Al-Ghazali dan Konsep Pendidikannya

2.1 Riwayat Hidup Al Ghazali

Nama lengkap Imam Al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin At-Tusi Al-Ghazali. Beliau lahir di sebuah desa kecil bernama Ghazalah Thabaran, di Thus, wlayah Khurasan (Iran) pada tahun 450 H atau 1058 M dari keluarga yang taat  beragama dan bersahaja, dari itulah beliau belajar al-Qur’an. Ayah al-Ghazali adalah seorang muslim yang salih, sekalipun ia tidak orang yang kaya namun ia selalu meluangkan waktunya untuk menghadiri majelis-majelis pengajian yang diselenggarakan ulama, beliau suka terhadap ilmu, selalu berdoa agar puteranya menjadi seorang ulama yang pandai dan suka member nasehat. Ayahnya, Muhammad, bekerja sebagai seorang pemintal dan pedagang kain wol, Al-Ghazali mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama Abu Al-Futuh Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Tusi Al-Ghazali yang dikenal dengan julukan majduddin (wafat pada tahun 520 H). Keduanya kemudian menjadi ulama besar, dengan kecenderungan yang berbeda. Majduddin lebih cenderung pada kegiatan da’wah dibanding Al-Ghazali yang menjadi penulis dan pemikir.[1]

Menjelang akhir hayat, ayah al-Ghazali menitipkan kedua anaknya kepada karibnya, dengan pesan agar kedua anaknya tersebut dididik dengan baik sampai harta peninggalannya sampai habis. Pendidikan Al-Ghazali di masa kanak-kanak berlangsung di kampung asalnya. Setelah ayahnya wafat, ia dan saudaranya dididik oleh seorang sufi yang mendapat wasiat dari ayahnya untuk mengasuh mereka, yaitu Ahmad bin Muhammad Ar-Razikani At-Tusi, seorang ahli tasawuf dan fiqih dari Tus. Pada awalnya, sang sufi mendidik mereka secara langsung. Namun, setelah harta mereka habis, sementara sufi itu seorang yang miskin, tidak sanggup member makan al-Ghazali, maka sufi tersebut menyarankan agar kedua anak tersebut tetap melanjutkan belajar dengan jalan mengabdi pada sebuah sekolahan, sehingga disamping dapat belajar, juga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Madrasah ini memberi para pelajarnya pakaian dan makanan secara cuma-cuma. Santunan dan fasilitas yang disediakan madrasah itu sempat menjadi tujuan Al-Ghazali dalam menuntut ilmu. Kemudian sufi itu menyadarkan Al-Ghazali bahwa tujuan menuntut ilmu bukanlah untuk mencari penghidupan, melainkan semata-mata untuk memperoleh keridhaan Allah SWT dan mencapai pengetahuan tentang Allah SWT secara benar. Di madrasah inilah Al-Ghazali mulai belajar fiqih.

Menuurt suatu riwayat disebutkan, bahwa teman ayah al-Ghazali yang bernama Ahmad bin Muhammad al-Razikani, seorang sufi besar. Dari guru tersebut al-Ghazali mempelajari fiqh, riwayat para wali dan kehidupan spiritual mereka. Selain itu, al-Ghazali belajar menghafal syair-syair mahabbah (cinta) kepada Allah, al-Qur’an dan Sunnah.

Dari uraian tersebut, dapat dipahami bahwa al-Ghazali mempunyai pendidikan spiritual yang kuat, sehingga menjadi dasar pembentukan kepribadian dalam perkembangan hidup selanjutnya.

Setelah mempelajari dasar-dasar fiqih di kampung halamannya, ia merantau ke Jurjan, sebuah kota di Persia yang terletak diantara kota Tabristan dan Nisabur. Di jurjan, ia tidak hanya mendapat pelajaran Islam, sebagaimana yang ia terima di Thus, tetapi sudah mulai mendalami pelajaran bahasa arab dan bahasa Persia dari seorang guru yang bernama Imam Abu Nashir al-Isma’ily.

Setelah sempat pulang ke Thus, ia merasakan bekal pengetahuan yang masih kurang, kemudian, Al-Ghazali berangkat lagi ke Naisabur. Di sana ia belajar kepada Imam Haramain, Diya’uddin al-Juwaini dalam ilmu fiqih, ilmu ushul, ilmu retorika, ilmu debat, mantik, filsafat, dan ilmu kalam.

