilaian terhadap dirinya (self-evaluation). Karena apabila individu selalu menilai dirinya sendiri akan berakibat negatif, karena hal seperti ini dapat membuang waktu dengan percuma, cenderung tidak konsisten dan selalu menuntut kesempurnaan.

  • Ø Penekanan

Penekanan atau awfulizing sama halnya dengan tuntutan namun dalam awfulizing ini tuntutan atau harapan itu mengarah ada upaya peningkatan secara emosional dicampur dengan kemampuan untuk problem solving yang rasional. Penekanan ini akan mempengaruhi individu dalam memandang actecedent event secara tepat dan karena itu digolongkan sebagai cara berfikir yang irrasional.

  • Ø Kesalahan Atribusi

Attribution error adalah kesalahan dalam menetapkan sebab dan motivasi perilaku baik yang dilakukan sendiri, orang lain atau peristiwa. Kesalahan atribusi ini sama halnya dengan alasan palsu diri seseorang atau orang lain dan menimbulkan hambatan sosial.

  • Ø Anti pada Kenyataan

Anti-empiricism terjadi karena tidak bisa menunjukkan fakta empiris secara tepat. Orang yang berkeyakinan irrasional, pertama kali cenderung kuat untuk memaksa keyakinan yang irrasional dan menggugurkan sendiri gagasannya yang sebenarnya rasional.

  • Ø Repetisi

Keyakinan yang irrasional cenderung terjadi berulang-ulang. Menurut Ellis, seseorang cenderung mengajarkan dirinya sendiri dengan pandangan yang menghambat dirinya.

2.4 Hakikat manusia

Secara umum ada dua prinsip yang mendominasi manusia, yaitu pikiran dan perasaan. REBT beranggapan bahwa setiap manusia yang normal memiliki pikiran, perasaan dan perilaku yang saling mempengaruhi. Dalam memandang hakikat manusia REBT memiliki sejumlah asumsi tentang kebahagiaan dan ketidakbahagiaan dalam hubungannya dengan dinamika pikiran dan perasaan (Ellis 1994). Asumsi tentang hakikat manusia adalah sebagai berikut :

  • Pada dasarnya individu itu unik, uang memiliki kecenderungan untuk berfikir rasional dan irrasional. Ketika berfikir dan berperilaku rasional, dia efektif, bahagia dan kmpeten. Namun ketika dia berfikir dan berperilaku yang irrasional dia tidak efektif.
  • Reaksi “emosional” seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari oleh individu.
  • Hambatan psikologi atau emosional adalah akibat dari cara berfikir yang tidak logis dan irrasional. Emosi menyertai individu yang berfikir dengan penuh prasangka, sangan personal dan irrasional.
  • Berfikir secara irrasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan lingkungan sekitar. Dalam proses pertumbuhannya, akan terus berfikir dan merasakan denagn pasti tentang dirinya dan tentang yang lain. “ini adalah baik” dan “yang itu adalah jelek”. Pandangan seperti ini akan terus membentuk cara pandangan selanjutnya.
  • Berfikir secara irrasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berfikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berfikir yang tepat. Dalam kaitannya dengan hal ini, tujuan konseling adalah (1) menunjukkan pada klien bahwa verbalisasi diri telah menjadi sumber hambatan emosional. (2) membenarkan bahwa verbalisasi diri adalah tidak logis dan irrasional. (3) meluruskan cara berfikir dengan verbalisasi diri yang lebih logis dan efisien dan tidak berhubungan dengan emosi negatif dan perilaku penolakan diri (self-defeating).
  • Perasaan, berfikir negatif dan penolakan diri harus dilawan denagn cara berfikir yang logias dan rasional yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.

2.5 Tujuan Konseling

Tujuan koseling dalam konstek teori kepribadian, konseling merupakan efek (E) yang diharapkan terjadi setelah dilakukan intervensi oleh konselor atau (desputing)/ D. karena itu teori REBT tentang kepribadian dalam fprmula A-B-C dilengka[I oleh Ellis sebagai teori konselng yaitu menjadi A-B-C-D (antecendent event, belief, emotional consequenceal, desputing, dan effect). Efek yang dimaksud adalah  keadaan psikologis yang diharapkan terjadi pada klien setelah mengikuti proses konseling.

Menurut Ellis, tujuan konseling pada dasarnya membentuk pribadi yang rasional dengan jalan mengganti cara-cara berpikir yang irasional. ellis mengemukakan pengertian cara berpikir rasional mencakup meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri (self defieting) dan mencapai kehidupan yang realistic, falsafah hidup yang toleran, termasuk didalamnya dapat mengarahkan diri, menghargai diri, fleksibel, berpikir secara ilmiah, dan menerima diri.

Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai dalam REBT, yaitu:

  1. pemahaman insight
  2. pemahaman terjadi ketika konsellor atau terapis membantu klien untuk memahami bahwa apa yang mengganggu klien pada saat itu adalah keyakinan yang irasional.
  3. pemahaman dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ke tiga, yaitu tidak ada cara lain kecuali melawan keyakinan yang irasional.

2.6 Tahapan Konseling

Menurut George dan Cristiani, tahap-tahap konseling REBT sebagai berikut:

  1. proses untuk mneunjukakann kepada klien bahwa dirinya tidak tidak logis.
  2. membantu klien meyakini bahwa berpikir da[pat ditantang dan diubah
  3. memebantu klien lebih mnedebatkan (disputing) gangguan yang tidak tepatatai irasional yang dipertahankan selama ini menuju cara berpikir yang lebih rasional dengan cara reinduktrinasi yang rasional termasuk bersikap secara rasional.

