Ditengah derasnya perkembangan zaman dan kompetisi hidup seperti yang sedang berlangsung saat ini, maka dibutuhkan sebuah kesadaran dan kekuatan moral agar kita tetap bertahan dalam batasan norma (nilai) kebaikan yang ideal.

Kesadaran dan kekuatan moral sangat dibutuhkan sebab kalau tidak, bukanlah suatu hal yang mustahil bilamana kita kemudian terseret masuk kedalam jeratan zaman yang kadang sangat bertentangan dengan aturan dan syariat agama Islam. Kesadaran dan kekuatan moral yang dimaksud tidak lain adalah taqwa, yaitu merupakan kesadaran melakukan perintah agama serta menjahui larangan-laranganNya. Oleh karena itu, marilah kita berusaha meningkatkan ketaqwaan pada Allah Swt, yaitu dengan cara mentaati semua perintahNya dan menjahui semua larangan-laranganNya. Sungguh berbahagialah orang-orang yang selalu taat kepada Allah dan sebaliknya, sungguh celaka orang-orang yang ingkar kepada Allah, yaitu orang-orang kafir yang tidak mau menjalankan perintah Allah dan melanggar larangan Allah. Dalam firman Allah surat Al Hajj Ayat 72: “Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah: “Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, Yaitu neraka?” Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

Dalam QS. Az-Zumar ayat 32 Allah swt berfirman: Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?

Abu Laits telah menegaskan, bahwa ada 7 (tujuh) tanda-tanda orang yang bertaqwa yang dapat dilihat pada prilaku seseorang. Apabila seseorang memiliki salah satu diantaranya maka orang tersebut tergolong orang yang bertaqwa walaupun belum sempurna, apabila belum memiliki sifat taqwa tersebut maka bersegeralah memilikinya agar kita menjadi orang-orang yang beruntung. Diantara sifat orang-orang yang bertaqwa menurut Syeh Abu laits antara lain:

1.            Ia memiliki lidah yang selalu dijadikannya sibuk berdzikir kepada Allah swt, mengucapkan LailahaIllallah (tahlil), tahmid,  membaca Al-Qur’an dan memperbincangkan Ilmu (mengkaji Kitab), semuanya itu ia jadikan kesibukan sehari-hari tidak hanya mengurusi masalah dunia saja tetapi jaga sibuk mengurusi masalah akhirat, dengan demikian lidahnya tidak sempat digunakan untuk berdusta, menggunjing, mengadu domba dan lain sebaginya,  karena sibuk melaksanakan ibadah kepada Allah swt.

2.  Ia memiliki hati yang bersih dan tidak dikotori oleh perasaan buruk seperti dengki, hasud, riya’, sum’ah, ghibah, ghodob dan lain sebaginya, yang semuanya itu dapat menjadikan hijab (penghalang) untuk bisa wusul kepada Allah swt. Karena orang yang hatinya kotor maka secara outomatis sulit untuk dapat menangkap cahaya Allah. Bukankah Allah swt. Berfirman; sunnguh bahagia orang yang membersihkan hatinya dan sungguh celka orang yang mengotori hatinya.

3. Penglihatannya tidak digunakan memandang perkara yang haram, seperti melihat pornografi, porno aksi dan lain sebagainya yang dilarang untuk dilihat, serta tidak memandang kepada dunia dengan keinginan nafsu, tetapi ia memandangnya dengan mengambil I’tibar, yaitu dunia sebagai tempat kehidupan manusia sementara yang semuanya akan ditinggal setelah ia meninggal, yaitu apa-apa yang ia usahakan selama ini, seperti rumah, kendaraan, perhiasan, jabatan, kedudukan, istri, anak dan lain sebagainya. Sehingga ciri orang yang ketiga ini kehidupan dunianya ia jadikan sebagai mazroatul akhiroh, yaitu menanam kebaikan sebanyak-banyaknya untuk dipetik hasilnya setelah ia meninggal.

4. Perutnya selalu dijaga dari perkara makanan haram, sebab yang demikian itu adalah dosa, seperti sabda nabi Muhammad Saw. Ketika sesuap haram ada pada perut anak cucu Adam, maka semua malaikat yang ada di bumi dan di langit memberi laknat kepadanya, selama suapan itu masih ada di dalam perutnya, dan kalau ia mati dalam keadaan seperti itu, maka tempatnya adalah jahannam. Maka orang yang bertaqwa akan selalu menjaga makanannya dari perkara yang haram baik dari segi zatnya, maupun dari segi pencariannya.