Selain itu, Al-Ghazali juga belajar tasawuf kepada dua orang sufi, yaitu Imam Yusuf An-Nassaj dan Imam Abu Ali Al-Fadl bin Muhammad bin Ali Al-Farmazi At-Tusi. Ia juga belajar hadits kepada banyak ulama hadits, seperti Abu Sahal Muhammad bin Ahmad Al-Hafsi Al-Marwazi, Abu Al-Fath Nasr bin Ali bin Ahmad Al-Hakimi At-Tusi, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad Al-Khuwari, Muhammad bin Yahya bin Muhammad As-Sujja’i Az-Zauzani, Al-Hafiz Abu Al-Fityan Umar bin Abi Al-Hasan Ar-Ru’asi Ad-Dahistani, dan Nasr bin Ibrahim Al-Maqsidi.

Selanjutnya, al-Ghazali berkhidmat di madrasah Nidhamiyah Naisabur. Tempat pendidikan ini paling berjasa dalam mengembangkan bakat dan kecerdasannya. Berkat bimbingan al-Juwainy seorang ulama’ Syafi’iyah yang beraliran Asy’ariyyah, al-Ghazali terbentuk jiwa dan kepribadiannya sebagai ulama yang kritis.

Setelah gurunya, Al-Juwaini, meninggal dunia (478 H/1085 M), al-Ghazali mengunjungi tempat kediaman seorang wazir (menteri) pada masa pemerintahan sultan Adud Ad-Daulah Alp Arsalan (lahir pada tahun 455 H atau 1063 M dan wafat pada tahun 465 H atau 1072 M) dan Jalal Ad-Daulah Malik Syah (lahir pada tahun 465 H atau 1072 M dan wafat pada tahun 485 H atau 1092 M) dari dinasti Salajikah di Al-Askar, sebuah kota di Persia. Kediaman wazir ini merupakan sebuah majelis pengajian, tempat ulama bertukar pikiran. Wazir tersebut sangat tertarik ketinggian ilmu filsafatnya, luasnya ilmu pengetahuan, kefasihan lidahnya, dan kejituan argumentasinya.

Setelah beberapa kali al-Ghazali berdebat dengan para ulama di sana, mereka tidak segan-segan mengakui keunggulan ilmu al-Ghazali karena berkali-kali argumentasinya tidak dapat dipatahkan. Melihat kehebatan al-Ghazali, kagum terhadap pandangan-pandangan Al-Ghazali sehingga ia diminta untuk mengajar di Madrasah Nidhamiyah Baghdad yang didirikan oleh wazir sendiri. Al-Ghazali mengajar di Baghdad pada tahun 484 H/1091. Atas prestasinya yang kian meningkat, pada usia 43 tahun al-Ghazali diangkat menjadi pemimpin (rector) universitas tersebut.di kota inilah al-Ghazali enjadi orang yang terkenal, pengajiannay semaki luas, dan ia banyak menulis beberapa kitab seperti: al-Basit, al-Wasit, al-Wajiz, al-Khulasah fi ‘Ilm Fiqh, al-Munkil fi ‘Ilm Jidal, Ma’khad al-Khilaf, Lubab al-Nazar, Tahsin al-Ma’akhis, dan al-Mabadi’ wa al-Ghayat fi Fan al-khilaf.

Pangkat dan kedudukan tinggi serta berbagai penghormatan, tidaklah membuat al-Ghazali puas. Ia selalu berusaha meningkatkan pengetahuannya untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki, namun ilmu yang didapatkan melalui akal dan indera belumlah mendapatkan kebenaran mutlak, bahkan akhirnya, al-Ghazali meragukan kebenaran ilmu pengetahuan yang telah diperoleh akal dan indera. Kebenaran itu hanya mampu dicapai dengan dzauq yang memperoleh cahaya Tuhan.

Hanya 4 tahun menjadi rector di Universitas Nidhimayah. Setelah itu ia mulai mengalami krisis rohani, krisis keraguanyang meliputi akidah dan semua jenis ma’rifat. Secara diam-diam al-Ghazali meninggalkan Baghdad menuju Syam, agar tidak ada yang menghalangi kepergiannya baik dari penguasa (khalifah) maupun sahabat sahabat dosen se-universitasnya. Pekerjaan mengajar ditinggalkan, dan mulailah al-Ghazali hidup jauh dari lingkungan manusia, zuhud yang ia tempuh.