2.7 Peranan Konselor

Konselor REBT diharapkan dapat memberikan penghargaan positif tanpa syarat kepada klien atau yang disebutnya dengan Unconditional Self-Acceptance (USA) yaitu penerimaan diri tanpa syarat, bukan dengan syarat (conditioning regard). Penggunaan USA (penghargaan positif tanpa tanpa syarat  kepada klien) dalam

konseling, menurut Ellis akan membantu klien untuk menerima dirinya secara penuh, dan akhirnya akan meningkatkan high frustration tolerance (HFT). Orang yang selalu melakukan penilaian terhadap dirinya (self-rating) akan menimbulkan masalah besar bagi dirinya sendiri.

Untuk mencapai tujuan konseling, yaitu memberikan efek psikologis yang diharapkan terjadi pada klien setelah mengikuti proses konseling, konselor rational emotive behavioral therapy memiliki peran yang sangat penting. Menurut REBT adanya peran para konselor diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Konselor lebih edukatif-direktif kepada klien yaitu dengan banyak memberikan cerita dan penjelasan, khususnya pada tahap awal
  2. Mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung
  3. Menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri
  4. Dengan gigih dan berulang-ulang dalam menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien
  5. Mengkondisikan klien afgar menggunakan kemampuan rasional (rational power) daripada menggunakan emosinya
  6. Menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis
  7. Menggunakan humor dan “menggojlok” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irrasional.

2.8 Aplikasi Konseling

Rational Emotive Behavioral Therapy dapat diterapkan dalam berbagai jenis konseling, termasuk didalamnya konseling individual, konseling kelompok encounter marathon, terapi singkat, terapi keluarga, terapi seks, dan situasi kelas.

Terapi Rational Emotive Behavioral sangat cocok diberikan kepada klien yang mengalami gangguan kecemasan pada tingkat moderat, seperti, gangguan neurotik, gangguan karakter, problem psikosomatik, gangguan makan, ketidakmampuan dalam hal interpersonal, problem perkawinan, ketrampilan dalam pengasuhan, adiksi, dan disfungsi seksual. Semua itu dapat ditangani oleh Rational Emotive Behavior Therapy dengan catatan tidak terlalu serius tingkat gangguannya.

Sejalan dengan pandangannya, REBT ini menggunakan pendekatan yang komprehensif dan integrative, yang mencakup: penggunaan emotif, kognitif, dan behavioral. Ketiga aspek inilah yang hendak di ubah melalui Rational Emotive Behavior Therapy.

Adapun beberapa macam gangguan yang tidak dapat diberikan oleh REBT diantaranya adalah (Ellis, 1991) :

  1. Anak-anak, khususnya yang mengalami autisme
  2. Gangguan mental grade bawah
  3. Schyzophrenia jenis katatonik atau gangguan penarikan diri yang berat
  4. Mania depresif.

DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. 2009. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama

Latipun. 2008. Psikologi Konseling. Malang: UMM Press

BAB I :  PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar. Pembelajaran sebagai proses. merupakan pengembangan sistematis tentang spesifikasi pembelajaran dengan menggunakan teori pembelajaran dan teori belajar untuk menjamin mutu pembelajaran. Pembelajaran merupakan proses keseluruhan tentang kebutuhan dan tujuan belajar serta sistem penyampaiannya. Termasuk di dalamnya adalah pengembangan bahan dan kegiatan pembelajaran, uji coba dan penilaian bahan, serta pelaksanaan kegiatan pembelajarannya.

Bell (1978) dalam Fajar Shadiq (2007) berikut ini: “Understanding of theories about how people learn and the ability to apply these theories in teaching mathematics are important prerequisites for effective mathematics teaching.” Apa yang dikemukakan Bel di atas, menunjukkan kepada para guru akan pentingnya pemahaman teori-teori yang berkait dengan bagaimana para siswa belajar dan bagaimana mengaplikasikan teori tersebut di kelasnya masing-masing. Robert M. Gagne yang lahir pada tahun 1916 adalah seorang ahli psikolog pendidikan yang telah mengembangkan suatu pendekatan perilaku yang elektik mengenai psikologi. Salah satunya adalah teori pembelajaran yang didasarkan pada model pemrosesan informasi. Dalam memahami belajar, Gagne tidak memperhatikan apakah prosesn belajar tadi terjadi melalaui penemuan (discovery) atau proses penerimaan (reception) sebagaimana diperkenalkan oleh Bruner dan Ausubel. Menurutnya yang terpenting adalah kualitas, penetapan (daya simpan) dan kegunaan belajar. Dalam rangka proses pembelajaran guru dapat menyusun program guru dapat menyusun program pembelajaran yang cocok dengan tahap dan fase pembelajaran. Teori belajar menurut menurut Gagne, lebih menitikberatkan pada operasionalisasi konsep belajar kumulatif dan memberikan mekanisme untuk merancang pembelajaran dan sederhana ke kompleks.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana konsep belajar menurut Gagne?
  2. Apa fase-fase belajar menurut konsep Gagne?
  3. Bagaiamana tipe-tipe Belajar Gagne?
  4. Apa hasil belajar menurut Gagne?
  5. Bagaimana model pembelajaran menurut konsep Gagne?

1.3 Tujuan Perumusan Masalah

  1. Untuk mengetahui konsep belajar Gagne.
  2. Untuk mengetahui fase-fase belajar Gagne.
  3. Untuk mengetahui tipe-tipe belajar menurut konsep Gagne.
  4. Untuk mengetahui hasil belajar teori Gagne.
  5. Untuk mengetahui model pembelajaran menurut Gagne.

BAB II : PEMBAHASAN

2.1 Konsep Belajar Gagne

Robert Gagne lahir tahun 1916 di North Andover, MA. Beliau mendapatkan gelar A.B. pada Yale tahun 1937 dan pada tahun 1940 mendapat gelar Ph.D. dalam Psychology dari Universitas Brown. Mengajar pada ConnecticutCollege for Women dari 1940-49 dan kemudian pada PennStateUniversity dari 1945-1946. Antara 1949-1958, Gagne menjadi direktur “perceptual and motor skills laborartory” dari U.S. Air force. Pada saat itu dia mulai mengembangkan beberapa idenya yaitu teori belajar yang disebut “The Conditions of Learning“. Pada 25 tahun terakhir beliau adalah professor pada Department of Education Research at Florida State University di Tallahassee.

