Abstract

Each education institute has a great longing to be able to conduct all education programs thoroughly. The desire to do the whole brings in the school endeavor that is how to create favorable situation between schools and students’ participant.  The aim in doing close relationship between school and students’ participant is to give more comprehension for them in school life. Home visit is one of the school programs whose enormous effect in attempting school programs. It does not only overcome the students’ difficulty or achievement of learning but also has a function as offering school programs which is necessary participation or involvement of students’ participant and  people in the society to accomplish school programs well.

Keyword: Home Visit, development, and Education

A. Pendahuluan

Setiap lembaga pendidikan memiliki keinginan untuk dapat melaksanakan semua program kegiatan pendidikan dengan baik. Keinginan tersebut berimplikasi pada upaya sekolah yaitu bagaimana menciptakan suasana yang kondusif baik secara intern maupun ekstern. Di antara usaha sekolah menciptakan suasana kondusif secara ekstern yaitu dengan menjalin hubungan antara sekolah dengan orangtua dan masyarakat. Sekolah tidak mungkin melepaskan diri dari berkomunikasi dan berhubungan dengan orangtua peserta didik. Karena komunikasi dan hubungan dengan orangtua peserta didik sangat-lah penting artinya untuk menciptakan suasana yang harmonis di antara keduanya.

Maksud dan tujuan sekolah dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan orangtua peserta didik adalah untuk menanamkan pengertian yang baik pada orangtua peserta didik dan masyarakat dalam praktek kehidupan sekolah. Usaha untuk menanamkan pengertian yang baik pada orangtua peserta didik tersebut dapat direalisasikan melalui berbagai bentuk kegiatan nyata. Bentuk kegiatan yang nyata itu diantaranya dengan mengadakan home visit. Home visit merupakan salah satu program sekolah yang memiliki pengaruh besar dalam melancarkan program-program sekolah.

Home visit ini pada dasarnya merupakan salah satu dari beberapa metode yang digunakan sekolah untuk menjalin dan mengakrabkan hubungan antara sekolah/madrasah dengan orangtua peserta didik. Beberapa metode untuk melibatkan dan mengakrabkan orangtua peserta didik pada sekolah/madrasah, diantaranya:

  1. Acara pertemuan guru dan orangtua
  2. Komunikasi tertulis antara guru dan orangtua
  3. Meminta orangtua memeriksa dan menandatangani PR
  4. Mendukung tumbuhnya forum orangtua murid yang aktif diikuti para orangtua
  5. Kegiatan rumah yang melibatkan orangtua dengan anak dikombinasikan dengan kunjungan guru ke rumah
  6. Terus membuka hubungan komunikasi (telepon, sms, e-mail, portal interaktif dll)
  7. Dorongan agar orangtua aktif berkomunikasi dengan anak  (Mustafa ; 2008:3)

Beberapa metode pengakraban di atas sengaja di pilih salah satunya pada poin ”5” yaitu sekolah/madrasah mengadakan kunjungan (home visit) dalam rangka menjalin hubungan yang harmonis antara pihak sekolah dan orangtua peserta didik.

Menurut Indrafachrudi, ada beberapa metode dalam menjalin hubungan antara sekolah dengan orangtua peserta didik. Beberapa metode tersebut diantaranya;

  1. Group metting (pertemuan kelompok)

Teknik group metting (pertemuan kelompok) ini terdiri dari:

  1. Fact meeting (temu fakta)

Teknik ini dialakukan pada permulaan tahun ajaran dalam bentuk ceramah, simposium, laporan panitia tentang kemajuan anak dll. Maksud dari fect meeting ini adalah untuk melihat perkembangan dan pertumbuhan anak di tinjau dari psikologi dan  masalah kesulitan yang dihadapi anak dalam belajar.

  1. Discussion meeting (pertemuan dan diskusi)

Teknik ini dilakukan pada suatu pertemuan yang didahului oleh suatu bentuk kegiatan yang dapat menggugah minat orang tua peserta didik diantaranya; pemutaran film, drama, drama spontan, wayang golek, dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan untuk menggugah minat orang tua peserta didik untuk memotivasi pada pertemuan yang akan datang. Adapun tujuannya adalah untuk memecahkan tentang permasalahan anak baik di sekolah maupun di rumah.

  1. Work and play (bekerja sambil bermain)

Pertemuan ini merupakan pertemuan yang bersifat rekreasi yang berbentuk pertemuan kekeluargaan. Tujuan pertemuan ini adalah untuk membicarakan masalah-masalah yang bersifat ringan dan menyenangkan misalnya tentang murid-murid, guru, karyawan dan sebagainya.