Selama hamper dua tahun, al-Ghazali menjadi hamba Allah yang betul-betul mampu mengendalikan gejolak hawa nafsunya. Ia menghabiskan waktunya untuk khalwat, ibadah, dan I’tikaf di sebuah masjid di Damaskus. Berdzikir sepanjang hari di menara. Untuk melanjutkan taqarrubnya kepada Allah , al-Ghazali pindah ke Baitul Maqdis. Dari sinilah al-Ghazali baru tergerak hatinya untuk memenuhi panggilan Allah menjalankan ibadah haji. Dengan segera ia pergi ke Makkah, Madinah, dan setelah ziarah ke makam Rasulullah saw serta makam nabi Ibrahim a.s, ditinggalkan kedua kota suci itu dan menuju Hijaz.

Keyakinan yang dulu hilang, kini ia peroleh kembali. Tingkat ma’rifat yang terdapat dalam tasawuf, menurutnya, adalah jalan yang membawa kepada pengetahuan yang kebenarannya dapat diyakini. Setelah dari Syam – Baitul Maqdis – Hijaz selama lebih kuarng sepuluh tahun, atas desakan Fakhrul Muluk pada tahun 499 H/1106 M al-Ghazali kembali ke Naisabur. Setelah itu, ia kembali lagi ke Baghdad untuk meneruskan kegiatan mengajarnya. Kali ini ia tampil sebagai tokoh pendidikan yang betul-betul mewarisi dan mengarifi ajaran Rasulullah saw. Buku pertama yang disusunannya setelah kembali ke universitas Nidhamiyah ialah Al-Muqidz min al-Dhalal. Fakhrul Muluk merasa gembira atas kembalinya al-Ghazali mengajar di universitas terbesar di kota ini.

Tidak lama al-Ghazali tinggal di Naisabur ia kembali ke kampung halamannya, Ghazalah Thabaran, di Thus. Ia wafat di kampung halamannya pada tahun 505 H atau 1111 M. Ia menghabiskan sisa umurnya untuk membaca Al-Qur’an dan hadis serta mengajar. Di samping rumahnya, didirikan madrasah untuk para santri yang mengaji dan sebagai tempat berkhalwat bagi para sufi. Pada hari senin tanggal 14 Jumadatsaniyah tahun 505 H/18 Desember 1111 M, al-Ghazali pulang ke hadirat Allah dalam usia 55 tahun dan dimakamkan di sebuah tempat khalwat.

2.2 Konsep Pendidikan Menurut Al-Ghazali

A. Pengertian Pendidikan

Al-Ghazali adalah orang yang banyak mencurahkan perhatiannya terhadap bidang pengajaran dan pendidikan dalam kitabnya Ihya Ulumiddin. Adapun unsur-unsur pembentuk pengertian pendidikan dari al-Ghazali dapat dilihat dalam pernyataan berikut:

“Sesungguhnya hasil ilmu itu ialah mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan semesta alam, menghubungkan diri dengan ketinggian malaikat dan berhampiran dengan malaikat tinggi…”[2]

“…dan ini, sesungguhnya adalah dengan ilmu yang berkembang melalui pengajaran dan bukan ilmu beku yang tidak berkembang.”[3]

Jika kita perhatikan kutipan yang pertama, kata “hasil” menunjukkan proses, kata “mendekatkan diri kepada Allah” menunjukkan tujuan, dan kata “ilmu” menunjukkan alat. Sedangkan pada kutipan yang kedua merupakan penjelasan mengenai alat, yakni disampaikannya dalam bentuk pengajaran. Batas awal berlangsungnya proses pendidikan menurut al-Ghazali, yakni sejak bertemunya sperma dan ovum sebagai awal manusia. Batas akhir pendidikan menurut al-Ghazali sampai akhir hayatnya.

Dari keterangan di atas pendidikan menurut al-Ghazali adalah proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampi akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap di mana proses pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat. Pemikiran al-Ghazali dalam pendidikan juga bernuansa islami dan moral. Di samping itu, ia juga tidak mengabaikan masalah-masalah duniawiyah, sehingga ia juga menyediakan porsi yang sesuai dengan pendidikan.

