Dalam bulan Ramadhan yang suci ini, marilah kita lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. sebab di dalam bulan Ramadhan terdapat banyak keutamaan-ketuamaan yang dapat diperoleh untuk menunjang peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Di antara usaha-usaha untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan tersebut yaitu perlu adanya pembiasaan untuk berbuat amal sholeh, baik amal-amal yang kelihatanya kecil sampai dengan amal yang membutuhkan pemikiran dan aksi yang besar. Seperti pembiasaan, sholat malam, membaca tasbih, sholawat, istigfar, bersedekah dan lain sebagainya yang mengarah pada perbuatan-perbuatan  amal sholeh. Pembiasaan berbuat amal baik tersebut yang dilakukan pada bulan suci Ramadhan ini merupakan salah satu tanda bahwa kita telah mensyukuri atas kedatangan bulan Ramadhan.

Dalam bulan Ramadhan ini, umat Islam dilatih untuk membiasakan melakukan amal sholih, yaitu dengan berpuasa satu bulan penuh. Puasa memiliki banyak manfaat baik dari segi ekonomi, kesehatan, pikiran dan sebagainya termasuk dapat menumbuhkan rasa empati terhadap sesama. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita bersyukur kepada Allah swt. yang telah memberi nikmat yang sangat banyak untuk bisa menjalankan ibadah puasa pada tahun ini. Tanpa adanya nikmat itu mungkin akan sangat kesulitan untuk dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik. Di antara nikmat itu ialah nikmat Iman Islam, nikmat umur, nikmat kesehatan dan lain-lain. Tanpa adanya nikmat itu kita tidak akan mampu untuk dapat menjalankan ibadah puasa dengan sempurna.

Pada dasarnya untuk mengungkapkan nikmat-nikmat Allah swt. yang telah diberikan kepada mahluk-Nya tidaklah mungkin, karena keterbatasan manusia itu sendiri untuk dapat mengungkap nikmat Allah swt yang tiada batas. Nikmat-nikmat itu tidak lain adalah merupakan bentuk rasa kasih sayang Tuhan kepada mahluk-Nya. Tanpa memandang apakah mereka menyembah dan mensucikan-Nya, ataukah menafikan dan mengkufuri-Nya. Semuanya mendapatkan nikmat-nikmat tersebut, baik nikmat yang berupa materi maupun non materi, mulai dari mahluk yang terkecil sampai dengan mahluk yang tersebesar, atau mulai dari mahluk yang hina sampai mahluk yang dimulyakan yaitu manusia. Sebab Allah swt. sendirilah yang mengangkat derajat manusia melebihi derajat dari mahluk-mahluk-Nya yang lain seperti yang terdapat dalam Q.S Al Isra’: 70 Allah Swt berfirman ” dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-nak Adam, kami angkat mereka di darat dan di lautan, kami berikan mereka rizki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah Kami ciptakan”.

Ayat tersebut merupakan salah satu bentuk nikmat besar yang tidak diberikan oleh Allah swt. kepada mahluk-Nya yang lain, selain manusia. Oleh karena itu, sudah selayaknya manusia bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah swt. kepadanya. Yaitu syukur yang di implementasikan dalam perkataan maupun perbuatan.

Adapun syukur yang direalisasikan dalam perkataan yaitu dengan menggucapkan Alhamdulullahirobbil ‘alamin merupakan ungkapan lisan yang seharusnya disertai dengan perbuatan yang dapat menunjukkan rasa syukur kepada Nya. Maka belum lengkap rasa syukur itu jika tidak direalisasikan dalam perbuatan yaitu dengan adanya upaya untuk selalu meningkatkan kualitas maupun kuantitas ibadah kepada-Nya.

Nikmat Allah Swt yang telah di berikan kepada manusia sangat banyak sekali akan tetapi pengetahuan manusia tentang nikmat Allah swt yang telah diberikan kepadanya sangat terbatas di antaranya nikmat berupa umur, kesehatan, derajat (dari semua mahluk Allah yang lain), dan yang paling besar adalah nikmat iman dan Islam. Pada bulan suci ini Allah swt. juga memberikan nikmat berupa petunjuk kehidupan manusia agar manusia hidup tentram, bahagia dunia sampai akhirat. Nikmat itu tidak lain adalah di turunkannya kitab suci Al-Qur’an. Dengan membiasakan membaca dan memahami maknanya, maka akan diperoleh petunjuk kehidupan yang benar dan di ridhoi oleh Allah Swt. Karena dengan membaca dan memahami maknanya, akan dapat mengetahui maksud dan tujuan penciptaan manusia dalam kehidupannya.