Ada beberapa hal yang melandasi pandangan Gagne tentang belajar. menurutnya belajar bukan merupakan proses tunggal melainkan proses luas yang dibentuk oleh pertumbuhan dan perkembangan tingkah laku, dimana tingkah laku itu merupakan proses kumulatif dari belajar. Artinya banyak keterampilan yang dipelajari memberikan sumbangan bagi belajar keterampilan yang lebih rumit.
Dalam Ade Rusliana (2007), Gagne (1972) mendefinisikan belajar adalah mekanisme dimana seseorang menjadi anggota masyarakat yang berfungsi secara kompleks. Kompetensi itu meliputi skill, pengetahuan, attitude (perilaku), dan nilai-nilai yang diperlukan oleh manusia, sehingga belajar adalah hasil dalam berbagai macam tingkah laku yang selanjutnya disebut kapasitas atau outcome. Menurut Gagne belajar memberi kontribusi terhadap adaptasi yang diperlukan untuk mengembangkan proses yang logis, sehingga perkembangan tingkah laku (behavior) adalah hasil dari efek belajar yang kumulatif (Gagne, 1968). Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa belajar itu bukan proses tunggal. Belajar menurut Gagne tidak dapat didefinisikan dengan mudah, karena belajar bersifat kompleks.
Hasil belajar merupakan kapabilitas. Setelah belajar, orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut berasal dari (1) stimulasi yang berasal dari lingkungan; dan (2) proses kognitif yang dilakukan siswa. Dengan demikian, belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi menjadi kapabilitas baru. Juga dikemukakan bahwa belajar merupakan faktor yang luas yang dibentuk oleh pertumbuhan, perkembangan tingkah laku merupakan hasil dari aspek kumulatif belajar.
Berdasarkan pandangan ini Gagne mendefinisikan pengertian belajar secara formal bahwa belajar adalah perubahan dalam disposisi atau kapabilitas manusia yang berlangsung selama satu masa waktu dan tidak semata-mata disebabkan oleh proses pertumbuhan. Perubahan itu berbentuk perubahan tingkah laku. Hal itu dapat diketahui dengan jalan membandingkan tingkah laku sebelum belajar dan tingkah laku yang diperoleh setelah belajar. Perubahan tingkah laku dapat berbentuk perubahan kapabilitas jenis kerja atau perubahan sikap, minat atau nilai. Perubahan itu harus dapat bertahan selama periode waktu dan dapat dibedakan dengan perubahan karena pertumbuhan, missal perubahan tinggi badan atau perkembangan otot dan lain-lain (Margaret G. Bell dalam Panen, Paulina dkk, 1999) sebagai hasil belajar yang dapat diamati.

2.2 Fase-fase Belajar Menurut Gagne

Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Gagne membagi proses belajar berlangsung dalam empat fase utama, yaitu:

  • Fase pengenalan (apprehending phase). Pada fase ini siswa memperhatikan stimulus tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami stimulus tersebut untuk kemudian ditafsirkan sendiri dengan berbagai cara. ini berarti bahwa belajar adalah suatu proses yang unik pada tiap siswa, dan sebagai akibatnya setiap siswa bertanggung jawab terhadap belajarnya karena cara yang unik yang dia terima pada situasi belajar.
  • Fase perolehan (acqusition phase). Pada fase ini siswa memperoleh pengetahuan baru  dengan menghubungkan informasi yang diterima dengan pengetahuan sebelumya. Dengan kata lain pada fase ini siswa membentuk asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama.
  • Fase penyimpanan (storage phase). Fase storage/retensi adalah fase penyimpanan informasi, ada informasi yang disimpan dalam jangka pendek ada yang dalam jangka panjang, melalui pengulangan informasi dalam memori jangka pendek dapat dipindahkan ke memori jangka panjang.
  • Fase pemanggilan (retrieval phase). Fase Retrieval/Recall, adalah fase mengingat kembali atau memanggil kembali informasi yang ada dalam memori. Kadang-kadang dapat saja informasi itu hilang dalam memori atau kehilangan hubungan dengan memori jangka panjang. Untuk lebih daya ingat maka perlu informasi yang baru dan yang lama disusun secara terorganisasi, diatur dengan baik atas pengelompokan-pengelompokan menjadi katagori, konsep sehingga lebih mudah dipanggil.

Keempat fase belajar manusia ini telah disatukan menyerupai model sistem komputer, meskipun sedikit lebih kompleks daripada yang ada pada manusia. komputer menangkap rangsangan listrik dari pengguna komputer, memperoleh stimulus dalam central processing unit, menyimpan informasi dalam stimulus pada salah satu bagian memori, dan mendapatkan  kembali informasi pada penyimpanannya. jika siswa mempelajari prosedur menentukan nilai pendekatan akar kuadrat dari bilangan yang bukan kuadrat sempurna, mereka harus memahami metode, memperoleh metode, menyimpan di dalam memori, dan memanggil kembali ketika dibutuhkan. untuk membantu siswa melangkah maju melalui empat tahap dalam mempelajari algoritma akar kuadrat, guru menimbulkan pemahaman dengan mengerjakan suatu contoh pada papan tulis, memudahkan akusisi setelah setiap siswa mengerjakan contoh dengan mengikutinya, langkah demi langkah, daftar petunjuk, membantu penyimpanan dengan memberikan soal-soal untuk pekerjaan rumah, dan memunculkan pemanggilan kembali dengan memberikan kuis   pada hari berikutnya.

Kemudian ada fase-fase lain yang dianggap tidak utama, yaitu :

«  Fase motivasi sebelum pelajaran dimulai guru memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar.