  1. Face to face (pertemuan dengan tatap muka)

Teknik face to face (tatap muka) ini di antaranya:

  1. Home visit (kunjungan rumah)

Melalui kunjungan rumah tersebut guru dapat mengetahui masalah-masalah yang di hadapi peserta didik di rumahnya. Dengan mengetahui problema anak secara totalitas maka akan sangat membantu sekolah dalam merencanakan program yang sesuai dengan minat peserta didik.

  1. Reporting to perent (laporan kepada orang tua)

Cara yang konvensional biasanya dengan memberi laporan kepada orang tua peserta didik. Biasanya orangtua peserta didik mengalami kesulitan terhadap istilah-istilah yang terdapat dalam buku laporan. Untuk mengurangi kesalahpahaman itu maka perlu dikombinasi dengan pertemuan secara pribadi. Maksud dari teknik ini adalah untuk mengajak orangtua ikut serta dan sedapat mungkin memperhatikan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak.

  1. Observation and participation (observasi dan partisipasi)

Teknik observasi dan partisipasi terdiri dari:

  1. Parent as observera (orang tua sebagai observer)

Maksud dari kegiatan ini adalah orang tua sebagai observer yaitu mengobservasi perkembangan pendidikan anak di sekolah. Dengan peninjauan orang tua ini maka, ia akan dapat membandingkan dengan anak-anak yang lain. Dia akan mengetahui kekurangan-kekurangannya dan akan membangkitkan langkah-langkah baru  sehingga pengertian orangtua terhadap anak semakin bertambah.

  1. Parent as participant (orang tua sebagai  peserta)

Teknik ini adalah kelanjutan dari kunjungan rumah dan observasi yang kemudian di tingkatkan dalam kegiatan sekolah. Orang tua yang memiliki keahlian tertentu dijadikan sebagai nara sumber mata pelajaran tertentu. Dengan teknik partisipasi ini maka tanggungjawab pendidikan tidak hanya dipundak guru tertapi orang tua peserta didik juga ikut bertangungjawab.

  1. Room mother (ibu pembantu kelas)

Room mother ialah salah satu orang tua peserta didik (Ibu) yang mewakili suatu kelompok orangtua yang bertugas untuk membantu guru dalam mengajar anak-anak. Misalnya wakil kelompok orangtua pada kelas tertentu di SD atau MI secara sukarela untuk membantu dalam proses pembelajaran. Teknik ini akan sangat membantu sekolah dalam menyebarkan informasi pendidikan dari satu ibu kepada ibu-ibu yang lain.

  1. The written word (berucap di kertas)

Teknik ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan teknik-teknik di atas. Ada tiga kelebihan yang terdapat pada the written word yaitu: pelaksanaannya mudah, dapat digunakan pada setiap waktu dan tempat serta hemat biaya, bila terjadi kesalahpahaman dapat segera diperbaiki. Teknik ini adalah salah satu alat kerjasama antara pihak sekolah dan orangtua peserta didik yang berbentuk buku rapor. Pada perkembangan selanjutnya teknik ini tidak berbentuk rapor tetapi menjadi berbagai macam misalnya: catatan berita gembira, berita dalam surat, buku kecil permulaan sekolah, pamflet kecil, dan beberapa materi tentang anak, (Indrafachrudi;1994:66-72).

Dalam posisi pemetaan hubungan antara orangtua peserta didik dengan sekolah di atas maka, home visit merupakan bagian dari teknik face to face yang menggunakan pertemuan tatap muka dalam menjalin hubungan yang harmonis antara sekolah dengan orangtua peserta didik.

Program-program sekolah akan dapat berjalan lancar apabila terjalin hubungan yang baik antar setiap komponen, termasuk didalamnya peran orangtua peserta didik dan masyarakat. Pada kenyataannya apabila komunikasi dapat terjalin, maka akan dapat membantu sekolah dalam menyelesaikan berbagai persoalan, khusunya problem yang terjadi pada peserta didik. Seperti yang disampaikan Indrafachrudi bahwa hubungan sekolah dan masyarakat pada hakekatnya berfungsi untuk memberikan bimbingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak secara maksimal, kearah pencapaian tujuan yang dicita-citakan,(Indrafachrudi;1994:1).