B.     Tujuan Pendidikan

Al-Ghazali berkata:

“Dunia tempat menanam untuk akherat. Sebagai alat untuk berhubungan dengan Allah Azza wa Jalla, bagi orang yang menjadikannya sebagai tempat tinggal, bukan bagi orang yang menjadikannya tempat menetap dan tempat berdiam.”[4]

“Bila engkau memandang ilmu engkau melihatnya lezat, maka ia dicari karena lezatnya, dan engkau menemukan sebagai jalan kebahagiaan ke akherat dan sebagai perantara pendekatan kepada Allah Ta’ala, dan tidak sampai kepada Allah melainkan dengan ilmu. Derajat yang paling tinggi bagi anak cucu adam adalah kebahagiaan yang langgeng dan sesuatu yang utama adalah yang dapat mengantarkan ke sana kecuali dengan ilmu dan amal dan tidak sampai pada amal kecuali dengan mengetahui cara beramal. Pokok kebahagian dunia dan akherat adalah dengan ilmu, dan hal itu adalah amal yang utama.”[5]

Tujuan pendidikan menurut al-Ghazali:

1.      Sebagai kesempurnaan manusia dunia dan akherat. Manusia akan sampai pada kesempurnaan dengan mencari keutamaan melalui ilmu. Kemudian keutamaan itu membahagiakannya di dunia dan akherat.

2.      Ilmu patut dicari karena dzatnya, yang memiliki kelebihan dan kebaikan. “ilmu pengetahuan itu secara mutlak utama dalam dzatnya”[6].

C.     Kurikulum Pendidikan Menurut Al-Ghazali[7]

Konsep kurikulum al-Ghozali terkait erat dengan konsepnya tentang ilmu pengetahuan. Al-Ghozali membagi ilmu dalam tiga bagian:

Pertama, ilmu-ilmu yang terkutuk baik banyak maupun sedikit. Yakni ilmu yang tidak ada manfaatnya baik di dunia maupun di akhirat. Misalnya,

Ø  Ilmu sihir. Hal tersebut dikarenakan dalam pandangan al-Ghazali ilmu-ilmu tersebut dapat mendatangkan malapetaka bagi pemiliknya maupun orang lain, dapat menyebabkan perpecahan persatuan manusia dan kasih sayangnya dan menyebabkan kedengkian di hati serta menebarkan perbantahan antara manusia.

Ø  Ilmu nujum ini kemudian dibagi dua oleh al-Ghazali. Yakni ilmu nujum berdasarkan perhitungan (Ilmu Falak), ia memamndang bahwa ilmu itu tidak tercela oleh syara’, sedangkan ilmu nujum yang berdasarkan istidlali, yakni semacam ilmu meramal nasib berdasarkan petunjuk bintang. Ilmu nujum jenis kedua inilah yang dianggap tercela menurut syara’ karena dapat mendatangkan keraguan kepada Allah SWT.

Ø  Masih termasuk dalam kategori ilmu pertama diatas. Al-Ghazali mengatakan bahwa mempelajari ilmu filsafat tidak sesuai bagi sebagian orang, sesuai menurut tabi’atnya tidak semua orang dapat mempelajari ilmu tersebut dengan baik. Seperti anak bayi yang masih menyusu, merasa sakit apabila makan”daging burung dan macam gula-gula yang lembut”, yang mana perut besarnya tidak sanggup menghaluskannya.

Kedua, ilmu yang dipelajari secara mutlak yaitu mempelajari ilmu agama, ibadah dan macam-macamnya. Ilmu-ilmu itu yang mendatangkan kebersihan jiwa, dan membersihkan jiwa dari tipu daya/kerusakan dan membantu mengetahui kebaikan dan pelaksanaannya untuk mempersiapkan dunia untuk akherat. Al-Ghozali membagi ilmu kategori kedua ini dengan ilmu yang fardlu ‘ain dan fardlu kifayah. Yang termasuk dalam ilmu yang fardlu ‘ain menurut Al-Ghozali adalah ilmu-ilmu tentang agama dan macam-macamnya. Serta ilmu tentang tata cara melaksanakan perkara yang wajib. Sedangkan yang termasuk dalam ilmu fardlu  kifayah adalah semua ilmu yang diperlukan untuk kehidupan masyarakat, karena bila sebagian orang telah mempelajarinya maka masyarakat terwakili. Di antara ilmu kifayah ialah ilmu kedokteran dan ilmu hitung. Jika sudah ada salah seorang yang menguasai dan dapat mempraktekkannya maka sudah dianggap gugur kewajiban mempelajarinya bagi yang lain.