«  Fase generalisasi adalah fase transer informasi pada situasi-situasi baru, agar lebih meningkatkan daya ingat, siswa dapat diminta mengaplikasikan sesuatu dengan informasi baru tersebut.

«  Fase penampilan adalah fase dimana siswa harus memperlihatkan sesuatu penampilan yang nampak setelah mempelajari sesuatu.

«  fase umpan balik, siswa harus diberikan umpan balik dari apa yang telah ditampilkan (reinforcement).

2.3 Tipe-tipe Belajar Gagne

Robert M. Gagne membedakan pola-pola belajar siswa ke delapan tipe belajar, dengan tipe belajar yang rendah merupakan prasyarat bagi lainnya yang lebih tinggi hierarkinya. Hal tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

  • Belajar Isyarat (Signal Learning)

Signal learning dapat diartikan sebagai proses penguasaan pola-pola dasar perilaku bersifat tidak disengaja dan tidak disadari tujuannya. Dalam tipe ini terlibat aspek reaksi emosional di dalamnya. Kondisi yang diperlukan buat berlangsungnya tipe belajar ini adalah diberikannya stimulus (signal) secara serempak, stimulus-stimulus tertentu secara berulang kali. Respon yang timbul bersifat umum dan emosional, selainnya timbulnya dengan tak sengaja dan tidak dapat dikuasai. Beberapa ucapan kasar untuk mempermalukan, siswa yang gelisah pada saat pelajaran matematika mungkin karena kondisi tidak suka matematika pada orang itu. Belajar isyarat sukar dikontrol oleh siswa dan dapat mempunyai pengalaman yang pantas dipertimbangkan pada tindakannya. konsekuensinya, seorang guru matematika, seharusnya mencoba membangkitkan stimulus yang tidak dikondisikan yang akan menimbulkan perasaan senang pada siswa dan berharap mereka akan mengasosiasikan beberapa perasaan senang dengan isyarat netral pada pelajaran matematika. Apabila perlakuan yang disenangi membangkitkan hal-hal positif, stimulus yang tidak diharapkan mungkin gagal menimbulkan asosiasi keinginan positif dengan isyarat netral, kecerobohan menimbulkan stimulus negatif, pada satu waktu akan merusak keinginan siswa untuk mempelajari pelajaran yang diajarkan.

  • Belajar Stimulus-Respons (Stimulus-Respon Learning)

Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah faktor penguatan (reinforcement). Waktu antara stimulus pertama dan berikutnya amat penting. Makin singkat jarak S-R dengan S-R berikutnya, semakin kuat penguatannya. Kemampuan tidak diperoleh dengan tiba-tiba, akan tetapi melalui latihan-latihan. Respon dapat diatur dan dikuasai. Respon bersifat spesifik, tidak umum, dan kabur. Respon diperkuat dengan adanya imbalan atau reward. Sering gerakan motoris merupakan komponen penting dalam respon itu.

  • Rantai atau Rangkaian hal (Chaining)

Tipe belajar ini masih mengandung asosiasi yang kebanyakan berkaitan dengan keterampilan motorik. Chaining ini terjadi bila terbentuk hubungan antara beberapa S-R, oleh sebab yang satu terjadi segera setelah yang satu lagi, jadi berdasarkan ”contiguity”. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe balajar ini antara lain, secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlah satuan satuan pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal. Selain itu prinsip kesinambungan, pengulangan, dan reinforcement tetap penting bagi berlangsungnya proses chaining. Kebanyakan aktivitas dalam matematika memerlukan manipulasi dari peralatan fisik seperti mistar, jangka, dan model geometri membutuhkan chaining. Belajar membuat garis bagi suatu sudut dengan menggunakan jangka membutuhkan penerapan keterampilan tipe stimulus respn yang telah dipelajari sebelumnya. Diantaranya kemampuan menggunakan jangka untuk menarik busur dan membuat garis lurus antara dua titik. Ada dua karakteristik dari belajar stimulus respon dan belajar rangkaian dalam pengajaran Matematika yaitu siswa tidak dapat menyempurnakan rangkaian stimulus respon apabila tidak menguasai salah satu keterampilan dari rangkaian tersebut, dan belajar stimulus respon dan rangkaian diafasilitasi dengan cara memberikan penguatan bagi tingkah laku yang diinginkan. Meskipun memberi hukuman dapat digunakan untuk meningkatkan belajar stimulus respon, tetapi hal tersebut dapat berakibat negatif  terhadap emosi, sikap, dan motivasi belajar.

  • Asosiasi Verbal (Verbal Association)

Asosiasi verbal adalah rangkaian dari stimulus verbal yang merupakan hubungan dari dua atau lebih tindakan stimulus respon verbal yang telah dipelajari sebelumnya. Tipe paling sederhana dari belajar rangkaian verbal adalah asosiasi antara suatu objek dengan namanya yang melibatkan belajar rangkaian stimulus respon dari tampilan objek dengan karakteristiknya dan stimulus respon dari pengamatan terhadap suatu objek dan memberikan tanggapan dengan menyebutkan namanya. Asosiasi verbal melibatkan proses mental yang sangat kompleks. Asosiasi verbal yang memerlukan penggunaan rangkaian mental intervening yang berupa kode dalam bentuk verbal, auditory atau gambar visual. Kode ini biasanya terdapat dalam pikiran siswa dan bervariasi pada tiap siswa dan mengacu kepada penyimpanan kode-kode mental yang unik. Contoh seseorang mungkin menggunakan kode mental verbal ”y ditentukan oleh x” sebagai petunjuk kata fungsi, orang lain mungkin memberi kode fungsi dengan menggunakan simbol ”y=f(x)” dan orang yang lain lagi mungkin menggunakan visualisasi diagram panah dari dua himpunan.