5. Tangannya tidak digunakan untuk melakukan perbuatan yang haram, seperti mencuri (korupsi), menghakimi orang lain tanpa hak, membunuh tanpa hak dan lain sebagainya yang di haramkan oleh agama. Orang yang bertaqwa selalu menggunakan tangannya untuk membantu sesama, meringankan beban orang lain dan lain sebagainya demi kemaslahatan umat.

6. Telapak kakinya digunakan untuk berjalan di jalan Allah,seperti; pergi ke masjid, pergi kepengajian ilmu, bersilaturrahim, mengislahkan orang lain, pergi untuk mencari nafkah yang halal demi menghidupi anak dan istri, dan tidak digunakan sebaliknya yaitu untuk berjalan dalam kemaksiatan (perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah swt.).

7. Ketaatannya ia jadikan hanya murni mencari ridho Allah. tidak karena terpaksa, tidak karena ingin di lihat orang, tidak karena takut atasan, dan lain sebagainya, karena ia tahu bahwa ibadah selain kerena Allah tidak akan diterima, seperti seseorang mengirimkan surat/wesel, akan tetapi alamat yang ia tulis salah, bukan kepada si A tetapi kepada si B maka surat/wesel tersebut dapat dipastikan tidak akan sampai kapada si A. Hal ini sama dengan ibadah, jika tidak karena lillita’ala (hanya mengharap ridlo Allah swt) maka ibadahnya tidak akan diterima sebab amal yang ia kerjakan tidak sampai kepada Allah swt. karena salah alamat.

Amaliah-amaliah tersebut di atas memang tidak mudah untuk dilaksanakan tetapi bagi orang-orang yang benar-benar mengharapkan kebahagiaan yang abadi di akhirat kelak, beban berat yang mesti dialaksanakan itu bukan lagi menjadi persoalan, meskipun ia harus merangkak sedikit demi sedikit. Karena ia mengaggap bahwa kehidupan dunia ini bukanlah tujuan akhir dari kehidupan, sehingga ia berusaha bagaimana kehidupannya tidak digunakan untuk berfoya-foya, mengumbar nafsu, akan tetapi ia gunakan untuk bersusah payah mencari ridho Allah dengan memperbanyak ibadah dan berbuat kebaikan. Sebab menurut mereka kehidupan dunia ini hanyalah sebentar, seumur manusia mungkin 63 tahun jika mengacu pada umur Rosulullah saw / paling lama 1 abad, itupun sudah jarang sekali, padahal kehidupan akhirat sangat panjang sekali dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kehidupan dunia. Sehingga  orang-orang yang bertaqwa memiliki semangat yang sungguh-sungguh dalam menjalankan tugas dan tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk kehidupan di akhirat dari pada keperluan kehidupan di dunia yang sementara.

Sudah barang tentu untuk merasakan rasa ketakwaan hingga mendarah daging dan terpatri di dalam hati, haruslah lebih dahulu membiasakan memenuhi perintah-perintah Allah mulai saat ini sampai akhir hayat. Dengan demikian berarti ia memiliki modal besar dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan aneka ragam godaan duniawi.

Allah Swt berfirman:Al- Hasyr ayat 18: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Allah swt. berfirman QS. Ad Dhuha ayat 4; Dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (kehidupan dunia). Di tambah dengan firman Allah QS.. Al A’la a ayat 17, Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

Dengan memenuhi perintah Allah ini tentu kita akan senantiasa mengoreksi diri, apa kekurangan kita? Apa kesalahan kita? Dan kapan kita memperbaiki diri? Dengan demikian tepatlah apa yang dikatakan oleh sahabat Umar Bin Khottob Ra. Adakanlah perhitungan pada diri anda, sebelum anda semua di hisab.

Qaul sahabat ini menunjukkan bahwa kita diminta untuk selalu mengkoreksi diri (instropeksi) terhadap kualitas ibadah kita kepada Allah apakah selama ini ibadah kita sudah benar ataukah masih salah untuk kemudian kita jadikan koreksi diri agar menjadi lebih baik di masa-masa yang akan datang dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kita meninggal. Karena memang meninggal itu sifatnya mendadak tidak bisa di ajukan dan juga tidak bisa di tunda walaupun sesaat dan meninggal itu dapat mengenai siapa saja atau pantas bagi siapa saja  baik balita maupun orang yang sangat tua.

Mudah-mudahan kita semua tergolong orang-orang yang beruntung yang mendapatkan predikat taqwa atau muttaqien ketika kita berpisah dengan jasad ini atau meninggalkan dunia ini dan mudah-mudahan pula kita mendapatkan keselamatan baik di dunia maupun besok di hari kimat   amien ya robbal ‘alamin.