Maksud dari arah tujuan yang dicita-citakan yaitu keberhasilan proses pendidikan peserta didik lewat lembaga pendidikan tersebut. Pada umumnya keberhasilan peserta didik dalam merespon pelajaran tidak-lah sama, ada yang cepat, sedang, bahkan ada yang lambat. Apabila ada peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar maka, akan berimplikasi pada penurunan prestasi akademik. Kesulitan belajar dapat terjadi atas beberapa faktor diantaranya strategi pembelajaran yang keliru, persoalan interen peserta didik, dan lain-lain, (Mulyono; 1999:13).  Kesulitan belajar yang terjadi dalam diri peserta didik ini akan segera dapat terdeteksi apabila hubungan harmonis antara sekolah, orangtua dan masyarakat dapat terjalin dengan baik.

Keterlibatan aktif orangtua di dalam pendidikan adalah sebuah hal yang sangat positif. Keterlibatan itu mengimplikasikan tercurahnya sumber daya keluarga secara maksimal untuk pendidikan anak, bukan hanya secara material, tetapi juga secara psikologis yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan anak. Kecenderungan ini lebih baik dibandingkan ketidakpedulian orangtua pada saat ini yang menggantungkan masa depan pendidikan anak pada para guru dan sistem sekolah. Kesediaan keluarga untuk terlibat dan bertanggung jawab dalam proses pendidikan adalah modal besar untuk perbaikan dunia pendidikan(Sumardiono; 2007:2).

Keharmonisan sekolah/madrasah dan orangtua akan dapat mengatasi permasalahan kesulitan belajar peserta didik. Di antara solusinya yaitu dengan mengadakan kunjungan ke rumah peserta didik (home visit), sebagai alternatif pendekatan dari sekolah. Walaupun pada kenyataannya Home visit tidak hanya sebatas menangani persoalan kesulitan atau keberhasilan belajar peserta didik semata, akan tetapi juga berfungsi sebagai penawaran program-program sekolah yang membutuhkan partisipasi atau keterlibatan orangtua peserta didik dan masyarakat. Oleh karena itu, pada pembahasan berikut akan diuraikan beberapa pokok bahasan tentang home visit untuk menunjang berbagai unsur yang tercakup dalam program sekolah. Pembahasan itu diantaranya: esensi home visit bagi sekolah, tujuan home visit, manfaat home visit, dan teknik melakukan home visit.

B. Pembahasan

1. Esensi Home visit bagi sekolah/madrasah

Setiap sekolah berkeinginan peserta didiknya menjadi lulusan yang terbaik. Untuk mencapai cita-cita tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada hal-hal tertentu yang menjadi problem dan hambatan dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Menjalin hubungan atau komunikasi dengan orangtua peserta didik dan masyarakat merupakan salah satu upaya mengatasi problem dan hambatan tersebut.

Dalam pendahuluan telah disebutkan home visit merupakan salah satu metode dalam menjembatani komunikasi antara sekolah dengan orangtua peserta didik dan masyarakat. Adanya home visit akan membantu sekolah dalam menyelesaikan berbagai masalah yang berkaitan dengan peserta didik di sekolah. Partisipasi orangtua peserta didik sangat penting sekali bagi sekolah dalam rangka mengatasi berbagai masalah yang terjadi antara sekolah dengan peserta didik. Oleh sebab itu, home visit memiliki fungsi dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi pada peserta didik. Kemudian masalah tersebut dikomunikasikan kepada orangtua peserta didik di rumah. Komunikasi ini akan sangat membantu dalam pemantauan perkembangan peserta didik terhadap proses pendidikannya di sekolah.

Di samping home visit akan membantu sekolah dalam menyelesaikan berbagai masalah yang berkaitan dengan peserta didik di sekolah. Home visit juga memiliki program kegiatan rutinitas baik tahunan maupun program semester yang juga memerlukan partisipasi orangtua peserta didik. Contoh kegiatan sekolah yang melibatkan orangtua peserta didik diantaranya; sekolah memberi kesempatan kepada orangtua peserta didik (dalam rapat komite sekolah/madrasah) untuk memberikan saran dan masukan terhadap program-program sekolah yang akan dilaksanakan. Seperti penambahan lokal gedung sekolah, optimalisasi sarana prasarana sekolah, kualitas kinerja sekolah/madrasah, kegiatan keagamaan di sekolah yang melibatkan orangtua peserta didik untuk memimpin acara atau pembacaan doa dan lain-lain. Semua kegiatan itu merupakan bentuk-bentuk keterlibatan orangtua peserta didik pada sekolah.