  • Belajar Diskriminasi (Discrimination Learning)

Discrimination learning atau belajar menmbedakan sejumlah rangkaian, mengenal objek secara konseptual dan secara fisik. Dalam tipe ini anak didik mengadakan seleksi dan pengujian di antara dua peransang atau sejumlah stimulus yang diterimanya, kemudian memilih pola-pola respon yang dianggap sesuai. Kondisi utama bagi berlangsungnya proses belajar ini adalah anak didik sudah mempunyai kemahiran melakukan chaining dan association serta pengalaman (pola S-R). Contohnya: anak dapat membedakan manusia yang satu dengan yang lain; juga tanaman, binatang, dan lain-lain. Guru mengenal anak didik serta nama masing-masing karena mampu mengadakan diskriminasi di antara anak-anak. Terdapat dua macam diskriminasi yaitu diskriminasi tunggal dan diskriminasi ganda. Contoh mengenalkan angka 2 pada anak dengan memperlihatkan 50 angka 2 pada kertas dan menggambar angka 2. Melalui stimulus respon sederhana anak belajar mengenal (nama ”dua” untuk konsep dua). Sedangkan untuk diskriminasi ganda anak belajar mengenal angka 0, 1, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 dan membedakan angka-angka tersebut.

  • Belajar konsep (Concept Learning)

Belajar konsep adalah mengetahui sifat-sifat umum benda konkrit atau kejadian dan mengelompokan objek-objek atau kejadian-kejadian dalam satu kelompok. Dalam hal ini belajar konsep adalah lawan dari belajar dari diskriminasi. Belajar diskriminasi menuntut siswa untuk membedakan objek-objek karena dalam karakteristik yang berbeda sedangkan belajar konsep mengelompokkan objek-objek karena dalam karakteristik umum dan pembahasan kepada sifat-sifat umum. Dalam belajar konsep, tipe-tipe sederhana belajar dari prasyarat harus dilibatkan. Penambahan beberapa konsep yang spesifik harus diikutkan dengan prasyarat rangkaian stimulus respon, asosiasi verbal yag cocok, dan diskriminasi dari karakteristik yang berbeda .

Sebagai contoh, tahap pertama belajar konsep lingkaran mungkin belajar mengucapkan kata lingkaran sebagai suatu membangkitkan sendiri hubungan stimulus respon, sehingga siswa dapat mengulangi kata. Kemudian siswa belajar untuk mengenali beberapa objek berbeda sebagai lingkaran melalui belajar asosiasi verbal individu. Selanjutnya siswa mungkin belajar membedakan antara lingkaran dan objek lingkaran lain seperti dan lingkaran. Hal tersebut penting bagi siswa untuk menyatakan lingkaran dalam variasi yang luas. Situasi representatif sehingga mereka belajar untuk mengenal lingkaran. Ketika siswa secara spontan mengidentifikasi lingkaran dalam konteks yang lain, mereka telah memahami konsep lingkaran. Kemampuan membuat generalisasi konsep kedalam situasi yang baru merupakan Kemampuan yang membedakan belajar konsep dengan bentuk belajar lain. Ketika siswa telah mempelajari suatu konsep, siswa tidak membutuhkan waktu lama untuk mengidentifikasi dan memberikan respon terhadap hal baru dari suatu konsep, sebagai akibatnya cara untuk menunjukkan bahwa suatu konsep telah dipelajari adalah siswa dapat membuat generalisasi konsep kedalam situasi yang lain.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengajarkan suatu konsep baru kepada siswa:

1). Memberikan variasi hal-hal yang berbeda konsep untuk menfasilitasi generalisasi.

2). Memberikan contoh-contoh perbedaan dikaitkan dengan konsep untuk membantu diskriminasi.

3). Memberikan yang bukan contoh dari konsep untuk meningkatkan pemahaman diskriminasi dan generalisasi.

4).  Menghindari pemberian konsep yang mempunyai karakteristik umum.

  • Belajar Aturan (Rule Learning)

Belajar aturan (Rule learning) adalah kemampuan untuk merespon sejumlah situasi (stimulus) dengan beberapa tindakan (Respon).  Kebanyakan belajar matematika adalah belajar aturan. sebagai contoh, kita ketahui bahwa 5 x  6 = 6 x 5 dan bahwa 2 x 8 = 8 x 2; akan tetapi tanpa mengetahui bahwa aturannya dapat dinyatakan dengan a x b = b x a. Kebanyakan orang pertama belajar dan menggunakan aturan bahwa perkalian komutatif adalah tanpa dapat  menyatakan itu, dan biasanya tidak menyadari bahwa mereka tahu dan menerapkan aturan tersebut. Untuk membahas aturan ini, harus diberikan verbal(dengan kata-kata) atau    rumus seperti “ urutan dalam perkalian tidak memberikan jawaban yang berbeda” atau “untuk setiap bilangan a dan b, a x b = b x a. Aturan terdiri dari sekumpulan konsep. Aturan mungkin mempunyai tipe berbeda dan tingkat kesulitan yang berbeda. Beberapa aturan adalah definisi dan mungkin dianggap sebagai konsep terdeinisi.  konsep terdefinisi n! = n (n – 1) (n -2). . . (2)(1) adalah aturan yang menjelaskan  bagaimana mengerjakan n! Aturan-aturan  lain adalah rangkaian antar kosep yang terhubung, seperti aturan bahwa keberadaan sejumlah operasi aritmetika seharusnya dikerjakan dengan urutan x, :, +, – . Jika siswa sedang belajar aturan mereka harus mempelajari sebelumnya rangkaian konsep yang menyusun aturan tersebut. Kondisi-kondisi belajar aturan mulai  dengan merinci perilaku yang diinginkan  pada siswa. seorang siswa telah belajar aturan apabila dapat menerapkan aturan itu dengan tepat pada beberapa situasi yang berbeda. Robert Gagne memberikan 5 tahap dalam  mengajarkan aturan:

Tahap 1: menginformasikan pada siswa tentang bentuk perilaku yang diharapkan ketika belajar.