Ketiga, ilmu yang terpuji dalam batas tertentu, dan tercela jika mempelajarinya dalam kadar yang berlebihan atau mendalam. Karena apabila manusia dengan mendalam pengkajiannya dapat menyebabkan terjadinya kekacauan pemikiran dan keraguan, serta dapat pula membawa kedalam kekafiran, seperti ilmu filsafat keTuhana. Mengenai ilmu filsafat ini Al-Ghazali membaginya menjadi ilmu matematika, ilmu-ilmu logika, ilmu ilahiyyat, ilmu fisika, ilmu politik, dan ilmu etika.

Dengan ini kita mengetahui bagaimana al-Ghazali membagi bermacam-macam ilmu dan member nilai setiap ilmu dengan keuntungan dan kerugiannya. Perbedaan tersebut disebabkan oleh salah satu dari tiga bagian, yaitu:

a)      Segi watak yang sampai pada pengenalannya.

b)      segi ruang lingkup kemanfaatan bagi manusia

c)      Segi tempat usaha.

Dari pembahasan di atas pada akhirnya ilmu yang paling utama menurut beliau adalah ilmu-ilmu agama dan cabang-cabangnya. Karena ilmu-ilmu agama diperoleh dengan kesempurnaan akal yang mulia, untuk kebahagiaan dunia dan akhirat serta didapat yang jelas baiknya.

Dalam menyusun kurikulum pelajaran Al-Ghozali memberi perhatian khusus pada ilmu-ilmu agama dan etika sebagaimana dilakukannya terhadap ilmu-ilmu yang sangat menetukan bagi kehidupan masyarakat. Dengan kata lain beliau mementingkan sisi faktual dalam kehidupan. Beliau juga menekankan sisi budaya. Menurut baliau ilmu itu wajib dituntut bukan karena keuntungan diluar hakikatnya, tetapi karena hakikatnya sendiri. Sesuai dengan jiwa tasawwuf dan zuhudnya, beliau tidak mementingkan ilmu-ilmu yang berbau seni atau keindahan. Selanjutnya sekalipun beliau mementingkan pengajaran berbagai keahlian esensial dalam kehidupan dan masyarakat, beliau tidak menekankan pentingnya keterampilan.

D. Metode

Al-Ghazali tidak menetapkan metode khusus pengajaran dalam berbagai tulisannya kecuali pada pengajaran agama saja pada anak-anak. Ia menjelaskan metode khusus pendidikan anak dan menyempurnakan agar berakhlak terpuji, menhiasi dirinya dengan keutamaan-keutamaan. Berdasarkan prinsipnya bahwa pendidikan adalah sebagai kerja yang memerlukan hubungan yang erat anatara guru dan murid.

Metode pengajaran perhatian Al-Ghazali akan pendidikan agama dan moral sejalan dengan kecenderungan pendidikannya secara umum, yaitu prinsip-prinsip yang berkaitan secara khusus dengan sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya.

Al-Ghazali menggambarkan pentingnya keteladanan utama dari seorang guru, juga dikaitkan dengan pandangannya tentang pekerjaan mengajar. Menurutnya mengajar merupakan pekerjaan yang paling mulia sekaligus yang paling agung. Pandangannyaberlandaskan bukti firman Allah dan hadis-hadis Nabi yang mengatakan status guru sejajar dengan tugas kenabian. Lebih lanjut Al-Ghazali mengatakan bahwa wujud termulia di muka bumi adalah manusia, dan bagian inti manusia yang termulia adalah hatinya. Guru bertugas menyempurnakan, menghias, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Al-Ghazali mengibaratkan siapa yang berilmu dan membimbing manusia dan ilmunya berfaedah bagi orang lain maka, “dia seperti matahari yang memerangi orang lain dan dia menerangi dirinya sendiri dan seperti misik yang mengharumi lainnya sedangkan dia sendiri harum.”