Adanya bulan Ramadhan merupakan salah satu nikmat dari sekian banyak nikmat yang telah Allah swt berikan kepada manusia. Karena memang manusia tidak mampu untuk menggerakkan waktu sehingga mendapatkan bulan Ramadhan kembali, dan hanya Allah Swt sajalah yang mampu melakukannya.

Bulan Ramadhan, dapat di ibaratkan sebagai ladang subur yang dapat dipastikan akan memperoleh keuntungan yang besar. Keuntungan itu akan di peroleh bagi mereka yang mau menggunakan waktunya dengan baik yaitu dengan ¬†memperbanyak ibadah kepada-Nya. Seperti sholat tarawih, sholat witir, sholat tahajut, sholat tasbih, berdzikir, membaca Al-Qur’an dan berusaha menginstropeksi diri tentang pengabdiannya selama ini kepada Allah Swt. (Muhasabah linnafs), Terlebih lagi apabila telah masuk sepertiga akhir dari bulan Ramadhan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, yang sering kita kenal dengan malam lailatul qodar. Apabila kita melakukan ibadah di dalamnya akan mempunyai nilai yang lebih baik dari pada ibadah seribu bulan atau 83 tahun lebih 4 bulan, yang mungkin umur kita tidak akan pernah menemuinya. Maka sepertiga akhir dari bulan Ramadhan ini merupakan kesempatan emas yang harus di gunakan dengan sebaik-baiknya.

Adanya kesempatan emas tersebut merupakan peluang besar yang dapat diraih untuk menunjang keseksesan kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Akan tetapi yang berperan tinggal tinggal manusianya. Apakah ia mau mensyukurinya dengan memperbanyak taqorrub atau ibadah kepadaNya, ataukah membiarkanya kesempatan itu berlalu saja? Sungguh manusia akan merugi apabila melewatkan kesempatan emas ini dengan begitu saja. Sebab belum tentu manusia mendapatkan kesempatan yang sama pada tahun-tahun mendatang. Karena memang tidak ada jaminan sama sekali tentang umur manusia di masa-masa mendatang, apakah masih hidup ataukah sudah meninggal? Hanya Allah Swt. sajalah yang mengetahuinya.

Bukankah manusia diciptakan oleh Allah Swt. tidak lain adalah untuk taat dan beribadah kepada-Nya? (Q.S. Ad-Dzariat: 56). Sedangkan syukur merupakan salah satu bentuk ketaatan seorang hamba kepada Tuhanya, yang juga termasuk salah satu bentuk ibadah yang dapat menyelamatkan manusia dari adzabNya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Ibrahim :7. “jika kamu semua bersyukur atas nikmat-Ku pasti akan Aku tambah dan jika kamu semua kufur sesungguhnya siksa-Ku sangat pedih”. Ayat tersebut mengisyaratkan kepada kita agar selalu mensyukuri segala nikmat-Nya dan jangan sampai mengkufuri-Nya, baik berupa nikmat dhohir maupun nikmat batin berupa keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.

Entah mengapa manusia sedikit sekali yang mau bersyukur terhadap nikmat-nikmat Allah Swt. sampai-sampai Sayidina Umar bin Khottob Ra. pernah berdoa kepada Allah Swt. agar ia dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang sedikit. Yaitu golongan orang-orang yang selalu mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah kepadanya. Ungkapan Sayidina Umat bin Khottob Ra. ini menunjukkan bahwa sedikit sekali orang-orang yang bersyukur atas segala nikmat-Nya. Ataukah memang manusia tidak mau tahu kalau semua nikmat-nikmat yang ia gunakan, ia nikmati setiap hari itu merupakan ungkapan bentuk rasa kasih sayang Tuhan kepada mahlukNya.

Mari kita berfikir sejenak tentang beberapa nikmat Allah Swt. yang telah diberikan secara cuma-cuma kepada manusia. Walaupun pada dasarnya, jika kita menghitung-hitungnya niscaya tidak akan pernah menemukan berapa jumlahnya yang telah di berikan oleh Allah Swt. kepada mahluk-Nya. Seperti firman Allah Swt dalan Q.S An- Nahl: 18 Allah Swt berfirman. “Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah niscaya kamu tidak akan pernah menemui berapa jumlahnya”. Semoga dapat menjadi renungan amien