Pada hakekatnya kegiatan home visit ini adalah salah satu usaha menciptakan suasana pendidikan yang kondusif, harmonis antara pihak sekolah dan orangtua peserta didik. Dengan ada home visit ini, maka tindakan pendidikan terhadap peserta didik akan memiliki arah yang sama antara pendidikan yang ada di sekolah dengan kehidupan peserta didik sehari-hari di rumah. Arah pendidikan yang sama ini akan menjadikan pendidikan di sekolah selalu terdukung dengan kondisi peserta didik di rumah. Seandainya pendidikan di sekolah tidak searah dengan kebiasaan kehidupan peserta didik di rumah, maka pendidikan akan “bertepuk sebelah tangan”. Misalnya di sekolah diajarkan bagaimana cara berpakain muslimah yang baik ?, akan tetapi setelah peserta didik pulang ke rumah, apa yang telah di pelajari di sekolah tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di rumah. Seperti orangtua membelikan baju putrinya sesuai dengan model masa kini yang dapat dikatakan “you can see” atau pakaian orangtua peserta didik yang tidak mendukung terhadap apa yang telah diajarakan di bangku sekolah. Jika pendidikan semacam ini (tidak searah) terjadi, maka yang akan terjadi adalah ketimpangan dalam dunia pendidikan.

Kegiatan home visit akan memunculkan kerja sama antara pihak sekolah dan orangtua peserta didik dalam proses pendidikan. Adanya kerjasama antara sekolah dengan orangtua peserta didik ini sesuai dengan teori belajar Behaviorisme yang memandang bahwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu, (Sudrajat; 2008:1). Bandura memandang bahwa perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, mengindikasikan bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan (Sudrajat; 2008:2).

Selain itu, home visit juga dapat dijadikan fasilitator untuk menjalin kerjasama yang baik, dalam berbagai hal. Kerjasama itu dapat berupa pemanfaatan kemampuan orangtua peserta didik, agar bermanfaat bagi perkembangan pendidikan di sekolah. Pemanfaatan tersebut di sesuaikan dengan kemampuan orangtua peserta didik masing-masing. Istilah lain menurut Gorton sebagai pendekatan keterlibatan orangtua yang bernilai guna bagi peningkatan dalam pendidikan, (Gorton;1976:348).

Pendapat Gorton ini menunjukkan bahwa orangtua peserta didik memiliki peran penting dalam proses pembelajaran di sekolah. Sebagaimana peneliti mencatat bahwa keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak di sekolah berpengaruh positif pada hal-hal berikut:

1)      Membantu penumbuhan rasa percaya diri dan penghargaan pada diri sendiri

2)      Meningkatkan capaian prestasi akademik

3)      Meningkatkan hubungan orangtua-anak

4)      Membantu orangtua bersikap positif terhadap sekolah

5)      Menjadikan orangtua memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap proses pembelajaran di sekolah, (Mustofa 2008:3).

Di samping peran orangtua peserta didik home visit juga membutuhkan peran serta guru dalam upaya menjalin hubungan yang harmonis antara sekolah dan orangtua peserta didik.  peran guru tersebut antara lain:

1)      Berkomunikasi secara berkala dengan keluarga, yaitu: orangtua atau wali tentang kemajuan anak mereka dalam belajar dan berprestasi.

2)      Bekerjasama dengan masyarakat untuk menjaring anak yang tidak bersekolah, mengajak dan memasukkannya ke sekolah.

3)      Menjelaskan manfaat dan tujuan program sekolah kepada orangtua peserta didik.

4)      Mempersiapkan anak agar berani berinteraksi dengan masyarakat sebagai bagian dari kurikulum,seperti mengujungi museum, memperingati hari-hari besar keagamaan dan Nasional.

5)      Mengajak orangtua dan anggota masyarakat terlibat di kelas.

6)      Mengkomunikasikan program kepada orangtua atau wali peserta didik, komite sekolah serta pemimpin dan anggota masyarakat.

7)      Bekerjasama dengan para orangtua untuk menjadi penyuluh program sekolah dilingkungan sekolah dan masyarakat, (IDP;2008:4).

Ditambahkan oleh Bafadhal bahwa: dalam menjalin hubungan yang harmonis, sekolah membutuhkan peran orangtua juga masyarakat. Hubungan sekolah dengan masyarakat akan sangat membantu sekolah dalam hal:

  1. Sekolah dapat dengan mudah mengoptimalkan peran serta masyarakat dalam memajukan program pendidikan seperti dalam bentuk sebagai berikut:

a)      Masyarakat membantu menyediakan fasilitas-fasilitas pendidikan yang diperlukan oleh sekolah

b)      Orangtua memberikan informasi pada guru tentang potensi yang dimiliki oleh anaknya.

c)      Orangtua menciptakan lingkungan rumah tangga yang memberikan pendidikan kepada anaknya.

