Dalam kehidupan ini, banyak fenomena-fenomena yang menunjukkan kebesaran, keagungan dan kekuasaan Sang pencipta. Fenomena-fenomena tersebut ditunjukkan oleh adanya penciptaan mahluk yang ada di alam jagad raya ini, yaitu: dengan berbagai macam bentuk dan karaktreristik mahluk yang beraneka ragam. Ada mahluk yang dapat tumbuh dan berkembang, ada pula mahluk yang tidak dapat tumbuh dan berkembang seperti batu, tanah, air, udara, dll. Ada mahluk yang dapat di lihat ada pula mahluk yang tidak dapat di lihat. Di sisi lain Ia juga menciptakan mahluk yang dibekali dengan aqal saja dan ada pula mahluk yang di bekali dengan nafsu saja, serta ada pula mahluk yang di bekali dengan aqal dan nafsu yaitu manusia.

Kesemuanya ini menunjukkan ada Dzat yang menciptakannya, karena tidak ada satupun didunia ini yang wujud tanpa dengan sendirinya tanpa adanya Dzat yang menciptakannya, dan dalam agama Islam pencipta semua ini adalah Allah Swt. Allah Swt. berfirman: ” Dan sesungguhnya jika kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Niscaya mereka menjawab Allah. (Q.S Al A’rof: 38)

Di antara berbagai macam mahluk di atas, manusia adalah mahluk Allah yang paling mulia diantara mahluk-mahluk yang lain. Karena memang Allah Swt. Telah mengangkat derajat manusia melebihi mahluk-mahlukNya yang lain. Allah Swt. berfirman: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak cucu Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk-mahluk yang telah Kami ciptakan.( Q.S Al Isro’: 70).

Dengan kemuliaan itu, sudah sepantasnya manusia selalu mensyukurinya, yaitu dengan selalu menjaga derajatnya, jangan sampai jatuh menjadi mahluk yang hina. Karena dengan mensyukuri nikmat derajat tersebut, Allah Swt. akan menambah nikmat-nikmat yang lain yang akan dapat menambah kedekatan (Taqorrub) kita kepadaNya. Allllah Swt berfirman:”jika kamu semua bersyukur atas nikmat-(Q.S.Ku pasti akan-Ku tambah dan jika kamu semua kufur sesungguhnya siksa-Ku sangat pedih.

Ayat tersebut mengisyaratkan kepada manusia agar senantiasa selalu mensyukuri  nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya. Yaitu dengan senantiasa menjaga derajat tersebut jangan samapai derajat itu turun dan hancur karena ulahnya sendiri yang ceroboh dan tidak berusaha untuk memeliharanya. Sebab pada hakekatnya jika manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menjatuhkan derajatnya maka sesungguhnya ia telah menjatuhkan derajatnya sendiri, dan sebaliknya apabila ia pandai-pandai mensyukurinya, maka sesungguhnya ia telah mensyukuri pada dirinya sendiri sebagai mahluk yang dimuliakan oleh allah Swt. Allah Swt. berfirman: Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia telah bersyukur untuk kebaikannya sendiri, dan barang siapa yang ingkar sesungguhnya Allah maha kaya lagi maha mulia (Q.S. An. Naml:40).

Kemuliaan manusia jika di bandingkan dengan mahluk yang lain merupakan sebuah amanah yang harus di jaga dan dilestarikan oleh setiap manusia, karena kemuliaan manusia ini dapat menjadi berkurang apabila manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada kemaksiatan dan kekufuran kepada-Nya. Seperti korupsi, minum-minuman keras, berzina, mengumpat, menggunakan narkoba menentang kewajiban-kewajiban yang disyariatkan agama atau melanggar larangan-larangannya, yang kesemuanya mengarah pada perbuatan-perbuatan kotor dan hina, maka disaat itulah derajat manusia akan turun dan bahkan bisa jadi lebih hina dari pada binatang. Allah Swt. berfirman: ” Sesungguhnya binatang atau mahluk yang paling buruk di sisi Allah adalah orang-orang kafir karena mereka itu tidak beriman”. (Q.S. Al-Anfal: 55).

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa; ketika manusia melakukan perbuatan perbuatan kotor, maka pada hakekatnya imannya kepada Allah Swt. mulai berkurang, sehingga ia sampai berani melakukan larangan-larangan tersebut. Hal ini sangat membahayakan apabila tidak segera disembuhkan, karena perbuatan-perbuatan tersebut tanpa disadari akan menyeret ia kepada kekufuran terhadap perintah dan larangan-larangan Allah Swt. Keadaan inilah yang akan menjadikan derajat manusia menjadi rendah, dan bahkan lebih rendah dari pada binatang. Sebab ketika binatang akan mati (sekarat) mungkin masih dapat diharapkan keselamatannya atau sekalian di sembelih utuk dimanfaatkan daging atau kulitnya, akan tetapi jika manusia jahat, dholim ahli berbuat keonaran, zina, ahli minum-minuman keras, narkoba dan lain-lain itu yang kana meninggal maka sedikit sekali yang mengharapkan kesembuhannya, dan bahkan mungkin banyak yang mengharapkan ia meninggal, dengan harapan daerahnya menjadi lebih aman. Karena dengan kesembuhannya dimungkinkan dapat menimbulkan keonaran lagi bagi masyarakat yang lain.

Dari kondisi tersebut di atas dapat diketahui bahwa sesungguhnya yang membedakan antara manusia dan binatang bukan terletak pada kemampuan akal semata, akan tetapi yang paling esensi yang menbedakan antara manusia dengan binatang adalah keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. sebab terkadang kemampuan akal manusia terkadang lebih buas jika dibandingakan dengan binatang. Dengan kecanggihan akalnya, manusia bisa membobol bank atau rekening orang lain dan dipindah kerekeningnya tanpa harus berbuat kekeresan. Dengan kecanggihan akalnya pula manusia bisa membuat bom Nuklir yang jika diledakkan semua kehidupan di atas bumi dapat memusnahkan, dan masih banyak lagi kecanggihan akal manusia lain yang dapat menunjukkan manusia lebih hina dari pada binatang jika tidak disertai dengan rasa keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Sebab dengan menjaga keimanan dan ketakwaan itulah derajat manusia akan menjadi mulia. Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”(Q.S. Al Hujarat:13).

Ayat tersebut menunnjukkan bahwa orang yang memiliki derajat mulia di sisi Allah Swt. bukan terletak kepada kecanggihan akal yang ia miliki, akan tetapi kemuliaan itu terletak pada kualitas ketakwaan kepada Allah Swt. dengan kualitan ketakwaan yang baik inilah yang menjadikan derajat manusia mulia di sisi-Nya dan bahkan bisa menjadi lebih mulia dari pada derajat para malaikat.

Bukankah Nabi kita Saw. Memiliki derajat yang lebih mulia daripada malaikat? Hal ini dapat kita ketahui dari sejarah Isro’ Mi’roj, ketika Rosulullah Saw. sampai ke Sidritul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi bagi para malaikat, tanpa diikuti oleh malaikt Jibril As, Rosulullah naik ke Mustawa menghadap kepada Allah Swt. Fenomena ini menunjukkan bahwa derajat manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. akan menjadi lebih mulia daripada derajat para malaikat. Karena pada dasarnya setiap manusia di tuntut untuk membimbing hawanafsunya untuk selalu taa’at dan patuh terhadap perintah maupun larangan-larangan-Nya. Dimana hawanafsu tersebut mempunyai kecendrungan bermaksiat atau selalu berkompromi pada keinginan-keinginan yang mengarah pada perbuatan-perbuatan keji dan  mungkar.