Tahap 2: bertanya ke siswa dengan cara yang memerlukan pemanggilan kembali  konsep yang telah dipelajari sebelumnya yang menyusun konsep.

Tahap 3: menggunakan pernyataan verbal (petunjuk) yang akan mengarahkan siswa menyatakan aturan sebagai rangkaian konsep dalam urutan yang tepat.

Tahap 4: dengan bantuan pertanyaan, meminta siswa untuk “mendemonstrasikan” satu contoh nyata dari aturan.

Tahap 5 (bersifat pilihan, tetapi berguna untuk pengajaran selanjutnya): dengan pertanyaan yang cocok, meminta siswa untuk membuat pernyataan verbal dari aturan.

  • Pemecahan Masalah (Problem solving)

Tipe belajar ini menurut Gagne merupakan tipe belajar yang paling kompleks, karena di dalamnya terkait tipe-tipe belajar yang lain, terutama penggunaan aturan-aturan yang disertai proses analisis dan penarikan kesimpulan. Pada tingkat ini siswa belajar merumuskan memecahkan masalah, memberikan respon terhadap ransangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematik. Tipe belajar ini memerlukan proses penalaran yang kadang-kadang memerlukan waktu yang lama, tetapi dengan tipe belajar ini kemampuan penalaran siswa dapat berkembang. Dengan demikian poses belajar yang tertinggi ini hanya mungkin dapat berlangsung apabila proses belajar fundamental lainnya telah dimiliki dan dikuasai. Kriteria suatu pemecahan masalah adalah siswa belum pernah sebelumnya menyelesaikan masalah khusus tersebut,walaupun mungkin telah dipecahkan sebelumnya oleh banyak orang. sebagai contoh  pemecahan masalah, siswa yang belum pernah sebelumnya belajar rumus kuadrat, menurunkan rumusnya untuk menentukan penyelesaian umum persamaan ax2 + bx + c = 0. Siswa akan memilih keterampilan melengkapkan kuadrat tiga suku dan menerapkan keterampilan dalam cara yang tepat untuk menurunkan rumus kuadrat, dengan melaksanakan petunjuk dari guru. Pemecahan masalah biasanya melibatkan lima tahap : (1). Menyatakan masalah dalam bentuk umum, (2). Menyatakan kembali masalah dalam suatu defenisi operasional, (3). Merumuskan hipotesis alternatif dan prosedur yang mungkin tepat untuk memecahkan masalah, (4). Menguji hipotesis dan melaksanakan prosedur untuk memperoleh solusi dan (5). Menentukan solusi yang tepat.

2.4 Hasil Belajar Menurut Gagne

Dalam mengajar, harus selalu sudah mengetahui tujuan-tujuan yang harus di capai dalam mengajarkan suatu pokok bahasan. Untuk itu kita merumuskan Tujuan Instruksional Khusus yang didasarkan pada Taksonomi Bloom tentang tujuan-tujuan perilaku (Bloom, 1956), yang meliputi tiga domain, yaitu domain kognitif, domain afektif, dan domain psikomotorik. Gagne mengemukakan lima macam hasil belajar, tiga diantaranya bersifat kognitif, satu bersifat afektif, dan satu lagi bersifat psikomotorik. Penampilan-penampilan yang dapat diamati sebagai hasil-hasil belajar disebut kemampuan-kemampuan (capabilities) (Gagne, 1988). Menurut Gagne ada lima kemampuan. Ditinjau dari segi hasil diharapkan dari suatu pengajaran atau instruksi, kemampuan-kemampuan itu memungkinkan berbagai macam penampilan manusia, dan juga karena kondisi untuk memperoleh berbagai kemapuan ini berbeda-beda. Kemampuan pertama disebut keterampilan intelektual, karena keterampilan itu merupakan penampilan yang ditunjukkan oleh siswa tentang operasi-operasi intelektual yang dapat di lakukannya. Kemampuan kedua meliputi penggunaan strategi kognitif, karena siswa perlu menunjukkan penampilan yang kompleks dalam suatu situasi baru, di mana diberikan sedikit bimbingan dalam memilih dan menerapkan aturan-aturan dan konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya. Nomor tiga berhubungan dengan sikap, atau mungkin sekumpulan sikap yang dapat ditunjukkan oleh perilaku yang mencerminkan pilihan tindakan terhadap kegiatan-kegiatan sains. Nomor empat dari hasil belajar Gagne ialah informasi verbal, dan yang terakhir keterampilan motorik. Perlu dikemukakan, bahwa menurut Gagne urutan antara kelima hasil belajar atau kemampuan-kemampuan ini tidak perlu dipermasalahkan. Untuk selanjutnya akan dibahas setiap hasil belajar ini, antara lain:

  1. Informasi Verbal. Informasi verbal adalah kemampuan siswa untuk memiliki keterampilan mengingat informasi verbal, ini dapat dicontohkan kemampuan siswa mengetahui benda-benda, huruf alphabet dan yang lainnya yang bersifat verbal.
  2. Keterampilan intelektual. Keterampilan intelektual merupakan penampilan yang ditunjukkan siswa tentang operasi-operasi intelektual yang dapat dilakukannya. Keterampilan intelektual memungkinkan seseorang berinteraksi dengan lingkungannya melalui penggunaan simbol-simbol atau gagasan-gagasan. Yang membedakan keterampilan intelektual pada bidang tertentu adalah terletak pada tingkat kompleksitasnya. Untuk memecahkan masalah siswa memerlukan aturan-aturan tingkat tinngi yaitu aturan-aturan yang kompleks yang berisi aturan-aturan dan konsep terdefinisi, untuk memperoleh aturan-aturan ini siswa sudah harus belajar beberapa konsep konkret, dan untuk belajar konsep konket ini siswa harus menguasai diskriminasi-diskriminasi.
  3. Strategi kognitif. Strategi kognitif merupakan suatu macam keterampilan intelektual khusus yang mempunyai kepentingan tertentu bagi belajar dan berpikir. Proses kontrol yang digunakan siswa untuk memilih dan mengubah cara-cara memberikan perhatian, belajar, mengingat dan berpikir. Beberapa strategi kogniti adalah strategi menghafal, strategi menghafal, strategi elaborasi, strategi pengaturan, strategi metakognitif, dan strategi afektif.
  4. Sikap-sikap. Merupakan pembawaan yang dapt dipelajari dan dapat mempengaruhi perilaku seseorang terhadap benda, kejadiaan atau makhluk hidup lannya. sekelompok siswa yang penting ialah sikap-sikap terhjadap orang lain. Bagaimana sikap-sikap sosial itu diperoleh setelah mendapat pembelajaran itu  menjadi hal yang penting dalam menerapkan metode dan materi pembelajaran.
  5. Keterampilan-keterampilan motorik. Ketarampilan motorik merupakan keterampilan kegiatan fisik dan penggambungan kaegiatan motorik dengan intelektual seabagai hasil belajar seperti  membaca, menulis, dan sebagai berikut.

2.5 Model Pembelajaran Menurut Gagne

Peristiwa pembelajaran adalah aktifitas-aktifitas belajar yang menurut Gagne perlu diterapkan sebagaimana dalam fase-fase belajar. Ada sembilan peristiwa belajar yang menjadi model pembelajaran untuk meningkatkan kualitas belajar. Dengan penerapan model ini diharapkan hasil belajar dapat ditingkatkan atau dipertahankan. Peritiwa pembelajaran diasumsikan sebagai cara-cara yang perlu diciptakan oleh guru dengan tujuan untuk mendukung proses-proses belajar (internal) di dalam diri siswa. Hakekat suatu peristiwa pembelajaran untuk setiap pembelajaran berbeda-beda, tergantung pada kapabilitas yang diharapkan atau harus dicapai sebagaimana hasil belajar. Kesembilan peristiwa pembelajaran yang ada pada setiap fase belajar dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Membangkitkan Perhatian (Gain attention).
Kegiatan paling awal dalam pembelajaran adalah menarik perhatian siswa agar siswa mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir pelajaran. Perhatian siswa dapat ditingkatkan dengan memberikan berbagai rangsangan sesuai dengan kognisi yang ada misalnya dengan perubahan gerak badan (berjalan, mendekati siswa, dll),perubahan suara, menggunakan berbagai media belajar yang dapat menarik perhatian siswa atau menyebutkan contoh-contoh yang ada di dalam dan di luar kelas, dan lain-lain.

2. Memberitahukan Tujuan Pembelajaran pada Siswa (Inform Lerners of Objectives).
Agar siswa mempunyai harapan dan tujuan selama belajar, maka pada siswa perlu dijelaskan apa saja yang akan dicapai selama pembelajaran dan jelaskan pula manfaat dari materi yang akan dipelajari dan tugas-tugas yang harus diselesaikan selama pembelajaran. Keuntungan menjelaskan tujuan adalah agar siswa dapat menjawab sendiri pertanyaan “apakah ia telah belajar?”, “apakah materi yang dipelajari telah dikuasai?”. Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membangkitkan harapan dalam diri siswa tentang kemampuan dan upaya yang harus dilakukan agar tujuannya tercapai.

3. Merangsang Ingatan pada Materi Prasyarat (Stimulate recall of prior learning).
Bila siswa telah memiliki perhatian dan pengharapan yang baik pada pelajara, guru perlu mengingatkan siswa tentang materi apa saja yang telah dikuasai sebelumnya dengan materi yang akan diajarkan. Dengan pengetahuan yang ada pada memori kerjanya, diharapkan siswa siap untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang lama dengan pengetahuan yang baru yang akan dipelajari. Ada banyak cara yang dapat dilakukan guru untuk mengingatkan siswa pada materi yang telah dipelajari misalnya dengan mengingatkan siswa pada topik-topik yang telah dipelajari dan memninta siswa untuk menjelaskannya secara singkat.

4. Menyajikan Bahan Perangsang (Present the content).
Hal ini dilakukan dengan cara menyajikan bahan kepada siswa berupa pokok-pokok materi yang penting yang bersifat kunci. Sebelum itu, guru harus menentukan bahan apa yang harus disajikan berupa informasi verbal, keterampilan intelektual, atau belajar sikap. Berdasarkan jenis kemampuan atau bahan ini maka dapat dipilih bentuk kegiatan apa saja yang akan disajikan sehingga proses pembelajaran berjalan lancar. Misalnya, bila akan mengajarkan tentang sikap maka pilihlah bahan berupa model-model perilaku manusia. Bila akan mengajarkan keterampilan motorik maka demonstrasikanlah contoh bahan keterampilan tersebut dan tunjukkan caranya secara tepat.

5. Memberi Bimbingan Belajar (Provide “learning guidance”).
Bimbingan belajar diberikan dengan tujuan untuk membantu siswa agar mudah mencapai tujuan pelajaran atau kemampuan-kemampuan yang harus dicapainya pada akhir pelajaran. Misalnya bila siswa harus mengusai konsep-konsep kunci, maka berilah cara mengingat konsep-konsep tersebut misalnya dengan menjelaskan karakteritik dari setiap konsep. Bila siswa hrus menguasai keterampilan tertentu, maka bimbinglah dengan cara menjelaskan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk menguasai keterampilan tersebut.