  1. Dengan adanya hubungan yang harmonis antara sekolah dengan masyarakat maka masyarakat khususnya orangtua akan selalu mendapatkan informasi yang berkaitan dengan pendidikan yang diperoleh anaknya di sekolah. Dengan informasi tersebut orangtua dapat lebih lanjut memberikan pendidikan yang sesuai bagi anaknya di masa depan,(Bafadhol; 2004:57-58).

Ada tiga alasan utama melibatkan orangtua peserta didik dalam pengembangan pendidikan di sekolah. Pertama, melalui keterlibatan orangtua akan mempunyai pengetahuan lebih banyak mengenai urusan-urusan sekolah. Kedua, lewat keterlibatan yang dilakukan orangtua peserta didik, sekolah akan memperoleh gagasan keahlian, yang semuanya akan membantu sekolah ke arah lebih baik. Ketiga, dengan keterlibatan orangtua peserta didik akan berada dalam posisi yang jauh lebih baik untuk mengevaluasi sekolah secara adil dan efektif, (Gorton; 1976:348-349).

Untuk mengetahui potensi keterlibatan orangtua peserta didik dalam pengembangan pendidikan, hendaknya mengetahui lebih dekat orangtua peserta didik diantaranya dengan kunjungan ke rumah orangtua peserta didik tersebut sebagai salah satu bentuk prinsip hubungan sekolah dan masyarakat.(Elsbree;1959:430).

2.  Tujuan Home Visit

Pada awalnya home visit ini dimaknai hanya sebatas kunjungan sekolah kepada orangtua peserta didik semata, dalam arti lain hanya digunakan untuk tujuan silaturrahim seperti pemaknaan kunjungan keluarga dalam konteks keagamaan. Pada perkembangan selanjutnya home visit bukan hanya bermakna silaturraim saja akan tetapi lebih dari silaturrahim yaitu memiliki berbagai tujuan yang tercakup dalam usaha peningkatan mutu sekolah baik dalam hal peningkatan mutu peserta didiknya dan keterlibatan orangtua dalam dukungannya terhadap berbagai kegiatan program-program sekolah.

Pemaparan tentang program sekolah yang berupa home visit di atas maka dapar diketahui ada beberapa tujuan home visit yaitu untuk:

  1. Meningkatkan hubungan harmonis antara sekolah dengan orangtua peserta didik.
  2. Memperkenalkan program-program sekolah kepada orangtua
  3. Menyelesaikan masalah-masalah peserta didik di sekolah.
  4. Memberdayakan atau keterlibatan orangtua peserta didik terhadap pengembangan sekolah.

Ditambahkan menurut Indrafachrudi bahwa tujuan adanya hubungan antara sekolah dengan orangtua peserta didik yaitu:

  1. Memupuk pengertian, pengetahuan tentang pertumbuhan dan perkembangan pribadi anak.
  2. Memupuk pengertian dan cara mendidik anak yang baik, agar anak memperoleh pengalaman yang kaya dan bimbingan yang tepat, sehingga anak dapat berkembang secara maksimal, (Indrafacrudi; 1994:58).

Searah dengan adanya home visit ini yaitu untuk tujuan mengakrabkan antara sekolah dengan orangtua peserta didik, Leslie merumuskan ada lima tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan pengakraban sekolah yaitu untuk:

  1. Mengembangkan pengertian orangtua tentang tujuan dan kegiatan pendidikan di sekolah.
  2. Memperlihatkan bahwa rumah dan sekolah bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan pendidikan anak di sekolah.
  3. Memberi fasilitas pertukaran informasi antara orangtua dan guru yang kemudian mempunyai dampak terhadap pemecahan pendidikan anak.
  4. Memperoleh opini masyarakat dijadikan perencanaan untuk pertemuan dengan orangtua dalam rangka untuk kebutuhan murid-murid
  5. Membantu pertumbuhan dan perkembangan pribadi anak (Indrafacrudi; 1994:59).