Dalam masalah pendidikan, Al-Ghazali lebih cenderung berfaham empirisme, oleh karena itu, beliau sangat menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Anak adalah amanat yang dipercayakan kepada orang tuanya, hatinya bersih, murni, laksana permata yang berharga, sederhana, dan bersih dari ukiran apapun. Ia dapat menerima tiap ukiran yang digoreskan kepadanya dan akan denderung ke arah yang kita kehendaki. Oleh karna itu, bila ia dibiasakan dengan sifat-sifat yang baik, maka akan berkembanglah sifat-sifat yang baik pula. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan bersih, kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi penganut Yahudi, Nasrani, dan Majusi.”( HR. Muslim)

E. Pendidikan Agama dan Metodenya

Al-Ghazali adalah imam agama yang berciri tasawuf, mengutamakan pendidikan yang berkembang yang pertama kali membina hati dengan ma’rifat dan mendidik jiwa dengan ibadah dan mengenal Allah serta pendekatan diri kepada Allah yaitu dengan cara menanamkan pokok-pokok agama yang benar di dada anak kecil pada masa pertumbuhannya.

Al-Ghazali mengatakan bahwa pendidikan agama harus dimuli sejak usia muda. Karena pada masa ini, anak kecil siap menerima aqidah-aqidah agama dengan iman yang murni dan tidak memerlukan bukti atau senagng pada ketetapan dan hujahnya. Pertama kali ketika mengajarkan agama dengan menghafalkan kaidah-kaidah dan pokok-pokoknya. Sesudah itu gur menyingkap maknanya, memahaminya, manancapkannya kemudian membenarkannya. Menanamkan agama pada anak kecil didahului dengan menuntun dan meniru, serta dengan ketentuan-ketentuan sedikit sampai anak menjadi pemuda. Ian bisa ditanam selama ditegakkan I’tiqodnya dikuatkan dengan dalil. Adapun selama aqidah tidak ditegakkan dengan dalil akan menjadi agama yang lemah, mudah luntur dan menerima yang lain. Metode ini tidak ditegakkan melalui diskusi atau berdebat karena berdebat banyak merusakan hal-hal yang berfaedah yang terkadang menyebabkan keracuan pikiran murid dan meragukannya. Bahkan ditegakkan dengan mengulang-ulag membaca Al-Qur’an, tafsir, hadis dan membiasakan ibadah.

Dengan ini al-Ghazali menetapkan metode yang jelas tentang pengajaran agama dimulai dari menghafal disertai memahami kemudian keyakinan dengan membenarkan. Setelah itu dikemukakan keterangan-keterangan dan bukti-bukti yang membatu menguatkan akidah.

1) Kriteria Guru Yang Baik

Menurut al-Ghazali selain cerdas dan sempurna akalnya, seorang guru yang baik juga harus baik akhlak dan kuat fisiknya. Dengan kesempurnaan akal dapat menguasai berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan dengan akhal yang baik ia dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuat fisiknya ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik, dan mengarahkan anak didiknya.

Selain sifat umum diatas seorang guru menurut al-Ghazali juga harus memiliki sifat-sifat khusus yang diantaranya adalah kasih sayang, tidak menuntut upah atas apa yang dikerjakannya, berfungsi sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur dan benar dihadapan murid-muridnya. Ia tidak boleh membiarkan muridnya mempelajari pelajaran yang lebih tinggi sebelum ia menguasai pelajaran yang sebelumnya. Seorang guru yang baik harus  menggunakan cara yang simpatik, halus, dan tidak menggunakan kekerasan, cacian, makian, dan sebagaianya. Seorang guru juga tampil sebagai teladan atau panutan yang baik dihadapan murid-muridnya. Ia juga harus memiliki prinsip mengakui adanya perbedaan potensi secara individual dan memperlakukannya sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki muridnya. Seorang guru juga harus mampu memahami perbedaan bakat, tabi’at, dan kejiwaan muridnya sesuai dengan perbedaan tingkat usianya. Dan yang terakhir seorang guru yang baik harus berpegang teguh pada prinsip yang diucapkannya, serta berupaya merealisasikannya sedemikian rupa.