6. Memantapkan Apa yang Telah Dipelajari (Elicit performance/practice).
Untuk mengetahui apakah siswa telah memiliki kemampuan yang diharapkan, maka mintalah siswa untuk menampilkan kemampuannya dalam bentuk tindakan yang dapat diamati oleh guru. Misalnya apabila ingin mengetahui kemampuan informasi verbal siswa maka berikan siswa pertanyaan-pertanyaan yang dapat diukur tingkat penguasaannya atau bila ingin mengetahui keterampilan siswa maka mintalah siswa untuk melakukan tindakan tertentu. Jawaban yang diberikan siswa hendaklah sesuai dengan kemampuan yang diminta dalam tujuan pembelajaran.

7. Memberikan Umpan Balik (Provide feedback).
Memberikan umpan balik merupakan fase yang terpenting. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, umpan balik diberikan secara informative dengan cara memberikan keterangan tentang tingkat unjuk kerja yang telah dicapai siswa. Misalnya jelaskan jawaban siswa yang sudah benar dan yang perlu dilengkapi atau yang perlu dipelajari kembali oleh siswa dengan cara “sudah baik”, “pelajari kembali”, atau “lengkapi”, dll.

8. Menilai Hasil Belajar (Assess performance).
Merupakan peristiwa pembelajaran yang berfungsi menilai apakah siswa sudah mencapai tujuan atau belum. Untuk itu perlu dibuat alat penilaian yang konsisten dengan tujuan dan diharapkan mampu mengukur tingkat pencapaian belajar siswa.

9. Meningkatkan Retensi (Enhance retention and transfer to the job).
Guru perlu memberikan latihan-latihan dalam berbagai situasi agar dapat menjamin bahwa siswanya dapat mengulangi dan menggunakan pengetahuan barunya kapan saja diperlukan. (Panen, Paulina dkk, 1999 dan Anonimous, 2007).

Dalam suatu pembelajaran, satu hal yang penting dan perlu ditanamkan dalam diri siswa adalah “kepercayaan diri”. Menurut Bandura seperti dikutip oleh Gagne dan Driscoll (1988: 70) seseorang yang memiliki sikap percaya diri tinggi cenderung akan berhasil bagaimana pun kemampuan yang ia miliki. Sikap di mana seseorang merasa yakin, percaya dapat berhasil mencapai sesuatu akan mempengaruhi mereka bertingkah laku untuk mencapai keberhasilan tersebut. Sikap ini mempengaruhi kinerja aktual seseorang, sehingga perbedaan dalam sikap ini menimbulkan perbedaan dalam kinerja. (Mambo, 2008)

Membantu siswa menyadari kekuatan dan kelemahan diri serta menanamkan pada siswa gambaran diri positif terhadap diri sendiri. Menghadirkan seseorang yang terkenal dalam suatu bidang sebagai pembicara, memperlihatkan video, tapes atau potret seseorang yang telah berhasil (sebagai model), misalnya merupakan salah satu cara menanamkan gambaran positif terhadap diri sendiri dan kepada siswa.
Salah satu cara untuk menumbuhkan kepercayaan diri pada siswa adalah dengan menggunakan seorang model. Menurut Martin dan Briggs (1986) dalam Mambo (2008) penggunaan model seseorang yang berhasil dapat mengubah sikap dan tingkah laku individu mendapat dukungan luas dari para ahli. Menggunakan seseorang sebagai model untuk menanamkan sikap percaya diri menurut Bandura seperti dikutip Gagne dan Briggs (1979: 88) sudah dilakukan secara luas di sekolah-sekolah.

Adapun langkah-langkah menanamkan rasa percaya diri pada diri siswa di dalam kelas antara lain sebagai berikut:

«  Menggunakan suatu patokan, standar yang memungkinkan siswa dapat mencapai keberhasilan (misalnya dengan mengatakan bahwa kamu tentu dapat menjawab pertanyaan di bawah ini tanpa melihat buku).

«  Memberi tugas yang sukar tetapi cukup realistis untuk diselesaikan/sesuai dengan kemampuan siswa (misalnya memberi tugas kepada siswa dimulai dari yang mudah berangsur sampai ke tugas yang sukar).

«  Menyajikan materi secara bertahap sesuai dengan urutan dan tingkat kesukarannya, menurut Keller dan Dodge seperti dikutip Reigeluth dan Curtis dalam Gagne (1987) merupakan salah satu usaha menanamkan rasa percaya diri pada siswa.

«  Mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran misalnya menurut Lesser seperti dikutip Gagne dan Driscoll (1988:69) variasi dari serius ke humor, dari cepat ke lambat, dari suara keras ke suara yang sedang, dan mengubah gaya mengajar.

«  Mengadakan komunikasi nonverbal dalam kegiatan pembelajaran seperti demonstrasi dan simulasi yang menurut Gagne dan Briggs (1979) dapat dilakukan untuk menarik minat/perhatian siswa.

Evaluasi terhadap siswa dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang telah mereka capai. Apakah siswa telah memiliki kemampuan seperti yang dinyatakan dalam tujuan pembelajaran (Gagne dan Briggs, 1979). Siswa yang telah berhasil mengerjakan atau mencapai sesuatu merasa bangga/puas atas keberhasilan tersebut. Keberhasilan dan kebanggaan itu menjadi penguat bagi siswa tersebut untuk mencapai keberhasilan berikutnya (Gagne dan Driscoll, 1988 dalam Mambo, 2008).

DAFTAR PUSTAKA

http://www.bpkpenabur.or.id/files/09_0.pdf

http://aharianto8.blogspot.com/2009/02/teori-belajar-gagne-robert-m.html

http://www.smantiara.sch.id/artikel/57-teori-belajar-gagne

http://www.idazweek.co.cc/2010/02/teori-gagne.html

Diakses pada tanggal 20 Maret 2010

http://meetabied.wordpress.com/2010/03/20/teori-belajar-gagne/

http://anaristanti.blogspot.com/2010/03/teori-hirarki-belajar-dari-gagne.html

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Robert_M._Gagn%25C3%25A9

Diakses pada tanggal 24 Maret 2010

Category: Kuliah_Q  One Comment