Keseluruhan dari tujuan diadakannya home visit di atas secara umum adalah untuk mengakrabkan sekolah dengan orangtua peserta didik dan masyarakat pada umumnya. Pelibatan orangtua secara aktif bagi sekolah tujuannya pertama-tama yaitu berorientasi pada pemberdayaan sekolah bukan untuk mendikte pengelolaan sekolah, (Pontianak Post; 2003:1). Upaya pelibatan orangtua peserta didik ini adalah untuk menyamakan visi dengan harapan orangtua peserta didik terhadap sekolah.

3. Manfaat home visit bagi sekolah

Beberapa tujuan home visit di atas mengandung berbagai manfaat yang dapat diambil untuk mengatasi permasalahan yang muncul dalam sekolah. Manfaat itu antara lain:

  1. Munculnya kesamaan visi orangtua peserta didik terhadap sekolah
  2. Adanya dukungan orangtua peserta didik terhadap program sekolah
  3. Adanya kerjasama antara sekolah dan orangtua dalam menyelesaikan masalah-masalah peserta didik di sekolah
  4. Munculnya partisipasi orangtua peserta didik terhadap sekolah
  5. Munculnya rasa ikut memiliki dalam menyukseskan program pendidikan
  6. Melancarkan program-program sekolah, baik sekarang maupun yang akan datang

Di samping enam manfaat yang dapat ditemukan dari tujuan di adakannya kegiatan home visit di atas, dalam Daily Life, Education, Indonesia-ism, Japan-ism, Socio-Culture juga di sebutkan beberapa manfaat diadakannya kunjungan rumah di antaranya:

  1. Dapat mengenal peserta didik satu persatu, terhadap lingkungan di mana dia tinggal,
  2. Dalam kunjungan singkat itu antara 20-30 menit, beberapa masalah yang menyangkut anak maupun kehidupan di kelas/sekolah dapat didiskusikan lagi.
  3. Walaupun kunjungan tersebut sangat singkat, tetapi efektif untuk “memotret” kehidupan sebenarnya peserta didik.
  4. Hasil dari kunjungan tersebut akan memunculkan referensi tentang latar belakang keluarga yang lebih kongkrit bagi pemahaman guru terhadap peserta didik.
  5. Dari hubungan-hubungan yang mungkin singkat, tapi efektif dan tersistem tersebut, akan memunculkan rasa saling percaya yang timbul dengan sendirinya (Saniroy;2007).

Beberapa manfaat yang diperoleh dari adanya kunjungan sekolah ke rumah peserta didik tersebut memberikan pengaruh yang positif bagi perkembangan proses pembelajaran peserta didik di sekolah. Di samping itu juga, sekolah akan menerima masukan saran-saran dari orangtua peserta didik terhadap program yang telah di buat dan dilaksanakan oleh pihak sekolah demi perbaikan dan layanan yang memuaskan kepada orangtua peserta didik.

4. Teknik-teknik home visit

Home visit ini merupakan bagian dari kegiatan humas. Humas atau public relation merupakan suatu usaha terencana untuk mempengaruhi pendapat dan kegiatan melalui pelaksanaan yang bertanggungjawab dalam masyarakat berdasarkan komunikasi dua arah yang saling memuaskan (Setyodarmodjo; 2003:16).            Pengertian humas ini memiliki indikasi bahwa kegiatan humas pada hakekatnya adalah kegiatan berkomunikasi dengan berbagai macam simbol komunikasi, verbal maupun non verbal. Kegiatan yang ada dalam bentuk verbal lisan seperti; jumpa pers, open house, home visit, dan lain-lain (Kustumastuti;2002:27). Oleh karena Home visit telah disebutkan bagian dari kegiatan humas maka, kegiatan humas juga dapat diterapkan dalam pelaksanaan pendidikan. Menurut De Roche ada dua puluh lima ide hubungan sekolah dengan masyarakat diantaranya; pekan pendidikan, hari penghargaan, home visit, dan lain-lain, (De Roche; 1957:189-191). Semua yang disebutkan oleh De Roshe merupakan teknik-teknik dari humas yang ada dalam dunia pendidikan.