2) Kriteria Murid Yang Baik

Pendidikan bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. sehingga bernilai ibadah. Untuk menurut al-Ghazali seorang murid yang baik harus memiliki sifat :

a).    Berjiwa bersih, terhindar dari budi pekerti yang hina, dan sifat-sifat tercela lainnya.

b).   Menjauhkan diri dari pesoalan-persoalan duniawi, mengurangi keterikatan dengan dunia dan masalah-masalah yang dapat mengganggu lancarnya penguasaan ilmu.

c).    Rendah hati dan tawadhu’.

d). Khusus bagi murid yang baru jangan mempelajar ilmu-ilmu yang berlawanan atau pendapat yang saling berlawanan atau bertentangan.

e).    Mendahulukan mempelajari yang wajib

f).    Mempelajari ilmu secara bertahap

g).   Tidak mempelajari suatu disiplin ilmu sebelum menguasai disiplin ilmu sebelumnya. Sebab ilmu-ilmu itu tersusun dalam urutan tertentu secara alami. Dimana sebagian merupakan jalan menuju sebagian yang lain.

h).   Seorang murid juga harus mengenal nilai darisetiap ilmu yang dipelajarinya.

6. Hukuman dan Balasan

Selanjutnya Al-Ghazali berkata:Apabila anak-anak itu berkelakuan baik dan melakukan pekerjaan yang bagus, hormatilah ia dan hendaknya diberi penghargaan dengan sesuatu yang menggembirakannya, serta dipuji di hadapan orang banyak. Jika ia melakukan kesalahan satu kali, hendaknya pendidikmembiarkan dan jangan dibuka rahasianya. Jika anak itu mengulanginya lagi, hendaknya pendidik memarahinya dengan tersembunyi, bukan dinasehati di depan orang banyak, dan janganlah pendidik seringkali memarahi anak-anak itu, karena hal itu dapat menghilangkan pengaruh pada diri anak, sebab sudah terbiasa telinganya mendengarkan amarah itu.

Metode pemberian hadiah dan hukuman untuk tujuan mendidik dipandang sebagai metode yang aman. Terlalu banyak melarang dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Demikian pula terlalu banyak memberikan pujian tidak menjadi penyebab terjadinya perbaikan. Dalam berbagai kesempatan Al-Gazali menerangkan bahwa membesarkan anak dengan kemanjaan, bersenang-senang dan bermalas-malasan serta meremehkan pergaulan bersama orang lain termasuk perkara yang tidak baik karena membesarkan anak dengan cara seperti ini akan merusak akhlaknya, karena membesarkan anak dengan cara seperti ini akan merusak akhlaknya .

Ø  KARYA-KARYA  AL-GHAZALI

Ø  Di Bidang filsafat
- Maqasid al-Falasifah
- Tafahut al-Falasifah
- Al-Ma’rif al-‘aqliyah

Ø  Di Bidang Agama
- Ihya ‘Ulumuddin
- Al-Munqiz minal dhalal
- Minhaj al-Abidin

Di Bidang Akhlak Tasawuf

-          Mizan al-Amal

-          Kitab al-Arbain

-          Mishkatul anwar

-          Al-Adab fi Dien

-          Ar-Risalah al-laduniyah

Di Bidang Kenegaraan

-          Mustaz hiri

-          irr al-Alamin

-          Nasihat al-Muluk

-          Suluk al-Sulthanah


[1] Nata Abuddin, Pemikiran para tokoh Pendidikan Islam, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada )hal 80

[2] Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Juz I, Masyhadul Husaini, tt.hal 13

[3] Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Juz I, Masyhadul Husaini, tt.hal 14

[4] Ihya Ulumuddin juz 3, hal 12

[5] Ihya Ulumuddin Juz 1, hal 25.

[6] Ihya Ulumuddin Juz 1, hal 25

[7] Dahlan Thamrin,”Al-Ghazali dan Pemikiran Pendidikannya”. Hal. 27

Category: Tak Berkategori
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
3 Responses
  1. tohri mengatakan:

    saya haus akan ilmu! seperti imam Al Ghozali ajarkan

  2. tohri mengatakan:

    saya sangat kagum atas ajaran ajaran oleh imam Al Ghozali

  3. Avatar of ziyana rosyida ziyana rosyida mengatakan:

    sepantasnya kita belajar dari tokoh-tokoh yang ahli,,,

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>