Sebelum melakukan kunjungan ke rumah peserta didik terlebih dahulu guru/pihak sekolah harus memegang prinsip-prinsip hubungan sekolah kepada orangtua peserta didik. Prinsip-prinsip tersebut antara lain;

  1. Mengenal dengan sebaik-baiknya aspek-aspek kepribadian murid.
  2. Mengenal dengan sebik-baiknya tentang pertumbuhan dan perkembangan murid
  3. Memahami bermacam-macam pendekatan tentang pendidikan anak dan mampu mempergunakannya.
  4. Mengenal bermacam-macam teknik hubungan dengan orangtua murid dan mampu mempergunakannya.
  5. Mengenal latar belakang penghidupan orangtua murid lancar berkomunikasi dengan orangtua murid baik lisan maupun tertulis.
  6. Ramah-tamah dan terbuka berkomunikasi dengan orangtua murid
  7. Hubungan dengan orangtua murid bersifat berkesinambungan.
  8. Hindari meminta bantuan dana kepada orang tanpa didahului oleh keinginan dan keikhlasan dari orangtua murid sendiri.
  9. Meningkatkan pertumbuhan profesi guru.

10.  Pengkajian secara mendalam kode etik guru serta mengamalkannya,(Indrafachrudi;1994:59-60).

Di samping prinsip-prinsip tersebut harus dipegang dan dijalankan oleh seorang guru, guru juga harus memiliki pengetahuan tentang orangtua peserta didik secara lengkap. Sebab ada beberapa problem yang muncul dalam menjalin hubungan dengan orangtua peserta didik. Diantaranya adalah; adanya heterogenitas orangtua peserta didik dari segi pendidikan, ekonomi, politik, maupun budaya, yang secara langsung membutuhkan adanya manajemen humas yang dapat mengatur hubungan yang harmonis antara sekolah, orangtua peserta didik dan masyarakat. Oleh karena itu, sekolah harus memiliki data orangtua peserta didik secara lengkap. Kelengkapan data inilah yang akan sangat membantu sekolah dalam mengetahui, mengenali, dan membaca pribadi orangtua peserta didik sebagai patner sekolah.

Ada beberapa tahapan yang harus dilalui untuk melakukan kunjungan ke rumah peserta didik di antaranya; Pertama; sebelum sekolah melaksanakan kunjungan ke rumah peserta didik hendaklah sekolah melihat terlebih dahulu dan mengenali siapa orangtua peserta didik yang akan dikunjungi, dan apa profesi yang dimiliki oleh orangtua peserta didik. Oleh karena itu, sebelum berkunjung, pihak sekolah terlebih dahulu harus dapat dipastikan siapa orangtua peserta didik yang akan dikunjungi.

Kedua;Untuk mempermudah tugas sekolah dalam melaksanakan kegiatan kunjungan maka, pengetahuan tentang data orangtua ini sangat dibutuhkan. Data tersebut akan sangat bermanfaat dan membantu kelancaran pertemuan antara pihak sekolah dan orangtua peserta didik. Permasalahan ini muncul sebab ada beberapa orangtua peserta didik yang sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat ditemui di rumah akan tetapi di tempat lain seperti; di kantor, di ladang, di pabrik, di hotel dan tempat-tempat lain sesuai dengan bidang profesi mereka masing-masing.

Ketiga; setelah data orangtua peserta didik dapat diketahui dengan jelas maka, langkah selanjutnya adalah bagaimana sekolah dapat menghubungi orangtua peserta didik. Di mana, kapan dan jam berapa pihak sekolah dapat menemui orangtua peserta didik. Oleh karena itu, pemberitahuan sekolah akan berkunjung ke rumah peserta didik dapat melalui telpon atau secara lisan kepada peserta didik untuk disampaikan kepada orangtuanya. Penyampaian ini berfungsi untuk memastikan pertemuan antara pihak sekolah dengan orangtua peserta didik di rumah.

Keempat; setelah dapat dipastikan dapat bertemu dengan orangtua peserta didik di rumah maka sekolah perlu mempersiapkan apasaja bahan pembicaraan yang akan dilakukan di rumah peserta didik. Misalnya masalah prestasi anak di sekolah atau masalah rencana atau program pendidikan yang sedang dilaksanakan. Penyampaian masalah ini biasanya dialkukan dengan menggunakan metode wawancara langsung. Metode ini membutuhkan ketrampilan dalam mengadakan wawancara. Selain membutuhkan kesabaran dan ketelitian yang ekstra hendaknya sudah dipersiapkan pertanyaan yang akan ditanyakan atau di diskusikan dengan orangtua peserta didik. Ada tatacara  dalam menyampaikan persoalan/problem peserta didik kepada orangtua. Di antaranya; pihak sekolah tidak boleh mengutarakan secara frontal masalah yang ada di sekolah akan tetapi sebelumnya terlebih dahulu menyebutkan tentang keberhasilan anak didik di sekolah atau keberhasilan program-program sekolah yang telah dilaksanakan. Setelah selesai mengutarakan keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai baru pihak sekolah mengutarakan kekurangan-kekurangan yang memerlukan dukungan dari orangtua peserta didik.

Kelima; terakhir dari teknik pelaksanaan home visit ini adalah pihak sekolah memberikan kesempatan kepada orangtua peserta didik untuk memberikan tanggapan dan harapan kepada sekolah. Masukan (saran) dari orangtua peserta didik ini sangat diperlukan dalam rangka pengembangan sekolah ke depan. Kemudian pihak sekolah menyaring semua respon yang telah diutarakan oleh orangtua peserta didik agar dapat digunakan untuk memperbaiki kegiatan-kegiatan atau program sekolah dalam rangka memenuhi harapan orangtua peserta didik.

Kegaiatan home visit ini merupakan kegiatatan humas yang dapat memberikan umpan balik (feed back) dari orangtua peserta didik kepada pihak sekolah. Kegiatan home visit ini secara langsung melibatkan orangtua peserta didik berpartisipasi dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan sekolah. Mengenai bentuknya dapat berupa moral, bantuan tenaga, pemikiran atau berupa bantuan material yang tentunya disesuaikan dengan kemampuan masing masing orangtua peserta didik.

Dengan demikian, tujuan sekolah dengan program home visit-nya  akan dapat tercapai dengan baik. Melalui kunjungan rumah ini pula, pendidik akan mengetahui secara utuh kegiatan peserta didik ketika berada di rumah. Apabila peserta didik dapat diketahui secara totalitas aspek kepribadiaannya maka program pendidikan akan mudah dilaksanakan termasuk kesulitan belajar peserta didik dapat teratasi , (Indrafachrudi;1994:69).

C. Kesimpulan

Setiap lembaga pendidikan memiliki keinginan untuk dapat melaksanakan semua program kegiatan pendidikan dengan baik. Keinginan tersebut berimplikasi pada upaya sekolah/madrasah yaitu bagaimana menciptakan suasana yang kondusif antara sekolah dengan orangtua peserta didik. Maksud dan tujuan sekolah/madrasah dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan orangtua peserta didik adalah untuk menanamkan pengertian yang baik pada orangtua peserta didik dalam praktek kehidupan sekolah. Home visit merupakan salah satu program sekolah yang memiliki pengaruh besar dalam upaya melancarkan program-program sekolah.

Home visit tidak hanya sebatas menangani persoalan kesulitan atau keberhasilan belajar peserta didik semata, akan tetapi juga berfungsi sebagai penawaran program-program sekolah yang membutuhkan partisipasi atau keterlibatan orangtua peserta didik dan masyarakat untuk kelancaran pelaksanaan program sekolah/madrasah. Home visit atau kunjungan rumah juga merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh sekolah/madrasah dalam rangka menjalin komunikasi yang baik antara orangtua peserta didik dengan sekolah. Komunikasi ini akan menciptakan kerjasama yang baik untuk meningkatkan mutu sekolah baik dari perspektif peningkatan mutu peserta didik maupun peningkatan mutu dari proses pendidikannya.

D. Daftar Pustaka

Bafadhal, Ibrahim. 2004. Dasar-Dasar Manajemen dan Supervisi Taman Kanak-Kanak. Jakarta. Bumi Aksara.

De Roche, Edward F. 1957. How School Administrators Solve Problems (Practical Solution to Common Problem Based on a Nationwide Survei of 2000 School: executives). USA : Prentice Hall Inc.

Elsbree, W.W, & Mc.Nally,H.1959. Elementary School Administration and Supervisor. New York. American Book Compony .

Gorton, Richard A. 1976. School Administration Challage and Opportunity for Leadership. Iowa: Wm. C. Brown Compony Publisher.

Indrafachrudi, seokarno. 1994. Bagaimana Mengakrabkan Sekolah Dengan Orangtua Murid dan Masyarakat. Malang. IKIP Malang.

IDP. Hubungan Antara Masyarakat-Guru-Orangtua Dalam Menciptakan LIRP http://www.idp-europe.org. diakses 23 april 2008.

Kusumastuti, Frida. 2002. Dasar-dasar Hubungan Masyarakat. Jakarta. Galia Indonesia. Hal.27.

Mustafa, Adi Junjunan. 2008. Peran Orangtua dalam Mendukung Sukses Pendidikan Anak. Error! Hyperlink reference not valid.. kuningan.org. diakses 26 april 2008.

Mulyono, Abdurrahman. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta. Rineka Cipta.